Secret: I Can See Your Sincerity (Chapter 2)


Special series (스페셜시리즈)

SECRET: I CAN SEE YOUR SINCERITY (시크릿:

너의성실을볼수있어)

Author : Zuma

Poster : @azuma_10

Rating : 15+

Lenght : Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, Comedy

Main Cast : G-Dragon of BIGBANG – Taeyeon of Girls’ Generation

 

Welcome back to readers in my Fan Fiction 🙂

 

Preview: Prolog | Chapter 1

Note:

Annyeonghaseyo. Back to Fan Fiction. Jeoseonghamnida, update-nya lama karena ada ini itu yang membuatku jadi baper high-high, baik baper dunia nyata maupun maya. 😁


Sekali lagi, jeoseonghamnida. ☺

By the way, hari ini October 10 adalah ulang tahunku. 😊 Berdoa yang terbaik saja kepada Allah SWT.

Sengaja update di tanggal ini. 😊

Bae Suzy dan Ha Yeon Soo juga ulang tahun di tanggal ini.

Saengil chukahamnida, eonni. 😊

Semoga di mengerti. ✌

Read, like and comment.

Terima kasih.

And then, let’s go to my Fan Fiction!

***

Bagaimana wajahnya bisa mengeluarkan sinar seperti sinar cermin? Dan apa hubungan hal inig dengan hal-hal yang sebelumnya pernah ia lihat? Mengenai kupu-kupu bersinar dari mulutnya dan sekarang wajah gadis mungil ini turut mengeluarkan sinar indah membuat wajah Taeyeon semakin indah dipandang. Mungkinkah ada hubungannya? Tapi, apa hubungannya?
Jiyong benar-benar terkejut melihat semuanya. Ia mengamati Taeyeon lebih cermat, heran juga kenapa gadis itu sama-sama terkejut saat melihat dirinya bercermin.
“Apa ini?” batin Taeyeon masih bercermin. “Aku melihat sinar di cermin tapi kenapa tidak bisa melihat sinar wajahku sama sekali? Biasanya setiap bercermin aku bisa melihatnya. Kenapa aku masih bisa melihat sinar cermin tapi tidak bisa melihat kupu-kupu dalam diriku? Apa yang salah?”


Sebelum crew mendatanginya, cepat Taeyeon memasukkan cermin tersebut ke dalam tas yang kemudian ia letakkan bersama dengan tas member SNSD di sebuah meja yang terletak di salah satu sudut ruangan. Ia keluar dan tidak melihat siapapun disana, beruntung tidak ada yang melihat. Setelah menutup pintu, Taeyeon membenarkan heels-nya dan cepat pergi menuju set syuting MV.
Dari balik dinding, Jiyong muncul dan mengamati Taeyeon yang kembali membenarkan heels-nya. Jiyong menoleh kedalam ruang make up, memasukinya dan tidak lupa menutup pintu. Kedua matanya langsung tertuju pada tas-tas kecil milik member Girls’ Generation. Salah satu tas menarik perhatiannya, milik Taeyeon. Jiyong tahu itu milik Taeyeon karena ia masih sempat melihat gadis itu meletakkan cermin disana.
Keinginannya untuk membuka tasnya ia urungkan, ia tidak ingin disangka sembarangan membuka tas privasi seseorang. Bagaimana jika ada sesuatu yang hilang walau ia tidak tahu sebabnya. Jiyong memilih duduk di salah satu kursi rias yang tidak jauh dari beberapa tas branded tersebut.
Pandangannya masih tertuju pada tas-tas itu, khususnya tas milik leader SNSD.


CHAPTER 2

WHO YOU?


Jiyong memasuki ruangan yang cukup besar, begitu ramai disana.
Banyak crew dan Girls’ Generation yang lengkap member tengah melakukan take disebuah panggung yang merupakan salah set dari sekian set dalam satu MV single barunya.
Mereka menari dengan lihai dan memukau, sudah disini mau tidak mau Jiyong menontonnya. 
Sebenarnya malas sekali berdiri melihat Yuri berlenggak-lenggok. Jika bukan karena permintaan adiknya untuk menyemangatinya, Jiyong lebih baik pergi berdua dengan CEO Yang Hyunsuk.
Sudah datang saja dan bersedia menunggu itu cukup, karena kedatangan kakaknya sudah membawa semangat tersendiri, begitu kata Yuri pagi tadi sebelum berangkat kemari.

Tidak tahan terus berdiri, Jiyong duduk di salah satu kursi dari beberapa kursi yang berjajar yang ia yakini milik Girls’ Generation. Ia menoleh ujung kursi dimana disebelahnya terdapat meja bundar kecil dengan beberapa botol minuman bertuliskan nama-nama member SNSD.

Ia dapat melihat botol bertuliskan ‘SEOHYUN’ sudah berkurang airnya, sementara kebanyakan masih utuh. Ia dapat melihat jelas karena jarak dirinya dengan meja hanya terpaut dua kursi.

“Jiyong-ssi, apa kau butuh sesuatu, misalnya air minum?” tanya seorang crew wanita yang baru mendatanginya.
“Tidak, terima kasih,” sahut Jiyong tersenyum tipis. Maka crew mengangguk dan berlalu, sedetik kemudian pria yang seakan terdampar di tempat asing ini merasa haus menyerangnya. “Jamkkanman.”

Crew
ramah itu kembali berbalik dan memasang senyumnya menatap leader swag itu.
“Iya, Jiyong-ssi?”

Jiyong ragu.

“Apa tidak apa-apa jika aku minta sedikit air minum?” tanyanya dengan berkode ‘sedikit’ di jari kanannya.

Crew
hampir tertawa dengan kepolosan sang leader, ia mengangguk.

“Anda tamu kami, tentu saja tidak apa-apa. Akan kuambilkan, tunggu sebentar,” ujar crew lalu pergi setelah Jiyong mengangguk kecil. Sedikit malu memang, tapi ia haus. Jadi, bagaimana lagi?
Menyaksikan proses pembuatan MV mereka adalah hal terpaksa bagi Jiyong. Bukan karena rival atau apa hanya saja ia ditinggal sendirian disini dan seperti tidak ada kesibukan lain. Ia bersandar dikursi, pasrah dengan keberadaannya disini sekarang.

 

“CUT!” seru sang sutradara. Semua member Girls’ Generation mengucapkan terima kasih pada semuanya. Sutradara melanjutkan, “Istirahat sepuluh menit. Setelah itu scene stage untuk masing-masing expression face. Setelah ini kalian akan berekspresi sesuai tema lagu secara close up maupun seluruh badan dengan sendiri-sendiri. Taeyeon-ssi, kau dapat bagian pertama.”
“Ye,” sahut Taeyeon mengangguk diiringi kupu-kupu biru dengan sinarnya yang keluar dari mulutnya dan Jiyong dapat melihatnya. Kali ini Jiyong bisa lebih tenang menghadapinya.

“Perhatikan make up mereka,” sutradara kembali berseru pada stylish SNSD.

Begitu para member menuruni set, asisten segera memakaikan mantel pada mereka yang melangkah menuju kursi masing-masing. Mereka mendapati crew memberikan air minum pada Jiyong yang langsung diminum dengan cepat.

Mereka tersenyum. Sedikit terkejut Jiyong melihat mereka ada dihadapannya sekarang.
“Apa aku terlihat sangat dehidrasi? Sepertinya aku terlihat seperti itu disini,” ucap Jiyong pelan.

“Kwaenchana. Tidak perlu canggung. Saat baru tiba disini aku juga begitu haus, minumanku sudah berkurang lihat saja,” timpal Sehyun menunjuk botol minumya.

Sebelum Seohyun menunjukkan padanya, Jiyog juga sudah tahu botol maka Girls’ Generation itu berkurang. Jiyong hanya tersenyum menanggapinya seraya menatap botol milik Seohyun tapi, kemudian terhalang oleh salah satu member tiba-tiba duduk dan langsung dilap keringatnya oleh asistennya. 
Perhatiannya teralihkan pada gadis itu, Taeyeon. Jiyong berusaha berusaha mencari apa yang terjadi gadis ini, cermin dan kupu-kupu juga siar yang beberapa kali ia lihat.
Pandangannya kembali terhalang oleh member lain, kali ini Tiffany yang duduk tepat disebelah kanannya.
Jiyong sadar ia menduduki salah satu bangku member SNSD, dan itu adalah Seohyun yang belum kebagian kursi.
“Oh, maaf,” ucap Jiyong mulai beranjak.
“Kwaenchana,” cegah Seohyun. “Crew akan menyediakannya untukku. Duduk saja. Fanny eonni, antar aku ke toilet, aku tidak berani mengajak Tae eonni dia terlihat lelah.”

“Ayo,” Tiffany bergegas berdiri dan mengajak Seohyun meninggalkan. Jiyong, Taeyeon dan Yuri. Sementara member lain menuju ruang ganti.
“Jadwalku sudah selesai. Bagian scene sendiri untuk masing-masing member aku kebagian besok. Oppa, aku harus pergi kesuatu tempat. Tunggulah disini sampai aku menjemputmu. Tidak akan lama. Aku masih pinjam mobilmu,” tutur Yuri yang masih berdiri didepan Jiyong menunjukkan kunci mobil dengan sedikit menggoyang-goyangkannya di hadapan kakaknya.
“Jangan gila. Aku akan pulang saja,” tukas Jiyong malas.

“Arah kita beda. Bye, oppa,” ucap Yuri cepat dan sekilas mencium pipi kakaknya kemudian cepat berlari meninggalkan Jiyong sebelum mengejarnya.
Ingin sekali Jiyong berteriak atau menangkap gadis itu bagaimanaun caranya tapi Jiyong sadar tempat. Ia hanya mampu berdiri menahan kekesalan dan kembali duduk pasrah.

Sementara asisten lain datang membawa tas Taeyeon yang kemudian ia berikan pada empunya. Asisten yang melap keringat Taeyeon juga sudah cukup dan pergi atas izin Taeyeon.
Taeyeon sedang tidak ingin memperhatikan sekelilingnya dan tidak peduli Jiyong tengah menatapnya. Ia cepat membuka tasnya dan mengeluarkan cermin, menampakkan dirinya di cermin. Ia tersenyum lebar saat tahu ia masih bisa melihat sinar di cermin tersebut walau tidak untuk wajah dan kupu-kupu di mulutnya.
Sedikit terkejut dengan sinar itu lagi, Jiyong tidak tahan degan sinarnya dan tidak ingin pusing di tempat ini. Air minumnya kembali cepat-cepat ia minum seakan benar-benar dehidrasi. Ia kembali menatap Taeyeon yang masih saja tersenyum. Kenapa ia tersenyum itu? Apa ia tidak merasa lelah sedikitpun selesai syuting. Gadis mungil ini terlihat senang.

Jiyong kembali meneguk air mineralnya sekali lagi hingga Taeyeon menyadari leader BIGBANG masih di tempat ini dan memperhatikannya menutup tutup botol. Ketika jiyong kembali menoleh Taeyeon agak terkejut sebab gadis itu tengah menatapnya.

FLASHBACK



Cermin yang diterimanya dari Jiyong, Tiffany kembalikan pada pemiliknya di ruang make up sebelum memulai syuting.


“Wah, di mana kau menemukannya?’ terima Taeyeon dengan senang sekaligus begitu lega. Karena, cermin ini begitu berharga.


“Jiyong oppa,” ujar Seohyun.


“Apa maksudmu?” tanya Taeyeon tidak mengerti.


“Dia yang menemukannya,” ungkap Tiffany.


“G-Dragon?!” tanya kembali Taeyeon setengah percaya. Bagaimana mungkin?


“Iya. Pria yang bertubrukkan dengan kau di minimarket benar G-Dragon,” tambah Seohyun.


Taeyeon mengingat kejadian waktu itu, pantas pria itu mengenakan topi dan masker.


“Terima kasih, ya. Aku akan berterima kasih pada Jiyong juga nanti,” janji Taeyeon seraya memasukkan cermin kedalam tasnya dengan senang.

Akhirnya, cermin itu dapat ditemukan juga. Mungkin takdir Taeyeon dan cermin untuk bersama. Beberapa kali hilang dan hampir tertinggal di tempat lain tapi, tetap saja cermin kembali ditangannya entah dalam dua puluh empat atau berhri-hari bahkan berminggu-minggu.


FLASHBACK END



“Apa aku masih belum boleh bicara denganmu?” Taeyeon mencoba bertanya disertai senyum tipis.
Hanya menatap datar dan lebih memilih untuk tidak menjawab, Jiyong lalu mengambil ponsel disaku celananya dan menelepon seseorang.

“Yuri-ah, harus berapa lagi aku menunggumu?” tanya Jiyong masih menahan kekesalannya.

“Tiga puluh menit lagi aku akan datang. Benar, Oppa. Tunggulah disana,”
sahut Yuri diseberang sana.

“Aku tidak membawa dompet, jangan buat aku naik taksi. Apa kau akan datang setelah syuting berakhir, Yuri-ah?!” kesal Jiyong tidak peduli orang-orang akan melihat dan mendengarnya.


“Syuting pasti belum berakhir saat aku datang.”

Sambungan telepon langsung Jiyong putus. Bagaimana bisa Yuri menjawab dengan suara yang begitu santai dan tidak merasa bersalah punya tanggung jawab meninggalkan kakaknya ditempat dimana tidak banyak yang ia kenal. Kesal, Yuri tidak kunjung menjemputnya.

Kekesalan Jiyong dapat ditangkap Taeyeon yang kemudian diam-diam tersenyum geli melihatnya karena Yuri memang selalu seperti itu.

Jiyong benar-benar frustasi dan tidak sabar lagi untuk menunggu tiga puluh menit lamanya. Dalam hatinya berjanji, jika bertemu Yuri ia akan meenyeret gadis itu ke kamar apartemen dirinya dan menguncinya di dalam kamar mandi supaya tidak bisa membuat ulah lagi.

Bagaimana Yuri bisa membiarkan dirinya terjebak dalam situasi seperti ini, ditempat MV SNSD? Karena Yuri sangat manja pada kakaknya. Sikap imutnya tidak bisa membuat Jiyong membiarkan Yuri kesal.

“Stand by! Stand by!” seru salah satu crew pria berumur tiga puluhan.

“Taeyeon-ssi, member lain yang dapat jadwal hari ini belum kembali?” tegur sutradara yang ditanggapi dengan gelengan dari Taeyeon dan gadis itu kembali di make up. “Arraseo. Bersiaplah kita akan mulai dalam lima menit.”

Taeyeon mengangguk senyum sementara Jiyong jadi sedikit penasaran dengan proses syuting Taeyeon seorang yang akan berekspresi di depan kamera secara close up.

Begitu Tiffany dan Seohyun datang, seorang crew pria memindahkan kursi menjadi didepan jajaran kursi Girls’ Generation. Tas yang ada di salah satu dari delapan kursi cepat dipindahkan pria kecil tersebut ke meja tempat dimana botol minuman Girls’ Generation berada. Ketika Tiffany berhasil duduk, ia langsung kembali di rias.

“Eonni, ekspresi apa yang akan kau keluarkan?” tanya Seohyun yang duduk disebelah Tiffany, didepan Taeyeon.

“Mungkinkah Gwiyomi?” Taeyeon balik bertanya dengan kedua tangan membentuk ‘V’ didekat kedua matanya.

Sikapnya disambut tertawa Tiffany dan Seohyun. Mau tidak mau Jiyong mendengar obrolan mereka, senyumnya sedikit terangkat.

“Oppa, kalau seperti ini apa terlihat lucu? Temanya lucu,” Seohyun beralih pada Jiyong dengan menunjukkan senyum sangat manis disertai kedua tangan yang menggenggam di bawah dagu.

Jiyong tersenyum mengangguk.

“Kau juga bisa seperti ini. Bagaimana menurutmu?” usul Jiyong yang membuka kedua telapak tangan diletakkan didekat kedua pipinya.

“Taeyeon-ssi, naiklah! Giliranmu,” suara sang sutradara kembali terdengar.

Taeyeon melepas mantel dan meletakkannya pada badan kursi lalu menuju set. Pandangan Jiyong tertuju pada Taeyeon namun beralih pada langkah gadis bertubuh mungil itu yang sepertinya tidak menyadari maupun merasakan heels sebelah kirinya sedikit oleng.

Cepat beranjak dari duduknya, Jiyong terus memperhatikan langkah Taeyeon, gadis itu pasti terjatuh. Baru Taeyeon menaiki dua anak tangga menuju set, benar saja heels-nya hampir terlepas dan gadis yang bagai manusia kertas itu jatuh terkilir.

Semua perhatian tertuju pada gadis yang sudah terduduk meringis kesakitan. Beberapa crew dan asisten bergegas menghampiri Taeyeon diujung tangga yang akan melepas heels kanannya karena yang sebelah sudah terlepas dengan sendiri saat ia terjatuh tapi ia kembali kesakitan.

Dua crew pria dan wanita membantu Taeyeon berdiri dan membimbingnya menuju kursi semula.

“Eonni, kwaenchana?” panik Seohyun saat Taeyeon berhasil duduk.

Tidak ada jawaban, Taeyeon sibuk menahan rasa sakitnya dengan memejamkan mata. Disisi lain Jiyong merasa tidak bisa diam saja.

“Tiffany, bisa kita tukar tempat?” pinta Jiyong cepat pada gadis ber-eye smile yang duduk di sebelah Taeyeon.

“Ne?”

Awalnya bingung tapi, Tiffany menurutinya. Mereka langsung tukar tempat duduk yang kemudian Jiyong mengambil mantel dibelakang Taeyeon dan cepat menyelimuti pangkuan gadis itu mengingat bajunya diatas lutut.

“Berikan itu padaku,” pinta kembali Jiyong kali ini pada crew yang memegang obat oles untuk mengobati Taeyeon mengobatioleh crew wanita itu sendiri. Crew tersebut memberikannya pada Jiyong dengan sedikit heran.

Berlutut didepan Taeyeon, Jiyong melepas heels kanan gadis yang hampir menangis itu secara hati-hati. Merasakan heels-nya dilepas seseorang, Taeyeon membuka matanya, bangun dari sandarannya dan mendapati Jiyong melepas heels-nya. Tatapan Jiyong beralih pada Taeyeon, namun gadis yang ditatapnya langsung menghindari pandangannya.

“Apa yang lakukan disitu?” tanya Taeyeon setengah acuh dengan melirik leader BIGBANG yang tampak lembut saat ini.

“Ini akan terasa sedikit sakit. Tahanlah,” kata Jiyong yang lalu mengoleskan obat pada pergelangan kaki kiri Taeyeon dan menekan pergelangan kecil itu sedikit demi sedikit.

Jeritan kecil tidak bisa Taeyeon tahan dari mulutnya saat Jiyong menekan bagian yang terasa sangat sakit dan pegal itu.

“Ini memang sedikit sakit. Bertahan, eonni,” simpati Seohyun.

Sutradara mendekati kerumunan kecil itu untuk melihat keadaan Taeyeon dan sedikit terkejut mendapati Jiyong berada disana dan tengah mengobati salah satu member Girls’ Generation. Sejak kapan kakak Yuri itu berada disini? Bahkan dirinya tidak tahu Jiyong datang karena benar-benar fokus pada MV Girls’ Generation.

“Sepertinya dia tidak bisa melanjutkan ini,” ujar Jiyong menoleh pada sutradara.

“Baiklah, tidak apa-apa. Biarkan kakinya pulih lebih dulu,” sahut sutradara menyetujui.

“Benar. Tae-eonni terlihat sangat kesakitan,” timpal Tiffany lalu beralih pada Taeyeon, “Eonni, kau langsung pulang saja, ya?”

“Aku akan ke SM dulu.”

“Dengan keadaan seperti ini?” tambah Tiffany setengah percaya.

Taeyeon mengangguk kecil dengan senyum tersemat di bibir lembap nan mungil itu.

“Lee sajangnim juga mengirim pesan. Ia sudah memberitahu road manager untuk mengantarmu kesana,” sambung Seohyun.

“Siapkan mobil untuk mengantar Taeyeon. Tiffany dan Seohyun, mari selesaikan syutingnya. Taeyeon bisa menyusulnya besok,” ujar sutradara mengakhiri kerumunan yang kembali pada pekerjaan mading-masing.

Tiffany dan Seohyun mengangguk setuju. Yang menggantikan Taeyeon adalah Tiffany sementara Seohyun di make up.

“Kau merasa lebih baik?” tanya Jiyong pelan yang sudah duduk disebelah Taeyeon. Taeyeon mengangguk kecil dengan senyum simpul yang kemudian menatap Jiyong dan Jiyong membalas tatapannya. Tatapan Jiyong kembali dingin. “Tidak perlu. Kau akan berterima kasih? Aku terima.”

Ponsel Jiyong berdering dan segera dijawabnya.

“Oppa….”

“Apa sekarang? Aku harus menunggu lagi? Berapa menit?” serta merta Jiyong menyerangnya dengan pertanyaan.

“Jaldeuro, oppa….”

Dengan wajah yang sangat frustasi, Jiyong mendengarkan Yuri bicara.

“Apa?” Jiyong melirik Taeyeon yang tengah mengelus kakinya.

Sambungan telepon terputus tiba-tiba. Adik macam apa ini?!

“Apa dia balas dendam karena karena aku tadi mematikan teleponnya lebih dulu?” gerutu Jiyong kesal.

Taeyeon menoleh, tidak mengerti maksud Jiyong. Hampir bersamaan dengan itu, seorang pria tiga puluh tahunan datang dan berdiri di hadapan Jiyong dan Taeyeon.

“Aku road manager Sonyeo Shidae. Yuri sudah meneleponku,” ucapnya pada Jiyong. Reaksi wajah yang Jiyong berikan hanyalah senyum pasrah dan siap menjalankan rencananya pada Yuru bahkan ingin membunuhnya. Road manager beralih pada Taeyeon yang sudah agak tenang dengan rasa sakitnya, “Mari, Taeyeon-ssi, ku bantu.”

“Aku bisa jalan dengan baik,” tolak halus gadis itu dengan senyum tipisnya.

Atensi Jiyong tertuju pada gadis yang baru saja berdusta. Jelas-jelas Jiyong mengetahui kaki Taeyeon masih sulit untuk berjalan.

Maka, saat road manager berjalan di luar ruangan menuju mobilnya, ia sesekali menengok kebelakang dimana terdapat dua leader grup papan atas jalan bersebelahan. Nafas lega keluar dari mulut Jiyong, akhirnya ia bisa keluar dari ruangan itu.

Langkah Taeyeon yang terus diawasi Jiyong tanpa gadis itu memperhatikan. Sembari Jiyong mengingat perkataan adiknya sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan syuting video klip Girls’ Generation,

“Kudengar Tae-eonni mengalami sedikit kecelakaan. Kau melihatnya? Tae-eonni tidak bisa melanjutkan syuting dan dia akan ke SM, ikutlah dengannya. Aku akan menunggu disini. Akan lebih lama jika aku menjemputmu. Karena ada yang satu arah ke sini jadi ikut saja. Aku sudah memberitahu road manager tentangmu, sebentar lagi pasti dia akan menemuimu. Oppa, fighting!”

Mengingatnya membuat Jiyong mendesah kesal dan Taeyeon berhasil menatapnya karena apa yang dilakukan pria disebelahnya yang sejak keluar dari ruangan lebih memilih diam tanpa protes.

“Aku tidak apa-apa. Pikirkan langkahmu,” ujar Jiyong mengerti maksud tatapan gadis ber-innocent face itu.

Ya sudah, Taeyeon kembali fokus pada langkahnya. Sesekali hampir jatuh dan Jiyong bermaksud membantu namun Taeyeon berusaha baik-baik saja agar Jiyong tidak membantunya. Hingga akhirnya kakinya keseleo juga dan cepat Jiyong meraih lengannya yang membuat Taeyeon terperanjat.

“Kau tidak perlu…”

“Ini tidak akan lama. Mobilmu sudah kelihatan. Jangan salah paham,” potong Jiyong tanpa menatap Taeyeon ketika memutuskan memapah gadis yang benar-benar mungil itu dan mereka sydah sampai di outdoor, melihat road manager menunggu disamping sebuah mobil dengan pintu sudah terbuka untuk kedua leader berbeda agensi itu.

Jiyong juga sampai membantu Taeyeon memasuki mobilnya, setelahnya Jiyong memasuki mobil tersebut.

“Kau…?!” Taeyeon begitu terkejut mengetahui Jiyong berada satu mobil dengannya.

“Tanyakan saja pada Yuri dan diamlah,” tanggap Jiyong dingin.

Senyum di bibir lembab Taeyeon mengembang. Ia mengerti kenapa Jiyong ikut dengannya. Akhirnya ia tahu alasan road manager-nya bicara lebih dulu pada Jiyong daripada dengannya di ruang syuting video klip.

Taeyeon yang jadi sedikit melupakan rasa sakitnya menatap Jiyong yang terus memandang keluar jendela.

Pikiran Jiyong kemana-mana, memikirkan kejadian-kejadian dirinya dan apa yang ia lihat pada diri Taeyeon. Ia menoleh Taeyeon yang mengelus kaki yang terkilir. Ingin ia menanyakan hal yang membuatnya pening beberapa hari lalu hingga sekarang. Tapi, pantaskah ia menanyakannya? Bagaimana jika itu memang hanya halusinasi dan akhirnya ia disebut gila olehnya? Tapi, ia benar-benar melihat Taeyeon seperti itu. Ia harus tanyakan itu sekarang jika tidak ingin pusing memikirkannya.

Road manager? Benar, ada orang ketiga di mobil ini. Apa road manager-nya mengetahui tentang Taeyeon yang seperti itu? Karena manager mengetahui sebagian tentang artis yang di manage-nya. Jiyong bimbang sekarang, ia harus menanyakannya untuk menghilangkan rasa penasaran dan pusing yang mendera setiap kali melihat kupu-kupu bersinar serta cermin itu. Tapi, road manager?

“Taeyeon-ssi….” panggil Jiyong pelan lalu menegakkan duduknya.

Perhatian Taeyeon langsung tertuju pada pria yang memanggilnya.

Melihat wajah mungil dan innocent itu membuat Jiyong kembali berpikir, pantaskah? Semakin tidak enak hati saja melihat wajah gadis yang juga masih menahan rasa sakit di kakinya. Bagaimana jika gadis itu tersinggung dan menambah rasa sakitnya saat menanyakan hal yang menurutnya konyil namun benar-benar membuatnya penasaran hingga sakit kepala memikirkannya.

Jiyong kembali bersandar dan memandang ke luar jendela.

“Jiyong-ssi?” Taeyeon mengernyitkan dahi, heran dengan pria ini yangg belum juga melanjutkan kata-katanya. Tapi, Taeyeon akan membiarkannya saja.

Daripada menggubris Taeyeon, Jiyong mengambil ponsel disaku celananya dan menelepon seseorang.

“Kau sudah selesai?” tanya Jiyong dengan senyum manisnya pada penerima telepon diseberang. “Aku akan mendatangimu dalam satu jam.”

Line telepon terputus dengan Jiyong yang tersenyum kecil. Sementara Taeyeon mengalihkan pandangan begitu Jiyong menutup telepon, pura-pura tidak mendengar.

***

Baru Taeyeon membuka pintu mobil sesampainya di depan gedung SM, Yuri serta merta datang menyambutnya, membantu eonni-nya berjalan. Bahkan Yuri tidak peduli dengan kakaknya yang keluar dari mobil dan menatap kesal padanya.

“Yuri-ah!” panggil Jiyong sedikit kencang dan cepat menyadari kekencangan suaranya. Memangnya dimana ia sekarang?

“Oppa, ikut denganku dulu,” perintah Yuri menoleh belakang sesaat.

Apalagi sekarang? Ia harus mengikuti Yuri masuk ke gedung SM? Jiyong berjalan memasuki gedung yang merupakan tempat ia pernah berlatih selama lima tahun sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bernaung dan menetap di YG Entertainment.

Memasuki ruangan CEO SM, Lee Seoman, Taeyeon dibantu Yuri yang kemudian keluar setelah mengantar gadis yang saat ini jalan dengan sedikit tertatih. Taeyeon berdiri didepan meja CEO Lee yang mengamati kaki dan keadaan kid leader itu.

“Apa masih terasa sakit?” tanyanya.

“Ini sudah lebih baik sejak di obati. Sekarang tidak sakit.”

Tidak ada kupu-kupu yang keluar karena Taeyeon sebenarnya masih merasakan nyeri di pergelangan kaki kanannya.

CEO Lee mengangguk.

“Kau bisa lanjutkan besok. Istirahatlah untuk hari ini,” tutur CEO Lee yang disambut anggukan serta senyuman dari Taeyeon. CEO Lee bersandar menatap artisnya dengan wajah serius, “Video klip Sonyeo Shidae keluar minggu depan. Jadikan single-nya merajai chart di berbagai tangga lagu dan video klip ini harus mendapat perhatian lebih dari viewers Youtube.

“Kami akan berusaha,” ucap Taeyeon yang tidak lagi memikirkan jawaban yang lebih tepat karena kakinya masih saja terasa sakit, semakin sakit. Mungkin ini efeknya yang baru terasa.

“Kalahkan single BANG BANG BANG milik BIGBANG di chart acara musik dengan single kalian,” imbuh CEO Lee tiba-tiba yang membuat atensi Taeyeon cepat tertuju padanya. CEO Lee menegakkan duduknya dengan kedua tangan saling menggenggam diatas meja, “Mereka sudah memenangkan top chart dan all kill beberapa minggu berturut-turut dengan BANG BANG BANG. Benar, ‘kan? Kalahkan mereka, geser posisi mereka setelah single kalian keluar. Tidak apa-apa mereka di posisi runner up, yang penting kalian teratas.”

Mulut Taeyeon tertutup, diam. Pikirannya langsung tertuju pada Jiyong yang membantu mengobati kakinya. Taeyeon menatap CEO-nya yang sudah seperti ayahnya dengan tatapan sulit diartikan.

***

Jiyong memutar-mutar ponsel ditangannya. Ia duduk di sofa yang tersedia di lantai dasar. Keberaniannya ia cukupkan sampai di lantai ini, walau ia baik-baik saja naik lantai lebih tinggi tapi ia tidak akan melakukannya sendiri, tanpa Yuri. Semua tahu ia dan Yuri saudara kakak-beradik dan mungkin mereka akan menganggap tidak akan ada masalah Jiyong memasuki gedung ini, tapi Jiyonh menahan diri karena tidak ingin menimbulkan masalah sekecil apapun yang melibatkan management tempat adiknya bernaung.

“Ji-oppa.”

Jiyong menoleh pada gadis yang memanggilnya. Gadis yang membuatnya terjebak beberapa jam ini akhirnya benar-benar meluangkan waktu bertemu dengannya.

“Dari mana saja kau?” tanya Jiyong dingin begitu Yuri berhadapan dengannya. “Aku tidak mau diseret dengan urusanmu lagi hari ini. Berikan kunci mobilnya.”

“Aku manager-ku sebentar,” jelas Yuri merasa bersalah dengan sikapnya pada kakanya seraya mengembalikan kunci mobil.

Akhirnya kunci itu jatuh ke tangan Jiyong.

“Sebentar?” ulang Jiyong tidak percaya.

“Aku tidak akan membuatmu menunggu lagi hari ini. Bernafas legalah dan pergi sesuai rencanamu,” cibir adik Jiyong mulai kembali menjadi Yuri yang aktif.

“Kau bahkan tidak tahu rencanaku,”

“Apa itu? Kau akan melakukan sesuatu pada adikmu ini?”

“Tentu,” ucap Jiyong seraya memakai kacamata hitamnya.

“Apa itu?” desak Yuri jadi penasaran.

Di lantai dua, langkah Taeyeon masih tertatih-tatih dan tidak sengaja nelihat kakak-adik idol yang tengah ngobrol. Tampak Yuri terkejut dan melepas kacamata kakaknya yang cepat merebut kembali kacamatanya serta terlihat tertawa di antara keduanya, membuat Taeyeon tersenyum tipis. Permintaan CEO-nya terngiang di kepalanya.

“Kalahkan single BANG BANG BANG milik BIGBANG di chart acara musik dengan single kalian.”

Taeyeon bingung dengan pikirannya, entah kenapa sedikit merasa kasihan melihat Jiyong yang tertawa saat mengingat ucapan CEO Lee. Tapi, inilah permintaan CEO-nya yang memang salah satu tujuannya adalah untuk memopulerkan single terbarunya.

Kini, Taeyeon melihat Jiyong melambai pada adiknya untuk pergi dari gedung itu. Jiyongpun tak lepas dari perhatiannya kala menjauhi Yuri.

Sementara itu Yuri melihat Taeyeon di lantai gadis mungil itu berada.

“Tae eonni,” panggilnya melambai pada Taeyeon yang setengah terkejut dengan panggilan itu lalu tersenyum pada Yuri.
Langkah Jiyong terhenti lalu berbalik ketika mendengar adiknya memanggil leader mungil itu. Matanya menangkap gadis baby face itu tengah menatap adiknya.

Kenapa Jiyong harus berbalik dan melihat mereka? Ia melihat Taeyeon berpegangan pada pagar besi tepi lantai tersebut, sepertinya menahan kakinya yang masih terasa sakit.

Jiyong kembali melangkah untuk benar-benar meninggalkan gedung itu namun kembali ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang pria berjalan menuju kearahnya. Orang yang Jiyong sekadar kenal di dunia hiburan.

Jiyong memberi salam dengan sedikit membungkukkan kepalanya bersamaan dengan pria yang lebih tinggi darinya itu setelah keduanya saling berhadapan dan mengenal.

“G-Dragon-ssi?” sapa pria itu yang tersenyum kecil serta heran dengan keberadaan artis YG Entertainment itu di sini.

“Oh, Kim Woobin-ssi,” sapa balik Jiyong balas tersenyum. Keduanya saling menatap ramah.

Kim Woo Bin. Ya, Kim Woo Bin. Kiprahnya di dunia akting mulai sukses saat membintangi beberapa serial drama dan semakin dikenal serta tidak bisa dianggap remeh dengan kemampuan aktingnya terlebih kala dirinya berperan antagonis di serial drama The Heirs yang sukses melambungkan namanya semakin tinggi.

“Ah, aku hampir lupa alasan kau di sini. Adikmu, bukan?” lanjut Woobin dengan senyum yang tidak lepas sejak bertemu leader BIGBANG tadi.

Seyuman Jiyong tunjukkan pada pria tinggi itu seraya mencari alasan-alasan yang mungkin terjadi kenapa Woobin datang ke gedung SM sebab gedung tersebut bukanlah kantor agensinya. Mungkin bertemu teman. Benar, Jiyong ingat sekarang. Kedatangan Woobin kemari adalah karena ada seseorang yang spesial yang juga bekerja di SM Entertainment.

Ditengah kesuksesan aktor tampan itu, kabar lain mulai muncul dan beredar. Kedekatannya dengan salah satu member Girls’ Generation sekaligus member TTS mulai terkuak. Media mulai curiga saat melihat leader SNSD mendatangi sebuah sekolah yang merupakan lokasi syuting dramkonHeirs tempat Woobin berakting. Diketahui Taeyeon membawakan makanan untuk pemeran Young Do dalam drama The Heirs. Woobin juga menyambutnya dengan senang hati. Ia bahkan dibantu Taeyeon dalam memakai jas sekolahnya.

Selain mengenai kedatangan Taeyeon di lokasi syuting Woobin, beberapa kali media, crew drama dan rekan artis sedrama juga melihat mereka pulang bersama menggunakan mobil aktor satu ini. Terlihat makan bersama di restoran, jalan-jalan di saat break syuting untuk sekadar melepas rasa bosan.

Kabar menggemparkanpun terdengar pada akhirnya saat masing-masing management mereka membenarkan rumor kencan yang terjadi. Mereka benar-benar berkencan, hingga sekarang.

“Taeyeon ada disini,” ucap Jiyong setelah beberapa saat.

“Kau bisa menebaknya?” sahut Woobin tertawa. “Dari cara jalanku atau wajahku?”

“Aku tidak melihat itu karena tiba-tiba kita saling berhadapan. Tapi, kau memang akan menemuinya.”

“Kau… terima kasih sudah menebak dengan benar,” sambut Woobin kembali tertawa. “Aku mendapat kabar kakinya terkilir dan tidak bisa melanjutkan syutingnya. Itu sebabnya aku datang menengok.”

“Tengoklah sekarang,” timpal Jiyong dengan senyum tampannya.

“Aku akan masuk. Sampai bertemu lagi lain waktu.”

Setelah mendapat anggukan dari Jiyong, Woobin bergegas memasuki gedung dengan langkah sedikit terburu-buru, tidak sabar untuk melihat kondisi kekasihnya.

“Kenapa dia bisa begitu tinggi seperti itu?” gumam Jiyong melihat Woobin cepat-cepat masuk.

Hembusan nafas panjang terdengar dari mulut Jiyong, ia menuju mobilnya yang sudah berada dihadapannya. Lega karena kini ia bisa benar-benar meninggalkan gedung agensi itu. Cepat memasuki mobil, tidak ingin langkahnya terhenti lagi karena sesuatu yang membuatnya akan semakin lama untuk pergi dari sana. Cepat-cepat menjalankan mobil dan bergegas menjauhi SM Entertainment building.

***

“Eonni, saat kau terkilir apa Jiyong oppa ada disekitar set MV?” tanya Yuri yang duduk berhadapan Taeyeon di Girls’ Generation’s room.

“Dia ada di sana.”

“Ji-oppa bergabung dengan kalian?!” tebak Yuri tidak percaya.

“Dia bahkan…” ucapan Taeyeon menggantung karena gadis di hadapannya tampak begitu penasaran. Namun, Taeyeon menjawab dengan santai, “Dia mengobati kakiku.”

“Mengobati eonni? Berarti dia benar-benar dekat di set?”

“Aku juga tidak tahu kapan dia datang. Saat break syuting aku sudah melihatnya duduk di bangku Sonyeo Shidae,” jelas Taeyeon dengan kupu-kupu biru bersinar kembali keluar tanpa Yuri ketahui.

Mengetahui leader BIGBANG itu menuruti kata-katanya, Yuri masih saja setengah percaya. Ia kura kakaknya akan kabur secepat mungkin dari tempat itu. Selain beda management, pria itu juga pasti merasa sangat bosan.

“Sulit percaya oppa-ku mau melakukan itu padamu, eonni,” gumam Yuri lalu menatap kaki mungil Taeyeon, “Mengobatimu tanpa mempedulikan sekitarnya.”

Hanya reaksi senyum kecil yang Taeyeon berikan pada adik G-Dragon ini.

***

Langkahnya santai tapi pasti dengan memakai sneaker putih eksklusif di sebuah lorong gedung, menatap kedalam jendela sebuah ruangan. Begitu didepan ruangan tersebut, Jiyong yang tersenyum sejak melihat keadaan ruangan lewat jendela, memasuki ruangan luas itu dan semakin jelas melihat seorang balerina tengah menari ditengah ruangan tersebut yang merupakan dance room.

Jiyong masuk lebih dalam bermaksud menuju sudut ruangan dekat jendela. Sebelum benar-benar sampai disudut ruangan, ia berhenti melihat sesuatu di lantai. Jiyong mengamati kertas yang berada didekat kakinya laku mengambil kertas yang disebelahnya terdapat sebuah ponsel, dua botol berisi air mineral serta satu kotak bekal makanan.

Ponsel Jiyong berdering. Ia menolak panggilan begitu tahu Seungri yang menelepon. Perhatiannya jembali tertuju pada kertas yang sudah berada di tangannya.

Kertas yang berisikan,

SOUTH KOREAN NATIONAL BALLET COMPETITION REGISTRATION FORM

Name: KIM SO EUN ( 김소은 )
Date of Birth: September 6, 1989
Address: Namyangju, South Korea
Education: Universal Ballet, South Korea
And other things.

Tatapan Jiyong beralih pada balerina Kim Soeun yang masih asyik menari. Jiyong membuka ponsel dan ber-selfie dengan tersenyum untuk kemudian foto tersebut ia kirim beserta sebuah caption ‘FIGHTING!’ kepada salah satu nomor telepon yang diberi nama ‘Soeun’. Atensinya kini beralih pada ponsel didekat kakinya, beberapa detik kemudian ponsel tersebut berdering tanda sebuah pesan masuk.

Aktivitas menari langsung Soeun hentikan yang membuat Jiyong sedikit terkejut. Ditatapnya gadis yang tengah berjalan kearahnya.

“Apa aku menghentikanmu?” tanya Jiyong tidak mengerti sebab wajah Soeun hanya tampak datar entah karena lelah atau apa. “Apa bunyi pesan mengganggumu? Jika benar, aku minta maaf.”

“Tarian yang oppa lihat aku lakukan untuk menunggumu daripada tidak melakukan apapun,” terang gadis yang tampak sedikit berkeringat duduk di lantai diikuti Jiyong yang masih bingung. Cemas juga jika Soeun kecewa karena perbuatannya.

Pesan diponselnya Soeun buka dan tertawa kecil melihatnya. Lega melihat Soeun seperti itu dan Jiyong ikut tersenyum. Dugaannya salah. Bagaimana ia bisa tidak mengerti hal ini? Atau lupa?

Gadis itu menatap Jiyong yang balas menatapnya.

“Gomawo,” ucap Soeun tersenyum manis lalu melap keringatnya menggunakan handuk kecilnya.

Tentu saja senyum manis Jiyong berikan pada gadis itu sebagai balasan. Ia mengambil salah satu botol minuman, dibukanya dan mengambil sedotan diatas kotak bekal makanan. Botol itu ia berikan pada gadis manis itu setelah sedotannya ia madukkan ke dalam botol.

Menerima botol itu dengan menatap leader BIGBANG, Soeun langsung meminumnya.

“Aku bawakan juga untukmu,” ujar si balerina tersebut menyodorkan botol didekatnya setelah meminum air secukupnya. “Kau ingin minum juga, ‘kan?”

Jiyong tersenyum lebar lalu menerimanya dan diteguk beberapa saat.

“Hari ini apa kau berlatih keras untuk ini?” kertas formulir pendaftaran itu Jiyong tunjukkan pada pemilik formulir. “Kau terlihat sangat lelah.”

Reaksinya berupa anggukan dan minum kembali.

“Aku akan berusaha dapatkan gold medal dan kutunjukkan padamu,” ucap Soeun dengan ulasan senyum diwajahnya. Tapi, senyum di wajahnya hanya beberapa saat digantikan raut kecewa membuat senyum Jiyong perlahan hilang. “Tapi, kau tidak bisa menemani dan menyaksikan aksiku, ‘kan? Kapan MADE WORLD TOUR in JAPAN dilaksanakan? Aku tidak tahu tepatnya. Dan, bukankah seharusnya kau sedang rehearsal bersama BIGBANG sekarang. Kau kabur dari latihan itu?”

“Konsernya satu minggu lagi. CEO memberi kami yang terlibat konser one free day dan itu hari ini. Satu hari untuk melakukan apa yang ingin kami lakukan. Terserah asal semuanya tetap baik-baik saja dan tidak menimbulkan masalah. Kecuali aku sekarang BIGBANG ada di apartemen dan mungkin lebih digunakan untuk istirahat persiapan besok. Yang-sajangnim hanya tidak ingin terlalu terlalu membebani kami saat rehearsal menuju konser yang mungkin pikiran kami masih kemana-mana.

Itu sebabnya aku datang menemuimu sekarang, Soeun-ah. Karena mungkin mulai besok sampai akhir konset kita tidak bisa bertemu bahkan untuk sebentar saja. Mungkin bisa saling menyapa bahkan makan siang bersama saat kau datang ke YG tapi kecil kemungkinannya. Karena aku dan yang lain akan benar-benar fokus di ruang latihan.” papar Jiyong apa adanya dengan harapan besar gadis balerina ini bisa menerima penjelasannya. Soeun terdiam menatap Jiyong. Otak Jiyong berpikir keras untuk menenangkan dan menghangatkan gadis yang tepat dihadapannya ini. Jiyong menarik nafas panjang. “Kau juga ada kompetisi nasional dan harus latihan satu minggu ini yang bersamaan dengan latihan BIGBANG.

Kupikir itu ada untungnya dengan kesibukan kita masing-masing. Karena kita tidak akan memikirkan satu sama lain jika menyangkut latihan ekstra. Kita tidak akan merasa cemas dengan apa yang sedang kita lakukan ditempat berbeda karena tahu sedang mempersiapkan tujuan masing-masing. Disaat salah satu dari kita memikirkan satu sama lain bukankah akan lebih baik mengisinya dengan kembali latihan? Toh, masing-masing tahu kita sedang sibuk. Mungkin ini terdengar egois di telingamu dan menyinggung perasaanmu. Tapi, inilah yang mulai besok akan kita alami dan lakukan. Tidak bisa lebih dari itu. Aku minta maaf.”

“Konser. Kapan itu tepatnya?” tanya Soeun setelah beberapa saat diam meresapi alasan Jiyong.

“Tanggal lima belas sampai tujuh belas,” jawab Jiyong menatap gadis yang kini balas menatap datar dan menampakkan kekecewaan.

“Kompetisiku tanggal tujuh belas. Jelas kau tidak bisa menontonku.”

“Benar. Konser BIGBANG, aku tidak bisa meninggalkannya satu haripun,” sahut Jiyong cepat mengerti kekecewaan gadis manis itu.

Soeun terlihat semakin kecewa, ia belum bisa menerima dua event tersebut berlangsung dalam waktu yang sama. Sementara Jiyong memang merasa bersalah tapi ia tidak biaa menghentikan konser BIGBANG yang kurang satu minggu lagi.

“Jika konsermu lebih awal satu hari itu akan membuatmu bisa menontonku, bukan? Kenapa tidak seperti itu saja? Lebih awal satu hari yaitu tanggal empat belas sampai enam belas.”

“Soeun…” Jiyong menatap gadis itu tak percaya. Kenapa dia seolah menyalahkan penentuan tanggal konsernya. “Aku tidak menentukan tanggalnya. Apa aku dan member lainnya yang menentukan tanggal konser sesuai keinginan kami? Bagaimana jika aku ingin hari ini tapi Seungri ingin besok? Kami di bawah management dan tidak bisa seenaknya melakukan hal yang sudah ditangani bagiannya sendiri. Apa kau masih belum mengerti dan terima mengenai ini? Hal yang sudah kujelaskan sejak awal benar-benar awal kita memulai hubungan?”

“Apa kau baru saja menjelaskan padaku hal yang sudah berulang kali kudengar hampir setiap kali kita bertemu?” kesal Soeun dengan nada sedikit tinggi.

“Sedikit sulit menjelaskannya padamu dalam posisiku. Kau mungkin tidak cepat mengerti walau kita hampir memiliki aktivitas sama. Aku harus selalu mengontrol aktivitasku didepan media. Makanya aku selalu memberitahu untuk mengingatkanmu.”

“Aku selalu mengingatnya sampai pada titik aku merasa bosan,” semakin kecewa gadis ini dengan nada yang membuat suaranya sedikit menggema.

Jiyong tercengang dengan Soeun yang seperti ini sekarang. Ada apa dengannya?

“Apa aku tidak membuatmu nyaman setiap kali kita bertemu?” tanya Jiyong berharap gadis yang jelas sekali tengah kesal menyangkal dengan tulus.

Diam, Soeun mengalihkan pandangannya.

Reaksi Soeun tersebut tidak disangka-sangka Jiyong. Apa itu artinya Soeun membenarkan pertanyaannya.

“Sampai kapan kita akan menyembunyikan hubungan kita pada dunia luar?” akhirnya Soeun bertanya setelah terdiam cukup lama.

Jiyong merasa gadis yang dicintainya ini semakin mengungkit-ungkit masalah yang sebelumnya tidak pernah Soeun bahas bahkan saat ada kesalahpahaman kecil. Gadis dambaannya mengungkit semuanya. Masalah konser, pertemuan mereka, penjelasan Jiyong dan sekarang dating yang sembunyi-sembunyi?

“Kim Soeun…” panggil Jiyong lembut dan sabar.

“Kau tidak bisa menjawab. Kalaupun kau menjawab kau akan mengatakan ‘itu belum saatnya’? Semoga konsermu lancar, oppa,” ucap Soeun cepat mengambil ponsel, handuk serta makan siangnya lalu beranjak meninggalkan Jiyong dan dua botol minuman. Pergi dari dance room kampusnya.

Tercengang dan diam membiarkan gadis itu pergi tanpa menatapnya. Terlalu tiba-tiba Jiyong mendengarnya.

Mengapa ia lakukan itu padaku sekarang? Bagaimana dengan konser BIGBANG? Jiyong frustasi. Itu a memiliki perasaan sensitive dan khawatir jika kondisi hatinya ini terbawa saat melakukan persiapan konser. Bagaimana jika ia tidak fokus saat melakukan rehearsal sementara ia yang selalu mengingatkan member-nya untuk fokus latihan?

Hembusan nafas kesal bersamaan senyum disudut di bibir kanannya terbentuk, masih belum percaya gadisnya melakukan imi padanya.

Ditempat lain, tepatnya di Girls’ Generation room dalam SM Entertainment building, Taeyeon tengah menyantap cherry tomatoes dihadapan Woobin.

“Terima kasih. Tapi, kau tidak perlu membawakan ini padaku,” ucap gadis baby face tersenyum dengan mulut masih mengunyah cherry tomatoes.

“Noona juga sering membawa makanan untukku di lokasi syuting,” balas Woobin tertawa kecil.

“Aku sangat terlihat sedang diet, ‘kan?” tanya Taeyeon tiba-tiba dengan air muka tidak senang.

“Tidak juga,” jawab pria itu tersenyum yang mengambil cherry tomatoes menggunakan tangan kanannya lalu disuapkannya pada gadis mungil itu yang menerimanya dengan sedikit tertawa. “Selain menjengukmu aku juga ingin memberitahumu sesuatu. Empat hari dari sekarang aku dan semua yang terlibat dalam produksi drama baruku ada meet and greet di Jepang. Pihak produksi juga mengajak liburan dari drama. Makanya, kami disana empat hari. Taeyeon-ah, kita tidak akam bertemu selama empat hari. Kenapa kau sangat santai?” Woobin mencubit pipi gadis menggemaskan itu dengan kesal pura-pura karena reaksi Taeyeon hanya mengangguk mengerti.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu? Bergabung atau menyusul kalian juga tidak mungkin. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu,” ucap Taeyeon yang memang sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Dan, masing-masing di antara mereka saling mengerti.

Melihat keterbukaan kekasihnya ini, Woobin tertawa. Ia kembali menyuapkan cherry tomatoes pada Taeyeon tapi di tolak. Justru Taeyeon balik menyuapi Woobin dengan cherry tomatoes yang hampir habis tersebut dalam kotak bekal makanan. Keduanya tertawa bersama.

Sangat berbanding terbalik dengan hubungan Jiyong dan Soeun. Selain mengenai keterbukaan kencan pada media juga berbeda dalam bagaimana memenangkan hati masing-masing. Keegoisan dalam hubungan Jiyong dan Taeyeon memang tidak berbuah baik. Hal itulah yang tengah Jiyong rasakan.

***

Kekecewaan perihal pertemuannya dengan Soeun terbawa hingga Jiyong kembali ke apartemen BIGBANG. Raut wajahnya benar-benar tampak kecewa. Maksud ia datang menemuinya dengan memberitahu secara baik-baik dan justru berujung pertengkaran. Jika saja hari ini ia tidak menemui Soeun maka, tidak akan bisa bertemu sampai konser di Jepang selesai dan pasti lebih mengecewakan bagi gadis itu karena baru bisa bertemu lagi dalam waktu hampir dua minggu. Jiyong juga tidak bisa memberitahu begitu saja lewat pesan maupun voice call dan video call.

“Hyung! Kau sudah pulang?! Kukira akan pulang larut,” sambut Daesung dengan sikap ceria seperti biasa. Ia tengah duduk bersama Seunghyun, Youngbae juga Seungri di ruang tamu. Ketiganya dapat melihat raut frustasi Jiyong. “Ini baru pukul enam. Baru petang.”

“Kau kenapa?” Seunghyun bersuara.

“Apa anggurku masih tersisa? Seungri, ambilkan satu untukku,” perintah Jiyong yang kemudian menghempaskan diri di sofa yang diseberang mereka berempat.

Okay, hyung.”

“Jangan berpikir untuk minum hari ini,” cegah Seunghyun pada leader-nya, menghentikan Seungri yang hendak berdiri dengan cepat seraya tersenyum begitu mendengar perintah Jiyong. “Ada apa? Ceritakan saja tanpa harus minum. Bisa, ‘kan?”

Setelah melihat Jiyong memijat kecil dahinya seraya memejamkan matanya, Seungri kembali duduk dengan menatap Jiyong dan Seunghyun bergantian.

“Apa Yuri disini?” Jiyong kembali bersuara kemudian mendongakkan kepala menatap mereka semua.

“Iya. Sekarang dia di kamarmu, hyung,” sahut Daesung.

Rencana untuk mengunci Yuri teringat dipikiran Jiyong, rencana yang hanyalah sebuah ancaman. Sudahlah, ia sedang tidak mood untuk membahasnya.

“Jiyong-ah,”panggil Youngbae melihat Jiyong hanya terdiam dengan tatapan menerawang. “Kwaenchanayo? Ingat pesan Yang-sajangnim? Jangan membuat masalah dan pastikan semuanya baik-baik saja. Bagaimana kau akan menjelaskannya dengan keadaan mabuk jika kau benar minum malam ini. Itu pasti akan menjadi sangat buruk.”

“Aku akan telepon sajangnim sekarang. Keadaan sampai sekarang baik-baik saja, bukan?” Jiyong menyiapkan ponselnya.

“Saat ini baik. Tapi, tidak tahu untuk besok. Istirahat saja jika kau tetap tidak mau cerita masalahmu,” pikir Seunghyun.

“Yuri-ah, ayo keluar cari wine!” seru Jiyong memanggil adikmya. Jiyong hanya melirik empat member dibawah pimpinannya itu, tidak peduli mereka menatapnya heran. Jiyong berdehem menetralkan suara, tidak setinggi saat memanggil Yuri baru saja, “Sepertinya keempat orang ini sedang tidak berada di pihakku. Membuatku terkadang seolah hidup sendiri. Apa mungkin aku solo saja setelah semua konser MADE selesai?”

“Kau yang tidak mau berbagi,” tandas Seungri serta merta, khawatir dengan keinginan Jiyong yang mungkin cepat disetujui CEO Yang Hyunsuk. Kemudian ia dan Daesung aaling berbisik penasaran dengan apa yang terjadi pada leader mereka.

“Hyung…”panggil Daesung halus, mengingatkan Jiyong untuk menenangkan diri. Karena jika seperti ini keadaannya pasti Jiyong tengah ada masalah, yang membuat frustasi diri sendiri.

“Oh, Daesung-ah. Apa kau maumembelikanku wine? Kalau begitu pergilah,” tukas Jiyong.

“Kau seolah terlihat sudah mabuk,” protes Youngbae beranjak berdiri, “Akan kuambilkan air.”

Pandangan Jiyong alihkan dengan malas saat Youngbae menuju dapur. Sementara Seungri menghela nafas seraya bersandar di sofa dan melihat Daesung mengeluarkan ponsel. Ia teringat sekarang lalu juga mengambil ponsel di atas meja.

“Ji-hyung, kenapa tadi kau menolak teleponku?” protes Seungri.

“Pasti itu tidak penting, ‘kan?” jawab Jiyong malas seraya kembali memijat-mijat dahinya.

“Ini tidak bisa menjadi tidak penting dan sekarang menjadi ramai. Akan kutunjukkan dan berikan reaksimu,” oceh sang maknae lalu mencari-cari sesuatu di ponselnya dan beralih temoat duduk disebelah Jiyong.

Kala memasuki dapur, Youngbae terperanjat melihat sesuatu.

“Omo!” seru seorang gadis setelah menutup kulkas dan melihat Youngbae berdiri tidak jauh darinya dengan keterkejutan serupa.

“Hai, Yuri-ah,” sapa Youngbae tersenyum manis berusaha santai dan nendekati kulkas.

“Oppa….” heran Yuri seraya gugup saat Youngbae mendekat.

Namun, Yuri salah mengartikan. Bukan gadis itu yang ingin ia dekati tapi kulkasnya.

“Permisi, aku akan ambil air untuk Jiyong,” ucap Youngbae dan Yuri refleks menjauh nemberi ruang untuk Youngbae membuka kulkas.

“Ji-oppa sepertinya sangat dehidrasi. Dia sangat merepotkan,” ejek Yuri melihat luar dapur.

“Tidak juga,” sangkal Youngbae tersenyum seraya menutup kulkas setelah mengambil teko berisi air yang disambut Yuri dengan mengambilkan gelas didekat gadis itu dan tersenyum kecil pada pria menawan itu.

‘UNGGAH VIDEO SAMA DI MEDIA SOSIAL G-DRAGON DAN TAEYEON DIANGGAP MENGGEMASKAN OLEH NETIZEN.’

Jiyong memeriksa salah satu artikel yang menampilkan foto dirinya dari video yang diunggahnya dengan caption ‘Work Work Work’ dibandingkan dengan video ygang diunggah leader Girls’ Generation dengan caption serupa di akun social media Tiffany.

“Kau membuat ini sehari setelah dia,” terang Seungri dengan wajah antusias.

“Aku tidak tahu kenapa mereka membandingkan hal seperti ini,” tanggap Jiyong malas. Ia menoleh pada Seungri lebih malas, “Benar, bukan, kau meneleponku untuk hal yang tidak penting?”

“Kurasa kau akan membiarkannya. Tidak ada yang tahu ini akan menjadi besar,” ujar Seunghyun melihat Jiyong beranjak dari duduknya, sekaligus secara tidak langsung memperingatkan Jiyong untuk tetap hati-hati terhadap pemberitaan media dan perilaku fans serta netizen.

“Kau ini bicara apa, hyung?” sahut Jiyong hendak melangkah meninggalkan mereka namun mendapati Youngbae serta Yuri datang membawa teko dan gelasnya.

“Aku melihat oppa membuat video itu. Aku pikir oppa sedang apa, ternyata itu. Dan, sama sekali tidak terduga kalian membuat video dengan caption, music background dan timing yang berdekatan,” cuap-cuap Yuri sangat senang yang meletakkan teko dan gelas. Sementara Youngbae tidak membawa apapun atas permintaan adik Jiyong ini.

“Bagaimana itu bisa terjadi di antara kalian sementara kalian hanya satu kali menginap dalam apartemen yang sama?” celetuk Daesung mulai menggoda.

Daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol mereka, Jiyong lebih memilih mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya lalu diminumnya habis gelas berisi penuh air tersebut. Benar-benar penuh.

***

“Eomma…” panggil Taeyeon memasuki rumahnya dengan langkah tertatih, meletakkan tas kecilnya di sofa ruang tamu dan berbaring disana.

“Sayang…” sahut sang ibu muncul dengan kekhawatiran dan langsung menghampiri puterinya. “Kudengar kau terkilir, kau baik-baik saja?”

Si puteri mencibir kecil dan duduk dibantu bundanya.

“Pasti Seohyun yang memberitahu,” gumam Taeyeon lalu menggenggam tangan ibu seraya menatapnya, “Aku baik. Hanya kurang hati-hati. Eomma, aku akan bermalam disini. Manager-ku akan menjemput besok untuk melanjutkan bagian syutingku yang tertunda karena cedera.”

Dengan kupu-kupu merah menyala yang muncul mengitari sekeliling Taeyeon. Ibu menyadarinya dan hanya tersenyum. Sangat biasa mengalami hal semacam ini dan begitu bangga karena Taeyeon tulus mengatakannya, tidak menyembunyikan sesuatu.

“Iya, kau harus bermalam disini dan eomma akan merawat puteri eomma yang cantik ini,” puji ibu Taeyeon mengelus kepala anaknya.

Ditatapnya sang ibu dan Taeyeon teringat tidak bisa melihat kupu-kupu dalam dirinya lagi namun masih bisa melihat sinar di cerminnya. Gadis itu memeluk ibunya.

“Eomma, ada yang ingin aku katakan,” ujar Taeyeon pelan.

“Malhaebwa. Geundae, tidak sekarang. Mandilah sana, kau sedikit….”

Taeyeon cepat melepas pelukan ibunya dan menatapnya dengan cemberut.

“Ibu akan mengatakan aku bau?”

“Aniya,” sangkal ibu tertawa.

“Ibu…” rengek Taeyeon mulai bermanja-manja.

***

Setelah mandi, ibu Taeyeon sudah duduk menunggu ditepi ranjang kamar imut puteri mungilnya yang kini tengah mengeratkan handuk yang membungkus rambutnya. Piyama tidur juga sudah menempel di badan kecilnya lalu naik ke ranjang dan duduk bersila.

“Apa kau tidak mau makan dulu?” tawar ibu.

“Sebelum kemari Woobin mengajakku makan,” jawab Taeyeon meringis senyum membenamkan matanya untuk kemudian kupu-kupu berwarna merah dan bersinar keluar perlahan dan lama-lama menghilang diikuti sinar yang melebur pula.

“Aah… Woobin yang baik dan malang itu?”

“Malang?” heran Taeyeon tersenyum lebar.

“Woobin selalu memberimu makan sedangkan aku yang ibumu jarang,” keluh ibu. Senyum kecil di bibir mungil Taeyeon terbentuk kemudian ibunya ikut naik ranjang , duduk bersila berhadapan dengan anaknya, “Apa yang ingin kau katakan pada eomma?”

“Eomma, tentang kemampuanku melihat kupu-kupu dalam mulut….”

“Kau bisa melihatnya lagi?” potong ibu sedikit terkejut.

Taeyeon menggeleng. “Mungkin sulit untuk bisa melihatnya lagi. Tapi, eomma, ada sesuatu yang membuatku benar-benar terkejut dan aku kira tidak akan mengalami ini. Aku masih bisa melihat sinar yang ada dalam cermin itu.”

Mendengar penuturan Taeyeon, sang ibu menghela nafas panjang. Tidak nampak kekhawatiran di wajahnya.

“Puteriku….”

“Eomma tahu sesuatu?” selidik Taeyeon curiga.

“Cermin yang ada padamu memang sudah menjadi dasar kemampuanmu. Itu memang akan terjadi padamu dan kau akan tetap bisa melihat sinar di cermin itu. Cermin yang membantumu menemukan seseorang yang akan menjadi takdirmu.”

“Takdirku? Eomma tidak pernah membicarakan ini padaku sebelumnya.”

“Takdir yang tidak bisa kau hindari. Ini mengacu pada pria yang menjadi teman hatimu di masa mendatang.”

“Maksud eomma?” bingung Taeyeon. Belum begitu paham secara keseluruhan.

“Pulanglah lagi selesai syuting. Akan eomma jelaskan selebihnya,” timpal ibu. “Ah, eomma ingin tahu apa cermin itu baik-baik saja?”

Taeyeon mencermati pertanyaan ibunya dan ingat cermin yang hilang itu akhirnya ditemukan leader BIGBANG dan dikembalikan lewat Tiffany serta Seohyun.

“Sebenarnya, itu pernah hilang. Tidak lebih dari satu hari. Beruntung yang menemukan pria yang seprofesi denganku, eomma. Dia idol.”

“Bagaimana itu bisa hilang?!” ibu terkejut. Jadi geram pada anaknya. “Kau tidak akan pernah tahu siapa lagi yang bisa melihat kupu-kupu bersibar dari mulutmu selain eomma sebelum orang utu mengatakannya sendiri padamu. Kau juga tidak tahu mungkin saja orang itu akan memanfaatkan kemampuanmu. Itu sebabnya ibu selalu bicara padamu Taeyeon untuk menjaga benar-benar cermin itu. Jangan bercermin didepan banyak orang karena kau tidak tahu siapa lagi yang bisa melihat kupu-kupu itu lagi.”

“Maksud eomma ada yang busa melihat kemampuanku lagi walau dia bukan keluargaku?” pikir Taeyeon menjadi agak takut serta cemas. Artinya, ia harus lebih waspada setelah mengetahui apa yang dikatakan eomma-nya.

“Kau harus hati-hati. Jangan lupakan apa yang sudah eomma katakan. Eomna tidak ingin kau terluka dan membuatmu merasa ingin membuang kupu-kupu dalam dirimu,” imbuh ibu menatap puteri kesayangannya dengan khawatir.

“Eomma, mengenai takdir yang eomma katakan….”

“Lebih baik kau istirahat saja dulu. Eomma akan ambil obat untuk kakimu,” potong ibu lalu keluar kamar. Belum ingin membahas lagi pembicaraan baru saja.

Taeyeon mengamati punggung ibunya yang pergi. Ia masih memikirkan maksud ibunya berkata seperti itu. Perkataan yang belum ia mengerti dan tangkap maksudnya.

Ponsel diatas meja kecil disamping ranjangnya menandakan sebuah pesan masuk. Diambilnya ponsel tersebut dan membuka pesan. Dari Yuri rupanya.

‘Eonni, kau sudah melihat beritamu hari ini? Aku yakin belum kau belum menghubungiku. Lihatnya beritanya. Fighting! ㅋ ㅋ ㅋ….’

Kening Taeyeon berkerut.

“Berita kakiku terkilir sudah sampai pada media, ya?” gumam gadis itu tersenyum seraya menuruti permintaan Yuri untuk membuka beritanya.

“Lihat? Dia meneleponku. Eonni pasti sudah melihatnya,” tunjuk Yuri pada kelima member BIGBANG masih diruang tamu lalu menjawab panggilan dari Taeyeon, “Benar, ‘kan eonni ceoat menghubungiku?”

“Yuri-ah, bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Taeyeon setengah gusar di kamarnya. Karena media itu sangat sedikit terhadap pemberitaan sekecil apapun. Khawatirnya berita ini semakin naik tingkatan.

“Kenapa eonni protes padaku? Aku bukan yang membuat berita itu,” sahut Yuri melirik mereka berlima dengan mengulum senyum. Tatapannya berhenti pada kakaknya.

“Kau juga tahu itu hanya tidak sengaja,” terdengar suara bingung Taeyeon.

“Arra. Hanya merasa bagaimana itu bisa terjadi di waktu yang berdekatan dan isinya mirip,” lanjut Yuri terkekeh kecil. Masih di kamarnya, Taeyeon hanya mencibir menunggu ocehan gadis berkulit cokelat itu. “Eonni, bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana apanya?!” cibir Taeyeon kesal. Ia mengendalikan dirinya setenang mungkin. “Kau dimana?”

“Di apartemen BIGBANG. Waeyo? Eonni akan kemari?” tebak Yuri.

“Eumm….”

“Ada pesan untuk mereka? Mungkin untuk Ji-oppa?” goda Yuri memperhatikan mereka.

“Apa kau sedang bersama G-Dragon sekarang?”

“G-Dragon?” ulang Yuri tanpa melepaskan pandangannya dari kakaknya yang balas menatapnya mendengar namanya disebut. Dan, beraninya dia memanggilnya tanpa menggunakan sebutan ‘oppa’.

“Bagaimana reaksinya saat melihat berita itu?”

“Aku yakin reaksi sebenarnya bukan seperti tadi. Dia hanya sedang terlihat sedikit kesal. Apapun yang terjadi padanya jadi bad mood semua. Jika sedang tidak kesal dia akan memperhatikan berita itu sedikit lama. Dia hanya melihat tidak lebih dari sepuluh detik,” beber Yuri yang sukses mendapat tatapan membunuh dari kakaknya. Jiyong siap melempar apa saja yang ada didekatnya pada Yuri. Memangnya ia terlihat seperti yang dikatakan Yuri menyebalkan itu? Tapi, Yuri tidak takut sama sekali. Ia justru melanjutkan, “Eonni, apa kau tidak berpikir dampak dari berita ini bisa menjadi besar dan…”

Tuut tuut tuut….

Dahi Yuri berkerut lalu menatap ponselnya yang sudah terputus panggilan dengan Taeyeon.

“Hei…” tegur Jiyong halus berhasil mengendalikan emosinya pada Yuri.

“Tae-eonni sepertinya bingung sekarang ini dan sedikit kesal padaku,” ujar Yuri tersenyum tanpa merasa bersalah. “Apa aku terlihat memprovokasi?”

Pintu kamar Taeyeon terbuka, memunculkan ibu Taeyeon yang datang membawakan kotak obat berukuran sedang.

“Eomma mencari obat dimana?” sindir Taeyeon senyum saat ibunya duduk ditepi ranjang. Sebab ibunya datang sedikit lama.

“Eomma hanya tidak ingin mengganggu pembicaraan diteleponmu. Saat eomma membuka pintu kau terlihat serius sekali jadi eomma tunggu saja dulu,” jelas ibu.

“Itu Yuri dan pembicaraan kami sama sekali tidak penting,” elak Taeyeon laku tersenyum meringis.

“Pembicaraan tidak penting dengan wajah serius seperti itu?” ledek ibu tersenyum.

“Mana obatnya?”

Ibu menyiapkan obat dan menatap puterinya dengan senyum.

“Yuri-ah, aku punya sesuatu untukmu. Kau harus ambil sendiri. Ayo, ikut aku,” pinta Jiyong berdiri menghampiri adiknya.

“Jika oppa punya sesuatu untukku maka ambillah untukku,” tolak Yuri juga sedikit menghindar saat kakaknya mendekat karena ini sedikit seperti ancaman dari yang Yuri rasakan.

“Ini akan membuatmu lebih terkejut. Ayo,” ajak Jiyong kembali dengan senyum manis dan menarik lembut tangan kiri gadis itu.

Walau bingung, Yuri menuruti Jiyong, menatap member BIGBANG yang dibalas dengan gelengan bingung pula. Yuri mengikuti Jiyong dengan susah payah karena pria itu berjalan cepat dan sedikit kasar.

Jiyong menarik Yuri masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

“Oppa, kenapa dikunci? Apa yang akan kau berikan padaku?” tanya Yuri waspada.

“Aku tidak mau member BIGBANG tahu,” ucap Jiyong tanpa melepas genggamannya. “Mana ponselmu? Pinjam.”

“Tidak boleh,” tolak Yuri cepat seraya menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuh rampingnya.

“Berikan nomor telepon Seohyun. Aku membuatnya tidak nyaman hari ini. Kursi istirahatnya aku pakai tadi,” jelas Jiyong lembut. “Mana ponselnya?”

“Kau sudah punya sebelumnya.”

“Dihapus Seungri. Dia tidak ingin aku dekat dengan banyak gadis, ‘kan? Itu karena dia yang ingin dekat gadis-gadis,” cibir Jiyong.

Mendengar itu, Yuri luluh dan menyerahkan ponselnya walau ragu pada Jiyong yang menerimanya dengan senyum lebar.

“Oppa, kau tidak… Ah, Seohyun itu… Kau tahu? Seohyun…” curiga Seohyun memicingkan mata pada Jiyong.

“Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Seohyun sudah seperti adikku jadi, berhenti berpikir konyol,” sangkal Jiyong sangat mengerti pikiran adiknya saat ini. Ia tidak menyukai Seohyun seperti dugaan Yuri.

“Mana sesuatu yang kau katakan?” tanya Yuri kembali pada tujuan awal kakaknya mengajak kemari. Membuat Yuri semakin penasaran.

“Disini,” sahut Jiyong menarik Yuri dan berdiri didepan pintu kamar mandi.

“Jamkkanman,” sergah Yuri sedikit takut.

Jiyong tersenyum lalu memeluk Yuri.

“Kwaenchana. Kau pasti sangat terkejut. Ini spesial, sangat spesial. Belum pernah kuberikan pada siapapun bahkan ibu kita,” ujar Jiyong menenangkan.

Semakin bingung dan penasaran akan teka-teki kakaknya.

“G-Dragon…” panggil Yuri namun Jiyong hanya tersenyum dan memaklumi adiknya yang terus memanggilnya tanpa sebutan ‘oppa’.

Pelukan Jiyong lepaskan lalu menatap wajah adiknya dengan senyum yang masih saja terbentuk di bibirnya dan bahkan semakin manis kala Jiyong menyentuh dahi Yuri dengan telunjuk kanannya dan memutar-mutar jarinya disana.

“Disini,” kata Jiyong membuka sedikit pintu kamar mandi.

Ditengah Yuri yang masih bingung, Jiyong perlahan menarik Yuri untuk semakin mendekat pada pintu dan sedikit mendorongnya masuk. Menurut saja Yuri walau setengah curiga.

“Apa yang ingin oppa…”

Cepat Jiyong menutup pintu begitu Yuri berhasil masuk lalu menguncinya tanpa menunggu adiknya selesai bicara. Jiyong tersenyum puas tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Ini semua karena Yuri,” gumam Jiyong.

“Oppa! Oppa!” terdengar teriakan Yuri menggedor-gedor pintu. Barangkali sesuatu yang dikatakan Jiyong ada di dalam kamar mandi, Yuri melihat sekelilingnya. Sial! Tidak ada apapun. Ia sadar sekarang, kakaknya tengah mengerjainya. Ia kembali menggedor pintu, “G-Dragon! Apa begini sikap seorang kakak?!”

Jiyong tertawa kecil dengan tangan masih menggenggam kunci yang masih ada pada tempatnya.

“Apa seperti itu sikap seorang adik kakaknya? Memanggil seenaknya tanpa sebutan kakak?” balas Jiyong tersenyum menang.

“Oppa, kau tidak tahu bukan bagaimana reaksi eomma saat mengetahui perlakuanmu padaku sekarang? Bukalah! Buka pintunya, oppa!”

“Berhentilah teriak. Istirahat saja dan pikirkan juga apa yang sudah kau lakukan padaku hari ini,” pesan Jiyong.

“Ya! Jadi, kau coba balas dendam? Inijah rencanamu yang melibatkan adikmu? Oppa, kau… Ah, jinjja!” racau Yuri frustasi.

“Kau mau makan? Akan kuambilkan,” tawar Jiyong.

“Aku bukan di penjara! Oppa, jebal…” rengek Yuri

“Kau harus menjaga suaramu, jangan berteriak.”

“Oppa!” teriak Yuri tidak tahan lagi dan hampir menangis.

“Kau membuatku frustasi kemarim dan hari ini. Ini satu-satunya cara yang terpikir di otakku. Ada yang lebih buruk memang, tapi, itu terlalu kejam,” beber Jiyong tersenyum lebar.

“Kau bahkan memikirkan rencana yang lebih buruk?!” geram Yuri memukul pintu.

“Mengikat dan membungkammu didalam kamar mandi Yungbae-hyung. Itu rencana semula,” Jiyong mengaku dengan tertawa kecil.

“Eomma…” terdengar kembali rengekan gadis yang hampir menyerah didalam kamar mandi sana.

“Eomma tidak ada disini,” sahut Jiyong santai.

Jiyong menjauh dari kamar mandi, meninggalkan kunci masih pada tempatnya. Duduk ditepi ranjang deluxe-nya dan membuka ponsel Yuri. Jadi penasaran dengan berita tentang dirinya dan Taeyeon. Ia kembali melihat berita yang tengah menghebohkan fans dan netizen itu lebih lama dan lebih cermat.

Ulasan senyum Jiyong muncul. Ia membuka video leader gadis mungil yang sebenarnya. Jiyong kembali tersenyum, setidaknya itu adalah komentar untuk video Taeyeon. Pikiran Jiyong kembali melayang pada kekecewaan Soeun tadi siang. Bagaimana caranya ia meredakan hati Soeun sekarang dari kekecewaan itu?

“Oppa!”

Suara Yuri yang terdengar lagi membuat Jiyong menoleh ke atah kamar mandi.

“Kau ingin aku mematikan lampu kamar mandi dari sini? Diam dan berpikirlah sikapmu hari ini,” nasihat Jiyong yang kembali melihat berita tentangnya dan Taeyeon.

***

Seorang gadis berpakaian feminine keluar dari rumahnya dan memasuki mobil yang digunakan untuk menjemputnya. Hari ini, pagi ini, Taeyeon akan melanjutkan syuting bersama member satu grupnya yang satu jadwal dengannya hari ini. Kaki Taeyeon sudah baik-baik saja sekarang.

Sementara itu, di apartemen BIGBANG, kelima member dan Yuri tengah bersiap pergi memenuhi jadwal masing-masing.

Jiyong keluar kamar seraya memakai topi dan bertemu Youngbae serta Yuri yang melewati kamar Jiyong.

“Yuri-ah, apa jadwalmu hari inj? Ayo, kuantar,” tawar Jiyong penuh senyum seraya menutup pintu kamarnya.

Hanya sekilas Yuri melirik oppa-nya dan mengajak Youngbae untuk pergi dari hadapan Jiyong. Jiyong hanya tersenyum dan menyusul mereka ke ruang tamu dimana semuanya sudah berkumpul.

“Bagaimana kabarmu, Yuri-ah?” sapa Seungri dengan senyum puas, lebih tepatnya mengejek karena mengetahui perihal Yuri yang dikurung Jiyong.

Pura-pura tidak mendengar, Yuri justru tersenyum manis pada Youngbae.

“Kwon Yuri, apa kau masih marah padaku?” tanya Jiyong duduk di salah satu sofa ruang tersebut. “Itu adil dengan sikapmu.”

“Oh, yeoboseyo, Sunny eonni,” Yuri mengabaikan pertanyaan kakaknya dan memilih menelepon Sunny. “Tidak perlu menjemputku, aku akan kesana dengan seseorang. Ne.”

Setelah menutup ponsel, Yuri melirik kesal pada kakaknya. Jiyong menghela nafas.

“Kau akan kemana? Ayo, kuantar,” tawar Jiyong lebih lembut.

“Apa pedulimu, oppa?” ketus Yuri akhirnya menanggapi Jiyong. “Aku akan siaran radio hari ini bersama Sunny eonni setelah itu melanjutkan syuting video klip. Aku tidak mau berangkat denganmu. Kau bahkan tidak meminta maaf.”

“Aku minta maaf, Yuri-ah…” ucap Jiyong beranjak menghampiri Yuri.

“Ayo berangkat, oppa,” Yuri segera menggandeng lengan Youngbae sebelum Jiyong semakin mendekat.

Jiyong membulatkan kedua matanya melihat dengan jelas Yuri tiba-tiba meraih lengan Youngbae, member lain pun terkejut akan hal ini.

Walau sebenarnya sedikit terkejut juga, Youngbae mengangguk menuruti gadis yang melingkarkan lengannya di lengan seksi Youngbae.

Menyadari keterkejutan mereka karena sikapnya, Yuri cepat melepaskan diri dari lengan kekar Youngbae.

“Mian,” ucap Yuri pelan lalu melirik kesal pada Jiyong dan kembali beralih pada Youngbae, “Ayo, Younbae oppa.”

“Hyung,” panggil Jiyong pada Youngbae yang hendak pergi bersama adiknya. “Jaga adikku. Dia masih marah padaku jadi aku tidak mengerti cara memberikan ini padanya.”

Yuri sedikit terkejut dengan parfum elegant yang ditunjukkan Jiyong pada Youngbae. GD Eau de Toilette, parfum dari perusahaan kosmetik Moonshoot yang diluncurkan G-Dragon adalah parfum yang Yuri inginkan, tapi ia tengah marah dengan si peluncur parfum. Parfum yang dideskripsikan sebagai parfum dengan bau yang cocok dipakai oleh perempuan maupun laki-laki. Wewangian dalam parfum itu termasuk sitrus manis yang dikombinasikan aroma angin laut, dan wangi maskulin kulit kayu.

Kenapa timing-nya tidak tepat? Jika ia mengambil parfum itu sama saja senjata makan tuan. Apa kakaknya itu sengaja memberinya di waktu sekarang agar ia luluh dan memaafkan sehingga tidak marah lagi pada Jiyong. Baik, ia tidak akan terpengaruh.

Dengan sedikit berat, Yuri keluar mengabaikan Jiyong.

“Sampai bertemu di YG,” ujar Youngbae lalu menyusul Yuri.

“Aku kira ini akan berhasil,” gumam Jiyong tersenyum kecil mengantongkan kembali parfumnya.

“Kau memakai cara suap?” tanya Daesung geleng-geleng kepala.

“Dia menginginkan parfum ini beberapa hari lalu dan aku berikan hari ini. Ini bukan suap namanya,” elak Jiyong.

“Sudah jelas Yuri mengira itu suap karena kau memberikannya di waktu yang tidak tepat,” imbuh Seunghyun.

“Ini bukan suap,” tegas Jiyong. “Kalian dipihak siapa?”

“Kenapa kau selalu mengungkit itu?” heran Seunghyun.

“Saat dekat denganku kalian justru sering membela member Sonyeo Shidae itu,” tandas Jiyong cemburu. “Sonyeo Shidae atau aku?”

“Kau yang mana? Jiyong, GD atau G-Dragon?” goda Seungri tersenyum lebar menoleh Seunghyun dan Daesung yang dibalas mengangkat kedua alisnya. Mereka senang bisa menggoda Jiyong saat tengah kesal seperti ini.

“SNSD atau aku?” Jiyong semakin kesal.

“BIGBANG!” jawab ketiganya serentak dengan menunjukkan gaya khas BIGBANG saat mengatakannya.

Tatapan tajam dari Jiyong terlempar pada member-member BIGBANG yang tertawa puas.

***

“Sunny benar sudah menunggu disana?” tanya Youngbae saat Yuri terus menatapnya membuat Youngbae yang menyetir mobil sedikit gugup.

“Hah?” Yuri terkesiap lalu mengangguk cepat “Iya, benar. Dia sudah ada di SM, kami akan ke tempat siaran bersama.”

“Kalau begitu kuantar sekalian saja kau dengannya.”

“Tidak, kami akan berangkat berdua,” tolak Yuri halus lalu menatap jalanan didepannya. “Terima kasih, oppa.”

“Ini belum sampai. Jangan ucapkan dulu.”

“Bukan. Karena kau sudah mengeluarkanku dari sana. Terima kasih,” ucap Yuri menoleh Youngbae dengan senyum manis yang dibalas senyum manis pula oleh Youngbae. “Jiyong oppa benar-benar kakak yang…. Aku akan membalasnya saat bertemu nanti. Dia tidak mengerti rasanya dikurung seperti itu.”

Melihat Yuri begitu dendam, Youngbae hanya geleng-geleng kepala.

FLASHBACK

Youngbae yang tengah menuju kamarnya melihat kamar Jiyong sedikit terbuka. Ia bermaksud menutupnya.

“Akan kulakukan hal sama padamu, oppa! Oppa!”

Terdengar suara yang langsung Youngbae kenal. Ia melangkah masuk dan tidak mendapati siapapun disana. Yang tadi ia lihat sebelum melewati kamar ini Jiyong tengah ke dapur.

“Yul…” panggil Youngbae pelan seraya mencari keberadaan Yuri.

“Oppa, bukalah!” seru Yuri yang sudah berkeringat sambil menggedor pintu. Mendengar itu, Youngbae langsung tertuju pada kamar mandi. “Kau pasti masih disitu. Bicaralah dan cepat buka! Berhenti membuatku takut!”

Derap langkah yang semakin mendekat dapat Yuri dengar. Kakaknya pasti berubah pikiran karena memang selalu tidak tega melihat adiknya kesulitan. Perlahan Yuri tersenyum.

Bagaimana Yuri bisa terkunci didalam? pikir Youngbae. Dengan kunci yang masih menggantung pada tempatnya, Youngbae membuka pintu. Baru sempat membuka sedikit, pintu itu terdorong dari dalam hingga terbuka sebagian oleh Yuri tentunya dan tiba-tiba perut Youngbae mendapat pukulan lumayan keras dari gadis itu yang ternyata menangis. Cukup keras untuk ukuran oukulan seirang wanita dan lumayan sakit, membuat Youngbae otomatis membungkuk dan melangkah mundur.

Kedua mata Yuri membulat penuh dan menutup mulut dengan kedua tangannya begitu mengetahui pria yang ia pukul yang ia kira kakaknya adalah Youngbae.

“Aku menyelamatkanmu tapi,…” ringis Youngbae.

“Aku pikir kau Jiyong oppa,” kata Yuri bergegas mendekati Youngbae, “Kwaenchana, oppa?”

“Kwaenchanayo,” sahut Youngbae mengangguk. Ia menegakkan badannya, tersenyum melupakan sakitnya. “Kau baik-baik saja? Bagaimana kau bisa didalam situ?”

“Jiyong oppa membohongiku,” ungkap Yuri cemberut sekaligus kesal.

Youngbae langsung paham. Jiyong bermaksud mengurungnya dengan rayuan hadiah. Saat Jiyong memberi hadiah, Yuri memang sangat senang karena selalu menyukai hadiahnya. Apapun yang Yyri inginkan, kakaknya langsung berusaha memenuhi permintaannya.

Rasa sakit di perutnya kembali menyerang Youngbae. Buru-buru Yuri mendekat, memegang bahunya dan memperhatikan Youngbae yang memegangi perutnya.

“Aku tidak apa-apa,” ucap Youngbae menenangkan gadis ini.

“Oppa…”

PRANG!

Kompak Youngbae dan Yuri menoleh kala mendengar jelas sesuatu yang pecah. Pecahan gelas tercecer di lantai, didekat pecahan itu tampak pemilik kamar berdiri terkejut dengan tangan kanan terangkat. Tidak, Jiyong tidak terkejut melainkan hanya pura-pura terkejut. Jelss di wajahnya yang pura-pura terbelalak dan tangan terangkat bekas menggenggam gelas yang dijatuhkan secara sengaja dan tidak menunjukkan reaksi keterkejutan sebenarnya sama sekali.

Mereka cepat memposisikan berdiri sebaik mungkin agar tidak terjadi kesalahpahaman pada Jiyong. Rasa sakit Youngbae kali ini benar-benar ia lupakan. Jiyong juga menyudahi sandiwaranya.

Menyadari Youngbae mengeluarkan Yuri dari dalam kamar mandi, mengalih-alihkan pandangan. Ingin tersenyum lalu tertawa tapi ia harus menahannya melihat mereka yang canggung apalagi jika dirinya benar-benar tertawa, mungkin mereka akan pingsan berdiri karena kecanggungan mereka. Untuk menyembunyikan hasrat tertawanya, Jiyong berdehem kecil.

Jiyong mulai bersuara, “Disaat semuanya sudah tertidur, kalian masih….”

“Apa ini karenaku?!” seru Yuri kesal sekaligus merengek.

Reaksi Jiyong? Hanya menelan ludah dan menuju ranjang.

“Syukurlah kau tidak apa-apa,” kata Jiyong duduk di tepi ranjang. Semakin kesal saja Yuri mendengar jawaban santai Jiyong yang sekarang menatap mereka berdua. “Apa kalian akan terus berdiri disana? Keluarlah, ini sudah malam. Aku mau istirahat.

Baru sempat Jiyong akan menaikkan satu kakinya ke ranjang, serangan tiba-tina muncul di kakinya oleh Yuri yang memukul-memukul dengan keras. Yuri menurunkan kaki Jiyong lalu mengambil bantal serta selimut dan dilemparkannya pada wajah tampan nan manis itu. Setelah puas Yuri duduk dihadapannya, disebelah Jiyong dan… terdengar isakan. Yuri menangis.

Rasa bersalah baru menghampiri Jiyong. Hal inilah yang tidak Jiyong sukai. Saat ia mrnjahili gadis ini dan gadis manis ini tidak terima pada akhirnya Jiyong lagi yang mengalah. Jiyong tidak bisa membiarkan adiknya berwajah seperti sekarang.

Mengingat Yuri yang menurut saja saat Jiyong akan memberinya sesuatu tadi, ia semakin merasa bersalah dan ingin tertawa secara bersamaan. Dan akhirnya, Jiyong hanya bisa tersenyum yang jika ditahan terus menerus meledaklah tawanya.

Jiyong tersenyum dan bersiap memeluk Yuri, tapi Yuri cepat menampik tangan si dragon itu.

“Mau apa kau?!” kesal Yuri menatap Jiyong marah.

“Yuri-ah….”

“Apa?! Kakak seperti apa kau ini?”

“Aku kakak baik yang selalu menuruti kemauanmu,” pikir Jiyong sekaligus memuji diri sendiri.

“Dan mengurung adiknya ditengah-tengah kebaikanmu?”

“Sebenarnya ini adil untukmu,” ujar Jiyong. “Berhentilah menangis. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”

“Adil seperti apa yang oppa maksud? Ah… jinjja,” gerundel Yuri hingga bingung mendeskripsikan perilaku Jiyong terhadapnya saat ini.

“Aku akan kembali ke kamar,” Youngbae berucap yang sejak tadi memperhatikan kakak beradik tersebut. Ia mulai melangkah meninggalkan kamar luas Jiyong.

“Bertanggung jawablah sampai akhir,” cegah Jiyong menghentikan langkah Youngbae yang kembali menoleh pada Kwon bersaudara. Seraya melirik Yuri, Jiyong melanjutkan, “Hyung, antar dia ke kamarnya.”

Baik Youngbae maupun Yuri, keduanya terkesiap.

“Oppa, terima kasih,” ucap Yuri saat sampai di depan kamarnya.

“Masuklah,” perintah Youngbae tersenyum.

“Kau pergilah ke kamarmu,” pinta Yuri mengulum senyum.

“Aku akan pergi setelah kau mengunci pintu. Jaljayo.”

“Jaljayo,” balas Yuri. Sedikit terkejut dengan sikap lembut yang ditunjukkan Youngbae. Apa karena ia baru saja keluar dari kurungan dan terlihat kasihan? Atau memang pria itu ingin bersikap lembut? Tapi, selama ini pria yang mempunyai nama lain Taeyang ini selalu bersikap lembut padanya.

Yuri menepis pikirannya dengan menggeleng-gelengkan kepala, tidak mau terlalu percaya diri. Sadar dan terkejut dengan Youngbae yang memandangnya dengan bingung, Yuri cepat masuk setelah melemparkan senyum manis yang dibalas Youngbae dengan senyum lebar nan manis pula. Perlahan Yuri mengunci pintu dan Youngbae pergi setelah pintu benar-benar terkunci.

FLASHBACK END

Mobil yang Youngbae setir sampai di depan pintu utama gedung SM. Youngbae dan Yuri jadi sama-sama canggung mengingat hal semalam.

“Gomawo, oppa. Aku akan turun,” ucap Yuri dengan senyumannya.”

“Itu Sunny,” ujar Youngbae melihat si ratu aegyo keluar menuju mobilnya.

Yuri mengangguk dan keluar menemui Sunny.

“Oh, Yuri-ah,” sapa Sunny dengan cerahnya melihat Yuri datang mendekat. Ia mengamati mobil yang mengantar Yuri karena ia sempat melihatnya turun dari mobil mewah tersebut. “Nuguya?”

“Ayo, masuk mobil,” ajak Yuri tersipu mendengar pertanyaan Sunny.

“Neo, wae geurae?” tanya Sunny tertawa selidik mengikuti Yuri dibelakangnya yang membuka pintu.

Belum pergi dari tempat itu, Youngbae masih memperhatikan dua gadis yang saling berbincang itu.

“Cepat masuk, eonni,” pinta Yuri setengah menoleh kearah mobil Youngbae.

“Siapa dia?” desak Sunny penug senyum gpda.

“Youngbae. Wae?” jawab Yuri akhirnya, langsung masuk mobil menyembunyikan senyum sipunya.

“Mwo?” Sunny tertawa dan masuk mobil buru-buru, penasaran dengan penjelasan lebih lanjut dari Yuri.

Youngbae tersenyum. Walau tidak tahu percakapannya, melihat mereka sama-sama tersenyum cerah membuat Youngbae ikut senang. Setelah melihat mobil Sunny pergi, Youngbae juga pergi meninggalkan SM menuju YG . Jadwalnya padat mulai hari ini.

***

“Jangan berpikir untuk pergi kemanapun sampai konser berakhir. One free day sudah kuberikan kemarin dan seharusnya bisa digunakan sebaik mungkin,” ucap CEO Yang Hyunsuk duduk di kursi dalam meeting room bersama Jjyong.

“Sampai sekarang semuanya baik-baik saja,” sahut Jiyong.

“Bagus. Perhatikan BIGBANG benar-benar, jangan sampai ada yang cedera,” pesan CEO Yang menatap serius leader BIGBANG kebanggaannya ini.

“Ne. Akan kupastikan semuanya,” angguk Jiyong santai tapi tetap tak menghilangkan kesopanannya.

“Kemarin manager-mu melihat kau di tempat itu,” singgung sang CEO.

“Ne?” tanya Jiyong bingung.

“Kampus Kim Soeun,” CEO Yang memperjelas membuat Jiyong terdiam. “Mau sampai kapan kau akan menjalani hubungan dengannya?”

“Mau sampai kapan CEO akan diam dan tetap tidak mengizinkanku bicara go public?” balas Jiyong yang sudah tidak tahu lagi harus bersikap apa untuk mempertahankan hubungannya dengan Soeun. Terlebih sekarang gadis itu tengah marah akibat jadwal yang bentrok antara konser dan kompetisi.

“Kau akan tetap mempertahankan dia?” tanya CEO Yang heran.

“Selagi bisa aku akan tetap mempertahankannya,” kukuh Jiyong. CEO Yang menghela nafas panjang menunggu Jiyong kembali mengutarakan pikirannya. “Semakin aku terus diam tentang siapa kekasihku media semakim mengait-ngaitkankanku dengan wanita lain seolah menjodohkanku. Aku tidak ingin rumor seperti itu terus terjadi.”

“Ah, mengenai rumor. Taeyeon…”

“Itu secara tidak sengaja dan media memang selalu seperti itu. Ini bagian rumor yang ku maksud,” potong Jiyong cepat. “Sajangnim, kau selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali bicara tentang Soeun, padahal kau yang memulainya.”

Sekarang Jiyong tidak mengenal takut pada CEO-nya asal tetap pada batasnya. Karena ini masalah perasaannya dan Jiyong tidak tahan bahkan muak dengan rumor-rumor tentang kedekatannya dengan wanita-wanita. Yang terbaru adalah dengan Taeyeon leader Girls’ Generation yang sama sekali tidak ada hubungan apapun sebelumnya.Sekadar saling saoa saat bertemu dalam satu acara.

“Aku sudah banyak mendengar dari rekanmu terutama Seunghyun dan Youngbae lalu managermu. Kau selalu menampakkan wajah yang berbeda setelah melakukan pertemuan dengan Soeun. Sebelum pertemuan kau tampak senang dengan sebuah harapan besar, setelah pertemuan kau berwajah turun semangat bahkan kecewa. Bagaimana kau akan melanjutkan hubungan kalian jika selalu seperti itu? Aku yakin kau hampir ‘minum’, bukan? Yong-ah, kau punya tanggung jawab besar di BIGBANG. Kau sensitif dan aku khawatir rasa tanggung jawabmu akan dikuasai rasa kecewamu karena hubungan kalian.”

“Aku mengerti maksudmu, sajangnim. Pada akhirnya kau akan mengatakan padaku untuk yang ke sekian kalinya mengakhiri hubunganku dengan Soeun,” timpal Jiyong kecewa.

“Iya,” jawab CEO Yang cepat dan santai dengan terang-terangan membuat Jiyong tercengang. “Kau tidak akan membuang waktu latihanmu untuk hal ini begitu saja, ‘kan? Yang lain sudah menunggumu. Jadi, tunggu apa lagi? Latihanlah,”

Sangat kecewa Jiyong menatap CEO-nya dan CEO Yang tahu itu tapi diam saja. Jiyong membungkuk dan keluar ruangan dengan iringan pandangan CEO yang memandang punggung Jiyong.

Yang Hyunsuk menghela nafas panjang, berpikir cara mengatasi masalah leader fashionista nomor satu di Korea ini.

***

BANG! BANG! BANG!
BANG! BANG! BANG!
Ppangya ppangya ppangya
BANG! BANG! BANG!

BIGBANG tengah melakukan rehearsal persiapan konser didalam YG dance room bersama YG’s dancer. Semuanya tampak serius.

Da kkomjjak mara da kkomjjak ma
Da kkomjjak mara

DUG!

Jiyong menatap Daesung kesal karena mereka bertubrukan.

“Apa kau bisa melakukannya dengan benar?” seru Jiyong kesal.

Semua berhenti, musik juga di stop.

“Hyung, tapi….”

“Istirahat sepuluh menit. Setelah ini harus lebih benar!” seru Jiyong langsung memisah dan meminum air dalam botol yang tersedia.

Seunghyun menghampiri Daesung yang menatap bingung pada Jiyong.

“Hyung…” panggil Daesung lirih pada Seunghyun tetap melirik Jiyong.

“Aku tahu kau tidak salah,” gumam Seunghyun ikut melirik leader BIGBANG yang sensitif itu.

“Kau melihatnya, ‘kan? Aku melakukan seperti biasanya. Jiyong hyunglah yang salah gerakan dan menubrukku,” bela Daesung pada diri sendiri.

Tampak Youngbae juga Seungri menghampiri Daesung setelah melepas dahaga akibat latihan.

“Sepertinya ini masalah yang sama dengan kemarin,” pikir Youngbae menoleh Jiyong yang tengah duduk mengacak-acak rambutnya. “Daesung-ah, kwaenchana?”

“Aku baik-baik saja. Yang kukhawatirkan adalah Ji-hyung yang kali ini tidak bisa konsentrasi. Sebesar apapun masalahnya Ji-hyung mampu mengendalikan emosinya,” kata Daesung tetap mengamai Kwon leader itu.

“Karena balerina itu? Kim Soeun?” terka Seungri.

Sepuluh menit sudah lewat dan Jiyong beranjak dari duduknya. Ia kembali meminum seteguk dan menghampiri Yoyngbae nsmun meluhat Seungri berbaring lelap di sudut ruangan.

“Ya, ireona. Cepat latihan,” perintah Jiyong datar ketika berada didekat maknae imut itu. “Ireona.”

Suara Jiyong dapat didengar Youngbae dan Daesung sehingga mereka menolwh padanya yang kini kesal sebab maknae itu belum menunjukkan reaksi apapun.

“Apa lagi sekarang?” bisik Daesung.

“Ireona!” teriak Jiyong dan Seungri langsung berdiri tegap, crpat beradaptasi dengan sekelilingnya.

“Hyung, mianhae,” ucap Seungti cepat.

Sambil minum Seunghyun kembali masuk dance room dan melihat suasana sedikit tegang. Matanya tajamnya tertuju pada Jiyon dan Seungri yang diyakini sebagai sumber masalahnya kali ini. Ia bergabung dengan Youngbae dan Daesung.

“Kau tahu konser satu minggu lagi?” tanya Jiyong menatap anggota termuda dengan kesal.

Seungri mengangguk dan takut-takut menatap leader BIGBANG yang tengah marah bagai naga.

“Lalu kenapa tidur? Tidak masalah saat istirahat tapi cepatlah bangun setelah itu!”

“Jiyong-ah,” panggil Seunghyun santai dan penuh kasih menghampiri Jiyong yang menatapnya malas. Dari Daesung Seunghyun tahu masalahnya, ia menatap Seungri sesaat dan kembali pada Jiyong, “Mungkin Seungri tidak tahu waktunya sudah karena tertidur pulas. Kita juga baru akan mulai dan kau membangunkannya dengan pelan-pelan. Tidak harus dengan teriakan.”

Senyum disudut bibir kanan Jiyong terbentuk.

“Dia…”

“Kajja, kembali latihan,” pungkas Seunghyun menepuk bahu nyongtory itu, memotong ucapan Jiyong.

Takut menjadi korban kemarahan sang leader lagi, Seungri cepat bergabung dengan yang lain diikuti Seunghyun yang tersenyum tipis melihat ketakutan maknae pada leader-nya.

Masih kesal memang, tapi kemudian Jiyong mengusap wajahnya. Sadar telah berlaku keras pada maknae kesayangannya. Melampiaskan kekesalannya pada panda innocent karena pikirannya dipenuhi masalah hubungannya dengan Kim Soeun.

***

Bagian syuting yang tertunda telah usai Taeyeon laksanakan. Gadis mungil itu tersenyum pada Woobin yang datang sejak pertengahan syuting berlangsung. Dihampirinya Woobin dan duduk disebelahnya.

“Kau lelah? Kau sudah berusaha keras menyelesaikan semuanya,” puji Woobin menyerahkan air minum pada Taeyeon.

“Itu akan dirilis minggu depan. Jika aku tidak terkilir ini tidak akan terburu-buru. Na kwaenchana,” ucap Taeyeon seketika dari mulutnya muncul kupu-kupu dengan warna pink cerah serta sinarnya yang terang. Kupu-kupu yang mengepakkan sayap mengelilingi mereka berdua untuk kemudian perlahan lebur dan beberapa saat setelahnya seolah tidak terjadi apapun. Seisi ruang syuting juga tidak ada yang menyadari.

Ponsel yang tengah digenggam Woobin berdering. Setelah melihat nama pemanggil, pria tinggi proporsional itu menjawabnya,

“Yeoboseyo? Ah, aku di lokasi syuting Taeyeon. Kau dimana? Arraseo, aku akan ajak Taeyeon.”

“Ada apa mengajakku?” tanya Taeyeon begitu Woobin menutup teleponnya.

“Bertemu teman setelah ini,” jawab Woobin tersenyum manis.

“Dimana itu?”

“Ditempat yang kau tahu. Kau mau?” tawar Woobin.

Taeyeon mengangguk senyum dibalas senyum pula oleh kekasih tampannya.

***

Gadis tinggi ramping berkulit cokelat ini keluar dari mobil didepan gedung YG Entertainment. Yuri cepat memasuki gedung tersebut.

“Kakakmu tidak bisa mengendalikan diri saat latihan, ia memarahi kami tanpa sebab yang jelas. Disaat seperti ini dia tidak akan mau pulang dengan manager, bukan? Itu sebabnya cepatlah kemari setelah acaramu selesai. Jemput dia.”

Ucapan member tertua di BIGBANG langsung dapat Yuri pahami. Ini pasti karena Kim Soeun. Sebenarnya, ia juga tidak terlalu menyukai balerina itu yang mudah marah.

Sesampainya Yuri di pintu YG dance room, ia mendapati Jiyong seorang diri ditempat itu tengah duduk bersandar di dinding mencoba menelepon seseorang namun selalu gagal.

Helaan nafas keluar dari mulut Jiyong, Soeun yang diteleponnya masih saja tidak menjawab. Apa gadis itu belum bisa menerima mereka tidak akan bertemu sampai akhir konser.

Jiyong ingat perkataannya sendiri,

“Kita tidak akan merasa cemas dengan apa yang sedang kita lakukan ditempat berbeda karena tahu sedang mempersiapkan tujuan masing-masing. Disaat salah satu dari kita memikirkan satu sama lain bukankah akan lebih baik mengisinya dengan kembali latihan? Toh, masing-masing tahu kita sedang sibuk.”

Masih teringat jelas perkataannya sendiri dan ia pasti akan memegang kata-katanya jika Soeun tidak tengah kesal padanya. Yang ia khawatirkan adalah Soeun menganggap perkataannya sebagai ‘pisah’ sementara karena bukan itu yang Jiyong maksud. Justru hal ini akan menjadi baik saat keduanya sama-sama mengerti dan memahami. Jiyong menatap ponsel dengan kecewa.

Setelah mengatur nafasnya, Yuri menghampiri kakaknya dan duduk disampingnya, sama-sama bersandar, tidak peduli pada Jiyong yang pura-pura tidak melihat kedatangannya.

“Setelah mengurungku kenapa oppa yang berwajah seperti itu sekarang?” buka Yuri menatap depan. Jiyong beranjak meninggalkan Yuri yang terperangah. “Oppa, aku belum selesai bicara.”

Jiyong mengambil mantelnya dibangku istirahat dan meraih sesuatu di sakunya. Ia kembali menghampiri adiknya.

“Jika hanya ingin merayu, lupakan saja itu,” ucap Jiyong menyodorkan parfum pada Yuri.

Kembali melihat parfum yang diinginkannya itu Yuri terkejut. Memang tertarik tapi ia tidak bermaksud meminta parfum itu saat ini.

“Bukan itu. Aku kemari menjemput oppa,” elak Yuri menerima parfum keinginannya dengan menyembunyikan rasa senangnya. Tapi, cukup jelas Jiyong mengetahuinya.

“Jika ingin gembira lakukan saja. Kenapa ditutup-tutupi?” sindir Jiyong perlahan tersenyum. Memang, adiknya yang imut selalu membuat luluh hatinya.

“Waah… Aku berhasil! Aku berhasil! Gomapta!” girang Yuri berdiri memeluk Jiyong.

“Ada apa?” bingung Jiyong berusaha melepas pelukan Yuri. Beruntung Yuri mau melepaskan pelukannya.

“Ildan, aku berhasil membuatmu senyum walaupun kecil dan sebentar. Kedua, terima kasih parfumnya,” urai Yuri terkekeh.

Jiyong tidak bisa menahan senyum lebarnya melihat tingkah menggemaskan adiknya.

“Hey…”

“Eoh?” ucap Yuri menatap luar pintu dance room melihat Woobin bersama Taeyeon melintas, “Itu seperti….”

Jiyong menoleh kearah pintu, tentu saja tidak melihat apapun.

“Nugu?”

“Oppa, aku akan kembali. Gomawo parfumnya,” ucap Yuri bergegas pergi sambil menelepon seseorang.

***

“Eonni, kau datang dengan Woobin oppa ada apa? Proyek Woobin oppa?” tanya Yuri pada Taeyeon yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Woobin dan teman yang dimaksud, Kang Haneul. Keduanya tengah menikmati santap siang di YG Cafeteria sambil sesekali mengobrol. Ada tiga porsi makan, satu untuk Taeyeon tapi gadis itu tinggalkan karena Yuri menelepon ingin bertemu dan bicara pribadi sebentar. Ya, sekarang ini.

“Bertemu teman yang pernah satu drama. Dan, mereka jadi dekat, ‘kan? Kau juga tahu siapa,” jawab Taeyeon mengulas senyum. “Kau sendiri? Memangnya siaran radionya sudah selesai?”

Yuri mengangguk. “Ji-oppa sedang bad mood dan aku akan menjemputnya karena dia tidak akan mau pulang dengan manager jika suasana hatinya buruk. Kajja.”

“Eh, eodi?” tanya Taeyeon terkejut debgan Yuri yang meraih lengannya.

“Melihat keadaan oppaku. Untung dia sudah tersenyum tadi dan itu karenaku,” jawab Yuri senyum meringis memberi tanda peace disamping matanya.

“Yul….”

Yuri menarik Taeyeon pergi sebelum eonni-nya melayangkan pertanyaan lagi. Mereka berjalan menemui Jiyong di dance room tapi melihat orang yang dituju berjalan kearah mereka menatap ponsel.

“Oppa!”

Tengah melangkah santai, Jiyong menghentikan langkahnya. Mencari sumber suara yang ternyata tidak jauh didepannya. Terkejut melihat kedatangan Yuri membawa Taeyeon si gadis mungil aneh itu. Yuri menghampiri Jiyong dengan Taeyeon yang menurut saja.

Taeyeon memberi salam pada Jiyong dan di balasnya dengan anggukan kecil pula, hanya saja lebih dingin sikapnya.

“Jadi, kau kemari dengannya?” tanya Jiyong pada adiknya yang ia harap tidak akan membuat masalah lagi setelah ini, disini.

“Tidak, dia dengan pacarnya. Apa kau sudah selesai? Pulang denganku. Beritahu padaku jika kau akan pulang.” jawab Yuri. Belum sempat Jiyong menjawab, ponsel Yuri berdering. “Ini dari Sunny eonni. Dia pasti mencariku karena aku langsung kesini setelah siaran tanpa memberitahunya. Kalian tunggu disini sebentar, aku akan bicara dengannya. Jangan kemana-mana.”

“Yuri-ah…” panggil Taeyeon enggan ditinggal.

“Tunggu sebentar saja,” bujuk Yuri tersenyum lalu menjawab telepon.

Tinggallah Jiyong dan Taeyeon disana. Tidak ada siapapun disana kecuali mereka. Sebelum ada yang bicara, giliran ponsel Taeyeon yang berdering.

“Eoh, yeoboseyo, Seohyun-ah. Iya, sudah selesai. Semuanya lancar,” Taeyeon menjawab telepon didepan Jiyong. Jiyong kembali melihat kupu-kupu berwarna biru terang dengan sinarnya berkilauan. Diperhatikannya bibir mungil gadis itu, bagaimana Taeyeon mampu mengeluarkan kupu-kupu bersinar itu. Terdengar kembali Taeyeon berbicara, “Maaf, aku tidak mendengarmu. Kau tadi bicara apa? Mm… Arraseo. Annyeong.”

Begitu Taeyeon menutup teleponnya, Jiyong bersikap biasa membuat Taeyeon menatap penuh selidik.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jiyong datar.

“Apa yang kau lihat?” Taeyeon balik bertanya.

“Eobseo.”

Taeyeon tersenyum tidak percaya.

“Aku tahu apa yang kau lihat.”

“Kalau begitu kenapa tanya?” serang Jiyong.

“Jangan karena ini kantormu kau bisa seenaknya disini saat berhadapan dengan orang luar,” balas Taeyeon.

“Apa yang kau bicarakan?” heran Jiyong dan semakin heran karena kupu-kupu bersinar tidak keluar dari mulut gadis ini. Ia sedikit menantikan itu. Kembali diperhatikannya bibir lembab mungil Taeyeon.

“Jiyong-ssi!” gertak Taeyeon menatap tajam Jiyong dan cepat menutupi bibirnya.

“Taeyeon-ah…” terdengar panggilan seseorang dibelakang Taeyeon.

Jiyong dapat melihat seorang pria tinggi yang merupakan kekasih gadis yang ada dihadapannya sekarang berdiri tegap tidak jauh dari tempat mereka berdiri dengan kedua tangan membawa gelas cup berisi minuman kopi.

Setelah menurunkan tangannya dari menutupi bibirnya, Taeyeon menoleh dan melihat Woobin mengangkat satu tangan yang menggenggam segelas kopi, menunjukkan minumannya sekaligus mengisyaratkan gadis itu untuk mendekat. Kembali menatap Jiyong kesal untuk sesaat, Taeyeon menghampiri Woobin dengan penuh senyum.

Jiyong menatap punggung Taeyeon, masih tidak mengerti dengan kekesalan leader SNSD ini. Diperhatikannya mereka, Woobin yang memberi salah aatu kopinya pada kekasihnya. Bermaksud meninggalkan mereka, Jiyong urung karena melihat gadis bermisteri itu mengeluarkan kupu-kupu dengan warna pink bersinar secara perlahan setelah mengatakan sesuatu dengan penuh senyum manis.

Pandangan Jiyong beralih pada Woobin, tapi sepertinya kekasihnya itu tidak sadar akan kemunculan kupu-kupu dari dalam diri Taeyeon. Atau Woobin sudah tahu dan terbiasa dengan keadaan Taeyeon sehingga ia bersikap seolah tidak terjadi apapun?

Jiyong sedikit terkejut saat Woobin menatap kearahnya, mengetahui keberadaannya yang belum beranjak juga dari tempat itu. Kekasih Taeyeon itu melambai pada Jiyong dan sedikit membungkuk salam lalu menatap Taeyeon sejenak dan pergi meninggalkan kekasihnya itu.

Kopi yang ada digenggamanmnya Taeyeon pandangi. Tampak gadis itu mengatakan sesuatu untuk tidak dapat Jiyong dengar. Beriringan dengan ucapan Taeyeon, sebuah kupu-kupu putih bersih bersinar berhasil keluar dari mulutnya.

Jiyong terbelalak. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Saat tidak sengaja menoleh, Taeyeon melihat Jiyong kesakitan dan cepat menghampirinya.

“Kau… kenapa? Kau merasa sakit?” tanya Taeyeon sedikit panik.

Kembali melihat gadis ini mengeluarkan kupu-kupu yang sekarang berwarna kuning terang, Jiyong semakin merasakan sakit di kepalanya.

“Berhenti bicara,” pinta Jiyong mengetahui Taeyeon akan mengatakan sesuatu. Ia kembali memperhatikan bibir Taeyeon.

“Apa yang kau lihat?” kesal Taeyeon. Ditengah kesakitan leader bad boy itu masih sempat-sempatnya menilik bibirnya.

Tidak peduli, Jiyong tetap memperhatikan bibir sialan itu.

Taeyeon menyadari sesuatu! Ada dua kemungkinan Jiyong terus mengamati bibirnya. Pertama, karena tergoda. Memikirkan kemungkinan itu Taeyeon terbelalak. Itu tidak masuk akal. Cepat Taeyeon tepis kemungkinan itu.

Kedua, leader BIGBANG itu mengetahui dirinya mampu mengeluarkan kupu-kupu bersinar. Tahu kemampuannya? Taeyeon semakin terkejut.

Berkurang rasa sakitnya, Jiyong menatap Taeyeon dalam.

“Kau ini apa?” tanya Jiyong lebih menenangkan diri.

Belum sempat bernafas dari pertanyaannya, Jiyong sudah dibekap oleh tangan mungil Taeyeon. Ditariknya Jiyong masuk pintu darurat seraya gafis itu melihat sekelilingnya, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.

Taeyeon belum melepaskan tangannya yang menutup mulut Jiyong. Tatapan tajam saling dilontarkan keduanya. Jiyong melepaskan tangan Taeyeon dari mulutnya.

Dengan gugup Taeyeon segera mendahului sebelum pria mencurigakan itu bicara, “Jangan berbicara sesukamu ditempat seperti itu. Kita tidak akan tahu kapan ada orang lewat. Mungkin kau akan mengatakan sebuah rahasia atau hal yang memalukan yang kau ketahui dari Yuri. Bagaimana kalau ada yang mendengar? Jangan bicara disitu lagi.”

Entahlah, Taeyeon mencari-cari alasan yang tepat dan berharap Jiyong bisa menerima dan percaya.

“Rahasia atau hal apa yang kau maksud?” selidik Jiyong.

Heol! Taeyeon terjebak pertanyaan sendiri.

“Jika kau tidak ada maksud apa-apa aku minta maaf,” sesal Taeyeon setengah menunduk. Kupu-kupu kuning bersinar kembali lagi. Terbang mengelilingi mereka berdua.

Rasa sakit dikepalanya kembali menyerang Jiyong. Kali ini lebih sakut lagi, seperti tertusuk banyak jarum hingga ia jatuh terduduk memegangi kepalanya. Taeyeon berlutut didepannya dengan panik dan bingung. Dengan rasa sakit yang masih mendera, Jiyong berusaha melirik gadis itu.

“Jangan bicara. Jangan bicara! Jangan bicara padaku!!!” gertak Jiyong.

Gertakan Jiyong membuat Taeyeon jatuh terduduk menjauhi pria itu. Sungguh Taeyeon tidak mengerti kenapa Jiyong seperti ini. Apa Jiyong benar sudah mengetahui kemampuannya?

“Jiyong-ssi…” panggil Taeyeon hati-hati.

Kembali Jiyong menatap gadis itu setelah berkurang rasa sakitnya. Ia siap menumpahkan segalanya mengenai gadis ini.

“Dengar. Aku tidak bisa menahan ini. Mungkin kau akan mengatakan aku sudah gila, aku juga berpikir kalau aku gila. Awal aku pikir ini halusinasi karena kelelahan. Itu terjadi ketika aku tidak sengaja bercermin di cerminmu. Ada yang aneh tapi aku selalu menepisnya. Tapi kemudian, aku melihatmu mengeluarkan hal sama dengan cermin sialan itu.”

Terkejut, Taeyeon kini takut berhadapan dengannya.

“Jeosonghamnida,” lirih Taeyeon menunduk, diserta muncul kupu-kupu kuning yang bersinar terang membuat Jiyong melindungi wajahnya menghindar dari sinar itu dengan menunduk.

Seketika Jiyong menatap Taeyeon. Emosinya sudah tidak tertahan.

“Aku melihat sinar di wajahmu! Aku gila, ‘kan? Dan, aku terus melihatmu seperti itu sejak bertemu cerminmu. Aku hampir gila melihat kupu-kupu yang keluar dari mulutmu! Pertama kupu-kupu biru, muncul lagi putih, pink dan kuning. Aku pikir aku benar-benar gila. Aku melihat semua warna itu, dan terakhir aku melihatnya itu berwarna kuning yang muncul, disini, beberapa kali. Tolong, jelaskan padaku. Aku akan mencoba bertahan saat kau kembali mengeluarkan kupu-kupu itu. Jadi, jangan membuatku semakin gila.”

Benar-benar tidak diduga Taeyeon mendengar hal ini dari rekan idol, G-Dragon. Taeyeon sangat terkejut dan ketakutan serta berkeringat akan penuturan Jiyong. Ia menyadari ada orang lain yang bisa melihat kemampuannya selain ia sendiri dan ibunya. Tapi, kupu-kupu berwarna kuning? Ia bahkan tidak pernah melihatnya. Penasaran akan rupanya, tapi ia sudah tidak bisa melihat kupu-kupu dalam dirinya kecuali ibunya yang lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan mungkin sekarang tengah memasak, serta satu orang lagi yaitu pria dihadapannya ini.

“Aku…” Taeyeon tidak bisa berkata apa-apa.

Ditatapnya Jiyong dengan ketakutan dan matanya mulai memerah, hampir menangis.

“Kenapa kau diam?! Bicaralah saat aku menyuruhmu bicara!” kesal Jiyong.

Gadis mungil dan lemah itu terperanjat melihat Jiyong berteriak padanya. Tapi, mulut Taeyeon benar-benar terkunci. Ia tidak bisa bicara walau ingin. Bagaimana cara menjelaskannya? Haruskah ia mengaku atau pura-pura tidak tahu? Air mata Taeyeon jatuh begitu saja. Taeyeon menangis.

“Jeoseonghamnida, Jiyong-ssi,” isak Taeyeon menunduk. Hanya itu yang mampu keluar sari mulutnya.

Tidak tahan lagi dengan Taeyeon yang terus diam dan Jiyong tidak mempedulikan tangisannya.

Jiyong lebih bersabar sekarang. Ia mengatur nafasnya dan akan bersikap biasa saja.

“Kim Taeyeon. Niga mwonde? Apa kau….”

Cepat Taeyeon kembali menutup mulut pria ini dengan tangan kanannya yang kini lebih erat membuat Jiyong terkejut membulatkan mata. Akibat mulutnya ditutup secara tiba-tiba, punggung Jiyong terantuk anak tangga pertama dibawah dan Taeyeon berusaha menahan lulut yang semakin pegal karena menyeimbangi posisi Jiyong agar tetap bisa membekap mulutnya.

Pandangan keduanya dekat. Jiyong menatap Taeyeon tajam begitupun Taeyeon yang melakukan hal aama dengan air mata yang terus terjatuh dengan tetap menutup mulut Jiyong. Benar-benar tajam pandangan keduanya.

TO BE CONTINUED


EPILOGUE

“Kupu-kupu bersinar itu benar keluar dari mulut Taeyeon eonni saat bicara ketulusan, oppa,” ungkap Yuri.

Jiyong sangat terkejut dan menatap Yuri,mencermati apa yang baru saja didengarnya.

Waktu menunjukkan pukul 1AM.

Diwaktu yang sama, Taeyeon cepat bangun dari tidurnya dan menuju wastafel kamar mandi. Ia merasakan mual dan akhirnya muntah.

Lain hari, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Jiyong yang bertelanjang dada. Leader BIGBANG terperanjat dengan keberadaan Taeyeon di depan pintu.

“Apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa yang memberimu izin?!”

“Kenapa minggu ini bisa di posisi dua? Bukankah sudah ku bilang padamu untuk menggeser posisi BANG BANG BANG?” tuntut CEO Lee Seoman pada Taeyeon yang duduk berseberangan di meeting room. CEO Lee melanjutkan, “Geser posisinya minggu depan.”



***

Kim Woobin? Kenapa bukan Kim Hyunioong padahal di list cast adanya Kim Hyunjoong? Iya. Kim Hyunjoong akan ada peran tersendiri nanti. 😊

GTAE moment? Sabar, ya, readers 😊 Masih ada chapter-chapter lain. ✌

Kritik dan sarannya jika ada, silakan tulis di kolom komentar.

See you. I love y’all. Heart.

Advertisements

26 comments on “Secret: I Can See Your Sincerity (Chapter 2)

  1. Waaaa akhirnyaa makasih banyak kak thorr dan SCH ya kak makin” ya kak dan Btw Gtae nya kak difoakuskan ke situ dungz ka <3<3<3<3 semangattt

  2. Huaaaaa penasaran ama lanjutannyaaaaaaa 😩😩😫😫
    Autornya keren, bisa bikin org makin penasaran😁
    Ditunggu kelanjutannya thorrr 😊

  3. Jadi mereka punya pacar masing masing hmmm jd penasaran gimana hubungan taeyeon g dragon selanjutnya. Fighting thor aku suka g tae. Kalo bisa jangan lama lama updatrannya. Hehe😀

  4. WAHHHHH,DAEBAK..

    Ffx makin keren ajh ni,
    Pnasaran ama omongan eommax tae,
    Trus KEPO am kelanjutanx.😆.
    Ngomong” ceritax makin keren ajh ni,wkwkwk😆.
    Ditungguya next chapx,jangan klamaan juga ya authornim takutx lumutan/berjamur ni nunggux.hehehe😆😅
    (mohon Maap kebanyakan maux diriku ini,hehehe😆😅😅)

    Itu ajh sih thor,hehehe😉
    Semangat,FIGHTING✊

  5. Sbnernya rada aneh sih klo ada org yg klo ngmong kluar kupu2…
    Knpa kpalanya jiyong smpe sakit klo ngeliat kupu2 kluar dr mulut taetae ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s