Beautiful Lies (Chapter 11)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6|Chapter 7 Chapter 8 | Chapter 9Chapter 10

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY, LONG CHAPTER

Mino membuka pintu kamar 244, yang merupakan kamar rawat inap Lauren, dan mempersilakan gadis mungil bernama Kim Taeyeon itu masuk mendahuluinya. Taeyeon tersenyum manis pada Mino dan Mino membalasnya dengan senyuman sumringah.

Begitu Taeyeon masuk ke dalam ruangan, ia bisa melihat Lauren tengah duduk di atas ranjang rumah sakit sembari menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur tersebut. Ia memegangi kedua boneka kucing pemberian Joohyun dan tampak memikirkan sesuatu yang serius. Ia bahkan tak sadar ketika Taeyeon dan Mino masuk ke kamar dan mendekatinya.

Dear,” panggil Taeyeon dengan suara pelan.

Lauren menoleh dengan cepat, tersentak kaget. Ia lalu meletakkan kedua boneka lucunya di atas meja di samping ranjang dan mengulurkan kedua lengannya panjang-panjang ke arah Taeyeon, minta dipeluk.

“Eomma!” seru Lauren.

Taeyeon tersenyum dan mendekatkan dirinya untuk memeluk sang putri kecil dengan erat. Lauren pun membalas pelukan itu tak kalah erat. Melihat interaksi antara ibu dan anak tersebut membuat Mino tersenyum kecil. Ia bahagia bisa kembali melihat keluarga kecilnya dan sedih sekali kenapa baru sekarang ia memiliki keberanian untuk mendatangi mereka. Mino yakin ia pasti kehilangan banyak momen melihat tumbuh kembang sang putri.

“Neo gwaenchana?” tanya Taeyeon saat pelukannya ia lepas dan memandang wajah cantik Lauren dalam-dalam seraya mengelus kedua pipi meronanya.

“Tidak pernah sebaik ini jika aku kambuh, eomma,” jawab Lauren dengan wajah cerianya. “Dokter Song memberiku segelas susu tadi dan aku merasa lebih baik,”

“Itu susu nabati, Laurennie. Memang bagus untuk anak-anak yang terserang asma. Aku tidak melakukan lebih, kok,” jawab Mino dengan senyuman manis mengembang di wajahnya. “Ah, mungkin aku memang melakukan lebih. Dengan sedikit cinta dan kasih sayang,”

“Apa semua dokter anak tidak menyeramkan seperti yang dikatakan banyak orang, eh? Yong ahjussi juga begitu perhatian padaku. Aku selalu baik-baik saja jika ada dia. Dan tidak akan pernah merasa cemas kalau pergi ke manapun asalkan ada Yong ahjussi. Dia sudah seperti obat,” ujar Lauren dengan intonasi bahagianya yang menggemaskan.

“Laurennie, sayang,” panggil Taeyeon. “Dokter Song memberikan cinta dan kasih sayang yang berbeda jauh dari Yong ahjussi. Dia… memberikan kasih sayang seorang ayah untukmu. Itu sebabnya kau merasa lebih baik, bahkan sangat baik dari sebelum-sebelumnya,”

Lauren mengerutkan dahinya, bingung dan berusaha mencerna maksud perkataan Taeyeon.

“Laurennie, dokter Song ini adalah appa. Lauren appa,” lirih Taeyeon. Ia memandang kedua mata bening Lauren lekat-lekat, berusaha menyampaikan sebuah fakta yang sejujur-jujurnya agar gadis kecilnya bisa percaya.

“Ahga…, nan appaya, appa,” bisik Mino. Mata laki-laki itu berkaca-kaca dan kedua lengannya benar-benar gatal ingin memeluk gadis kecilnya, melampiaskan rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun lamanya. Memberikan kasih sayang yang tidak sempat ia berikan semenjak putri kecilnya lahir di dunia. Memberikan kehangatan seorang ayah sebagaimana mestinya.

“Appa?” bisik Lauren. “Nae appa? Lauren appa?” Tatapannya mengarah pada Mino dan Taeyeon secara bersamaan. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum melemparkan dirinya ke dalam pelukan Mino.

Mino, yang memang ingin memeluk tubuh mungil putri kecilnya, langsung menangkap Lauren dan membawa gadis cilik itu ke dekapannya erat-erat. Ia bahkan mengangkat Lauren dari atas tempat tidur, membelai surai panjang putrinya yang lembut sekali. Lauren mengalungkan kedua lengannya di leher Mino kuat-kuat. Ia terisak, menangis sesenggukan di ceruk leher Mino. Mino, pun juga sama. Ia tidak tahan untuk tidak menangis. Ia tidak peduli bagaimana wajah tampannya dibanjiri air mata kesedihan bercampur haru.

Mereka berdua sama-sama terisak menyayat hati, saling melimpahkan kerinduan masing-masing yang sudah tertanam sejak Lauren lahir ke dunia. Bahagia, karena si kecil dapat merasakan pelukan hangat ayahnya, benar-benar ayahnya, bukan orang lain yang ingin ia anggap ayah. Bahagia karena sang ayah dapat menyalurkan semua perasaan cinta dan sayangnya, perasaan rindunya yang menggebu, dan perasaan sesalnya yang tidak akan pernah bisa ia hilangkan.

Taeyeon hanya tersenyum kecil memandang momen ayah dan anak tersebut. Ia juga tidak menyembunyikan air matanya yang mengalir. Ia juga ingin memeluk Lauren, ingin merasakan kebahagiaan putrinya itu. Tapi untuk saat ini, ia ingin Lauren berada dalam dekapan ayahnya dalam waktu yang sangat lama sekalipun.

Mino meregangkan pelukannya dan masih tetap menggendong Lauren. Wajahnya merah karena menangis tapi senyuman kebahagiaan tidak hilang dari wajah maskulinnya. “Bogoshippeoseoyo. Laurennie, bogoshippeo. Jeongmal bogoshippeoseoyo,”

“Nado, appa. Nado. Aku juga sangat, sangat, sangat merindukan appa. Tiap malam aku selalu membayangkan dirimu ada di sisiku, memelukku, menyanyikanku lullaby, mendongeng, dan bahkan tetap ada di sisiku sampai pagi. Dan di pagi harinya aku selalu memimpikan dirimu yang mengantarku ke sekolah lalu menjemputku siang harinya dan mengajakku jalan-jalan. Aku selalu ingin mengenalkanmu pada satu sekolah bahwa aku punya ayah,” isak Lauren. Ia memandangi wajah tampan ayahnya, menghapus air mata Mino dengan tangan kanan mungilnya.

“Ssshh. Sekarang, bukan saatnya lagi kau membayangkan dan memimpikan hal itu, baby. Aku akan ada di sisimu siang dan malam. Dua puluh empat jam. Aku akan ada di saat kau membuka dan memejamkan kedua matamu. Aku akan mengajakmu kemanapun kau mau, aku akan dengan bangganya memperkenalkan diriku pada seluruh dunia kalau aku ini adalah Lauren appa. Aku akan membahagiakan dan tidak akan pernah meninggalkanmu, Lauren Hanna,” balas Mino dengan senyumnya yang dibalut tangisan.

“Aku percaya appa pasti datang menemuiku,” ujar Lauren senang. Mino mengangguk dan ia membelai pipi kanan Lauren yang basah dengan tangannya, menghapus air mata putri kecilnya.

“Kenapa kau bisa langsung percaya kalau aku ini adalah appa?” tanya Mino.

“Hatiku yang berkata seperti itu dan feeling seorang Lauren Hanna tidak pernah meleset. Aku bahkan tidak mau melepaskan genggamanmu waktu kau bilang ingin menemui eomma, ‘kan? Aku merasa seakan-akan dengan menggenggam tanganmu semuanya akan baik-baik saja,” jawab Lauren. Ia masih menyamankan dirinya dalam pelukan sang ayah.

“Ah, kau benar, sayang,” ujar Mino.

Lauren menolehkan wajahnya ke belakang menatap Taeyeon dan mengibas-ibaskan tangannya menyuruh gadis itu untuk mendekat. “Eomma tidak mau mendekat? Ayo, mendekatlah. Kita berpelukan,”

Taeyeon melangkah mendekati Lauren dan Mino lalu memeluk mereka berdua dengan sedikit canggung. Mengetahui hal itu, Mino menepuk-nepuk punggung belakang Taeyeon dengan lembut menggunakan satu tangannya yang tengah memeluk tubuh mungil Taeyeon. Taeyeon yang merasakan tepukan lembut dari Mino, tersenyum kecil dan membuat dirinya nyaman di dalam rengkuhan Mino dan Lauren.

“Lauren eomma,” bisik Mino tepat di telinga kanan Taeyeon.

Taeyeon hanya diam dan memilih untuk tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan sisi kepala kirinya di tubuh Lauren. Entah kenapa ia masih canggung dan kikuk untuk memeluk seorang laki-laki.

Setelah berpelukan bertiga, Lauren meminta Mino untuk membacakan sebuah dongeng yang berkaitan dengan dua ekor kucing, seperti dua boneka yang sekarang ini tengah ia genggam dan ia dekap dalam dekapannya.

“Appa mungkin harus memeriksa pasien yang lain, sayang. Bagaimana kalau eomma yang membacakannya?” tawar Taeyeon pada Lauren.

“Gwaenchannayo, Taeyeon-ah. Lima tahun aku tidak bertemu dengannya dan bagaimana bisa aku sanggup menolak permintaan our little princess?” kilah Mino cepat dan ia bergegas duduk di sisi ranjang Lauren dan bersandar di kepala tempat tidur, seperti yang dilakukan putri kandungnya. “Lagipula, aku bisa menyuruh beberapa dokter pengganti untuk menggantikan aku sebentar. Mereka harus paham kalau aku ingin mengobati rasa rinduku yang besar ini pada putri kecilku,”

“Lagipula aku sudah sering mendengar eomma bercerita. Aku ingin appa yang menceritakan banyak hal padaku sebelum aku tidur,” tambah Lauren dengan nada manjanya pada Mino. Ia segera bergelayut di lengan Mino dan laki-laki itu hanya tertawa kecil sambil membalas rangkulan Lauren. Ia menciumi ubun-ubun kepala Lauren dengan sayang.

“Apa sekarang uri Laurennie sudah melupakan eomma?” tanya Taeyeon, pura-pura merasa sakit hati dan kecewa.

“Tidak akan ada yang aku lupakan, eomma. Appa dan eomma adalah satu, jadi bagaimana mungkin aku bisa melupakan salah satu dari kalian? Sekarang ini, aku ingin menghabiskan malamku bersama appa, untuk pertama kalinya. Itu sebabnya aku ingin appa di sini. Eomma juga harus di sini. Duduk di sisiku juga. Memelukku juga. Bukankah keluarga itu saling memeluk satu sama lain ketika tidur malam hari? Aku ingin merasakan hal itu juga,” ungkap Lauren dengan kedua matanya yang berbinar-binar.

“Itu… Laurennie…,”

“Itu tidak mungkin bisa, dear,” sela Mino cepat, sebelum Taeyeon sempat menyelesaikan kata-katanya. Mino tahu Taeyeon pasti masih merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. “Tempat tidur ini kecil. Kau mau appa atau eomma jatuh ke lantai? Mungkin setelah kita kembali ke rumah, appa dan eomma akan melakukannya,”

“Rumah?” tanya Lauren, girang sekali. “Appa akan tinggal bersama denganku dan eomma? Kita akan tinggal di mana?”

“Appa pasti akan tinggal bersamamu dan eomma, Laurennie. Tapi mungkin tidak di Korea. Maksudku, appa belum bisa tinggal di apartemen Lauren saat ini,” jawab Mino. “Tapi pasti aku akan sering mengunjungi kalian. Setiap hari. Appa janji,”

“Kapan appa akan tinggal bersama kami?” tanya Lauren pelan.

“Saat pekerjaan appa di Korea selesai, dear. Kita akan pindah dan hidup bahagia selamanya,” jawab Mino.

“Jinjjayo? Kalau begitu, appa harus menyelesaikan semua pekerjaan appa dengan cepat,” ujar Lauren.

“Tentu saja,” jawab Mino. “Cha~ sekarang, appa akan mendongeng. Sebelum itu, kedua boneka lucu ini beli di mana? Kau sayang sekali pada boneka kucing ini sepertinya,”

“Joohyun imo yang memberikannya, appa!” jawab Lauren dengan semangat. “Joohyun imo adalah teman dekat, teman special-nya Yong ahjussi… Ah, appa harus berkenalan dengan Yong ahjussi besok! Appa tahu, aku baru sadar kalau wajah kalian hampir mirip. Awalnya aku fikir appa adalah Yong ahjussi yang memakai jas putih dokter. Tapi, setelah mendengar suara appa, jelas appa bukan Yong ahjussi-ku. Aku sangat hafal sekali suara Yong ahjussi dan senyuman manisnya,”

Lauren begitu menggebu-gebu membicarakan sosok Jiyong pada Mino. Taeyeon yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan sekali. Pelan, karena mendadak ia merasakan sesak di dadanya mengingat bagaimana ekspresi Jiyong ketika Mino mengakui dirinya sebagai Lauren appa. Ia merasa ulu hatinya sakit, air matanya ingin memberontak keluar lagi saat ia mengingat bagaimana ia menerima uluran tangan Mino dan berjalan menjauhinya, meninggalkannya.

Taeyeon ingin minta maaf. Ia bahkan ingin menangis di depan Jiyong, hanya untuk memohon maaf laki-laki itu. Tapi, apakah Jiyong sudi untuk bertemu lagi dengannya? Apakah ia masih mau mendengar nama ‘Kim Taeyeon’ di kedua telinganya?

“Yong ahjussi… Appa mengenalnya, sayang. Dia adalah kakak sepupuku dan dia memang ahjussi-mu. Itu sebabnya kami mirip. Meskipun bukan saudara kandung, tapi Yong ahjussi sudah appa anggap sebagai kakak kandung sendiri. Kami saling menyayangi dan dia sering membantuku dalam banyak hal, terutama dalam menapaki kehidupan ini,” jelas Mino. “Tampaknya kau sangat menyayangi Yong ahjussi, eoh?”

“Ne! Dia begitu menyayangiku juga, dan eomma,” sahut Lauren. Kedua mata Mino langsung mengarah pada Taeyeon, yang masih menundukkan wajahnya. “Kami saling menyayangi, aku juga sudah menganggapnya seperti appa sendiri, sebelum appa muncul di hadapanku,”

“Lalu appa bagaimana?” tanya Mino dengan mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemburu.

“Appa akan tetap jadi Lauren appa. Aku tidak berniat menggantikan appa pada siapa-siapa. Karena appa ada di sini, ada di hadapanku, tentu saja rasa sayangku sangat besar pada appa, meskipun ini kali pertama kita bertemu. Yong ahjussi adalah sosok paman yang memberitahuku seperti apa rasanya disayangi dan dikasihi oleh seorang ayah. Hatiku yang mencintai appa saat ini, diajarkan oleh Yong ahjussi. Aku tidak bisa tidak menyayanginya dengan begitu besar seperti aku menyayangi appa. Apa aku boleh menyayangi dua orang sekaligus, appa?”

Mino tersenyum hangat pada Lauren dan membelai surai panjangnya dengan sayang. “Kau boleh menyayangi siapapun yang kau mau, Laurennie. Bahkan, kau harus menyayangi semua orang dan menghormatinya. Yong ahjussi adalah orang yang sangat appa sayangi, appa hormati sesudah orang tua appa. Dan kau bahkan boleh menganggap sebagai sosok appa juga,”

“Jinjjayo? Gamsahamnida, appa!” seru Lauren dan ia melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Mino. “Rasanya aku ingin appa dan Yong ahjussi memelukku seperti ini. Aku sayang sekali pada kalian berdua,”

“Yong ahjussi pasti sangat mencintaimu hingga membuatmu begini sayang padanya,” gumam Mino di telinga Lauren.

“Baiklah, mari kita dengarkan appa mendongeng,” ujar Lauren seraya melepaskan dirinya dari Mino dan bersiap-siap untuk tidur. “Eomma, eomma akan tetap di sini, ‘kan?”

“Tetap di sinilah, Taeyeon-ah. Aku tidak akan benar-benar tidur di sini. Aku akan tidur di sofa saja,” bujuk Mino.

“Aniya,” sanggah Taeyeon. “Pulanglah setelah Lauren tidur. Besok pagi-pagi sekali, kau bisa datang lagi. Kau tidak bisa melalaikan pekerjaanmu hanya karena aku dan Lauren. Kalau kau mengoptimalkan kemampuanmu di sini, pekerjaanmu bisa cepat selesai dan… dan… dan kita bisa tinggal bersama, bertiga, seperti yang dikatakan Lauren,”

Mino tersenyum manis sekali pada Taeyeon, dan gadis itu membalas senyuman manis Mino. “Seperti yang dikatakan Lauren dan seperti yang aku mau, seperti yang seharusnya, ‘kan? Gomapta, Taeyeon-ah,”

Begitu Taeyeon menganggukkan kepalanya, suara ketukan di pintu kamar Lauren terdengar. Mino bangkit dari atas ranjang Lauren dan membukakan pintu itu. Tampak sosok Tiffany dan Joohyun di sana. Mereka tersenyum simpul dan masuk ke dalam kamar Lauren. Tiffany langsung menghamburkan dirinya dalam pelukan Lauren sambil bertanya ‘apa kau baik-baik saja?’. Sedangkan Joohyun memilih berdiam diri di depan tempat tidur Lauren sambil memerhatikan gadis kecil itu.

“Joohyun imo!” seru Lauren. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi Joohyun langsung mencegahnya dan dia mendekati Lauren. Tiffany menjauhkan dirinya dan berdiri di samping Taeyeon.

“Kau membuat kami semua cemas, Laurennie,” lirih Joohyun. Ia membelai pipi kanan Lauren yang merona dengan halus.

“Nan gwaenchannaseoyo, imo,” jawab Lauren senang. “Ah, appa. Ini adalah Joohyun imo yang aku ceritakan tadi. Dia adalah teman special-nya Yong ahjussi,”

“Annyeonghaseyo, aku Lauren appa,” sapa Mino sambil membungkukkan badannya sedikit pada Joohyun. Joohyun juga memberi sapaan singkat dan pelan tanpa menyebutkan namanya pada Mino.

“Ah, imo. Yong ahjussi eodiseoyo? Bukankah setiap ada imo, Yong ahjussi juga selalu ada? Aku sakit. Apa ahjussi tidak tahu? Apa dia tidak tahu kalau aku sedang terbaring di rumah sakit?” tanya Lauren tak sabaran sembari memandangi wajah cantik Joohyun.

Joohyun tersenyum dan ia duduk di di atas tempat tidur Lauren. Direngkuhnya gadis kecil itu dan dibelainya rambut panjang Lauren. “Ahga, ahjussi tidak bisa datang menjengukmu malam ini. Dia punya beberapa kerjaan yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan dan sangat menyesal sekali karena tidak bisa melihatmu. Maafkan ahjussi, Laurennie,”

“Apa ahjussi besok akan datang? Besok pagi? Siang? Sore? Malam? Katakan pada ahjussi aku sangat menunggunya datang. Aku ingin ahjussi dan appa ada di sini bersama denganku,” ungkap Lauren.

“Sayang,” panggil Joohyun. “Imo tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, termasuk dengan kedatangan ahjussi. Aku sendiri juga tidak tahu apakah besok dia pulang ke kondo atau melanjutkan pekerjaannya sampai selesai. Tapi yang pasti, yang harus kau ingat adalah ahjussi sangat, sangat, sangat menyayangimu, Laurennie. Dia takut sekali sesuatu terjadi padamu har ini. Dia benar-benar khawatir,”

“Aku tahu, imo. Aku tahu ahjussi akan seperti itu jika aku terluka, meskipun aku tidak pernah, mungkin hanya sekali, merasa sakit di dekatnya. Mungkin karena aku juga sudah menganggapnya obat,” jawab Lauren diselingi tawa renyahnya. “Tapi aku tidak tahu kalau ahjussi akan sesibuk itu sekarang,”

“Dia akan datang menemuimu jika pekerjaannya selesai, ahga,” hibur Joohyun. “Nah, sekarang istirahatlah dan lekas sembuh. Mungkin kau yang bisa datang dan menemuinya?”

“Ye, imo! Aku akan datang bersama dengan appa. Bukankah appa adalah sepupu ahjussi? Ahjussi pasti juga ingin bertemu dengan adik sepupunya, ‘kan?”

“Kau benar, Laurennie. Jika kau sudah sembuh total nanti, kita akan menemui ahjussi, okay?” sahut Mino.

“Kalau begitu, apa imo akan tetap di sini?” tanya Lauren.

“Aniya, aku akan datang lagi besok pagi, Laurennie,” jawab Joohyun.

“Sayang sekali, padahal aku ingin meminta imo untuk mendengarkan dongeng dari appa tentang boneka kucing yang imo berikan untukku ini,” ujar Lauren. Ia menunjukkan dua boneka kucingnya pada Joohyun dan tersenyum lebar.

“Bagaimana kalau Lauren saja yang menceritakannya padaku setelah appa selesai bercerita? Dengan begitu, Lauren harus mendengarkan dongeng appa dengan sebaik-baiknya untuk diceritakan kembali padaku, eoh?” usul Joohyun.

“Itu mudah,” jawab Lauren. “Aku akan menunggu kedatanganmu, imo,”

“Jiyongie… pergi?” tanya Taeyeon lirih pada Tiffany yang ada di sisinya.

Tiffany menolehkan wajahnya pada Taeyeon dengan ekspresi sedih dan murung. “Kita sudah mengekspektasikannya, ‘kan? Tapi… aku tidak tahu kalau dia sampai akan menangis seperti itu saat kau pergi tadi, Taeng. Ini untuk pertama kalinya aku melihat sosok Kwon Jiyong patah hati,”

“Sekarang, aku tampak jahat sekali, ‘kan?” gumam Taeyeon. Ia menundukkan wajahnya dan berharap dalam hati agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpa Jiyong di luar sana. Ia ingat betapa kritisnya kondisi Jiyong ketika ia mendiamkan dan marah pada laki-laki itu selama beberapa hari. “Aku takut dia bertindak yang tidak-tidak seperti kemarin waktu itu lagi,”

“Aku akan mengabarimu secepatnya tentang Jiyong oppa. Untuk sekarang ini, fikirkanlah dulu apa rencanamu selanjutnya untuk dirimu sendiri dan juga Lauren, fikirkanlah baik-baik. Jika kau sudah memutuskan, kau tidak akan bisa lari dari keputusanmu itu,” ujar Tiffany. “Dan mungkin kau bisa meminta saran dari Hyorin eonni untuk masalah Jiyong,”

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan.

“Aku pulang duluan, eh? Aku akan ke sini lagi besok pagi bersama Joohyun karena Joohyun pasti akan sendirian. Kau, tetaplah bekerja di kondo Jiyong oppa sampai dia kembali nanti,” pamit Tiffany.

Taeyeon kembali menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Tiffany dan Joohyun memutuskan untuk pulang dan berjanji kembali besok pagi. Begitu mereka berdua pergi, Mino mendongengkan sesuatu tentang dua ekor kucing yang Taeyeon yakini hal itu dikarang bebas oleh Mino. Lauren, pun mendengarkan dengan baik. Sampai cerita selesai, gadis kecil itu memejamkan matanya dan tidur nyenyak di dalam dekapan Mino.

Taeyeon, yang sedari tadi memerhatikan mereka berdua sambil duduk memainkan ponselnya di atas sofa kamar, bangkit berdiri melihat keadaan ayah dan anak tersebut. Senyuman lembutnya terpatri di wajah cantik Kim Taeyeon saat dilihatnya Mino dan Lauren sama-sama tertidur pulas dalam dekapan satu sama lain. Dengkuran halus laki-laki itu sampai terdengar dan dengan inisiatifnya Taeyeon menyelimuti sebagian tubuh Mino dengan selimut yang tengah dipakai Lauren.

“Aku ketiduran,” gumam Mino tiba-tiba ketika Taeyeon baru saja selesai menyelimutinya.

Mino bangkit perlahan-lahan agar tidak membangunkan Lauren dan membenarkan selimut putrinya. Dikecupnya dahi Lauren dan dibelainya pipi kanan gadis kecil itu dengan sayang.

“Kenapa tidak lanjut tidur di sini saja?” tanya Taeyeon.

“Lalu kau tidur di mana?” Mino balik bertanya, menghadapkan tubuhnya pada Taeyeon dan menatap gadis itu dengan intens, membuat Taeyeon sedikit salah tingkah.

“Aku bisa tidur di sofa,” jawab Taeyeon.

“Dan hanya laki-laki bodoh tak berperasaan yang akan membiarkan hal itu,” timpal Mino. “Aku tidak akan pulang ke rumah malam ini. Aku akan tidur di ruanganku. Aku tidak akan pulang sampai Lauren pulang nanti,”

“Aku mengerti,” jawab Taeyeon. “Gamsahamnida, aku lega kau pulang,”

“Aku tidak ingin berlama-lama membuat Laurennie menderita. Aku tidak ingin membuatmu memikul beban yang terlalu berat lebih lama lagi. Bukan kau yang seharusnya membiayai semua keperluan Lauren, bekerja sangat keras, dan menjadi ibu sekaligus ayah untuknya. Mungkin, dengan ucapan terima kasih dan maaf yang sebesar-besarnya tidak akan mampu membayar semua yang telah kulakukan kepadamu, Taeyeon-ah. Aku ingin menebusnya, seumur hidupku,” lirih Mino.

Taeyeon mengangkat wajahnya untuk menatap wajah rupawan Mino yang terlihat sangat serius. Pembicaraan inilah yang sebenarnya belum siap Taeyeon hadapi. Tapi sepertinya Mino tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Laki-laki itu sudah kelewat merasa bersalah, merasa utang budi pada Taeyeon sehingga akan melakukan apa saja untuk membayar semuanya.

“Aku tahu kau pasti telah tahu dari Tiffany. Aku akan membawa Lauren ke Kanada. Tidak mungkin aku hanya membawanya saja. Dia pasti butuh dirimu, dia pasti menginginkanmu ada di sana, di sisinya. Dia pasti akan butuh ibunya. Aku berencana akan membawamu juga ke sana. Dan… hidup bersama selamanya. Kita akan menikah. Aku sudah menyiapkan segalanya di Kanada. Segalanya untuk hidup kita.

“Sebenarnya pekerjaanku di Korea akan selesai dalam waktu tiga hari, tapi aku tahu kau butuh waktu untuk menjawab pernyataanku. Aku tahu ini terkesan sangat buru-buru dan jauh dari kata romantis, tapi aku siap untuk membangun sebuah keluarga denganmu, Kim Taeyeon. Aku tahu kita bahkan baru saling mengenal, tapi aku yakin aku akan bahagia dan akan membahagiakanmu apapun yang terjadi. Aku yakin karena selama ini kau adalah Lauren eomma,” jelas Mino dengan intonasi tegasnya yang membuat wanita mana saja akan meleleh.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu? Kita tidak saling mencintai, kita tidak saling mengenal. Aku tidak mau pernikahan yang kau katakan tadi tidak berujung bahagia dan hanya akan menyakiti Lauren,”

“Aku memang mengenalmu hanya dari Tiffany. Setelah aku tahu bagaimana kau berjuang untuk Lauren, apa ada hal lain yang harus aku ragukan dari dirimu? Meskipun kita tidak saling mengenal tapi aku tahu kau adalah gadis yang bisa menyempurnakanku,” jawab Mino, yang masih belum melepaskan tatapan lekatnya dari wajah cantik Taeyeon. “Aku yakin aku bisa mencintaimu dan membuatmu jatuh cinta padaku. Bukankah perasaan cinta itu ada karena terbiasa?”

“Aku… akan memikirkannya. Seperti yang kau katakan, aku butuh waktu. Dan jika aku menolaknya, apa yang akan kau lakukan?”

“Mungkin aku akan mengatakan semuanya pada Lauren, bahwa kita bukanlah suami istri dan belum menikah. Aku juga akan tetap menunggu sampai kau mau menerimaku, Taeyeon-ah. Aku optimis kau akan menerimaku. Aku akan tunjukkan semua sisi yang ada pada diriku agar kau yakin dan mau hidup denganku,” jawab Mino dengan lugas. “Kau berkata seperti itu apa karena Jiyong hyung?”

“Jiyong tidak ada hubungannya dengan ini,” sanggah Taeyeon. Ia mengalihkan wajahnya dan memandang Lauren yang masih tidur dengan lelapnya.

“Aku tahu kau mencintainya,” lanjut Mino. “Tapi bukankah Joohyun kekasihnya? Seperti yang dikatakan Lauren tadi. Teman special,”

“Aku akan berhenti mencintainya,” lirih Taeyeon. “Aku tidak mungkin bisa mencintai seseorang yang sudah membenciku, ‘kan?”

Kemudian Mino dapat melihat butiran air mengalir jatuh membasahi kedua pipi Taeyeon tanpa bisa gadis itu bendung lagi.

~~~

Cakeshop Club, Itaewon-dong, Seoul, South Korea, 00.00 a.m KST.

Suara musik pop-rock berdentum menggema di seluruh ruangan club dan mampu menggoyangkan semua tubuh yang ada di dalamnya. Orang-orang yang ada di club tersebut turut bernyanyi dengan satu tangannya memegang botol bir, dan satu lagi menggandeng pasangannya untuk bergoyang bersama. Suasananya remang-remang, penuh, dan sangat menghibur bagi siapapun yang tampaknya sedang membutuhkan hiburan. Sang DJ, pun tak kalah asyik. Ia mengeraskan volume suara musiknya dan berteriak-teriak menyanyikan lirik lagu, yang diikuti oleh sebagian orang dan sebagian lainnya sibuk menari, merokok, bercumbu, dan bahkan bercinta di sana.

Dan sosok Jiyong ada di sana. Ia turut serta dalam hiruk pikuk itu, minum beberapa botol alkohol, merokok, dan menggerakkan seluruh tubuhnya untuk melepaskan rasa penat di dalam kepalanya.

G-Dragon at Cakeshop Club

Hey, bro,” sapa Soohyuk dan Seungri. Mereka berdua kebetulan ada di sana dan menemukan Jiyong tengah asyik sendiri. “Kau ada di sini? Kufikir kau sudah tidak lagi menyandang sebagai seorang maniac party dan alkohol,”

“Hyung? Kenapa kau ada di sini? Bukannya Joohyun ada di kondomu? Kau membawanya ke sini atau meninggalkannya?” tanya Seungri, bingung dengan keberadaan Jiyong yang mendadak.

Jiyong menenggak kembali alkoholnya sampai habis dan tersenyum menyeringai pada Soohyuk dan Seungri.

“Kenapa aku ada di sini? Tentu saja ingin bersenang-senang,” jawab Jiyong. Ia tidak dipengaruhi alkohol sama sekali, setidaknya belum meskipun sudah hampir enam botol yang ditenggaknya.

“Ada apa denganmu?” tanya Soohyuk lagi, kali ini merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu. Soohyuk tahu ada sesuatu yang terjadi pada Jiyong. Dia tidak akan seperti ini jika ada masalah yang menimpanya, masalah yang menurutnya sangat berat. Tiba-tiba saja, ia teringat peristiwa beberapa minggu lalu. Jiyong juga minum-minum, tidak makan sama sekali, dan lebih memilih mengurung dirinya sendiri di kondo tanpa berniat keluar sama sekali. Dan semua itu karena Kim Taeyeon.

“Hyung, kau sudah minum berapa botol?!” pekik Seungri ketika dilihatnya Jiyong kembali mengambil satu botol alkohol penuh dengan kadar yang sangat tinggi.

“Kau mau menyiksa dirimu lagi?” tanya Soohyuk dengan nada dingin. Ia benci melihat Jiyong seperti ini. “Apa semua ini karena Kim Taeyeon? Ada apa dengan kalian berdua?”

Jiyong tersenyum kecil dan ia mendecih sebal. Dibukanya tutup alkohol tersebut dan menenggaknya beberapa teguk. Sampai akhirnya ia meletakkan botol itu di atas meja sang DJ dan berbalik badan untuk duduk di kursi bar. Seungri dan Soohyuk mengikutinya dan duduk di kedua sisi Jiyong.

“Aku sudah tahu siapa ayah dari Lauren,” lirih Jiyong. Ia menumpukan telapak tangannya di dahi dan mengepalkan buku-buku jari tangan kirinya.

“Siapa? Bukankah kau bilang kau tidak peduli siapa ayah Lauren, bagaimana asal-usul Taeyeon dan Lauren, dan apa yang terjadi di masa lalunya?” tanya Soohyuk tak sabaran.

Jiyong menyeringai. “Song Minho. Adik sepupuku yang paling dekat denganku, yang paling aku sayang, yang sudah kuanggap adikku sendiri. Bahkan yang paling ayahku sayangi… adalah Lauren appa,”

“Mwo… mwo? Mworago? Hyung, apakah itu benar? Dari mana kau tahu? Maksudku, Mino? Mino yang sama sepertimu itu, ‘kan? Mino yang selalu memesan jalang di club, ‘kan? Lauren appa? Apa itu artinya… Mino dan Taeyeon pernah… one night stand? Tapi kebablasan?” tanya Seungri dengan ekspresi wajah tak percaya. Ia melongo menatap Jiyong, seakan-akan baru saja melihat Jiyong melempar kotoran di hadapan wajah orang lain tanpa sebab.

“Jiyong-ah, kau serius?” tanya Soohyuk. Wajahnya menatap dalam-dalam wajah Jiyong, yang sarat akan kesedihan, kerapuhan, dan bahkan kehancuran.

“Mino sudah kembali ke Korea. Dia ada di rumah sakit sekarang, merawat Lauren yang mendadak kambuh. Dan dia mengatakan dia ayahnya. Lauren appa. Taeyeon juga tidak mengatakan apa-apa yang artinya apa yang dikatakan Mino itu benar. Dan Tiffany selama ini tahu. Dia menguatkan fakta itu,” jelas Jiyong.

“Dan kau sudah bertanya lebih lanjut? Lebih detail?” tanya Soohyuk lagi.

“Buat apa?” Jiyong balik bertanya dengan nada sarkasmenya. “Apa lagi yang harus aku ketahui? Mino pulang dan dia akan mengajak Taeyeon pergi ke Kanada, tinggal bersama dengannya, hidup bahagia selamanya. Aku memang tidak mempermasalahkan asal-usul Taeyeon dari awal. Aku mencintainya karena dia adalah Kim Taeyeon. Aku mencintainya karena dia adalah orang yang aku butuhkan, yang aku inginkan. Aku tidak mempermasalahkan apa-apa jika itu bukan Song Minho,”

Jiyong terdiam sesaat. Ia masih menundukkan wajahnya, dengan tangannya yang masih berada di dahinya. Kepalan tangannya makin menguat dan Soohyuk maupun Seungri yakin seratus persen kalau laki-laki yang mereka kenal selama beberapa tahun ini tengah menangis. Menangisi seorang perempuan. Untuk kali pertama.

“Aku tahu dia berencana akan pergi ke Kanada bersama Lauren appa begitu laki-laki itu pulang. Aku berencana akan menentang mereka, bahkan menghajar laki-laki itu. Aku tidak akan menyerahkan Taeyeon padanya meskipun Taeyeon memutuskan untuk ikut ke Kanada. Aku akan mempertahankannya, bagaimanapun caranya. Aku akan meyakinkan gadis itu untuk tetap ada di sisiku, untuk menjadi sosok appa bagi Lauren.

“Tapi aku tidak akan bisa melakukan itu semua jika orang itu adalah Mino. Aku tidak bisa menyakitinya dengan cara mengambil orang yang dia cintai di hidupnya. Dia berubah, menjadi sosok laki-laki dewasa yang bijaksana, yang sudah merancang masa depannya, dan seseorang yang menjaga hatinya untuk gadis yang sedang menunggunya. Dia berubah karena Kim Taeyeon. Dia berubah lebih baik agar bisa menjadi sosok ayah yang hebat untuk Lauren. Dia berjuang keras di Paris, membunuh sifat-sifat buruknya hanya untuk Taeyeon.

“Dan apakah aku masih bisa dengan mudahnya menjadi penghalang bagi dirinya untuk bahagia bersama Taeyeon? Dia bilang dia akan membahagiakan gadis itu apapun yang terjadi. Dia tidak akan membiarkan Taeyeon sendiri lagi. Dan ini kali pertama aku melihat sosok Mino begitu menyayangi seorang perempuan. Dia sangat serius. Saat itulah aku tahu kalau aku tidak bisa bersikap egois, saat itulah aku tahu seharusnya aku mundur sejak awal,”

“Hyung…,”

“Jiyong-ah…,”

“Ini alasannya,” lanjut Jiyong. Ia menegakkan wajahnya dan memandang ke depan tanpa tahu apa yang tengah ia perhatikan. “Ini alasannya kenapa dia tidak bisa menerimaku, kenapa dia tidak bisa mencintaiku, kenapa dia tidak mengizinkanku masuk ke dalam kehidupannya, dan kenapa dia bersikap dingin padaku di awal kami bertemu. Karena dia tahu aku adalah kakak sepupu Song Minho. Sejak awal dia memang sudah menaruh harapan pada Mino. Dia berharap Mino kembali untuk membawa mereka berdua pergi dan membangun kehidupan baru,”

“Kurasa kau harus mendengarkan penjelasan dari Mino atau Taeyeon, Jiyong-ah. Aku yakin, Taeyeon pasti merasa sangat bersalah padamu. Dia pasti ingin bertemu dan menjelaskan semuanya padamu. Taeyeon pasti merasa kau sudah sangat membencinya saat ini,” saran Soohyuk.

“Aku memang membencinya. Kenapa dia tidak memberitahuku di awal? Kenapa dia menyembunyikan semuanya dan membohongiku? Kenapa dia mempermainkanku? Apa dia ingin melihat bagaimana hancurnya seseorang hanya karena cinta?” tanya Jiyong. “Buat apa aku mendengar penjelasannya? Mungkin aku akan semakin menghancurkan diriku sendiri dan menghilang jika aku mendengar penjelasan mereka,”

Jiyong menghela nafas panjang guna menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak menyembunyikan wajahnya yang sudah basah karena air mata di depan Soohyuk dan Seungri. Masa bodo dengan image. Dia hanya ingin mengeluarkan kekesalannya, kemarahannya, kekecewaannya, kerapuhannya dengan menangis. Hanya itu yang bisa Jiyong lakukan untuk meredakan semuanya, meskipun rasa sakit hatinya sama sekali tidak terobati setitik pun. Jiyong tidak peduli kalau sekarang ini dirinya tampak sangat melodrama.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang ini, hyung?” tanya Seungri dengan suaranya yang lirih. Ia tahu betapa pedihnya perasaan yang dirasakan Jiyong saat ini. Jiyong baru pertama kalinya merasakan betapa ia ingin dicintai, betapa ia akhirnya mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya, dengan harapan kisah cintanya akan berakhir happy ending seperti yang selama ini ia dengar di mana-mana. Namun, harapan itu harus pupus dengan keadaan yang justru lebih pahit.

“Aku tidak akan tinggal di kondoku selama beberapa hari. Aku akan tinggal di tempat lain sampai aku merasa agak lebih baik untuk keluar, walau bagaimanapun aku masih punya tanggung jawab di Peaceminusone. Dan aku juga tidak akan mengatakan kepada kalian di mana aku tinggal,” jawab Jiyong.

~~~

Dolce Vita Pension, Gyeonggi-do, Pocheon, Seoul, South Korea.

Jiyong masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di Dolce Vita miliknya lalu mengunci pintu kamar tersebut. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Aroma alkohol dan rokok yang menjadi satu dapat tercium dari mulutnya. Ia memang meminum alkohol yang berkadar tinggi dua botol, tetapi sama sekali tidak berpengaruh pada dirinya sampai saat ini.

Kenapa? Padahal dia ingin sekali melenyapkan semua rasa sakitnya dengan rasa sakit di kepalanya. Hal itu akan membuatnya melupakan semua hal yang baru saja ia alami, membuatnya lupa dengan seorang Kim Taeyeon meskipun hanya sampai beberapa jam saja sampai pusing di kepalanya menghilang. Tapi sepertinya alkohol pun tak bisa mengusir rasa sakit itu.

Jiyong mendengus tertawa. Ia begitu menyedihkan. Dan ia sadar itu ketika dirinya tahu betapa ia mencintai seorang Kim Taeyeon. Mengemis cinta padanya yang bahkan tak pernah ia lakukan sebelumnya, pada orang tuanya sekalipun.

Direbahkannya tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Matanya yang sama sekali tidak seterang dan seteduh biasanya kini menerawang langit-langit kamarnya. Ia mengingat kembali wajah gadis itu, mengingat bagaimana manis dan sejuknya senyuman yang ia miliki, mengingat seperti apa renyahnya suara tawa miliknya, indahnya suara yang ia punya ketika ia bernyanyi, mengingat bagaimana tubuh mungilnya yang hangat, yang selalu ia dekap dalam tubuhnya.

Logika laki-laki itu terus memberontak agar segera mengenyahkan wajah Taeyeon dari fikirannya. Namun, lagi-lagi logikanya selalu bisa dipatahkan setiap hal yang menyangkut tentang Taeyeon.

Jiyong tersenyum kecil. Dia memang ingin membenci gadis mungil itu. Dia ingin membencinya agar Mino dapat membawanya pergi tanpa ia pedulikan sama sekali. Ia ingin membencinya agar tidak ada beban yang menyakitkan ketika Mino mengenalkan seorang Kim Taeyeon sebagai pasangannya, atau sebagai istrinya. Ia ingin membencinya agar gadis itu tidak merasa sangat bersalah untuk hidup bahagia bersama Mino.

Ia ingin membencinya tapi kenapa justru hal itu malah semakin membuat air matanya kembali mengalir? Ia ingin membencinya tapi kenapa pemikiran itu justru membuat batinnya jauh lebih tersiksa? Kenapa justru Jiyong merasa ia tidak ingin pernah melepaskan genggaman gadis itu dan membiarkannya pergi menjauh?

Ia ingin membencinya tapi kenapa justru hal itu malah semakin membuat air matanya kembali mengalir? Ia ingin membencinya tapi kenapa pemikiran itu justru membuat batinnya jauh lebih tersiksa? Kenapa justru Jiyong merasa ia tidak ingin pernah melep...

“Selama aku tidak ada, kau akan baik-baik saja, ‘kan Jiyong-ssi?”

“Aku takut. Aku takut kau akan membenciku karena aku bukanlah seseorang seperti yang kau bayangkan selama ini,”

Dan Jiyong tahu ia masih tetap begitu mencintai gadis mungil itu, sekuat apapun alasannya untuk membenci seorang Kim Taeyeon.

When only you’re not here, I’m crying again today

The person I love is you

The person who hurts me is you and I try to erase you

But it’s not as easy as I thought

I can’t see you ever again

I’m lost and crying alone again

~~~

Taeyeon membuka pintu kondo Jiyong tepat saat Joohyun keluar dari dalam kamar yang ia tempati selama berada di kondo Jiyong. Gadis cantik itu tengah menyeret koper besar miliknya keluar dan meletakkannya di ruang tengah. Joohyun tersenyum manis pada Taeyeon sambil membungkukkan tubuhnya pada Taeyeon. Taeyeon membalas sapaan dan senyuman Joohyun dengan tersenyum simpul.

 Taeyeon membalas sapaan dan senyuman Joohyun dengan tersenyum simpul

“Kau… mau pergi?” tanya Taeyeon, yang melihat Joohyun tengah bersiap-siap untuk keluar kondo. Ia tampil casual dengan memakai kemeja putih dipadu dengan rok jeans pendek.

“Ne, aku akan pindah dari kondo Jiyong oppa. Aku tidak mungkin terus berada di sini sedangkan dia entah berada di mana. Lagipula, aku berjanji padanya untuk menginap selama beberapa hari saja sebelum akhirnya menginap di tempat kedua orang tuaku,” jawab Joohyun.

“Apa kau tidak ingin menunggunya pulang selama beberapa hari lagi, mungkin? Aku yakin dia pasti butuh seseorang untuk menenangkan dan menghiburnya,” pinta Taeyeon.

Joohyun berbalik memandang Taeyeon. “Dia pasti akan seperti itu. Tapi bukan aku, Taeyeon-ssi. Bukan aku yang ia harapkan ada di depannya untuk dia peluk dan dekap. Bukan aku yang ia harapkan untuk mengucapkan, ‘tenanglah, aku ada di sini’. Aku tahu kau tahu kalau perasaannya bukan hanya sekedar membutuhkan dan aku belum mengerti kenapa kau tidak memahami perasaannya,”

Taeyeon terdiam selama beberapa detik. Mengira tak ada lagi yang akan disampaikan padanya, Joohyun menarik kopernya dan membalikkan tubuhnya untuk keluar kondo.

“Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan sekarang, Joohyun-ssi. Bukankah kau sangat mencintai Jiyong? Kau sudah melalui semua ini untuk meraih impianmu dan sekarang kau akan menyerah padanya?” tanya Taeyeon.

“Seperti yang kau katakan, perasaan setiap manusia tidak akan ada yang mengetahuinya. Terkadang kita juga tidak tahu dan akan menyadarinya di akhir,” jawab Joohyun tanpa memandang ke arah Taeyeon. “Kau paham itu dan kuharap kau mau memikirkan keputusanmu lagi. Karena aku juga ingin menyelesaikannya,”

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Taeyeon.

“Aku hanya ingin orang yang aku sayang tidak lebih terluka daripada diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin menyebabkan dia menderita lebih jauh dari apa yang bisa aku bayangkan,” jawab Joohyun. Ia sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Taeyeon, yang dibalas juga oleh gadis itu selama beberapa detik. Sebelum akhirnya ia membuka pintu kondo Jiyong dan keluar.

Taeyeon menghela nafas panjang dan memilih duduk di sofa ruang tengah kondo itu. Ia merenungi setiap perkataan Joohyun tadi. Ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan gadis itu dan malah semakin mengkhawatirkannya. Taeyeon mengusap wajahnya dan menutupnya dengan kedua telapak tangan, menyesali semuanya dan itu terasa sia-sia. Apa bisa ia memperbaikinya?

Cukup lama ia terdiam dengan masih menutup wajahnya. Entah kenapa aroma citrus yang selalu menguar dari tubuh Jiyong, yang selama ini selalu menghampiri indra penciumannya, kembali ia hirup, kembali menghampiri hidungnya.

Taeyeon menurunkan telapak tangannya dan memandang ke sekeliling ruangan yang ada di kondo itu. Ia mencium aroma citrus. Ia hafal aroma khas seorang Jiyong. Begitu fresh, begitu nyaman, begitu dirindukannya. Ia memandang ke segala arah dan apa yang ia harapkan? Kehadiran laki-laki itu?

Ia begitu menyesal, begitu bersalah. Ia marah pada dirinya sendiri. Kembali terbayang di benaknya bagaimana kecewanya, bagaimana sakitnya seorang Jiyong yang ia lihat kemarin malam. Ia tahu perasaan Jiyong. Tulus dan dalam. Dan dengan mudahnya Taeyeon mengoyak perasaan itu bahkan di depan wajahnya.

Seandainya Jiyong tahu ia juga sama terlukanya dengan lelaki itu. Seandainya Jiyong tahu ia juga sangat mencintainya. Seandainya waktu bisa diputar ke belakang, Taeyeon tidak akan pernah mau menginjakkan kaki dan masuk ke dalam kehidupan Jiyong.

“Aku hanya bisa menyakitimu dari awal,” bisik Taeyeon pada dirinya sendiri, dengan harapan agar Jiyong mampu mendengarkannya sejauh apapun laki-laki itu berada. “Neo eodisseoyo? Apa kau baik-baik saja? Kuharap begitu,”

Taeyeon menyandarkan kepalanya di sofa dan detik berikutnya ia menangis terisak-isak, menumpahkan semua rasa sesak di dadanya yang kian lama semakin menyakitkan.

I’m alright, really alright

I try telling myself it doesn’t hurt

I try to smile but I can’t

Maybe I love you a lot, more than I thought

For you, who is turning around,

I had to cry alone

~~~

“Apa imo akan pergi ke suatu tempat yang jauh? Kenapa imo pergi dari kondo Yong ahjussi?” tanya Lauren pada Joohyun yang kini duduk di sampingnya di atas tempat tidur rumah sakit. Joohyun menggenggam boneka kucing milik Lauren yang berwarna hitam sedangkan yang warna putih berada dalam rangkulan Lauren.

“Imo akan tinggal di rumahku yang sebenarnya, Laurennie. Tempat eomma dan appa,” jawab Joohyun. “Jadi, imo tidak bisa berada di dalam kondo ahjussi lama-lama. Aku hanya menumpang padanya,”

“Itu artinya imo tidak akan ada di sini lagi? Tidak akan berada di dekat ahjussi lagi? Atau ahjussi ikut bersamamu?” tanya Lauren.

Joohyun tertawa kecil dan ia menggeser tubuh Lauren untuk di bawanya ke dalam dekapan gadis itu. “Kalau kau ingin imo datang, aku pasti akan datang dan kita bisa bermain lagi. Untuk masalah ahjussi, ahjussi tidak akan pergi bersama denganku. Ahjussi juga punya banyak pekerjaan di sini,”

“Aku fikir kalian selalu bersama. Eomma pernah bilang kalau kau adalah teman special-nya ahjussi,” ujar Lauren.

“Ne, imo adalah teman special-nya ahjussi, seperti Bae dan Seunghyun ahjussi, Hyorin dan Tiffany imo,”

“Bagaimana dengan uri eomma?”

“Eomma? Eomma adalah orang special untuk ahjussi,” jawab Joohyun dengan senyuman manisnya yang ia tuju untuk Lauren. “Seperti dirimu yang begitu special untuk eomma dan appa,”

Mino, yang tengah membaca sebuah buku di atas sofa kamar Lauren, mendongakkan wajahnya dan memandangi Joohyun juga Lauren secara bergantian. Ia meletakkan buku itu di sofa dan bangkit mendekati kedua perempuan tersebut.

“Apa Tiffany noona benar-benar akan menjemput dan mengantarmu ke stasiun?” tanya Mino pada Joohyun.

“Ne, tenang saja. Eonni sedang dalam perjalanan,” jawab Joohyun. “Cha, Laurennie. Bagaimana kalau kau menceritakan kembali dongeng yang diceritakan appa kemarin malam padaku sebelum pergi? Gadis pintar sepertimu pasti tidak akan lupa dengan janjinya sendiri, ‘kan?”

“Ahh… ne. Tentu saja. Aku bahkan menahan kantuk agar tidak tidur sebelum appa menyelesaikan ceritanya,” seru Lauren dengan ekspresi gembiranya. Ia membenarkan duduknya di sisi Joohyun dengan kepalanya yang bersandar di lengan kanan gadis itu. “Imo juga harus mendengarkan dengan baik, arra?”

Lauren kembali menceritakan ulang dongeng yang dibawakan Mino kemarin malam dengan intonasi serta ekspresinya yang menggebu-gebu. Sedangkan Mino dan Joohyun hanya mendengarkan si kecil bercerita sambil sesekali tertawa dengan ekspresinya yang sangat menggemaskan. Sampai kurang lebih satu jam bercerita, kedua mata Lauren mulai sayu dan perlahan-lahan ia tertidur di pangkuan Joohyun.

Joohyun membaringkan tubuh kecil Lauren dengan sangat hati-hati di atas tempat tidurnya. Joohyun bangkit berdiri dan menyelimuti si kecil kemudian meletakkan dua boneka kucing itu di kedua sisinya. Joohyun tersenyum senang sembari membelai lembut pipi kiri Lauren selama beberapa detik sampai ponselnya berbunyi menandakan ada notification baru. Dari Tiffany.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang,” ujar Joohyun. Ia mengecup dahi Lauren dan mengambil tas tangan serta kopernya. “Sampai bertemu lagi, Mino-ssi,”

“Apa kita memang benar-benar akan bertemu lagi?” tanya Mino, yang sukses membuat langkah Joohyun terhenti seketika. Ia menoleh memandang Mino dengan wajah bingung.

As you wish, Song Minho,” jawab Joohyun dengan suara lirihnya. Ia tahu suaranya mendadak bergetar dan dia tidak bisa untuk tidak bersikap biasa saja pada laki-laki itu.

Mino mengangguk dan ia tersenyum sedih pada Joohyun. “Sebenarnya, jawabanmu adalah penentu hidupku. Jika kau berkata ya, mungkin aku akan membukakan pintu maafku untukmu dan memberikanmu kesempatan. Kau tahu maksudku. Dan jika tidak, keputusanku untuk jatuh cinta pada Kim Taeyeon dan membahagiakannya selamanya sudah bulat.

“Bae Joohyun,” lanjut Mino. “Seperti yang kukatakan, jawabanmu dan keputusan Taeyeon adalah penentu hidupku, kita, dan mereka. Sekali kalian menjawab dan memutuskan, kita semua tidak akan bisa mundur lagi,”

Actually, I lied to you

You know this too I’m not alright

You know my heart

Don’t pretend you don’t know, you can’t just turn around

I’ll come back, don’t hurt

Anything you say is alright

I know you will hurt, a lot more than me

You, who said a love without pain isn’t love,

I love you

~~~

Selepas Joohyun pergi, Mino kembali masuk ke dalam kamar Lauren dan menghela nafas panjang. Ia duduk di sofa dan membuka buku yang tadi dibacanya lagi. Belum sempat satu huruf menempel di kepalanya, seseorang masuk ke dalam kamar Lauren tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Mino menolehkan wajahnya dan melihat Youngbae dan Soohyuk sudah melangkah mendekati dirinya.

Bro, kenapa tidak ada kabar sama sekali kalau kau pulang?” tanya Youngbae.

Mino bangkit berdiri dan langsung memeluk kedua sahabat kakak sepupunya yang juga sudah ia anggap keluarga sendiri. Youngbae dan Soohyuk balas memeluk Mino dengan tepukan kuat di punggung laki-laki itu.

“Kau baik-baik saja selama di Paris?” tanya Youngbae setelah mereka saling melepas pelukan.

“Tidak pernah merasa jauh lebih baik dari sekarang. Aku dokter, ingat?” jawab Mino sedikit bercanda.

“Dokter anak,” dengus Youngbae. Ia mengarahkan pandangan matanya menuju Lauren yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.

“Kau benar-benar memilih jadi dokter ternyata. Kenapa tidak kau ajak si Jiyong untuk ikut bersamamu?” tanya Soohyuk diselingi tawa renyahnya.

“Ini adalah pilihan yang terbaik, hyung. Lagipula Jiyong hyung juga lebih cocok bekerja di bagian fashion,” jawab Mino. “Kalian ke sini mau melihatku atau melihat Laurennie?”

“Kalian berdua,” jawab Youngbae dan Soohyuk secara bersamaan.

Mino tersenyum dan membawa kedua kakaknya menuju tempat Lauren berbaring. “Dia sedang tidur nyenyak setelah puas bercerita. Kalian datang terlambat, hyung,”

“Bagaimana kondisi uri Laurennie?” tanya Youngbae. Ia menyibakkan anak rambut Lauren yang menempel di dahinya dengan lembut dan hati-hati. Sedangkan Soohyuk membelai lengan kanan Lauren yang seputih susu.

“Dia sudah jauh lebih baik, hyung. Jangan khawatir,” jawab Mino dengan wajah meyakinkannya. “Asmanya kambuh dan ia mengalami demam tinggi kemarin. Taeyeon bilang dia mengalami mimpi buruk sebelum pulang ke Seoul,”

“Pasti Taeyeon lupa bawa obatnya,” ujar Soohyuk pada Youngbae.

Youngbae mengangguk setuju. “Itu karena… di samping Lauren sebelumnya ada dokter anak yang selalu mendampingi dia dan ibunya ke manapun mereka pergi. Lauren juga jarang kambuh karena itu. Dia menganggap ahjussi itu adalah obatnya,”

“Jiyong hyung?” terka Mino dan ia tersenyum lembut. “Aku sangat berterima kasih sekali kepada kalian karena sudah menyayangi dan mencintai anakku dengan begitu tulus. Berbeda denganku yang baru kembali, yang baru memeluk putri kecilnya sendiri. Jujur saja, aku ketinggalan sekali melihat perkembangan Lauren,”

Soohyuk menghentikan belaiannya di lengan Lauren dan memandang intens Mino. “Kau benar-benar Lauren appa? Aku dengar dari Tiffany semuanya,”

“Aku memang brengsek karena baru kembali sekarang, hyung. Wajar jika kalian marah padak,” gumam Mino.

“Kami sama sekali tidak marah padamu,” sanggah Youngbae. Ia menjauhi tempat tidur Lauren dan mengarahkan kedua kakinya menuju jendela rumah sakit. “Hanya saja aku tidak percaya apa yang telah kau lakukan pada Taeyeon. Aku mengenal baik Taeyeon dari Hyorin dan Tiffany. Gadis seperti dia tidak mungkin mudah jatuh dalam rayuan mautmu yang hanya menginginkan one night stand. Dia gadis baik yang bahkan tak mau didekati oleh orang-orang sepertimu dulu,”

“Aku minta maaf, hyung,” lirih Mino. “Jeongmal mianhae,”

“Kau yang selama ini membuat beban dalam hidupnya, Mino-ah? Apa kau tahu betapa hancurnya dia waktu memiliki anak darimu tanpa ikatan apa-apa? Yang lari keluar negeri tanpa memberitahukan apa-apa, bahkan tanpa melihat sendiri kelahiran anakmu. Apa kau tahu betapa kerasnya perjuangan Taeyeon untuk menghidupi dua orang sekaligus? Dan lagi, kau tidak tahu, ‘kan kalau Lauren pernah mengalami trauma terhadap orang baru? Kenapa kau baru kembali sekarang, Mino-ah?!”

“Youngbae-ah,” tegur Soohyuk dengan suaranya yang masih pelan, takut membangunkan Lauren. “Taeyeon pasti mengerti alasan Mino,”

“Tapi aku tidak paham dengan cara fikiranmu, anak muda,” ujar Youngbae pada Mino. “Seandainya Taeyeon masih belum menerima dirimu, mungkin kau akan kuhabisi sekarang,”

“Semua orang yang melihat Taeyeon memiliki Lauren tanpa adanya ayah mencibir gadis itu semau mereka. Jika seandainya kami tidak mengenal Taeyeon, mungkin kami juga akan mengira dia sama dengan semua jalangmu dulu,” lanjut Soohyuk. “Sekarang, apa kau mau menjelaskan bagaimana detail dari kejadian ini? Kenapa Taeyeon bisa berada dalam permainanmu? Kau mengenalnya? Mencintainya dan menjebaknya?”

“Aku tidak bisa menceritakan hal itu pada kalian, hyung mianhae. Taeyeon memaksaku untuk merahasiakannya,” ungkap Mino. “Dan lagi, aku pergi tanpa melihat dan mengabarinya karena aku tidak tahu dia akan hamil. Setelah aku tahu dari Tiffany noona, aku sudah berangkat ke Paris dan memintanya untuk selalu menjaga Taeyeon dan Lauren. Aku berjanji akan kembali sekaligus membenahi diriku sendiri untuk bisa menjadi sosok ayah yang pantas bagi Lauren. Dan sosok yang pantas untuk mencintai Kim Taeyeon,”

Youngbae menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Apa kau tahu, kalau bukan kau orangnya, Jiyong akan menghajar dan menghabisimu sampai mati?”

“Aku tahu,” jawab Mino dengan suaranya yang sedikit bergetar.

“Dan apa kau tahu alasan dia ingin berbuat seperti itu? Apa kau tahu perasaan kakak sepupumu itu saat tahu kau adalah Lauren appa?” sambung Soohyuk.

“Aku tahu. Aku tahu dia mencintai Taeyeon,” ujar Mino. “Tapi Taeyeon adalah Lauren eomma, dan aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain minta maaf yang sebesar-besarnya pada Jiyong hyung. Aku tidak tahu kalau situasinya akan serumit ini, hyung,”

“Jiyong sangat menyayangi kalian berdua, Mino-ah. Mengetahui hal ini, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menghancurkan perasaannya sendiri, membunuh egonya agar kau bisa menunaikan janjimu dan membahagiakan Taeyeon dan Lauren. Dia juga sangat mencintai Taeyeon, lebih dari yang bisa dia bayangkan sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa membencimu. Jiyong berusaha untuk membenci Taeyeon dan menghapus gadis itu dari hidupnya,” ungkap Soohyuk.

“Hyung, jebal. Jangan biarkan Jiyong hyung membenci Taeyeon. Taeyeon tidak pernah salah apa-apa. Dia hanya korban. Jebal,” pinta Mino.

“Jiyong sudah memutuskan untuk menyerah. Kalau bukan membencinya, Jiyong tidak akan pernah bisa melepas Taeyeon, Mino-ah,” ujar Youngbae. Kedua matanya memandang jauh ke langit. “Lagipula, di sini tidak ada yang salah. Jiyong jatuh cinta pada Taeyeon di saat yang tidak tepat. Dan Taeyeon juga tidak mengatakan semuanya dari awal,”

“Dia tidak mengatakannya karena dia tidak percaya padaku di awal. Dia takut aku tidak akan datang dan memutuskan untuk diam saja,” jelas Mino.

“Karena Jiyong sudah mundur, kuharap kau bisa membahagiakan Taeyeon dan Lauren kecilku, Mino-ah. Bagaimanapun juga, aku sangat menyayangi mereka berdua,” gumam Youngbae, yang tentu masih bisa didengar oleh Mino.

“Kuharap aku bisa memberikan jalan yang terbaik untuk kami, hyung,” jawab Mino. Youngbae dan Soohyuk balik memandang Mino, yang kedua matanya tampak berkaca-kaca.

~~~

Taeyeon tahu dia akan segera dihubungi oleh Hyorin sejak Mino pulang dan mengumumkan bahwa dirinya adalah Lauren appa. Itu sebabnya Taeyeon sekarang berada di kondo Jiyong bersama dengan Hyorin, duduk berdampingan di atas sofa ruang tengah Jiyong.

“Mianhae, Taeng. aku baru bisa menghubungimu karena ada kerjaan selama dua minggu belakangan ini,” ujar Hyorin dengan wajah murungnya. “Aku juga tahu ada banyak kejadian yang menimpamu dan Jiyong,”

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan ia tersenyum, berusaha tersenyum manis pada Hyorin. “Mianhae, eonni. Aku melukai adikmu,”

Taeyeon terisak begitu saja tanpa direncanakannya. Padahal, hampir tiap malam ia selalu menangisi Jiyong, mengkhawatirkan laki-laki itu yang belum kunjung pulang ke kondonya. Taeyeon juga tidak tahu keberadaannya di mana. Dari mulai Youngbae sampai sahabat-sahabat dekatnya yang lain tidak tahu dia ada di mana. Ji eun, selaku CEO Peaceminusone yang diutus oleh Jiyong, pun tidak tahu dia ada di mana. Mereka saling berhubungan lewat telepon dan Jiyong menolak untuk datang rapat mingguan bersama para karyawannya.

“Taeyeon-ah, uljimayo,” lirih Hyorin. Ia menarik tubuh mungil Taeyeon dan membawanya ke dalam pelukan gadis itu. “Sshh…,”

“Aku… pernah mengatakannya padamu, ‘kan eonni? Aku akan melukai dia. Aku akan membuatnya membenciku. Dia pasti akan tersakiti karena aku. Aku pernah mengatakannya padamu dan inilah dia. Inilah alasanku kenapa aku tidak pernah bisa membuka pintu hatiku untuknya. Aku tahu dia siapa dan aku tidak pernah mau berhubungan dengannya. Ketika dia mengatakan kalau dia menyukaiku, rasanya aku ingin menghilang di hadapannya. Tapi aku tidak bisa. Sebaliknya, aku justru juga jatuh cinta padanya.

“Aku tidak pernah mengatakan siapa Lauren appa karena bagiku dia tidak akan kembali. Dia memang berjanji tapi aku sulit mempercayainya. Lauren appa itu siapa, biarlah hanya aku dan Tiffany yang tahu. Jika aku mengatakannya, aku takut Mino akan menepis fakta itu dan malah semakin menyakiti Lauren. Kenyataannya, Mino mau kembali dan bertemu dengan Lauren.

“Eonni. Aku tahu kau akan membenciku juga. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku sudah melukai perasaan seseorang yang bahkan jauh lebih rapuh dari diriku. Aku memberinya harapan dan membuangnya. Aku tahu kau pasti benci padaku. Hanya saja, aku benar-benar minta maaf,” jelas Taeyeon panjang lebar di dalam rengkuhan Hyorin.

Hyorin membelai-belai sayang rambut Taeyeon sebelum akhirnya ia berujar, “Aku tidak akan membencimu, Taeyeon-ah. Ingatkah kau kalau aku pernah berjanji padamu untuk selalu ada di sisimu, untuk selalu mendukungmu ketika ini semua terjadi? Aku tidak akan menyalahkanmu, Taeng. Tidak ada yang salah di sini. Aku juga merasa menyesal pada Jiyong, kita sudah pernah memperingatkannya untuk tidak mengejarmu, ‘kan? Tapi perasaan seseorang itu tidak akan ada yang bisa memaksakannya,”

Hyorin melepas pelukannya dan memandang Taeyeon yang masih sibuk menyeka air matanya. Ia masih sedikit terisak dan balik memandang Hyorin.

“Aku tahu kau bisa bersikap egois, Taeng. Aku tahu kau bisa memilih Jiyong tapi aku juga tahu resikonya sangat besar. Lauren. Sesayang apapun dia pada Jiyong, dia tidak akan bisa memilihnya. Meskipun mereka baru pertama kali bertemu, aku yakin perasaan seorang anak pada ayahnya jauh lebih besar dari apapun. Dan Mino, sudah melampaui banyak hal, mengubah dirinya dan berusaha jadi yang terbaik untuk Lauren dan dirimu. Jiyong juga tidak akan mau menyakiti seseorang yang sudah dia anggap adiknya sendiri. Jiyong itu, bagaimanapun juga memiliki perasaan yang selembut sutra,” lanjut Hyorin.

“Aku mengkhawatirkannya, eonni. Sudah dua minggu ini dia tidak pulang,”

“Dia pasti akan pulang, dear,” ujar Hyorin. “Dia akan pulang ketika dia sudah memantapkan hatinya untuk melepasmu. Jika dia kembali nanti, kau juga harus siap untuk memulai semuanya dengan Mino. Dengar, Taeng. Jiyong mungkin akan memilih untuk membencimu atau menghiraukanmu. Tapi percayalah, dia tidak akan bisa membencimu. Kau juga harus terima itu dan jangan memaksakan untuk berbaikan dengannya. Itu satu-satunya jalan agar ia bisa melepasmu, dengan cara memaksakan perasaannya sendiri,”

Taeyeon mengangguk. “Eonni, kuharap dia akan baik-baik saja. Tolong pastikan dia selalu sehat dan jangan biarkan dia terlalu banyak mengonsumsi alkohol,”

“Taeng, kau tahu aku bukan orang yang bisa dia dengar. Dia keras kepala dan semaunya sendiri. Kau tahu siapa yang selama ini hanya mau dia dengar,” lirih Hyorin dengan wajahnya yang kembali murung, menyesal karena tidak bisa memenuhi permintaan Taeyeon.

Taeyeon menundukkan wajahnya dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Kembali bimbang.

~~~

Namsan International Kindergarten, Seoul, South Korea.

“Annyeong, babygirl,” sapa Jiyong pada seorang gadis kecil yang tengah duduk di ayunan di dalam taman bermain yang ada di samping sekolahnya bersama dengan seorang anak laki-laki yang memiliki tampang tak kalah menggemaskannya dari si gadis kecil itu, Leo.

Gadis kecil dan anak laki-laki itu mendongakkan wajah mereka ke asal suara. Lauren membelalakkan kedua mata bulatnya dan ia bangkit dari ayunannya. Tubuhnya yang mungil langsung melompat ke dalam dekapan Jiyong. Jiyong tersenyum lebar dan memeluk serta mengangkat Lauren dalam gendongannya yang begitu dirindukan Lauren selama satu bulan lebih ini.

“Ahjussi! Neomu bogoshippeoseoyo!” pekik Lauren yang masih memeluk erat leher Jiyong. “Kau dari mana saja? Kenapa tidak datang menjengukku sebulan yang lalu? Apa kau tahu aku sangat merindukanmu hingga rasanya mau mati?!”

Jiyong melonggarkan sedikit pelukannya dan tertawa renyah mendengar tuturan Lauren. “Nado, Laurennie. Aku juga sangat, sangat merindukanmu. Tapi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan di luar sana dan tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Mianhae, babygirl. Aku tidak ada saat kau sakit kemarin,”

“Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada ahjussi,” ucap Lauren dengan mengerucutkan bibirnya, kesal. “Tapi aku senang ahjussi baik-baik saja. Aku fikir, ahjussi tidak akan kembali lagi. Jangan pergi lama-lama lagi, eoh?”

“Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu padamu?” tanya Jiyong.

“Annyeong, ahjussi,” sapa Leo pada Jiyong.

“Eoh, annyeong, Leonnie,” balas Jiyong.

“Aku tidak suka dengan nama panggilan itu, kecuali Lauren yang memanggilku,” rutuk Leo.

“Dan kau masih sama menyebalkannya dengan terakhir kita bertemu, eh?”

“Ahjussi, kau tidak datang bersama eomma?” tanya Lauren. Ia turun dari gendongan Jiyong dan menggenggam salah satu tangan laki-laki itu. “Padahal eomma sedang bekerja di kondomu,”

Jiyong tampak sangat terkejut sekaligus terluka di saat bersamaan. Namun, ia segera mengubah ekspresinya saat Leo menatapnya lekat-lekat. “Ahjussi tidak menginap di kondo selama beberapa minggu ini, dear. Dan… apa eomma masih bekerja? Bukankah appa sudah kembali?”

“Ne, appa sudah pulang, ahjussi! Dan apakah kau tahu, Leonnie? Appa dan Yong ahjussi bersaudara. Itu artinya, ahjussi adalah ahjussi-ku,” ungkap Lauren gembira pada Leo. “Pantas saja wajah kalian mirip. Leo juga sampai salah memanggilmu ketika kalian pertama kali jumpa dan Leo memang saling mengenal dengan appa,”

Jiyong tersenyum simpul. Ia duduk di salah satu ayunan itu dan menarik Lauren untuk duduk di atas pangkuannya. Ia juga menyuruh Leo untuk duduk di salah satu ayunan itu.

“Appa akan datang menjemputku, ahjussi. Kau mau ikut dengan kami berdua ke apartemenku? Kita juga bisa menjemput eomma dan bermain bersama. Seperti bermain ice skating lagi, misalnya?” ajak Lauren.

“Aku akan senang sekali menerima ajakanmu, baby. Tapi aku ke sini hanya ingin bertemu denganmu dan appa. Aku juga tidak bisa berlama-lama untuk hari ini,” tolak Jiyong dengan nada penyesalan yang teramat sangat dalam.

“Waeyo? Bagaimana kalau besok? Lusa?” tanya Lauren lagi.

“Mungkin tidak juga, sayang,”

“Wae? Ahjussi… tidak mau pergi bermain bersamaku lagi? Apa karena appa sudah datang? Kita bisa bermain bertiga, bersama-sama,”

“Laurennie,” panggil Jiyong dengan suara lirihnya. Leo mendongak menatap wajah sayu Jiyong dan diam seribu bahasa untuk mendengarkan laki-laki itu. “Apa kau tahu appa tidak bekerja di Korea? Dia bekerja di sini hanya beberapa hari dan dipindahtugaskan ke tempat yang sangat jauh sekali dari Korea,”

Lauren diam. “Apa itu artinya appa akan meninggalkan kami lagi?”

“Aniya. Appa akan membawamu… bersama eomma. Kalian tinggal bersama dan bahagia selamanya, seperti yang selama ini kau impikan. Appa akan membawamu ke tempatnya untuk hidup yang lebih baik lagi,” jelas Jiyong. Ia membelai lembut surai panjang Lauren dan menghirup aroma shampoo-nya yang wangi. Mirip dengan wangi yang selalu menguar dari tubuh Taeyeon.

“Appa… memang berjanji kami akan tinggal bersama. Tapi aku tidak tahu kalau dia akan membawa kami ke tempat yang sangat jauh,” lirih Lauren. Ia bangun dari pangkuan Jiyong dan memandang wajah tampan laki-laki itu dengan wajah merah menahan air mata. “Ahjussi tidak ikut?”

“Tempat ahjussi adalah di sini. Pekerjaan ahjussi di sini. Mana mungkin aku pergi bersama kalian?” sanggah Jiyong.

“Kalau begitu, aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu? Dengan Bae ahjussi? Hyorin dan Tiffany imo?” tanya Lauren. “Aku tidak akan bisa melihatmu lagi? Bermain bersamamu?”

“Kau bahagia, ‘kan bertemu appa?” tanya Jiyong yang dibalas anggukan oleh Lauren. “Kalau begitu ikutlah dengannya karena kau adalah putri kecilnya Mino. Bahagialah bersama appa seperti yang selama ini kau impikan. Ahjussi sudah mengajarimu untuk menyayangi sosok appa, ‘kan? Jaga appa dan eomma dan jadilah kebanggaan mereka berdua.

“Aku memang tidak akan ikut dan jauh darimu. Kita juga tidak akan sering bertemu seperti sekarang ini. Mungkin tiga atau empat tahun kemudian? Atau lebih? Tapi ingatlah, Laurennie. Ahjussi… akan selalu menyayangimu di manapun kau berada. Kita memang jauh, tapi aku selalu dekat di hatimu, ‘kan? Kalau kau merindukanku, kau tinggal katakan pada appa dan ahjussi akan menghubungimu,”

“Kau bilang kau sayang pada eomma,” lirih Lauren. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. “Appa sudah kembali dan sekarang kau yang akan pergi,”

Kedua telapak tangan Jiyong mengepal. Ia tersenyum dengan sangat terpaksa agar tidak ikut menangis di hadapan Lauren. “Ahjussi sayang pada eomma tapi tidak sebesar appa menyayanginya. Karena aku sayang pada eomma, itu sebabnya aku harus membiarkan dia bahagia dengan appa, ‘kan? Ahjussi juga akan selalu ada di hati eomma. Eomma juga akan jadi orang yang selalu aku sayangi. Sekarang, eomma akan selamanya jadi tanggung jawab appa, bukan aku,”

Lauren menundukkan wajahnya, bahunya sedikit terguncang dan Jiyong tahu ia menangis. Ia ingin merangkul kembali putri kecilnya, tetapi tubuhnya mendadak beku dan sekali ia menggerakkannya, Jiyong yakin ia juga akan ikut menangis.

“Ahjussi orang pertama yang memberikan kasih sayang seorang appa padaku. Aku bahkan lebih menyayangimu daripada Bae ahjussi yang kukenal lebih dulu,” gumam Lauren. “Aku pasti akan sangat merindukanmu,”

“Nado,” balas Jiyong. Ia tersenyum manis dan memeluk Lauren dengan sangat erat. Lauren balas memeluk Jiyong bersamaan dengan isakannya.

“Hyung?” sapa seseorang di belakang Jiyong, Lauren dan Leo.

“Appa!” panggil Lauren. Ia melepas pelukan Jiyong dan memandang nanar pada Mino.

Mino mendekati Lauren dan memeluk gadis kecilnya seraya menggendongnya. “Hyung…,”

“Maaf sudah membuat Lauren menangis, Mino-ah,” ujar Jiyong sambil tertawa.

“Kau dari mana saja? Kenapa tidak pulang ke kondo? Semuanya sangat mencemaskanmu, hyung,”

“Pekerjaan,” jawab Jiyong singkat. “Aku sudah mengatakannya pada Lauren. Tentang rencanamu ke Kanada. Dan aku sedikit mengucapkan selamat tinggal padanya,”

“Ahjussi berjanji akan segera menemui kita. Kita juga akan bertemu dengan ahjussi, ‘kan appa?” tanya Lauren pada Mino.

Mino mengangguk dan ia mengelus sambil menghapus air mata yang membasahi pipi putri kecilnya. “Hyung, mianhae. Aku sangat menyesal,”

“Aniya,” sela Jiyong cepat. “Tidak ada yang perlu disesali, Mino-ah. Lagipula semuanya sudah terlambat, ‘kan? Kalau bukan kau, mungkin aku akan membunuhmu kemarin,”

“Aku tahu. Aku…,”

“Soohyuk sudah menceritakannya padaku,” potong Jiyong lagi. “Untuk sekarang ini, fikirkanlah masa depanmu, Lauren, dan Taeyeon. Bahagiakan mereka seperti janjimu dan tebuslah kesalahanmu dengan memberikan cinta yang sebanyak-banyaknya pada mereka. Waktu memang tidak bisa kita putar ulang, tapi kita masih bisa memperbaiki semuanya di masa yang akan datang, ‘kan?”

“Hyung, aku… Jeongmal mianhae. Aku menyakitimu, mianhae,” lirih Mino. Jiyong hanya terdiam memandangi Mino tanpa bisa mengucapkan apa-apa lagi. Rasa sesak di dadanya kembali muncul dan ingin memberontak keluar. Jiyong hanya bisa mengepalkan buku-buku jarinya dan menghembuskan nafas panjang dengan kasar, berharap rasa sakitnya yang luar biasa ini segera hilang.

~~~

Awalnya Jiyong menolak untuk makan siang bersama Mino, Lauren dan Leo dengan alasan dia harus kembali ke kondonya. Tapi Lauren merengek dan minta agar laki-laki itu mau ikut bersama mereka. Tidak ingin melihat kesedihan di wajah Lauren, Jiyong pun mengiyakan dan beruntungnya dia, Taeyeon tidak ada di sana.

Setelah berpisah dengan Mino dan Lauren, Jiyong memutuskan untuk kembali ke kondonya. Youngbae serta sahabat-sahabatnya yang lain memintanya untuk bertemu. Jiyong menolak. Ia merasa ingin mengurung dirinya lagi di dalam kondo.

Entah indra penciumannya yang salah atau memang ia sudah gila, begitu ia membuka pintu kondonya, ia dapat mencium aroma khas seorang Kim Taeyeon di dalam. Masih segar dalam ingatan Jiyong bagaimana harum tubuh Taeyeon yang mampu membuatnya nyaman dan tenang untuk berlama-lama membawa gadis itu dalam dekapannya.

Benar saja. Baru satu langkah Jiyong memasuki rumahnya, Taeyeon muncul dari arah dapur sembari melepas apron putihnya. Kedua hazel Jiyong terbelalak, wajahnya mengeras, dan dadanya kembali bergemuruh kencang memandang sosok yang selama ini ia rindukan ada di hadapannya. Sosok yang ia cintai, yang melukainya dengan begitu dalam.

“Jiyong-ssi?” gumam Taeyeon. Wajah gadis itu juga tak kalah terkejut. Ia berdiri mematung memandangi laki-laki yang selama ini selalu membuatnya khawatir dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Laki-laki yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata setiap malam saking tidak bisa lagi ia menahan rindu di hatinya. Laki-laki yang ingin dipeluknya erat, yang ingin ia sayangi tanpa ada beban apapun.

“Kenapa kau masih bekerja di sini?” tanya Jiyong dengan wajah datarnya setelah ia berhasil mengendalikan rasa terkejutnya. Melupakan rasa sakit hatinya, ia berusaha tenang.

“Aku…,”

“Aku memecatmu,” sela Jiyong. Ia berbalik dan duduk di atas sofa. Dikeluarkannya ponselnya dan ia tampak sedang mengetik sesuatu. “Tidak perlu datang ke sini lagi. Bukankah suamimu sudah datang?”

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan. “Jiyong-ssi, begini aku… aku minta maaf. Jeongmal mianhae. Inilah maksudku kalau suatu hari kau akan membenciku. Inilah alasanku kenapa aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu,”

“Karena Song Minho?” tanya Jiyong, masih dengan nada dingin dan wajah tanpa ekspresinya. “Kenapa kau tidak pernah bilang padaku mengenai Lauren appa? Sebelum aku benar-benar jatuh cinta padamu, sebelum aku menggantungkan semua hidupku padamu, kenapa kau tidak pernah mengatakan secara jelas siapa ayah Lauren? Kau hanya diam, ‘kan? Bukankah itu sama saja dengan mempermainkan perasaanku?”

“Aku takut,” jawab Taeyeon pelan sekali. “Aku hanya takut dia tidak kembali. Aku takut keadaannya akan semakin rumit dengan aku mengatakan siapa ayah Lauren, mengetahui kau adalah kakak sepupunya,”

“Atau…,” sambung Jiyong. “Karena kau tahu aku ini kakak sepupunya, kau berniat mempermainkan perasaanku dan melihatku seperti ini? Begitu?”

“Aku tidak pernah memikirkan hal yang serendah itu, Kwon Jiyong. Aku tidak akan pernah bermain-main dengan perasaanmu ataupun perasaan orang lain. Aku juga sempat menyarankanmu untuk tidak menyukaiku, ‘kan?” tanya Taeyeon dengan suara bergetarnya, berusaha keras untuk tidak menangis di hadapan laki-laki itu. Tentu saja tuduhan tak masuk akal Jiyong menyakiti hatinya.

Jiyong bangkit berdiri dan melangkah mendekati Taeyeon dengan pandangan matanya yang tajam mengarah pada gadis itu. “Kim Taeyeon, kenapa kau bisa terjebak dalam permainan Mino? Kau tahu siapa dia, mungkin lebih brengsek dari pada aku. Tapi kenapa kau bisa berhubungan dengannya? Tidur bersamanya? Apa kau bekerja di salah satu club sebelum ini? Atau kau memang salah satu dari teman wanitanya?”

Taeyeon menatap kedua mata Jiyong yang berkilat marah dengan perasaan shock. Hatinya tentu saja sakit mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Jiyong. Apa dengan pemikiran tersebut, Jiyong berusaha membencinya? Pemikiran yang bahkan tidak pernah Taeyeon lakukan sama sekali.

“Mungkin kau benar-benar wanita jalangnya, Ms. Kim. Karena sudah kebablasan kau memutar arah hidupmu dan trauma dengan laki-laki seperti Mino? Sepertiku dulu, yang kau anggap brengsek sebelum aku jatuh cinta padamu,” lanjut Jiyong.

Sebelum Jiyong kembali melanjutkan kata-katanya, ponsel laki-laki itu berdering menandakan ada telepon masuk. Jiyong mengambil ponsel itu di atas meja di depan sofa dan mengangkatnya.

Yo, noona,” sapa Jiyong dengan wajah gembiranya. Ia mengaktifkan speaker ponselnya dan duduk di atas sofa lagi.

Ya! Kenapa kau tidak pernah menghubungiku lagi setelah pulang dari Paris, eoh?! Kau tidak merindukanku? Kudengar kau sudah tidak bermain lagi di club? Wae? Aku benar-benar kesepian di sini, apa kau tahu? Tidak ada laki-laki yang ‘sweet talker’ sepertimu, Jiyongie,”

“Bukankah yang ‘sweet talker’ itu dirimu, noona? Siapa yang dulu sibuk berdekatan dengan laki-laki yang bahkan sudah memiliki cucu?” canda Jiyong. “Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini aku mengundangmu makan malam berdua di kondoku? Kalau kau tidak setuju, tidak apa-apa. Mungkin aku akan mengundang yang lain,”

“Apakah aku tampak akan menolaknya? Aniya, aku pasti akan ke sana sebelum pukul sebelas malam, Yongie-ah~ Dan aku akan mengirimimu satu kotak penuh wine favoritmu pukul delapan nanti sebagai hadiah karena kau sudah mengundangku, sayang. Aku ingin malam kita untuk yang pertama kalinya sejak terakhir kali kau di Seoul menjadi lebih panas daripada biasanya,”

I’d love to, noona,” jawab Jiyong santai. Ia melirik tajam Taeyeon dan menyeringai. “Aku akan minum tiga botol sebelum kau ke sini,”

Wanita di dalam telepon itu memekik kesenangan. “Kau ingin menggodaku? Ingat terakhir kali kita melakukannya saat kau mabuk? Aigoo, kau seperti singa jantan yang baru dilepas, Yongie-ah. Bahkan aku yang seaktif ini tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau begitu, tunggu aku dan habiskan beberapa botol sebelum aku muncul, baby Yongie. Sampai nanti,”

Jiyong memutuskan sambungan teleponnya dan melempar ponsel itu di atas meja dengan masih memasang seringai dingin di wajahnya.

“Jujur saja, hidupku lebih bergairah dan nikmat ketika kau tidak muncul, Taeyeon-ssi. Bisa dikatakan aku menyesal tidak mengikuti kata-kata Youngbae, Hyorin, dan Tiffany untuk tidak mendekatimu. Aku menyesal jatuh cinta padamu dan membuang-buang kesempatan untuk hidup yang lebih menyenangkan seperti yang dulu,” desis Jiyong seraya memandang tajam ke arah gadis mungil itu.

Taeyeon meremas ujung kemeja yang sedang dipakainya. Tubuhnya bergetar dan ia menggigit bibir bawahnya untuk mencegah air matanya turun yang sudah tidak sanggup lagi ditahannya.

“Mianhae,” gumam Taeyeon. “Dan terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan padaku dan Lauren. Jaga dirimu baik-baik dan berbahagialah. Aku pergi,”

Taeyeon meletakkan apronnya di atas meja dan mengambil tas tangannya. Ia membungkuk sedikit pada Jiyong dan berbalik keluar dari kondo, pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.

‘Jaga dirimu baik-baik dan berbahagialah,’

Jiyong tertawa tanpa suara dengan air mata yang tumpah di kedua pipinya. Ia sendiri bertanya dalam hati, bahagia yang dimaksud Taeyeon bahagia yang mana dan seperti apa? Sedangkan kebahagiaan yang menurut Jiyong sendiri itu ada pada Kim Taeyeon. Apa masih bisa gadis itu mendoakan kebahagiaannya dan dia sendiri pergi menjauh dari laki-laki itu?

Hanya satu pertanyaan yang ingin Jiyong tanyakan pada gadis itu sebelum ia benar-benar pergi dari hidupnya.

‘Apa kau mencintaiku, Taeyeon-ah?’

Di satu sisi, Taeyeon yang sedang menunggu bus hanya duduk termangu dengan wajah merah habis menangis di halte. Ia tahu dan sadar bus yang seharusnya mengantarkannya pulang sudah lewat beberapa kali. Ia tahu dan tidak bergerak sedikitpun. Ia tidak memiliki niat untuk pulang ke apartemennya dan hanya berdiam diri sampai beberapa jam.

Sampai sebuah pemikiran gila muncul dalam benaknya. Bahwa dia tidak ingin menyakiti Jiyong lebih dalam lagi.

-To Be Continued-

Woahh… panjang! Lelah 😦

Btw, entar lagi ending hehe…

-Next-

“Aku akan ikut denganmu dan Lauren ke Kanada. Itu keputusanku dan tidak akan ada yang dapat mengubahnya,”

“Aku tidak ingin kaupergi lagi dariku, eomma. Kumohon,”

Advertisements

36 comments on “Beautiful Lies (Chapter 11)

  1. Ga tau hrs ngomong apalagi,part ini bener2 bikin nyesek,terutama pas jiyoung ketemu dg lauren.apakah mereka bakalan ninggalin jiyoung,kalo iya,berarti taeyeon emng jahat bgt udh nyakitin perasaan nya jiyoung.pleaseeee,jgn sad ending ya thor,aku ga sanggup liat jiyoung n taeyon sama2 menderita gt

  2. Ko jadinya giniii 😦 torrr buat jiyong taeyeon bersatuuu 😦
    Ayoooo jiiiiii pertahankan cintamuuu dan taeyeon plisss sadarlahh kalo gaada yang bisa gantiin cintanya jiyongggg 😔
    Fighting buat autor next chapternya di tunggu yaa 😄

  3. Jalan ceritanya makin keren, tiap hari nyari ff ini udah update apa belum 😂😂 demi apa keren banget, kirain pemikiran gila taeyeon bakal bunuh diri 😂😂 lanjut ne author fighting geuligo gomawoyo 😍😘 ini ff favorite banget 😍😘

  4. Demi apa chapter ini bkin aku mewek thor!! Apalgi pas part jiyong ketemu sama laeuren udah gk bisa kbayang lagi gmn perasaannya..dri prcakapan antara irene sama mino waktu dikamar rawat lauren bkin teka teki deh thor, ap mereka jga saling suka sbnernya? *sotoy* gak suka ih sama kata2 jiyong yg mau bagian ending rasanya pngen aku tampol..mngkin itu dia lakuin krn dia udh saking rapuhnya ya bgitu tau lauren appa itu si mino..andaikan kamu tau jiyong kalau taeyeon juga cinta sama kmu, ahh..thor ff ini membuatku kesal haha tpi nagih sangattt..konfliknya bener2 deh .. next chapter sangat ditunggu thor.. fighting

  5. Aduhhh ini part palink bikin baperrr. Tp bentar deh bentar, lauren bukan anak mino??? Terus anak siapa dongg. Jiyong jgn putus asa plis wkwkw. Jd makin gasabar sm chap selanjutnyaa. Fighting^^

  6. Omega omegat, ndak tau dh mau biLang apa!!
    Semangat aja thorr, biar ff.a gak gantung #kayakyanglain 😁😁
    Fighting!! ❤✊👌

  7. Nyesek..tp ada sebell nya juga sma si jiyong pake mau ngundang cwek jalang sglaa.jiji.. Next thor aku berharap happy ending..

  8. Kasian banget ya sama Jiyong duhhh nyesek rasanya kalau jadi dia…
    Thor sudah ya jangan sedih-sedihan lagi…
    Di tunggu next chapnya ya 💪💪💪💪💪

  9. Part ini bkin nyesek,, dan jujur aku sampe nangis chingu.
    Penasan bgt apa tae unnie bner2 mau pergi ke kanada/gak?
    Next d tunggu bgt..

  10. Aq yakin bgt nih mino sm joohyun prnh pnya hub…

    Kata2nya jiyong trhdp taetae bner2 nyakitin hati, pngen bgt jahit mulutnya jiyong tp jiyong jg lg sakit hati…
    Aq kudu ottoke…
    Hiks hiks

  11. Aduhh para reader dibuat dilema sama authornya nih 😂
    Gimana ini jadinya thor? Sama jiyong atau mino? Happy end atau sad end? :”
    Penasaran ihh.. Pokoknya ditunggh next chapter. Slfighting~

  12. Huhuhu kok aku sedih ya baca nyaa. Authornim bikin aku makin penasaran aja nihhh hueee. Jdi makin geregetan nihh sma ff nya. Kepo sma ending nya dehh. Aku tunggu kelanajutan serita nya authornim. Hwaiting 😙😙😙

  13. Huuuuuaaaa tolong buat gd sama taeyeon bersatu lagi thor ga tega ngeliat meraka berantem terus kaya gini pengen liat mereka so sweet terus hiks 😭

  14. Ga bisa bayangin gimana perasaan nya Ji-yong sekarang. Penasaran sama kisah awal Taeyeon sama mino.. dan kayaknya Mino juga ada hubungan sama Irene. Next chapter bener2 ditunggu banget.

  15. Sumpahhh suka banget sama jalan ceritanyaaaaa
    kisah cinta yang sangat rumit wkwk
    sukaaa banget sukaaaa omaygat
    nextt thorr aku selalu nunggu update an ff ini loh tiap hari
    fightinggg

  16. Urggggh, ga sabar banget sama lanjutan ceritanya huaaaa:(

    Pengennya sih GTAE gitu endingnya. But, terserah author juga endingnya gimana. Aku suka ceritanya:3

  17. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Ya kan bener chap ini bikin orang mellow nangis kejer. Gak tau mau komen apa, kasian taeng yang di kata wanita jalang sama jiyong, beneran bikin baper, please jangan pisahin gtae

  19. sumpah yh thour part ini tuh nyesek bngt dan jujur aku bacanya sampai nangis 😂😂😂 makin ke sini ceritanya makin keren dan aku suka bngt 😊😊 dan aku berharap taeyeon unnie dan jiyong oppa di persatukan 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s