Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : @azuma_10

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

 

Welcome to readers in my Fan Fiction 🙂

 

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2  | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Note:

Annyeonghaseyo.

Apa kabar, reader’s?

Di chapter ini saya bagi dua part, supaya tidak terlalu panjang.

New cast muncul!

Jeoseonghamnida, jika ada typo.

Semoga di mengerti.

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!


***

CHAPTER 6

WONDERLAND

​​​“Apa kau benar-benar egois?” kesal Taeyeon pada Jiyong disebelahnya yang keduanya melangkah menuju lift.

“Hal egois apa yang kau maksud?” Jiyong balik bertanya seraya menekan tombol lift.

“Semuanya.”

“Semuanya?” Jiyong menolak Taeyeon tidak percaya dan masuk lift begitu pintu terbuka.

Taeyeon mengikutinya masuk dan giliran ia menekan tombol untuk menutup pintu lift. Diliriknya pria disebelahnya dengan masih kesal.

Jiyong menanggapi teguran gadis itu tanpa menatapnya. Pandangannya tertuju pintu.

“Kau tidak pernah tinggal bersamaku. Jadi, kau tidak tahu bagaimana egoisku. Seberapa egoisnya aku. Kenapa kau menyimpulkan sesuatu dengan cepat tanpa tanpa tahu kebenarannya? Kau tidak bisa menyimpulkan aku selalu egois dengan innocent face-mu itu.”

Tatapan tajam cepat Taeyeon tujukan pada pria ini. Taeyeon tidak bisa menjawab lagi.

Sekon berikutnya, kedua insan itu diam menatap lurus. Benar-benar terdiam hingga pintu lift terbuka. Masih diam juga ketika mereka menuju mobil Jiyong.

Di basement, di pintu mobil Jiyong, Taeyeon memandang mobilnya sendiri yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kesal, karena tidak bisa memakai mobilnya. Kenapa Yuri harus meminjam mobilnya sekarang?

Jiyong yang sudah membuka pintu mobilnya, melihat kekesalan gadis itu, hanya tersenyum geli. Lalu, masuk mobil.

Mendengar suara pintu mobil tertutup, Taeyeon menoleh. Gadis itu kemudian membuka pintu dan memasuki mobil dengan geram. Menutup pintu dengan kesal juga keras.

“Kau melakukan ini bukan karena alasan yang ku dengar tadi, bukan?” Taeyeon membuka suara ketika mobil sudah dalam perjalanan.

“Aku memang berterima kasih karena kau menjadi manager-ku. Tapi, kudengar dari member lain… kau memberikan bahu untukku saat aku tertidur. Aku ingin tahu, apa itu benar?”

Terbelalak Taeyeon mendengarnya.

“Itu… tidak seperti yang kau kira,” berusaha gadis itu untuk tidak terkejut namun kegugupannya jelas sekali terlihat oleh Jiyong.

“Karena dua alasan itu aku berterima kasih. Kurasa alasan-alasan itu cukup untuk berterima kasih dengan cara ini.”

“Seharusnya bentuk terima kasihmu itu bisa aku minta saat aku membutuhkannya. Bukan sekarang, apalagi kau memaksa,” protes Taeyeon setelah keduanya beberapa saat terdiam. “Tapi, ya sudahlah. Walaupun kesal dan tidak nyaman saat kau mengajakku, terima kasih sudah mengantarku.”

Ucapan gadis mungil itu membuat kupu-kupu dari mulutnya muncul terbang mengitari keduanya.

“Tidak. Ini terima kasihku,” ujar Jiyong menoleh Taeyeon dengan senyum tipisnya. Dan, kembali fokus menyetir. “Aku mengerti karena kau tulus mengatakannya.”

Taeyeon menatap Jiyong tajam begitu mendengar kata ‘tulus’. Bukankah semalam dia tidak bisa melihatnya?

Gadis itu memutuskan untuk bertanya daripada diselimuti rasa penasaran.

“Apa kau yakin? Memangnya kau melihat kupu-kupunya?”

“Ne.”

Jawaban itu membuat Taeyeon tercengang.

“Tapi, semalam…” ucapan Taeyeon menggantung. Ia ingat betul semalam saat Jiyong mengatakan tidak melihat kupu-kupu, bahkan pria itu memastikannya dengan menarik tengkuknya.

“Ah… semalam, ya? Aku minta maaf soal itu. Aku menarik lehermu tiba-tiba. Aku mabuk. Kau tahu, ‘kan? Seseorang tidak bisa mengendalikan dirinya saat berada dalam pengaruh alkohol.”

“Kau melihat kupu-kupu baru saja atau tidak?” tanya Taeyeon cepat tanpa mempedulikan alasan Jiyong. Taeyeon menganggapnya wajar dan maafnya sudah ia terima begitu saja.

“Aku memang bisa melihatnya, ‘kan?” Jiyong balik bertanya.

Mengangguk pelan dan kecewa, Taeyeon menyahut lemas, “Eung.”

“Kau terlihat tidak senang,” heran Jiyong. Tapi, Taeyeon hanya menggeleng pelan.

Semalam Taeyeon yakin memang bicara tulus dan mengeluarkan kupu-kupu. Tapi, sekarang apa?  Jiyong kembali melihatnya.

“Aku mencintai ibuku dan Yuri,” gumam Taeyeon coba kembali mengujinya.

“Kau bilang apa?”

“Kau melihat kupu-kupu?” tanya Taeyeon lemah, pasrah.

“Ani. Kau tidak tulus, ya?”

Taeyeon menarik nafas. Ia belum yakin, karena ucapannya baru saja memang tidak yakin dan terkesan memaksa.

“Kwon Jiyong, aku… mencintai ibuku dan Yuri,” ulangnya kembali lebih lembut dan senyum manis dengan memejamkan matanya. Kupu-kupu kuning berhasil keluar dari mulut gadis mungil itu.

“Kau ini kenapa?” tanya Jiyong heran menoleh Taeyeon.

“Apa kau melihat kupu-kupu?” tanya Taeyeon penuh harap setelah membuka matanya.

“Wae?”

“Lihat tidak?”

“Kupu-kupu kuning bersinar. Aku melihatnya. Iya, aku tahu kau mencintai mereka tapi tidak perlu terus mengatakannya didepanku.”
Kepala Taeyeon tertunduk kecewa. Pria dengan sebutan G-Dragon itu masih bisa melihat kemampuannya.

“Kau tersinggung?” pikir Jiyong.
Gadis Kim itu hanya menggeleng pelan. Tidak sanggup mengangkat kepalanya.

Begitu mobil sampai didepan apartemen, Taeyeon membuka pintu mobil dan keluar dengan muram.

Heran Jiyong dengan gadis itu yang keluar begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih. Tapi, itu lebih baik daripada berterima kasih tanpa tulus.

Ia masih tidak mengerti kenapa gadis tidak berkata apapun lagi sejak menyinggung kupu-kupu.

Ditatapnya gadis itu yang melangkah menunduk dan tidak bertenaga. Apa perkataannya menyinggung perasan gadis itu? Mana mungkin. Hanya perkataan biasa tadi itu.

Ditepisnya dugaan negatif Jiyong, lalu menjalankan mobil keluar dari area apartemen.

***

Menggunakan mobil Taeyeon, adik Kwon Jiyong itu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Pandangan Yuri segera diedarkan mencari-cari sesuatu dibawah. Ia bernafas lega saat menemukan ponselnya tidak lama kemudian.

Ketika menundukkan badan untuk mengambil ponsel yang terjatuh, kaca mobil tiba-tiba terketuk oleh seseorang yang membuat Yuri terperanjat dan segera mengambil ponselnya lalu menoleh jendela. 

Mana orangnya?

Perlahan Yuri membuka kaca jendela mobil dengan lumayan takut.

Tiba-tiba saja pria yang sangat dikenalnya memunculkan kepalanya tiba-tiba di kaca membuat Yuri kembali tersentak.

“Eoh?” pria itu menatap heran. “Kukira Taeyeon.”

Kemudian pria dengan postur tubuh tinggi itu memeriksa keadaan didalam. Tidak ada siapapun.

“Aah… Oppa, kau membuatku terkejut,” keluh Yuri masih terkejut pada pria yang merupakan kekasih Taeyeon ini. “Kenapa kau disini?”

“Aku melihat mobil ini, jadi kuikuti saja dan berhenti disini. Kukira ada sesuatu yang terjadi sampai mobilnya berhenti disini. Aku pikir aku mengikuti Taeyeon tapi ternyata mengikuti mobilnya,” jelas Woobin dengan senyum ramah nan manisnya.

“Aku meminjam mobilnya,” Yuri balas senyum.

Yuri sendiri memang bingung saat Jiyong mengatakan pada Taeyeon akan menggunakan mobil Taeyeon. Tapi, saat Yuri mencoba untuk menggunakan kesempatan itu, ia berencana pulang dengan mobil Taeyeon. Padahal mobilnya sendiri ada disitu juga, disamping mobil Taeyeon malah.

Akan tetapi, untuk mendukung alasan Jiyong, Yuri diminta kakaknya untuk benar-benar menggunakan mobil Taeyeon lewat pesan singkat yang dikirim ketika Yuri hendak memasuki mobil Taeyeon.

“Lalu, dimana Taeyeon sekarang?” tanya Woobin tersenyum manis.

“Dia menuju… eonni ada di apartemen Seonyeo Shidae,” celetuk Yuri gelagapan.

Jangan sampai ia tidak sadar menjelaskan Taeyeon menginap di apartemen BIGBANG semalam. Yuri tidak tahu apa reaksi yang diberikan pria dihadapannya ini ketika mengetahui semuanya. Mungkin dia akan tetap senyum seperti biasa tapi penuh penasaran dan sedikit cemburu. Entahlah.

“Ooh… Hari ini jadwal Taeyeon ke SM, ‘kan? Apa dia masih disana jika aku menjemputnya sekarang?” lanjut Woobin tanpa curiga apapun pada gadis manis adik Kwon Jiyong ini.

“Eung,” angguk Yuri tersenyum lebar, berusaha menutupi kegugupannya.

“Kalau begitu aku akan coba kesana. Gomawo, Yuri-ah. Annyeong.”

Yuri melambaikan tangan pada Woobin yang langsung meninggalkan Yuri. Ia bernafas lega melihat Woobin memutar balik mobilnya lewat kaca spion.

“Ini semua karena Jiyong devil, ‘kan?” rutuk Yuri lirih dan menyesal menggunakan mobil teman kencan Woobin.

Kembali mobil Yuri jalankan menuju apartemen Seonyeo Shidae.

***

“Gomawo, Woobin-ah.”

Ucap kekasih Woobin itu setelah mereka sampai didepan gedung SM. Woobin berhasil mengantar Taeyeon kemari.

“Ne. Semoga harimu lancar. Fighting!” ucap Woobin yang memakai kacamata hitamnya. “Annyeong.”

“Annyeong,” balas Taeyeon.

Lalu, melambai pada Woobin yang mulai menjalankan mobilnya.

Setelah mobilnya menjauh dan tidak kelihatan, Taeyeon memasuki gedung management naungannya.

“Eonni.”

Taeyeon yang belum benar-benar masuk gedung menoleh mendengar sebuah panggilan.

“Tiffany, Seohyun, kalian disini juga?” sapa Taeyeon pada dua gadis yang juga hendak memasuki gedung.

“Kami dibelakangmu. Tadinya sajangnim hanya memanggilmu, ‘kan? Tapi, rupanya kami diminta untuk datang juga,” terang Tiffany.

Taeyeon mengangguk dan mengajak keduanya masuk, “Kajja.”

“Eonni, aku takut dengan sajangnim sekarang ini,” keluh Seohyun pada dua eonni-nya disamping kanan kiri yang mmelangkah beriringan.

Dua eonni tersebut terdiam. Mereka juga takut sebenarnya.

“Kwaenchana, kita bisa mengatasinya. Geokjonghajima,” Taeyeon berusaha menenangkan.

Tiffany mengangguk setuju dan tersenyum menyemangati maknae-nya, sedang si maknae itu berusaha tenang dengan senyuman yang lumayan sulit terbentuk.

***

“Kalian sudah tahu apa yang akan dibahas, ‘kan?”

Lee sajangnim membuka perbincangan dengan tiga gadis anak didiknya yang duduk dihadapannya.

“Jeoseonghamnida,” ucap TaeTiSeo serentak dengan menundukkan kepala.

“Setelah live stage di Inkigayo semalam dan melihat hasil mingguan. Kemana kalian semalam? Dengan hasil semalam kalian aku tunggu disini tapi tidak ada yang datang,” CEO Lee sedang menuju puncak amarah. Sulit untuk bersabar lagi.

Semakin menunduk tiga gadis itu. Ketiganya memang tidak menemui CEO setelah live stage bukan karena sengaja, tapi memang lupa. Benar-benar tidak ada yang ingat malam tadi. Mungkin karena terlalu takut dengan semburan dari CEO Lee setelah mengetahui hasil chart music yang mengecewakan bagi beliau.

Taeyeon mengingat semalam menjadi manager G-Dragon.

“Jeoseonghamnida, Jeoseonghamnida,” ucap sang leader merasa sangat bersalah, kupu-kupu biru muncul tanpa mempedulikan Taeyeon yang sangat ketakutan.

Seolah kupu-kupu hanya mementingkan diri sendiri, tugasnya hanyalah muncul saat gadis ini bicara tulus dan tidak akan memikirkan hal lain seperti hati gadis si penyimpan kupu-kupu tersebut.

Taeyeon telah lalai. Ia justru bekerja untuk idol management lain, dan CEO Lee tidur mengetahui sama sekali.

Hal itu juga tidak bisa diceritakan begitu saja sekarang. Bagaimana dengan tanggapannya? Terlebih CEO tengah meluapkan amarah yang sebentar lagi benar-benar meluap.

“Dua minggu. Sudah dua minggu kenapa BANG BANG BANG belum turun chart juga? Aku selalu bilang pada kalian, gantikan posisinya dengan single kalian! Apa kalian tidak mendengar?! Lion Heart dan Dear Santa, kalian belum bisa menggeser dengan lagu itu?!”

Gertakan CEO Lee keluar juga membuat ketiga gadis itu tersentak kaget juga takut.

“Sajangnim….”

“Aku tidak ingin mendengar keluhan kalian sekarang,” potong CEO Lee serta merta pada ucapan Seohyun yang langsung menciut nyalinya untuk bicara kembali. “Viewers kalian memang banyak, banyak sekali dalam waktu dua puluh empat jam begitu rilis. Tapi, untuk tangga lagunya?”

“Kami selalu berusaha, sajangnim. Tapi, mereka masih kuat dengan single-nya,” Tiffany coba menjelaskan dengan hati-hati.

“Aku tidak ingin mendengar itu!” seru CEO Lee seraya melempar gadget diatas meja kehadapan mereka, “Baca itu.”

Dengan takut-takut dan gemetar, sang leader mengambil gadget lalu dibacanya.

‘DUA MINGGU RILIS, SINGLE LION HEART MILIK SNSD TETAP NOMOR DUA DIBAWAH SINGLE BIGBANG, BANG BANG BANG.’

Selesai membaca judul, Taeyeon menatap pelan CEO-nya yang benar-benar menyorotkan pendar amarah. Ia menyerahkan gadget pada dua rekannya yang cepat dibacanya.

Begitu mengetahui berita apa yang dimaksud, Tiffany juga Seohyun hanya menghela nafas pasrah.

“Apa kalian akan menyia-nyiakan usaha kalian di single ini?” lanjut CEO Lee sudah bisa meredakan kemarahannya.

Kedua mata Seohyun memerah dan mulai berkaca-kaca. Jika ia tidak menahannya sebentar lagi, pasti sekarang sudah mengalir deras air matanya.

***

“Kwaenchana, Seohyun-ah. Tenangkan dirimu,” hibur Taeyeon menepuk-nepuk pelan bahu maknae-nya yang menangis dihadapannya. Kupu-kupu biru bersinar itu kembali muncul dan menyinari mereka sesaat.

Keduanya sudah berada di SNSD’s Room yang tidak lama kemudian Tiffany datang membawa secangkir minuman hangat, jasmine tea. Yang kemudian minuman tersebut ia sodorkan pada Seohyun tapi gadis maknae menggeleng, masih menangis.

Akhirnya, minuman itu Tiffany letakkan diatas meja, lalu  menepuk-nepuk bahu Seohyun.

“Kau juga tahu, sajangnim mengatakan itu agar kita lebih bekerja keras. Kwaenchanayo, kita memang harus bekerja lebih keras,” Tiffany turut menenangkan dan tersenyum. Namun, kemudian air matanya menetes, tidak bisa dibendung lebih lama lagi.

Melihat kedua adiknya mengeluarkan air mata, mau tidak mau Taeyeon bersedih juga. Tapi, jangan sampai ia menangis didepan mereka.

Dipeluknya Seohyun dan menepuk-nepuk bahu Tiffany, berusaha keras membuat mereka tenang dan berhenti muram.

“Ayo, bekerja keras lagi. Kita balikkan single mereka minggu ini. Pasti berhasil,” Taeyeon meyakinkan walau dirinya sendiri sedikit bimbang. Dan, gadis mungil itu berusaha untuk tidak menangis.

***

Namun, didepan eomma-nya?

Gadis dengan sebutan Kid’s Leader itu kini menangis dipelukan ibunya.

Hanya ibu dan Woobin tempat Taeyeon saat ini jika ingin menangis meluapkan sesuatu tentang pekerjaannya di Girl’s Generation. Pantang menangis didepan rekan-rekan segrupnya.

“Kau sudah berusaha bekerja keras. Hal seperti ini bukankah sudah biasa kau dapat dari CEO-mu? Kwaenchana. Kalian hanya perlu menganggapnya sebagai motivasi untuk lebih baik. Dan, bukankah itu juga sering kau katakan pada member-mu?” hibur eomma yang terus mengelus rambut gadis kesayangannya ini.

Gadis itu hanya bisa semakin menangis.

Begitulah. Dihadapan member lain, Taeyeon mengatakan pada dirinya tidak boleh menangis. Leader-nya saja menangis, bagaimana yang lain tidak?

Tapi, sampai dirumah untuk sengaja menemui ibunya, usaha-usaha itu runtuh seketika. Ia akan menangis menumpahkan segalanya pada eomma tercinta. Memeluknya, memberitahu rasa sedih pada ibu lewat pelukan. Dan, ibu siap siaga penuh pengertian dan perhatian.

Anaknya berperan sebagai ibu untuk member-member lain, maka saat anak gadis ini didekatnya, sang eomma siap memberi perlindungan dan sifat penenang.

Taeyeon yang menangis, tiba-tiba melepas pelukannya dan duduk tegak menatapnya. Gadis Kim yang berada di ruang tamu bersama ibunya sepertinya teringat sesuatu.

“Eomma, jika seseorang bisa melihat kemampuanku tapi suatu hari dia tidak bisa melihatnya. Dan, tidak lama kemudian dia kembali melihatnya. Apa itu bisa terjadi?”

Pertanyaan itulah yang menjadi tujuannya kemari selain menceritakan kesedihannya.

Eomma heran menatap putrinya, dan coba mencerna maksud pertanyaannya? Kenapa tiba-tiba putrinya menanyakan itu? Apa Taeyeon menemukan sesuatu? Ibupun berpikir keras dengan menjawab pertanyaan Taeyeon. Beberapa saat membutuhkan waktu untuk mencari jawabannya.

“Itu bisa terjadi saat orang itu dalam pengaruh alkohol. Mereka tidak bisa melihatnya ketika mabuk, seringan apapun mabuknya.”

“Memangnya ada yang seperti itu?” Taeyeon membulatkan bola matanya. Cepat ia menghapus air mata di pipinya sebelum mengering.

“Memang seperti itu.”

“Aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak bisa melihatnya?” gumam Taeyeon mengalihkan pandangan mencoba berpikir.

“Apa kupu-kupu adalah sesuatu yang kotor?” eomma balik bertanya. “Kupu-kupu sesuatu yang suci, sehingga kupu-kupu tidak akan keluar saat mencium bau alkohol dari seseorang yang mabuk.”

“Itu berlaku untuk semua orang?”

“Ya. Untuk semua orang yang mabuk walau mereka tidak bisa melihat kemampuanmu. Rupanya kau masih banyak tidak tahu. Itu karena kau jarang di rumah. Ibu juga tidak bisa menjelaskan satu persatu padamu mengenai ini. Dan juga kau tidak pernah mengeluh tentang kupu-kupu.”

Setengah hati Taeyeon mendengar kalimat terakhir yang menyatakan ia masih banyak belum tahu mengenai kemampuannya.

Pikirannya hanya terus tertuju pada Jiyong. Jadi, karena pengaruh alkohol. Karena kupu-kupu adalah sesuatu yang suci, makanya Jiyong tidak bisa melihat kupu-kupunya semalam.

Pantas ia kembali tercengang saat mengetahui Jiyong dapat kembali melihat kemampuannya. Ia salah menyimpulkan sesuatu yang tiba-tiba diambilnya cepat dengan melakukan sedikit kepastian.

Ingatan-ingatannya saat Jiyong menyindir dirinya terlalu cepat menyimpulkan sesuatu menyerang otaknya.

Ponsel Taeyeon yang ada di atas meja berdering membuyarkan lamunannya dari ingatan masa lalu untuk segera ke masa sekarang berusaha menyadarkan gadis ini untuk segera menjawab telepon.

Tatapan tajam Taeyeon terbentuk saat melihat si penelepon. Orang yang baru saja ada diingatannya menelepon! Tentu Kwon Jiyong. Siapa lagi?

Taeyeon melirik eomma-nya sejenak, lalu menjawab panggilan.

“Yeoboseyo,” jawab Taeyeon pelan.

Apa sekarang giliran aku yang menjadi manager? Kau balas dendam?” tanya Jiyong yang yang menelepon dengan headset di kedua telinganya, seraya menyetir mobil dengan tangan yang kaku karena geram.

“Mwo?!” Taeyeon terkejut dan berusaha disembunyikan dan tersenyum meringis melirik sekilas ibunya.

“Kenapa kau pulang naik taksi? Yuri… Dia merasa bersalah karena membawa mobilmu membuatmu naik taksi. Setidaknya pakai mobil Yuri atau member lain. Kau juga bisa minta manager mengantarmu. Dan, Yuri tidak akan memintaku menjemputmu!”

Tercengang Taeyeon mendengar Jiyong yang terkesan begitu kesal. Sudut bibirnya mencibir. Benar-benar pria ini menyebalkan.

“Itu semua karenamu. Kenapa jadi menyalahkanku?!” kesal Taeyeon mengingat Jiyong yang memaksa untuk mengantar menggunakan mobilnya. “Kau bisa abaikan permintaan Yuri. Kau mau menjemput atau tidak, terserah.”

Line telepon langsung Taeyeon putus dengan geram. Senyum manis ia sampaikan pada ibunya, mengisyaratkan tidak ada apa-apa.

Heran juga kesal dengan Taeyeon yang memutus telepon, Jiyong melempar ponsel ke jok sebelah dan semakin kencang melajukan mobilnya dengan bibir manyun kesal.

“Jadi, jika orang itu mabuk maka tidak bisa melihat kemampuanku?” Taeyeon kembali memastikan.
Ibu mengangguk.

“Karena kau membicarakan ini, ibu jadi teringat sesuatu.”

“Apa itu?”

“Ditempat wisata istana Seoul, Changdeok Palace, didalam istana itu ada Secret Butterfly Garden.”

“Secret Butterfly Garden?” tanya Taeyeon yang langsung ingin tahu begitu mendengar namanya. Itu adalah nama yang cantik. “Bukankah di istana itu memang ada Secret Garden-nya atau Biwon, ‘kan? Tapi tidak ada Butterfly-nya. Maksud eomma apa? Taman kupu-kupu yang bersifat rahasia?”

Ibu mengangguk.

“Itu adalah tempat dimana kupu-kupu suci beterbangan diantara bunga-bunga di taman itu. Tidak sembarang orang bisa melihat taman itu seperti kemampuanmu. Untuk masuk kesana kau harus melewati dua pintu. Pintu utama akan terbuka otomatis, itu letaknya di gerbang namanya Jinseomun Gate. Kau tahu, ‘kan didepan gerbang itu ada jembatan namanya Geumcheongyo Bridge. Ketika kau melewati jembatan itu kau akan melihat sisi lain gerbang itu.

“Satu pintu lagi ada didekat Biwon. Itu harus menggunakan kunci khusus. Setelah berhasil membuka pintu kedua itu kau akan langsung melihat taman yang dimaksud dengan berbagai bunga dan kupu-kupu. Disana juga ada bangku tamannya. Oh iya, letak tamannya memang didalam Biwon yang kau maksud. Tidak perlu ibu jelaskan semua, karena kau akan melihat sendiri. Yang penting ibu sudah memberi gambarannya. Kau bisa membayangkannya?” tutur eomma Taeyeon panjang lebar.

Taeyeon mengangguk skeptis.

“Tapi, kenapa eomma memberitahuku tentang ini?”

“Jika kemampuanmu melihat kupu-kupu tidak hilang, ibu tidak perlu memberitahumu hal ini. Kau tidak bisa berlama-lama membiarkan kemampuanmu yang hilang begitu saja tanpa ada usaha menyelamatkan kemampuan yang hilang itu. Kita harus menetralkan kemampuanmu agar tetap terjaga. Walau pada akhirnya kau tetap tidak bisa melihatnya, tapi setidaknya kau masih mampu mengeluarkan kupu-kupunya,” terang ibu kembali.

Kening Taeyeon berkerut, belum terlalu mengerti. Ia sangat penasaran memang, tapi ia memilih diam lebih dulu menahan pertanyaan yang sudah memenuhi otaknya. Membiarkan eomma-nya menjelaskan lebih lanjut tanpa Taeyeon minta.

“Kau harus kesana, setiap delapan hari sekali. Ini semacam terapi.”

“Mwo?!” Taeyeon terkejut.

“Kau harus melakukannya, Kim Taeyeon. Untuk mempertahankan kemampuanmu.”

“Apa yang harus kulakukan disana?” Taeyeon masih  walau ia sangat penasaran dengan taman yang dimaksud eomma-nya.

“Ibu juga tidak tahu. Datang saja ke sana dan kau akan tahu apa yang harus dikerjakan.”

“Jika itu delapan hari sekali, aku harus mulai dari kapan?”

“Karena ibu sudah memberitahumu hari ini, maka kau harus mulai ke sana hari ini.”

“Oneul?!” lagi-lagi Taeyeon terbelalak. “Geundae, eomma….”

“Mungkin adakalanya kau sibuk saat tiba jadwal ke taman itu, tapi kau harus tetap berusaha, Taeyeon-ah,” imbuh eomma Taeyeon. “Ibu punya kunci pintu kedua untuk masuk ke taman itu.”

Belum sempat menanggapi ibunya, ponsel Taeyeon bergetar menandakan pesan masuk. Cepat Taeyeon membuka ponselnya.

“Cepat keluar. Jangan sampai aku masuk ke rumahmu. Ini sudah cukup merepotkan!”

Kedua mata Taeyeon melebar menerima pesan dari Jiyong. Gadis itu menatap pintu rumahnya yang tertutup.

“Eomma, aku harus kembali,” ujar Taeyeon menatap ibunya.

“Secepat itu? Kau bahkan belum lihat dapur, makanlah dulu,” bujuk ibu menyayangkan keinginan anaknya.

“Ah, dapur. Eomma, apa eomma tidak mencium sesuatu yang gosong?” Taeyeon mencari-cari alasan lalu menutup hidungnya.

“Gosong?” ibu mencium udara tapi tidak dapat dirasakan bau yang Taeyeon maksud. “Apa ibu meninggalkan masakan di dapur?”

“Lihat saja dulu. Mungkin eomma lupa. Aku akan kembali saja, tidak perlu mengantar sampai depan,” tukas Taeyeon tersenyum di manis-maniskan seraya mengambil tas kecilnya yang kemudian ia tenggerkan di bahu kirinya.

“Aah… Eh, eh…” ibu menurut saja dengan dorongan anaknya yang memegang kedua bahunya untuk masuk dapur.

Setelah ibu terlihat melangkah ke dapur, Taeyeon bergegas keluar tidak ingin diantar ibunya. Tidak ingin ibunya tahu ada laki-laki yang masuk rumahnya selain, pacar Taeyeon.

Taeyeon cepat menutup pintu rumah dan saat berbalik, terperanjat karena sudah mendapati Jiyong berdiri di depan teras dengan memakai kacamata hitam.

“Maaf merepotkanmu,” ucap Taeyeon tulus masih memegang gagang pintu lalu mendekat. Sekali lagi ia menoleh pada pintu, memastikan ibu tidak mengikutinya.

“Memang merepotkan,” ketus Jiyong tidak peduli dengan kupu-kupu kuning yang muncul itu.

Bibir mungil Taeyeon mencibir, ia menatap sekeliling Jiyong.

“Mana mobilnya?” tanya Taeyeon tidak melihat adanya mobil. Seraya mendekati Jiyong.

“Diluar. Malas membawanya kemari,” jawab Jiyong tidak ingin memperjelas dan memperpanjang alasannya. Ia menatap kesal Taeyeon. “Kenapa kau tidak….”

Hppp…!!

Secepat mungkin Taeyeon menutup mulut pria itu dengan telapak tangan kanannya.

Tidak mengerti maksud gadis ini, Jiyong menatap tajam padanya tapi tidak dipedulikan. Taeyeon membawa Jiyong, mengajaknya dengan susah payah untuk bersembunyi disamping rumah.

“Kau tidak ingin sepulang dari sini wajahmu babak belur, biru-biru dan berdarah, ‘kan?” bisik Taeyeon panik dan terus mencari posisi sembunyi. “Ikuti saja sebentar.”

Dengan Taeyeon yang masih menutup mulutnya erat dan mengintip ke halaman rumah, Jiyong mengikuti pandangan gadis Kim itu.

Tampak pria tinggi dengan senyum manisnya, Woobin melangkah santai menuju griya kekasihnya dengan di kedua tangannya memegang parcel buah. Kini Jiyong tahu alasan gadis ini membekap mulutnya, untuk menghindari Woobin.

Kembali Taeyeon mengajak Jiyong untuk mengikutinya dengan Jiyong jalan mundur masih panik. Kali ini Jiyong menurut dan menyeimbangkan langkahnya karena sudah tahu alasan gadis itu membekapnya. Taeyeonpun tidak perlu susah payah mengatur Jiyong untuk mengikutinya.

Mereka terduduk dilantai teras samping rumah. Nafas lega Taeyeon hembuskan tanpa melepas bekapan pada Jiyong yang menatap tajam gadis itu karena belum juga melepasnya, Jiyong butuh sekali udara saat ini.

“Apa kau mau jika dia membuat wajahmu penuh luka? Ditengah banyaknya show BIGBANG kau tidak mau wajah yang digilai seluruh fans-mu terluka, bukan?” lanjut Taeyeon masih berbisik. Lalu, melepas bekapan memberi kesempatan Jiyong untuk bicara.

“Apa yang aku lakukan sampai aku akan mendapat wajah seperti yang kau katakan?” Jiyong heran. Ia sudah tidak mempermasalahkan Taeyeon yang membekapnya.

“Sebenarnya dia pencemburu berat tapi jarang mengatakannya. Dia mungkin akan cemburu melihat kau bersamaku sekarang.”

Jiyong tertawa kecil tidak percaya. Ditatapnya beberapa saat gadis itu.

“Cemburu?” tanya Jiyong, tapi ia merasakan sesuatu dan menoleh ke halaman depan rumah.

Terlihat Woobin meninggalkan rumah tersebut. Mungkin maksudnya kemari sudah tercapai.

Kembali Jiyong menoleh Taeyeon dan memperhatikan tubuh serta wajah mungil itu. Kening Taeyeon berkerut, merasa risih dengan pria bad boy ini yang memandangnya sambil tersenyum remeh.

“Mwo?” tanya Taeyeon akhirnya dengan memajukan dagunya.

“Kau merasa dia akan cemburu padaku? Apa kalian kira aku pantas denganmu sampai kau merasa begitu? Jika benar Woobin cemburu, itu artinya dia tidak percaya diri dengan kemampuan untuk mengencanimu dan melihatku lebih mudah dan pantas denganmu daripada dia.”

Tercengang Taeyeon mendengarnya, dan ia tahu maksud Jiyong.

“Hey…”

“Apa aku pantas untukmu?” ulang Jiyong sebelum Taeyeon mengatakan sesuatu.

Rona wajah Taeyeon langsung memerah yang membuat Jiyong terkejut dengan perubahan wajah gadis didekatnya ini.

“Tidak,” jawab Taeyeon dengan muka semakin memerah. Malu juga canggung.

“Lalu, kenapa wajahmu merah?” Jiyong tersenyum di sudut bibirnya semakin mendekat untuk bisa lebih memperhatikan wajah gadis yang semakin gugup itu.

“I… Itu… Itu karena kau mendekatkan wajah padaku,” celetuk Taeyeon asal.

“Sebelum aku melakukan ini wajahmu sudah memerah,” tukas Jiyong menyunggingkan senyumnya.

Perhatiannya masih tertuju pada gadis yang berusaha menutupi kegugupannya. Jiyong memiringkan kepala ke kiri dan lebih mencondongkan wajahnya pada Taeyeon.

“Hey!” seru Taeyeon mendorong tubuh Jiyong hingga jatuh kebelakang.

Beruntung Jiyong cepat menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia jatuh terduduk diatas rumput, keluar dari area lantai.

Tatapan tajam Jiyong langsung tertuju pada Taeyeon yang juga terbelalak sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya ketika melihat tempat yang menjadi daratan Jiyong akibat dorongan kerasnya.

Merasa gadis itu melihat sesuatu yang menakutkan, Jiyong segera menghampiri Taeyeon untuk duduk disampingnya. Sementara Taeyeon yang merasa diserang tiba-tiba oleh Jiyong yang nyaris menubruknya mengerjap-kerjapkan matanya terkejut dan panik.

Jiyong mengarahkan pandangannya pada tempat dirinya mendarat tadi yang membuat Taeyeon begitu terperanjat seakan melihat binatang peliharaan kesayangannya mati.

Fiuh…

Hembusan nafas panjang Jiyong terdengar ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak apa-apa.

Hanya tiga jenis tanaman bunga berjajar yang langsung tertanam di tanah taman tanpa menggunakan pot sudah rusak akibat ia salah daratan.

Jiyong melirik Taeyeon dengan heran, kenapa bisa sampai begitu terkejut dengan bunganya yang rusak tanpa sengaja itu? Lagipula, itu hanya bunga kecil dengan ukuran sekitar sepuluh hingga lima belas sentimeter.

Tampak Taeyeon menoleh Jiyong kesal dan siap menerkamnya.

“Bagaimana reaksi ibuku saat melihat ini?! Bunganya baru seminggu ditanam. Dan, bunga itu diambil dari Jeju! Eomma sangat menyukainya. Tapi, sekarang kau merusaknya dengan mendudukinya. Ah, jinjja! Neo, jeongmal… Neo micheoseo?!” cecar Taeyeon geram sambil menampar-nampar lengan Jiyong.

“Kau yang membuatku terduduk disana! Kenapa melampiaskannya padaku?!” protes Jiyong membela diri.

“Semua berawal darimu!” sembur Taeyeon membuat Jiyong terdiam. Setengah terima dengan ucapan gadis innocent yang sedang marah ini.

Pasrah gadis itu menatap tanaman bunganya dan bersandar di dinding belakangnya. Jiyong menoleh Taeyeon dan beralih ke bunga-bunga yang sudah tak bisa ditolong lagi, bahkan bentuknya sudah tak terlihat. Terus diperhatikannya gadis yang menatap bunga bingung juga pasrah.

“Apa kau sudah baik-baik saja?” Jiyong kembali bersuara yang duduk bersandar disamping Taeyeon setelah keduanya cuku lama terdiam.

“Tunggulah di mobil, aku akan kembali sebentar. Ada sesuatu yang tertinggal,” sahut Taeyeon yang sudah merasa lebih baik dan bisa menerima kenyataan.

“Kau akan menanyakan alasan Woobin datang, bukan?” ledek Jiyong menyunggingkan senyum pada Taeyeon yang sudah berdiri dan lewat didepannya, belum benar-benar keluar dari tempat persembunyian mereka.

Taeyeon berbalik menatap Jiyong kesal. Ia memilih pergi daripada terus menjawab pertanyaan Jiyong yang tertawa kecil.

Kembali Jiyong menoleh pada bunga-bunga rusak tersebut.

***

Pintu mobil Jiyong terbuka dengan Taeyeon memasuki mobil tersebut. Pandangan Jiyong tertuju pada gadis itu ketika Taeyeon masuk.

“Apa aku lama?” tanya Taeyeon sambil memakai safety belt-nya.

Jiyong hanya menelan ludah dan memegang setir menatap depan. Bersiap untuk pergi.

“Kau tidak tanya tujuanku kemana?” tanya Taeyeon kembali ketika di perjalanan.

“Ke apartemenmu, ‘kan? Tidak mungkin aku mengantarmu pada Woobin, nanti dia mungkin cemburu seperti katamu,” sindir Jiyong.

Taeyeon hanya mencibir meliriknya.

Sabar… sabar…

Taeyeon terus mengingatkan dirinya untuk lebih bersabar menghadapi pria disebelahnya yang jika bicara memang lembut namun menusuk dan sangat menyakitkan.

“Bukan apartemen. Tolong, antar aku ke suatu tempat, aku harus ke sana sekarang,” pinta Taeyeon lembut, berusaha tidak terpancing emosi oleh kata-kata Jiyong.

“Kau harus mengatakan nama tempatnya, jangan setengah-setengah,” tukas Jiyong tanpa menoleh lawan bicaranya.

“Jalan saja, nanti kutunjukkan,” ujar Taeyeon yang sudah tidak ingin berdebat karena pasti akan memakan waktu lama untuk mengakhirinya.

Taeyeon bersandar dan mengingat percakapannya dengan ibu saat kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Masih terekam dengan jelas percakapan itu di otaknya.

“Dia datang membawa sekeranjang buah. Dia tidak menanyakanmu karena mungkin mengira kau masih di SM. Woobin benar-benar pria yang baik.”

Uluman senyum dari Taeyeon tercipta, yang kemudian gadis manis yang tengah tersipu ini membuka tas kecilnya dan tampak sebuah kunci pintu unik juga klasik dengan kepala kunci berbentuk kupu-kupu. Percakapannya kembali teringat.

“Ini. Jaga kunci baik-baik, jangan sampai hilang. Bagaimana kau bisa masuk tanpa itu? Untuk kunjungan pertamamu lakukan siang ini juga. Kunjungan selanjutnya kau akan melakukannya delapan hari sekali setiap pukul sebelas lebih sebelas malam dan selesai pukul satu pagi. Itu waktu yang tidak bisa kau atur sendiri. Karena, pada kedua waktu itulah pintu utama akan otomatis terbuka dan menutup.

“Kau tidak boleh terlambat sedetikpun. Lebih baik kesana lebih awal daripada tidak bisa masuk. Sangat bahaya, Taeyeon-ah. Jika ada orang lain yang bisa melihat kemampuanmu, maka orang itu yang akan menerima bahayanya. Dia akan… ah, pokoknya kau harus ingat pada jadwalmu yang baru setiap delapan hari sekali.

“Untuk kunjungan pertama hari ini kau bisa datang dan pergi sesukamu, yang penting disana kau sudah merasa cukup dengan apa yang harus kau ketahui dan lakukan. Mianhae, eomma tidak banyak bisa membantu. Jaga dirimu, Kim Taeyeon.”

Helaan nafas panjang Taeyeon terdengar mengingat penjelasan eomma-nya. Wajahnya datar, tidak tahu harus bagaimana menanggapi ini.

Kenapa ini harus terjadi padanya? Sudah cukup dengan kemampuannya sejak dulu, dan sekarang apa? Ada peraturan dan jadwal baru.

Belum lagi jika ia terlambat, akibatnya akan menimpa orang yang bisa melihat kemampuannya. Itu artinya orang itu adalah Kwon Jiyong.

Taeyeon tidak ingin orang lain ini menerima bahaya akibat perbuatan-perbuatan yang Taeyeon sendiri kadang tidak disadari. Jiyong adalah korban yang tidak tahu apapun.

Tugas Taeyeon terasa semakin berat. Karena, secara tidak langsung Taeyeon harus melindungi seorang G-Dragon.

“Kim Taeyeon!”

Taeyeon tersentak dari lamunannya mendengar panggilan keras dari pria yang harus ia lindungi. Ia menoleh sengit pada pria itu, Kwon Jiyong.

“Wae?!” Taeyeon tak kalah keras dengan panggilan Jiyong baru saja. Bahkan kali ini Taeyeon menggunakan tatapan tajamnya.

“Sudah berapa kali aku memanggilmu? Kau tetap saja melamun,” ketus Jiyong sontak membuat Taeyeon mengatupkan mulutnya. “Dimana aku harus menurunkanmu?”

“Ne?” Taeyeon menjadi bingung. Ia menoleh jendela mobil, memperhatikan keberadaan mereka, “Ah! Berhenti disini.”

Mobil Jiyong tepikan, Jiyong heran begitu mengetahui tempat yang dimaksud gadis ini disebelahnya ini.

“Apa kau akan melakukan tour disini? Bersama teman-temanmu? Mungkin juga kau akan bersantai dengan member-mu? Atau untuk referensi video klip terbarumu?” tebak Jiyong bertubi-tubi yang mengarah sindiran saat melihat tempat tujuan Taeyeon adalah Istana Kerajaan Changdeokgung.

Mendengar lontaran pertanyaan-pertanyaan itu, Taeyeon hanya mencibir.

“Tidak bisakah kau berhenti tanya? Tidak perlu menjemputku jika tidak mau. Sudah kubilang abaikan permintaan Yuri. Terima kasih sudah mau mengantar!”

Begitu safety belt-nya berhasil dilepas, Taeyeon segera keluar dan menutup pintu keras sebab kesal pada pria pemilik mobil yang menjengkelkan.

“Dia melakukannya lagi. Tidak tulus dengan wajah innocent-nya. Apa sulit berterima kasih dengan tulus?” gumam Jiyong menyunggingkan senyumnya memperhatikan gadis mungil itu yang memasuki Changdeokgung Palace.

Tidak ingin memikirkan apa yang sebenarnya ingin dilakukan gadis berkemampuan tak terduga itu, Jiyong kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat serta gadis itu.

***

Langkah Taeyeon kini membawanya sampai didepan jembatan yang bernama Geumcheongyo Bridge.

“Ketika kau menginjakkan kaki di tengah-tengah jembatan, tempat itu adalah kunci munculnya sesuatu yang menakjubkan di pintu gerbang. Lewatilah sesuatu itu.”

Penuturan ibunya membawa langkah Taeyeon menaiki jembatan, terus melangkah hingga tengah-tengah jembatan. Begitu menginjakkan kaki di tengah jembatan, kedua mata Taeyeon yang tertuju pada pintu gerbang dibuat takjub seperti kata eomma-nya.

Akibat injakkan kaki Taeyeon ditengah jembatan tersebut, gerbang besar istana yang disebut dengan Jinseomun Gate itu perlahan mengeluarkan sinar. Kini sinar putih itu menutupi seluruh pintu gerbang.

Bahkan Taeyeon perlahan melebarkan matanya dan mulutnya terbuka karena takjub melihat pemandangan didepannya. Ia ingin memperhatikan gerbang bermandikan cahaya itu lebih lama tapi bukan ini tugasnya.

Kembali Taeyeon menyelesaikan tapakannya di jembatan. Ia mendekat pada gerbang besar itu dan nalurinya kembali mengamati seluruh gerbang bercahaya tersebut dengan sesekali mendongak.

Gadis itu tersadar, untuk tidak terus menerus tenggelam dalam ketakjubannya. Dengan perlahan dan penuh hati-hati, ia melangkah melewati pintu. Satu hal diluar dugaannya, saat melewati gerbang itu cahayanya tidak menyilaukan sama sekali.

Berhasil melewati gerbang itu, Taeyeon bernafas lega dan kembali melanjutkan perjalanannya setelah menengok kembali sesaat gerbang yang tidak diketahui orang lain terdapat cahaya indah pada waktu tertentu.

Selanjutnya, Taeyeon harus menemukan Secret Garden atau Biwon istana yang merupakan area taman privat khusus untuk raja.

Beruntung Taeyeon sedikit banyak mengetahui denah istana, jadi ia tidak memerlukan waktu lama untuk mencari Biwon tersebut. Ia sudah berada di area Biwon, tapi dimana pintu kedua seperti yang dikatakan eomma-nya. Ia melirik tangan kanannya yang sudah menggenggam kunci pintu kedua.

Pandangannya ia edarkan ke segala arah, mencari letak pintu yang tidak ia ketahui bentuknya. Mau bertanya kepada siapa? Toh orang-orang bahkan tidak tahu apa yang dimaksud Taeyeon. Justru mungkin ia akan dianggap gila karena mencari pintu yang tak kasat mata di tempat wisata istana Seoul ini.

Apa eomma-nya bohong? Karena, tidak ada apapun disini. Bagaimana ia bisa melihat Secret Butterfly Garden tanpa pintu kedua itu? Lebih baik ia kembali ke rumah saja dan meminta penjelasan eomma-nya lebih dalam.

Baru hendak memutar balik badannya, Taeyeon dikejutkan dengan sebuah suara.

Sriiing….

Kepalanya cepat menoleh ke sumber suara. Yang ternyata tepat didepan tempat Taeyeon berdiri.

Perlahan senyum kecilnya terangkat melihat dihadapannya sudah berdiri sebuah pintu yang ia yakini ini sebagai pintu kedua seperti kata sang ibu. Karena, beberapa saat lalu ia tidak melihat pintu cantik yang tidak terlalu besar ini. Hanya cukup dilewati dua orang secara bersamaan.

Pintu yang terbuat dari besi ringan yang dililit beraneka macam bunga cantik penuh warna.

Eoh? Kuncinya! Ia harus masuk dengan kunci itu, ‘kan?

Ia menghampiri pintu itu dan mencari lubang kunci.

Dimana? Tidak ada.

Seperti gerbang sebelumnya, pintu ini hanya dipenuhi cahaya. Ia coba melangkah masuk tanpa kunci pun hasilnya nihil. Tubuhnya terasa seakan didorong cahaya pintu itu.

Hampir menyerah, Taeyeon memasukkan kunci itu disembarang titik tempat, yakni di titik didepannya yang paling dekat.

Eoh?! Kuncinya berhasil masuk di lubangnya! Tapi, Taeyeon tidak bisa melihat lubang kunci itu, hanya bisa merasakannya.

Jantungnya berdegup kencang menunggu pintu itu bisa ia lewati, lumayan takut sebenarnya. Takut dengan segala apa yang terjadi padanya ditempat maya yang baru pertama kali ia lihat dan kunjungi hari ini.

Sriiing…

Selangkah Taeyeon mundur cepat dengan suara yang berasal dari pintu yang perlahan cahayanya menepi menjadi hanya di sisi-sisi pintu, tidak memenuhi pintu seperti pertama kali pintu itu muncul didepannya.

Gadis innocent face itu tidak ingin membuang waktu lagi disini, ia beranikan melewati pintu  yang akan membawanya pada Secret Butterfly Garden sesungguhnya.

Berhasil melewati pintu, kakinya terhenti seketika. Untuk kesekian kalinya, kedua mata Taeyeon melebar melihat pemandangan ini. Yang tadinya adalah Biwon atau taman istana kerajaan disini, sekarang ditempat ia berdiri, bukan lagi taman istana melainkan Secret Butterfly Garden yang sungguh indah.

Lebih indah dari Dubai Butterfly Garden maupun taman bunga Hitachi Seaside Park di Jepang.

Pandangannya ia edarkan ke seluruh taman yang membuatnya sulit untuk mengatakan sesuatu, bahkan jika itu memuji.  Kakinya juga belum sanggup melangkah lebih dalam lagi.

Taeyeon mengerti seperti apa Secret Butterfly Garden yang terus memenuhi pikirannya setelah pemberitahuan dari eomma-nya.

Secret Butterfly Garden, sebuah taman luas dipenuhi berbagai macam bunga serta banyak Butterfly berbagai warna yang beterbangan kesana kemari. Butterfly yang terlihat malas-malasan diatas bunga pun tak luput dari pandangan gadis mungil yang terus menganga ini. Harum semerbak bunga-bunga memenuhi hidungnya. Menakjubkan.

FOTO

FOTO

Gadis itu memantapkan diri dengan mengangguk lalu melangkah. Belum tiga langkah, ia sangat terperanjat karena dikejutkan dengan sosok pria tinggi yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

Bukan muncul secara tiba-tiba dengan kekuatan sihir seperti peri dalam cerita dongeng. Tapi, pria ini muncul dari sisi kanan dekat pintu.

Taeyeon sendiri juga tidak mengerti bagaimana bisa ia tidak menyadari keberadaan pria yang menatapnya penuh ramah. Mungkin karena Taeyeon terlalu disibukkan dengan ketakjubannya.

“Peri… Hutan?” terka Taeyeon yang tidak melepaskan pandangan terkejutnya dari pria manis, tampan dan wangi alami ini.

Pria itu tersenyum manis sekali pada Taeyeon.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di Secret Butterfly Garden. Jae ireumeun Kim Hyunjoong imnida. Penjaga tetap tempat ini.”

FOTO

“Kau punya nama?” tanya Taeyeon yang terus menerus terperangah ditempat ini.

Ia tertawa mengalihkan pandangan. Kim Hyunjoong, penjaga taman maya ini bahkan memiliki nama, dan bagus pula.

Diliriknya pria itu dan Taeyeon menyadari tawanya. Cepat ia menghentikan tawanya dan berdehem. Ia harus bersikap anggun dan penuh kelembutan ditempat ini. Bukankah tempat ini memang seperti itu dan menyukai dua hal itu?

“Kim Taeyeon,” ucap pria itu.

“Darimana kau tahu namaku?” Taeyeon kaget.

“Namamu tertulis ditempat ini.”

“Sejak kapan?”

“Saat kau lahir.”

“Hari kelahiranku?” sama sekali Taeyeon tidak menduganya. “Mm… Peri Hutan….”

“Jeoseonghamnida. Tapi, aku bukan Peri Hutan, aku penjaga taman ini,” sela Kim Hyunjoong dengan polosnya tanpa menanggalkan senyum manis di wajahnya itu.

Dahi Taeyeon berkerut, lalu Taeyeon tersenyum tipis mengangguk-angguk, tidak ingin mengecewakan pria dengan senyum yang begitu manis ini. Apapun sebutannya, bagi Taeyeon pria ini bukan sekadar penjaga taman. Sebab, taman yang dijaga Kim Hyunjoong adalah Secret Butterfly Garden, taman maya yang sangat cantik dan tidak bisa dilihat orang lain.

“Lalu, aku harus bagaimana Peri Hut… tidak, maksudku, Peri Penjaga?” tanya Taeyeon hati-hati dengan senyum manis pada Kim Hyunjoong.

Penjaga taman Hyunjoong mengulurkan tangan mempersilakan gadis itu untuk masuk taman lebih dalam dengan senyuman yang tidak tertinggal.

Melihat senyuman itu, Taeyeon merasa terhipnotis. Bagaimana dia bisa punya senyuman seperti itu? Tapi, ia cepat sadar dari pengaruh senyum itu lalu mengangguk menerima ajakan Hyunjoong. Sebelumnya, Taeyeon menoleh pintu itu yang kembali tertutup cahaya. Ada perasaan cemas di dirinya. Ia disini akan baik-baik saja, bukan?

“Tenang saja, Kim Taeyeon. Mungkin terasa menakutkan karena ini pertama kalinya kau datang. Selanjutnya, kau akan terbiasa. Pertemuan hari ini tidak lama, hanya satu jam. Pertemuan berikutnya, pasti kau sudah tahu waktunya,” ujar Kim Hyunjoong seraya melangkah pelan mendampingi Taeyeon menyeimbangkan langkah gadis mungil ini yang terlihat kecemasannya oleh Hyunjoong.

Taeyeon hanya menoleh pada pria penjaga itu dengan senyum mengangguk.

Tidak begitu jauh dari pintu tadi, terdapat bangku taman, benar kata eomma-nya. Bangku taman kayu dengan dua lampu taman disampingnya.

Taeyeon memilih duduk di bangku yang muat untuk tiga orang dewasa.

Pandangannya ia arahkan pada taman cantik luas dihadapannya. Setelah keterkejutan-keterkejutan tadi, ia akan diam sejenak menikmati taman ini sebelum rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otaknya ia lontarkan pada pria ini yang semakin membuat pemandangan indah terasa lengkap.

Taeyeon sangat senang ada pria seperti itu disampingnya, pasti hatinya cantik dan indah seperti kupu-kupu. Ia menoleh pada Hyunjoong, keduanya saling menatap senyum.

“Duduklah,” tawar Taeyeon melihat Hyunjoong hanya berdiri disampingnya. “Ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu.”

Dengan sopan dan tanpa canggung, Hyunjoong menurut dan duduk disebelah Taeyeon.

Tunggu! Taeyeon menyadari sesuatu. Apa itu tadi? Benarkah penglihatannya kali ini? Sesuatu yang rindukan benarkah dapat ia lihat lagi? 

Taeyeon terperangah saat melihat kupu-kupu putih keluar dari mulutnya. Ia yakin tidak salah lihat. Dan, ia sangat yakin itu bukan kupu-kupu yang berasal dari taman. Ditatapnya penjaga taman Kim Hyunjoong dengan tatapan lebar meminta penjelasan secepatnya.

“Itu juga, ‘kan salah satu yang ingin kau tanyakan?” ujar Kim Hyunjoong tersenyum dengan manisnya.

***

Yuri, adik Kwon Jiyong memasuki apartemen BIGBANG dan langsung melihat kakaknya di ruang tamu seorang diri.

“Yang lain mana?” tanya Yuri belum melihat member lain.

“Sedang keluar,”jawab Jiyong malas. Tapi, kemudian menoleh adiknya cepat, “Kenapa kau kesini lagi?”

Tidak menjawab, Yuri duduk diseberang kakaknya.

“Mm….”

“Ayo keluar. Kemana saja,” ajak Jiyong sebelum Yuri mengutarakan maksudnya.

“Eoh?!” Yuri menatap kakaknya terkejut. “Aku juga akan mengakali keluar sekarang.”

“Perasaan kita sama, ‘kan? Karena kita kakak beradik,” ucap Jiyong mengangkat bibirnya tersenyum dibalas Yuri yang tersenyum senang.

Mereka langsung menuju basement.

“Eh, biarkan mobilmu disini,” cegah Yuri pada Jiyong yang akan membuka pintu mobil mewahnya.

“Ah, arra. Pakai mobilmu, ‘kan? Kajja,” sahut Jiyong dan menuju mobil Yuri disebelah mobilnya.

“Eh, eh… Bukan itu juga,” Yuri kembali mencegah Jiyong yang akan menyentuh pintu mobilnya.

“Kita akan naik taksi?” tanya Jiyong heran dengan cegahan-cegahan Yuri.

“Pakai yang itu,” tunjuk Yuri pada mobil Taeyeon diseberang mobil mereka, semakin heranlah Jiyong. Namun, Yuri hanya tersenyum meringis, “Kita akan pergi dengan mobil Tae eonni.”

“Pakai saja mobilmu atau mobilku. Aku sudah tidak menyuruhmu untuk menggunakan mobilnya lagi. Sandiwara selesai, kau tidak perlu memakainya lagi,” tolak Jiyong secepatnya.

“Tapi, aku yang memintamu sekarang,” sergah Yuri tidak mau kalah. “Kwaenchana. Eonni tidak akan marah. Dia, ‘kan eomma-ku.”
Mendengarnya, Jiyong hanya tertawa kecil, lalu menatap tajam adiknya yang juga tidak mudah dikalahkan.

***

“Jika seperti ini, ‘kan aku lebih senang,” ungkap Yuri yang menyetir mobil.

“Kenapa kau memaksa? Dia tidak suka mobilnya dimasuki orang lain, ‘kan? Itu sangat privasi. Bukakanlah begitu?” tanya Jiyong masih belum menerima dengan mereka yang saat ini menggunakan mobil Taeyeon.

“Geokjongma. Baginya kita bukan orang lain,” Yuri meyakinkan seraya menoleh sekilas kakak bad boy-nya yang baik hati.

“Ayo, gantian menyetir. Aku tidak bisa melihatmu menyetir untukku,” pinta Jiyong dengan maksud rasa sayang pada adik manisnya, mengalihkan pembicaraan sebelum berlanjut kemana-mana.

“Katakan tempat yang ingin kau datangi, dan aku akan membawamu kesana, oppa.”

“Tempat mana yang ingin kau kunjungi, dan aku akan menurutimu,” timpal Jiyong tersenyum lebar.

“Kemanapun perginya oppa, itulah yang akan ku kunjungi,” putus Yuri tersenyum ceria.

Semakin bahagia Jiyong melihat adiknya begitu bersemangat. Pasti adiknya menerima dengan gembira saat mendengar ajakan Jiyong kali ini.

“Mau beli pakaian? Ayo, kesana. Kita shopping dulu,” tawar Jiyong tersenyum lebar dan benar dugaannya, Yuri menerima dengan begitu antusias mengetahui tujuan pertama mereka adalah tempat belanja pakaian.

Tempat yang mereka datangi untuk belanja adalah salah satu butik ternama di Korea Selatan.

Dan kini, tampak Jiyong mengambil beberapa baju wanita. Ia melambai pada Yuri untuk mendekat yang juga tengah memilih baju tidak jauh darinya.

Baju yang diambil Jiyong cocokkan pada tubuh adiknya, keduanya saling memperhatikan hasilnya. Sesekali tertawa bersama.

“Ah, jamkkanmanyo,” Yuri mengisyaratkan pada Jiyong untuk diam ditempatnya.

Jiyong hanya senyum menurut. Tidak lama kemudian adik manis itu datang dengan dua topi ditangannya dan memakaikan salah satu topi di kepala kakaknya.

“Wah, apapun yang dipakai oppa pasti bagus. Kau memang fashionista sejati,” puji Yuri mengacungkan jempolnya didepan seorang G-Dragon yang merupakan kakaknya, yang disambut tertawa sang kakak seraya mengangguk-angguk. “Baju-baju yang tadi oppa pilihkan untukku tidak aku tolak atau pilih karena pasti cocok untukku. Bukankah yang memilih adalah seorang oppa G-Dragon yang sangat fashionista?”

Jiyong kembali tertawa dan mengacak-acak rambut adiknya yang tersenyum senang. Kemudian memakai topi yang sama dengan Jiyong.

FOTO

Keduanya ber-high-five kompak.

***

Berbagai warna kupu-kupu terbang mengelilingi Taeyeon yang kini telah berganti memakai gaun merah muda panjang dengan rambut terurai.

Gadis ini duduk diantara bunga-bunga seraya memandangi kupu-kupu beterbangan disekelilingnya, sesekali jari-jari mungilnya terulur untuk berusaha sekadar menyentuh kupu-kupu didepan, samping, maupun diatasnya.

Ketika berusaha menyentuh kupu-kupu didepannya, pandangan gadis cantik itu tertuju pada Hyunjoong yang masih duduk di bangku. Penjaga taman Kim itu membalas dengan senyuman yang tidak kalah manis. Taeyeon tersenyum senang dengan pria yang terus menatapnya.

“Wajar hari ini kau mengalami banyak keterkejutan disini. Kim Taeyeon, setiap kali kau memasuki Secret Butterfly Garden ini kau bisa melihat kemampuanmu. Tapi, setelah keluar dari sini kau tetap tidak bisa melihatnya. Sampai kapan aku juga tidak tahu.

“Yang harus kau lakukan adalah rutin kemari dan itu akan membuatmu tetap memiliki kemampuan meskipun tidak bisa kau lihat. Sekali tidak datang kesini setelah kau tahu tentang taman ini kau akan membuat hidup seseorang sangat kesakitan, menderita karenamu. Bukan hanya orang itu, kau juga akan menghilang dari orang-orang yang kau sayangi. Mungkin selanjutnya kau akan terkurung disini.

“Aku juga tidak tahu jika kau menghilang apakah akan kemari atau kemana. Aku tidak bisa menjawabnya. Saat ini yang perlu kau lakukan adalah datang rutin, bicara denganku, duduk anggun dengan senyum diantara bunga-bunga dan kupu-kupu yang akan mengitarimu. Lalu, kau bisa kembali pada waktu yang telah ditentukan.”

Apa yang dikatakan Hyunjoong saat mereka bicara di bangku taman itu, Taeyeon sudah cukup mengerti. Tanpa sekalipun mengajukan pertanyaan, gadis ini sudah merasa pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terucap sudah terjawab oleh Hyunjoong, seolah-olah tahu apa saja yang ingin ditanyakan Taeyeon setelah menerima dan melihat semua hal tentang taman dan kemampuannya.

Sekali lagi Taeyeon menatap Hyunjoong yang sama sekali tidak beranjak dari duduknya dan tidak pernah melepaskan pandangan dari Taeyeon.

Setelah mengalami semua ini, Taeyeon merasa semakin yakin untuk tidak menolak kemampuannya dan dirinya merasa sangat istimewa dengan apa yang dimilikinya yang tidak dimiliki orang lain.

Akhirnya setelah uraian panjang lebar Hyunjoong tanpa diselingi pertanyaan dari Taeyeon, Taeyeon yang kembali duduk disebelah Hyunjoong melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat dirinya tercengang dan semakin merasa istimewa begitu mendengar jawabannya.

“Aku bisa ketempat ini karena kesalahanku, ‘kan? Kata eomma jika aku tidak ceroboh dengan menyalahgunakan kemampuanku, aku tidak perlu kemari. Apa ini semacam takdir?”

Gadis itu tertunduk meresapi kesalahannya. Tetap saja harusnya ia tidak bertemu tempat ini, dengan begitu ia akan hidup lebih tenang tanpa terbebani tambahan jadwal ketempat ini.

“Takdir. Mungkin benar. Takdir yang mengharuskan kau kesini,” ujar Hyunjoong. “Sebelumnya, kau tidak bisa menjaga kedamaian kupu-kupu sehingga kau ditakdirkan datang ke tempat ini, Secret Butterfly Garden.

“Kesalahanmu adalah hal yang bisa dilakukan semua manusia. Manusia tidak luput dari kesalahan, ‘kan? Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah. Tidak perlu sedih atau khawatir, Taeyeon-ah. Tetap saja kau adalah gadis istimewa walaupun kehilangan kemampuan melihat kupu-kupumu.”

Semua jawaban Hyunjoong, Taeyeon cerna baik-baik. Dirinya istimewa. Ditatapnya Hyunjoong yang tersenyum mendamaikan, membuat Taeyeon perlahan mengangkat senyum tipisnya.

Gadis itu kembali menatap seluruh taman, menikmati semuanya. Memang belum waktunya untuk selesai di tempat ini dan Taeyeon juga masih ingin berlama-lama di tempat ini.

Selain ‘terapi’, ia juga ingin menghirup udara setelah pekerjaan sebagai seorang idola membuat tubuhnya penat dan sangat butuh refreshing. Terlebih, tadi pagi ia sudah mendapat teguran keras dari CEO-nya. Hal itu hilang seketika saat sampai ke tempat ini.

***

“Aku sedang di Changdeokgung Palace.”

Yuri membaca pesan balasan dari Taeyeon atas pesan menanyakan keberadaan eonni sekaligus eomma-nya itu.

Ponsel Yuri letakkan diatas meja dan tersenyum seraya mengangkat bahu juga kedua alisnya. Ia menatap Jiyong didepannya yang tengah asyik dengan minuman musk melon juice-nya.

Merasa diperhatikan, Jiyong membalas tatapan adiknya. Keduanya saling tersenyum yang tengah berada di sebuah cafe.

“Belanja dan minum jus sudah. Sekarang tinggal jalan santai dan bermain-mainnya,” ujar Yuri yang merujuk pada permintaan.

Jiyong mengangguk senyum lebar.

“Ayo, kita lakukan setelah menghabiskan ini.”

“Tentu!” antusias Yuri ceria.

***

“Kenapa kita kemari?” protes Jiyong menahan Yuri yang terus menarik lengannya. Jiyong tidak pernah tahu adiknya membawa ke istana Changdeokgung, karena tidak menjawab saat ditanya tempat mana untuk jalan santai dan bermain-main.

“Jalan santainya disini saja,” jawab Yuri kembali menarik Jiyong masuk ke dalam istana kerajaan.

“Harusnya aku tidak membiarkanmu menyetir jika tahu kita akan ketempat ini,” gumam Jiyong kesal dan pasrah dengan ajakan adiknya.

“Eoh?! Kalian disini?” tanya Taeyeon terkejut yang bertemu keduanya di jembatan Geumcheongyo. Ia hendak pulang tapi dua manusia ini muncul.

Tidak lupa Taeyeon memberi salam dengan sedikit menganggukkan kepala pada Jiyong yang dibalas anggukan kecil juga.

“Eonni, kau sudah selesai dengan urusanmu?” tanya Yuri melepas pegangan lengan Jiyong.

“Baru saja,” angguk Taeyeon. “Sekarang aku mau pulang.”

“Kami baru sampai dan ingin menjemputmu sekaligus jalan-jalan disini. Pulang denganku saja, aku bawa mobilmu,” ucap Yuri. Taeyeon hanya tersenyum, tidak terkejut dengan fakta Yuri membawa mobilnya. Yuri menatap kakaknya, “Lihatkan, oppa? Taeyeon eonni tidak keberatan jika mobilnya aku bawa kemanapun. Dia memang daebak!”

Mendengar pujian Yuri untuk Taeyeon, Jiyong hanya berdecak kecil dan mengalihkan pandangan.

“Ah, Yuri-ah…” Taeyeon tersipu.

“Eonni pasti haus. Kita tadi beli minuman. Jamkkanmanyo. Aku akan mengambilkannya untukmu,” ucap Yuri yang langsung berbalik pergi tanpa mendengar respon Taeyeon yang hendak mencegahnya.

Tinggallah mereka berdua, Jiyong dan Taeyeon. Saling terdiam dan sama-sama mengalihkan pandangan.

Taeyeon lebih memilih menatap lantai ubin, sementara Jiyong mengarahkan mata kedepan, tampak sebuah tangga didekat pohon tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Pohon yang tengah dibersihkan oleh seorang ahjussi yang menaiki pohon tersebut dari dahan-dahan kering yang hampir atau sudah patah namun masih tersangkut di pohonnya. Yang jika tidak segera dibersihkan akan membuat dedauan di dahan kering tersebut menjadi kering dan merusak keindahan tempat terkenal ini.

Sementara itu, Taeyeon tidak bisa terus seperti ini, menunduk dan diam. Iapun perlahan melangkah maju sedikit menunduk dan perlahan menjauhi pria itu.

Namun, rencana kabur diam-diam Kim Taeyeon rupanya disadari oleh Jiyong. Jiyong mendongak ke arah pohon beberapa saat, kepanikannya muncul dengan kedua mata yang melebar.

Cepat Jiyong melangkah maju menendang tangga didekat Taeyeon menggunakan kaki kanannya. Diraihnya segera dari belakang tubuh mungil Taeyeon yang langsung memejamkan mata karena begitu terperanjat.

Kaki kanan Jiyong sedikit tidak seimbang akibat daratan yang tidak mulus dari tendangan tangga baru saja yang menyebabkan pinggulnya terhentak dan tertahan dengan keras serta tiba-tiba pada pembatas jembatan yang sangat keras tepat dibelakangnya. Namun, Jiyong tetap merengkuh erat tubuh mungil Taeyeon.

Bersamaan dengan itu sebuah dahan lumayan besar jatuh tepat disamping mereka.

Taeyeon sangat terkejut mendengar suara dahan itu, kedua matanya makin terpejam rapat.

“Apa itu?!” tanya Taeyeon takut lalu membuka matanya dan langsung melihat dahan kayu tergeletak didekatnya.

“Jeoseonghamnida! Jeoseonghamnida! Aku tidak tahu ada orang dibawah sana!” seru ahjussi panik.

Jiyong dan Taeyeon hanya terdiam.

“Neo kwaenchana?” tanya Taeyeon panik pada Jiyong tanpa bisa melihat wajah Jiyong yang masih memeluknya dari belakang. Kupu-kupu kuning bersinar itu muncul dari mulut bergetarnya. Karena, Taeyeon takut.

Dengan datar, Jiyong menanggapi,

“Harusnya aku yang tanya seperti itu. Kau baik-baik saja?”




TO BE CONTINUED


***

Bagaimana, setiap chapter lebih enak dibagi dua part atau tidak?

Dan, ternyata Kim Hyunjoong adalah seorang… 😊

Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.

Gamsahamnida.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

25 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 )

  1. lebih suka langsung aja thor. keburu penasaran… soalnya nunggu 1 chapter udah lama, jangan dibagi lagi huhuhu… #maksa xixixi…

  2. lebih suka langsung aja thor. keburu penasaran… soalnya nunggu 1 chapter udah lama, jangan dibagi lagi huhuhu… #maksa xixixi..

  3. Kalo kata aku langsung 1 aja thor, nunggu 1 aja udah berasa kayak digantung ama pacar berbulan bulan apa lqgi di bagi 2 😵 wkwkwk

  4. Taeyeonnya lucu banget sihhhhhh apa lagi gdnya jutek jutek gimna gitu, trs turiii ihhh ucul banget gituuu. Di tunggguuuu lohhh nextnyaaaa

  5. Panjangin aja thor.. biar ga kecewa karna nunggu updatannya… penasaran banget nih… apalagi sama tugas taeyeon yg musti terapi jam 11 malam… kok tae ga nanya ke eomma soal kupu kupu yg diliat jiyong..

  6. Authornim di chap 5 kemaren.. kan ada preview chap 6 kan. Tetap menunduk, Taeyeon semakin mengeluarkan air matanya didepan leader BIGBANG.
    Perlahan Jiyong menarik gadis mungil dengan innocent face itu ke dalam pelukannya.
    “Lampiaskan padaku,” pinta Jiyong setelah melepas pelukannya.
    Ditatapnya gadis itu dengan tatapan dalam dan lembut.
    Aku nungguin banget.. semoga updatenya cepet ya uthornim.. fighting

  7. Gk usah dijadiin 2 part thor, nanti makin pnasaran krena nunggu chapter slanjutnya itu lama thor…
    Gk sbar sma chapter slanjutnya.
    Fighting!!!!!

  8. Huh padahal suka langsung 1 chapter aja thor gak usah di bagi”, soal nya ku lebih suka baca chapter yang puanjangggg, salah satu ff favorit, nexy chap di tunggu secepatnya

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s