Beautiful Lies (Chapter 9)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6|Chapter 7 Chapter 8

~~~

LONG CHAPTER, PLEASE READ IT CAREFULLY

WARNING INSIDE ! YOU’LL BE BORED

Taeyeon menghembuskan nafas panjang dan berat saat ia meletakkan nampan di atas meja dapur lalu mengambil ponselnya yang ia simpan di saku celananya dan melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Tiffany. Taeyeon mengerutkan dahinya, heran karena gadis blasteran itu tidak biasanya menelepon sebanyak ini. Kecuali ada hal penting.

“Taeng?” panggil Hyorin ketika ia sudah menyelesaikan hiasan birthday cake untuk Youngbae. Rambut panjangnya yang indah ia gulung menjadi sebuah bun.

“Ne, eonni?” jawab Taeyeon.

“Ada apa dengan raut wajah baby-mu itu?” Hyorin balik bertanya.

“Memangnya kenapa dengan wajahku?” Taeyeon kembali bertanya sambil memeriksa keseluruhan wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya di hadapan Hyorin. Dahi Taeyeon berkerut bingung.

Hyorin berusaha mengulum senyuman lebarnya sambil mengedipkan sebelah matanya. “Aniya, hanya saja aku merasa melihat raut kecemburuan di wajahmu, Taeng,”

“Eonni!” pekik Taeyeon pelan. Wajahnya bersemu merah dan ia membelalakkan kedua matanya. Lucu.

“Kita sama-sama mendengar ucapan Jiyong di telepon tadi,” sambung Hyorin. Ia menunjuk sosok Jiyong yang sedang sarapan dengan menggunakan dagunya. “Sepertinya mantan kekasih laki-laki itu akan pulang ke Seoul setelah mendengar dia dilarikan ke rumah sakit,”

“Mereka… sudah putus?” tanya Taeyeon, sedikit terkejut.

“Kufikir kau sudah mendengarnya dari Jiyongie,” ujar Hyorin. Ia mengerutkan dahinya menatap Taeyeon. “Dia putus demi dirimu, dan itu juga karena saran dariku. Mana mungkin dia bisa mengejar seseorang jika masih punya kekasih?”

“Aku juga sudah mendengarnya, eonni,” ucap Taeyeon. “Keundae, apakah tidak terlalu jahat jika memutuskan hubungan seseorang? Bagaimana kalau gadis itu yang sesungguhnya terbaik untuk Jiyong? Bagaimana kalau suatu hari nanti aku yang akan melukai Jiyong? Bisa saja gadis itu yang justru menjadi penopangnya, ‘kan?”

Hyorin diam sesaat sebelum akhirnya ia tersenyum manis pada Taeyeon. “Waeyo? Kenapa kau sudah beranggapan kalau kau akan menyakiti uri Jiyongie? Apa ini karena Lauren appa? Dia benar-benar akan kembali? Menjemput Lauren dan membawanya pergi ke Kanada?”

Taeyeon menatap Hyorin dalam-dalam sambil menganggukkan kepalanya perlahan. “Kemungkinan bulan ini dia akan sampai di Seoul, eonni. Dia adalah Lauren appa dan itu benar, dia akan menjemput anaknya dan membawanya ke Kanada. Dia sudah mengatur kehidupan Lauren dengan sangat sempurna, memikirkan masa depan gadis kecilnya dengan matang dan siap untuk membuka lembaran baru bersama Laurennie,”

“Bagaimana denganmu, Taeyeonnie? Lauren tidak akan pergi tanpamu, kau juga tidak bisa kehilangannya. Apa itu artinya…,”

“Ne, eonni. Dia mengajakku untuk pergi bersamanya dan membangun hubungan yang baru. Memulainya semua dari nol,” jawab Taeyeon lirih.

“Tapi, Jiyong…,” ucapan Hyorin terputus sesaat sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan. “Apa kau setuju dengannya? Kau akan pergi?”

“Nado mollaseoyo. Aku belum menjawabnya. Aku belum mendapatkan kepastian kuat untuk benar-benar pergi meninggalkan Seoul dan hidup bersama dengan Lauren appa,”

“Jadi, kau belum benar-benar yakin dengan perasaanmu pada Jiyong?” tanya Hyorin lagi.

Taeyeon menundukkan wajah sendunya, ia lebih memilih memandangi lantai dapur kondo Jiyong daripada kedua tatapan mata Hyorin yang menyiratkan kesedihan. “Aku tidak pernah seyakin ini untuk mencintai seseorang, eonni. Tapi, aku tidak ingin egois. Aku harus memikirkan perasaan orang-orang terdekatku juga. Lagipula, Lauren lah prioritas utamaku,”

“Aku tidak ingin mencampuri urusan kalian berdua, Yeonnie-ah. Tapi, apakah kau tidak memikirkan perasaan Jiyong ke depannya? Kalau kau pergi ke Kanada, hidup bersama dengan orang lain, apakah kau tahu bagaimana hancurnya perasaannya? Jiyongie tidak main-main dengan perasaannya kali ini, Taeng. Dia bahkan rela menukar nyawanya demi dirimu. Maukah kau menimbangnya kembali?” pinta Hyorin penuh iba. “Dia sudah seperti adik kecil bagiku semenjak kami pertama kali bertemu,”

“Aku pasti benar-benar perempuan yang sangat jahat sekali, eonni,” isak Taeyeon secara tiba-tiba. Mendengar penuturan dan rasa iba yang Hyorin tunjukkan, membuat hatinya sakit. “Sebelum aku pergi, aku akan melukai perasaannya. Sebelum aku pergi, kau pasti akan membenciku. Youngbae oppa juga. Seandainya saja kau tahu, eonni, seandainya kau tahu kalau saat ini aku berharap sekali tidak berada di posisi seperti ini. Seandainya aku bisa menukarnya dengan orang lain, aku akan memberikannya apapun yang ia minta,”

“Taeng…” bisik Hyorin. Kedua matanya yang berair membulat memandangi wajah gadis yang ada di hadapannya itu.

“Jika saja aku tahu lebih awal kalau aku akan menyakiti orang yang aku cintai, aku tidak akan mau mencintainya, eonni,” lirih Taeyeon.

“Mianhaeyo, Taeng. Mianhae,” bisik Hyorin. Ia memeluk Taeyeon dengan erat sambil membelai lembut surai panjang milik gadis itu. “Aku memang tidak tahu apa-apa. Aku tahu kau pasti punya alasannya. Seharusnya aku tidak memaksamu,”

Taeyeon tersenyum kecil dan ia melepas pelukan Hyorin sembari menatap gadis itu dalam-dalam. “Eonni, maukah kau berjanji padaku?”

“Mwonde?” Hyorin balik bertanya.

“Jika suatu saat nanti aku benar-benar menyakiti perasaan Jiyong, jika suatu saat nanti kau tahu alasanku menyembunyikan identitas Lauren appa pada kalian semua, jika suatu saat nanti semua orang terdekat Jiyong membenciku, maukah kau tetap di sisiku, memercayaiku, dan tetap menyemangatiku? Maukah kau tetap menjadi Hyorin eonni yang kukenal?” pinta Taeyeon sungguh-sungguh.

Hyorin mengangguk dengan sangat yakin sembari memberikan senyumannya yang sangat manis pada Taeyeon. Taeyeon balas tersenyum, dengan air matanya yang masih menetes ia memeluk Hyorin kembali.

~~~

“Yongie-ah, aku pulang. Gomawoyo sudah meminjamkan kondomu padaku tanpa seizinmu dulu. Birthday cake untuk Youngbae selesai dan hasilnya sama sekali tidak mengecewakan,” pamit Hyorin pada Jiyong saat laki-laki itu tengah memainkan ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri di ruang tengah.

“Eoh, cheonmaneyo. Hati-hati, noona,” jawab Jiyong. Ia segera meletakkan ponselnya di atas meja dan bangkit berdiri dari sofanya, berniat mengantarkan Hyorin sampai pintu depan kondo. “Lagipula, Taeyeon sudah mengizinkanmu, ‘kan? Izin dari Taeyeon adalah izinku, begitu juga sebaliknya, jadi kalau ada perlu di kondoku kau tinggal bilang pada Taeyeon,”

“Arraseo. Dia, ‘kan housekeeper-mu,” ujar Hyorin sambil tersenyum paksa.

“Yah… Kau tahu dia lebih dari housekeeper,”

“Mungkin,” imbuh Hyorin dengan asal. “Sepertinya kau bahagia sekali hari ini. Ada kabar menyenangkan?”

“Kau tahu saja, noona,” jawab Jiyong, wajahnya berseri-seri seketika. “Mino akan segera kembali ke Korea. Mungkin minggu ini sudah sampai. Dia pulang karena ada praktek sebentar di salah satu rumah sakit di Seoul, setelah itu dia pergi lagi ke luar negeri,”

“Mino? Song Minho?” tanya Hyorin sambil mengerutkan dahinya, tampak sedang mengingat-ingat sebuah nama yang tak asing baginya. “Sepupumu yang juga dicampakkan ke Paris untuk belajar kedokteran oleh ayahmu?”

“Ne, satu-satunya sepupu laki-lakiku yang paling mirip denganku, baik itu sifat, sikap dan wajah. Sepupu yang paling aku sayang. Sekarang, dia sudah resmi jadi dokter spesialis anak di Paris. Tapi dia tidak berminat buka praktek di sini. Dia sudah menandatangani kontrak di beberapa rumah sakit di Kanada. Anak itu sukses sekali, ‘kan pendidikannya?” jelas Jiyong dengan wajah riangnya. Ia memang sudah sangat merindukan salah satu sepupu tercintanya itu. Sepupunya yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri saking dekat dan miripnya mereka berdua.

“Woah, jinjjayo? Apakah Mino yang dulu sering kau ajak main di NB Club? Mino yang suaranya sangat sexy itu?” tanya Hyorin. “Bukannya anak itu jiplakan darimu? Playboy, suka main dan minum. Sekarang? Dokter spesialis anak? Aku tidak bisa bayangkan betapa dewasa dan tampannya dia ketika pakai jas dokter dan memeriksa para pasien. Waeyo? Kenapa dia mendadak berubah? Dia sudah berhenti profesi jadi bad boy? Aku yakin pasti banyak suster yang menempel dan genit padanya di Paris sana,”

“Ya, ya, ya noona. Kau berlebihan sekali. Semirip apapun aku dengannya, tetap akulah yang paling tampan. Apa kau fikir hanya dia yang digilai para suster dan dokter perempuan di sana? Nado! Bahkan mereka sering sekali cari-cari perhatian, suka tidak konsentrasi jika dekat denganku. Bukan hanya Mino saja,” sanggah Jiyong kesal.

“Jeongmalyo?” ejek Hyorin. “Tapi kurasa Taeyeon akan lebih jatuh cinta pada Mino,”

“Noona, kenapa bawa-bawa Taeyeonnie?” tanya Jiyong, makin sebal. “Taeyeon tidak boleh dan tidak akan jatuh cinta dengannya,”

“Wae? Kita tidak tahu ke depannya kalau mereka berdua bertemu suatu saat nanti, ‘kan? Kau bisa mengenalkan mereka berdua. Bukankah Mino itu masih single? Aku yakin dia masih single. Taeyeon juga single. Cocok, ‘kan?”

“Aku tidak akan memperkenalkan mereka berdua,” jawab Jiyong sinis. “Aku bahkan tidak akan menceritakan apa-apa tentang Taeyeon pada Mino, begitu juga sebaliknya,”

“Jadi kau akan mengenalkan siapa pada Taeyeon? Pada Joohyun, kekasihmu itu?” tanya Hyorin. Suaranya sedikit naik tanpa ia sadari. “Joohyun juga akan pulang, ‘kan? Dia tinggal di kondomu alih-alih kembali ke rumahnya sendiri. Bukankah kau bilang padaku kalian sudah putus? Aku juga tahu kalau kau akan mengajaknya berkeliling Seoul saat dia di sini nanti, menemaninya agar dia tidak bosan. Bukannya aku tidak suka dia pulang dan berkenalan dengan kami, tapi apakah kau akan menelantarkan perempuan incaranmu begitu saja? Kau sudah mendapatkan kepercayaannya dan sekarang ingin menghancurkannya? Tidak sepantasnya aku percaya dan mendukungmu,”

Jiyong menghela nafas kasar dan menatap Hyorin dengan tatapan marah dan tak percaya. “Noona, apa ada denganmu? Aku dan Joohyun memang sudah tidak ada apa-apa. Rumahnya ada di Daegu dan dia tidak memiliki apartemen di Seoul. Lagipula, aku mengajaknya berkeliling Seoul dan menemaninya selama dia di sini karena ingin menebus kesalahanku yang sudah mencampakkannya. Tidak ada maksud lain. Dan aku tidak akan pergi dari sisi Taeyeon. Apakah susah sekali untukmu percaya padaku?”

Hyorin menggelengkan kepalanya sambil menatap lantai, lalu sedetik kemudian ia memandangi laki-laki itu dalam-dalam. “Aku hanya tidak ingin kalian berdua sama-sama tersakiti ujung-ujungnya. Taeyeon sudah memercayaimu dan langkahmu untuk mendapatkannya semakin besar. Tapi apakah kau tahu kalau sebenarnya kau ini ketinggalan jauh di belakang dengan Lauren appa?”

“Apa… Maksudmu?” Jiyong balik bertanya dengan suara lirih.

“Lauren appa dipastikan akan segera kembali menjemput Lauren untuk dia bawa ke Kanada. Dia juga meminta Taeyeon untuk ikut dengannya, memulai semuanya dari awal, membangun hubungan baru yang harmonis. Dia bahkan sudah menyiapkan semua keperluan untuk Lauren. Dan masalah cinta, aku yakin mereka berdua pasti saling mencintai ke depannya cepat atau lambat. Dan semua itu akan terjadi jika selangkah saja kau lengah, Jiyongie. Kau mengerti, ‘kan apa maksudku?”

“Laki-laki itu benar-benar akan kembali?”

Absolutely, yes,” jawab Hyorin. “Aku tidak melarangmu untuk membangun hubungan baik dengan Joohyun, tapi bisakah kau memikirkan perasaannya? Bisakah kau tetap membuatnya berada di sisimu meskipun ada Joohyun? Karena aku yakin, Taeyeon tidak akan mau ada di dekatmu kalau ada Joohyun, meskipun dia mati-matian mengatakan kalau dia tidak cemburu melihat kalian berdua. Kau tidak akan bisa mengajak Taeyeon ikut bersamamu menemani Joohyun keliling Seoul nanti. Tidak akan bisa. Begitulah seorang perempuan,”

“Lauren appa akan pulang?” ulang Jiyong, tak percaya atau lebih tepatnya tak mau percaya.

“Kau bisa tanya sendiri pada Taeyeonnie. Mungkin saja setelah kau dan Joohyun having fun together selama beberapa hari, Taeyeon akan langsung memperkenalkan laki-laki itu padamu,” jawab Hyorin. “Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu, Yongie-ah. Mianhae, aku tidak ingin membuatmu tertekan tapi aku juga tidak bisa melihat salah satu dari kalian terluka. Kau tahu aku sudah menganggapmu sebagai adikku, tapi aku juga sangat menyayangi Taeyeon. Aku tidak ingin melihatnya terluka lagi,”

Dada Jiyong mendadak berdenyut menyakitkan mengingat apa yang dikatakan Hyorin mengenai ayah kandung Lauren. Ia tidak percaya sama sekali, tidak pernah menduganya kalau laki-laki bedebah yang sudah menghilang dari kehidupan Taeyeon dan Lauren akan kembali lagi mengusik kehidupan mereka berdua, bahkan hendak membawa mereka pergi.

Lebih baik dia mati di bunuh oleh Hyungsik daripada harus mendengar kabar Taeyeon menyetujui hidup bersama dengan Lauren appa di Kanada.

“Aku pulang, eoh? Annyeong,” pamit Hyorin lagi sembari melambaikan tangannya pada Jiyong dan segera berbalik untuk keluar dari kondo.

Jiyong hanya mengangguk dan ia kembali duduk di sofa. Wajahnya murung dan dahinya berkerut tanda frustasi berat. Fikirannya kembali melayang pada pembicaraannya dengan Hyorin barusan. Namun, yang menjadi fokusnya adalah kembalinya ayah kandung Lauren ke Korea.

“Aku benar-benar berharap pesawat yang dia tumpangi bisa meledak di langit tanpa ada yang tahu apa sebabnya,” rutuk Jiyong dengan wajah geramnya.

“Kau bilang apa?” tanya Taeyeon pada Jiyong. Gadis mungil itu sudah ada di hadapan Jiyong ketika ia melepas dan melipat apronnya. “Apa kau sakit? Apa kau merasakan sakit di bagian kepalamu? Atau badanmu? Kau kelihatan murung dan tampak frustasi,”

Jiyong tidak menjawab kecemasan gadis itu dan hanya menatap Taeyeon dalam-dalam. Mendengar kekhawatirannya membuat hati Jiyong terasa tercabik. Ia tidak ingin gadis itu cemas, khawatir, sedih, dan menangisi seorang laki-laki lain selain dirinya. Ia tidak ingin gadis itu perhatian terhadap laki-laki lain. Ia tidak ingin Taeyeon menunjukkan kelembutan hatinya dan kasih sayang tulusnya pada orang lain. Semua yang ada pada diri gadis itu hanya miliknya, hanya untuknya. Ia tidak ingin berbagi.

Serakah. Bukankah cinta itu penuh dengan keserakahan? Dia tidak puas dengan hubungan tidak jelas yang terjadi di antara mereka berdua. Dia ingin memiliki Taeyeon sepenuhnya. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu.

“Kau mau aku…,”

“Sudah siap untuk menjemput Laurennie?” tanya Jiyong. Ia bangkit dari sofa dan mengambil kunci mobilnya. Ia tersenyum lembut pada Taeyeon dan mendekati gadis itu. “Kajja,”

“Neo… Gwaenchanna?” tanya Taeyeon ragu. “Tidak perlu dipaksakan jika kau masih merasakan sakit. Aku bisa pergi menjemput Lauren sendiri atau pergi bersama Seungri…,”

“Hajima,” sela Jiyong langsung. Ia menggenggam pergelangan tangan kanan Taeyeon dengan erat-erat. Wajahnya berubah tegas dan rahangnya mengeras, membuat Taeyeon mengernyit bingung. “Jangan pergi dengan siapapun. Ke manapun itu, jangan pergi dengan siapapun selain aku. Kalau kau mau pergi, kau harus bilang padaku agar aku bisa pergi menemanimu. Sejauh apapun itu, kau harus bilang padaku. Aku tidak ingin jauh darimu,”

Taeyeon terdiam dengan ekspresi wajahnya yang terkejut, bingung, dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Ia tidak bisa mengomentari perkataan Jiyong dan hanya menunduk menatap pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki itu. Bibir bawahnya ia gigit dan matanya kembali memandang wajah rupawan laki-laki tersebut dengan sedikit berkaca-kaca.

“Kajja, Lauren sudah menunggu kita,” lirih Taeyeon pelan. Ia membalas genggaman tangan Taeyeon di tangan hangat Jiyong dan mereka berdua bersama-sama pergi keluar kondo.

Di dalam hati Jiyong paling dalam, ia sedikit kecewa karena Taeyeon mengalihkan pembicaraan mereka. Apa dia benar-benar akan pergi ke Kanada?

Selama perjalanan menuju sekolah Lauren, suasana di dalam mobil Jiyong terasa sangat sunyi dan canggung. Laki-laki Kwon itu hanya diam saja sambil terus berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Ia juga tidak mau bersusah payah untuk menghidupkan radionya untuk sekedar mencairkan suasana. Taeyeon memang menyangka tidak ada yang beres dengan Jiyong, karena laki-laki itu tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Dua puluh menit dalam perjalanan yang sunyi-senyap, akhirnya mereka berdua sampai. Taeyeon langsung keluar dan mendapati gadis kecilnya tengah menghampirinya. Namun, kali ini ia tidak sendiri. Seorang anak laki-laki tampan berambut hitam legam, berkulit putih bersih dengan rona merah di kedua pipinya, dan kedua bola matanya yang bulat berwarna hitam pekat. Sangat tampan dan menggemaskan.

Taeyeon memandangi anak laki-laki itu dengan tatapan bingung. Bingung karena ini untuk pertama kalinya dia melihat anak itu bersama Lauren.

“Eomma!” sapa Lauren riang dan ia memeluk Taeyeon dengan sangat erat. Taeyeon membalas memeluknya lalu menciumi ubun-ubun kepala gadis cilik itu. “Yong ahjussi!”

Hey, baby L,” sapa Jiyong dengan senyuman manisnya. Ia mencubit gemas kedua pipi gembil Lauren dan mengacak-acak sayang rambutnya.

“Apa kau tidak ingin mengenalkan temanmu, Laurennie?” tanya Taeyeon pada Lauren sambil menatap anak laki-laki yang ada di belakang Lauren. Anak laki-laki tampan itu menatap Taeyeon dan Jiyong secara bergantian. Namun, ia menatap Jiyong lebih lama dan tampak menyelidik dengan memicingkan kedua matanya.

“Annyeonghaseyo, Lauren eomma appa. Leo William imnida,” sapa anak laki-laki yang bernama Leo tersebut sembari membungkukkan tubuhnya 90° pada Taeyeon dan Jiyong selama beberapa detik.

Mendengar sapaan ‘appa’ yang keluar dari bibir anak itu membuat Jiyong menyeringai kecil. Dalam hati ia berharap dapat menyadarkan gadis yang ada di sampingnya itu bahwa yang cocok dan pantas menjadi sosok ayah dalam hidup Lauren adalah dirinya, Kwon Jiyong.

“Sebenarnya ahjussi ini bukanlah Lauren appa. Dia adalah temanku dan sudah dianggap ahjussi sendiri oleh Lauren,” sela Taeyeon cepat sebelum Jiyong membuka mulutnya untuk menyetujui perkataan Leo barusan. Seringaian di wajah laki-laki itu langsung hilang dan diganti dengan kedua bola matanya yang berputar seraya menghela nafas panjang.

“Mianhae, aku fikir ahjussi ini adalah Lauren appa. Wajah mereka sekilas mirip,” sahut Leo sambil memerhatikan wajah Jiyong dan Lauren.

Jiyong mengernyit. Ia juga ikut memerhatikan wajah Lauren dan ia akui wajahnya dengan si kecil itu memang memiliki kemiripan. Sudah lama Jiyong sadari. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya.

“Mereka sering bermain bersama-sama, jadi bisa saja hal itu membuat mereka terlihat mirip satu sama lain,” jawab Taeyeon cepat. Ia tersenyum kikuk pada Leo dan berharap anak laki-laki itu tidak melanjutkan pembicaraannya.

“Aku tidak pernah mendengar ada teori semacam itu selama sekolah,” timpal Jiyong.

Lauren tertawa seketika. “Jeongmalyo, Leonnie? Aku dan Yong ahjussi mirip? Pantas saja semua orang di sekolah yang melihatku bersama-sama dengan ahjussi sering bertanya ‘apakah dia ayahmu?’ begitu. Tapi aku sudah cerita juga, ‘kan kalau ayahku yang sebenarnya sedang bekerja jauh dari Korea Selatan. Eomma bilang dia akan pulang, jadi kalau dia sudah pulang nanti aku akan mengenalkannya padamu,”

“Ah, ne. Aku akan senang sekali jika itu terjadi,” ujar Leo dan ia tersenyum lebar pada Lauren, menampilkan eye smile-nya yang menggemaskan.

“Kalau begitu kita doakan saja supaya pesawat yang dinaiki appa mendarat dengan aman, babygirl,” ujar Jiyong, terkesan dingin. Namun, ia tetap tersenyum manis pada Lauren dan Leo. “Kajja, kita pulang. Aku sudah lapar…,”

“Ahjussi,” sela Leo. “Hari ini hari pertama aku berkenalan dengan Lauren. Hari ini juga hari pertama aku menginjakkan kaki di sekolah dan kemarin siang hari pertamaku menginjakkan kaki di Korea. Aku dengar, Lotte World Indoor Ice Skating Rink adalah tempat yang sangat di recommended oleh orang-orang sini. Jadi, aku berniat mengajak Lauren dan ahjumma untuk pergi ke sana. Bisa dikatakan sebagai bentuk perkenalanku,”

“Ne! Aku mau mencoba pergi ke sana, ahjussi! Boleh, ‘kan?” pinta Lauren girang dengan wajah berseri-seri. Ia mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi pada Jiyong, minta digendong. Dengan cekatan Jiyong menggendong tubuh mungil Lauren dan mendekapnya. Seperti anak sendiri. Dan kedua mata elang Leo memerhatikan interaksi keduanya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Kenapa kau minta izin pada ahjussi ini? Kita, ‘kan hanya pergi bertiga saja naik mobilku,” ucap Leo pada Lauren. Diam-diam Taeyeon ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Leo yang langsung keluar begitu saja tanpa disaring dulu.

Hey, little boy,” sela Jiyong sebelum Taeyeon maupun Lauren menjawab pertanyaan Leo. “Aku memang bukan Lauren appa, tapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Lagipula, aku ke sini juga ingin menjemputnya dan bermain bersama seperti biasanya. Aku dan Lauren eomma juga memiliki hubungan sangat baik, sehingga aku juga ikut andil dalam memberikan izin pada baby L-ku. Dan satu lagi. Ke manapun Lauren dan eomma pergi, aku akan ada di samping mereka,”

Taeyeon menatap Jiyong dengan pandangan sendunya dan ia hanya menatap Leo tanpa memberikan komentar apa-apa. Sulit untuk mengiyayakan apa yang dikatakan Jiyong tapi ia juga tidak ingin menolaknya. Jiyong memang selama ini selalu ada di sisinya, menemani dan bermain bersama Lauren. Tapi, bukan berarti selamanya akan selalu seperti ini. Dia akan pergi sebentar lagi. Tanpa Jiyong.

“Ne, seandainya appa tidak pulang-pulang ke Korea dan aku punya hak untuk mengangkat seorang laki-laki menjadi appa, aku pasti akan menjadikan Yong ahjussi sebagai appa,” imbuh Lauren dan ia mencium pipi kiri Jiyong dengan cepat. Jiyong tersenyum manis dan membalas ciuman gadis cilik itu.

“Arraseo,” jawab Leo. “Jadi, apakah kau mengizinkannya, ahjussi-yang-merasa-sebagai-Lauren-appa?”

Taeyeon tertawa kecil mendengarnya dan melirik ke arah laki-laki yang ada di sampingnya itu. Jiyong mendelik pada Leo dan menatap anak laki-laki menggemaskan itu dengan pandangan kesal. Panggilan yang diberikan Leo terkesan mengejek untuknya.

“Yah, tentu saja boleh. Tapi Lauren dan eomma pergi bersamaku. Dan aku juga akan ikut,” jawab Jiyong.

Okay, aku akan bilang pada eomma kalau aku ikut mobilmu,”

~~~

“Eomma,” panggil Lauren dari bangku belakang mobil Jiyong. Ia berdiri dan memeluk kursi Taeyeon dari belakang. “Aku lapar,”

Jiyong tertawa pelan dan ia melirik Lauren sekilas. “Jadi, di mana kita akan makan siang, babygirl?”

“Bagaimana kalau Lotteria Lotte World Jamsil B1, ahjumma?” tawar Leo langsung pada Taeyeon. “Letaknya tidak jauh dari Ice Skating, jadi kita bisa langsung pergi ke sana setelah makan siang,”

“Jiyong-ssi?” tanya Taeyeon yang meminta pendapat dan persetujuan dari laki-laki itu.

“Kurasa kita tidak akan ke sana, benar ‘kan, littlebaby? Kita berdua sama-sama sangat menyukai daging. Jadi, kita akan pergi ke BBQ Lotte World,” jawab Jiyong dengan seringaian lebar di wajahnya. Lauren pasti lebih memilih sarannya dari pada saran dari anak yang bernama Leo tersebut.

“Keundae, ahjussi. Kurasa pergi ke Lotteria tidak ada masalahnya. Bukankah kita sering pergi makan daging? Setelah ini, kita bisa pergi makan daging sepuasnya, ahjussi. Tapi kali ini, kita penuhi saja permintaan Leo,” ujar Lauren pelan dengan suara khas-nya yang kekanak-kanakkan. Jika Jiyong menatap ke dalam mata Lauren, ia yakin gadis cilik itu sudah mengeluarkan puppy eyes-nya.

Jiyong mendengus sebal. Lauren-nya memilih rujukan Leo, padahal selama ini apa yang dikatakan Jiyong, Lauren menerima dan menyetujuinya.

“Ahjussi bisa makan di sana, kami bertiga makan di Lotteria,” sahut Leo tanpa merasa berdosa, membuat Jiyong mendelikkan kedua matanya. Namun, ia tidak mengalihkan wajahnya pada Leo.

“Sudah aku katakan, ‘kan aku tidak akan jauh dari Lauren dan Taeyeon eomma, kiddo,” desis Jiyong. “Lain kali, jangan beri aku saran apapun, aku tidak membutuhkannya,”

Sesampainya di Lotte World, Jiyong langsung mengarahkan Taeyeon, Lauren dan Leo ke Lotteria. Leo tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan kekagumannya begitu mereka sampai di sana. Ia bahkan tidak sungkan menarik pergelangan tangan Lauren dan mengajaknya duduk bersebelahan di dalam restauran. Lauren hanya membiarkannya sambil tersenyum manis melihat tingkah Leo.

Sedangkan Taeyeon, gadis itu lebih memilih fokus pada ekspresi Jiyong ketika Leo menggenggam tangan mungil putri kecilnya. Kedua alis Jiyong menukik tajam, dahinya berkerut, memperlihatkan bahwa ia tidak suka dengan adegan genggaman tangan yang terjadi di antara Leo dan Lauren. Tapi ia juga tidak bisa menghentikannya. Lauren tidak protes, tidak merasa keberatan. Ia bahkan turut senang karena Leo senang.

“Kau seperti seseorang yang sedang cemburu saja, Jiyong-ssi,” ejek Taeyeon pada Jiyong sembari tertawa kecil saat mereka berdua baru saja duduk di hadapan anak-anak tersebut. Kedua anak itu tengah memilih menu yang ingin mereka makan pada seorang waitress.

“Aku khawatir Lauren terlalu bebas dengan anak itu. Lihatlah, dia bahkan menggenggam tangan gadis cilikku seenaknya. Apa dia tidak melihat ada kau di sini? Dia tidak segan padamu? Kalau aku bisa, mungkin aku sudah menggendong Lauren dan tidak akan membiarkannya berbuat aneh-aneh,” desis Jiyong agar Lauren dan Leo tidak bisa mendengarnya. Mereka berdua juga tengah asyik mengobrol.

“Lauren suka Leo. Aku membiarkannya karena aku percaya Leo anak yang baik. Dia tahu cara memperlakukan seorang teman, apalagi jika itu perempuan. Kau lihat, ‘kan bagaimana tadi dia berusaha agar Lauren jalan di sisi kanannya? Dan bagaimana Lauren tersenyum lebar pada orang lain yang baru dikenalnya? Kurasa mereka saling menyukai satu sama lain,” ujar Taeyeon. Ia tersenyum manis memerhatikan Leo dan Lauren.

“Tapi jangan sampai anak itu membawa dampak buruk pada Lauren,” tambah Jiyong. “Dia anak luar Asia, ‘kan?”

“Dia masih kecil dan mungkin akan belajar banyak di Korea, tak perlu khawatir,” sanggah Taeyeon cepat. “Aku senang Lauren senang dengan teman barunya. Dia tidak punya banyak teman dekat karena status ayahnya yang tidak jelas. Akhirnya, setelah cukup lama aku bisa melihatnya tertawa riang seperti itu pada orang lain, selain dirimu. Dan aku juga senang Leo bisa menerima Lauren tanpa menaruh curiga tentang ayahnya,”

Jiyong menarik nafas pendek dan mengeluarkannya sedikit kasar. “Aku juga senang kalau begitu. Hanya saja, ini pertama kalinya dia tidak memandangku dengan pandangan berseri-seri seperti biasanya. Dan ini juga pertama kalinya dia menolak saranku,”

“Kau seperti ayah yang sedang cemburu pada anaknya,” cerus Taeyeon tanpa fikir panjang. Sedetik kemudian, gadis itu langsung terdiam dan memilih untuk mengalihkan wajahnya pada Leo dan Lauren.

“Aku memang tengah merasakan itu,” balas Jiyong pelan. Ia menatap intens Taeyeon sebelum melanjutkan, “Aku mencintaimu, otomatis aku sudah menganggap putrimu adalah putriku juga. Lagipula, aku juga sangat menyayangi Lauren sejak pertama kali mengenalnya,”

“Ahjussi,” panggil Lauren, membuat Jiyong dengan terpaksa mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. Dan gadis itu juga bersyukur karena ia tidak akan tahu apa yang akan ia katakan pada Jiyong selanjutnya. “Kau sudah lama tinggal di Paris, ‘kan? Leo berasal dari sana,”

“Jinjjayo? Siapa yang berkebangsaan Paris? Appa? Eomma?” tanya Jiyong pada Leo.

“Appa,” jawab Leo cepat. “Apakah kau seorang dokter, ahjussi?”

“Heok, kau tahu darimana?” Jiyong balik bertanya. Dahinya mengerut bingung. Taeyeon ikut memandang Leo dengan pandangan yang sangat mirip dengan Jiyong, bingung sekaligus penasaran.

“Aku pernah dirawat di rumah sakit American Hospital of Paris di Nevilly-Sur-Seine. Aku ingat wajahmu, kau pernah merawatku saat aku sakit panas umur tiga tahun. Awalnya aku tidak yakin, tapi kurasa kau benar-benar mirip dengan dokterku waktu itu. Jadi, aku bingung apakah kau dokter itu atau tidak? Kenapa kau tidak mengenalku? Wajar saja, sudah dua tahun lamanya aku tidak bertemu denganmu,” jelas Leo panjang lebar, dengan menggunakan banmal-nya.

“Kau memang bukan pasienku dan aku juga bukan doktermu. Aku tidak bekerja di rumah sakit itu dulu. Kurasa yang merawatmu dulu adalah sepupuku. Kami memang punya wajah yang sangat mirip sekilas, yah walaupun aku jauh lebih tampan darinya. Song Minho, benar?” jawab Jiyong.

“Yeah, dr. Song! Ah, sudah kuduga kalian orang yang berbeda. dr. Song orang yang humble, penuh senyum, dan kata eomma dia punya suara yang sangat sexy. Dia gagah dan berkharisma,” seru Leo senang. Wajahnya ia alihkan pada Lauren. “Itu sebabnya aku kira ahjussi ini adalah Lauren appa, soalnya…,”

“Laurennie,” panggil Taeyeon tiba-tiba. Kedua bola matanya membulat sempurna, terlihat sangat gelisah dan takut.

“Ne, eomma?” jawab Lauren.

“Kau sudah mencuci tanganmu?” tanya Taeyeon pelan. Lauren menggeleng dan ia bangkit dari kursinya, mengikuti Taeyeon yang mengajaknya pergi ke wastafel.

Leo berhenti bicara dan terngiang wajah takut Taeyeon tadi. Ia menyadari sesuatu. Walaupun usianya masih lima tahun, ia belajar banyak soal psikologi manusia. Hal itu disebabkan karena sang ayah yang bekerja di bidang tersebut dan menurun padanya. Sedetik kemudian, ia nyengir lebar ke arah Jiyong, yang masih mengerutkan dahinya menatap Leo dan Lauren bergantian.

“Mwoya?” tanya Jiyong.

“Apanya yang apa?” Leo balik bertanya, acuh tak acuh. Makanan yang mereka pesan datang di saat yang tepat oleh seorang waitress dan ia langsung kegirangan lalu kembali mengacuhkan Jiyong dengan mengaduk-aduk minumannya sebelum ia meminumnya.

“Kau tadi bicara soal Lauren appa. Ada apa dengannya?” tanya Jiyong, berusaha sabar.

“Aku tadi sudah bilang, ‘kan kalau wajah ahjussi dan Lauren bisa dikatakan mirip? Aku kira kalian adalah ayah dan anak,” jawab Leo santai.

“Mwo? Kau suka sekali bicara melompat-lompat. Bukannya tadi kau cerita soal sepupuku?” protes Jiyong.

“Kelebihanku,” cetus Leo.

“Apanya yang kelebihan? Dasar bocah,” rutuk Jiyong.

“Ahjussi,” panggil Leo beberapa detik kemudian. “Apa kau tidak merasa heran kenapa wajahmu mirip dengan Lauren?”

Jiyong, yang ikut meminum minumannya, mengalihkan pandangan pada Leo dan menjauhkan minumannya dari hadapannya. “Memangnya kenapa? Apakah kau pernah mendengar soal setiap orang yang memiliki tujuh kembaran di seluruh muka bumi ini? Mungkin saja Lauren adalah salah satu tujuh kembaranku,”

Leo tertawa terbahak-bahak, sedangkan Jiyong hanya memutar kedua bola matanya, malas. Ia heran dari mana perkataannya yang membuat anak kecil di depannya ini tertawa kencang.

“Dan mungkin bisa saja ia adalah salah satu kembaran dari dr. Song, ‘kan?” tanya Leo setelah tawanya mereda.

Jiyong kembali memusatkan perhatiannya pada Leo, ah bukan hanya pada anak itu. Tapi pada kata-katanya barusan. Detik itu juga, ada sesuatu yang mengganjal langsung bersarang di hati serta fikirannya. Ia ingin menyuarakan hal itu, tapi mana mungkin dengan anak kecil?

“Apa ada hal yang ingin ahjussi tanyakan?” tanya Leo.

“Ada,” jawab Jiyong. “Kenapa kau terus menggunakan banmal padaku? Kau tahu umurku dengan umurmu berbeda jauh?”

Leo menghela nafas panjang. “Aku tidak begitu pintar berbahasa Korea dengan formal,”

“Kalau begitu belajarlah dengan eomma-mu,” sela Jiyong.

“Dengan Laurennie juga,” sahut Leo.

“Jangan gunakan beribu alasan untuk mendekati babygirl-ku, arraseo? I’m watching you, little punk,”

“Dan jangan gunakan bahasa kasar di depan anak kecil, Jiyong-ssi,” seru Taeyeon yang kini sudah kembali dan duduk di samping Jiyong. Lauren terkekeh geli memandang Jiyong setelah ia ikut duduk di samping Leo.

“Aku hanya mengajarkan dia cara sopan santun,” sanggah Jiyong. Ia memberikan death glare-nya pada Leo, yang tampaknya tidak ambil pusing sama sekali.

~~~

“Laurennie! Coba lihat ini!” seru Leo. Ia tertawa renyah melihat Lauren yang tengah kesusahan melangkahkan kedua kakinya dengan menggunakan sepatu roda. Sedangkan Leo, anak laki-laki blasteran yang tampan itu kelihatan lihai sekali memakainya. Ia bahkan menari-nari balet di tengah-tengah lapangan sembari tertawa kencang.

“Aku akan minta Yong ahjussi mengajariku kalau begitu,” seru Lauren, kesal karena Leo mengacuhkannya dan memilih bermain sendiri.

“Aniya, aniya, aniya. Kajja, genggam tanganku kuat-kuat dan aku akan membuatmu terbiasa menggunakan sepatu roda itu. Tiga puluh menit cukup?” tanya Leo dengan aura gentle-nya. Ia mendekati Lauren dan menggenggam tangan kanan gadis kecil itu kuat.

“Kau tidak akan melepasnya?” tanya Lauren, agak ragu.

“Tidak akan. Sampai kau benar-benar mahir, aku tidak akan pernah melepasnya,” jawab Leo dengan yakinnya.

Okay! Kajja,” seru Lauren girang. Dengan perlahan-lahan, Leo mulai menarik Lauren untuk mengikutinya keliling ring tanpa berusaha melepaskan genggamannya. Senyuman lebar Lauren yang menggemaskan pun terlihat saat ia mulai menikmati permainannya.

“Anak itu ada gunanya juga,” bisik Jiyong di telinga kanan Taeyeon. Mereka berdua tengah duduk di salah satu bangku yang ada di Ice Skating Rink, mengamati kedua bocah yang tengah asyik bermain itu dari kejauhan.

“Kau tidak perlu berbisik seperti itu, Jiyong-ssi,” ujar Taeyeon pelan. Kedua ekor matanya masih memerhatikan Leo dan Lauren.

Jiyong menghela nafas panjang. “Kau masih memakai embel-embel ‘-ssi’ denganku,”

“Mian, aku belum tahu harus memanggilmu dengan apa,” gumam Taeyeon, merasa tak enak hati.

“Bagaimana kalau ‘oppa’?” usul Jiyong.

“Aigoo, aku masih menjadi housekeeper-mu. Aku merasa tidak enak memanggil seperti itu. Mungkin nanti,” tolak Taeyeon.

“Masih menjadi? Jadi, kau berharap kita ada hubungan lebih dari sekedar tuan dan housekeeper suatu hari nanti? Hubungan seperti apa misalnya yang bisa membuatmu nyaman memanggilku ‘oppa’?” goda Jiyong. Ia menggeser tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Taeyeon. Ia bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Sontak, rona merah langsung tercetak jelas di kedua pipinya yang mulus. “Mungkin nanti kau akan memanggilku ‘oppa’? Aku penasaran dengan kata-katamu barusan,”

“Aish, kau menjengkelkan!” rutuk Taeyeon pelan sekali, sehingga ia merasa hanya dirinya yang mendengar. Namun, ia juga tahu Jiyong masih bisa mendengarnya. Karena laki-laki itu tengah menyeringai saat ini.

“Dan kau menggemaskan,” bisik Jiyong, lagi-lagi tepat di telinga kanan Taeyeon, membuat tubuh gadis itu meremang seketika. Aura di sekitarnya pun mendadak panas, padahal sekarang ini ia tengah duduk di dalam Ice Skating!

Jiyong menarik tubuhnya menjauhi tubuh mungil di sampingnya yang saat ini semakin terasa mungil karena ulahnya baru saja. Ia tertawa kecil melihat rona merah di kedua pipi Taeyeon terlihat sangat jelas tak kunjung menghilang. Tidak salah jika dia memang hobi mengganggu dan menggoda ibu muda tersebut. Tapi ia juga harus terima konsekuensinya. Mengganggu dan menggoda Taeyeon sama saja dengan mengganggu tidur ‘iblis’ dalam dirinya.

“Kau tidak mau mencoba ice skate-nya?” tawar Jiyong setelah beberapa detik mereka hanya terdiam, tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing.

“Ani, kau saja. Aku cukup duduk di sini, melihat dari kejauhan,” tolak Taeyeon.

“Tempatnya sangat asyik. Kau tidak lihat para orang tua saja ikut bermain bersama anaknya. Sudah jauh-jauh ke sini sayang sekali tidak mau mencobanya,” paksa Jiyong.

“Ani. Aku tidak suka, banyak orang yang melihat,” tolak Taeyeon lagi.

Jiyong menyipitkan kedua matanya, menatap wajah cantik gadis pujaannya itu. “Jangan bilang kalau kau tidak bisa bermain itu?”

“Jangan sembarangan!” sanggah Taeyeon cepat tanpa ia sadari. “Aku hanya tidak ingin banyak orang yang melihatnya,”

“Arra. Kalau begitu, nanti malam pukul sebelas aku akan mengajakmu ke sini lagi. Berdua saja,” usul Jiyong.

“Jam sebelas malam? Kau berencana main ice skating di luar?” tanya Taeyeon dengan nada mengejek.

“Kau lupa siapa aku? Aku bahkan bisa membuka tempat ini pukul dua dini hari hanya dengan memberikan berapa yang mereka butuhkan,” ujar Jiyong dengan penuh percaya diri.

“Terserahmu saja,”

Okay, setelah Lauren tidur, bersiap-siaplah,”

Untuk saat ini, Taeyeon benar-benar tidak begitu mengindahkan perkataan Jiyong. Yang ada di fikirannya sekarang adalah siapa itu Leo dan kenapa ia bisa tahu sesuatu yang bahkan tidak diketahui oleh orang lain selain dirinya dan Tiffany. Taeyeon tahu Leo tahu apa yang selama ini ia rahasiakan dari banyak orang.

~~~

“Apa Lauren sudah tidur?” tanya Jiyong saat Taeyeon keluar dari dalam kamar putrinya sambil membawa beberapa pakaian yang Jiyong yakin itu adalah pakaian kotor milik Lauren yang dipakainya seharian ini. Laki-laki itu sedang duduk di sofa apartemen Taeyeon sembari memainkan ponselnya.

“Baru saja. Untunglah dia tidak minta ditemani. Sepertinya dia sangat kelelahan hari ini. Anak itu kalau main denganmu memang tidak ingat waktu,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum tipis dan berlalu menuju kamar mandi untuk meletakkan pakaian-pakaian kotor itu. Setelahnya, gadis itu kembali lagi dan duduk di samping Jiyong.

“Aku senang kalau dia tidak minta ditemani hari ini. Itu artinya akulah yang kau temani satu malam ini,” sahut Jiyong. Ia memandang intens Taeyeon dan yang ditatap langsung mengalihkan pandangannya. Ia juga sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jiyong.

Mengerti hal itu, Jiyong dengan cekatannya menarik pinggul Taeyeon untuk mendekat padanya. Karena gerakan Jiyong yang tiba-tiba, tubuh kecil Taeyeon terhempas ke depan dan menubruk dada bidang laki-laki itu. Wajah mereka berdua hanya beberapa senti dan Taeyeon hanya bisa tercengang dengan kedua matanya yang membulat sempurna,kaget.

Deru nafas Taeyeon yang memburu saling bertabrakan dengan nafas Jiyong yang teratur. Keduanya sama-sama saling memandang ke dalam bola mata masing-masing dan saling merasakan debaran jantung keduanya yang berdetak tak karuan.

Tidak ingin terus berlanjut, Taeyeon menundukkan wajahnya dan berusaha lepas dari cengkeraman Jiyong. Tapi Jiyong dengan kuat menahannya hingga ia meremas pinggul kiri gadis itu. Taeyeon melenguh sakit dan dagunya kembali diangkat oleh Jiyong, kembali menghadap wajah laki-laki itu.

Bibirnya yang merah muda disapu lembut oleh jari-jari hangat milik Jiyong, membuat gelenyar aneh muncul dalam diri Taeyeon. Tubuhnya menegang dan ia tak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya yang tiba-tiba saja mati kutu. Cukup lama jari-jari tangan Jiyong bermain di area bibirnya, lalu berpindah menuju dagu, pipi, hidung, dan turun lagi menuju bibirnya.

Taeyeon hanya bisa memejamkan kedua matanya. Entah kenapa ia merasa nyaman diperlakukan seperti itu, meskipun dadanya semakin terasa sakit karena jantungnya tak kunjung berhenti berdebar-debar.

Pejaman kedua mata Taeyeon seketika terbelalak begitu saja saat ia merasakan tangan kanan Jiyong beralih meraba-raba lembut kedua paha mulusnya yang masih berbalutkan celana jeans. Ciuman-ciuman kecil di leher serta rahangnya pun juga mulai dirasakannya. Tangan kiri Jiyong juga ikut bekerja, tidak lagi hanya diam merangkul pinggul kirinya. Tangan itu sudah menggerayangi punggung belakang Taeyeon sampai ke bokongnya. Bahkan, Taeyeon berani bersumpah laki-laki mesum yang ada di depannya ini meremas-remas pelan bokongnya.

“Nggh!” pekik Taeyeon pelan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat ketika tangan kanan Jiyong sudah mengelus dan meremas bagian intimnya. Walaupun masih memakai celana, tapi Taeyeon sudah merasakan sensasi gilanya sehingga tubuhnya menggelinjang pelan. Kedua tangan laki-laki itu sudah bermain cukup liar di bagian depan dan belakang tubuhnya.

Ciuman kecil yang diberikan Jiyong di lehernya juga berubah menjadi sebuah gigitan dalam dan menggairahkan. Ia juga tak lupa menjilatinya dengan sensual. Taeyeon yakin bekas gigitannya tak akan hilang dalam dua hari ini karena rasanya sangat perih sekali usai laki-laki itu mencecapnya.

“Ji… Jiyong… Jiyong-ssi… Hhh..,” panggil Taeyeon dengan terbata-bata. Tangan kanannya yang tadi menggoda bagian intim Taeyeon beranjak menuju payudaranya. Ia menangkupnya lalu memijatnya pelan sesuai irama. Wajah Taeyeon merah padam. Tidak berapa lama pijatan itu berubah menjadi remasan kuat dan kasar, membuat si empunya berteriak kencang.

“Sshh, kau akan membangunkan Lauren, Taengoo-ah,” bisik Jiyong. Suaranya berubah sangat sexy, dan Taeyeon harus akui itu. Apa karena ia tengah bergairah saat ini? Tengah disulut nafsu?

“Ja… jangan…,”

Ucapan Taeyeon terputus saat tubuhnya diangkat tiba-tiba oleh Jiyong dan berada dalam pangkuannya saat ini. Tubuh mereka berhadapan, kedua kaki jenjang Taeyeon mengangkangi bagian bawah perut Jiyong dan ia dapat merasakan sesuatu yang menonjol dan keras sekali menekan selangkangannya. Taeyeon tahu apa itu dan wajahnya tidak bisa berubah menjadi lebih merah lagi.

Ini gila! Terperangkap dalam lingkaran iblis dan Taeyeon tidak tahu apakah ia bisa selamat atau tidak.

Ingin kembali protes dan melepaskan diri, bibir Taeyeon dibuat bungkam sebelum terbuka oleh bibir sexy yang lembut milik Jiyong. Ciuman yang diberikan Jiyong tidaklah selembut dan seromantis tadi pagi, melainkan ciuman dalam yang penuh dengan lumatan dan pagutan kasar, penuh dengan gairahnya yang menggebu-gebu, sebuah ciuman yang seakan-akan tidak ada lagi hari esok.

Taeyeon memukul-mukul dada laki-laki itu dengan sekuat tenaganya yang sudah habis akibat serangan dadakan dari Jiyong, hanya sekedar ingin minta oksigen. Jiyong paham dan ia langsung melepas kulumannya. Hanya sedetik, detik berikutnya ia langsung menubrukkan kembali bibirnya ke bibir bengkak Taeyeon, mengulumnya paksa dan menggigitnya kuat-kuat hingga bibir sebelah kiri gadis itu terluka.

Dengan remasan-remasan kasar di beberapa bagian tubuhnya, termasuk di payudara dan pinggulnya, Taeyeon tak henti-hentinya mengerang dan mendesah sakit di dalam mulut Jiyong. Hal tersebut dimanfaatkannya dengan memasukkan lidahnya di dalam mulut Taeyeon, mencari lidah gadis itu dan mengajaknya duel.

Taeyeon tercekat bukan main saat Jiyong menggenggam kuat tangan kanan Taeyeon dan meletakkannya di atas milik laki-laki itu yang sudah sangat menegang. Resleting dan kancing jeans hitam Jiyong terbuka, memperlihatkan kejantanannya yang berbalut boxer sudah sangat keras. Jiyong memaksa gadis itu untuk menggenggamnya sambil masih berciuman liar. Ingin sekali Taeyeon melepas genggamannya tapi sial, Jiyong menahan telapak tangannya. Taeyeon memberontak, tidak ingin menggenggam milik laki-laki itu tapi tenaga Jiyong lebih kuat. Hingga tanpa sadar perbuatan gadis itu justru membuat Jiyong melayang tinggi. Miliknya serasa diremas kuat oleh tangan mungil Taeyeon, yang bibir dan lidahnya masih menjadi tawanan di dalam mulut laki-laki itu.

Entah apa yang ada di dalam otak Jiyong saat ini. Yang pasti ia tidak bisa lagi mehanannya terlalu lama. Sejak pagi di kondo tadi ia sudah mati-matian menahan nafsu binatangnya untuk tidak menerjang Taeyeon. Mati-matian ia menyuruh monster dalam tubuhnya untuk kembali tidur dan jangan mengganggu Taeyeon.

Namun, saat ia berniat ingin menggoda gadis itu lagi dengan gombalan-gombalan nakalnya, nafsu itu datang dan meningkat pesat secara tiba-tiba tanpa bisa ia bendung. Monster dalam dirinya meraung ingin menyerang dan akal sehatnya menyuruh untuk tidak melakukan apa-apa.

Salahkan laki-laki dengan nafsu primitifnya. Sudah lama ia tidak main-main dengan para perempuannya karena Taeyeon. Sudah lama ia meninggalkan kebiasaan buruknya demi Taeyeon. Dan malam ini, puncak dari gairahnya yang sudah lama sekali dipendamnya setiap berdekatan dengan Taeyeon. Ia tidak bisa menahannya lagi. Setelah sekian lama ia bermain solo dan berakhir menyedihkan di kamar mandi.

Pagutan liar itu segera dihentikan Jiyong saat Taeyeon sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya. Tapi tangan Jiyong tetap menuntun tangan kanan Taeyeon untuk memanjakan miliknya. Lima detik kemudian, bibir gadis itu kembali dilahapnya tanpa ampun, layaknya binatang yang tengah mengoyak-koyak tubuh mangsanya.

Laki-laki itu juga tak lupa menggerakkan pinggulnya dan pinggul Taeyeon secara bersamaan, dengan tempo yang sangat cepat, mempertemukan miliknya yang tengah berada dalam genggaman Taeyeon dengan milik Taeyeon sendiri.

Inilah Jiyong. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri saat bercinta. Ia terlihat seperti sosok dominan yang ingin berkuasa sepenuhnya.

“Aku menginginkanmu,” racau Jiyong sepuluh menit kemudian, ketika dirinya sudah klimaks. Telapak tangan Taeyeon dapat merasakan boxer Jiyong yang lembab, penuh dengan cairannya dan Taeyeon tidak bisa berkata apa-apa saking lelah tubuhnya. Dijamah, diremas, dan digerakkan secara brutal oleh Jiyong selama dua puluh menit lamanya.

Oh, shit! Jiyong tidak menyangka ia bisa keluar secepat itu sepanjang hidupnya hanya karena tangan mungil Taeyeon yang bahkan tampak belum berpengalaman sama sekali!

Taeyeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat menolak. “Aku tidak bisa. Jebal…,”

“Aku menginginkanmu untuk menemaniku main ice skating di Lotte World. Bukankah kau sudah berjanji tadi siang?” gumam Jiyong. Suaranya masih terengah-engah akibat klimaksnya. “Bagaimana?”

“Ba… Baiklah,” bisik Taeyeon dengan suara paraunya.

“Tunggu di sini, dan hubungilah Tiffany untuk menjaga Laurennie. Aku harus mandi,” desis Jiyong. Taeyeon hanya mengangguk tanpa berani memandang wajah Jiyong. Ia sempat meliriknya tadi. Penuh peluh dan damn! Lagi-lagi laki-laki itu kelihatan super sexy and so fuckin’ hot at the same time.

Jiyong mengangkat tubuh Taeyeon dari atas pangkuannya kembali ke sofa. Gadis itu masih belum berani memandang wajah Jiyong, masih terlalu malu, kelihatan sekali dari wajahnya yang masih merah padam. Jiyong mendekat dan mengangkat lembut dagu Taeyeon hingga mereka kembali bertatapan intens.

“Mianhae, Taeng. Malam ini aku benar-benar tidak bisa membendungnya lagi. Aku selalu menahannya setiap hari, setiap saat ketika kau ada di dekatku. Salahku, kau sangat menggemaskan dan aku suka menggodamu, sampai-sampai aku tidak bisa menahannya lagi. Kau tahu, ‘kan kalau laki-laki butuh sekali pelepasan. Aku sudah lama menahannya dan aku berjanji hal ini tidak akan terjadi lagi, padamu atau siapapun itu. Jika memang terulang lagi, kau harus bisa menamparku kuat. Aku bahkan tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri ketika sudah seperti ini,” jelas Jiyong panjang lebar.

Taeyeon membulatkan kedua matanya, terkejut. Antara senang dan bingung harus bereaksi apa. Senang karena Jiyong menghentikan kebiasaan buruknya karena Taeyeon. Bingung harus mengatakan apa untuk saat ini.

“Jangan seperti itu lagi, jebal…,” pinta Taeyeon pelan.

“Aku tahu,” balas Jiyong, wajahnya masih berada di dekat wajah Taeyeon. “Aku akan menunggumu sampai kau siap jadi milikku seutuhnya,”

Taeyeon memandang sedih ke dalam manik hazel Jiyong tapi tak berkomentar apa-apa. Ia hanya diam dan menunggu Jiyong melepaskan genggamannya di dagu gadis itu.

Jiyong menghela nafas pendek dan ia mencium dalam bibir gadis itu tanpa aba-aba. Ditekannya tengkuk Taeyeon untuk memperdalam ciuman mereka. Beberapa detik kemudian Jiyong melepasnya dan segera bangkit dari atas sofa.

“Aku pinjam kamar mandimu,” bisik Jiyong diiringi kecupan singkat di pipi kanan Taeyeon sebelum ia pergi menuju kamar mandi.

~~~

Pukul 00.00 KST, Lotte World Indoor Ice Skating Rink.

“Kau benar-benar mengosongkan tempat ini,” gumam Taeyeon penuh kekaguman saat ia dan Jiyong sudah berada di dalam Ice Skating Rink yang kosong, hanya ada mereka berdua. Dua pasang ice skating bahkan sudah ada di hadapan mereka, dan Jiyong mengambil lalu memakainya.

“Lihat, ‘kan? Nah, sekarang kita bisa bermain sepuasnya di sini, selama apapun yang kau mau,” ajak Jiyong sembari menyerahkan sepasang ice skate pada Taeyeon.

Bukannya mengambil ice skate tersebut, Taeyeon mengalihkan wajahnya ke seluruh area dan berdeham singkat. “Aku lelah. Kau saja yang bermain sendiri,”

“Jadi, apa sekarang kau akan mengakui kalau kau tidak bisa main ice skating sama sekali, Ms. Kim?” goda Jiyong sambil menyeringai jahil. Wajah Taeyeon kembali bersemu merah dan ia hanya menundukkan wajah cantiknya. “Kajja, aku akan mengajarimu sampai bisa. Seperti kata Leo pada Lauren, genggam tanganku kuat-kuat dan aku tidak akan pernah melepasmu sampai kau minta. Ah, bahkan kau minta pun tidak akan ku lepaskan,”

Taeyeon tersenyum kecil. Setelah mengangguk pasrah, Jiyong berlutut di hadapannya dan memakaikan ice skating itu di kedua kaki Taeyeon.

Ready?” tanya Jiyong. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Taeyeon dan gadis itu langsung menerima uluran tangan tersebut. Jiyong menggenggam tangan mungil Taeyeon dan menariknya secara lembut mengitari area skating.

“Jangan terlalu kencang,” pinta Taeyeon pada Jiyong yang kini sedang memandunya bermain.

Jiyong tertawa kecil. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon dan mengulurkan satu tangannya lagi pada gadis itu. Taeyeon kembali menerimanya dan kedua tangannya sudah digenggam erat oleh laki-laki tersebut.

“Cobalah untuk menggerakkan kakimu layaknya sedang berjalan. Coba saja, kalau kau jatuh aku ada di sini untuk menangkapmu,” ujar Jiyong.

Selama sepuluh menit lamanya mereka berdua mengelilingi area itu dengan canda tawa Jiyong dan pekik ketakutan Taeyeon. Jiyong hanya berjalan mundur, menarik kedua tangan Taeyeon agar gadis itu terbiasa bergerak dengan ice skating di kedua kakinya. Awalnya ia kaku, lama-kelamaan Jiyong menyadari perubahan dari langkah Taeyeon.

“Sudah mulai terbiasa?” tanya Jiyong.

“Ne, aku rasa sekarang tidak terlalu sulit,” jawab Taeyeon sambil tertawa gugup. “Ya, kau mau melepaskan genggamanmu, eoh?”

Jiyong tersenyum lebar. “Aku akan melepasnya dan cobalah meluncur ke arahku. Aku tidak akan berdiri jauh darimu, jadi kalau kau jatuh, aku masih bisa menjangkaunya,”

“Arraseo,” jawab Taeyeon. Ia berhenti seketika dan rasa hangat di kedua telapak tangannya menghilang begitu saja ketika Jiyong melepaskan genggamannya.

Laki-laki itu berdiri tidak terlalu jauh dari Taeyeon dan mulai mengisyaratkan agar ia meluncur ke arahnya. Dengan kikuk Taeyeon mulai ambil gerakan pelan-pelan dan tubuhnya agak limbung saking takutnya. Dia merasa tidak punya pegangan lagi.

“Anggap saja aku masih memegangmu,” ujar Jiyong. Ia merasa was-was melihat kekikukan yang dilakukan Taeyeon saat mengendarai ice skating-nya, tapi juga merasa geli karena ini untuk pertama kalinya ia melihat gadis itu menunjukkan sisi terpendamnya di balik seorang Kim Taeyeon yang kuat.

Taeyeon mengayunkan tubuhnya ke depan untuk meluncur lebih cepat. Namun, ia kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh terjengkang ke belakang kalau Jiyong tidak segera menghampiri dan langsung menahan tubuhnya.

“Kurasa ini sebabnya kau tidak ingin main skating di tempat umum,” desis Jiyong. Kedua tangannya masih berada di punggung gadis itu. Jarak mereka sangat dekat dan kedua telapak tangan Taeyeon ada di dada laki-laki itu, menahan tubuh masing-masing agar tidak saling menubruk.

“Itu sebabnya aku tidak pernah suka main ini. Memangnya ada permainan ice skating yang tidak ada orangnya?” tanya Taeyeon. Ia lebih memilih memandangi salju buatan yang ada di bawahnya daripada memandang wajah rupawan milik Kwon Jiyong.

“Kalau kau memintanya, aku akan membuatnya untukmu,” jawab Jiyong santai. Taeyeon mendongak dan melihat senyuman manis Jiyong mengembang di wajahnya. “Dan aku pasti akan membuatnya di Dolce Vita, mungkin? Lauren, ‘kan suka sekali bermain ice skating dan aku akan terus mengajarimu sampai kau bisa. Menikmati waktu berdua dengan bermain ski tidak buruk juga,”

“Kau tidak perlu repot-repot…,” tolak Taeyeon dengan suaranya yang pelan sekali.

“Waeyo?” tanya Jiyong heran. Suaranya berubah menjadi sebuah bisikan dan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Taeyeon.

“Jangan membuat apa-apa atas nama Lauren,” lanjut Taeyeon. Wajahnya menyiratkan kesedihan dan ia berusaha keras untuk menutupinya.

“Karena kau tidak yakin akan hidup bersamaku?” tanya Jiyong. Kedua hazelnya menatap lekat wajah cantik Taeyeon. “Mungkin Lauren appa akan datang dan membawa kalian berdua pergi. Aku tidak bisa memaksamu untuk memilihku daripada dia. Karena dia adalah Lauren appa. Aku tidak bisa egois meskipun aku ingin sekali melakukannya. Tapi aku tahu Lauren sangat butuh sosok ayah di hidupnya. Aku tidak ingin dia merasakan hal yang sama denganku.

“Aku tidak berhak memintamu untuk tetap tinggal di sini denganku. Aku tidak mungkin memisahkan dirimu dengan Lauren. Aku tidak punya hak apa-apa melarangmu pergi dengan Lauren appa jika itu memang keinginanmu. Tapi satu hal yang ingin kuminta darimu, Taeng. Maukah kau memikirkanku sebelum pergi dengan laki-laki itu? Maukah kau mempertimbangkan perasaanku? Perasaanku yang hanya tertuju padamu, perasaanku yang terlalu mencintaimu, yang tidak bisa apa-apa tanpamu.

“Kalau kau pergi, maukah kau membayangkan betapa hancurnya aku? Aku harap, di saat kau akan memutuskan pilihanmu itu tiba, aku bisa melihatmu berbalik ke arahku dan memercayai hatimu padaku. Aku tidak akan pernah menggoreskan luka di sana. Tidak akan ada air mata, aku berjanji,”

Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi kedua pipi merona Taeyeon. Ia ingin memeluk laki-laki itu, yang terlihat sangat rapuh di dalam kedua matanya. Ia ingin mengatakan perasaannya yang sebenarnya, tapi ia juga tidak ingin hal itu justru akan menjadi senjata bagi Jiyong.

“Aku takut,” bisik Taeyeon. “Aku takut kau akan membenciku. Karena aku bukanlah seseorang seperti yang kau bayangkan selama ini,”

“Kalau begitu tunjukkan semuanya padaku. Apapun itu jangan disembunyikan lagi, jebal. Aku tidak akan pernah bisa membencimu, Taeng. Aku bersumpah, tidak akan membencimu,” tukas Jiyong.

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “You will. Aku yakin kau akan mengerti suatu hari nanti. Jika saat itu tiba, datanglah pada seseorang yang selama ini sudah ada di sisimu, seseorang yang hanya memandangmu bahkan di saat kau tidak memandangnya, seseorang yang akan menerimamu apa adanya, yang selalu menunggu kabarmu. Mungkin saja orang itu yang dapat membahagiakan kita,”

Jiyong terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar penuturan Taeyeon. Dielusnya lembut pipi gadis itu sambil tersenyum sedih. “Mungkin orang itu bisa memberikanku kebahagiaan, tapi aku tidak mau membalasnya dengan dusta, Taeyeon-ah,”

Taeyeon diam tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya memandangi hazel Jiyong yang teduh dan menyiratkan kepedihan. Jiyong juga balas memandang kedua mata Taeyeon dalam-dalam, ingin menunjukkan betapa seriusnya dia di setiap perkataannya.

Beberapa detik kemudian, Jiyong menaikkan dagu Taeyeon sedikit dan menundukkan wajahnya sendiri untuk menempelkan bibirnya dengan bibir tipis Taeyeon. Gadis itu tidak berkutik dan ia memejamkan kedua matanya, tepat saat air bening jatuh kembali ke pipinya, yang sekarang ikut menempel di pipi Jiyong.

Menyadari gadis mungil itu menangis lagi, Jiyong menekan tengkuk Taeyeon dan memperkuat ciumannya, membuktikan bahwa ia juga frustasi. Ia tidak menyangka, benar-benar jatuh cinta dan ingin memiliki cinta sejati ternyata tidak seindah seperti yang dikatakan banyak orang, tidak semudah yang diperkirakannya.

Dan mereka berdua masih membagi kehangatan dengan ciuman menyedihkan yang panjang sampai beberapa menit kemudian.

~~~

“Ahjussi, aku dan eomma akan pergi ke Jeonju untuk memperingati kematian haelmoni wa haraboji. Ah, dan Jiwoong samchon, besok pagi. Jadi, bunga apa yang cocok untuk mereka bertiga?” tanya Lauren pada Jiyong saat mereka berdua tengah makan siang di sebuah restauran dekat kondo Youngbae, sembari menunggu Taeyeon pulang dari sana.

Jiyong mengaduk-aduk orange juice-nya dan menatap Lauren penuh curiga. “Kenapa tiba-tiba tanya tentang bunga? Bukankah eomma tahu hal itu? Kau bertanya bukan karena ingin memberikan bunga pada Leo, ‘kan babygirl? Kulihat di kamarmu ada sebuket bunga matahari dan kudengar dari eomma itu hadiah dari Leo, benar?”

“Ahjussi melihatnya?! Ne, buket bunga matahari yang sangat cantik, ‘kan? Aku sangat suka dan Leo memberikannya padaku sebagai hadiah. Dia bilang di rumahnya sangat banyak bunga matahari jadi tidak apa kalau sebagian bunganya untukku. Leo eomma juga tidak keberatan, kok,” jelas Lauren. “Dan ini untuk pertama kalinya aku pergi ke pemakaman haelmoni haraboji,”

“Pertama kali?” tanya Jiyong.

“Eung! Selama ini eomma hanya mengajak ke kuil dan berdoa di sana. Dia takut membawaku jauh-jauh ke Jeonju karena bisa saja asmaku kambuh. Tapi karena asmaku tidak pernah kambuh lagi, eomma merencanakan pergi besok,” jawab Lauren dengan wajah sumringahnya.

“Kenapa asmamu tidak pernah kambuh lagi?” tanya Jiyong.

“Ahjussittaemune!” seru Lauren langsung, dan Jiyong tersenyum senang mendengarnya.

“Kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian. Lebih aman dan nyaman, ‘kan?” tawar Jiyong.

“Boleh saja! Tentu saja boleh!” pekik Lauren kesenangan.

Tepat saat itu, pintu restauran terbuka dan Taeyeon melangkahkan kakinya menuju meja Jiyong dan Lauren. Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk.

“Sudah selesai?” tanya Taeyeon.

“Kau sudah makan?” Jiyong balik bertanya.

“Sudah,” jawab Taeyeon dan ia tersenyum manis pada Jiyong. “Nah, Laurennie hari ini kita tidak akan pulang bersama Yong ahjussi, kita…,”

“Ke toko bunga,” sela Jiyong. “Aku akan mengantarkan kalian berdua ke toko bunga sampai pulang ke rumah,”

“Aye! Kajja, kita pergi, ahjussi!” ajak Lauren. Ia bangkit dari kursi dan berlari ke luar restauran, menunggu Jiyong dan Taeyeon di samping mobil laki-laki itu.

“Kenapa kau tidak bilang mau ke Jeonju besok pagi?” tanya Jiyong.

“Hanya mengunjungi appa, eomma, dan Jiwoong oppa. Setelah itu pulang,”

“Aku akan mengantarkan kalian ke sana,” titah Jiyong. “Lebih aman. Meskipun hanya sebentar, bisa saja asma Lauren kembali kambuh. Ingat, dia tidak bisa terkena abu jalanan secara berlebihan,”

“Bukannya besok kau akan pergi menjemput Joohyun?” tanya Taeyeon.

“Aku bisa mengandalkan Soohyuk,” jawab Jiyong. “Kajja, Lauren sudah menunggu,”

~~~

“Bunga apa yang sedang Anda cari, Assi?” tanya sosok ahjumma si pemilik toko bunga.

“Untuk pemakaman,” jawab Taeyeon.

Crysanthemum?” tanya ahjumma itu sambil menunjuk sebuah bunga sangat cantik dan berbentuk unik berwarna putih. “Sisa dua buket hari ini,”

“Baiklah, aku ambil itu dua,” jawab Taeyeon dengan yakin.

Good choice, Assi,”

Di sisi lain, Jiyong dan Lauren tengah memandangi bunga-bunga mawar merah dan putih, lily putih, dan bunga matahari yang diletakkan dan disusun rapi di pojok ruangan. Lauren terkesima dengan semua kumpulan bunga itu sampai-sampai ia lari-lari mengelilingi bunga-bunga tersebut.

“Anak Anda pasti sangat suka buka, Tuan,” ungkap salah seorang pegawai perempuan yang sedang berjaga di area itu.

Jiyong hanya mengangguk setuju dan mereka berdua memandangi Lauren yang tertawa senang karena ada di tengah-tengah bunga indah itu.

“Kenapa mereka semua disatukan?” tanya Jiyong.

“Bunga-bunga ini stok lama dan diskon tujuh puluh persen, Tuan. Diskon besar-besaran karena takut layu jika terlalu lama di sini,” jawab si pegawai.

“Aku beli semuanya,” ujar Jiyong beberapa detik setelah ia berfikir.

“Ye?!”

“Anakku tidak akan mau pergi dari toko sebelum ia puas bermain dengan bunga-bunga cantik ini,” jawab Jiyong santai dan ia tersenyum manis pada si pegawai, membuat kedua lutut pegawai itu lemas seketika.

“Arraseo, aku akan membungkusnya dan ssbagai imbalan, bunga matahari gratis untuk Anda! Ah, untuk anak Anda maksudnya,”

~~~

Jiyong mengambil dua tangkai bunga mawar merah dari buketnya lalu menyisipkannya di daun telinga Lauren. Lauren duduk diam sambil menanti apa yang akan dilakukan Jiyong padanya. Sedangkan Taeyeon, ia menghela nafas panjang sembari menyusuni ratusan bunga mawar merah dan putih, lily putih serta matahari di beberapa vas besar milik Jiyong.

Entah alasan bodoh apa yang membuat Jiyong membeli semua bunga-bunga itu hanya karena Lauren berlari-lari di sekelilingnya dengan riang.

Alright! Lihatlah uri Laurennie, eomma. Neomu yeoppeo, aigoo,” sorak Jiyong saat melihat hasil karyanya pada Lauren.

Di kedua telinganya disisipkan bunga mawar merah, memakai gaun merah muda bercorak bunga-bunga yang juga baru dibeli oleh Jiyong sembari membawa keranjang yang berisi bunga-bunga tersebut.

“Kau tahu kau ini sedang menjelma apa, Laurennie?” tanya Jiyong. “Aigoo, kyeopta. Jinjja!”

“Apa, apa ahjussi?!” tanya Lauren tak sabar dengan kedua matanya yang berbinar-binar.

Flower Angel, Elf of Flower!” seru Jiyong.

“Omo~,” pekik Lauren. Ia tertawa riang sambil berlari-lari kecil mengitari ruang tengah kondo Jiyong yang mendadak dipenuhi bunga.

“Jigeum, tugas seorang Flower Angel adalah membagikan bunga-bunga yang ada di keranjang itu kepada semua orang yang kau sayangi. Contohnya, eomma, ahjussideul, imodeul, dan teman-teman di sekolah. Yah, termasuk Leo,” ujar Jiyong.

“Ye, algesseumnida! Roger!” seru Lauren. Ia melangkah mendekati Taeyeon dan memberikan setangkai bunga matahari pada gadis itu. “Eomma,”

Taeyeon tersenyum manis dan menerima bunga itu sembari mengecup ubun-ubun kepala Lauren. “Gomapta, uri Laurennie,”

And the second person is… Yong ahjussi!” seru Lauren. Ia mengulurkan setangkai bunga matahari pada Jiyong.

“Berikan pada eomma saja, dear. Aku sayang pada eomma, jadi aku memberikan bunga itu padanya,” ujar Jiyong.

“Kalau begitu eomma memiliki dua bunga matahari dari orang-orang yang sangat menyayangi eomma,”

Taeyeon tersenyum saat ia menerima bunga itu dari Lauren. Kedua matanya melirik Jiyong sekilas seraya bergumam, “Gomawo,”

Jiyong balas tersenyum manis mendengar ungkapan Taeyeon yang terkesan malu-malu tapi menggemaskan sekali di matanya.

“Sebagian bunga ini harus aku letakkan di mana?” tanya Taeyeon. Ia masih sibuk menata bunga-bunga itu di dalam vas.

“Sebagian di dapur dan di dalam kamarku saja. Selebihnya, ambil dan tatalah di apartemenmu,” jawab Jiyong. Ia membelai lembut rambut panjang Lauren, yang kini tengah berbaring di atas pangkuan Jiyong sembari memainkan salah satu bunga lily putihnya.

“Kajja, eomma kita letak bersama di dalam kamar ahjussi,” ajak Lauren langsung. Ia duduk tegak dan bangkit berdiri untuk menarik Taeyeon masuk ke dalam kamar Jiyong. “Aku akan buat kamar ahjussi seperti taman bunga,”

Jiyong terkekeh kecil dan ia mengacak-acak rambut Lauren dengan gemas. “Lakukanlah, babygirl. Aku percaya padamu,”

“Kondomu pasti akan lebih berantakan lagi,” gumam Taeyeon.

“Itu sebabnya kau ada di sini, ‘kan?” timpal Jiyong sambil menyeringai jahil.

Taeyeon menatapnya malas dan ia menggandeng tangan kecil Lauren untuk memasuki kamar Jiyong dengan beberapa buket bunga di dekapannya. Jiyong tersenyum kecil melihat kedua orang yang sangat disayanginya itu, dua orang yang entah sejak kapan sudah mewarnai hari-harinya dan mengisi kekosongan di hatinya yang paling dalam.

30 menit kemudian, saat Jiyong tengah membereskan vas bunga yang sudah disusun rapi oleh Taeyeon, bel di kondonya berbunyi nyaring. Laki-laki itu mengernyit, bertanya-tanya siapa yang datang ke kondonya. Ia bangkit dan segera membuka pinta untuk melihat kedatangan tamunya.

“Oppa!”

Belum sepenuhnya sadar siapa yang datang, seorang gadis cantik dengan tubuh idealnya, rambut hitam panjang yang indah, serta kulit putih mulusnya langsung memeluk Jiyong ketika laki-laki itu sudah ada di hadapannya. Jiyong terhuyung ke belakang dan ia mencium aroma parfum dari tubuh gadis itu. Aroma parfum yang cukup dikenalnya.

“Baechu?” tanya Jiyong, sangat terperangah. “Bagaimana bisa… Kau bilang akan kembali besok siang?”

Surprise,” jawab Joohyun riang. Ia masih memeluk erat Jiyong. “Bogoshippeoyo, oppa,”

Jiyong tersenyum simpul dan ia membalas pelukan mantan kekasihnya tersebut sembari membelai lembut rambut panjangnya. “Nado…,”

“Ahju…ssi?”

Jiyong dan Joohyun sontak melepas pelukan mereka masing-masing saat mendengar suara seorang anak perempuan tak jauh dari mereka.

Lauren berdiri di depan kamar Jiyong dengan menggenggam sebuket bunga. Kedua matanya yang cantik membulat sempurna, heran menyaksikan adegan di depannya. Tidak pernah ia melihat Jiyong memeluk seorang gadis seerat dan sesayang itu. Lagipula, gadis itu juga tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Dan Taeyeon juga ada di belakang Lauren, ia juga melihatnya. Ekspresinya pun juga tak kalah terkejutnya dengan Lauren. Baik Taeyeon maupun Lauren tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi, membuat suasana di kondo itu seketika menjadi canggung.

Senyum sumringah Joohyun hilang seketika digantikan dengan ekspresi kaget, heran, dan bingung semuanya bercampur jadi satu. Ia menatap Jiyong, bertanya-tanya siapa kedua orang yang ada di depannya itu.

“Ah, Taeng. Ini Joohyun dan Baechu-ah, ini Taeyeon, gadis yang selama ini kuceritakan padamu. Dan gadis kecil ini adalah Lauren, anak Taeyeon,” ujar Jiyong, memperkenalkan keduanya.

Mata Joohyun terbelalak menatap Lauren dan Taeyeon secara bergantian. Ia tidak bisa menemukan kata-katanya sampai Taeyeon membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Joohyun sambil tersenyum kecil.

“Annyeonghaseyo, Taeyeon imnida. Aku housekeeper di sini,” sapa Taeyeon sopan. “Ahga, sapa Joohyun imo,”

“Annyeonghaseyo, imo,” sapa Lauren. Ia juga membungkukkan tubuhnya dan masih menatap Joohyun dengan pandangan bertanya-tanya.

“Annyeonghaseyo, Joohyun imnida,” balas Joohyun. “Apa… aku mengganggu kalian?”

Jiyong hendak menjawab tapi Taeyeon lebih cepat, “Animnida. Aku baru saja selesai beres-beres di sini dan mau pulang. Laurennie, ambil tasmu dan pamit pada ahjussi,”

Lauren mengangguk dan menuruti perkataan Taeyeon tanpa banyak protes seperti biasanya. Ia memang selalu ingin berlama-lama dengan Jiyong sampai malam, tapi entah kenapa hari ini dia merasa tidak enak jika bermanja-manjaan pada ahjussi kesayangannya itu.

“Pulang? Bukannya mau makan malam di sini?” tanya Jiyong heran. “Duduk dulu dan kita berempat makan malam bersama sambil mengobrol,”

Taeyeon menggelengkan kepalanya. Senyuman manisnya masih terpahat di wajah cantiknya. “Aku rasa kami akan mengganggumu, Jiyong-ssi, kami tidak mau itu terjadi. Kau pasti butuh quality time dengan Joohyun. Lain kali kita berempat akan makan malam bersama,”

“Kalau begitu aku akan mengantar kalian pulang…,”

“Lalu membiarkan Joohyun sendirian di sini? Joohyun baru saja sampai, setidaknya temani dan buat dia nyaman di kondomu. Kami bisa pulang sendiri,” tolak Taeyeon lagi. Kali ini dengan nada tegas. Dan Jiyong sadar Taeyeon tidak akan mengubah keputusannya.

“Aniya, aku tetap akan mengantarkan kalian pulang,” tegas Jiyong. Taeyeon lupa, laki-laki di hadapannya ini sangat keras kepala.

“Tidak perlu,” sanggah Taeyeon lagi. “Kajja, Laurennie,”

“Aku dan eomma baik-baik saja, ahjussi. Terima kasih untuk semua bunganya, sampai nanti,” pamit Lauren. Ia tersenyum pada Jiyong.

“Jaga eomma dan ahjussi akan datang besok pagi, eoh?” ujar Jiyong lembut. Ia mencium dahi Lauren dan mengacak-acak rambutnya sayang. Lauren menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.

“Imo,” panggil Lauren pada Joohyun.

Joohyun menatap Lauren dan Taeyeon lalu beralih lagi pada Lauren dan tersenyum mendekati gadis kecil itu. “Ye?”

“Ini bunga untuk imo,” ujar Lauren. Ia menyodorkan setangkai bunga mawar putih pada Joohyun. Joohyun menerimanya dan ia tersenyum sangat manis pada Lauren. “Sebagai salam perkenalan,”

“Gomawo, Lauren-ah,” gumam Joohyun.

“Kalau begitu, kami pulang dulu. Semoga kau bisa menikmati waktumu di Korea kembali, Joohyun-ssi,” pamit Taeyeon. Ia membungkukkan badannya lagi dan pergi keluar kondo bersama dengan Lauren.

“Dia sangat cantik,” gumam Joohyun pada Jiyong saat pintu kondo tertutup di hadapan mereka berdua. Joohyun memandangi bunga mawar putih itu lalu tersenyum pada Jiyong, yang masih memandangi pintu kondonya tanpa berkata apa-apa.

“Aku tahu,” jawab Jiyong, tanpa mengalihkan pandangannya. “Tapi dia punya hati dan kepala yang jauh lebih keras dari batu bata,”

“Kau mau mengejarnya?” tanya Joohyun. “Aku akan menunggumu di sini sambil berbenah sebentar,”

Jiyong menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Dia orang yang jauh lebih memikirkan perasaan orang lain daripada dirinya sendiri. Dia pasti tidak ingin membiarkanmu sendirian, apalagi kau baru saja sampai. Dia tidak akan mau dan tetap memaksaku untuk di sini,”

“Arraseo,” jawab Joohyun. “Tapi kau tidak bilang dia sudah memiliki anak,”

“Itu salah satu keistimewaannya. Aku pernah bilang, ‘kan padamu?”

“Lalu, Lauren appa…?”

“Pergi entah ke mana. Dengan alasan yang sama sekali tidak diketahui. Tapi dia akan kembali dan membawa pergi Lauren dan Taeyeon dari Korea,” jawab Jiyong dengan tersenyum getir.

“Kembali? Lalu, oppa akan bagaimana kalau Taeyeon mau ikut bersama laki-laki itu?”

“Nado mollayo. Aku pernah katakan padanya kalau hal itu sampai terjadi, mungkin aku akan mati,”

Joohyun mengangguk dan ia tersenyum. “Bukankah ada aku yang akan menunggumu pulang?”

Jiyong tertawa kecil. “Kalau aku kembali padamu suatu hari nanti, mungkin yang akan kau temukan adalah jasadku, Baechu-ah,”

“Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, eh? Keadaannya jadi canggung begitu. Kami sama sekali tidak saling mengenal, aku yakin dia pasti merasa tidak nyaman. Apalagi dia tahu aku ini mantan kekasihmu, oppa,” ujar Joohyun. Ia menyeret kopernya dan duduk di atas sofa sambil memainkan bunga-bunga yang tersusun rapi di dalam vas.

“Mungkin saja,” gumam Jiyong. “Dan bagaimana kalau segera beres-beres? Aku akan mentraktirmu daging,”

Roger, captain!” seru Joohyun senang.

~~~

“Eomma,” panggil Lauren ketika mereka berdua sudah duduk nyaman di dalam bus. “Imo tadi… siapanya ahjussi?”

“Orang yang sangat berarti untuk ahjussi,” jawab Taeyeon pelan sembari membelai lembut rambut Lauren.

“Seperti eomma yang berarti untukku?” tanya Lauren.

“Seperti Laurennie yang berarti untuk eomma dan begitu juga sebaliknya,”

“Ah, itu artinya imo tadi adalah orang yang sangat disayang Yong ahjussi?”

Taeyeon menganggukkan wajahnya dan tersenyum kecil. “Laurennie. Mungkin ahjussi tidak akan sering lagi bermain bersama denganmu. Yong ahjussi pasti akan meluangkan banyak waktunya untuk Joohyun imo. Mereka sudah lama tidak bertemu dan pasti butuh waktu berdua untuk menghilangkan rasa rindu, ‘kan? Itu sebabnya, kalau Yong ahjussi tidak ada, jangan menyusahkan ahjussi untuk bertemu dengan kita, eoh? Berikan ahjussi waktu karena setiap orang pasti punya dunianya sendiri,”

Lauren mengangguk tanda mengerti. “Aku pasti akan sangat merindukan ahjussi,”

“Ne, tapi kau juga harus membiasakan dirimu tanpa ahjussi. Ahjussi tidak akan selamanya bersama dengan kita, arratji?”

“Aku akan berusaha untuk tidak terlalu mengharapkan kehadiran ahjussi lagi,” lirih Lauren.

“Kalau kau seperti ini, appa pasti sangat cemburu,” tukas Taeyeon. Ia tidak tega melihat wajah malaikat kecilnya murung mengetahui Jiyong tidak akan selamanya ada untuknya. “Kalau appa pulang nanti, dia akan cemburu. Tunggulah appa sebentar lagi. Hanya dia, orang yang bisa bersama denganmu selamanya,”

Lauren mendongak menatap Taeyeon dengan pandangan tak percaya. “Appa akan pulang? Sebentar lagi? Kapan, eomma?”

“Tunggulah, eung?”

Okay! Sampai kapanpun, aku pasti akan menunggu appa. Eomma juga, ‘kan?”

Taeyeon diam beberapa saat sebelum ia tersenyum dan mengelus pipi kanan Lauren dengan sayang. “Ne, eommado,”

-To Be Continued-

~~~

Kenapa kau ada di sini?”

“Tentu saja ingin bertemu dengan anakku,”

“Anak?”

“Lauren, gadis kecil yang selama ini memanggilmu Yong ahjussi,”

Hahahahahahahapa iniiiiii???? Absurd ngetttt

Mianhae, mianhae mianhae langgar janji lagi kkkk

Tapi thankyou, ya buat readers yang udah nunggu dengan setia. Kemarin lagi WB berat, keasyikan nonton ‘The Monarch‘ TT.TT hehehe

ah, chapter 10 juga udah selesai sebenernya~

Seeyousoon~

Advertisements

41 comments on “Beautiful Lies (Chapter 9)

  1. Akhirnya yang di tunggu tunggu update jugaaa 😄
    Omo omo jangan bilang song mino ituuu lauren appa😱
    Next chapter jangan lama lama ya torrr hehe fighting!!!!!

  2. Daebak thor, maaf baru bisa koment di chapter ini, karna dichapter sebelumnya aku bacanya lewat hp kakakku, akibat hp rusak, ceritanya sangat menarik thor, penuh teka teki akan bagaimana kelanjutannya, suka sama karakternya jiyong dan tae serta lauren disini, pada chapter ini schene yg menarik pas jiyongie Oppa cemburu terhadap leo yg selalu dekat sama lauren. Next chapter ditunggu banget thor dan aku janji akan selalu momen dan like
    Fighting thor 💪

  3. Woah daebak thor,dan akhirnya chapter9 di update jga 😊ceritanya makin seru + bagus bngt thour 😁 jdi lauren appa itu minho sepupunya jiyong yh thour?bener gk sih thour?aku jdi makin penasaran ama chapter selanjutnya 😅 next chapter thour dan please jngn lama” yah thour update chapteh selanjutnya 😅
    fighting thour 😊❤❤

  4. Next next next thorr.. Gasabar bangett pngn tau konfliknyaa.. Hehe tpi semoga konfliknya ga parah” amat.. 😂😂
    Fighting author 💪💪

  5. Wah akhirnya setelah lama menunggu
    Jangan yang di Paris yang di bilang Leo
    Itu….
    Ahhhh next chapter di tunggu

  6. Akhirya d update jga ff ya,,udah nunggu lama ni.
    Jdi miho itu appa ya lauren dan miho itu sepupuya jiyong oppa dong?
    Next thour..

  7. Jidih sadisssss 😂😂 Doain pesawat Lauren appa meledak 😂😂 nextthor

  8. Kekekkk akhirnya 1 misteri terpecahkan, Laurennie apa adl song mino. Sotoy eke mah, tp kek nya begitchu dah…

  9. Jadi, Mino itu appanya Lauren? atau gimana sih?
    Bingung..
    Joohyun pas ih datangnya, next chap jgn blg kalo Lauren’s appa datang??
    Gapapa deh..
    Tapi kasian sama Jiyong, tapi suka kalo mulai muncul lagi konfliknya hehe..
    Dtunggu ya next chap, FIGHTING!!!

  10. Omggg finally yg ditunggu tunggu kambek juga wkwk
    sukaaa banget iihh sama jalan ceritanya, konflik nya juga seneng aku tu baca nya
    feel nya dapetttt
    okeeee nexttt jangan terlalu lama kaya yg ini thor wkwk
    semangatt

  11. Teng..tengg akhirnya setelah sekian lamanya ku menunggu thor, update jga nih ff.. lucu deh liat interaksi antara leo sama jiyong wkwkwk. Itu dipreview kayaknya mino balik ya thor? Haha duh konflik kah? Next chapter ditunggu sangattt om fighting

  12. Akhirnya ini ff ada kelanjutannya juga apa ada moment taeyeob sama gd yang so sweet main di lotte, dan aku berpikir klao mino adalah lauren appa ?
    Jadk ga sabar mau baca next chapnya thor ditunggu chap 10nya

  13. Next ya thor ditunggu banget nih next chapnya
    Oh dan ditunggu lagi updatean chap 10 nya apalagi katanya udah selesai hehe…

  14. Sumpah demi apa part ini bikin nyesek bgt.semakin yakin nih kalo apanya lauren itu sepupunya jiyoung.jgn barkan taeyeon n lauren meninggalkan jiyoung donk thor,pasti jiyoung nya bakalan hancur beneran.pleaseee uodat part 10 nya jgn lama2 ya thor,udh nungguin lama bgt ini

  15. Ff yang ditunggu2 akhirnya 😄 keren banget serius jalan ceritnya, suka banget, berharap taeyeon lauren sama gd bakal terus bersama 😂 lanjut ne author ditunggu 😍 fighting geuligo gomawoyo 😍😘

  16. kenapa lama bgt pdahal udh penasaran bgt
    ini ff smkin bgus kok… jdi klw bisa jgn lama update ny😊💕

  17. Konflik sesungguhnya?😂 ditunggu terus kelanjutannya thorr, jangan lamalama lagi ya updatenya, fighting

  18. Apa mino itu ayahx lauren ya…
    Ngeliat ceritax kok kayakx emang iya…
    Trus gmn kelanjutan hubungan jiyoung ama taeyeon kedepanx setelah johyun datang dan ntar pas lauren appa muncul ya…
    Jd pengen cpet2 baca lanjutanx nih…

  19. Kok aku curiga jangan” lauren appa song mino?? ? Wahh bener” masih nungguin chap yang ada lauren appa semoga next chap gk di php lagi… Semangat thor semogat next chap cepet di post

  20. Waaah satu chapter lagi? Sad ending? Happy ending? Ga bisa nebak… Lama banget nunggu akhirnya muncul juga ff nya.. semoga ga terlalu lama ya untuk next chapter nya.. karna Penasaran banget sama endingnya…
    Fighting 😁

  21. waah jiyoung kasian amat dah, uda nemuin cewek yg bener” buat dia jatuh cinta tp cewek itu harus pergi demi kebahagiaan malaikat kecilnya. Jd beneran mino ya appanya Lauren seperti dugaan ku wkwkwk sotoy banget aku ya kak thor😂😂

    pokoknya semangat terus untuk authornim buat selesaikan ff ini dan aku berharapnya Taeyeon beneran ama Jiyoung dan menjadi happy ending

  22. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  23. komawo thor…
    aku selalu nungguin updatenya…
    semangatd untuk melanjutkan ceritanya…

    ditunggu kelanjutannya…

  24. Jangan bosan” buat kelanjutan ffnya ya thor, sayang banget ff segini bagus di sia”in, diriku ttap mendukungmu authornim, tetap Semangat thor, Fighting✊

  25. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  26. Jengjreenggg…Tuhkan bener mino itu lauren appa :v itu sebabnya Dia gak mau deket Jiyong :v ahh… Joohyun baik tapi menyebalkan :v langsung baca chapter 10, ketinggalan 😥

  27. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s