Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome to readers in my Fan Fiction 🙂

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Note:

Annyeonghaseyo.

Apa kabar, reader’s?

Di chapter ini saya bagi dua part, supaya tidak terlalu panjang.

New cast muncul!

Jeoseonghamnida, jika ada typo.

Semoga di mengerti.✌

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

CHAPTER 6

WONDERLAND

Di basement, di pintu mobil Jiyong, Taeyeon memandang mobilnya sendiri yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kesal, karena tidak bisa memakai mobilnya. Kenapa Yuri harus meminjam mobilnya sekarang?

Jiyong yang sudah membuka pintu mobilnya, melihat kekesalan gadis itu, hanya tersenyum geli. Lalu, masuk mobil.

Mendengar suara pintu mobil tertutup, Taeyeon menoleh. Gadis itu kemudian membuka pintu dan memasuki mobil dengan geram. Menutup pintu dengan kesal juga keras.

“Kudengar… kau memberikan bahu untukku saat aku tertidur. Aku ingin tahu, apa itu benar?” Jiyong membuka suara ketika mobil sudah ada dijalan raya.

Terbelalak Taeyeon mendengarnya.

“Itu… tidak seperti yang kau kira,” berusaha gadis itu untuk tidak terkejut namun kegugupannya jelas sekali terlihat oleh Jiyong.

“Kurasa alasan itu cukup untuk berterima kasih dengan cara ini.”

“Seharusnya bentuk terima kasihmu itu bisa aku minta saat aku membutuhkannya. Bukan sekarang, apalagi kau memaksa,” protes Taeyeon setelah keduanya beberapa saat terdiam. “Tapi, ya sudahlah. Terima kasih sudah mengantarku.”

Ucapan gadis mungil itu membuat kupu-kupu dari mulutnya muncul terbang mengitari keduanya.

“Tidak. Ini terima kasihku,” ujar Jiyong menoleh Taeyeon dengan senyum tipisnya. Dan, kembali fokus menyetir. “Aku mengerti karena kau tulus mengatakannya.”

Taeyeon menatap Jiyong tajam begitu mendengar kata ‘tulus’. Bukankah semalam dia tidak bisa melihatnya?

Gadis itu memutuskan untuk bertanya daripada diselimuti rasa penasaran.

“Apa kau yakin? Memangnya kau melihat kupu-kupunya?”

“Ne.”

Jawaban itu membuat Taeyeon tercengang.

“Tapi, semalam…” ucapan Taeyeon menggantung. Ia ingat betul semalam saat Jiyong mengatakan tidak melihat kupu-kupu, bahkan pria itu memastikannya dengan menarik tengkuknya.

“Ah… semalam, ya? Aku minta maaf soal itu. Aku menarik lehermu tiba-tiba. Aku mabuk. Kau tahu, ‘kan? Seseorang tidak bisa mengendalikan dirinya saat berada dalam pengaruh alkohol.”

“Kau melihat kupu-kupu baru saja atau tidak?” tanya Taeyeon cepat tanpa mempedulikan alasan Jiyong. Taeyeon menganggapnya wajar dan maafnya sudah ia terima begitu saja.

“Aku memang bisa melihatnya, ‘kan?” Jiyong balik bertanya.

Mengangguk pelan dan kecewa, Taeyeon menyahut lemas, “Eung.”

“Kau terlihat tidak senang,” heran Jiyong. Tapi, Taeyeon hanya menggeleng pelan.

Semalam Taeyeon yakin memang bicara tulus dan mengeluarkan kupu-kupu. Tapi, sekarang apa? Jiyong kembali melihatnya.

“Kwon Jiyong, aku… mencintai ibuku dan Yuri,” ulangnya kembali lebih lembut dan senyum manis dengan memejamkan matanya. Kupu-kupu kuning berhasil keluar dari mulut gadis mungil itu.

“Kau ini kenapa?” tanya Jiyong heran menoleh Taeyeon.

“Apa kau melihat kupu-kupu?” tanya Taeyeon penuh harap setelah membuka matanya.

“Kupu-kupu kuning bersinar. Aku melihatnya. Iya, aku tahu kau mencintai mereka tapi tidak perlu terus mengatakannya didepanku.”
Kepala Taeyeon tertunduk kecewa. Pria dengan sebutan G-Dragon itu masih bisa melihat kemampuannya.

“Kau tersinggung?” pikir Jiyong.
Gadis Kim itu hanya menggeleng pelan. Tidak sanggup mengangkat kepalanya.

Begitu mobil sampai didepan rumah ibu Taeyeon, Taeyeon membuka pintu mobil dan keluar dengan muram.

Heran Jiyong dengan gadis itu yang keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Ia masih tidak mengerti kenapa gadis tidak berkata apapun lagi sejak menyinggung kupu-kupu.

Ditatapnya gadis itu yang melangkah menunduk dan tidak bertenaga. Apa perkataannya menyinggung perasan gadis itu? Mana mungkin. Hanya perkataan biasa tadi itu.

Ditepisnya dugaan negatif Jiyong, lalu menjalankan mobil keluar dari area rumah itu.

***

Gadis Kim yang berada di ruang tamu bersama ibunya itu bermaksud mengutarakan kepulangannya yang mendadak.

“Eomma, jika seseorang bisa melihat kemampuanku tapi suatu hari dia tidak bisa melihatnya. Dan, tidak lama kemudian dia kembali melihatnya. Apa itu bisa terjadi?”

Ibu heran menatap putrinya, dan coba mencerna maksud pertanyaannya. Kenapa tiba-tiba putrinya menanyakan itu? Apa Taeyeon menemukan sesuatu? Ibupun berpikir keras dengan menjawab pertanyaan Taeyeon. Beberapa saat membutuhkan waktu untuk mencari jawabannya.

“Itu bisa terjadi saat orang itu dalam pengaruh alkohol. Mereka tidak bisa melihatnya ketika mabuk, seringan apapun mabuknya.”

“Memangnya ada yang seperti itu?” Taeyeon membulatkan bola matanya.

“Memang seperti itu.”

“Aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak bisa melihatnya?” gumam Taeyeon mengalihkan pandangan mencoba berpikir.

“Apa kupu-kupu adalah sesuatu yang kotor?” eomma balik bertanya. “Kupu-kupu sesuatu yang suci, sehingga kupu-kupu tidak akan keluar saat mencium bau alkohol dari seseorang yang mabuk.”

“Itu berlaku untuk semua orang?”

“Ya. Untuk semua orang yang mabuk walau mereka tidak bisa melihat kemampuanmu. Rupanya kau masih banyak tidak tahu. Itu karena kau jarang di rumah. Ibu juga tidak bisa menjelaskan satu persatu padamu mengenai ini. Dan juga kau tidak pernah mengeluh tentang kupu-kupu.”

Setengah hati Taeyeon mendengar kalimat terakhir yang menyatakan ia masih banyak belum tahu mengenai kemampuannya.

Pikirannya hanya terus tertuju pada Jiyong. Jadi, karena pengaruh alkohol. Karena kupu-kupu adalah sesuatu yang suci, makanya Jiyong tidak bisa melihat kupu-kupunya semalam.

Pantas ia kembali tercengang saat mengetahui Jiyong dapat kembali melihat kemampuannya.

Ponsel Taeyeon yang ada di atas meja berdering membuyarkan lamunannya dari ingatan masa lalu untuk segera ke masa sekarang berusaha menyadarkan gadis ini untuk segera menjawab telepon.

Tatapan tajam Taeyeon terbentuk saat melihat si penelepon. Orang yang baru saja ada diingatannya menelepon! Tentu Kwon Jiyong. Siapa lagi?

Taeyeon melirik eomma-nya sejenak, lalu menjawab panggilan.

“Yeoboseyo,” jawab Taeyeon pelan.

Apa aku managermu?” tanya Jiyong yang menelepon dengan headset di kedua telinganya, seraya menyetir mobil dengan tangan yang kaku karena geram.

“Mwo?!” Taeyeon terkejut dan berusaha disembunyikan dan tersenyum meringis melirik sekilas ibunya.

“Yuri merasa bersalah karena meminjam mobilmu jadi dia memintaku menjemputmu. Setelah mengantarmu kini menjemputmu? Heol!

Tercengang Taeyeon mendengar Jiyong yang terkesan begitu kesal. Sudut bibirnya mencibir. Pria ini benar-benar menyebalkan.

“Kau bisa abaikan permintaan Yuri. Kau mau menjemput atau tidak, terserah!”

Line telepon langsung Taeyeon putus dengan geram. Senyum manis ia sampaikan pada ibunya, mengisyaratkan tidak ada apa-apa.

Heran juga kesal dengan Taeyeon yang memutus telepon, Jiyong melempar ponsel ke jok sebelah dan semakin kencang melajukan mobilnya.

“Jadi, jika orang itu mabuk maka tidak bisa melihat kemampuanku?” Taeyeon kembali memastikan.
Ibu mengangguk.

“Ibu jadi teringat sesuatu.”

“Apa itu?”

“Ditempat wisata istana Seoul, Changdeok Palace, didalam istana itu ada Secret Butterfly Garden.”

“Secret Butterfly Garden?” tanya Taeyeon yang langsung ingin tahu begitu mendengar namanya. Itu adalah nama yang cantik. “Bukankah di istana itu memang ada Secret Garden-nya atau Biwon, ‘kan? Tapi tidak ada Butterfly-nya. Maksud eomma apa? Taman kupu-kupu yang bersifat rahasia?”

Ibu mengangguk.

“Itu adalah tempat dimana kupu-kupu suci beterbangan diantara bunga-bunga di taman itu. Tidak sembarang orang bisa melihat taman itu seperti kemampuanmu. Untuk masuk kesana kau harus melewati dua pintu. Kau tahu, ‘kan didepan gerbang yang bernama Jinseomun Gate itu ada jembatan namanya Geumcheongyo Bridge. Ketika kau melewati jembatan itu kau akan melihat munculnya bangunan putih dipenuhi cahaya didekat Biwon.

“Pintu satu atau gerbang taman akan terbuka otomatis. Setelah itu akan terlihat pintu kedua. Itu harus menggunakan kunci khusus. Setelah berhasil kau akan melihat taman yang dimaksud dengan berbagai bunga dan kupu-kupu. Letak tamannya memang didalam Biwon yang kau maksud. Tidak perlu ibu jelaskan semua, karena kau akan melihat sendiri. Yang penting ibu sudah memberi gambarannya. Kau bisa membayangkannya?” tutur eomma Taeyeon panjang lebar.

Taeyeon mengangguk skeptis.

“Kenapa eomma memberitahuku tentang ini?”

“Jika kemampuanmu melihat kupu-kupu tidak hilang, ibu tidak perlu memberitahumu hal ini. Kau tidak bisa berlama-lama membiarkan kemampuanmu yang hilang begitu saja tanpa ada usaha menyelamatkan kemampuan yang hilang itu. Kita harus menetralkan kemampuanmu agar tetap terjaga. Walau pada akhirnya kau tetap tidak bisa melihatnya, tapi setidaknya kau masih mampu mengeluarkan kupu-kupunya,” terang ibu kembali.

Kening Taeyeon berkerut, belum terlalu mengerti. Ia membiarkan eomma-nya menjelaskan lebih lanjut.

“Kau harus kesana, setiap delapan hari sekali. Ini semacam terapi.”

“Mwo?!” Taeyeon terkejut.

“Untuk mempertahankan kemampuanmu.”

“Apa yang harus kulakukan disana?”

“Ibu juga tidak tahu. Datang saja ke sana dan kau akan tahu apa yang harus dikerjakan.”

“Jika itu delapan hari sekali, aku harus mulai dari kapan?”

“Karena ibu sudah memberitahumu hari ini, maka kau harus mulai ke sana hari ini.”

“Oneul?!” lagi-lagi Taeyeon terbelalak. “Geundae, eomma….”

“Mungkin adakalanya kau sibuk saat tiba jadwal ke taman itu, tapi kau harus tetap berusaha, Taeyeon-ah,” imbuh eomma Taeyeon. “Ibu punya kunci pintu kedua untuk masuk ke taman itu.”

Belum sempat menanggapi ibunya, ponsel Taeyeon bergetar menandakan pesan masuk. Cepat Taeyeon membuka ponselnya.

“Cepat keluar. Jangan sampai aku masuk ke rumahmu. Ini sudah cukup merepotkan!”

Kedua mata Taeyeon melebar menerima pesan dari Jiyong. Gadis itu menatap pintu rumahnya yang tertutup.

“Eomma, aku harus kembali,” ujar Taeyeon menatap ibunya.

“Secepat itu? Makanlah dulu,” bujuk ibu menyayangkan keinginan anaknya.

“Maaf, eomma. Aku pergi dulu.”

Taeyeon bergegas keluar tidak ingin diantar ibunya. Tidak ingin ibunya tahu ada laki-laki yang masuk rumahnya selain, pacar Taeyeon.

Taeyeon cepat menutup pintu rumah dan saat berbalik, terperanjat karena sudah mendapati Jiyong berdiri di depan teras dengan memakai kacamata hitam.

Ia menatap sekeliling Jiyong.

“Mana mobilnya?” tanya Taeyeon tidak melihat adanya mobil. Seraya mendekati Jiyong.

“Diluar. Malas membawanya kemari,” jawab Jiyong tidak ingin memperjelas dan memperpanjang alasannya. Ia menatap kesal Taeyeon. “Kenapa kau tidak….”

Hppp…!!

Secepat mungkin Taeyeon menutup mulut pria itu dengan telapak tangan kanannya.

Tidak mengerti maksud gadis ini, Jiyong menatap tajam padanya tapi tidak dipedulikan. Taeyeon membawa Jiyong, mengajaknya dengan susah payah untuk bersembunyi disamping rumah.

“Kau tidak ingin sepulang dari sini wajahmu babak belur, biru-biru dan berdarah, ‘kan?” bisik Taeyeon panik dan terus mencari posisi sembunyi. “Ikuti saja sebentar.”

Dengan Taeyeon yang masih menutup mulutnya erat dan mengintip ke halaman rumah, Jiyong mengikuti pandangan gadis Kim itu.

Tampak pria tinggi dengan senyum manisnya, Woobin melangkah santai menuju griya kekasihnya dengan di kedua tangannya memegang parcel buah. Kini Jiyong tahu alasan gadis ini membekap mulutnya, untuk menghindari Woobin.

Mereka terduduk dilantai teras samping rumah. Nafas lega Taeyeon hembuskan sambil melepas bekapan memberi kesempatan Jiyong untuk bicara.

“Apa yang aku lakukan sampai aku akan mendapat wajah seperti yang kau katakan?” Jiyong heran. Ia sudah tidak mempermasalahkan Taeyeon yang membekapnya.

“Sebenarnya dia pencemburu berat tapi jarang mengatakannya. Dia mungkin akan cemburu melihat kau bersamaku sekarang.”

Jiyong tertawa kecil tidak percaya. Ditatapnya beberapa saat gadis itu.

“Cemburu?” tanya Jiyong, tapi ia merasakan sesuatu dan menoleh ke halaman depan rumah.

Terlihat Woobin meninggalkan rumah tersebut. Mungkin maksudnya ke rumah ini sudah tercapai.

Kembali Jiyong menoleh Taeyeon dan memperhatikan tubuh serta wajah mungil itu. Kening Taeyeon berkerut, merasa risih dengan pria bad boy ini yang memandangnya sambil tersenyum remeh.

“Mwo?” tanya Taeyeon akhirnya dengan memajukan dagunya.

“Kau merasa dia akan cemburu padaku? Apa kalian kira aku pantas denganmu sampai kau merasa begitu? Jika benar Woobin cemburu, itu artinya dia tidak percaya diri dengan kemampuan untuk mengencanimu dan melihatku lebih mudah dan pantas denganmu daripada dia.”

Tercengang Taeyeon mendengarnya, dan ia tahu maksud Jiyong.

Hey…”

“Apa aku pantas untukmu?” ulang Jiyong sebelum Taeyeon mengatakan sesuatu.

Rona wajah Taeyeon langsung memerah yang membuat Jiyong terkejut dengan perubahan wajah gadis didekatnya ini.

“Tidak,” jawab Taeyeon dengan muka semakin memerah. Walau kupu-kupu itu keluar, tetap saja gadis itu malu juga canggung.

“Lalu, kenapa wajahmu merah?” Jiyong tersenyum di sudut bibirnya semakin mendekat untuk bisa lebih memperhatikan wajah gadis yang semakin gugup itu.

“I… Itu… Itu karena kau mendekatkan wajah padaku,” celetuk Taeyeon asal.

“Sebelum aku melakukan ini wajahmu sudah memerah,” tukas Jiyong menyunggingkan senyumnya.

Perhatiannya masih tertuju pada gadis yang berusaha menutupi kegugupannya. Jiyong memiringkan kepala ke kiri dan lebih mencondongkan wajahnya pada Taeyeon.

Hey!” seru Taeyeon mendorong tubuh Jiyong hingga jatuh kebelakang.

Beruntung Jiyong cepat menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia jatuh terduduk diatas rumput, keluar dari area lantai.

Tatapan tajam Jiyong langsung tertuju pada Taeyeon yang juga terbelalak sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya ketika melihat tempat yang menjadi daratan Jiyong akibat dorongan kerasnya.

Merasa gadis itu melihat sesuatu yang menakutkan, Jiyong segera menghampiri Taeyeon untuk duduk disampingnya. Sementara Taeyeon yang merasa diserang tiba-tiba oleh Jiyong yang nyaris menubruknya mengerjap-kerjapkan matanya terkejut dan panik.

Jiyong mengarahkan pandangannya pada tempat dirinya mendarat tadi yang membuat Taeyeon begitu terperanjat seakan melihat binatang peliharaan kesayangannya mati.

Fiuh…

Hembusan nafas panjang Jiyong terdengar ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tidak apa-apa.

Hanya tiga jenis tanaman bunga berjajar yang langsung tertanam di tanah taman tanpa menggunakan pot sudah rusak akibat ia salah daratan.

Jiyong melirik Taeyeon dengan heran, kenapa bisa sampai begitu terkejut dengan bunganya yang rusak tanpa sengaja itu? Lagipula, itu hanya bunga kecil dengan ukuran sekitar sepuluh hingga lima belas sentimeter.

Tampak Taeyeon menoleh Jiyong kesal dan siap menerkamnya.

“Bagaimana reaksi ibuku saat melihat ini?! Bunganya baru seminggu ditanam. Dan, bunga itu diambil dari Jeju! Eomma sangat menyukainya. Tapi, sekarang kau merusaknya dengan mendudukinya. Ah, jinjja! Neo, jeongmal… Neo micheoseo?!” cecar Taeyeon geram sambil menampar-nampar lengan Jiyong.

“Kau yang membuatku terduduk disana! Kenapa melampiaskannya padaku?!” protes Jiyong membela diri.

Pasrah gadis itu menatap tanaman bunganya dan bersandar di dinding belakangnya. Jiyong menoleh Taeyeon dan beralih ke bunga-bunga yang sudah tak bisa ditolong lagi, bahkan bentuknya sudah tak terlihat. Terus diperhatikannya gadis yang menatap bunga bingung juga pasrah.

“Tunggulah di mobil, aku akan kembali sebentar. Ada sesuatu yang tertinggal,” sahut Taeyeon yang sudah merasa lebih baik dan bisa menerima kenyataan.

Taeyeon berbalik pergi sementara Jiyong kembali menoleh pada bunga-bunga rusak tersebut.

***

Pintu mobil Jiyong terbuka dengan Taeyeon memasuki mobil tersebut. Pandangan Jiyong tertuju pada gadis itu ketika Taeyeon masuk.

“Tolong, antar aku ke suatu tempat,” pinta Taeyeon lembut sambil memakai safety belt-nya.

“Kemana?” tukas Jiyong tanpa menoleh lawan bicaranya. Ia tiba-tiba menertawai diri sendiri. “Aku benar-benar manajermu?”

“Jalan saja, nanti kutunjukkan,” ujar Taeyeon yang sudah tidak ingin berdebat karena pasti akan memakan waktu lama untuk mengakhirinya.

Taeyeon bersandar dan mengingat percakapannya dengan ibu saat kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Masih terekam dengan jelas percakapan itu di otaknya.

“Dia datang membawa sekeranjang buah. Dia tidak menanyakanmu karena mungkin mengira kau masih di SM. Woobin benar-benar pria yang baik.”

Uluman senyum dari Taeyeon tercipta, yang kemudian gadis manis yang tengah tersipu ini membuka tas kecilnya dan tampak sebuah kunci pintu unik juga klasik dengan kepala kunci berbentuk kupu-kupu. Percakapannya kembali teringat.

“Ini. Jaga kunci baik-baik, jangan sampai hilang. Bagaimana kau bisa masuk tanpa itu? Untuk kunjungan pertamamu lakukan siang ini juga. Kunjungan selanjutnya kau akan melakukannya delapan hari sekali setiap pukul sebelas lebih sebelas malam dan selesai pukul satu pagi. Itu waktu yang tidak bisa kau atur sendiri. Karena, pada kedua waktu itulah pintu utama akan otomatis terbuka dan menutup.

“Kau tidak boleh terlambat sedetikpun. Lebih baik kesana lebih awal daripada tidak bisa masuk. Sangat bahaya, Taeyeon-ah. Jika ada orang lain yang bisa melihat kemampuanmu, maka orang itu yang akan menerima bahayanya.

“Untuk kunjungan pertama hari ini kau bisa datang dan pergi sesukamu, yang penting disana kau sudah merasa cukup dengan apa yang harus kau ketahui dan lakukan. Mianhae, eomma tidak banyak bisa membantu. Jaga dirimu, Kim Taeyeon.”

Helaan nafas panjang Taeyeon terdengar mengingat penjelasan eomma-nya. Wajahnya datar, tidak tahu harus bagaimana menanggapi ini.

Kenapa ini harus terjadi padanya? Sudah cukup dengan kemampuannya sejak dulu, dan sekarang apa? Ada peraturan dan jadwal baru.

Belum lagi jika ia terlambat, akibatnya akan menimpa orang yang bisa melihat kemampuannya. Itu artinya orang itu adalah Kwon Jiyong.

Taeyeon tidak ingin orang lain ini menerima bahaya akibat perbuatan-perbuatan yang Taeyeon sendiri kadang tidak sadari. Jiyong adalah korban yang tidak tahu apapun.

Tugas Taeyeon terasa semakin berat. Karena, secara tidak langsung Taeyeon harus melindungi seorang G-Dragon.

Ia menoleh jendela mobil, memperhatikan keberadaan mereka, “Ah! Berhenti disini.”

Mobil Jiyong tepikan, Jiyong heran begitu mengetahui tempat yang dimaksud gadis ini disebelahnya ini.

Changdeokgung Palace? Untuk apa dia kemari?

Begitu safety belt-nya berhasil dilepas, Taeyeon segera keluar dan menutup pintu setelah berterima kasih.

Tidak ingin memikirkan apa yang sebenarnya ingin dilakukan gadis berkemampuan tak terduga itu, Jiyong kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat serta gadis itu.

***

Langkah Taeyeon kini membawanya sampai didepan jembatan yang bernama Geumcheongyo Bridge.

Taeyeon membawa langkahnya menaiki jembatan, terus melangkah hingga tengah-tengah jembatan. Begitu menginjakkan kaki di tengah jembatan, kedua mata Taeyeon yang tertuju pada taman Biwon.

Akibat injakkan kaki Taeyeon ditengah jembatan tersebut, area Biwon itu perlahan mengeluarkan sinar. Kini sinar putih itu menutupi seluruh Biwon. Muncullah bangunan bersinar yang dimaksud ibunya.

Bahkan Taeyeon perlahan melebarkan matanya dan mulutnya terbuka karena takjub melihat pemandangan didepannya.

Kembali Taeyeon menyelesaikan tapakannya di jembatan. Ia mendekat pada tempat itu dan nalurinya kembali mengamati seluruh tempat bercahaya tersebut dengan sesekali mendongak.

Dengan perlahan dan penuh hati-hati, ia melangkah melewati pintu. Satu hal diluar dugaannya, saat melewati gerbang itu cahayanya tidak menyilaukan sama sekali.

Berhasil melewati gerbang itu, selanjutnya, Taeyeon melihat pintu kedua yang bercahaya pula. Ia melirik tangan kanannya yang sudah menggenggam kunci pintu kedua.

Sebuah pintu yang hanya cukup dilewati dua orang secara bersamaan.

Pintu yang terbuat dari besi ringan yang dililit beraneka macam bunga cantik penuh warna.

Ia menghampiri pintu itu dan mencari lubang kunci.

Dimana? Tidak ada.

Seperti gerbang sebelumnya, pintu ini hanya dipenuhi cahaya. Ia coba melangkah masuk tanpa kunci pun hasilnya nihil. Tubuhnya terasa seakan didorong cahaya pintu itu.

Hampir menyerah, Taeyeon memasukkan kunci itu disembarang titik tempat, yakni di titik didepannya yang paling dekat.

Kuncinya berhasil masuk di lubangnya! Tapi, Taeyeon tidak bisa melihat lubang kunci itu, hanya bisa merasakannya.

Jantungnya berdegup kencang menunggu pintu itu bisa ia lewati, lumayan takut sebenarnya. Takut dengan segala apa yang terjadi padanya ditempat maya yang baru pertama kali ia lihat dan kunjungi hari ini.

Sriiing…

Selangkah Taeyeon mundur cepat dengan suara yang berasal dari pintu yang perlahan cahayanya menepi menjadi hanya di sisi-sisi pintu, tidak memenuhi pintu seperti pertama kali pintu itu muncul didepannya.

Gadis innocent face itu memberanikan diri melewati pintu yang akan membawanya pada Secret Butterfly Garden sesungguhnya.

Berhasil melewati pintu, kakinya terhenti seketika. Untuk kesekian kalinya, kedua mata Taeyeon melebar melihat pemandangan ini. Yang tadinya adalah Biwon atau taman istana kerajaan disini, sekarang ditempat ia berdiri, bukan lagi taman istana melainkan Secret Butterfly Garden yang sungguh indah.

Lebih indah dari Dubai Butterfly Garden maupun taman bunga Hitachi Seaside Park di Jepang.

Pandangannya ia edarkan ke seluruh taman yang membuatnya sulit untuk mengatakan sesuatu, bahkan jika itu memuji. Kakinya juga belum sanggup melangkah lebih dalam lagi.

Taeyeon mengerti seperti apa Secret Butterfly Garden yang terus memenuhi pikirannya setelah pemberitahuan dari eomma-nya.

Secret Butterfly Garden, sebuah taman luas dipenuhi berbagai macam bunga serta banyak Butterfly berbagai warna yang beterbangan kesana kemari. Butterfly yang terlihat malas-malasan diatas bunga pun tak luput dari pandangan gadis mungil yang terus menganga ini. Harum semerbak bunga-bunga memenuhi hidungnya. Menakjubkan.

Gadis itu kembali melangkah. Belum tiga langkah, ia sangat terperanjat karena dikejutkan dengan sosok pria tinggi yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

Bukan muncul secara tiba-tiba dengan kekuatan sihir seperti peri dalam cerita dongeng. Tapi, pria ini muncul dari sisi kanan dekat pintu.

Taeyeon sendiri juga tidak mengerti bagaimana bisa ia tidak menyadari keberadaan pria yang menatapnya penuh ramah. Mungkin karena Taeyeon terlalu disibukkan dengan ketakjubannya.

Taeyeon tidak melepaskan pandangan terkejutnya dari pria manis, tampan dan wangi alami ini yang tengah tersenyum manis sekali padanya.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di Secret Butterfly Garden. Jae ireumeun Kim Hyunjoong imnida. Penjaga tetap tempat ini.”

“Kim Hyunjoong?” tanya Taeyeon yang terus menerus terperangah ditempat ini.

“Halo, Kim Taeyeon,” ucap pria itu.

“Darimana kau tahu namaku?” Taeyeon kaget.

“Namamu tertulis ditempat ini.”

“Sejak kapan?”

“Saat kau lahir.”

“Hari kelahiranku?” sama sekali Taeyeon tidak menduganya. “Mm… Peri Hutan….”

“Maaf. Tapi, aku bukan Peri Hutan, aku penjaga taman ini,” sela Kim Hyunjoong dengan polosnya tanpa menanggalkan senyum manis di wajahnya itu.

Dahi Taeyeon berkerut, lalu Taeyeon tersenyum tipis mengangguk-angguk, tidak ingin mengecewakan pria dengan senyum yang begitu manis ini. Apapun sebutannya, bagi Taeyeon pria ini bukan sekadar penjaga taman. Sebab, taman yang dijaga Kim Hyunjoong adalah Secret Butterfly Garden, taman maya yang sangat cantik dan tidak bisa dilihat orang lain.

“Lalu, aku harus bagaimana Peri Hut… tidak, maksudku, Peri Penjaga?” tanya Taeyeon hati-hati dengan senyum manis pada Kim Hyunjoong.

Penjaga taman Hyunjoong mengulurkan tangan mempersilakan gadis itu untuk masuk taman lebih dalam dengan senyuman yang tidak tertinggal.

Melihat senyuman itu, Taeyeon merasa terhipnotis. Bagaimana dia bisa punya senyuman seperti itu? Tapi, ia cepat sadar dari pengaruh senyum itu lalu mengangguk menerima ajakan Hyunjoong. Sebelumnya, Taeyeon menoleh pintu itu yang kembali tertutup cahaya. Ada perasaan cemas di dirinya. Ia disini akan baik-baik saja, bukan?

“Tenang saja, Kim Taeyeon. Mungkin terasa menakutkan karena ini pertama kalinya kau datang. Selanjutnya, kau akan terbiasa. Pertemuan hari ini tidak lama, hanya satu jam. Pertemuan berikutnya, pasti kau sudah tahu waktunya,” ujar Kim Hyunjoong seraya melangkah pelan mendampingi Taeyeon menyeimbangkan langkah gadis mungil ini yang terlihat kecemasannya oleh Hyunjoong.

Taeyeon hanya menoleh pada pria penjaga itu dengan senyum mengangguk.

Tidak begitu jauh dari pintu tadi, terdapat bangku taman kayu dengan dua lampu taman disampingnya.

Taeyeon memilih duduk di bangku yang muat untuk tiga orang dewasa.

Taeyeon sangat senang ada pria seperti itu disampingnya, pasti hatinya cantik dan indah seperti kupu-kupu. Ia menoleh pada Hyunjoong, keduanya saling menatap senyum.

“Duduklah,” tawar Taeyeon melihat Hyunjoong hanya berdiri disampingnya. “Ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu.”

Dengan sopan dan tanpa canggung, Hyunjoong menurut dan duduk disebelah Taeyeon.

Tunggu! Taeyeon menyadari sesuatu. Apa itu tadi? Benarkah penglihatannya kali ini? Sesuatu yang rindukan benarkah dapat ia lihat lagi?

Taeyeon terperangah saat melihat kupu-kupu putih keluar dari mulutnya. Ia yakin tidak salah lihat. Dan, ia sangat yakin itu bukan kupu-kupu yang berasal dari taman. Ditatapnya penjaga taman Kim Hyunjoong dengan tatapan lebar meminta penjelasan secepatnya.

“Itu juga, ‘kan salah satu yang ingin kau tanyakan?” ujar Kim Hyunjoong tersenyum dengan manisnya.

***

Berbagai warna kupu-kupu terbang mengelilingi Taeyeon yang kini telah berganti memakai gaun merah muda panjang dengan rambut terurai.

Gadis ini duduk diantara bunga-bunga seraya memandangi kupu-kupu beterbangan disekelilingnya, sesekali jari-jari mungilnya terulur untuk berusaha sekadar menyentuh kupu-kupu didepan, samping, maupun diatasnya.

“Wajar hari ini kau mengalami banyak keterkejutan disini. Kim Taeyeon, setiap kali kau memasuki Secret Butterfly Garden ini kau bisa melihat kemampuanmu. Tapi, setelah keluar dari sini kau tetap tidak bisa melihatnya. Sampai kapan aku juga tidak tahu.

“Yang harus kau lakukan adalah rutin kemari dan itu akan membuatmu tetap memiliki kemampuan meskipun tidak bisa kau lihat. Sekali tidak datang kesini setelah kau tahu tentang taman ini kau akan membuat hidup seseorang sangat kesakitan, menderita karenamu. Bukan hanya orang itu, kau juga akan menghilang dari orang-orang yang kau sayangi. Mungkin selanjutnya kau akan terkurung disini.”

Setelah mengalami semua ini, Taeyeon merasa semakin yakin untuk tidak menolak kemampuannya dan dirinya merasa sangat istimewa dengan apa yang dimilikinya dan tidak dimiliki orang lain.

Taeyeon yang kembali duduk disebelah Hyunjoong melontarkan sebuah pertanyaan.

“Aku bisa ketempat ini karena kesalahanku, ‘kan? Kata eomma jika aku tidak ceroboh dengan menyalahgunakan kemampuanku, aku tidak perlu kemari. Apa ini semacam takdir?”

Gadis itu tertunduk meresapi kesalahannya. Tetap saja harusnya ia tidak bertemu tempat ini, dengan begitu ia akan hidup lebih tenang tanpa terbebani tambahan jadwal ketempat ini.

“Takdir. Mungkin benar. Takdir yang mengharuskan kau kesini,” ujar Hyunjoong. “Kesalahanmu adalah hal yang bisa dilakukan semua manusia. Kau tidak perlu merasa bersalah. Kau adalah gadis istimewa walaupun kehilangan kemampuan melihat kupu-kupumu.”

Semua jawaban Hyunjoong, Taeyeon cerna baik-baik. Dirinya istimewa. Ditatapnya Hyunjoong yang tersenyum mendamaikan, membuat Taeyeon perlahan mengangkat senyum tipisnya.

Gadis itu kembali menatap seluruh taman, menikmati semuanya. Memang belum waktunya untuk selesai di tempat ini dan Taeyeon juga masih ingin berlama-lama di tempat ini.

Selain ‘terapi’, ia juga ingin menghirup udara setelah pekerjaan sebagai seorang idola membuat tubuhnya penat dan sangat butuh refreshing.

***

“Aku sedang di Changdeokgung Palace.”

Yuri membaca pesan balasan dari Taeyeon atas pesan menanyakan keberadaan eonni sekaligus eomma-nya itu.

Ponsel Yuri letakkan diatas meja dan tersenyum seraya mengangkat bahu juga kedua alisnya. Ia menatap Jiyong didepannya yang tengah asyik dengan minuman musk melon juice-nya.

Merasa diperhatikan, Jiyong membalas tatapan adiknya. Keduanya saling tersenyum yang tengah berada di sebuah cafe.

“Ayo, ke sebuah tempat setelah ini,” ajak Yuri.

“Kemana?”

***

“Kenapa kita kemari?” protes Jiyong menahan Yuri yang terus menarik lengannya. Jiyong tidak pernah tahu adiknya membawa ke istana Changdeokgung, karena tidak menjawab saat ditanya tempat mana yang dituju. “Harusnya aku tidak membiarkanmu menyetir jika tahu kita akan ketempat ini.”

“Eoh?! Kalian disini?” tanya Taeyeon terkejut yang bertemu keduanya di jembatan Geumcheongyo. Ia hendak pulang tapi dua manusia ini muncul.

Tidak lupa Taeyeon memberi salam dengan sedikit menganggukkan kepala pada Jiyong yang dibalas anggukan kecil juga.

“Eonni, kau sudah selesai dengan urusanmu?” tanya Yuri melepas pegangan lengan Jiyong.

“Baru saja,” angguk Taeyeon. “Sekarang aku mau pulang.”

“Kami baru sampai dan ingin menjemputmu sekaligus jalan-jalan disini. Pulang denganku saja, aku bawa mobilmu,” ucap Yuri. Taeyeon hanya tersenyum, tidak terkejut dengan fakta Yuri membawa mobilnya.

“Kalian baru sampai?”

“Iya. Kita tadi beli minuman. Jamkkanmanyo. Aku akan mengambilnya,” ucap Yuri yang langsung berbalik pergi.

Tinggallah mereka berdua, Jiyong dan Taeyeon. Saling terdiam dan sama-sama mengalihkan pandangan.

Taeyeon lebih memilih menatap lantai ubin, sementara Jiyong mengarahkan mata kedepan, tampak sebuah tangga didekat pohon tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Pohon yang tengah dibersihkan oleh seorang ahjussi yang menaiki pohon tersebut dari dahan-dahan kering yang hampir atau sudah patah namun masih tersangkut di pohonnya.

Sementara itu, Taeyeon tidak bisa terus seperti ini, menunduk dan diam. Iapun perlahan melangkah maju sedikit menunduk dan perlahan menjauhi pria itu.

Namun, rencana kabur diam-diam Kim Taeyeon rupanya disadari oleh Jiyong. Jiyong mendongak ke arah pohon beberapa saat, kepanikannya muncul dengan kedua mata yang melebar.

Cepat Jiyong melangkah maju menendang tangga didekat Taeyeon menggunakan kaki kanannya. Diraihnya segera dari belakang tubuh mungil Taeyeon yang langsung memejamkan mata karena begitu terperanjat.

Kaki kanan Jiyong sedikit tidak seimbang akibat daratan yang tidak mulus dari tendangan tangga baru saja yang menyebabkan pinggulnya terhentak dan tertahan dengan keras serta tiba-tiba pada pembatas jembatan yang sangat keras tepat dibelakangnya. Namun, Jiyong tetap merengkuh erat tubuh mungil Taeyeon.

Bersamaan dengan itu sebuah dahan lumayan besar jatuh tepat disamping mereka.

Taeyeon sangat terkejut mendengar suara dahan itu, kedua matanya makin terpejam rapat. Setelah dirasa tenang, ia membuka matanya dan langsung melihat dahan kayu tergeletak didekatnya.

“Jeoseonghamnida! Jeoseonghamnida! Aku tidak tahu ada orang dibawah sana!” seru ahjussi panik.

Jiyong dan Taeyeon hanya terdiam.

“Neo kwaenchana?” tanya Taeyeon panik pada Jiyong tanpa bisa melihat wajah Jiyong yang masih memeluknya dari belakang. Kupu-kupu kuning bersinar itu muncul dari mulut bergetarnya. Karena, Taeyeon takut.

Dengan datar, Jiyong menanggapi,

“Harusnya aku yang tanya seperti itu. Kau baik-baik saja?”

TO BE CONTINUED

***

Bagaimana, setiap chapter lebih enak dibagi dua part atau tidak?

Dan, ternyata Kim Hyunjoong adalah seorang… 😊
Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.
Gamsahamnida.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

28 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 )

  1. lebih suka langsung aja thor. keburu penasaran… soalnya nunggu 1 chapter udah lama, jangan dibagi lagi huhuhu… #maksa xixixi…

  2. lebih suka langsung aja thor. keburu penasaran… soalnya nunggu 1 chapter udah lama, jangan dibagi lagi huhuhu… #maksa xixixi..

  3. Kalo kata aku langsung 1 aja thor, nunggu 1 aja udah berasa kayak digantung ama pacar berbulan bulan apa lqgi di bagi 2 😵 wkwkwk

  4. Taeyeonnya lucu banget sihhhhhh apa lagi gdnya jutek jutek gimna gitu, trs turiii ihhh ucul banget gituuu. Di tunggguuuu lohhh nextnyaaaa

  5. Panjangin aja thor.. biar ga kecewa karna nunggu updatannya… penasaran banget nih… apalagi sama tugas taeyeon yg musti terapi jam 11 malam… kok tae ga nanya ke eomma soal kupu kupu yg diliat jiyong..

  6. Authornim di chap 5 kemaren.. kan ada preview chap 6 kan. Tetap menunduk, Taeyeon semakin mengeluarkan air matanya didepan leader BIGBANG.
    Perlahan Jiyong menarik gadis mungil dengan innocent face itu ke dalam pelukannya.
    “Lampiaskan padaku,” pinta Jiyong setelah melepas pelukannya.
    Ditatapnya gadis itu dengan tatapan dalam dan lembut.
    Aku nungguin banget.. semoga updatenya cepet ya uthornim.. fighting

  7. Gk usah dijadiin 2 part thor, nanti makin pnasaran krena nunggu chapter slanjutnya itu lama thor…
    Gk sbar sma chapter slanjutnya.
    Fighting!!!!!

  8. Huh padahal suka langsung 1 chapter aja thor gak usah di bagi”, soal nya ku lebih suka baca chapter yang puanjangggg, salah satu ff favorit, nexy chap di tunggu secepatnya

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  19. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  20. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s