Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY

(시크릿: 너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome to readers in my Fan Fiction

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 – Part 1 | Chapter 6 – Part 2 | Chapter 7 – Part 1 | Chapter 7 – Part 2 | Chapter 8 – Part 1 | Chapter 8 – Part 2 | Chapter 9

***

Dan, Taeyeon kembali terdiam, kedua tangan mungilnya turun dari atas meja. Kau masih tidak mau mengatakannya?”

Dipandanginya gadis ini dan berpikir kenapa dia tidak mau bicara.

Gadis yang kini hanya menatap kosong Jiyong. Pikirannya kacau.

Jiyong duduk tegak setelah keduanya cukup lama terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Ia tersenyum mengangguk berusaha mengerti lalu bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati Taeyeon yang kemudian tubuh mungil itu ia hadapkan agar menatap kearahnya dengan memutar bahu gadis itu.

Perlakuan seperti ini membuat Taeyeon terhenyak, apalagi Jiyong tersenyum semakin manis.

“Kwaenchana. Aku tahu kau sudah tahu semuanya. Aku mengerti kau tidak mau mengatakannya karena sebuah alasan. Tidak perlu mengatakannya jika kau belum bisa. Kwaenchana,” tutur Jiyong bermaksud menenangkan gadis ini.

“Jiyong…” ucap Taeyeon merasa bersalah namun tetap ragu untuk mengungkapkannya.

Jiyong sudah tidak ingin memaksa gadis mungil ini untuk jujur, ia mendekatkan wajahnya pada Taeyeon lalu mencium lembut kening Taeyeon yang kemudian menutup mata menerima ciuman penenang dari leader G-Dragon ini.

CHAPTER 10

I LOVE YOU

Di dance practice room, BIGBANG tengah latihan dan tiba waktu istirahat. Semua member juga YG’s dancer berhambur mencari tempat nyaman untuk istirahat dan melepas dahaga dengan air mineral.

Setelah meneguk beberapa kali air mineral dalam botolnya, Jiyong langsung menyambar ponselnya diatas bangku panjang dalam ruangan tersebut. Raut wajahnya tampak kesal. Ia coba menelepon seseorang beberapa kali tapi tidak ada jawaban.

“Nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab panggilan anda. Silakan….

Semakin kesal, mukanya mengeras tapi ia kembali menelepon.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau….

Jiyong benar-benar tidak tahan.

“Sekarang lau mematikan ponselmu?” gumam Jiyong menatap layar ponselnya.

Sedari tadi ia coba menelepon Taeyeon namun tidak dijawab dan sekarang tidak aktif. Beberapa kali mencoba tapi nihil.

Hampir seminggu Jiyong tidak melihat wajah gadis itu secara langsung sejak terakhir bertemu di apartemen BIGBANG yang membahas kemampuan Taeyeon bersama Seunghyun juga Yuri. Sentuhan terakhir yang Jiyong lakukan adalah ciuman kening di dapur.

“Dia terlihat sangat kesal,” bisik Youngbae bersama Daesung juga Seunghyun yang duduk bersandar di dinding kaca dance room.

“Sepertinya dia akan memarahi seseorang,” timpal Daesung.

“Dan itu akan terjadi sebentar lagi,” sahut Seunghyun santai lalu meminum air mineral dalam botol.

“Seungri!”

Tengah bermain ponsel tidak jauh dari Jiyong dan mendengar panggilan dari suara sang leader, membuat Seungri tersentak dan cepat merespon, “Ne, hyung.”

Dengan semangat dan senyum yang bertengger manis di bibirnya, Seungri menghampiri Jiyong.

“Kau masih di rumorkan dengan member EXID?” tanya Jiyong masih stabil intonasi suaranya.

“Aah… Solji, itu ‘kan sudah bersih,” jelas Seungri dengan senyum ceria di depan naga yang siap menerkamnya, tapi panda malang ini sepertinya tidak tahu apa-apa.

“Tapi, sampai kapan aku harus bicara denganmu? Jaga sikap! Jaga sikapmu di dunia luar.”

“Aku selalu menjaga sikapku. Dan, itu baik-baik saja,” Seungri heran.

“Ada apa lagi sekarang?” gumam Daesung melihat leader dan maknae bicara.

“Begitu, ya? Dengar, kau terlalu banyak bicara, sering tidur dan… belum lagi skandalmu dengan wanita di setiap negara. Bagaimana kau mengatasi semua itu? Hey, kau lihat kemana? Seungri!” Jiyong melampiaskan amarahnya pada maknae lucu ini. Ia marah sebab yang diajak bicara semakin menunduk.

Mendapat panggilan yang mengejutkan itu perlahan Seungri mengangkat kepalanya. Dengan lembut juga gemetar ingin ia membantah tapi ia hanya bisa berkata,

“Hyung….”

“Kau selalu membuatku untuk mengatasinya. Sementara aku berusaha mengatasinya kau membuat masalah lagi. Apa kau akan menyia-nyiakan hidupmu di BIGBANG, hey pembuat masalah?!”

Seungri begitu terkejut. Pembuat masalah? Kedua mata panda maknae inipun berkaca-kaca.

Tidak tahan dengan kemarahan Jiyong, Seunghyun bangkit dan memberi peringatan pada Youngbae juga Daesung, “Kalian tunggu disini. Kalian bisa jadi korban jika ikut aku.”

“Kau memang troublemaker,” sebut Jiyong pada Seungri.

Air mata yang menggenang di pelupuk matanya sejak tadi akhirnya sukses terjun melewati kedua pipi maknae yang terlihat menyedihkan. Tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba sang leader menyerangnya. Daesung dan Youngbae yang melihat ini kaget, anatara lucu dan kasihan sebenarnya.

“Yong-ah…” panggil Seunghyun santai tapi Jiyong tidak menoleh sama sekali.

“Kau pikir aku bisa tersentuh dengan air matamu?” tanya Jiyong seraya menunjuk wajah maknae dengan tangan kiri yang memegang ponsel. Belum reda emosi Jiyong ini.

Melihat Jiyong mengangkat tangannya, perhatian Seunghyun tertuju pada ponsel Jiyong, terlihat disana tengah menelepon Taeyeon.

Maka, Seunghyun tersenyum tipis. Ia mengerti sekarang, Jiyong tengah melampiaskan kekesalannya pada Seungri dengan mencari-cari kesalahan sang maknae yang memang tidak bisa disangkal aknae sendiri, karena itu memang benar. Sehingga sang maknae hanya bisa tertunduk menangis didepan leader sambil merenungi kesalahan-kesalahannya.

Amarah Jiyong sudah sampai ubun-ubun dan tidak bisa menahan didalam otaknya. Ia seperti harus mencari seseorang untuk pelampiasannya. Dan, pelampiasan itu jatuh pada orang yang tepat, maknae.

Tapi, Jiyong bukan tipe orang yang seperti ini. Melampiaskan urusan pribadi dengan urusan grupnya. Ia akan bersikap profesional, sangat profesional. Semarah apapun Jiyong pada masalah pribadinya ia tidak akan melampiaskannya pada member, tidak akan dibawa kedalam BIGBANG. Namun, jika hal itu tetap terjadi, artinya Jiyong benar-benar frustasi dengan keadaan yang tidak bisa ia terima.

“Yong-ah… Ayo akhiri ini,” Seunghyun menepuk bahu Jiyong tapi segera ditepis dengan bahunya saat itu juga.

“Seungri,” panggil Jiyong lagi, tidak kasar juga tidak lembut.

“Seungri… lihat sini,” panggil Seunghyun lebih lembut lalu berdiri disamping Jiyong namun agak mundur. Sehingga Jiyong tidak bisa melihat wajah Seunghyun.

Tentu Seungri lebih memilih panggilan yang lebih lembut, perlahan ia mengangkat kepala dan menatap Seunghyun, ia juga sangat menghindari tatapan Jiyong yang mengintimidasi.

Seunghyun pun memberi isyarat dengan tangan menerangkan pada Seungri bahwa leader Jiyong sedang lelah. Maka, Seungri melirik Jiyong yang tengah menatap ponsel seraya menekan keras-keras layar ponsel itu. Seungri berusaha mengerti.

Dua penonton, Daesung dan Youngbae tidak lupa berbagi pemikiran dengan setengah berbisik.

“Apa ini? Memarahi maknae lalu kesal pada ponsel? Pelampiasan pada ponsel?” komentar Daesung.

“Bukan itu urutannya. Tapi, kesal pada ponsel lalu memarahi maknae,” Youngbae membenarkan. Karena, ia lebih tahu bagaimana Jiyong.

“Apa itu benar?” tanya Daesung.

“Kau tidak lihat saat tiba istirahat dia langsung membuka ponsel dan wajahnya berubah kesal?”

Daesung kemudian mengamati Jiyong yang masih menatap ponsel lalu menatap kesal pada Seungri.

Sebelum timbul lagi suara Jiyong yang membuat mata Seungri nanti semakin panda, Seunghyun memerintah Seungri,

“Seungri-ah, bergabunglah dengan yang lain. Aku akan bicara dengan Jiyong.”

Dengan takut-takut, Jiyong menjauh dari Jiyong dan Seunghyun.

“Kenapa kau menyuruh dia pergi? Aku belum selesai,” sela Jiyong menatap Seunghyun.

“Ini sudah selesai,” sahut Seunghyun tersenyum. “Jiyong-ah, apa kau harus seperti ini? Melampiaskannya pada Seungri?”

“Pelampiasan?” Jiyong tertawa sinis, tapi dimata Seunghyun, Jiyong terkesan mengelak. “Aku bicara apa adanya.”

“Itu memang apa adanya, tapi kau menggunakannya sebagai alasan pelampiasanmu.”

“Alasan apa? Aku tidak melakukan itu.”

“Apa seminggu ini kau berusaha menghubungi Taeyeon tapi tidak bisa?” tanya Seunghyun langsung.

Jiyong tercekat, bagaimana dia bisa tahu?

“Nugu? Taeyeon? Ada apa dengannya? Kenapa mengaitkanku dengannya?” Jiyong tertawa mengelak.

Seunghyun belum mau kalah, “Jiyong….”

“Hello….

Sebuah suara gadis yang sangat dikenal membuat semua member BIGBANG menoleh kearah pintu. Kwon Yuri datang dengan ceria dan melambai pada mereka. Namun, ia melihat ada sedikit ketegangan antara dua oppa-nya, Seunghyun dan Jiyong. Ia tidak mau terlibat jadi ia memilih bergabung dengan Daesung, Youngbae dan Seungri. Duduk bersama mereka.

“Eoh? Seungri, kau menangis?” terka Yuri tertawa hampir tidak percaya.

Jiyong mendengar pertanyaan itu. Setelah melirik semuanya sekilas, ia meninggalkan ruangan itu diiringi senyuman kecil dari Seunghyun yang kemudian bergabung dengan member lain juga adik Jiyong, Yuri.

“Aku tidak menangis,” sangkal Seungri sebal.

“Matamu sembab,” tukas Yuri.

“Mataku panda,” elak Seungri kukuh.

“Kamu menangis,” Yuri menjulurkan lidah tidak mau kalah.

“Jangan memisahkan diri saat istirahat latihan mulai sekarang,” seseorang menepuk bahu Seungri dari belakang yang ternyata Seunghyun, pria tinggi itu lalu duduk disebelah Seungri. “Jika kau tidak mau jadi korbannya.”

“Tetap saja dia akan mencariku karena aku maknae, itu alasannya,” cibir Seungri. “Kenapa Ji hyung seperti itu? Sebelumnya dia tidak pernah membahas skandalku karena dia bilang dia bisa menerimanya. Kenapa sekarang membahasnya dengan amarah? Aku takut melihat matanya, seperti ada api disana.”

“Setelah dimarahi seperti itu kau masih banyak bicara,” sela Daesung tertawa.

Seungri hanya menaikkan pundaknya sekilas. Semua menyambut tawa Daesung kecuali Yuri, karena Yuri tidak tahu arah pembicaraan mereka kemana.

“Kalian bicara apa?”

“Yul, kau tahu? Kakakmu baru saja memarahi maknae BIGBANG. Kau sedikit terlambat jadi tidak melihat semuanya. Seungri juga menangis,” ungkap Daesung diselingi tawa.

“Aku tidak menangis,” sangkal Seungri malu pada Yuri karena Yuri pasti akan menjadikan tangisannya sebagai bahan ejekan untuk hari-hari kedepan.

Namun, sepertinya Yuri tidak mempedulikan Seungri, ia terlihat serius karena terkejut mengetahui kakaknya baru saja marah.

“Ji oppa marah? Waeyo?”

“Dia tidak bisa menghubungi Taeyeon selama hampir seminggu dan dia melampiaskan kekesalannya pada Seungri,” jelas Seunghyun.

“Ji oppa marah pada Seungri karena Tae eonni?”

Seunghyun menangguk, namun tiga member lain terhenyak dengan fakta yang baru mereka ketahui. Sementara Yuri kemudian tersenyum lebar.

“Kenapa tersenyum?” tegur Seungri kesal.

“Aniyo. Uljima, Seungri-ah,” ucap Yuri manja.

“Aku tidak menangis!” seru Seungri kesal.

“Aku harus ke SM. Jika Ji oppa tanya aku dimana, jawab saja di SM. Aku hanya mampir sebentar. Bye,” pamit Yuri semangat, bangkit lalu cepat pergi.

Hey, ingat! Aku tidak menangis,” seru Seungri. Walau Yuri mendengar tapi ia mengabaikannya, membuat Seungri mencibir, “Anak itu.”

Tidak lama setelah Yuri keluar, Jiyong kembali ke dance room. Mendadak Seungri takut, masih takut walau tahu alasan Jiyong memarahinya. Ia masih tidak berani menatap mata naga itu.

“Aku lupa, ternyata hari ini kita tidak ada latihan lagi,” ungkap Jiyong.

“Ah, benar,” sambut Daesung. “Hari ini aku berencana akan pulang ke rumah sebentar.”

“Pergilah, tapi jangan sampai malam,” Jiyong memperingatkan dan Daesung mengangguk cepat. Jiyong menyadari kemana adiknya, “Yuri dimana?”

“Ke SM,” jawab Youngbae mewakili semuanya.

Sebenarnya, Seungri ingin menjawab itu tapi ia menahan diri mengingat dirinya dan Jiyong tengah sedikit ada ketegangan.

“Apa dia sudah pergi?”

“Baru saja,” sahut Daesung.

***

Sepulang dari SM -pukul 09.30 P.M-, kini Yuri sudah berada apartemen BIGBANG dan terus memeriksa jam tangannya sejak dua puluh menit yang lalu. Jam tangan yang melingkar di tangan kirinya kini menunjukkan pukul 09.50 P.M. Ia juga acapkali memeriksa ponsel di tangan kirinya, menunggu seseorang menelepon.

Ia berada di rumah tamu bersama member BIGBANG kecuali kakaknya, Jiyong. Yuri mondar-mondar didepan empat member itu dengan cemas.

“Sekarang aku harus bagaimana? Ji oppa pergi ke bar begitu malam tiba sampai sekarang belum ada kabar, nomornya tidak aktif. Haruskah aku menjemputnya sekarang?” cemas Yuri yang mulai panik juga.

“Jiyong akan baik-baik saja disana. Dia selalu seperti itu, ‘kan?” Seunghyun berdiri menghampiri Yuri, menenangkan.

“Tapi berbeda hari ini. Dia bahkan memarahi Seungri sampai menangis. Oppa, lakukan sesuatu,” pinta Yuri semakin khawatir.

“Arasseo. Aku akan mengurusnya,” Seunghyun mengangguk. “Tenangkan dirimu dan lebih baik kau tidur dulu. Tidurlah.”

“Aniya. Sebelum Ji oppa pulang aku tidak mau tidur.”

“Dia bisa pulang pukul dua pagi. Kau tidur saja, Jiyong pasti pulang,” Youngbae ikut menenangkan dari tempat duduknya.

“Aniya,” kukuh Yuri menggeleng.

Sangat sulit memang membujuk gadis satu ini. Mereka tetap kalah. Sekarang yang mereka pikirkan adalah cara membawa pulang Jiyong. Mereka tidak mau ceroboh dengan langsung mendatangi Jiyong karena pasti Jiyong tidak akan mudah dibawa pulang begitu saja.

“Aku akan menelepon seseorang,” Seunghyun akhirnya memutuskan. “Dia akan membantunya.”

Semua menatap penasaran Seunghyun tentang siapa yang ditelepon Seunghyun.

***

Masuk ke tempat yang sangat jarang bahkan enggan untuk ia datangi, tentu saja sebenarnya ia tidak mau. Tapi, seseorang menelepon meminta bantuannya untuk menjemput seorang G-Dragon yang pasti sudah mabuk berat. Bau alkohol bercampur dengan dentuman keras musik juga insan-insan yang mencari kesenangan ditempat ini sangat ingin ia hindari.

Ia mencari-cari seseorang didalam bar kelas atas itu.

Bagaimana ia bisa menolak permintaan tolong itu saat ia mengetahui adik perempuan hitam manisnya sulit dibujuk untuk tidur karena sangat mengkhawatirkan kakak bandelnya?

Begitu Seunghyun meneleponnya, ia langsung bergegas menuju bar yang dimaksud Seunghyun, yakni di Itaewon.

Dengan derap sepatu kets yang suaranya kalah dengan alunan musik sangat keras, langkah yang sedikit sulit karena begitu banyak orang juga tempat yang gelap hingga pandangannya terbatas, gadis mungil ini, Kim Taeyeon berusaha melangkah lebih dalam mencari keberadaan leader BIGBANG itu.

Begitu sulit mencarinya sampai Taeyeon hampir mual dan pusing karena terlalu lama berada di tempat ini, hingga langkahnya terhenti kala melihat punggung pria yang tengah dicarinya. Pria itu tertunduk di meja waitress. Benar bukan? Ia sudah tampak begitu mabuk.

Taeyeon bernafas lega karena bisa menemukan pria itu ditengah ia sudah sangat ingin keluar dari tempat memuakkan ini. Ia menghampiri pria itu.

“Jiyong…” panggil Taeyeon pelan menepuk bahunya dari samping.

Pria itu mengangkat kepala yang terasa sangat berat dan dengan mata yang sulit terbuka berusaha mengenali gadis yang berdiri disampingnya.

“Lama tidak bertemu. Kau Kim Taeyeon, ‘kan?” tebak Jiyong dengan senyum mabuknya.

Hey, adikmu dan member lain sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa kau belum pulang? Kapan kau akan pulang?” kesal Taeyeon geram.

“Sepertinya aku sangat mabuk,” kacau Jiyong tersenyum mabuk.

Kembali Jiyong minum tapi gelasnya cepat direbut gadis itu dan meletakkannya dengan kasar diatas meja. Jiyong tertawa kecil lalu menundukkan kepala di meja.

“Kwon Jiyong…” geram Taeyeon.

***

Dengan merangkul G-Dragon yang super mabuk ini, Taeyeon berhasil memasuki apartemen BIGBANG. Melihat tiba-tiba Taeyeon masuk, Seunghyun dan Youngbae segera menghampiri dan menggantikan gadis yang terlihat kewalahan menahan beban laki-laki mabuk berat.

“Kenapa tidak menelepon kami setelah sampai di basement? Kami bisa turun membantumu,” tegur Youngbae yang sudah merangkul Jiyong disisi kanan dan disisi lainnya Seunghyun.

Gadis mungil itu hanya tersenyum tipis. Disusul mereka membawa Jiyong ke kamarnya.

“Eonni, neo kwaenchana?” tanya Yuri menghampiri Taeyeon. “Gomawo, eonni, sudah membawa Jiyong oppa pulang. Kau harus istirahat, ayo aku antar ke kamar.”

“Aniya, nanti dulu. Jiyong mau pulang tapi dia ingin bicara denganku setelah sampai sini.”

Yuri mengerti.

“Taeyeon-ah, dia memanggilmu. Dia masih agak mabuk,” ucap Seunghyun kembali muncul di ruang tamu bersama Youngbae.

Taeyeon mengangguk.

“Jiyong juga berpesan, kalian istirahatlah dan maaf sudah membuat kalian khawatir,” ujar Taeyeon.

“Anak itu…” gumam Yuri untuk Jiyong.

Taeyeon menuju kamar Jiyong. Hati-hati ia memasuki kamarnya lalu menutup pintu pelan. Gadis mungil itu menghampiri Jiyong yang terbaring mabuk di ranjang mewahnya. Diambilnya kursi dan diletakkan di dekat ranjang itu lalu Taeyeon duduk di kursi tersebut. Ditatapnya Jiyong, Taeyeon merasa bersalah. Jiyong, kenapa kau seperti ini?

Perlahan Jiyong membuka kedua mata dan menoleh, sudah ada gadis itu didekatnya rupanya. Ia tersenyum yang dibalas senyuman manis Taeyeon.

“Kau kemana saja?” tanya Jiyong pelan setengah sadar.

“Maaf, aku sibuk. Jadi, tidak bisa mendatangimu.”

“Kau tahu? Aku selalu menghubungimu.”

“Iya,” Taeyeon mengangguk. Ia tidak tahan hingga matanya mulai berkaca-kaca. “Maaf, tadi ponselnya kumatikan. Aku sedang bicara dengan Lee sajangnim.”

Jiyong memejamkan matanya, mewakili anggukan.

“Kau sudah makan? Kau terlihat kurus,” lanjut Jiyong.

“Aku tidak mengalami penurunan berat badan minggu ini,” ujar Taeyeon mencoba tersenyum walau air di pelupuk matanya mulai menggenang. Jiyong tertawa kecil.

“Kau jangan pergi sampai aku tertidur, ya?” pinta Jiyong yang cepat mendapat anggukan setuju Taeyeon. “Rupanya seperti ini cara untuk bertemu denganmu.”

“Tidurlah, ini sudah sangat malam,” perintah Taeyeon tidak ingin mendengar lanturan Jiyong yang semakin membuatnya merasa bersalah.

“Terima kasih,” ucap Jiyong.

Setelahnya suasana menjadi hening dengan Taeyeon yang menatap Jiyong yang tengah memandangi langit-langit kamarnya.

Merasa diperhatikan, Jiyong menoleh. Jadilah mereka saling menatap dalam. Cukup lama mereka diam dan saling menatap.

“Aku menyukaimu,” ucap gadis mungil innocent face ini akhirnya setelah cukup lama terdiam dengan air mata jatuh mengalir di kedua pipinya.

Kupu-kupu kuning dan pink keluar dari mulutnya secara bersamaan disertai dengan sinar lembut begitu Taeyeon mengucapkan kalimat baru saja.

Jiyong terhenyak mendengar pengakuan gadis yang disukainya ini. Dengan hati-hati ia meyakinkan diri sendiri pasti salah dengar, ia tidak mau percaya begitu saja, terlebih ia masih dalam pengaruh alkohol.

“Aku tidak melihat kupu-kupunya. Kau pasti bercanda,” kata Jiyong ragu dan tertawa tidak percaya.

Air mata Taeyeon semakin deras, ia memang sengaja mengatakannya sekarang, saat Jiyong mabuk. Karena dengan begitu Jiyong tidak bisa melihat kupu-kupunya dan tidak bisa menilai ketulusannya.

“Tidurlah,” ucap Taeyeon lalu menyelimuti Jiyong sampai setengah badan. Taeyeon kembali duduk, “Kau harus istirahat. Besok kau sibuk, ‘kan?”

Tidak menjawab, Jiyong justru duduk menghadap Taeyeon, mau tidak mau Taeyeon membantu keinginan Jiyong untuk duduk.

Ditatapnya wajah mungil gadis ini, lalu dengan kedua tangannya Jiyong perlahan menghapus air mata Taeyeon yang terus mengalir.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jiyong masih menangkupkan kedua tangan di wajah Taeyeon.

“Karena kau mabuk,” tangis Taeyeon. Baru pipi itu dibersihkan dari air mata, gadis ini sudah membasahinya lagi.

“Aku biasa mabuk. Apa kau akan menangis setiap kali aku mabuk? Harusnya aku yang menangis saat melihatmu mabuk,” tutur Jiyong senyum.

Maka, Taeyeon berusaha tersenyum. Ia memegang kedua tangan Jiyong yang menangkap wajahnya, bermaksud melepas tangan Jiyong dari pipinya. Tapi, Jiyong tidak mau.

Justru Jiyong mendekatkan wajahnya pada Taeyeon dan menempelkan bibirnya pada bibir Taeyeon kemudian menciumnya dengan lembut. Taeyeon terkejut dengan bibir Jiyong yang mendarat di bibirnya, namun beberapa saat setelah ia bisa menerima bibir Jiyong, Taeyeon menutup kedua matanya dan memilih mendiamkan bibirnya untuk pasif.

Membiarkan bibir Jiyong yang aktif dengan lembut melumat bibir atas juga bawah secara bergantian. Bibir Taeyeon tetap pasif, tidak ingin membalasnya. Sementara Jiyong terus mencium lembut bibir mungil Taeyeon dalam pengaruh mabuknya.

***

Waktu menunjukkan pukul 07.00 A.M. Dikamarnya, dengan selimut yang menutupi separuh badannya, Jiyong masih terlelap. Kursi yang semalam didekat ranjangnya sudah terletak di tempat semula.

Perlahan, pria yang semalam mabuk berat ini sadar dari tidurnya, matanya berusaha terbuka. Setelah bisa menguasai diri sepenuhnya, ia menatap sekelilingnya, di setiap sudut kamarnya. Mencari-cari seseorang. Ya, seseorang yang semalam bersamanya sampai ia tertidur. Dimana Kim Taeyeon?

Jiyong pun duduk berusaha mengingat kembali lebih jelas apa yang terjadi semalam. Dalam ingatannya, yang muncul adalah dirinya mencium Taeyeon.

Tapi, sebentar. Benarkah gadis semalam itu Kim Taeyeon. Bukan Yuri? Jangan-jangan Yuri. Karena dibawah pengaruh alkohol bisa saja dirinya berimajinasi bahwa itu Taeyeon padahal adiknya sendiri, Kwon Yuri.

Jiyong kini sangat menyesali perbuatannya. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar, sangat kacau suasana hati pagi ini.

Bagaimana bisa ia mencium adiknya dengan cara semalam? Kenapa dirinya mencium adiknya? Kenapa dirinya tidak ingat wajah gadis semalam. Adiknya… tidak bersalah. Dirinya adalah kakak yang pantas dibuang. Yuri… apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengan adiknya itu?

***

Jiyong memasuki dapur dan melihat semuanya sudah duduk di masing-masing kursi meja makan.

“Oh, hyung kau keluar juga.”

Jiyong mendekat dan memegangi kepala kursi seraya menatap menu sarapan lengkap di meja itu. Matanya tertuju pada sup pereda mabuk tepat didepan kursinya.

“Siapa yang membuat ini?” tanya Jiyong seraya duduk.

“Kau hanya perlu memakannya,” tukas Seunghyun tanpa menatapnya sebab tengah menuang susu putih kedalam gelas miliknya.

“Kalian sudah berkumpul?” seru seorang gadis dengan ceria seperti biasanya yang memasuki dapur. “Aku sudah siapkan sarapan itu untuk kalian.”

Jiyong tersentak mendengar suara adiknya. Ia menatap sup dan menu sarapan. Yuri menyiapkan sarapan ini? Sejak kapan ia bisa memasak? Belajar dari siapa? Ibu atau ibu keduanya alias Taeyeon?

“Ini enak,” komentar Seungri yang mencoba telur gulung hangatnya. “Kau menyiapkannya saat kami masih tertidur?”

“Ne. Youngbae oppa juga membantu,” sahut Yuri tersipu. Ia lalu mengambil mangkuk di lemari dinding dan duduk sebelah Seunghyun yang berseberangan dengan Jiyong.

Pantas sarapannya kelihatan layak di makan, ada Youngbae yang membantunya, batin Jiyong menuang air putih.

Rupanya Yuri belum menutup lemari dindingnya, maka ia kembali beranjak dari duduknya dan menghampiri lemari itu lalu menutupnya. Tanpa berlama-lama ia kembali tapi ia terkejut karena Jiyong tiba-tiba bangkit menghalangi jalannya.

“Kwon Yuri,” ucap Jiyong menatap ragu adiknya.

“Wae geurae?” heran Yuri mengerutkan kening. “Kenapa kau memanggilmu seperti itu?”

Bagaimana cara memulainya? Bagaimana cara membahasnya? Ia masih terbayang ciuman semalam. Ia ingin memastikan gadis itu Yuri atau Taeyeon.

“Yuri-ah, apa….”

“Apa? Bicara yang jelas, kau belum sarapan makanya seperti ini? Sarapanlah,” ketus Yuri menerobos Jiyong si penghalang dan kembali duduk.

Sembari kembali duduk, Jiyong memikirkan reaksi adiknya baru saja. Kenapa dia kesal? Apa karena ciuman semalam?

Jiyong beralih mencicipi sup pereda mabuk buatan adiknya. Eoh? Rasanya familiar. Dimana ia pernah mencicipi sup ini sebelumnya? Ah, bukankah ia pernah memakan sup pereda mabuk buatan Taeyeon sewaktu gadis itu menjadi manajernya selama semalam?

Sesuap ia mencicipi sup dan sejenak ia melupakan perihal ciuman itu, tapi kini datang lagi ingatannya.

Jiyong diam-diam memperhatikan bibir lembap Yuri. Mungkinkah bibir itu yang semalam menempel di bibirnya? Kenapa Yuri tampak sangat tenang sekarang?

“Jiyong-ah…” tegur Youngbae mengetahui Jiyong melamun.

“Kau melihat kemana?” kesal Yuri takut lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Jiyong cepat tersadar, “Mi… mian.”

Youngbae hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan makan diikuti yang lain karena sempat terganggu dengan tingkah Jiyong. Jiyongpun melanjutkan makan walau sedikit tidak nyaman dengan pikiran yang menggelayut di benaknya.

“Kalian tahu Seunghyun hyung semalam memelukku begitu erat dalam tidurnya. Aku sangat kesal tapi aku hampir tidak bisa bergerak,” cerita Seungri disela-sela sarapan yang semalam tidur bersama Seunghyun, karena kamarnya kembali direbut Yuri.

“Jika aku tahu aku tidak akan melakukannya,” sahut Seunghyun tertawa kecil dan lanjut menyantap nasinya.

“Kau juga tidak pakai baju semalam,” cibir Seungri melirik Seunghyun yang didepannya.

“Seungri, jika semalam kau tidur denganku kau yang bisa memelukku seperti guling. Tidak kesal seperti sekarang. Aku ‘kan tidak banyak tingkah saat tidur,” sambut Daesung yang seperti memberi izin tidur dalam kamarnya.

“Harusnya memang seperti itu, hyung,” jawab Seungri.

“Tapi, aku tidak mau tidur denganmu,” lanjut Daesung tertawa disambut cibiran Seungri dan makan telur gulung dengan sebal.

Melihat pembicaraan yang semakin melantur ini, membuat Yuri kesal. Ia merampungkan sarapan porsi kecilnya. Tidak mengerti dengan kelakuan orang-orang ini.

“Aku selesai,” sela Yuri setelah meminum air putih hangatnya. Orang yang satu-satunya gadis ditempat ini pun keluar meninggalkan mereka setelah menatap mereka yang terlihat aneh.

***

“Dimana Yuri?” tanya Jiyong pada empat member lainnya di ruang tamu begitu memasuki ruang tersebut. Semua sudah rapi siap melaksanakan jadwal aktivitas hari ini.

“Ke SM,” jawab Seunghyun yang tengah mempersiapkan topi juga kacamata hitamnya.

Jiyong mengerti.

Tapi, sedetik kemudian, tunggu. SM? Ia teringat sesuatu. Cepat ia melangkah pergi seraya memakai kacamata hitamnya.

“Kau mau kemana?” Daesung bertanya.

“Aku… ada urusan dengan Yuri. Ini sangat penting harus sekarang. Aku akan ke SM,” jelas Jiyong lalu menuju pintu apartemen dan keluar.

Mereka berempat menatap leader-nya penuh curiga.

Di basement, Jiyong memasuki mobilnya dan membuka ponsel. Terlihat nomor telepon beserta nama ‘Kim Taeyeon’ disana.

“Kau… lihat saja nanti,” gumam Jiyong geram lalu menyalakan mesin mobil dan tanpa basa-basi langsung tancap gas meninggalkan basement. Menyetir dengan kencang di jalan raya.

Jiyong yang sudah tidak mau menunggu lagi merasa harus cepat mengambil tindakan. Jika gadis yang membuatnya sampai memarahi maknae BIGBANG tersayangnya itu tidak bisa dihubungi, maka Jiyong yang akan menemuinya. Menemui Taeyeon secara langsung. Entah berhasil atau tidak, ia harus mencobanya.

***

Derap langkah santai tapi pasti di lantai utama gedung SM Entertainment terdengar. Derap itu berasal dari langkah Jiyong yang sudah berada didalam.

Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia mengedarkan pandangan disekitarnya mencari-cari adiknya juga gadis satu itu, Taeyeon. Ia menelepon Yuri seraya terus melangkah sampai ke lorong SM Studio.

Kenapa Yuri tidak menjawab teleponnya? Kembali Jiyong coba menelepon Yuri dan memutuskan menunggu diujung lorong.

“Keuraeyo? Itu lucu sekali,” tawa Tiffany bersama Seohyun, Yuri dan Taeyeon yang berjalan di lorong.

Mereka tengah membicarakan sesuatu dengan canda tawa khas gadis-gadis.

Jiyong yang mendengar suara tidak asing itu segera menoleh.

“Kena kau,” gumam Jiyong geram melihat gadis mungil yang ia cari ada diantara mereka.

Taeyeon dan lainnya semakin dekat dengan Jiyong tapi tidak ada dari mereka yang sadar akan keberadaan Jiyong.

“Omo!” seru Taeyeon langkahnya terhenti begitu melihat sesuatu yang membuatnya terperanjat, membuat yang lain mengikuti arah pandang Taeyeon.

“Oppa!” seru Yuri langsung menghampiri Jiyong yang juga tengah mendatanginya. “Oppa, kenapa disini?”

“Melihatmu,” jawab Jiyong senyum. Ia sedikit mencondongkan badannya ke samping karena Yuri menghalangi pemandangan dibelakangnya. Jiyong melambai senyum pada Taeyeon dan semuanya.

Hal itu membuat Taeyeon membolakan mata. Masih terkejut dengan kedatangan Jiyong yang tiba-tiba di gedung ini.

Yuri melepas kacamata Jiyong lalu dipakai sendiri diatas kepala. Kakaknya ini menatap datar dirinya.

“Kau ‘kan sudah melihatku tadi,” tukas Yuri.

Namun, Jiyong hanya menepuk-nepuk kepala Yuri dengan pandangannya tertuju pada Taeyeon dengan senyum smirk.

Apa naga itu akan menerkamnya? Batin Taeyeon. Sebelum hal itu terjadi, Taeyeon cepat berbalik dan sedikit berlari meninggalkan Jiyong juga teman-temannya yang keheranan.

“Eonni,” panggil Seohyun tapi Taeyeon tidak peduli dan semakin mempercepat langkah sebelum Jiyong mengejarnya. Ia tahu Jiyong pasti mencarinya.

“Ji oppa, jeoseongeyo, kami pergi dulu menyusul Tae eonni,” pamit Tiffany dan Jiyong hanya mengangguk pelan. Lalu, Tiffany mengejar Taeyeon disusul Seohyun.

“Oppa, tetaplah disini. Aku ambil tas lalu kita pergi bersama,” ucap Yuri lalu berbalik menyusul TaeTiSeo.

Tetap Jiyong tersenyum. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari disekelilingnya tidak ada orang. Bibirnya mencibir, G-Dragon ditinggal seorang diri?!

Sepuluh menit Jiyong masih ada ditempat semula. Saat tengah jenuh hampir tidak tahan ditempat ini, ia melihat seorang wanita berjalan kearahnya dengan hati-hati. Wanita itu memakai setelah serba hitam. Celana jeans panjang hitam, jaket kulit hitam dengan tudung kepala yang sekaligus dipakai lalu juga memakai kacamata hitam serta masker dan… heels manis?

Jiyong tertawa kecil melihat sepasang sepatu yang tidak padu dengan busananya. Juga, heels itu dapat ia kenal. Tentu saja karena beberapa saat lalu ia sempat melihat seseorang memakainya. Ia tahu siapa gadis ini, ya, gadis mungil itu yang bernama Kim Taeyeon. Tampaknya gadis ini sedikit melewatkan penyamarannya dengan meninggalkan jejak heels.

Rupanya sikap kehati-hatian menghindari dirinya gagal. Ia menunggu gadis itu benar-benar dekat jaraknya.

Ketika semakin mendekati Jiyong, Taeyeon berdiri tegak dan bersikap biasa. Ia hanya berjalan melewati Jiyong dan membungkuk salam sejenak lalu mempercepat langkahnya. Namun, dengan cepat pula tangan kanan hiyong meraih lengan kiri gadis itu sebelum menjauh membuat gadis itu tersentak.

Jiyong langsung membawa Taeyeon bersamanya.

“Jeoseonghamnida, aku bukan Kim Taeyeon,” ucap gadis itu cepat namun tidak memberhentikan langkah Jiyong membawanya.

“Itu adalah pengakuan kalau Kim Taeyeon,” timpal Jiyong tersenyum geli. “Dan juga, di gedung manajemen sendiri kenapa harus menyamar.”

Kepala Taeyeon tertunduk menyesali kecerobohannya yang keluar begitu saja. Ia lalu membuka masker dan kacamatanya dengan kasar.

“Iya, ini aku,” ketus Taeyeon melirik kesal. “Kau akan membawaku kemana? Kenapa terus menarikku?”

“Kau harus menghindari orang-orang yang melihat fashion-mu saat ini. Kau sangat aneh,” ujar Jiyong tanpa menatap Taeyeon. Mereka sampai di lobi menuju pintu utama gedung SM.

“Ada apa dengan fashion-ku? Aneh? Aku tahu kau fashionista tapi apa harus kau terang-terangan mengkritik orang didepan dengan jarak sedekat ini?” cibir Taeyeon.

“Aku selalu terang-terangan. Sepatumu….”

“Sepatu?”

Belum sempat Taeyeon melihat sepatunya, tiba-tiba kakinya oleng jadilah ia terkilir dan jatuh terduduk tepat di depan pintu utama. Walau tangannya masih terpaut dengan tangan Jiyong antara kenapa pria itu tidak menahannya. Membuat kesal Taeyeon saja.

Menahan rasa sakit Taeyeon meringis, pandangannya melihat sepatu, high heels? Kenapa ia memakai sepatu jenis itu dengan pakaian dan aksesori lain yang serba hitam?

Hhh…

Taeyeon menyadari kecerobohannya. Ia terlalu buru-buru menyamar sampai lupa memakai sepatu boots yang rencananya akan ia pakai bersama pakaian ini. Ia beralih pada Jiyong yang masih berdiri saja.

“Kau tidak mau menolongku?” tanya Taeyeon mendongak pada Jiyong.

Cool tanpa ekspresi Jiyong mengulurkan tangan kirinya, Taeyeon semakin mencibir, ia menerima uluran tangan itu dengan kasar lalu berdiri. Belum bernafas lega, gadis itu sudah kembali ditarik Jiyong dan mengajaknya masuk mobil.

Gadis itu hanya menurut dan Jiyong cepat-cepat masuk mobil. Tanpa berlama-lama Jiyong menyalakan mesin dan melajukan mobil meninggalkan gedung besar itu.

Dari lobi seorang gadis tampak sedikit berlari ke teras SM dan melihat mobil Jiyong mulai menjauh. Yuri. Yuri, dengan tatapan jengkel juga geram melepas kacamata Jiyong yang masih bertengger di kepalanya dan bermaksud membantingnya, tapi ragu.

“Dia itu bagaimana? Kenapa aku ditinggal?” kesal Yuri dan menoleh ke sekeliling. Tidak ada orang. Ia kembali melihat mobil Jiyong yang sudah mulai menghilang. Ia berteriak kesal, “Oppa!!!”

***

“Kemana kau akan membawaku?” Taeyeon membuka percakapan dalam perjalanan mobil.

“Kemana saja,” sahut Jiyong sejenak melirik gadis yang tampaknya masih kesal itu.

“Kau tidak bisa seperti itu. Kembalikan aku ke SM,” protes Taeyeon.

“Sudah cukup jauh.”

“Aku tidak peduli,” ketus Taeyeon. Lalu, menatap high heels-nya, tidak nyaman.

Tersenyum kecil, Jiyong menyadari gadis itu kesakitan dengan sepatunya.

“Kau bisa pakai sepatu Yuri di kursi belakang. Tidak nyaman, ya? Kau terlihat sangat aneh dengan outfit sekarang,” kembali Jiyong menertawakan fashion Taeyeon saat ini yang dibalas cibiran Taeyeon.

“Kita akan kemana? Setidaknya beritahu aku maka aku akan diam.”

“Apa ini caramu menyapaku setelah satu minggu tidak bertemu? Ini pertama kalinya aku melihatmu setelah satu minggu.”

“Pertama kali?” ulang Taeyeon tidak percaya. Ia menatap Jiyong dan memperhatikan pria gila dan bodoh ini. Lalu, semalam apa? Apa karena mabuk Jiyong tidak ingat bertemu dengannya semalam? Heol.

Sorry, salah. Aku ingat sekarang. Semalam kita bertemu di bar, bukan? Kenapa kau kesana?”

“Aku… menemui seseorang,” jawab Taeyeon terbata. Apa benar pria ini tidak ingat perihal semalam?

“Menemui orang disana? Seseorang dengan innocent face sepertimu datang ke bar dan bersenang-senang. Sejarah baru, ya?”

“Aku tidak kesana seperti yang kau pikirkan,” cibir Taeyeon. Sudah berapa kali ia mencibir pada pria ini hari ini? “Hanya bertemu sebentar dan lamgsung pulang, Yuri menjemputku.”

“Sampai di apartemen aku kira kau yang mengantarku. Tapi, tidak mungkin,” timpal Jiyong menatap jalanan kembali mengingat kejadian semalam.

Hey, itu mem…”

“Iya, maaf. Itu memang Yuri.”

Kening Taeyeon berkerut. Bukan itu maksud Taeyeon. Tapi, biarlah dia mengira seperti itu. Biarkan saja, ia tidak terlalu berharap Jiyong mengingat jasanya.

“Jadi, kau mengira itu aku? Kenapa kau melihatku dalam tubuh Yuri?” Taeyeon memilih melayani salah duga naga ini. Ia akan menguji sampai mana ingatan Jiyong.

“Mwolayo. Tapi, ini aneh, aku mendengar seorang wanita menyatakan cintanya padaku. Yuri tidak mungkin mengatakan itu, ‘kan?”

“Itu bukan aku,” sela Taeyeon cepat sebelum Jiyong semakin menjadi-jadi dengan pernyataan cintanya.

“Aku melihatmu yang mengatakan itu. Mungkinkah itu benar kau?” tanya Jiyong langsung.

“Apa kau melihat kupu-kupu yang keluar? Tidak, bukan? Karena itu bukan aku.”

“Benar juga,” timpal Jiyong yang hilang senyumnya. Tapi, ia tidak mudah menerima perkataan Taeyeon begitu saja. Ia masih ragu dengan ucapan gadis mungil ini. “Kalau begitu, coba katakan kau menyukaiku.”

“Mwo?” tentu Taeyeon terkesiap. “Untuk apa?”

“Aku hanya ingin melihat apa ada kupu-kupu atau tidak.”

“Shireo,” tolak Taeyeon cepat dan menjadi gugup.

“Apa kau tidak berani karena mungkin ada kupu-kupu yang keluar?”

“Ani.”

“Kalau begitu katakan.”

“Shireo…” jengah Taeyeon menatap kesal Jiyong.

“Apa susahnya? Jika kau tidak mau mungkin aku berpikir kau memang menyukaiku.”

“Saranghaeyo,” kesal Taeyeon tidak tahan dengan perkataan Jiyong. “Apa ada kupu-kupu? Pasti tidak ada. Benar, ‘kan?”

Jiyong menelan ludah dan menengok gadis itu sejenak.

“Katakan sekali lagi. Kau tidak tulus dan terlalu kasar. Ayo, sekali lagi,” pinta Jiyong lalu tersenyum.

Hhh…

Helaan nafas terdengar dari mulut, ia mencoba bersabar menghadapi pria ini.

“Aku… menyukaimu,” ucap Taeyeon lembut tapi sedikit tertekan.

Namun, Jiyong tidak melihat sama sekali kupu-kupu gadis ini.

Hey….

“Apa? Kau tidak melihatnya? Karena memang tidak ada,” potong Taeyeon sebelum Jiyong berulah lagi dengan ucapannya.

“Kau tidak tulus.”

“Itu tidak bisa dipaksakan,” sahut Taeyeon tersenyum puas. Berhasil mengerjai Kwon Jiyong, orang yang disukainya. “Mau lihat lagi? Aku menyukaimu.”

“Eoh?!” Jiyong terkejut. “Aku melihatnya. Itu ada kupu-kupu yang keluar.”

“Hm?” Taeyeon ikut terkejut. Tapi, ia tidak percaya. “Tidak, itu tidak ada.”

Jiyong mendengus kesal, tidak berhasil mengelabui gadis ini yan menahan tawa melihat Jiyong.

Melihat toko mainan perempuan disisi jalan, Jiyong menepikan mobilnya didepan toko tersebut.

“Kau tunggu disini,” seraya Jiyong melepas safety belt-nya.

“Wae geurae?” heran Taeyeon menatap sekeliling luar mobil dan menemukan toko mainan.

“Aku akan beli sesuatu dan itu tidak akan lama. Mana kacamatamu? Pinjam,” pinta Jiyong dan memberikannya walau masih heran. “Kacamataku diambil Yuri.”

“Beli untuk siapa?”

“Yuri.”

Selesai memakai syal dan kacamata, Jiyong keluar dari mobil lalu cepat masuk kedalam toko diiringi pandangan penasaran dari Taeyeon dengan apa yang akan dia beli. Sebenarnya, Taeyeon ingin ikut untuk setidaknya bantu memilihkan hadiah tapi Jiyong sudah berpesan untuk tetap tinggal di mobil.

Didalam toko, beruntung Jiyong tidak menemukan adanya pembeli lain jadi ia tidak perlu khawatir akan identitasnya.

Ia berkeliling mencari-cari mainan yang dimaksud di beberapa rak yang terpajang penuh berbagai macam mainan perempuan.

Senyum kecilnya terulas kala pandangannya menangkap sesuatu didepannya. Jiyong menghampiri music box Tinkerbell –mainan yang ia maksud- lalu mengambilnya tapi, ada tangan lain yang juga mengambil mainan itu secara bersamaan.

Cepat Jiyong menoleh pada pemilik tangan itu, seorang nenek. Argh… sekaramg mainan itu ada ditangannya dan nenek itu. Hampir saja Jiyong kehilangan music box itu jika dirinya tidak menahan mainan itu dari tangan nenek yang lumayan kuat.

Tidak terima, kening Jiyong berkerut dan mencibir berusaha tetap menahan mainan ditangannya. Jadilah, mereka saling tarik menarik dengan saling memberi tatapan tajam tanpa mengeluarkan suara diantara mereka.

“Anak muda, kau harus mengalah,” akhirnya nenek bicara setelah berpikir tidak akan berhasil hanya dengan diam dan saling tarik mainan.

“Aku akan mengambil ini,” ucap Jiyong bergidik terus menarik mainan tanpa melepas kacamatanya.

“Aku harus berikan ini pada cucuku sebagai hadiah.”

“Nado, ini sebuah hadiah.”

Oke, biasanya dia tidak seperti ini. Seperti yang sudah dunia ketahui, G-Dragon yang swag nan bad boy itu sangat baik hati terhadap siapapun. Dengan junior di industri musik dan anak-anak kecil saja sangat sopan dan penyayang, apalagi senior, ibu dan bahkan nenek.

Tapi, kali ini ia tidak bisa. Ia sudah memikirkan hadiah itu semalaman dan sekarang akan hancur dalam hitungan menit? Tidak. Tidak bisa.

“Tidak bisakah kau mengalah pada yang lebih tua?” kukuh nenek pada mempertahankan mainan pada pria didepannya yang belum ia ketahui identitasnya.

“Biasanya bisa, Tapi sekarang tidak. Halmeoni, lepaskan tanganmu,” Jiyong pun masih tetap pada pendiriannya. Mempertahankan music box itu.

“Shireoyo.”

“Permisi. Maaf, nenek dan tuan,” sela pelayan wanita tersenyum begitu ramah melihat mereka. “Kami masih memiliki music box seperti itu disebelah sana.”

Mereka menoleh ke arah yang ditunjuk pelayan. Ada sekitar tiga buah mainan yang sama di rak tidak jauh dari mereka.

“Aku cari yang lain saja. Bukan mainan sepertimu,” kesal nenek melepas mainan itu dan membiarkan Jiyong memilikinya.

Jiyong berkerut tapi kemudian tersenyum bahagia.

“Gomawo, halmeoni,” ucap Jiyong seraya mencubit pipi kiri dengan senyum manis.

Setelah hanya melirik kesal nenek itu pergi mencari mainan lain yang tersedia di toko. Tidak lagi mood dengan music box itu. Jiyong memandang mainan itu dengan puas, akhirnya ia bisa mendapatkan mainan itu. “Aku ambil yang ini.”

Jiyong menyerahkan boneka itu untuk selanjutnya transaksi. Pelayan menerimanya tersenyum.

***

“Kenapa lama? Kau bilang sebentar,” tanya Taeyeon yang bosan menunggu Jiyong ketika melihat pria itu akhirnya kembali dengan membawa satu paper bag berisi sebuah kotak terbungkus kado.

Paper bag itu Jiyong letakkan di kursi belakang bersebelahan dengan paper bag tempat sepatu Yuri.

“Jika tidak ada nenek itu sebenarnya cepat. Ah, aku sungguh hampir kalah,” ujar Jiyong melepas kacamata dan mengembalikannya pada Taeyeon, si pemilik.

“Memangnya kenapa?” tanya Taeyeon sambil menerima kacamata.

“Kami memperebutkan barang yang sama,” cerita Jiyong mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya perlahan keluar dari area toko.

“Kenapa tidak mengalah?” Taeyeon tertawa.

“Apa aku tipe orang yang mudah mengalah?” Jiyong balik bertanya.

“Benar juga,” Taeyeon mengangguk seraya mencibir. “Bukankah kau egois? Tapi, setidaknya dengan nenek-nenek kau harus mengalah.”

“Shireo. Aku yakin aku yang menemukannya lebih dulu. Nenek itu melihatku tertarik dengan barang itu dan cepat mengambilnya,” kesal Jiyong mengingatnya. Hal itu hanya disambut dengan tawa gadis mungil ini.

“Lalu, apa yang kau beli sampai kau begitu mempertahankannya?” tanya Taeyeon berusaha meredakan tawanya.

It’s secret. Kau juga tidak memberitahu satu hal padaku. Kali ini aku juga tidak akan mengatakannya.”

Taeyeon mencibir dengan aksi dendam Jiyong. Gadis itu memilih bersandar menyudahi percakapannya. Pikirannya kembali mencerna ucapan Jiyong yang menyinggungnya. Mengenai arti kupu-kupu kuning dan sakit kepala Jiyong yang sampai sekarang belum ia ungkapkan pada orang yang paling bersangkutan.

Entah sampai kapan ia akan menahannya ia juga tidak tahu. Gadis itu menoleh pada Jiyong, karena merasa dipandangi, Jiyong menoleh dan tersenyum padanya.

Gadis itu beralih pada jam tangannya, pukul 11.11 A.M. Ia kembali menatap jalanan depan, menanti kapan dan dimana Jiyong akan menurunkannya.

“Kau lapar? Ayo makan siang,” ajak Jiyong setelah terdiam cukup lama.

“Ini belum waktunya, aku juga belum lapar.”

“Kita akan sampai disana dan makan siang di waktu yang tepat.”

Gadis itu hanya menatap Jiyong, menduga-duga tempat mana yang dimaksud Jiyong.

TO BE CONTINUED

Advertisements

9 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 )

  1. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s