[FREELANCE] Take Him Out (Chapter 4)

[FREELANCE] Take Him Out (Chapter 4)

.::A Storyline By Yeollipop @Farazardin::.

Main Cast

Kim Taeyeon – Xi Luhan – Kim Myungsoo (L)

Other Cast

Amber J.Liu – Park Chanyeol – Henry Lau – Kim Hanbin –

Kim Jinhwan – Lee Yuan (OC)

Rating

PG 16

Length

Chaptered

Genre

Romance, School-Life, Friendship

Credit Poster

Thanks a lot
rosaliaaocha @ochadreamstories

for making this poster!^^

Disclaimer

This plot pure mine. All the cast belong to God and their parents. Don’t be plagiator !

Author Note’s

Terima kasih untuk para readers yang kasih masukan untuk perbaikan ff ini^^. Disarankan membaca chapter sebelumnya terlebih dahulu, untuk mengingatkan alur cerita ff ini ((:

~ H a p p y R e a d i n g ~

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3

Chapter 3

“…aku akan membahagiakanmu dengan apapun itu sebagai pengganti ayahmu.” Aku membalas dekapan Taeyeon dan mengelusnya sayang.

Tuhan, jangan kau biarkan tulang rusukku menangis.

Chapter 4

From the moment we started talking, I knew that I wanted u around…

.

.

.

“Huft…”

Seorang namja mendesah pelan tengah melepas letih di ranjang miliknya. Ya, dia Kim Myungsoo menatap datar langit langit kamarnya. Ia memejamkan mata sejenak. Memutar kejadian yang beberapa hari yang lalu dialaminya. Bertemu seorang gadis yang dianiaya ahjussi, menyelamatkannya kemudian mengajak minum kuzuyu bersama. Myungsoo memang tak menyukai kekerasan, apalagi melihat wanita yang menjadi korbannya. Tapi…

Baru kali ini ia menolong seorang yeoja dan terus memenuhi pikirannya. Jujur, ia termasuk namja pendiam dan kurang nyaman berada di dekat perempuan, kecuali bibinya tentu saja. Namun, ketika bersama gadis itu;Taeyeon, baru kali ini ia merasa enjoy dengan perempuan dan tanpa ada rasa canggung. Perasaan…. Nyaman? Entahlah. Bahkan mereka tak saling kenal kecuali nama.

“Taeyeon-ssi, begitu istimewa-kah dirimu?

. . .

Mentari masih berada di bawah garis cakrawalanya. Fajar itu, Kim Taeyeon sudah sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Bahkan ia juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia memasak omelet gulung sosis dan membakar roti selai kacang kesukaannya. Tanpa sadar, seorang wanita paruh baya menghampirinya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Taeyeonnie?”

“Eoh eomma?? Eomma sudah bangun? Maaf bila aku membangunkanmu dengan suara berisik dapur.” Taeyeon menoleh ke arah eommanya.

“Tak apa Taeyeonnie. Eomma memang biasa bangun saat fajar.” Ujar Mrs. Kim lembut

“Eum… eomma duduk saja. Sebentar lagi omeletnya matang.”

Mrs. Kim menatap punggung putrinya dengan pandangan datar namun sesaat kemudian ia menyunggingkan bibirnya tipis. Ia terkesima melihat Taeyeon yang mulai mandiri. Saat mereka kaya dulu, Taeyeon selalu dimanjakan oleh hidangan yang dibuat oleh para pelayan, ia tak pernah menyentuh dapur. Ia berani jamin bahwa Taeyeon belum tentu bisa menghidupkan kompor saat itu. Tapi sekarang, ia melihat perubahan Taeyeon yang cukup signifikan.

“Tadaaa… omelet gulung sosisnya sudah jadi!” Pekik Taeyeon riang sembari meletakkan piring sajinya di meja makan.

“Gomawoyo, Taeyeonnie. Eomma bangga padamu.” Mrs. Kim mengecup dahi Taeyeon sayang.

Mereka kini tengah duduk berhadapan sambil menikmati sarapan pagi yang Taeyeon buat tadi. Tanpa sadar, Mrs. Kim menitikkan air matanya.

“Eomma waeyo? Omeletnya terlalu pedas?? Aishh jinjja harusnya aku pakai saus tomat saja tadi.” Sesal Taeyeon.

Mrs. Kim menggeleng. “Aniyo, Taeyeonnie. Masakanmu sungguh enak. Eomma terharu melihatmu yang sekarang sudah mulai mandiri.”

Taeyeon tersenyum. Ia berhenti sejenak memakan roti selai kacangnya, kemudian menggenggam tangan kanan ibunya.

Mrs. Kim menatap Taeyeon nanar, ia merasa tak mampu menyembunyikan dari anaknya lagi “Tuan Jung terus menerus mengancam eomma, Tae.” Mrs.Kim berujar terbata-bata. Taeyeon dapat melihat ekspresi takut dan depresi dari eommanya. Tuan Jung adalah rentenir yang menagih hutang ayahnya.

Taeyeon bangkit dari duduknya dan memeluk eommanya.

“Eomma, apapun yang terjadi. Taeng akan selalu di sisi eomma. Apapun yang terjadi. Karena Taeng menyayangi eomma melebihi apapun. Jadi eomma jangan khawatir, ne?”

. . .

@Daeil Foreign Language High School

“Myungsoo-ah, kau tidak ingin ke kantin?” Tawar Jinhwan pada Myungsoo disebelahnya. Ia menatap sahabatnya yang masih asyik berkutat dengan corat coret matematikanya.

“Aiishhh, kau masih memikirkan ulangan yang barusan? Tenanglah, kau pasti dapat 100!” Hanbin memutar bola matanya.

“Ani. Kau duluan saja.” Tukas Myungsoo pendek.

Tidak. Bukannya ia tidak lapar. Hanya saja ia terlalu malas bila waktunya terbuang karena meladeni fangirl fangirlnya di kantin. Menurutnya waktu itu sangat berharga. Ia akan ke kantin bila keadaan mulai sepi.


“Ah ye, Hanbin-ah!!” Panggil Myungsoo tiba-tiba.

Jinhwan dan Hanbin menoleh ke arah Myungsoo.

Hanbin menoleh. “Kau ingin aku belikan dumpling? Mianhae, aku akan menjawab tidak.”

“Ani. . ani bukan itu maksudku.” Myungsoo menggaruk tengkuknya malu. Ia terkadang memang minta dibelikan dumpling pada Hanbin.

“Kau tidak lupa kan pada tantanganku?” ujar Myungsoo dengan smirknya.

Hanbin menatap Jinhwan, begitupun sebaliknya.

“Tentu, mana mungkin aku melupakannya Myungsoo-ah. Sesuai permintaanmu, malam minggu, ne? Kita pergi malam ini.” Tandas Hanbin cepat.

Jangan senang dulu, Kim Myungsoo…

. . .

Ting… Tong!!

Bel berbunyi disertai deritan pintu rumah besar nan mewah milik Amber. Taeyeon memakai kaos putih polos dan celana jeansnya serta membawa goodie bag. Ia menyempatkan diri pulang ke rumah untuk berganti baju dan meminta izin sang ibu. Dan tentu saja. Ia mengunjungi rumah Amber bukan sekadar main saja.

“Nona Taeyeon, silahkan masuk. Sudah ditunggu nona Amber di ruang tamu.” Hormat seorang pelayan yang membukakan pintu.

“Gomawo.” Taeyeon tersenyum tipis.

Ia segera menuju ruang tamu mendapati Amber tengah bersantai di sofa. Bermain psp sambil memakan nachos, kesukaannya. Benar benar surga dunia.

Amber melirik Taeyeon. “Oh sudah datang?”

“Menurutmu yang di depanmu ini siapa? Hantu casper?” Sindir Taeyeon yang memang hafal betul kebiasaan Amber bila sudah bertemu psp dan nachos.

“Oh ayolah. Ini masih siang, kau bisa bersantai dahulu. Lagipula, kau sudah izin ibumu kan?” Tanya Amber.

“Sudah. Kubilang aku ingin menonton albatros sparing.” Jawab Taeyeon meneguk limun dingin yang memang sudah disediakan pelayan untuknya. Amber hanya mengangguk.

“Ajoll-ah, aku ingin mengatakan sesuatu.” Desah Taeyeon pelan

“Hm?”

“Aku bertemu appa di malam sepulang dari rumahmu. Dan sungguh. Sungguh, aku melihatnya menjadi iblis terkeji di dunia, Ajoll-ah.” Ucap Taeyeon nanar. Amber hanya diam, memberi kesempataan sahabatnya bercerita sampai selesai walaupun hatinya terus berkecamuk.

“Aku tak sengaja bertemu dengannya bersama wanita wanita bayarannya keluar dari club. Aku melihat mereka bergelayut manja dan bau alkohol menguar menusuk hidungku. Aku menyumpahinya dan ia menamparku.”

“MWOYA?? HEI APA APAAN ITU?” Murka Amber tak sabar.

Taeyeon mendesah lagi, kemudian menatap Amber.

“Tapi… untungnya seorang namja asing menolongku. Ia menghajar appa hingga babak belur dan mengantarku pulang.”

“Tae, aku tahu kau ini jago karate. Tapi, kau harus berhati-hati tahu?!?! Aku tak percaya kau langsung mau diantar pulang oleh orang asing. Lain kali aku bisa mengantarmu pulang dengan sopirku.”

“Yah aku juga takut awalnya Ajoll-ah. Aku tak mampu melawan appa. Tapi, melihatnya menghajar appa dan tersenyum padaku. Aku yakin dia tak berniat macam-macam padaku.”

Amber meraih pundak Taeyeon dan memeluknya “Taeng, aku senang kau mau berbagi cerita denganku. Aku merutuki diriku yang tidak mengantarmu pulang pada saat itu. Mianhae Taeng.” Sesal Amber dalam.

“Hei hei ayolah. Aku tidak apa apa. Semua akan baik-baik saja, bukan begitu? Mungkin ini cobaan dari Tuhan agar aku semakin kuat.” Jelas Taeyeon berusaha tersenyum.

By the way, katamu tadi ini masih siang dan aku bersantai dulu. Memang kapan acaranya dimulai?”

“Ya, acara dimulai nanti sore ditayangkan live di TV memangnya kenap—”

Oh damn! Ayo kita ke Hannyoung HS sekarang!! Aku harus menonton mereka sparing!” Panik Taeyeon bangkit dari sofa dan segera menuju pintu utama.

“Aissshhh bocah ini, slebor sekali sih.” Rutuk Amber membereskan sisa nachos yang berserakan di sofa.

Myungsoo

Langkah Taeyeon terhenti.

“Mwo? Kau bilang apa Taeng?” Amber menoleh ke arah Taeyeon, mendengar Taeyeon menggumamkan sebuah nama.

“Aku baru ingat namanya. Ia pangeran berkuda putih yang menyelamatkan ku malam itu. Namanya Kim Myungsoo.”

. . .

Taeyeon dan Amber kini berjalan terengah-engah menuju lapangan indoor milik Hannyoung High School. Lumayan besar dan nyaman. Walaupun laga persahabatan, tapi untuk sahabat, tetap tidak boleh dilewatkan. Taeyeon dan Amber datang saat pertandingan hampir usai, dan mereka menyesali itu.

Suara pluit wasit berbunyi, menandakan waktu final mengakhiri sparing hari ini. Tuan rumah unggul tipis atas Gyeonggi. Tim lawan masing masing berpelukan dengan para pemain Gyeonggi. Yah, mereka menjaga kesolidan karena banyak dari pemain Hannyoung berteman dengan para pemain Gyeonggi.

“Yakk, kalian!!” Pekik Taeyeon melambai lambaikan tangan kearah teman-temannya.

Chanyeol, Henry, dan Luhan berpamitan pada 2 pemain tim mereka kemudian menghampiri Taeyeon dan Amber di pinggir lapangan.

“Aigo, lama lama kau tidak jauh berbeda dengan tiang idiot ini Taeng-ah. Berteriak seperti itu.” Henry hanya menggeleng.

“Hehe mianhae mochi, aku hanya hanya terlalu bersemangat. Mianhae sekali lagi aku datang saat pertandingan hampir usai.” Sesal Taeyeon

“Gwenchana Taeng-ah, tak perlu disesali lagipula ini hanya sparing, kalian datang saja kami sudah senang.” Ujar Chanyeol yang tiba-tiba bersikap bijak.

Hanya kau bilang?” Luhan manatap Chanyeol tajam. Eh?

Luhan bangkit dari duduknya, meneguk air kemudian pergi.

Mereka berempat hanya bengong dan terkejut melihat sikap Luhan yang mendadak sarkastik. Terutama Taeyeon, ia sedikit kecewa dengan sikap Luhan. Bukankah ia kesini juga ingin menyemangati Luhan eh… maksudnya albatros? Entahlah rasa bersalah semakin menyelimutinya. Entah… sakit sekali rasanya.

Amber menepuk pundak Taeyeon. “Tidak perlu dimasukkan hati, dia hanya sedang banyak fikiran. Sehingga lontaran Chanyeol yang sepele saja ia menanggapinya.” Amber seolah tahu apa yang Taeyeon pikirkan, mencoba menghiburnya.

Tapi tetap saja, kan?

Taeyeon berlari menuju pintu keluar hendak mengejar Luhan. Henry menahan pundak Amber yang ingin mengikuti Taeyeon.

“Biarlah, mereka perlu bicara berdua saja.”

Tiba-tiba Chanyeol menyeletuk. “Eh, aku salah bicara ya?” jari telunjuknya mengarah ke dirinya dengan pandangan bingung. Bersamaan itu, Amber dan Henry menjitak kepala Chanyeol kemudian tertawa.

“Babo”

. . .

Luhan berjalan keluar wilayah Hannyoung HS. Ia begitu lunglai dan tak karuan.

“Luhan-ah!” Luhan tau suara itu, ia menoleh.

Taeyeon berlari kecil menghampirinya sembari tersenyum kikuk. “Didekat sini ada taman, kita kesana ne?”

Dua insan yang kini tengah terdiam satu sama lain duduk di salah satu bangku taman.

Deer, mianhae. Jeongmal mianhae.” Taeyeon membuka pembicaraan.


“Bukan salahmu.” Sahut Luhan pendek.

Taeyeon menghela napas. Ini sulit.

Deer, aku tau kau tersinggung dengan ucapan yeollie mengenai sparing ini dan aku yang telat datang. Sekali lagi, aku minta maaf, Deer. Aku dan yang lain, tidak bermaksud menyepelekan sparing ini.” Jelas Taeyeon panjang lebar.

Luhan yang tengah menatap datar kedepan menoleh kepadanya.

“Taeng, kau tau kan? Basket adalah hidupku. Kami berdua tidak bisa dipisahkan. Aku… tidak tersinggung dengan ucapan yeol. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Aku tidak bisa bermain dengan maksimal, bahkan pelatih Song pun tidak puas dengan performa ku kali ini. Aku benar-benar kac—.’ Omongan Luhan terhenti saat Taeyeon meletakkan telunjuknya di bibir Luhan.

Please, Deer. Don’t blame yourself. Aku tau kau kuat dan tangguh. Dan kau juga harus ingat, bukan? Basket adalah permainan tim. Tentu saja yang dibutuhkan adalah kerjasama dan kekompakan. Buang jauh jauh egomu. Kau adalah Mr.Xi yang kuat, bukan orang yang lemah, oke?” Taeyeon menggenggam tangan Luhan sambil tersenyum tulus.

Luhan hanya menghela napas. “Apapun itu, Taeng.” Luhan tersenyum juga.

Tanpa sadar, Luhan pun memeluk Taeyeon dari samping. Menaruh kepalanya di pundak kiri Taeyeon. Taeyeon hanya mengelus rambut Luhan pelan. Jantungnya berdebar keras saat ini.

Entah mengapa, rasanya nyaman sekali. Ia ingin menghentikan waktu untuk sekali ini saja. Lambaian angin menerpa wajahnya dengan hangat pelukan seseorang yang ia sayangi. Pelukan hangat dan sayang dari seorang . . . . sahabat?

“Ya Tuhan, semoga ia tak mendengar detak jantungku.”batin Taeyeon, memejamkan matanya.

“Taeyeon apa kau ingat? Aku mengenalmu saat pertemuan pertama ekstrakurikuler basket di sekolah menengah pertama.” Tanya Luhan pelan

Taeyeon mengernyit bingung, sedetik kemudian ia tersenyum. “Tentu, mana mungkin aku melupakannya.”

*flashback on*

Semua murid kelas satu tampak berkumpul di lapangan indoor di salah satu sekolah menengah pertama. Ya, mereka akan melaksanakan pertemuan pertama ekstrakurikuler basket setelah 1 bulan bersekolah. Latihan kali ini dipandu langsung oleh guru olahraga mereka, Hwan seonsaengnim. Sebelum latihan dimulai, Hwan saenim memberi jeda waktu 15 menit sekadar untuk rileks setelah penatnya belajar di kelas seharian. Banyak dari murid memilih bergurau dengan teman-temannya ketimbang makan. Tapi tidak dengan Luhan, murid yang pindah dari China dengan tatapan datar dan dinginnya. Sampai saat ini, ia belum memiliki satu teman pun. Yeah, ini pertama kalinya ia masuk sekolah formal, sebelumnya ia homeschooling. Ia memilih ekskul basket pada formulir demo ekskul karena menurutnya semua ekskul selain basket itu membosankan, tidak berguna.

Murid laki-laki bernama Luhan itu pun membuka kotak makanan yang berisi Bibimbap, makanan khas Korea yang sukses membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama! Hehe. . .

Ketika ia mulai menyendokkan makanannya ke mulut, seorang yeoja berteriak padanya.

“Hei tunggu! Mengapa kau makan nasi sekarang?” Pekik yeoja itu sambil berkacak pinggang.

Luhan menatap tidak suka yeoja itu. Ia menaruh bekal itu disampingnya.

“Apa urusanmu? Apa masalahnya padamu, hah?” Luhan menjawab dengan ketus, tidak peduli bahwa yang ia bentak ini seorang yeoja. Terlebih lagi, ia tak mengenal yeoja ini.

“Hufft. . aku berniat baik padamu, tahu! Tidak baik memakan makanan berat sebelum olahraga, terlebih basket! Kau bisa muntah nantinya!” Yeoja itu seperti ibu-ibu yang menasihati anaknya. Tak peduli dengan bentakan Luhan.

“Yasudah, kalau kau tetap keras kepala. Kau pikir, siapa yang mau membersihkan bekas muntahmu?” Yeoja itu berlalu tanpa mengindahkan Luhan yang tengah terbakar emosi. Selama ini, memang tidak ada yang pernah membantah Luhan. Seluruh keinginannya pasti terpenuhi. Mungkin inilah alasan ia belum memiliki teman. Emosi dan keras kepala.

Luhan menutup kotak makanannya. Ia tak berselera makan lagi.

Priiiiitttt…………

Hwan saenim meniupkan peluit agar semua anak berkumpul ke pinggir lapangan. Ia akan memberikan pengarahan sedikit tentang teknik dasar basket dan memulai pemanasan. Luhan melihat yeoja yang menegurnya tadi tampak antusias dengan pengarahan Hwan saenim, bahkan ia memimpin pemanasan kali ini. Luhan hanya berdecih.

“Dasar sok! Memang dia siapa?” batin Luhan.

Setelah pemanasan, seluruh anggota ekskul berlari mengelilingi lapangan sebanyak 7 kali. Sebagian besar memilih berlari santai agar napas mereka tidak tersengal-sengal. Namun, pada putaran ke -5.

BRUKKK

Seorang yeoja terjatuh saat berlari. Ya, dia Kim Taeyeon, yeoja yang menegur Luhan tadi. Ia menginjak tali sepatunya yang tak terikat sehingga ia terjerembap dan jatuh. Teman-teman perempuannya berhenti berlari dan berkumpul membantu Taeyeon berdiri. Luhan yang melewati mereka menyeletuk, “Ck dasar payah! Begitu saja jatuh?” Luhan menyunggingkan bibir sinis. Taeyeon hanya tersenyum tipis dan mencoba berdiri sendiri, lalu berkata pada teman-temannya. “Gwenchanaeyo. Kalian lanjutlah berlari.”

Tiba lah saatnya anggota ekskul basket ini diuji oleh Hwan seonsaengnim. Yeoja yang akan bermain pertama, dua regu yang masing masing berjumlah 5 anggota.

Priiiittttttt…………

Permainan dimulai dengan jump ball. Masing masing pemain berusaha merebut bola dan mempertahankan daerah mereka.

Taeyeon yang membawa bola dan berada di daerah lawan kebingungan saat lawan mengelilinginya, ketika melihat celah, bukannya melakukan overhead pass pada temannya. Taeyeon malah berlari ke daerahnya tanpa men-dribble bola.

“HEI BODOH, BACK BALL!! TRAVELLING!!” Pekik Luhan keras.

Tepat saat Luhan berteriak, Hwan saenim sebagai wasit meniup peluit dua kali. Taeyeon melakukan double pelanggaran. Ia sempat berbicara pada Hwan saenim sebelum akhirnya digantikan oleh Sunji, pemain cadangan tim mereka.

Taeyeon berjalan menuju pinggir lapangan dengan raut wajah datar, ia meneguk air dari botolnya. Tempak duduknya tak jauh dari tempat duduk Luhan.

“Hei kau!” Luhan berteriak pada Taeyeon. Taeyeon menoleh, ia mendapati Luhan mengacungkan thumbs down padanya. Tak disangka, Taeyeon membalasnya dengan senyuman.

“Gomawo, sudah mengingatkanku. Aku masih belajar, mohon bimbingannya” Taeyeon tersenyum ceria. Tidak ada raut sedih terpancar dari wajahnya.

Setelah pemain putri selesai bermain, ganti pemain putra bersiap siap dengan posisinya. Luhan dipilih menjadi wakil tim untuk melakukan jump ball. Ia tengah berkonsentrasi dan acuh terhadap lawan di depannya.

Priiittttt…..

Tepat saat peluit dibunyikan, dengan segera Luhan memukul bola yang di lempar keatas. Permainan basket pria terlihat lebih menegangkan karena kedua tim sama sama kuat.

Luhan yang tadinya bersemangat mulai tampak letih. Ia sedikit tersengal-sengal. Sampai akhirnya . . .

“Luhan, awas!!!” Seorang teman setimnya meneriaki Luhan saat bola basket meluncur dengan kerasnya ke pelipis Luhan. Sedetik kemudian, ia rubuh dan jatuh pingsan.

Peluit berbunyi dua kali. Salah seorang pemain cadangan segera berlari menggantikan Luhan. Luhan kini dipapah oleh pemain cadangan lainnya menggunakan tandu ke UKS.

@UKS

Luhan masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang UKS. Tiga orang pemain cadangan menungguinya.

“Kita diminta Hwan saenim segera ke lapangan!”

“Tapi, memangnya tak apa – apa meninggalkan dia sendirian disini?”

“Salah satu dari kita saja yang menungguinya!”

“Kalau begitu, kau saja! Aku tidak mau menungguinya. Ia bocah yang menyebalkan.”

“Aiish, aku juga tidak mau!”

Tiba – tiba seorang yeoja datang dengan napas tersengal – sengal.

“Kalian, cepatlah kembali ke lapangan!” Perintah Taeyeon pada tiga pemain cadangan tersebut.

“Tapi, siapa yang menunggui Luhan?” Tanya salah satu dari mereka.

“Aku saja, aku sedang menganggur. Kajja, kalian ke lapangan!” Suruh Taeyeon lagi.

“Kalau begitu, gomawo Taeyeon-ssi” Ketiga namja itu segera berlari keluar UKS.

Taeyeon menghela nafas, ia menaruh cangkir berisi teh hangat itu di nakas sebelah ranjang. Ia segera menuju sofa dan menghempaskan dirinya.

“Lumayan, bisa merasakan sejuknya AC sebentar, hehe.” Taeyeon meringis. Tak lama ia pun terlelap di sofa.

30 menit kemudian . . .

Luhan membuka matanya, ia sangat pusing. Ia pun ingat bahwa kepalanya terbentur bola basket. Ia mengedarkan pandangan dan terenyak melihat yeoja itu tertidur di sofa. Dan lagi, ia melihat cangkir teh di sampingnya, ia segera meminumnya.

Samar – samar, ia mendengar percakapan teman temannya dengan yeoja itu saat ia terbaring.

Taeyeon-ssi, mengapa kau baik sekali padaku?

*flashback off*

Bagaimana mungkin seorang yeoja payah dan bodoh meruntuhkan tebing keangkuhanku?

Kau, sama halnya seperti basket, Taengbatin Luhan.

. . .

“Eomma, mianhae. Aku memang menonton sparing namun setelah ini aku ada keperluan dengan Amber. Aku berjanji tidak akan pulang terlalu larut, eomma tidak perlu khawatir, ne? Yasudah eomma aku tutup dulu ne. Saranghae.”

Bip

Taeyeon memasukkan handphonenya ke saku. Ia baru saja menelepon ibunya.

“Bukankah kau sudah izin pada ibumu sebelum ke rumah ku?” Amber mengernyit bingung.

“Aku memang izin pada eomma. Tetapi aku hanya mengatakan ingin menonton sparing. Tidak mungkin kan aku menonton sparing hingga malam?” Jawab Taeyeon.

“Yasudah kita berangkat sekarang saja agar tidak terlambat. Ohya, aku sudah mendaftarkan dirimu kemarin. Jadi, kau harus benar-benar tunjukkan pesonamu, oke?” Titah Amber sambil menunjukkan ibu jarinya.

“Ne. Tuan Amber yang sangat cerewet.” Ejek Taeyeon.

Mobil mercedes-benz milik Amber melaju cepat ke kawasan Pyeongchang-dong, kawasan elit dimana stasiun TV acara itu, SBC Channel berada. Suasana jalanan saat itu bisa dibilang lancar.

Taeyeon yang duduk di kursi belakang perlahan memejamkan mata. Sungguh, ia tak tahu. Apakah yang dilakukannya ini merupakan langkah yang tepat?. Konyol memang. Mengikuti ide gila sahabatnya, mengikuti reality show ajang pencarian jodoh yang sangat sangat sangat jauh dari imejnya. Tomboy, berantakan, dan sangat jauh dari kesan feminin.

Biarlah. Ada yang beranggapan mengikuti acara ini hanya untuk keisengan belaka, sebagian lagi mengatakan ingin memenangkan hati dewan cinta kemudian mendapatkan hadiah uang tunai yang besar. Ya, Taeyeon termasuk golongan orang yang kedua.

Persetan dengan imej

Itulah yang dipikiran Taeyeon sekarang. Iya masa bodoh dengan imej tomboynya yang rusak dengan blouse putih dan rok diatas lutut dengan warna yang sama. Sangat manis dan cantik. Ia tak peduli dengan gemparnya satu sekolah dengan perubahan Taeyeon setelah melihat reality show ini. Karena yang hanya ia pikirkan adalah ibunya. Melunasi hutang mereka dengan uang uang itu, kemudian menjalani hidup yang lebih baik seperti sedia kala.

Ia juga sempat berpikir bagaimana kalau ia kalah? Ia hanya akan membuat perjuangan sahabatnya sia-sia. Taeyeon menggeleng. Tidak. Ia tidak boleh berputus asa.

Selagi aku mendapatkan uang dengan cara yang baik baik. Kenapa tidak?

. . .

Taeyeon dan Amber sudah sampai di stasiun TV tersebut dan mereka sedang berada di ruang rias. Amber heran pada Taeyeon, untuk apa mereka di ruang rias sementara Taeyeon sudah rapi dengan pakaian dan make-upnya?.

“Hey, untuk apa kita disini. Kau sudah rapi tahu! Kita langsung ke backstage saja.” Bisik Amber.

“Diamlah. Aku sedang menetralkan detak jantungku. Ini pertama kalinya aku memakai rok selain rok sekolah.” Desis Taeyeon. Ia mengedarkan pandangan, melihat para peserta reality show yang hiruk pikuk di ruangan ini. Satu sama lain berusaha tampil perfect dengan gaun, sepatu, dan make-up mereka.

Amber terkekeh pelan. “Hey, keep calm sist. Aku tahu kau deg-degan dan juga tak perlu minder, oke? Cukup lakukan saja tugasmu .”

“Enak sekali ya kalau hanya berbicara.” Dengus Taeyeon.

Seorang staff memberikan instruksi bahwa 10 menit lagi acara akan dimulai. Seluruh peserta wanita segera menuju backstage. Taeyeon meminta agar Amber menemaninya.

Ditengah keramaian lorong menuju backstage. Mata elang Amber menemukan benda persegi panjang kecil. Dompet pria.

Amber memicingkan mata.”Dompet siapa ini.”batinnya

Ia mencoba membukanya, mencoba melihat identitas pemilik dompet tersebut. Terdapat kartu pelajar dengan nama. . .

Kim Myungsoo

Daeil Foreign Language High School

“Orang ini siswa Daeil? Bukankah nama ini sama seperti orang yang menyelamatkan Taeyeon” batin Amber kaget.

“Ajoll-ah!! Apa yang kau pikirkan? Cepatlah!” Perintah Taeyeon cepat menggenggam tangan kiri Amber. Amber tersadar dilamunannya kemudian menyimpan dompet itu sampai menemukan pemiliknya.

. . .

Di sisi lain, bakstage pria

Myungsoo sedang duduk menunggu Jinhwan yang sedang ke toilet, sementara Hanbin telah masuk ke panggung. Hanbin memintanya untuk menunggu di backstage.

“Joesonghamnida, apakah anda yang bernama Kim Myungsoo?” Tanya salah seorang staff yang mendata peserta pria acara Take Him Out ini.

“Ne, saya sendiri. Memangnya ada apa?” Tanya Myungsoo heran. Mengapa staff ini menanyakan dirinya? Bukankah yang menjadi peserta pria adalah Hanbin?

“Ah ye, silahkan anda memasuki panggung ke podium nomor empat belas. Disitu sudah tertera nama anda.” Terang staff itu sopan.

“Mwo?!?!? Yang menjadi peserta adalah teman saya, Kim Hanbin. Bukan saya.” Sergah Myungsoo lembut.

“Peserta bernama Kim Hanbin sudah memasuki panggung 5 menit yang lalu saat saya data, ia berada di podium nomor delapan. Tuan Myungsoo, anda sudah terdata sebagai peserta. Dimohon anda tidak mengulur ngulur waktu karena acara akan segera dimulai.” Jelas staff itu lagi sedikit memaksa.

Myungsoo hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum kecut memasuki panggung acara.

Sialan kalian berdua

.

.

.

-To Be Continued-

Annyeolhasehun readers sekalian^o^ kembali lagi dengan aku, Farah a.k.a Yeollipop author gaje bin aneh. Huaaaa setelah sekian lama aku ga muncul kaya bang toyib ga pulang pulang (?) akhirnya aku comeback lagi masih dengan judul yg sama. Mianhae, readers sekalian karena memang hampir 2 tahun FF ini menggantung karena banyak banget urusan yang tidak bisa aku tinggalkan + otak lagi mandet banget. Aku sempat malas melanjutkannya sampai sahabat menyemangatiku, dan aku jadi semangat lagi^^. Kritik dan saran kalian adalah semangat dan motivasiku maka dari itu terima kasih untuk kalian yang sudah meninggalkan jejaknya. See U soon!

.:: Yeollipop ::.

Advertisements

13 comments on “[FREELANCE] Take Him Out (Chapter 4)

  1. Ya ampun eonnie akhirnya oh akhirnya di update juga setelah menunggu sekian lama
    Tapi btw TBC menganggu banget. Kurang puas tor wkwk
    Next ditunggu

  2. Ahhhh udah lupa lagi thor ceritanya juga😀😂 tapi gpplah yang penting ceritanya lanjutkan hehe. Ok semangat ngelanjutin ffnya yah thor fighting💪💪💪

  3. agak lupa sama ceritanya jd baca dari awal deh hehe kirain ga dilanjutin’-‘ yaudah thor next chapter yaa ditungguu cepat hehee 😂 semangattt

  4. Yaampuun akhirnya dinxt juga ffnya.
    Luhan taeyeon knpa bikin baper sih,hehehe
    Cpt jadian knpa,wkwk.
    Semoga taeyeon bisa cpt2 byr hutang eommanya.
    Nxt chp ditunggu^^

  5. Yaampun lama nunggu akhirnya dipublish juga..
    Ceritanyaa agak lupa thor 😀 tapi gapapa next terus thor.. Fighting

  6. ya ampun seneng banget akhirnya ff ini dilanjutin, senengnya seribu kali liipat :’) :’) :’), dan akhirnya aku bisa bertemu LuTae lagi…. kenapa yah skrg di ATSIT LuTae udah gak pernah nongol hiks hiks hiks… Buat author semangat next chapternya yah,…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s