Beautiful Lies (Chapter 12)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6|Chapter 7 Chapter 8 | Chapter 9Chapter 10Chapter 11

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY

WARNING! 18++ ( like you’ll really care about that haha)

Gyeongsang Province, Daegu, Seoul, South Korea. Pukul 18.00 KST

Joohyun, gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya yang terurai begitu indah di punggungnya dan seseorang yang memiliki sejuta pesona itu tengah duduk di kursi meja riasnya sambil memerhatikan sebuah bingkai foto yang diletakkan di atas meja. Ia mengambil foto tersebut dan tersenyum kecil.

Itu fotonya dengan kakak sepupunya.

Di dalam foto tersebut, keduanya saling berpose, tersenyum lebar ke arah kamera dan tampak tidak ada beban sama sekali

Di dalam foto tersebut, keduanya saling berpose, tersenyum lebar ke arah kamera dan tampak tidak ada beban sama sekali. Keduanya sama-sama cantik, dengan senyuman mereka yang sangat manis. Mereka sangat dekat, sampai-sampai orang mengira mereka itu kembar. Mereka sangat dekat dengan wajah yang bisa dikatakan mirip. Orang yang tidak tahu mereka, pasti akan bependapat bahwa keduanya adalah kakak dan adik.

Dia berasal dari Daegu. Kakak sepupunya itu berasal dari Jeonju. Meskipun begitu, mereka tinggal bersama di Seoul. Joohyun sekolah, sedangkan kakak sepupunya itu menjadi seorang trainee di sebuah agensi besar yang ada di Korea Selatan.

Kakak sepupunya yang sangat dia sayangi, yang sangat dia hormati, yang sangat dia junjung tinggi lebih dari siapapun selain kedua orangtuanya sendiri. Kakak sepupunya yang sudah dia anggap sebagai kakak kandung, yang selalu menjadi panutan dan motivator di hidupnya.

“Setelah lulus sekolah, kau ingin melakukan apa, Hyunnie?”

Hyunnie. Nama kesayangan dari kakak sepupunya itu, yang sama sekali tidak pernah disebut oleh orang-orang yang dikenalnya.

“Naneun? Aku ingin mencari beasiswa di luar negeri dan menjadi model catwalk terkenal di Paris, eonni,”

“Ah, kebetulan aku ada informasi mengenai sekolah modelling di Paris. Kau mau? Biar aku yang mengurusnya. Ingat, kau harus mengejar cita-citamu setinggi apapun itu. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, uri Hyunnie,”

Joohyun tersenyum semakin lebar ketika ingatannya berputar kembali ke masa lalu, ke masa di mana dirinya masih merasakan kasih sayang sang kakak yang begitu dalam, masa di mana dia masih bercerita panjang lebar dan tak penting dengannya, masa di mana mereka masih saling bertengkar karena hal tak penting dan lima menit kemudian langsung berbaikan.

Joohyun meletakkan pigura itu kembali di tempatnya dan langsung terisak. Senyuman manisnya yang tadi ia tunjukkan hilang begitu saja. Tubuhnya berguncang karena isakannya yang semakin menjadi-jadi. Ia menangis layaknya kehilangan sesosok ibu. Hatinya begitu pilu, seakan-akan ada palu tak kelihatan yang merontokkannya. Tersedu-sedu, Joohyun menghapus air mata di kedua pipinya yang langsung basah hanya beberapa detik. Namun, percuma saja. Air matanya tak kunjung berhenti.

Ini semua karena pengkhianatan besarnya pada sang kakak. Ini semua karena dirinya yang sudah menyakiti dan merusak kehidupannya. Dengan kedua tangan Joohyun sendiri, ia menghapus senyuman manis dan kebahagiaan di wajah cantik kakak sepupunya itu.

“Sebenarnya, jawabanmu adalah penentu hidupku. Jika kau berkata ya, mungkin aku akan membukakan pintu maafku untukmu dan memberikanmu kesempatan,”

Dengan sekuat tenaga, Joohyun memaksakan tangisnya agar berhenti. Ia kembali menghapus air matanya dan mengambil ponselnya yang berada di atas tempat tidur. Belum sempat ia mengetik password, ponselnya berdering ada telepon masuk.

TaeTae eonni.

Joohyun terkesiap. Tak menyangka kalau orang yang dari tadi memenuhi fikirannya dan membuat dirinya menyesal seumur hidup kembali menghubunginya. Untuk pertama kali semenjak tiga tahun terakhir ini.

“Yeoboseyo?” sapa Joohyun dengan suara serak habis menangisnya.

“Hyunnie,” panggil si penelepon.

Jantung Joohyun mencelos. Perutnya serasa diaduk-aduk dengan mixer dan entah kenapa ada kebahagiaan yang teramat besar ketika ia mendengar nama itu kembali disebut oleh orang yang telah memberikannya. Memory itu kembali berputar dan rasa rindu itu kembali menguak dalam dirinya.

“Eonni?”

“Aku ingin minta tolong padamu. Bisa?”

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Joohyun sampaikan padanya. Ada ribuan kata menyesal yang ingin Joohyun utarakan. Tapi, karena kakaknya ini sedang butuh bantuannya, Joohyun akan siap melakukan apa saja agar dapat menolongnya. Apapun itu, meski dosa dan kejahatannya tidak akan pernah bisa terbayarkan.

“Mwondaeyo?” tanya Joohyun.

“Aku belum pulang ke apartemen. Ada urusan yang harus aku selesaikan hari ini. Mendadak sekali. Dan Lauren pasti sedang menungguku. Walaupun Mino ada di apartemenku juga, menemani Lauren, aku yakin dia tidak bisa mengurus si kecil sendirian. Apa kau bisa mengurus Lauren? Hanya hari ini saja. Hanya memandikan dan menyiapkan makan malamnya,”

“Kenapa aku, eonni?” tanya Joohyun.

“Kenapa? Nado mollaseoyo. Sebagian karena Tiffany dan Hyorin eonni sedang sibuk bekerja dan sebagian lagi karena… Sebagian besar lagi karena kau adalah Bae Joohyun,” jawab si penelepon, yang membuat Joohyun semakin merasa bersalah. “Apa kau mau? Kalau kau sibuk, aku paham. Aku akan…,”

“Aniya,” sela Joohyun cepat. “Aku bisa, eonni. Hanya malam ini, aku bisa,”

“Gamsahamnida, uri Hyunnie,”

“Eonni,” panggil Joohyun sebelum orang yang ada di ujung telepon memutuskan sambungannya. “Gomawoyo karena sudah memercayaiku. Gomawo karena aku bisa mendengar suara dan panggilan itu lagi. Cepat pulang dan semoga urusanmu cepat selesai,”

Meskipun gadis yang dipanggil Joohyun ‘eonni’ itu diam tidak menjawab, tapi Joohyun dapat merasakan kakak sepupunya tersebut tersenyum lembut di sana. Joohyun ikut tersenyum dan rasanya ia ingin sekali memeluknya.

“Aku percaya padamu selama ini, Hyunnie-ah,”

~~~

Taeyeon kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah ia menghubungi Joohyun untuk menjaga Lauren malam ini di apartemen, karena gadis itu pun masih duduk diam di halte dekat kondo Jiyong. Ia belum mau pulang dan tidak bisa pulang ke apartemen dengan hati yang tidak tenang setelah mengetahui apa yang akan dilakukan Jiyong di dalam kondonya.

Ia tidak tahu kenapa bisa menghubungi adik sepupunya itu lagi, setelah tiga tahun terakhir mereka memutuskan komunikasi dan menganggap satu sama lain tidak saling kenal. Padahal sejak mereka kanak-kanak, Joohyun selalu menempel dan cerita banyak hal, yang sebagian tidak penting padanya.

Taeyeon masih ingat, orang-orang yang melihat mereka, yang tentu tidak kenal siapa mereka, pasti akan menganggap Taeyeon dan Joohyun saudara kembar. Ke mana-mana selalu bersama ditambah lagi wajah mereka berdua yang bisa dibilang mirip. Taeyeon juga masih ingat betapa sayangnya dia pada gadis itu. Bahkan sampai detik ini juga begitu. Rasa sayangnya masih sama besarnya seperti dulu. Ah, ralat. Bahkan jauh lebih besar lagi.

Gadis itu menunduk dan tersenyum sedih. Alasan dia tidak bisa menerima Jiyong di dalam hidupnya bukan hanya karena Mino dan Lauren. Tapi karena Joohyun juga. Jiyong dan Joohyun adalah sepasang kekasih yang saling mencintai sebelum Jiyong mengenal Taeyeon. Sejak tahu mereka putus karena dirinya, tidak satu hari pun Taeyeon merasa sangat menyesal dan bersalah. Tapi hati kecilnya justru mengabaikan itu dan tetap membiarkan Jiyong berada di sisinya, bahkan membuat Jiyong terlalu berharap.

Sebesar apapun kesalahan yang diperbuat Joohyun padanya di masa lalu, Taeyeon tidak akan pernah bisa menyakiti adik kecilnya itu.

Hyunnie-nya.

Sebelum dia pergi jauh bersama Lauren dan Mino ke Kanada, Taeyeon ingin memperbaiki hubungannya dengan Joohyun. Tidak mungkin selamanya mereka akan terus saling mendiamkan dan menganggap satu sama lainnya sebagai orang asing. Dan Taeyeon akan membuka lembaran baru untuk mereka berdua. Dia berjanji tidak akan menguak dan mengungkit-ungkit masa lalu mereka.

Masa lalu Joohyun yang kelam. Biarlah Taeyeon yang menjaganya, selamanya.

~~~

Begitu sambungan telepon diputus oleh Taeyeon, Joohyun langsung mengambil jaket dan tas tangannya lalu bergegas keluar dari kamar. Ia buru-buru turun dan menemui ayah dan ibunya yang tengah menonton TV di ruang keluarga sembari sesekali mengobrol.

“Eomma, appa,” panggil Joohyun.

Kedua orangtuanya menoleh menatap Joohyun.

“Ada apa, ahga?” tanya Mr. Bae.

“Duduk sini dan bergabunglah dengan kami, sweety,” ajak Mrs. Bae sambil menepuk tempat di sampingnya.

“Aniya. Aku ingin pergi ke Seoul, eomma, appa,” jawab Joohyun. “Ada hal penting yang harus aku kerjakan. Dan hanya malam ini.”

“Biar appa yang mengantarmu,” ujar Mr. Bae. Ia berdiri dari sofa dan hendak mengambil kunci mobilnya saat Joohyun kembali melarang.

“Aku bisa pergi sendiri, appa. Gwaenchanna, istirahat dan temani saja eomma, eoh?”

“Arraseo, kalau begitu berhati-hatilah, Baechu-ah,” ujar Mr. Bae.

“Sayang, setelah selesai dengan urusanmu, kalau masih ada waktu, datanglah ke apartemen Taeyeon. Kau belum menemuinya selama tiga tahun ini, ‘kan? Kau tidak merindukannya? Baby Lauren sudah tumbuh besar jadi gadis kecil yang sangat cantik. Seperti ibunya,” ujar Mrs. Bae sambil tersenyum manis pada Joohyun. “Datang dan lihatlah mereka. Kemarin mereka datang berkunjung tapi kau belum pulang,”

Joohyun balas tersenyum dan ia mengangguk. “Aku akan berkunjung, eomma,”

“Titip cium sayang untuk uri Laurennie, okay?” tambah Mr. Bae.

Joohyun tertawa. “Kalian pasti sangat menyayangi Lauren kecil. Syukurlah. Aku merasa sangat bahagia, eomma, appa. Dan satu hal lagi…,”

“Apa itu?”

“Ingatlah bahwa aku selalu menyayangi eomma dan appa. Maafkan aku jika selama ini aku sudah menyakiti kalian. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kalian kecewa,” lirih Joohyun. “Aku pergi, eomma, appa,”

Joohyun membungkukkan badannya ke arah kedua orangtuanya lalu bergegas keluar dari rumah, menghiraukan panggilan dari ibu dan ayahnya.

“Ada apa dengan uri Joohyunnie, yeobo?” bisik Mrs. Bae pada suaminya dengan raut wajah khawatir sekali. Ayah Joohyun hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap kepergian putri semata wayangnya tersebut.

~~~

“Appa, aku mengantuk. Apa eomma masih lama lagi? Aku juga lapar,” lirih Lauren pada Mino, yang baru saja selesai mengangkat telepon dari Taeyeon. Gadis kecil itu tengkurap di atas sofa dan memejamkan kedua matanya. Bibir merah alaminya mengerucut, tanda ia sangat bosan, membuat wajahnya semakin terlihat menggemaskan.

“Eomma akan pulang lebih terlambat dari pada biasanya, ahga. Pekerjaan, sweetheart,” jawab Mino. Ia mengarahkan kedua kakinya dan duduk di samping Lauren, yang sebentar lagi akan jatuh ke dunia mimpinya. “Kau mau tidur? Bukannya tadi bilang lapar?”

“Apa appa bisa memasak? Bisa memandikanku? Eomma selalu memandikanku sebelum kami makan malam,” sungut Lauren. “Aku akan bangun saat eomma pulang atau saat Hyorin dan Tiffany imo datang berkunjung,”

“Ah, kalau begitu kau tidur dan appa akan menyanyikan sebuah lagu untukmu,” tawar Mino.

“Aniya!” tolak Lauren. Ia menolehkan wajah cantiknya untuk menatap Mino. “Nyanyian appa selalu kasar dan sangat cepat. Tidak lembut seperti eomma,”

“Ya, babygirl. Itu namanya rap style, hiphop genre. Appa akan banyak mengajarimu setelah ini, eoh? Yong ahjussi juga sering melakukannya, ‘kan? Appa belajar dari dia soalnya,” tukas Mino.

“Ne, yang appa dan ahjussi lakukan itu membuat kepalaku sakit,” ejek Lauren dan ia segera memejamkan kedua matanya, pura-pura tidur.

“Kalau kau tidur, appa akan pulang dan makan enak di restaurant favorit kita, masih ingat? Yang kemarin siang kita makan di sana, baby Laurennie,” ancam Mino.

“Ya! Appa curang!” seru Lauren. Ia melemparkan bantal sofa ke arah wajah tampan Mino dan segera ditangkap laki-laki itu sambil tertawa keras. Diletakkannya kembali bantal itu lalu diangkatnya tubuh mungil Lauren ala bridal style.

“Apa sekarang waktunya pajama party?” tanya Mino sambil memutar-mutar tubuh si kecil Lauren dalam gendongannya, membuat Lauren tertawa kencang karena merasa diayun-ayunkan dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

“Appa, jangan lepaskan!” seru Lauren disela-sela tawanya saat Mino hendak berpura-pura menjatuhkan Lauren dari genggamannya. Lauren mengalungkan kedua lengannya di leher Mino dan mendekap erat sang ayah. Mino masih sibuk asyik mengayunkan-ayunkan tubuh putri kecilnya sekaligus melemparkannya ke atas sesekali.

Beberapa detik kemudian, bunyi bel pintu apartemen Taeyeon berbunyi tiga kali, membuat Mino menolehkan wajahnya ke arah pintu dan berhenti bermain bersama Lauren. Digendongnya gadis kecil itu dan kedua kakinya langsung mengarah menuju intercom untuk melihat siapa yang datang malam-malam begini ke apartemen Taeyeon.

Joohyun.

Kedua iris cokelat pekat Mino terbelalak kaget. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu yang akan datang untuk mengurusi Lauren malam ini. Taeyeon memang sudah mengatakan kalau dia sudah minta tolong seseorang untuk datang ke apartemennya malam ini, menggantikan dirinya memandikan dan memasak makan malam untuk Lauren. Tapi Mino tidak bertanya siapa. Ia merasa yakin kalau yang dimaksud Taeyeon adalah Hyorin atau Tiffany, seperti biasanya.

“Appa, buka pintunya,” ujar Lauren, menyadarkan Mino dari lamunannya.

Mino tersentak kecil dan ia mengangguk. Dibukanya pintu apartemen dan sosok Joohyun dengan setelan jaket kulit warna hitamnya dipadukan kaos bergaris hitam putih ada di hadapan mereka berdua. Joohyun tersenyum kecil, agak canggung, memandang Mino dan Lauren secara bergantian.

 Joohyun tersenyum kecil, agak canggung, memandang Mino dan Lauren secara bergantian

“Imo!” seru Lauren begitu ia melihat wajah Joohyun. Raut wajah kikuk gadis itu berubah menjadi berbinar-binar saat Lauren memanggil dirinya dengan penuh kebahagiaan.

“Annyeonghaseyo, Mino-ssi, Laurennie,” sapa Joohyun. Ia membungkukkan tubuhnya pada Mino dan melambaikan telapak tangannya pada Lauren dengan penuh semangat.

Mino tersenyum kecil dan membungkukkan sedikit kepalanya ke arah Joohyun. Ia menurunkan tubuh kecil Lauren dan si kecil itu langsung menghampiri Joohyun. Ia bahkan menggandeng tangan kanan Joohyun, menariknya masuk ke dalam apartemen.

“Apa imo datang ke sini untuk bertemu dengan eomma?” tanya Lauren sembari menggiring Joohyun untuk duduk di sofa apartemennya. Mino mengikuti mereka berdua dengan menampilkan senyum tipis di wajah tampannya. Ia ikut duduk di hadapan Joohyun dan Lauren.

“Kalau imo bilang ingin bertemu denganmu, bagaimana?” Joohyun balik bertanya pada Lauren. Ia menatap kedua manik mata Lauren lekat-lekat.

“Untuk apa? Bermain? Tapi aku tidak ingin bermain untuk saat ini, imo. Perutku lapar sekali. Dan aku belum mandi sejak pulang dari sekolah tadi. Seseorang menjemput dan ada bersamaku tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain bermain dan bernyanyi dengan gaya khasnya yang membuat kepalaku sakit. Dia menyebutnya sebagai hiphop style atau apalah itu,” terang Lauren. Ia bersedekap dan melirik Mino beberapa kali, berusaha mengirimkan kode pada Joohyun dengan lirikannya itu.

Mino, yang merasa dibicarakan hanya tertawa gemas melihat putri kecilnya tersebut. Joohyun juga ikut tertawa. Ia mengangkat Lauren dan mendudukkan gadis cantik itu di sisi kanannya.

“Tidak usah bawa-bawa appa kalau kau hanya ingin minta dibuatkan makan malam, little baby,” balas Mino. “Dan sepertinya Joohyun imo suka dengan nyanyian rap. Aku yakin ia pasti akan suka setelah appa memperlihatkannya,”

Kedua mata Joohyun mengarah menatap Mino. Yang ditatap hanya tersenyum simpul dan melirik sekilas pada gadis itu.

“Kau lapar, Laurennie?” tanya Joohyun. Ia mengelus lembut ubun-ubun kepala Lauren dengan kasih sayangnya. “Mau makan apa? Aku akan membuatkannya untukmu. Apa makanan yang kau sukai, sayang?”

Lauren tersenyum lebar pada Joohyun dan ia langsung menunjukkan wajah menggemaskannya. “Aku suka setiap masakan yang eomma buat,”

“Kalau begitu salah satunya? Atau ada yang paling ingin kau makan saat ini?”

“Saat ini, aku ingin makan masakan yang imo buat. Masakan yang imo buat khusus untukku dan appa,” jawab Lauren dengan tegas. “Seperti special dinner?”

Special dinner? Arraseo, aku akan buat sesuatu yang special untuk Lauren dan appa malam ini. Laurennie mau membantu imo? Kita berdua bisa sama-sama belajar di dapur, eoh? Imo akan mengajarimu bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga suatu hari nanti,” ujar Joohyun.

“Tentu saja aku akan membantu!” seru Lauren dengan semangatnya yang berapi-api. “Ini akan jadi sesuatu yang sangat menyenangkan,”

Joohyun tersenyum manis dan ia segera dibawa kembali oleh Lauren menuju dapur. Mino kembali mengekori dan entah kenapa ada perasaan hangat yang menyelimuti relung hatinya saat melihat keakraban antar Joohyun dan Lauren. Momen yang sudah lama sekali ia nantikan semenjak bertahun-tahun yang lalu.

Lauren membukakan pintu kulkas dan menunjukkan bahan-bahan makanan yang tersedia pada Joohyun. Joohyun mengangguk dan segera mengambil semua bahan itu sembari memberitahukan nama-namanya pada Lauren. Karena memang cerdas dari lahir, Lauren langsung mengingat apa yang diberitahukan Joohyun.

Mino, yang dari tadi hanya diam bersandar pada dinding dapur, mendadak bergerak dan mengambil sebuah apron warna merah muda yang terlipat rapi di dalam lemari piring milik Taeyeon. Ia membuka apron itu dan menyerahkannya pada Joohyun saat gadis itu tengah mengajari Lauren cara memecahkan sebuah telur.

“Pakailah ini,” saran Mino.

Joohyun menoleh dan memandangi Mino serta apron merah muda itu secara bergantian. Ia mengangguk dan tersenyum mengucapkan terima kasih.

“Appa, lebih baik kau menunggu saja di meja makan. Bukankah di drama-drama seorang suami menunggu sedangkan istri yang masak?” tanya Lauren.

Mino dan Joohyun sama-sama terdiam. Sejurus kemudian, Joohyun berbalik dan mulai sibuk untuk memasak, tidak menanggapi gadis kecil itu.

“Arraseo, my little wife, Laurennie Hanna. Aku akan menunggu di sana dan lebih baik selesaikan masakannya dengan cepat. Perut suami tampanmu ini sudah berisik dari tadi,” ujar Mino dengan memasang wajah murungnya. Ia melambaikan tangannya pada Lauren, yang hanya tertawa mendengar candaan sang ayah.

“Pabo appa. Padahal maksudku istrinya itu adalah Joohyun imo,” ucap Lauren, yang membuat Joohyun langsung menatap wajah si polos Lauren. “Imo, setelah ini, bagaimana kalau kita mandi bersama?”

Joohyun hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, setuju. Mendapat respon itu, Lauren menampilkan senyum lebarnya dan ia mulai memerhatikan Joohyun memasak. Satu jam lebih lamanya mereka berdua di dapur. Selain memasak, terdengar suara tawa, jeritan kecil, dan beberapa peralatan memasak yang berjatuhan ke lantai. Mendengar itu, Mino tersenyum dari ruang keluarga. Ia yakin sekali Lauren benar-benar menikmati waktunya bersama dengan Joohyun. Apalagi, selama ia bersama dengan Lauren semenjak pertemuan pertama mereka, jarang sekali Lauren tertawa begitu keras dan terbahak-bahak seperti saat ini.

Suasana di dalam apartemen, pun mendadak hangat dan penuh cinta. Joohyun memasak tidak hanya satu dish, melainkan lima dish, yaitu Kimchi, Bibimbap, Jjajangmyeon, Japchae, dan yang terakhir adalah Miyeokguk (sup rumput laut). Lauren makan dengan senyuman lebar yang tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Ia bahkan dengan manjanya meminta suap pada Joohyun dan menghabiskan semua makanan yang Joohyun berikan. Sesekali mereka bercanda tawa karena mulut Lauren yang dipenuhi makanan.

Lauren juga sering, bahkan setiap hari manja dan lengket pada Taeyeon, dan Mino menyaksikannya sendiri. Tapi entah kenapa, ia merasa berbeda dengan perilaku manja dan banyak maunya Lauren pada Joohyun.

Seakan-akan mereka sudah dekat sejak Lauren lahir ke dunia ini.

“Imo,” panggil Lauren, saat ia baru saja menelan sesuap besar Jjajangmyeon ke dalam mulutnya. “Kenapa masak sup rumput laut? Apa ada yang ulang tahun hari ini?”

Joohyun tersenyum. “Appa akan berulang tahun minggu depan,”

Lauren tertawa. “Kalau begitu masaklah di hari itu juga. Kenapa hari ini?”

“Karena… Bukankah malam ini adalah special dinner? Kalau minggu depan kemungkinan imo tidak bisa,” jawab Joohyun.

“Appa dapat ucapan selamat ulang tahun yang pertama dari Imo,” ucap Lauren pada Mino, yang mendadak mematung di tempatnya duduk sambil memandangi Joohyun. “Dan aku ingin menjadi orang terakhir yang mengucapkannya. Mungkin dua minggu kemudian,”

Joohyun tertawa. Ia mengacak-acak rambut lebat Lauren dengan gemas.

Selesai makan malam, Mino langsung meminta Joohyun untuk memandikan gadis kecilnya sedangkan dirinya yang membereskan sisa-sisa makanan di meja makan dan mencucinya. Acara memandikan Lauren pun cukup memakan waktu lama, karena Lauren meminta punggungnya digosokkan dan bermain-main air selama berendam air panas di bathup.

Hingga akhirnya Lauren sudah berbaring di atas tempat tidurnya dengan memeluk kedua boneka kucing pemberian Joohyun. Joohyun tersenyum manis ketika ia selesai menyisiri rambutnya dan menghampiri Lauren.

“Sudah mengantuk, ‘kan? Tidurlah, besok uri Laurennie harus sekolah pagi-pagi sekali,” ujar Joohyun dengan suara lembutnya bak seorang ibu.

Lauren balas tersenyum. Ia memandangi wajah Joohyun dalam-dalam. Kedua matanya mulai sayu. “Imo. Malam ini sangat menyenangkan sekali. Imo datang dan membuatku bahagia. Imo orang yang hangat sekali. Boleh aku dipeluk sampai aku tidur lelap?”

Joohyun terkesiap mendengar permintaan dari bidadari kecil itu. Ia merasakan ada getaran dan desiran lembut menyapu hati kecilnya yang paling dalam. Getaran yang membuatnya entah kenapa ingin menangis bahagia.

“Tentu saja,” lirih Joohyun.

Ia naik ke atas tempat tidur Lauren dan segera mendekap tubuh mungil si kecil yang mengeluarkan harum lavender, wangi khas seorang Kim Taeyeon. Lauren, pun balas memeluk Joohyun dan kedua matanya langsung terpejam rapat-rapat. Joohyun juga tak lupa menepuk-nepuk pelan dan membelai surai panjang Lauren agar gadis kecil itu cepat terlelap. Dan benar, tidak sampai lima belas menit mereka berbagi kehangatan, Lauren sudah jatuh ke dunia wonderland-nya.

Mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Lauren, Joohyun dengan perlahan-lahan sekali bangkit dari tempat tidur dan membenarkan posisi tidur si kecil. Diselimutinya tubuh Lauren dan dikecupnya dalam dahi gadis itu.

“Eomma, eomma,” igau Lauren ketika Joohyun hendak bangkit untuk keluar dari kamar. “Eomma, kajima. Jebal,”

Joohyun sedikit panik dan ia langsung menggenggam telapak tangan kanan Lauren yang mungil. Tangannya sedikit berkeringat dan dahinya juga berkerut. Begitu Joohyun menggenggam tangan mungilnya, Lauren mengeratkan genggaman itu, dengan masih memanggil-manggil ‘eomma’ dalam tidurnya.

“Laurennie,” bisik Joohyun. “Eomma ada di sini. Uljimayo, eoh? Eomma ada di sini. Eomma tidak akan pergi kemana-mana. Eomma janji. Uljimayo, uri ahga,”

Suara lembut dan halus yang menenangkan milik Joohyun seakan-akan memiliki magic tertentu untuk Lauren. Gadis kecil itu mulai tenang dan berhenti mengigau. Dahinya juga tidak berkerut lagi. Dan Joohyun dapat merasakan genggaman Lauren perlahan mengendur, tapi Joohyun tidak langsung melepaskannya. Ia masih memandangi putri kecil itu dengan pandangan mata yang sangat terluka.

Air mata tanpa sadar jatuh ke kedua pipi gadis yang bernama lengkap Bae Joohyun itu. Ia menangis dalam diam, terisak-isak tanpa suara. Bibirnya bergetar hebat menahan perihnya luka sayatan yang mencabik-cabik ulu hatinya. Kedua bahunya berguncang menahan emosi yang meledak-ledak dalam dirinya. Giliran genggamannya pada Lauren yang menguat, tanpa berniat membangunkan gadis mungil itu.

Ia tidak ingin melepaskan genggamannya dari Lauren. Tidak sama sekali. Bahkan ketika jeritan pertama dari sang bayi terdengar, Joohyun tak pernah berfikiran untuk melepaskan genggamannya, menyerahkannya pada orang lain.

Tidak, ia tidak pernah rela sebenarnya. Ia tidak pernah mau melepas pelukannya pada Lauren. Perempuan mana yang sanggup berpisah dengan anaknya sendiri? Melihatnya bahagia dan memanggil ‘ibu’ pada orang lain di hadapannya, ibu mana yang tega?

Bahkan ketika ia membuat kesepakatan itu, detik berikutnya Joohyun langsung depresi saking menyesalnya. Berulang kali ia berniat bunuh diri saking merasa sangat bersalah dan berdosa. Dan sejak itu ia berjanji untuk kembali pulang, melihat kondisi putri kecilnya yang ternyata jauh dari kata sengsara.

Lauren bahagia. Bersama dengan Taeyeon. Senyum manja dan cerianya yang selalu ia tunjukkan pada Taeyeon membuktikan bahwa Joohyun telah gagal menjadi seorang ibu. Meskipun kebenaran dan fakta itu ia kuak, ia tidak akan pernah bisa memisahkan benang ibu dan anak yang sudah terjalin di antara Taeyeon dan Lauren selama tiga tahun lamanya.

Benang yang ia sendiri yang membuatnya, yang mengikatkannya begitu kuat pada Taeyeon dan Lauren. Ia memang mudah memutuskannya, tapi apakah hal itu justru membuat Lauren, gadis kecilnya, bahagia? Apakah hal itu akan membuat Lauren tersenyum dan kembali lagi padanya?

Tentu saja tidak. Putri kecilnya itu justru akan semakin membencinya dan menganggapnya tidak ada. Orang yang selama ini ada di sisinya sejak ia mengenal dunia adalah Taeyeon, orang yang dia panggil ‘eomma’, yang mengorbankan semuanya hanya untuk Lauren. Meskipun Joohyun menguak kebenaran dan menyesal seumur hidup, Lauren tidak akan pernah pergi dari sisi Taeyeon.

Yang harusnya pergi adalah dirinya. Sejak awal kebahagiaan Lauren bukan berasal dari Bae Joohyun. Mentarinya bukanlah Joohyun, melainkan Kim Taeyeon. Sungguh tidak tahu diri jika Joohyun tetap memaksakan kehendaknya. Melihat Lauren hidup bahagia dan dicintai banyak orang, sudah cukup untuk Joohyun.

Dan sekarang dirinya, lah yang harus pergi, mencari kebahagiaannya sendiri. Meskipun kebahagiaannya ada di tangan Lauren dan Song Minho.

“Eomma akan tetap menjaga dan melindungimu dari kejauhan, ahga. Berdoa di setiap langkahku untuk kebahagiaanmu. Eomma tidak akan pernah jauh. Eomma akan selalu ada di hatimu. Selamanya,” bisik Joohyun. Air matanya sudah tumpah membasahi bantal Lauren. “Baik-baiklah dengan Taeyeon eomma dan appa. Selalu bahagia dan jangan pernah lupa untuk tersenyum di masa-masa sulit sekalipun. Eommado…akan selalu bahagia dan tersenyum manis sembari mengingat dirimu,”

Joohyun tersenyum manis pada wajah damai Lauren. Ia mengecup dahi, kedua pipi, dan hidung Lauren dengan perasaan kasih sayang dan cintanya yang teramat dalam untuk sang buah hati. Lelehan air mata turut serta dalam ciuman perpisahan itu.

“Saranghaeyo, uri ahga. Annyeong,” bisik Joohyun. Dan ia melepas genggamannya di tangan Lauren, bangkit dan keluar dari dalam kamar tersebut.

Di luar kamar, Joohyun segera menghapus air matanya dengan cepat sebelum Mino mendatanginya. Terlambat, Mino sudah ada di hadapannya saat ia menutup pintu kamar Lauren.

“Joohyun-ah,” panggil Mino, yang terkejut dengan wajah merah dan basah Joohyun. “Neo gwaenchanna?”

Joohyun tersenyum, berusaha menghentikan sisa-sisa air matanya yang masih saja jatuh dan mengangguk pada Mino. “Aku hanya merindukan Lauren. Sampai seterusnya aku pasti akan merindukannya,”

Mino terdiam mendengar kata-kata Joohyun. Ia hanya memandangi gadis itu dalam-dalam dengan sorot mata yang begitu sedih, sampai-sampai tidak ada lagi cahaya yang dapat menyinari kedua netra laki-laki itu.

“Terima kasih sudah memberikanku kesempatan yang sangat berharga ini untuk menemui dan sedikit mengenal Lauren. Terima kasih sudah memberikanku waktu untuk menyapanya meskipun dengan sosok ‘Joohyun imo’, jeongmal gamsahaeyo,” lirih Joohyun. “Aku minta maaf atas segalanya. Aku wanita yang buruk, sangat buruk dan aku tidak akan pernah bisa membahagiakan Lauren seperti yang Taeyeon eonni lakukan selama ini. Meskipun aku menyesal melakukannya, tapi dengan kebahagiaan yang terpancar di wajah Lauren, aku tahu seharusnya aku bersyukur.

“Neodo, Mino-ah. Karena kau sudah sampai di tahap ini, tetap pegang teguh janjimu untuk selalu membuat Taeyeon eonni dan Lauren tersenyum. Bahagiakan mereka karena mereka adalah mutiara berharga untukku. Mereka nyawaku, dan aku tidak ingin mendengar kau membuat mereka sakit. Karena jika mereka terluka, aku mati,”

Mino tetap diam seribu bahasa. Wajahnya memerah dan air mata tak kunjung berhenti mengalir dari pelupuknya. Joohyun tersenyum sekaligus terisak di waktu yang bersamaan. Hati mereka berdua sama-sama terkoyak lebar, dan tidak ada yang bisa menyatukannya lagi selain dengan cara menjauhi si sumber luka.

 Hati mereka berdua sama-sama terkoyak lebar, dan tidak ada yang bisa menyatukannya lagi selain dengan cara menjauhi si sumber luka

“Salahku, tidak akan pernah bisa dimaafkan. Biarkan fakta itu hanya ada pada kita berempat, dan biarkan aku dalam belenggu dosaku sendiri. Aku tidak ingin menyakiti siapapun lagi, Mino-ah,” lanjut Joohyun.

“Aku juga bersalah,” balas Mino. Suaranya bergetar. “Aku bersalah, aku yang menyebabkanmu jatuh ke lubang paling dalam, Joohyun-ah,”

“Aku tidak akan pernah menyalahkan sebuah anugerah, Mino-ah,” jawab Joohyun.

“Keurom naneun? Naneun? Apa kau masih mencintaiku? Kau masih mencintaiku, ‘kan? Bahkan dengan Jiyong hyung waktu itu, perasaanmu tetap untukku, ‘kan?” tanya Mino tak sabar. “Kenapa kau seperti ini, Joohyun-ah? Kenapa selalu membohongi perasaanmu?!

“Aku berjanji untuk kembali. Aku sungguh-sungguh bersumpah akan kembali dan membangun semuanya denganmu. Tapi apa yang kutemukan? Kau pergi dan memutuskan untuk membuka lembaran baru tanpa Lauren. Aku benar-benar kecewa dan marah sekali padamu. Aku ingin membencimu tapi kenapa justru aku yang semakin merasa bersalah? Kau bahkan berkencan dengan kakak sepupuku sendiri,”

“Taeyeon eonni pernah bilang padaku, perasaan setiap orang itu tidak ada yang tahu sama sekali. Bahkan kita sendiri juga tidak bisa memutuskannya. Tapi satu hal yang aku tahu, Mino-ah. Bahwa aku memang masih sangat mencintaimu sejak pertama kali aku terjebak dalam jebakan manismu yang penuh sesat.

“Tapi, mari hentikan semua ini, eoh? Ini keputusanku, aku akan menjawabnya sekarang. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa kembali padamu dan mengungkapkan semuanya. Aku tidak ingin Lauren membenciku, membencimu, dan bahkan membenci dirinya sendiri ketika dia tahu ini semua. Tetap jaga rahasia ini sampai aku mati, sampai kapanpun itu. Tetap lindungi dan bahagiakan Taeyeon eonni dan Lauren apapun yang terjadi,” pinta Joohyun.

“Taeyeon noona dan Jiyong hyung sama-sama terluka karena ini, Joohyun-ah,” ujar Mino. “Kalau memang itu maumu, bisakah kau tetap di samping Jiyong hyung?”

“Aku tidak bisa terus-menerus menjadi seorang pendusta, Mino-ah,” tolak Joohyun. “Dan Jiyongie oppa, aku harap dia bisa segera menemukan seseorang yang seperti Taeyeon eonni. Karena selama ini, Jiyong oppa merasakan jatuh hati untuk pertama kalinya pada Taeyeon eonni, bukan padaku. Aku tidak ingin kami saling menyakiti hanya karena sama-sama kasihan.

“Setelah ini aku akan kembali ke Paris, mencari kebahagiaanku sendiri,” lanjut Joohyun. “Entah kita bisa bertemu lagi atau tidak, aku harap kita bisa bertemu dengan keadaan dan situasi yang jauh lebih membahagiakan dari sekarang. Tidak ada luka, tidak ada memori kelam, dan tidak ada lagi rasa sakit di antara kita. Ayo, kita tutup semua ini mulai detik ini juga, Mino-ah. Dan bukalah lembaran baru bersama Taeyeon eonni dan Lauren,”

Mino mengangguk dan ia menghapus air matanya. Ia memandang Joohyun dalam-dalam, berusaha keras untuk tidak kembali menangis dan bertindak egois demi diri sendiri.

“Kalau begitu, sebelumnya aku ingin mengatakan satu hal padamu, Joohyun-ah,” ujar Mino.

“Mwondae?”

“Bahwa aku mencintaimu dengan sangat. Di masa lalu, sekarang, dan sampai seterusnya, kau adalah cinta terindah yang pernah aku rasakan… Lauren eomma,”

Joohyun tersenyum dan kembali menangis. Lagi. Perasaannya campur aduk ketika Mino memanggilnya dengan sebutan itu. Lauren eomma. Panggilan yang untuk pertama dan terakhir kalinya ia dengar dari sosok yang begitu ia cintai.

“Nado, saranghaeyo. Neomu saranghae,” balas Joohyun.

Mino merentangkan kedua lengannya ke hadapan Joohyun. “Our last hug, will ‘ya?

Joohyun mengangguk dan ia segera berlari menghampiri Mino, menubruk dada bidang itu dan jatuh ke dalam dekapannya. Mino memeluk erat Joohyun, menghirup dalam-dalam wangi khas sosok yang dicintainya itu agar ia tetap mengingat gadis ini sampai kapanpun, di manapun ia berada. Dibelainya sayang surai hitam Joohyun yang lembut, membiarkan gadis itu kembali terisak dan membasahi kemejanya.

Tanpa ada satu pun dari mereka yang sadari, bahwa si kecil Lauren Hanna terduduk lemas dari balik pintu kamarnya, menangis tersedu-sedu dalam diam. Hatinya seakan tersayat-sayat dengan apa yang semua ini ia dengar.

Mimpi yang selalu mengganggu tidurnya. Dan semua hal yang ia curigai selama ini, ternyata merupakan fakta yang paling menyakitkan bagi seorang anak hingga ia tidak mampu lagi berdiri tegap.

Untuk saat ini, Lauren sendiri bingung dengan apa yang sedang ia tangisi. Fakta bahwa Taeyeon bukanlah ibunya melainkan Joohyun atau kepergian Joohyun dari hidupnya yang membuat lubang di hatinya semakin membesar.

Yang ia tahu, ia ditinggal pergi oleh ibunya untuk yang kedua kali.

~~~

Taeyeon bimbang. Dia sangat bimbang. Dia seperti orang bodoh yang berjam-jam sudah duduk di halte bus tanpa tujuan yang jelas. Berkali-kali dilihatnya jam digital yang ada di ponselnya tapi hatinya masih tetap bimbang untuk menggerakkan seluruh sendi yang ada di tubuhnya.

Pukul delapan. Sudah semakin malam. Apa dia pulang saja dan membiarkan Jiyong di kondonya dalam keadaan luka batin? Tentu saja tidak. Tapi Taeyeon juga tidak bergerak sama sekali dari halte itu. Dia masih bimbang, dia butuh jawaban untuk meyakinkan dirinya kalau ini langkah yang benar. Dia hanya takut semakin melukai perasaan Jiyong jika memunculkan kembali dirinya di hadapan laki-laki itu.

Mendengar percakapan Jiyong dengan perempuan tak dikenal, yang Taeyeon yakini adalah salah satu jalang di club tempat biasa Jiyong datangi, membuat Taeyeon terluka sekaligus cemas. Ia tidak menyangka sejauh ini langkah laki-laki itu untuk membuat dirinya kelihatan begitu buruk di mata Taeyeon. Ia tidak habis fikir, Jiyong begitu melukai dirinya sendiri sampai seperti ini hanya karena dirinya.

Tidak mungkin gadis itu meninggalkan Korea dengan perasaan yang sangat bersalah. Tidak mungkin baginya meninggalkan Seoul dengan menghancurkan laki-laki itu secara tidak langsung.

Ia hanya ingin Jiyong tahu, kalau selama ini semua usahanya sama sekali tidak sia-sia. Ia hanya ingin Jiyong tahu kalau Taeyeon begitu mencintainya, sama seperti dirinya. Taeyeon ingin Jiyong memahami posisinya, memahami keadaan mereka yang memang tidak bisa bersatu karena keadaan bagaimanapun caranya.

“Taeng, aku bukan orang yang bisa dia dengar. Dia keras kepala dan maunya sendiri. Kau tahu siapa yang selama ini hanya mau dia dengar,”

Ia ingin laki-laki itu tahu betapa berharganya dirinya. Dan akan ada seseorang yang jauh lebih baik, lebih cantik, lebih memahami dirinya dari pada Taeyeon sendiri.

Taeyeon bangkit dari tempat duduk halte itu dan mengepalkan kedua tangannya, memantapkan hati untuk melangkahkan kedua kakinya menuju gedung kondominium tempat Jiyong tinggal. Sesampainya ia di depan pintu kondo, satu box besar yang kosong bertengger manis tertangkap oleh kedua netra gadis itu.

Taeyeon memerhatikan box tersebut dan melihat ada merek alkohol terkenal dengan warning yang menyatakan betapa tinggi kadar yang dimilikinya.

Mungkin inilah kiriman yang perempuan di telepon itu maksud.

Tanpa membuang waktu, Taeyeon mengetik password pintu kondo Jiyong dan masuk ke dalamnya tanpa mengucapkan apa-apa. Ia menutup pintu itu dan langsung menggantikan password itu dengan yang baru. Ia sengaja melakukannya agar perempuan yang ditelepon Jiyong tidak datang. Dan gadis itu berjanji akan segera menggantinya dengan yang lama besok pagi.

Ia membalikkan tubuhnya dan mencari-cari laki-laki si pemilik kondo itu. Bau alkohol menyeruak ke seluruh ruangan dan berasal dari ruang utama. Dilihatnya Jiyong berdiri memandangi jendela kondo sembari meminum satu botol wine di tangannya dengan beberapa tegukan. Taeyeon dapat melihat di atas meja itu ada empat botol kosong yang habis ia minum.

 Taeyeon dapat melihat di atas meja itu ada empat botol kosong yang habis ia minum

“Mwohaneungeoya?!” pekik Taeyeon pada Jiyong.

Jiyong membalikkan tubuhnya dan mengernyit memandang Taeyeon. Ia menyesap sisa-sisa wine di botol ke lima dan meletakkannya di atas meja. Dengan seringaian sinisnya laki-laki itu kembali memandang Taeyeon.

“Mwohaneungeoya?” Jiyong balik bertanya. “Party. Kenapa kau ada di sini lagi? Bukankah kau sudah ku usir? Pergilah, salah satu jalang itu akan datang ke sini dan jangan ganggu kesenanganku, Kim Taeyeon. Kau sudah menghancurkan kebahagiaanku dan sekarang apa yang ingin kau lakukan? Menertawakan keterpurukanku, ‘kan? Kka, Song Minho sudah menunggumu dan akan mengajakmu ke Kanada. Kau jangan sampai telat,”

Taeyeon menghampiri Jiyong, yang sedang membungkuk untuk mengambil satu botol lagi tapi tangannya dicekal oleh Taeyeon. Taeyeon menatap kedua hazel Jiyong dalam-dalam dan air matanya tak dapat dibendungnya lagi. Hazel itu, tak secerah biasanya. Gelap dan seperti tak ada kehidupan lagi.

“Kau ingin mati? Jangan seperti ini, jebal. Jangan hancurkan dirimu sendiri hanya karena aku!”

Jiyong menepis tangan Taeyeon secara kasar dari lengannya dengan nafas memburu. “Kau siapa? Kau siapa seenaknya menyuruhku untuk jangan mati? Melihatmu pergi sama saja dengan menyuruhku untuk mati, Taeyeon-ssi. Sekarang, fikirkanlah kehidupanmu sendiri dan aku juga begitu. Jangan campuri urusanku lagi karena aku tidak ingin tahu apa-apa tentangmu mulai detik ini,”

“Aniya,” isak Taeyeon. “Jika kau tidak ingin hidup karena aku, fikirkanlah orang-orang terdekatmu, orang-orang yang kau sayangi. Fikirkan mereka. Jangan seperti ini. Aku percaya, suatu saat nanti kau pasti akan menemukan seseorang yang jauh lebih berarti dariku. Itu sebabnya, tunggu dan carilah dengan sabar,”

Jiyong tertawa mengejek dan ia melonggarkan dasinya. “Kalau begitu, itu urusan nanti. Sekarang, yang aku inginkan adalah sedikit bersenang-senang, bernostalgia. Kau keluarlah, sebelum aku yang memaksamu,”

Taeyeon mundur perlahan beberapa langkah. Ia memandang Jiyong dengan tatapan terlukanya.

“Jiyong-ssi, aku minta maaf untuk segalanya. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku juga tidak ingin kejadian seperti ini terjadi. Aku juga tidak ingin terjebak dalam situasi sulit seperti ini. Aku juga tidak pernah ingin menyakiti perasaanmu sejak awal. Seandainya saja aku bisa sedikit egois, aku pasti akan lebih memilih untuk tetap berada di sisimu. Seandainya saja… Seandainya saja kau tahu, aku percaya pada perasaanmu selama ini. Aku menghargainya. Karena aku pun juga begitu,”

Jiyong menolehkan tatapannya pada Taeyeon dengan pandangan terkejut. Ia melihat wajah gadis itu sudah dipenuhi air mata dan sama sekali tidak ada tanda-tanda kebohongan di matanya ketika ia mengucapkan kata-kata itu.

“Karena aku juga begitu mencintaimu,” lirih Taeyeon. “Tapi aku mohon kau mengerti dengan situasiku ini. Situasi kita berdua tidak memungkinkan sama sekali, ‘kan? Kau fikir hanya dirimu yang merasa sakit? Asal kau tahu saja, akulah yang jauh lebih sakit selama ini, Jiyong-ssi. Aku membunuh perasaanku sendiri, menyakiti hatiku bukan diriku hanya demi orang-orang yang aku sayang bisa bahagia. Bisakah kau seperti itu juga? Padaku?

“Kalau kau memang benar-benar mencintai dan menyayangiku, tidak bisakah kau memikirkanku yang akan hancur dengan melihatmu seperti ini? Bagaimana bisa aku tenang pergi ke Kanada jika kau berniat membunuh dirimu sendiri?! Aku tersiksa sekali melihatmu begini. Jebal, sayangi dirimu karena ada begitu banyak orang yang menyayangimu di luar sana. Cintai dirimu, anggap aku sebagai bagian dari dirimu juga. Kalau kau menghancurkan dirimu dan membuatku tersiksa, mungkin berita kematianku akan sampai lebih cepat dari dirimu,”

“Mwo? Kau juga mencintaiku? Apakah itu sebuah kebohongan baru yang kau ciptakan lagi?” tanya Jiyong dengan sarkasnya.

“Untuk kali ini, aku tidak akan lagi berbohong padamu, pada perasaanku. Aku ingin menyampaikannya padamu sebagai kata-kata terakhirku agar kau tahu, kau seseorang yang sangat berharga, yang terlalu berharga untuk disakiti seperti ini. Kumohon maafkan aku. Jangan siksa dirimu dan juga aku. Jangan sakiti lagi dirimu karena kau pantas bahagia,”

Baik Taeyeon maupun Jiyong sama-sama diam. Keduanya saling memandang ke dalam manik mata satu sama lain, yang sama-sama memancarkan luka dan kesedihan yang mendalam. Hingga Jiyong memutuskan untuk mengalihkan tatapannya dari wajah cantik gadis itu.

 Hingga Jiyong memutuskan untuk mengalihkan tatapannya dari wajah cantik gadis itu

“Kata-katamu tak akan mengubah apapun,” desis Jiyong.

Seperti palu yang menghantam perasaannya, Taeyeon merasakan hatinya luar biasa sakit. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk membawa Jiyong keluar dari keterpurukannya? Ia juga sama terpuruknya dan tidak bisa melakukan banyak hal selain ini.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima semua ini. Aku tidak bisa memaksakan apa-apa selain terima kenyataan dan membahagiakan orang-orang tersayangku. Meskipun aku sangat menyayangimu, tapi aku tidak bisa mengambil langkah untuk berada bersamamu, bahagia bersamamu. Karena ada seseorang yang jauh lebih membutuhkanku di dunia ini. Kalau kau memang tetap ingin menghancurkan dirimu hanya karena aku tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang jauh lebih mencintaimu, aku bisa apa?

“Aku ingin mengajakmu bahagia bersama dengan cara mencarinya masing-masing. Tapi kalau kau bilang kata-kataku tidak mengubah apapun aku tidak peduli lagi! Kalau kau ingin mati dan tetap keras kepala, enyah saja! Setidaknya aku tahu kalau kau menginginkan kematianmu lebih cepat. Jadi aku bisa menyiapkan mental dan batinku agar tidak terlalu terluka dan jatuh ke dalam jurang kematian juga!”

Taeyeon menatap tajam penuh amarah pada Jiyong dan segera berbalik untuk keluar dari kondo laki-laki itu. Namun, lengan kirinya ditarik secara kasar oleh Jiyong dan belum sempat Taeyeon mencerna apa yang terjadi, Jiyong menangkupkan kedua tangannya di wajah gadis itu dan meraup bibirnya dengan paksa.

Kedua mata Taeyeon terbelalak lebar. Tangan kanan dan kirinya refleks memukul-mukul dada laki-laki itu untuk menjauh. Seakan tak merasakan apa-apa, Jiyong tetap melanjutkan aksinya melumat dan mengulum rakus bibir ranum Taeyeon.

“And… Hmpft!” erang Taeyeon saat Jiyong memeluk pinggang gadis itu dan menahan kuat tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.

Kedua bibir tersebut sudah sangat basah hanya dalam beberapa detik saja saking lahap dan lincahnya bibir Jiyong di seluruh permukaan bibir Taeyeon. Karena basah akibat campuran saliva mereka, lidah Jiyong tidak merasa kesulitan untuk melesak masuk ke dalam mulut Taeyeon yang dipaksa laki-laki itu untuk membukanya dengan cara menggigit kuat bibir atas dan bawah Taeyeon.

Taeyeon mengerang kesakitan dan ia tidak mampu lagi mengeluarkan suaranya. Suaranya tenggelam di kerongkongan begitu lidah panas Jiyong mengobrak-abrik mulutnya sampai lidah itu menemukan pasangannya lalu melilitkannya dengan tak sabaran.

Kedua tangan Taeyeon terkepal. Nafasnya memburu dan tersengal-sengal, menandakan ia sangat membutuhkan oksigen. Tapi Jiyong kembali menghiraukannya. Lidahnya masih asyik bermain dengan lidah pasif Taeyeon di dalam mulut gadis itu, memaksanya untuk keluar dari sana. Tak berapa lama, lidah mereka yang menyatu keluar dari mulut Taeyeon dan Jiyong kembali mendorongnya masuk dengan cara melumat kembali bibir gadis itu.

Tak tahan, Taeyeon meninju kedua pundak Jiyong berkali-kali, memintanya untuk berhenti dan membiarkannya bernafas. Jiyong melepaskan tautan bibir mereka yang sudah bertumpahan saliva dan langsung mendorong tubuh Taeyeon ke dinding tanpa aba-aba. Ia menghimpit tubuh mungil itu dengan tubuhnya, tidak membiarkan satu sentipun memisahkan jarak tubuh mereka berdua.

“Ahh… Appa!” pekik Taeyeon ketika punggungnya menghantam dinding. Dengan ketakutan yang memancar dari kedua bola matanya, Taeyeon memandang hazel Jiyong yang sudah menggelap, dibutakan oleh nafsu dan gairahnya. Seketika itu juga Taeyeon menyadari satu hal. Jiyong mabuk.

Lagi-lagi gadis itu mendapat serangan brutal dari Jiyong di bibirnya yang sudah membengkak dan berdarah. Kali ini hisapan Jiyong semakin kuat dan mau tak mau Taeyeon meneteskan air matanya saking sakitnya. Jika ada yang bilang ciuman seperti ini begitu menggairahkan dan nikmat, maka Taeyeon akan segera menepisnya. Karena ini adalah ciuman yang sama sekali tak disangka-sangkanya.

Bibir Jiyong yang tak kalah merah dari Taeyeon dengan cepat turun menyusuri dagu dan rahang gadis itu. Sesekali lidahnya menjilati permukaan tersebut sampai Taeyeon melenguh tanpa ia sadari. Bibir dan lidah itu berhenti di lekukan leher jenjang Taeyeon lalu dihisapnya kuat di beberapa titik sensitif gadis itu. Seperti singa lapar, bibir dan gigi Jiyong begitu lincah membuat kissmarks di seluruh permukaan leher Taeyeon.

Dan gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa selain mencengkeram kemeja Jiyong di dadanya dan memekik kesakitan. Sesekali ia mendesah tapi buru-buru ditahannya. Kedua lutut Taeyeon lemas dan ia tidak sanggup lagi untuk berdiri. Mengetahui hal itu, Jiyong semakin merapatkan tubuhnya pada Taeyeon dan menaikkan satu kaki mulus gadis itu di pinggangnya.

Moan for me, babe,” bisik Jiyong tepat di telinga kanan Taeyeon. Suaranya serak, diliputi gairah dan ia segera mengulum daun telinga Taeyeon. “Moan for me and beg me to fu*k you so hard,

“Aniya, Jiyong-ssi. Jebal,” lirih Taeyeon di sela-sela nafas dan desahannya yang memburu akibat tangan kanan Jiyong mulai meremas-remas pinggul dan bokongnya dengan begitu sensual. “Kau mabuk! Lepaskan aku, ku mohon,”

Jiyong tertawa kecil. “Sssh… Diam dan aku akan membawamu ke langit ke tujuh, sayang,”

Dengan kasar Jiyong menggerakkan miliknya ke milik Taeyeon yang masih berbalut celana jeans. Taeyeon tidak bisa menahan desahan dan pekikannya lagi saat milik Jiyong yang sangat keras dapat dirasakannya, apalagi salah satu kakinya dipegang erat mengitari pinggul laki-laki itu.

Melihat Taeyeon yang berusaha keras untuk tidak mendesah dengan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, membuat seringaian licik Jiyong muncul. Ia menarik dagu Taeyeon dan kini gantian giginyalah yang menggigiti bibir bawah gadis itu. Sedangkan tangannya yang bebas sudah bergerak liar meremas kedua payudaranya secara bergantian, kasar, dan kuat. Hingga ia dapat merasakan puncak dada Taeyeon mengeras.

See? Kau menginginkanku,” bisik Jiyong lagi.

Taeyeon hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tak mampu berkata-kata jika bibirnya kembali dibungkam oleh bibir Jiyong.

Setelah merasakan tubuh Taeyeon yang kian lemas, Jiyong membaringkan tubuh mungil itu di atas sofa. Taeyeon dapat merasakan beban tubuh Jiyong menimpa tubuhnya. Ia kembali menangis saat Jiyong melepas mantelnya dan merobek kaos putih yang melekat di tubuhnya.

“You’re amazing,” puji Jiyong dan ia mulai menciumi seluruh area dada Taeyeon, memberikannya banyak kissmarks.

“Jangan…Jangan, Jiyong-ssi, jebal!” seru Taeyeon. Ia memukul lagi dada laki-laki itu kuat-kuat, menggeliatkan tubuhnya untuk lepas dari kungkungan sang monster.

Merasa terganggu, Jiyong menahan kuat kedua tangan Taeyeon yang memberontak dan ia langsung melepaskan bra ungu gadis itu tanpa membuka pengaitnya dengan menggunakan tangannya yang satu lagi. Dilemparnya bra itu sembarangan dan langsung dikulumnya pucuk dada kanan Taeyeon layaknya bayi yang kehausan.

Nafas Taeyeon tercekat. Ia menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya lagi untuk menahan gejolak aneh yang meronta-ronta di perut bagian bawahnya. Terasa geli, hingga ia tidak mampu untuk tidak bersuara, lebih tepatnya mengeluarkan desahannya tanpa ia buat-buat.

Di tengah kuluman dan hisapannya pada dada Taeyeon, Jiyong menyeringai kecil mendengar desahan kuat Taeyeon yang sexy dan murni, membuat miliknya yang masih terkurung itu sudah mulai bangkit dan menyesakkan celananya. Jiyong pun semakin gencar menjilati dan menghisap pucuk kedua payudara gadis itu secara bergantian.

Tangan Jiyong yang bebas tak tinggal diam juga. Sesekali ia meremas payudara berisi Taeyeon dan mengelus-elusi perut rampingnya. Taeyeon akan gila jika ia tidak mengeluarkan desahannya dengan sentuhan lembut penuh gairah yang Jiyong lakukan. Meskipun begitu, isakan yang keluar dari bibir gadis itu tak kunjung berhenti. Air matanya masih mengalir, tak menyangka ia akan terjebak dalam situasi tersulit dalam hidupnya.

Tangis Taeyeon makin kuat bersamaan dengan desahannya saat celana jeans gadis itu dibuka dan dicampakkan juga oleh Jiyong. Dirabanya celana dalam Taeyeon yang basah lalu dirobeknya hingga gadis itu full naked.

Stop it!” pekik Taeyeon. Ia dapat merasakan Jiyong mencubit klitorisnya kuat-kuat.

“Sudah sejauh ini, kau masih ingin mengingkari dirimu?” tanya Jiyong. “You’re ready for me and damnit! You’re tight!

Tanpa aba-aba Jiyong langsung memasukkan ketiga jarinya di dalam liang Taeyeon yang basah, hangat, dan lengket karena cairannya. Pekikan Taeyeon terdengar kuat menggema dan Jiyong membungkamnya dengan mengulum bibir gadis itu. Lidahnya bermain kembali di dalam mulut Taeyeon sedangkan ketiga jarinya dengan cepat keluar masuk di dalam milik Taeyeon.

Kecepatan gila yang Jiyong lakukan pada jarinya di dalam milik Taeyeon membuat tubuh Taeyeon menggelinjang dan ia dapat merasakan ledakan kuat di dalam perutnya. Orgasme untuk yang pertama kalinya.

Jiyong melepas ciuman mereka bersamaan dengan dikeluarkannya ketiga jarinya yang basah berlumuran cairan Taeyeon. Tidak hanya jarinya, sofanya juga ikut-ikutan basah saking banyaknya cairan yang Taeyeon keluarkan sekali orgasme. Jiyong menjilati jari-jarinya itu tanpa merasa jijik. Lalu ia buru-buru melepas kemeja dan ikat pinggang serta celana panjangnya lalu melemparnya asal.

“Engghhh… Ahhkkk!!!” racau Taeyeon lagi setelah ia diam untuk mengatur pernafasannya.

Kali ini lidah Jiyong yang memberikan sensasi luar biasa di dalam milik Taeyeon yang masih sangat basah. Karena itulah lidah panas Jiyong dengan leluasa dan cepatnya keluar masuk dan ia bahkan menghisap kuat klitoris Taeyeon. Tak butuh waktu lama, cairan kental itu menyembur keluar lagi, mengenai seluruh pemukaan bibir dan dagu Jiyong.

Lidahnya ia keluarkan dan diciumnya kembali bibir Taeyeon, membuat gadis itu ikut merasakan rasanya sendiri. Tangan Jiyong kembali meremas-remas kasar kedua payudara Taeyeon sedangkan tangan yang satu lagi masih mencekal kedua tangan Taeyeon agar ia tidak memberontak.

Diangkatnya kembali tubuh lemas Taeyeon ala bridal style tanpa melepaskan ciuman panas mereka dan dibawa ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh gadis itu dan menindihnya di atas tempat tidur king size-nya. Masih mencecap bibir manis Taeyeon, Jiyong segera melepas boxer-nya dan miliknya yang sudah membesar dan mengeras langsung ia arahkan ke dalam milik Taeyeon.

“Andwae!!! Akhhh!!!” jerit Taeyeon saat milik Jiyong itu melesak masuk ke dalam liangnya tanpa perlahan-lahan. “Appa, appa! Neomu appayo!”

Fu*k! You’re so fu*king tight! Argh!” erang Jiyong saat ia sudah memasuki milik Taeyeon. Namun, saking sempitnya Jiyong kembali menarik miliknya lalu mendorongnya begitu kuat, menerjang suatu lapisan di dalam milik Taeyeon.

Lapisan itu robek, mengeluarkan darah dari area kewanitaan Taeyeon dan juga jeritan kesakitan gadis itu. Taeyeon terisak-isak pilu, tidak percaya dengan keadaannya sendiri. Apa yang selama ini selalu ia jaga, satu-satunya yang ia banggakan, dirobek paksa oleh seorang laki-laki, meskipun laki-laki itu begitu dicintainya.

Nafas Jiyong memburu. Ia tidak pernah merasa senikmat dan bergairah seperti ini meskipun bercinta adalah hal biasa untuknya. Ia merasa melayang dan tidak ingin melepaskan tubuh yang ada dalam kungkungannya sekarang ini. Tubuh ini, aroma lavender dan vanilla ini membuatnya mabuk kepayang.

Tanpa bisa menunggu lebih lama lagi, Jiyong menggerakkan pinggulnya, mengeluar-masukkan miliknya ke dalam milik Taeyeon dengan kecepatan gila bagaikan binatang yang sedang bersenggama. Ia tidak peduli jika Taeyeon masih merasakan kesakitan yang amat sangat. Ia tidak peduli jika kewanitaan gadis-wanita-itu masih terasa sangat perih. Yang ia pentingkan adalah betapa kuatnya nafsu yang ia miliki saat ini untuk menyetubuhi Taeyeon tanpa jeda sedikitpun.

“Akkhh! Aahh…hhhh,” desah Taeyeon saat dia mengalami orgasme entah yang keberapa kalinya sejak selaput daranya robek. Permainan gila dan liar Jiyong memang tidak berhenti meskipun Taeyeon sudah merasakan tubuhnya remuk akibat cairan yang sudah keluar sangat banyak. Jiyong belum sampai dan dia tidak ingin sampai sebelum Taeyeon tidak bisa berjalan keesokan paginya.

Tubuh laki-laki itu mendadak mengejang, dan Taeyeon tahu ia akan sampai pada klimaks pertamanya, dan Taeyeon sudah kembali orgasme. Tapi Jiyong menghentikan gerakan brutalnya tanpa melepas kontak mereka. Ia bangkit dan menarik Taeyeon untuk duduk di pangkuannya lalu kembali bergerak liar tak beraturan di dalam milik Taeyeon.

Taeyeon hanya bisa memeluk tubuh laki-laki itu tanpa melakukan perlawanan apa-apa lagi. Ia kelewat lelah, tubuhnya serasa dicabik-cabik tapi laki-laki itu sepertinya tidak merasakan apa-apa. Ia tetap bergerak di liang Taeyeon dengan nafsu binatangnya.

Dan Jiyong menggigit pundak kanan Taeyeon dengan geram dan gemas. Pinggulnya masih bergerak cepat, menghantam milik Taeyeon lebih dalam lagi. Kedua dada Taeyeon diremasnya kasar dan dikulumnya di dalam mulutnya.

“Cukup,” lirih Taeyeon. Suaranya habis karena terlalu banyak berteriak meminta Jiyong untuk berhenti.

Tubuh laki-laki itu kembali menegang dan ia langsung berhenti bergerak. Dibaliknya tubuh Taeyeon hingga gadis itu tengkurap di atas tempat tidur tanpa melepaskan penyatuan mereka. Pinggulnya terangkat dan Jiyong kembali bergerak kasar. Diremasnya pinggul dan kedua payudara Taeyeon kuat-kuat.

“Fu*k, fu*k, fu*k!” maki Jiyong. Ia menggeram kencang dan menjilati punggung Taeyeon dengan gerakannya yang semakin tak manusiawi. “Fu*k, Taeyeon-ah,”

Kedua mata Taeyeon terbuka, shock dengan panggilan Jiyong yang terdengar di kedua telinganya. Belum selesai keterkejutannya, Jiyong mengangkat tubuh Taeyeon dan kini ia bergerak dari samping tubuh gadis itu, hingga Taeyeon yakin, miliknya sudah sangat lecet dan ia tidak yakin bisa menggerakkan tubuhnya besok.

“Taeyeon-ah, aku… Ahhh!” erang Jiyong. Dibaliknya lagi tubuh mungil gadis itu sehingga Jiyong kembali berada di atas tubuh Taeyeon. Gerakannya makin liar, kasar, brutal seakan-akan miliknya itu tidak pernah puas, sampai akhirnya ia melepaskan klimaks yang sudah lebih dari lima kali ia tahan-tahan sejak tadi.

Tubuh Jiyong maupun Taeyeon mengejang tepat saat Jiyong menyemburkan benihnya di dalam rahim Taeyeon sebanyak delapan kali. Jiyong mengeluarkan makian kotornya lagi. Ia tidak pernah mengalami pelepasan yang begitu banyak sampai tumpah berhamburan dari dalam milik Taeyeon dan membanjiri tempat tidurnya dalam sekejap.

“Ah… Ah…,” erang Taeyeon. Nafasnya masih tersengal-sengal. Ia ingin menetralkan pernafasannya tapi kedua matanya begitu berat dan tubuhnya sudah kelewat lemas. Akhirnya ia memilih memejamkan kedua matanya, membiarkan Jiyong yang sudah tertidur di atas tubuhnya, tanpa berniat melepaskan penyatuan mereka.

Ditemani dengan merembesnya darah perawan dari dalam milik Taeyeon.

~~~

Kedua pelupuk mata Taeyeon mengerjap-ngerjap saat ia merasakan ada deru nafas menggelitik lehernya. Gadis itu memaksakan dirinya untuk membuka mata lebar-lebar dan melirik ke arah jam dinding yang ada di sisi kanannya. Pukul empat dini hari. Lalu, ia melirik ke sisi kirinya, Jiyong masih tertidur dengan nyenyaknya. Tangannya memeluk erat tubuh polos Taeyeon dan gadis itu juga masih merasakan junior Jiyong masih berada dalam miliknya.

Tanpa memedulikan betapa sakit area kewanitaannya saat ini, tanpa memikirkan betapa remuk tubuhnya sekarang, tanpa peduli rasa perih yang mendera organ intimnya, Taeyeon bangkit perlahan-lahan dari atas tempat tidur Jiyong. Ia memutuskan penyatuan mereka dan menyelimuti tubuh naked laki-laki itu.

“Aku pinjam bajumu,” gumam Taeyeon pada Jiyong yang belum membuka kedua matanya.

Taeyeon mengambil kaos besar Jiyong yang berwana hitam lengan panjang dan dipakainya langsung saat itu juga. Ia tidak tahu bagaimana nasib bra dan celana dalamnya. Yang ia tahu, laki-laki itu merobek-robeknya dan mencampakkannya dengan asal.

“Aku tahu kemarin kau mabuk dan tidak mengingat apapun tentang masalah kita,” bisik Taeyeon. Ia kembali menangis, menangis dalam diam agar laki-laki itu tidak terbangun. “Dan kuharap kau tidak akan pernah mengingatnya, Jiyong-ssi. Ini bukan salahmu, sama sekali bukan salahmu. Semoga kau bahagia, jangan terlalu lama menyakiti dirimu sendiri, karena itu sama saja kau menyakitiku. Jeongmal mianhae, gamsahaeyo atas semua yang sudah kau berikan untukku. Aku yakin kau akan menemukan orang yang jauh lebih baik dari pada aku. Selamat tinggal, Kwon Jiyong,”

Dengan langkah yang tertatih-tatih, Taeyeon keluar dari dalam kamar Jiyong, memakai celana jeans dan mantelnya lalu kembali mengubah password Jiyong dengan yang lama. Sambil menelepon taksi, Taeyeon melangkah meninggalkan kondo Jiyong, benar-benar meninggalkannya dan tidak mau menoleh ke belakang lagi.

-To Be Continued-

Advertisements

48 comments on “Beautiful Lies (Chapter 12)

  1. Yey chap 12 akhirnya up juga…
    Ehhh tapi aku beneran gk nyakngka loh kalau Lauren omma ternyata Irene… sedikit bingung juga sih hehe…
    Ahhh pokonya ceritanyanya makin seru thor… next chap cepet ya thor fighting

  2. Sumpah ni cerita kereeeemmn bgt,sama sekali ga bisa ke tebak. Bener2 ga nyangka kalo ternyata taeyeon bukan eomma kandung nya lauren. Berarti satu2 org yg bsa menyatukan mino n noobyun,taeyeon n jiyoung itu cum lauren. Mudah2 an lauren segera bertindak buat mempersatukan mereka.happy ending pleaseee

  3. Omg ternyata lauren bukan anak taeyeooon 😱
    Torrrrrrrrr jgn bilang jiyong lupa sama apa yang dia lakukin ke taeyeon plissss buat jiong ingat torr kasian taeyeon😭
    Next chapter di tunggu torrr fightingg 😄

  4. aduuh ceritanya makinn keren, makin penasaran jadinya..
    gak nyangka irene itu ibunya lauren..
    jiyoung juga kasiaaan banget..
    next chapter jan lama2 ya author,,
    keep fighting and writing

  5. Berarti taeng emang masih perawan, dan mino n Irene adalah orang tua lauren, taeng yang harus banyak berkorban disini dari awal, gimana perasaan lauren setelah tau semua ini kasian banget

  6. Seneng bangettt ketika buka atsit trnyata ff ini udah diupdate aja..keren thor gk nyangka deh kalo taeyeon itu bkal sodaraan sama joohyun. Dan mkin kaget dan gk nyangka kalo joohyun itu lauren eomma..cuma kmren sempet curiga pas pmbicaraan joohyun sama mino pas druang rawat inap lauren, kyk mreka prnh pnya hbungan sblmnya. Complicated bgt thor konfliknya..dsni kliatan bgt kalo taeyeon yg byk nahan sakitnya, smuanya sih sbnernya..ayoolah joohyun berubah pkiran kalo egk lauren yg satuin semuanya dan brakhir dgn happy ending hehe author update cepat ya penasaran sama kelanjutannya..ku harap jiyong gkakan lupa sama kjadian trakhir antara dia sama taeyeon.. author fighting!!

  7. Wow keren bgt part ini dan banyak kejutan nya.
    Gak nyangka yg jdi eomma lauren sebenarnya irene.
    Smga tae dan jiyong bersatu
    Next thour jgn lama2 hehe

  8. Wow, banyak banget kejutannya, ga pernah nyangka klo eomma lauren ternyata irene, btw ditunggu terus next chap thor, fighting

  9. Kebenaran yg di ungkap begitu pahit.. Dan lauren tanpa sengaja tahu akan hal itu aiggoo banyak hati yg terluka.. .. Next chapternya apa akah berakhir bahagia..

  10. Setiap hari buka atsit, terus “Beautiful Lies” update tuh rasanya……langsung dibaca sampe akhir dan ternyata…….Oh. No. Unpredictable.

    KEREN, AUTHOR AAAAAAAAAAAAAAK SUKA!!! Gimana pun endingnya, pokoknya aku suka:3 best gtae story ever!♥

  11. Ini bener bener keren thor. Aku ganyangka alurnya akan sedetail dan seseru ini. Jadi lauren itu anak irene. Daebakk!!!! Lanjutkan thor, penasaran, jangan lama lama kalau bisa hehe:(

  12. OMG shock dengan kenyataan yg ada ternyata Lauren anak nya Joohyun. Aduhh ya Jiyoung knapa jga harus ngelakuin itu. Makin kepo dan greget authornim. Aku tunggu lanjutan kisah nya. Hwaiting

  13. wahh cerita bagus,, ga k tebak juga sama jalan ceritanya jadi bikin tambah penasaran..
    ternyata lauren bukan anaknya taeyeon…makin penasaran banget …makasih ya thor update udah cepet…semoga chapter selanjutnya juga cepet ya ..hhehehe

  14. Sempet salah nerkah jalan ceritanya , ternyata ini cerita gak bisa ketebak . Aku tunggu cerita selanjutnya yaa 😊👍

  15. wah…..keren bangets….
    sepertinya sudah mau ending ya thor…
    berharap happy ending untuk semuanya…

    ditunggu kelanjutannya….

  16. Maygaddd jd lauren bukan anaknya taeyeon. Ahhhh mulai kebongkar nih satu satu, plisss kebeneran harus terungkapp, harus banget happy ending ini sih parah lahhhhhh gregetan sendiri bacanyaaa:(

  17. Astaga..
    Udah mulai kebongkar nih alurnya..
    Duhh galau..
    Kenapa???
    Kenapa??
    Waeyo?
    Tidak akan mnyangka, chapter ini berjalan muluus(?)
    Pkoknya, next chap secepatnya yahh.. Dtungguin..
    FIGHTING!!!

  18. Tuh kan psti antara irene sm mino ada hub dan ternyata laurennie adl anak mereka ber2 bkn anak taetae…
    Dan akhirnya keperawanan taetae diambil oleh jiyong…
    Duo sepupu kurang ajar(jiyong-mino) tlh merusak kehidupan duo sepupu goddesses (taetae-joohyun)

  19. Eh ternyata lauren itu anaknya mino sama.joohyun ? Kalo giti kasian taeng doang dia udah berantem sama gd ditambah sama kejadian gd yang mabuk pasti taeng stress banget 😭
    Pokoknya ditunggu next chapnya author

  20. Wah makin galaulah Ji-yong ditinggalin sama Taeyeon.. intinya ada di Mino sama Irene. Wah gmana endingnya bener2 bikin penasaran .
    Fighting 😁

  21. Daebak,ya ampun thor ffx keren banget SUMPAH,,Authorx dapat ide dari mana sihh,,

    Ya ampun,jadi lauren eomma itu sih irene thooo,,and moga ajh sih jiyongx nggak lupa ama kejadian tadi,trus dia ngejar taetae,dan endingx bakal Gtae,hehehe,Amin.

    Ya udh itu aku authornim,ditunggu next chapx ,
    Yang semangat ya thor,fighting✊

  22. Daebak,ya ampun thor ffx keren banget SUMPAH,,Authorx dapat ide dari mana sihh,,

    Ya ampun,jadi lauren eomma itu sih irene thooo,,and moga ajh sih jiyongx nggak lupa ama kejadian tadi,trus dia ngejar taetae,dan endingx bakal Gtae,hehehe,Amin.

    Ya udh itu aku authornim,ditunggu next chapx ,
    Yang semangat ya thor,✊

  23. Kapan chap selanjutnya ?
    Jgn lama2 dong , udah gak sabar sama reaksi ji Yong bangun dari tidur’ny
    Whaiting yaa 😄

  24. Wah wahh aku sulit berkatakata thor kereenn😱.. Banyak tekatekinya aku penasaran sama masalalu mereka thor.😍😍 Pokoknya semangat buat chap selanjutnya thor FIGHTING… Aku berharap happy ending buat Tae sama Jiyoung thor 😍😍

  25. Wah aku terkejut sama chapter ini thor :”v
    Ceritanya makin rumit aja. Btw aku suka moment gtae nya 😂
    Dutunggu next chapter, fighting~

  26. Wah sumpah kaget bngt pas tau kalau lauren eomma yg sebenarnya itu irene 😅 keren thour suka bngt 😊 next chapter yh thour please jngn lama” 😂 fighting thour 😍❤❤❤

  27. Woiii jiyong awasss ae lu ampe lupa udah merawanin anak org 😂😂😂 Trnyata lauren bkn anak teyon 😢😢 nexzxxxxttttttt

  28. Kerenn banget ceritanya thorr, tapi sumpah kasian sama taeyeon sama laurennya pliss mereka berdua korban dari keegoisan mino sama joohyun yah walau secara gak langsung,, mereka yang banyak menderita.. Come on jiyong tanggung jawab anak orang diperawanin.. Semangat thor lanjutin terus ceritanya.. Sangat ditunngu kelanjutannha

  29. Sumpah kagettt laurennnn bukan anakkk taeyeonnnnn aaaaaaa
    serunyaaaa
    aku suka sekali
    lanjuttt thor
    semangattt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s