Only One, It’s You (Chapter 1)


Title : Only One, It’s You

Chapter 1 : First Fight

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Friendship, Fluff

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Byun Baekhyun, Kim Taeyeon, Kim Taehyung

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Preview : Prolog + Introducing Casts

Chapter 1

Suara air yang mengalir dari kamar mandi memenuhi ruangan ganti para pemain sepak bola SNU. Beberapa orang berjalan kesana kemari untuk mengambil peralatan mandi ataupun baju ganti yang akan mereka pakai. Sekarang sudah cukup larut, sekitar pukul 9 malam namun mereka baru saja menyelesaikan latihan untuk kompetensi Nasional mendatang. Beruntung bagi para senior, dengan menggunakan senioritas-nya mereka bisa menggunakan kamar mandi lebih dulu sehingga mereka bisa pulang lebih awal meninggalkan juniornya.

“Baekhyun!!!!.” Sebuah teriakan memekakan telinga membuat orang-orang yang ada di dalam ruang ganti tersebut menolehkan kepala mereka ke asal suara.

“Jihoon-ah, dimana Baekhyun?.” Tanya orang itu kepada salah satu teman se-tim yang satu tahun lebih muda darinya. Sebelum Jihoon menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh orang itu, sebuah suara mengintrupsi mereka.

“Bisakah kau tidak teriak-teriak, Yeol. Kau membuat mereka semua terkejut.” Gerutu orang itu, Baekhyun dengan muka kesalnya. Sebuah handuk terlampir di bahunya, serta satu handuk lagi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. “Ada apa?.”

Chanyeol yang masih memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan Baekhyun memutar kedua bola matanya kesal. Dengan nada mencibir ia menjawab, “Gadismu ada di luar. Dia menunggumu sejak setengah jam yang lalu.”

“Gadisku? Siapa?.” Baekhyun melipat handuknya rapi lalu memasukannya ke dalam tas ranselnya. Ia lalu mengambil penyisir rambut sebelum akhirnya menghadap Chanyeol dengan raut muka bingung. Dapat ia lihat temannya itu berdecak ke arahnya.

“Siapa lagi kalau bukan Kim Taeyeon. Your girl, your girl friend, your crush.”

“Taeyeonie?!.” Baekhyun menatap Chanyeol terkejut, ia melihat jam tangan rolex-nya yang tadi ia simpan di dalam tas ransel. Setelah sadar sekarang jam sudah menunjukan pukul 9:20, ia merutuk kesal. “Apa yang dia lakukan di sini pada jam selarut ini? Bukankah dia bilang jika dia akan pulang bersama bocah menyebalkan itu!.” Gerutunya. Pria itu dengan cepat memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ransel berwarna biru pekat miliknya. Setelah itu ia dengan tergesa-gesa bercermin di salah satu kaca yang tertempel di dinding sebelah kiri tempat dia berdiri dan merapihkan rambutnya.

“Mana aku tahu, kau Tanya saja pada Taeyeonie-mu itu.” Ujar Chanyeol datar. “Lebih baik kau cepat menghampirinya, Baek. Di luar cuaca sangat dingin, apalagi dia sudah menunggumu lama.”

Setelah memastikan tidak ada barang bawaannya yang tertinggal, ia langsung berlari keluar dari ruang ganti tanpa menoleh sedikitpun ke arah Chanyeol, membuat pria jangkung itu mendengus sebal.

***

Apa yang dipikirkan Baekhyun saat ini? Apa lagi kalau bukan tentang Kim Taeyeon, gadis bodoh yang duduk sendiri di salah satu bangku penonton di Stadion tempat biasa tim sepak bola Baekhyun berlatih. Pada jam semalam ini dan cuaca sedingin ini, gadis itu duduk dengan menumpu wajahnya menggunakan tangan yang dia letakan di atas paha. Gadis itu menggunakan kemeja tipis berlengan pendek berwarna pink dengan polesan putih serta celana jeans berwarna hitam yang membungkus kaki pendeknya dengan sempurna.

Dapat ia lihat jika gadis itu tengah menahan kantuk, ditambah gadis itu beberapa kali juga mengusap lengannya, mungkin karena suhu udara malam ini yang sangat dingin. Ia mendesah, satu pertanyaan yang ingin segera ia tanyakan pada gadis itu ketika nanti ia berada dihadapannya. ‘Kenapa dia belum pulang?.’ Karena seingat Baekhyun, jadwal Taeyeon pada hari selasa hanya 3 mata kuliah, dan mata kuliah terakhir berakhir pada jam 6 sore. Empat setengah jam yang lalu.

“Yak!.” Teriaknya. Jaraknya dengan Taeyeon masih terbilang jauh, pria itu perlu menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai gadis itu. Namun teriakannya yang keras dengan suara lantang mampu membuat Taeyeon yang tengah memejamkan matanya mendongak dan menatap ke asal suara.

“Byun Baekhyun!.” Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Gadis itu berdiri dari duduknya lalu melambaikan tangannya ke arah Baekhyun dengan semangat. “Cepat kesini!.” Perintahnya.

Baekhyun mendengus, setiap kali gadis itu memanggilnya Baekhyun tanpa embel-embel oppa, entah kenapa membuatnya kesal sendiri. Ayolah, Taeyeon lebih muda dua tahun darinya, tapi gadis itu selalu memperlakukannya seperti pria yang seumuran dengannya.

“Kenapa kau belum pulang? Apa yang kau lakukan di sini? Dan, kenapa kau tidak membawa jaket? Bukankah sudah kubilang, untuk selalu membawa jaket ke kampus karena akhir-akhir ini cuaca sangat buruk?..” Baekhyun, dengan napas tersengal-sengal memberikan Taeyeon pertanyaan bertubi-tubi. Ia dengan cepat melepaskan tas ransel di punggungnya dan membukanya. Tangannya meraih sebuah sweater berwarna merah maroon yang sudah terlipat dengan rapi, lalu menarik Taeyeon untuk mendekat ke arahnya dan memakaikan sweater itu ke tubuh mungilnya. “Lihatlah, bahkan kau memakai kemeja tipis.” Gumamnya marah.

Setelah sweater itu terpakai di tubuh Taeyeon dengan sempurna, tangan pria itu terangkat dan membereskan beberapa helai rambut Taeyeon yang berantakan akibat caranya memakaikan sweater-nya tadi. Gadis cantik itu menatap Baekhyun polos. “Aku memanggilmu dari tadi, tapi handphone-mu tidak aktif. Apa kau tidak membawa charger sehingga kau biarkan handphone-mu mati seharian ini, huh? Untung aku ingat kalau kau ada latihan, kalau tidak, aku tidak tahu akan pulang dengan siapa.”

“Aku lupa membawa charger, maafkan aku. Lagipula, aku tidak akan menduga kalau kau akan memanggilku ketika tadi pagi kau bersikeras akan pulang bersama Taehyung. Ini bukan salahku, oke?.” Ujar Baekhyun. Ia mengusap-usap tangannya yang hangat ke kedua pipi Taeyeon, berusaha membuat suhu tubuh gadis itu kembali hangat. Karena ia berani bersumpah, ketika tadi ia menyentuh pipi Taeyeon, pipi itu sangat dingin.

“Ada hal mendadak sehingga membuat Taehyung tidak jadi mengantarku pulang. Ibu-nya menelpon tadi, ia menyuruh Taehyung untuk mengantarnya ke Rumah Sakit Kota. Nenek Taehyung sedang sakit, Baek.”

Dahi Baekhyun mengkerut, ekspresinya menunjukan kalau saat ini ia sedang marah. Bagaimana tidak, Taehyung ‘menelantarkan’ Taeyeon. Oke, dia tahu jika alasan Taehyung cukup bisa dimaklumi, tetapi, bukankah pria itu seharusnya memenuhi kewajibannya terlebih dahulu. Dia sudah berjanji akan mengantarkan Taeyeon pulang ‘kan?. Lalu, apa ini? Sahabatnya malah ditelantarkan.

“Kau tahu, aku semakin tidak menyukai Kim Taehyung. Ini sudah jelas jika kau ditelantarkan olehnya, dan kau diam saja tanpa protes sedikitpun? Setidaknya dia mengajakmu ke rumah sakit untuk bertemu neneknya, atau, dia bisa mengantarmu terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit bersama Ibu-nya. Seriously Kim Taeyeon, kau tidak boleh diam saja jika Taehyung terus seperti ini padamu.”

“Terus aku harus bagaimana?.” Tanya Taeyeon pelan, gadis itu menatap Baekhyun bingung. “Baek, dengar, bukankah sudah kubilang jika Taehyung tidak menyukai gadis yang selalu ikut campur mengenai urusan keluarganya. Apa ka-,” Ucapannya terpotong oleh Baekhyun.

“Tapi kau pacarnya, dear.” Entah mengapa setiap kali Baekhyun berkata jika Taehyung adalah pacar Taeyeon, dadanya merasa sesak. Seakan tubuhnya itu kehabisan oksigen dan siap mati kapan saja.

“Aku tahu, tapi kami baru 2 bulan pacaran. Mungkin dia masih merasa canggung jika melibatkanku ke dalam dunia keluarganya.” Ujar Taeyeon. Tangan gadis itu terangkat dan menggenggam kedua tangan Baekhyun yang sejak tadi tidak berhenti mengusap pipinya. “Ayo kita pulang, Baek. Ini benar-benar dingin. Dan aku ingin segera melepas sweater-mu yang bau keringat ini. Huek.” Ujar gadis itu sambil menutup hidungnya, wajahnya menunujukkan jika ia benar-benar tidak menyukai aromanya. Padahal kalau boleh jujur, campuran aroma perfume mint Baekhyun dengan keringatnya tidak terlalu buruk, karena menurutnya aroma itu sangat manly.

Taeyeon meringis ketika merasakan tangan kanan Baekhyun mencubit pipinya cukup keras. Ia melotot menatap Baekhyun, meminta penjelasan kenapa pria itu mencubit pipinya meskipun ia sudah tahu apa alasannya.

“Kau, masih untung aku memberimu sweater-ku ini, kau akan mati kedinginan jika aku tidak memberikannya.” Sulut Baekhyun, ia menoyor kepala Taeyeon pelan membuat gadis itu semakin melotot melihatnya.

“Byun Baekhyun kau itu lebay, tahu. Dengar, bahkan jika aku tidak memakai sweater baumu ini, aku tidak akan mati karena cuaca saat ini.” Lawan gadis itu, ia menjauh dari tubuh Baekhyun membuat tangan pria itu terjatuh. Seketika, rasa hangat yang tadi gadis itu rasakan hilang seketika. Ia menyesal telah memundurkan tubuhnya, ia ingin tangan Baekhyun kembali menempel di pipinya.

Baekhyun memutar kedua bola matanya. Baik Baekhyun maupun Taeyeon, merupakan pribadi yang sama-sama mempunyai sipat keras kepala. Jika mereka berdebat, tentang apapun itu, baik itu hal besar ataupun hal kecil sekalipun, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah. Namun Baekhyun, yang berperan sebagai orang yang paling tua diantara mereka berdua, selalu memaksakan dirinya untuk mengalah. Bagaimanapun dia pria, dia harus gentle ‘kan?.

“Ayo, kita pulang saja.” Gumam pria itu. Ia menarik bahu gadis itu menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan Taeyeon. Pria itu memeluk Taeyeon dari samping dengan erat, sekali lagi, untuk membuat suhu tubuh gadis itu tetap hangat.

Siapapun orang yang melihat mereka berdua sekarang, orang itu pasti berpikir jika mereka adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak, kedekatan mereka, skinship yang selalu mereka lakukan bahkan bisa membuat orang yang melihatnya salah paham. Tak jarang, beberapa mahasiswa/i dari Seoul National University terutama teman-teman Baekhyun dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sepak bola, selalu mengalamatkan Taeyeon sebagai pacar Baekhyun.

Meskipun begitu, Baekhyun hanya diam saja, tidak menjelaskan kepada mereka jika Taeyeon itu sebenarnya hanyalah sahabat kecilnya dan membiarkan mereka percaya omongan dan spekulasi mereka sendiri. Hanya Chanyeol dan Hanbin, yang merupakan teman dekatnya yang tahu jelas hubungan sebenarnya dia dengan Taeyeon.

Hanya saja, sejak dua bulan lalu, muncul rumor bahwa Kim Taeyeon, orang yang selalu dianggap oleh para anggota UKM sepak bola sebagai pacar Baekhyun, menjalin hubungan dengan Kim Taehyung. Hubungan mereka cukup membuat geger satu kampus. Tidak heran sih, karena Taehyung merupakan mahasiswa baru yang mampu mencuri perhatian banyak orang karena kepintarannya dalam hal mata kuliah dan kelincahannya ketika bermain basket. Bahkan, baru saja pria itu mengikuti latihan basket sebanyak dua kali, pria itu sudah mampu menjadi pemain starter saat tim basket SNU melakukan uji coba melawan Tim Nasional Basket Korea Selatan, hebat bukan?.

Saat itulah teman-teman Baekhyun (Kecuali Chanyeol dan Hanbin) meminta maaf kepadanya karena mereka telah salah menafsirkan hubungannya dengan Taeyeon. Meski pada awalnya, setelah rumor itu tersebar mereka masih tetap tidak percaya. Ayolah, siapa yang akan percaya seorang gadis bernama Kim Taeyeon berpacaran dengan Kim Taehyung, padahal sehari-hari gadis itu hanya lengket bak pasangan kekasih bersama Byun Baekhyun?.

Sukar dipercaya, bukan?

***

“Mata kuliahmu berakhir pukul 6 sore ‘kan? Lalu sebelum kau datang ke lapangan untung menungguku, kau kemana?.” Setelah sekitar 5 menit suasana di dalam mobil hening, Baekhyun akhirnya membuka suara. Matanya fokus terarah ke depan dan sesekali melirik gadis yang duduk di sampingnya.

Taeyeon menatap Baekhyun, ia lalu bergumam. “Aku bersama Jisoo pergi melihat Sooyoung latihan dance. Setelah itu kami bertiga makan malam di kantin, lalu mereka berdua pulang bersama meninggalkanku sendirian.” Bibirnya mengerucut lucu. “Aku benci fakta bahwa apartemenku dengan rumah mereka memiliki arah jalur yang berbeda. Jika saja sama, dari tadi pasti aku sudah berbaring dengan nyaman di kasurku yang sangat empuk itu.”

Baekhyun tertawa kecil mendengar gerutuan gadis itu dan bercanda “Sudah berapa kali kau bilang seperti itu, bae. Kalau begitu, kenapa kau tidak pindah apartemen saja ke tempat yang jalur arahnya searah dengan rumah mereka? Dengan begitu setiap aku pulang sore kau tidak perlu menungguku dan pulang bersama mereka.”

“Hell no! Aku tidak mungkin tinggal jauh darimu, Baek.”

Baekhyun yang mendengar ucapan Taeyeon barusan seketika merasakan dadanya bergumuruh. ‘Aku tidak mungkin tinggal jauh darimu’. Ucapan itu, sering ia dengar keluar dari bibir gadis itu. Sayangnya, arti sebenarnya dari ucapan itu tidak seperti apa yang kalian pikirkan.

“Jika aku tinggal jauh darimu, tidak akan ada orang yang membangunkanku ketika pagi hari, aku juga tidak mungkin pergi ke kampus tanpa sarapan masakan buatanmu.” Lanjut Taeyeon.

See, tidak seperti yang kalian pikirkan ‘kan? Sebenarnya, bagi Baekhyun ucapan itu tidak terlalu membuatnya sakit, yang penting gadis itu selalu ada di sisinya, selalu bergantung padanya, itu sudah cukup membuat pria itu tenang dan, bahagia.

“Dan yang lebih parahnya, bagaimana jika ketika aku jauh darimu insomnia-ku kambuh? Siapa yang akan membuatku tertidur? Tidak ada satupun orang yang bisa membuatku tertidur ketika insomnia menyerangku selain dirimu. Ya, only you, Baek. Bahkan Ibu-ku pun sendiri tidak bisa.” Gumam gadis itu pelan, namun masih bisa ditangkap oleh telinga Baekhyun membuat pria itu tersenyum manis.

Baekhyun menoleh lalu mengusap lembut puncak kepala gadis yang duduk di sampingnya itu. “Maka dari itu, jangan pernah pergi dari sisiku apapun yang terjadi, mengerti?.”

“Tentu saja!. Aku tidak keberatan jika Taehyung tidak mengantarku pulang besok, atau hari setelah besok dan besoknya lagi. Karena jika tidak ada Taehyung, aku akan setia menunggumu untuk pulang bersama.”

Senyum yang tadi terhias di bibir Baekhyun seketika pudar ketika gadis itu menyebut nama Taehyung. Namun sepertinya Taeyeon tidak menyadarinya, karena mata gadis itu sejak tadi hanya pokus ke depan, menatap jalanan sepi Kota Seoul.

Pria itu tersenyum getir. Tidak bisakah, ketika mereka sedang berdua gadis itu tidak menyebut nama bocah brengsek yang telah merebut hati Taeyeon-nya itu? Ayolah, ia cukup muak mendengar namanya. Dan, apakah gadis itu tidak sadar dengan ucapan terakhirnya? Jika Taehyung tidak bisa mengantarnya pulang, maka gadis itu akan datang padanya. Bukankah secara tidak langsung Taeyeon menganggap Baekhyun sebagai seorang pelarian? Ouch, bukankah kalimat itu sangat menyakitkan?.

Kim Taeyeon, kenapa kau begitu polos? Sampai tanpa kau sadari kau kembali melukai perasaan pria yang sekarang tengah mengemudi di sampingmu itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Wake up, Taeyeon!.

***

Taeyeon terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat, lalu setelah kedua bola matanya terbuka penuh, ia mengernyit. Ia terbangun sendiri, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya, ia akan merasakan deru napas Baekhyun di wajahnya, sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dan satu tangannya lagi yang mengusap-usap rambutnya.

Cara pria itu membangunkannya memang tidak masuk akal dan sedikit menggelikan, pria itu akan menyelinap ke apartemennya dan masuk ke kamarnya, lalu pria itu langsung membaringkan tubuh segarnya dan wangi sehabis mandinya di samping tubuh Taeyeon. Setelah itu, secara tidak sadar ia akan merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya, membuat tubuhnya tergeser dan merapat ke tubuh Baekhyun. Sedang pria itu akan terus berbisik di depan wajahnya, menyuruhnya untuk segera bangun.

Tapi, apakah pria itu tidak sadar? Bukannya ingin bangun, gadis itu malah merasa matanya semakin berat untuk dibuka. Ayolah, sentuhan Baekhyun terlalu lembut dan menenangkan, membuat gadis itu bukannya bangun malah semakin merapatkan tubuhnya di dada bidang Baekhyun. Alhasil, mereka akan menghabiskan 10 menit waktu pagi mereka berpelukan di atas tempat tidur sebelum akhirnya Taeyeon terbangun dan bergegas ke kamar mandi, sedangkan Baekhyun akan kembali ke apartemennya yang berada tepat di depan pintu apartemen Taeyeon untuk membuat sarapan untuk mereka berdua.

Tapi pagi ini, kemana Baekhyun? Taeyeon sedikit kesal, karena tidak menemukan Baekhyun berbaring di sampingnya seperti biasa. Ia menatap jam dinding, pukul 7 pagi, dan pada pukul sekarang sudah tepat waktunya pria itu membangunkannya. Tapi sekali lagi, kemana dia?

Taeyeon, dengan kesal turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti yang akan ia kenakan untuk pergi ke kampus nanti. Namun langkahnya terhenti tepat di depan cermin rias. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh ujung sweater Baekhyun yang masih ia kenakan di tubuhnya. Ia memakainya untuk tidur, huh?

Taeyeon tertawa kecil, bukankah kemarin dirinya mengomel pada pemilik sweater ini, jika sweater ini sangat bau keringat? Namun lihatlah, sweater yang ‘bau keringat’ itu tetap ia kenakan bahkan sampai pagi ini. Mungkin karena sweater ini sangat nyaman terpasang ditubuhnya?.

“Kim Taeyeon bodoh.” Gumamnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian. Setelah menemukan pakaian mana yang akan ia kenakan nanti, ia lalu mengambil handuk yang menggantung di pintu kamarnya lalu membuka kenop pintunya dan keluar dari kamar tidur menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kamar tidurnya.

***

Taeyeon menatap Baekhyun yang tengah sarapan dengan lahapnya di kursi dapur milik pria itu. Ia kesal. Bagaimana tidak, pria itu makan seakan lupa ‘kewajibannya’ terlebih dahulu, apalagi jika bukan membangunkannya. Ditambah, pria itu juga tidak mengajaknya sarapan bersama. Namun kedua bola matanya masih bisa menangkap satu piring kosong tersimpan di depan piring milik Baekhyun, yang ia yakini piring itu adalah piring biasa yang selalu dipakainya untuk makan di apartemen Baekhyun.

“Byun Baekhyun!.” Entah sudah keberapa kali ia menyebut nama pria itu, namun sepertinya pria itu mengabaikannya dan tetap pokus dengan makanannya. Apa yang terjadi? Apakah ia melakukan kesalahan sehingga membuat Baekhyun bertingkah seperti ini untuk yang pertama kalinya? Atau, pria itu sedang ada masalah?.

“Baekhyun kenapa kau mengabaikanku?.” Gadis itu menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar di dinding dapur mengahadap Baaekhyun, lalu dengan keras mengetukkan kakinya dengan lantai sehingga membuat sebuah suara yang cukup keras.

Taeyeon berjalan mendekat ke arah Baekhyun, ia mengangkat tangannya dan menyentuh puncak kepala pria itu, masih dengan kening berkerut. “Kau ada masalah?.” Tanyanya. Ketika masih tidak ada respon keluar dari mulut pria itu, Taeyeon mundur dan menyilangkan kedua tangannya di atas dada, ia membuang napasnya kasar.

“Baik, diam saja. Diam saja sampai bibirmu itu benar-benar tidak bisa mengeluarkan suara, dan aku tidak akan peduli.” Ujarnya. Ia berjalan menjauhi Baekhyun menuju pintu keluar dapur, sebelum tubuh itu benar-benar menghilang, ia menolehkan kepalanya lebih dulu. “Dengar, aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu. Apa kau marah padaku? Tapi, karena apa?.”

Akhirnya, pria itu berhenti dengan ‘kesibukannya’. Kepala Baekhyun terangkat, dan kedua bola mata indahnya langsung bertemu dengan Taeyeon. Tatapannya datar, namun gadis itu masih bisa melihat ada sedikit rasa sakit terpancar dari mata pria itu.

“Kau tahu aku tidak suka diabaikan ‘kan? Dan sekarang kau mengabaikanku dengan alasan yang bahkan aku sendiri ‘pun tidak tahu! Lanjutkan saja sarapanmu, aku tidak akan menunggumu. Hari ini aku akan berangkat bersama Taeh-,”

“Pergi saja, pergi saja, sialan.” Baekhyun membanting sendoknya di atas piring lalu tatapannya berubah tajam. “Jangan semakin merusak mood pagiku, oke?! Kalau kau ingin pergi dengan Taehyung pergi saja, kenapa harus memberitahuku?.”

Taeyeon menatap Baekhyun tidak percaya. Pria itu mengeluarkan kata kasar kepadanya, dan entah kenapa itu sangat menyakitkan. Ini pertama kalinya Baekhyun bersikap seperti itu padanya, sungguh, sebenarnya ada apa dengan pria itu?.

“Maaf jika aku telah merusak mood pagimu. Maaf.” Gumam Taeyeon. Gadis itu menatap Baekhyun untuk yang terakhir kalinya, sebelum gadis itu membalikkan tubuhnya untuk segera pergi dari apartemen Baekhyun.

***

Setelah kepergian Taeyeon, Baekhyun sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari duduknya. Sisa makanan yang berada di atas piring pria itu bahkan tidak disentuh lagi. Entahlah, hatinya bedebar kencang dan pelipisnya dipenuhi keringat dingin.

“Sial.” Baekhyun mengacak-acak rambutnya kasar. Ia menyesal, kenapa ia harus bersikap seperti tadi pada Taeyeon? Membentaknya hanya karena gadis itu kembali hampir menyebut nama Taehyung. Apa salahnya Baek, Taehyung pacarnya, kenapa kau sangat sentiment sekali.

Tapi sungguh, kali ini ia bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang, Taeyeon pasti sangat kecewa padanya karena hal tadi. Bukankah Baekhyun sangat kekanak-kanakkan? Marah karena alasan yang tidak masuk akal. Entahlah, tapi semenjak tadi malam, ia masih ingat dengan ucapan Taeyeon yang membuat hatinya sakit. Dan sampai saat ini, pria itu ingin sekali membenturkan kepalanya untuk membuat ingatannya menghilang seketika. Karena sumpah, ucapan itu sungguh menyakitkan. Dia seorang sahabat yang dijadikan pelarian, huh?.

Baekhyun menghela napas. Tanpa membereskan meja makanya, ia berdiri dan pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya untuk mengambil tas ransel dan kunci mobil dan bersiap-siap berangkat ke kampus, sendiri.

***

“Hey, kau benar tidak apa-apa?.” Tanya Taehyung, pria itu melirik seorang gadis yang duduk si samping kemudi dengan diam. Ini aneh, biasanya, ketika ia bertemu dengan Taeyeon, gadis itu akan menyambutnya dengan senyuman yang lebar. Namun, saat tadi ia sampai di depan kompleks apartemen gadis itu, Taeyeon hanya tersenyum kecil dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Sampai saat ini, ketika Taehyung mengajaknya bicara dan bertanya, gadis itu hanya akan mengangguk atau menggeleng, suara yang terdengar juga hanya gumaman. Dan itu sukses membuat Taehyung khawatir.

“Taeng, please jawab pertanyaanku. Aku khawatir, apa kau sakit?.” Tangan Taehyung terangkat dan punggung tangannya ia letakkan di dahi Taeyeon. Memeriksa apakah dahi gadis itu panas atau tidak. Dan setelah merasakannya, ia menghela napas lega, karena suhu tubuhnya normal.

“Aku tidak apa-apa, Tae. Hanya, merasa sedikit kecewa saja.” Taeyeon memegang tangan Taaehyung dan membawanya ke pangkuannya, memainkan jari-jari pria itu untuk menghilangkan rasa bosan.

“Kecewa? Karena apa?.” Taehyung menolehkan badan sepenuhnya ke arah Taeyeon ketika lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya. Tangan satunya lagi ia gunakan untuk menarik wajah gadis itu sehingga sepenuhnya mengarah padanya.

Taeyeon menghela napas. Matanya menatap Taehyung, namun pikirannya melayang entah kemana. Kejadian tadi pagi di apartemen Baekhyun masih sangat jelas di otaknya. Bagaimana tidak, ini merupakan pertama kalinya mereka bertengkar, dan Taeyeon tidak tahu kenapa rasanya tidak enak sekali.

Apalagi, saat tadi ia tengah menunggu Taehyung datang, Baekhyun keluar dari apartemen dan melewatinya yang sedang duduk di salah satu kursi taman di depan gedung tanpa meliriknya sedikitpun. Keterlaluan bukan? Sumpah, dia ingin tahu apa kesalahannya sehingga membuat pria bodoh itu mengabaikannya. Dia pikir hanya dia yang bisa mengabaikannya? Oke, lihat saja, Byun.

“Hanya kecewa saja.” Taeyeon menolehkan kepalanya ke depan, membuat sentuhan tangan Taehyung yang berada di wajahnya terjatuh begitu saja. “Lampunya sudah hijau, Tae.” Ujar Taeyeon kembali. Ia melepaskan genggaman tangan mereka, lalu merogoh tas slempang berukuran sedang bewarna biru mudanya yang tadi ia simpan di kursi belakang. Setelah itu ia mengeluarkan handphone-nya, lalu mengirim Jisoo sebuah pesan singkat.

Jisoo, biasanya selalu datang ke kampus sangat pagi, dan Taeyeon lega. Setidaknya, meskipun ia tidak sarapan di apartemen Baekhyun, ia bisa menyuruh Jisoo untuk membelikannya sarapan di kantin untuk dia makan nanti sebelum kelas berlangsung. Ia tidak ingin magh-nya kambuh hanya karena jam makannya ia abaikan.

***

“Terima kasih, sudah mau mengantarku.” Ujar Taeyeon ketika Taehyung membukakan pintu mobil untuknya.

“Apapun untukmu, akan aku lakukan.” Ujar Taehyung.

Taeyeon tersenyum, namun masih ada sedikit perasaan tidak enak menyelimutinya. Hari ini Taehyung tidak memiliki jadwal kuliah satupun, namun dengan tidak sopannya Taeyeon malah menelpon pria itu untuk mengantarnya ke kampus. Sungguh, gadis itu merasa tidak enak.

“Apa kau akan langsung pulang?.”

“Tidak. Sepertinya aku akan melanjutkan tidurku di basecamp saja.” Pria itu tertawa renyah dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Taehyung. “Kau sama seperti Baekhyun, jika tidak ada kelas yang kalian lakukan hanya tidur di basecamp kesayangan kalian. Bukankah kau seharusnya belajar?. Oh aku lupa, kau anak pintar, jadi tidak perlu repot-repot untuk selalu belajar.” Sindir gadis itu.

Gadis itu meringis kesakitan ketika merasakan tangan Taehyung mencubit pipinya. “Jangan menyebut nama Baekhyun sunbae ketika bersamaku, sayang.” Gumamnya.

Taeyeon mengerutkan keningnya bingung. “Wae?.” Kenapa Taehyung tiba-tiba tidak ingin ia mengungkit nama Baekhyun?. Sebelumnya, pria itu tidak pernah melarang jika ia terus-terusan berbicara mengenai Baekhyun.

“Jam kuliahmu selesai pukul berapa?.” Pria itu mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Pukul 3.”

“Bagus. Nanti aku akan menunggumu di sini oke?. Kita akan pergi berkencan.”

“Benarkah?!.” Mata Taeyeon membulat senang. Ia tidak salah dengar ‘kan? Taehyung mengajaknya berkencan? Setelah dua bulan mereka resmi pacaran, akhirnya untuk pertama kalinya pria itu mengajaknya berkencan.

Taehyung tertawa kecil melihat respon Taeyeon yang menurutnya sangat lucu. “Iya. Sekalian ini sebagai permintaan maafku karena kemarin lagi-lagi aku mengingkari janji.”

Taeyeon tertegun. Ia menyesal karena kemarin sempat kesal pada Taehyung. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, ia tidak akan menghabiskan waktu untuk merutuki Taehyung kemarin karena telah mengingkari janjinya. “Baiklah, aku akan langsung ke sini nanti.”

Taehyung tersenyum lembut, ia menundukkan kepalanya sehingga sejajar dengan wajah Taeyeon. Bibirnya lalu mendarat lembut di pipi sebelah kiri gadis itu.

Great. Just Great. Setelah pria itu mengajak kencan untuk yang pertama kalinya dalam dua bulan, pria itu menciumnya untuk yang pertama kalinya juga. Ralat, bukan ciuman, hanya kecupan manis di pipinya, namun sudah mampu membuat pipi gadis itu merona karenanya.

“Sampai ketemu nanti.” Ujar Taeyeon, sebelum akhirnya gadis itu berlalu dari lapang parkir. Meninggalkan Taehyung yang tak hentinya tersenyum menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh.

***

“Seriously Kim Jisoo, aku menyuruhmu untuk membelikanku makanan di kantin ‘kan. Tapi, kenapa kau tidak membelinya?.” Taeyeon menaruh kedua lengannya di depan dada. Ia menatap Jisoo dan sesuatu yang tersimpan di atas meja tempat biasanya dia duduk ketika mata kuliah berlangsung. Mata coklat gadis itu menunjukkan kekecewaan, keningnya berkerut menunjukan kekesalan.

“Maafkan aku, Taeng. Tapi sungguh, saat tadi aku berniat pergi ke kantin, Baekhyun sunbae tiba-tiba berada di depan kelas dan menyuruhku untuk memberikan kotak makanan ini padamu. Sunbae bahkan menyuruhku untuk mengawasimu, untuk memastikan kau menghabiskan makanan ini.” Ujar Jisoo, temannya. Gadis dengan rambut berwana hitam kemerahan itu menatap Taeyeon sedikit takut. Temannya ini -Taeyeon- memang sangat baik, namun jika ia sedang kesal, jangan harap kau diperlakukan baik olehnya.

Dan Jisoo tidak bohong, tepat setelah Taeyeon tadi menghubunginya lewat telpon, gadis itu hendak pergi ke kantin untuk membeli roti atau makanan pagi sejenis lainnya. Namun saat ia hendak keluar kelas, wajah bingung dan datar Baekhyun menyapa penglihatannya. Pria itu dengan canggung memberinya sebuah tas kecil berisi kotak makanan, sebelum akhirnya pria itu bergumam bahwa kotak makanan itu untuk Taeyeon, dan pastikan Taeyeon memakannya.

“Aku tidak ingin memakannya.” Ujar Taeyeon. Ia menyentuh kotak makanan berwarna biru muda itu dan menyimpannya di atas meja chitose yang Jisoo duduki. “Ada apa dengan pria bodoh itu, tadi pagi dia mengabaikanku tapi sekarang dia perhatian padaku. Aish, Byun Baekhyun bodoh.” Gumamnya.

“Wow Kim Taeyeon, kau bertengkar dengan Baekhyun sunbae?.” Tanya Jisoo.

“Siapa yang bertengkar dengan Baekhyun sunbae?.” Sebuah suara membuat kedua gadis itu menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk kelas. Seorang gadis berperawakan tinggi, dengan setelan baju kasual dan tas jinjing berwaran hitam pekat masuk. Gadis tinggi itu, Sooyoung tersenyum lebar seperti biasa dan mendudukkan dirinya di kursi chitose tepat di depan Taeyeon. Sooyoung menaikkan kedua alisnya, menatap Taeyeon dan Jisoo bergantian, seolah menuntut kedua gadis itu untuk menjawab pertanyaannya tadi.

“Taeyeon.” Jisoo bersuara, ia menunjuk Taeyeon menggunakan jari telunjuknya. “Tadi sunbae ke sini, memberi kotak makanan untuk Taeyeon. Tapi gadis pendek itu menolak untuk memakannya.”

“Hei! Kau memanggilku pendek, seolah-olah tinggimu sama seperti Sooyoung saja. Kau hanya lebih tinggi beberapa cm dariku, Kim Jisoo.” Taeyeon berujar kesal, matanya mendelik ke arah Jisoo.

Jisoo hanya menggendikkan bahu dan tertawa kecil. “Setidaknya di antara kami bertiga kau-lah yang paling pendek.” Sooyoung tertawa mendengar ucapan Jisoo membuat Taeyeon semakin kesal.

“Tapi, serius Taeng, kau benar-benar bertengkar dengan Baekhyun sunbae? Like, seriously, ini benar-benar membuatku terkejut. Bukankah sebelumnya kau belum pernah bertengkar dengannya? Weird.” Sooyoung menyimpan tas jinjing dan beberapa bukunya di atas meja lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat dengan jelas wajah Taeyeon, yang saat ini benar-benar sudah memerah, karena kesal dengan candaan Jisoo tadi mungkin?.

Terdengar desahan kecil keluar dari mulut Taeyeon, ia menyimpan kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat di atas meja. “Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut bertengkar atau tidak, karena sebelumnya kami tidak pernah bertengkar. Jadi aku tidak tahu. Tapi, dia mendiamiku tadi pagi, dia bahkan sedikit membentakku untuk alasan yang bahkan aku sendiri tidak tahu.” Ujar Taeyeon, ia mengusap gusar wajahnya. “Padahal semalam ketika kita pulang bersama, dia masih baik-baik saja padaku.”

Jisoo dan Sooyoung terdiam, mereka terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Taeng, mungkin kau berbuat kesalahan yang tidak kau sadari padanya. Atau-.”

“Atau kau berbicara hal yang aneh-aneh sehingga membuat Baekhyun sunbae marah?.” Sooyoung memotong ucapan Jisoo, kepala gadis itu bergerak-gerak seolah masih berpikir tentang kemungkinan apa yang membuat Baekhyun mendiami Taeyeon.

“Sooyoung benar, coba kau pikir-pikir kembali, kau berbicara apa saja kepada Baekhyun sunbae ketika pulang bersama kemarin?. Dia tidak akan mendiami-mu tanpa alasan.”

Taeyeon menatap Jisoo, lalu Sooyoung. Keningnya berkerut, dan kepalanya dia paksa untuk kembali memutar memori tadi malam. Dia hanya membicarakan sesuatu yang sering mereka bicarakan, seperti keluhan Taeyeon yang letak apartemennya berbeda arah dengan Jisoo dan Sooyoung, dan tentang Taehyung. Seingatnya, ia tidak berbicara yang macam-macam, yang bisa menimbulkan Baekhyun marah -menurutnya-.

“Ah sudahlah, aku benar-benar tidak merasa bersalah.” Ujarnya gusar, tangannya kembali mengusap wajahnya kasar. “Dengar, mungkin pria bodoh itu sedang badmood dan melampiaskannya padaku. Who knows?.” Setelah mengucapkan itu, sebuah fakta menamparnya keras-keras. Setiap Baekhyun dalam keadaan buruk, entah itu mengenai masalah tim sepak bolanya, keluarganya, temannya atau tentang masalah kuliahnya, pria itu tidak pernah sekalipun melampiaskan masalahnya kepada Taeyeon. Yang ada, pria itu selalu berusaha menahan segala masalahnya di dalam dirinya sendiri, karena ia tidak ingin Taeyeon merasa terganggu.

Byun Baekhyun, ada apa denganmu?.

***

Ketika jam mata kuliah Taeyeon telah berakhir, sesuai janji Taehyung benar-benar menunggunya di lapang parkir tepat dimana mobil Taehyung terparkir sejak pagi. Ada perasaan lega menyelimuti hati Taeyeon, setidaknya janjinya kali ini ia tepati. Tidak seperti janji-janji sebelumnya yang selalu pria itu batalkan sepihak sehingga membuat Taeyeon seharian merutuk tidak jelas dalam hati.

Sore itu, Taehyung mengajak Taeyeon untuk pergi ke bioskop. Setelahnya, mereka berdua makan ice cream bersama di kedai yang terletak di pinggir jalan. Setelah itu, ketika jam telah menunjukkan pukul 8 malam, mereka berdua memutuskan untuk makan malam bersama, di Restoran biasa yang selalu pria itu datangi bersama teman-temannya.

Saat itu, suasana di dalam Restoran tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi sehingga membuat mereka berdua nyaman. Seharusnya iya, namun entah kenapa suasana hati Taeyeon malah sebaliknya. Ia merasa senang ketika kencan untuk yang pertama kalinya dengan Taehyung, tapi ia tidak bisa menampik fakta bahwa saat ini yang ada di pikirannya hanya Baekhyun.

Oke, bodoh memang, dan tidak seharusnya ia memikirkan Baekhyun saat ia bersama Taehyung sekarang. Namun, rasa kesal dan penasarannya terhadap sipat Baekhyun tadi pagi terhadapnya masih terngiang-ngiang. Ia jadi merasa bersalah kepada pria yang sekarang tengah duduk di hadapannya sambil memakan lahap makanannya. Ia mendesah, lalu kembali memasukkan sesendok nasi putih ke dalam mulutnya.

“Apa sebelumnya kau pernah berciuman, Taeng?.”

Apa?! Pertanyaan macam apa itu?.

Taeyeon tersedak makanannya sendiri, gadis itu berniat mengambil gelas berisi air putih yang baru ia sadari jika air itu telah habis sejak tadi karena rasa gugup. Taehyung yang menyadarinya, langsung mengambil gelas berisi juice jeruk dan memberikannya kepada Taeyeon, dimana gadis itu dengan sigap langsung mengambil dan menegak setengah dari isi gelas tersebut.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, lalu matanya menatap sepasang mata indah milik Taehyung yang tengah menatapnya khawatir.

“Kau tidak apa-apa?.” Tanya pria itu, tangannya terulur lalu membersihkan sisi bibir Taeyeon yang basah terkena juice jeruk. “Apa kau tersedak karena pertanyaanku tadi?.”

Taeyeon menahan napas, bagaimana mungkin pria itu bertanya dengan nada suara sangat biasa. Sedangkan saat ini Taeyeon sedang menahan rasa malunya. Ia ‘pun yakin, pipinya sekarang sudah berubah warna menjadi merah.

Apa kau pernah berciuman?

Pertanyaan itu, kenapa Taehyung bertanya seperti itu padanya. Jika dia jujur, apa yang akan Taehyung pikirkan nanti? Apakah pria itu akan menganggapnya aneh. Because, hello perempuan mana yang bibirnya belum pernah merasakan ciuman sekalipun selama hidupnya, apalagi kau sudah berusia 19 tahun dan berada di universitas. Bahkan anak SMA jaman sekarang, bukan hanya bibir, namun tubuhnya ‘pun sudah tidak perawan. Ewh.

“Ten-tentu saja aku pernah berciuman, Tae. Kau pikir aku ini apa? Anak SD?.” Gumam gadis itu. Sialan, kenapa kau berbohong Kim Taeyeon? Kau belum pernah berciuman, bahkan cara berciuman ‘pun kau tidak tahu. Apa yang baru saja kau katakan dengan bibirmu itu?. Sebuah kebohongan hanya untuk menjaga image-mu di depan Kim Taehyung?.

Suara tawa kecil terdengar, Taeyeon mendongak menatap Taehyung. Pria itu kembali sibuk dengan makanannya, namun beberapa detik kemudian wajah pria itu terangkat. Matanya menatap dalam manik Taeyeon, dan sebuah senyuman miring -yang tidak Taeyeon sadari- terlukis di bibirnya. “Baguslah, setidaknya ketika kita berciuman nanti tidak akan kaku.”

Tubuh Taaeyeon membeku. Bagaimana ini?

***

“Dari mana saja?.” Taeyeon tersentak, dan memegangi dadanya terkejut mendengar sebuah suara yang berhasil membuat jantungnya bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia mengangkat kepala yang sejak tadi -keluar dari mobil Taehyung- tertunduk, lalu menatap seorang pria yang sedang menyenderkan tubuhnya di depan pintu masuk apartemennya. Tidak terlalu jelas, hanya bayangan dari siluet tubuh tegap pria itu yang terlihat dikarenakan keadaan lorong apartemennya yang gelap gulita. Namun ia sudah tahu siapa pria yang berhasil membuatnya terkejut itu.

“Byun Baekhyun.” Geramnya. Ia mempercepat langkah kakinya sampai tepat di hadapan pria itu, lalu mengangkat tangannya tinggi dan mengayunkannya sehingga mengenai dada pria itu. Suara rintihan keluar dari bibir pria itu.

“Kau gila?! Kau mengagetkanku!.” Ujar gadis itu.

Baekhyun membuang napas, ia menegakkan tubuhnya dan mencengkram tangan kanan gadis itu yang tadi ia gunakan untuk memukulnya. Gadis itu meronta, namun Baekhyun mengeratkan genggamannya sehingga membuat gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah ketika Baekhyun menarik tubuhnya untuk semakin mendekat.

“Hampir pukul 11 malam dan kau baru pulang? Apa yang ada di pikiranmu? Kau itu perempuan!.” Suara pria itu sangat lembut, namun tegas. Matanya menatap dalam gadis di hadapannya, keningnya ‘pun mengkerut tanda tidak suka.

Taeyeon menahan napas, bukan karena pertanyaan dan pernyataan pria itu yang benar. Namun fakta bahwa posisi mereka yang begitu dekat, sehingga napas dengan wangi mint dari pria itu ‘pun dapat ia rasakan di wajahnya. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ia gugup dan merasa bersalah.

“Kita bahkan sering pulang tengah malam, ini baru pukul 10:42 dan kau ingin menginterogasiku karena hal ini?.”

Baekhyun mengusap wajahnya gusar menggunakan tangannya yang bebas. “Karena itu ‘kita’, bukan ‘kau dan dia’. Kau sudah mengenalku lama, sedangkan dia, kau baru mengenalnya dalam waktu kurang lebih 4 bulan ini. Bagaimana jika ia melakukan sesuatu di luar dugaan? Dear, kau tidak bisa begitu saja percaya pada orang lain, tidak peduli orang lain itu sekarang berstatus sebagai teman ataupun kekasih.”

Khawatir, itulah yang sejak tadi Baekhyun rasakan. Setelah satu jam ia menunggu Taeyeon di lapang parkir kampus, dan tidak ada tanda-tanda kemunculan gadis itu, ia dengan segera pergi kembali ke gedung fakultas-nya dan mendatangi tempat biasa anggota UKM dance latihan. Ia harus meminta maaf karena kejadian tadi pagi pada gadis itu, atau jika tidak, hubungan mereka berdua akan tidak baik, dan Baekhyun tidak menginginkan hal itu terjadi.

Namun saat pria itu sampai di sana, ia tidak melihat gadis yang dicarinya. Hanya Jisoo dan Sooyoung -yang ia kenal- yang ia lihat, saat pria itu bertanya di mana Taeyeon, jawaban mereka benar-benar membuatnya terkejut. Taeyeon pergi kencan bersama Taehyung. Kencan, huh?

Dengan perasaan marah ia pun pulang, sesampainya di apartemen pria itu tidak henti menatap jam dinding dan keluar untuk mengecheck apakah gadis itu sudah pulang atau belum. Rasa marah bercampur khawatirnya semakin menjadi, tepat ketika jam menunjukkan pukul 10 malam dan gadis itu belum juga pulang. Demi Tuhan, saat ini Taeyeon sedang bersama Taehyung, siapa yang tahu bagaimana sipat asli pria itu. Bagaimana jika ia melakukan sesuatu yang tidak-tidak terhadap Taeyeon?.

“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?.” Suara pria itu kembali terdengar di lorong yang sepi.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menolak ketika Taehyung mengajakku pergi ke sungai Han setelah makan malam, Baek.” Ujar Taeyeon pada akhirnya. Gadis itu menunduk, tidak berani menatap sepasang mata cokelat milik pria itu karena ia takut. Bukan takut karena tatapan tajam yang pria itu berikan padanya, namun takut jika ia bertindak bodoh karena sungguh, posisi mereka sekarang sangat dekat. “Aku bersumpah, kita tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Hanya berjalan-jalan dan berpegangan tangan, tidak lebih kok.”

“Tangan sebelah mana yang dia pegang. Ini?.” Baekhyun bertanya, tangannya yang tadi mencengkram pergelangan tangan gadis itu sekarang telah berubah menjadi menggenggamnya.

Gadis itu mengangguk, lalu mengangkat tangan kirinya. “Dia juga menggenggam tangan kiriku.”

Lalu pria itu menggenggam tangan kiri gadis itu. “Apa lagi yang ia lakukan?.”

“Oh, aku lupa.” Gadis itu menatap Baekhyun dengan sepasang mata polosnya. “Dia baru saja memelukku.”

Pria itu membuang napas kasar, ia menarik kedua tangan gadis itu yang ia genggam lalu melingkarkannya di pinggang pria itu. Ia lalu mengangkat tangannya dan ia letakkan di punggung dan kepala gadis itu. Mereka berpelukan.

Baekhyun menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Taeyeon, menghirup wangi milk soap yang menempel di leher gadis itu. Beberapa kali pria itu bergumam tidak jelas, menyebabkan bibirnya secara tidak sengaja menyentuh permukaan kulit gadis itu. Oh tidak, ini terasa menggelikan bagi Taeyeon.

Namun meskipun begitu, gadis itu tidak menolak. Sebaliknya, Taeyeon malah semakin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu. Ia juga menghirup udara di sana, sehingga dapat jelas hidungnya merasakan wangi mint minyak wangi pria itu yang sangat Taeyeon sukai.

“Byun Baekhyun, Taehyung tidak menyimpan wajahnya di leherku. Dia menyimpannya di atas kepalaku.” Gumam gadis itu, sedikit tertawa karena sensasi geli yang ia rasakan dari perbuatan Baekhyun.

“Di sini lebih nyaman, dear. Bagaimana mungkin wangi sabunmu masih bisa tercium meski sudah 15 jam kau beraktifitas?.”

“Tapi ini menggelikan, Baekhyun.”

“Benarkah? Bagaimana jika aku melakukan ini.” Baekhyun mendesah di leher Taeyeon, ia menggerak-gerakkan kepalanya gemas, dan tangan kirinya semakin menekan punggung gadis itu untuk merapat dengan tubuhnya. Hal itu berhasil membuat gadis yang berada di pelukannya itu meronta, tawa kecil tidak dapat ia tahan dan keluar begitu saja.

“Baekhyun hentikan.”

Namun Baekhyun tidak mendengarkan permintaan Taeyeon, pria itu sekarang bahkan dengan kurang ajarnya mengecup berkali-kali leher gadis itu. Sehingga kembali menimbulkan sensasi aneh di dalam tubuh Taeyeon.

Wait, what? He kissed her neck?

“Baekhyun!.” Gadis itu mendorong tubuh Baekhyun keras, namun dia seorang gadis dan Baekhyun seorang pria, sehingga sekuat apapun gadis itu memberontak ia tidak akan menang. Pria itu hanya mengangkat kepalanya, menatap wajah Taeyeon yang memerah disertai tawa yang cukup keras keluar dari bibir Baekhyun.

“Woah, tubuhmu sensitif sekali. Aku hanya bernapas di lehermu dan kau sudah menggeliat seperti itu.”

“Kau bukan hanya bernapas di sana bodoh, kau juga mencium leherku!.”

“Hanya mengecup, bukan mencium, ok! Kecupan dan ciuman itu berbeda, kau yang bodoh.”

Taeyeon sedikit meringis ketika dirasakan jari telunjuk Baekhyun menoyor dahinya. Benarkah, kecupan dan ciuman itu berbeda? Lantas apa bedanya?

“Terserah kau saja.” Gumam Taeyeon. Gadis itu kembali mencoba melepas pelukan Baekhyun. “Minggir dari pintu apartemenku, aku ingin masuk dan beristirahat.”

Baekhyun tidak menjawab, ia dengan terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuh Taeyeon, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pintu apartemen gadis itu. Dengan santai, Baekhyun membuka passcode apartemen Taeyeon, passcode yang sudah ia ketahui sejak awal gadis itu tinggal di apartemen ini.

Setelah pintu terbuka, Taeyeon hendak masuk ke dalam, namun sebuah tangan menghentikannya. Gadis itu menoleh menatap pemilik tangan tersebut dengan kening mengkerut. “Apa lagi?.”

Baekhyun menggigit bibir bawahnya gugup. Ia tidak tahu kenapa lidahnya tiba-tiba terasa kelu, seolah tidak ingin untuk mengungkit kembali kejadian tadi pagi. Tapi dia tidak boleh diam saja, bagaimanapun tadi pagi ia sudah keterlaluan pada gadis itu. “Maafkan aku atas kejadian tadi pagi. Aku, aku, aish bagaimana menjelaskannya.” Pria itu mengusap wajahnya gusar.

Di depannya, Taeyeon terlihat tengah menahan tawa. Melihat Baekhyun yang panik dan merasa bersalah seperti ini merupakan hal baru baginya.

“Suasana hatiku tadi pagi sedang buruk, sungguh, aku tidak berniat membentakmu, bae. Kau mau memaafkan perbuatanku tadi ‘kan?.”

“Aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.”

Baekhyun menaikkan alisnya, menunggu gadis itu kembali bersuara dan memberitahu tentang syarat apa yang akan Taeyeon ajukan.

“Jika kau ada masalah, kau harus membaginya denganku. Jangan menyimpannya sendiri di dalam hatimu.” Ujar Taeyeon. “Ketika aku dalam masalah, kau selalu ada untukku, Baek. Jadi, biarkan aku mengetahui semua masalahmu juga. Kita sahabat ‘kan? Sahabat itu harus saling membantu di saat senang maupun susah. Kau pernah berkata jika kau ingin aku bahagia. Sama sepertiku, aku juga ingin kau bahagia. Jadi aku mohon, mulai dari sekarang kau harus lebih terbuka padaku.” Lanjutnya tulus.

Baekhyun menatap nanar gadis di depannya. Taeyeon menginginkannya bahagia? Bagaimana mungkin dia bahagia, jika pada kenyataannya kebahagiaan yang dia inginkan tidak ia dapatkan. Kebahagiaan itu, adalah Taeyeon. Gadis bersurai hitam itu, apakah dia benar-benar polos? Tidak bisakah hatinya sedikit peka terhadap semua yang dilakukan Baekhyun kepadanya, bukan semata-mata karena ikatan persahabatan?

Dan yeah, lagi-lagi gadis itu menyatukan kata ‘kita’ dengan ‘sahabat’. Tidak bisakah lebih dari sahabat? Tidak bisakah Taeyeon pergi dari Taehyung dan menjalin sebuah ikatan dengan Baekhyun yang dimana ikatan itu lebih tinggi dari hanya sekedar ‘sahabat’?

Bisakah?.

Ketika rasa cinta semakin dalam, maka harapan untuk mendapatkannya semakin pupus.

TBC

IMPORTANT, PLEASE READ FOR EXPLANATION.

Halo semuanya ^_^ Bagaimana kabar kalian? Terima kasih bagi kalian yang telah meninggalkan feedback di Prolog & Introducing Casts kemarin yah.

Di kolom komentar, cukup banyak yang bingung dengan penjelasan casts. Sebagian pada nanya ‘Pacarnya Taeyeon ada dua?.’, ‘Ini pacarnya Taeyeon siapa? Baekhyun atau Taehyung?’, ‘Aku bingung, jadi di sini Taeyeon punya pacar dua?’, dan lain-lain.

Sebenarnya kebingungan kalian sudah aku jelaskan lewat kolom komentar, tapi masih aja ada yang nanya. Mungkin gak scrolling kolom komentar hihi

Jadi gini yah, pas perkenalan casts kemarin, ketika Baekhyun
, penjelasannya itu dia sebagai Boy Friend-nya Taeyeon. Sedangkan penjelasan untuk Taehyung, dia sebagai Boyfriend-nya Taeyeon.

Boy Friend (ada spasi) dan Boyfriend (tidak ada spasi) artinya berbeda. Boy Friend (ada spasi) atinya teman laki-laki
sedangkan Boyfriend (tidak ada spasi) artinya pacar.

Kalau masih bingung, aku saranin kalian buat baca penjelasannya di sini deh >> click here << ^_^

***

Teaser for upcoming chapter

‘Chanyeol sunbae, jika sunbae menginginkan nomor ponselnya, ajarkan aku lebih dulu bagaimana caranya berciuman!.’


‘Kau gila?!.’


‘Beg me. Setelah itu aku akan mengajarkanmu. If not, then i’ll not teach you.’


‘Byun Baekhyun, apa kau benar-benar bisa melakukannya? Kenapa kau membuatku bingung!.’


‘Lebih mudah melakukannya dari pada mengucapkannya’




Ditunggu komentar kritik dan sarannya :*

Kiss&Hug ❤ ❤


Advertisements

38 comments on “Only One, It’s You (Chapter 1)

  1. wah next part kaya nya sitaeng minta diajarin ciuman nih, ditunggu..
    pasti seru bngt deh, hehehe..
    next part update soon yah kak, fighting..

  2. Duhh kyaknya si taehyung ni badboy deh, krna dy lbh suka taeyeon yg sdh berpengalaman dlm berciuman…
    Smoga baekhyunnie bs ngelindungi taeyeonnie…

  3. Ini yang kek pacaran malah baekyeon,tapi vyeon ga kalah sosweet wkwk
    Lanjutkannnn yaa selalu kutunggu
    Semangat

  4. taeyeon kok polos banget sih, jelas2 baekhyun suka sama dia..
    aku kurang suka sama taehyung disini, agak misterius gitu..
    semoga taeyeon blajar ciuman nya sama baekhyun yaaa..
    next chapter jan lama2 ya thor..
    keep fighting and writing

  5. okee. udah fix banget
    aku suka ff iniiiii
    keren authorniimm
    yaelah taeyeon, udah jelas kalo baek suka 😥😥
    next ditunggu ^^

  6. Wahhhhh daebakkkk eonniii!!! Tetap semangat yaaa eonnn!! Semua ff buatan eonni emang gausah diragukan lagi lah pokoknya 🤘 Mantap soul punya! Wkwkwkwkwk

  7. Yaampun taeyeon polos banget hahaha kasian juga baekhyun suka sama taeyeon, tapi gak peka taeyeonnya. Duh itu yg minta ajarin ciuman taeyeon kah? Seru seru. Penasaran sama kelanjutannya. Next chapter ditunggu😁

  8. Kok lebih romantis sm ‘boy friend’ dibanding sm ‘boyfriend’ wkwkw nah tp sukaaaaaa. Suka bgt malahan 😁 lagian knp sih baekhyun hrs mendem gitu? Udh tau bakal sakit. Haha. Bikin lebih fluffy lg baekyeon nya duh, lebih sreg sm couple itu. Hah si taehyung nanyanya polos(?) gity? Wkss berarti ty belom kisseu dong? Nahnah minta ajarin sm baekhyun sono 😆 btw alurnya okee, menarik buat dibaca pulak sm penulisannya bagus.

    Hy nad, ini nurma *siapa tau kamu masih inget aku 😂✌✌

    • Hayyyyyy kakkkkk 😊😊😊😊 masih inget kok, terima kasih sama instagram soalnya suka liat update-an kk di sana, makanya masih inget sampai sekarang 😆

      Makasih juga udah mau baca ff jelek ini ka 😘 😁😁😁😁💛💛💛💛

  9. Walah dalah..
    Belum apaapa dah buat bingung-resah-gundah gara mereka..
    Penasaran sma kelanjutannya..
    Tolong, siapapun ‘peka’ kan Taeyeon.. Susah beud tuh cewek..
    Dtunggu deh kelanjutannya..
    FIGHTING!!!

  10. Aaaaa kasian Baekhyun.. sabar Baek, sabar.. kalo pengen Taeyeon, ya ungkapin dong.. jangan diem aja jadi sahabat.. ntar nyesek ..
    Next chapter lebih greget kayaknya..
    Fighting authornim

  11. Wkwk mau minta diajarin chaenyeol kah? Tpi endingnya sma baek😂
    Lanjut trs ya thor.. suka critanya updte cpet juga wkwk
    Fighting!

  12. Taeyeon ga peka bgt, gemes liatnya😁😁
    Baekyeon sweet bgt , jd baperr😍😍
    Sekarang aku udh tau bedanya ‘boy friend’ sama ‘ boyfriend’ gomawo yh thor udh diperjelas😘
    Fighting for next chap!

  13. Suka sama ff-nya suka banget malah..
    Itu taeyeon polos banget udah jelas baekhyun suka tapi gk peka.
    Yang pacarnya taehyung tapi lebih sweet ama baekhyun, tapi taehyung juga sweet sih..
    Itu taeyeon minta ajarin ciuman ama ceye tapi prakteknya ama baekhyun kan?
    Daebak thor gk sabar nunggu next chapternya

  14. Huuaaaa, sering banget sih si Baekhyun nahan perasaannya smpe besar banget. Salut. Pertahanan ya baek, Keke.
    Taeyeon peka kali sama Baekhyun. serruuhh ceritanya.
    Nxt chp ditunggu^^

  15. Sumpah!!!
    Taeyeon polos bgt…
    Baekhyun pasti gemes bgt dengan hal itu…
    Kepolosan taeyeon bs bkin baekhyun seneng kadang jg bs bkin miris…

  16. Omonaa, akhirnya FF triple tae ada jugaaa!!!
    Daebak!! Ini ceritanya bikin gregetan dan alurnya bener2 nyatu sama karakter para pemainnya.. meskipun aku lebih seneng vtae but baekyeon always my fvorite 😘😘😘
    Semoga taeyeon sadar perasaan baekhyun tpi ga menjauh karna pasti susah bgt buat berjauhan sm org yg udh lma kia kenal.
    Fighting eonnni 😘😘😘

  17. Uuggh itu kenapa taeyeon ngasih tau semua yg di lakuin taehyung ke baek :”3 dia tau yg bakal di lakuin baekhyun itu sama ky yg dilakuin taehyung, tp dia ttp ngasih tau?? :”3 sepolos itukah dirimu tae :” cepet sadar tae.. Next chap ka nad ;* baru comeback baca ff setelah hampr 2tahun ga pernah baca ff lg, ketinggalan banyakk :” *gananya* fightingg kaa^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s