[FREELANCE] Jet Lag (Oneshot)

Judul : Jet Lag

Nama : xxxRubygold12 / Iffah Jannati

Rating : PG 15

Length : Oneshoot

Genre : Comedy, Romance

Main Cast : Kwon Jiyong, Kim Taeyeon

Support Cast : Jeon Jungkook, Lee Hana (OC)

Author note : Semoga pembaca terhibur dengan tulisan author. Harap berkomentar secara bijak dan cerdas. Terimakasih.

….

 

“KRRIIIING !!”

Tayeon tersentak dari tidurnya lalu ditatapinya jam weker berbentuk Hello Kitty miliknya dengan malas, mengucek-ngucek matanya sambil beranjak dari tempat tidur. Jantungnya hampir copot ketika melihat jarum jam pukul 7.30 KST sementara ia telah memesan tiket pesawat yang terbang pukul 8 pagi ini.

“Omo !! Omo! Ottoke ?”

Taeyeon berlari ke lemari pakaiannya dan menarik pakaiannya dengan cepat lalu melemparnya kedalam koper, memasukkan alat make up, dan memasukkan secara paksa buku-bukunya yang tebal. Bak roket ia meluncur kekamar mandi hanya untuk bergosok gigi dan mencuci muka kemudian berganti baju tidurnya dengan kemeja denim birunya juga rok model tutu bewarna hitam. Mulutnya komat kamit menyumpah.

“Aish Pabo ya,” katanya sambil memukul kepala

Ia mondar mandir mencari highheels kesayangan sampai-sampai terpeleset akibat serakan kacang almond yang dimakannya semalam.

“BRUAK,” ia mengaduh kesakitan. Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan membungkuk layaknya orang renta, ia susah payah meraih ponselnya di meja.

“Yobooseo ?” katanya meringis.

“Ya ! Taeyeon-ah ini Yuri, kau dimana ? Pesawatmu bukannya lima belas menit lagi mau berangkat, aku yang mau mengantarmu saja sudah stay tune di bandara.”

“Ne, aku akan berangkat sekarang”

“Palli, anyeong”

Akhirnya dengan terpaksa Taeyeon hanya memakai flatshoes lalu keluar dari apartemennya untuk mencari taksi ke bandara. Dengan kemampuannya mendesak sopir taksi supaya ngebut membuatnya sampai di bandara setidaknya 5 menit lebih cepat.

“Ini uangnya Ahjussi”

“Gamsahamnida”

Taeyeon berlari menaiki tangga menuju boarding gate yang berada di sebelah kanan. Karena terlalu bersemangat ia tidak sengaja menabrak salah seorang pilot yang bersebrangan arah dengannya dan sudah pasti tak terelakkan lagi barang yang dipegang pria itu jatuh kelantai, sebuah kalung perak berbentuk mentari.

Taeyeon dengan panik segera memungutnya dengan hati-hati menyerahkannya ke pria itu.

Pria itu memakai baju dan topi pilot bewarna hitam, matanya hazel cerah dengan mata sipit yang tajam seakan menusuk, perawakannya sedang tapi aura seksinya sangat kuat ketika kerahnya sedikit terbuka dan ia sedang berkacak pinggang sambil menatapnya sangar.

“Apa kau punya mata ?”

“Ne ? Mian aku sedang terburu-buru jadi-”

“Hah ? Kau pakai banmal padaku ?! Gadis ini benar-benar tidak bisa dipercaya, memangnya kau siapa, hah?”

“Joesonghamniida, sekali lagi aku benar-benar tidak sengaja. Penerbanganku beberapa menit lagi jadi aku terburu-buru,”

Taeyeon membungkuk, dalam hati ia menngerutu betapa ia ingin mencakar wajah pria ini.

“Neo michyeoseo ? Aku tidak perlu maafmu. Sini, berikan kalungku.”

Darah Taeyeon naik ke ubun-ubun mendengar kalimat pria itu, ia menggenggam kuat kalung itu.

“YA ! Apa kau pernah diajarkan sopan santun ? Aku mungkin terlihat muda tapi tidak usiaku. Aku juga tulus meminta maaf tapi kau .. aish Nappeun namja ya ?!”

“Waktuku benar-benar beharga karena aku seorang pilot dan kau…-” menatap Taeyeon dari atas kebawah.

“Kau seperti sampah, sseregi yang menghambat jam terbang pesawat dengan ocehanmu. Sini berikan !”

“Aku tidak akan mengembalikannya kecuali kau merubah sifat burukmu itu”

Taeyeon secepat kilat berlari tapi tangan pria itu juga sangat cepat menjambak rambut Taeyeon yang panjang.

“Akkh lepaskan aku !” teriak Taeyeon melengking hingga petugas keamanan melerai mereka. Ia pura-pura menangis tersedu dan berkata ibunya sekarat di luar negeri karena itu ia mesti pergi sekarang. Petugas itu melepaskan Taeyeon dan memarahi pria itu.

“Tuan Kwon, Bagaimana bisa Anda menyakiti ahgassi tersebut, ia begitu menyedihkan”

Suara orang tersebut berdebat samar-samar menghilang ketika Taeyeon turun ke eskalator. Yuri duduk di bangku panjang dengan wajah cemas langsung memeluknya.

“Uri Taeyeonie… kau lama sekali, kukira kau kenapa napa”

Taeyeon melepaskan pelukannya dan mengucapkan selamat tinggal ke Yuri, ia melewati prosedur keamanan dan koper lalu duduk di kelas ekonomi, ia memilih duduk di bangku di dekat jendela.

Mendengar musik melalui headset-nya, Taeyeon terkejut tiba-tiba ada seorang pria yang duduk di sebelahnya memegang tangan dan menautkan jari jemarinya.

“Jeon jungkook ? kenapa kau ada disini?”

Pria tampan yang bernama Jungkook itu tersenyum sambil mencium tangannya. Jeon jungkook, pria ini mungkin punya julukan kekayaan 7 keturunan yang berasal perusahaan tambang, hotel, produk IT hingga restoran milik ayahnya. Jungkook merupakan calon CEO yang akan meneruskan keadikdayaan keluarga Jeon di Korea. Mereka berdua memang pernah sekelas saat di Universitas Seol, tapi entah kenapa Jungkook terlihat seperti jatuh cinta ketika Taeyeon menghilang dari keseharianya, Taeyeon memutuskan berhenti kuliah dan memilih bekerja agar bisa kuliah di luar negeri.

Taeyeon merasa tidak nyaman lalu menarik tangannya.

“Jungkook-ah, kupikir kau takkan sanggup duduk di kelas ekonomi”

“Tenang saja, ini kulakukan demi wanita spesialku,” ujar Jungkook tersenyum sambil menopang dagu menatap Taeyeon dan dengan imutnya membuat ekspresi tepesona yang membuat Taeyeon salah tingkah.

“Jongmal, kau benar-benar rugi jika menyukaiku. Kook-ah, kau bisa menikah dengan supermodel, aktris terkenal atau siapapun itu, kenapa kau menyukaiku ?! Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Hm…”

“We ?”

“Kupikir aku menyukaimu tanpa alasan”

Taeyeon menghela napas tidak percaya mendengar jawaban Jungkook tapi diam-diam ia tersenyum kecil karena tersipu.

“Taeyeon-ah…”

“Ne…” Taeyeon berpaling menatap Jungkook lagi. Namun tiba-tiba jantungnya berdesir ketika wajah Jungkook mendekati wajahnya dan helaan napasnya terasa di permukaan lehernya.

“Bolehkah aku menciummu ?” bisiknya hingga bibir Jungkook yang seperti buah plum itu menyentuh telinganya, Taeyeon sangat terkejut hingga ia gagap menjawab.

“A… an… andwe,” terang Taeyeon

Tapi tangan Jungkook yang berotot merambah lehernya dan mengelusnya pelan, wajahnya mendekat kearah Taeyeon. Pikiran Taeyeon tidak bisa mencerna keadaan, ia hanya menggengam kuat tangannya sendiri sementara jantungnya berdegup kencang lalu menutup kelopak matanya.

Namun wajah Jungkook berbelok arah untuk mencium pipinya dan dengan cepat menarik wajahnya menjauh, Taeyeon terkesima menatapnya dengan rasa kecewa yang sedikit dipendamnya namun rasanya kupu-kupu terbang dari perutnya.

“Hal itu tidak dihitung sebagai ciuman kan, itu hanya ppo ppo.”

Taeyeon menoleh ke arah Jungkook dengan tatapan tidak percaya lalu terkekeh menampilkan senyum manisnya.

Tidak lama kemudian pesawat yang ditumpangi mereka lepas landas. Seorang pramugari cantik berdiri di lorong pesawat dan menjelaskan prosedur keselamatan.Taeyeon yang baru pertama kali naik pesawat menatapnya takjub, bahkan sangat kooperatif ketika memasang sabuk pengaman, masker oksigen, dan mendengar tentang jalur/ pintu evakuasi.

“Aish jinja nomu nomu gyeowo Taeyeon-ah, berhentilah terlalu bersemangat atau aku akan memelukmu” kata Jungkook mencubit pipi Taeyeon.

“Aku akan kuliah di Oxford sebentar lagi bagaimana aku bisa tidak bersemangat, lagipula ini penerbangan pertamaku.” Taeyeon menepis tangan Jungkook menjauh.

Tiba-tiba pramugari tadi mendekatinya dan Jungkook, ia tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat.

“Maaf apa Anda Kim Taeyeon-ssi ?” dengan senyum memesona kearah mereka berdua.

“Ye”

“Jeneun Lee Hana-imnida. Kapten pilot kami ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Anda-” Taeyeon mendengus kesal mengerti apa yang pramugari ini maksud, pasti soal pria kurang ajar itu.

“Jeosonghamnida Tuan, no yeoja-chingu kami pinjam sebentar tidak apa-apa ?”

“Gwencanayo” Jungkook tersenyum kearahnya dan memberiku jalan keluar karena kaki panjangnya menutup jarak antar kursi.

Taeyeon mengikuti langkah Lee hana menuju Cockpit atau ruang kemudi pesawat.

“Silahkan tunggu sebentar,” ujar Lee Hana lalu berbicara di telepon kecil yang terletak di sudut kabin. Ia membukakan pintu tapi sebelum Taeyeon masuk ia berkata:

“Baiklah Kim Taeyeon-ssi, Anda telah diizinkan masuk, didalam Anda tidak boleh menganggu konsentrasi Captain, Co-Pilot atupun Obsever yang akan membahayakan keselamatan penumpang dan waktu Anda hanya 5 menit. Aku tidak tau apa masalah kalian tapi bukankah lebih baik menyelesaikan secepatnya, itu saranku. Haseyo…” Lee hana memasang raut cemburu ketika mengatakan hal tersebut kemudian menunduk dan berbalik arah.

Taeyeon masuk keruangan itu seperti di dalam mimpinya, menutup mulut dengan kedua tangannya saat melihat ratusan tombol bewarna oren dan hijau, kemudi dan speedometer pesawat terbang. Ia melongo dan tidak bisa berkata-kata saat dilihatnya orang yang tadi dibentaknya duduk di kursi Captain Pilot dengan wajah serius yang menerjam jantungnya, tatapannya fokus, rahang seksinya panjang jika dilihat dari samping.

Co-pilot duduk di bangku sebelah kananya sementara Observer yang duduk ditengah agak sedikit kebelakang sedang membaca kontur daratan di peta menyadari keberadaan Taeyeon menoleh sedikit.

“Sir, it is time to switch”

Kwon Jiyong mendengar melalui Headphone nya lalu menekan beberapa tombol dan memegang kemudi yang seperti stik PSP dimata Taeyeon dengan sigap lalu berkata

“YOU HAVE CONTROL”

“I HAVE CONTROL SIR !” jawab Co-Pilot sambil mengambil alih kemudi pesawat.

Orang yang dipanggil Captain Kwon Jiyong itu bangkit dari singgasananya menuju Taeyeon yang napas masih tertahan dengan wajah bersemu merah.

“Taeyeon kembalikanlah akal sehatmu !” jeritnya dalam hati melihat tatapan tajam Kwon Jiyong dan mengerlingkan matanya beberapa kali.

“Kembalikanlah kalungku atau aku sendiri yang menelpon polisi saat pesawat ini mendarat.”

“Ara, ara… benda kesayanganmu itu akan kukembalikan.” Taeyeon merogoh tas sandangnya lalu mencari dengan mengaduk-ngaduk isi tasnya tapi ia tak kunjung menemukan kalung dengan mata mentari tersebut. Ia meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hm… mianhe kupikir mungkin aku meninggalkan kalungmu di tempat dudukku”

“Ne ?! Michyeoseo !!! Kalung itu peninggalan alm. Ibuku bagaimana bisa kau meletakkannya sembarangan dan lagi “mungkin” ?! Apa kau menjatuhkannya?”

“Jeosonghamnida Jiyong-ssi aku ingat masih memegangnya sebelum take off, kalau kau tak percaya, Ayo ikut ke tempat dudukku !”

Jiyong sebenarnya malas menanggapi gadis ceroboh ini dan ingin menyuruhnya pergi mengambil kalung itu sendiri, tapi entah kenapa melihat ekspresi wajahnya yang imut ketika panik malah membuatnya tertarik.

“Baiklah aku ikut denganmu.” Taeyeon menghela napas lega lalu Jiyong berbicara dengan Obsever-nya bahwa ia keluar sebentar.

Mereka berdua keluar dari ruang Cockpit, saat itu kebetulan Lee Hana yang menunggu di luar, ekspresinya berubah melihat mereka keluar bersama.

“K,k, kenapa Captain keluar bersamanya ? maksudku apa pembicaraan kalian belum selesai ?” Lee Hana menatap keduanya dengan heran, wajahnya memerah.

“Iya urusan kami belum selesai,” jawab Jiyong singkat lalu berlalu melewatinya, Taeyeon mengikuti langkahnya dibelakang.

***

Jungkook bangkit dari sandarannya dan menyerngit heran ketika dilihatnya seorang pria berbaju pilot bewarna hitam dengan tatapannya yang tajam kearah Taeyeon berjalan beriringan layaknya sepasang kekasih.

“Tayeon-ah nuguseyo ?” tanya Jungkook ketika Taeyeon telah didepan matanya.

“Ahh… dia ini seorang pria yang tidak sengaja menjatuhkan kalungnya. Namanya Kwon Jiyong-ssi, dia seorang pilot yang magang.” Jiyong memutar bola matanya tidak percaya.

“Ne, bisakah kau kembalikan kalungku sekarang atau aku panggil 911”

“Araseyo, aish benar-benar tidak sabaran,” kata Taeyeon menenangkan sambil menepuk bahu Jiyong.

Jungkook membuka jalan dan membiarkan Taeyeon masuk. Setelah sibuk mencari di sela-sela bangku, di bawah kolong atau di kantong tempat duduknya dengan posisi tunggak-tunggit, Taeyeon gagal menemukan kalung itu, napasnya tersengal-sengal.

“Taeyeon-ah, tenanglah aku akan mengganti kalung itu, aku akan membayarnya dengan cek, berapa harganya ?” ujar Jungkook menatap Jiyong agak keras.

Jiyong menatap mereka berdua dengan tidak percaya, ia mendengus keras.

“Kim Taeyeon, bukankah tadi kau bilang saat take off kau masih memegangnya ? Apa mungkin…”

“Kau menuduhku ?!” Jungkook yang emosinya naik memegang kerah baju Jiyong.

“Keotjimal ! kaulah satu-satunya yang duduk disamping Taeyeon.”

“Andwe, kalian berdua kenapa ? Aku yang bersalah, aku menghilangkan kalungmu dan aku akan bertanggungjawab.” Taeyeon memisahkan mereka berdua.

“Aniyo Taeyeon-ah, kenapa kau membela kriminal tengik ini”

Tinju keras melayang ke arah Kwon Jiyong, rekikan wanita terdengar lalu tiba-tiba lampu dipesawat mereka mati diiringi suara tembakan pistol.

Taeyeon secara refleks berjongkok ketakutan tapi ia masih bisa melihat Jungkook mengarahkan pistol di pelipis Jiyong, napasnya tercekat.

“Kau benar Capt. Kwon aku adalah seorang kriminal.” Jungkook hendak menarik pelatuk pistolnya tapi dengan cepat Taeyeon menubruknya memakai badannya sendiri.

“We geure Kook-ah ?! Ada apa denganmu ?” Taeyeon menatapnya tak percaya.

Namun belum sempat mendapat penjelasan Jungkook sekumpulan orang berbaju hitam yang memakai topeng joker, mereka tampaknya kelompok pembajak pesawat yang marak terjadi belakangan. Mereka menyuruh penumpang mengangkat tangan dan duduk berbaris di lorong pesawat.

“PALLI-AAH ! Kalian mau peluru menembus kepala kalian hah ?!”

Taeyeon ketakutan setengah mati saat tangannya ditautkan kedepan lalu diikat dengan tali dan matanya tertutup, pandangannya seketika menggelap dan butiran keringat dingin mengalir di lehernya, giginya bergemertukkan.

“Taeyeon-ah,” bisik sebuah suara yang terdengar lemah.

“N,N,n ne ?”

“Ini aku Kwon Jiyong”

“Tampaknya kau satu-satunya yang ditutup mata karena mengenal sekiya itu.”

“Dengar aku punya ide Taeyeon-ah, kau harus mendengarkanku baik-baik karena ini menyangkut nyawa banyak orang. Apa kau mau mencoba ?”

“B,b, baiklah aku mau”

“Kita berdua akan memotong tali ini dengan gantungan kunci di kantongku lalu setelah kita berdua lepas, aku akan menahan mereka dan kau harus berlari sekencang-kencangnya ke telepon tepat sebelum ruang Cockpit dan meminta bantuan pusat tekan *505# dan ini yang paling penting-” Taeyeon mendengarkan seksama.

“Kau harus menyelamatkan dirimu dengan masuk ke salah satu toilet dan menguncinya secepat mungkin. Nah, sekarang ayo kita mulai… karena tanganmu diikat didepan maka kau bisa mengambil gantungan kunci di kantong celana belakangku.”

Kepala Taeyeon mengadah mencari dimana Jiyong lalu Jiyong mendorong bahunya kebahu kanan Taeyeon, akhirnya dengan susah payah Taeyeon menggerakkan badannya dengan pergelangan kaki dan lutunya ke kiri. Karena takut dicurigai Taeyeon pelan pelan memajukan tangannya mencari Jiyong.

“Ji, jiyong-ah ?” bisiknya. Jiyong ikut memajukan badannya hingga tangan Taeyeon merasakan dada keras Kwon Jiyong.

“Kantongnya di sebelah kananmu.” Taeyeon sudah berusaha memajukan tangan mungilnya tapi tak mampu menggapai jarak sejauh itu, ia mendesah karena frustasi namun tetap berusaha. Berkat ketekunannya, Taeyeon memajukan bahunya kedepan dan ia bisa merasakan jahitan di pangkal paha Jiyong tapi karena itu, ia malah kehilangan keseimbangan dan bibirnya secara tidak sengaja mengecup bibir terbuka Kwon Jiyong yang bahkan tidak dapat dilihatnya.

Mereka berdua terdiam karena kaget. Jantung Taeyeon berdegup tidak karuan, badannya melemas dan kupu-kupu terasa berterbangan diperutnya. Jiyong hanya mematung lalu dengan perlahan menarik bibirnya menjauh.

“Kajja… hm, kita harus cepat,” katanya berdeham. Taeyeon berusaha lagi meraba paha Jiyong, menuju ke belakang sedikit lalu memasukkan jarinya yang sempit ke kantong belakang Jiyong lalu ditariknya dengan napas mereka berdua yang sama-sama menderu menjadi satu. Tangan Taeyeon merasakan gantungan kunci panjang, dirabanya lalu ia pikir bentuknya seperti sebuah pedang.

“Potong taliku dulu, lalu aku akn buka punyamu.” Tayeon menurut patuh dengan segenap kekuatannya menggesek tali tebal yang mengikat Jiyong.

Suara tertawa menggelegar membuat Taeyeon berhenti sejenak.

“Akan kita apakan Yeoja dengan tangan yang diikat didepan itu. Gayophsora, ia bahkan tidak bisa melihat, tapi kalau tidak membunuhnya Jungkook dalam bahaya.” Tangan Taeyeon bergetar hebat, mentalnya jatuh namun tangan hangat Jiyong menggenggamnya.

“Palli Taeyeon, kau pasti bisa.” Karena kata-kata itu tali yang mengekang mereka berdua akhirnya lepas, begitupula penutup mata Taeyeon. Mata hazel Jiyong menatapnya dalam, mereka berdua secara refleks berpelukan, Jiyong menepuk pelan punggung Taeyeon.

“Fighting ! Mari kita jalankan Plan A. Hitungan 3 Taeyeon-ah. 1… 2… 3. Lari !”

Rombongan pembajak tadi kaget setengah mati ketika melihat Taeyeon berlari dan berusaha mengejar namun Jiyong menahan mereka dengan tendangan salto, tinju dan badan berototnya. Tidak sempat melihat kebelakang Taeyeon berlari sekuat tenaga hingga paru-parunya sakit menuju telepon, jarinya menekan secepat kilat tombol yang ada lalu suara panggilan mulai terdengar.

“Jebal, angkat ! Angkatlah !”

“Anyeonghaseo ? Pesawat Korean Airlines C037 yang sedang terbang, Anda butuh bantuan ?”

“SALLAYEOJWOYO !! PESAWAT KAMI DIBAJAK JEBAL !!!” Teriak Taeyeon sekencang-kencangnya lalu berlari ke toliet untuk pilot dan mengunci diri didalamnya.

Sebuah tangan menggedor-gedor pintu, napas Taeyeon tercekat dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia sangat takut mencari benda-benda yang dipakai untuk berlindung tapi hanya dapat memakai tongkat pembersih wc dan memegangnya layaknya pedang. Tak lama kemudian, pintu itu berhasil di dobrak, Taeyeon menjerit ketakutan dilihatnya sosok Jeon Jungkook yang selama ini dikenalnya baik berubah menjadi monster di hadapannya.

Jungkook dengan mudahnya mengambil alat pertahanan Taeyeon satu-satunya dan meleparnya sembarangan sambil terkikik geli.

“Kau tidak bisa lari dariku Kim Taeyeon. Kau selamanya milikku sampai akhir hayatmu.” Taeyeon mendekap tangannya ke dada dan menutup mata menunggu kematiannya tiba.

“BRUAK !!!” Suara tinju keras memenuhi ruang sempit itu, badan itu terhempas jatuh kelantai, bunyi tulang pipi yang patah terdengar keras lalu darah segar mengalir pelan di lantai.

Taeyeon membuka satu matanya pelan untuk mengintip lalu mata satunya lagi untuk melihat sosok itu, sosok yang menolongnya dari marabahaya, Kwon Jiyong.

“Maafkan aku Jeon Jungkook,” kata Taeyeon menatapnya lalu melangkahi kakinya untuk lewat menuju ke pelukan Kwon Jiyong. Jiyong membalas pelukannya dengan sepenuh hati sampai menngangkat dan memutar tubuh Taeyeon lalu mencium aroma rambutnya yang manis walau dibasahi keringat.

“Jeongmal jal haesoyo uri Taeyeon-ah, aku bangga padamu !” Jiyong melepaskan pelukan mereka dan tersenyum menunjukkan eye smile-nya yang menawan. Melihat goresan luka diwajahnya, Taeyeon agak sedih dan menyentuh luka-luka itu dengan jemarinya.

“Gwencahanayo, bukankah kau harusnya memberiku hadiah ?” ucap Jiyong.

“Apa kau menerima kisseu sebagai hadiah ?” kata Taeyeon tanpa malu membuat Jiyong menggaruk tengkuknya dan mengalihkan pandangan ke arah lain

“Apa kepalamu terbentur cukup keras ?” Jiyong berjalan menjauh dari Taeyeon.

Setelah semua itu, semua penumpang selamat tanpa luka yang parah, para pembajak pesawat itu di borgol seadanya dan dijaga ketat oleh penumpang yang mempunyai badan kekar dari orang normal, Capt. Kwon Jiyong sangat profesional menenangkan penumpang dan pramugari yang bertugas dan kembali mengemudikan pesawat Korea-London pukul 8.50 KST meninggalkan kisah cinta menggantung yang membuat Taeyeon galau tidak karuan.

Taeyeon duduk dibangkunya semula dan sendirian… dengan segelintir pikiran-pikiran yang berharap bahwa hubungannya dengan Jiyong bisa menjadi sesuatu yang lebih tapi kenyataannya tidak seperti yang ia harapkan. Taeyeon kadang menangis, tertawa sendiri, memukul-mukul kursinya lalu galau tidak karuan, itulah siklusnya.

Pesawat mendarat dengan mulus diikuti seruan penumpang yang bernapas lega karena mereka telah melalui masa yang sulit. Ketika hampir semua penumpang sudah turun, Taeyeon yang tertidur akibat kelelahan baru mulai menurunkan tasnya yang terletak diatas tempat duduk. Sebuah tangan membantunya menurunkan tas, ketika Taeyeon berbalik ia menjadi sangat terkejut, Capt. Kwon Jiyong tidak berjarak sesentipun darinya, mereka seperti berdekapan.

Jiyong menatap mata Taeyeon dan memandanginya dalam lalu tersenyum menampakkan giginya yang menawan tertata rapi.

“Apa kisseu masih berlaku” Jiyong mengatakannya pelan tanpa diberi jawaban dari Taeyeon, ia langsung merengkuh punggung Taeyeon mendekat kearahnya serta tangan kanannya ditengkuk menuntut bibir Taeyeon padanya.

Jiyong awalnya mencium pelan dengan bibir yang tertutup, lalu ia mengemut bibir bawah dan atas Taeyeon bergantian disertai gigitan kecil, nafsunya menjadi besar ia mulai memagut bibir Taeyeon dalam dan menghisapnya layaknya lollipop, akhirnya lidahnya mulai bermain dan bergumal di dalam mulut Taeyeon, badan Taeyeon menjadi lemas tapi Jiyong menahannya dengan menarik badan Taeyeon keatas melalui pinggangnya dan ditumpu pahanya.

Lee Hana secara tidak sengaja masuk dan shock melihat pemandangan yang paling tidak diinginkannya. Taeyeon melepaskan tautan bibir mereka dan suara decakan bibir yang memisah memenuhi ruangan, mereka berdua terengah. Lee Hana keluar cepat-cepat dengan ekspresi yang mati kutu. Mereka berdua sama-sama tersenyum karena malu.

Jiyong tidak menghentikan aksinya, ia mencium dahu, kelopak mata, hidung dan bibir Taeyeon lalu memagut lagi seperti orang kelaparan. Bibirnya merasakan manis hingga ia tidak mampu menahan diri untuk tidak memainkan lidahnya masuk dan mengajak Taeyeon bermain sementara tangannya menangkup rahang Taeyeon sedikit miring. Ciuman mereka dalam dan durasinya panjang hingga membuat paru-paru Taeyeon tersiksa saat Jiyong bertubi-tubi terus memagut dan menghisap bibirnya dengan kuat.

“Cakkaman… hh… hh..” Menghentikan bibir Jiyong dengan jarinya. Ponsel Taeyeon berdering, nama Yuri tertera di layar ponselnya, menenangkan diri dan mengambil napas dalam-dala ia menekan tombol “jawab” agak lama.

“Taeyeon-ah, kau sudah tiba di London ? Aku melihat diberita kalau pesawatmu dibajak penjahat, Gwencanayo ?”

“Kupikir aku baik-baik saja Yuri-ah. Tapi aku sangat pusing, Jet Lag-ku sangat parah sampai aku tak bisa kemana-mana,” ujar Taeyeon tersenyum penuh arti kearah Jiyong yang tepat dihadapannya kemudian Jiyong membelas senyumnya yang membuat Taeyeon merona.

Advertisements

19 comments on “[FREELANCE] Jet Lag (Oneshot)

  1. Aigoooo authornim daebaak. Sayaaa bsa mrsakan feelnyaaa. Sakibg kuatnyaa feelnya sayaa snyum2 sndri jdinyaa thor😄😄apakah nnti ini ada squelnyaa thor.???? Brharapnya daaa. Dtnggu karyaanya yg lain thor. Fighting 😀😀

  2. SEQUEL SEQUEL THOR……
    ya ampun thor pas diakhir2 deg-deg an poll….
    Ditunggu ya thor ya…..

    Fighting

  3. Wah yang awal kaya tom and jerry ending malah jadi kaya romeo dan julliet hahaha suka banget sama cerita yang kaya gini awal benci tapi lama-lama jadi cinta 😁

  4. Gak nyangka si Kookie jadi jahat. Si Tae itu ngeraba-raba badan Jiyong kalo film ost yang muter di tambah wajah canggung. Aduh~ sweetnya.
    Sequel dong

  5. Kwon Ji-yong pilot? Daebak. FF-nya juga daebak. 🙂 😀
    Fighting Author-nim! 🙂
    Fighting All! 🙂

  6. Ckckckkk nih dua org bsa ae lah, captain kwon tlong jagain taetae ya. Psti sulit tuh pnya pcar pilot krn hrus berjauhan mulu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s