Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY

(시크릿: 너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome to readers in my Fan Fiction 🙂

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 – Part 1 | Chapter 6 – Part 2

Note:

Annyeonghaseyo.

Apa kabar, reader’s?

Chapter 7 coming up. Maaf, lama up-nya.

Maaf juga part 7 saya bagi 2 part, karena saya tidak ingin membuat kalian menunggu lama.

Part 2-nya Insya Allah update segera & secepatnya. Doain biar cepat update, ya…

Jeoseonghamnida, jika ada typo.

Semoga di mengerti.

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

“Kau bisa menamparku,” tukas Jiyong cepat saat melihat telapak tangan kanan Taeyeon terbuka, seakan mempersiapkan sebuah tamparan.

“Aku….”

“Kwaenchana. Lihat aku sebagai Woobin. Kau….”

PLAK!!!

Kedua bola mata Jiyong membulat setelah tamparan yang begitu keras mendarat dipipinya tiba-tiba. Ia memejamkan mata menahan sakit, terasa panas dan pedas. Ia bahkan tidak menyangkal jika pipi kirinya yang mempesona kini terasa sangat memerah akibat tamparan gadis innocent face ini.

Sementara Taeyeon masih menangis menatapnya, wajahnya memerah.

Senyum lebar mulai terbentuk di bibir Jiyong. Mereka saling menatap dengan raut wajah yang jauh berbeda. Senyum lebar dan menangis.

CHAPTER 7

G-DRAGON & TINKERBELL

Gadis itu kembali menampar pipi Jiyong. Namun, Jiyong hanya tersenyum tipis.

“Bagus. Mungkin setidaknya itu membuatmu lebih baik,” gumam Jiyong. Sudah kembali mengangkat tangan hendak memberi tamparan kedua, Taeyeon mengurungkan maksudnya. “Wae? Lakukan lagi jika itu belum….”

PLAK!!!

Rasa sakit akibat tamparan tiba-tiba itu Jiyong tahan, ia menatap dengan senyum tipis pada gadis yang tengah balas menatap kesal padanya.

“Apa kau tahu seberapa keras aku menahannya? Menahan rumor-rumor menyakitkan tentang kita. Kau yang membuatku jadi tidak bisa berpikir. Aku berusaha untuk mempertahankan status hubungan kita. Tapi, kenapa kau justru melakukan ini?” tanya Taeyeon yang sebelumnya membuat Jiyong terkejut karena ucapannya seakan ditujukan padanya.

Tapi, Jiyong menyadari, dirinya yang sekarang adalah Woobin yang tengah menerima pengakuan dari pacarnya, bukan, mantan pacarnya. Pengakuan ini untuk Kim Woobin, bukan untuk Kwon Jiyong. Ia menatap gadis mungil malang itu yang tampak sangat kecewa, dan kembali mengeluarkan pengakuannya.

“Kita baik-baik saja sebelumnya dan tidak ada masalah apapun. Kita baik-baik saja pada media dan semua orang tahu kita berkencan. Kau selalu menenangkanku untuk tidak memikirkan pemberitaan negatif media atau orang lain. Menyemangatiku bekerja, mendukung hal baik yang kulakukan dan banyak lagi hal positif yang sudah kau berikan untukku.

“Bukankah kau sudah menerima semuanya tentang kencan kita? Tapi, kau justru yang lebih dulu melakukan ini. Aku masih tidak mengerti,” Taeyeon menundukkan kepala menatap kosong lantai.

Emosi Taeyeon dapat Jiyong rasakan dan entah mengapa Jiyong juga merasa dirinya adalah Woobin. Ia menjadi merasa bersalah walau tidak melakukan kesalahan dan justru membuat gadis itu lebih baik karena pelampiasan padanya.

“Mianhae. Ada lagi?” tanya Jiyong lembut menguasai dirinya sebagai Kwon Jiyong, bukan Woobin.

“Ah, mianhamnida,” Taeyeon sadardan cepat menghapus air matanya lalu menenangkan dirinya. “Apa aku terlihat keterlaluan? Kau tidak memasukkannya kedalam hati, ‘kan? Kenapa kau minta maaf? Jika ada permintaan maaf, akulah yang harus melakukannya. Maaf, aku melampiaskannya padamu.”

“Kau tidak salah. Kau hanya ingin mengatakan apa yang dia tidak tahu. Walau tidak didepan di, kau sudah bagus melakukannya,” komentar Jiyong menyembunyikan perihal memasukkan perkataan gadis innocent ini ke dalam hati.

Mendengar komentar itu, Taeyeon tersenyum lega yang membuat Jiyong menatap heran.

Secepat itukah ia bisa tersenyum?

Jiyong juga tidak tahu. Mungkin ini sekadar hiburan sejenak setelah apa yang baru saja ia alami.

“Mungkin aku ceroboh karena mau melakukan pelampiasan padamu,” gumam Taeyeon menunduk seolah menyesal padahal lebih kepada meminta maaf, dan Jiyong tahu itu.

“Tinkerbell…” gumam Jiyong setelah beberapa saat keduanya terdiam.

“Mwo?” Taeyeon langsung mengangkat kepalanya menatap pria dihadapannya.

“Neo… Tinkerbell.”

“Aku tidak mengerti yang kau katakan.”

“Kau berisik seperti bell-nya Tinkerbell. Kau menyebut dirimu ceroboh dan itu seperti Tinkerbell.”

“Berisik? Sebenarnya kau mendengarkan pelampiasanku atau ingin sekali menutup telinga karena begitu berisiknya aku? Pelampiasanku begitu berisik?” kesal Taeyeon pada Jiyong yang sekarang jadi terkesan memaksa dirinya untuk mendengar pelampiasannya.

Ingin sekali Jiyong tertawa tapi ia tahan benar-benar. Yang terlihat hanya senyumannya. Ia tidak merasa terpaksa mendengar pelampiasan gadis innocent beauty ini. Sungguh. Innocent beauty? Beauty?! Yang benar saja.

“Kau Tinkerbell dan kupu-kupu yang ada dalam dirimu milik Tinkerbell yang sekarang ada didepanku. Aku menyebutnya seperti itu,” ungkap Jiyong.

“Tinkerbell apanya?” elak Taeyeon mengalihkan pandangan. “Kenapa kau jadi bahas itu?”

“Kau tidak suka?”

“Mwo?” Taeyeon jadi merasa blank, kembali menatap Jiyong.

“Kau keberatan aku memanggilmu Tinkerbell?”

Diam, Taeyeon menatap Jiyong. Diam-diam tersipu yang disembunyikannya agar Jiyong sama sekali tidak menyadarinya. Tapi, sepertinya percuma karena Jiyong begitu memperhatikan raut wajahnya. Dasar Jiyong!

“Omo!” tiba-tiba Taeyeon teringat sesuatu, dan melupakan sebutan Tinkerbell atau apa itu namanya. “Aku meninggalkan mobilku didekat taman, dekat Namsan Tower.

“Bagaimana kau kemari? Jalan kaki?” tebak Jiyong terkesan mengejeknya gila.

“Aku tidak sebodoh itu,” sergah Taeyeon.

“Lalu?

“Aku naik taksi,” lirih Taeyeon menunduk menyesali perbuatannya.

“Kau naik taksi sementara kau sendiri membawa mobil? Pabo.”

“Aku tidak ingat. Saat itu aku tidak berpikir kemana-mana, aku hanya mengikuti langkahku.”

“Keurae. Itu sebabnya kau bodoh,” Jiyong menyimpulkan namun batinnya merasa simpati. Sebegitukah sakitnya Taeyeon diputuskan

Taeyeon mencibir dengan perkataan Jiyong tersebut.

“Ya, sudah,” ucap Taeyeon sengit berbalik pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Jiyong cepat sebelum gadis itu melangkah, dan berhasil, gadis mungil innocent berbalik. “Kemana? Kau tidak berpikir untuk mengambilnya sekarang, ‘kan?”

“Aku akan mengambil mobilku,” jawab Taeyeon ringan.

“Kau akan pergi sendiri?” Jiyong kembali bertanya sebelum gadis itu benar-benar kembali berbalik. “Dengan apa?”

Tampak Taeyeon bingung menjawab. Benar, ia akan ke taman itu dengan apa? Naik taksi selarut ini mustahil. Bingung, tapi akhirnya ia bisa menjawab,

“Nanti kupikirkan.”

“Kapan? Memikirkan sambil jalan kaki kesana? Dan, bertemu jawaban saat sudah sampai? Kau ‘kan sedang berpikir lambat. Gieok, kau juga seorang idol. Kau akan tetap pergi dan mengabaikan status idol-mu?”

Taeyeon kembali bingung, ia hanya menatap Jiyong, terdiam.

***

Dari pintu sebuah mobil mewah tampak seorang gadis mungil dengan mengenakan jaket hitam serta masker hitam menutupi setengah wajahnya.

Disisi pintu kemudi, keluar pria dengan hoodie di kepalanya juga masker hitam serupa milik si gadis.

Pria itu yang adalah Jiyong tidak bisa membiarkan gadis innocent yang tengah patah hati ini pergi mengambil mobilnya seorang diri.

Bagaimana jika gadis ini melakukan hal yang aneh? Tidak ada yang tahu ‘kan apa yang akan gadis ini lakukan setelah putus? Jiyong hanya sedikit khawatir. Ya, sedikit. Gadis yang memakai jaket miliknya sehingga terlihat sekali kedodoran memang mengkhawatirkan.

Bukan Taeyeon yang meminjam jaket tapi Jiyong yang menawarkannya. Karena, gadis itu juga tidak memakai mantel yang saat ditanya rupanya tertinggal dalam mobil.

Jiyong menghampiri mobil lain yang sudah lebih dulu disambangi Taeyeon, si pemilik mobil, yang cepat mencari kunci mobil didalam tas kecilnya.

Karena kecerobohanya, benda kecil lain terjatuh bersamaan dengan ditemukannya kunci mobil yang kini ada digenggaman kanan mungilnya.

Peehatian Jiyong beralih pada benda yang terjatuh, kunci gembok cinta milik Woobin. Tapi, tentu saja Jiyong tidak mengetahuinya. Mungkin itu kunci laci milik gadis ini, pikir Jiyong yang tidak mau memperpanjang masalah.

Taeyeon mendapati Jiyong yang mengalihkan pandangan dengan acuh setelah melihat kunci tersebut. Cepat Taeyeon mengambil kunci itu dan diperhatikannya lekat. Menimbulkan pertanyaan di benak Jiyong. Kenapa begitu lama dan
serius menatapnya sementara itu hanya sebuah kunci kecil?

Gadis itu beralih menatap Jiyong yang langsung membalas menatapnya seakan bertanya ‘apa?’.

***

“Aku bertanya-tanya sejak tadi kenapa kau membawaku kemari?” tanya Jiyong melihat sekelilingnya. Mereka ada di Namsan Tower dimana gembok-gembok cinta berada.

“Kau tahu ini jam berapa? Ini sudah lewat tengah malam. Ini bukan tempat yang bisa kau datangi setiap kali kau mau. Kau juga harus tahu aturan tempat ini,” Jiyong memperingatkan.

“Kau tidak penasaran dengan ini?” Taeyeon mengalihkan pembicaraan tanpa peduli Jiyong sambil menunjukkan kunci.

“Itu kunci biasa. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?” malas Jiyong dan tampak menahan dinginnya dini hari.

“Malam ini aku kemari dua kali. Bukan hal mudah untuk seorang idol seperti kita, ‘kan?” Taeyeon tersenyum tipis namun Jiyong hanya diam menatapnya, tidak ingin berkomentar dan membiarkan Taeyeon melanjutkan kata-katanya. “Aku merasa seperti orang-orang pada umumnya. Dimana dihari pertama kencan, kami menyatukan gembok disini.”

Taeyeon mendekati gembok miliknya dan memegangnya, menunjukkannya pada Jiyong.

“Lalu?” Jiyong mulai jengah dengan gadis yang belum bisa tertebak apa yang akan dilakukannya.

“Ini kuncinya,” lanjut Taeyeon menunjukkan kunci milik Woobin membuat Jiyong terhenyak.

“Kau masih menyimpannya? Bukankah ini tidak adil? Dia percaya gembok itu dengan membuang kuncinya tapi kau tidak.”

“Kau cepat menyimpulkan sesuatu yang belum kau ketahui dengan pasti,” ucap Taeyeon merasa menang berhasil membalikkan ucapan Jiyong yang dilontarkan padanya di beberapa kejadian. “Kami membuang kunci dengan menutup mata, mungkin itu adalah cara agar aku percaya Woobin benar-benar membuang kuncinya. Milikku sudah kubuang, tapi aku tidak tahu ternyata Woobin masih menyimpannya. Dia tidak membuang kunci itu.”

“Bagaimana bisa orang yang sudah menautkan gembok disini masih memegang kuncinya?” Jiyong tertawa tidak percaya. “Dan, sekarang dia memberikannya padamu?”

“Kenapa dia tidak membuang kuncinya mungkin karena dia berpikir kami pasti akan berpisah. Dia mungkin tidak ingin terbebani dengan gembok yang jika hubungan sudah putus masih ada gembok yang saling tertaut,” terka Taeyeon tersenyum sendu. “Berakhirnya hubungan kami, aku akan berpikir positif saja.

“Memang benar, ‘kan, hal ini tidak dapat dipercaya? Mitos mengenai gembok ini. Karena dia masih memegang kuncinya, jadi saat kami berpisah dia bisa membukanya dengan begitu mudah. Dan, tidak ada beban maupun rasa sakit saat melihat gemboknya masih terkunci.

“Kami serius dalam berhubungan, tapi memang belum berpikir sampai pernikahan, itu masih jauh. Sama sekali tidak pernah membahas pernikahan. Karena, kami selalu bahagia dengan apa yang kami rasakan saat itu. Jadi, kami menganggapnya hubungan serius tapi ringan. Toh, jika jodoh pasti tidak akan kabur walau sempat berpisah. Kami selalu berpikir seperti itu.”

“Lalu, apa yang akan kau katakan lagi Tinkerbell malaaang?” semakin malas, akhirnya Jiyong bersuara setelah hanya mendengar curahan hati panjang lebar dari gadis innocent face ini.

Tapi, Jiyong cukup mencerna semua perkataannya. Sepertinya gadis ini benar-benar patah hati layaknya remaja SMA tingkat dua. Terlebih cerita Kim Taeyeon diiringi terus munculnya kupu-kupu manis dalam mulutnya.

Cemberut, Taeyeon menatap Jiyong yang kembali menyebutnya Tinkerbell, lebih geram lagi diberi embel-embel ‘malang’.

“Aku kesini bukan hanya mengatakan itu semua padamu. Aku, punya rencana untuk kunci ini,” ucap gadis mungil itu dengan kupu-kupu kuning yang terbang menyinari mereka di dini hari yang semakin.

“Kau akan membuangnya?”

“Karena kami sudah tidak berkencan jadi lepas saja. Untuk apa membuangnya?” Taeyeon tersenyum.

“Kau benar akan melakukannya?” Jiyong memastikan dan tidak yakin. Juga terlihat raut wajah mungil Taeyeon yang ragu.

“Ne,” sahut Taeyeon berkupu-kupu kuning membuat Jiyong percaya.

“Baguslah jika kau tidak ingin berlarut memikirkan berakhirnya hubungan kalian,” komentar Jiyong pasrah gadis yang tidak berbohong ini.

“Ah… Kau ini siapa? Omo, kenapa aku tiba-tiba mengungkapkan semuanya padamu? Aku bisa gila. Tidak, aku pasti sudah gila,” keluh Taeyeon. Ia menunduk dengan penyesalan. Baru sadar sudah bertindak sejauh ini pada Jiyong.

“Ya, benar. Kenapa kau melakukannya padaku? Dan, kenapa kau membuatku mau ke tempat ini denganmu? Hey, kau tahu? Sekarang semakin dingin,” kesal Jiyong dibalas cibiran gadis mungil itu.

Taeyeon tersenyum meraih gembok.

Jiyong? Ia hanya melihatnya datar.

Kunci gembok Woobin ia gunakan untuk salah satu gembok.

Klak!

Gemboknya sudah terbuka dan dilepas. Jiyong kira Taeyeon akan kembali terbawa perasaan sedihnya, tapi gadis innocent face itu tampak baik-baik saja. Taeyeon benar-benar menerima kenyataan rupanya? Bagus.

Gembok yang masih terdapat kuncinya itu Taeyeon buang layaknya orang-orang membuang kunci. Kemudian ia menatap Jiyong senyum.

“Bagaimana dengan gembokmu?” tanya Jiyong menoleh gembok yang tidak ada temannya sekarang.

“Karena tidak ada kuncinya biarkan saja disitu,” cetus Taeyeon tersenyum tanpa beban. Beberapa detik kemudian saat menatap gembok, ia seperti mendapat ide. Kembali ia menatap Jiyong, “Kenapa tidak kau saja yang ada disitu?”

“Mwo?”

“Kita sama-sama leader. Daripada gembokku sendirian bukankah lebih baik kau menautkan gembok disini sebagai tanda sama-sama leader?”

“Jadi, aku harus membeli gembok?” Jiyong tidak percaya dengan ide konyol gadis ini.

“Aku akan mencarikannya untukmu,” sahut Taeyeon ringan.

“Ini hampir jam satu. Ayo, pulang saja,” tandas Jiyong setelah melihat waktu di ponselnya.

Terdiam, Taeyeon menunduk kecewa hingga tanpa sengaja bola matanya tertuju pada sepatu Jiyong dan kembali Taeyeon menemukan ide.

Ia tersenyum lebar,

“Aku tahu.”

“Apa lagi?” tanya Jiyong datar. Saking malasnya pada gadis ini, Jiyong hanya pasrah melihat apa yang akan diperbuatnya. Ia juga pasrah dengan Taeyeon yang jongkok dan cepat melepas tali sepatu sebelah kanan miliknya tanpa izin. “Hey, apa yang kau lakukan?”

“Kau bisa menggunakannya dengan ini,” Taeyeon yang kembali berdiri menunjukkan tali sepatu Jiyong.

“Apa yang ingin kau tunjukkan?” kesal Jiyong menghadapi gadis innocent face namun menyebalkan ini.

Jiyong membuang nafas kasar dan mengecek waktu diponselnya, pukul 12.59 a.m. Ia menatap sekelilingnya yang sudah sangat sepi dan kembali menoleh Taeyeon yang sibuk menautkan tali sepatu pada gemboknya.

Mengikat tali sedemikian rupa pada gembok agar semakin erat.

“Cepat selesaikan,” pinta Jiyong lalu kembali mengecek waktu diponselnya, yang menunjukkan tepat pukul 1AM.

Jiyong memandang wajah samping Taeyeon lalu beralih pada gembok dan tali sepatu yang berhasil yang ditautkan. Ya, bukan gembok lagi namun tali sepatu.

“Walau bisa dibuka dengan mudah, kau tidak boleh melepas talinya. Ingat itu! Dan, ini adalah hubungan antar leader, bukan ada maksud lain,” Taeyeon memperingatkan dengan senyum manisnya seraya mengeluarkan kupu-kupu kuning bersinar terang. “Lihat gembok dan tali itu, tidakkah mereka lucu?”

“Kalau aku melepasnya?”

“Artinya kau tidak menghargai maksud baikku untuk berhubungan baik sesama leader,” cetus Taeyeon cemberut. “Apa kau benar-benar akan melepasnya cepat atau lambat?”

Belum menjawab, Jiyong menatap Taeyeon lalu beralih pada gembok dan tali sepatu yang saling terikat.

***

Selimut yang membalut tubuh rampingnya, menghangatkan tidurnya semalam, Taeyeon sibak. Dengan mata yang susah terbuka, ia menuruni ranjang tidurnya dan menuju cermin didepan ranjang elegannya.

“Pasti begini,” gumam Taeyeon datar sudah tak terkejut dengan matanya yang mengantung. Pasti sembab, akibat menangis cukup lama semalam. Ia menoleh beker di meja samping ranjang yang menunjukkan pukul 08.00 a.m. “Aku terlambat bangun.”

Sementara itu di apartemen lain, apartemen BIGBANG,

“Dia masih di kamarnya?!” tanya Yuri tidak habis pikir. Pakaiannya cukup santai dengan sling bag yang bertengger di bahu kanannya. “Ini sudah jam berapa? Ini hampir jam makan siang.”

“Sekarang masih terlalu pagi untuk menyebut jam makan siang,” sahut Seunghyun tertawa kecil yang duduk di ruang tamu pada Yuri yang berdiri tidak jauh darinya.

“Akan kuseret dia dengan selimutnya ke kamar mandi,” kesal Yuri dan melangkah menuju kamar Jiyong.

“Uh, dinginnya,” timpal Seunghyun mengerutkan badan, untuk meledek Yuri.

Langkah Yuri terhenti dan memilih berbalik karena mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya.

Tampak Youngbae yang baru masuk apartemen terus mengerutkan badannya dan cepat melepas sepatu untuk diganti sandal. Tidak lama kemudian, si maknae Seungri menyerobot masuk seraya menggosok kedua tangannya dan buru-buru mendahului Youngbae untuk cepat melepas sepatu lalu masuk tanpa menggunakan sandal.

Tatapan tajam Youngbae lempar pada maknae panda itu karena menyenggol bahunya dengan keras serta tiba-tiba. Seungri nampak begitu kedinginan.

“Omo, my sandal,” gumam Seungri yang kembali berbalik dan menuju rak sandal lalu memakai sandal pandanya pemberian seorang fans.

“Apa sangat dingin?” tanya Seunghyun setelah Seungri berada didekatnya.

“Eung. Rumah Youngbae hyung hangat tapi ketika keluar dinginnya luar biasa,” ujar Seungri tanpa menatap lawan bicara. Ia sibuk melepas tas punggungnya dan meletakkannya ke sofa sebelah Seunghyun.

Sementara Yuri memperhatikan pelantun Eyes, Nose, Lips yang memang terlihat kedinginan namun sangat santai tidak seperti Seungri yang heboh sendiri.

“Eoh?!” Youngbae terkejut begitu sampai di ruang tamu karena baru menyadari adanya Yuri di apartemen BIGBANG. Yuri tersenyum tipis dan Youngbae balas tersenyum padanya. “Mianhae, tidak memberitahumu aku pulang sekarang.”

“Kwaenchanayo,” balas Yuri tersenyum sipu.

“Eh hey, hyung, kau tahu cara menghangatkan badanmu dengan cepat, ya?” goda Seungri tersenyum lebar menatap keduanya secara bergantian. “Dengan menyapanya dinginmu langsung hilang dan berubah hangat.”

Lemparan tatapan tajam kedua tertuju untuk Seungri dari Yuri yang mencibir. Youngbae rupanya juga tidak kalah memberikan tatapan membunuh pada maknae dengan mulut super menyebalkan ini.

“Daesung tidak ikut?” tanya Seunghyun memecah tatapan Youngbae – Yuri pada Seungri.

“Dia masih bermanja dengan orang tuanya, sore ini dia kembali,” jawab Youngbae lalu menatap Yuri sekilas dengan senyum dan berlalu ke kamarnya, tidak ingin bergabung dengan Seunghyun yang sudah ditemani Seungri. Karena, pasti Seungri akan menggodanya dan Yuri lebih jauh.

Youngbae hanya melirik tajam pada maknae itu sebelum benar-benar ke kamarnya.

Yuri mengecek jam tangannya dan lupa sesuatu. Bukankah ia akan ke kamar seseorang yang membuatnya tidak habis pikir? Maka, ia cepat melangkah meninggalkan mereka berdua.

“Kau akan menyusulnya?!” seru Seungri melihat Yuri cepat-cepat pergi seakan mengikuti Youngbae. Ia yakin mendengarnya tapi Yuri tidak mau menyahut. Sedang Seunghyun hanya tertawa kecil.

Dan, sang leader BIGBANG ini masih terbaring dengan lelapnya dan ingin tidur sedikit lebih lama. Tapi, keinginannya terusik dengan suara pintu yang terdengar digedor keras dari luar.

Percuma Jiyong menutup kepala dengan bantal, tidurnya tidak bisa diteruskan karena gedoran pintu terus terdengar.

Ia mengerutkan mata yang masih terpejam dan susah payah membuka kedua matanya.

“Oppa!” seru Yuri diluar. Ia coba membuka pintu tapi tentu saja dikunci.

Kakaknya belum keluar kamar juga, bahkan kali diam saja. Padahal ia sudah memanggilnya beberapa kali.

Namun, setelah beberapa saat keduanya terdiam, pintu kamar terbuka menampakkan penghuni kamar yang merupakan Jiyong dengan rambut super acak-acakkan dan bertelanjang dada.

“Kenapa datang?” akhirnya Jiyong mengalah.

“Ingin melihat keadaanmu. Apa kau merasa baik?” tanya Yuri seraya memasuki kamar Jiyong dan duduk di tepi ranjang luxury milik Jiyong.

Setelah pintu ditutup, Jiyong menghampiri sisi ranjang untuk didudukinya dan menatap adiknya, “Keadaanku?”

“Eung…” Yuri mengangguk. “Kau masih pusing? Bagaimana luka lenganmu semalam?”

“Hanya sedikit perih. Aku mencarimu tapi kau sudah pulang.”

Jiyong beranjak mengambil kaos di lemari.

“Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Tae eonni?” tanya Yuri membuat Jiyong menatapnya intens yang sudah memakai kaos berwarna putih. “Aku sudah melihat kau kesakitan dan pingsan seperti itu seperti yang pernah diceritakan Seungri.”

“Lalu, setelah melihatnya kau akan apa?”

“Oppa, apa sangat sakit?” tanya Yuri lembut dan serius. Jiyong hanya terdiam, sulit menceritakan sakitnya. “Sangat sakit, ya? Tidak mudah menceritakannya? Arra, kalau begitu kita bahas yang ini saja. Kau ingat saat aku menduga kau sangat kesakitan untuk pertama kalinya karena Tae eonni dan Woobin oppa?

“Bagaimana jika semalam terulang lagi? Semalam kau pingsan di waktu yang hampir bersamaan dengan berakhirnya hubungan mereka. Aku sudah tahu mereka putus. Coba cermati dugaanku. Oppa kesakitan karena ada hal terakhir yang mereka lakukan sebelum benar-benar berpisah. Kau tau maksudku, ‘kan? Ciuman perpisahan. Ayolah, kenapa kau belum berpikir ke arah situ? Aish, kau membuatku geram saja.”

Semua perkataan adik cerdasnya ini, Jiyong resapi dan cermati. Hasilnya, Jiyong mulai menaruh rasa percaya pada adiknya. Sebelumnya, ia tidak mudah percaya begitu saja dengan perkataan Yuri. Namun, ia sudah kesakitan dua kali. Ini membuat Jiyong lumayan frustrasi.

Jika benar ia sakit karena ciuman gadis innocent berkemampuan itu, bagaimana dengan nasib dirinya? Mungkin gadis itu akan beberapa kali lebih banyak melakukan kissing dan apa dirinya akan menerima sakitnya begitu saja?

Apakah ia harus pusing bukan kepalang hampir sekarat dan yang membuatnya seperti itu melakukan hal yang sangat kontras, yaitu kissing?

“Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?” tanya Jiyong lirih coba menepis untuk percaya pada adiknya.

“Biasanya seperti itu di drama televisi. Sebuah kejadian dari seseorang berkemampuan dan seseorang lagi ada kaitannya dengan kemampuan orang itu.”

“Kurangi menonton drama,” pinta Jiyong dengan alasan konyol Yuri.

Namun, Jiyong tetap memikirkan alasan Yuri, berpikir secara logis walau sulit diterima otak. Jiyong belum bisa mengatakan sesuatu dari pemahaman aneh ini.

***

Si kid’s leader, Kim Taeyeon memarkirkan mobil didepan rumahnya. Gadis mungil itu keluar dan memasuki rumahnya, tapi langkahnya terhenti saat mendapati sesuatu yang dilihatnya.

“Eomma!” panggil Taeyeon lalu menuju taman samping rumah dimana ibunya tengah berkebun.

“Eoh! Kau sayang…!” seru eomma menoleh senang karena mendengar suara puteri kesayangannya. Kedua tangan eomma sudah terbungkus sarung tangan karet dengan tangan kanannya memegang cetok yang sudah terdapat beberapa tanah yang menempel.

“Eomma… Eomma membeli bunga yang sama dengan sebelumnya yang sudah rusak?” terka Taeyeon setelah mencermati berkebun seperti apa yang ibunya lakukan. Rupanya tengah menanam bunga.

“Bukan ibu. Sebenarnya ibu mau mengganti dengan bunga yang lain, tapi seseorang membawa bunga yang sama sebagai rasa tanggung jawab. Awalnya ibu mengira bunga-bunga itu untukmu, tapi dia mengatakan bunganya untuk ibu. Ibu cukup terkejut dan tersanjung,” ungkap eomma lalu kembali jongkok menanam bunga.

Kening Taeyeon berkerut, berpikir keras siapa yang dimaksud eomma-nya? Mungkinkah Woobin? Seperti kata eomma-nya, seseorang memberikannya sebagai rasa tanggung jawab. Dia memberi bunga sebagai rasa tanggung jawab sekaligus rasa bersalah pada dirinya karena berakhirnya hubungan mereka? Jika benar, kenapa tidak langsung berikan padanya dan justru ibu yang menerimanya?

“Eomma…” panggil Taeyeon lembut. “Siapa yang memberi bunga-bunga itu?”

Pandangannya Taeyeon edarkan ke seluruh taman, mencari si pemberi bunga. Kedua matanya membulat penuh, sangat terkejut melihat seorang pria dengan santainya keluar rumah dari pintu samping tidak jauh dari tempat Taeyeon dan ibunya berada.

Pria itu, beberapa waktu lalu pria itu dan dirinya membuat rusak bunga yang baru ditanam eomma-nya. Pria itu, Jiyong, hanya terhenyak dengan kedatangan puteri pemilik rumah.

Taeyeon masih tidak percaya orang itu keluar dari rumahnya. Apa dia tahu ini rumah siapa? Dia baru satu kali masuk rumahnya tapi kenapa dia bisa sesantai itu seperti keluar dari rumah sendiri?

“Eoh, Jiyong-ah, kau sudah selesai cuci tangan?” ibu setengah berseru dan bangkit berdiri memandang dengan senyumnya.

Jiyong mengangguk senyum lalu meminum air mineral dalam gelas di atas meja dekat pintu berwarna putih bersih itu.

Semakin sulit percaya dengan yang dilakukan pria itu di rumahnya.

“Eomma,” panggil Taeyeon lembut beralih pada ibunya.

“Kau pasti sangat lelah,” balas lembut pula sang ibu pada anaknya. “Eomma melihatmu di televisi sangat bersemangat. Eomma senang melihatnya.”

“Gomawo, eomma,” ucap Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu merah namun Jiyong belum menyadarinya. Ia terlalu sibuk mencicipi buah jeruk di sebelahnya dalam keadaan sudah terkelupas dari kulitnya.

“Ah, temui Jiyong. Eomma akan menyelesaikan ini,” pinta eomma Taeyeon. Lalu, kembali mengurus bunga-bunga tanpa menunggu jawaban Taeyeon yang melebarkan kedua matanya dan cepat menoleh Jiyong.

Temui Jiyong?

Untunglah, Taeyeon tidak perlu repot-repot menghampirinya karena pria itu sendiri yang kini tengah menuju kearahnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon tanpa basa-basi begitu Jiyong dihadapannya.

“Kau pikir apa?” Jiyong balik bertanya dan menoleh bunga-bunga yang tengah ditangani ibu Taeyeon.

Rupanya benar Jiyong yang memberi bunga-bunga itu sebagai rasa tanggung jawab. Menyadari tanggung jawab Jiyong, Taeyeon berdehem.

“Apa itu benar bunga darimu?” tanya Taeyeon memastikan walau pasti memang dari pria ini bunganya.

“Wae? Tidak terima? Itu bunganya sama persis. Aku juga membeli beberapa jenis lagi untuk tamanmu.”

Taeyeon hanya menatap Jiyong, batinnya membenarkan ucapan Jiyong.

Tiba-tiba senyum manisnya terpancar untuk Jiyong.

“Gomawo, kau berhasil membuat ibuku senang,” ucap Taeyeon penuh senyum diiringi kupu-kupu kuning yang bersinar mengelilingi Taeyeon membuat Jiyong mengangkat alisnya sesaat.

“Itu bagus,” gumam Jiyong senyum dengan kupu-kupu ketulusan gadis innocent beauty berkemampuan ini.

“Kau… tidak mengatakan sesuatu yang lain seperti ‘sama-sama’ atau terima kasih kembali,” heran Taeyeon mengerutkan kening.

Tawa kecil Jiyong yang keluar hanya semakin membuat Taeyeon heran dan mencibir.

“Taeng, bisa kau bantu menyelesaikan ini?” ibu menyela tanpa menatap anaknya karena berkonsentrasi dengan bunga-bunga dan membuat Taeyeon serta Jiyong menoleh bersamaan.

Permintaan ibunya segera ia turuti. Ia melangkah menghampiri ibu yang ada dekat disamping Jiyong. Karena terlalu ceroboh, begitu disamping Jiyong heels kirinya oleng dan Taeyeon membulatkan bola matanya penuh. Ia pasti terjatuh!

Hap!

Tubuh mungilnya yang ringan sigap ditangkap oleh satu-satunya pria ditempat ini sekarang yang tepat disampingnya. Untunglah Jiyong menolongnya.

Detak jantung gadis mungil innocent face ini dua kali lebih cepat dari kecepatan normal, dengan kedua matanya langsung bertemu mata si penolong. Perasaan detak jantung yang campur aduk, antara lega karena dirinya tidak sampai terjatuh, karena dirinya ditolong pria ini, dan karena ia saling menatap dengan pria naga swag dihadapannya dengan jarak yang begitu dekat, bahkan tangan kirinya memegang kuat bahu kiri pria yang menatapnya dengan intens. Pria yang bernama Kwon Jiyong.

“Tinkerbell… memang ceroboh,” gumam Jiyong yang dibalas tatapan tajam kesal dari Taeyeon.

“Oh! Neo kwaenchana?!”
Suara ibu Taeyeon mengejutkan mereka dan cepat memisahkan diri.

“Eomma,” sahut Taeyeon pada ibunya yang berdiri diantara mereka dengan sedikit panik.

Taeyeon lalu kembali bermaksud menuruti perintah ibunya setelah sekilas melirik Jiyong. Ia menuju meja di teras tempat air minum Jiyong berada. Taeyeon meletakkan tasnya beserta dompetnya, dan melepas high heels-nya. Lalu, kembali ke hadapan Jiyong.

“Apa kau kedalam rumah baru cuci dan akan pulang?” curiga Taeyeon memicingkan kedua matanya.

“Ani. Aku harus menyelesaikan ini dengan ibumu,” jawab Jiyong tanpa menatap lawan bicara karena sibuk menyingsingkan lengan bajunya.

Aktivitas Jiyong membuat atensi Taeyeon tertuju pada apa yang tengah dilakukan pria naga ini yang begitu pria ini membuka lengan bajunya Taeyeon langsung melihat tato bergambar hati berkaki dan terhenyak ketika melihat disebelah tato tersebut terdapat luka seperti akibat tergores sesuatu. Tidak hanya disitu rupanya, namun terdapat di beberapa bagian lengan kanan itu.

“Kau lihat apa?” tanya Jiyong santai seraya membetulkan singsingan bajunya.

“Kau berkebun sampai terluka seperti itu?” tanya Taeyeon terus menatap luka-luka kecil itu.

“Bukan karena berkebun.”

“Lalu apa?”

“Lalu?” heran Jiyong dengan rasa penasaran gadis innocent beauty ini. Itu karena lengannya tergores pecahan gelas di malam Taeyeon putus. “Ini karena kau.”

“Aku? Jadi, benar karena berkebun? Kau menanamnya untukku dan ibuku lalu kau terluka, begitu?”

“Aah… Bukan berkebun. Ini karena kau tapi untuk alasan lain…. Mungkin,” ujar Jiyong tidak yakin dengan ucapannya.

“Kapan aku membuatmu terluka seperti itu?” Taeyeon tidak terima dengan ucapan Jiyong.

Daripada menjawab pertanyaan gadis mungil itu, Jiyong lebih memilih bergabung dengan ibu gadis itu, gadis yang kini mencibir sekilas dan mengalah untuk bergabung dengan mereka.

Menyusul ibu Taeyeon, dua idol itu jongkok dihadapannya dengan tanaman bunga-bunga diantara mereka bertiga.

“Ibu, ini jadi ditanam disebelah sana?” tanya Jiyong memegang tanaman bunga dalam polybag dan menunjuk dekat bangku taman yang ada disudut halaman dekat teras depan rumah.

Letak bangku yang ada didalam taman menghadap taman berhalaman lumayan luas. Sangat nyaman untuk bersantai dan mengobrol.

“Sepertinya kau sudah lama disini,” timpal Taeyeon menerka.

“Baru sekitar… dua jam lalu,” jawabnya menoleh sekilas gadis disampingnya.

“’Baru’?! Dua jam itu cukup lama,” Taeyeon membolakan matanya tidak percaya.

“Justru aku merasa seperti baru tiga puluh menit,” tukas Jiyong.

“Karena kau menikmati waktumu denganku,” sambung ibu Taeyeon yang dibalas anggukan senyum manis Jiyong.

Taeyeon hanya memandang mereka. Sepertinya hubungan mereka menjadi dekat.

“Apa saja yang kau lakukan disini selama dua jam?” Taeyeon kembali menginterogasi pria naga itu.

“Berkebun,” jawab Jiyong singkat lalu mengambil dua bunga di masing-masing tangannya dan membawanya ke dekat bangku taman.

“Pasti tidak hanya itu, ‘kan?” seru Taeyeon yang ditinggal begitu saja. Sementara ibu yang melihatnya hanya tertawa kecil.

“Bawakan dua bunga lagi,” sahut Jiyong berseru tanpa menoleh Taeyeon, yang berkerut kening dan hanya menatap punggung pria yang tidak terlalu tinggi itu. Rumah siapa ini? Dia bertingkah seperti ini adalah rumah dan tamannya.

“Apa yang kau lakukan? Bawakan bunganya,” tegur ibu menatap puterinya.

“Hm?!” Taeyeon terhenyak. Ia mendengus kesal lalu membawa dua bunga sesuai permintaan tuan Kwon. Menyebalkan! Baru pulang langsung disuruh-suruh orang yang bukan pemilik rumah. Tidakkah ia ingat rumah milik siapa ini?

Sementara Jiyong yang sudah jongkok disamping kanan taman menoleh belakang memastikan apakah gadis itu menuruti perintahnya. Bagus, gadis mungil itu tengah melangkah menghampirinya. Jiyong tersenyum geli melihat gadis innocent beauty itu bertelanjang kaki.

Maka, Jiyong pun meniru gadis itu untuk melepas sepatunya. Sepatu Nike itu ia letakkan dibawah bangku taman.

Taeyeon sudah sampai dan meletakkan bunga dengan bunga-bunga lain yang dibawa Jiyong. Ia juga jongkok disamping Jiyong.

“Gomawo,” ucap Jiyong tanpa menatap lawan bicaranya, ia sibuk mempersiapkan tanamannya juga cetok kecil yang sudah dibawanya bersama dua bunga tadi.

“Terima kasih untuk apa? Ini tamanku dan kau menanamnya untuk tamanku. Bunganya juga darimu. Harusnya aku yang terima kasih.”

“Geuraeyo?” tanya Jiyong tersenyum lebar menatap Taeyeon. “Tapi, aku tidak melihat kupu-kupumu.”

“Karena kau membuatku tidak nyaman. Aku juga tidak enak denganmu. Kau tidak perlu mengganti bunga-bunganya,” repet Taeyeon dengan kupu-kupu kuning bersinar mengelilingi mereka berdua.

Jiyong tersenyum dengan kupu-kupu yang muncul dari mulut gadis mungil innocent face itu.

“Aku berterima kasih karena kau sudah mau membawakan bunganya,” ucap Jiyong tersenyum geli melihat kepolosan seorang penyanyi wanita nomor satu di Korea Selatan ini.

“Ayo, cepat selesaikan,” ajak Taeyeon dan matanya tertuju pada tangan Jiyong, “Tidak pakai sarung tangan?”

“Dari awal memang tidak pakai,” timpal Jiyong lalu mulai menggali menggunakan cetok kecil ditangannya.

“Kau juga tidak pakai sepatu,” tukas Taeyeon tanpa sengaja melihat kaki pria Kwon itu.

“Kau juga. Bantulah aku. Ini juga karenamu, ‘kan?”

“Dan sekarang kau menyesal bertanggung jawab untuk ibuku?”

“Ani. Aku senang bertemu ibumu yang baik.”

“Entah itu pujian untuk ibu atau untuk menyindirku.”

“Itu pujian untuk ibumu,” ucap Jiyong tersenyum menatap sekilas lawan bicaranya yang mungil.

“Aku berharap bisa melihatmu mengeluarkan kupu-kupu,” celetuk Taeyeon tersenyum dan mulai membantu menggali tanah menggunakan cetok yang juga sempat dibawanya saat mengantarkan bunga. Sementara Jiyong yang mendengarnya hanya tertawa kecil.

Rupanya Taeyeon sedikit kesusahan menggali tanah membuat Jiyong tersentak kala pipi kirinya terkena gumpalan kecil tanah, yang ternyata berasal dari Taeyeon.

“Mian!” ucap Taeyeon sontak tidak bisa menahan tertawa akibat ulahnya.

“Bisakah kau hati-hati?” kesal Jiyong.

“Tanahnya lumayan keras dan tiba-tiba melayang ke pipimu. Mianhae, mianhae,” ucap Taeyeon belum bisa berhenti tertawa.

Taeyeon melanjutkan menggali tanah dengan kali ini lebih hati-hati. Tawanya kini ia tahan walau ingin sekali tertawa.

Dan, Jiyong? Ia justru memperhatikan gadis yang menahan tawa namun kini diubah menjadi hanya tersenyum lebar. Gadis yang kini tengah menyingkapkan rambutnya yang menghalangi pandangannya kebelakang telinga.

Jiyong terhenyak dan merasa ada sesuatu yang aneh. Sementara Taeyeon kesal karena rambutnya tidak bisa diam dibelakang telinga. Akhirnya, Taeyeon merapikan rambutnya dengan mengikatnya menggunakan ikat rambut yang ada di pergelangan tangannya.

Pandangan Jiyong masih saja tidak teralihkan dari gadis innocent face ini, bahkan Jiyong tidak berkedip sama sekali. Ia merasa benar-benar aneh dengan dirinya saat ini. Entah apa yang membuatnya terus memperhatikan, menelusuri seluruh wajah mungil gadis innocent face ini.

Ia belum bisa menyimpulkan arti rasa aneh pada dirinya ini. Tapi, Taeyeon sekarang benar-benar cantik alami dihadapannya. Wait a minute! Kenapa masih diperhatikan juga wajah mungil itu? Ada apa dengan Kim Taeyeon? Dia hanyalah penyanyi wanita nomor satu di Korea Selatan berwajah cantik dengan hati yang baik pula.

Dia hanya gadis mungil berwajah innocent yang lucu dan memiliki sifat keibuan. Dia hanya gadis pintar, pintar memasak, pintar menggambar dan juga pintar menarik hati orang lain dengan pesona tersendiri.

Tapi, itu semua bukanlah sekadar ‘hanya’. Apa yang dimiliki Kim Taeyeon merupakan rata-rata kriteria wanita ideal idaman para pria. Dengan kata lain, Kim Taeyeon adalah gadis yang mendekati sempurna untuk dijadikan teman spesial, bahkan lebih dari itu. Rasa ingin mengenal lebih dalam gadis ini sepertinya banyak diinginkan orang.

Jiyong tersadar dari lamunannya dan berdehem kecil, cepat mengalihkan pandangan.

Dengan senyum manisnya, Taeyeon menatap sesaat Jiyong yang melihat senyum itu kali ini terasa berbeda. Ia juga tidak tahu apa yang membedakan senyumnya sekarang dengan senyum-senyum Taeyeon sebelumnya. Ia hanya merasa senyum dibibir tipisnya lebih indah dan manis.

Atau ia baru menyadari senyum Taeyeon yang memang indah dan manis? Ah, entahlah! Jiyong merasa tenggelam dalam senyuman gadis Kim itu.

Jiyong cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dari Taeyeon sebelum gadis itu mengetahui ia memperhatikan dirinya cukup lama.

Kembali menggali tanah, Jiyong tiba-tiba berhenti menatap hasil galiannya dan beralih menoleh Taeyeon yang masih berusaha menggali. Senyum jahilnya terbentuk.

Dengan sengaja Jiyong melayangkan gumpalan kecil tanah menggunakan cetok pada gadis itu. Alhasil gumpalan kecil itu mencium pipi merona Kim Taeyeon yang terkejut dan sontak melempar tatapan tajam pada Jiyong. Namun, Jiyong bereaksi sama seperti Taeyeon, tertawa. Hanya saja ini tertawa puas.

“Mianhae,” ucap Jiyong ringan seraya mengangkat kedua bahunya sesaat.

“Kau balas dendam?” tanya Taeyeon datar.

“Iya,” jujur Jiyong yang disambut cibiran Taeyeon.

Taeyeon menatap Jiyong yang mulai menanam bunga lalu Taeyeon tertawa geli menyadari lucunya kejadian baru saja. Melihat gadis itu tertawa, Jiyong ikut tertawa bersama.

Satu bunga berhasil ditanam. Sudah lama mereka ditempat itu tapi baru menyelesaikan satu tanaman. Tentu saja, karena diisi dengan perdebatan juga candaan.

Jiyong kembali menggali, rencana jahil yang sama kembali muncul. Dengan santai, Jiyong melemparkan tanah galiannya kearah Taeyeon. Bukan tertawa kali ini, tapi tersentak karena secuil tanahnya mengenai mata kanan gadis itu tiba-tiba yang langsung memejamkan matanya karena sakit.

Cetok cepat Jiyong letakkan ditanah dan mendekat pada gadis yang matanya terasa perih itu.

“Mian. Kwaenchana?!” Jiyong panik.

“Aku hanya melemparimu satu kali, itu juga tidak sengaja. Kenapa kau membalasku dua kali dengan sengaja?” keluh Taeyeon memejamkan matanya karena perih.

Jiyong menahan tangannya ketika Taeyeon akan menggosok matanya.

Perlahan tangan kanan Jiyong membuka mata gadis itu dengan tangan kirinya masih menahan tangan Taeyeon. Mata Taeyeon sedikit terbuka dan Jiyong mendekati wajahnya lalu meniup mata dengan hati-hati dan lembut. Tiga kali tiupan dan itu cukup bagi Taeyeon.

“Gamsahamnida,” ucap Taeyeon sedikit kaku dengan jarak mereka saat ini sambil mengedip-edipkan mata, mengecek matanya dari debu. Kupu-kupu kuning pun muncul bersama ucapan Taeyeon baru saja. Bersinar dan mengelilingi mereka lalu terbang hinggap pada bunga yang baru ditanam Jiyong.

Jiyong tersenyum pada Taeyeon dan beralih pada kupu-kupu tersebut di bunga.

“Apa kupu-kupunya masih disitu?” tanya Taeyeon dibalas anggukan kecil Jiyong.

Jiyong menoleh pada Taeyeon yang cepat balas menatap. Jiyong menelusuri seluruh wajah mungil gadis yang membuat perasaannya tidak menentu.

“Kalian sedang apa?” suara ibu Taeyeon yang lumayan keras membuat keduanya terkesiap dan segera menoleh belakang, ke sumber suara yang kembali bersuara, “Selesaikan, tidak perlu buru-buru. Ibu akan masuk sebentar.”

Sang eomma meletakkan cetok dan melepas sarung tangan lalu memasuki rumah.

“Ibuku… sangat ceria, ‘kan?” tanya Taeyeon setelah melihat ibunya masuk. Ia mulai bercerita, “Aku selalu bertanya-tanya kenapa aku punya kemampuan tapi ibu tidak. Dan, setiap ibu mendengar itu dia selalu menjawab karena aku istimewa.

“Lalu, apa ibuku tidak istimewa? Dia akan menjawab bahwa dia juga istimewa karena bisa melihat kemampuanku dan tahu hal-hal yang berkaitan dengan kemampuanku. Dia sangat menyukai taman yang dipenuhi bunga, itu sebabnya aku membuat taman ini dan menghiasinya dengan kupu-kupu yang muncul dari mulutku.”

Sejak awal, Jiyong mencerna penuturan gadis innocent beauty ini seraya terus memperhatikan wajah mungilnya. Dan, ia merasa terbuai serta terbawa kedalam suasana cerita Taeyeon. Tapi, disamping itu, pandangan Jiyong pada gadis sangat intens.

Selama gadis itu bercerita Jiyong dengarkan dan terus menatap bagian-bagian wajah cantik gadis dihadapannya. Terlebih kupu-kupu yang muncul bersamaan, membuat Kim Taeyeon terlihat semakin bersinar di matanya.

Jiyong sangat tidak tahu perasaan apa ini. Ini tidak benar. Ia pasti sudah gila. Gadis ini hanyalah Kim Taeyeon. Sudah.

Lamunan Jiyong buyar begitu gadis Kim itu memperhatikannya dengan tatapan heran.

“Ah… Ya, kau tentu sangat menyayangi ibumu. Aku percaya kupu-kupu itu membuktikannya,” tukas Jiyong awkward. Kenapa harus canggung didepan gadis ini?! Pabo!

Taeyeon mengulas senyumnya.

“Ayo, selesaikan. Eomma pasti sudah membuat sesuatu dan tengah disiapkan,” ajak Taeyeon untuk kembali menanam bunga.

Ajakan gadis itu Jiyong tanggapi dengan senyuman manis sejenak dan kembali menanam bunga-bunga bersama Taeyeon.

***

Jiyong mendatangi meja makan yang sudah terdapat Taeyeon duduk disana. Di atas meja terhidang puding strawberry milk di masing-masing piring dihadapan mereka. Sangat cantik pudingnya.

“Benar, ‘kan? Ibuku pasti membuat sesuatu. Dan, kali ini puding,” ujar Taeyeon tersenyum pada Jiyong yang menarik kursi disebelah Taeyeon dan mendudukinya.

“Eomma membuatkan sesuatu yang menyegarkan dan lembut. Pasti lelahnya cepat hilang setelah makan puding dan ini,” eomma menyajikan orange juice segar dihadapan mereka.

Ya, mereka seperti anak kecil yang habis bermain dan tengah meminta makanan pada ibunya.

“Keurae. Eomma, aku sedikit lelah.”

Jiyong yang hanya mendengar karena sibuk merapikan bajunya tersenyum. Ia terkesima saat menoleh pada gadis itu yang berhasil mengeluarkan kupu-kupu bersinar berwarna merah. Kupu-kupu yang membuatnya penasaran. Karena hanya warna ini yang belum pernah ia lihat. Dan, sekarang ia dapat melihatnya.

Reaksi Jiyong yang baru melihat kupu-kupu merah itu diketahui Taeyeon, ia hanya tersenyum.

“Kau sudah lihat, ‘kan?” tanya Taeyeon dan Jiyong hanya mengangguk perlahan yang kemudian senyumnya terbentuk.

“Lihat apa?” ibu menyela.

“Hm?!” Taeyeon tersentak mengalihkan pandangan pada ibunya.

“Sudah melihat hasil puding buatan ibu yang sangat cantik,” timpal Jiyong menyelamatkan kegugupannya. Yang disambut senyum sipu sang eomma dan senyum kecil anaknya.

Saat Jiyong meminum orange juice-nya, ibu Taeyeon kembali ke dapur. Sementara Taeyeon memotong puding dan meletakkannya diatas piring Jiyong.

“Oh, gomawo,” ucap Jiyong terkejut dengan pemberian tiba-tiba gadis itu dan melayangkan senyum manisnya pada Taeyeon. Jiyong juga memotong puding miliknya, “Ini, balasan terima kasihku.”

Taeyeon terhenyak dengan Jiyong yang bersiap memberi suapan padanya. Dengan ragu juga senyum kaku, Taeyeon membuka mulut dan menerima suapan Jiyong yang kemudian tersenyum.

“Mm… Mashita,” komentar Taeyeon menatap pria yang rupanya memang bisa bersikap lembut ini tanpa mengurangi image swag dan bad boy-nya. Kupu-kupu kuning dengan sinar terang itu semakin membuat Jiyong tersenyum.

“Tentu. Aku ‘kan memang selalu enak membuat makanan,” sahut ibu yang kembali ke meja makan, tapi tidak sempat melihat Jiyong memberi suapan pada puterinya. Ibu hanya berpikir puterinya yang mencicipi puding dari suapan sendiri. “Ayo, Jiyong-ah, makan juga pudingmu.”

“Ne, eomma,” maka Jiyong mencicipinya. “Jeongmal mashita, eomma.”

“Taeyeon-ah, ibu tidak tahu kau akan datang karena kau pasti sibuk. Kau pulang pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan, bukan?”

Mendengar pertanyaan eomma-nya, Taeyeon tersentak dan urung makan puding. Ia menoleh Jiyong, tidak enak dan ragu untuk menceritakannya sekarang.

“Ani. Aku hanya rindu rumah,” jawab Taeyeon akhirnya. Tapi, ibu tahu anaknya tengah berbohong. Taeyeon menoleh Jiyong, “Tapi, aku melihat orang ini disini. Jika aku tidak pulang mungkin aku belum tahu kau kemari.”

Jiyong mencondongkan badannya dan berbisik pada gadis itu, “Kau bisa ceritakan masalahmu pada ibumu setelah aku pergi. Ini pasti tentang Woobin, ‘kan? Aku tahu itu.”

Tercengang mendengarnya, Taeyeon hanya mengangguk perlahan.

“Tapi, kau ‘kan sudah tahu semuanya tentang Woobin. Apa aku cerita saja sekarang?” balas Taeyeon berbisik pula.

“Kalau kau mau menghilangkan selera makan ibumu, silakan saja,” ucap Jiyong lebih kepada memperingatkan.

Bibir mungil Taeyeon mengerucut, kembali ia makan puding dan tersenyum dibuat-buat pada ibunya.

***

Delapan hari kemudian.

Pukul 1AM.

Dingin sekali memang di waktu pukul satu dini hari itu. Dini hari dimana saat ini Taeyeon keluar dari gerbang istana Changdeokgung.

Setelah membungkuk terima kasih kepada kakek penjaga -yang khusus diajak kongkalikong Taeyeon untuk membantunya melancarkan aktivitas di tempat ini tanpa memberitahu aktivitas apa yang dimaksud- Taeyeon menghampiri mobil yang terparkir tidak jauh darinya.

Tanpa membuang-buang waktu, ia masuk mobil dan segera mengenakan safety belt. Pandangannya tertuju pada jok sebelah. Terdapat Yuri yang tertidur dengan kepala bersandar di jendela mobil. Taeyeon sekilas mengulas senyumnya.

Dengan hati-hati Taeyeon menyalakan mesin mobilnya supaya adik kesayangannya tidak terusik.

“Ngh…” lenguh Yuri. “Eonni, kau sudah selesai?”

Taeyeon tersentak mendengar suara lemah Yuri, kehati-hatiannya percuma saja karena gadis manis itu terjaga dari tidurnya.

“Ne… Mianhada, Yuri-ah. Aku membangunkanmu. Lanjutkan saja tidurmu,” ucap Taeyeon menyesal. Ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat penting itu.

“Ani, ani. Aku sudah tidak mengantuk lagi sekarang. Aku ingin mendengar ceritamu dari Secret Butterfly Garden itu,” antusias Yuri senyum lebar dan tidak menunjukkan kantuk sama sekali.

“Harusnya kau tidak perlu ikut. Kau pasti bosan sendirian disini, ya? Mianhae, eoh?” ujar Taeyeon berkupu-kupu biru bersinar. Tanpa Yuri maupun Taeyeon ketahui.

“Ani. Aku mendengarkan musik, bermain ponsel dan makan cemilan. Apalagi aku ingin mendengar hasil eonni dari kebun itu,” timpal Yuri dibalas tawa kecil Taeyeon.

Ponsel Yuri berdering, dari Jiyong. “Ah, oppa. Wae?”

“Dimana obat yang kau katakan?” tanya Jiyong yang mencari diseluruh kamar tapi tidak ada.

“Obat?” Yuri bingung. “Ah… Obat luka lenganmu? Itu terbawa dalam tasku, oppa. Mian, mian. Aku harus bagaimana?”

“Bawakan kesini sekarang. Tidak peduli kau sedang dimana dan dengan siapa. Kukira ini akan cepat sembuh tapi lenganku tiba-tiba sakit.”

“Sakit?!” panik Yuri. “Tunggu, aku segera antar obatnya.”

“Siapa yang sakit?” tanya Taeyeon setelah sambungan telepon mereka tampak terputus.

“Eonni, ayo, ke apartemen BIGBANG. Aku harus mengantar obat untuk Ji oppa.”

“Mm?!”

TO BE CONTINUED

Advertisements

23 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 )

  1. Makin lama gtaenya deket bangetttt…. Seruuu bangettt thor,
    Fighting yaaaaaa
    Di tunggu next chapnyaaaaa
    😂😁😁😍😍😍😍💗💕💖

  2. Bagus banget thor ceritanyaaa, deg degan sendiri bacanyaaaa, makin gak sabar pengen baca yang selanjutnyaaaaaa

    😅😍😘😘😘😘
    Jangan buat aku ngunggu lama lama ya thor
    Ditunggu next chapnyaaa

  3. Gdnya baik banget dihhh mqu nemenin tae muluuuuu
    Makin sweat aja merekaaaa 😍
    Ditunggu banget nextannnyaaa yaaaaa 😳😍😘

  4. wow udah ada terima kasih banget thor gue emang peminat kamu chapter selanjutnya di cepatin ya semangat:)

  5. kayaknya ji oppa udah jatuh cinta ama taeyeon unnie aaa makin gak sabar nunggu chapter selanjutnya fighting zuma thor semangat 🙂

  6. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s