Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 4 )

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : Zuma

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

Welcome back to readers in my Fan Fiction 🙂

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Note:

Annyeonghaseyo, reader’s 😃
Bagaimana ceritanya? Silakan yang ingin memberi pendapat, kritik dan saran tulis di coment.

Yang menunggu GTAE moment, mohon bersabar. Sudah aku siapin, kok. 😊 Banyak, apalagi kalau urusan Jiyong – Soeun the end. 😉

Jeoseonghamnida, banyak enter yang tidak pada tempatnya.

Semoga di mengerti.✌

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

CHAPTER 4

I

“Mianhae, aku tidak bisa menemui mu disana. Aku ada di rumah. Kau mau datang? Aku akan menunggu.”

Jari-jari tangan gentle nan lentik Jiyong mengetik pesan untuk dikirimkan pada Soeun. Ia duduk di lantai teras depan rumahnya.

Ponselnya kemudian ia letakkan disampingnya, bersebelahan dengan sekotak kado berukuran sedang berwarna biru gelap. Dia mati nya kado dan mengingat gadisnya diberi bunga serta pelukan oleh Kim Bum.

Jiyong tersenyum menjernihkan pikirannya.

Benar. Ucapan selamat bisa dalam bentuk apa saja. Dan pria itu memberinya bunga dan pelukan. Itu sangat wajar. Mereka sekadar memberi dan menerima selamat.

Jiyong mengangguk meyakinkan diri semuanya akan baik-baik saja.

Pandangannya beralih lurus kedepan saat merasa ada seseorang datang. Soeun. Jiyong sedikit tidak percaya Soeun akan benar-benar mau datang.

Tentu Jiyong tidak akan melewatkan pertemuan yang hampir gagal. Kado disampingnya ia ambil sebelum berdiri dan menyambangi Soeun yang tersenyum melihat Jiyong. Ponselnya ia tinggalkan begitu saja di lantai.

Keduanya saling mendekat dan berhadapan. Matanya saling menatap. Banyak pertanyaan dimata Jiyong, tapi ia coba untuk menahan karena mungkin pertanyaan untuk gadisnya justru membuat Soeun kecewa.

“Kau datang?” sapa Jiyong lembut.

“Oppa bilang ingin bertemu sepulang konser,” jawab Soeun tersenyum manis.

“Maja. Aku ingin bertemu denganmu karena rindu. Bagaimana denganmu?” Jiyong tersenyum pahit, mungkin Soeun tidak merindukannya karena gadis itu hanya diam.

Kado ditangan Jiyong disamping badannya tertangkap oleh mata Soeun.

“Oppa…” cepat-cepat Soeun ingin mengutarakan maksudnya. Sebelum kado itu berpindah tangan padanya.

“Bukan disini, ‘kan? Ayo bicara didalam.”

“Apa ibumu dirumah?”

“Mianhae. Harusnya kita tidak bertemu disini.”

“Kenapa minta maaf?” tanya Soeun tertawa kecil namun tampak dipaksakan. “Aku selalu ingin menyapa ibumu yang belum menerima fakta kita berkencan. Maaf, aku akan menyapa ibumu, tapi tidak hari ini.”

“Disini dingin, masuklah,” sahut Jiyong bersabar.

Soeun menggeleng lembut, “Gomapta. Aku akan bicara langsung pada intinya. Oppa juga sudah tahu saat ditelepon….”

“Oh! Dinginnya. Benar-benar dingin sekali ya malam ini,” sela Jiyong tidak ingin mendengar kelanjutannya.

“Jangan menghindar, oppa,” balas Soeun.

Jiyong pasrah, ditatapnya manik mata gadis yang dicintainya, “Arraseo. Apa yang ingin kau katakan? Katakan sekarang.”

Perasaan tidak enak jadi menghampiri Soeun melihat Jiyong seperti itu. Tapi, Soeun tetap akan mengutarakan maksudnya.

“Oppa.”

“Apa?” balas Jiyong cepat membuat Soeun sedikit tersentak.

“Kau pasti sudah tahu maksudku, ‘kan?”

“Intinya apa? Kau bilang akan bicara langsung,” Jiyong siap sekarang dengan apapun yang terjadi dan akibatnya.

Soeun menarik nafas panjang lalu ditatapnya lekat-lekat kedua manik mata tajam namun sendu milik leader BIGBANG itu.

“Mari hentikan hubungan kencan kita mulai sekarang,” ucap Soeun memberanikan diri dengan hati-hati.

Tubuh Jiyong terpaku. Pandangannya tidak ia lepaskan dari gadis itu. Gadis yang dicintainya yang tengah meminta putus. Terkejut memang, tapi Jiyong berhasil menyembunyikannya dengan sempurna berkat sikap cool-nya. Tetap terkejut walau sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan diungkapkan gadis dihadapannya sekarang ini.

Sewaktu ditelepon Soeun juga sudah mengatakannya, dan pertemuan ini untuk memperjelas saja.

Pintu rumah terbuka oleh seseorang dari dalam tanpa mereka ketahui. Tampak si gadis mungil hendak keluar dari rumah namun cepat diurungkan sebab terperanjat melihat pasangan kekasih tengah bicara tidak jauh dari pandangannya.

Cepat-cepat Taeyeon masuk dan menutup pintu lalu perlahan kembali membuka sedikit pintu untuk mengamati mereka.

Tunggu. Mengapa Taeyeon bisa ada di rumah Jiyong? Ya, Yuri jawabannya. Melihat Taeyeon tidak bersemangat hari ini, maka adik Jiyong itu menyuruh Taeyeon menenangkan pikiran dan bermalam dirumahnya. Karena Yuri merasa rumahnya sangat tepat untuk suasana hati Taeyeon saat ini.

Sudut bibir kanan Jiyong menampakkan senyuman, ia mengalihkan pandangan sejenak.

“Aku diputuskan sekarang?” gumam Jiyong kembali membuat Soeun merasa bersalah.

“Diputuskan?” lirih Taeyeon tercengang mendengarnya. Dengan jarak seperti itu Taeyeon cukup bisa mendengar percakapan mereka.

“Aku bersalah tapi aku harus melakukannya, Ji oppa. Aku masih tidak tahu kenapa CEO Yang tidak mempublikasikan hubungan kita selamat tiga tahun. Rasanya semua sudah kubicarakan denganmu, jafi aku tidak mau membahasnya lagi. Jalani hidupmu dengan baik. Jujur saja, kau merasa tersiksa dan tertekan karenaku, bukan?”

Beberapa saat setelah Soeun terdiam menunggu jawaban, Jiyong pun bersuara,

“Aku tidak tersiksa dan tertekan sama sekali. Aku mengerti. Jalani hidupmu dengan baik juga. Aku tidak ingin mengganggu hidupmu lagi. Mianhada. Gomawo, kau sudah jujur. Setidaknya kau tidak pernah bohong padaku.”

“Ne?” spontan Soeun terkesiap. Tidak pernah bohong?

“Ada sesuatu?” tanya Jiyong penasaran. Soeun terhenyak dan menggeleng cepat. Kado yang Jiyong bawa sedari tadi disadari Jiyong, “Ini untukmu sebelum kau benar-benar pergi.”

Perlahan Soeun menerimanya setelah beberapa saat mengamati kado.

“Kubuka?”

“Bukalah,” sahut Jiyong senyum manis, seolah tidak terjadi apa-apa baru saja.

Masih mengintip, Taeyeon menyempitkan pandangan, penasaran dengan isi kado. Tapi, tetap saja tidak jelas apa isinya.

Kado berhasil dibuka. Ditangannya kini sudah menggenggam isi kado. Dua buah boneka Kaonashi lucu yang terinspirasi dari Yuri saat Jiyong membelikannya di Jepang untuk Yuri.

“Lucu sekali,” komentar Soeun berhasil mengangkat senyum Jiyong. Ditatapnya pria yang memberikan boneka tersebut, “Tapi, oppa, aku tidak bisa menerima ini.”

“Kenapa diterima dan dibuka pada awalnya lalu menolak?” mulut mungil Taeyeon kembali bersuara selirih mungkin menjaga keberadaannya yang tidak diketahui mereka.

“Waeyo? Aku memberikannya setelah hubungan kita berakhir. Itu hadiah pertemanan,” tukas Jiyong tanpa kecewa, tanpa senyum namun lembut nan gentle.

“Tidak. Kau akan memberikan ini pada pacarmu beberapa saat lalu. Tapi, sekarang pacar itu sudah tidak ada,” balas Soeun lembut namun Jiyong kecewa mendengarnya.

Gadis ini, Jiyong sudah tidak tahu lagi berkata apa pada Soeun yang menurutnya sedikit egois. Jiyong mengakui dirinya juga egois, tapi tidak untuk hubungannya dengan Soeun.

“Lalu?”

Percayalah hanya kata itu yang bisa Jiyong keluarkan. Jika bisa juga jangan kata itu. Saat ini Jiyong merasa bodoh.

Ditutupnya kembali kado setelah memasukkan kaonashi.

“Jeoseongaeyo, oppa. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini,” gadis itu menarik pergelangan Jiyong agar menerima kembali kado itu. Menurut saja Jiyong, tanpa melepas pandangannya dari Soeun.

Tangan Jiyong yang Soeun genggam untuk terakhir kali ia lepaskan. Sementara itu Jiyong menatap kadonya.

“Ini milikku?” tanya Jiyong menunjukkan kado padanya.

“N… Ne…” Soeun mengangguk bingung.

Lalu, Jiyong membuka kado dan mengeluarkan isinya. Di luar dugaan pria itu membanting kaonashi hingga pecah berantakan dan runtuh boneka lucu tersebut.

Soeun sangat terkejut begitu pula Taeyeon terbelalak menyaksikan Jiyong sengaja merusak dua boneka kaonashi.

Jiyong menatap Soeun berani setelah sejak tadi terus bertahan dan bersikap santai serta lembut.

“Itu milikku. Jadi, terserah akan kulakukan seperti apa hadiah itu,” ujar Jiyong santai.

Apa yang baru saja Jiyong lakukan dan katakan, Taeyeon masih terkejut hampir tidak percaya juga. Tapi, inilah realitanya.

Setelah melihat Soeun pergi, Taeyeon membuka pintu dan melangkah keluar dengan terus memandang Jiyong yang masih berdiri ditempatnya. Dengan keberanian yang Taeyeon kumpulkan, ia menghampiri Jiyong. Menyadari kehadiran gadis mungil itu Jiyong menatapnya tajam.

Melihat dari dekat boneka rusak itu Taeyeon merasa sayang. Kenapa harus dirusak?

Kaonashi yang malang,simpati Taeyeon, lalu cepat menoleh Jiyong, Kenapa kau membuangnya seperti itu?

Kalau begitu ambillah jika kau menyayangkan boneka itu,timpal Jiyong tidak peduli.

Ne?Taeyeon tersentak.

Kau tidak akan mengambilnya dengan wajah innocent-mu itu, ‘kan?

Ne?kembali Taeyeon terkejut lalu menunduk.

Aku tahu kau bersembunyi dibalik pintu sejak tadi. Kau melihat dan mendengarnya,kata Jiyong lalu mengalihkan pandangan pada kaonashi rusak dan kembali menatap Taeyeon sejenak sebelum cepat masuk rumah meninggalkan Taeyeon seorang diri.

Tidak tahu apa yang harus dikatakan, Taeyeon hanya menatap punggung Jiyong sampai laki-laki itu masuk rumah dan membiarkan pintu tetap terbuka.

Atensi Taeyeon beralih pada kaonashi, masih menyayangkan kaonashi yang dirusak dengan sengaja. Laki-laki itu membelinya bukan untuk dirusak, ‘kan?

Dirinya jongkok, berpikir apa yang harus dilakukannya untuk dua kaonashi lucu yang malang ini. Taeyeon menoleh kesal pada pintu yang baru dimasuki Jiyong.

“Ah, aku tidak peduli dengan pria itu,” Taeyeon memutuskan mengambil dan mengumpulkan kepingan kaonashi untuk kemudian dimasukkan kedalam kotak kado yang tergeletak tidak jauh dari kepingan kaonashi berserakan dengan wajah imutnya yang kesal teruntuk Jiyong. “Tidak peduli dia mengatakan padaku wajah innocent tidak pantas mengambil ini. Boneka ini perlu diberi pertolongan.”

Ia bangkit setelah selesai dengan menutup kado lalu beranjak ke rumah Kwon Family. Memasuki teras, Taeyeon berhenti ketika melihat sebuah ponsel didekat kakinya. Gadis itu mengamati sekelilingnya lalu mengambil ponsel tersebut dan diperhatikannya.

Ponsel Kwon Jiyong? Taeyeon masih ingat betul itu ponsel Jiyong. Bukankah ponsel itu pernah ada padanya untuk beberapa saat pada waktu itu?

Niatnya membuka ponsel, tapi tampak Taeyeon mencibir, ponselnya masih ter-password.

Baru keluar dari kamar ibunya, Yuri berpapasan dengan Taeyeon diruang tamu, sempat melihat juga Taeyeon menutup pintu rumah.

“Eonni, darimana?”

Taeyeon menggeleng senyum dan teringat akan ponsel Jiyong, ia sodorkan pada Yuri, “Kakakmu meninggakan ponselnya di lantai teras.”

“Lantai teras?” heran Yuri seraya menerima ponsel. “Apa dia sudah sangat tua? Kenapa pelupa sekali?”

Hanya senyum kecil yang Taeyeon tunjukkan.

“Apa Jiyong datang? Dia belum masuk rumah?” sebuah suara wanita terdengar, tampak seorang wanita dengan dandan khas nyonya rumah mendekat lalu duduk di sofa ruang tamu.

“Dia baru masuk dan langsung ke kamar. Eomma tidak melihatnya?” tanya Yuri seraya mengajak Taeyeon untuk duduk bersama berhadapan dengan ibu Yuri juga Jiyong, Kim Sungryung. “Saat dia kekamar kulihat wajahnya sukar. Tapi,aku tidak berani tanya.”

“Dia hanya datang kerumah saat ada masalah,” cibir ibu.

“Benar, ‘kan, eonni? Saat ada masalah, tempat terbaik untuk menenangkannya adalah rumah ini,” tukas Yuri.

Belum juga Taeyeon memberi reaksi untuk Yuri, Jiyong databg dan langsung mengambil tempat duduk disebelah ibu yang terkejut juga tersenyum akan kedatangannya serta kemauan untuk bergabung.

“Kau…” ibu mengelus kepala putra kebanggaannya, “Pasti ada masalah, ‘kan?”

“Awalnya tidak,” ungkap Jiyong menatap Taeyeon sejenak.

Taeyeon yang menangkap tatapannya cepat mengalihkan pandangan sembarang.

“Kau masih tampan walau punya masalah,” puji ibu sejatinya untuk menghibur anaknya agar bisa santai menghadapi masalah. Beruntung Jiyong tersenyum tipis mendengar pujian ibunya.

Namun, mendengar pujian tersebut, Taeyeon justru tercengang dan lamgsung menatap ibu-anak itu. Melihat reaksi gadis mungil itu, Jiyong hanya tersenyum di sudut kanan bibirnya dengan tatapan menusuk gadis itu seolah mengatakan, Jiyong memang tampan, bukan?

“Mereka mulai lagi,” bisik nan cibir Yuri pada Taeyeon yang cepat tersadar dari tatapan Jiyong. Yuri melanjutkan, “Saling manja tanpa aku.”

Bisikan Yuri diketahui ibu dan kakaknya yang kemudian hanya tersenyum. Bahkan selanjutnya Jiyong dan sang ibu saling menyatukan dahi lalu menggerak-gerakkannya ke kanan juga kiri.

“Aah, aku cemburu!” seru Yuri kesal. “Jiyong-ah, pinjam ponselmu.”

“’Jiyong-ah’?” ulang Jiyong terkejut. “Aku oppamu. Eomma, lihat putrimu. Hei, Yuri-ah….”

“Karena kau manja dengan eomma, tapi aku? Tidak. Aku jadi seperti kakak untukmu,” oceh Yuri yang pada intinya cemburu.

Tawa kecil terdengar dari mulut Taeyeon melihat keluarga ini.

Tersenyum, Jiyong menimpali,

“Kau masih tetap adik dengan sikapmu yang kesal karena ini.”

“Mana ponselmu? Pinjam,” ucap Yuri tidak ingin melanjutkan masalah kakak-adik lagi.

“Ponsel?” Jiyong memeriksa saku mantel, baju juga celana tapi tidak ada.

Yuri meletakkan ponsel milik Jiyong diatas meja. Tentu Jiyong terheran dan mengambilnya. Adik Jiyong berdecak pada kakaknya.

“Kau meninggalkannya di teras. Tae eonni yang menemukannya.”

Pandangan Jiyong beralih pada gadis mungil penemu ponselnya, dimana gadis itu hanya tersenyum nyengir memperlihatkan gigi-giginya.

“Gomapta, Taeyeon,” ucap Jiyong stay cool. Taeyeon hanya mengangguk kecil.

Yuri melanjutkan, “Kenapa kau melupakan ponsel? Baiklah, waktu itu karena aku bicara dengan Tae eonni di ponselmu. Tapi, sekarang apa alasannya?”

“Jadi pinjam ponselku?” tanya Jiyong setelah terdiam membiarkan pertanyaan Yuri berlalu begitu saja.

“Itu hanya basa-basi. Kenapa tidak mengerti juga?!” kesal Yuri menghadapi kakaknya satu ini.

“Aku mengerti.”

“Lalu?”

“Agar kau kesal.”

“Mwo?!” geram Yuri semakin kesal.

Jiyong mengangkat kedua bahu dengan tersenyum.

***

‘Kau sudah tidur?’

Dikamar Yuri dimana pemiliknya sudah terlelap manis, Taeyeon terkejut menerima pesan tersebut dari orang yang tidak disangkanya, Jiyong.

Taeyeon berdeham kecil. Menurutnya ini adalah pelampiasan karena Jiyong tengah kacau. Arraseo, ia akan menerima pelampiasan ini dan sejauh mana pelampiasan itu diberikan padanya.

‘Sudah,’ tulis Taeyeon sebagai balasan pesan.

Dikamar lain, kamar Jiyong, Jiyong terhenyak dengan Taeyeon yang membalas pesannya secepat itu. Artinya gadis itu belum tidur.

‘Tapi kau membalas pesan.’

Setelah membaca, Taeyeon kembali membalas,

‘Aku menulisnya dalam mimpi.’

‘Keuraeyo?! Kalau begitu lanjutkan tidurmu dan bermimpilah lagi.’

Kening Taeyeon berkerut. Hanya sampai ini bentuk pelampiasannya? Namun, ia tersadar, itu adalah pelampiasan Jiyong jadi terserah pria itu akan seperti apa menunjukkannya.

Ponsel Taeyeon letakkan di atas meja kecil samping ranjang. Pesannya sudah tidak perlu dibalas.

Baru beberapa detik memejamkan kedua matanya untuk tidur, ia kembali membuka mata dan membuka pesan Jiyong lalu membalasnya.

‘Kau sedang apa?’

Tidak ada balasan setelah setengah menit, ia mencoba mengetik pesan lagi untuknya.

‘Sudah tidur, ya?’

Beberapa saat menunggu, tetap tidak ada balasan.

Kembali ia meletakkan ditempat semula. Mungkin dia benar sudah tidur, lagipula ini sudah tengah malam.

Ditengah malam ini, tenggorokan Taeyeon merasa ingin dialiri air, ia haus sekarang.

Tampak Yuri begitu lelap saat Taeyeon menengoknya. Dengan perlahan Taeyeon menyibak selimut dan keluar kamar, berusaha tidak membuat suara langkah yang mengganggu penghuni rumah lainnya yang tengah terlelap. Terus melangkah hati-hati menuju dapur.

Begitu Taeyeon menginjakkan kakinya di dapur, ia sangat terperanjat melihat sosok seorang yang dikira sudah tidur berdiri menyandarkan lengan kanan diatas kulkas dimana tangannya juga menggenggam gelas berisi air putih diatas kulkas. Kedua matanya fokus menatap layar ponsel yang berada kirinya.

Sebelum pria swag itu menyadari keberadannya, Taeyeon cepat-cepat berdiri diam-diam lalu berbalik pergi.

“Tidak jadi kesini?”

Langkah Taeyeon terhenti tiba-tiba begitu mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Jiyong. Ia bahkan mendengar suara berat pria itu lagi,

“Kau punya alasan datang kesini, bukan?”

Taeyeon menarik nafas panjang untuk tidak boleh gugup, lalu cepat berbalik dan mendekat pada pria itu yang tengah menatapnya.

Gelas yang ada ditangan Jiyong, Taeyeon raih dan cepat meminum isinya hingga habis. Benar-benar habis.

“Aku haus. Itu alasannya,” ungkap Taeyeon yang kembali meletakkan gelas kembali ditangan Jiyong yang masih saja bersandar tanpa merubah posisi bahkan saat Taeyeon mengambil dan mengembalikan gelasnya.

Beberapa detik berikutnya, Taeyeon sadar. Sadar sudah minum dari gelas yang salah. Ah, bodohnya ia. Sebegitu gugupnyakah hingga ia meminum air digelasnya yang bahkan masih tergenggam ditangannya? Jika itu diatas meja atau dimanapun selainditangannya itu masih baik-baik saja. Tapi, yang ia lakukan baru saja? Pabo! Taeyeon terus merutuki diri sendiri.

Sekarang, ia harus mencari alasan untuk menjelaskan insiden baru saja sebelum Jiyong salah paham.

“Wae geurae?” tanya Jiyong senyum devil melihat Taeyeon kebingungan.

“Aku tidak melihat teko disini. Aku sangat haus dan tidak memikirkan teko lagi saat melihatmu memegang gelas.”

“Lalu itu apa?” serang Jiyong seraya menoleh pada teko diatas meja makan didekat mereka. Taeyeon kalah. Taeyeon mengeluh menghela nafas, memejamkan mata, pasrah. “Gelas juga ada disebelahnya. Tapi kau meminum airku lagi. ”

“Itu… untuk membalas kesalahanku pada diriku sendiri saat aku salah minum air milikmu diruang ganti stasiun televisi,” cetus Taeyeon sekenanya.

“Balasan? Kau membalasnya atau ingin merasakan juga bekas minumku?” tandas Jiyong menatap selidik dengan senyum evil. Jelas sekali Jiyong tahu gadis ini berbohong. Mana kupu-kupunya saat ia terus berbicara dari awal? Eobseo. Dalam hati, Jiyong tertawa.

Mata Taeyeon membulat penuh pada Jiyong yang masih tersenyum namun tatapannya tertuju gelasnya.

Ah! Sebelum Jiyong mengatakan hal-hal aneh, Taeyeon buru-buru kabur dari tempat itu. Kabur nya gadis mungil itu membuat Jiyong sedikit terkejut dan kali ini ia membiarkan gadis lucu itu pergi. Lucu?! Yang benar saja!

Usai menenangkan diri dari kejadian baru saja, Jiyong kini meletakkan gelasnya diatas meja makan bersebelahan dengan gelas dan teko yang ia maksud tadi dan melangkah keluar. Tapi, kemudian ia mundur saat menyadari sesuatu.

Ia menoleh meja dapur disebelah kanannya -berhadapan juga dengan meja makan-, dimeja dapur itu tergeletak kado yang gagal Jiyong berikan pada Soeun.

Dibukanyo kado itu, terdapat pecahan kaonashi rusak. Jiyong menoleh arah luar pintu dapur, gadis mungil itu pasti yang sudah memungutnya.

Sementara itu, gadis yang tengah menjadi pikiran seseorang di satu rumah berusaha memejamkan mata, melupakan kejadian memalukan baru saja. Jeongmal pabo, Taeyeon-ah!

Dirinya tersentak saat ponselnya berdering. Beruntung tidak terlalu keras suaranya, jadi tidak membangunkan adik kesayangan disebelahnya.

Sebuah pesan masuk. Hah?! Dari Jiyong?! Kenapa Taeyeon merasa terteror, ia takut. Ia terkejut begitu mengetahui pesan itu dari Jiyong.

‘Sudah tidur? Kau bisa datang ke dapur jika belum.’

“Apa dia memerintahku sekarang?” lirih Taeyeon. Ia melihat waktu di ponselnya, 12.49 a.m. “Ini bahkan sudah hampir jam satu. Ah, terserah kau saja. Aku belum istirahat sejak tadi.”

Ia membenamkan diri di selimut. Tapi, pesan kembali masuk. Taeyeon membacanya dibalik selimut.

‘Jebal.’

Mungkin Jiyong hanya ingin balas dendam, pikir Taeyeon.

Dengan kesal Taeyeon membuka selimut, meletakkan ponsel diatas meja dan kembali membenamkan diri dalam selimut. Tapi, selang beberapa detik ia kembali membuka selimut cepat.

Akhirnya, Taeyeon mengalah dan kini memasuki dapur. Dan, ketika melihat Jiyong yang sudah duduk di kursi meja makan, gadis mungil itu lebih gugup juga malu.

“Tidak perlu gugup. Aku mengerti yang kau lakukan tadi,” ujar Jiyong.

Taeyeon cepat menatap Jiyong, belum sempat komentar, Taeyeon melihat sebotol anggur dan gelas cocktail dihadapan pria yang kini ia curigai seratus persen akan mabuk.

Cepat gadis itu menghampiri Jiyong dan duduk diseberangnya. Hilang sudah kegugupan dan rasa malunya.

“Apa kau akan minum?” tanya Taeyeon tanpa basa-basi.

“Mau ikut?” Jiyong justru menawarkan.

Taeyeon menggeleng cepat, “Kenapa kau memanggilku?”

“Memintamu menemaniku minum. Kalau kau tidak mau minum, aku akan minum sendiri, tapi kau tetap harus dihadapanku,” terang Jiyong serius namun santai sekali pria ini.

“Aku korban pelampiasanmu malam ini. Benar, ‘kan?”

“Kau berpikir seperti itu? Wae?” tanggap Jiyong mulai menuangkan anggur kedalam gelas tapi cepat dicegah Taeyeon.

“Benar, ‘kan?” ulang Taeyeon.

“Ani,” sahut Jiyong meletakkan kembali botol anggur dengan sedikit kesal.

“Lalu apa?”

“Bukan pelampiasan. Kau tidak tahu karena aku tidak mengeluarkan kupu-kupu sepertimu. Seandainya bisa kau pasti melihat ada kupu-kupu yang terbang dari sini sekarang,” jelas Jiyong sambil menunjuk bibirnya.

Taeyeon mencibir mendengar penjelasannya.

Kembali Jiyong hendak menuangkan anggur yang sempat gagal, namun kali ini pun kembali gagal. Botolnya diambil gadis mungil yang masih kesal itu dengan cepat.

“Kau tidak minum malam ini,” tegas Taeyeon.

“Besok tidak ada jadwal jadi tidak apa-apa. Kembalikan,” pinta Jiyong. Ia menggumam seraya memijit-mijit pelan keningnya karena Taeyeon justru menyembunyikan botol dibalik badan kecilnya, “Aish, seharusnya aku tidak menyuruhmu kemari. Kenapa kau tidak kembali saja ke kamarmu?”

“Kau yang memintaku datang,” balas Taeyeon merasa menang.

“Aku menyesal,” desis Jiyong. “Kalau begitu kau bisa pergi dan itu permintaanku.”

“Tidak bisa. Karena, aku sudah melihatmu akan mabuk,” kukuh Taeyeon. “Dengar, Kwon Jiyong. Walaupun kau tidak ada jadwal tapi jadwal media bisa datang kapan saja padamu. Bagaimana kalau kau belum sehat setelah minum? Apa yang akan kau lakukan pada media?”

Sepanjang mengatakannya, Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu berwarna kuning bersinar membuat Jiyong terdiam menatap kupu-kupu hingga lenyap, lalu beralih menatap Taeyeon. Gadis itu mengatakannya dengan tulus. Setelah beberapa saat menatapnya, Jiyong berdehem pura-pura tidak melihat apapun.

“Kau bisa membuatkanku sup mabuk besok,” timpal Jiyong.

“Aku tidak akan melakukannya,” tolak Taeyeon langsung. Lalu, berdiri gelas cocktail dan menyimpan gelas tersebut berikut botol anggurnya di lemari dinding.

Selanjutnya, gadis yang sekarang terlihat tidak mengantuk itu mengambil gelas dari meja makan.

Jiyong hanya memperhatikan apa yang tengah dilakukannya. Ia belum mengerti. Kini, gadis itu tengah membuka kulkas, mengambil sekotak susu berukuran sedang. Dituangkannya susu tersebut kedalam gelas yang ia ambil dihadapan Jiyong baru saja. Lalu, menghidangkannya dihadapan Jiyong yang menatap gelas berisi susu putih itu dengan heran.

“Sebagai gantinya minum saja ini. Lebih bermanfaat. Ini akan membuatmu lebih segar, berpikir jernih dan bisa memikirkan kata yang bagus untuk kau katakan pada media besok. Minumlah,” bujuk Taeyeon tersenyum manis serta tulus. Kupu-kupu kuning pun ikut keluar dengan senang.

Yang dibujuk terdiam menatap Taeyeon sesaat kemudian beralih gelas susu. Setelah beberapa saat menatap gelas -mungkin tengah berpikir antara meminumnya atau tidak- Jiyong meraih gelas tersebut meminumnya hingga habis. Sampai Taeyeon tercengang, rupanya tidak membutuhkan waktu lama untuk membujuknya.

Mungkin Jiyong tengah ingin berbuat begitu baik hari ini tanpa mengecewakan orang lain walau akhirnya justru Jiyong yang dikecewakan.

Taeyeon tersenyum lebar melihat Jiyong benar-benar menghabiskan minuman super sehat itu.

“Kau melakukannya dengan baik,” puji Taeyeon bak seorang ibu pada anaknya. Ia kembali mengeluarkan kupu-kupu kuning bersinar terang nan damai.

Jiyong meletakkan gelas dan membersihkan bibirnya dengan telunjuk kanannya. Ditatapnya Taeyeon seakan menunjukkan dirinya telah berhasil menghabiskan minuman yang tak terpikirkan sama sekali untuk ia minum malam ini.

“Puas sekarang?”

Taeyeon tersenyum, “Lagipula kau yang akan terkena imbas positifnya. Setengah gelas lagi itu akan sangat baik melihat kondisimu saat ini, kelelahan tenaga dan pikiran. Minum sedikit lagi setelah itu kau bisa istirahat.”

Gelas itu Taeyeon ambil kembali dan menuangkan lagi susu sesuai rencananya, setengah gelas.

“Berhenti disitu,” cegah Jiyong saat gelas belum terisi setengah.

“Wae? Kau mau isinya penuh? Arraseo,” Taeyeon semakin tersenyum.

“Aniya,” sergah Jiyong cepat membuat Taeyeon berhenti menuang.

Justru Jiyong beranjak dan mendekati Taeyeon perlahan dan santai. Terkejut, Taeyeon mendadak tak bisa berkutik. Apa yang akan coba dilakukannya? Jiyong terus mendekat hingga benar-benar dekat dihadapan Taeyeon.

Gadis itu menegang, kedua tangannya yang menggenggam kotak susu begitu erat pun gemetar. Ia merasa takut. Mulutnya ikut gemetar, berat rasanya untuk bicara.

“Apa yang…”

Perlahan Jiyong mendekap gadis itu untuk memeluknya. Taeyeon begitu terkejut dalam kekakuan dan tidak sengaja matanya tertuju pada jam dinding dibelakang Jiyong. Pukul 1AM.

Taeyeon merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan sekarang. Bukan karena Jiyong memeluknya erat, pria itu bahkan memeluknya dengan lembut dan tidak erat sama sekali, hanya sebatas memeluk.

Taeyeon tidak mempermasalahkan itu, ia hanya merasa tubuhnya kaku karena sangat terkejut dengan perlakuan lembut Jiyong yang tiba-tiba.

Masih Jiyong memeluk gadis mungil yang terasa lebih mungil begitu dipelukannya.

“Kemarin Seunghyun hyung dan sekarang kau yang tidak ingin aku mabuk,” ujar Jiyong lembut tanpa melunturkan karisma dinginnya walau Taeyeon tidak melihat wajahnya. Taeyeon bisa merasakannya. “Tapi, aku masih ingin melupakan hal yang kualami malam ini. Kau harus bertanggung jawab. Sebagai gantinya aku melakukan ini padamu. Diamlah sebentar, setidaknya ini akan menghilangkan sejenak masalahku. Ini sama seperti aku minum. Aku bisa merasakannya.”

Taeyeon menelan ludah susah payah, ia mengerjap-erjapkan kedua mata indahnya.

“Tapi,… kau ‘kan sudah minum susu segelas,” ujar Taeyeon coba membuat Jiyong lekas melepas pelukan nyaman ini. Memang terasa nyaman tapi Taeyeon tidak boleh terlalu lama dalam pelukannya. Bagaimana dengan Woobin kalau Begitu?

“Itu energi dan tidak menghilangkan masalah ku sama sekali. Diamlah sampai aku melepaskanmu. Aku mohon.”

Luluh juga Taeyeon mendengar penuturannya. Sepertinya Jiyong benar-benar patah hati sampai ia memohon padanya.

Dalam batinnya, Taeyeon terus berusaha meyakinkan diri sendiri jika ini benar-benar pelampiasan. Karena, sesuai perkataan Jiyong bahwa laki-laki itu ingin melupakan sejenak masalah yang tengah merundungnya. Dan Taeyeon tidak mempermasalahkannya.

Justru ia menjadi senang saat ada orang lain yang bisa melupakan masalahnya karena dia.

***

“Aku tidak melihat Ji oppa. Apa dia sengaja bangun siang karena ini freeday-nya?” tanya Yuri pada ibu yang hampir selesai menyajikan sarapan di meja makan.

“Dia pergi pagi-pagi sekali. Dia hanya benar-benar akan pulang kesini saat ada masalah. Dan sekarang mungkin masalahnya sudah teratasi makanya dia kembali ke apartemen,” gerutu ibu sambil menyajikan sepiring telur gulung hangat.

Sementara itu, Taeyeon yang juga selesai membantu menyajikan sarapan mengambil tempat duduk disebelah Yuri, mengingat pelukan semalam. Apa hanya karena sebuah pelukan Jiyong sudah menyelesaikan masalahnya? Maldo andwae.

“Apa Ji oppa coba menghindar dan mengabaikanku sekarang? Dia tahu aku akan minta belanja jadi dua melakukan ini,” cibir Yuri percaya diri.

Ibu dan Taeyeon hanya tersenyum menanggapinya.

“Sarapan saja. Kalian sarapan yang baik, ya. Yuri-ah, ayolah jangan kesal seperti itu. Ini untukmu,” ibu mengambil telur gulung dengan sumpit dan meletakkannya d piring Yuri.

“Eomma, kenapa selalu memihak pria itu? Aku yang paling kecil disini, bukan dia,” rengek Yuri.

“Kalau ingin belanja, kau bisa menelepon manajermu. Mobilmu dimana?” tanya ibu.

“Di apartemen,” semakin merengek gadis bermarga Kwon ini dan semakin kesal saat melihat eomma-nya dan Taeyeon hanya tertawa kecil.

“Ayo, Taeyeon-ah. Ini untukmu,” ibu mengambil telur gulung kembali untuk Taeyeon.

“Ah, ne. Gamsahamnida. Kemarin aku juga mencoba kimchi bibi dan itu jeongmal mashita,” puji Taeyeon mengacungan dua jempolnya seraya mulutnya berhasil membuat kupu-kupu biru bersinar keluar mengitari meja makan.

“Dimana kau mencobanya?” selidik Yuri menyempitkan matanya. “Satu minggu ini eomma tidak mengirim kimchi ke apartemen kita. Eodi, eonni?”

“Di apartemen BIGBANG,” celetuk Taeyeon. Sedetik kemudian gadis itu tersadar telah terang-terangan.

“Eonje? Aku tidak tahu,” heran Yuri. “Karena kau selalu kesana denganku. Eonni tidak diam-diam pergi ke sana sendiri, ‘kan? Jadi, kapan itu? Ah, waktu kalian ingin saling bertemu untuk hal serius. Jadi, waktu itu? Aish, padahal aku ingin ikut. Kalian berdua saja disana?”

Diam tidak menjawab, Taeyeon gelagapan. Apalagi saat matanya bertemu mata ibu leader BIGBANG itu. Namun, reaksi ibunya hanya menatap dengan senyuman. Tidak tampak kecurigaan di matanya.

“Yuri-ah, selesaikan sarapanmu. Taeyeon jadi canggung, ‘kan?” tegur eomma. Untung Yuri menurut tanpa mengatakan apapun. Ia justru membuka ponselnya. Namun, eomma kesal melihatnya, “Kau masih membuka ponsel saat sarapan?”

“Dia bahkan tidak menjawab teleponku,” gerutu Yuri masih menatap layar ponsel.

“Nugu?” sela eomma.

“Ji oppa,” jawab Yuri memperlihatkan layar ponsel pada eomma dan Taeyeon yang menunjukkan ‘Jiyong oppa’ belum menjawab teleponnya.

***

Jiyong membuka pintu ruangan CEO YG Entertaintment, Yang Hyunsuk. Nampaknya ada hal penting yang ia sampaikan pada ayah keduanya.

“Eoh? Jiyong-ah. Kau datang?” tanya CEO Yang mengalihkan atensinya dari koran yang tengah ia baca didepan lemari besar tanpa pintu yang memakan hampir seperempat dinding ruangan. Seraya menuju sofa yang tersedia ia melanjutkan pertanyaannya, “Dimana yang lain?”

“Mungkin masih tidur. Aku belum ke apartemen,” jawab Jiyong santai namun tanpa menghilangkan rasa sopan juga hormatnya.

“Semalam kau tidak di apartemen?” lanjut CEO Yang heran.

“Tidak. Aku langsung ke rumah setelah sampai di Seoul.”

“Oh, tidak apa-apa. Bagus, itu bisa mengurangi kekhawatiran ibumu. Kenapa berdiri saja? Duduklah,” CEO Yang mempersilakan anak emasnya terus berdiri dengan raut wajah yang datar. Pasti mengenai wanita itu, terka CEO Yang. Terlalu sering mengalami hal semacam ini, ia cukup mengerti bagaimana saat Jiyong datang membawa nama wanita itu, kekasihnya.

“Aku tidak akan lama.”

Sudah pasti mengenai Kim Soeun. Tapi, Yang Hyunsuk akan coba berpura-pura tidak tahu.

“Keoreom, apa alasan yang membuatmu datang hari ini?”

“Kau tidak perlu khawatir lagi dengan hubunganku dengan Kim Soeun. Kami sudah mengakhirinya semalam,” terang Jiyong tegar.

“Jeongmalyo?!” sahut CEO Yang terkejut, setengah percaya.

“Apa kau senang?” tukas Jiyong melihat air muka appa-nya senang yang disembunyikan.

Hyunsuk berdehem, tidak bisa menyangkalnya. Tapi, ia berusaha menjelaskan,

“Kau juga tahu aku tidak pernah menginginkan hubungan kalian dari awal. Lanjutkan pekerjaanmu dan hiduplah dengan lebih baik.”

Melihat senyunan CEO-nya, Jiyong harus semakin tegar menerima kenyataan.

“Gamsahamnida. Aku akan bekerja lebih baik.”

Pria dengan nama panggung G-Dragon itu membungkuk lalu pergi setelah CEO-nya mempersilakan.

***

Kini, Jiyong memasuki apartemen BIGBANG. Tampak sepi. Tidak ada aktivitas pergerakan sama sekali yang ia lihat. Berarti benar, mereka masih tidur.

Dirinya melangkahkan kaki menuju dapur.

“Oh! Aku pikir kau masih tidur,” ujar Jiyong terkesiap melihat pria tinggi setengah membungkuk di depan kulkas yang terbuka, Seunghyun, yang hanya menoleh Jiyomg sejenak. Tidak tampak baru bangun, justru TOP -begitu Seunghyun lebih dikenal- sudah tampak segar dan wangi lembut.

“Daesung dan Seungri yang masih,” jawab Seunghyun tanpa menoleh si lawan bicara, karena sibuk mencari isi kulkas yang diinginkannya.

One hours later.

“Bagaimana dengan Youngbae hyung?” tanya Jiyong pada Seunghyun yang duduk dihadapannya diruang tamu.

“Na mwolla. Aku belum sempat membuka ponsel dari semalam.”

“Kau begitu lelah, ya?”

“Sedikit lelah,” koreksi Seunghyun. Pekerjaannya sebagai BIGBANG sudah sangat melekat, jadi jika ditanya lelah atau tidak maka rasa lelah itu sudah menyatu dengan dan menjadi kebahagiaan bersama para fans-nya.

“Aku melupakan Youngbae hyung semalam dan sibuk dengan urusanku,” aku Jiyong dengan suara rendah mengingat apa yang sudah terjadi padanya semalam.

Mengerti arti air muka adik sekaligus leader-nya, Seunghyun tidak ingin mengusik usahanya untuk menenangkan dan melupakan masalahnya dengan bertanya apa yang terjadi padanya.

“Lalu, kenapa tidak coba telepon sekarang?” pikir Seunghyun berusaha tidak menyenggol masalah pribadi Jiyong yang sebenarnya.

“Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi, tidak dijawab,” ucap Jiyong setelah menerima saran Seunghyun untuk menelepon Youngbae yang masih berada di Jepang karena ada acara tersendiri setelah konser BIGBANG kemarin.

“Mungkin sibuk bersiap-siap. Hari ini ‘kan fan meeting-nya,” timpal Seunghyun mengambil gadget miliknya di atas meja, siap untuk berlayar di internet.

“Pinjam. Penting,” sambar Jiyong, seraya menyambar pula gadget yang sudah berada digenggaman laki-laki bermata tajam mempesona itu yang kini menatap tajam pada Jiyong, namun Jiyong tidak peduli dengan tatapan itu. Tatapan yang sudah biasa ia dapatkan. Para fans pasti iri padanya bisa mendapat tatapan itu hampir setiap hari, Jiyong yakin.

“Kau harus memasukkan ini agar matamu tidak mengantung.”

Sebuah suara serak yang khas tiba-tiba terdengar samar dan meningkat menjadi jelas. Rupanya Daesung, yang membawa dua irisan tomat sambil tertawa pada Seungri yang terus menolak. Si panda yang berjalan mundur keluar dapur diikuti Daesung yang berusaha terus mendekat dihadapannya. Panda itu menghindar tetapi Daesung tidak menyerah dengan saling tertawa antar keduanya.

Memang ceroboh si panda satu ini, bagian belakang tubuh Seungri terantuk kepala sofa yang tepat tengah digunakan Jiyong untuk bersandar, membuat tubuh Jiyong sedikit terguncang mengakibatkan jari tangan yang siap untuk menulis sesuatu di kolom searching gagal. Apa yang baru saja Jiyong lakukan pada Seunghyun, si member tertua langsung terbalas lewat member termuda di BIGBANG, Seungri.

Cepat Jiyong menoleh kondisi dibelakangnya. Yang berhasil ia tangkap di matanya adalah Daesung yang masih tertawa, menertawakan kecerobohan Seungri.

“Apa yang sedang kalian coba lakukan?” tegur Jiyong pada keduanya. Senghyun hanya menonton.

“Meletakkan ini di mata panda Seungri,” jawab Daesung menunjukkan dua irisan tomat dengan percaya dirinya.

“Dan aku menolaknya,” sambung Seungri tersenyum semanis mungkinmungkin walau akhirnya terlihat dipaksakan pada Jiyong oppa tercintanya. Biarkan ia memanggil Jiyong oppa daripada memanggilnya hyung. Karena dengan panggilan itu ia sudah sangat terbiasa. Sudah menjadi panggilan sehari-hari, bahkan saat di konser maupun di program acara televisi.

“Lanjutkan tanpa menggangguku,” pinta Jiyong yang tidak marah tidak juga senang dengan perilaku mereka.

“Ne.”

Anehnya mereka mengangguk dan menjawab serentak. Sedetik kemudian Seungri panda cepat kabur dari Daesung sebelum kembali dipaksa.

Jiyong kembali fokus pada layar gadget, coba mencari berita hangat apa yang terjadi hari ini di kolom searching.

Ada satu berita hangat menarik perhatiannya.

Sebuah artikel yang membandingkan foto leader BIGBANG dan leader SNSD, G-Dragon dan Taeyeon.

Dimana Taeyeon mengunggah foto di SNS-nya dengan pose menembak dan beberapa jam kemudian GD mengunggah foto dengan kedua bola mata menyudut saling berdekatan menandakan seperti baru tertembak.

Media dan netizen kembali menyatukan kedua foto tersebut dan memunculkan spekulasi baru. Foto Jiyong yang dianggap membalas unggahan foto Taeyeon.

“Ini karena lelah konser, bukan tertembak,” gumam Jiyong menghela nafas.

“Apa maksudmu? Konser? Atau kau kalah game?” Seunghyun menyahut lalu cepat semakin mendekat dan menyondongkan badan untuk melongok apa yang terjadi pada layar gadget-nya.

Terlambat menutupi layar gadget, Jiyong nembiarkan pemilik gadget melihatnya. Toh mengenai berita hangat ini semua orang sudah tahu dan semua member BIGBANG akan segera tahu.

“Sudah selesai melihatnya?” tanya Jiyong mengusir halus dari dekatnya, risih juga.

“Ige mwoya?” masih menatap berita, Seunghyun balik bertanya dengan senyum lebar.

“Ini jelas lelah karena konser,” koreksi Jiyong sekaligus protes sebenarnya.

Tapi Seunghyun tidak terlalu meresapi ucapan Jiyong. Justru ia menyelidiki kebenaran berita ini dari narasumbernya langsung, “Kalian tidak merencanakan ini?”

“’Kalian’? Kapan aku merencanakan itu dengannya? Aneh sekali.”

“Atau kau membalas foto tanpa dia ketahui sebelumnya?”

“Aku tidak tahu gadis itu mengunggah foto seperti itu. Foto kami hanya kebetulan cocok digabungkan dan dibuat cerita dalam satu kalimat,” pelaku utama dalam berita itu berusaha menjelaskan agar tidak terjadi salah paham berkepanjangan.

Seunghyun memang mengangguk senyum, tapi ia belum sepenuhnya percaya.

“Yuri mengatakan padaku Taeyeon menginap di rumahmu dan semalam kau juga ada disana,” imbuh Seunghyun.

“Iya, benar. Geundae, tapi tidak merencanakan ini sama sekali,” bantah Jiyong. Kesal, karena Seunghyun hanya mengangguk kembali. “Masih tidak percaya? Terserah kau saja.”

“Kenapa kau kesal?” kekeh Seunghyun. Tidak mampu melunturkan tawanya walau mendapat timpukan bantal dari Jiyong tiba-tiba.

Semakin kesal pada Seunghyun, Jiyong hanya mencibir. Tapi, ia mendapat terpaan bantal tiba-tiba di wajahnya dari Seunghyun yang membalasnya.

Segera Jiyong menyingkirkan bantal ke sebelahnya degan kasar dan menatap sengit pada Seunghyun. Namun, Seunghyun mengangkat bahu seraya tertawa.

***

Si gadis mungil bersama gadis berkulit coklat eksotis memasuki ruangan SNSD dalam gedung SM dimana sudah terdapat Tiffany juga Seohyun disana yang tengah duduk disofa.

“Oh, kalian datang juga?” sapa Yuri pada mereka. “Yang lain?”

“Tidak kesini. Masih di apartemen,” sahut Tiffany.

“Apa yang kau bawa?” Seohyun teralihkan perhatiannya pada paper bag yang Yuri bawa ditangan kirinya.

“Aku juga ingin tahu sejak keluar dari rumahnya. Tapi, dia tidak mau mengatakannya,” adu Taeyeon tersenyum.

Dengan senyum teka-teki, Yuri duduk bergabung bersama mereka diikuti Taeyeon. Paper bag-nya Yuri letakkan di atas meja.

“Igeon… aku membawa sesuatu,” ungkap Yuri memasukkan tangan kedalam paper bag guna mengambil isinya. Yuri mengeluarkan satu kaonashi lucu, “Ini untuk Seohyun.”

Tersenyum senang saat menerimanya, tidak lupa Seohyun mengucapkan rasa terima kasih.

Taeyeon juga Tiffany terkejut senang melihat benda mungil yang dibawa oleh Yuri.

“Untuk Tiffany eonni.”

“Gomawo, Yuri-ah,” ucap Tiffany memperlihatkan eye smile khasnya.

“Dan ini untuk Tae eonni. Jamkkanman,” Yuri mencari-cari kaonashi untuk Taeyeon, yang menunggu dengan senyum.

“Kau beli dimana?” tanya Seohyun masih menatap kaonashi, diajak bermain.

“Jiyong oppa membelinya di Jepang. Ah, ini untukmu Tae eonni,” jawab Yuri yang menyerahkan kaonashi pada Taeyeon. Jiyong membelinya untuk mereka? Mengetahui rasa penasaran mereka, Yuri melanjutkan penjelasannya, “Ini bukan seperti yang ada dipikiran kalian. Jiyong oppa tidak membeli secara pribadi untuk kita. Aku yang memintanya mumpung dia lagi di Jepang dan dia setuju. Begitu saja.”

“Dia itu kakak yang baik hanya saja kau sering menjahilinya jadi dia terkesan jahat pada adiknya sendiri,” cibir Tiffany, namun Yuri hanya meringis senyum. Tidak menyalahkan perkataan Tiffany, karena oppa-nya memang dan ia akui sering usil dan membuat lelucon pada kakaknya yang seringkali membuat kesal kakaknya.

“Terima kasih, Yuri-ah. Ini lucu sekali. Sampaikan juga terima kasih kami pada kakakmu,” ucap Taeyeon memunculkan kupu-kupu berwarna biru menyala terang menerangi sebagian ruangan khusus SNSD.

Mencermati kaonashi, Taeyeon teringat kaonashi Jiyong yang rusak semalam. Suara Yuri membuyarkan lamunannya.

“Aku akan pulang ke apartemen memberi kaonashi ini pada yang lain,” lanjut Yuri menepuk paper bag dengan senyum ceria.

“Tapi, Yuri, kau tidak bawa mobil. Dan, manager kita akan mengantar kami,” sela Taeyeon. Mobil SNSD akan digunakan TaeTiSeo hari ini karena ada job di sebuah acara siaran radio.

“Aku punya seseorang dan aku akan balas dendam pada orang itu,” Yuri dengan senyum evil-nya lalu menelepon seseorang.

“Sudah berapa kali kau meneleponku pagi ini?! Tidak bisakah diam sebentar saja dan jangan menggangguku?”

Suara berat yang kesal terdengar jelas ditelinga Yuri yang bahkan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara keras berbentuk peringatan.

Tapi, Yuri hanya santai mendengar suara itu yang terlalu biasa didengar. Anehnya Yuri tidak pernah bosan dengan suara berat itu. Apa karena itu adalah suara kakaknya, Kwon Jiyong?

“Oppa, antar aku ke apartemen SNSD. Aku tunggu didepan SM,” pungkas Yuri memutuskan sambungan telepon begitu saja dengan santai sebelum mendengar kekesalan dan protes dari kakaknya lalu Yuri beralih senyum meringis pada mereka bertiga, “Kalian tidak berpikir aku licik, ‘kan?”

“Kau memang licik dari dulu pada kakakmu,” cibir Tiffany.

Balas mencibir, Yuri tidak mempermasalahkannya. Ia membuka ponselnya.

“Eoh?!” terbelalak kedua mata Yuri menatap layar ponselnya. “Apa hari ini? Ah, aku sedikit terlambat mengikuti berita hari ini.”

Mereka bertiga berkerut melihat Yuri yang masih fokus pada smartphone-nya.

“Wae geurae, Yuri-ah?” tanya Taeyeon tenang.

Tidak mendapat jawaban dengan segera, ia mendekat dan mengamati aktivitas Yuri di ponsel. Terkejut, karena dalam layar ponsel itu terdapat artikel yang tengah dibaca Yuri mengenai berita hangat G-Dragon dan Taeyeon.

Yuri menoleh perlahan pada Taeyeon, “Eonni, bagaimana kau berpikir ini bisa terjadi?”

“Memangnya apa yang kulakukan? Itu hanya kebetulan,” sanggah Taeyeon mengerucutkan bibirnya yang sebelumnya berhasil membuat kupu-kupu biru terbang keluar.

Tidak bisa menahan penasaran, Seohyun mengambil ponsel dan melihat beritanya bersama Tiffany. Sama-sama terperangah reaksinya. Mereka menoleh Taeyeon yang justru santai.

Yuri dengan senyum penuh arti, terus menatap selidik leader-nya.

“Waah, aku ingin tahu tadi itu tulus atau tidak. Sayangnya aku tidak bisa melihatnya,” lirih Yuri agar kedua gadis lain didekatnya tidak mendengar.

Taeyeon menatap tajam pada Yuri, walau lirih tetap saja takut kalau-kalau Tiffany dan Seohyun mendengar.

“Tae eonni,” panggil Seohyun dan Taeyeon bergegas menoleh. “Apa kau juga tidak berpikir waktunya sedikit aneh mengenai posting-an kalian?”

“Ani,” tandas Taeyeon cepat, menatap kesal pada mereka yang mencurigainya.

***

Pintu lift terbuka, TaeTiSeo juga Yuri keluar dari dalam sana, melangkah di lobi dengan saling bercanda kecil. TaeTiSeo akan memenuhi jadwalnya sementara Yuri seperti yang sudah terencana, pulang ke apartemen SNSD.

Mobil Lamborghini Avendator berwarna hitam sampai didepan gedung SM entertainment. Berhenti dibelakang sebuah mobil van yang tepat berada didepan pintu utama SM. Jiyong, si pengemudi yang berkacamata hitam membuka pintu dan keluar, menatap sekelilingnya dan menghentikan pandangannya kedalam pintu utama SM.

Tidak tampak batang hidung gadis coklat itu, Jiyong berdecak lalu bersandar di pintu mobil yang sudah ditutupnya.

“Eoh?! Itu oppaku sudah sampai,” Yuri sedikit terkejut melihat oppa-nya saat mendekati pintu utama gedung SM.

“Mwo?!” Taeyeon terperanjat mendengarnya.

Seperti kata Yuri, Jiyong sudah datang, Taeyeon terbelalak dan merasa malu. Kepalanya sedikit ia tundukkan. Pikirannya langsung teringat saat ia tersentak dipeluk Jiyong.

Mendapati adiknya keluar bersama TTS, Jiyong berdiri tegak. Pandangannya tertuju pada Teyeon yang tampak berusaha menghindar tapi sia-sia. Jiyong mengingat pelukan semalam, senyum disudut bibirnya terbentuk. Pasti karena hal tersebut gadis mungil ber-innocent face itu menghindar dengan menunduk tanpa berani menatapnya.

“Kau datang cepat, oppa,” komentar Yuri setengah acuh.

“Agar kau kehabisan akal untuk mengerjaiku. Kau balas dendam padaku, ‘kan sekarang?”

“Salah siapa tidak menjawab teleponku pagi tadi?” balas Yuri membela dirinya.

“Masuk,” perintah Jiyong pada Yuri yang mencibir setelah mendengar perintahnya.

“TaeTiSeo, fighting!” ucap Yuri memberi semangat dan melambai pada mereka yang balas melambai.

Namun, ketiga beralih pada Jiyong, Yuri mencibir dan sekali lagi tersenyum pada TaeTiSeo lalu masuk mobil sebelum perintah Jiyong nantinya kembali terdengar.

TaeTiSeo melangkah menuju van dan harus melewati Jiyong.

“Jiyong oppa,” panggil Seohyun pada Jiyong yang sudah berhasil membuka pintu mobilnya.

Menoleh, Jiyong sedikit membungkukkan kepala memberi salam pada tiga gadis dihadapannya.

Sial! Kenapa harus memanggil Kwon Jiyong?! gerutu Taeyeon dalam hatinya.

“Kami sudah menerima kaonashi dari Yuri. Terima kasih, oppa, kau mau membelikannya.”

“Ah, aniya. Aku tidak…” sangkal Jiyong menggantungkan ucapannya karena menyadari sesuatu. Apa? Yuri mengatakan bahwa ia yang membelikannya? “Yuri mengatakan itu?”

Tiffany dan Seohyun mengangguk polos diikuti Jiyong yang mendesah, kenapa harus menceritakan bagian itu?

Sedangkan Taeyeon yang tidak bicara sama sekali sejak tadi meneruskan langkahnya menuju van.

“Kajja. Kita harus cepat,” ujar Taeyeon menoleh sejenak dua rekannya yang dibalas anggukan mereka.

“Kami pergi dulu, oppa. Gamsahamnida. Annyeong,” ucap Seohyun tersenyum ceria.

“Annyeong,” balas Jiyong tersenyum pada mereka tanpa Taeyeon.

Mereka hanya tersenyum lalu memasuki van yang lebih dulu dimasuki Taeyeon.

Seusai menatap mereka, Jiyong beralih pada Yuri, menatap kesal lalu masuk ke mobilnya.

***

“Mereka menyukai kaonashi-nya,” ucap Yuri dalam perjalanan.

“Bagus,” jawab Jiyong datar dengan matanya terbingkai kacamata hitam dengan tetap fokus menyetir.

“Ada apa denganmu?” heran Yuri.

“Eobseo.”

“Kau seperti mengabaikanku pagi ini.”

“Aku hanya ada urusan penting,” acuh Jiyong malas sekali untuk sekadar melihat wajahnya.

Yuri, yang tidak memasukkan kekesalan Jiyong dalam hati justru tersenyum padanya, “Gomawo, sudah mau mengantarku.”

“Karena kau yang meminta. Apa aku bisa menolak?”

Mendengar kata-kata indah baginya, Yuri cemberut lucu, lalu tersenyum senang sebab kakaknya tidak bisa menolak permintaannya begitu saja tanpa alasan.

“Karena oppa sudah mengantar ku sekalian saja nanti kita ke….”

“Apa aku supirmu sekarang untuk mengantarmu kemana-mana?” sela Jiyong serta merta.

Kembali cemberut si gadis coklat ini. Ia kira kekesalan kakaknya sudah mereda saat mengatakan hal yang membuatnya tersipu.

“Oppa….”

“Apa lagi sekarang?” protes Jiyong cepat.

Mulut Yuri langsung terbungkam. Cemberut.

Jiyong melirik adiknya yang seperti dugaannya, menatap lurus kedepan dengan cemberut imut. Tawanya hampir meledak mendapati wajah lucu Yuri. Ia berdehem dan melembut pada raut muka kasihan adiknya,

“Ada apa Yuri? Kau mau makan sesuatu sebelum ke apartemen?”

Wajah tertekuk itu berubah terkejut. Akhirnya sang kakak menyebut namanya sejak bertemu di gedung SM. Yuri mencibir sejenak digantikan senyuman ceria. Kembali ceria.

“Oppa, sudah melihat artikel baru hari ini?” tanyanya ceria.

“Sudah,” jawab Jiyong tanpa menatapnya.

“Kau bahkan belum tahu apa artikel yang kumaksud.”

“Apa lagi yang ada dipikiranmu sekarang selain tentang postingan iti?” tebak Jiyong yang seratus persen benar.

Yuri pun ternganga.

“Bagaimana tanggapan oppa?”

“Apa kau wartawan?” Jiyong menoleh padanya.

“Jawab saja,” kesal Yuri.

“Itu hanya kebetulan. Tidak perlu dipermasalahkan sebenarnya,” gumam Jiyong.

“Tapi,….”

“Diamlah,” pinta Jiyong masih bersabar dengan ocehan yang pasti masih berlanjut dari mulut adiknya yang susah sekali untuk diam.

Namun, kali ini Yuri langsung diam dan perlahan mengangguk, tidak ingin kakaknya kembali kesal walau kekesalan itu tidak terpatri dalam hati.

***

“Ini daftar lagunya,” ucap CEO Yang Hyunsuk menyerahkan lima lembar kertas pada Seunghyun yang mengestafetkan pada member lain yang langsung dibaca masing-masing. “Latihanlah lebih tekun dan fokus. Jaga kesehatan. Karena ini adalah final WORLD TOUR MADE kita, ayo tuntaskan dengan sukses di Seoul ini.”

Seunghyun, Daesung beserta Seungri mengangguk mengerti. Yang Hyunsuk tengah berada di meeting room beserta tiga member BIGBANG.

Pintu tiba-tiba terbuka memunculkan Jiyong yang buru-buru masuk dan langsung membungkuk memberi salam.

“Maaf, sedikit terlambat.”

“Kwaenchana. Ini sekadar pertemuan santai. Sebenarnya satu orang yang datang juga tidak apa-apa, ini freeday kalian. Aku memakluminya,” ujar CEO Yang senyum dan tampak senang melihat Jiyong karena tidak tampak menunjukkan kemurungan akibat putus dengan Kim Soeun. Jiyong mengambil duduk disamping Seunghyun, berseberangan dengan Seungri dan Daesung. Diambilnya salah satu kertas teratas. “Itu saja sebenarnya. Di freeday kalian aku justru memanggil kalian. Tidak apa-apa, ‘kan?”

“Tentu tidak apa-apa. Ini sangat penting,” sahut Seungri semangat.

Hyunsuk tertawa tapi kemudian menatapnya serius, “Latihanmu juga sangat penting. Ingat itu.”

Melihatnya, panda satu ini jadi gugup dan menatap member lain dengan berusaha tersenyum lebar.

Kegugupannya semakin bertambah kala kedua matanya bertemu mata sang leader yang langsung membalas tatapannya dengan tajam, dua jari kanan leader itu menunjuk matanya kemudian diarahkan pada maknae itu. Seolah mengatakan, ‘aku akan mengawasimu!’

Seungri yang mengira bisa meredakan rasa gugupnya justru semakin gugup mendapat tatapan tajam Jiyong, tatapan yang lebih tajam dari CEO-nya. Seungri merasa sulit bergerak sekarang.

Sebagai penutup CEO Yang menambahkan, “Kalian bisa kembali. Nikmati freeday kalian. Sampai bertemu di latihan berikutnya, aku akan melihat prosesnya.”

CEO Yang keluar setelah mereka membungkuk salam.

***

Usai acara, TaeTiSeo memasuki ruang ganti. Taeyeon membuka ponsel yang diambilnya dari dalam tas kecilnya. Terdapat sebuah pesan di ponsel rupanya.

“Malam ini sibuk? Ayo, kita ke Namsan malam ini.”

Senyum sipu tercetak di bibirnya melihat pesan dari kekasihnya, Woobin.

Lantas, Taeyeon membalasnya,

Malam ini aku ada acara live stage di televisi. Bagaimana kalau sore ini saja? Ini untuk anniversary kita, ‘kan?

“Ne. Arraseo. Aku akan menjemputmu pukul empat sore di apartemen.”

“Eung :)”

Berikutnya, Taeyeon meletakkan ponselnya diatas meja rias lalu pandangannya beralih pada Tiffany dan Seohyun yang saling asyik bicara.

***

“Waah… Gwiyeowo!” ucap Taeyeon begitu senang menerima boneka doraemon berukuran sekitar delapan puluh sentimeter dari Woobin setelah keduanya sampai ditempat yang sudah direncanakan. Namsan Tower. “Tapi, masih lucu aku, ‘kan?”

Melihat pacarnya mensejajarkan boneka doraemon di pipi mulus cantik itu, Woobin tertawa kecil, “Aku tidak bisa memilih karena kau memakai kacamata hitam.”

Woobin menyunggingkan senyum kemudian meraih lembut tangan gadisnya. Keduanya masih melangkah sambil bergandengan di sekitar taman Namsan Tower. Taeyeon tersenyum sesaat menoleh pada kekasihnya yang juga memakai kacamata hitam. Keduanya juga memakai topi dan masker untuk menyembunyikan identitasnya.

Kembali Taeyeon memandangi boneka itu dengan gemas, Woobin yang memperhatikannya pun tersenyum.

“Aku masih buruk memilih boneka. Beruntung ada yang mau membantu.”

“Aah… Penjaga tokonya pasti,” tebak Taeyeon salah kaprah.

“Bukan. Tapi, seseorang yang kukenal dan dia dari Korea,” ujar Woobin membuat teka-teki untuk pacarnya ini.

“Nugu?” tanya Taeyeon seraya berpikir mencari satu nama yang sekiranya masuk akal untuk pacarnya dan dia saling bertemu. “Kang Ha Neul?”

“Kwon Jiyong memilihkan boneka itu.”

“Kwon Jiyong?!” Taeyeon terkejut.

“Keurae. Aku bertemu dia di toko itu, membeli boneka untuk adiknya. Waktunya tepat, ‘kan disaat aku kebingungan? Tapi, aku tidak tahu dia beli boneka apa karena dia memilihkan untukku lebih dulu. Tapi, saat aku datang dia sedang melihat-lihat boneka kaonashi.”

Masih terkejut bagaimana bisa Jiyong dan kekasihnya bisa bertemu disana, toko di Jepang dan memilihkan boneka untuknya.

“Bagaimana ceritanya?”

“Awalnya dia berpikir aku membelikannya untukmu padahal untuk adikku. Karena Jiyong mengingatkanku padamu jadi aku sekalian membelikanmu boneka. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tidak ingat denganmu,” kekeh Woobin yang disambut cibiran Taeyeon.

Taeyeon sadar, pria bad boy itu mengetahui boneka yang Woobin hadiahkan untuknya. Taeyeon masih tercengang dengan fakta yang baru diketahuinya dari cerita Woobin.

Mereka terus melangkah sambil bergandengan tangan dan keduanya tiba di Gembok Cinta Namsan Tower. Melihat-lihat gembok dengan senang dengan sesekali menunjuk sesuatu yang menurut mereka menarik.

Ditempat tersebut mereka terbilang bisa leluasa menikmati kencannya karena tidak terlalu ramai pengunjung entah karena apa. Hanya ada empat pasangan kencan termasuk mereka. Dan, ketiga pasangan tersebut sibuk dengan aktivitas masing-masing jadi tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya dan mungkin tidak tahu ada pasangan selebriti disana.

Atau mereka pura-pura tidak tahu agar menjaga privasi kencan Woobin dan Taeyeon. Entahlah, itu urusan mereka. Woobin dan Taeyeon hanya ingin menikmati aktivitas kencan mereka di sore hari yang cerah ini.

“Ah, ini dia!” seru Taeyeon namun hanya cukup terdengar olehnya dan Woobin.

Jari Taeyeon menunjuk sebuah gembok pasangan.
Gembok bertuliskan nama Taeyeon dan satunya lagi tertulis nama Woobin. Juga, di masing-masing gembok terdapat tanggal mereka menyatukan gembok mereka bersama gembok-gembok lain yang sudah tak terhitung jumlahnya.

“Ini sudah dua tahun,” ucap Woobin dengan Taeyeon mengangguk membenarkan. “Ah, kapan kau live stage?”

“Pukul tujuh malam ini,” jawab Taeyeon menoleh padanya.

“Kalau begitu kita masih punya waktu lumayan panjang,” simpul Woobin tersenyum, terlebih saat Taeyeon mengangguk senang sebab terlihat menggemaskan.

Woobin menarik nafas lalu memandang lepas dari tempat itu.

“Waeyo?” tanya Taeyeon.

“Bukankah ini tempat aku menyatakan cintamu dua tahun lalu di tanggal ini?” Woobin mengingatkan.

Taeyeonpun jadi tersipu mendengarnya.

Dengan pipi yang bersemu merah, gadis itu mengenang, “Dan akhirnya kita langsung mencari gembok lalu memasangnya disini. Bukankah itu terkesan lucu?”

Membenarkan, Woobin mengangguk tertawa. Masih terus keduanya bergandengan, belum ada keinginan untuk melepas tautannya.

Pria tinggi tegap itu menghadapkan diri pada gadis mungil yang ikut menghadap heran dengan kekasihnya.

Ditempat lain, di lorong gedung YG Entertainment, Jiyong, tengah berjalan santai membawa kertas dari Yang Hyunsuk, menggeleng-gelengkan kepala mengiringi nyanyian lirihnya.

Tanpa tahu ada hal sangat menyakitkan apa yang akan menimpanya akibat perbuatan dari seseorang, tidak, dari dua orang yang sama sekali juga tidak mengetahuinya.

Woobin semakin mendekat pada Taeyeon yang masih bingung namun tetap tersenyum, “Bagian dari hadiah anniversary kedua kita.”

Tengkuk kecil Taeyeon diraih Woobin perlahan seraya mendekatkan wajahnya pada gadis innocent face itu. Lambat laun, Woobin yang sudah tidak ada jarak dengan wajah mungil itu mengecup bibir Taeyeon lembut. Terkejut Taeyeon menerimanya dari Woobin yang perlahan namun bagi Taeyeon masih tetap terasa tiba-tiba.

Tiba-tiba, seperti ada sesuatu benda keras yang melempar kepala Jiyong, sakit sekali. Jiyong langsung memegang kepalanya yang sanfat sakit, yang tiba-tiba menyerangnya.

Hingga ia ambruk seraya terus menahab sakit. Lembaran tidak ia pedulikan yang jatuh begitu saja.

Taeyeon terkejut untuk beberapa saat menerima kecupannya, namun ia lalu menutup matanya menerima kecupan yang diam. Kedua insan di Namsan Tower ini saling merasakan bibir hangat nan lembab mereka dalam diam.

Sementara yang tengah kesakitan di lorong, berusaha meraih dua lembar kertas yang tercecer tidak jauh darinya sambil terus meringis menahan sakit yang amat pening.

“Hyung!!!”

Suara khas itu terdengar, langkah larinya terasa semakin mendekat. Daesung yang baru keluar dari sebuah ruangan di dekat Jiyong ambruk bergegas lari menghampiri leader-nya.

Panggilan Daesung tidak bisa Jiyong jawab, ia sibuk dengan rasa sakit yang terus menyerangnya.

Setelah Daesung, maknae BIGBANG muncul dari ruang yang sama dan terkejut mendapati hyung kesayangannya tampak sangat tidak berdaya yang tengah disanding Daesung untuk membantunya bangun namun terlihat sangat sulit.

“Jiyong hyung!!!”

Seungri segera menyambangi Jiyong, membantu Jiyong mengambilkan kertas-kertas itu.

Usai kertas, Seungri membantu Daesung untuk membuat Jiyong bangkit.

Juga, sesuatu dirasakan ibu Taeyeon. Ia tengah dirumahnya merawat bunga-bunga di taman belakang rumahnya. Terkejut merasakannya dan cepat batinnya merapal doa, berharap tidak ada apa-apa dengan putrinya.

***

Restoran menjadi tujuan Woobin dan Taeyeon selanjutnya di kencan mereka yang semakin sore. Senja indah untuk menikmati waktu bersama pasangan. Keduanya saling menata senyum yang duduk berhadapan di salah satu meja terletak di pusat ruang utama restoran. Diatas meja bundar itu sudah terdapat blackforest cake berbentuk bundar pula.

Saling menatap seperti itu membuat Taeyeon tersipu malu dengan memainkan garpu di bibirnya.

“Kita sebutkan harapan untuk hubungan kita lalu tiup lilinnya bersama,” bimbing Woobin dengan senyum damainya.

Taeyeon mengangguk dan meletakkan garpu pada tempatnya. Setelah menautkan tangannya didepan dada, Taeyeon menutup mata lebih dulu disusul Woobin. Keduanya mengucapkan harapan dalam hati dengan masing-masing terukir sebuah senyuman.

Kedua mata Woobin terbuka dan melihat gadisnya masih khidmat menyebut harapan. Beberapa saat kemudian mata Taeyeon terbuka dan bisa melihat Woobin yang tersenyum sangat manis padanya.

“Apa kau sudah mengucapkan harapan?” heran Taeyeon karena memang tidak melihatnya.

“Sudah.”
“Aku tidak melihatnya.”
“Kau sedang berdoa, jadi tidak melihat,” timpal Woobin.
“Ayo, tiup.”
Setelahnya, mereka meniup lilin berbentuk angka dua diatas kue tersebut. Mereka saling menatap dengan tertawa kecil, lalu kembali menegakkan duduknya.
Woobin menyuapkan cake pada Taeyeon yang menerimanya dengan senang hati.

“Aku akan mengantarmu ke tempat live stage sekalian menontonmu perform,” ungkap Woobin.
Kedua alis Taeyeon terangkat. Taeyeon antara senang dan kasihan.

Apa kau tidak lelah? Kau baru sampai dari Jepang.”
“Semuanya hilang setelah bertemu denganmu hari ini. Dengan melihat performance-mu akan menbuatku melupakan lelah yang bahkan belum aku rasakan,” celetuk Woobin.
“Aku tidak percaya,” kekeh Taeyeon.
“Itu benar.”
“Tidak,” Taeyeon belum mau mengalah.
Keduanya pun tertawa dengan candaannya.

***

Jiyong yang kini duduk di ruang tamu, mendengar suara password apartemen dan pintu terbuka. Yang tidak lama kemudian tampak gadis berpakaian casual modis menghampiri Jiyong dengan kesal, meletakkan kertas diatas meja di hadapan kakaknya dalam sekali sentakan.

“Terima kasih sudah membawakan kertasnya,” ucap Jiyong mengambil kertas berisi daftar lagu serta susunan acara yang tertinggal di YG.

Tidak menanggapi ucapan kakaknya, Yuri justru mengomel, “Kenapa oppa. selalu lupa dengan hal penting?”

“Lakukan saja,” kata Jiyong menatap Yuri yang masih berdiri di depannya.
Namun, Yuri hanya mencibir. Ia memperhatikan kakaknya membaca kertas yang dibawanya.

Pintu apartemen terdengar terbuka, Youngbae muncul ditengah-tengah obrolan mereka. Setengah terkesiap melihat keberadaan Yuri di apartemen ini.

“Oppa, kapan kau pulang dari Jepang?” tanya Yuri mengalihkan pembicaraan.

“Satu jam yang lalu. Aku ke rumah sebentar dan langsung ke sini,” sahut Youngbae.
“Tapi… Kau bilang tidak pulang hari ini,” cemberut Yuri yang tidak terlalu diperlihatkan sehingga tidak kentara oleh Youngbae.
Namun, beda dengan Jiyong. Mungkin karena dia kakaknya jadi sangat paham dengan tingkah-tingkah Yuri saat menyembunyikan ekspresi sebenarnya.

Jiyong menyingkirkan kertas yang tengah dibacanya dan untuk mendengar serta melihat kelanjutan pembicaraan mereka yang lebih menarik perhatiannya. Biarkan si kertas cemburu akan perhatian Jiyong yang mulai senyum melihat mereka berdua.

“Mian,” ucap Youngbae tersenyum, sementara Yuri mencibir mendengarnya.
“Dia harus rehearsal untuk konser, jadi tidak akan membuang waktu disana. Dan kau tidak tahu kenapa Youngbae hyung berbohong padamu tentang kepulangannya? It’s surprise!” sela Jiyong dengan tangan seperti proses bunga tengah mekar didepan mulutnya, senyumnya pun merekah.
Yuri tersentak dengan ungkapan Jiyong. Surprise? Benarkah? Tersipu gadis ini mendengarnya. Ia akan semakin tersipu jika apa yang Youngbae lakukan benar seperti perkataan kakaknya.

Si senyum sejuta dolar, Daesung datang dari ruang tengah dengan ceria.

“Wow, Yuri, kau datang?” tanya Daesung bersemangat, dan langsung duduk disebelah Yuri.

“Jiyong hyung, aku ingin tanya…” Seungri yang baru datang juga dari ruang tengah dengan membaca kertas daftar lagu konser. Ucapannya menggantung, dan memandang sudah banyak penghuni di ruang tamu.
Ia dapat melihat Yuri dan senyum devil maknae-nya langsung muncul saat melihat Youngbae juga ada disana, disebelah Yuri.

“Wae?” Jiyong menyahut pada Seungri yang menggantungkan ucapannya.
“O!” Seungri bergegas mengambil duduk disebelah Jiyong lalu menunjukkan daftar lagu padanya, “Kali ini kita akan fan service sebelum lagu yang mana? Fan service yang sudah kita rencanakan itu.”
Yang diajak bicara memeriksa lagi kertas daftar lagu miliknya beberapa saat.

“Kita tentukan besok saja, ya,” Jiyong memutuskan.

“Wae?” Seungri buru-buru menyela, protes.

“Kenapa kau selalu susah di atur?” kesal Jiyong.
Tersenyum meringis, Seungri menyadari itu memang benar. Jiyong yang melihat itu langsung merangkulnya erat dengan senyum lebar.

Dimana Seunghyun? Akhirnya ia muncul dari dalam kamar, bergabung dengan mereka, dengan santainya mengambil remote control untuk menyalakan televisi tidak jauh dari tempat mereka duduk. Ia mengambil duduk tepat di sebelah Yuri.

“Ah, apa acara yang lucu malam ini?” gumam Seunghyun pada dirinya, tak ia pedulikan orang-orang disekelilingnya.

Yuri teringat akan sesuatu, ia lirik jam tangannya sejenak.

“Seunghyun oppa, bisa ganti channel ke SBS? Sekarang SBS Gayo Daejun,” pinta Yuri membuat yang lain menatapnya karena bicaranya begitu cepat.
“Keuraeyo? Siapa yang ingin kau lihat?” sahut Seunghyun seraya mengganti channel ke SBS.
Hey, itu milik kami. Kau tidak bisa mengganti channel sesukamu saat semua member BIGBANG ada disini,” protes Jiyong namun Yuri hanya mencibir dan menatap televisi, lalu tersenyum membuat Jiyong ikut menatap layar televisi besar datar itu.

Di studio SBS tempat Gayo Daejun diadakan, acara SBS Gayo Daejun sudah dimulai. Pembawa acara kali ini adalah Kim Woobin dan Krystal f(x).

“Mari nikmati penampilan TaeTiSeo sekarang. Music, start!” ucap mereka berdua, sang pembawa acara.
“Eo?!” Daesung terkejut dengan penampilan TTS yang akan berlangsung.
Di stage mulai menampakkan TTS dam musik mulai terdengar. TTS menampilkan salah satu single-nya, yakni Dear Santa.

“Yang menjadi host-nya Woobin dengan Krystal f(x). Woobin bekerja di acara yang sama dengan pacarnya,” celetuk Seunghyun masih belum mengalihkan tatapannya dari televisi.

Mendengar perkataan Seunghyun, Jiyong menoleh sejenak padanya dan kembali menatap televisi. Benar, ia ingat sekarang gadis leader itu tengah bekerja di tempat yang sama bersama pacarnya.

“Seperti suami-istri selebriti menghadiri acara yang sama,” Youngbae mengimbuhi celetukan Seunghyun.
Semua yang ada di ruang tamu menoleh senyum pada si suara emas Taeyang bahkan Seungri tertawa membenarkan, sementara Jiyong… poker face, tanpa ekspresi.

Tapi, Jiyong justru matanya memaksa untuk memperhatikan gadis mungil leader SNSD. Entah apa yang ada dipikirannya.

Yang ada dipikirannya saat ini adalah semua hal yang ada di diri Taeyeon yang Jiyong ketahui. Ia juga tidak tahu kenapa memikirkan hal itu, terlebih kupu-kupu yang bersarang secara tersembunyi didalam mulut gadis mungil bermisteri itu.

***

Di apartemen BIGBANG, Seunghyun dan Yuri berada di dapur.

“Yuri-ah,” panggil Seunghyun pada gadis cokelat itu yang akan keluar dari dapur.
“Ne, oppa?” Yuri berbalik menatap Seunghyun yang berdiri di depan kulkas terbuka.
“Apa akhir-akhir ini Jiyong mengalami sakit kepala?” tanya Seunghyun hati-hati seraya menutup pintu kulkas perlahan dan duduk di meja makan yang berada sekalian dalam ruang dapur.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Belakangan ini aku memang sering bersamanya tapi tidak pernah melihat Ji oppa seperti itu,” jelas Yuri dengan kening berkerut. Heran dengan pertanyaan tidak biasa dari member tertua BIGBANG. “Apa dia sempat sakit seperti itu belakangan ini? Mungkin karena persiapan konser.”

“Dia tidak merasa seperti itu didekat kami. Jika itu karena konser rasanya tidak mungkin, karena tadi sore tidak lama sebelum Jiyong seperti itu masih sungguh baik-baik saja di YG.”

“Seperti itu bagaimana? Terjadi sesuatu pada Ji oppa sore ini?” Yuri mulai khawatir.
Apakah Seunghyun akan menceritakan peristiwa Jiyong, yang Jiyong sendiripun menyembunyikannya dari Yuri?

“Daesung dan Seungri yang melihat. Katanya Jiyong sangat kesakitan di kepalanya dan jatuh hampir pingsan, sampai kertas yang dibawanya juga jatuh tidak dia pedulikan.”
Oh, Seunghyun. Karena pria ini Yuri mengetahui peristiwa yang ia lewatkan yang terjadi pada kakaknya.

Yuri terkejut mendengarnya. Benarkah? Tadi saat ia memasuki apartemen ini kakaknya terlihat sangat baik-baik saja. Bagaimana bisa dia menyembunyikan hal penting itu dari adiknya sendiri?

Gadis ini menoleh ke luar dapur, mengkhawatirkan oppa-nya. Tenangkan dirimu, Yuri-ah. Ia menatap kembali pada Seunghyun.

“Apa oppa tahu sesuatu lagi tentangnya?”
“Ani,” jujur Seunghyun. “Geunyang… aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Mungkin ini kali pertamanya dia seperti itu. Dia tidak memberitahu kami bahkan saat kami menanyakannya. Dia hanya bilang baik-baik saja.”
Semakin khawatir adik leader bad boy ini. Ditengah kekhawatirannya ponsel di genggaman Yuri berdering menandakan ada sebuah panggilan. Dilihatnya si penelepon, Taeyeon eonni.

“Ya, Tae eonni?” jawab Yuri melirik Seunghyun yang juga tengah menatap kearahnya.
“Neo eodiseo?”

“Di apartemen BIGBANG, eonni.”

“Ada sesuatu yang harus kuambil di rumahmu. Karena ini sudah malam mungkin aku akan menginap di rumahmu. Nanti lihat saja apa terlalu malam untuk kembali ke apartemen atau tidak. Jika tidak aku bisa pulang ke apartemen.”

“Ah… Ne. Tapi, kau kesini dulu, ya? Ke apartemen BIGBANG.”

“Taeyeon akan kemari?” tanya Seunghyun heran begitu sambungan telepon terputus.

Yuri hanya memberikan senyuman simpul pada pria tegap itu.

***

“Ayo, ke rumahmu sekarang sebelum semakin malam. Ini sudah pukul sepuluh lebih,” desak Taeyeon yang sudah berada di apartemen BIGBANG tepatnya di ruang tamu. Di ruang itu hanya ada mereka berdua. Yang lainnya sudah berada di kamar masing-masing.

“Eonni, aku juga ingin bicara denganmu. Kalau semakin malam maka menginaplah disini,” sahut Yuri tersenyum lebar. “Besok saja ke rumahku, jangan sekarang.”

“Kau merencanakan ini?” geram Taeyeon.
Yuri hanya senyum meringis.

Waktu semakin malam, Taeyeon tidak mungkin keluar dari apartemen ini. Haruskah ia menginap untuk yang kedua kalinya? Oh, Yuri, kau benar-benar…. Tapi, Yuri juga mengatakan ada hal yang ingin dibicarakan.

“Aku ingin tahu apa isi paper bag itu,” Yuri mengalihkan pandangan pafa paper bag yang sejak tadi ada di tangan kiri Taeyeon.
“Aku tidak akan memberitahumu. Kau juga seperti itu saat memberi hadiah yang ternyata isinya kaonashi,” balas Taeyeon meledek.
“Terserah,” cibir Yuri meledek juga. Begitu melihat Youngbae memasuki ruang tamu, sebelum Youngbae yang terkejut melihat kedatangan Taeyeon di malam-malam begini melontarkan ucapannya pada tamu Yuri yakni Taeyeon, Yuri lebih dulu bersuara, “Oppa, Jiyong oppa di kamarnya?”
“Ne,” jawab Youngbae mengangguk. “Paling belum tidur.”

Puas dengan jawaban Youngbae yang kemudian pria itu menuju dapur, Yuri melirik Taeyeon tersenyum dan berisyarat untuk mengikutinya.
Ia bangkit menuju kamar kakaknya diikuti Taeyeon yang terpaksa dan pasrah. Entahlah apa yang akan dilakukan dan dibicarakan gadis yang sudah Taeyeon anggap adik sendiri ini. Taeyeon hanya bisa mengikut dibelakangnya dengan geram.

“Di dalam sini? Kalau mau bicara kenapa harus disini?” Taeyeon setengah berbisik pada Yuri sesampainya didepan kamar Jiyong, takut yang lain terganggu dengan suaranya.

“Bukan hanya aku, tapi Ji oppa harus ikut membicarakan ini,” timpal Yuri lalu mengetuk pintu perlahan dan tetap menjaga suara tanpa mengganggu yang lain.
“Apa dia sudah tahu kita akan masuk kekamarnya?” sela Taeyeon semakin bingung.

“Belum. Dia juga tidak tahu eonni datang dan kita akan bicara dengannya,” ujar Yuri. Kemvali mengetuk pintu setelah tidk mendengar jawaban dari dalam ataupun dibukakan pintu. “Kenapa dia belum keluar?”

“Yuri-ah…” bisik Taeyeon bermaksud mencegah. Tapi, sepertinya akan sia-sia saja.
Pasrah si gadis mungil ini dengan Yuri dan situasi yang sudah menjebaknya.

Yuri kembali mengetuk pintu.

“Oppa, aku masuk saja, ya?” Yuri menaikkan intonasi suaranya agar terdengar hingga ke dalam kamar.
Beruntung pintu tidak terkunci jadi Yuri bisa masuk kamar.

Si pemilik kamar, yang tengah bersandar di kepala tempat tidur sambil membaca buku melihat gadis cokelat manis itu masuk.

“Oh… Yuri-ah,” sapa Jiyong menoleh sesaat dan kembali membaca bukunya.

“Kenapa tidak keluar saat kau mendengar ketukan? Kau tidak memakai earphone dan pasti mendengarku,” racau Yuri berdiri tidak jauh dari tempat tidur dengan dominan warna putih milik Jiyong.

“Aku tidak ingin kau menggangguku. Wae geurae? Ppali malhaebwa,” desak Jiyong santai.
“Aku ingin bicara penting padamu dan…” Yuri menyadari Taeyeon tidak ikut masuk.

“Kau mencari apa?” Jiyong heran dengan Yuri seakan mencari sesuatu.
“Tidak apa-apa, masuklah, eonni. Ji oppa sudah memberi izin,” Yuri setengah berseru pada Taeyeon di luar kamar.

‘Eonni’? Kening Jiyong berkerut. Siapa yang Yuri maksud dengan ‘eonni’? Juga, siapa yang memberi izin seperti kata Yuri? Ia mengalihkan pandangan pada pintu kamar.

Gadis mungil yang sedikit menunduk itu masuk dengan hati-hati. Jiyong menajamkan pandangannya dan dapat melihat Taeyeon yang menatap padanya.

Menatap mata Jiyong, Taeyeon berusaha tidak terlihat canggung.

Geram dengan langkah malu-malu Taeyeon, Yuri cepat menghampirinya dan menutup pintu.

“Kenapa kau membawa orang lain tanpa pemilik tempat ini?” protes Yuri.
Mengabaikan protes Jiyong , Yuri menggandeng lengan Taeyeon dan bersama-sama berdiri dihadapan Jiyong.

“Karena kita akan bicara disini sekarang,” cetus Yuri menatap mereka.

“Siapa yang menyetujui itu?” ujar Jiyong.

“Oppa tanya padaku ada apa. Dan inilah… yang akan kita bicarakan,” jawab Yuri lalu mengambil kursi kayu tidak jauh dari ranjang dab dihadapkannya disamping ranjang Jiyong. Jiyong juga Taeyeon semakin tidak mengerti pada gadis satu ini. “Mungkin Tae eonni tidak akan nyaman duduk di ranjang Ji oppa. Jadi, aku berusaha mengerti. Eonni, duduklah disini.”

Dengan agak ragu Taeyeon duduk setelah menatap Yuri sejenak disusul Yuri yang langsung duduk di ranjang Jiyong yang menatap dua gadis secara bergantian lalu Jiyong duduk bersila.

Yuri menaikkan kaki ke ranjang, melakukan hal yang sama seperti kakaknya dengan tersenyum di manis-maniskan pada kakaknya.

“Pasti bukan kau yang ingin bicara penting,” tebak Jiyong pada adiknya. Ia menatap Taeyeon yang mengerutkan kening merasa Jiyong menuduhnya. Memang benar Jiyong menuduhnya, “Hey, anak kecil, apa yang ingin kau katakan?”
Anak kecil?! Beraninya Jiyong berkata seperti itu, lihatlah dirinya, betapa bad boy-nya dia, rutuk Taeyeon kesal. Matanya membola pada Jiyong, mencibir kecil.

“Hey, oppa. Tae eonni tidak tahu aku akan bicara denganmu sekarang. Lihatlah, wajahnya lucu sekali saat bingung,” kekeh Yuri. Tapi, Jiyong tidak menuruti Yuri dan justru mengalihkan pandangan kearah lain. Sementara Taeyeon menatap tajam pada Yuri.

Suasana hening beberapa saat. Yuri menatap keduanya secara bergantian lalu berdehem.

“Oppa, katanya kau tadi sore sangat kesakitan di kepalamu waktu di YG,” Yuri membuka tema. Taeyeon menatap leader BIGBANG, menunggu jawabannya.

“Jigeum, na kwaenchana,” kata Jiyong melanjutkan perhatiannya pada yang tengah dibaca sambil berucap, “Kalian hanya akan basa-basi, ‘kan? Langsung intinya saja, ppaliwa.”

“Kira-kira apa yang menyebabkan kau bisa sakit seperti itu, oppa? Pasti bukan karena persiapan konser, kau tidak biasanya seperti itu. Malhaebwa, oppa,” pinta Yuri.
Buku digenggaman Jiyong, ia tutup lalu diletakkan di meja kecil samping ranjang. Ditatapnya mereka berdua.

“Sepertinya memang tidak ada hal penting yang ingin kalian katakan. Keluar saja. Aku mau tidur,” Jiyong menarik selimut, malas menghadapi mereka.
“Kau tidak akan tidur secepat itu,” elak Yuri cepat menarik selimut Jiyong yang sudah menutupi badannya hingga dada.
“Malam ini aku akan tidur cepat,” cetus Jiyong kembali menarik selimut lebih keras.
“Aku melihat ini agak aneh,” ujar Yuri menghentikan Jiyong menarik selimut.

“Apa yang aneh?” tanya Jiyong kembali bersila. Adiknya ini memang tidak mau dikalahkan sepertinya.

“Sakit kepalamu,” jawab Yuri lalu menoleh Taeyeon yang justru bingung.
“Langsung intinya, Yuri…” bujuk Jiyong lembut di muka, tidak sabar di hati.
“Itu agar kau memahami apa yang akan ku katakan. Karena ini sedikit tidak masuk akal. Ini seperti saat pertama kali oppa dan aku mengetahui kemampuan Tae eonni,” jelas Yuri. Jiyong menatap Yuri lalu berdehem, menunggu kelanjutan Yuri yang menoleh Taeyeon. “Eonni, apa kau melakukam sesuatu hari ini yang berbeda dan mengesankan?”

Tercengang dengan pertanyaan itu, tapi kemudian tersipu mengingat kencan hari ini, terlebih saat kissing. Taeyeon gelagapan saat Yuri menatapnya penuh selidik.

“Mmm….”
“Adakah itu, eonni?” ulang Yuri.

“Aku kencan untuk merayakan anniversary ke dua dengan Woobin,” jawab Taeyeon tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya walau malu-malu, diiringi kupu-kupu berwarna biru membuat Jiyong yang melihatnya senyum di sudut bibir kirinya. Memang tulus mengatakannya si gadis mungil yang nampak pipinya bersemu merah.
“Apa saja yang kau lakukan dengannya?” tanya gadis cokelat manis itu serius.
Hey, lihat pertanyaanmu! Itu privasi,” dengus Taeyeon memukul pelan lengan Yuri seraya tertawa melirik Jiyong.

“Kau pikir aku ingin tahu?” tandas Jiyong datar membuat Taeyeon mencibir, ingatan kencannya dengan Woobin pecah seribu gara-gara bad boy satu ini. “Bicarakan itu di luar, sana.”

“Saat aku membaca banyak buku fantasy, dimana orang yang mengetahui kemampuan orang lain, maka orang itu akan merasakan sesuatu saat orang berkemampuan itu melakukan hal yang sepele tapi fatal akibatnya,” tutur Yuri, yakin kedua orang dihadapannya ini akan bisa mulai diajak bicara serius.

Benar saja, Jiyong dan Taeyeon memperhatikan Yuri lebih, mulai tertarik.

“Teruskan,” pinta Jiyong.
“Oppa, kau tidak tahu penyebab sakit kepalamu, bukan? Bagaimana jika sakit kepala oppa ada hubungannya dengan apa yang dilakukan Tae eonni saat kencan. Sebuah kejadian ketika kencan,” pikir Yuri bukan tanpa alasan berasumsi demikian. Ia sudah memikirkannya beberapa jam lalu.
“Maldo andwae,” Jiyong tertawa tak percaya, kembali mengambil buku tadi. Ia melakukan hal kecil untuk mencairkan suasana hatinya dan suasana di kamar ini.
“Itu dating. Apanya yang fatal? Aku rasa tidak melakukan hal fatal apapun seperti dugaanmu, Yuri-ah,” sangkal Taeyeon heran dengan pemikiran Yuri yang menyangkut pautkan hal ini dengan cerita yang dibaca gadis manis ini, yakni Yuri.

“Itu maksudku. Aku juga belum tahu apa dugaanku benar atau tidak.”
“Kau selalu berimajinasi tinggi sampai tidak ada orang yang bisa melihat imajinasimu,” ledek Jiyong.

“Apa kalian merasa ini tidak penting?” kesal Yuri. “Oppa, kau tidak tahu penyebab sakit kepala, adikmu berusaha mencari penyebabnya.”
“Dan, bukan dengan membawa dia kemari untuk mencari penyebabnya, bawa saja dokter. Itu hal yang tepat jika kau ingin tahu penyebabnya,” imbuh Jiyong.
“Kau sendiri yang tidak mau ke dokter, Seungri yang bilang,” balas Yuri.

“Terserah kau saja,” Jiyong mengalah.
“Tae eonni, saat kencan, apa mungkin kau…” Yuri menatap Taeyeon untuk cepat mengerti maksud tatapan dan pikirannya, “Itu pasti terjadi, ‘kan? Dia memberikannya sebagai hadiah anniversary.”
Maksud Yuri langsung bisa ditangkap Taeyeon tapi ia pura-pura tidak tahu karena ada Jiyong di antara mereka.

“Apa maksudmu?” tanya Taeyeon.
“Kemari,” perintah Yuri pada Taeyeon agar mendekat. Taeyeon pun menurut, mendekatkan kepala pada Yuri yang berbisik di telinganya, “Kalian berciuman, ‘kan?”
Langsung Taeyeon mundur menatap Yuri tajam. Jiyong memang tidak mendengar ucapan Yuri tapi ia bisa tahu pertanyaan yang Yuri ajukan karena gadis itu berbisik dan Taeyeon langsung terkesiap begitu mendengar pertanyaannya.

“Itu benar. Tapi, apa itu fatal?” tanya Taeyeon sudah tidak berbisik lagi dan memunculkan kupu-kupu berwarna biru, membuat ruang kaar tepatnya bagian ranjang tempat mereka bertiga saling bercakap bersinar untuk beberapa saat.
“Oppa, kau tahu maksud kami?” canggung serta ragu Yuri menanyakannya, karena ini sedikit membuat Taeyeon malu.
“Kenapa harus berbisik? Aku tahu maksud kalian. Hadiah anniversary… dia memberimu ciuman, ‘kan?” tebak Jiyong tanpa ragu dengan tersenyum di sudut kanan bibirnya. Tercengang, Taeyeon menunduk malu membuat Yuri merasa tidak pada Taeyeon tapi Jiyong memang harus tahu untuk mempercepat tahu penyebab rasa sakit Jiyong. Jiyong melanjutkan, “Jadi, apa maksudmu? Fatal apa maksudmu? Sampai disini memang sedikit tidak masuk akal.”

Jiyong tersenyum pada Yuri lalu melirik Taeyeon sejenak.

“Kapan eonni melakukan itu?” lanjut Yuri
“Sore tadi,” jujur Taeyeon kembali membuat kupu-kupu biru muncul dengan nyamannya.

“Oppa juga sore hari, ‘kan kejadiannya?” Yuri terkejut dan Jiyong mengangguk perlahan, belum teralu mengerti maksud adikya.

“Yuri-ah…” panggil Taeyeon pelan tanpa menatap orang yang dipanggil, melainkan menatap leader BIGBANG ini.

Dua orang itu, Jiyong juga Taeyeon saling menatap, mereka mulai menyadari sesuatu dan Yuri mengangguk pada mereka.

“Bagaimana jika kedua peristiwa di waktu yang sama itu ada hubungannya dengan kalian? Kemampuan oppa melihat kemampuan Tae eonni. Mungkinkah ada hubungannya dengan kencan dan sakit kepala yang kalian alami di waktu bersamaan?” Yuri menebak-nebak.
Mereka bertiga saling menatap. Sekaligus berpikir bagaimana jika itu benar terjadi?

TO BE CONTINUED

***

Next chapter banyak GTAE moment, ya.

Delapan puluh delapan persen GTAE moment.

Gamsahamnida.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

30 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 4 )

  1. Akhirny So eun ma Ji udh end..
    Moment GTae so sweet eaa.. wlpun Ty eon masi berstatus milik orng laen..😚

    Bener banget yg s bilang yulyulk.. pasti itu ada hubungannya.. eomma ny Ty eon aee rasaiin.. apakah GTae jodoh? Makany pas Ty eon kissing, jidi kesakitan? *capcua konfirm nj d eomma ny Ty eon.. kn dia tau sgalanya.. 😙😙😙

    Req:moment GTae d bykin dong,, eon.. 😄😄 *reader kbykn mau..

    Keep writing and FIGHTING eon!!!😘😘😘

  2. gomawooo maaf chinguu nggak ngasik komentar di chap sebelumnya tapi di chap ini benar benarr kerenn ditunggu ya eonni chap berikutnya dan janji ya eonn bakal bnyak GTAE nya ❤ ❤

  3. Aaaaa sumpah sukaaaaa buanggeeeettt sama ff ini, suka suka sukaaaa….
    Gak tau mau koment apa, yang pasti pengen cepet” baca next chap nya…
    Ditunggu buanggeettt, Fighting thor 🙌

  4. Akuuuuuj sukaaaaa bangettttttttt 😍😍😍
    Rasa rinduku telah terobati 😄
    Dan disini banyak banget moment GTAE nyaaaaa 😍 jadi makain terobati rasa rinduku 😊😙
    Eonni, aku mau nanya? Terinspirasi dari mana cerita ini? Apa terinspirasi darai DraKor?
    Aku pengen tau ajaa, soalnya Eonni pinter banget buat cerita ini apalagi genrenya Romance-Fantasy 😯. Aku cuma nanya itu aja eonni. Fighting Eonni 😇😘

  5. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 5 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 12 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 13 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 14 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s