Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 5 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome back to readers in my Fan Fiction 🙂

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Note:

Annyeonghaseyo, reader’s 😃

Bagaimana ceritanya? Silakan yang ingin memberi pendapat, kritik dan saran tulis di coment.

Untuk reader’s yang bertanya ketemu ide FF ini bagaimana? Apakah terinspirasi dari drama Korea?

Jadi, ini murni ide muncul begitu saja saat saya mendengarkan lagu G-Dragon – Butterfly. Kayanya kok menarik kalau buat FF fantasi tentang kupu-kupu dan cast-nya tidak dihilangkan profesi sebenarnya mereka. Dan, ini bukan terinspirasi dari drama Korea.

Kalau judul baru mirip judul drama Korea I Can Hear Your Voice sama acara musik terkenal Korea I Can See Your Voice.

Ada yang masih ditanyakan? 😃

Dan, silakan nikmati GTAE moment yang kalian tunggu.

Jeoseonghamnida, jika ada typo.

Semoga di mengerti.✌

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

CHAPTER 5

TONIGHT

“Bagaimana jika kedua peristiwa di waktu yang sama itu ada hubungannya dengan kalian? Kemampuan oppa melihat kemampuan Tae eonni. Mungkinkah ada hubungannya dengan kencan dan sakit kepala yang kalian alami di waktu bersamaan?” Yuri menebak-nebak.

Mereka bertiga saling menatap. Sekaligus berpikir bagaimana jika itu benar terjadi?

Beberapa saat kemudian mereka menyadari situasi mereka.

“Ah, aku tidak apa selanjutnya. Ini sudah malam, kita akan cari tahu lagi besok mengenai ini. Ayo, eonni,” Yuri tersenyum lebar memecah ketegangan diantara mereka.

Yuri menurunkan kakinya dari ranjang dan memakai sandalnya.

“Apa kau sangat kesakitan? Jika kau kesakitan karena apa yang kulakukan, aku minta maaf. Saat aku sedang bahagia justru kau sakit karenaku. Jeongmal jeoseonghamnida,” sela Taeyeon dengan mengeluarkan kupu-kupu kuning bersinar.

Tersentak Jiyong akan Taeyeon yang mengeluarkan kupu-kupu membuat Yuri yang urung bangkit dari ranjang memicingkan mata pada Jiyong. Tiba-tiba kedua matanya melebar, menyadari sesuatu.

“Oppa, kau baru saja melihat kupu-kupu Tae eonni, ‘kan? Iya, ‘kan? ”

Jiyong menatap Taeyeon lalu beralih pada bibirnya yang langsung ditutup oleh Taeyeon dengan tangan mungilnya.

“Ne,” jawab Jiyong singkat tanpa menatap mereka dan kembali membaca buku.

“Warna apa, oppa?” tanya Yuri semakin penasaran.

“Kuning, bukan?” tebak Taeyeon. “Yang aku sendiri belum tahu artinya.”

Tatapan membenarkan tertuju pada Jiyong. Yuri sedikit kecewa karena belum bisa mengetahui arti warna kuning di kupu-kupu milik Taeyeon.

“Kau bilang tidak perlu menanyakan warna itu pada ibuku, tanyakan nanti saja. Tapi, untuk masalah sakit kepalamu akan aku tapi tanyakan walau kau menentang. Karena aku tidak mau ada orang lain kesakitan karena kebahagiaanku. Entah bahagia seperti apa yang dimaksud tapi, aku menjadi tidak tenang jika itu benar-benar terjadi,” tutur Taeyeon menatap serius Jiyong dengan memunculkan kupu-kupu kuning bersinar kembali.

“Terserah kau saja,” ucap Jiyong setelah beberapa saat diam.

Suasana kembali diam beberapa saat.

“Eonni, coba katakan sesuatu. Aku ingin tahu itu tulus atau tidak lewat Ji oppa. Aku rasa ini menyenangkan,” pinta Yuri senyum berharap.

“Kemampuanku bukan lelucon,” sergah Taeyeon melirik Jiyong, pria yang pernah menganggap kemampuannya sebagai lelucon.

Menyadari sindiran itu untuknya, Jiyong mengalihkan pandangan menghindar.

“Sebentar saja. Ayolah,” desak Yuri.

Jiyong menatap Yuri yang berlebihan dengan permintaannya. Taeyeon bimbang menatap Yuri, berat hati jika menolak.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Taeyeon akhirnya setengah malas.

“Eonni, jawab aku. Apa minggu-minggu ini kau sempat merasa kesal dengan Lee sajangnim?”

“Ani,” jawab Taeyeon cepat.

Jiyong cepat menoleh tercengang pada Taeyeon karena tidak ada kupu-kupu yang muncul.

“Ah, mian. Harusnya aku tidak tanya tentang management karena ada Ji oppa disini,” sesal Yuri tersenyum meringis.

“Kwaenchana,” balas Taeyeon seraya melirik Jiyong, berharap tidak mengatakan bahwa ia tidak mengeluarkan kupu-kupu atas pertanyaan Yuri baru saja.

“Tapi, oppa, apa kau melihat kupu-kupunya?” lanjut Yuri.

Lirikan Jiyong dibalas tatapan takut-takut oleh Taeyeon.

“Tidak,” jawab Jiyong tanpa rasa bersalah setelah terdiam beberapa saat.

Dua gadis itu tercengang, untuk keterkejutan yang berbeda. Taeyeon geram karena pria itu terlalu jujur sementara Yuri terkejut karena Taeyeon sempat merasa kesal pada CEO-nya beberapa waktu lalu.
Tapi, Yuri tidak menyalahkan eonni sekaligus leader-nya saat ia teringat perkataan CEO Lee pada Taeyeon mengenai new single SNSD.

“Wae, eonni?” Yuri coba menanyakan alasannya.

“Itu karena sajangnim memintaku untuk selalu…”

Ucapannya langsung terhenti ketika menatap Jiyong. Tidak mungkin baginya untuk mengatakan harus harus mengalahkan BIGBANG secara terang-terangan didepan leader-nya. Walau dunia tahu hampir setiap lagu memang berusaha untuk menjadi nomor satu.

Jika mengatakannya disini, yang jadi korban paling merasa tidak enak adalah Yuri, yang merupakan member Girls’ Generation sekaligus adik leader BIGBANG, Kwon Jiyong.

Yuri pun mengerti. Baru saja Yuri mengerti, yang namanya Yuri jika penasaran maka ia akan tetap mencari tahu sampai rasa penasarannya hilang. Kini, ia tidak peduli lagi jika Jiyong tahu.

Jika pertanyaan Yuri kali ini dijawab Taeyeon, Yuri merasa itu sudah cukup. Sebenarnya sampai sejauh ini Taeyeon mau untuk jujurpun cukup.

“Tapi, apa kau masih menyimpan kekesalan itu sekarang, eonni?

“Aku sudah melupakannya,” sahut Taeyeon tanpa memunculkan kupu-kupu. Karena, sejujurnya gadis ini masih menyimpan sedikit rasa kecewa pada CEO-nya itu.

“Benarkah?” tanya Yuri memastikan.

“Tanyakan saja padanya,” jawab Taeyeon menunjuk Jiyong dengan wajah kecilnya.

Yuri menurut, “Oppa, dia mengeluarkan kupu-kupu?”

“Ne. Kupu-kupu biru bersinar sedang menuju kearahmu sekarang,” ujar Jiyong kali ini menutupi ketidakjujuran Taeyeon pada Yuri.

Sebab, pandangan gadis mungil itu padanya membuat merasa bersalah jika ia mengatakan hal yang tidak diinginkan gadis innocent face itu, yakni tentang kebenaran ia tidak melihat kupu-kupu dari mulutnya.

“Ah… Itu sudah cukup,” kata Yuri tertawa sambil.

Untuk membuat suasana tidak canggung juga tegang, Jiyong balas tertawa sambil mengelus rambut Yuri yang sebenarnya ia tekan sedikit keras karena merasa kesal dengan pertanyaan-pertanyaan adiknya.

Taeyeonpun jadi ikut tertawa melihat keduanya tertawa.

“Apa kau menyukai kemampuanmu?tanya Jiyong mengubah topik bicara.

“Belakangan ini aku sempat membencinya, tapi sekarang tidak,” ungkap Taeyeon seraya tertawa kecil.

Terdiam sejenak Jiyong saat mendapati kupu-kupu yang muncul, ia tersenyum lebar.

“Kau melihat kupu-kupu itu, ‘kan? Warna kuning, ‘kan? Aku yakin kau melihatnya, sangat jelas terlihat di wajahmu,” timpal Taeyeon tertawa dengan lebih santai, mulai tanpa canggung.

Selanjutnya, Yuri menunggu jawaban dari Jiyong.

“Ne, aku melihatnya.

Jawaban Jiyong berhasil membuat Yuri tertawa sambil bertepuk tangan.

Tidak ada kecanggungan lagi yang terlihat diantara mereka. Suasana malam hari yang semakin dingin berubah hangat karena mereka menikmati suasana santai itu.

Malam memang semakin larut, tapi mereka enggan untuk mengakhiri obrolan yang semakin menyenangkan.

***

Di YG’s dance room, BIGBANG tengah break dari latihannya. Jiyong yang bersandar di dinding cermin melihat Yuri masuk.

“Kalian masih latihan?” sungut Yuri mendekati Jiyong.

Jiyong bangkit menyusulnya.

“Dan kenapa kau selalu menganggu latihan kami?gemas Jiyong hingga ia mengetuk-etuk dahi Yuri menggunakan ruas telunjuk kanannya.

Yuri cepat memejamkan kedua matanya rapat serta menggigit kecil bibir bawahnya menerima perlakuan kakaknya.

Membuat member lain tertawa kecuali Youngbae yang merasa kasihan. Namun, Youngbae akhirnya tersenyum juga karena Yuri terlihat sangat lucu saat ketakutan pada kakaknya.

“Memangnya aku menggangu?” tanya Yuri setelah Jiyong menyudahi ketukannya yang lumayan keras dan masih terasa hingga sekarang.

“Iya dan itu salah. Minta maaf,” pinta Jiyong berusaha tidak tertawa melihat Yuri memeriksa dahinya.

“Mianhae.”

“Terlihat tidak tulus.

“Biarkan seperti itu! Aku bukan Taeyeon eonni yang….”

Hppp!!

Seketika tangan Yuri terbekap oleh tangan keras Jiyong. Yuri menatap tajam pada kakaknya, tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia mulutnya ditutup begitu rapat.

“Ada sesuatu di mulutmu,” kata Jiyong pada adiknya. Senyum ia tujukan pada member lain lalu pada Yuri.

Setelah dirasa tenang, Jiyong melepas bekapannya dengan Yuri yang kesal.

“Oppa!”

“Dia itu… terkadang tidak memperhatikan dirinya sampai tidak sadar ada coklat di giginya,” bohong Jiyong kembali mengetuk-etuk dahi Yuri seraya menatap empat member lain. Lalu, Jiyong mendekat pada adiknya dan berbisik dengan geram. “Kau tidak akan membunuh eonnimu, bukan?”

Yuri terperangah dan sadar. Dalam batinnya ia berterima kasih pada kakaknya karena cepat menutup mulutnya sebelum ia benar-benar mengatakan rahasia Taeyeon.

Tapi, Yuri kembali mengeluh,

“Sakit….”

***

D-DAY

BIGBANG WORLD TOUR MADE IN SEOUL

Ribuan VIP memasuki antrean konser. Berbagai atribut konser mulai dipersiapkan. Lightstick, banner, bando, sticker untuk wajah dan masih banyak lagi serta yang paling penting adalah ponsel. Atribut-atribut tersebut siap menemani konser idola mereka.

Kemudian, mereka mulai memasuki arena konser.

VIP’s Lightstick atau dikenal dengan Crown Lighstick mulai menyala kuning terang, menerangi arena konser.

Para fans mulai menyerukan nama BIGBANG saat konser benar-benar akan dimulai.

BIGBANG stand by di bawah stage yang akan otomatis bergerak membawa mereka keatas, ke hadapan VIP.

3… 2… 1… GO!!!

Loser…

Teriakan semua fans riuh terdengar kala BIGBANG perlahan muncul dari bawah stage membawakan lagu Loser, salah satu single andalan BIGBANG.

Just a loser oetori sangcheoppunin meojeori

Deoreoun sseuregi geoul soge nan I’m a

Soljikhi sesanggwa nan eoullin jeok eopseo

Holloyeotdeon naegen sarang ttawin beolsseo

Ithyeo jinji orae jeo sigan soge

Yuri yang ikut ke konser menyaksikan BIGBANG dari samping di backstage, tersenyum dan sedikit ikut menari.

Melihat kakaknya bekerja diatas panggung, ia teringat akan spekulasinya terhadap Taeyeon. Bagaimana jika sakit kepala yang kakaknya alami benar terjadi karena Taeyeon dan Woobin?

Taeyeon bersama Woobin?

Ya, Taeyeon sempat memberitahunya kalau malam ini ia ada janji kencan dengan Woobin.

Yuri terhenyak, lalu melirik Jiyong yang tengah menyanyi dan menari full energetic. Bagaimana jika kakaknya tiba-tiba pusing kembali dengan apa yang dilakukan Taeyeon dan Woobin tanpa sepengetahuan mereka bertiga jika memang ada kaitannya?

Yuri harus cari akal. Ia cepat menelepon Taeyeon. Setidaknya hati-hati, berjaga-jaga atau atau mungkin mencegah dengan kemungkinan yang akan terjadi pada Jiyong jika semua itu saling terkait.

“Halo, Taeyeon eonni?”

“Ada apa, Yuri-ah?”

“Eonni, bisakah kau membantuku?”

***

Jiyong dan Seunghyun menuruni stage untuk mempersiapkan lagu mereka berikutnya. Sementara tiga member lainnya tengah berbincang dengan fans secara santai dan hangat.

Sepasang kaki kecil mengenakan flatshoes milik seorang gadis berlari susah payah menuju backstage dan menimbulkan suara, membuat perhatian Jiyong juga Seunghyun teralihkan pada asal suara tersebut.

Tampak seorang gadis mungil muncul menghampiri mereka dan bertanya,

“Kwon Jiyong, kau baik-baik saja?” serta merta gadis itu bertanya dengan kupu-kupu bersinar yang keluar dari mulutnya.

Jiyong hanya memperhatikan gadis itu, Kim Taeyeon. Kenapa Taeyeon ada di tempat konsernya?

Mengabaikan, Jiyong pergi meninggalkan Taeyeon menuju ruang ganti diikuti Seunghyun. Taeyeon belum puas, ia mengejar leader BIGBANG itu ke ruang ganti.

Saat hendak ganti kostum, Jiyong melihat gadis mungil itu masuk. Jiyong sudah tidak tahan lagi. Dihampirinya gadis itu.

“Apa maumu? Kau mau mengganggu jalannya konser?”

“Yuri…”

“Yuri?” heran Jiyong. Akhirnya Jiyong menunduk menghela nafas. Gadis itu berulah lagi. Ia menatap Taeyeon. “Apa katanya?”

“Katanya kau sempat pingsan saat hendak naik stage dan itu…” tiba-tiba ucapannya menggantung ketika dilihat banyak orang di ruang ganti itu. Ia harus menjaga rahasia. Taeyeonpun mendekat untuk berbisik, “Dan itu karenaku. Sakit kepala dan pingsanmu mungkin karenaku, karena kemampuanku. Itu spekulasi Yuri. Makanya aku kemari.”

“Itu hanya spekulasi,” gumam Jiyong saat Taeyeon menjauh dari telinganya.

“Aku juga berpikir seperti itu. Mana mungkin kau akan pingsan saat aku berkencan dengan pacarku. Yuri membuatku merasa bersalah padamu. Aku jadi harus pergi dari kencan.”

“Dimana Yuri?”

“Pulang sebelum aku sampai. Itu yang dikatakan kru konser tadi.”

“Anak itu…” geram Jiyong.

“Tapi, bagaimana jika spekulasi itu benar?” pikir Taeyeon menggumam berharap Jiyong tidak mendengar.

“Maka, kau harus disini sampai konser selesai. Untuk jaga-jaga, benar?”

Taeyeon tersentak. Tapi, tidak bisa menolak begitu saja ucapan Jiyong. Ia tetap berdiri disana saat Jiyong kembali untuk ganti kostum.

Ia bahkan tetap disana setelah dua member BIGBANG tampan dan terkesan bad boy itu selesai ganti kostum dan make up.

Mereka sekali lagi memeriksa penampilan mereka dicermin, keduanya saking mengajak untuk keluar dari ruang tersebut. Member tertua itu berjalan mendahului Jiyong yang dibelakangnya.

“Jiyong-ssi.”

Jiyong yang sudah didekat pintu untuk keluar setengah berbalik menatap gadis mungil itu yang memanggilnya. Panggilan itu juga membuat Seunghyun yang sudah kelaur ruangan menoleh dan menghentikan langkahnya untuk berbalik.

“Wae?” tanya Jiyong.

Taeyeon tidak menjawab pertanyaan Jiyong, gadis itu justru menghampiri dan memperhatikan kancing kedua dari atas hampir terlepas.

“Jeoseonghamnida,” ucap Taeyeon lalu membenarkan kancing agar terpasang kembali, sementara kancing teratas memang dibiarkan terbuka.

Terhenyak Jiyong dibuatnya, begitu juga Seunghyun dan manager serta penata rias yang merapikan peralatan make up.

Jiyong memperhatikan gadis itu beberapa saat tapi cepat mengalihkan pandangan kearah lain.

“Selesai,” ucap Taeyeon.

Tanpa berterima kasih Jiyong keluar ruangan.

GD&TOP melangkah berdampingan di lorong dengan Taeyeon serta manager BIGBANG dibelakangnya.

GD&TOP bersiap menaiki tangga menuju atas stage setelah Jiyong sesaat melirik Taeyeon. Membuat gadis itu sedikit tersentak.

Menghilangkan rasa gugupnya, Taeyeon beralih mengambil botol air di meja kecil tak jauh darinya lalu menghampiri Jiyong. Gadis yang semakin gugup itu buru-buru membuka botol di tangannya dan cepat meneguknya tanpa sabar.

Namun, tiba-tiba ia tersedak dan melebarkan kedua matanya, mengingat itu adalah milik Jiyong. Karena ia sempat menyaksikan Jiyong meminum air dari botol itu sesampainya kemari dari ruang ganti.

Lagi-lagi ia meminum bekas pria itu.

Pabo! Kenapa ia tidak cepat menyadarinya? Apa ia benar-benar gugup dengan situasi ini namun berusaha menutupi kegugupannya dari orang lain bahkan dari diri sendiri?

Lagu Zutter yang juga menjadi salah satu single BIGBANG di album MADE tengah GD&TOP nyanyikan di atas stage, dihadapan para VIP yang membludak.

Seperti konser-konser sebelumnya, Jiyongpun melakukan aegyonya. Telunjuk kiri menunjuk pipinya sementara Seunghyun ikut mengulurkan telunjuk kanannya pada pipi Jiyong.

“Jiyongie…”

Jeritan semua fans terdengar kala Jiyong melakukan aegyo dibantu Seunghyun. Fan chant terus diserukan sepanjang lagu.

Aegyo itu juga sempat terlihat oleh Taeyeon, saat gadis itu tidak sengaja menoleh GD&TOP. Cepat Taeyeon mengalihkan pandangan kearah lain, yakni pada botol air milik Jiyong didekatnya.

Buru-buru ia memperingati diri yang hampir kembali meminum air itu. Sepertinya ia harus sering mengingat jika itu milik Jiyong.

Karena terlalu sibuk dengan aktivitasnya setelah turun dari stage, Youngbae, Daesung serta Seungri baru menyadari adanya Taeyeon disana.

“Eoh? Noona,” salam Seungri diikuti Youngbae juga Daesung.

Hanya senyum pasrah yang terbentuk dari bibir Taeyeon lalu balas memberi salam.

“Kenapa disini? Kau tidak ada jadwal?” tanya Youngbae yang kemudian meminum air mineralnya.

“Yuri… Itu karena Yuri. Yah, ada sesuatu yang membuatku harus kesini. Tapi, Yuri pergi.”

Nama Yuri disebut, Youngbae langsung menatap gadis itu dan ingin menghubungi Yuri, tapi tidak bisa karena ia harus kembali ke stage setelah perform GD&TOP.

“Apa dia menaiki mobilnya sendiri?” lanjut Youngbae.

“Eh, hey, hyung… Kau penasaran, ya?” goda Daesung dan hanya dibalas tatapan sesaat.

Dan, Youngbae tidak mempedulikannya.

“Sepertinya begitu,” jawab Taeyeon.

“Iya. Dia membawa mobil sendiri kesini,” sambung Seungri yang menenggak airnya seraya keringat diwajahnya diseka oleh asisten.

Tiga member BIGBANG itu diiring menuju ruang make up untuk ganti baju setelah melirik sesaat aksi panggung dan membuat Taeyeon kembali menoleh stage. Tampak Jiyong tengah melambaikan tangannya pada fans sambil bernyanyi.

Gadis itu terus menatapnya dengan sesekali mengatupkan bibirnya.

Kini, konser selesai namun BIGBANG siap mengeluarkan beberapa beberapa lagu sebagai encore, kali ini lagu yang tengah dibawakan berjudul Tonigt.

Confetti bertaburan dengan benar-benar meriah.

Dari awal sampai akhir konser baik BIGBANG maupun para VIP tidak lengah semangat pada konser tersebut.

***

BIGBANG beserta seluruh crew saling high-five dan mengucapkan terima kasih atas keberhasilan konser.

BIGBANG giliran memasuki ruang make up bersama manager dan penata rias juga Taeyeon tentunya.

Gadis Kim itu memberikan waktu sejenak untuk Jiyong yang duduk didepan cermin rias. Hingga Jiyong berpikir kenapa gadis itu terus mengikutinya? Apa obrolan singkat tadi belum cukup untuk membuat Taeyeon bersikap tenang saja?

Botol berisi air mineral yang dibawa Taeyeon saat kemari dan diletakkan diatas meja rias, Jiyong ambil dan meminumnya habis seketika. Membuat Taeyeon yang melihatnya membulatkan mata penuh dan tersenyum. Ia menoleh pada member lain, mereka juga melakukan sama seperti leader-nya.

Tidak heran mereka menghabiskannya, seluruh tenaga BIGBANG digunakan untuk memberikan performance terbaik di BIGBANG WORLD TOUR MADE IN SEOUL.

Sebelum ada yang memulai percakapan anatara mereka, CEO Yang Hyun Suk masuk ke ruangan tersebut.

Tatapannya langsung tertuju pada leader SNSD yang tadi sudah sempat bertemu dengannya. Ia beralih pada Jiyong yang duduk didepan kaca rias.

“Jiyong, apa kau ada masalah dengan Taeyeon? Aku perhatikan Taeyeon terus mengikutimu. Jika ada hal pribadi yang ingin dibicarakan pulanglah dengannya. Aku akan menjamin media dan orang-orang tidak ada yang tahu.”

Taeyeon, Jiyong juga member lain tercengang mendengarnya.

“Kita sudah selesai. Tidak perlu, sajangnim,” tolak Jiyong.

“Tapi, kenapa Taeyeon terus mengikutimu sampai sekarang? Taeyeon, kau ingin bicara dengan Jiyong?” tanya CEO Yang.

Itu…” Taeyeon ragu.

“Kau bawa mobil?” tanya CEO Yang diiyakan Taeyeon. Pulanglah denagn mobilmu tapi akan kuberikan supir untuk kalian.”

“Maaf, tapi bisakah aku yang menyetir saja tanpa supir?”

Tatapan tajam Jiyong langsung ia lemparkan pada gadis yang sepertinya akan membuat masalah baru.

“Kau tidak akan menculiknya, bukan?” sela Seungri tiba-tiba yang sudah siap untuk pulang.

“Menculiknya?” Taeyeon tertawa tak percaya. “Siapa yang mau menculik pria seperti dia?”

Sekali lagi tatapan tajam si pria yang dimaksud Taeyeon tertuju gadis itu. Member BIGBANG lain juga CEO Yang menatap Taeyeon heran. Maka, Taeyeon menyudahi tawa yang berujung canggung dihadapan orang-orang beda agensi.

“Kau kurang tepat, noona. Harusnya ‘siapa yang tidak mau menculiknya? Bukankah dia pria kaya, tampan dan berbakat?’” koreksi Seungri bergurau.

Hyunsuk tersenyum tipis karena, apa yang dikatakan maknae itu benar adanya.

Dengan sedikit sombong, Jiyong berdeham seraya menarik sesaat kerah baju disisi kanannya, membenarkan ucapan Seungri pandanya.

Melihat Jiyong, Taeyeon mencibir kecil, tapi ia tak menyangkal ucapan Seungri.

“Mianhaeyo, aku hanya bercanda,” ucap Taeyeon senyum. Dan, ia harus mengembalikan suasana hangat mereka seperti tadi. Jadi, bagaimana, CEO Yang?”

***

Ditolak.

Taeyeon dan Jiyong pulang dengan supir. Mereka tidak boleh menyetir sendiri.

Didalam mobil menuju perjalanan pulang ke apartemen BIGBANG, Taeyeon dan Jiyong hanya terdiam menatap lurus ke depan.

Wajah masing-masing tampak kaku, terlalu kaku untuk membuka pembicaraan.

“Ekhm…”

Mereka cepat bertatapan saat menyadari dehem bersama. Cepat pula mereka saling menghindari pandangan setelahnya.

Dirasa tenang, Taeyeon menarik nafas dan membuka pembicaraan.

“Neo….”

“Mwohae?” sela Jiyong cepat.

“Biarkan aku bicara,” tukas Taeyeon kesal menoleh Jiyong sejenak, ia harus tetap hati-hati menyetir.

“Ada apa?” lanjut Jiyong tetap menatap depan.

“Tidak jadi,” Taeyeon ragu karena ada supir bersama mereka. Mana mungkin ia membahas kemampuannya saat ada orang lain yang bisa mendengarnya.

“Tidak jadi?” heran Jiyong.

Taeyeon terdiam beberapa saat dan mengangguk dibalas tatapan tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dimaksud gadis ini.

Tidak ingin berbuntut panjang, Jiyong terdiam hingga Taeyeon melirik sejenak padanya.

“Kau tidak nyaman?” Taeyeon coba bertanya pada pria di sebelahnya.

“Ini akan segera sampai. Jadi, aku harus bertahan sedikit lagi,” jawabnya ringan.

“Jadi, maksudmu ini tidak nyaman?” Taeyeon menatap tak percaya.

“Akan terasa nyaman jika kau diam,” kata Jiyong berhasil mendiamkan gadis itu.

“Terserah kau saja,” ketus Taeyeon menyerah.

Jiyong bersandar dan memejamkan kedua matanya.

“Neo…” lirih Jiyong agar tidak terdengar supir dan membuka matanya. “…mampu mengeluarkan kupu-kupu dan yang mampu melihatnya adalah aku.”

“Aku juga merasa aneh,” Taeyeon mengangguk. “Karena yang aku tahu, hanya ibuku yang bisa melihat kupu-kupunya selain aku.”

“Apa kau berpikir sesuatu?”

“Mungkin ini sebuah takdir,” cetus Taeyeon tanpa sadar, keluar begitu saja ucapannya.

“Takdir?!” Jiyong tersentak, cepat menegakkan duduknya menoleh gadis itu. Dan, yang dapat ia lihat adalah wajah samping Taeyeon yang tirus.

“Ani, maksudku….”

“Kau bercanda, ya? Karena tidak ada kupu-kupu yang keluar,” terka Jiyong semakin berbisik yang membuat gadis itu terdiam. “Apa kupu-kupunya tidak keluar saat kau bicara spontan walau itu tulus?”

“Na mwolla.”

“Mwolla wae? Kau baru kehilangan melihat kemampuanmu beberapa waktu lalu, lebih banyak waktu kau melihat kupu-kupu itu. Apa kau tidak pernah bicara spontan yang pada akhirnya kau biarkan karena toh itu tulus? Tidak pernah?” Jiyong menatap gadis itu tidak percaya.

“Tentu saja pernah,” cibir Taeyeon “Kadang ada kupu-kupunya kadang tidak.”

“Aku bisa memahaminya. Tapi,….”
“Berhentilah bertanya!” potong Taeyeon ketus.

“Kau takut, ya?” tambah Jiyong mengangkat sudut bibir kanannya.

Gadis itu hanya menatap Jiyong beberapa saat lalu memilih diam.

***

Sang supir berhasil memarkir mobilnya di basement apartemen tempat BIGBANG tinggal.

“Terima kasih, pak. Sisanya akan aku urus sendiri,” ucap Taeyeon pada sang supir. Maka, supir itu keluar dari mobil setelah mengangguk pada Taeyeon. Taeyeon melepas safety belt dan menoleh Jiyong ketika hendak membuka pintu.

Gadis itu terhenyak dengan leader BIGBANG yang rupanya sudah terlelap ditempat duduknya. Entah sejak kapan pria Kwon itu tertidur, dan terlihat begitu lelap sekarang. Kepalanya bersandar di kursi, memperlihatkan lelapnya seorang G-Dragon yang lelah akibat konser.

Urung membuka pintu mobil, justru Taeyeon menatap, terus menatap lelapnya Jiyong. Tidak tega membangunkannya.

Tapi, sampai kapan ia akan tertidur seperti itu? Mereka juga harus cepat ke apartemen untuk menghindari media yang mungkin saja terlewat dari pengawasan orang-orang Yang Hyun Suk, seperti janjinya untuk tidak khawatir.

Dengan terus memandang wajah lelah itu, Taeyeon berpikir cara membangunkan pria itu tanpa mengusik ketenangannya dan membuatnya kesal.

Kepala Jiyong yang menghadap sedikit keatas berubah menjadi kearah Taeyeon yang tersentak dengan pergerakan tiba-tiba dari pria itu.

Buru-buru Taeyeon mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil didekatnya dan kembali menatap depan.

Ketika Taeyeon melirik Jiyong, lirikannya berubah melebar penuh sebab kepala Jiyong perlahan jatuh ke samping. Cepat-cepat Taeyeon menahan kepala Jiyong di bahunya.

Masih terperangah Taeyeon dengan posisinya sekarang. Diliriknya Jiyong sejenak yang tetap terlelap. Untunglah.

Taeyeon menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan seraya menatap depan, mencoba tenang. Ini tidak akan terjadi apa-apa.

Ia harus percaya pada CEO Yang, yang sudah menjamin tidak ada media yang muncul di sekitar mereka.

Jiyong sedikit meringkuk kedinginan. Menyadari itu, Taeyeon mengambil mantelnya yang untung sudah ia lepas dari sebelum menyetir lalu diselimutkan pada tubuh Jiyong yang memang terasa dingin saat tidak sengaja Taeyeon menyentuh lengannya.

Tampaknya dari pandangan Taeyeon, Jiyong merasa lebih hangat sekarang.

Selang beberapa waktu, van BIGBANG tiba dan parkir tepat disebelah kanan mobil Taeyeon, tapi Taeyeon tidak menyadari kehadiran van tersebut.

Bahkan, gadis itu tidak bermaksud menengok kearah van berada karena jika ia tetap melakukannya, mungkin akan membuat Jiyong terjaga karena posisi kepala mereka yang begitu dekat, bahkan bisa dibilang tanpa jarak.

Taeyeon tidak mau Jiyong terjaga sekarang. Bahkan, ia mencoba untuk menahan nafas. Bukan apa-apa, hanya tidak mau Jiyong terkejut saat terbangun mendapati dirinya bersandar dibahu Taeyeon.

Sempat mencoba untuk memindahkan kepala Jiyong ke kursi, tapi tetap tidak bisa. Sulit dan berat. Taeyeon berharap ada seseorang yang menolongnya dari situasi ini.

Dari van itu, satu persatu member BIGBANG turun.

“Benar, ‘kan ini mobil Taeyeon noona? Itu sebabnya aku minta parkir disini,” ringis Daesung lalu mengikuti Seunghyun juga Youngbae yang berjalan melewati depan mobil Taeyeon.

Melihat mereka bertiga lewat, Taeyeon terperangah. Beruntung kaca mobil Taeyeon lumayan gelap. Semoga mereka tidak menyadari keberadaannya dan Jiyong yang masih didalam mobil.

Tetap saja, mereka bertiga merasa ada yang aneh dan berhenti didepan mobil, menoleh kearah mobilnya. Mereka mengamati mobil itu dan seakan melihat ada orang didalam mobil mewah berwarna putih itu.

Si maknae yang muncul belakangan dan masih didekat van menyadari sikap mencurigakan hyung-hyungnya. Ia akhirnya coba mendekati pintu mobil sebelah kanan, tempat Jiyong duduk.

“Noona, apa yang kau lakukan disana?” Seungri agak berseru melihat keadaan dalam mobil dengan membungkukkan badannya.

Taeyeon terbelalak saat melirik Seungri dan melihat lainnya, cepat Taeyeon mendorong keras kepala Jiyong kearah jendela yang tentu saja membuat Jiyong terbangun sebab terkejut.

Beruntung kepala Jiyong tidak mengenai kaca jendela. Leher Jiyong semakin sakit. Juga, mantel yang sempat menghangatkan badannya tergeletak begitu saja tanpa Jiyong sadari.

Empat member BIGBANG yang diluar pun terkekeh melihat masing-masing raut wajah mereka.

“Wae geurae?!” bentak Jiyong pada gadis itu dengan mengacak-acak rambutnya sendiri. Tatapan tidak percaya ia tujukan pada gadis yang kini juga menatap lebar padanya, tapi, lumayan takut mendengar bentakannya.

Terasa sakit juga akibat dorongan kerasnya.

Taeyeon tidak menyalahkan Jiyong yang menbentaknya, karena memang kesal jika terbangun sangat tiba-tiba seperti itu saat sedang lelap-lelapnya. Tapi, tetap saja ia menatap kesal pada Jiyong yang marah.

“Kalian pura-pura, ya?” Daesung justru menggoda, mengabaikan sikap ribut mereka.

Lalu, nasib Daesung selanjutnya? Ia sukses mendapa tatapan membunuh dari Jiyong juga Taeyeon.

Taeyeon memilih untuk keluar mobil dan menempatkan diri disebelah Seunghyun.

Jiyong juga tidak ingin berlama-lama di mobil ini. Maka, seperti gadis itu, Jiyong yang masih kesal membuka pintu mobil dengan keras. Sepertinya Seungri kurang beruntung malam ini. Karena, Seungri yang masih penasaran dengan keadaan dalam mobil membuat dorongan pintu itu mengenai kepalanya hingga terasa pusing dan berkedut cepat.

“Ah, hyung! Kau bisa permisi, ‘kan?!” erang Seungri memegangi kepalanya dengan tangan kirinya.

“Kau tidak bisa lihat aku akan keluar?” tandas Jiyong lalu keluar dan menatap mereka semua.

“Kwaenchana, Taeyeon-ah?” tanya Seunghyun yang merangkul bahunya menatap gadis mungil itu.

“Eung…” angguk Taeyeon seraya menatap Jiyong yang juga tengah menatapnya kesal.

“Kalian akan tetap disini?” ujar Jiyong datar.

Lalu, leader BIGBANG itu mengantongkan tangannya di saku celana dan melangkah masuk setelah menatap beberapa saat Taeyeon.

***

Satu persatu member BIGBANG memasuki apartemen.

Jiyong dan Taeyeon kembali saling menatap kesal saat masuk bersamaan dan ingin lebih dulu masuk.

Daripada semakin lama, Taeyeon mengalah dengan mundur dan berdiri disamping manager. Cibiran kecil Taeyeon tujukan pada leader itu. Tidakkah leader itu tahu yang namanya first ladies?

Taeyeon mempersilakan manager untuk masuk lebih dulu, namun manager itu justru memintanya masuk dulu. Gadis yang dari awal merasa terjebak itu tersenyum menurut.

“Aku akan langsung pulang,” ucap sang manager BIGBANG setelah semuanya berkumpul di ruang tamu kecuali Jiyong yang dari awal masuk apartemen langsung ke dapur.

“Tidak jadi ikut after party?” Seungri yang pertama menanggapi.

“Lain kali saja, terima kasih,” sahut manager tersenyum.

Manager,” panggil Jiyong yang keluar dari dapur membawa sebuah kotak makan ukuran sedang. “Ini untukmu, kimchi buatan ibuku.”

Manager menerimanya dengan senang dengan tetap merasa tidak enak hati, “Gamsahamnida.”

Melihat sikapnya, Taeyeon merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin jika rekan member dan manageryang melihat akan terasa biasa saja, tapi tidak dengan Taeyeon. Pria swag and bad boy yang bermarga Kwon itu tampak berbeda dari yang Taeyeon ketahui. Jiyong, bukankah dia tampak sangat ramah?

***

Beberapa botol wine sudah berjajar rapi di ruang tengah dengan semuanya sudah berkumpul termasuk Taeyeon yang merasa tidak nyaman juga canggung, karena wanita sendiri.

Ditengoknya beberapa kali jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kanannya. Hampir lewat tengah malam dan Yuri belum tiba juga. Yuri tidak akan menginap di rumahnya, ‘kan? Taeyeon sudah tidak betah di tempat ini.

Malangnya, Taeyeon tidak bisa pulang tanpa seizin Yuri. Ah, entahlah apa mau Yuri. Dia ingin menghindarkan dirinya bertemu dengan pacarnya? Hah, yang benar saja.

Kegelisahan gadis itu tertangkap oleh Jiyong yang memegang cocktail berisi wine. Terkejut saat Taeyeon mendapati Jiyong tengah menatapnya, hanya tatapan datar dari pria itu yang membuatnya semakin risih.

Taeyeon memilih berdiri dan melangkah pergi namun langkahnya terhenti dengan panggilan tiba-tiba dari sang maknae.

“Kau akan kemana, noona?”
Hanya senyum dipaksakan dari Taeyeon seraya menjawab, “Ke toilet.”

Jiyong menatap langkah buru-buru gadis itu sampai tak terlihat. Sepertinya gadis innocent face itu benar-benar merasa sangat canggung berada di tengah-tengah lima pria yang mempunyai kesan terkenal bad boy. Wine yang ada ditangannya ia minum perlahan.

“Jiyong-ah,” tegur Youngbae yang duduk disebelah Jiyong menyenggol lengannya. “Bagaimana bisa kau tertidur seperti itu?”

“Maksudnya? Aku melakukan hal aneh saat tidur di mobil itu?” tanya Jiyong mengingat-ingat kejadian apa yang dimaksud Youngbae.

“Kau tertidur di bahunya. Mwollayo?” heran Youngbae. “Mantelnya bahkan menyelimutimu.”

Jiyong yang benar-benar tidak tahu, menoleh kearah perginya gadis penolongnya. Selesai Youngbae bercerita, Jiyong langsung tahu orang yang dimaksud adalah siapa lagi kalau bukan Kim Taeyeon.

Ia teringat saat kepalanya terdorong keras oleh gadis itu, rupanya ntuk menghindari salah paham memberlain. Ia juga teringat saat Taeyeon menatapnya kesal setelah ia membentaknya tanpa menunggu alasan kenapa gadis innocent itu mendorong kepalanya.

Rasa bersalah menghampiri Jiyong, bukannya berterima kasih justru kesal pada gadis itu. Apalagi bahu gadis itu pasti terasa berat yang menjadi sandaran kepalanya.

Jiyong memilih minum kembali wine di tangannya tepat saat Taeyeon kembali dan duduk. Jiyong dan Taeyeon saling menatap yang dilanjutkan dengan Taeyeon yang mengambil gelas berisi wine, tapi gadis innocent face itu melihat keadaan di meja. Sadar, minumannya hanya ada wine di sana.

Gelas yang sudah di tangannya, Taeyeon letakkan kembali.

“Taeyeon-ah, kau tidak minum?” tanya Youngbae melihat Taeyeon yang seakan tidak suka minuman dihadapannya.

Tersentak, Taeyeon menggeleng pada Youngbae dengan senyum meringis.

“Wae?” sambung Daesung cepat.

“Aku tidak bisa minum. Aku akan ambil air putih saja,” ucap Taeyeon kembali beranjak dan pergi ke dapur.

“Benar-benar innocent face,” timpal Youngbae tersenyum seperginya Taeyeon.

“Kurasa bukan hanya wajahnya, sikapnya juga,” tambah Seunghyun ikut tersenyum. Yang tidak lama kemudian si gadis innocent face kembali dengan segelas air putih di tangannya. “Aku menunggumu untuk bersulang, Taeng.”

“Ayo, bersulang,” ajak Daesung mengangkat gelasnya.

“Ayo!” seru Seungri baru terdengar suaranya.

Karena, maknae itu sibuk sendiri. Sedari tadi ia minum mendahului hyung-hyungnya. Akibatnya, maknae panda itu lebih dulu sudah mulai terperanguh alkohol. Bersulang pun matanya sedikit terpejam.

“Untuk keberhasilan konser kita!” seru Seunghyun semangat. “Geonbae!”

“Geonbae!”

Balas semua yang ada di ruangan itu kecuali Taeyeon yang hanya tersenyum.

Dentingan gelas yang saling beradu terdengar beberapa kali saat bersulang. Kemudian langsung meminum wine masing-masing, sementara Taeyeon air putih seorang diri.

***

Semua member BIGBANG mabuk. Sangat mabuk.

Mulai dari Daesung dan Seungri yang sekarang tertidur bersebelahan bersandar di kursi. Lainnya pun tertidur. Sesekali mereka menggeliat, dan… tertidur kembali.

Juga, sebelum mereka tertidur mabuk, Taeyeon sudah melihat kebiasaan mabuk mereka. Menurutnya, Seunghyun yang paling lucu melebihi maknae-nya saat mabuk.

Taeyeon bangkit dari duduknya, menggigit kuku jarinya seraya memandangi lima pria tak berdaya dihadapannya.

Sekarang, ia bingung mengurus pria-pria ini.

“Kenapa aku harus terjebak diantara mereka?” gumam Taeyeon berkerut kening. Yuri? Ah, benar. Cepat Taeyeon mengambil ponsel di tasnya lantas menelepon gadis yang membuatnya dalam situasi seperti sekarang ini. “Yeoboseyo, Yuri-ah, jebal….”

“Aku tahu maksudmu, eonni. Aku sudah ada didepan apartemen.”

“Oh, keurae. Ppali, aku benar-benar tidak bisa menangani pria-pria ini,” ujar Taeyeon kemudian memutuskan line telepon.

Kembali Taeyeon memandangi mereka yang tidak lama kemudian pintu apartemen terdengar dibuka. Pasti Yuri.

“Eonni, mereka sudah benar-benar mabuk?” seru Yuri yang tengah melepas sepatunya dan cepat-cepat menuju tempat mereka berpesta.

Setibanya ditempat berpesta, yakni ruang tamu, tiba-tiba Yuri dikejutkan dengan bangunnya Youngbae yang menghampirinya.

“Neo… Apakah kau Yuri?” tanyanya dengan suara mabuknya yang tidak karuan.

“Ne…” jawab Yuri pelan dengan senyum kaku.

Sepertinya Youngbae tidak terlalu memperhatikan jawaban gadis itu, karena ia kembali ke samping Jiyong dan tertidur.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika hanya aku yang mengurusnya,” keluh Taeyeon melihat keadaan mereka.

“Hmm…” Yuri memandang keadaan para pria swag yang tengah layu sekarang, ia berkacak pinggang.

“Eotteokhae?” Taeyeon berharap Yuri menemukan cara mudah menangani mereka berlima.

“Ayo, eonni, kita lempar mereka ke kamarnya satu persatu. Mereka benar-benar merepotkan,” cibir Yuri menurunkan kacak pinggangnya. “Dan, dari mana kita memulainya, eonni?”

Satu persatu Taeyeon pria yang tertidur itu, memilih mana yang akan pertama diurus.

Manik mata Taeyeon berhenti saat menatap Seungri, Taeyeon tersenyum.

***

Seungri, Daesung juga Seunghyun sudah teratasi. Sudah berada dikamar masing-masing dengan usaha susah payah mereka Taeyeon dan Yuri.

Mereka kembali ke ruang tamu, tinggal dua member, Jiyong dan Youngbae. Tampak wajah mereka canggung melihat pria yang merupakan sisa tugas yang belum terurus.

“Sepertinya kita bisa masing-masing satu orang. Mana yang akan kau pilih? Jujur saja, kau memilih Youngbae, bukan?” goda Taeyeon sesungguhnya menutupi kecanggungan.

Yuri mengulum senyumnya, tersipu.

Akhirnya, dengan beberapa saat sempat canggung diantara keduanya, Yuri membawa Youngbae dan Taeyeon tentu saja menangani Jiyong, mereka masuk ke kamar masing-masing pemilik kamar.

Tiba di ranjang, Taeyeon membaringkan Jiyong dengan sedikit terlempar karena terasa berat. Bukan sangat berat, tapi ia sudah merangkul dua tiga pria sebelumnya.

Ditatapnya pria yang sangat lemah akibat mabuk itu, dengan Taeyeon memasukkan tangan mungilnya ke kantong mantel yang sempat ia pakai untuk menyelimuti Jiyong, dan mantelnya sudah Taeyeon pakai kembali sejak dari basement.

Di kantong mantel itu, Taeyeon merasakan tangannya menyentuh sebuah benda.

FLASHBACK

Saat di basement, setelah Jiyong diikuti member lain, Taeyeon kembali menghampiri mobilnya untuk mengambil mantel yang dipakaikan pada Jiyong. Ia kesal dengan perlakuannya saat ini.

Gadis itu membuka pintu mobil dan cepat mengambil mantel di tempat Jiyong duduk. Kedua matanya tertuju pada sesuatu setelah berhasil mengambil mantelnya. Ponsel Jiyong tergeletak di sana. Tergeletak di bawah mantelnya.

Dengan kesal, Taeyeon mengambil ponsel tersebut. Lalu, menutup pintu. Ia memakai mantel dan menyakukan ponsel di mantel seraya memasuki gedung apartemen.

FLASHBACK END

Ponsel yang kini berada di tangan Taeyeon, ia coba nyalakan. Ia terhenyak dengan ponsel yang tidak lagi ter-password. Wallpaper-nya juga berubah menjadi Gaho.

Begitu ponsel terbuka yang terlihat adalah browsing terakhir Jiyong. Sepertinya pria itu lupa menutupnya atau buru-buru jadi tidak sempat ditutup.

Ia kembali menatap layar ponsel. Terlihat hasil browsing terakhirnya adalah keyword ‘Kompetisi Balerina Kim Soeun’ dengan sudah memuat banyak artikel terkait.

Taeyeon melirik leader yang tengah terlelap itu dengan simpati. Terlebih saat Taeyeon mengingat bagaimana berakhirnya hubungan mereka.

Gadis itu memutuskan untuk keluar dari web tersebut. Jarinya ingin menyentuh ikon pesan. Tapi, ia ingat tidak boleh membuka privasi orang lain. Ia tidak mau lebih dalam mengulik ponsel idol pria itu walau Taeyeon jujur, ia begitu sangat penasaran.

Cepat Taeyeon menggeleng, satu sentuhan di layar ponselnya sudah cukup, dan itu juga sudah bisa membuatnya berpikir apa Jiyong belum melupakan Soeun. Apa ia masih menyukainya setelah apa yang dikatakan Soeun saat berpisah.

Entahlah, Taeyeon hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu, menutup ponsel.

“Apa kau selalu melupakan barang penting ini. Tidak terlalu penting, ya, kau sering melupakannya?” gumam Taeyeon meletakkan ponsel di atas meja samping ranjang.

“Terima kasih ponselnya.”

Terkesiap mendengar suara berat nan lemah Jiyong, Taeyeon cepat menoleh kearahnya. Terkejut, karena pria yang sedikit membuka matanya tahu Taeyeon meletakkan ponsel disana.

“Apa kau… melihatku melakukan sesuatu pada ponselmu?” tanya Taeyeon ragu.

Tidak ada jawaban.

Taeyeon tersenyum karena Jiyong rupanya kembali terpejam. Sepertinya pria itu tidak tahu apa yang baru saja Taeyeon lakukan pada ponselnya.

Ia mendekati Jiyong dan memandangnya. Tangannya ia lambaikan didepan wajahnya, memastikan benar-benar tidur atau hanya pura-pura. Namun, ternyata benar tertidur kembali.

Saat menatapnya kembali, Taeyeon teringat kekesalan Jiyong padanya di mobil tadi.

“Setelah memakai bahuku, tidak ada ucapan terima kasih sedikitpun?” cibir Taeyeon. Yang kemudian menyelimuti Jiyong dengan kasar hingga selimut warna putih itu menutupi seluruh tubuh pria itu, termasuk wajahnya. “Terserah kau saja.”

Cepat Taeyeon berbalik pergi, tapi baru beberapa langkah ia memutar balik lagi badannya. Tidak tega bercampur kesal menatapnya.

Dihampirinya Jiyong dan membuka selimut yang menutup wajahnya dengan masih kesal. Setelah dirasa cukup cara menyelimutinya, Taeyeon kembali berbalik, meninggalkan tempat itu.

“Gomawo.”

Seketika langkah Taeyeon terhenti mendengar suara pria itu lagi.

Apa dia mendengarku? batin Taeyeon terperangah lalu berbalik. Semakin tercengang melihat Jiyong kembali membuka setengah matanya.

“Kau memikirkan spekulasi Yuri?”

“Tidak bisa tidak dipikirkan. Walaupun belum jelas tapi aku mencoba untuk berjaga-jaga seperti tadi,” tanggap Taeyeon tersenyum lebar dengan dari mulutnya keluar kupu-kupu kuning yang terbang mengepakkan sayap diantara mereka.

“Bohong.”

“Bohong? Aku tidak berbohong.”

“Tidak ada kupu-kupu. Kau tidak tulus.”

“Aku tidak bohong. Kau… Tidak melihatnya?” Taeyeon berkerut kening heran, padahal ia yakin kupu-kupunya pasti ada.

Pertanyaan itu, Jiyong hanya menatap Taeyeon diam dan sayu akibat pengaruh mabuk.

Sesaat Taeyeon terdiam menatapnya.

Tiba-tiba gadis berkemampuan yang dianggap aneh itu tersenyum. Bebannya sedikit berkurang karena Jiyong tidak melihat kupu-kupu yang keluar dari mulutnya. Padahal sebenarnya ada, Taeyeon yakin.

Pria bad boy ini tidak berbohong, ‘kan?

Jika benar, Taeyeon tidak akan melihat lagi raut wajah pria yang menyebalkan karena raut wajah dengan senyum mencibir yang sering ditunjukkan padanya saat bicara tidak tulus.

“Jadi, kau mengabaikan spekulasi adikku?” ulang Jiyong.

“Aku tidak mengabaikannya,” kembali kupu-kupu itu muncul seraya Taeyeon menatap Jiyong, berharap pria itu tidak melihat kemampuannya.

“Kau terus berbohong?” tuduh Jiyong berusaha menilik bibirnya walau matanya terasa berat.

“Kau benar-benar tidak melihatnya?” Taeyeon memastikan kembali dan mendekatkan wajahnya pada yang masih setengah mabuk itu.

“Apa aku yang kurang jelas? Karena, mungkin kau terlalu jauh,” pikir Jiyong menarik tengkuk Taeyeon dengan kedua tangannya yang masih lemah membuat Taeyeon terkejut menatap tajam pria yang menjadikan wajah mereka semakin dekat. Sembari memandang memandang bibirnya, Jiyong meminta pada Taeyeon, “Coba katakan sesuatu yang tulus.”

Karena Taeyeon butuh kejelasan, ia menurut saja.

“Aku… menyukai ibuku,” ucap Taeyeon sangat gugup dengan wajah mereka yang begitu dekat ditambah Jiyong terus memperhatikan bibirnya. Dan, tetap saja Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu kuning dengan sinarnya menerpa wajah mereka tanpa disadari keduanya.

“Bohong bahkan perasaan pada ibumu? Tidak ada,” geleng Jiyong melepas Taeyeon begitu saja.

Badan mungil itu cepat Taeyeon kuasai dan tegak dengan jantung yang berdegup kencang. Bagaimana Jiyong melakukan hal itu padanya? Hampir saja ia berharap Woobin datang menolongnya bak pangeran kerajaan.

Namun, saat ia kembali mengingat perkataan Jiyong, Taeyeon tersenyum dan berusaha tidak tertawa. Taeyeon sangat menyayangi ibunya, tentu. Walau Taeyeon tidak bisa melihat kupu-kupunya, pasti kupu-kupu itu muncul.

Ini benar-benar melegakan dengan hilangnya kemampuan Jiyong secara tiba-tiba. Padahal saat konser, leader BIGBANG ini masih dapat melihatnya.

“Kau… istirahat saja. Besok kalian akan kubuatkan sup pereda mabuk,” ujar Taeyeon senang dan penuh senyum, membuat Jiyong menatapnya heran dan memilih memalingkan pandangannya. “Wae? Shireoyo?”

“Apa kau bisa menyimpulkan sesuatu hanya dengan gerak tubuhku baru saja?” tanya Jiyong menoleh pada gadis yang tanpa ia ketahui tengah begitu senang. Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu, Jiyong memejamkan kedua matanya. “Sana keluar.”

“Jaljayo,” ucap Taeyeon yang tidak mempedulikan usiran Jiyong. Karena, tertutup rasa senang dengan pria itu tidak lagi mampu melihat kemampuannya.

Segera Taeyeon melangkah keluar menuju pintu dengan Jiyong yang membuka mata melirik melihatnya seraya setengah setengah bangun.

Namun, Jiyong cepat berbaring saat mendapati gadis mungil itu menoleh dan tersenyum lebar, sebelum gadis itu menyadari Jiyong tengah memperhatikannya.

Setelah keluar dari kamar Jiyong, Taeyeon memasuki kamar Seungri.

“Yuri-ah…”

Seraya menutup dan mengunci pintu, Taeyeon memanggilnya lalu berbalik dengan senyuman yang terus terpasang di bibirnya.

Sedikit kecewa, saat gadis yang dipanggilnya sudah terlelap manis di ranjang. Pantas tidak ada sahutan, padahal biasanya jika ia memanggilnya Yuri langsung menyahut dengan antusias.

Tidak masalah, Taeyeon kembali kembali mengulum senyumnya.

***

Sup pereda mabuk buatan Taeyeon dengan Yuri yang sangat sedikit membantu, sudah berada dihadapan para member BIGBANG untuk dinikmati. Yuri serta Taeyeon juga bergabung untuk sarapan bersama mereka.

Terdengar ponsel berdering. Itu ponsel Taeyeon karena ia yang tanggap bangkit dan mengambilnya di meja dapur dibelakangnya.

Dibukanya ponsel tersebut yang menunjukkan bunyi alarm sembari kembali duduk.

“Waeyo, eonni?” sela Yuri.

“Kurasa aku tidak bisa menyelesaikan sarapanku. Aku harus bertemu CEO,” ujar Taeyeon dengan raut wajah berubah muram tapi tidak disadari lainnya.

“Selesaikan saja dulu sarapanmu,” sambung Seunghyun kembali meminum kuah sup yang sudah ada dalam sendoknya.

Hanya tersenyum Taeyeon, sebelum ponselnya kembali berdering. Kedua matanya melebar saat melihat nama penelepon.

“Apa itu CEO?” tanya Yuri tersentak.

“Permisi,” pamit Taeyeon bergegas keluar dari ruang tersebut dengan telepon yang belum dijawab.

“Aku sudah selesai, aku pergi dulu,” Jiyong bersuara setelah melap mulutnya dengan serbet makan dan langsung keluar.

Tidak berselang lama, yang lainpun selesai dan pergi melanjutkan aktivitasnya. Kecuali Yuri, yang masih belum menghabiskan makanannya.

“Selalu seperti ini. Aku sendirian sekarang,” dengus Yuri melongok ke luar meja makan dengan makanan di mulutnya.

Gadis itu menelan makanannya dengan susah payah dan cepat minum lalu membersihkan mulutnya. Selera makannya hilang sudah karena fakta ia yang selalu terakhir selesai makan jika diantara BIGBANG.

Kesal dan geram, Yuri meninggalkan meja makan yang sekaligus dapur itu. Namun, baru beberapa langkah ia memutar balik badannya dan kembali dengan langkah yang anggun untuk membersihkan meja makan.

Sedang gadis yang satunya, yakni Taeyeon, ia membuka kamar Jiyong tanpa pikir panjang untuk bisa berbicara secara pribadi ditelepon. Juga, gadis itu tidak menutup kembali pintu kamarnya.

Jiyong yang melangkah santai menuju kamarnya, heran saat tiba didepan kamarnya. Pintunya sedikit terbuka, padahal ia ingat betul sudah menutupnya.

“Woobin-ah….”

Jiyong terhenyak dengan suara yang terdengar dari dalam kamarnya. Ia membuka pelan sedikit pintunya dan dapat melihat punggung gadis mungil Kim Taeyeon.

Mwo? Bukan CEO-nya melainkan kekasihnya, Woobin?

“Aku… tentu di apartemen Seonyeo Shidae,” jawab Taeyeon gugup.
Senyum sungging terukir di sudut bibir Jiyong. Gadis innocent itu tengah berbohong pada pacarnya.

Jiyong menghela nafas. Tidak ada maksud untuk Jiyong beranjak dari tempat itu. Ingin mendengar suara gadis innocent itu yang terdengar gugup selama bicara dengan Woobin.

“Ne,” Taeyeon tersenyum manis. “Ah, tidak perlu! Aku akan ke SM dengan Tiffany.”

Sebegitu gugupnyakah gadis itu? Jiyong kembali tersenyum.

“Ne, annyeong,” pungkas Taeyeon lalu menutup telepon.

Bernafas lega, gadis itu lalu berbalik untuk keluar.

Jiyong terbelalak, baru menyadari Taeyeon menyudahi perbincangannya. Cepat-cepat Jiyong meninggalkan tempat itu. Maka, saat Taeyeon keluar sudah tidak mendapati Jiyong disana.

Tidak lupa Taeyeon menutup pintu kamar Jiyong yang saat ini melangkah cepat menuju dapur, menghindari Taeyeon.

“Oppa, wae?” heran Yuri dengan kakaknya yang tiba-tiba masuk dimana Yuri tengah melap meja makan.

“Aku… sedikit merasa pedas. Pasti Pasti karena sarapan,” gugup Jiyong dan cepat mencari gelas juga teko untuk mendukung alasannya.

“Apa sarapan tadi ada rasa pedasnya?” Yuri bergumam pada diri sendiri.

Jiyong yang tengah minum, sebenarnya mendengar adiknya, tapi ia membiarkan saja. Memang tidak ada rasa pedas, tapi hanya alasan itu yang tiba-tiba muncul di otaknya.

Baru merasa tenang kembali, Yuri dikejutkan suara gelas yang diletakkan dengan keras oleh kakaknya. Tatapan tajam tertuju pada kakaknya, tapi ia tidak ingin memperpanjang insiden baru saja. Ia kembali membereskan meja makan dengan tatapan Jiyong tanpa ada maksud membantu.

Rupanya Taeyeon datang ke dapur membuat Jiyong terkesiap.

Kenapa harus kemari gadis itu?

“Eoh? Eonni, CEO mengatakan sesuatu?” tanya Yuri yang melihat Taeyeon datang.

“Geugae…” Taeyeon melirik Jiyong, tidak mungkin ia membicarakan hasil percakapan ditelepon bersama Woobin didepan pria itu. “Hanya ingin aku tidak lupa dengan janji hari ini.”

Yuri mengangguk senyum.

Selanjutnya, Taeyeon langsung membantu Yuri.

Kembali Jiyong menyunggingkan senyumnya dengan kebohongan Taeyeon yang kesekian kalinya Jiyong dengar pagi ini.

Kedua gadis yang saling senyum itu, Jiyong hanya menatapnya.

***

Kid’s Leader Seonyeo Shidae itu membetulkan posisi tas di bahunya dan bersiap pergi, melewati ruang tamu yang diisi member BIGBANG tengah bercanda, kecuali Jiyong.

“Ayo, kuantar,” ajak Jiyong muncul ke ruang tamu seraya merapikan mantel yang dipakainya.

Tampak Taeyeon berbalik terkejut.

“Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri,” tolak Taeyeon tersenyum sembari mulutnya muncul kupu-kupu kuning yang membuat Jiyong tersenyum simpul melihatnya.

“Mobilmu dipinjam Yuri. Benar, ‘kan, Yuri?” tanya Jiyong pada Yuri yang baru muncul di tengah-tengah mereka.

Tentu saja Yuri yang tidak tahu apa-apa terkejut dengan berkerut kening mendengar pertanyaan tiba-tiba dari kakaknya. Jiyong mengangkat kedua alisnya pada Yuri untuk mengiyakan saja apa yang diucapkan Jiyong.

“Iya. Aku akan pinjam mobilmu, eonni,” gugup Yuri akhirnya menurut dengan persekongkolan yang dibuat sepihak oleh Jiyong.

“Kalau begitu kau bisa mengantarku sampai apartemen,” usul Taeyeon.

“Aku beda arah,” sergah Yuri cepat, mulai setuju dengan rencana kakaknya. Walau tidak tahu apa maksud rencana itu.

Jiyong tersenyum menang melihat Taeyeon. Juga puas, adiknya sangat cepat membantu.

“Jiyong-ssi… Kau tidak perlu mengantarku. Aku akan telepon Tiffany untuk menjemput,” Taeyeon bergegas mengeluarkan ponsel dari tasnya namun urung saat kembali mendengar suara Jiyong.

“Kau tidak lihat aku sudah berpakaian rapi? Ini bukan untuk disia-siakan,” tanggap Jiyong disambut senyum member lain yang menahan tawa.

Taeyeon memperhatikan penampilan Jiyong yang kini tengah memakai kacamata hitamnya. Gadis itu hanya mendengus pasrah, tidak bisa mengalahkan kata-kata pria naga itu.

“Ne,” pasrah Taeyeon lirih namun dapat didengar semuanya.

“Mendengar kau mengurus kami tadi malam membuatku tidak nyaman,” bisik Jiyong saat lewat didekat gadis innocent face itu. Taeyeon tercengang. Belum berhenti berucap, dan juga bermaksud agar semua bisa mendengarnya, Jiyong menambahi seraya melangkah menuju pintu, “Setidaknya tanggapilah rasa terima kasihku mewakili BIGBANG.”

“Itu benar, noona. Ikutlah dengannya. Dia ingin berterima kasih,” bujuk Seungri dengan wajah merayunya yang membuat Taeyeo sulit menolak ajakan Jiyong.

Masih setengah ragu, Taeyeon menatap Yuri meminta pendapat. Yuri hanya berisyarat dengan mata untuk mengikuti Jiyong.

Hanya mengerucutkan bibir pasrah, Taeyeon cepat melangkah menuju pintu bahkan melewati Jiyong setelah memberi salam pada Yuri dan empat member BIGBANG lainnya.

Taeyeon menatap kesal Jiyong. Keinginan pria itu yang terus dipertahankan membuat Taeyeon menilai dia memang egois seperti yang dikatakan orang-orang.

Sementara itu pria bermarga Kwon itu tersenyum lebar, puas dengan permintaannya yang berhasil.

TO BE CONTINUED

NEXT CHAPTER

“Hey!!” teriak Taeyeon mendorong Jiyong yang jongkok di lantai hingga jatuh kebelakang.

Untung Jiyong cepat menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia jatuh terduduk diatas rumput. Tatapan tajam tertuju pada gadis itu.

“Hari yang panjang dan menyenangkan,” ujar Taeyeon sambil meregangkan otot-ototnya.

Tarikan nafas lega dengan senyum bahagia Taeyeon bentuk.

“Ah!!” seru Jiyong kesakitan yang langsung memegangi bahunya.

“Oppa, wae?! Jangan pura-pura!” Yuri panik.

“Yuri-ah, kau masuk dulu. Aku ingin mengucapkan selamat pada leader ini,” perintah Jiyong pada Yuri dengan tatapan tertuju pada Taeyeon.

Tetap menunduk, Taeyeon semakin mengeluarkan air matanya didepan leader BIGBANG.

Perlahan Jiyong menarik gadis mungil dengan innocent face itu ke dalam pelukannya.

“Lampiaskan padaku,” pinta Jiyong setelah melepas pelukannya.

Ditatapnya gadis itu dengan tatapan dalam dan lembut.

***

Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.

Gamsahamnida.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

26 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 5 )

  1. Yang pertama komen kan ?? 😀
    Ulala bikin aku senyum2 gaje saat kwon sibling bersekongkol :-* figting ya thor buat ngelanjutin ff nya, next nya sangat di tunggu

  2. whoooaaaaa!! akhirnya update jugaaakkk 😍😍😍 tiap hari nungguin cerita ini update… jangan lama2 lagi ya thor lanjutinnya xixixi sukaaa banget sama cerita gtae ini. maniiissss… 💖

  3. Gak sabarrrr nunggu chap selanjutnyaaaaaa, gak sabar nungguin gtae lagiiiiiii 😍😍😍😍
    … Semangat terusss ya thor

  4. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s