Beautiful Lies (Chapter 10)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6|Chapter 7 Chapter 8 | Chapter 9

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY

 

 

Lauren bangkit kursi meja makannya ketika kedua telinganya mendengar bel apartemen berbunyi. Tanpa bertanya-tanya siapa yang datang pada pukul tujuh pagi seperti ini, gadis kecil itu langsung membuka pintunya dan sosok laki-laki dan perempuan muncul di hadapannya. Jiyong dan Joohyun. Joohyun tersenyum manis pada Lauren sedangkan Jiyong langsung masuk tanpa dipersilakan dan mendekati Lauren.

Morning, babygirl,” sapa Jiyong. Ia menggendong tubuh Lauren dan memberikannya kecupan singkat di dahi.

Morning, ahjussi,” balas Lauren sambil tersenyum lebar. Kedua mata cokelat gelapnya mengarah pada Joohyun. “Morning, imo,”

“Eomma eodiseoyo?” tanya Jiyong saat ia menurunkan Lauren dari gendongannya dan duduk di atas sofa di ruang tengah apartemen. Di atas meja di dekat sofa tersebut ada dua buket bunga Crysanthemum, satu plastik yang berisi tiga botol wine merah, dan satu tas tangan yang Jiyong tahu itu milik Taeyeon. “Mau pergi ke Jeonju sekarang, Laurennie?”

“Ne,” jawab Lauren. Ia ikut duduk di samping Jiyong sedangkan Joohyun di depan mereka berdua. “Eomma sudah minta cuti sehari pada Bae ahjussi untuk off hari ini, dan Bae ahjussi menerimanya. Dia bahkan menemani eomma beli semua keperluan ini,”

“Kapan? Kemarin?” tanya Jiyong dengan kedua mata menyelidik.

Lauren kembali mengangguk dengan semangat. “Setelah pulang dari kondo ahjussi, imodeul datang bersama Bae ahjussi. Kami bermain bersama di sini, dan akhirnya eomma dan Bae ahjussi pergi bersama ke minimarket,”

“Bukankah aku sudah bilang pada eomma kalau ada perlu apa-apa tingga bilang saja? Jadi, ahjussi yang menemani eomma,” ungkap Jiyong, sedikit keki. “Jadi, di mana eomma sekarang?”

“Sedang mandi,” jawab Lauren.

“Oppa, jangan kesal pada Lauren,” tegur Joohyun pelan. “Laurennie, mendekat sini,”

Lauren memandang Joohyun selama beberapa detik sebelum akhirnya ia bangkit dan melangkah mendekati Joohyun. Gadis cantik itu mengisyaratkan agar Lauren duduk di sampingnya.

“Imo punya hadiah untukmu,” ujar Joohyun.

“Hadiah? Keundae, wae?” tanya Lauren dengan mata berbinar-binar.

“Karena kau sudah memberikanku bunga mawar kemarin,” jawab Joohyun lembut. Ia menyerahkan sebuah kantong plastik besar pada Lauren. Si kecil itu langsung mengambil dan membukanya. Dua buah boneka kucing yang berwarna putih dan hitam.

“Woah, yeoppo,” gumam Lauren. “Imo, gamsahamnida,”

“Cheonma, ahga,” balas Joohyun. Ia tersenyum pada Lauren. “Ah, ada lagi. Karena hari ini dress yang kau kenakan sangat cantik sekali, imo juga membelikanmu pita,”

Joohyun menunjukkan sebuah pita besar berwarna merah darah dan langsung memakaikannya di rambut panjang Lauren. Selesai memakaikannya, Joohyun memandangi wajah Lauren sembari menyisiri rambut gadis kecil itu dengan sayang.

“Oppa, cantik, ‘kan?” tanya Joohyun.

Jiyong mengacungkan kedua ibu jarinya pada Lauren. “Bidadari kecilku selalu terlihat cantik,”

“Jinjjayo? Imo, jeongmal gamsamhaeyo,” ujar Lauren lagi. Ia menatap Joohyun dan memberikannya senyuman lebar yang sangat menggemaskan.

“Laurennie?” panggil Taeyeon dari lantai dua. Ketiga orang yang ada di ruang tengah langsung menengadahkan wajah mereka ke sumber suara. Sepertinya si pemilik apartemen sudah selesai mandi, karena mereka dapat mencium aroma lavender dan vanilla yang menyebar seketika saat suara gadis itu membahana.

“Aku ada di ruang tengah!” seru Lauren. Ia asyik bermain dengan boneka kucing pemberian Joohyun.

“Sudah selesai sarapan?” tanya Taeyeon lagi, yang masih belum menampakkan wujudnya.

“Ne!”

“Aku akan menyusul eomma,” ujar Jiyong. Ia bangkit dari sofa dan hendak menyusul suara gadis itu di lantai dua.

Namun, belum sampai kakinya melangkah, derap langkah kaki yang menuruni tangga terdengar dan sosok yang sejak tadi ditunggu Jiyong muncul seketika. Gadis itu turun dengan sedikit terburu-buru tanpa memerhatikan sekeliling, dan tanpa memerhatikan pakaian yang ia kenakan saat ini. Hanya dress putih transparan di atas lutut tanpa lengan, yang memperlihatkan kedua bahu mulusnya. Kedua kaki jenjangnya juga terpampang indah sampai paha. Rambut panjangnya yang tergerai indah ia sibak dengan anggun.

“Laurennie, apa kau su…,”

Taeyeon membalikkan tubuhnya melangkah menuju ruang tengah, tapi beberapa detik kemudian wajahnya langsung berubah terperangah begitu dilihatnya seorang laki-laki yang dikenalnya sedang berdiri tepat di hadapannya dengan wajah yang tak kalah terkejut seperti dirinya. Baik Jiyong maupun Taeyeon sama-sama terdiam dan saling berpandangan satu sama lain. Taeyeon terperanjat dengan kehadiran laki-laki itu sedangkan Jiyong kaget dengan penampilan gadis pujaannya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Menyadari ke arah mana mata dan fikiran Jiyong, Taeyeon menundukkan wajahnya untuk melihat keadaan dirinya sendiri dan sontak ia memekik pelan lalu menutupi dadanya dengan kedua lengannya. Kedua matanya membulat lucu.

“Se… Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Taeyeon gugup. Ia menatap ke arah sofa, dan ternyata ada Joohyun di sana, sedang bermain bersama Lauren. Mendengar suara Taeyeon, Joohyun mengalihkan wajahnya memandang Taeyeon dan Jiyong secara bergantian.

“Sejak Lauren berkata kau sedang mandi,” jawab Jiyong pelan. Kedua mata cokelatnya yang indah belum mengalihkan pandangannya dari tubuh Taeyeon.

“Kenapa kau tidak bilang kalau ada di sini, Jiyong-ssi?” tanya Taeyeon kesal.

“Jadi, maksudmu seharusnya aku mendobrak pintu kamar mandimu agar kau tahu aku dan Joohyun sedang menunggu di sini?” Jiyong balik bertanya, pura-pura polos.

“Oh, diamlah,” rutuk Taeyeon. “Aku ke kamar sebentar,”

“Tidak perlu, begitu saja kau kelihatan sangat cantik,” ujar Jiyong sembari menyeringai menyebalkan, membuat Taeyeon meliriknya dengan tatapan tajam dan ia segera berbalik naik menuju kamarnya.

“Otak mesummu belum berubah, eh, oppa?” tanya Joohyun ketika Jiyong sudah kembali duduk di sofa. Joohyun tersenyum dan kembali melanjutkan bermain kucing-kucingan bersama Lauren.

“Itu sudah kodratnya laki-laki,” jawab Jiyong asal. “Baby L, seharusnya tadi kau persilakan ahjussi masuk ke dalam kamar, eomma,”

“Jangan dengarkan, Laurennie,” lirih Joohyun sambil menutup kedua telinga Lauren dengan kedua tangannya. Lauren memandang Jiyong dan Joohyun dengan heran, sedangkan Jiyong hanya tertawa kecil.

Lima belas menit kemudian, Taeyeon kembali turun dari kamarnya dengan menggunakan dress merah muda di atas lutut dan dipadupadankan dengan sweater rajutan berwarna jingga. Ia mengambil tas tangan berwarna merah yang ada di atas meja dan memakainya. Melihat kedatangan Taeyeon, Jiyong menengadahkan wajahnya dan tersenyum kecil melihat gadis mungil itu.

“Kalian sudah sarapan?” tanya Taeyeon pada Jiyong dan Joohyun, tapi kedua matanya memandang Joohyun.

“Sudah,” jawab Joohyun lembut. “Aku datang ke sini karena ingin ikut ke pemakaman orang tuamu. Jiyong oppa mengajakku. Boleh, ‘kan, Taeyeon-ssi?”

“Tentu saja boleh,” jawab Taeyeon. “Tapi, aku merasa tidak enak. Seharusnya kau kembali ke Korea untuk jalan-jalan dan bersenang-senang sebelum pergi ke Paris lagi. Dan aku merusaknya. Sebenarnya tidak apa-apa kalau Jiyong tidak ikut ke Jeonju…,”

“Apanya yang tidak apa-apa?” sela Jiyong dengan dahi berkerut menatap Taeyeon. “Aku, ‘kan sudah janji padamu. Joohyun juga tidak merasa keberatan, kok. Bagaimanapun juga dia harus ikut. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian di kondo. Dan lagi, kalau bukan aku yang mengantarmu, kau mau pergi dengan siapa? Sudah janji lagi dengan Youngbae?”

“Ayyy, kau begitu mencemaskanku, oppa,” canda Joohyun sambil tertawa kecil.

“Tentu saja. Aku takut kalau-kalau isi kondo itu sudah tidak berada di tempatnya saat aku pulang nanti,” balas Jiyong.

“Sembarangan. Kemarin malam, siapa yang membereskan pakaianmu yang berserakan di kamar mandi? Siapa yang membereskan tempat tidurmu saat kau bangun tadi pagi, oppa?” cecar Joohyun.

“Aigoo, kau tidak perlu sewot begitu, sayang,” ujar Jiyong. Ia terkekeh pelan dan bangkit dari sofa untuk mendekati Joohyun dan mencubit pipi kanannya. “Kau jelek kalau marah-marah seperti itu,”

“Appayo,” ringis Joohyun pelan dan ia memukul lengan Jiyong berkali-kali untuk melepaskan cubitannya.

Melihat interaksi itu, Taeyeon hanya tersenyum kecil. Ia berbalik ke arah dapur dan mengambil backpack kecil milik Lauren lalu memakaikannya pada gadis kecil yang masih asyik bermain dengan boneka kucingnya.

“Joohyun imo memberikanmu boneka itu, dear?” tanya Taeyeon.

Lauren menatap Taeyeon sambil mengangguk senang. “Aku juga dapat pita dan sudah mengucapkan terima kasih padanya, eomma,”

Good girl,” puji Taeyeon. Ia mengacak-acak poni anaknya dengan gemas. “Gomawoyo untuk boneka dan pita merahnya, Joohyun-ssi. Kau tidak perlu repot-repot,”

Joohyun mengalihkan wajahnya dari Jiyong dan menatap Taeyeon dan Lauren bersamaan. Ia tersenyum tulus dan mengangguk. “Itu balasan untuk bunga yang Lauren berikan kemarin padaku, jadi tidak masalah,”

Taeyeon mengangguk dan ia bangkit seraya mengambil bunga dan kantong plastik yang berisikan wine dari atas meja. Sebelah tangannya lagi menggandeng tangan Lauren, membimbingnya untuk turun dari atas sofa.

“Kita bisa pergi sekarang.” ajak Taeyeon pada Jiyong dan Joohyun.

“Sebelum itu, aku mau teh buatanmu, Taeng,” pinta Jiyong. “Kau tahu sekarang aku kecanduan minum itu,”

Taeyeon menghela nafas pendek dan kembali meletakkan bunga serta kantong plastik di atas meja. Ia juga menyuruh Lauren untuk duduk sebentar di sofa bersama Joohyun sedangkan ia pergi menuju dapur, membuatkan teh chamomile. Jiyong mengekori gadis itu diam-diam di belakang.

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau ingin beli wine untuk pemakaman kedua orang tua dan kakakmu?” tanya Jiyong langsung saat Taeyeon tengah menyiapkan bahan-bahannya. Laki-laki itu berdiri menyandarkan punggungnya di pintu kulkas dan menatap Taeyeon tajam.

Taeyeon hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “Aku juga baru ingat saat Tiffany bilang sesuatu tentang tradisi pemakaman di Amerika. Lagipula, minimarket di dekat rumah juga menjualnya, jadi buat apa aku mengatakannya padamu?”

“Tapi kau pergi dengan Youngbae, Taeng,”

“Lalu?” tanya Taeyeon dengan dahi berkerut. “Hyorin eonni yang menyuruh Youngbae oppa untuk menemaniku. Memangnya ada yang salah?”

“Ne, tentu saja. Bagaimana kalau dia menyukaimu? Youngbae itu bukan tipikal laki-laki yang mudah dekat dengan perempuan. Hyorin noona saja pacar pertamanya, ciuman pertamanya, dan sex pertamanya. Itu juga aku yang menjodohkan mereka berdua. Sedangkan kau dan Youngbae, dekat bukan karena disengaja, tapi dari awal kalian memang sudah dekat. Bagaimana kalau lama-kelamaan ternyata Youngbae memendam perasaan padamu dan mulai menyadarinya?”

“Itu tidak masuk akal, Jiyong-ssi,” sanggah Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia adalah orang yang sulit untuk dekat dengan perempuan, ‘kan? Itu artinya dia adalah laki-laki yang setia pada satu perempuan. Mereka pernah putus dan karena masih saling mencintai, keduanya berhubungan lagi. Seharusnya sebagai sahabat kecilnya kau lebih mengerti,”

“Aku sangat mengerti tentang dia,” jawab Jiyong pelan. “Dia sahabat kecilku, teman berhargaku. Itu sebabnya aku tidak mau dia menjadi salah seorang yang aku benci nantinya,”

“Tidak perlu berfikir ke mana-mana, Jiyong-ssi,” ujar Taeyeon. “Youngbae oppa hanya ingin melindungiku, seperti kau yang ingin selalu melindungi Joohyun. Youngbae oppa hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja dan sangat mencemaskanku, seperti kau yang selalu ingin Joohyun dalam keadaan baik dan begitu mengkhawatirkannya,”

Jiyong menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. “Okay, okay. Aku mengerti. Salahkan ego sialanku ini. Salahkan rasa cemburu keparatku yang terlalu berlebihan ini. Bukannya menenangkanku, kau malah membela dia. Kau mengerti tentang Youngbae dan kau memanggilnya ‘oppa’. Tsk,”

Jiyong mengambil teh chamomile yang sudah jadi dari tangan Taeyeon dan menenggaknya langsung. Ia sedikit berjengit ketika teh panas itu memasuki tenggorokannya. Agaknya tenggorokannya sedikit mengalami lecet.

“Pelan-pelan saja kalau minum,” saran Taeyeon, berusaha mengulum senyumnya.

Jiyong berdecak kesal dan ia meletakkan cangkir teh itu di atas tempat cuci piring. Kemudian, tanpa aba-aba direngkuhnya pinggang kecil Taeyeon ke dalam dekapannya dan diciumnya lembut bibir merah muda gadis itu. Taeyeon tersentak dan dengan gugup ia berusaha mendorong dada bidang Jiyong dengan kedua tangannya. Ia takut kalau-kalau Joohyun datang ke dapur, lebih parah lagi kalau Lauren yang sampai melihatnya.

Jiyong tidak mengindahkan penolakan Taeyeon. Ia tahu alasan gadis itu dan semakin memeluk erat pinggang Taeyeon, tak berniat melepas atau bahkan merenggangkannya. Ditekannya tengkuk Taeyeon, dipaksanya wajah gadis itu agar mendongak ke atas, membuat ciuman mereka semakin menempel erat. Jiyong memang belum menggerakkan bibirnya, tapi Taeyeon sudah merasa kewalahan dengan ciuman tiba-tiba tersebut.

Sedikit limbung, tubuh Taeyeon goyah dan terdorong ke belakang beberapa langkah. Dengan cepat Jiyong mendorong tubuh Taeyeon ke dinding dapur tanpa melepas tautan bibir mereka. Begitu punggung Taeyeon sudah menghantam dinding dan Jiyong mengapitnya dengan tubuhnya sendiri, barulah bibir laki-laki itu bergerak perlahan-lahan. Dibukanya bibirnya sedikit dan disapukannya lidahnya mengitari bibir Taeyeon dengan gerakan sensual.

Taeyeon hanya bisa mengerang pelan tanpa mau membuka mulutnya. Ia takut laki-laki itu akan kehilangan kontrol dirinya lagi dan semakin lama menahan bibirnya. Tahu jalan fikiran Taeyeon, Jiyong hanya bisa menyeringai dalam ciuman sepihaknya. Masa bodo. Ia tetap mengulum lembut dan melumat bibir Taeyeon dengan tak sabaran sampai dua menit lamanya.

Jiyong baru melepas lumatannya di bibir Taeyeon saat ia menghisap kuat bibir bawah Taeyeon sampai membengkak dan gadis itu pun memberontak karena kehabisan nafas. Keduanya terengah-engah, berusaha mencari pasokan udara di sekeliling mereka. Walaupun begitu, Jiyong tetap tidak mengambil jarak tubuh mereka. Ia menempelkan dahinya di dahi Taeyeon yang sedikit berkeringat.

“Buka mulutmu kalau sudah kehabisan nafas,” bisik Jiyong dengan seduktif. Ia menyapukan ibu jari tangan kanannya di atas bibir bawah Taeyeon yang merah merekah dan bengkak. “Bibirmu lecet,”

“Salah siapa?!” rutuk Taeyeon. “Bagaimana kalau Joohyun melihatnya?”

“Dia pasti mengerti,” jawab Jiyong santai.

“Kau ini sembarangan. Kalau Lauren masuk, kau mau bilang apa? Aish!” seru Taeyeon pelan. Ia memukul dada Jiyong agak kuat dan mendorongnya menjauh. “Aku tidak ingin Joohyun cemburu, Jiyong-ssi,”

“Dia tidak akan cemburu. Kami sudah tidak ada apa-apa lagi,” sanggah Jiyong cepat. Ia merapikan jasnya yang sedikit berantakan akibat remasan tangan Taeyeon saat mereka berciuman tadi.

“Aku hanya tidak ingin itu terjadi. Lagipula, perasaan seseorang siapa yang tahu?”

Jiyong hanya diam dan ia mengedikkan kedua bahunya. Taeyeon menghela nafas kasar dan memperhatikan wajahnya di cermin yang menggantung di dinding dapur. Dilihatnya bibirnya yang membengkak dan berwarna merah darah.

“Dan bagaimana aku harus menutupi ini?” rutuk Taeyeon.

Jiyong tertawa. “Katakan saja kau salah pakai lipmatte,”

“Kau ini!” seru Taeyeon pelan.

“Habisnya, kau cantik sekali hari ini, Taeyeon-ah. Sejak kau selesai mandi tadi kau sudah membuat jantungku berdebar kencang tak karuan,” bisik Jiyong tepat di telinga kanan Taeyeon. Laki-laki itu menjauhkan tubuhnya dan memandang Taeyeon dengan tatapan dan seringaian menggodanya. Dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Taeyeon selama beberapa detik, Jiyong balik badan dan pergi dari dapur, meninggalkan Taeyeon dengan wajah meronanya yang pekat.

“Kita berangkat,” ajak Jiyong pada Lauren dan Joohyun. Ia mengambil kantong plastik dan dua buket bunga dari atas meja lalu melangkah keluar apartemen.

Joohyun menganggukkan kepalanya seraya bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Lauren. Tapi Lauren menggeleng, menolak.

“Aku akan menunggu eomma,”

“Imo duluan,” ujar Joohyun dan ia mengikuti Jiyong keluar dari apartemen.

Tidak berapa lama kemudian, Taeyeon datang dan ia menatap sekeliling. Lauren sedikit berlari menghampirinya dan memeluknya.

“Ahjussi dan imo sudah menunggu di luar?” tanya Taeyeon pada Lauren. Lauren mengangguk. Ia menengadah menatap Taeyeon dan mengulurkan kedua tangannya ke atas. “Mwoya? Minta digendong? Baiklah, kajja,”

Taeyeon menggendong Lauren dan ia segera keluar dari apartemen. Sesampainya di depan pintu gedung, ia dapat melihat mobil sport besar Jiyong dan sosok Joohyun yang berdiri di depan pintu, tampak sedang menunggu Taeyeon dan Lauren. Joohyun mengalihkan wajahnya menatap Taeyeon saat gadis itu sudah ada di hadapannya dengan Lauren yang berada dalam gendongannya.

“Kenapa kau belum masuk?” tanya Taeyeon pada Joohyun.

“Menunggumu,” jawab Joohyun. Ia mengajak Taeyeon untuk segera memasuki mobil Jiyong.

“Kau saja yang duduk di kursi depan,” pinta Taeyeon.

“Ah, aniya. Jiyong oppa pasti menginginkanmu untuk duduk di depan,” tolak Joohyun cepat. “Biar aku di belakang bersama Lauren,”

“Tampaknya Lauren sedang manja hari ini. Dia minta aku untuk menggendongnya. Itu artinya, dia tidak ingin aku jauh darinya. Kau juga sejak awal sudah duduk di depan,”

“Ada apa?” tanya Jiyong dari kursi depan.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Taeyeon dan ia langsung masuk ke dalam mobil di kursi belakang bersama Lauren.

Joohyun menarik nafas sebentar dan ikut masuk ke dalam mobil, di samping Jiyong. Jiyong tersenyum kecil pada Joohyun dan memandangi Taeyeon dari kaca depan. Gadis itu tampak sibuk memangku Lauren dan menyisiri rambut panjang anaknya dengan menggunakan jari-jemarinya.

“Apa kau tidak akan memakai seatbelt kalau bukan aku yang memakaikannya, Baechu-ah?” tanya Jiyong pada Joohyun, yang tampak sedang melamun.

“Ah… Ye?” Joohyun balik bertanya setelah ia sadar dari lamunannya. Wajahnya yang imut ketika sedang linglung membuat Jiyong tersenyum geli.

Laki-laki itu memajukan tubuhnya ke arah Joohyun dan memakaikan gadis itu seatbelt. Joohyun agak tersentak kaget tapi ia langsung memberikan senyuman manisnya pada Jiyong saat kedua mata mereka saling berpandangan dalam jarak dekat. Jiyong balas tersenyum dan menjauhkan tubuhnya dan mengacak-acak sayang rambut Joohyun. Taeyeon buru-buru mengalihkan pandangannya keluar jendela sembari menepuk-nepuk pelan kaki kanan Lauren, yang sudah memejamkan kedua matanya, tidur.

Selama dalam perjalanan menuju Jeonju, Taeyeon tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya memandangi jalanan dari arah jendela sambil sesekali menangkap pembicaraan antara Jiyong dan Joohyun. Keduanya tampak asyik mengobrol tentang kehidupan Joohyun di Paris. Terkadang, mereka tertawa bersama, bernostalgia.

Taeyeon tersenyum kecil tapi hatinya bergetar sakit. Mungkin keputusannya untuk ikut ke Kanada dan memulai hidup baru dengan Lauren appa adalah pilihan terbaik baginya. Jiyong memang mengatakan ia akan mati jika gadis itu pergi. Tapi tidak akan terjadi jika ada Joohyun. Joohyun mampu membuat Jiyong bahagia dan laki-laki itu tampak nyaman di dekatnya. Joohyun mampu menggantikannya, Taeyeon yakin. Bukankah sebelum dirinya muncul, Joohyun sudah menghiasi kehidupan Jiyong terlebih dulu?

Di sini Taeyeonlah yang merusak hubungan mereka. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi sejak awal. Ia sudah menyakiti hati seorang perempuan yang tulus dan lembut seperti Joohyun. Dan keputusannya untuk meninggalkan Jiyong juga akan menjadi keputusan terbaik baik Jiyong maupun Joohyun.

Selain itu, Lauren pasti membutuhkannya. Dia tidak akan mau pergi ke manapun tanpa Taeyeon, meskipun bersama dengan ayahnya sendiri. Lauren tidak akan mau jika tidak ada Taeyeon.

Ia tidak bisa meneruskan perasaannya lagi. Dan hari ini dia akan bersikap tegas dengan menutup pintu hatinya untuk Jiyong. Lagi. Meskipun sulit, tapi ia harus membiasakannya. Toh, Jiyong juga sebentar lagi akan berbalik membencinya. Jika ia menjauhi laki-laki itu, rasa sakit karena dibenci oleh orang yang dicintai tidak akan begitu menyakitkannya.

~~~

Hanok Village, Jeonju, Seoul, South Korea

“Udara di sini sangat berbeda dengan udara di Seoul, eoh? Lebih sejuk dan segar,” ujar Joohyun sambil meregangkan kedua lengannya lebar-lebar saat angina sepoi-sepoi menyapu wajah cantiknya. Ia menghirup udara tersebut dalam-dalam dan menutup kedua matanya. Taeyeon tersenyum di belakang gadis itu dengan menggandeng tangan Lauren.

Setelah selesai berdoa di pemakaman kedua orang tua dan kakaknya, mereka memutuskan untuk berkeliling di area Hanok Village, tempat yang sering dikunjungi oleh para turis luar dan dalam karena suasana dan pemandangannya yang mengingatkan setiap orang akan drama historical Korea Selatan.

Jiyong melepas jas hitam yang melekat di tubuhnya lalu menyerahkan jas itu di depan Joohyun. “Cukup dingin. Bisa-bisa kau demam nanti. Kau, ‘kan tidak tahan dengan angin luar,”

“Woah, gomawoyo, oppa. Kau masih ingat?” tanya Joohyun dengan wajah bahagianya sambil memegang erat-erat jas Jiyong.

“Bukankah karena itu aku jadi mengerjakan beberapa tugas kuliahmu?” sindir Jiyong dengan wajah pura-pura kesalnya.

“Aigoo, jangan marah begitu, oppa. Kau jelek kalau manyun begitu,” ejek Joohyun. Ia hendak mendekati Jiyong. Namun, kaki kanannya tersandung lubang kecil di tengah jalan, membuat tubuhnya tidak seimbang dan hampir jatuh terjerembab kalau saja Jiyong tidak langsung merangkul tubuh Joohyun dari depan. Membuat mereka berdua tampak seperti berpelukan.

Langkah kaki Taeyeon langsung terhenti melihat kejadian itu. Ia mengalihkan pandangannya dan memilih untuk menundukkan wajahnya. Kedua matanya yang menawan menangkap si kecil Lauren tengah menangkap-nangkap kelopak bunga sakura yang berjatuhan di dekat wajah imutnya. Ia tertawa geli ketika salah satu kelopak itu mengenai hidungnya. Taeyeon tersenyum kecil melihat betapa menggemaskan putri kecilnya itu.

“Eoh? Eomma! Food Street!” seru Lauren sambil menunjuk jajanan yang bertebaran di pinggur jalan sepanjang Hanok Village.

Taeyeon menatap apa yang ditunjuk oleh gadis kecilnya. Jiyong dan Joohyun sudah memisahkan jarak mereka dan memandang ke arah Lauren lalu ke arah yang ditunjuknya.

“Kau sudah lapar, babygirl?” tanya Jiyong sambil tersenyum manis pada Lauren. Ia melangkah mendekati Taeyeon dan Lauren. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah tubuh mungil Lauren.

“Sepertinya begitu,” jawab Lauren dan ia tersenyum lebar.

“Kalau begitu, sepertinya kita akan memilih banyak makanan di sana,” ujar Jiyong. “Kajja,”

Jiyong mengulurkan tangan kanannya pada Lauren dan gadis cilik itu menyambutnya dengan riang. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Taeyeon, yang tepat saat itu juga tengah memandang Jiyong. Namun, dengan cepat Taeyeon menunduk menatap Lauren dan tersenyum padanya.

“Ahga, jangan makan yang berlebihan, okay?”

“Ne, eomma,” jawab Lauren semangat dan detik berikutnya ia dan Jiyong berbalik menuju Street Food tersebut.

Sedangkan Taeyeon memilih untuk duduk di salah satu bangku yang ada di pinggir jalan Hanok Village. Ia memandang punggung Jiyong dan Lauren dari kejauhan dengan senyuman simpul di wajah cantiknya. Hanya hari ini, hari terakhir ia melihat kedekatan putri semata wayangnya dengan ahjussi kesayangannya, dengan orang yang Taeyeon cintai. Hari ini hari terakhir ia bisa melihat senyum mengembang di wajah keduanya, senyum yang penuh kasih sayang tulus. Sebelum akhirnya si kecil itu kembali pada ayahnya sendiri. Sebelum Taeyeon memutuskan untuk pergi bersama orang tersebut.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Joohyun pelan, membuyarkan lamunan Taeyeon.

Taeyeon menengadahkan wajahnya menatap Joohyun dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya memberi izin. Joohyun balas tersenyum dan ia duduk di samping Taeyeon.

“Kau tidak ingin ikut makan juga?” tanya Joohyun pada Taeyeon setelah keduanya lama saling berdiam diri, menyelami fikiran masing-masing.

“Aniya. Aku ingin membiarkan mereka berdua saja hari ini,” jawab Taeyeon tanpa memandang ke arah Joohyun.

Joohyun sedikit mengernyit bingung tapi ia memilih untuk diam. “Apa besok kau akan bekerja di kondo Jiyong oppa? Kalau iya, aku tidak perlu membuatkannya sarapan atau bahkan membangunkannya,”

“Besok aku minta libur pada Jiyong,” jawab Taeyeon. Kedua matanya beralih menatap Joohyun. “Karena orang yang seharusnya ada di kondo itu sudah datang, aku tidak perlu lagi, ‘kan bekerja untuknya?”

“Apa maksudmu?” Joohyun balik bertanya.

“Aku ingin libur sementara waktu bersama putriku. Mungkin satu minggu? Jadi, karena kau sudah pulang ke Korea, kau bisa mengurus semua keperluan Jiyong dan sedikit membereskan kondonya,” jelas Taeyeon. “Apa kau tahu alasan sebenarnya dia mempekerjakan seorang housekeeper di kondonya? Karena dia butuh teman di sana. Dia butuh seseorang yang mengisi hari-harinya, memperhatikannya, dan dia juga membutuhkan seseorang yang menyayanginya.

“Aku bekerja pada Youngbae pada awalnya. Kami bertemu dan dia bilang dia tertarik padaku untuk bekerja di kondonya juga. Sampai suatu hari dia tidak ingin aku pergi. Dia membutuhkanku. Dan aku tahu kenapa ia membutuhkanku di kondonya. Dia ingin seseorang memerhatikan dia. Lucu juga. Dia seperti anak-anak dengan wajah kerasnya itu. Karena kekasihnya jauh di Paris, ia tidak bisa minta tolong padamu, ‘kan? Tapi kau sudah pulang, dan kurasa kau bisa mengambil alih tugasku itu. Menemani dan memperhatikan dia. Apalagi kalian saling mempercayai satu sama lain, saling mengenal lebih dalam daripada aku dan dia. Dengan begitu, hubungan kalian pasti kembali seperti semula,”

“Keundae… Jiyong oppa bilang dia sangat mencintaimu,” bisik Joohyun. Kedua matanya berkaca-kaca dan hal itu membuat Taeyeon makin tak enak hati.

“Jika kau sudah diperhatikan oleh seseorang dan dibuat nyaman oleh orang itu, kau akan dengan mudahnya mengatakan ‘cinta’ pada orang tersebut. Perasaan Jiyong hanyalah perasaan semu yang dia berikan padaku. Hanya sekedar membutuhkanku untuk selalu ada di sisinya. Kalau aku pergi dan kau yang ada di sampingnya, kau akan tahu siapa yang benar-benar dicintainya,”

“Jiyong oppa tidak pernah seserius itu ketika dia mengatakan ‘cinta’ pada seseorang. Dia mungkin pernah mencintaiku, tapi aku tidak pernah melihatnya banyak berkorban untuk orang lain, sebelum dia bertemu denganmu. Dan hanya untukmu,” kilah Joohyun. “Jangan seperti itu, jebal. Dia pasti akan hancur mengetahui kau akan pergi. Aniya, bahkan sebelum kau pergi, dia tidak akan melepasmu. Dia tidak bercanda soal dia akan mati kehilanganmu,”

“Aku tidak mencintainya,” lirih Taeyeon. “Semua yang kulakukan hanyalah agar dia merasa baik-baik saja, agar dia bangkit dari segala kesedihan dan keterpurukannya. Aku melakukan semua itu tanpa perasaan khusus. Karena aku tahu dia hanya membutuhkanku. Membutuhkan dan menginginkan itu berbeda. Dia hanya membutuhkanku dan jika kau ada di sisinya, ia pasti membutuhkan dan menginginkanmu,”

“Kau… berbohong, ‘kan? Jangan katakan itu karena aku…,”

“Aku tidak berbohong,” sanggah Taeyeon cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dengan wajah serius. “Kau tidak tahu perasaan orang yang sesungguhnya, Joohyun-ssi karena aku memang tidak bohong sama sekali. Dan jangan katakan niatku pada Jiyong, eoh? Aku akan minta izin selama beberapa hari dan menghilang perlahan-lahan. Aku tahu setelah itu hubungan kalian akan baik-baik saja,”

~~~

“Izin? Tapi kenapa? Kau mau pergi ke mana? Ada urusan apa?” tanya Jiyong penuh tuntutan pada Taeyeon yang sedang sibuk memanggang cake-nya di dapur kondo Jiyong.

Setelah dua hari sejak kepergian mereka ke Jeonju, Taeyeon langsung melancarkan niatnya untuk izin cuti kerja pada Jiyong. Saat ini mereka bertiga, Taeyeon, Jiyong, dan Joohyun sedang berada di dapur. Jiyong dan Joohyun baru selesai sarapan, sedangkan Taeyeon melaksanakan tugasnya seperti biasa. Mendengar percakapan di antara Taeyeon dan Jiyong, Joohyun memilih diam dan menikmati teh chamomile buatan Taeyeon.

Jiyong bangkit dari kursinya dan berdiri di hadapan Taeyeon dengan wajah mengerasnya, tanda ia sedang kesal. Kesal karena Taeyeon tidak segera menjawab pertanyaannya dan fikirannya sudah mulai negative.

Melihat aura kemarahan Jiyong, Joohyun memutuskan bangkit dari kursinya juga. “Aku ke kamar duluan oppa, Taeyeon-ssi,”

Jiyong mengangguk dan ia kembali menatap Taeyeon setelah Joohyun menghilang dari pandangan mereka. Pandangannya menajam dan mau tak mau Taeyeon juga harus bertindak keras.

“Kau ada janji kencan dengan seseorang?” tanya Jiyong.

“Kenapa kau bisa berfikir begitu? Aku jarang bertemu dengan laki-laki kecuali kau dan Youngbae oppa. Lagipula aku tidak akan sempat memikirkan acara kencan sana-sini sedangkan aku punya banyak urusan. Apa aku kelihatan seperti seseorang yang mudah diajak kencan dan pergi berkencan?” Taeyeon balik bertanya.

“Tentu saja tidak,” sanggah Jiyong cepat. “Hanya saja… seseorang memberitahuku kalau kau mungkin merasa… yah… sehingga kau memilih untuk cuti agar membalaskan dendammu padaku…,”

“Apa maksudmu? Kau bicara apa? Aku merasa apa? Balas dendam?” tuntut Taeyeon, merasa tak beres dengan ucapan Jiyong.

Jiyong menghela nafas panjang sebelum ia menjelaskan maksudnya pada gadis itu. “Sudah dua hari ini aku meninggalkanmu di kondo dan pergi bersama Joohyun sampai sore. Membawanya berkeliling kota Seoul dan mengajaknya bertemu dengan sahabat-sahabatku. Aku bahkan tidak menyempatkan diri pergi ke apartemenmu. Dan melihat itu Tiffany dan Hyorin noona merasa kau akan pergi dari kondoku karena cemburu. Mereka marah karena aku memilih Joohyun dan bukannya dirimu.

“Tapi biar kujelaskan padamu. Aku tidak bermaksud apa-apa selain ingin minta maaf pada Joohyun karena sudah mencampakkannya demi dirimu. Aku melakukan semua itu karena aku ingin menebus kesalahanku yang seenaknya memutuskan hubungan kami. Aku tidak ada niat apapun untuk menyerah padamu dan meninggalkanmu. Sama sekali tidak. Aku sudah menganggap Joohyun seperti adikku sendiri,”

“Aku tidak cemburu,” ungkap Taeyeon. Dia menatap lurus ke arah mata Jiyong untuk meyakinkan laki-laki itu. “Aku justru senang kau sangat memperhatikan Joohyun. Sudah seharusnya kau mengajaknya jalan-jalan karena Joohyun hanya memiliki dirimu di sini. Aku tidak merasa sedih ataupun cemburu seperti yang dikatakan Hyorin eonni dan Tiffany. Dan aku juga ingin cuti bukan karena masalah itu juga,”

“Ah… Jadi kau tidak cemburu?” tanya Jiyong.

“Sama sekali tidak,” jawab Taeyeon lagi dengan menyunggingkan senyuman manisnya untuk Jiyong.

Jiyong mendesah kecewa. “Padahal aku berharap sebaliknya,”

Senyuman di bibir Taeyeon menghilang. Ia menatap sendu Jiyong dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Tidak cemburu? Sudah pasti salah besar. Dia sangat cemburu sebenarnya. Melihat betapa manisnya senyum Jiyong untuk Joohyun, bagaimana perlakuan lembutnya pada gadis itu, bagaimana Jiyong begitu memperhatikan Joohyun membuat Taeyeon tak nyaman sama sekali. Ia merasa cemburu, karena selama ini laki-laki itu hanya menunjukkan semuanya pada Taeyeon. Ia merasa cemburu dan egois karena ia ingin apa yang Jiyong lakukan padanya tidak berlaku pada semua gadis lain.

Tapi rasa itu segera ditepisnya jauh-jauh. Ia tidak berhak merasa cemburu. Meskipun Jiyong mencintainya, tapi Taeyeon akan menyakiti hatinya dan membuat lak-laki itu membencinya. Ia akan memulai hidup baru dengan orang lain dan membiarkan Joohyun tetap ada di samping Jiyong. Jadi, rasa cemburu yang hinggap di hati Taeyeon, tidak pantas bersarang di sana. Ia harus tahu diri.

“Seharusnya kau lebih memperhatikan perasaan Joohyun. Dia yang pasti cemburu melihatmu terus mengekoriku,” gumam Taeyeon.

“Apa kau ingin membuatku lebih frustasi lagi?” tanya Jiyong. “Dia paham dengan keputusanku. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku, hatiku. Kalau dari awal aku bertemu denganmu, aku tidak akan menyakiti Joohyun, aku tidak akan membuang uangku hanya untuk jalang. Kalau dari awal kau adalah orang yang sudah ada di depan mataku, aku tidak akan menyakiti siapa-siapa lagi. Tapi kau datang terlambat. Dan aku tidak bisa membohongi hatiku lebih lama lagi kalau aku begitu menginginkanmu, begitu membutuhkanmu, begitu mencintaimu,”

Taeyeon menatap Jiyong dan sedikit terhenyak memandang kedua hazel laki-laki itu yang sedikit berkaca-kaca. Saking seriusnya menyatakan perasaannya, Jiyong tidak bisa mengendalikan emosinya dan air matanya pun tanpa dia sadari menggenang di kedua pelupuk matanya.

Taeyeon merasa semakin menjahati laki-laki itu. Dan ia harus mati-matian menahan air matanya juga.

“Aku hanya ingin pergi berdua dengan Lauren, Jiyong-ssi. Quality time bersama putriku. Tidak apa, ‘kan?”

“Apa aku tidak boleh ikut?” tanya Jiyong. “Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya akan berdiri di belakang kalian,”

Taeyeon tertawa renyah. “Lauren tidak akan mungkin tahan jika menjauh darimu saat kau ada di dekatnya. Kau tahu, ‘kan betapa dia menyukaimu?”

Jiyong tersenyum kecil dan ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan memberimu izin. Dan aku pasti akan sangat merindukanmu. Cepatlah kembali dan jangan berlama-lama di tempat yang ingin kau kunjungi,”

“Selama aku tidak ada, kau akan baik-baik saja, ‘kan Jiyong-ssi?” tanya Taeyeon. “Pasti. Aku percaya pada Joohyun. Kalian berdua saling menjaga satu sama lain dan aku yakin kau tidak akan lama merindukanku,”

“Apa maksudmu? Aku pasti…,”

Ucapan Jiyong terpotong saat bibir merah muda Taeyeon yang tipis menyentuh bibir laki-laki itu. Taeyeon menutup kedua matanya dan sedikit berjinjit agar bibirnya sampai ke bibir Jiyong. Kedua tangannya berpegangan pada lengan kanan dan kiri laki-laki itu. Sedangkan Jiyong, terkejut bukan main. Ini untuk pertama kalinya Taeyeon mencium bibirnya terlebih dulu dalam keadaan sadar. Untuk pertama kalinya Taeyeon memberanikan dirinya. Apa ciuman ini menunjukkan tanda bahwa perasaan Jiyong berbalas? Atau sebagai ciuman perpisahan?

Dan Jiyong memilih untuk menutup kedua matanya, memeluk tubuh mungil Taeyeon, menarik tengkuknya agar ciuman mereka semakin dalam, dan membalas ciuman Taeyeon dengan penuh penekanan.

~~~

“Sampai kapan kau akan ada di Daegu?” tanya Tiffany pada Taeyeon yang sibuk mengemasi pakaian-pakaiannya ke dalam koper biru miliknya. Sosok kecil Lauren tengah bergelung manja di dalam pelukan Tiffany. Tiffany tersenyum manis dan mencium ubun-ubun Lauren dengan sayang.

“Sampai dia kembali ke Korea,” jawab Taeyeon santai.

“Lalu kau akan mengenalkannya atau langsung kabur? Tanpa berpamitan pada semuanya?” tanya Tiffany dengan hati-hati.

“Kalau aku langsung kabur, aku akan membuat semua orang bertanya-tanya, ‘kan? Lagipula sebelum pergi aku ingin mengucapkan terima kasih pada semuanya,”

“Dan bagaimana dengan Jiyong oppa?”

“Dia juga. Aku akan pamit dan mengundurkan diri,”

“Maksudku… reaksinya,” lirih Tiffany.

“Kita tahu apa yang akan terjadi, Ppany-ah. Dia akan membenciku sampai tujuh turunan dan aku akan pergi setelah minta maaf padanya. Joohyun akan ada di sampingnya selalu, jadi dia tidak akan benar-benar mati,”

“Kau tidak harus melakukan ini, Taeng! Maksudku… hentikan kebohonganmu dan jebal, raihlah kebahagiaanmu,” pinta Tiffany sambil meringis sedih.

“Dan bersikap egois? Aku hanya akan menyakiti banyak hati, Ppany-ah. Aku tidak mau. Aku tidak sanggup jika aku harus mengorbankan banyak orang hanya demi diriku sendiri,” jawab Taeyeon. Hatinya kembali remuk dan dia mati-matian menahan air matanya jatuh.

“Sekali ini saja, kau mementingkan kebahagiaanmu sendiri. Sekali ini saja, kau tidak perlu menanggung beban apapun yang bahkan tidak seharusnya kau miliki,”

“Aku bisa bahagia untuk sekarang ini. Aku akan ikut ke Kanada…,”

“Kau mencintai orang lain,” bantah Tiffany cepat.

“Dan aku akan mencintainya seiring berjalannya waktu. Bukankah kau yang bilang padaku, Youngie-ah, kalau aku bisa memulai semuanya dari awal? Belajar mencintainya? Bukankah begitu? Aku sudah memutuskan beginilah kebahagiaan yang ingin aku raih,” lirih Taeyeon. “Kau mau tetap mendukungku, ‘kan?”

“Nado mollaseoyo, Taeng. Kau sudah banyak berkorban. Aku hanya tidak ingin kau mengorbankan orang yang kau cintai dengan kebohonganmu,” bisik Tiffany. Ia menghapus air matanya yang jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya. Hanya Tiffany-lah yang tahu lika-liku kehidupan Taeyeon. Hanya Tiffany. Dan seandainya Tiffany tidak pernah berjanji untuk mengungkapkannya pada siapapun, dia pasti sudah menceritakan semuanya pada Jiyong.

“Eomma?” panggil Lauren tiba-tiba.

“Ye?” sahut Taeyeon. Suaranya sedikit serak akibat menahan tangisnya.

“Apa Yong ahjussi tidak kita ajak saja ke Daegu? Bertemu dengan haraboji dan haelmoni,” usul Lauren dengan nada berharap. “Aku sudah lama tidak bertemu dengan Yong ahjussi,”

“Mianhae, Laurennie. Tapi mana mungkin kita akan membawanya ke rumah haraboji? Appa saja belum pernah. Suatu saat nanti, kita akan pergi bersama Yong ahjussi, eoh? Tapi kali ini, kita berdua saja,” bujuk Taeyeon.

“Kalau ada appa, mungkin kita akan pergi berempat? Bersama Yong ahjussi juga!” seru Lauren dengan semangatnya.

“Ne, my little angel,” jawab Taeyeon sambil mengacak-acak rambut halus Lauren.

Janjinya pada Lauren, entah dapat ia kabulkan atau tidak sama sekali, Taeyeon tidak tahu. Ia merasa sangat berdosa sudah banyak membohongi gadis kecilnya itu.

~~~

“Oppa,” panggil Joohyun pada Jiyong yang tengah berkutat dengan lembaran dokumen penting perusahaan clothing-nya, Peaceminusone.

“Eoh?” sahut Jiyong, mempersilakan Joohyun untuk masuk ke ruang kerjanya.

“Kau sudah makan malam?” tanya Joohyun.

“Belum, Baechu-ah. Kau saja makan malam duluan,” jawab Jiyong tanpa mengalihkan wajahnya dari dokumen yang tengah dia baca.

“Kau tidak makan daritadi pagi. Kau mau mati, oppa?” tanya Joohyun.

“Aku sudah kenyang dengan hanya dokumen-dokumen perusahaan sialan ini,”

Joohyun terdiam. Ia menarik nafas dalam-dalam dan duduk di hadapan Jiyong. “Kalau kau sangat merindukannya, kenapa tidak melarangnya cuti saja kemarin? Aku tahu kau hanya menyibukkan diri dengan semua ini agar tidak terlalu merindukan Taeyeon eonni, ‘kan? Lalu kenapa kau mengizinkannya pergi, oppa?”

Jiyong mengangkat wajahnya dan memandang Joohyun lalu tersenyum manis. “Dia butuh waktu dengan babygirl-ku, Baechu-ah. Aku yakin dia pasti sangat butuh libur. Lagipula, dia juga tidak pernah minta cuti kecuali pergi ke pemakaman kedua orangtuanya,”

Joohyun menundukkan wajahnya sedikit dan menggigit bibir bawahnya. Jiyong kembali memandang Joohyun.

“Tenang saja. Walaupun aku sangat merindukannya, aku pasti makan kok. Taeyeon juga sudah bilang padaku untuk baik-baik saja selama dia tidak ada,”

“Kau pasti sangat mencintainya, oppa,” lirih Joohyun. “Kau sungguh-sungguh mencintainya, ‘kan? Semua yang kau ceritakan padaku itu benar, ‘kan? Kalau kau tulus mencintainya?”

Jiyong menghela nafas panjang dan menatap Joohyun lekat-lekat. “Semua sahabat-sahabatku meragukan perasaanku, Baechu-ah. Apa aku harus gantung diri dulu hanya untuk menunjukkan pada semua orang kalau aku ini serius? Mungkin aku ini laki-laki brengsek yang selalu menyakiti hati perempuan. Tapi, Joohyun-ah. Maukah kau mempercayaiku? Maukah kau berada di pihakku, mendukungku?”

Joohyun terdiam sesaat. Ia memandang kedua hazel Jiyong yang berkilat tajam, menunjukkan betapa serius perkataannya, betapa ia memohon untuk dipercayai dan didukung. Betapa tulus dan besar cintanya pada gadis yang bernama Kim Taeyeon itu.

“Ne, aku ada di pihakmu, oppa. Dan selamanya akan selalu begitu,” jawab Joohyun.

Setelah selesai berbincang, Joohyun pamit keluar dari ruang kerja Jiyong dan berniat membawakannya teh chamomile yang dulu sempat diajarkan oleh Taeyeon padanya. Sebelum ia menuju dapur, Joohyun menyandarkan punggungnya di dinding dan menangis sesenggukan.

Ia merasa sangat sedih. Sedih bukan kepalang.

~~~

Satu minggu lamanya Taeyeon dan Lauren ada di Daegu. Keduanya menikmati semua hal yang ada di Daegu. Bahkan kedua orang paruh baya, saudaranya, yang sudah Taeyeon anggap ayah dan ibunya sendiri di Daegu, memperlihatkan banyak hal-hal indah di sana. Semuanya menyenangkan, tak pernah Taeyeon dan Lauren kehilangan senyuman bahagia mereka. Namun, ada satu fikiran yang tetap menghantui gadis itu sejak kakinya pertama kali turun dari kereta menginjakkan tanah Daegu.

Jiyong.

Apakah laki-laki itu baik-baik saja? Makan dengan teratur? Tidak minum-minum? Tidur dengan nyaman? Dan apakah laki-laki itu merindukan Taeyeon, seperti gadis itu yang sangat merindukannya.

“Eomma,”

Taeyeon mengalihkan pandangannya dari jendela kereta untuk memandang wajah cantik putrinya itu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Seoul. Tentu saja Taeyeon tidak memberitahukan siapapun tentang kepulangannya. Dia ingin sendirian di apartemen untuk sementara ini.

“Ne?”

“Kemarin malam aku mimpi buruk,” adu Lauren dengan kedua matanya yang sayu dan wajahnya yang terlihat sangat sedih. “Aku memimpikan hal yang aneh, dan lebih anehnya lagi, aku tidak ingat apapun. Saat aku bangun, aku malah menangis terisak-isak. Aku merasa mimpinya sangat sedih sekali, eomma. Aku berusaha mengingatnya. Karena semakin ingin kulupakan, semakin sakit dada kiriku,”

“Laurennie,” bisik Taeyeon, ia mulai panik. Dihadapkannya tubuh kecil Lauren dan diperiksanya suhu tubuh gadis kecil itu. Panas. Panas sekali. “Kau demam?!”

“Sepertinya begitu, eomma,” bisik Lauren. Ia mengedipkan matanya berulang-ulang, sehingga kedua matanya berkaca-kaca.

“Kenapa tidak memberitahu eomma sebelum kita pamit pada haraboji dan haelmoni?” tanya Taeyeon cemas bukan main.

“Aku baru merasakannya sekarang,” jawab Lauren. “Sepertinya ini karena aku terus memikirkan mimpiku itu,”

“Nah, sekarang tidak perlu memikirkan apapun dan tidurlah, eoh? Eomma akan membangunkanmu setelah bus ini tiba di depan apartemen kita. Jangan mencemaskan apapun karena ada eomma di sini. Eomma tidak akan membuat siapapun menyakitimu, ye? Tidurlah,” lirih Taeyeon.

Lauren mengangguk dan ia mulai memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tidur. Namun, kepala gadis kecil itu mulai sakit sekali dan dadanya mulai merasakan sesak. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa kepada ibunya. Ia hanya diam, berharap asmanya tidak akan kambuh di saat-saat seperti ini, berharap rasa sakit di kepala dan dadanya segera hilang saat ia tidur.

Dan Taeyeon memerhatikan putri semata wayangnya dengan raut wajah panik. Ia cemas sekali. Hal seperti ini memang bukan untuk pertama kalinya ia alami. Lauren juga pernah demam dan asma di saat yang bersamaan. Karena jika ia terserang penyakit, asmanya pasti akan datang kapan dan di mana saja.

Akan sangat sulit rasanya jika Lauren mengalami asma di dalam bus yang hanya ada empat orang di dalamnya, belum lagi di daerah ini tidak ada klinik umum. Lebih baik ia yang merasakan sakitnya daripada Lauren yang harus menahannya sampai depan apartemen mereka.

Tampaknya kesialan tengah melanda gadis mungil yang mempesona tersebut. Bus yang mereka tumpangi mendadak berhenti di sebuah pom bensin yang cukup padat. Bus itu harus mengantri dan Taeyeon berusaha untuk tidak tampak panik karena nafas Lauren yang mulai tak terkendali.

“Cepatlah, jebal. Jebal,” rintih Taeyeon sambil menggigit bibir bawahnya.

“Eomma, eomma,” panggil Lauren pelan sekali. Matanya masih terpejam. Keringat dingin mulai membasahi tubuh si kecil. Ia menggigil dan tampaknya Lauren mengalami mimpi buruk lagi. Ia berkali-kali mengernyit dan memanggil-manggil ibunya. Wajahnya sudah pucat pasi dan Taeyeon dapat merasakan suhu tubuh Lauren semakin tinggi.

Taeyeon tidak bisa menunggu lama lagi. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi siapa saja yang bisa ia fikirkan.

“Ppany-ah, tolong aku…,”

~~~

Severance Hospital, Sinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul, South Korea, 22.45 KST.

Tiffany melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju ruang tunggu di depan kamar rumah sakit yang bernomor 244 sembari membawa dua cup coffee yang masih mengepulkan asapnya. Langkahnya sedikit buru-buru karena ia tidak tahan dengan rasa panas yang menjalari kedua telapak tangannya akibat kopi panas tersebut.

“Taeng, minumlah. Ini akan menghangatkan tubuhmu dan melemaskan syaraf-syaraf di otakmu. Kau harus rileks dan tenang sedikit. Bidadari kecilku tidak apa-apa, dia sudah ditangani dengan cepat oleh dokter. Mungkin sebentar lagi dia akan bangun. Dan kalau dia lihat ibunya tampak lusuh begini, Laurennie pasti merasa sangat bersalah,” ujar Tiffany sesampainya ia di ruang tunggu. Ia menyerahkan satu cup pada Taeyeon dan Taeyeon hanya menerimanya tanpa berniat meminumnya.

“Asmanya belum juga sembuh total,” lirih Taeyeon.

“Sangat sulit untuk menyembuhkan penyakit turunan itu. Kau harus membiasakan diri berjaga-jaga kalau saja Lauren terserang asma,” saran Tiffany. “Kenapa kau lupa bawa obatnya?”

“Karena sudah terbiasa,” gumam Taeyeon. “Terbiasa ada Jiyong, yang selalu waspada jika Lauren sudah mulai menunjukkan kambuhnya. Aku sudah terbiasa merasa Lauren akan baik-baik saja. Tapi aku lupa Jiyong tidak berada di dekatnya lagi dan dengan cerobohnya melupakan obatnya,”

“Yasudah, tidak masalah. Aku mengerti. Lagipula, kalau kau memang akan ikut ke Kanada, kau tidak perlu cemas seperti biasanya. Lauren appa adalah dokter anak, ‘kan? Di dekatnya, Lauren tidak akan merasa sakit apa-apa lagi,” hibur Tiffany. “Dan satu hal lagi yang ingin kuberitahu padamu, Taeng…,”

“Taeyeon-ah!” seru seorang laki-laki yang ada di belakang Taeyeon dan Tiffany.

Kedua gadis cantik itu menoleh ke belakang dan terkejut mendapati sosok Jiyong dan Joohyun yang sekarang ini sedang melangkah cepat menuju ke arah mereka berdua. Taeyeon dan Tiffany langsung bangkit begitu Jiyong dan Joohyun sudah ada di depan mereka.

“Bagaimana keadaaan Lauren?” tanya Jiyong langsung tanpa banyak basa-basi. Keringat mengucur deras dari dahinya dan nafasnya tersengal-sengal akibat lari dari lantai satu menuju lantai tiga.

“Lauren baik-baik saja, oppa. Dia sedang dalam perawatan dokter dan mungkin sebentar lagi kita bisa melihatnya. Demamnya memang cukup parah, ditambah lagi dengan rasa sesak di dadanya yang begitu sakit,” terang Tiffany.

“Sangat sakit? Lebih sakit daripada biasanya? Daripada yang terakhir?” tanya Jiyong. “Tapi kenapa…,”

“Kurasa itu karena mimpi buruknya. Memang sudah dua hari ini dia bermimpi buruk tapi aku tidak tahu hal itu justru akan berdampak buruk untuknya,” jawab Taeyeon pelan.

“Untung saja Taeyeon mengambil inisiatif meneleponku. Dia ada di dalam bus yang mengantri panjang di pom bensin. Busnya memang tidak penuh, tapi udaranya, ‘kan kurang sehat untuk Lauren,” imbuh Tiffany, membuat Taeyeon membelalakkan kedua matanya agar gadis blasteran itu diam.

“Di dalam bus? Kau dari mana? Kenapa tidak meneleponku? Aku, ‘kan bisa menjemputmu. Sudah kukatakan berkali-kali, ‘kan aku tidak mau kau pergi sendiri tanpa aku Kim Taeyeon,” desis Jiyong, kesal sekali. “Dan lagi, kenapa kau membawanya ke rumah sakit ini, Ppany-ah? Rumah sakit ini jauh dari kondoku. Aku hampir saja ditangkap polisi karena menerobos banyak lampu merah,”

“Oppa, kenapa kau juga ikut memarahiku?” protes Tiffany. Ia mengerucutkan bibirnya. “Aku memilih rumah sakit ini atas dasar rekomendasi dokternya. Begitu Taeyeon selesai menelepon, aku langsung menghubungi dokter anak yang kukenal dan dia menyuruhku untuk membawanya ke sini, karena dia bilang kebetulan sedang ada praktek di rumah sakit ini. Itu sebabnya Lauren bisa ditangani dengan sesegera mungkin,”

“Aku tidak tahu soal itu,” gumam Taeyeon sambil menyipitkan kedua matanya memandang Tiffany.

“Kau punya kenalan dokter anak? Siapa?” tanya Jiyong.

“Ah, begini. Taeng…,”

“Hyung?”

Mendengar sapaan ‘hyung’ dsri belakang otomatis membuat kepala Jiyong menoleh ke belakang. Bukan hanya Jiyong, Taeyeon, Tiffany dan Joohyun pun ikut melihat ke asal suara. Dan detik itu juga kedua mata Taeyeon membelalak sempurna, terkejut bukan main melihat siapa yang ada di hadapan mereka, siapa yang memanggil Jiyong.

“Mino-ah? Kau di sini?” balas Jiyong.

Mino mengarahkan kedua kakinya mendekati Jiyong dengan senyuman manis miliknya yang tetap memperlihatkan wajah maskulinnya. Wajahnya yang ceria menunjukkan betapa senangnya ia akhirnya bisa bertemu kembali dengan sang kakak yang begitu lama dirindukannya. Rambutnya yang hitam agak berantakan tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya. Auranya hangat, berbeda dengan Jiyong saat pertama kali bertemu.

Jiyong ikut tersenyum lebar dan ia langsung memeluk erat adik sepupunya tersebut saat Mino sudah benar-benar berada di depannya. Mino membalas pelukan Jiyong tak lalah erat dan mereka tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggung satu sama lain sebelum akhirnya saling melepaskan.

“Kau benar-benar mengikuti jejak abeoji ternyata, eoh? Lihat dirimu. Kau berubah hampir seratus persen dari yang terakhir ku lihat. Aku tidak menyangka kau tertarik juga jadi seorang dokter,” ungkap Jiyong dengan wajah berseri-seri.

“Hampir? Hyung, aku sudah berubah seratus persen! Bahkan lebih,” sanggah Mino dengan suara tawa baritone-nya.

“Eyy… kau masih penikmat one night stand, ‘kan? Menjadi dokter itu sulit menahan nafsu ketika berada berdekatan dengan perawat-perawat yang punya body goals. Apalagi kau masih single,” lanjut Jiyong. Ia tidak menyadari adanya perubahan dalam diri Taeyeon. Gadis itu masih setia menundukkan wajahnya dengan mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ingin lari,tapi ia tahu. Inilah saatnya.

“Aku sudah memiliki hati yang harus aku jaga, hyung. Itu sebabnya aku tidak pernah sekalipun lagi berhubungan. Terakhir kali saat satu minggu sebelum keberangkatan kita ke Paris. Itu lima tahun yang lalu, ‘kan? Mungkin lebih. Dan aku umumkan pada orang-orang di rumah sakit Paris kalau aku sudah ada punya anak,” jelas Mino sambil mengusap tengkuk lehernya, agak salah tingkah.

Jiyong mendengus. “Alasan bagus untuk menghindari gadis-gadis cantik di sana, eh? Apa kau benar-benar sudah punya kekasih?”

“Mungkin lebih tepatnya bukan kekasih, tapi orang yang aku cintai. Sangat aku cintai. Dan aku berjanji dalam hati untuk berubah demi dirinya. Aku berjanji akan kembali secepat mungkin ke Korea dan ingin memilikinya seutuhnya. Aku ingin dia tahu kalau aku bukan Song Minho yang dia kenal dulu,” jelas Mino.

Jiyong tersenyum kecil mendengar penuturan manis dari adik sepupunya yang tidak pernah dia dengar semenjak mereka menghabiskan masa-masa remaja bersama dulu.

“Aku juga memiliki seseorang yang membuatku tahu betapa penting artinya rasa sayang dan cinta itu. Betapa aku menghargai hidup ini karena dia. Dan aku akan mengenalkannya padamu, kalau aku mau,” imbuh Jiyong dengan mengedikkan kedua bahunya.

Mino tersenyum sembari mengangguk. “Ah, hyung. Sebenarnya… aku memang punya anak. Itu bukan alasan kamuflase saja. Tapi aku memang benar-benar telah memilikinya,”

Jiyong tersentak kaget mendengar pernyataan Mino. “Kau serius? Maksudku, apa salah satu perempuan yang kau tiduri hamil dan meminta pertanggungjawabanmu? Kau tidak pernah bermain tidak aman sebelumnya, Mino-ah,”

“Mino-ah,” panggil Tiffany, menyela obrolan antara dua saudara yang tengah saling merindukan satu sama lain. Tiffany melangkah mendekat pada Mino dan tersenyum padanya.

“Jadi, dokter anak yang kau kenal itu Mino?” tanya Jiyong pada Tiffany. “Aku tidak pernah tahu kalian saling mengenal,”

“Kami memang tidak saling mengenal awalnya. Tapi karena dia memiliki seorang putri kecil dari salah seorang sahabatku, kami saling mengenal dan terus saling mengabari selama beberapa tahun belakangan ini,” jelas Tiffany.

Jiyong menatap Tiffany dan Mino secara bergantian. Rahangnya mendadak mengeras dan perasaannya mulai tidak enak. Aura yang dipancarkan Jiyong sebelumnya adalah kehangatan seorang kakak, kini berubah sangat dingin. Entah kenapa lidahnya terasa kelu ketika dia hendak mengatakan, “Kalau anakmu berasal dari salah seorang sahabat Tiffany, mungkin aku mengenalnya. Siapa?”

“Kau memang mengenalnya, hyung. Kau sangat mengenalnya. Kau juga mengenal putriku. Dia bahkan menyukaimu. Dan dia memanggilmu ‘Yong ahjussi’,” jawab Mino dengan wajah berbinar-binar. “Namanya Lauren Hanna,”

Air mata Taeyeon perlahan jatuh menetesi kedua pipinya. Ia menunduk dan buru-buru menghapus air mata tersebut sebelum ada yang mengetahuinya. Dan dia tidak ingin melihat ekspresi apa yang tengah ditunjukkan oleh Jiyong.

Dan Jiyong. Ia hanya terdiam mendengar penuturan dari adik sepupunya tersebut. Mendadak ia ingin tuli. Ia ingin tuli sesaat. Ia tidak ingin mendengar pernyataan apapun tentang anak dari Mino. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwasanya putri kecil yang dia sayangi, putri kecil yang sudah dia anggap anak sendiri adalah anak dari sepupunya sendiri.

Dan ibu dari putri kecil itu adalah gadis yang sangat dia cintai.

Seandainya saja Mino bukanlah sepupu yang dia sayangi, mungkin wajah laki-laki itu sudah babak belur dipukuli oleh Jiyong.

Melupakan rasa sesak di dadanya, melupakan rasa sakit yang begitu dalam mengoyak hatinya, melupakan rasa amarah dan kekecewaan yang melanda dirinya, Jiyong menatap lurus pada Mino, mencari kebohongan yang tersirat dalam kedua mata adiknya.

“Kau bohong, ‘kan? Maksudku… Kau tidak pernah cerita apapun selama kita di Paris,” bisik Jiyong.

“Aku memang tidak berniat mengatakannya lebih dulu padamu, hyung. Dulu, aku masih berusaha untuk memperbaiki diriku dan belum bisa menceritakan semuanya. Aku tahu kau akan tertawa ketika mendengarnya nanti,” jawab Mino. “Karena aku merasa sudah mantap untuk menjadi sosok ayah, aku bisa dengan percaya diri menceritakannya padamu. Selama ini aku memang seorang pecundang yang tidak menemui anaknya dulu setelah ia lahir,”

“Ah, ye. Itu artinya… orang yang sangat kau cintai itu…,”

“Lauren eomma,” jawab Mino cepat dengan suara lantangnya. “Yang selama ini selalu menjaga Lauren dan selalu sabar menungguku. Yang selama ini berusaha tegar dikucilkan oleh semua orang ketika Lauren tidak memiliki appa di sisinya. Yang selalu menahan air matanya. Gadis yang selalu tegar, kuat, dan gadis yang sangat kukagumi. Lauren eomma, Kim Taeyeon,”

Hazel Jiyong kembali terbelalak. Ia memang sudah akan menduga jawabannya, tapi tetap saja rasanya jauh lebih menyakitkan ketika Mino menjawabnya dengan tegas. Ia mengepalkan buku-buku jarinya, menahan diri untuk tidak mengamuk dan menghancurkan barang apa saja yang ada di dekatnya saat ini.

Mino perlahan mendekati Taeyeon dan menggenggam telapak tangan kiri gadis itu dengan erat. Ia memandang Taeyeon lekat-lekat dan begitu sarat akan penyesalan. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan wajahnya. Dengan berani Mino mengangkat dagu gadis itu dengan tangan satunya.

“Mianhae, aku baru datang sekarang. Aku janji, aku akan menghapus semua lukamu dan membahagiakanmu apapun yang terjadi. Aku tidak akan menyakitimu dan aku akan memberikan apa saja untuk kita berdua dan Lauren. Gomapta, sudah memberikan cinta yang luar biasa pada bidadari kecil kita,” ujar Mino dan ia tersenyum tulus yang mampu menghangatkan siapa saja yang memandangnya. Hati kecil Taeyeon bergetar dan mau tak mau dia membalas senyuman Mino.

Perkataan Mino membuat Taeyeon merasakan bebannya menghilang begitu saja. Dan tentu, ia percaya pada laki-laki itu. Untuk pertama kalinya.

“Lauren sudah menunggumu. Kajja. Kau harus memperkenalkanku padanya,” ajak Mino, yang semakin mengeratkan genggamannya di tangan Taeyeon. “Hyung, Tiff, aku permisi dulu. Kalian bisa menjenguk Lauren setelah kami keluar. Kami butuh privacy sebagai keluarga,”

“Aku duluan,” bisik Taeyeon pada Tiffany. Gadis itu tidak berani memandang Jiyong, yang hanya menatap ke arah lain, dengan kedua hazelnya yang tampak redup. Melihat itu, hati Taeyeon luar biasa sakit. Tapi inilah keputusannya, yang menurutnya baik.

Tiffany mengangguk dan Jiyong tetap diam tidak berkata apa-apa. Begitu Taeyeon dan Mino pergi dari hadapan mereka bertiga, Tiffany memandang lekat Jiyong. Hatinya terenyuh dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Jiyong meneteskan air matanya. Ia mengedip-ngedipkan kedua hazelnya yang bersimbah air agar tidak jatuh terus-menerus ke pipinya.

“Oppa…,” panggil Joohyun pelan sekali. Lidahnya membeku, shock melihat orang yang disayanginya tampak begitu rapuh. Hati Joohyun pun tak kalah sakit melihat itu.

“Aku bisa menjelaskannya padamu, oppa. Aku tahu sekarang kau pasti membenci Taeyeonnie…,”

“Apa kau bisa mengantar Joohyun pulang?” tanya Jiyong, menyela ucapan Tiffany. “Aku tidak akan pulang ke kondo, Joohyun-ah. Tidak perlu menungguku,”

“Kau mau pergi ke mana?” tanya Tiffany dan Joohyun bersamaan dengan intonasi yang berbeda.

Tidak menjawab pertanyaan mereka, Jiyong berbalik dan langsung melesat pergi menuju lift. Ia memekakkan kedua telinganya ketika Tiffany memanggil-manggil namanya di belakang.

“Oppa, jangan melakukan hal aneh-aneh, eoh?!” seru Tiffany. Ia hendak mengejar tapi langsung terhenti ketika ia tahu bagaimana Jiyong saat ia ingin meledak marah. Tiffany menarik nafas panjang dan menundukkan wajahnya. Kedua matanya terpejam, ia tampak frustasi.

Dan Joohyun memandang kepergian Jiyong dengan perasaan yang jauh lebih sakit.

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

Mino hadir!!! Ukh!

Seeya next time~

 

 

 

-Chapter 11 & 12-

“Apa Mino benar-benar Lauren appa?”

“Dia belum pulang selama dua minggu ini,”

“Jangan pernah membenci Taeyeon, hyung. Bencilah padaku. Taeyeon tidak pernah salah apa-apa. Dia hanya korban,”

“Kau benar-benar jalang, Ms. Kim,”

Advertisements

48 comments on “Beautiful Lies (Chapter 10)

  1. Omg sumpah aku nangis loh,sakit banget kayak nya jadi jiyong;'(( untuk pertama kali nya aku mendukung jiyong sama irene buat bersama setelah semua ini terjadi . .
    Slalu ditunggu loh next part nya jangan lama lama yah eon😙

  2. Wow waw waw waw keren bangett yaampun asli bagus banget.. OMG bagus banget thor aku gemessss bacanya apalagi pas Mino muncul waw banget kereeeeennn daebak 😍😍ahh pokonya aku gak bisa berkata thor keren.
    Aku tunggu chap selanjutnya thor Fighting 😍😍

  3. Keren bgt..
    Sedih bca pas lihat interaksi taeyeon,jiyong mino.
    Penasarn siapa yg d pioih tae unnie.
    Next thour jgn lma2 ya

  4. Beneran nangis baca nya,kisah nya gtae sangat sangat complicated bgt.mgkn hanya keajaiban yg busa bikin mereka bersatu.pleaseee part berikutnya jgn lama2 lg ya thor

  5. wihh cepet juga updatenya,, bagus ceritanya,,jdi tambah tambah penasaran mudah2an chapter selanjutnya cepet juga ya

  6. Huwaaaa jdi gak sabar sma kelanjutan cerita nya authornim. Jebal jgn lama2 update nya thor aku bisa mati penasaran gara2 cerita nya huhu. Aku tunggu next chapter ya authornim. 😘😘😘❤❤❤❤

  7. Speechless aing…
    Sedih, kesel, pengen marah, pengen nabok…
    Kesian bgt uri jiyongie…
    Liat teasernya kok aq takut jiyongie bkal benci ama taetae ya…

  8. Demi apa?!!! Gak kuat thor liat GD..feelnya dpet bgt serasa aku kayak dposisi GD, gatau ya greget. Gemes, sebel, campur aduk. Gak kebayang gimana ancurnyaa GD rapuhnya dia, pokoknya next chapter dtunggu thor, trmksh juga udh dupdate cepet chapter ini. Fighting author-nim

  9. Waaaahhhh makin penasaran aja sama kelanjutanya thor…. Update cepat ya😁😄😆
    Aku kasihan banget sama gd thorrr padahal dia udah sayang banget ke ty…
    Ok lah thor semangat buat nulis, semangat buat ngelanjutin ffnya ya💪💪💪

  10. Ampun, baru chapter ini aku nangis bacanya..
    Astaga, sumpah fanfic ini jahat beud ..
    Tolong, bagaimana dengan Jiyong? Bagaimana dengan Taeyeong yg sudah mulai mencintai Jiyoung?? *maaf lebay
    Ga tega, tapi ini yang dtunggu-tunggu dari kemarin, Lauren’s appa datang, Mino datang..
    Senang sih ada konfliknya, tapi kepikiran ajah sama Taeyeon dan Jiyong ..
    Duhhh, makin greget deh apalagi sma next chapnya..
    Pkoknya next chap secepatnya yahhh..
    Kalo bisa di password ajah, pasti banyak yg baca tapi dikit yg komen hehe.. Maaf..
    FIGHTING!!!

  11. OMG OMG OMG sumpah thour ini tuh bngt dan keren bngt ceritanya 😁 sumpah yh sumpah aku tuh nangis bacanya thour pas jiyong tau kalau lauren appa itu mino dan itu adik sepupunya sendiri 😂😂 sumpah daebak thour daebak 😅 next chapter yh thour dan jebal jngn lama” updatenya 😅😅 Saranghae thour 😚😚
    fighting 😊

  12. Chapter ini sedih bangettttt 😦
    Torrrrrr konfliknya jangan semakin rumit donggg huhu ga tega liatnya 😄
    Fighting tor buat next chapternyaaaaa

  13. wah…daebak……
    kece badai thor….
    alur ceritanya mampu membuat pembaca merasakan emosi,,,seperti melihat dramanya…
    pokoknya keren banget,,,
    ditunggu next chapternya….

  14. Wahhhhh maygad gatega asli liat jiyongg. Ntah kenapa masih pengen endingnya gtae kalaupun lauren emg anaknya minoo. Maafkan daku mino tp diriku #teamGtae 😂😂😂 asli lah makin gasabar lanjutanyaaaaa

  15. Seruuuuuuu banget…i hope if Mino can not be couple with taeyeon Please pasangkan dia dengan bae joohyun.

  16. Wow, daebak! Sumpah ini keren banget thor. Konfliknya berasa banget. Aku sebagai permbaca bisa ikut merasakan gimana emosi dari setiap karakternya.
    Jiyong pasti hancur sehancur-hancurnya dan Taeyeon pasti bimbang pake banget. Aku gatau harus milih siapa kalo jadi taeyeon. Author jjang! 👍

    Next chapter sangat ditunggu ya author-nim. Selamat menulis dan teruslah menulis. Berbakat jadi penulis loh ☺️

  17. Apa yg bkalan dilakuin jiyoung stelah tau kalau mino itu ayahx lauren ya…
    Q g bs ngebayangin hancurx hati jiyoung bahkan taeyeon sendiri yg pasti lebih sakit dr siapapun.

  18. Begitu liat ATSIT eh ada ff ini keluar mantap tor cepet update datenya.
    Pas baca sedih liat Irene udah balik .song mino ada rusak lah hubungan mereka
    Ahhhh eonnie sangat di tunggu next chapter .
    Bagaimanapun cerita. Pasti bakalan keren nih
    Ending bakalan kaya gimana

  19. Aku nangis😭😭
    Feel nya dpt bgt palagi pas nyetel lagi untitled 2014 & fine 😭😭😭
    Pls Thor, bikin mereka bersatu
    Happy ending plss
    Nyes nyes nye😭😭😭😭😭😭😭

  20. Dapet bgt feel nya pokonya seruuuuuu banget chapter ini sumpahh:(
    Rasanya ga pengen ada tbc gimana dong
    pokonyaaaa lanjuttt thor
    secepatnyaaa di nextttt
    semangattt

  21. Oh ceritanya bikin sedih bgt.. Siapa ug nyangka ayah lauren song mino hadeh bikin galau berat apa yg akan terjadi pada jiyong… Penasaran di tunggu next

  22. Speechless baca akhir akhirnya.. Deg degan banget bacanya.. Kasian jiyong 😢😢 ..
    Next thor.. Fighting 💪💪

  23. Sakit banget bacanya,SUMPAH!!

    Yaampun,yang sabar ya uri jiyong.
    Adu,aku takut jiyong bakalan benci sama taetae,aduu oppa jangan ya,jeballl!

    Ditunggu ya thor!
    Figthing!✊

  24. OMG FINALLY UPDATE!!!

    Bener-bener menguras hati banget. Ga nyangka ternyata Mino orangnya. asdgfjadfhksajdlaksdalk. Unexpected banget, thor:( Ditunggu banget loh thor next chapternya!!!!

  25. Sumpah ini penghianatan cinta paling perih yg pernah aku baca . Mudah-mudahan jgn lama-lama ff berikut’ny yaa aku tunggu cerita selanjutnya

  26. Serius demi apa ini ff tambah keren 😍😍 jleb banget gd 😂😂 berharap laurenn lebih suka sama gd dari pada mino 😂😂 fighting ya author geulugi gomawoyo buat ff nya demi apa keren banget 😍😙 tidak sabar untuk chapter 11 sama 12 😂😍

  27. Chapter Akhir” ini bener nguras emosi dan air mata Bagus banget, 😭😭
    preview next chap nya kok tambah sedih gitu ya, itu siapa yang nyebut taeyeon jalang? Jiyong kah? 😣😣
    Next chap harus sedia tisu lebih banyak lagi nih, 😞😞
    next thor, semangat 💪💪

  28. Finnaly …
    hampir setiap minggu ngecek next chapternya udah update apa belum :v dan sekarang pas ngecek udah 2 chapter aja (9-10) meski ketinggalan tpi yg pnting smpet baca 😀

    Kalo ada kata yang lebih dari Keren buat chapter ini, aku bakalan ucapin itu *-*
    dan kalo ada yang lebih dari “ditunggu updatenya” aku juga bakaln ngucapin itu. :v
    Hwaiting~ uri author-ah 😀

  29. Pantes Lauren mirip Gd .
    Orang appanya song mino .
    Wow apa yang akan dilakukan Gd ke Taeyeon .apakah nanti Gd akan benci Taeyeon .kasihan Taeyeon serba salah
    Next di tunggu eonnie
    Oh iya eonnie yang author my princess Kim Taeyeon kan eonnie itu kapan di lanjut ya. Aku masih menunggu nih
    Sangat penasaran sama kelanjutan ceritanya

  30. Huwaa makin greget 😆😆
    Endingnya masih belum bisa ketebak nih :v
    Ditunggu ae lah next chapter ya thor :”

  31. Whaaa nyesek gini ngebaca nya.. ngeliat preview next chapter kayaknya bakalan lebih nyesek lagi.. bener2 ditunggu next nya Thor.. daebaaaakkkk keren banget.
    Fighting 😁

  32. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  33. TY pergi, Mino kembali, Jiyong hancur…. 😥 Joohyun sepertinya gak akan bisa gantiin TY, si TY kenapa bohong sama perasaannya sendiri.. Dan sepertinya TY gak cinta sama mino :v ahh.. Pokoknya lanjut baca chapter 11, ketinggalan 😥 maafkan aku author-nim 😦

  34. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s