Secret: I Can See Your Sincerity (Chapter 3)

 

Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : @azuma_10

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

 

Welcome back to readers in my Fan Fiction 🙂

 

Preview: Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Note:

Annyeonghaseyo, reader’s 😃

Bagaimana ceritanya? Silakan yang ingin memberi pendapat, kritik dan saran tulis di coment.

Oh, iya. Menurut reader’s setiap chapter yang kubuat kepanjangan, tidak? Mau aku bagi dua per chapter yang sudah dibuat, tapi juga sudah aku tentukan adegan per to be continued-nya. Kalau dibagi dua khawatir nanti to be continued-nya justru rancu, tidak ‘ngeh’ gitu.

Then, yang menunggu GTAE moment, mohon bersabar. Sudah aku siapin, kok. 😊 Banyak, apalagi kalau urusan Jiyong – Soeun the end. 😉

Jeoseonghamnida, banyak enter  yang tidak pada tempatnya.

Semoga di mengerti.

So reader’s, now… enjoy it and happy reading!

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!


***

 “Aku melihat sinar di wajahmu! Aku hampir gila melihat kupu-kupu yang keluar dari mulutmu! Biru, putih, pink dan kuning. Aku pikir aku benar-benar gila. Tolong, jelaskan padaku. Jangan membuatku semakin gila.”

Mendengar penuturan Jiyong, Taeyeon ketakutan dan menangis.

“Aku…” Taeyeon tidak bisa berkata apa-apa.

“Kim Taeyeon. Niga mwonde? Apa kau….”

Cepat Taeyeon kembali menutup mulut pria ini dengan tangan kanannya yang kini lebih erat membuat Jiyong terkejut membulatkan mata. Akibat mulutnya ditutup secara tiba-tiba, punggung Jiyong terantuk anak tangga pertama dibawah dan Taeyeon berusaha menahan lulut yang semakin pegal karena menyeimbangi posisi Jiyong agar tetap bisa membekap mulutnya.

Pandangan keduanya dekat. Jiyong menatap Taeyeon tajam begitupun Taeyeon yang melakukan hal aama dengan air mata yang terus terjatuh dengan tetap menutup mulut Jiyong. Benar-benar tajam pandangan keduanya.

CHAPTER 3

I KNOW

Di luar gedung YG Entertainment, Taeyeon menoleh kembali ke dalam gedung tersebut. Kejadian yang baru saja ia alami bersama pria yang juga dikenal sebagai G-Dragon membuatnya khawatir serta sedikit frustasi hingga wajahnya sulit ditebak saat ini. 

Taeyeon dengan lemah kembali melangkah menuju mobil didepannya dimana sudah berdiri Woobin yang membukakan pintu untuknya.

“Tidak perlu lakukan ini, Woobin-ah,” ujar Taeyeon tanpa semangat meraih pintu mobil. Ia kembali menatap gedung YG Entertainment.

“Ada sesuatu yang tertinggal di dalam?” tanya Woobin ikut menoleh kearah gedung itu. Taeyeon menggeleng dengan senyum simpul. Woobin melanjutkan, “Aku melihat Yuri di sini. Dia akan ikut kita? Aku akan menunggunya kalau begitu.”

Kembali Taeyeon menggeleng senyum, “Dia datang menjemput oppa-nya.”

Jiyong memperhatikan dua sejoli itu dari jendela lantai 5, tempat ia dan gadis mungil itu mengalami peristiwa yang sama-sama membuat terkejut. Bahkan, saat ini Jiyong kembali melihat Taeyeon berbicara yang memunculkan kupu-kupu berwarna pink berkilau cerah dengan cahaya yang menyinari mereka.

Reaksi Jiyong? Datar. Terlalu sering ia terkesiap, terkejut dan terbelalak dengan kupu-kupu yang gadis itu keluarkan. Kepalanya kembali terasa pening tapi berusaha ia tahan sehingga tidak banyak reaksi yang ditunjukkan tubuhnya. Hanya ringisan kecil sejenak.

Tampak mobil Woobin menjauhi gedung YG Entertainment dan Jiyong terus memperhatikan mobil itu hingga hilang dari pandangan mata.

“Kim Taeyeon, sulit untuk melupakan hal yang sudah kau lakukan padaku,” gumam Jiyong.

“Kim Taeyeon. Niga mwonde? Apa kau….”

Teringat kembali perlakuan gadis kid’s leader itu padanya di pintu tangga darurat.

FLASHBACK

 Kala Taeyeon menutup erat mulut Jiyong, mereka saling berpandangan tajam hingga Jiyong berkedip terlebih dahulu membuat Taeyeon sadar dan ikut berkedip-kedip lalu cepat melepas bekapannya dari mulut mahal Jiyong.

“Sebelumnya kau selalu menyuruhku berhenti bicara,” gagap Taeyeon lalu cepat berdiri dan menghindari menatap Jiyong. “Jadi, aku juga harus menutup mulutmu. Ini sedikit adil.”

Dengan sisa tenaga di tubuhnya, Jiyong berusaha bangkit berdiri. Ia menatap gadis itu yang cepat mundur karena jarak mereka yang terlalu dekat.

“Kim Taeyeon….”

“Aku tidak tahu alasan kau selalu memintaku untuk tidak bicara,” potong Taeyeon cepat sebelum Jiyong mengeluarkan ucapan yang membuatnya semakin takut. “Aku ingin bicara. Entah kau nyaman atau tidak yang pasti….”

“Bukan masalah nyaman atau tidak untuk kata-katamu,” Jiyong balas memotong, “Tapi sesuatu yang keluar dari mulutmu itu. Aku tidak tahan melihatnya.”

“Apa yang kau bicarakan?” elak Taeyeon pura-pura tidak tahu menahu dan berusaha tertawa walau terkesan awkward. “Dari awal aku tidak mengerti maksudmu.”

“Apa kau pikun? Lalu kenapa kau menyeretku ke sini?” singgung Jiyong.

“Aku tidak mengerti semuanya,” Taeyeon masih berusaha menyangkal.

“Jelaskan padaku.”

“Berhenti menyuruhku seenaknya!” kesal Taeyeon menatap sengit sang leader BIGBANG. Keduanya terdiam. Kemudian setengah menunduk Taeyeon berucap lembut dengan penyesalan, “Jeoseonghamnida.”

Ucapan maaf tulus dari mulut gadis mungil itu berhasil mengeluarkan kupu-kupu berwarna kuning diiringi sinar segar nan cerah, berlawanan dengan suasana hati kedua leader ini.

Tentu saja Jiyong kembali melihat kupu-kupu sialan itu. Ditatapnya dalam seorang Taeyeon.

“Hey…” Jiyong kembali bersuara.

“Tapi, tetap saja! Kau yang membuatku tidak nyaman sekarang,” kembali Taeyeon meluapkan kekesalannya, kali ini tanpa kecanggungan yang berhasil ia hilangkan.

“Kau menyadari sesuatu?” selidik Jiyong terkait kupu-kupu yang baru saja ia lihat. Sebab, tidak mungkin Taeyeon tidak tahu tentang monster yang berada di dalam mulut kecil itu. Monster? Kupu-kupu yang walau menurut Jiyong indah itu memang monster. Ya, Jiyong lebih menyebutnya monster sialan. Ingin sekali Jiyong membalas perbuatan gadis itu padanya. Mungkin dimulai dari mengancam. “Taeyeon… Leader grup populer….”

PLAK!!!

Tamparan dari tangan kecil nan mungil Taeyeon sukses mendarat di pipi mulus Jiyong, meninggalkan bekas berwarna merah muda.

Taeyeon harus memberinya tamparan sebelum pria dihadapannya secara dekat meneruskan kata-katanya.

Tatapan Taeyeon hanya datar melihat Jiyong menyipitkan kedua matanya. Kemudian gadis itu keluar dari tempat sempit itu, meninggalkan Jiyong yang heran dengan tamparan yang tidak di mengerti oleh pria swag ini. Kenapa gadis itu memberinya tamparan? Apa ia mengucapkan kata-kata yang salah?

FLASHBACK END

Mengherankan memang.

Jiyong meninggalkan tempat ia berdiri.

***

Dalam perjalanan, Taeyeon memegangi kepalanya yang mulai terasa pening, pandangannya buram.

“Noona, kau pusing?” tanya Woobin yang menyadarinya ditengah-tengah fokus menyetir.

“Woobin-ah, antar aku ke apartemen saja,” lirih Taeyeon namun masih bisa didengar oleh Woobin.

“Kau bilang mau menemui CEO Lee. Bagaimana dengan itu?” cemas juga melihat keadaan kekasihnya seperti sekarang yang berencana menemui CEO SM Entertainment. Woobin sesekali melihat keadaan Taeyeon dengan tetap fokus menyetir.

“Aku akan menghubungi lewat telepon,” sahut Taeyeon menggenggam erat sabuk pengaman yang dipakainya. Menahan sakit kepalanya, takut serta geram hingga tubuhnya gemetar sebab kemampuannya yang sudah diketahui orang lain, orang itu, si leader BIGBANG.

“Baiklah. Bertahan, noona,” pinta Woobin khawatir dengan kondisi gadisnya semakin tidak baik. Woobin menambah kecepatan mobilnya untuk cepat sampai tujuan.

Kini, Taeyeon dengan dibantu Woobin yang memegang dari samping kedua bahu kecil milik gadis itu memasuki apartemen SNSD.

“Kaukah itu, Tae eonni?” seru Seohyun keluar dari dapur. Terkejut mendapati kakaknya yang sangat lemas, “Eonni.”
Sang maknae langsung menghampiri mereka lalu membantu Taeyeon duduk di sofa ruang tamu, bersamaan dengan itu Tiffany muncul reaksinya sama dengan Seohyun, terkejut.

“Kau kenapa, eonni? Syutingnya membuatmu kelelahan? Atau, kakimu kembali sakit?” tanya Tiffany lembut, duduk disampingnya.
Taeyeon menggeleng pelan lalu Woobin duduk di sebelahnya.

“Aku ambilkan air,” sela Seohyun bergegas kembali ke dapur. 
“Oppa, ada apa dengan eonni?” tanya Tiffany.

“Dia juga belum cerita apa-apa,” ujar Woobin menoleh kekasihnya yang melemah.

“Ini mungkin karena angin luar. Na kwaenchana,” sahut Taeyeon yang memaksakan senyumnya agar terlihat baik-baik saja kendati sebenarnya sebaliknya. “Woobin-ah, kau kembalilah. Kau masih harus menemui Kang Haneul, ‘kan?”

“Aku bisa melanjutkannya.nya besok,” tolak Woobin.

“Tiga hari lagi kau ke Jepang. Besok kau sibuk. Jangan buang waktumu disini.”

“Ini memang waktu untukmu. Aku akan menemanimu.”
“Disini ada adik-adikku yang menemani,” timpal Taeyeon lembut.
“Atau kau mau ke rumah sakit?” tawar Woobin.
“Aku tidak mau ada artikel baru muncul tentangku masuk rumah sakit karena persiapan single. Disini sudah ada dokter-dokter cantik,” kata Taeyeon tersenyum kecil seraya melirik Tiffany.

Woobin akhirnya tersenyum, “Baiklah. Jaga dirimu. Aku pergi.”

Pamitan Woobin dibalas anggukan Taeyeon.

Tepat Woobin menutup pintu apartemen, Seohyun keluar membawa dua gelas minuman. Satu jus jeruk dan lainnya air mineral. Heran, dimana Woobin oppa?

“Woobin oppa ke toilet?” tanya Seohyun.

“Dia pulang,” sahut Tiffany santai.

“Aku sudah menyiapkan jus untuknya,” timpal Seohyun meletakkan dua gelas minuman itu beserta nampannya sekaligus.

Baru saja diletakkan, minuman jeruk itu Tiffany ambil begitu saja lalu di minumnya.

“Terima kasih. Aku wakil Woobin oppa,” ucap Tiffany tersenyum kecil dibalas Seohyun yang berkerut kening, sementara Taeyeon hanya tersenyum.

“Eoh, Tae eonni. Ini minumlah,” tawar Seohyun mengambil minuman lalu memberikannya pada Taeyeon dan siap membantu eonni-nya minum. “Ah, tidak. Biar kubantu saja.”

Namun, Taeyeon menolak Seohyun untuk membantunya.

“Kemarikan gelasnya. Aku tidak separah sampai tidak bisa minum sendiri,” Taeyeon meminta gelas yang diberikan Seohyun dengan senyum meminta maaf.

***

“OK. Hari ini kerja kalian bagus. Sudah malam, kalian bisa pulang,” pungkas CEO Yang Hyunsuk dalam meeting singkat di meeting room bersama BIGBANG.

“Aku akan bermalam disini,” ujar Jiyong tiba-tiba membuat member lainnya yang sudah beranjak dari tempat duduknya urung keluar dan menatap leader-nya.

“Kontrol emosimu saat latihan. Itu bisa mempengaruhi tekanan dari orang yang kau marahi terutama member-muPulanglah,” bujuk CEO Yang Hyunsuk sekaligus menegur leader BIGBANG yang sangat berpengaruh di industri musik.

Mendengar itu Jiyong beranjak dari duduknya. Bersama member lain, Jiyong membungkuk salam lalu berjalan keluar.

Tepat saat itu Yuri melihat mereka dan cepat menghampiri lima laki-laki swag plus bad boy itu.

“Ji oppa, mian. Aku pulang ke apartemen sebentar menengok Tae eonni baru saja,” ujar Yuri.

“Sesuatu terjadi padanya?” tanya Seungri cepat yang menyandarkan tangannya di bahu kiri Youngbae.

Yuri mengangguk, “Sepulang dari sini kondisinya sangat lemah, kelihatan sangat pusing. Tapi, tidak mau ke rumah sakit. Untung sekarang lebih baik keadaannya.”

Perkataan adiknya Jiyong cermati. Ia teringat Taeyeon yang menangis saat ia mengungkap apa yang dilihat dari gadis mungil ber-innocent face itu. Apa karena hal itu?

“Syukurlah Taeyeon baik-baik saja,” ucap Seunghyun dengan wibawa yang tercetak jelas dimana mereka berenam berjalan menuju lift. “Tapi, apa terjadi sesuatu saat Taeyeon di sini? Jika benar, aku merasa tidak enak karena bagaimanapun juga dia berada di kantor management-ku. Jadi terkesan seperti tuan rumah, ‘kan?

Yuri mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.

“Aku pikir kelelahan tapi dia menyangkalnya,” sahut Yuri yang sudah sampai di depan pintu lift bersama lima member BIGBANG dan menunggu pintu tersebut terbuka setelah Jiyong menekan tombolnya. “Saat bertemu denganku juga Tae eonni terlihat masih sangat baik-baik saja. Jiyong oppa juga melihatnya. Benar, ‘kan, oppa?”

Sedari tadi hanya mendengarkan, Jiyong mengangguk perlahan, “Ya.”

Kembali Yuri mengangguk membenarkan.

“Mungkin ada masalah pribadi,” gumam Yuri mengangguk-angguk.

“Oh!” sela Seungri yang menyadari sesuatu. “Jaketku masih di ruang latihan. Jamkkanmanyo, akan kuambil.”
“Mianhae. Aku minta maaf sudah memarahimu saat latihan tadi,” ucap Jiyong menepuk bahu Seungri yang terkesiap ketika hendak pergi.
“Kwaenchana, hyung,” balas Seungri senyum lalu pergi mengambil jaketnya.
Saat itu juga pintu lift terbuka membuat Daesung bermaksud memanggil sang maknae tapi gagal, karena Seungri sudah lenyap dari pandangan mata.

“Aku akan akan masuk dulu bersama Jiyong oppa. Kalian tunggulah Seungri. Maaf, ya,” kata Yuri pada mereka bertiga lalu menarik lengan kakaknya.

Seunghyun mengangguk, “Masuklah.”

“Jiyong terlihat kurang baik. Kau yang menyetir, ‘kan? Hati-hati,” imbuh Youngbae tersenyum.
Terkesiap, Yuri mengangguk lalu cepat menarik Jiyong memasuki lift.

Pada mereka yang berada di luar lift, Yuri melambaikan tangannya dengan senyum.

Sementara itu, Seungri terlihat kembali saat pintu lift benar-benar tertutup.

“Ah, apa kau tidak bisa cepat sedikit?” protes Daesung.

“Dimana Jiyong dan si cokelat itu?” tanya Seungri menggenggam jaket MADE-nya ditangan kiri.

“Baru saja turun,” timpal Youngbae.
Seungri nyengir bersalah pada mereka.

***

“Terkadang aku seperti kakakmu saat kau seperti ini,” singgung Yuri didalam lift tanpa menatap kakaknya.

“’Seperti ini’?” ulang Jiyong tidak mengerti.
“Saat kau tidak baik-baik saja.”
“Kau pasti ada maksud lain mengajakku hanya berdua di lift,” tebak langsung Jiyong dengan santai tanpa menoleh adiknya yang banyak maunya. Memang manja gadis ini, apalagi Jiyong selalu melayani kemanjaannya.

“Oppa sangat tahu kebiasaanku. Sedikit tidak nyaman untukku, kau tahu?” cemberut Yuri.
“Apa itu? Apa maumu sekarang?” akhirnya Jiyong menanyakannya. Masih belum menoleh pada adiknya, tatapannya hanya tertuju ke depan.

“Ada yang ingin ku katakan padamu tapi di apartemen BIGBANG saja,” Yuri memutuskan dan mengamati wajah kakaknya yang sedikit pucat. “Kau terlihat tidak baik dengan wajahmu yang seperti itu. Jiyong oppa, apa yang akan aku katakan padamu kau harus percaya walaupun ini memang sedikit aneh. Aku juga merasa begitu, tapi begitulah kenyataanya.”

Apa yang di maksud Yuri belum dapat dicerna oleh Jiyong hingga pintu lift terbuka sebelum Jiyong bertanya.

“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Bicaralah yang jelas,” tukas Jiyonh keluar dari lift dengan Yuri disampingnya.

“Nanti di apartemen saja.”

Mereka terus melangkah hingga sampai di basement-nya YG Entertainment dan memasuki mobil Yuri tanpa saling mengatakan apapun.

Di perjalanan, Jiyong menatap gadis manis yang diam saja fokus menyetir karena membuatnya penasaran apa yang akan dikatakan adiknya ini.

Sementara yang tengah ditatap, berusaha fokus menyetir namun pikirannya kalut serta bingung.

FLASHBACK

“Aku khawatir melihatmu seperti ini. Ada hal lain yang ingin kau katakan, eonni?” tanya Yuri di kamar Taeyeon dalam apartemen Girls’ Generation.

Taeyeon mengangguk. Keadaannya sudah lebih baik sejak Yuri datang menengoknya walau Yuri seharusnya stand by di YG Entertainment menunggu jadwal latihan kakaknya, Kwon Jiyong selesai.

“Ada. Sangat penting.”

“Mwonde? Tapi, aku tidak melihat Tiffany eonni dan Seohyun. Dimana mereka?”

“Aku sudah bicara pada mereka tidak perlu obat tapi sekarang mereka pergi. Akan kulimpahkan pada manager untuk membelinya tapi mereka tetap tidak mau.”

“Itu keinginan mereka,” sahut Yuri senyum.
Keduanya saling melempar senyum.

“Yuri-ah,” panggil Taeyeon mulai serius. “Apa yang akan aku katakan padamu kau harus percaya. Harus percaya walau sulit untuk percaya.”

“Eonni, kau membuatku takut,” sergah Yuri berkerut kening.

“Jaldeuro. Karena aku hanya akan mengatakannya satu kali,” lanjut Taeyeon benar-benar serius sekarang.

“Taeyeon eonni, jangan katakan jika itu membuat hidupku tidak tenang,” tolak Yuri serta merta, semakin takut.

“Jaldeuro, Yuri-ah,” paksa Taeyeon. Karena, ia rasa harus mengatakannya pada gadis ini. “Aku memiliki kemampuan bisa mengeluarkan kupu-kupu bersinar dalam mulutku setiap kali aku bicara ketulusan.”

Saat itu juga kupu-kupu berwarna biru muncul, sayang tidak ada yang menyadari. Membuat kupu-kupu itu lebur begitu saja tanpa dua gadis itu menyaksikan keindahan kupu-kupu serta sinarnya.

Yuri? Membulatkan penuh kedua matanya, lidahnya kelu. Ingin sekali tertawa dengan pengakuan candaan leader SNSD. Ya, menghilangkan bosan di apartemen memang butuh candaan. Ada-ada saja candaan leader-nya ini. Bagaimana bisa eonni-nya menemukan candaan sangat menggelikan seperti itu?

“Eonni,” kekeh Yuri terpingkal.

“Lihat? Kau tidak percaya. Jika bisa, kau mungkin akan terkejut melihat kupu-kupu keluar dari mulut baru saja dan sekarang,” tandas Taeyeon dan benar saja, kupu-kupu biru bersinar lembut kembali muncul menerangi mereka berdua namun tidak menyilaukan walau seandainya mereka dapat melihat. Karena, menerangi dengan lembut.

Yuri memutuskan mencerna pengakuan Taeyeon beberapa saat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian.

“Eonni, benarkah…” belum selesai, Taeyeon mengangguk cepat. Toh, tahu Yuri hanya akan memastikan pengakuannya. Kini, Yuri terbelalak dan berseru, “Jadi, benar?!”

Mulut Yuri cepat Taeyeon tutup erat menggunakan tangan kecil nan mungilnya. Setelah Yuri kembali pada kesadarannya, Taeyeon melepaskan bekapan di mulut Yuri.

Sedang Yuri, gadis yang hampir terkena serangan jantung itu mengalih-alihkan pandangan dan tertuju pada pintu kamar. Ia cepat menuju pintu kamar tersebut.

“Aku sudah memikirkan hal yang harus kulakukan saat mrnbust pengakuan ini. Tidak ada orang di luar dan itu sudah benar-benar terkunci,” jelas Taeyeon tenang.

Namun, Yuri tetap memastikan pintu itu benar-benar terkunci. Memang benar-benar terkunci. Ia kemudian menghampiri Taeyeon gadis berkemampuan aneh itu.

“Aku… harus percaya?” ulang Yuri. Kali ini suaranya bisa terkontrol dengan aman.

Taeyeon lega, karena reaksi terkejut gadis dihadapannya ini tidak berlarut-larut. Kalaupun masih terkejut bahkan terus teriak Taeyeon akan memakluminya. Taeyeon tidak akan protes, memangnya siapa yang akan percaya begitu saja dengan pengakuan yang terkesan bodoh seperti ini.

Justru Taeyeon berterima kasih terus menerus dalam hati karena Yuri cepat menerima pengakuannya.

“Percaya?” tanya Taeyeon sekali lagi.

“Aku tidak percaya, aku tidak percaya. Katakan sekali lagi,” racau Yuri, takut sebenarnya.

Taeyeon menatap Yuri datar.

“Aku hanya akan mengatakannya sekali,” Taeyeon mengingatkan.

“Eonni benar bisa… mengeluarkan kupu-kupu dari dalam… situ?” tunjuk Yuri pada bibir mungil nan lembut milik Taeyeon dengan takut-takut.
Taeyron mengangguk, “Tapi, kau tidak melihatnya.”

“Aku tidak peduli,” tanggap Yuri menggeleng cepat. “Apa yang terjadi? Bukan. Bagaimana itu bisa terjadi? Sejak kapan eonni busa seperti itu? Jelaskan semua padaku. Aku akan coba mengerti walaupun tidak masuk akal.”

“Tepatnya kapan aku tidak tahu. Tapi, ibu memberiku cermin saat aku berumur tujuh tahun. Saat bercermin di cermin itu barulah aku tahu kemampuan itu. Ah, aku tidak bisa menceritakan detailnya karena sangat panjang. Ada hal yang lebih penting dari itu dan aku rasa kau harus tahu.”

“Aku?! Apa lagi? Kenapa aku harus tahu?” Yuri semakin takut.

“Karena kau adik Kwon Jiyong.”

Yuri mengernyitkan dahi. Apa hubungannya?

“Memang iya aku adiknya. Tapi, apa hubungannya? Ah, aku tidak mengerti, eonni….” rengek Yuri. Muncul manjanya.

“Aku juga akan mengatakannya satu kali. Dengarkan baik-baik, Yuri-ah. Dari usia tujuh tahun sampai sekarang aku tahu hanya aku dan ibu yang bisa melihat kupu-kupu itu. Tapi, sekarang ada lagi satu orang yang mengetahui kemampuanku. Dan, aku tahu langsung dari orang itu hari ini.”

Setiap perkataan Taeyeon, Yuri benar-benar cermati.

Diam sejenak, Taeyeon bersiap mengatakan hal yang pasti akan membuat adik Jiyong ini kembali terkejut, bahkan lebih terkejut. Ya, ia harus membuat pengakuan kembali dihadapan Yuri.

“Lalu, eonni?” tegur Yuri karena Taeyeon belum melanjutkan ucapannya. Yang awalnya tidak ingin mendengar pengakuan-pengakuan lain Taeyeon karena terlalu… ah, entahlah, campur aduk rasanya. Tapi, sekarang penasaran juga. Karena, sepertinya apa yang dikatakan Taeyeon setelah ini adalah inti pengakuannya.

“Kakakmu, Kwon Jiyong mengetahui kemampuanku dan mampu melihatnya,” ungkap Taeyeon lagi.


“Apa?!” seru Yuri. Belum sampai Taeyeon menutup mulutnya, Yuri cepat sadar dan memperbaiki sikapnya. Ia menetralkan suaranya, seharusnya. “Kakakku melihatnya?”

Taeyeon mengangguk pelan, “G-Dragon BIGBANG tahu kemampuanku, Yuri-ah. Aku juga sempat tidak percaya. Aku kehilangan kemampuan untuk melihat kupu-kupu dan aku tidak tahu sampai kapan aku bisa melihatnya kembali, tapi walaupun begitu tetap masih bisa mengeluarkannya. Mungkin aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi, justru kakakmu yang bisa melihat.”

“Jadi, maksudmu Jiyong oppa bisa melihatnya dan kau tidak tapi eonni masih bisa mengeluarkannya?” ulang Yuri memastikan. Taeyeon terdiam, artinya membenarkan. “Bagaimana kakakku bisa tahu jau seperti itu?”

“Semuanya berawal dari cermin ini,” beber Taeyeon mengambil cermin klasiknya di sisi bantal, tentu saja Yuri tidak mengerti. Taeyeon menatap cerminnya sejenak, “Singkatnya cermin ini hilang dan ditemukan kakakmu. Dia bercermin lalu melihat sinar dari cermin. Sejak itu dia bisa melihat kupu-kupu dengan berbagai warna dalam diriku. Dan, hari ini… dia mengungkapkan semuanya padaku.”

Menatap Taeyeon, pikiran Yuri teringat dengan wajah Jiyong hari ini yang terlihat lumayan pucat dan setiap kali kakaknya bertemu Taeyeon, laki-laki itu selalu memperhatikan Taeyeon. Seakan mencari sesuatu dalam diri gadis yang ternyata memiliki kemampuan tidak masuk logika. Sekarang Yuri tahu maksud kakaknya seperti itu.

“Eonni…” Yuri bersuara pelan memanggilnya setelah lama mencerna semua yang didengar dari Taeyeon dan bisa menyimpulkannya.

“Itu sebabnya aku ceritakan padamu, Yul. Aku rasa ini harus karena dia kakakmu. Kalian sangat dekat dibanding lainnya,” ujar Taeyeon. Lega rasanya bisa mencurahkan rahasia kemampuannya pada seseorang. Selama ini ia terlalu bingung dan takut untuk menceritakannya pada siapapun bahkan rekan satu grupnya. Kini Taeyeon tersenyum bahkan siap tertawa, “Jika aku melihat kalian beraama, kalian terlihat menyenangkan. Jika ditanya siapa pasangan idol adik-kakak favorit, maka aku memilih kalian.”

“Eonni, kami sering bertengkar hanya saja kau belum pernah melihatnya,” timpal Yuri tersenyum manis. “Tapi, eonni. Aku juga bingung harus bagaimana pada Ji oppa dengan kemampuanmu. Tidur bisa berpikir karena aku benar-benar baru tahu.”

“Bantu aku, Yul. Untuk saat ini kau hanya perlu memastikan Kwon Jiyong tidak memberi tahu siapapun tentang kemampuanku,” pinta Taeyeon sungguh-sungguh.

Cepat mengangguk si gadis cokelat itu seraya senyum mantap.

“Ne, Taeyeon eonni.”

“Hari ini kau bisa katakan apa yang sudah kukatakan padamu pada Jiyong. Aku hanya ingin dia mengerti dan tidak menganggapku menyeramkan. Itu saja untuk saat ini.”
“Dia pasti mengerti, akan kupastikan itu. Aku akan melindungi kalian,” Yuri senyum meringis.

“Jeongmal gomawo, Yuri-ah,” ucap Taeyeon diiringi terbitnya kupu-kupu berwarna biru bersinar mengelilingi mereka beberapa saat dengan kepakan sayap yang begitu indah.

“Apa eonni mengeluarkan kupu-kupu baru saja? Warna apa itu?” serta merta Yuri bertanya, tergoda akan keinginan melihat kupu-kupu dari dalam mulut Taeyeon.

“Aku tidak bisa melihatnya. Tapi, aku yakin itu keluar kupu-kupu biru.”

Tersenyum, Yuri lalu memeluk Taeyeon yang membalasnya seraya senyum pula. Beberapa saat, Yuri cepat melepas pelukannya dan menatap Taeyeon penuh senyum.

“Jadi, eonni tidak bisa membohongiku sekarang,”

“Kau tidak bisa melihat itu. Jadi, aku masih bisa membohongimu,” jawab Taeyeon sedikit menjulurkan lidah pada Yuri, meledek. “Kupu-kupunya… sangat indah, kau tahu?”

“Ah, harusnya aku bisa melihatnya. Aku jadi ingin bertukar dengan Ji oppa karena bisa melihat ketulusanmu. Ya, Ji oppa yang mungkin hanya akan diam jika melihat kupu-kupu itu, padahal ini bisa seperti mencari ketulusan dalam dirimu, eonni.”

“Kau mau memanfaatkanku?” dengus Taeyeon cemberut.

“Tidak,” elak Yuri senyum nyengir. “Tapi, tidak bisa di tahan saat kita bertiga sedang bersama, atau aku berdua dengan Ji oppa melihatmu bicara aku tanya apa kau mengeluarkan kupu-kupu itu atau tidak. Dengan begitu aku tahu eonni tulus atau tidak. Ji oppa tidak bisa berbohong padaku. Berhati-hatilah.”

“Jangan mengancamku,” Taeyeon mengingatkan dengan mata mendelik.

“Aku bercanda. Aku tidak seburuk itu untuk memanfaatkanmu. Hanya saja sekadarsekadar penasarana dan setelah itu ya sudah,” terang Yuri senyum lebar. “Kecuali jika itu menimbulkan masalah.”

“Sudah kupikirkan sejak lama, aku tidak akan membuat masalah dengan kemampuanku ini,” ujar Taeyeon tersenyum manis dengan keluarnya kupu-kupu biru bersinar secara lembut sebelum akhirnya menghilang di udara perlahan.

Sisa-sisa sinar masih ada kala Taeyeon bernafas lega, sangat lega karena setidaknya perasaan yang lama ia pendam telah ia tumpahkan pada Yuri si gadis ceria nan aktif ini.

Ini membuat Taeyeon lebih baik dan tidak perlu khawatirkan dimanfaatkan oleh gadis yang sebenarnya memiliki sisi lugu yang tengah menatapnya dengan masih saja penasaran. Lagipula Yuri tidak bisa melihat kupu-kupunya. Yuri tidak akan memanfaatkan kemampuannya. Taeyeon sangat yakin itu.

FLASHBACK END

Yuri dan Jiyong turun dari mobil sesampainya di basement apartemen tempat BIGBANG tinggal.

Jiyong masih penasaran dengan apa yang akan dikatakan adiknya.

***

“Yuri-ah,” panggil Jiyong pelan pada Yuri yang akan membuka password apartemen. Yuri memang mengetahui password-nya.
Gadis dari adik G-Dragon itu menoleh belakang menatap kakaknya yang berdiri menunggu pintu terbuka.

“Wae?”
“Kau ingin bicara apa?” tanya Jiyong lagi karena entah mengapa ia menjadi penasaran.
“Setidaknya masuk dulu karena ini sangat penting dan harus hari ini,” sahut Yuri dan membatin jika oppanya bertanya lagi ia berencana mengunci mulut pria itu dengan menjejalkan wedges yang tengah ia kenakan.

“Mengenai apa dan siapa?” desak Jiyong.
Lihat? Ingin sekali Yuri melancarkan rencananya.

“Masuk dulu,” geram Yuri. “Ini tidak bisa dibicarakan disini karena…”

Karena member BIGBANG muncul, Yuri menghentikan ucapannya dan ccept menutup mulutnya. Ia membuka password pintu.

“Kalian baru sampai?” tanya Seunghun heran. Karena setidaknya mereka berdua sudah berada dalam apartemen sepuluh menit lalu sebelum Seunghyun dan tiga member tiba mengingat kakak-beradik itu pulang lebih awal.
“Dengan kecepatan menyetir Yuri itu sudah pasti,” ledek Seungri tersenyum mencibir.

“Aku hanya sedang berpikir saat menyetir, jafi kecepatannya lambat,” sambar Yuri kesal lalu  memasuki apartemen diikuti member BIGBANG.

“Pikiranmu juga lambat. Memangnya apa yang kau pikirkan Yuri?” lanjut Seungri terus menggoda partner ledekan.

“Ah… Hari yang  panjang dan mendapat hal baru. Bagaimana denganmu Jiyong oppa?” tanya Yuri menghempaskan diri di kursi tamu, mengabaikan Seungri dan pertanyaannya.

Jiyong menatap adiknya dan satu persatu member bergantian. Ia bingung.

“Ji hyung…” tegur Daesung melihat leader-nya hanya diam  memikirkan sesuatu.

“Apa harimu menyenangkan?” ulang Yuri.

Langsung Jiyong teringat tamparan yang Taeyeon berikan padanya dan pertanyaan Yuri seakan menyindirnya kendati adiknya tidak tahu menahu kejadian itu.

“Seungri, tidurlah di kamar lain,” ucap Jiyong beranjak meninggalkan mereka menuju kamarnya.
“Apa dia masih marah padaku?” heran Seungri dengan sikap Jiyong.
“Dia sudah minta maaf,” Youngbae menimpali. Bukannya membela Jiyong namun tidak ingin Seungri salah paham.
“Biarkan saja. Itu cara efektifnya untuk merenung,” sambung Seunghyun.
“Yuri-ah, apa kau sudah makan malam?” tanya Daesung senyum merubah arah pembicaraan.

“Aku tidak makan malam,” sahut Yuri santai.

“Ah, diet,” Daesung mengangguk mengerti.

Yuri tersenyum dan tanpa sengaja kedua manik matanya bertemu mata Youngbae yang juga menangkap pandangan gadis itu dan balas tersenyum.

Kali ini Seungri melihat tingkah mencurigakan mereka. Senyum devil Seungri terbentuk seraya menatap Yuri, bahan untuk menggoda gadis itu bertambah lagi.

***

Kembali tidur di kamar maknae BIGBANG, Yuri tengah berbaring memejamkan mata di ranjang empuk nan mewah itu.

Waktu menunjukkan pukul 00.40 a.m.

“Jika ini benar-benar tidak ingin yang tahu, datanglah ke kamarku pintu tidak dikunci. Masuklah dan jangan sampai ada yang tahu mendengar langkahmu. Aku bersedia kapanpun kau ingin bicara. Katamu harus hari ini, ‘kan?”



Kedua mata Yuri terbuka, teringat ucapan Jiyong lewat pesan singkat ponsel setibanya di kamar ini. Ia bangun terduduk dan menyalakan ponsel. Pukul 00.41.

Pesan kakaknya ia balas kemudian,

“Aku akan ke kamarmu, oppa.”
“Aku belum tidur. Datang saja.”

Tidak sampai satu menit gadis itu menerima balasan kakaknya.

Setelah menerima balasan seperti itu, bergegas Yuri bergegas mengambil sebuah kertas note kecil diatas meja nakas lalu keluar tanpa mengenakan alas kaki, tidak lupa menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara. Benar-benar hati-hati.

Yuri cepat menuju kamar Jiyong yang tepat disebelah kamar Seungri dan melihat pintunya sedikit terbuka. Mungki untuk berjaga-jaga agar tidak menimbulkan bunyi.

Seraya memastikan tidak ada yang tahu, ia memasuki kamar perlahan.

Jiyong yang tengah menulis sesuatu di buku catatan musiknya di meja tidak jauh dari ranjangnya melihat adik lucunya datang dan menutup pintu.

Beranjak dari duduknya, Jiyong beralih duduk di tepi ranjang dengan Yuri yang cepat-cepat menghampiri kakaknya.

“Tidak perlu seperti itu. Waktu sekrang ini kau lari juga tidak akan membangunkan mereka. Mereka lelah.”
Yuri tercengang suara Jiyong tidak merendah sama sekali. Tapi, ia sadar kenapa harus terlalu mengendap-endap seperti tadi. Apa dirinya membuat kesalahan?

“Oppa,” panggil Yuri cepat mengambil duduk disebelah Jiyong dan menatapnya serius, tetap mengecilkan suara walau kakaknya sudah bilang tidak akan membangunkan yang lainnya. Tapi menuru Yuri seperti ini lebih baik agar tetap terjaga kerahasiaannya.

“Jadi, apa yang akan kau bicarakan? Kali ini kau akan menjawabnya?” tanya Jiyong dengan senyum manis yang mampu meluluhkan Yuri.

Tapi, tanpa senyum seperti itupun Yuri aakan menjawabnya, memang akan memberitahunya sekarang.

“Mengenai Taeyeon eonni.”
Mendengarnya, perlahan senyum Jiyong hilang.

“Tae… Yeon?” Jiyong tertawa. “Kau tidak akan membicarakan hal tidak penting selarut ini, ‘kan?”

Yuri menggeleng, “Hari ini oopa menghabiskan beberapa waktu bersama Tae eonni dan oppa menemukan sesuatu?”

“Maksudmu?” Jiyong bingung. Menemukan apa Yuri maksud.
“Ooh… Oppa, aku mengatakan ini atas permintaan Taeyeon eonni. Yang kau lihat beberapa hari terakhir dalam diri Tae eonni itu benar,” ungkap Yuri membuat Jiyong melebarkan kedua matanya. Ia langsung bisa menangkap maksud adiknya. “Taeyeon eonni benar-benar mengeluarkan kupu-kupu seperti yang kau lihat, oppa. Kupu-kupu bersinar itu akan keluar jika dari mulutnya jika dia bicara ketulusan.”

Sangat terkejut Jiyong. Tentu! Akhirnya terungkap jati diri Kim Taeyeon yang terkenal tapi misterius bagi Jiyong?

Ditatapnya Yuri dan mencermati apa yang baru saja ia dengar. Mengejutkan memang, tapi Jiyong berusaha menguasai dirinya, menenangkan dan tetap berada di alam sadar. Tenanglah, G-Dragon! batin Jiyong.

“Itu… Benar?” mulut Jiyong sulit sekali mengeluarkan satu kata saja. “Lalu, gadis itu… bagaimana ia bisa hidup dengan….”

Akh! Sesuatu seperti menusuk ulu hati Jiyong. Sesuatu yang tumpul namun berhasil menusuknya. Sakit. Perih sekali. Jiyong memegangi dada kanannya tempat organ hatinya terpatri dengan meringis kesakitan.

“Oppa, wae geurae?!” panik Yuri mendekat dan memeriksa keadaan Jiyong yang tampak semakin kesakitan.

Jam dinding kotak yang terpajang elok menunjukkan pukul 1AM.

Di waktu sama tempat berbeda, Taeyeon cepat bangun dari tidurnya dan menuju wastafel kamar mandinya. Perutnya terasa teraduk-aduk dengan tenggorokan yang seakan ingin mengeluarkan sesuatu. Gadis mungil ini merasa mual dan akhirnya muntah. Terus muntah hingga Taeyeon merasa pusing dan hampir tidak tahan.

Setelah beberapa saat, Taeyeon membersihkan mulut dan menatap cermin kamar mandinya. Menatap pantulan dirinya.

“Dia mengeluarkan kupu-kupu saat bicara tulus dan juga menyadari adanya kupu-kupu itu?” tanya Jiyong.
Keluar dari kamar mandi, Taeyeon melihat waktu di bekernya yang menunjukkan 01.11 a.m.

“Aku juga baru tahu hari ini saat Tae eonni sakit setelah dari YG dan aku menjenguknya,” lanjut Yuri dengan Jiyong yang sudah tampak membaik tanpa kesakitan.
Bagaimana Jiyong bisa mempercayai fakta seperti ini?

“Lalu?” nada suara Jiyong terdengar pasrah, pandangannya pun tak tertuju pada si lawan bicara namun menatap depan, entah apa yang ditatapnya.
“Tae eonni sempat kecewa memiliki kemampuan itu tapi ia nikmati saja. Benar-benar menikmati sampai tidak sadar sering mempermainkan kupu-kupunya dan jadi tidak bisa melihat tetap bisa mengeluarkannya. Dia tidak mempermasalahkan itu tapi bingung kenapa oppa bisa melihat kupu-kupu itu. Padahal tidak ada yang selain Tae eonni sendiri dan eomma-nya,” jelas Yuri dan menunggu reaksi kakaknya yang mungkin akan mengatakan sesuatu. Namun, Jiyong hanya diam. “Jiyong oppa, katakan sesuatu.”

“Aku… tidak tahu apa yang harus kukatakan, Yuri-ah,” semakin bingung pria ini. Ini benar-benar nyata? Semoga kejiwaannya baik-baik saja. Ia masih ingin berkarir di dunia musik dan fashion, juga banyak keinginan serta harapan yang belum tercapai.

“Aku juga sangat terkejut tapi kau harus percaya, apalagi kau bisa melihat kemampuannya.”

Jiyong teringat Taeyeon menangis dan mulut Jiyong sekuat tenaga ditutup oleh tangan mungil gadis itu. Faktanya, kupu-kupu itu penyebabnya. Gadis itu pasti sangat terkejut saat ada orang lain mengetahui kemampuan rahasianya.

“Kau sudah selesai?” tanya Jiyong yang tidak tahu saat ini harus bertanya apalagi selain mendengar penuh dari Yuri.
“Iya, seperti itu. Jadi, kumohon, oppa, jangan menganggapnya aneh dan mengertilah. Posisi Tae eonni sedikit sulut sekarang karena kau tahu kemampuannya. Bagaimana jika kau memberi tahu pada orang lain? Jangan beritahu siapapun, dia bisa sangat terluka. Karena sekarang tergantung padamu, Jiyong oppa.”
Tergantung pada dirinya? Jiyong merasa seperti memikul sebuah beban besar lagi. Selain dunia BIGBANG dan lainnya sekarang kupu-kupu Taeyeon si gadis yang bahkan jarang saling bertemu?

“Memangnya jika aku beritahu orang lain mereka akan percaya? Aku bukan orang bodoh yang menceritakan hal-hal aneh seperti yang kau katakan tapi aku harus percaya. Ini juga sudah cukup membuatku bodoh,” gerundel Jiyong. Kesal juga dengan kenyataan yang menimpa dirinya. Apa ia mengalami hal aneh sekarang? Kenapa harus dirinya dan bukan orang lain, Seungri misalnya?
“Sudah kubilang jangan menganggapnya aneh!” kesal Yuri menatap Jiyong. “Pokoknya kau harus menjaga rahasia ini, G-Dragon. Kau….”

“Panggil aku G-Dragon lagi,” tantang Jiyong. Lama-lama geram juga dengan Yuri yang memanggilnya tanpa sebutan ‘oppa’. Apakah berat memanggil ‘oppa’ pada kakak kandung sendiri?
“Mian!” Yuri ikut kesal dan sukses mendapat tatapan horor dari kakak swag-nya. Topik pembicaraan awal belum selesai, jadi Yuri tidak membalas tatapan horor kakaknya. Tatapan horor yang bisa lebih horor dari kakaknya. Sikap awal Yuri bentuk kembali, yakni tenang dan lembut, walau tidak begitu lembut. “Aku kira kau akan diam saat tahu Tae eonni seperti itu tapi ternyata kau begitu cepat memberitahu Tae eonni.”

“Itu karena aku selalu…” jawaban cepat Jiyong tiba-tiba menggantung. ia beberapa kali merasakan pusing dan tidak tahan dengan kupu-kupu Taeyeon.
“Selalu apa? Malhaebwa.”
“Jika sudah selesai kembalilah ke kamar. Ini akan kupikirkan lagi besok yang membuatku benar-benar terkejut. Entahlah apa malam ini bisa tidur atau tidak.”

“Tidurlah,” ucap Yuri mengangguk. “Ah, saat Tae eonni bercerita dia menitipkan ini untukmu.”
Kertas note yang sedari tadi di genggamannya ia serahkan pada Jiyong yang menerimanya dengan kembali bingung.

“Itu akan membantumu dan menghilangkan kebingunganmu jika mengenai kupu-kupu berwarna. Jangan salah paham lagi dengan kupu-kupu yang keluar dari Taeyeon eonni,” terang Yuri. “Ah, jika aku melihat Tae eonni sedang mengeluarkan kupu-kupu akan ku potret dan tidak ada yang tahu jika dalam potretanku ada kupu-kupu berwarna juga bersinar. Pasti akan indah jika aku bisa melihatnya. Aku mungkin seperti dikelilingi taman kupu-kupu. Aku iri padamu, oppa.”
“Kembalilah ke kamarmu,” pinta Jiyong sebelum perkataan Yuri semakin melantur kemana-mana.
Yuri mencibir kesal. Tapi, hanya sesaat karena setelah itu ia tersenyum mmengusap-usap lembut rambut kakaknya.

“Jaljayo, oppa,” ucap Yuri lalu beranjak menuju pintu diikuti Jiyong yang kemudian mengunci pintu setelah Yuri keluar dan melempar senyum padanya sekali lagi.
Langkah Jiyong menuju meja tadi, dengan pikiran tertuju pada gadis mungil leader SNSD yang memiliki kemampuan rahasia itu. Ia duduk di kursi depan meja dan membuka kertas note tersebut.
Dicermatinya tulisan di kertas tersebut. Terdapat tulisan menggunakan spidol warna. Tulisan nama warna dengan warna spidol yang sama disertai keterangan.

COLORED BUTTERFLIES YOU MIGHT SEE

  • RED : For my parents (mom)
  • PINK : Love
  • BLUE : Other people
  • WHITE : All (Except humans. Such us animals, plants, and other objects.)
  • YELLOW : ???

Paham. Jiyong mengerti maksud tulisan tersebut. Pandangannya belum teralihkan dari kertas. Manik matanya yang berwarna tan itu tertuju pada tanya tanya berspidol kuning. Kenapa kata ‘YELLOW’ yang ditulis dengan spidol kuning dibubuhi tanda tanya sementara yang lain ada maksudnya semua?

Selain itu, jadi, Jiyong bisa melihat ketulusan dalam diri Kim Taeyeon? Setiap ketulusan dengan jenis berbeda, berbeda pula warna kupu-kupu yang muncul. Dan, jika tidak ada kupu-kupu yang muncul maka gadis itu tidak tulus.

Jiyong tersenyum menahan tawa. Kini ia mengetahui seberapa tulus leader Girls’ Generation itu pada setiap orang dan hal-hal lain. Walau aneh Jiyong merasa ini sedikit lucu.

Satu persatu ia berusaha mengingat warna kupu-kupu yang pernah dilihat dari gadis itu.

Saat ia melihat Taeyeon bicara dengan Woobin dimana Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu berwarna pink dengan sinar pink cerah pula. Jadi, gadis itu benar mencintai pacarnya? Jiyong tersenyum tipis. Mereka memang cocok.

Andai Kim Soeun juga bisa mengeluarkan kupu-kupu seperti itu. Maka, Jiyong bisa memutuskan untuk bertahan atau tidak.

Daripada melamun yang tidak mungkin terjadi, kembali Jiyong menatap kertas itu dan mengingat kembali saat  ia melihat Taeyeon bicara dengan beberapa orang dilokasi stuying video klip Girls’ Generation, dan kupu-kupu yang muncul memang warna biru sesuai dengan tulisan di kertas note yang masih ada dalam tangan kirinya.

Juga, warna putih kupu-kupu yang ia lihat hari ini karena gadis itu bergumam dengan benda selain manusia, yakni gelas kopi yang diberikan Woobin. Ingin Jiyong tertawa, semakin lucu saja menurutnya. Mungkin gadis  ber-innnocent face itu memuji kopi dari cafetaria YG yang enakKembali Jiyong tersenyumtanpa sadar Jiyong menikmati ini.

Kemudian warna merah. Rasanya sulit untuk melihatnya. Pernah bertemu dengan ibunya Taeyeon saja belum pernah jadi kapan ia bisa melihat Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu berwarna merah yang pasti  tidak kalah indah dengan kupu-kupu yang pernah ia lihat dari Taeyeon. Sepertinya itu berwarna merah menyala dan terasa damai  karena berada didekat ibunya, wanita yang disayangnya.

Masih mengingat kupu-kupu yang Jiyong lihat dan  mencari artinya, tapi kemudian ia berhenti saat melihat tanda tanya untuk warna kuning.

Mengapa? Justru ketika ia berhadapan dengan gadis itu yang sering muncul  adalah kupu-kupu warna kuning. Kenapa gadis itu tidak mencantumkan artinya? Tanda tanya, artinya tidak tahu, bingung atau lupa?

Atau gadis itu baru mengetahui adanya kupu-kupu berwarna kuning saat Jiyong mengatakan melihat kupu-kupu kuning?

Sekarang gadis itu tidak bisa melihat kupu-kupu dalam dirinya dan apakah gadis mungil itu ingin tahu bagaimana rupa kupu-kupu kuning yang ia maksud?

Ia akan cari tahu. Maka, Jiyong meletakkan kertas note tersebut dan beranjak tapi ia sadar dan perlahan duduk kembali. Cari tahu? Apa pedulinya? Dirinya hanya perlu menjaga rahasia dan menikmati ini. Tidak perlu mencampuri urusannya. Begitulah seharusnya.

Jiyong mengangguk-angguk meyakinkan diri tidak perlu ambil pusing dan tangan tangan. Kertas note ia masukkan kedalam buku catatan musiknya.

Kemudian, ia  menuju tempat tidur, menarik selimut, berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Berusaha memejamkan mata, menenangkan pikiran setelah apa yang ia alami satu hari ini.

***

BIGBANG tengah latihan vokal di dance room. Dimana Daesung dan Seungri bertukar pikiran mengenai ide fan service seraya sesekali melirik kertas berisi lirik lagu. Youngbae tampak serius menatap lirik lagunya. Lalu, Seunghyun terus bermain dengan rap-nya.

Sedangkan Jiyong, berdeham kecil dan kembali menatap lirik lagu di tangan kanannya,

Uri sarang hajimarayo

Ajigeun….

Kembali Jiyong berdehem membuat Seunghyun berhenti dari aktivitasnya dan beralih pada Jiyong yang kini terlihat mengambil air mineral di sebelahnya.

Ditempat lain, dua gadis cantik dan manis yang berbeda warna kulit. Satu begitu putih dan yang satunya cokelat. Taeyeon dan Yuri yang tengah berjalan di lorong gedung dalam SM Entertainment.

“Kapan BIGBANG berangkat konser?” tanya Taeyeon menoleh Yuri dengan tetap melangkah santai.

“Naeil. Hari ini terakhir latihan,” jawab Yuri tersenyum mrnoleh Taeyeon.
“Besok?”

Yuri mengangguk. “Waeyo, eonni?”

“Yuri-ah, aku harus bertemu kakakmu sebelum dia berangkat. Karena setelah itu pasti lebih sulit menemuinya. BIGBANG sibuk world tour dan kita sibuk dengan single baru kita,” Taeyeon kembali dihadapkan dengan keadaan gusar.
“Apa itu sangat penting?” tanggap Yuri masih berusaha santai.
“Aku akan memastikan Kwon Jiyong tidak memberitahu kemampuanku pada orang lain siapapun itu. Aku juga akan mengatakan sesuatu padanya.”

“Aah, aku mengerti,” Yuri mengangguk-angguk lalu tersenyum meringis.

“Besok kita juga rilis single, ‘kan? Setelah itu sulit punya waktu untuk membicarakannya pada Jiyong. Disaa seperti ini media sangat sensitif dengan kita yang baru comeback,” jelas Taeyeon yang kemudian melanjutkan, “Jadi, mereka sedang ada di YG? Bagaimana aku menemuinya? Mereka pasti sibuk dan jika aku kesana dengan alasan sebenarnya, itu akan sulit. Kau punya ide?”

Keduanya masuk kedalam SNSD room.

Ditengah  Yuri berpikir  ponsel yang berada dalam genggaman Taeyeon berdering menandakan ada panggilan masuk. Rupanya nomor tak dikenal.

“Nugu?” Yuri melongok ponsel yang diamati Taeyeon. Ia tercengang, “Itu nomor kakakku!”

“Mwo?!” Taeyeon terbelalak.
“Wae? Jawablah,” saran Yuri santai. “Kau memang butuh situasi seperti ini, ‘kan walaupun tidak terpikirkan sebelumnya dia akan menelepon. Mungkin cara kau untuk menemuinya akan terjawab setelah kalian bicara. Jawablah eonni sebelum terputus.”

Akhirnya dengan kembali menimbang bujukan Yuri, hati-hati Taeyeon menjawab panggilan yang katanya dari orang yang ingin ia temui.

“Yeoboseyo, Taeyeon-ssi?” terdengar suara Jiyong yang langsung mengawali percakapan begitu Taeyeon menjawab panggilan darinya.

“Yeoboseyo. Ne, ini Taeyeon.”

“Aku Jiyong,” sahut Jiyong masih berada di dance room disela-sela waktu istirahat rehearsal dengan keempat member lainnya yang memperhatikan dan mendengar percakapan leader-nya dengan siapa? Taeyeon?
“Ji hyung menelepon Taeyeon noona? Apa ada sesuatu?” bisik Daesung heran pada Youngbae disebelahnya. Keduanya bersandar di dinding cermin dance room.

“Meluruskan rumor unggahan mereka di SNS mereka mungkin,” terka Youngbae.
Taeyeon menunggu maksud penelepon yang benar Jiyong mengapa meneleponnya.

“Bisakah kita nanti bertemu?” ungkap Jiyong diseberang. Kedua mata Taeyeon melebar, terkena mendengarnya. Dirinya juga tengah berpikir seperti yang Jiyong utarakan. “Ada yang ingin kupastikan dan kutanyakan padamu.”

Aku juga! Batin Taeyeon keras. Namun, sekarang ia gugup menjawabnya.

Melihat kegugupan Taeyeon, membuat Yuri gemas.

“Eonni, bicaralah.”
Kening Jiyong berkerut. Suara Yuri? Yuri? Sekarang ia tengah bersama Taeyeon? Anak ini benar-benar… Apa dia bermaksud mendengar pembicaraannya dengan  Taeyeon?

“Yuri bersamamu?” tanya Jiyong. Mendengar nama Yuri disebut Youngbae cepat menoleh saat dirinya menyeka keringat di lehernya menggunakan handuk kecil putih.

 Yuri cepat mengambil ponsel ditangan Taeyeon. Apa susahnya bicara dengan G-Dragon, mereka ‘kan sama-sama idol. Oh, Yuri… Itu karena kau adiknya. Walau sama-sama idol dan hanya beda usia setahun tetap saja canggung.

Perlakuan Yuri yang tiba-tiba itu membuat Taeyeon tersentak.

“Oppa,” Yuri cepat mengambil alih pembicaraan.

“Yuri-ah,”

“Oppa, Tae eonni juga berencana menemuimu, beruntung kau menelepon,” beber Yuri tanpa memikirkan perasaan malu Taeyeon yang kini semakin menciut nyalinya.

Merencanakan hal yang sama? Kebetulan sekali, pikir Jiyong. Apa lagi yang akan dilakukan gadis itu padanya?

Jiyong berdehem, “Menemuiku?”

“Tae eonni bingung cara untuk menemuimu, mungkin jika kau belumbmenelepon, eonni sudah meminta nomor teleponmu,” tebak Yuri seraya melirik Taeyeon yang dibalas tatapan tajam.

“Yuri-ah, berikan ponsel itu padanya.”

“Aku ini penengah kalian, jadi perlakukan aku dengan baik!” kesal Yuri menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya, Taeyeon.

“Jiyong-ssi?” dengan hati-hati Taeyeon kembali melakukan percakapan.

“Apa kau sibuk hari ini?”

“Sampai jam enam sore ini aku istirahat,” ujar Taeyeon tetap dalam perhatian Yuri yang masih setengah kesal dengan dua leader ini. Tapi, ia akan melihat hasilnya daripada Jiyong mungkin akan menghukumnya lagi.
Jam tangan yang di pergelangan tangan kiri Jiyong lirik. Sekarang pukul 14.00.

“Dua jam lagi aku akan menunggumu di…”
“Apa kau yang akan menentukan tempatnya?” terdengar Taeyeon memotong ucapan Jiyong dengan cepat.

“Ya. Di apartemen BIGBANG. Dimana tempat yang tepat selain di sana? Bertemu saja disana, jangan membantah. Tidak ada waktu untuk mencari tempat lain. Disana tidak ada yang tahu, member-ku juga akan pulang malam. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Otte?

Taeyeon melirik bingung jam tangan Yuri. Dua jam lagi ke apartemen BIGBANG? Kembali ke apartemen BIGBANG untuk kedua kalinya?

“Arraseo. Aku setuju,” jawab Taeyeon setengah hati. Mana ada kupu-kupu yang keluar. Menjawab saja pasrah.


“Bagus. Jangan terlambat.”

Ponsel yang tidak bersalah menjadi korban cibiran Taeyeon saat mengetahui Jiyong memutus line telepon begitu saja.

“Apa katanya? Dimana kalian akan bertemu? Kapan?” serang Yuri merenteti Taeyeon dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Di….”

***

Apartemen BIGBANG. Taeyeon sampai dengan pakaian casual dan rambut dibiarkan terurai. Setelah menengok jam tangan anggun di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan tepat pukul 14.00 teng! -mengingat tidak boleh terlambat oleh salah satu penghuni apartemen mewah ini- dan kini tengah memandangi pintu apartemen tersebut.
Sekelilingnya ia amati, tidak ada siapapun. Baguslah. Taeyeon kembali mengamati pintu apartemen idol group papan atas.

“Karena kejadian yang kalian alami mengenai kupu-kupu, mungkin kalian akan sering bertemu. Jadi, aku rasa eonni tidak masalah mengetahui password apartemen BIGBANG. Jika sewaktu-waktu eonni butuh Jiyong oppa dan dia apartemen, langsung masuk saja. Jiyong oppa tidak akan memberi komentar apapun jika eonni tahu password-nya. Jika dia tanya ‘Kenapa?’ Aku yang akan menjawabnya.”
Jari-jari mungil Taeyeon siap menekan tombol password apartemen. Perkataan Yuri sebelum berangkat kemari memantapkan hatinya untuk masuk tanpa menunggu dibukakan pintu oleh pemilik. Toh Jiyong sudah mengetahui dirinya akan datang jadi, dia tidak akan terkejut. Paling, terkejut karena ia berhasil masuk tanpa izinnya.

Tapi, berapa password-nya? Taeyeon lupa. Ponsel yang berada di tas kecilnya ia ambil dan buka guna melihat password apartemen ini.

Ya, benar. Ini password apartemen orang lain yang tidak akan mudah diingat olehnya. Jadi, Taeyeon sudah menyimpannya secara aman di ponselnya.

Sesekali ia melirik kode password seraya jemari lentiknya menekan papan tombol password, bahkan kepalanya sedikit mengangguk-angguk.

Jiyong yang sedang lewat di ruang tamu mendengar suara password ditekan sekaligus mendengar apartemen berhasil dibuka. Siapa yang datang? Rasanya bukan keempat member BIGBANG karena seharusnya mereka masih di YG. Manager-nya? Tidak. Atau Yuri? Mungkin. Dan, Jiyong tidak peduli.

Taeyeon melepas sepatu dan mengganti dengan sandal yang tersedia, seolah sudah di siapkan pemiliknya. Juga, merupakan sandal wanita yang mungkin milik Yuri. Ini benar-benar seperti sengaja disiapkan. Kepalanya menunduk kala memakai sandal lucu nan imut serta berwarna pink itu.

Selesai memakai sandal, Taeyeon benar-benar terperanjat begitu melihat Jiyong berdiri dengan jarak langkah beberaoa langkah tepat dihadapannya dengan pandangan dingin yang kemudian melangkah semakin mendekat.

“Jeoseonghamnida!” ucap Taeyeon cepat tanpa tulus. Karena, sejujurnya ia hanya menghentikan Jiyong melangkah.

Helaan nafas keluar dari mulut Jiyong. Langsung tahu ini adalah perbuatan adiknya.

Kini, Jiyong mengamati Taeyeon dari atas hingga bawah yang membuat Taeyeon tentu saja risih.

Kenapa pria ini begitu mengamatinya? Apa karena fashion-nya? Taeyeon tahu G-Dragon adalah seorang fashionista yang sudah banyak menghadiri acara fashion dunia salah satunya Paris.

Tapi, apa harus dia mengamati fashion-nya seakan ingin mengkritiknya? gerundel Taeyeon dalam hati dengan pandangan tak berani menatap mata Jiyong, dan berakhir memandang kaki Jiyong yang beralas kaki warna hitam, membuat Taeyeon hampir tertawa karena kuku-kuku jari kaki Jiyong di cat begitu cantik, bahkan dirinya mungkin kalah.

Taeyeon tidak bisa menahan tawanya, maka ia cepat menutup mulutnya untuk mencegah tertawa dengan tetap menunduk.

“Apa ini sudah pukul empat?” tanya Jiyong yang sepertinya tidak menyadari gadis dihadapannya terus menunduk dan menutup mulut.
“Ne?!” Taeyeon terkesiap dan cepat memandang Jiyong dengan melepas kedua tangan yang menutup mulutnya.
***

“Justru aku hampir lupa dengan pertemuan ini. Padahal aku sengaja pulang kesini karena pertemuan ini,” ujar Jiyong seraya meletakkan dua gelas jus jeruk di meja ruang tamu.

“Tidak perlu seperti ini, Jiyong-ssi,” tolak halus Taeyeon sejatinya untuk basa-basi pada Jiyong yang jaraknya lumayan dekat saat menyajikan minuman untuknya.

“Jinjjayo?” Jiyong menyunggingkan senyum disudut bibir kanannya, tidak percaya sebab gadis ini tidak berhasil membuat kupu-kupu muncul dari dalam mulutnya. Ini adalah kali kedua ia sudah bisa melihat ketulusan gadis ini setelah sebenarnya tadi di depan pintu apaetemen ia menyadari kata maaf Taeyeon tidaklah tulus.

Biarkan saja, ia akan melihat dan menikmatinya lebih dulu. Jika ada yang perlu ia tegur maka ia siap menegur ucapannya.

Taeyeon mengangguk ragu, karena sebenarnya merasa haus setelah sampai di tempat ini. Padahal saat dalam perjalanan baik-baik saja.

“Tapi, terima kasih, Jiyong-ssi,” ucapnya tulus dan lembut.

Melihat kupu-kupu kuning bersinar dari mulut gadis ini ternyata memiliki rasa kepuasan tersendiri bagi Jiyong. Sambil mengambil duduk diseberang Taeyeon, Jiyong mengungkapkan, “Untuk menjaga image-ku sebagai leader, aku harus melayani tamu sebaik mungkin. Tapi, bukan hanya itu, aku melakukannya benar-benar tulus.”

Mendengar kata ‘tulus’ Taeyeon langsung menatap dengan tersenyum yang sulit diartikan pria yang duduk sangat santai bersandar di sofa.

“Boleh ku minum?” Taeyeon mengalihkan perihal ‘tulus’ dan menutupi rasa kikuk luar biasa di tempat yang masih asing ini serta pada pria didepannya yang begitu santai.

“Itu memang tujuannya, ‘kan?” jawab santai Jiyong, yang mengetahui kecanggungan dan bingungnya gadis ini.

Bodoh! Taeyeon merutuki dirinya dalam hati. Bagaimana ia bertanya dengan rhetorical?

“Ne…” satu kata yang kembali keluar dengan malunya.

“Tujuan pembicaraan kita… Tapi, aku belum mandi,” ujar Jiyong yang menggagalkan Taeyeon mengambil orange juice untuk ia minum, padahal hanya tinggal beberapa senti lagi tangan kanannya menyentuh gelas jus tersebut. Taeyeon memilih kembali duduk tegak mendengar kelanjutan ucapan Jiyong, “Kau nikmati saja minumannya dan tempat ini. Aku akan mandi.”

“Ne?!” Taeyeon membulatkan kedua matanya. Ia harus menunggu pria ini selesai mandi? Kenapa tidak mandi sebelum ada tamu yang datang?

“Jika kau bosan…” Jiyong mengambil sebuah majalah di balik bantal kursi, “Bacalah ini.”

Taeyeon menyempitkan pandangannya saat Jiyong meletakkan VOGUE magazine diatas meja pada hadapannya dengan foto sampul G-Dragon. Jiyong tersenyum di sudut kanan bibirnya pada Taeyeon yang tetap memandang majalah.

“Kau memintaku membaca ini?” tanya Taeyeon heran.
“Baca dan lihat wajahnya. Kau tidak akan mudah berpaling dari wajah itu. Baca saja detailnya didalam situ,” pungkas Jiyong meninggalkan Taeyeon.
Sadar benar-benar ditinggal, Taeyeon mencibir pada Jiyong yang nampak punggungnya.

“Apa dia baru saja menyombongkan diri? Menjaga image sebagai leader?” lirih Taeyeon tertawa tak percaya setelah Jiyong menghilang menuju kamarnya.

Namun, rasa penasaran untuk melihat majalah itu hinggap di diri Taeyeon. Setelah meminum orange juice sejenak, Taeyeon mengambil majalah VOGUE dan siap neniliknya.

Sampul majalah yang Jiyong ambil untuknya adalah berupa foto G-Dragon dengan model cantik Hanne Gaby Odiele.
Beberapa saat memandangi foto sampul majalah dengan topik berita dari dua model sampul VOGUE magazine kali ini,  mulai Taeyeon membuka majalah dan berhenti di salah satu halaman setelah sekilas melihat kembali foto Jiyong dan model wanita dengan pose lain lagi yang terpampang jelas di halaman ini, ia membaca isi berita mengenai pria yang sedang ia tunggu selesai mandi.

Dengan berbagai raut wajah yang Taeyeon tampakkan kala membaca artikel tersebut. Terkadang mencibir, lalu tertawa tidak percaya dan sesaat berubah menjadi senyum tulus.

Saat benar-benar mengamati foto pria swag itu, pikiran Taeyeon melayang pada bagaimana pria yang ada dalam foto ini bisa melihat kemampuannya setelah bercermin di cerminnya. Ini akan menjadi pembahasan yang memungkinkan ia dan Jiyong sama-sama bingung.

Tiba-tiba perutnya bergemericik dan isi perutnya terasa terombang-ambing, rasanya perih hingga Taeyeon meringis dan memegangi perutnya dengan tangan kirinya. Majalah yang masih ia pegang cepat ia letakkan di atas meja dan menutupnya kilat lalu bergegas beranjak dari duduknya.

Tatapannya tertuju pada minuman itu, apa karena minuman itu? Jiyong tidak bermaksud sesuatu padanya, ‘kan? Taeyeon tidak akan meracau lebih untuk saat ini, ia lebih membutuhkan kamar mandi ssecepatnya.

Karena sudah pernah menginap di tempat ini, Taeueon hafal kamar mandi ada dimana saja. Tujuannya adalah kamar sang maknae BIGBANG. Selain paling dekat juga Taeyeon merasa paling nyaman di kamar yang berhasil ia datangi sekarang. Mungkin karena ia tidur di kamar ini sewaktu menginap.

Cepat ia membuka pintu kamar Seungri. Tunggu, kenapa tidak bisa? Dikunci? Ah, maknae polos tapi mulutnya kemana-mana itu mengunci kamarnya. Mungkin tidak ingin yang masuk terlebih Yuri yang kerap mengambil alih kamarnya.

Kwaenchana. Masih ada tiga kamar yang tersisa karena ia tidak ingin ke kamar Jiyong. Selain tengah digunakan oleh pemiliknya, entah mengapa Taeyeon tidak berani memasuki kamar itu.

Ia harus pergi ke kamar lain sekarang. Tidak apa-apa, Taeyeon masih bisa menahan rasa sakit di perutnya.

Ah! Semua kamar dikunci. Taeyeon tidak bisa menyalahkan hal itu, sebab kamar mereka adalah privasi. Sakit perih di perutnya yang kembali menyerang berusaha Taeyeon tahan dengan menekan perutnya kuat. Sebenarnya apa yang ia makan terakhir kali selain minuman dari Jiyong.

Jiyong? Tersisa satu kamar yang belum Taeyeon coba datangi dan membukanya. Yaitu kamar pria yang merupakan alasan Taeyeon berada di apartemen ini.

Pasrah, Taeyeon melangkah dengan setengah terpaksa dan memegangi perutnya menuju kamar leader BIGBANG yang terletak tepat di sebelah kamar maknae.

Ditatapnya pintu kokoh kamar G-Dragon dengan rasa sakit yang tertahan. Haruskah ia masuk kedalam sana? Tangan mungilnya ragu untuk mengetuk.

Mengetuk dengan takut dan hati-hati menjadi keputusan Taeyeon setelah menimbang pilihannya beberapa waktu. Entah benar atau tidak keputusan ini, Taeyeon tidak bisa menahan lebih lama sakit perut ini.

Tidak ada jawaban atas ketukannya. Benar, pasti pria itu tidak mendengar suara pintu kamarnya karena sibuk sendiri di kamar mandi.

Mungkin ketukan Taeyeon kurang keras.

“Kwon Jiyong-ssi!” panggil Taeyeon tidak cukup keras dan sedikit ragu seraya kembali mengetuk dengan lumayan lebih keras. Namun, masih tidak ada jawaban.
Nekat? Haruskah? Perutnya lebih penting daripada rasa malu luar biasanya.

Maka,… Taeyeon mencoba membuka perlahan engsel pintu. Klik! Taeyeon tersentak. Pintunya dapat terbuka. Lupa mengunci atau bagaimana si dragon itu?

Semakin ragu namun kaki Taeyeon tetap melangkah masuk, berhenti di dekat pintu yang ia tutup kembali perlahan dan melihat-lihat isi dalam kamar. Inilah kamar G-Dragon leader BIGBANG? Benar, ini adalah rupa kamar leader swag dan fashionista yang sangat populer itu. Luas, luxurious, dengan terpajang barang-barang branded dalam lemari besar. Seperti sepatu, tas, topi dan kacamata.

Dalam pandangannya yang ia edarkan, ia menemukan sebuah pintu di samping lemari pakaian, dalam terkaannya itu adalah ruangan dimana barang-barang branded lainnya tersimpan dlebih banyak dan variatif dari yang Taeyeon lihat sekarang.

Hei, Kim Taeyeon! Kenapa kau masih diam disitu? Kau bukan tengah kunjungan wisata di kamar seorang idol! Kau butuh kamar mandi!

Kembali melangkah lebih dalam, Taeyeon mencari-cari letak kamar mandi. Ia mendekati sebuah pintu yang ia yakini pintu kamar mandi.

Ia semakin mendekati pintu dengan perlahan. Deg! Jantung Taeyeon serasa berhenti fungsi saat tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan menampakkan Jiyong yang bertelanjang dada, tubuhnya yang terbalut handuk hanya dari pinggang hingga lutut.

Keduanya terkejut dan saling melempar tatapan tajam dengan jarak begitu dekat, hampir tanpa jarak jika Jiyong tidak tanggap menghentikan langkah secepatnya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?! Siapa yang memberimu izin?!” gertak Jiyong.
Taeyeon mengalih-alihkan pandangan dan berakhir menunduk menyerah. Tidak ingin melihat apa yang ada tepat dihadapannya sekarang.

Bukan karena malu sebagian tubuhnya dapat terlihat oleh gadis itu, -toh tubuh dengan dada bidang itu telah terekspos di berbagai media. Hampir sebagian besar orang-orang di seluruh negara telah melihat tubuh seksi dari seorang G-Dragon- hanya saja Jiyong tidak suka orang asing memasuki kamarnya, menilik maupun melihat-lihat atau apapun yang berkaitan dengan memasuki kamar pribadi Jiyong.

Sedangkan Taeyeon, gadis itu memang mendengar pertanyaan Jiyong yang membuatnya memejamkan mata erat, tapi Taeyeon tidak mampu menjawabnya sebab sakit di perutnya juga terlalu malu menatap pria didepannya.
Taeyeon cepat masuk ke kamar mandi dengan pandangan heran dari Jiyong yang awalnya hendak mencegah namun diurungkan karena melihat gadis itu yang begitu meringis kesakitan.

Berhasil memasuki kamar mandi dan cepat menguncinya, Taeyeon mengatur nafasnya. Bagaimana ia bisa melakukan tindakan bodoh seperti itu? Seharusnya ia menunggu pintu dibuka oleh pemilik. Memalukan! Terlebih saat Taeyeon mengetahui Jiyong langsung keluar dari kamar mandi dengan Taeyeon sendiri hendak membuka pintu tersebut.

Pandangan Taeyeon tertuju pada toilet duduk tidak jauh disampingnya. Itu dia yang dituju!

Bukannya cepat menghampiri tujuannya, Taeyeon justru terdiam dan berpikir. Maksud ia kemari adalah karena sakit di perutnya, tapi kenapa rasa sakit itu hilang begitu saja sekarang? Benar-benar tidak ada rasa sakit lagi di perutnya.

Ia mengeluh dan menjatuhkan kepalanya tertunduk. Wae ireohke?

Ketika Jiyong masih memainkan pinsel diruang tamu, Taeyeon kembali dan menatap kesal pria itu. Ia menghampiri Jiyong lalu melirik sesaat jus yang sempat ia minum beberapa teguk tadi. Ia tidak ingin meminumnya lagi!

“Apa yang kau tambahkan di minumanku?” tuntut Taeyeon bisa menahan emosinya. Masih bisa, karena ia selamat dari sakit perut dengan cepat dan belum sempat diobati.

“Sedikit alkohol. Hanya saja alkohol kuat,” jawab Jiyong santai seraya meletakkan ponsel diatas meja tanpa menatap Taeyeon.
Taeyeon tercengang, lalu duduk dengan kesal menatap Jiyong.

“Kau tidak bisa seperti itu pada tamu,” tegur Taeyeon. “Aku tidak bisa minum alkohol. Aku akan sakit perut dan langsung mabuk setelah meminum satu gelas.”
“Tapi, kau tidak mabuk. Tanpa satu gelaspun seharusnya kau bisa mabuk karena alkoholnya kuat,” sekali lagi dengan santainya Jiyong menanggapi tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Tidak mabuk? Benar juga. Kenapa Taeyeon tidak mabuk? Jiyong hanya tersenyum di sudut kanan bibirnya menatap Jiyong.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ketus Taeyeon yang berujung pada rasa malu dipandangi leader dari idol group tak seagensi itu.

“Tidak ada apapun yang kumasukkan. Tidak ada alkohol. Hanya ingin tahu reaksimu saat aku mengatakan itu.”

Taeyeon tercengang, “Reaksiku? Hey, neo…” tawa tak percaya Taeyeon muncul, semakin kesal mengetahui kebenarannya. Terlebih saat Taeyeon melihat Jiyong hanya tertawa kecil, ingin sekali menarik rambutnya dengan keras dan kuat dalam artian menjambak.

“Jadi, saat kau bicara ketulusan maka kau dari mulutmu akan keluar kupu-kupu berwarna sesuai jenis ketulusannya?” tanya Jiyong menegakkan duduk, mulai serius setelah keduanya terdiam beberapa saat untuk membuat suasana santai karena ulah Jiyong yang membuat Taeyeon sedikit kesal.

“Aku tidak perlu menjawabnya karena kau sudah tahu dari Yuri,” tukas Taeyeon dengan masih ada sisa-sisa kesal lalu minum orange juice yang sempat ia curigai.
“Itu sebabnya aku menyuruhmu datang karena ingin memastikan langsung darimu.”
“Maja. Aku memiliki kemampuan itu,” Taeyeon mengakui tanpa melihat lawan bicara, tatapan kosognya hanya tertuju pada meja. Kupu-kupu pun malas keluar karena Taeyeon mengatakannya terdapat rasa paksa dan pasrah. Jiyong menarik nafas dan menghembuskannya pelan, kembali bersandar dimana disaat hampir bersamaan Taeyeon menatap Jiyong, “Apa kau masih terkejut dan ragu untuk percaya sampai sekarang?”

“Sebenarnya iya tapi terlihat tidak, ‘kan? Setelah mendengarmu langsung aku rasa akan terbiasa dan mengerti dengan kemampuanmu.”

“Gamsahamnida,” kupu-kupu kuning akhirnya muncul dati mulut manis Taeyeon dan Jiyong sudah bersiap sejak tadi bahkan jadi terkesan seperti menunggunya. Tapi, raut wajahnya menjadi tidak yakin, “Kuharap seperti itu.”

Mulut mungil itu Jiyong perhatikan, tidak ada kupu-kupu lagi. Ia heran, itu artinya gadis ini tidak tulus mengatakan kalimat baru saja?

Dengan sebuah keputusan entah untuk lebih baik atau lebih buruk, Jiyong memandang wajah kecil pasrah itu, “Aku pastikan seperti yang kau harapkan.”
Tercengang mendengarnya, Taeyeon mengangguk perlahan sembari berpikir, apa Jiyong mengerti ketidakyakinannya?

“Apa kau tidak melihatku sebagai sesuatu yang… seperti sesuatu yang… mengerikan? Aku mengerti jika kau menganggapku seperti itu.”
“Tapi,” abai Jiyong dari pertanyaan yang membuat kesal Jiyong sebenarnya, bukan kesal karena Taeyeon mengerikan, justru Jiyong tidak menganggapnya mengerikan. Namun, Jiyong kesal karena gadis ini berhasil menarik empati akibat kemampuan rahasia itu. Haruskah Jiyong menaruh rasa prihatin pada kid leader ini? Tapi, Jiyong dengan sikap awalnya masih bertahan, ditambah rasa penasaran detail kemampuan gadis didepannya, “Dari semua warna kupu-kupu yang kau tulis kenapa warna kuning tidak kau tulis artinya? Apa kau baru tahu ada juga kupu-kupu berwarna kuning dari mulutmu?”

Taeyeon mengangguk menatapnya. Ia bisa lebih santai sekarang.

“Kwon Jiyong-ssi, jeoseonghamnida. Jeongmal jeoseonghamnida mengenai kejadian di tangga darurat. Aku benar-benar terkejut saat kau bilang melihat kupu-kupu kuning dan akhirnya melihat kemampuanku. Aku penasaran dengan warna kuning yang kau lihat, apa itu cerah atau dark. Aku tidak pernah melihat warna itu sebelumnya saat aku masih bisa melihat kemampuanku. Aku tidak tahu sejak kapan itu muncul. Nanti aku akan menemui ibu untuk menanyakannya,” tutur Taeyeon yang selama mengatakannya mengeluarkan kupu-kupu kuning dengan sinarnya mengitari dua insan beda jenis ini di ruangan yang kini hening.
Jiyong bisa santai menghadapi kupu-kupu yang memang indah itu. Bahkan Jiyong menikmati dan seolah-olah kadang tidak melihatnya karena mung sudah mulai terbiasa.

“Tidak perlu minta maaf dan tidak perlu menanyakannya pada ibumu.”
“Apa kau tahu sesuatu?”
“ Tidak. Aku tahu semuanya darimu dan Yuri. Memangnya darimana lagi?” Jiyong dengan sikap dinginnya namun mulai melembut menatap gadis dihadapannya yang terdiam. Jiyong kembali berucap, “Itu cerah.”
“Ne?” tanya Taeyeon menatap Jiyong cepat atas pertanyaan yang kurang begitu jelas.

“Warna kupu-kupu kuning yang kau ingin tahu itu… cerah.”
Mengerti sekarang. Taeyeon mengangguk tersenyum.

“Ah, bicara SNS…”
“Mianhamnida,” potong Jiyong, cepat bisa menangkap maksud gadis itu. Tentu mengenai posting-an yang sama.

“Kenapa minta maaf? Itu tidak perlu dipermasalahkan,” cetus Taeyeon.

Jiyong mengangguk mengerti. Yang entah kenapa sikapnya begitu gentle, begitu berjiwa pemimpin saat menganggukan kepalanya dengan lembut.
Sekali lagi suasana di ruangan itu hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara dan hanya kecanggungan Taeyeon yang terlihat karena terus diperhatikan Jiyong. Yang sebenarnya Jiyong juga merasa canggung bagaimanapun juga, hanya saja tertutup oleh cool face-nya.

Canggung? Bagaimana tidak? Dua idol leader populer bertemu seperti ini dengan berusaha tidak ada pihak lain yang tahu. Melakukan pembicaraan di apartemen salah satu dari mereka. Tentu saja canggung walau mereka berusaha menutupinya dengan berbagai sikap dan ucapan.

Terlihat mereka memikirkan apa yang akan masing-masing katakan setelah cukup lama terdiam seperti ini di tempat seperti ini.

Ekhem!

Keduanya saling pandang setelah berdehem bersamaan. Semakin bertambahlah kecanggungan diantara mereka.

“Neo…”
“Sekarang giliranku,” sela Taeyeon cepat setelah kembali berdehem kecil. Jiyong menatap Taeyeon yang dibalas dengan tatapan serius. Untuk kemudian Taeyeon melanjutkan setelah mengingat-ingat dan mencari-cari apa yang sudah ia siapkan untuk menanyakannya pada pria ini, “Melihat kau menghubungiku lalu mengatur pertemuan secepat ini, kapan Yuri memberitahumu?”

“Pukul satu dini hari,” jawab Jiyong cepat tanpa ragu. Karena ia begitu jelas melihat jam dinding saat itu menunjukkan pukul satu tepat dini hari.
“Satu dini hari?” Taeyeon tercengang. Ia mencibir, “Apa Yuri tidak melihat pukul berapa saat itu? Gadis itu….”

“Aku yang memintanya,” tukas Jiyong yang kembali membuat Taeyeon tercengang. “Di waktu seperti itu semua sudah tertidur jadi, tidak ada yang mendengarnya.”

“Kau keterlaluan. Yuri mungkin sedang tertidur,” protes Taeyeon mencibir pada sesama idol leader ituKecanggungannya perlahan menghilang.

“Yuri tidak mempermasalahkannya. Kenapa kau yang komentar?”
“Tentu saja. Karena kalian membicarakan tentangku dengan perintahku, dan itu pukul satu dini hari? Ah,….”

“Itu sudah terjadi. Tidak ada yang bisa kau lakukan.”
“Ya.”
Tidak terlalu menanggapi ucapan Jiyong, Taeyeon justru bergelut dengan pikirannya sendiri. Pukul satu dini hari? Saat itu ia juga terbangun karena merasa mual lalu muntah. Ia baru tahu di waktu yang bersamaan Jiyong tengah membicarakan tentangnya dengan Yuri.

Ditatapnya Jiyong perlahan. Ada apa dengan pria ini? Ah, tidak ii hanya sebuah kebetulan. Ditempat lain siapa tahu mungkin Woobin bahkan ikut mengalami hal sama dengan Taeyeon di waktu yang sama pula.

Kejadian tentang Jiyong dengannya tidak akan Taeyeon permasalahkan.

“Kenapa diam dan terus menatapku seperti itu?” tanya Jiyong datar membuat Taeyeon tersentak akibat pertanyaan tiba-tiba itu. Cepat Taeyeon mengalihkan-alihkan pandangan dan berakhir di majalah tadi. Jiyong tersenyum disudut kanan bibirnya, “Efek membaca majalahku?”

“Percaya dirimu itu… sangat tinggi,” cibir Taeyeon.

“Tentu.”

“Bukan itu yang sedang kupikirkan,” sangkal Taeyeon cepat. Ia melanjutkan pembahasan awal, “Kapan pertama kali kau melihatku mengeluarkan kupu-kupu dari mulutku?”

“Itu…” teringat di pikiran Jiyong ketika ia begitu terkejut di ruang ganti SBS, “Di ruang ganti SBS saat kau meminum air milikku.”

Kenapa dibahas bagian salah meminum air? Taeyeon menjadi malu. Tapi, apa Taeyeon bisa menyalahkan jawaban Jiyong? Ini pertanyaan darinya sendiri.
Senyum Jiyong terbentuk mengetahui penyebab gadis itu setengah menunduk malu.

“Warna apa yang kau lihat?” tanya Taeyeon kembali menatap Jiyong, berusaha menepis rasa malunya.
“Kuning. Kuning cerah dengan sinar-sinar seperti biasanya.”
“Kuning?”
“Kau selalu mengeluarkan kupu-kupu warna kuning saat kau bicara padaku. Jika warna lain bisa aku lihat dari jarak yang tidak sedekat saat aku melihat warna kuning,” ungkap Jiyong lagi.
Taeyeon menjadi bingung, “Apa ada warna lain yang kau lihat selain yang sudah ku tulis?”
“Eobseo. Yang belum ku lihat warna merah dan aku penasaran,” ujar Jiyong yang masih bersandar pada kursi sofa dengan pandangan terus tertuju pada Taeyeon yang menjadi semakin gugup.

Entah karena apa tapi Jiyong terus menatapnya, mungkin sengaja untuk membuat gadis itu sulit berkutik. Karismanya memang mampu membuat Taeyeon diam. Taeyeon bisa merasakannya.
“Jika ingin tahu, kau harus melihatku bicara dengan ibu,” kata Taeyeon tak berharap Jiyong menyetujui usulnya. Apa ada waktu bagi pria itu untuk sekadar melihat kupu-kupu berwarna merah dan harus bertemu dengan ibunya lebih dulu? Lagipula Taeyeon juga sulit punya waktu untuk itu. Belum lagi jika ketahuan media atau fans maupun haters yang menangkap kejadian tersebut.
“Kau benar.”
“Jiyong-ssi,” panggil Taeyeon berikut kupu-kupu kuning cerah bersinarnya. Jiyong melihatnya dan perlahan meletakkan jus setelah meminumnya sesaat. “Aku juga harus memastikan kau tidak akan mengungkap ini keluar.”

“Kau menganggapku mungkin membocorkan kemampuanmu?” tanya Jiyong dengan pandangan dingin yang membuat Taeyeon beku. Sebenarnya tidak terlalu dingin hanya saja Taeyeon begitu takut menghadapi pria ini. Jika tidak ‘harus’, ia memilih tidak melakukan pertemuan ini.

“Siapa yang tahu?” gumam Taeyeon pelan namun masih bisa Jiyong dengar.

Nyali Taeyeon juga semakin menciut melanjutkan pembicaraan dengan seorang G-Dragon. Tapi, ia harus menyelesaikannya mumpung sedang bertemu. Jika tidak, sulit untuk menemuinya, pasti.

“Bagaimana reaksi mereka saat mendengarku bicara tentang kemampuanmu? Apa mereka akan percaya? Mereka akan lebih banyak tertawa dan menganggapnya konyol lalu aku kena imbas dengan mereka menyebutku gila. Aku juga tidak sanggup melayani tanggapan mereka nantinya. Pasti merepotkan,” tandas Jiyong yang tidak ada pikiran sama sekali untuk mengungkapkan kemampuan gadis itu pada dunia.

Selain tidak ingin dianggap gila, Jiyong juga merasa agak simpati dengan Taeyeon mengenai kemampuan itu. Lumayan kesal juga Taeyeon meragukan kepercayaannya. Disaat ia merasa kasihan justru Taeyeon bimbang dengan kepercayaannya.

“Bagus. Gamsahamnida, Jiyong-ssi,” ucap Taeyeon pelan sembari tersenyum manis dengan kupu-kupu kuning bersinarnya menambah manis di wajah mungilnya.
Sesaat Jiyong terpaku melihat Taeyeon terus mengeluarkan kupu-kupu seperti itu. Bahkan Jiyong tidak berkedip, seakan tersihir oleh pemandangan didepannya. Tapi, entahlah pria ini bisa mempertahankan tatapan datar nan dinginnya walau tengah memandang gadis itu beserta kemampuannya.

Terpaku oleh innocent face dengan kupu-kupu bersinar bersatu menjadi pemandangan cantik nan indah. Sadar, Jiyong berdehem kecil dengan tangan kiri mengepal didepan mulutnya.

Innocent face-mu itu… Kau jadi lebih innocent dengan kupu-kupu yang keluar dari mulutmu,” ucap Jiyong memecah keheningan menatap Taeyeon santai.

“Hm?” Taeyeon lumayan tercengang. Pujian atau sindiran? Taeyeon mencibir, “Apa kau menganggap kemampuanku itu sebagai lelucon?”
“Iya, saat mengetahui kebenarannya,” jawabnya sangat santai.

“Oh.”
Namun, Jiyong cepat menyadari perkataannya tadi yang hanya dijawab satu kata, ‘Oh’, dan mendapati gadis itu berwajah datar.

Jiyong cepat memperbaiki duduknya, sedikit menyesal dengan perkataannya yang mungkin menimbulkan berbagai salah paham dari gadis ber-innocent face itu.

“Awalnya iya tapi sekarang tidak,” ralat Jiyong lalu meminum orange juice-nya yang ia bawa sebelum Taeyeon kembali dari kamar mandi Jiyong. “Tapi, jika ada nominasi untuk innocent face’s idol, kau mungkin masuk dan dapat reward-nya.”

Seraya mengatakan itu, Jiyong mengeluarkan tawa kecilnya membuat Taeyeon ikut tersenyum. Setidaknya pria ini tidak terus menerus menunjukkan wajah datarnya.

Jika seperti itu, maka Taeyeon siap melayani candaannya tanpa canggung.

“Jika selain aku, apa ada nominator lain dipikiranmu?” balas Taeyeon tersemat senyum di bibir lembab mungilnya.

“Seungri,” celetuk Jiyong cepat yang disambut tawa Taeyeon. Jiyong pun akhirnya tertawa kecil.

“Lalu siapa nominator ketiga?” tanya kembali Taeyeon seraya mengambil gelas jus-nya dengan menatap Jiyong senyum.

***

Entah salah makan atau bagaimana, Taeyeon kini sudah kembali lagi dari kamar mandi Jiyong akibat perutnya yang memaksa pergi ke kamar mandi lagi. Memalukan, bukan? Seorang wanita dua kali ke kamar mandi seorang pria yang belum begitu akrab dan baru satu kali ini saling bertemu secara pribadi.

Lamunannya dikejutkan oleh pemilik kamar mandi yang baru keluar dari dapur dimana keduanya hampir bertubrukan didepan ruang dapur.

“Jeoseonghamnida,” ucap Taeyeon cepat seraya menundukkan kepalanya. Lalu, ditatapnya Jiyong yang membawa segelas air putih di tangan kirinya dengan tatapan dingin. Taeyeon memasang senyumnya, “Terima kasih dan maaf sudah menggunakan kamar mandimu dua kali. Aku akan kembali sekarang, ini hampir pukul enam.”
“Sudah makan?” tanya Jiyong datar, tatapannya terus tertuju pada Taeyeon yang hampir tidak kuat membalasnya, risih juga ditatap seperti itu.
“Setelah ini akan makan diluar,” sahut Taeyeon berusaha menutupi kecanggungan yang muncul kembali.
“Eodi? Dengan waktu tiga puluh menit yang tersisa dari waktu istirahatmu kau akan mencari restoran? Itu tidak akan cukup,” pikir Jiyong yang kemudian beberapa saat keduanya terdiam memikirkan masing-masing. Jiyong semakin melihat ketidaknyamanan mungkin karena terlalu canggung. Seharusnya tidak perlu canggung. Karena bagaimanapun Jiyong akan menghormati tamu dan memperlakukannya sebagaimana mestinya walau mungkin gadis itu menganggap sebaliknya sebab.wajah dinginnya. Masih menatap dingin Taeyeon, “Kau bisa makan disini.”

Kedua alis Taeyeon terangkat, hampir saja kedua matanya ikut mendelik, beruntung ia bisa menahan ke-excited-annya.

“Ah, tidak perlu. Terima kasih tawarannya. Aku tidak selama itu untuk mencari restoran hingga kehabisan waktu istirahat. Dan, apa waktu istirahatku harus habis disini? Tiga puluh menit yang tersisa itu terserah akan kugunakan dimana dan bagaimana,” tolak Taeyeon sekaligus protes, walau sebenarnya ia sudah merasa dan ingin memakan apa saja yang ada didekatnya selagi bisa dimakan dan tidak membuat berat badan naik.
“Aku akan membuatkan ramen,” cegah Jiyong ketika Taeyeon berbalik hendak pergi.
Taeyeon kembali memutar badannya menatap pria itu.

“Aku tidak makan ramen.”

“Ada makanan lain disini,” timpal Jiyong.
Taeyeon heran, kenapa Jiyong berusaha mengajaknya makan ditempat ini?

“Ah,… Tidak perlu, Jiyong-ssi.”
***

Taeyeon kini sudah duduk berseberangan dengan Jiyong di meja makan yang satu ruang dengan dapur.

Hidangan rumahan sangat sederhana, kimchi beserta nasi terhidang dihadapan mereka. Bahkan Taeyeon heran di apartemen ini mereka masih bisa menyimpan hidangan yang juga sangat ia rindukan.

Masih heran juga, BIGBANG adalah grup kaya tapi,… sudahlah, perut Taeyeon lebih agresif saat ini, dan lebih meminta diprioritaskan daripada berpikir kemana makanan mahal BIGBANG.

Sudah terlanjur menerima ajakan Jiyong, Taeyeon memutuskan makan disini bersama tuan rumah yang tadinya ia pikir tidak akan ikut makan. Ah, mungkin untuk menghormatinya, bukan karena benar-benar lapar.

“Hari ini ibuku datang membawa kimchi ini yang baru dibuat. Sekitar pukul satu siang ini,” ungkap Jiyong setelah mencicipi kimchi buatan ibunya untuk kemudian mulai makan seperti biasanya.

Mendengar Jiyong menyebut ‘pukul satu’ mengingatkan Taeyeon pada kejadian pukul 1AM antara mereka berdua.

Kimchi yang menggoda itu, Taeyeon cicipi, merasakannya sejenak lalu mengangguk.

“Aku harus bertemu ibumu dan mengatakan ini sangat enak. Jeongmal mashita,” puji Taeyeon tersenyum mengeluarkan kupu-kupu kuning bersinar membuat meja makan ikut terpapar sinarnya tanpa Taeyeon sadari. Hanya Jiyong yang melihatnya hingga kupu-kupu dan cahayanya melebur di udara.
Tersenyum Jiyong mendengarnya.

“Bagaimana dengan keinginanku yang juga ingin bertemu ibumu mengenai kupu-kupu merah itu?” tanya Jiyong yang kemudian memperhatikan bibir gadis yang baru saja mengeluarkan kupu-kupu berwarna kuning.

“Aku pasti mengeluarkan kupu-kupu, ‘kan?” tanya Taeyeon tersenyum karena merasa diperhatikan pria itu.

Memilih tidak menjawab, Jiyong menyantap kimchi kembali.

“Ah, ruangan ini jadi bau kimchi,” Ji-yong bersuara seraya menyandarkan punggungnya di kursi dengan tetap memegang sumpit.
“Kau akan menyalahkanku? Kau yang menyediakannya untukku,” gubris Taeyeon dan tidak terlalu peduli ditandai dengan tetap melanjutkan makan dengan acuh.

Senyum sungging tersemat di bibir Jiyong. Lalu, memperhatikan Taeyeon yang begitu menikmati kimchi buatan ibunya.

Tapi, Jiyong masih heran. Jika kupu-kupu ditujukan pada saat berbicara tulus dengan orang mengapa ia tidak termasuk? Bukan merah -jelas bukan karena ia bukan keluarga gadis itu- maupun biru, melainkan warna kuning untuknya yang bahkan Taeyeon tidak mengerti arti kupu-kupu kuning tersebut?
Getar sebuah ponsel mengejutkan Jiyong dari lamunannya. Ia melanjutkan makannya sebelum Taeyeon memergokinya tengah memandang gadis itu.

Melihat ponselnya diatas meja bergetar, Taeyeon mengmbil dan membukanya. Sebuah pesan telah masuk.

YURI

‘Eonni, apa kau belum kembali dari apartemen BIGBANG?’

Taeyeon menulis balasan kemudian:

‘Sebentar lagi ke SM. Neo eodiseo?’
Ponsel Taeyeon tutup kembali dan melihat nomor tanpa nama di daftar panggilan masuk sebab jarinya tanpa sengaja menekan tombol panggilan. Itu nomor Jiyong.

Nomor Jiyong. Lebih baik disimpan, bukan? Taeyeon pun bermaksud menyinpannya. Tapi, nama yang mana yang akan ia simpan? Diliriknya Jiyong yang masih sibuk makan dengan sangat santai.

Jiyong? Kwon Jiyong? BIGBANG Leader? GD? atau G-Dragon? Mana nama yang akan ia simpan di ponselnya?

Beberapa saat berpikir, Taeyeon menemukan nama yang paling cocok, nama yang tepat untuk ia simpan di ponselnya. Ia berhasil menyimpannya dan kembali menatap Jiyong sejenak dan meletakkan ponsel untuk kemudian menyelesaikan makannya.

***

Crown lightstick menyala terang menyatu dengan para VIP yang memenuhi area tempat konser. BIGBANG WORLD TOUR MADE IN JAPAN yang sudah setengah jalan semakin ramai, meriah dan panas. VIP’s belum berhenti meneriakkan fanchant juga tidak meneriakkan bias masing-masing.

Gemuruh VIP’s semakin riuh ketika alunan musik We Like 2 Party sebagai lagu penutup konser mulai diputar bersamaan dengan munculnya lima member BIGBANG menuju stage yang kompak mengenakan MADE bathrobe berwarna putih.

Oneuldo chingudeuri wasseo

Man how you been whats up

Aye yeogi han janman jullae

Jiyong menyanyi dengan begitu santai dan penuh keakraban kepada member lain juga para VIP. Tampak semua member BIGBANG menikmati lagunya. Seunghyun yang membawa selfie stick terus mengarahkannya pada diri sendiri, member lain, dan tentu saja VIP’s yang terus berteriak, menari serta ikut menyanyi bersama. Sangat meriah.

Confetti mulai berjatuhan dengan begitu banyak -menambah meriah suasana konser- tanda konser hampir usai.

Lautan VIP’s crown lightstick bergerak-gerak menyuguhkan pemandangan indah nan memukau berwarna kuning terang.

BIGBANG juga terus mengajak para VIP menyanyi bersama dan saling berinteraksi ditengah-tengah nyanyian.

“We like 2 party… SAY WHAT?!” teriak Jiyong -sekaligus mengajak- mengarahkan microphone-nya pada seluruh VIP yang membentuk lautan VIP berwarna kuning.

“YEAH YEAH YEAH YEAH” balas VIP’s sangat antusias dengan menggoyangkan-goyangkan crown lightstick juga kepala mereka.
Kembali BIGBANG dan VIP’s menyanyi bersama,

We like 2 party YEAH YEAH YEAH YEAH

We like 2 party YEAH YEAH YEAH YEAH

***

Usai konser, BIGBANG berjalan di lorong dengan masing-masing menggenggam botol air mineral, kemudian disambut para concert crew. Antara BIGBANG dengan crew saling ber-high-five puas.

Selesai high-five, tampak Youngbae cepat pergi setelah mendapat sebuah panggilan di ponselnya. Jiyong yang tengah menenggak minumnya tanpa sengaja memergoki Youngbae. Ia menyematkan senyum disudut kanan bibirnya, seakan tahu siapa yang menelepon hingga membuat hyung-nya itu tidak ingin si penelepon menunggu lama dalam menjawab telepon.

“Youngbae-hyung, kwaenchana?!” seru Jiyong tersenyum lebar lebih tepatnya menggoda saat Youngbae pergi menjauhi mereka, mendahului mereka menuju ruang ganti seraya menjawab panggilan.
Selesai ba bi bu bla bla bla, this is enjoy time’s BIGBANG. Mereka yang sudah berganti pakaian, sudah melepas segala aksesori yang tadi melekat sewaktu konser memanjakan VIP Jepang, kini berada di ruangan khusus untuk BIGBANG.

Mereka sudah lebih santai, menyantaikan diri seraya memulihkan tenaga yang dihabiskan untuk menyenangkan fans di konser baru saja.

Menyeruput kopi americano sejenak, Jiyong mengambil ponselnya yang berada di atas meja dekat kopinya. Ia teringat pada Youngbae.

“Nugu? Siapa yang meneleponmu sampai kau tidak menjawab pertanyaanku tadi?” tanyanya menoleh Youngbae yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya.

“Aku mendengarmu tadi. Na kwaenchana, sudah ku jawab, ‘kan sekarang? Mian, baru kujawab,” sahut Youngbae menoleh Jiyong sesaat.

“Apa itu Yuri?” tebak Jiyong langsung dan membuat member lainnya cepat menoleh mereka berdua.

“Yuri si manja?!” tanya Seungri tidak percaya.

Tampak Youngbae setemgah tidak terima, sedang Jiyong hanya tersenyum.

BIGBANG WORLD TOUR MADE IN JAPAN diposisi pencarian nomor satu di Jepang,” ujar Jiyong santai yang masih menatap ponselnya, berkutat dengan benda tersebut.
Keempat member tersenyum mengangguk, puas, santai juga mendengarnya.

“Coba lihat di Korea, pencarian nomor berapa konser kita?” pinta Daesung kemudian menyesap capucino-nya.
Korea juga nomor satu?” tanya Seunghyun setelah beberapa saat melihat Jiyong menuruti permintaan Daesung.

Mereka kembali tersenyum lebar mendapat anggukan dari Jiyong tanda membenarkan.

Kembali fokus Jiyong pada ponsel dan tertuju pada pencarian dibawah BIGBANG.

#NEWSNSDLIONHEART

Pencarian nomor dua ada Girls’ Generatiom dengan new single-nya Lion Heart, membuat Jiyong penasaran bagaimana hasil video klip yang sebagian ia lihat proses pembuatannya. Jiyong pun membuka Youtube di ponselnya, mencari video yang dimaksud.

Bagus. Takjub juga melihat viewersnya yang mencapai dua juta dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Daesung yang duduk di sofa lain dan paling dekat dengan Jiyong, menaruh pandangan selidik pada Jiyong yang masih asyik pasa ponselnya.

“Jadi, itu video klip Sonyeo Shidae?”

Sontak Jiyong menengok belakang, dan mendapati Daesung sudah berada dibelakangnya. Daesung, si pria dengan mata tersipit di BIGBANG itu hanya tersenyum nyengir.

“Sejak kapan kau disitu?” tanya Jiyong masih merasa tersentak.
“Hyung tidak melihatku kemari? Wah, kau sangat memperhatikan video itu, ya?”

“Seperti apa videonya? Tunjukkan padaku,” sambung Seungri langsung bergabung bersebelahan dengan Daesung dibelakang Jiyong.

“Lanjutkan, aku juga ingin menonton. Kenapa masih memandangi kami?” ujar Daesung tersenyum nyengir.
Decakan kecil keluar dari mulut Jiyong. Lalu kembali memutar videonya dengan ‘sedikit’ malas sebab dua dongsaengnya ikut campur. Sebenarnya mereka bisa menonton di ponsel masing-masing, ‘kan?

“Mereka masih saja imut,” kesan pertama Seungri begitu melihat awal MV Lion Heart.
Baru ketiganya memandang beberapa detik video tersebut, terdengar dering sebuah ponsel.

Rupanya ponsel milik Daesung.

“Ah… Siapa yang menelepon?” keluh Daesung membuka ponsel yang sejak tadi digenggamannya.

“Jawab saja dulu,” saran Seungri tanpa menoleh Daesung. Kedua matanya masih fokus pada MV SNSD.
Namun, keluhan itu hilang seketika digantikan senyum sejuta dolar yang menjadi sebutannya bagi salah satu member BIGBANG ini saat melihat si penelepon adalah eomma’-nya.

“Yeoboseyo, eomma? BIGBANG baru selesai konser, eomma,” Daesung langsung menjawabnya begitu semangat seraya kembali duduk ditempat semula, memisah dengan mereka. Ia akan bermanja-manja dengan ibunya sekarang “Lancar. Dan itu juga karena dukungan eomma.”
Sementara Seungri, yang merasa posisinya kurang tepat cepat pindah menjadi disebelah Jiyong dan menonton bersama partner nyongtory-nya.

Music video mulai memperlihatkan gaya aegyo maknae Girls’ Generation, Seohyun.

“Itu aegyo dariku,” celetuk Jiyong.
“Ne?” bingung Seungri menoleh Jiyong.

“Seohyun meminta contoh aegyo dariku. Aku tidak tahu aegyo yang kucontohkan dia gunakan,” ungkap Jiyong tetap menatap layar ponsel.
“Wah, hyung, kau terlibat dalam pembuatan video clip mereka,” puji Seungri takjub yang dibalas Jiyong menatap datar dan malas. Tanggapan Seungri terlalu berlebihan. Ini sebuah aegyo bisa diberikan oleh siapa saja. “Geundae, kapan kau bertemu dia? Kata Yuri pembuatannya beriringan dengan persiapan konser kita. Apa sempat kau bertemu Seohyun?”
“Itu saat one free day dari Yang-sajangnim. Semua itu karena Yuri,” jawab Jiyong. Jika mengingat itu rasa kesalnya pada Yuri kembali muncul.

Beberapa saat diam selesai menonton music video itu, Jiyong teringat sesuatu. Ia bergegas kembali mengetik di kolom search. Seungri mencibir pada pria disebelahnya yang akan menonton video lain sesukanya, maka Seungri langsung pergi.

“Awas kau jika ikut nenonton video di ponselku,” ancam Seungri lirih yang tidak terlalu didengar Jiyong.
Senyum manis terbentuk di bibir Jiyong melihat aksi balet Kim Soeun yang sudah dilaksanakan bersamaan dengan waktu konser BIGBANG di Jepang. Senyumnya melebar, puas melihat kekasihnya melakukan aksi memuaskan di kompetisi tersebut. Senang bisa melihat balerina itu berlomba walau hanya bisa melihat lewat Youtube.

Usai menonton, kemudian ia menelepon balerina kekasihnya itu.

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kompetisimu, aku sudah melihatnya. Bagus. Mianhae, tidak bisa datang dan menonton langsung,” ucap Jiyong dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya. Energi semangatnya terbangun.

“Oh, oppa. Baru aku akan meneleponmu,” terdengar suara ringan Soeun.
“Keuraeyo?” tanya Jiyong senyum lebar, senang. “Kau dimana?”
“Aku kembali ke rumah tiga jam lalu.”
Salah merasa atau bagaimana, suara Soeun terdengar tidak semangat. Namun, Jiyong yang sabar tidak mempermasalahkan suara Soeun yang terdengar rendah. Mungkin karena lelah.

Apa ia salah timing menelepon kekasihnya? Pasti tidak.

“Aku ingin cepat pulang dan mendengar ceritamu waktu kompetisi. Kau itu indah sekali waktu lomba, kau tahu?” puji Jiyong dan tertawa kecil saat mendengar suara senyum Soeun walau tidak sesemangat Jiyong.


“Oppa, sebelum dan sesudah kompetisi aku sudah memikirkan ini. Kurasa kita akan kesulitan menjalani hubungan ini jika diteruskan. Aku tidak ingin semakin melukaimu. Kau juga pasti tersiksa dengan hubungan kita yang tersembunyi tanpa publik tau. Aku hanya mengambil yang terbaik.”

Mendengar itu Jiyong tercengang dalam diam. Apa maksud pembicaraan gadis ini?

“Soeun-ah, kau pasti masih lelah jadi bicaramu aneh. Bicaranya nanti saja karena aku tidak mengerti. Tidak apa-apa, istirahat saja dulu, baru kita lanjutkan saat kita benar-benar bertemu,” saran Jiyong, yang berusaha tertawa dalam bicaranya. Ia sangat terkejut dengan keputusan yang sangat sulit dipahami.
“Aniya, karena aku sudah memikirkannya baik-baik, oppa.”
“Aku meneleponmu di waktu yang tidak tepat, ya? Kalau begitu akan kututup teleponnya,” ucap Jiyong yang sebenarnya tidak ingin mendengar kata-kata lebih lanjut dari Soeun yang mengancam bubarnya hubungan. Apa Jiyong terlihat sebagai pria pengecut karena tidak ingin menghadapi masalah ini?
“Sebentar, oppa. Oppa, jaldeuro, jebal. Dan jangan menghindar. Aku mengatakan ini di telepon agar kau tidak terlalu terkejut saat kita bertemu lalu membicarakannya.”



Jiyong terdiam.

Keempat member menoleh kearahnya lalu saling bertukar pandang diantara keempat pria bingung itu. Namun, Seunghyun akhirnya mengerti apa yang terjadi pada Jiyong.

Maka, agar membuat Jiyong lebih leluasa bicara dengan penelepon yang Seunghyun tahu itu pasti Soeun, ia mengisyaratkan pada tiga member lainnya untuk keluar membiarkan Jiyong seorang diri karena Jiyong butuh privasi. Dan, hal itu cepat direspon ketiganya.

“Ah, aku harus bertemu manager. Kalian juga ikut denganku,” kata Daesung beranjak dari duduknya dengan mengutarakan alasan.

Mereka berempat bergegas keluar diawali dari Daesung disusul ketiga member lainnya dan tidak tanggapan sama sekali dari Jiyong. Ia tengah bergelut dengan pikirannya.

“Kau tidak bisa seperti ini. Kita harus bertemu dan meluruskan segalanya, Soeun. Apa aku membuatmu dalam posisi yang sulit? Jika iya, mianhae. Dan aku akan menebus kesalahanku,” ucap Jiyong hampir tidak bisa berpikir mengatakan dan melakukan apa untuk merubah pikiran kekasihnya.
“Oppa, Jebal…” terdengar lagi suara itu. Gadis itu tidak merengek tapi cukup membuat ulu hati Jiyong perih.
“Aku pulang besok sore. Setelah sampai di Seoul, aku langsung menemuimu,” Jiyong cepat memutuskan.
“Lebih baik kau gunakan untuk istirahat saja setelah sampai, oppa. Kau pasti sangat lelah jika langsung bertemu denganku,” ucapnya lembut dan halus.
“Ani. Aku tidak lelah sama sekali. Kau mau bertemu denganku setelah aku pulang, ‘kan?” ujar Jiyong cepat.

“Arraseo. Waktunya terserah oppa karena itu tergantung kesibukan oppa. Aku bisa kapan saja karena aku punya waktu istirahat panjang setelah pertandingan. Atur saja pertemuannya,” katanya. Jiyong yakin kekasihnya itu mengatakan dengan senyum dibibirnya. Terdengar jelas dari perkataan gadis itu. Tapi, Jiyong terdiam kembali. Seakan ucapan Soeun baru saja menyindirnya. Karena tergantung kesibukannya. Ya, Jiyong akui dirinya selalu sibuk hingga jarang punya waktu menyempatkan bertemu Soeun. Iya. Terdengar lagi suara gadis itu, “Yeoboseyo? Kau mendengarku, oppa?”

“Kim Soeun, apa kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu sekarang?” tanya Jiyong lembut. Kembali bersabar.
“Ini baik, oppa. Kau tidak akan terluka lagi karenaku.”
“Aku lebih terluka saat kau mengatakan ini,” gumam Jiyong pasrah. “Selamat malam.”

Sambungan telepon Jiyong putuskan sebelum Soeun menjawab kembali. Ia mengusap wajahnya. Hubungannya dengan Kim Soeun semakin rumit dan diambang kebubaran.

Ponsel Jiyong kembali berdering, dari Yuri. Jiyong tersenyum dan bersikap tenang lalu menjawabnya.

“Oppa!” keceriaan dan semangatnya terdengar begitu jelas hingga hampir memekakkan telinga membuat Jiyong sesaat menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
“Iya, dongsaeng. Wae geurae?” ucap Jiyong lembut dan sayang.
“Ada apa dengan suaramu? Kau dalam masalah?” tanya Yuri balik yang tengah duduk di tepi ranjang kamarnya. Taeyeon masuk dengan masing-masing ditangannya membawa dua cangkir minuman sari jahe lalu meletakkannya di meja.
“Itu bentuk sayang. Kenapa reaksimu seperti itu?”
Yuri mengulum senyum dan Taeyeon bertanya siapa yang menelepon dengan isyarat tangan yang dijawab Yuri dengan gerakan mulut tanpa suara bahwa yang menelepon adalah oppanya. Senyum tipis tercetak dibibir mungil Taeyeon.

“Oppa, aku….”

“Kau sudah makan?”
“Wah, perhatiannya kakakku,” puji Yuri tersenyum senang.
“Aku selalu seperti itu, ‘kan?” Jiyong bersandar di kursinya.

“Tapi, tidak tahu, mungkin kau lebih perhatian pada Seungri daripada aku.”
“Apa maksudmu?” Jiyong tertawa kecil, “Kalian, ‘kan sama-sama adikku.”
Yuri mencibir. Dihadapannya terdapat Taeyeon yang duduk memperhatikan dan menunggu Yuri selesai bertelepon.

“Oppa…” Yuri mulai merengek.
“Kau bermanja denganku sekarang apa didepan orang lain? Memalukan jika benar.”
“Eung, aku bersama Tae eonni sekarang,” jawab Yuri acuh dan ringan seraya melirik Taeyeon. Jiyong terkejut sesaat. “Dia sedang senang karena respon viewers Youtube. Jadi, dia membawakanku minuman. Oppa, kau pasti tertawa jika melihat eonni yang sangat baik hari ini.”

Jiyong tersenyum kecil.

“Karena dia leader. Bagaimana senangnya melihat respon baik dari single atau apapun yang menyangkut grupnya aku tahu rasanya. Senang memang,” ungkap Jiyong senyum, sedikit melupakan permasalahannya dengan sang kekasih. “Tapi, bukan minuman alkohol, ‘kan? Awas saja kalian.”

Kendati dirinya bisa dibilang sering minum alkohol, tapi Jiyong tidak ingin adiknya mengikutinya. Setiap kali ia kebetulan melihat Yuri akan minum alkohol pasti langsung Jiyong rebut minuman tersebut.

“Bukan. Ini lebih menyehatkan, sari jahe,” timpal Yuri tersenyum manis ceria.

“Bagus, senang mendengarnya. Aku pulang besok sore. Mau menjemput?” tawar Jiyong.
“Boleh,” sahut Yuri senang. “Bagaimana konser kalian?”

“Lancar.”
“Bagus,” ucap Yuri dibalas senyuman manis Jiyong. “Oppa, sepertinya Tae eonni menyuruhku berhenti bicara. Mian, kututup teleponnya. Oppa, fighting! Selamat malam.”


“Selamat malam,” Jiyong tersenyum dan line telepon terputus. Tapi kemudian ponselnya kembali berdering dan masih dari Yuri.

“Oppa…”

Ucapan adiknya Jiyong dengarkan, ia tersenyum dan mengangguk. Sambungan telepon terputus, setelahnya Jiyong tertawa kecil menatap ponsel setelah mendengar apa yang Yuri katakan. 

Pembicaraannya dengan Yuri melupakan sejenak masalahnya. Sangat berbeda air muka Jiyong saat bicara ditelepon dengan Soeun dan Yuri.

Rasa senang Yuri tunjukkan pada Taeyeon.

“Kau seperti anak kecil tadi,” komentar Taeyeon mencibir kecil seraya tersenyum.
“Biarkan saja. Aku suka seperti itu,” tukas Yuri masih dengan rasa senangnya, senyum ceria seperti biasa.

“Aku ingin tahu, darimana kakakmu mendapat nomorku?” tanya Taeyeon yang membuat Yuri meredakan senangnya.
“Aku yang memberikannya. Saat menceritakan tentang eonni pada Ji oppa ditengah malam,” beber Yuri tersenyum manis.

“Jadi kau?!” Taeyeon tercengang.

“Aku yakin kalian akan sering saling menghubungi karena kemampuanmu yang diketahui Ji oppa,” alasan Yuri.

“Kau juga mengatakan itu saat memberi password apartemen BIGBANG,” Taeyeon mencibir kecil.
Yuri mengangkat bahunya dan tersenyum, “Tapi, perkataanku benar, ‘kan?”
“Kau memberikannya nomorku, setelah itu kau memberiku password apartemen BIGBANG,” gumam Taeyeon tidak habis pikir.
“Itu bagus bukan. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan sangat privasi untuk seorang idol,” ujar Yuri tanpa merasa bersalah, justru menganggapnya hal penting untuk oppa-eonni tersayangnya yang memiliki kemampuan yang menurut orang lain tidak masuk akal.

Taeyeon hanya menggeleng, “Aku tidak tahu apa lagi yang akan kau berikan padaku dan padanya yang bersifat privasi.”
“Iya, ada. Itu untukmu tapi bukan privasi,” sahut Yuri tersenyum yang membuat kedua matanya setengah tenggelam.

“Mwonde? Eodi? Ayo, tunjukkan.”
Bukannya menunjukkan, Yuri justru tertawa lalu Taeyeon yang menganggapnya itu lelucon ikut tertawa bersama.

“Eonni, kenapa kau ikut tertawa?” Yuri yang langsung berhenti tertawa. “Apa kau tahu maksud tertawaku?”
“Ani,” Taeyeon menggeleng cepat dengan masih tersenyum.
Yuri menghela nafas dan mengambil minuman sari jahenya lalu diminumnya sampai tersisa setengah cangkir membuat Taeyeon yang melihatnya tercengang.

***

Dengan mengenakan jaket kulit hitam, topi coklat serta masker putih, Jiyong kini tengah berada di toko mainan, Hakuhinkan Toy Park.

Diliriknya arloji ditangan, menunjukkan pukul satu siang lalu pandangannya diedarkan pada berbagai jenis boneka. Dari boneka berbulu hingga berbahan kayu. Dari boneka modern, tokoh kartun hingga boneka tradisional Jepang.
“Bawakan aku oleh-oleh boneka kaonashi. Belikan sepuluh karena akan aku bagikan pada member Sonyeo Shidae. Tiga untukku fan tujuh untuk member lain.”



Kembali tersenyum Jiyong saat mengingat percakapannya semalam di ponsel mengenai permintaan adiknya yang dianggap manja oleh Seungri. Setiap bertemu Yuri dan Seungri selalu saling mengejek, debat hal-hal sepele sekecil apapun dan itu justru menjadi sangat lucu saat menyaksikannya. Melangkah santai, Jiyong memasuki lebih dalam di toko mencari boneka yang di maksud.

Jiyong menemukan rak-rak yang menyediakan berbagai karakter kaonashi setelah beberapa saat melangkah dan mencari-cari.

Matanya semakin menyipit tanda tersenyum dibalik masker putihnya, tapi mulai bingung karakter mana saja yang ia pilih. Satu karakter saja bingung yang mana, tapi ia harus memilih sepuluh dengan karakter yang berbeda.

Jika tidak menemukannya karena terlalu bingung, Jiyong akan mengambil yang mana saja secara acak, yang penting sepuluh kaonashi. 

Jiyong mulai memilih dan memeriksa dengan menyentuh benda-benda lucu tersebut.

“Jiyong-ssi?”
Merasa ada yang memanggil, pria bernama Jiyong itu menoleh dan berbalik. Terkejut dengan orang yang memanggilnya, yang sekarang berada dihadapannya. Seorang pria yang ia kenal dan ditemuinya beberapa hari lalu di kantor YG Entertainment.

Kim Woobin. Pacar Kim Taeyeon ada didepannya sekarang.

“Oh, annyeonghaseyo,” ucap Jiyong setengah kaku, masih belum percaya dengan kehadiran Woobin ditempat ini dan bertemu dengan dirinya.

“Annyeonghaseyo. Apa kau terkejut melihatku disini?” tanya Woobin tersenyum hampir tertawa melihat reaksi Jiyong yang memang terlihat terkujut.
“Apa yang kau lakukan disini?” Jiyong balik bertanya. Ia sudah bisa lebih santai setelah menghilangkan rasa keterkejutannya.
“Yang aku lakukan disini? Disini karena tujuanku datang ke Jepang atau ketoko ini?” Woobin dengan senyumnya yang manis dan segar.
“Kau bisa menjawab keduanya,” timpal Jiyong tersenyum simpul.

“Aku ada liburan dengan orang-orang satu produksi drama. Dan aku mampir membeli boneka disini,” jelas Woobin. Jiyong mengangguk mengerti. “Kau kesini karena World Tour Made, ‘kan?”
“Benar.”
“Kau juga disini untuk mencari boneka? Untuk siapa?”
“Seseorang yang menyebalkan.”
“Nuguya?”

“Nae dongsaeng.”
“Ooh…” Woobin mengangguk. “Kukira untuk pacarmu.”

“Ne?” Jiyong tersentak lalu mengalihkan dengan kembali memilih boneka.

“Lalu, apa kau bisa membantuku mencari boneka, hyung sunbae? Aku buruk dalam memilih boneka,” pinta Woobin.
“Untuk siapa?”
“Seorang gadis.”
Melihat senyum manis Woobin saat mengatakannya, Jiyong yakin itu gadis yang dimaksud adalah Kim Taeyeon, kekasihnya.

“Gadis?” ulang Jiyong tersenyum.
“Karena kau membeli untuk adikmu, pasti gadis ini juga cocok dengan piluhanmu. Alasan lainnya adalah kau kakak yang sangat perhatian, hyung sunbae. Itu sebabnya aku ingin menjadi kakak sepertimu untuk gadisku,” tutur Woobin.
Kembali Jiyong mengerti. Yuri dan Taeyeon teman satu grup dan seleranya tidak akan jauh berbeda. Yuri sendiri juga pernah bercerita kalau dirinya dan Taeyeon memiliki selera sama untuk beberapa hal, mungkin ini yang dimaksud Woobin.

Satu hal lagi, Woobin ingin menjadi kakak seperti dirinya. Tentu saja ingin, karena Woobin lebih muda dari Taeyeon dan di satu sisi Woobin ingin menjadi seorang kakak yang mempunyai perhatian lebih untuk pacarnya yang menjadi seperti adiknya.

“Pasti dia senang saat mendengar ucapanmu baru saja. Pacarmu…”

“Jamkkanman,” sela Woobin berkerut kening. “Pacarku? Apa hyung sunbae menganggap gadis yang ku maksud disini adalah pacarku Kim Taeyeon?”
“Benar, ‘kan?” Jiyong balik bertanya.
Woobin tertawa, “Itu untuk adikku. Aku juga punya adik perempuan sepertimu, hyung sunbae.”

Jiyong tercengang. Boneka yang akan Woobin beli bukan untuk Taeyeon tapi untuk adik perempuannya. Pabo! Kenapa ia menyimpulkan sendiri dengan cepat? Biarkan Woobin bicara dan menyebut adiknya sebelum Jiyong salah paham.

“Kupikir untuk pacarmu,” ucap Jiyong setelah berdehem kecil menyembunyikan rasa malu padanya, pria yang setahun lebih muda darinya.
“Tapi, benar juga. Kenapa tidak aku belikan juga dia boneka?” tanya Woobin setelah berpikir ucapan Jiyong memang benar. Kali ini Jiyong benar-benar yakin, ‘dia’ yang dimaksud adalah pacarnya. Ia akan memilih diam kecuali ditanya daripada mengatakan hal yang salah lagi. “Bagaimana menurutmu, hyung sunbae?”

“Tentu itu akan menjadi hal bagus.”
“Tapi, hyung sunbae mau membantuku memilihkannya, ‘kan?” pinta Woobin yang tidak pernah lepas dari senyumannya. Hingga Jiyong berpikir murah senyum sekali pria satu ini.

“Boneka apa yang kau butuhkan? Mungkin aku bisa membantumu.”
“Benar. Berbagai jenis boneka yang banyak disukai gadis tidak lagi asing bagi hyung sunbae karena hyung sunbae selalu memperhatikan Yuri dengan baik.”
“Itu juga tergantung kesukaannya. Tidak semua aku tahu jenis boneka yang disukai gadis-gadis,” sahut Jiyong melangkah meninggalkan kaonashi-kaonashi berada, diikuti Woobin dibelakangnya. Jiyong bermaksud membantu Woobin lebih dulu. Dibagian boneka-boneka berbulu diantaranya Teddy Bear juga Hello Kitty, Jiyong berhenti membuat Woobin mendadak ikut berhenti karena sedikit melamun tanpa tahu Jiyong menghentikan langkahnya. “Adikku termasuk menyukai sesuatu yang sedikit berbeda walau mereka banyak menyukai hal sama. Bagaimana kalau ini?”

“Aku rasa… tidak,” tolak Woobin menggeleng, mengerucutkan bibir. Tampak imut.
“Benar. Ini terlalu pinky girl,” ujar Jiyong meletakkan Hello Kitty doll ke tempat semula.
“Tapi, hyung sunbae. Kau belum menemukan boneka yang akan kau beli?” sela Woobin merasa tidak enak.
“Sudah. Tinggal memilih tapi masih berpikir mana yang tepat. Nanti saja setelah kau selesai.”
“Jeoseonghamnida, merepotkanmu.”
“Tidak sama sekali,” ucap Jiyong dan menyentuh sebuah boneka, boneka Tinkerbell. Ingin diambilnya tapi kembali dicermati dan urung diambil.

Senyum lebar tercetak dari bibir Woobin karena Jiyong bersedia begitu saja membantunya. Juga tertawa kecil dengan kemampuan Jiyong memilihkan boneka untuknya. Untuk diberikan pada dua gadis yang disayanginya, adiknya dan Kim Taeyeon.

***

“Kenapa minggu ini bisa di posisi dua? Bukankah sudah ku bilang padamu untuk menggeser posisi BANG BANG BANG?” tuntut CEO Lee Seoman masih bisa bersabar pada Taeyeon yang duduk berseberangan di meeting room. 

Girls’ Generation selesai melakukan meeting baru saja. Member lain sudah keluar ruangan ini, hanya menyisakan satu member, Taeyeon beserta pemimpin rapat, CEO Lee Seoman.

“Jeoseonghamnida. Jeoseonghamnida, kami akan berusaha lagi untuk minggu depan,” ucap Taeyeon membungkukkan kepalanya disertai keluarnya kupu-kupu biru dari mulutnya dan melebur setelah beberapa saat terbang berkeliling disekitar mereka 
“Aku, dan perusahaan ini juga terus berusaha. Geser posisinya minggu depan,” pinta CEO Lee setelah berpikir beberapa saat.
Taeyeon mengangguk.

Kini Taeyeon berjalan lunglai di lobi setelah dari ruangan CEO Lee di lantai atas. Tampak Yuri sedikit berlari kearahnya dari belakang.

“Eonni,” panggil Yuri saat jaraknya hanya beberapa langkah dibelakang Taeyeon.

“Oh, Yuri-ah,” Taeyeon sedikit terkejut.

Yuri menatap kasihan wajah mungil Taeyeon. Ia mendengar pembicaraannya dengan CEO Lee dari luar di balik pintu karena Taeyeon meminta Yuri untuk menunggu sebentar di sana. Dan saat itu pintu meeting room sedikit terbuka.

“Kau baik-baik saja, ‘kan, eonni? Semalam kau sangat senang,” ujar Yuri mencoba mulai menenangkan dan menghibur eonni leader-nya.
Itu sebelum chart lagu dibuat,” jawab Taeyeon tersenyum tipis diiringi munculnya kupu-kupu berwarna biru terang beserta cahanya. “Yang lain sudah di depan?”
“Sudah. Mereka menunggumu kita. Kajja.”

Taeyeon dan Yuri menuju pintu utama gedung SM entertainment. Didepan pintu itu sudah ada member SNSD lain beserta tim keamanan disekitar mereka dengan dihadapan member-member SNSD terdapat banyak wartawan yang siap meliput wawancara Girls’ Generation.

Hari ini para wartawan itu akhirnya disetujui pihak SM entertainment untuk mewancarai Girls’ Generation. Tadinya pihak SM entertainment menolak dengan alasan para member sibuk, namun daripada  ribut nantinya, jadilah pihak SM entertainment menerima interview dadakan ini, didepan pintu utama SM entertainment.

Para member menoleh melihat Taeyeon dan Yuri bergabung lalu saling melemparkan senyum. Tidak lupa Taeyeon serta Yuri juga menebar senyum kepada para wartawan.

Tepat berdiri disebelah Taeyeon, Yuri memperhatikan wajah samping leader-nya yang mungil itu dan merasa simpati. Yuri menghela nafas dan mengarahkan pandangan pada para awak media.

***

BIGBANG tiba di Incheon International Airport. Setelah menghadapi kerubungan banyak fans baik di luar pesawat maupun dalam bandara yang sudah diamankan bodyguard  serta petugas keamanan bandara dengan juga mengatakan BIGBANG lelah setelah konser, butuh istirahat, maka fans dimohon pengertiannya, kini BIGBANG bisa lebih santai di dalam bandara untuk sejenak istirahat sembari menunggu mobil Yuri datang, walau satu mobil lagi dari pihak YG entertainment sudah stand by membawa member BIGBANG kembali ke apartemennya.

Sementara member yang lain meletakkan kopor didekat Jiyong yang memakai kacamata hitam, topi serta masker untuk meminimalisir orang yang tahu, tapi tetap saja para fans yang mengetahui BIGBANG kembali ke Seoul hari ini tahu jika itu adalah G-Dragon.

Orang-orang di bandara juga tahu jika itu adalah BIGBANG walau mereka menyembunyikan wajahnya, tahu jika hari ini ada BIGBANG dibandara. Toh teriakan fans ditempat ini juga sudah menandakan ada idola mereka yang datang atau hendak bepergian.

Keempat member pergi untuk sekadar mencari udara segar, tentu saja dengan diiringi empat bodyguard kekar. Sementara tiga bodyguard lain menjaga dan mengawasi Jiyong yang duduk di bangku yang tersedia dibandara, duduk bersebelahan dengan seorang anak laki-laki kecil berusia sembilan tahunan.

Anak kecil itu yang tengah menonton sebuah interview idol group menjadi perhatian Jiyong. Rupanya anak kecil itu tengah menonton interview SNSDDilayar gagdet tampak sang leader, Taeyeon tersenyum pada media tapi senyum sedikit dipaksakan.

Kening Jiyong berkerut dengan senyum Taeyeon yang lebih menyiratkan kesedihan bercampur malas jika diperhatikan lebih jeli.

“Dengan kepopuleran yang diraih berkat single ini, bagaimana kalian akan mempertahankannya? Apa seperti idol group lainnya?” tanya seorang wartawan wanita berusia dua puluhan.

“Ya, banyak seperti itu. Karena sebagian besar sama. Malam ini ada jadwal live di acara musik dan itu salah satu cara untuk mempertahankan. Memberi layanan dan penampilan baik pada fans juga menjadi cara kami. Menarik perhatian pengamat musik dan musisi serta yang berkaitan dengan hal ini lewat lagu baru kami juga kita lakukan,” terang Taeyeon senyum tipis. “Ini berkat semuanya. Gamsahamida. Uri fans juga selalu mendukung. Gamsahamnida, uri fans. Mohon terus dukung kami. Kami akan berusaha memberi kalian penampilan yang baik. Gamsahamnida. Saranghaeyo.”



Heran, Jiyong lalu tersenyum disudut kanan bibirnya karena gadis itu tidak mengeluarkan sama sekali kupu-kupu biru. Apa gadis itu mengatakannya tidak tulus? Dia mengucapkan terima kasih pada semua orang dengan tidak tulus? Apa-apaan ini? Dia juga terlihat badmood, tidak seperti yang Yuri ceritakan semalam lewat telepon. Apa ada masalah yang membuatnya kehilangan ketulusan?

Anak laki-laki kecil itu mengangguk-angguk tertawa kecil membuat Jiyong mengamatinya sejenak lalu kembali menoleh layar gadget. Benar-benar tidak ada kupu-kupu sepanjang leader SNSD itu bicara.
“Dia tidak mengatakannya dengan tulus,” gumam Jiyong kembali tersenyum disudut kanan bibirnya.
Anak kecil itu menoleh pada Jiyong membuat Jiyong tersentak serta sedikit takut karena tatapan anak itu yang kasar.

“Bagaimana kau tahu? Kau tidak bisa mengatakan seperti itu hanya karena kau sudah dewasa. Aku juga sudah dewasa. Kau pasti hater-nya, ‘kan? Bagaimana kau tahu Taeyeon noona tidak tulus?” serang anak kecil yang super lucu itu. Mengatakannya dengan mulut mengerucut sebab kesal dengan Jiyong. Apa ia tidak tahu siapa yang berbicara dengannya?
“Ebseo. Lanjutkan,” tukas Jiyong masih terkejut dengan polah anak sekecil ini.

Tapi, anak itu tetap melihat Jiyong dan mencermati wajahnya, berusaha menerka wajah siapa dibalik masker dan kacamata tersebut, siapa tahu ia mengenalnya.

Cepat Jiyong mengalihkan pandangannya kedepan melihat gelagat bocah lucu ini.

“G-Dragon BIGBANG?” terka bocah ini dengan polos.

“Iya,” jawab Jiyong ringan dan langsung. Sedetik kemudian ia sadar kenapa harus menyahut seperti itu. Bodoh sekali! Anak ini seperti orang dewasa jadi seharusnya Jiyong cukup diam.
Anak kecil itu, sakan dia tahu semua tentang idol. Polos tapi mengerti semuanya. Sulit dibohongi juga.

“Jadi, benar kau G-Dragon BIGBANG?”
“Bukan.”
“Geojitmal.”
Jiyong berdehem. Ia akan menghadapi bocah ini yang sepertinya sangat mengidolakan orang yang tengah ditonton di gadget-nya.

“Bocah kecil, siapa namamu?”
“Jeong Yoogeun,” jawabnya tanpa basa-basi.
“Ah…” Jiyong mengangguk senyum. “Yoogeun yang manis…”
“Apa kau mencoba merayuku sekarang?” sergah anak kecil pemilik nama Jeong Yoogeun ini.

Kembali Jiyong dibuat tercengang. Ia tertawa dan mendekatkan wajahnya pada Yoogeun. 

“Bukan. Yang akan kukatakan adalah kenapa kau tidak bicara dengan sedikit sopan? Misalnya dengan memanggilku ‘hyung’? Karena kau lebih muda dariku.”

“Walaupun aku muda tapi aku sudah dewasa. Kau tidak bisa membuatku takut padamu hanya karena kau lebih tua dariku, hyung,” ucapnya menuruti permintaan Jiyong. Bukankah lebih pantas dipanggil ahjussi? pikir Yoogeun dengan tertawa yang ditutupinya.
Apa anak ini sedang menertawainya?Jiyong belum menyerah.

“Kau tahu bukan G-Dragon itu penyayang anak-anak?”
“Tapi, aku melihatmu tidak seperti itu padaku,” cetus Yoogeun lalu mencibir.

“Karena kau bukan anak-anak,” balas Jiyong, tersenyum lebar merasa menang.
“Mwo?” giliran Yoogeun yang tidak mengerti ucapan Jiyong.

“Kau bilang kau sudah dewasa dan tidak mau dianggap anak-anak,” kekeh Jiyong senang.
“Kau bilang Taeyeon noona tidak tulus di wawancara ini. Komentarmu akan ku adukan pada pacarku,” ancam Yoogeun berdiri setelah merasa kalah mencari-cari pergantian topik pembicaraan.
“Yeojachingu?! Kau punya? Hey kau masih kelas dua sekolah dasar, ‘kan?” tawa Jiyong tidak percaya.

“Waeyo?”
“Kau masih sangat kecil untuk mengerti kencan.”
“Apa tidak boleh?” tandas Yoogeun dengan acuhnya.
“Geurae, terserah kau saja,” kata Jiyong tidak berhenti senyum mendengar penuturan lucu dari anak kecil ini. Mungkin setelah ini Jiyong akan dibuat tertawa lagi oleh bocah ini. “Tapi, kau mau kemana? Kau menunggu orang tuamu, ‘kan? Dimana mereka?”

“Kenapa tanya orang tuaku? Kau tidak berpikir akan menculikku, ‘kan?”
Benar. Anak itu membuat Jiyong tertawa lagi. Yoogeun yang kesal menarik kopor kecilnya dan berbalik pergi.

“Jamkkanman,” sebelum Yoougeun berbalik penuh Jiyong mencegahnya.
“Ada apa lagi?” Yoogeun menoleh.
“Benar kau mengadukanku pada pacarmu?”
“Kau merasa takut, ‘kan?” ledek Yoogeun tersenyum senang.

“Tidak,” elak Jiyong. “Aku ingin tahu siapa pacarmu. Siapa dan mana pacarmu?”
“Taeyeon noona,” celetuk anak itu cepat lalu lari dari hadapannya, pergi membawa kopornya.
Sangat terkejut Jiyong mendengarnya lalu tertawa melihat anak itu terus berlari menjauh.

“Anak itu… apa yang dimaksud sebagai pacarnya tahu mengenai ini. Pasti dia akan tertawa sepertiku jika tahu.”

Ia bersandar di kursi, meredakan diri dari percakapannya dengan Jeong Yoogeun, bocah kecil polos nan lucu juga imut itu.

“Oppa!”
Mendengar sebuah suara memanggilnya, Jiyong menoleh. Dilihatnya Yuri tidak jauh dihadapannya yang melambai padanya. Jiyong membalas lambaiannya, tapi kemudian Jiyong perlahan menghentikan lambaiannya karena melihat gadis lain yang baru saja ia lihat di gadget Yoogeun muncul dibelakang Yuri.

Hah, Jiyong paham, rupanya Yuri mengajak Taeyeon.

Jiyong menatap Taeyeon yang tidak sengaja Taeyeon membalas tatapannya.

“Pacarnya datang. Harusnya Yoogeun sedikit lebih lama disini. Bicara denganku sedikit lebih lama akan membuatnya bertemu dengan yeojachingu-nya. Aku memang pembawa keberuntungan, ‘kan? Harusnya seperti itu,” gumam Jiyong mengingat Yoogeun yang langsung pergi setelah kehabisan kata-kata.

“Aku bertemu yang lain diluar,” ucap Yuri setelah ketiganya saling berhadapan. Sementara Taeyeon hanya diam.

“Begitu?” Jiyong tersenyum bisa melihat adiknya lagi yang super ceria.

“Aku mengajak Tae eonni kemari agar sedikit bisa berpikir jernih setelah interview,” ucapnya lagi.

Sebelum Jiyong bertanya ‘kenapa’, Taeyeon mencubit lengan Yuri mengisyaratkan untuk diam saja. Tidak perlu membahas masalahnya. Yuri menoleh Taeyeon, tatapan mengelak dugaan Taeyeon, “Eonni pikir aku akan mengatakan sesuatu?”

Tidak perlu menunggu lama, karena tahu Yuri sudah datang, empat member BIGBANG lainnya datang dan menarik kopor masing-masing.

“Kajja,” ajak Seunghyun.

“Ji oppa, aku sangat senang melihatmu,” ujar Yuri ceria dan semangat.
Tidak merespon, Jiyong hanya menatap Yuri dan menarik kopornya.

Sesaat Jiyong dan Taeyeon saling bertatapan sebelum mulai melangkah meninggalkan tempat itu.

***

Mobil yang Yuri kemudikan terdapat Jiyong, Taeyeon juga Seungri. Jiyong dan Taeyeon duduk di bangku bagian belakang. Lalu, Seungri? Tentu disebelah musuhnya, Yuri. Karena tidak mungkin juga Seungri memilih didalam bagasi mobil.

Sebenarnya bukan keinginan Seungri maupun Yuri untuk satu mobil. Tapi, Seunghyun memaksanya agar bisa mulai akur.

Padahal harapan Yuri, Taeyang yang berada disebelahnya, bukan maknae panda ini. Seungri juga tidak mau, tapi bagaimana lagi? Ia sampai disinipun karena badannya didorong Seunghyun dibantu Daesung.

Dan sekarang, Yuri semakin kesal dengan Seungri yang terus menerus menggodanya.

“Kita tidak bertemu empat hari, kau banyak berubah, ya?” mulai Seungri, dengan tatapan dan senyum menggoda.
“Apanya? Geumanhae, aku tidak fokus menyetir,” sahut Yuri kesal.
“Kau berubah menjadi semakin kesal padaku.”
“Kalau itu memang benar. Rasanya semakin hari semakin meningkat kekesalanku padamu,” kata Yuri tetap fokus pada jalanan.
“Aku sudah melihat interview terbaru kalian,” sela Jiyong menatap lurus. Yuri dan Seungri terdiam begitu mendengar suara Jiyong. Mereka tahu ini salah satu cara menghentikan mereka dari adu mulut. Pandangan Jiyong beralih pada Taeyeon, Sepertinya perkataanmu pada media tidak tulus. Kau tidak mengeluarkannya sama sekali.”

Terperangah mendengar ucapan Jiyong yang tidak melihat situasi, Taeyeon menoleh Seungri dan Yuri. Ia khawatir Jiyong akan mengatakan kemampuan yang ia miliki. Yuri juga khawatir jika Seungri mengetahui. 

Tapi, Seungri tidak terlalu mempedulikan itu karena ia kembali menggoda musuhnya dengan berbagai pertanyaan.

“Kau menelepon salah satu dari kami, ‘kan?”
“Geurae. Dan itu Ji oppa,” jawab Yuri ringan.

“Bukan. Aku tidak tahu kau menelepon Ji hyung. Tapi, kau menelepon member lain lagi, ‘kan kalau begitu?” penuh senyum goda si mata panda ini dan menunggu jawaban benar dari Yuri. Yuri menoleh kesal, tapi Seungri belum puas dan memancing kembali dengan menyanyikan lagu milik Taeyang berjudul Eyes, Nose, Lips, “Mianhae mianhae hajima, naega chorahaeji janha….

Sontak Yuri terbelalak dan gugup lalulalu lewat spion dalam mobil menatap Jiyong dan Taeyeon yang tersenyum karena memang sudah tahu mengenai tanda-tanda antara Yuri dan Youngbae. Ingin Yuri cepat-cepat menjelaskan tapi ia juga bingung apa yang harus dijelaskan pada mereka.

Seungri merasa berhasil. Ia juga berhasil mendapat tatapan membunuh dari Yuri yang mencibir. Mulut Seungri itu ingin sekali Yuri menjahitnya menggunakan benang wol agar tidak bisa meledeknya lagi.

“Tapi, dia sempat terkilir kaki kanannya waktu naik stage saat konser hampir berakhir,” ungkap Yuri yang sejatinya memancing emosi Yuri karena menahan malu. Dalam hati Seungri tertawa keras.

“Arrayo!” bentak Yuri cepat.
“Arra? Kau tahu dari dia langsung?” terus saja Seungri menggoda. Lihat? Yuri benar terpancing. Yuri ini bagaimana? Jika tahu Seungri suka memancing emosi seharusnya tidak perlu dilayani. Haha, Seungri benar-benar merasa menang.
“Dari artikel,” ketus Yuri fokus menyetir. Malas menoleh panda disebelahnya.
“Ani. Dia memberitahumu di telepon,” ujar Seungri lembut dengan senyum menang.
“Ah! Aku tidak tahan lagi,” kesal Yuri cepat menepikan mobilnya dan berhenti membuat semuanya terkejut. Yuri menatap kesal Seungri, “Aku tidak tahan duduk denganmu. Pindah!”

Dengar polosnya Seungri membalas tatapan Yuri heran yang disambut tawa kecil dari Jiyong juga Taeyeon.

Jiyong menyadari tawanya seirama dengan Taeyeon yang juga merasakan hal yang sama. Mereka saling menatap sejenak dan mendadak diam. Berhenti tertawa.

“Yuri-ah…” panggil Jiyong lembut dengan senyum menahan tawanya.

“Oppa, pindahlah kedepan,” pinta Yuri lewat spion.
“Ne?” Jiyong menatap wajah samping Yuri. “Geuraeyo.”
Kini, Jiyong sudah duduk di sebelah Yuri sesuai permintaan gadis itu, sementara Seungri duduk disebelah Taeyeon menggantikan posisi awal Jiyong.

Sepanjang perjalanan, Jiyong hanya bermain ponsel dan mendengar suara berisik Seungri yang bercanda dengan partner duduk sebelahnya.

Sebenarnya Jiyong terganggu dengan suara tawa mereka dan segala obrolannya. Ia juga sudah tidak peduli lagi dengan kemungkinan Taeyeon mengeluarkan kupu-kupu selama bicara didalam mobil.

Ia terus bermain ponsel untuk mengusir jenuh dan kekesalan karena suara berisik Seungri. Sedang Yuri hanya tersenyum melihat dua orang dibangku belakang lewat spion. Ia juga lebih lega karena tidak ada disebelahnya yang bisa memancing emosi dengan pertanyaan-pertanyaan membunuh serta keramat menurut Yuri. 

“Kalian berdua sangat cocok,” celetuk Yuri sejenak menoleh belakang.

“Tentu saja. Bukankah begitu, eonni?” sahut Seungri cepat, lalu mengangkat tangan kanan dideoan Taeyeon, mengajak high-five.
Taeyeon mengangguk dan tersenyum lebar, kemudian membalas high-five Seungri.

***

Keadaan malam di Seoul memang begitu indah, seperti malam ini. Membuat siapa saja ingin keluar rumah menikmati suasana malam yang terkadang dingin ataupun panas.

Suasana malam ini tidak begitu dingin juga tidak begitu. Malam yang sejuk nan hangat mengantar langkah pria bermarga Kwon ini menuju Han River yang sudah berada di depan matanya, dimana terlihat jelas Moonlight Rainbow Fountain-nya.

Menuju bawah Banpo Bridge, dengan senyum gembira dan tangan kirinya membawa sebuah kado, sedang tangan kanannya terdapat buket bunga warna-warni.

Ponsel disaku celananya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia berhenti melangkah, dengan sedikit kesusahan memindahkan bunga ditangan kiri yang juga memegang kado kotak ukuran kecil untuk kemudian mengambil ponsel dan membuka pesan.

Kim Soeun:

“Oppa, sudah sampai dimana?”

Jiyong mengantongkan kembali ponselnya. Tidak ada maksud untuk membalas. Biar saja kedatangannya secara tiba-tiba menjadi kejutan untuk gadis itu.

Ya, Jiyong dan Soeun sepakat untuk bertemu ditempat ini pada malam ini setelah kepulangan Jiyong pagi tadi.

Kembali Jiyong melangkah. Kedua matanya melebar dengan senyum manis di bibirnya, sedikit terkejut melihat gadis yang ingin ditemuinya sudah lebih dulu sampai.

Tampak anggun dan cantik sekali Soeun, kekasihnya. Semakin Jiyong menyukainya saja. Sepertinya Soeun belum mengetahui kedatangannya karena Jiyong datang dari arah kanan tempat ia berdiri, jadi tidak melihatnya. Bagus.

Dengan jarak yang tinggal sekitar sepuluh meter lagi, langkahnya Jiyong percepat, tapi buru-buru ia urungkan kala dari arah berbeda muncul seorang pria yang juga tersenyum manis pada Soeun yang mengawali senyum manis untuk pria itu yang membawa buket bunga dan menghampiri Soeun.

Jiyong masih tidak mengerti maksudnya. Ia masih diam ditempat mengamati mereka.

“Kim Bum, oppa,” panggil Soeun pada pria yang dipanggilnya dengan nama Kim Bum saat jarak mereka tinggal beberapa meter lagi. Soeun terlihat senang menyambut kedatangannya.

Kim Bum. Kim Bum? Otak Jiyong berpikir siapa pria bernama Kim Bum yang wajahnya tidak asing bagi Jiyong.

Ya, Jiyong ingat sekarang. Kim Bum merupakan salah satu pria kebanggaan Korea Selatan berkat keahlian renangnya. Dia adalah perenang nasional yang tengah menuju tingkat internasional.

Kim Bum juga baru menyelesaikan kompetisinya di Australia satu bulan yang lalu dan mendapat juara pertama untuk gaya bebas.

“Cukhahae,” ucap Kim Bum seraya menyerahkan buket bunganya.

 
“Gomawoyo,” balas Soeun menerima dengan senang hati. Diciumnya bunga itu. “Ini cantik sekali.”
Melihat pemberian itu membuat Jiyong tercengang. Tapi, mungkin itu baby sekadar ucapan selamat karena mereka memang sahabat baik. Jiyong sangat mengetahui persahabatan mereka. Tidak perlu mempermasalahkannya.

Masih berusaha menepis dugaan buruknya, Jiyong kembali tercengang. Kali ini benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dugaan buruknya terjadi.

Ia menatap tidak percaya saat pria bermarga sama dengan Soeun itu perlahan mendekat dan memeluk kekasih Jiyong. Dan, Soeun juga membalas dengan melingkarkan kedua tangan dipinggang Kim Bum.

Jiyong benar-benar terperangah, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

TO BE CONTINUED



NEXT CHAPTER 4

“Balasan? Kau membalasnya atau ingin merasakan juga bekas minumku?” tanya Jiyong menatao selidik  gadis mungil itu dengan senyum devilnya.

Taeyeon terbelalak.



“Kau juga tahu aku tidak pernah menginginkan hubungan kalian dari awal. Lanjutkan pekerjaanmu dan hiduplah dengan baik,” pinta CEO Yang Hyunsuk tersenyum.


“Aku akan bekerja lebih baik,” ucap Jiyong tegar.


Jiyong yang tengah berjalan membawa beberapa lembaran kertas di koridor gedung YG entertainment, tiba-tiba sakit di kepala menyerangnya hingga ia terjatuh.

Muncul Seungri dan Daesung, mereka terkejut melihat Jiyong kesakitan di lantai. Bergegas mereka menghampiri.

“Ji hyung!” seru Seungri.
Mereka membantu Jiyong bangkit.


“Apa akhir-akhir ini Jiyong mengalami?” tanya Seunghyun hati-hati.


“Entahlah. Apa dia merasakan pusing akhir-akhir ini? Mungkin persiapan konser untuk negara lain,” Yuri juga tidak mengetahuinya.

“Jika itu karena konser rasanya tidak mungkin. Karena tidak terlihat seperti itu tadi sore di YG,” ujar Seunghyun bingung.

***

Apa kalian menunggu lama? Jeoseonghamnida. 😊

Jadi, bagaimana? Kepanjangan? Tidak atau dibagi dua part atau chapter? Bimbang juga.
Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

27 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity (Chapter 3)

  1. Ne thor kita mnunggu lma bnget,di bgi jdi 2 part jga gpp kox thor
    Mkin pnasaran bnget sma klanjutannya…..next thor.
    Fighting!!!!😁😁

  2. Kerenn~~~ makin penasaran ma kupu-kupu kuning ny.. apakh i2 brmakna TY eon tulus ma jodoh ny.. *Gd.. 😂😂😂 ngarang bebas.. 😁
    Putus aee tu Gd ma si So eun.. biarkb Ty eon d posisi i2…
    jan ad pnghambat antra GTae.. 😂😂
    Ehh,, ini GAK kepanjangan kokkk.. malah masi mw d panjangin lg thor.. 😚😚 soal ny kgk bosan aee bacany.. malah makin penasarannn ma klanjutnny.. 😁😁😁😁

    Keep writing and FIGHTING thor!!!! 😘😘😘😘

  3. Walah walaaah
    This chapter makes me feel ‘something’.. *every chap, actually
    Kuning itu artinya kyak kebahagiaan gitu, jadi Taeng selama sama Jiyong selalu happy?
    Waahhh, dtunggu deh next chapnya, GTAE momentnya yaa..
    FIGHTING!!!

  4. Makin penasaran ajaa 😆😆😆
    Tpi aku masih bingung sma alur ceritanya 😅😂
    Tpi gapapalah , ceritanya bagus banget 😊 Aku suka.

    Itu si jiyong & taeyeon knpa sktnya barengan ya?
    Ada apa dengan 1AM?
    Trus arti dari kupu² kuning apa?

    Dibuat penasaran 😆😂 ditunggu thorr kelanjutannya 👍👏

  5. Pingback: SecretSecret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 4 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 5 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 6 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 7 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 8 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 9 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 1 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 10 – Part 2 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Secret: I Can See Your Sincerity ( Chapter 11 ) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s