Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome to readers in my Fan Fiction 🙂

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 – Part 1

Note:

Annyeonghaseyo.

Apa kabar, reader’s?

Ini adalah lanjutan chapter 6.

Jeoseonghamnida, jika ada typo.

Semoga di mengerti.✌So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

CHAPTER 6

WONDERLAND

“Eonni! Oppa! Wae geurae?!” seru Yuri tidak jauh dari mereka dengan menatap tajam khawatir. Tersadar sekelilingnya berserakan dahan yang jatuh.

Yuri cepat mendekati mereka dan berdiri sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri.

Jiyong dan Taeyeon melepaskan kontak tubuh mereka, lalu Taeyeon memilih mendekat pada Yuri. Setelah beberapa saat, Jiyong menegakkan kembali ke tempat semula tangga yang ia tendang.

Jiyong menghampiri dua gadis itu.

“Minumlah dulu dan tenangkan dirimu,” saran Jiyong kembali acuh.

“Eonni, ini,” Yuri menyodorkan botol minuman jeruk yang perlahan diminum gadis yang masih terasa shock-nya. “Hati-hati minumnya.”

Sementara itu, ahjussi sudah menuruni pohon dan buru-buru menyambangi mereka bertiga.“Apa kalian baik-baik saja?” khawatir ahjussi melihat Jiyong juga Taeyeon.

“Ye, ahjussi. Kami baik-baik saja,” sahut Jiyong tersenyum. Lalu, membungkukkan kepalanya, “Kami minta maaf.”

“Maaf, aku tidak melihat kalian disini,” ucap ahjussi merasa sangat bersalah.

“Aku yang harusnya minta maaf. Ini salahku tidak menghentikan temanku yang jalan begitu saja tanpa melihat ada pembersihan pohon. Jeoseonghamnida,” Jiyong kembali membungkuk maaf.

Merasa sedikit terkejut Taeyeon, dengan Jiyong yang menganggapnya teman. Terpana juga dengan kesopanan pria bermarga Kwon ini.

***

Petang Yuri dan Jiyong baru sampai di apartemen BIGBANG.

“Apa mereka belum pulang?” tanya Yuri yang baru memasuki apartemen menuju ruang tamu dan tampak sepi.

Selesai menutup pintu, melepas sepatu untuk menggantinya dengan sandal, Jiyong menuju ruang tamu dan duduk di sofa yang tersedia.

“Mungkin ke YG,” pikir Jiyong, lalu melepas mantelnya dan diletakkan pada kepala sofa.

“Ani,” sanggah Yuri cepat. “Mungkin mereka bertiga iya, tapi Youngbae oppa tidak. Dia pulang ke rumah.”

“Darimana kau tahu?” tanya Jiyong cepat dengan senyum mengembang lebih tepatnya menggoda pada Yuri yang dibelakang tidak jauh darinya.

“Apa aku tidak boleh mengirim pesan pada mereka. Kenapa kau menatapku seperti itu?” kesal Yuri.

“Kau yang tanya padanya atau dia yang memberitahumu?” goda Jiyong kembali, tidak terpengaruh kekesalan adiknya. Untuk semakin membuat wajah Yuri memerah, Jiyong menghampiri gadis itu dengan senyum penuh goda.

“Dia memberitahuku. Kau puas?!” Yuri yang kesal cepat mendorong keras pinggul Jiyong.

“Akh!!” teriak Jiyong kesakitan sontak memegang pinggulnya.

“Oppa, wae?! Jangan pura-pura,” tanggap Yuri panik.

“Ini bukan pura-pura bodoh,” jawab Jiyong pelan, masih merasakan sisa-sisa sakit akibat dorongan Yuri.

“Apa aku menyakitimu?” Yuri berusaha tidak panik tapi tetap saja sulit.

“Kurasa karena tadi terbentur pohon,” ucap Jiyong, tapi sepertinya Yuri belum begitu paham. Jiyong mencibir, “Saat melindungi kakak perempuanmu.”

“Masih sangat sakit?”

“Coba kau lihat, apa ada yang memerah?” pinta Jiyong melepas kaos putihnya.

Segera Yuri menuruti permintaan kakaknya.

“Iya, itu memerah,” ujar Yuri khawatir.

“Tidak terlalu sakit. Dibawa mandi dan istirahat juga hilang sakitnya,” kata Jiyong. “Ah, bagaimana kau akan mengembalikan mobil eonnimu?”

“Nanti akan kutelepon Taeyeon eonni. Dia sendiri yang meminta kita untuk membawa mobilnya kemari, ‘kan?”

“Selesaikanlah kalian berdua, jangan libatkan aku.”

“Bukankah oppa orang yang baik yang selalu berusaha menuruti permintaan adiknya?” sindir Yuri.

“Aku mau mandi,” Jiyong bangkit mengambil mantelnya lalu pergi seolah tidak mendengar cibiran gadis itu.

***

Taeyeon selesai mandi dengan rambut terbungkus handuk putih. Ia keluar kamar dan menemui ibunya di meja makan yang tengah menyajikan makan malam.

“Apa kau lelah hari ini?” tanya ibu yang meletakkan semangkuk sup.

“Tidak sama sekali,” jawab Taeyeon lalu meminum air putih yang dituangkan sang bunda.

“Bagaimana kau menyelesaikan urusanmu di taman itu?”

“Eomma…” panggil Taeyeon antusias.

“Sepertinya menyenangkan melihat wajahmu seperti itu,” tukas ibu duduk diseberang putrinya.

Taeyeon mengangguk cepat.

“Disana ada peri hutan, ah tidak, penjaga taman itu. Seorang pria yang sangat tampan, Kim Hyunjoong,” ungkap Taeyeon penuh senyum dan kekaguman.

“Kau disana hanya memperhatikan pria itu?” cibir ibu. “Apa saja yang kau lakukan disana?”

“Aku dibuat cantik dengan gaun panjang dari sana,” ujar Taeyeon kembali mengingat hal-hal mengenai Secret Butterfly Garden. “Sesuai permintaan penjaga taman Kim, aku hanya datang, berbincang dengan penjaga itu dengan dikelilingi kupu-kupu. Dan, keluar dari sana. Pertemuan selanjutnya sudah ditentukan waktunya, jadi aku tinggal mengatur jadwal untuk tidak terlambat.”

“Eomma senang mendengarnya. Itu artinya kau tidak merasa terbebani dengan aktivitas barumu. Dan, kau harus ingat jadwal barumu ditempat itu. Eomma tidak mau kau terluka.”

Taeyeon mengangguk tersenyum.

“Mm… Nomu mashita, eomma. Jeongmal,” komentar Taeyeon setelah mencicipi supnya.

“Makanlah.”Kembali Taeyeon menyendok sup dan matanya berbinar dengan lezatnya sup tersebut.

***

TTS tampil di berbagai acara musik dengan single Dear Santa. Mereka tampak berusaha keras memberikan penampilan yang terbaik.

Jiyong tanpa sengaja melihat live stage mereka di apartemen BIGBANG karena Yuri suka menonton mereka.

Jiyong tidak mengalihkan pandangan dari televisi. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari performance salah satu member TTS, yakni Taeyeon. Taeyeon tampak lebih ceria juga lebih semangat dari sebelumnya.

Apa yang membuatnya seperti itu?

Karena ceria dan semangatnya benar-benar terlihat seakan telah mendapat atau mengalami sesuatu yang mengubah performance menjadi lebih bagus.

Jiyong hanya tersenyum simpul.

***

Setelah menonton televisi, Yuri cepat-cepat pulang ke apartemen SNSD karena Taeyeon mengiriminya pesan ingin mengatakan sesuatu.

“Bukan hanya bermain bersama? Lalu, apa lagi?” tanya Yuri yang keduanya kini berada di kamar Taeyeon.

“Ada yang utama dari alasan kenapa aku bersemangat. Kurasa kau perlu tahu karena kau tahu kemampuanku.”

“Jadi, karena kemampuanmu? Kau bisa melihatnya lagi?”

“Ani. Entah kenapa aku merasa senang dan berefek bagus untuk performance-ku setelah mendatangi taman itu di Changdeokgung Palace,” ungkap Taeyeon kembali mengingat hal-hal mengenai Secret Butterfly Garden.

“Taman di Changdeokgung Palace?” Yuri tidak mengerti.

Secret Butterfly Garden. Kau tidak bisa melihatnya. Disana aku semacam terapi mengenai hilangnya kemampuanku melihat kupu-kupu. Kau tidak tahu rasanya tapi itu benar-benar menyenangkan,” cerita Taeyeon senang membuat Yuri terperangah. “Nanti kuceritakan semuanya. Ayo, makan malam dulu.”

“Eonni, sebenarnya aku akan pergi lagi. Ada yang menungguku di basement.”

“Nugu? Kenapa tidak diajak masuk dulu kemari?” senyum Taeyeon membuat Yuri berkerut kening heran. Apa karena efek taman itu?

“Ehm, kapan-kapan saja, ya?” Yuri tersenyum kaku. Pembicaraan mereka jadi terasa aneh.

***

“Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku sampai sini,” ucap Yuri pada Taeyeon yang keduanya sampai di basement.

“Aku penasaran siapa yang menunggumu. Siapa yang mau mengantarmu?” goda Taeyeon mencibir.

Namun, beberapa detik kemudian Taeyeon terkejut melihat mobil didepannya yang sudah cukup dikenalnya. Dari mobil tersebut keluar seseorang yang juga dikenalnya, Kwon Jiyong.

“Dia yang menungguku. Masih mau mengajaknya ke apartemen?” sindir Yuri berbisik pada Taeyeon melihat Jiyong mendekati mereka.

Taeyeon hanya mencibir kecil melirik Yuri.

Begitu ketiganya berhadapan, Jiyong menatap Taeyeon.

“Yuri-ah, kau masuk mobil dulu. Aku ingin mengucapkan sesuatu pada leader ini,” perintah Jiyong pada Yuri dengan tatapan tetap tertuju pada Taeyeon.

“Oke, selesaikan,” ucap Yuri mengerti lalu cepat masuk mobil.

“Setelah membuatku terbentur pohon kau terlihat begitu bersemangat tampil di stage,” ucap Jiyong setelah Yuri masuk mobil.

“Gamsahamnida sudah menolongku. Maaf, kau harus terbentur pohon,” ucap Taeyeon.

“Atau kau senang saat aku cedera?” selidik Jiyong.

Apa maksudmu? Sudahlah, Yuri sudah menunggumu,” ujar Taeyeon malas.

“Dia akan terus menungguku,” sergah Jiyong tidak ingin pembicaraan dialihkan.

Bye, Yuri-ah,” ucap Taeyeon melambai pada Yuri di jendela mobil didekatnya. Lalu, menatap kesal pada Jiyong sekilas sebelum benar-benar memasuki apartemen.

Jiyong menatap kesal pada gadis mungil itu.

***

Langit malam masih cerah ditemani bulan serta bintang yang bertaburan cahaya. Malam yang hangat, cocok untuk pergi kencan secara outdoor.

08.00 p.m SKT.

Pria tinggi ini tersenyum dengan apa yang dilihatnya tidak jauh dari tempatnya berdiri di sebuah taman romantis. Seorang gadis cantik juga manis melambai pada pria tersebut. Ia menghampiri pria itu.

Pasangan kekasih ini, Woobin dan Taeyeon memanfaatkan malam ini untuk berkencan.

Sebenarnya, sejak bertemu Woobin disini, perasaan Taeyeon mendadak tidak enak, entah kenapa Taeyeon juga tidak mengerti.

“Sudah lama menunggu?” sapa Taeyeon. “Mian, baru sampai.”

Kupu-kupu pink muncul dari mulut mungil gadis itu, terbang mengelilingi mereka semakin menambah kelap-kelip indahnya taman itu. Tentu keduanya tidak ada yang menyadari kehadiran kupu-kupu tersebut.

“Kwaenchana,” ucap Woobin tersenyum manis. “Lama tidak bertemu.”

“Apa itu artinya aku harus memelukmu?” pikir Taeyeon menatap senyum.

“Ani. Karena, aku yang akan melakukannya,” perlahan Woobin mendekati Taeyeon dan merengkuh tubuh mungil Taeyeon yang membalasnya dengan senyum bahagia. “Malam ini aku akan menjadi oppamu.”

Beberapa saat kemudian, mereka saling melepas pelukannya.

Mereka jalan berdua menikmati taman di malam hari.

***
Tengah menikmati makan malam di meja dekat jendela, Woobin dan Taeyeon sesekali saling menatap senyum bahagia yang terpancar dari wajah masing-masing.

“Cukhahae, single kalian sukses. Kau pasti bekerja keras,” ucap Woobin seraya menyuapkan daging ke mulut Taeyeon, “Suapan ini sebagai hadiahnya.”

“Gomawo, oppa,” ucap Taeyeon setelah menerima suapan daging dari Woobin.

Gadis itu kembali menerima suapan daging dari Woobin, tapi perasaan Taeyeon semakin tidak enak tanpa tahu sebabnya. Ia menatap Woobin dengan senyum manis.

***

Taeyeon dan Woobin jalan bergandengan di Namsan Tower.

Kencan malam ini terasa indah dengan pemandangan malam hari kota Seoul dari tempat mereka berdiri, walau Taeyeon terus merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak enak.

Namun, Taeyeon tidak akan memikirkannya dan segera menepis kecemasan yang belum jelas. Ia hanya perlu menikmati malam ini bersama sang pacar daripada memikirkan hal yang tidak jelas.

Lupakan saja dan cukup nikmati kencan ini.

“Kenapa diam?”

“Ani,” jawab Taeyeon tersentak, lalu tersenyum.

Pandangan Woobin beralih pada sepasang gembok cinta didekat mereka membuat Taeyeon juga mengikuti pandangan Woobin, yang ternyata memandang gembok cinta milik mereka.

Woobin membentuk senyumnya dengan tangan yang terus saling terpaut dengan Taeyeon.

Perlahan Woobin menghadapkan tubuh kecil Taeyeon agar saling berhadapan tanpa Woobin melepas genggamannya.

Taeyeon hanya menurut dengan senyum manis. Begitu mata mereka saling bertemu, Woobin menarik nafas panjang bersiap untuk mengungkapkan sesuatu.

“Butuh waktu lama untuk memikirkan ini dan sekarang sulit mengatakannya,” ucap Woobin seraya memasukkan tangan kirinya pada saku celana dan siap mengambil sesuatu dari sana.

“Jangan dulu dikatakan jika terlalu sulit,” cegah Taeyeon cepat saat ekor matanya melirik Woobin yang ragu-ragu mengambil sesuatu dari dalam saku.

Ada dua hal dipikirannya Taeyeon saat ini, hal positif dan negatif. Ia tidak bisa menebak salah satu dari dua hal tersebut.

Entah positif atau negatif ia merasa ragu dengan dua hal yang mungkin salah satunya benar akan diungkapkan pria dihadapannya ini. Perasaan tidak enak sejak bertemu Woobin kini menjadi terasa berkaitan.

Karena cegahan Taeyeon yang tiba-tiba, Woobin urung mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.

“Kau tidak akan mendengarnya?” tanya Woobin hati-hati dengan menatap selidik Taeyeon.

“Apa kita harus pulang?” Taeyeon balik bertanya dan berusaha setenang mungkin.

Taeyeon terus memperlihatkan senyumnya. Berbeda batinnya yang sangat khawatir dengan situasi mereka saat ini yang bahkan Taeyeon sendiri belum tahu mengenai apa yang akan dikatakan kekasihnya ini.

Juga, tidak tahu harus senang atau sebaliknya dengan apa yang hendak dikatakan Woobin.

***

“Kenapa kau kesini?” serta merta Jiyong yang berada di dapur mengambil air minum bertanya pada Yuri yang melihat kedatangan gadis itu ke apartemen BIGBANG.

“Aku akan menginap disini,” jawab Yuri santai.

“Menginaplah di apartemen sendiri,” sahut Jiyong malas menghadapi adiknya.

“Tidak mau.”

“Pulang saja ke rumah. Menginaplah disana, temani eomma,” pikir Jiyong.

“Jika disini ada teman muda ngobrol. Di rumah tidak ada.”

“Maksudmu Youngbae?” tebak Jiyong langsung, mulai menggoda adiknya. Hal yang menyenangkan baginya.

“Hey!” seru Yuri kesal. “Kau ini apa benar-benar seorang oppa? Jika ya, oppa macam apa kau ini?”

Gelas berisi air putih itu Jiyong arahkan mendekat ke mulutnya siap untuk diminum.

Namun,

PRANG!!!

Tiba-tiba gelas tersebut jatuh ke lantai sebab tangannya cepat memegang kepala yang diserang sakit begitu tiba-tiba.

“Oppa!!” teriak Yuri menghampiri kakaknya.

Ia sangat terperanjat melihat kakaknya ambruk menahan sakit di kepalanya.

“Argh…!!” erang Jiyong nyeri dengan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Oppa!!” seketika air mata Yuri menetes dan semakin panik. Ia melompati pecahan kaca hati-hati lalu mengguncang tubuh kakaknya.

Tidak ada respon dari Jiyong. Jiyong hanya terus kesakitan dan tidak bisa mengontrol gerak tubuhnya sehingga lengannya terkena pecahan kaca dan berdarah pun tidak bisa dihindari.

“Oppa, wae?!”

***

Setelah sebelumnya dengan segala usaha susah payah Yuri menangani kakaknya, Yuri menyelimuti kakaknya yang sudah terbaring lemah di ranjangnya. Jiyong tertidur dengan wajah yang terlihat sangat lelah.

Sisa-sisa isakan Yuri masih terdengar, ia memandangi kakaknya yang begitu lemah dengan prihatin.

“Apa yang sedang kau tunjukkan padaku?” lirih Yuri dan air matanya kembali mengalir tapi cepat Yuri menghapusnya dengan tangan kanannya.

Yuri teringat sesuatu, bukankah Taeyeon sedang berkencan dengan Woobin? Apa dugaannya benar ada kaitan sakit kepala Jiyong dengan Taeyeon yang tengah bersenang-senang menikmati kencan?

***

Kaki kecil ber-high heels ini begitu lemas melangkah di lobby apartemen yang sepi, mungkin karena sudah begitu larut malam.

Tangan kiri gadis ini memegang tas kecilnya dengan lemah yang jika sedikit lagi tenaganya semakin melemah, tasnya terjatuh dari tangan mungil ini. Wajahnya datar. Wajah milik Kim Taeyeon. Gadis yang berusaha menahan tangis.

Kakinya terus melangkah seakan tanpa tujuan.

Ia berhenti di depan pintu lift, menekan tombol dan menunggu pintu terbuka. Pandangannya kosong.

FLASHBACK

Woobin mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kunci kecil dihadapkan pada Taeyeon yang menatap intens kunci tersebut dan bola matanya melebar. Kunci gembok cinta miliknya.

“Kenapa masih ada padamu? Harusnya kunci itu dibuang setelah mengunci gemboknya,”
Tawa kecil Taeyeon terdengar. “Kau kekanakan-kekanakan sekali. Lupakan saja, kwaenchana. Jadi, kau mau membuangnya sekarang dan ingin aku melihatnya?”

“Tidak, Taeyeon-ah. Begini, kita sama-sama sibuk. Kita jarang bertemu, berkomunikasi dan aku jarang bisa meluangkan waktu. Kita hanya beberapa kali benar-benar meluangkan waktu untuk kencan lama. Kita…”

“Apa yang kau bicarakan?” sela Taeyeon cepat berusaha untuk tetap tersenyum.

Hal negatif di otaknya semakin muncul siap keluar dan hal positif dalam pikirannya samar-samar tenggelam, lenyap oleh hal negatif yang terus mendominasi otaknya saat ini. Taeyeon mulai merasakan sesuatu dan matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku mencintaimu tapi tidak bisa membahagiakanmu.” ungkap Woobin menatap manik mata gadisnya. “Aku selalu kurang perhatian didepanmu maupun saat kita tidak bertemu. Kau terluka saat aku tidak datang di waktu ada janji kencan, itu sering sekali terjadi. Aku benar-benar mencintaimu tapi apa aku akan terus mengulangi kekurangan-kekuranganku didepanmu. Aku takut itu akan kembali terjadi.

“Dengan kekuranganku itu, kau tidak bisa tahan, ‘kan? Aku tidak akan memaksamu. Aku cukup tahu diri dengan kekurangan yang tidak bisa terus kutunjukkan padamu. Itu sebabnya aku berterus terang sekarang.”

Terdiam Taeyeon mendengarnya. Mencerna baik-baik dan berpikir jernih dengan apa yang didengarnya dari pria ini.

“Aku tidak mempermasalahkan kekurangan-kekuranganmu,” terang Taeyeon setelah terdiam cukup lama. “Aku juga banyak kekurangan lebih darimu. Jika ini pengakuan, harusnya aku yang lebih dulu melakukannya. Aku bisa memulainya sekarang? Kau mau mendengar pengakuanku, ‘kan? Kalau begitu, dengarkan.”

“Mianhaeyo,” ucap Woobin menunduk.

Seketika itu air mata Taeyeon jatuh dengan deras melihat Woobin menatapnya.

“Aku tidak ingin lebih melukaimu lagi Baik-baiklah mulai sekarang. Baik-baiklah mulai sekarang… tanpaku,” ucap Woobin akhirnya. Tujuan seperti itulah yang ingin ia katakan di pertemuan kencan kali ini. Kencan yang terakhir.

Seakan tiba-tiba busur panah terasa menusuk ulu hatinya. Perih sekali. Nafasnya begitu sesak. Sulit sekali bernafas normal. Untuk mengucap satu kata pun kesulitan.

Tidak, Taeyeon tidak boleh lemah ia harus mampu menyelesaikan pertemuan ini.

Ia menarik nafas panjang, mengaturnya pelan dan menguasai dirinya.

Terjawab sudah kecemasan sejak bertemu Woobin. Ia diputuskan. Di malam yang sangat hangat dan damai.

“Sekarang kau membuatku sangat kesulitan,” lirih Taeyeon menunduk menangis.

“Mianhada.”

“Aku tidak bisa menyalahkanmu,” Taeyeon menegakkan badannya. “Aku akan hidup baik… tanpamu.”

“Kunci ini… terserah kau akan apakan kuncinya. Membuangnya atau menggunakannya untuk membuka gembok yang sudah tidak lagi mewakili hubungan kita,” Woobin menyerahkan kunci pada Taeyeon yang diterimanya dengan air mata mengalir di pipinya.

“Aku tidak ingin membebanimu jadi aku akan membukanya,” ucap Taeyeon tersenyum tapi nyatanya air mata itu semakin muncul deras. Sulit menahan air mata itu.

Ia menunduk beberapa saat lalu menatap sendu kekasihnya beberapa saat lalu yang kini sudah menjadi mantan kekasih.

Prihatin Woobin menatap Taeyeon yang wajahnya penuh air mata terutama mata dan kedua pipi tirusnya.

Woobin perlahan semakin mendekat mempersempit jarak, menatap intens wajahnya lalu bibirnya. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Taeyeon lalu menempelkannya.

Kedua mata Taeyeon perlahan menutup dan kembali menangis perih. Tangan keduanya yang sejak tadi tidak dilepas kini semakin dieratkan, tidak ingin berpisah. Tapi, mau bagaimana lagi? Woobin sudah memutuskan untuk berpisah.

Bibir keduanya menempel cukup lama.

Tangan Taeyeon yang menggenggam kunci semakin erat hanya bisa menangis dalam diam dengan mata tertutup.

FLASHBACK END

Cepat Taeyeon menghapus air matanya, tapi percuma saja air mata itu seakan tidak mau berhenti keluar. Ia berhenti didepan sebuah pintu apartemen. Menatap pintu itu dan berusaha berhenti menangis.

“Baiklah jika kau ingin menceritakan kencan kalian yang membahagiakan. Tapi, kau datang ke apartemen BIGBANG saja karena aku ada disana sekarang. Setelah selesai datang langsung ke apartemen BIGBANG.”

Pesan Yuri teringat jelas. Maksud untuk menceritakan kencan bahagia gagal, karena berakhir menyedihkan.

Taeyeon menarik nafas panjang menerima semuanya. Saat ini ia hanya harus memikirkan apa yang akan dilakukannya.

Ia lalu menekan bel apartemen. Walau Taeyeon tahu password-nya ia akan tetap menekan bel. Karena ia tamu sekarang, dan bukan gadis berkemampuan yang ingin berbagi cerita dengan orang yang melihat kemampuannya.

Belum ada respon dari dalam, Taeyeon kembali menekan bel. Diliriknya jam tangan dan menunjukkan pukul 11.49 p.m. Taeyeon hanya menghela nafas, tidak peduli dengan Yuri yang mungkin akan menganggapnya tamu macam apa karena datang di waktu yang hampir tengah malam.

Klik.

Cepat Taeyeon menghapus air matanya dan tersenyum bersiap menyambut Yuri begitu mendengar pintu apartemen terdengar dibuka.

Pintu terbuka, namun Taeyeon melebarkan kedua matanya tiba-tiba dengan apa yang dilihatnya. Jiyong tidak bisa menyembunyikan Keterkejutannya melihat seorang gadis berdiri didepan apartemen idolgroup pria di waktu yang sangat malam.

“Kenapa… kau? Harusnya Yuri yang membukanya,” ucap Taeyeon lirih belum hilang rasa terkejutnya. Lirih, khawatir ada orang lain yang melihatnya didekat apartemen idol group terkenal.

“Kau mungkin salah apartemen. Kau terlihat tidak baik sekarang. Kau mabuk, ‘kan? Yuri tidak disini. Kau ku maafkan.”

Kenapa Jiyong tampak pucat dan lengannya terplester?

“Jamkkanman,” cegah Taeyeon cepat saat Jiyong segera menutup pintu. Jiyong batal menutup pintu dan kembali menatap Taeyeon malas. “Aku memang bermaksud datang kemari.”

“Mwo?” kening Jiyong berkerut.

“Yuri….”

“Masuk,” potong Jiyong cepat melihat sekeliling luar apartemen, “Bagaimana jika ada yang melihatmu? Sebenarnya apa yang tengah kau lakukan? Masuk.”

Taeyeon menuruti Jiyong masuk dengan menunduk. Air matanya kembali menetes, merasa dirinya begitu menyedihkan. Sementara Jiyong yang tidak menyadari Taeyeon menangis hanya menatapnya dari belakang dengan heran. Lalu, menutup pintu sebelum ada orang lain yang melihat.

“Yuri eodiseo?” tanya Taeyeon tanpa menatap Jiyong yang berada disebelahnya. Ia menghapus air matanya, tidak ingin Jiyong melihat.

“Yuri pulang satu jam lalu. Apa dia tidak memberitahumu?” acuh Jiyong menoleh gadis dengan penampilan yang tampak sudah tidak rapi itu.

Benar!

Sejak terakhir Taeyeon mengirim pesan pada Yuri, ia belum memeriksa ponselnya hingga hingga sekarang.

Terbukti saat Taeyeon membuka ponsel, Yuri mengiriminya pesan.

“Eonni, aku ada urusan. Mianhae. Ceritanya besok saja, ya? Good Night.”

Tercengang membacanya, Taeyeon menutup ponsel belum percaya. Yuri membuatnya terjebak lagi disini? Bukan, ini bukan salah Yuri tapi salahnya sendiri karena tidak memeriksa ponsel selama dua jam tadi.

“Kau merasa sakit hati?” tanya Jiyong tiba-tiba.

“Ne?!”

Tersentak dengan pertanyaan Jiyong, pikiran Taeyeon langsung terbang pada putusnya hubungan Woobin dengannya baru saja. Ia tahu maksud Jiyong adalah membicarakan Yuri tapi kondisi Taeyeon yang tengah sensitif membuat pikirannya susah sekali diatur.

“Kau mabuk?” selidik Jiyong.

“Aku tidak pernah mabuk,” sela Taeyeon cepat menatap Jiyong.

Jiyong terhenyak heran karena Taeyeon mengatakannya dengan mengeluarkan air mata.

“Apa aku menanyakan sesuatu yang salah?”

***

Gadis itu berdiri menundukkan kepala, terisak. Berusaha tidak mengeluarkan suara namun tetap terdengar oleh Jiyong yang tepat dihadapannya.

Jiyong menatap gadis innocent itu yang terus menangis. Mereka berdua ada di kamar Jiyong sekarang.

Sebenarnya, Taeyeon yang meminta Jiyong untuk meminjamkan kamarnya sebentar. Jiyong memberi izin, tapi setelah sepuluh menit Jiyong memutuskan masuk dan sudah melihat Taeyeon berdiri menangis.

Jiyong menelan ludah dan selangkah lebih mendekat pada gadis mungil itu. Belum ada maksud menghentikan tangisan Taeyeon.

Sepertinya Taeyeon sangat terluka setelah Jiyong mendengar cerita putusnya Taeyeon.

Maksud ingin bercerita pada Yuri justru ia limpahkan pada Jiyong. Karena, Taeyeon tidak bisa memendam hal ini sedikit lebih lama.

Ia cepat ingin mengungkapkannya pada siapa saja dan rupanya jatuh pada pria ini, satu-satunya orang yang pertama kali ditemuinya setelah putus. Langsung cerita pada seorang G-Dragon si pria bad boy ini tanpa pikir panjang dengan siapa ia bercerita saat ini.

“Kau… merasa baik?” Jiyong menanyakan dengan hati-hati.

Taeyeon menggeleng dan semakin mengeluarkan air matanya, tetap menunduk tidak ingin membiarkan Jiyong melihat air matanya.

“Kau bisa menatapku dan mungkin itu akan lebih baik.”

Kembali Taeyeon menggeleng. Jiyong hampir kehabisan akal untuk mengatasi gadis yang tengah patah hati ini. Ia menggigiti kukunya lalu menatap Taeyeon. Rasa ragu menyelimuti Jiyong, tapi ia akan berusaha melawannya.

Perlahan dengan masih keraguan, Jiyong mengarahkan kedua tangannya menangkup kedua pipi lembab Taeyeon yang seketika itu tersentak dengan sentuhan yang tidak diduganya.

Menghadapkan wajah Taeyeon padanya, Jiyong cukup tercengang dengan kondisi Kim Taeyeon saat ini.

Gadis ini terlihat sangat rapuh dengan air mata memenuhi pipinya. Wajahnya memerah dan kedua matanya sembab. Jiyong merasa sangat simpati pada gadis yang menatapnya sayu dan penuh sesenggukan.

“Aku…” Taeyeon benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.

Rasa simpatinya juga tidak bisa terus Jiyong pendam, ia perlahan menarik tubuh mungil Taeyeon ke dalam pelukannya. Taeyeon yang tidak mampu berpikir apa-apa saat ini hanya bisa menangis dipelukannya.

Jiyong mengelus rambut Taeyeon yang justru semakin tersedu tanpa membalas pelukan sang leader BIGBANG, G-Dragon.

“Lampiaskan padaku,” pinta Jiyong setelah melepas pelukannya dan menatap Taeyeon. “Kau bilang waktu itu aku melampiaskan putusnya hubunganku. Kau bisa membalasnya sekarang.”

“Kau bilang apa?” Taeyeon tidak mengerti, suaranya parau.

“Anggap aku Kim Woobin dan dan tumpahkan kekesalanmu padaku yang kau anggap sebagai Woobin. Kau bisa melakukannya?” tawar Jiyong tersenyum. Senyum mendamaikan menurut Taeyeon.

“Apa… aku bisa melakukannya?” Taeyeon ragu.

“Coba dulu. Kau bisa menamparku,” tukas Jiyong cepat saat melihat telapak tangan kanan Taeyeon terbuka, seakan mempersiapkan sebuah tamparan.

“Aku….”

“Kwaenchana. Lihat aku sebagai Woobin. Kau….”

PLAK!!!

Kedua bola mata Jiyong membulat setelah tamparan yang begitu keras mendarat dipipinya tiba-tiba. Ia memejamkan mata menahan sakit, terasa panas dan pedas. Ia bahkan tidak menyangkal jika pipi kirinya yang mempesona kini terasa sangat memerah akibat tamparan gadis innocent face ini.

Jiyong tidak pernah mengira tamparan Taeyeon akan sekeras ini. Tapi, Jiyong menerimanya. Toh, ini bukan ditujukan padanya, ini hanya pelampiasan.

Hutang pelampiasan yang pernah ia lakukan terbayar sudah malam ini. Jiyong tersenyum pada Taeyeon, karena gadis itu berhasil melakukan apa yang ingin ia lakukan pada Woobin lewat pelampiasan dengan melalui Jiyong.

Sementara Taeyeon masih menangis menatapnya, wajahnya memerah.

Senyum lebar mulai terbentuk di bibir Jiyong. Mereka saling menatap dengan raut wajah yang jauh berbeda. Senyum lebar dan menangis.

TO BE CONTINUED

NEXT CHAPTER 7

“Bagaimana bisa orang yang sudah menautkan gembok disini masih memegang kuncinya?” gumam Jiyong tidak percaya.

Klak!

Gembok milik Woobin berhasil lepas, tinggallah gembok Taeyeon seorang.

“Kita sama-sama leader. Daripada gemboknya sendirian bukankah lebih baik kau menautkan gembok di gembokku sebagai tanda leader?” usul Taeyeon yang berada di Namsan Tower bersama Jiyong di malam yang sama dengan putusnya Taeyeon.

“Apa lagi?” Jiyong semakin malas melihat tingkah gadis mungil ini. Jiyong tercengang mendapati gadis itu jongkok dan cepat melepas tali sepatunya tanpa izin. “Hey, apa kau lakukan?”

Keduanya tengah berada di taman belakang rumah Taeyeon.

Jiyong kembali menggali tanah menggunakan cetok. Rencana jahil kembali muncul.

Dengan santai Jiyong melemparkan tanah galiannya kearah Taeyeon.

Bukan tertawa puas kali ini, tapi Jiyong terkejut karena secuil tanahnya mengenai mata kanan gadis pemilik taman itu yang langsung memejamkan mata karena perih.

Cetok langsung Jiyong letakkan dan mendekat pada Taeyeon.

“Mian. Kwaenchana?!” Jiyong panik segera memeriksa mata gadis innocent face itu.

“Apa kupu-kupunya masih disana?” tanya Taeyeon dan Jiyong mengangguk dengan kupu-kupu kuning yang terbang.

Jiyong menelusuri seluruh wajah mungil gadis dihadapannya yang membuat perasaannya tak menentu.

“Kenapa kau bisa luka seperti ini?” tanya Taeyeon yang fokus pada pengobatan di kaki Jiyong.

Membaca semua artikel itu di ruang tamu, Jiyong frustrasi.

‘DALAM WAWANCARA SNSD, YURI MENGATAKAN KAKAKNYA, KWON JIYONG BARU PUTUS DENGAN PACAR!’

“Kau selalu kesal pada Yuri, bukan? Ayo, bunuh dia,” ajak Jiyong sesat berapi-api pada Seungri.

“Kau… sudah membunuh mantel barunya,” Seungri gemetar, takut menghadapi hyung tersayangnya marah.

Ibu kedua Yuri, Kim Taeyeon datang ke apartemen BIGBANG dan langsung melempar mantel dengan geram juga kasar mengenai wajah Jiyong.

Jiyong menyingkirkan mantel dari wajahnya dengan santai menerima perlakuan Taeyeon.

***

Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.

Gamsahamnida.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

24 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 )

  1. Yaampunnnnn gils gd ama taenya lucuuuu bangetttttt … Aku baca udah kayak orqng gial senyum senyum sendiri
    gak sia nungguin muluuuuuu
    Jadi gak sabar buat baca selanjutnya

  2. Suka…suka… 😍
    Aku lebih seneng cerita gtae yg kaya gini, ada real mereka sebagai idol.
    Jadi ngebayanginnya gga susah😁
    Tapi kayanya gga enak di pisah jadi 2 gini, enakan jadi 1 chapter.
    Semangat thor….lanjutkan!!!

  3. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s