DESTINY (Chapter 6)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with dmy

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Kim Myungsoo, Krystal Jung.

Other Cast : Ok Taecyeon, Kim Seolhyun, Park Jiyeon, Nichkhun Horvejkul, Park Chanyeol, Kim Taehyung, Kim Bum, etc.

Genre : Romance, Hurt, Friendship

Rate : NC

WARNING : MATURE CONTENT! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

Preview : Prologue + Introducing CastChapter 1Chapter 2, Chapter 3Chapter 4Chapter 5

Six


Semenjak Sehun menolak ajakan makan siangnya hari Senin, Taeyeon berusaha setengah mati untuk tidak melirik Sehun, mengabaikannya, tidak mengajaknya bicara duluan, dan berusaha untuk bersikap profesional.

Oh Sehun membuatnya malu sekali, memang hanya mereka berdua yang menyaksikan kejadian itu, tapi tetap saja ia malu setengah mati.

“Kim” Sehun menghampiri meja Taeyeon.

“Ada apa?” tanya Taeyeon tanpa melihatnya.

“Aku hanya ingin memberitahu aku akan menunggumu dan keluargamu nanti di depan gerbang Hall Concert. Jam tujuh” kata Sehun kemudian pergi begitu saja.

Taeyeon menatap punggung laki-laki itu dengan kesal. Walaupun ia berusaha mengabaikan laki-laki itu, tetap saja ia tidak suka jika terlalu diabaikan, apalagi oleh Oh Sehun yang secara teknis adalah bawahannya. Dan mengenai konser itu, ia sudah menelepon ayahnya tadi pagi untuk mengucapkan selamat ulang tahun, dan berkata bahwa ia akan datang nanti malam untuk makan malam bersama, tapi tidak mengatakan bahwa mereka berencana menonton konser Paul McCartney.

Taeyeon menghela nafasnya, tentu saja ia ingin memberikan hadiah spesial untuk ayahnya, tapi bagaimana dengan Oh? Apa Sehun akan bersikap baik pada kedua orangtuanya? Apa yang direncanakan pria itu sebenarnya.

Sepulang kerja Taeyeon langsung menuju ke rumah orangtuanya. Ia mengetuk pintu rumah orangtuanya dan langsung di sambut oleh ibunya.

“Ayahmu sudah menunggu dengan cemas, dia sepertinya agak kesal karena kita hanya berencana makan malam di rumah dan eomma juga belum memberikannya hadiah apa-apa” kata Jihyun berbisik.

Taeyeon tersenyum lebar, “Ayo kita berikan kejutan untuknya, eomma!”

“Appa…” Taeyeon menyapa ayahnya yang sedang duduk di depan televisi.

“Taeyeon-a…” Jungwon melihat Taeyeon yang baru datang. Taeyeon mendekati ayahnya dan memeluknya.

“Happy Birthday…” kata Taeyeon mencium pipi ayahnya. Taeyeon duduk disamping ayahnya, ia melirik ke jam dinding di atas televisi, sekarang sudah jam enam kurang dan mereka perlu waktu sekitar 30 menit untuk menuju Hall Concert.

Jihyun berdiri di belakang Taeyeon, mereka berdua akan memberitahu Jungwon apa hadiah ulangtahun spesialnya.

“Appa, kami punya hadiah spesial untukmu” ujar Taeyeon.

Jungwon menaikkan sebelah alisnya, “Kalian tahu aku tidak suka kejutan” jawab Jungwon was-was.

Jihyun tertawa, “Kami yakin kau akan sangat menyukai kejutan yang satu ini”

“Baiklah, jadi apa hadiahnya?” tanya Jungwon masih was-was.

“Kita akan pergi” kata Jihyun memulai.

“Menonton Konser” Taeyeon melanjutkan.

“Sir Paul McCartney!” kata mereka bersamaan.

Mata Jungwon membelalak. Mulutnya terbuka. Ia tidak yakin ini kenyataan.

“Tampar aku” katanya tidak percaya. Jihyun mendekat dan menampar suaminya cukup kencang.

“Kalian serius?” tanya Jungwon lagi sambil mengelus-elus pipinya yang baru ditampar istrinya itu.

Taeyeon mengangguk penuh semangat, “Karena konsernya dimulai jam tujuh, sebaiknya kita bersiap-siap sekarang” kata Taeyeon lagi.

Jungwon langsung berdiri dan menuju ke kamar, menggumamkan sesuatu seperti ‘Astaga, aku tidak percaya ini, Paul McCartney’.

Setelah pintu kamar baru tertutup, tiba-tiba Jungwon keluar lagi dan berlari memeluk istri dan anaknya, “Terimakasih banyak, Jihyun-a, Taeyeon-a, kalian sangat tahu betapa berartinya konser ini bagiku. Aku mencintai kalian”

“Selamat ulangtahun, appa. Kami juga mencintaimu” kata Taeyeon membalas pelukkan ayahnya.

“Jihyun-a, sebaiknya kau membantuku memilih pakaian” kata Jungwon lalu menuju ke kamarnya lagi diikuti Jihyun.

Taeyeon tersenyum melihat kedua orangtuanya, berharap mereka bahagia selamanya. Taeyeon kemudian menuju ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, dua puluh menit kemudian ia sudah duduk di ruang tamu menunggu kedua orangtuanya.

“Sayang, mana tiketnya? Appa ingin lihat” ujar Jungwon saat mereka berjalan menuju mobil.

“Um, temanku yang memegang tiketnya, dia menunggu kita disana” jawab Taeyeon pelan.

“Temanmu ini, bukan Kim Bum kan?” tanya Jungwon menghentikan langkahnya, ia tidak peduli konser Sir Paul atau bukan, ia tidak mau menerima tiket konser dari pria yang menghancurkan hati anak perempuannya.

“Tidak, bukan appa, jangan terlalu berpikiran negatif” jawab Taeyeon terus berjalan menuju mobil ayahnya.

“Lalu siapa?” tanya Jihyun ikut penasaran.

“Eomma kenal orangnya, setidaknya tahu” kata Taeyeon.

“Kekasih barumu?” tanya Jihyun tidak menahan semangatnya, jika memang mereka akan bertemu kekasih baru Taeyeon, ia sangat antusias.

“Tidak, bukan. Dia teman kerjaku” kata Taeyeon menjelaskan, wajahnya memerah.

“Lalu kenapa wajahmu memerah?” tanya Jihyun masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan Taeyeon berhasil mengalihkan pembicaraan agar fokus pada konser yang akan mereka saksikan, bukan pada siapa teman Taeyeon yang menunggu mereka disana.

Jungwon terus-menerus berbicara tentang bagaimana ia sudah berkali-kali berusaha mendapatkan tiket konser itu, dari mulai menunggu dari malam sebelum tiket konser di jual, mencari-cari calo, bahkan menunggu sampai konser dimulai, berharap ada orang yang membatalkan tiketnya.

Taeyeon menjawab bahwa temannya ini punya koneksi orang dalam atau semacamnya. Jadi mereka dapat membeli tiket dengan mudah.

Mereka sampai di Hall Concert yang terkenal di Seoul, Seoul Olympic Hall, selain mewah dan megah, sudah banyak penyanyi ternama dunia maupun Korea yang konser di tempat itu.

“Taeyeon-a, temanmu dimana?” tanya Jungwon saat mereka keluar dari mobil. Taeyeon mencari-cari sosok Sehun di keramaian. Berjinjit, berusaha menemukan rambut hitam khas disekitar mereka.

Kemudian mata Taeyeon tertumbu pada sosok yang dicarinya.

Oh Sehun melambai dan kemudian berjalan mendekat. Taeyeon lagi-lagi kehilangan nafasnya saat melihat Sehun dengan pakaian semi formalnya. Kaos putih dipadukan dengan jeans dan jas navy, rambutnya sedikit diacak dan semuanya mendukung ketampanannya.

“Taeyeon-a” Sehun memanggilnya.

Taeyeon tersadar dari lamunannya, “Oh, iya. Kenalkan Sehun-a, ini ibuku dan ayahku” Taeyeon memperkenalkan kedua orangtuanya canggung.

“Eomma, Appa, ini Oh Sehun” kata Taeyeon pada orangtuanya.

Sehun mengulurkan tangannya pada Kim Jungwon, “Oh Sehun” kata Sehun memperkenalkan diri, “Senang bertemu dengan anda” lanjut Sehun berusaha terdengar sopan.

“Jungwon, Kim Jungwon” balas Jungwon ramah.

“Kim Jihyun” ujar Jihyun kemudian mengulurkan tangannya pada Sehun.

“Senang bertemu dengan anda” kata Sehun juga menjabat tangan Jihyun sambil tersenyum lebar.

Sehun kemudian mengeluarkan empat tiket konser dari saku jasnya, “Kurasa sebaiknya kita masuk, konsernya akan segera di mulai” kata Sehun memberikan tiketnya pada Taeyeon.

Taeyeon melihat tiket itu sebentar. VIP. Ia menarik Sehun menjauh dari orangtuanya.

“Sehun-a, bagaimana aku akan mengganti tiket konser ini?” bisik Taeyeon kesal.

“Aku tidak memintamu menggantinya, aku sudah mengatakan ini berapa kali? Aku tidak akan menerima bayaran atas tiket ini” kata Sehun, “Lagipula ini hanya VIP, bukan VVIP”

“Tapi seharusnya kau membelikan kami tiket Reguler saja” sangkal Taeyeon. Ia tahu semua tiket yang dijual adalah tiket duduk, karena konser ini adalah konser semi formal, tapi ia tidak menyangka Sehun membelikan mereka tiket VIP.

“Taeyeon-a? Sehun-ssi? Ada masalah?” tanya Jihyun.

“Tidak ada, Nyonya Kim” jawab Sehun tersenyum manis sekali, “Ayo kita masuk” kata Sehun berjalan menghampiri kedua orangtua Taeyeon.

“Oh, dear, panggil aku eommeo-nim” kata Jihyun.

“Tuan Kim” kata Sehun menghampiri Jungwon, ia mengulurkan tangannya lagi, “Selamat ulangtahun, semoga anda sehat selalu”

“Terimakasih banyak” balas Jungwon tersenyum, mereka kemudian masuk ke dalam Hall Concert diikuti Taeyeon dan Jihyun dari belakang.

Sehun menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Taeyeon yang cemberut lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Oh, astaga, Oh Sehun bahkan lebih tampan daripada di fotonya!” bisik Jihyun pada Taeyeon.

“Aku akan berhenti membuat eomma membaca Dispatch” Kata Taeyeon menggerutu kesal, “Es menyebalkan!”

“Es?” tanya Jihyun, “Well, kalau begitu, tentu saja Sehun merupakan es paling tampan yang pernah eomma temui”

Taeyeon ingin pingsan mendengarnya.

✿ ✿

Mereka berempat sangat menikmati konser Sir Paul, mereka duduk di bagian VIP yang cukup tinggi tapi sangat jelas view-nya ke panggung.

Setiap ada jeda beberapa menit, Jihyun terus-menerus bertanya pada Sehun tentang pribadinya, ia tinggal dimana? Apa hubunganya dengan Taeyeon? Apa ia sudah punya kekasih? Apa ia dan Oh Sehun yang merupakan peringkat pertama The Top 10 Most Popular Bachelor of All Time dan The Top 10 Best Bachelors in Education and Career adalah orang yang sama?

Sehun tertawa mendengar pertanyaan terakhir Jihyun, tapi menjawab dengan sopan bahwa itu memang dia. Jungwon juga bertanya pada Sehun, darimana ia mendapatkan tiket? Bagaimana Taeyeon sehari-hari bekerja? Dan pertanyaan-pertanyaan kecil seperti apa lagu Sir Paul yang menjadi favoritnya, apa ia menyukai The Beatles juga atau hanya Sir Paul?
Setelah konser selesai dan mereka keluar dari Hall, Jihyun sudah sangat menyukai Sehun.

“Sehun, bagaimana caramu pulang? Apa kau naik bus atau kereta atau menggunakan kendaraan pribadi?” tanya Jihyun saat mereka berjalan menuju parkiran.

“Saya membawa kendaraan” kata Sehun, “Ah, sebentar” Sehun teringat sesuatu, ia setengah berlari menuju BMW X1 hitam yang terparkir tidak jauh. Jungwon tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan kendaraan Sehun dari ujung keujung. Sehun membuka kursi penumpang di samping kursi kemudi dan mengambil sebuah paper bag.

“Tuan Kim, saya punya hadiah kecil untuk anda” ujar Sehun mengulurkan tas itu pada Jungwon.

“Oh, Sehun-ssi kau tidak perlu memberikanku hadiah lagi, sudah bisa menonton konser Sir Paul saja aku sudah senang sekali” kata Jungwon namun tetap mengambil hadiah yang disodorkan Sehun.

Taeyeon memutar matanya. Jihyun memandang Sehun dengan penuh kagum.

“Eomma, appa, ayo kita pulang” kata Taeyeon tidak sabar.

“Iya Taeyeon-a, kita akan pulang, sabarlah sebentar” kata Jihyun pada Taeyeon.

“Sehun-ssi” Jihyun mengulurkan tangannya pada Sehun, “Terimakasih sekali atas bantuanmu mencarikan tiket untuk kami, aku dan Jungwon akan terus mengingat jasamu” kata Jihyun memegang tangan Sehun dengan kedua tangannya.

“Datanglah sesekali kerumah, aku akan memasak makanan yang paling enak” sambung Jihyun.

Sehun tertawa, “Terimakasih eommeo-nim, aku akan datang berkunjung, tentu saja jika Taeyeon tidak keberatan” ucap Sehun melirik Taeyeon yang seperti sudah siap meledak, wajahnya merah seperti kepiting rebus.

“Sehun-ssi, terimakasih banyak sekali lagi” kata Jungwon juga menepuk pundak Sehun kemudian berjalan menuju mobilnya diikuti Jihyun. Tinggal Taeyeon yang masih berdiri di depannya. Ia menyipitkan mata, tidak mengerti apa maksud Sehun.

“Kenapa kau bersikap ramah sekali pada kedua orangtuaku?” tanya Taeyeon tidak mengerti bagaimana mungkin Oh Sehun bisa bersikap charming sekali di depan kedua orangtuanya.

“Apa kau ingin aku bersikap tidak sopan pada mereka?” tanya Sehun tersenyum.

“Kenapa kau tidak sekalipun memanggilku ‘Kim’ malam ini?” tanya Taeyeon lagi berusaha mencari-cari kesalahan Sehun, meskipun ia tahu tidak ada.

“Karena ada tiga ‘Kim’ malam ini”

“Apa hadiah yang kau berikan pada ayahku tadi?” tanya Taeyeon, sekarang tangannya sudah berkacak pinggang.

“Lihat saja sendiri” Sehun mengangkat bahunya.

Taeyeon menghela nafas, ia menurunkan tangannya dari pinggang dan menatap Sehun, “Apa kau punya maksud tertentu?”

“Kim… Kim…” Sehun tersenyum menggoda, “Kau tahu jelas kan apa maksudku?”

Sehun mendekat hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka, membuat Taeyeon membatu di tempat. Sehun membungkukkan badannya sedikit dan menatap Taeyeon yang seakan-akan kehilangan nyawanya.

Taeyeon mengira Sehun akan menciumnya, tapi kemudian Sehun tertawa pelan. Iya, tertawa.

“Kim, aku tidak akan menciummu lagi, tidak jika bukan kau yang meminta” kata Sehun benar-benar tidak bisa menahan tawanya melihat Taeyeon mati kutu di depannya.

“Selamat malam, Kim Taeyeon” ucap Sehun dengan cepat mencium pipi kanan Taeyeon dan langsung berjalan menuju mobilnya.

✿ ✿

“Oh astaga, aku benar-benar ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan” ujar Jihyun dari dalam mobil, ia dan Jungwon tengah memata-matai Taeyeon dan Sehun yang masih berdiri di tempat tadi.

“Oh, lihat, sepertinya Taeyeon marah, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang” kata Jungwon penuh antusias.

“Dan Sehun tersenyum, astaga anak itu tampan sekali” kata Jihyun.

“Eh… Eh.. Lihat, apa Sehun akan mencium Taeyeon?!” Jihyun tidak bisa menahan pekikannya, ia memegang lengan Jungwon dan menggerak-gerakkannya penuh semangat.

“Oh, Taeyeon, kenapa dia diam saja? Bukankah seharusnya ia menampar anak itu atau semacamnya?” tanya Jungwon akan segera keluar dari mobil jika Sehun berani melakukan hal yang tidak-tidak pada anak perempuannya di depan umum.

“Ooooh…” Jihyun berseru senang sekali, ia berseru seperti baru saja menyaksikan adegan romantis di film-film. Sehun baru saja mencium pipi Taeyeon kemudian berjalan pergi sambil tersenyum.

Kemudian Taeyeon setengah berlari menuju ke mobil mereka. Jihyun dan Jungwon langsung berpura-pura sibuk, tidak ingin anak mereka tahu bahwa mereka baru saja melihat adegan romantis antara Taeyeon dengan Sehun.

“Appa, apa hadiah yang diberikan Sehun?” tanya Taeyeon, ia curiga kalau hadiah yang diberikan Sehun merupakan hadiah mahal.

“Kenapa memangnya?” tanya Jungwon sudah mencium bahwa hadiahnya kemungkinan akan dirampas oleh Taeyeon dan dikembalikan kepada yang memberi.

“Buka saja appa. Jika hadiah itu mahal dan tidak masuk akal, maka kita harus mengembalikannya” kata Taeyeon baru akan menarik paper bag yang ada di
dashboard mobil untuk membukanya sendiri.

“Biar appa yang buka!” sahut Jungwon sedikit kesal pada Taeyeon, tapi anaknya itu ada benarnya, jika hadiah yang diberikan Sehun terlalu mahal itu sangat tidak masuk akal, maka ia tidak bisa menerimanya, lagipula Jungwon bisa membaca bahwa Sehun sepertinya menyukai Taeyeon, dan Jungwon tidak ingin hadiah ini digunakan Sehun sebagai bahan untuk menyuapnya.

Jungwon membuka tas kado itu dan mendapati sebuah buku dan syal serta kartu ucapan.

Tuan Kim Jongwon,

Selamat ulangtahun, semoga anda sehat dan sukses selalu, ini buku yang kubeli dengan pertimbangan khusus dan syal rajut buatan ibuku. Maaf, ia memaksa untuk memberikan ini pada anda dan istri anda.

Sekali lagi selamat ulang tahun. Semoga anda menyukai buku dan syal-nya.

Oh Sehun.

“Oh, astaga Taeyeon-a, anak itu baik sekali…” kata Jihyun melihat dua syal rajut berwarna abu-abu dan krem yang ada di dalam tas itu.

“Dan Taeyeon-a, bukankah kau baru membelikan buku ini yang edisi ke enam untuk ayah bulan lalu?” tanya Jungwon memegang buku berjudul Doctor edisi 7.

“Aku bahkan tidak tahu edisi tujuh sudah keluar!” sahut Taeyeon shock, ia tidak menyangka Oh Sehun mampu memberikannya hadiah yang penuh perasaan ini.

“Kurasa kita tidak akan mengembalikan hadiah ini” kata Jihyun kemudian memakai syal yang diberikan Oh Misook itu dan melihat bayangan dirinya di spion depan mobil mereka.

Taeyeon tersenyum. Ia sekarang yakin akan satu hal. Sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada Oh Sehun.

✿ ✿

Taeyeon makan malam sebentar dengan kedua orangtuanya kemudian kembali ke apartemennya dan menemukan Myungsoo sedang tertidur di sofa.

“Myungsoo-ya!” Taeyeon menggerak-gerakkan kaki temannya itu.

Myungsoo terbangun sambil mengusap matanya, “Tae, kau sudah kembali?” tanya Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon tak menghiraukan pertanyaannya.

“Aku dan Jieun bertengkar dan ia mengusirku dari Flat kami” Myungsoo menjelaskan.

Taeyeon menghela nafasnya, “Tidurlah di kamar tamu” ujar Taeyeon sambil lalu. Ini bukan pertama atau kedua kalinya Myungsoo dan Jieun bertengkar sampai Myungsoo pergi dari flat mereka dan Taeyeon harus merelakan apartemennya menjadi penampungan sahabatnya.

“Terimakasih, Tae” kata Myungsoo cepat lalu menuju kamar tamu dimana ia biasa mengungsi jika sedang bertengkar dengan Jieun.

Taeyeon menuju ke kamarnya, merebahkan badannya di tempat tidur. Ginger naik ke tempat tidur dan menggonggong disampingnya.

“Hey little man…” sapa Taeyeon mengelus kepala anjingnya itu.

Ginger menggonggong.

Taeyeon membiarkan kucingnya tidur disampingnya dan mengelus-elus kepalanya.

“Ginger-a, apa menurutmu Oh Sehun punya tujuan tertentu?” tanya Taeyeon.

Ginger menggonggong lagi.

“Tidak?” tanya Taeyeon memastikan, “Jadi menurutmu Oh Sehun benar-benar menyukaiku?”

Ginger memutar matanya dan melompat turun dari ranjang Taeyeon dan menuju tempat tidurnya dibawah jendela, berjalan kekiri-kekanan, menggoyangkan kepalanya.

Taeyeon menghela nafasnya.

Mungkin,

mungkin Taeyeon akan mencoba peruntungannya.

✿ ✿

“Hell, Taeyeon-a…” sapa Myungsoo saat bangun dan melihat Taeyeon sedang membuat sarapan di dapurnya.

“Ada apa Myungsoo-ya?” tanya Taeyeon, ia sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Myungsoo. Setiap Myungsoo mengungsi ke apartemennya, Myungsoo akan menghabiskan jatah makan Taeyeon untuk seminggu. Mungkin karena dia pria jadi porsi makannya lebih besar dari Taeyeon.

Myungsoo duduk di kursi meja pantry dan mulai makan beberapa pancake dan bacon yang sudah disediakan.

“Kau tidak biasanya pergi bekerja dengan pakaian seperti itu” ujar Myungsoo memperhatikan Taeyeon dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Taeyeon yang masih memegang spatula melihat dirinya sendiri dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia menghela nafasnya.

“Kau benar Myungsoo-ya, kurasa ini memang berlebihan” kata Taeyeon.

“Ahh, tidak Tae, bukan seperti itu maksudku” kata Myungsoo menjelaskan, “Jika kau ingin mengubah penampilanmu, maka lakukanlah” tambah Myungsoo tidak bermaksud menurunkan rasa percaya diri Taeyeon.

“Jadi, ini bagus atau tidak? “ tanya Taeyeon.

“Tentu saja bagus, kau terlihat cantik, aku hanya tidak terbiasa melihatmu dengan um… kau tahu… pakaian elegan” kata Myungsoo.

Taeyeon menghela nafasnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, ia hanya terbangun lalu ingin menggunakan pakaian yang lain daripada yang biasa ia gunakan.

Taeyeon menghabiskan setengah jam di depan cermin, menggonta-ganti pakaiannya seperti remaja yang sedang jatuh cinta dan ingin membuat pria yang disukainya terkesan.

Hell, ia ingin membuat Oh Sehun terkesan.

Akhirnya setelah berkali-kali menggonta-ganti bajunya, Taeyeon memutuskan untuk menggunakan blouse tanpa lengan berwarna biru muda dan rok tulip ketat berwarna biru tua. Ia hampir mengganti pakaiannya lagi, karena ia merasa terlihat seperti sekretaris yang ingin menggoda atasannya. Ditambah ia sedikit mempertebal make-upnya seperti eyeshadow, bedak dan lipstik. Tapi hati kecilnya berkata ia terlihat cantik. Dan perempuan yang ingin terlihat cantik bukan sesuatu yang salah.

“Taeyeon-a, tunggu sebentar, aku akan mandi kemudian kita bisa berangkat ke kantor bersama” kata Myungsoo, menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Jangan terlalu lama di kamar mandi!” sahut Taeyeon.

Myungsoo dan Taeyeon berangkat ke kantor Pemerintah bersama menggunakan mobil Taeyeon, namun Myungsoo yang menyetir. Taeyeon menasehati Myungsoo sepanjang perjalanan, tentang bagaimana ia seharusnya mulai bersikap lebih dewasa menghadapi masalah hubungannya dengan Jieun, mereka memutuskan untuk tinggal bersama tapi bertengkar setiap saat.

Myungsoo hanya diam mendengar celotehan temannya itu, sesekali menganggukkan kepalanya dan terkadang berusaha membela diri, tapi kemudian Taeyeon akan makin menambah dosis nasehatnya.

Mereka sampai di Pemerintahan, dan berpisah di dekat air mancur, Myungsoo berkata jika belum ada kepastian sampai sore apakah ia dan Jieun sudah berbaikkan atau belum, maka mereka akan pulang bersama setelah kerja.

“Kim” Sehun menyapa Taeyeon.

Taeyeon yang baru saja melepas mantel berpergiannya dan sedang berdiri menunggu lift terkaget begitu mendengar suara Sehun di belakangnya.

“Oh?” tanya Taeyeon membalikkan badan.

“Pagi, Kim” sapa Sehun, ia tersenyum dan memperhatikan Taeyeon dari kepala sampai ke kakinya, “Nice outfit” komentar Sehun tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dari Taeyeon ke lift yang baru terbuka.

“Pagi” balas Taeyeon lalu mereka masuk ke dalam lift. Taeyeon berdiri canggung disamping Sehun, tidak lama, lift terhenti dilantai 2 dan banyak orang menyerbu masuk, membuat mereka terdorong kebelakang. Punggung keduanya sekarang bersandar di dinding lift.

Taeyeon melirik Sehun dari ekor matanya, Sehun juga melirik Taeyeon. Sehun menarik nafasnya. Sekarang! Pikirnya.

Taeyeon nyaris berteriak karena Sehun tiba-tiba menggenggam tangannya. Taeyeon menatap Sehun tak percaya. Sehun melihatnya dan menaikkan sebelah alisnya.

“Oh?” tanya Taeyeon pelan.

“Biarkan seperti ini” kata Sehun berbisik, “Aku hanya menggenggam tanganmu, bukan sedang mencuci otakmu”

Wajah Taeyeon langsung memerah seketika, otaknya menyuruhnya melepaskan tangan Sehun dari tangannya, tapi hatinya ingin membiarkan tangan itu tetap disana, membiarkan Sehun menggenggam tangannya.

Sekali ini ia mengikuti hatinya, ia membiarkan Sehun menggenggam tangannya.

“Kau bisa melepaskan tanganku sekarang, Oh” hardik Taeyeon saat mereka keluar dari lift.

“Tapi aku tidak ingin” balas Sehun terus menggandeng Taeyeon menuju ke ruangan mereka.

“Orang-orang akan melihat kita” Taeyeon terdengar panik.

“Kau malu terlihat bergandengan tangan denganku?” tanya Sehun masih berjalan penuh percaya diri.

Taeyeon tidak tahu harus menjawab apa. Taeyeon tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Kau tidak bisa melakukan ini, Oh” kata Taeyeon.

“Kenapa tidak?” tanya Sehun.

“Kau tidak bisa memegang tanganku begitu saja!” kata Taeyeon marah, “Kau tidak bisa bersikap baik pada kedua orangtuaku, memberikan mereka hadiah yang baik dan penuh perasaan, kau tidak bisa melakukan apapun yang kau inginkan begitu saja!” kata Taeyeon emosi.

Sehun tersenyum miring, “Bisa kau beritahu aku kenapa?” tanya Sehun, sekarang mereka berdua berdiri di lorong sebelum berbelok ke ruangan mereka dan bagusnya lorong itu sepi karena para karyawan belum berdatangan di jam sepagi ini.

“Tidak bisa, pokoknya tidak bisa, apa maumu sebenarnya?!” tanya Taeyeon masih belum bisa menerima alasan Sehun.

Sehun lagi-lagi tersenyum, ia masih menggenggam tangan Taeyeon, “Kim Taeyeon, berapa kali aku harus mengatakan ini padamu? Aku menyukaimu. Tidakkah itu cukup?” tanya Sehun.

Wajah Taeyeon memerah, “Kau baru mengatakan itu satu kali”

Sehun tertawa, “Kau ingin aku mengatakannya berapa kali? Lima? Sepuluh? Seratus? Aku akan mengatakannya berapa kalipun kau mau. Tapi bisakah kau percaya padaku?”

“Aku tidak yakin Sehun-a” ujar Taeyeon pelan.

“Tentang apa?” tanya Sehun.

“Tentang semua ini, tentang kita…” jawab Taeyeon pelan.

Sehun mengganti seringaiannya dengan senyuman lembut. Ia tersenyum dan mempererat genggamannya di tangan Taeyeon, “Aku menyukaimu Taeyeon-a, dan jika kau juga menyukaiku lalu dimana masalahnya?” tanya Sehun, persis seperti apa yang dikatakan Seolhyun pada Taeyeon beberapa waktu lalu.

Taeyeon menghela nafasnya.

“Percaya padaku” kata Sehun menatap Taeyeon langsung kematanya.

“Kau janji?” tanya Taeyeon pelan. Ia sudah memikirkan hal ini berkali-kali. Dan kali ini, kali ini saja, ia ingin mengikuti apa kata hatinya, bukan kata otaknya.

“Aku akan berjanji apapun untukmu” jawab Sehun, ia melepaskan genggamannya dan mengulurkan jari kelingkingnya, “Pinky Swear?” kata Sehun mengulurkan jari kelingkingnya.

Taeyeon tersenyum dan mengulurkan jari kelingkingnya juga. Sehun tersenyum dan mengaitkan jari kelingking mereka. Ternyata pria itu masih ingat apa yang Taeyeon ajarkan tentang salam perjanjian waktu di McDonald beberapa hari lalu.

“Boleh aku menciummu sekarang?” tanya Sehun.

Taeyeon melihat ke mata gelap yang juga menatapnya, Taeyeon bisa merasakan kawanan kelelawar lagi diperutnya, jantungnya berdebar-debar. Taeyeon mengangguk.

Sehun tersenyum dan mencium Taeyeon.

Ia mendekat, merunduk, dan menempelkan bibirnya di bibir Taeyeon. Kedua tangannya merengkuh wajah Taeyeon pelan.

Taeyeon tidak tahu kalau mencium seseorang bisa terasa seperti ini. Taeyeon menjatuhkan tas dan mantel-nya ke lantai lalu melingkarkan tangannya di leher Sehun, ia takut kakinya akan segera lemas dan kemudian terjatuh. Sehun menciumnya pelan dan lembut, mereka bericuman seperti itu beberapa detik saat Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Taeyeon dan mendorong gadis itu ke tembok terdekat yang bisa mereka capai.

Taeyeon mendesah pelan saat punggungnya bertemu dengan tembok, sekarang tangan kanannya berada di dada Sehun dan tangan kirinya di pundaknya.

Tangan kanan Sehun perlahan naik ke bagian sisi perut Taeyeon dan bertahan disana. Sehun mengulurkan lidahnya meminta agar Taeyeon membuka mulutnya, ketika Taeyeon membuka mulutnya, mereka berdua mendesah.

Taeyeon tidak pernah dicium dan mencium seperti ini. Ia tidak tahu kalau ciuman seharusnya seperti ini, tangan Taeyeon bergerak naik turun di dada Sehun, sementara tangan kirinya menggenggam lengan atas Sehun yang kokoh.
Sehun tidak bisa menahan dirinya, tangan kanannya perlahan naik lagi, dan menyentuh sisi luar payudara Taeyeon.

Taeyeon mendesah, ia benar-benar kehilangan akal sehatnya, ia seharusnya berhenti dan kabur, bukannya menikmati tangan Sehun yang berada di payudaranya.

“Ehm..ehmm…” seseorang membersihkan tenggorokkannya.

Sehun langsung menarik dirinya dari Taeyeon, mereka berdua terengah kehabisan nafas dan melihat Hyunjoong berdiri tidak jauh dari mereka.

“Pagi, Taeyeon-ssi, Sehun-ssi” sapa Hyunjoong lalu berjalan menuju ruangannya tanpa melirik mereka berdua lagi.

Sehun menyeringai dan melihat Taeyeon yang wajahnya merah seperti kepiting rebus. Sehun mencium kening Taeyeon dan menggenggam tangan gadis itu dan menariknya keruangan mereka.

✿ ✿

Taeyeon berusaha tenang sepanjang hari, ia berusaha menahan dirinya agar tidak terus-menerus melirik Sehun, lebih buruk, ia bahkan berusaha menahan dirinya agar tidak berlari menuju meja pria itu dan melompat ke pelukkannya.

Sehun tidak lebih baik, ia menghabiskan waktu lima belas menit di toilet, menenangkan dirinya. Kemudian sepanjang hari berusaha agar tidak menarik Taeyeon dan membawanya ke kamar.

Untung Hyunjoong tidak mengatakan apa-apa pada mereka atas kejadian di lorong. Sebentar lagi jam makan siang, dan Sehun sedang merapikan berkas-berkas saat Taeyeon berjalan menghampirinya.

“Sehun-a” panggil Taeyeon.

“Ya?” tanya Sehun.

“Apa kau ada janji makan siang dengan seseorang hari ini?” tanya Taeyeon.

“Ada” kata Sehun.

“Oh…” Taeyeon sedikit kecewa, ia sebenarnya ingin mengajak Sehun makan siang di restoran Thailand.

“Denganmu” kata Sehun menambahkan sambil menyeringai.

Taeyeon memutar matanya, Sehun kemudian berdiri dan memposisikan tangannya siap digandeng Taeyeon.

“Kau mau makan sesuatu yang spesial?” tanya Sehun, mereka berjalan keluar ruangan diiringi tatapan ingin tahu karyawan lain.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat” kata Taeyeon.

“Benarkah? Kuharap bukan ke apartemenmu, aku benar-benar butuh makanan sungguhan siang ini…” Sehun mengedipkan sebelah matanya, menggoda Taeyeon.

Taeyeon memukul lengan Sehun pelan, “Apa kau pernah makan makanan Thailand?”

“Tidak” jawab Sehun menggeleng.

“Bagaimana kalau kita pergi ke restoran Thailand?” tanya Taeyeon tersenyum lebar.

“Tidak buruk…” Sehun membalas senyuman Taeyeon. Mereka sekarang menunggu lift diantara banyak orang yang memandang mereka aneh.

“Jangan hiraukan orang-orang” ujar Sehun berbisik ketika ia menyadari Taeyeon mulai merasa tidak nyaman. Taeyeon mengangguk pelan dan mempererat tangannya di lengan Sehun.

Sehun terus tersenyum penuh kemenangan sampai mereka tiba di lantai satu, hampir semua orang melihat mereka dengan tatapan aneh, tapi Sehun tidak peduli, jika Taeyeon berada disampingnya maka ia tidak perlu khawatir akan apapun.

Tiba-tiba Taeyeon menghentikan langkahnya. Sehun bingung, tapi kemudian ia melihat kemana mata Taeyeon tertuju. Kim Bum berdiri memegang seikat bunga tidak jauh di depan mereka.

Sehun menghela nafasnya, “Kau ingin aku menyuruhnya pergi?”

Sekarang giliran Taeyeon yang menghela nafas, “Tidak, tunggulah sebentar aku akan bicara pada Kim Bum” kata Taeyeon melepaskan tangannya dari lengan Sehun kemudian menghampiri Kim Bum.

Taeyeon bisa merasakan Sehun sedang mengeluarkan laser dari matanya kearah mereka berdua.

“Oppa” panggil Taeyeon.

“Tae…” kata Kim Bum pelan, Taeyeon bisa merasakan kesedihan dari nada suaranya dan tatapan matanya.

“Aku…” Taeyeon belum sempat melanjutkan kalimatnya saat Kim Bum memotongnya.

“Kau sudah bersama Oh?” tanya Kim Bum.

Ia menunduk, tidak menjawab.

“Tidak apa-apa” kata Kim Bum lagi, “Jika kau memang lebih memilih Oh daripada aku maka tidak masalah, semoga pilihanmu yang terbaik”

Kim Bum mengulurkan buket bunga yang dipegangnya. Taeyeon bingung apakah ia harus menerima bunga itu atau tidak, tapi akhirnya ia mengambil bunga itu juga.

“Maaf, oppa. Aku hanya… aku hanya… Aku tidak mencintaimu lagi” kata Taeyeon jujur.

“Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf, Tae. Maafkan aku karena meninggalkanmu waktu itu” kata Kim Bum pelan ia tahu ia sudah kalah kali ini.

Kim Bum lalu menarik nafasnya, “Taeyeon-a… jika nanti Oh Sehun menyakitimu, atau jika kau ingin kembali padaku, ingatlah, aku masih akan terus menunggumu” setelah berkata begitu, Kim Bum langsung pergi.

Taeyeon melihat punggung mantan kekasihnya yang semakin menjauh, menghela nafasnya. Kemudian ia bisa merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangnya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun.

Taeyeon mengangguk. Ya! Ini keinginan hatinya, dan ia akan mencoba menjalaninya, tak peduli masalah yang akan menghampiri hubungannya dengan Sehun kelak, selagi ia percaya dan Sehun berjanji, semuanya akan baik-baik saja.

✿ ✿

Taeyeon dan Sehun makan siang di restoran Thailand yang dimaksud Taeyeon, awalnya Sehun tidak begitu suka melihat penampilan Tom Yam yang ada di depan mereka, tapi kemudian memakannya juga.

Taeyeon tersenyum saat Sehun akhirnya menikmati juga makanan yang dipesannya itu.

“Apa kau sudah mencoba makanan Italia?” tanya Sehun saat mereka dalam perjalanan kembali menuju kantor Pemerintah, Taeyeon sedang memakan Ice Cream yang dibelinya di Convenient Store, dan sesekali menyuapi Sehun yang menyetir.

“Kalau yang kau maksud Pizza dan Spaghetti, aku suka memakannya dengan Seolhyun, tapi aku tidak tahu makanan Italia yang lainnya” jawab Taeyeon, “Memang kenapa? Kau ingin mengajakku ke restoran Italia?” tanyanya.

“Tidak…”

“Lalu untuk apa kau bertanya?” pekik Taeyeon memukul lengan Sehun.

“Aku tidak akan mengajakmu ke restoran Italia, aku akan mengajakmu ke Italia” jawab Sehun.

Taeyeon kaget dan mulutnya terbuka. Ia kemudian sadar dan ingat siapa pria yang berada disampingnya ini.

“Anak manja!” rutuknya pelan.

Sehun tertawa, “Tidak sekarang, aku masih tahanan Politik dan belum diizinkan keluar negeri terlebih keluar benua tanpa pengawasan. Jadi setelah masa hukumanku berakhir, apa kau mau jalan-jalan denganku?” tanya Sehun serius.

“Jangan bercanda” balas Taeyeon menghabiskan Ice Cream-nya lalu menyuapkan sendok terakhir untuk Sehun. Mobil Sehun terparkir rapi di basement, kemudian tanpa menunggu, Taeyeon keluar dari mobil dan berjalan cepat ke gedung Pemerintahan tak mau membahas ajakan Sehun yang ia yakini hanya omong kosong belaka.

Sehun yang melihat kelakukan wanita itu tertawa dan berjalan santai mengejar Taeyeon yang salah tingkah.

Ah, jadi ini rasanya punya kekasih sungguhan. Sehun tersenyum.

“Mau kemana Kim?… Tunggu aku…” kata Sehun tertawa.

Taeyeon menoleh kearahnya lalu mempercepat jalannya.

✿ ✿

“Apa kau lihat Oh Sehun dan Kim Taeyeon tadi siang?”

Taecyeon mendengar dua perempuan sedang bicara satu sama lain di lift. Taecyeon baru kembali dari Rumah Sakit, ia baru saja menemani Seolhyun memeriksakan kandungannya.

“Iya… Wah, aku tidak menyangka kalau mereka berdua menjalin hubungan”

“Mereka bergandengan tangan dari ruangannya dan pergi makan siang bersama”

“Ku kira Kim Taeyeon masih berhubungan dengan Kim Bum”

“Kim Bum sempat muncul di lobi tadi. Beberapa orang bahkan mengira Kim Bum dan Sehun akan berkelahi di lobi karena memperebutkan Kim Taeyeon”

Dua orang perempuan itu kemudian turun di lantai tujuh sambil sayup-sayup membicarakan bagaimana beruntungnya Taeyeon, dan memuji kecantikan mantan model itu yang sekarang tambah cantik dengan penampilan barunya, sementara Taecyeon terus naik ke lantai sebelas dimana kantor Detektif berada. Taecyeon tidak tahu ingin marah atau tertawa mendengar gosip yang kemungkinan 99% benar itu, ia sudah menduga Sehun memang menyukai Taeyeon.

FLASHBACK

Sehun sudah sekitar dua minggu ditempatkan di Departemen yang sama dengan Taecyeon dan Myungsoo, hanya bedanya ia bekerja dikantor, tidak terjun ke lapangan. Sebenarnya Sehun tidak seburuk rumor yang beredar di Pemerintahan, Oh Sehun memang arogan, sombong, tidak sopan dan bermacam-macam sikap buruk lainnya yang sudah melekat padanya dari dulu.

Tapi hasil pekerjaannya selalu baik, bahkan sempurna. Ia ikut menyelidiki kasus pertamanya dan ia melakukannya dengan baik, tidak membahayakan anggota Detektif lain dan sesuai dengan standar prosedur mereka.

Jadi kesimpulannya, Oh Sehun sebenarnya seorang profesional, hanya saja ia terlampau menyebalkan.

Kemudian Taecyeon menyadari perilaku aneh Sehun setiap Taeyeon datang keruangan mereka.

Sehun akan hanya duduk diam di mejanya setiap Taeyeon ada diruangan mereka, tidak membuat masalah seperti biasanya. Sehun akan duduk diam, pura-pura membaca sesuatu dan melirik Taeyeon dari sudut matanya.

Begitu terus setiap Taeyeon mengunjunginya atau Myungsoo, terkadang Taecyeon bersumpah kalau Oh Sehun tersenyum sambil memperhatikan Taeyeon.

“Taecyeon-a” Taeyeon menghampiri Taecyeon yang sedang duduk mengerjakan laporannya. Taeyeon meletakkan bungkusan kecil, “Ini cokelat yang kau minta”

Taecyeon memang sering meminta sesuatu pada Taeyeon, karena ada beberapa barang yang tidak diizinkan Seolhyun untuk dibelinya, seperti Cokelat impor atau teh hijau dari Jepang atau semacamnya.

Taecyeon melirik Sehun yang mejanya tidak jauh dari meja Taecyeon, ia bisa melihat Sehun memandang Taeyeon dengan tatapan yang berbeda. Taecyeon bisa melihat sesuatu disana, sesuatu yang tulus, seperti cinta.

FLASHBACK END

Taecyeon tertawa sendiri dan menuju ke ruangannya, ia harus memberitahukan hal ini pada Myungsoo, sebelum Myungsoo tahu dari orang lain dan kemudian marah-marah atau melakukan tindakan yang kekanak-kanakkan.

To be continue





NOTE : Annyeong!! Kemarin 28 Oktober!!! Ada apa yaa dengan tanggal ini? Yup! 1 bulan lagi aku ulang tahun. 28 November. Saengil chukka-hamninda…. Ups, lebih tepatnya kemarin Hari-nya Para Pemuda Indonesia. HARI SUMPAH PEMUDA, selamat… Selamat untuk para pemuda. Semoga sebagai generasi muda Indonesia kita tetap menjadi kebanggaan orangtua, keluarga, bangsa dan negara, dan yang paling utama menjadi kebanggaan diri sendiri. Tetap berkarya dan berprestasi chingu!!

Yaaa, btw, gimana dengan ff diatas? Waktu publish nya ga masalah karena tidak membuat kalian menunggu sampai lumutan. Aku post cepet karena minggu depan aku mulai Pemantapan, yang berarti waktu nulisku yang kurang semakin berkurang. Tapi aku tetep berusaha lho ga ngecewain readers, jadi readers jangan mengkhianatiku…. Beri semangat lewat komentar!! Ga susah kan yaa…

Untuk GAnya aku belum izin ke owner karena yang antusias juga kayanya hanya sedikit sedangkan aku akan menarget berapa jumlah readers yang ikutan, kalau tidak memenuhi target maka GA akan dibatalkan. Jadi untuk yang setuju, tolong beri sarannya yaa. Tapi kalau ga juga gapapa o (^‿^✿)o

Well, NC nya udah mulai kelihatan, wkwk. Aku jadi author spesialis NC 😆

See you in the next hot chapter😂🙌

Advertisements

69 comments on “DESTINY (Chapter 6)

  1. Emang ya Hun kalau kata orang itu deketin dulu orang tuanya baru dianya, kalau orang tua dah ngerestuin mah gampang ya Hun mepet mepetnya..
    Habis itu baru di official in..

    Senang banget akhir nya mereka official setelah Sehun ngempet lama pengen jadian sama Taeyeon..
    Bagus kak, semangat buat next chapternya sampai end nya
    Happy New Year 🎉

  2. Siapa yg bisa menolak pesona sehun…ortu tae aja langsung suka gitu… Akhirnya mreka udh jadian..semangat kak ceritanya bagus..

  3. Ciumannya sampai ngk ingat tempat, paraah..
    Ciee udah official aja.
    Buat authornya tetaplah menulis, kami menunggu karyamu selanjutnya. 👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s