THE HEIRS (Episode 1)

Fiction Presented by

deeHAYEON

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Krystal, Ji Changwook

Other Cast : Kim Soohyun, Jung Hyesung, Kim Daehwan, Wendy, Jisoo

Genre : Romance, Sad, Family

Rate : PG-17

Desclaimer : Story is mine… inspired by Korean Drama THE HEIRS.
Sorry for typo.

Yang kucintai hanya dirimu. Hanya dirimu, bukan yang lain.

Aku tak peduli siapa dirimu dan apa dirimu.

Aku akan memperlihatkan kepadamu… seberapa banyak aku benar-benar mencintaimu.

 

Episode 1

“Apa kau pegawai baru? Bukankah sudah kuberitahu berkali-kali?! Lihat bahannya kalau mau memotong kain! Ini bukan bahan murah kau tahu? Gajimu satu tahun mungkin tidak cukup membeli bahan ini satu meter! Lihat pekerjaanmu?! Karena cara mengguntingmu yang bodoh itu benangnya jadi keluar semua!”

“M-maafkan saya, saya mohon maafkan―”

“Maaf? Aku tidak butuh maafmu! Yang aku inginkan, selesaikan semua ini dalam tiga puluh menit! Kalau aku melihat satu helai saja benang yang keluar dari potonganmu jangan salahkan aku kalau aku me-resign mu hari ini juga!”

Gadis berambut hitam itu hanya meneguk ludah dengan susah payah. Jantungnya terasa akan putus secara tiba-tiba. Setelah perancang terkenal itu meninggalkan meja kerjanya, baru dia bisa bernafas sangat lega.

“Hey, kau tidak apa-apa?” sapa rekannya yang kebetulan melihatnya baru saja dimarahi sang desainer.

“Ya, aku tidak apa-apa,” jawab gadis itu pasrah.

“Jangan diambil hati, dia memang selalu begitu pada pegawai. Lihat saja, dia sudah memarahi pegawai lain tuh. Sifatnya memang begitu. Jadi abaikan saja ya?”

“Aku mengerti. Memang ini salahku. Sudah untung dia tidak memecatku.”

Kalau gadis ini sampai kena pecat, entah apa yang akan terjadi pada kehidupannya nanti.
.
.
~dHY~
.
.
Setelah menghempaskan diri di kursi kerjanya, desainer berumur 27 tahun itu akhirnya bisa menghembuskan nafas lega. Sejak pagi pukul delapan hingga kini siang pukul dua, dirinya baru selesai beranjak dari bagian produksi. Banyak sekali pegawainya hari ini yang membuatnya naik pitam bukan main. Gadis berparas cantik itu tak habis pikir, pegawainya bukan bekerja satu dua hari dengannya, tapi kenapa juga masih melakukan kesalahan sepele?

Dirinya penganut asas semua-harus-sempurna. Jadi kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai meski hanya secuil, dirinya tak bisa mentolerir itu. Mungkin karena sejak kecil sudah di didik sedemikian makanya dia sudah terbiasa untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

Tangan mungilnya kembali bergerak di atas kertas desainnya. Fashion week musim ini adalah target utamanya. Sebelum musim dingin tiba, dia harus menyelesaikan semua desainnya bulan ini. Sebenarnya, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah. Dia harus selalu berimajinasi dan berinovasi. Satu pekerjaan yang menurutnya tidak bisa menggunakan logika dan kepintaran. Dia harus berimajinasi.

Bukannya dia tidak menyukai pekerjaan ini, tentu saja jadi desainer adalah cita-cita, passion, dan keinginannya sejak kecil. Desainer adalah hasratnya untuk berkarya. Tapi, selama ini, dia baru menyadari bahwa membuat suatu karya yang memerlukan imajinasi sangatlah sulit. Dia harus menunggu mood-nya supaya bisa menghasilkan karya yang tidak mengecewakan. Karena hal itulah, desain-desainnya selalu jadi juara. Desainnya tidak pasaran dan jarang ada yang memikirkan konsepnya. Orang bilang dia adalah desainer jenius. Tapi semua itu perlu kerja keras. Dirinya bahkan pernah melakukan perjalanan berkeliling dunia dalam waktu tiga bulan demi mencari inspirasi. Itu bukanlah hal berlebihan atau hal paling heboh yang dia lakukan. Dirinya melakukan itu hanya semata-mata ingin mendapatkan inspirasi dalam karyanya.

Padahal… semua orang tahu.

Satu-satunya jalan terbaik yang bisa mendatangkan inspirasi hanya satu hal.

Hal yang mudah, menyenangkan, tidak melelahkan bahkan membuat hati bahagia. Tapi dia tidak tahu… bagaimana cara melakukan hal―

“Hai!”

Kepalanya terangkat ke arah pintu ruang kerjanya. Wajahnya selalu sama. Datar dan tidak menyenangkan. Ini kan masih jam kerja, dan menurutnya, jam kerja adalah pantangan untuk bersantai.

“Aku sudah bosan memperingatkanmu soal ini. Ketuk pintu dulu sebelum―”

“Aku juga bosan memberitahumu untuk berhenti bersikap formal begitu. Ayolah, sikap formal itu bikin pegal tahu. Ayo pergi! Ini kan sudah waktunya makan siang?”

“Pergilah sendiri. Tidak bisakah kau tidak merecokiku meski sehari?”

“Tidak. Ayolah~ aku bosan. Masa sih pekerjaanmu begitu banyak? Kan cuma menggambar saja!”

“Menggambar juga membutuhkan kerja keras, kau pikir―”

“Astaga! Aku tidak mau mendengarkanmu ceramah oke?! Sekarang ayo kita pergi makan siang, Kau tidak lihat badanku sudah sangat kurus belakangan ini, deadline, presentasi, ocehan atasan… itu sudah cukup membuatku stress hingga berat badanku turun drastis!”

“Itu namanya resiko pekerjaan, kalau kau tidak mau kena marah maka―”

“Baiklah, aku mengerti Nona Besar, sekarang bisakah kita pergi? Atau kau baru mau beranjak kalau aku sudah bersujud di kakimu hah?”

“Kau benar-benar menyebalkan.”
.
.
~dHY~
.
.
Kini, desainer cantik itu sudah duduk di sebuah kafetaria yang berada di pinggir jalan perempatan Ginza Seoul. Kebetulan dia memang menyukai tempat duduk di dekat jendela. Jadi dia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang di sekitar perempatan Ginza itu. Kafetaria ini bukanlah kafe sederhana. Kalau sudah masuk wilayah Ginza, semuanya bisa diatas harga rata-rata pasaran yang ada. Makanya Ginza adalah surganya orang-orang kaya menghabiskan uang. Dan dirinya, termasuk di salah satu orang-orang kaya itu.

Baginya, sejak kecil uang bukanlah masalah hidupnya.

“Hei, lihat. Matamu sudah ada kantung tuh. Kau begadang lagi?”

“Mataku memang begini.”

“Ck, kau ini. Pantas saja kau sampai sekarang tidak punya kekasih. Oh! Atau kita pergi ke spa saja? Ke salon? Ahh! Ke sauna! Bagaimana?”

“Kau bilang hanya makan siang kan? Setelah ini aku akan kembali ke kantor.”

“Hisss… kau menyebalkan Kim Taeyeon!”

Yah, dirinyalah, Kim Taeyeon. Bangsawan paling terkenal di seantero Korea. Keluarganya memiliki sebuah pusat perbelanjaan paling terkenal di Korea. Ditambah lagi di sana harganya yang tidak banyak memiliki barang murah. Letaknya pun ada di Ginza. Jadi, memang sejak kecil uang bukan masalah bukan?

Selain itu, keluarga konglomeratnya ini memiliki perusahaan brand pakaian paling terkenal. Bahkan menyamai brand dari Amerika dan Eropa. Ditambah lagi, dirinyalah yang merancang semua pakaian itu. selain dirinya memang ada beberapa perancang lain di bawah naungan brand-nya. Perancang itu hanya bertugas ketika dirinya sedang tidak dalam mood untuk memproduksi pakaian.

Dirinya sempurna.

Itulah yang dilihat semua orang. Berpendidikan tinggi, kaya, dari kalangan atas, elit, terhormat, cantik, anggun, jenius dan rasanya kata-kata sempurna pun tidak mencukupi betapa hebatnya seorang Kim Taeyeon. Segala hal yang dia lakukan selalu sempurna. Dia tak pernah gagal sedikitpun jika sudah memulai sesuatu. Karena Kim Taeyeon, tak pernah ingin merasakan perasaan seorang pecundang.

Tak lama kemudian, seorang pelayan membawakan pesanan mereka.

“Silahkan pesanan Anda,” ujarnya ramah.

Hmm… didengar dari suaranya, pelayan ini pria. Taeyeon tidak begitu mempedulikan pelayan itu, dirinya masih fokus melihat keluar jendela. Suasana hari ini begitu cerah tapi tidak panas. Beberapa orang menggandeng kekasihnya masing-masing sambil bercengkerama begitu dekat.

“Hei, Hei, Kim Taeyeon… bagaimana menurutmu? Pelayan tadi tampan kan?” tanya Krystal.

Krystal Jung. Sepupu dari Kim Taeyeon. Dia adalah salah satu manager yang ada di perusahaan milik keluarga Kim. Tentu saja ibunya, adalah salah satu pemegang saham di perusahaan itu bersama kakak dan kakek Taeyeon. Gadis periang berambut cokelat gelap ini dulunya bercita-cita jadi model terkenal. Sayang, ibunya tak menyetujui itu dan menyuruhnya untuk ikut perusahaan. Karena nantinya, mungkin Krystal-lah yang akan menggantikan ibunya dalam bisnis keluarga. Jadi mau tak mau, sebagai anak semata wayang, Krystal harus menuruti semua kemauan ibunya.

Usia Krystal dan Taeyeon terpaut tiga tahun. Krystal juga berasal dari keluarga bangsawan yang sama dengan Kim. Kalau diperhatikan, kedua sepupu ini memang memiliki kemiripan dari beberapa sisi.

“Aku tidak lihat. Kau kan memang menganggap semua laki-laki itu tampan.”

“Apa?? Enak saja. Aku juga punya kelas tahu! Pelayan tadi memang tampan. Tubuhnya proporsional, tinggi, wajahnya juga… ahh~ apa aku bisa memesan makanan lagi supaya dia yang mengantarkannya?”

“Terserah kau saja,” jawab Taeyeon acuh. Dia langsung melahap waffle caramel pesanannya dan berniat untuk segera kembali kerja. Bersama sepupunya yang menyebalkan―menurutnya ini membuat kepalanya pusing.

“Huh! Baiklah, kau harus lihat kali ini ya! Pelayaaan!” pekik Krystal sambil melambaikan telapan tangannya.

Taeyeon berusaha bersikap biasa. Dia benar-benar malu bersama gadis ini. Taeyeon akui, dia memang tidak seenerjik Krystal apalagi seaktif Krystal. Taeyeon tak pernah ingin bersikap tidak anggun seperti Krystal. Seorang bangsawan haruslah anggun dan berwibawa. Dan sialnya, karena kelakuan Krystal tadi, Taeyeon jadi ikut-ikutan seperti gadis remaja ingusan yang gila karena melihat pria yang tidak seberapa itu.

“Lihat! Lihat! Dia kemari! Angkat kepalamu Bibi! Lihat dia, tampan kan?” bujuk Krystal sambil menarik-narik taplak meja kafe itu.

“Ada yang bisa saya bantu?” ujar pelayan itu dengan sikap ramahnya.

“Ada! Ada! Bisa aku pesan sesuatu lagi?” ujar Krystal dengan mata berbinar.

“Tentu saja, Nona.”

“Aaa… kalau begitu aku mau pesan Ice Cappucino lagi ya? Dan temanku juga mau memesan sesuatu,” kata Krystal sambil menunjuk Taeyeon.

Pelayan muda itu bersiap untuk menuliskan pesanannya. Tapi Taeyeon tak kunjung bergerak dan tetap menikmati waffle-nya tanpa terganggu. Krystal sudah memberikan kode pada Taeyeon untuk merespon apa yang diinginkannya, tapi wanita keras kepala itu tidak mau bekerja sama. Karena itu, Krystal menendang kaki Taeyeon di bawah meja dengan heelsnya.

“Aww!” jerit Taeyeon kecil.

“Ada apa Nona?” tanya pelayan itu tampak khawatir mendengar suara jeritan Taeyeon.

Krystal langsung mendelik sinis sambil menunjuk-nunjuk pelayan itu dengan dagunya. Taeyeon balas mendelik sinis juga. Bocah ini akan menyesal!

“Tidak apa-apa, sepertinya ada sesuatu di bawah mejaku,” kata Taeyeon.

“Ada sesuatu? Biar saya―”

“Tidak perlu. Aku akan menginjak sesuatu itu nanti,” kata Taeyeon sambil mengangkat wajahnya dan melihat ke arah pelayan itu agar sepupunya ini puas.

Ternyata dia hanyalah pelayan biasa, menurut Taeyeon. Bahkan warna rambutnya yang menyebalkan itu membuat Taeyeon pusing. Terlalu terang! Walau pada kenyataannya Taeyeon memiliki rambut blonde, tapi rasanya tidak seterang itu.

Setelah menyampaikan pesanannya, Krystal mendorong tubuhnya ke depan ingin tahu reaksi Taeyeon.

“Bagaimana? Tampan kan? Tampan kan?” tanya Krystal.

“Tidak. Biasa saja. Karena kelakuan bodohmu itu, tulang keringku sangat sakit sekarang!”

“Tch! Kau memang tidak menarik. Pantas saja kau tidak pernah punya kekasih di umur setua ini!”

“Siapa bilang aku tidak punya? Sebentar lagi kakek dan kakak akan menyuruhku menikah dengan pria pilihannya.”

“Heh? Jadi kau mau begitu saja dijodohkan tanpa tahu bagaimana rasanya petualangan cinta itu?”

“Aku tidak bilang aku mau dan tidak. Aku lihat dulu. Lagipula, aku tidak peduli apa namanya perasaan melankolis yang menjijikan itu.”

“Hisss… kau benar-benar menyebalkan Kim Taeyeon!”
.
.
~dHY~
.
.
Setelah makan siang yang kurang menyenangkan itu, Taeyeon kembali ke rutinitasnya. Tinggal beberapa desain lagi yang harus dia kerjakan. Tapi kakinya masih sakit karena ditendang oleh bocah sialan itu. Sempat Taeyeon berpikir kalau bocah itu bukanlah bangsawan sejati. Pasti dia anak orang lain!

Kenapa Bibinya bisa membesarkan anak sedemikian rupa seperti Krystal?!

Baru saja Taeyeon akan duduk di kursi kerjanya, kali ini ada panggilan masuk.

Taeyeon ingin sekali mengabaikannya. Dia ingin pulang cepat setelah dua hari kemarin lembur. Tapi sepertinya tidak bisa. Semakin diabaikan ternyata semakin menjadi. Karena kesal, Taeyeon akhirnya menyerah dan mengangkat telepon itu.

“Halo?”

“Hiks… Taeyeon-a!”
.
.
~dHY~
.
.
Mendengar suara tangisan di telepon bukanlah hal baik. Taeyeon sampai panik mendengar suara sahabatnya sejak SMA itu.

Boleh dibilang Taeyeon sejak kecil adalah anti sosial. Dia jarang berinteraksi dengan orang-orang yang menurutnya tidak sesuai untuknya. Makanya sejak dulu Taeyeon tidak pernah punya banyak teman. Hanya orang-orang yang gigih yang bisa mendapatkan kepercayaan Taeyeon untuk jadi teman. Mungkin hanya orang-orang seperti Krystal yang bisa memaksa jadi teman Taeyeon. Dirinya juga bukan tipe orang yang bisa mengontrol mulutnya jika sudah marah dan kesal. Adat bangsawannya hanya berlaku di depan keluarganya saja. Tumbuh jadi seorang ‘Nona’ sejak kecil membuatnya tidak begitu peduli dengan banyak orang. Karena apa saja yang dia inginkan, hanya dengan jentikan jari, semua bisa terkabulkan.

“Soyeon?” panggil Taeyeon ketika dia sudah tiba di tempat janjiannya.

Gadis berambut panjang itu sudah sembab matanya karena menangis.

“Hiks… Taeyeon-aaa!” rengeknya.

“Ada apa? Kenapa kau menangis?”

“Jungsoo… dia… dia… kenapa dia begitu jahat padaku. Dia… tidak pulang semalam tanpa memberikan kabar padaku.”

Taeyeon berdenyut pusing. Memangnya Taeyeon peduli hal ini? Dia sudah bilang pada Soyeon untuk tidak merecokinya untuk urusan seperti ini. Taeyeon bahkan meninggalkan pekerjaannya demi mendengar alasan konyol kenapa Soyeon menangis!

“Ini resikomu sebagai wanita yang telah menikah. Sudah kubilang untuk tidak menikah cepat, tapi apa yang kau lakukan? Sudah dua tahun menikah masih juga begini.”

“Tapi aku tidak mau jadi gadis tua, Taeyeon! menikah di usia normal untuk seorang gadis itu perlu!”

“Pikirkan ke depannya. Bukan soal perlu atau tidak. Kau lebih mengutamakan keegoisanmu daripada masa depanmu. Kalau kau menikah hanya untuk menangis, untuk apa menikah? Sudah kubilang padamu pria itu tidak ada yang bisa dipercaya!”

“Ck, kenapa kau sinis sekali? Inilah kenapa kau tidak kunjung menikah. Semua laki-laki takut pada sifatmu itu. kau bertindak seolah kau tidak butuh laki-laki saja.”

“Kalau kita bergantung pada laki-laki, mereka akan besar kepala. Mereka akan berpikir kita tidak bisa hidup tanpa mereka. Apa kau mau mereka menindasmu seperti ini terus hah?”

“Bukankah kita memang butuh laki-laki supaya hidup kita bahagia? Laki-laki yang melengkapi kehidupan kita.”

“Realistis. Tidak semua laki-laki bisa melengkapi hidup kita. Kau terlalu banyak membaca novel dan menonton drama yang selalu menayangkan kisah cinta klise, tidak masuk akal dan berlebihan. Kau sungguh berpikir akan ada tokoh laki-laki seperti itu?”

“Tentu saja ada. Mereka dibuat karena mereka sesungguhnya ada kan?”

“Soyeon?!”

“Kupikir, kau yang harusnya berhenti berpikir seolah semua ini harus masuk akal. Kadang sesuatu itu terjadi karena tidak masuk akal. Kalau kau terlalu idealis begitu, kau pasti tidak akan menikah sampai kapanpun…”

“Itu lebih baik daripada menangis sepertimu setiap saat.”

“Sesekali… kau harus berhenti berpikir berat Taeyeon… cobalah berpikir yang ringan saja. Bukannya pekerjaanmu berimajinasi? Kalau kau berpikir berat terus kapan kau bisa berimajinasi?”

“Jadi, kemana arah pembicaraan ini?”

“Sebaiknya kita belanja saja bagaimana? Aku bosan menunggu di rumah… ayolah, hibur temanmu ini… kau bisa mentraktirku salah satu rancanganmu yang bagus itu…”

Taeyeon memutar matanya. Pada akhirnya dialah yang harus bertanggung jawab atas mood sahabatnya ini. Dan apa katanya?

Menikah…

Kenapa akhir-akhir ini kata itu sering Taeyeon dengar?
.
.
~dHY~
.
.
Baru satu jam Taeyeon menemani Soyeon berbelanja, tapi Taeyeon sudah tidak sanggup mengikuti wanita itu.

Ketika Taeyeon akan meninggalkannya di sebuah pusat perbelanjaan, Soyeon langsung menelpon suaminya untuk menemaninya pulang. Jadi sebenarnya mereka ini sedang bertengkar atau Taeyeon yang salah tanggap atau… sebenarnya Soyeon-lah yang bertindak berlebihan?

Sudah cukup. Taeyeon bisa pusing memikirkan wanita aneh itu, sebaiknya Taeyeon pulang saja.
Begitu akan melewati perempatan, mata Taeyeon tertumbuk pada seorang pria di sebuah klub, seorang pria baru saja keluar dengan beberapa wanita penghibur.

Taeyeon segera keluar dari mobilnya dan berniat menyeret pria itu pulang.
.
.
~dHY~
.
.
“Terima kasih banyak.”

Pria berambut cokelat terang ini baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia bersiap akan pulang setelah berganti pakaian.

Begitu meninggalkan restoran, pria tampan ini terkejut melihat seorang wanita yang berdandan begitu… astaga… lebih mirip wanita penghibur daripada penyanyi klub malam.

Seharusnya dia mengikat wanita itu agar diam di rumah saja.

Rambutnya yang bergelombang berwarna hitam dan bajunya yang belahan dadanya begitu terbuka lebar. Dirinya tak habis pikir kenapa wanita ini bersedia memamerkan dirinya untuk pekerjaan yang tidak seberapa ini. Lekuk tubuh seksinya bahkan tidak bisa ditutupi dengan gaun tipis miliknya.

“Pulang sekarang!” pria berambut terang itu menarik lengan wanita itu untuk segera pergi dari klub malam itu.

“Hei! Apa-apaan kau ini, aku mau bekerja!” balasnya sengit.

“Aku yang bekerja! Kenapa ikut-ikutan bekerja begini?!” katanya marah.

“Kau pikir dengan kau sendiri yang bekerja bisa menghidupi kita? Minggir! Semua orang bisa melihat kita!”

“Tidak apa-apa! Ayo kita pulang!”

“Sehun!” pekiknya.

Pria berumur 27 tahun itu berhenti bergerak ketika tangannya disentak dengan kasar.

Wanita ini berdandan begitu… astaga! Bahkan bibirnya dipoles sedemikian merah. Sehun tidak ingat kalau bibir wanita bisa semerah ini!

“Kau pulang duluan saja. Jangan tunggu aku malam ini. Dan jangan membuat kegaduhan. Aku tidak ingin melihatmu dihajar oleh security lagi karena kebodohanmu. Kau mengerti?”

Pria bernama lengkap Oh Sehun ini hanya bisa terdiam melihat kegigihannya. Dia memang tidak bisa diandalkan melihat wanita ini rela begitu saja masuk ke klub malam sarangnya hidung belang.

“Hei Bu,” panggil Sehun.

Wanita berambut hitam itu menoleh dengan enggan.

“Lipstikmu menyebalkan. Cepat hapus!”

“Pulang sana! Dasar anak nakal!”

Yah… sejak kematian ayahnya, dirinya mulai giat mencari uang. Ibunya juga begitu. Tapi Sehun sebal melihat ibunya rela saja berdandan sedemikian rupa sebagai penyanyi klub malam. Apa saja dilakukan oleh Sehun untuk membuat ibunya berhenti bertindak begitu. Tapi, ibunya tetap bersikeras dengan mengatakan kalau uang mereka tidak cukup untuk biaya hidup.

Hidupnya memang susah dan tidak menyenangkan. Tapi bagaimanapun, Sehun harus bertahan. Dia harus… karena dia punya ibu dan―

Sehun kaget melihat seorang gadis mungil di sudut gang dekat klub malam itu menggandeng seorang pria mabuk. Pria itu terus berusaha memeluknya. Tapi gadis mungil itu tidak melarikan diri dan terus menggandeng pria mabuk itu.

Awalnya ingin Sehun biarkan, tapi kemudian, Sehun mendengar jeritan kecil dari gadis mungil itu.

Pria mabuk itu bertindak lebih kurang ajar lagi dengan menarik-narik kerah baju gadis mungil itu.

Geram, Sehun tanpa babibu lagi langsung berlari menghampiri keduanya dan melayangkan tinju untuk menghajar pria itu.

“YAKK! APA YANG KAU LAKUKAN?! DIA KAKAKKU!” pekik gadis mungil itu.

Apa?

To be continue

안녕하세요🤗 aku buat ff baru lg semoga suka yaa… Ini terinspirasi dari drama THE HEIRS tp ini versi cewenya karena disini Taeyeon lah yang kaya kkk… Tunggu chapter selanjutnya yaa. Bye
Follow my Wattpad chingu😊

Advertisements

14 comments on “THE HEIRS (Episode 1)

  1. Yakkk!! New fanfic!! Keren Mbak!! 😘😘😘 the heirs ver.-ver. Yeth??? Heheheh. But keren bgett..lope.. 😚 karakter ny TY eon.. dn Hun yg jarang” jd gelandangan.. komplit dehh.. 😂

    Next ny jan lama” Mbak Rin. 😄😳😉

    Keep Writing and FIGHTING!!! 💪💪💪💋💋

  2. Yuhuyyy akhirnya update new ff egen…keren jadi disini ceritanya taeng yg kaya gitu..akh gak sabar nunggu kelanjutan nih ff😘apalagi ada couple kesayangan❤❤

  3. ceritanya menariiikk, taeyeon keknya dingin benget dan gak percaya dengan cinta, semoga sehun bisa merubahnya yaa..
    keep fighting and writing author

  4. Wah mantap update komen dlu deh baru baca xD, jarang ke atsit jadi gk tau klo author update, update jangan lama2 thor bosen nunggunya hehe fighting and keep update!!

  5. Waw, Bagus Kak! Ceritanya aku tunggu selanjutnya— sebenernya aku udah liat di WP tapi gatau kenaoa ngerasa kalo baca di WordPress lebih beda 😂 oh ya, Semangat nulisnya/ngetiknya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s