MONEY (Chapter 9)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu


Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

BAIK DIKONSUMSI SETELAH BERBUKA PUASA! JIKA KALIAN KERAS KEPALA, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING!

Preview : Prologue + Introducing Cast ,Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3,Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7Chapter 8

Nine



Taeyeon meremas jari-jari dipangkuannya, sofa hotel memang empuk, namun entah mengapa rasanya seperti duduk di atas batu karena saking tegangnya. Irisnya juga sesekali memandang gugup pada sosok pria berbadan tegap yang duduk berhadapan dengannya hanya terpisahkan oleh meja.

Pria itu memiliki usia sekitar empat tahun di atas Sehun, namun penampilan dan juga wajahnya begitu tersamarkan hingga pria itu terlihat sebaya atau paling tidak selisih dua tahun di atas Sehun. Rambutnya cokelat madu, tidak ada rambut putih yang menunjukkan tanda-tanda penuaan. Jelas Taeyeon jadi terkecoh oleh penampilannya.

“Jadi, apa keputusanmu?” suara berat si pria begitu tegas dan berwibawa.

Taeyeon menelan ludahnya susah payah, “Maaf, aku sudah memiliki kekasih, dan aku tinggal dengannya sekarang. Aku tidak bisa meninggalkannya”

Mata si pria langsung menyipit tajam. Tersinggung atau marah? Mana Taeyeon tahu. Yang jelas tatapan itu begitu tidak nyaman dihadapi. Kalau bisa, sejak tadi Taeyeon ingin segera pergi dari hadapan pria itu.

“Dari informasi yang kuperoleh, kau bersamanya karena uang”

Hhh… bukan orang terkenal, tapi terlalu banyak orang yang menyelidiki latar belakang kehidupannya. Baik Sehun maupun pria di hadapannya ini sama saja. Selalu tahu kehidupannya tanpa bertanya pada orangnya terlebih dahulu.

“Aku bisa memberimu lebih banyak uang kalau kau mau tinggal bersamaku dan memutuskan hubungan dengan kekasihmu selamanya” terang pria itu.

Taeyeon tersenyum dan menggeleng pelan. Tawaran pria berambut madu itu memang terdengar menggiurkan, siapa sih yang tidak ingin uang banyak? Tapi akal sehatnya masih menyadarkan Taeyeon untuk tetap bersama Sehun. Bagaimanapun juga, Sehun jauh lebih berarti. Meskipun Sehun memiliki gadis lain, tetap Taeyeon tidak boleh meninggalkannya. Karena kekasihnya itu belum mengatakan perpisahan ataupun berniat melepas hubungan mereka. Alasan lain, Taeyeon mencintai kekasihnya.

“Aku benar-benar tidak bisa, Tuan Kwon”

“Aku juga akan membiayai kehidupan orangtua angkatmu”

Lagi. Taeyeon menggeleng lemah, “Tidak, ini bukan soal uang. Aku memang tidak bisa meninggalkan kekasihku”

Tuan Kwon yang bernama lengkap Kwon Jiyong itu mendengus ringan. Walau kesal, ekspresi wajahnya masih terlihat begitu tenang dan dingin, “Kalau seandainya kekasihmu itu membuangmu, apakah kau mau ikut denganku?”

Bagaimana seandainya Sehun membuangnya?

Umm, well… Taeyeon menjilat bibir gugup, menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga. Kemungkinan itu bisa terjadi, tapi…

“Bagaimana, Taeyeon-ssi?”

Iya. Bagaimana kalau Sehun menemukan gadis lain yang telah menggantikan posisinya? Haruskah Taeyeon memohon cinta dan berterus terang tentang perasaannya pada Sehun, atau menerima semuanya dan memulai kehidupan dari awal. Tapi, kalau memulai dari awal, bagaimana dengan ayah dan ibunya? Sekarang mereka bisa hidup normal karena dibiayai oleh Sehun, kalau hubungan mereka berakhir…

“Akan aku pikirkan” ucap Taeyeon singkat. Membungkukkan badan, lalu berdiri dari sofa, “Maaf, tapi aku harus segera pulang. Kekasihku sebentar lagi pulang dari tempat kerjanya”

“Pikirkan baik-baik tawaranku, Taeyeon-ssi” kecam Jiyong sekali lagi.

Taeyeon membungkuk lagi, “Aku mengerti”

Langkah kaki tergesa-gesa membuat Taeyeon hampir kekurangan oksigen. Sekarang sudah sore, ia harus segera pulang agar tidak meninggalkan kecurigaan. Selama ini, begitu sulit menyimpan rahasia tetang pria yang baru ditemuinya dari Sehun, belum lagi Sehun sudah mulai curiga dengan telepon-telepon salah sambung yang selalu mengarah pada Taeyeon. Memang benar telepon itu bisa dikatakan salah sambung, tapi tidak juga karena si penelepon benar-benar ingin berbicara dengan Taeyeon. Tapi ia tetap harus merahasiakan pertemuannya ini pada Sehun dan beruntung Sehun masih percaya bahwa itu telepon salah sambung, tapi kalau terus-menerus Taeyeon sebut telepon salah sambung, lama-lama Sehun bisa curiga dan mencari tahu apa yang Taeyeon lakukan dibelakangnya. Oh, bertemu seorang pria dihotel bintang lima, bukankah akan banyak spekulasi buruk yang terarah padanya, walau kenyataannya ia tidak melakukan apapun dihotel itu selain berbicara.

Taeyeon kian memacu langkahnya. Sialan. Kenapa laki-laki tadi meminta bertemu di lantai 15 sih? Kenapa tidak mencari kamar dilantai satu saja, setidaknya kalau dilantai satu dia bisa cepat sampai di lobi, bukannya masih berputar-putar dikoridor mencari-cari lift begini. Ah, Taeyeon menyunggingkan senyum. Tinggal berbelok sedikit, ia akan tiba di lift.

Brukk~

Taeyeon meringis memegang sikunya yang terkena lantai. Ketika akan berbelok, tiba-tiba tubuh mungilnya bertabrakan dengan seseorang yang baru keluar dari salah satu kamar hotel. Dia sedang sial sepertinya. Padahal sedang terburu-buru, ada saja yang ingin menghambat.

“Ma-maafkan sa—Taeng?”

Masih sedikit meringis, Taeyeon mendongakkan wajah ke atas. Huh? Park Jiyeon? Sedang apa sepupunya di hotel bintang lima?

Jiyeon mengulurkan tangan untuk membantu Taeyeon berdiri. Aneh, tangan gadis itu begitu dingin ketika Taeyeon menggenggamnya.

“Sedang apa kau disini, Jiyeon-a?” Tanya Taeyeon.

“I-itu, aku dan Myungsoo—”

“Ah… aku tahu” potong Taeyeon.

Untuk apa lagi seorang Park Jiyeon ke hotel bersama laki-laki kalau bukan untuk bersenang-senang. Tapi kenapa tangan sepupunya begitu dingin, wajahnya juga begitu pucat? Jangan-jangan Myungsoo sudah berbuat kasar pada Jiyeon. Tidak-tidak, terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan. Masih belum ada bukti, tapi… sedikit waspada tak apa kan?

“Mana Myungsoo?”

“Myungsoo masih didalam kamar” tunjuk Jiyeon pada pintu hotel tempat ia keluar barusan.

“Kenapa dia tidak keluar bersamamu?”

Jiyeon melirik kekiri dan kekanan sedikit panik. Ada sesuatu yang pastinya membuat Jiyeon takut. Taeyeon yakin memang ada yang sedang disembunyikan gadis itu.

“Kalau aku bisa, aku malah ingin kami segera keluar dari hotel ini”

Apakah benar dugaan Taeyeon? Taeyeon tahu Myungsoo adalah orang baik, namun tak jarang juga di sekolah ada berita miring yang menyebutkan bahwa laki-laki bernama Kim Myungsoo itu memiliki tempramen kasar. Bisa saja ia memukuli Jiyeon ketika berhubungan seks. Kelainan seks seperti itu begitu umum terjadi kan?

Raut wajah Taeyeon langsung berubah serius, “Jiyeon-a, apa yang sudah Myungsoo lakukan hingga membuatmu seperti orang ketakutan begini?”

Jiyeon menggeleng cepat, “Myungsoo tidak melakukan apa-apa padaku, Taeng”

“Lalu, kenapa kau ketakutan?”

“A-aku…”

“Ya?” Taeyeon semakin tidak sabaran. Apa sih yang sedang terjadi pada sepupunya ini? Awas kalau Myungsoo berani berbuat macam-macam pada Jiyeon.

“Aku melihat Hyungsik oppa di lobi hotel” ujar Jiyeon pelan. Taeyeon menghela nafas berat setelahnya.

Ini baru namanya masalah, pikirnya.

“Kalau tahu ada Hyungsik oppa disini, kenapa kalian tidak segera pergi?”

“Tidak bisa!” jerit Jiyeon pelan hampir menangis, “Aku merasa oppa melihatku tadi. Kau tahu sifat oppa-ku kan? Dia tidak pernah tahu aku memiliki banyak kekasih dan sudah tidur dengan mereka, aku yakin sekarang dia sedang menanyakan nomor kamarku pada resepsionis”

Taeyeon berpikir sejenak, “Tidak bisakah kalian keluar lewat pintu belakang atau tangga darurat?”

“Kami sudah mencarinya, tapi sepertinya oppa lebih cepat bergerak dari kami. Kurasa sekarang oppa sudah berada di lantai ini” ucap Jiyeon ketakutan, “Bagaimana ini, Taeng? Aku tidak ingin oppa kecewa padaku. Aku takut…” isak Jiyeon dengan air mata meluncur cukup deras.

Taeyeon mengusap wajah putus asa, ia merasakan kepanikan Jiyeon dan ia tak tega melihat sepupunya menangis seperti ini. Jiyeon adalah sepupu yang selalu berbagi suka duka dengannya sejak kecil. Tidak mungkin Taeyeon lepas tangan dan meninggalkannya sendirian disini. Pasti ada cara untuk menyelamatkan Jiyeon dari situasi ini. Harus ada.

“Berhenti menangis, Jiyeon-a. Kita harus mencari jalan keluar” ucap Taeyeon menepuk pundak Jiyeon, “Sekarang sebaiknya kita masuk dulu kekamar hotelmu”

“L-lalu, bagaimana kalau oppa datang?” Jiyeon menatap Taeyeon penuh tanya.

“Aku yang akan menyelesaikan masalahnya”

Jiyeon membekap mulutnya, menahan isakan agar tidak lolos dari tenggorokan. Ucapan terimakasih tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaannya pada Taeyeon sekarang. Memang hanya keluarga yang bisa menolong diri kita saat sedang dalam keadaan terjepit seperti ini. Jiyeon kembali membuka pintu kamarnya dan seraya membawa Taeyeon masuk.

“Sekarang harus bagaimana?”

Taeyeon membuka mata, melirik Jiyeon yang memandanginya dengan putus asa. Apa yang harus dikatakan? Taeyeon masih ingin diam, bukannya tidak mau cerita apapun, dia hanya sedang berpikir.

“Cih, aku benci bersembunyi seperti seorang pengecut seperti ini” gerutu Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kumohon bersabarlah…” ucap Jiyeon.

“Cih!” Myungsoo memalingkan wajah, menyandarkan dengan kesal punggungnya pada sofa. Tujuan ia kesini untuk bersenang-senang, tapi kenapa malah jadi bersembunyi seperti ini? Bermain kucing-kucingan dengan kakak Park Jiyeon terdengar memakan waktu yang lama. Kalau ia mau, ia bisa menghadapi kakak Jiyeon. Ia tidak takut sama sekali, hanya tidak untuk Jiyeon.

“Kita tunggu tiga puluh menit lagi” ucap Taeyeon masih duduk tenang, “Kalau Hyungsik oppa tidak muncul juga, kita akan meninggalkan hotel ini”

Taeyeon memijit pelipisnya pelan, dia sudah menemukan jalan keluar darurat apabila Hyungsik menemukan mereka. Tapi namanya juga darurat, persiapannya benar-benar belum matang, komplikasi yang ditimbulkan pasti sangat besar.

Ting Tong~

“Taeng…” pekik Jiyeon tertahan. Matanya sudah mulai berair menatap Taeyeon.

Oke. Sebesar apapun komplikasinya, asal ada yang selamat, rencananya harus dijalankan. Taeyeon menarik nafas kuat-kuat, “Keluarlah Jiyeon-a, lihat siapa yang datang”

Myungsoo memandang tidak percaya pada Taeyeon. Benar-benar tidak mengerti isi kepala sepupu kekasihnya itu. Kalau dipikir-pikir, buat apa mereka bersembunyi kalau ujung-ujungnya harus bertemu dengan Park Hyungsik juga.

“Temui Hyungsik oppa, Jiyeon!” seru Taeyeon ketika bel berbunyi untuk kesekian kali. Dia yakin itu Park Hyungsik, bel tidak akan ditekan berulang-ulang kalau diluar adalah orang lain.

Jiyeon meneguk air ludahnya, kepalanya mengangguk pelan. Dia berharap apapun yang terjadi, semoga bisa keluar dari masalah ini dengan selamat.

Hyungsik mengepalkan tinju kuat-kuat. Selama ini ia tidak pernah membatasi adik kandungnya untuk berteman ataupun berpacaran dengan laki-laki manapun, tapi kenapa sekarang adiknya yang begitu polos bisa di hotel berasama seorang laki-laki asing? Jiyeon ingin berpacaran dengan laki-laki itu, oke! Boleh-boleh saja. Tapi… kalau ingin melakukan seks, Hyungsik tidak bisa menerimanya. Adiknya itu masih sekolah. Seharusnya seorang remaja fokus dengan pelajaran ketimbang seks. Seks baru dilakukan apabila sudah menikah. Terdengar kolot dan ketinggalan zaman? Bukan. Ini namanya etika, dan Park Hyungsik melakukannya bukan tanpa sebab, ia melakukannya untuk menjaga adik perempuannya dari pergaulan bebas.

Jadi disinilah dia. Menatap nanar pada sang adik yang baru keluar dari pintu kamar hotel.

“Kenapa kau keluar sendirian, mana laki-laki itu?” Gertak Hyungsik marah.

“O-oppa…”

“Mana dia, Jiyeon?” geram Hyungsik semakin tidak sabaran. Adiknya ini sungguh sudah keterlaluan.

“A-aku bisa jelaskan…”

“Mana dia?!” tegas Hyungsik membuat Jiyeon terkesiap.

Jiyeon diam dengan bingung. Apa yang harus diperbuatnya sekarang? Taeyeon bilang ingin menolongnya, tapi mana?

“Jiyeon-a, kalau kau tidak ingin menyuruhnya keluar, biar aku sendiri yang menemuinya didalam” ancam Hyungsik.

“Ja-jangan!” pekik Jiyeon.

“Aku!” seru Myungsoo menerobos keluar, “Aku orangnya. Memangnya kau mau apa kalau aku tidur dengan adikmu?” ucapnya angkuh.

“Myungsoo…” isak Jiyeon. Sekarang semua semakin kacau.

Hyungsik menggeleng-gelengkan kepala, ia benar-benar kecewa. Adik yang selama ini dibangga-banggakannya ternyata sudah mengkhianati kepercayaannya, “Kenapa kau melakukan ini, Jiyeon-a?” gumam Hyungsik, “Aku begitu yakin kau gadis yang baik”

“Oppa, aku bisa jelaskan semua—”

“Tidak perlu” potong Hyungsik, “Aku kecewa padamu”

“Oppa… tidak! Tolong dengarkan—”

“Sudah cukup, Jiyeon-a!” lagi-lagi perkataan Jiyeon dipotong. Tapi bukan oleh Hyungsik, melainkan Taeyeon. Gadis mungil itu baru muncul dari pintu hotel yang sama dengan tempat Myungsoo keluar tadi. Tubuh mungilnya hanya terbungkus oleh bathrobe yang disediakan oleh hotel.

Alis Hyungsik mengernyit, “Taeyeon?”

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala, air matanya semakin deras. Sekarang dia mengerti dengan rencana Taeyeon. Jiyeon memang ingin jalan keluar, tapi ia sama sekali tidak mau kalau ada yang menjadi kambing hitam. Ia tidak mau sepupunya menjadi korban.

“Tidak. Kumohon jangan lakukan ini, Kim Taeyeon!” Teriak Jiyeon sambil masih menangis.

“Berhenti menangis, Jiyeon-a” seru Taeyeon dingin, matanya begitu kosong menatap Hyungsik.

“Jangan…” isak Jiyeon.

“Kenapa kau bisa keluar dari dalam kamar hotel, Taeyeon-a?” selidik Hyungsik. Otaknya otomatis memiliki spekulasi negatif pada Taeyeon, namun ia belum ingin beranggapan buruk dulu. Karena jelas yang dilihatnya di lobi hotel tadi adalah Jiyeon dan laki-laki berambut cokelat ini, bukan Taeyeon.

“Yang tidur dengan laki-laki ini—” Taeyeon melirik Myungsoo sebagai isyarat, “—adalah aku”

“Taeyeon, cukup!” jerit Jiyeon, matanya begitu panik menatap Hyungsik, “Oppa, itu tidak benar. Aku yang—”

“Berhenti melindungiku, Jiyeon!” bentak Taeyeon, “Aku. Aku yang menyuruhmu mengantar Myungsoo ke kamar ini, aku tidak ingin kau disalahkan karena Hyungsik oppa menangkap basah kau yang sedang membantuku”

“Oh, begitu…”

Tubuh Taeyeon terasa membeku, aliran darahnya juga seperti berhenti dipompa oleh jantung. Hanya dengan satu komentar sinis, sudah bisa membuat sekujur tubuhnya memucat seperti mayat. Bahkan tubuhnya masih begitu kaku waktu berbalik kebelakang. Itu dia. Orang yang membuatnya nyaris seperti kehilangan nafas.

Oh Sehun.

Pemuda itu berdiri tidak jauh dibelakangnya. Bersandar tepat disebelah pintu sambil melipat kedua tangan didepan dada. Mata hitam kelamnya menyalang, namun begitu dingin dan menusuk. Persis seperti tatapan seekor elang yang sudah siap membunuh seekor ikan kecil di sungai.

“Se..hun…” Taeyeon mengulurkan tangan kedepan hendak meraih kekasihnya. Dia perlu berbicara, sedikit… saja. Sayang, pita suaranya tidak mau bekerja sama. Nyaris seperti kaset kosong. Semua mata tertuju pada mereka berdua sekarang.

“Cih! Kau menjijikan, Kim Taeyeon” sinis Sehun berjalan menjauh.

“Tu-tunggu!” panggil Taeyeon berhasil meraih pergelangan tangan Sehun. Pemuda berambut hitam itu menoleh tanpa membalikkan badannya.

“Aku bisa—”

“Lepaskan tanganku” ucap Sehun dingin.

“Dengarkan aku dulu—”

“Cukup!” bentak Sehun menarik paksa tangannya.

“Sehun…” isak Taeyeon memohon. Tapi Sehun tidak bereaksi. Selain tatapan kebencian bercampur jijik, tidak ada lagi yang tersisa dari sorot mata kelamnya.

“Kau betul-betul menjijikan, Taeyeon-a. Kupikir aku dan uangku sudah cukup memuaskanmu, rupanya aku salah. Kau bahkan lebih rendah dari seorang pelacur” makian tajam Sehun langsung menusuk tepat sasaran. Menghancurkan hati Taeyeon menjadi bekeping-keping, nyaris menjadi butiran debu. Untuk kali ini, Taeyeon tidak bisa mempertahankan ekspresi kosong diwajahnya, air matanya telah jatuh diluar kendali. Terus bercucuran tanpa bisa dihentikan.

Sehun menarik nafas kuat. Ia tidak bisa seperti ini, ia harus segera pergi. Kalau matanya terus menatap iris Taeyeon yang basah oleh air mata, maka pertahanannya akan goyah. Sudah cukup, ia tidak ingin dihancurkan lagi oleh perempuan ini. Lama-lama matanya akan buta dan tak bisa lagi membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

“Kalau sudah selesai dengan kekasih barumu, cepat bereskan barang-barangmu dari apartemenku. Sebaiknya kau cari orang lain untuk memberikanmu uang lebih banyak” ucap Sehun dingin, melontarkan semua racunnya, memberi sengatan terbesar di aliran darah serta urat nadi Taeyeon. Begitu menyakitkan, begitulah cara Sehun meninggalkan Taeyeon membeku ditempatnya.

Benarkah ini? Sehun mengusirnya. Jadi… seperti inikah akhir dari hubungan mereka? Benar-benar sudah berakhir ya? Rasanya cepat sekali dunia mimpi yang indah hancur dari kehidupannya, menyisakan semua kepahitan yang nyata. Mengubur hidup-hidup hati seorang gadis yang baru saja berkembang, namun kini sudah membeku dan busuk. Seperti onggokkan bangkai yang menyerupai sampah. Sungguh membuat mual.

Taeyeon tersenyum miris, hatinya terasa berdenyut sakit. Semenjijikan itukah dirinya di mata Sehun? Kenapa kekasihnya itu bersikap seolah hanya dia yang membuat kesalahan, padahal Sehun juga pernah terlihat bermesraan dengan gadis lain. Hanya karena Taeyeon tidak berbicara, jadi Sehun masih bisa bersikap dirinya yang paling suci? Well, jadi Sehun menyuruhnya mencari laki-laki lain? Oke.

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepala sambil menghapus jejak air mata yang mengalir terus-menerus. Menyapu bersih semua cairan dimatanya seperti menyapu perasaannya terhadap Sehun. Sejujurnya dia mulai muak dengan semua perasaan—cinta—omong kosongnya. Baiklah, mulai hari ini ia akan mendapatkan uang dengan caranya sendiri.

Drrt~ drrt~

Taeyeon mengangkat teleponnya, “Aku menerima tawaran anda, Tuan”

Taeyeon mengepak semua barang-barang yang dari awal ia bawa ke apartemen Sehun kedalam sebuah koper miliknya. Gerakannya begitu cepat seakan tidak mau berlama-lama dan membuang waktu, ia tak peduli pakaian dan barang-barangnya tidak tersusun rapi, yang dipikirannya hanya ‘ia harus segera pergi’—sesuai apa yang Sehun katakan.

Sekarang air matanya tidak mengalir lagi. Mungkin sudah kering dan terlalu lelah, dan berpikir bahwa semuanya tak akan menjadi baik hanya dengan air mata, Taeyeon tak akan menangisi nasibnya lagi. Kini yang tersisa hanya raut wajah datar dan kosong—tameng untuk menutupi emosi sesungguhnya.

Acara mengepaknya sudah selesai, Taeyeon bangkit dari duduknya dan menarik kopernya pergi.

“Anda sudah selesai?”

Taeyeon mengangguk pada pegawai apartemen yang tadi mengantarnya ke apartemen Sehun. Bukan karena ia terlalu manja ingin dibantu pegawai untuk membawakan kopernya, tapi karena ia tidak bisa masuk. Sehun dengan cepat mengubah sandi apartemennya hingga ia harus meminta bantuan pegawai apartemen dan diawasi. Sedih, sebegitu bencinya kah Sehun padanya sekarang?

“Biar saya bawakan, nona” ujar si pegawai cepat-cepat mengambil alih koper Taeyeon.

Taeyeon tak bisa menolak. Pegawai itu pergi lebih dulu sementara Taeyeon masih terpaku diambang pintu kamar Sehun. Mengamatinya untuk terakhir kali, terlalu banyak kenangan dikamar itu, tak hanya kegiatan seks tapi semua kenangan manis ada disana. Bagaimana Sehun selalu menggodanya, memeluknya, berbagi cerita dengannya, bahkan berdebat. Dan Taeyeon menengadahkan kepala, tak ingin air matanya mengalir lagi. Tapi apa daya, air matanya jatuh walau dirinya melarang. Bukan air mata meratapi nasib, tapi ini murni air mata dari sakit hatinya—dari rasa cintanya yang tak berbalas.

Sebelum terlalu terhanyut ia berbalik dan memperhatikan sebentar ruang tengah, dapur dan ruangan-ruangan lainnya. Kenangan berputar seperti potongan-potongan film yang tak utuh. Dan Taeyeon yakin akan merindukan semua ini.

Aku pergi, Sehun-a. Benar-benar akan pergi jauh darimu. Apapun yang terjadi, tetaplah bahagia. Dan hal yang harus kau tahu……

….Aku memang suka uang. Tapi jangan berpikir hati dan pikiranku hanya mengatakan ‘uang’ setiap berada di hadapanmu. Uang kebutuhanku, bukan keinginanku. Keinginanku adalah bahagia walau mungkin aku tak pantas sama sekali. Aku benar-benar tak mempermainkanmu. Tidak….karena kau bukan orang yang aku butuhkan seperti aku membutuhkan uang, tapi kau orang yang aku inginkan seperti aku menginginkan kebahagiaan. Tapi tak akan ada yang berubah, kan?
Maaf.

Taeyeon & semua kebohongannya.

Sehun masih terpaku pada tulisan tangan yang tertera disecarik kertas. Taeyeon meninggalkan pesan terakhir, seperti dia akan menghilang tertelan bumi. Dan Sehun merasa janggal dengan dua kalimat disana, ada sesuatu yang tersirat. ‘….karena kau bukan orang yang aku butuhkan seperti aku membutuhkan uang, tapi kau orang yang aku inginkan seperti aku menginginkan kebahagiaan….‘ Otak Sehun berpikir keras mencari apa maksud kalimat itu.

Dan seperti perkiraan, otaknya memang tak bisa sisuruh berpikir. Diremasnya kertas itu kuat-kuat, “Sialan. Bahkan dia tetap membuatku memikirkannya disaat ia telah melakukan kesalahan besar!”

Drrt~

Sehun langsung mengangkat teleponnya di getaran pertama, rupanya ponsel itu sangat dekat dengannya dan ia terlalu emosi, “Katakan maksudmu”

See, bahkan tak ada salam pembuka.

“Nyonya Oh menginginkan anda menjemput nona Hayoung di bandara, Tuan”

“Apa? Orangtua itu, memang Hayoung anak kecil yang tidak bisa pulang sendiri?” Dengus Sehun.

“Hanya itu perintah Nyonya Oh. Pukul satu siang ini”

“Oh, shit!”

“Saya akan segera menjemput anda. Selamat siang”

Sehun melempar ponselnya sedikit keras ke meja.

Keras kepala.

Begitulah watak asli Oh Sehun sejak lahir. Tidak memandang bagaimana cara orang lain menilai, baginya selama itu salah, selamanya ia akan memandang salah. Tidak ada pengecualian, dan jangan berharap keputusan yang sudah ia tetapkan akan diubah semudah menyapu pasir ditepian pantai. Terkadang ia bisa menjadi lembut, tapi disaat bersamaan dia juga bisa menjadi keras. Tak heran, wajahnya selalu berkerut hingga mampu membuat seorang anak TK menangis hanya dengan melihat wajahnya saja. Bahkan disaat santai begini, tidak ada tanda-tanda bahwa tekukan wajahnya akan hilang. Malah semakin menjadi.

“Aku mau yang itu~”

Sehun menggeram kesal sambil mengusap muka, matanya melirik bosan pada gadis berambut hitam yang tengah bergelayut manja di lengan kanannya, “Sudah kubilang sejak tadi. Ambil saja yang kau suka”

Gadis manis tersebut tersenyum simpul, semakin manja mengeratkan gandengannya, “Tapi jangan pakai kartu kreditku ya?”

“Uang yang aku kirim minggu lalu memang sudah habis?”

Gadis itu tersenyum lebar, membuat Sehun semakin menggeram jengkel. Tidak perlu ditanyakan lebih banyak lagi. Sudah jelas gadis manis itu telah menghabiskan semua uang pemberiannya dalam waktu satu minggu. Begitu manis, tapi amat sangat boros. Dompetnya benar-benar akan dikuras habis hari ini. Kalau bukan karena ibunya yang memaksanya untuk menjemput adik menyebalkannya ini dibandara, mungkin sekarang Sehun tidak perlu susah-susah mengikuti adiknya berbelanja. Ia masih punya banyak kerjaan. Tapi apa daya, Sehun tak bisa mengelak, jadi di mall inilah keduanya—ah, tidak hanya berdua tapi ada Yonghwa juga mengekor dibelakang. Dari tadi si asistennya itu terus mencibir seakan memperolok dirinya karena sudah mau disibukkan oleh seorang gadis manja. Dasar asisten sialan, awas saja nanti.

Sehun mendengus ringan, “Kerjaanmu di California bukan untuk sekolah kan? Kau hanya menghamburkan uang saja”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya menanggapi Sehun.

“Ambil barang-barang yang kau suka, Hayoung-a. Lalu kita segera pergi dari sini. Jam empat nanti aku ada meeting” ujar Sehun melirik jam tangannya.

“Terimakasih~” Oh Hayoung langsung terlonjak gembira, mengecup pipi Sehun dan segera berhambur menghampiri beberapa pakaian yang sudah menjadi incarannya sejak tadi.

Wajah manisnya berbinar senang memilih pakaian. Menghampiri cermin untuk mencocokkan warna serta model sesuai dengan favoritnya. Ini kesempatan langka, kapan lagi dia bisa berbelanja pakaian mahal tanpa harus mengeluarkan uang. Meskipun memakai uang orang lain—well, siapa peduli. Lagipula Sehun bukan orang lain, dia kakak kandungnya. Dan semua orang tahu kalau Oh Sehun adalah orang berkantong tebal.

“Sebaiknya warna pink atau pastel ya?” gumam Hayoung mencocokkan bergantian model pakaian sama tapi berbeda warna didepan cermin.

“Ambilah warna pastel” saran seseorang yang entah kenapa sudah berdiri disampingnya.

Gadis itu sedikit terkesiap, namun sedetik kemudian tersenyum ramah. Laki-laki berambut dark brown, memakai kaos sederhana bewarna kelabu, penampilannya hampir sempurna dengan balutan jins yang membalut kaki panjangnya. Tampilan laki-laki perayu, namun sepertinya tidak berbahaya, “O ya? Benarkah cocok?”

Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum ramah.

Hayoung tetawa rendah, menyelipkan beberapa helai rambut kebelakang telinga, “Katakan padaku, kenapa aku harus memilih warna pastel?”

“Karena—”

“Apa sih yang membuatmu begitu lama…?” kesal Sehun memotong penjelasan si rambut dark brown.

“Ah, sebentar” Hayoung menoleh, “Aku sedang berdiskusi warna dengan laki-laki manis ini” matanya mengedip nakal kepada laki-laki asing itu.

“Huh?” Sehun menoleh kepada laki-laki yang dimaksudkan, mata hitamnya langsung mendelik curiga.

Kim Taehyung?

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” sinis Sehun.

Taehyung tersenyum simpul, kembali menoleh ramah pada sang gadis, memasukkan sebelah tangan ke saku jins karena sebelahnya lagi memegang rangkaian bunga Krisan putih, “Tidak ada alasan yang pasti, aku menyarankan warna pastel karena…” mata Taehyung melirik Sehun sekilas, lalu kembali perhatiannya pada Hayoung, “Aku teringat pada adikku. Dia suka warna pastel. Aku takut calon suaminya membelikan warna yang terlalu terang untuk gaun pengantinnya”

“Adikmu akan menikah?” sahut Hayoung riang, “Aah, selamat ya…”

Taehyung mengangguk pelan, “Dia memang harus menikah meskipun dia baru wisuda SMA. Kalau tidak, dari mana kami bisa mendapat uang kalau bukan dari suaminya yang sudah memiliki tiga istri itu” Taehyung tergelak ringan ketika bercerita, begitu santai seakan ia sedang membahas masalah cuaca.

Wajah Hayoung menjadi murung, merasa serba salah disaat bersamaan. Gadis yang baru memasuki kuliah jurusan seni itu merasa tidak enak hati mendengar masalah keluarga orang lain. Terlebih lagi itu adalah masalah yang berat. Menikah untuk membiayai kehidupan keluarga? Perempuan mana yang ingin berakhir seperti itu? Beruntung kedua orangtuanya cukup mampu membiayai kehidupannya.

“A-aku… minta ma—”

“Aku cuma bercanda” sela Taehyung terkekeh.

Gadis itu mendengus. Sedikit merasa lega bahwa kisah teragis barusan hanya gurauan, tapi sedikit merasa jengkel juga karena sudah dipermainkan. Laki-laki ini sebenarnya tahu cara menempatkan lelucon tidak sih? Lama-lama jadi membosankan—

“Lagipula adikku tidak akan menikah dengan orang itu, dia kan—” lagi-lagi Taehyung berekspresi aneh, memandang kosong pada baju berwarna pastel di pajangan, “—sudah mati”

Deg

“Lucu sekali selera humormu, Kim Taehyung” sinis Sehun melipat kedua tangan didepan dada. Matanya begitu memandang jijik Taehyung. Adik dan kakak setali tiga uang, sama-sama pandai berakting. Tapi tak dipungkiri, ia sedang menyangkal hal yang dikatakan Taehyung. Hatinya berdetak resah.

Taehyung menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih bersikap santai meskipun dua orang dihadapannya mulai berekspresi tidak enak karena merasa dipermainkan. Bagaimanapun juga, hanya ia sendiri yang tahu mana yang benar diantara semua yang sudah ia ucapkan. Taehyung akhirnya tersenyum ringan sambil melambaikan tangan di udara, “Sudahlah, aku harus mencari bunga Krisan tambahan untuk adikku”

Setelah berbicara begitu, Taehyung berlalu dari hadapan kakak-beradik Oh. Hayoung melongo dengan pandangan mengikuti punggung Taehyung yang menjauh.

“Laki-laki yang aneh” komentar Hayoung.

“Jangan pedulikan dia” ucap Sehun, “Kalau sudah selesai, ayo kita pergi”

“Hasil kerjamu bagus, Tuan” komentar Yonghwa membolak-balik halaman tiap folder kantor.

“Aku ragu itu pujian” sinis Sehun. Tidak ada salahnya kan mencurigai perkataan asistennya sendiri? Karena hampir sepanjang waktu kata-kata yang keluar dari mulut Yonghwa 50% adalah kata-kata sindiran, 35% berupa ucapan sinis, dan sisanya omong kosong.

Yonghwa menyeringai kecil, “Yakin tidak ingin aku menyelidikinya lebih lanjut?”

“Menyelidiki apa?”

Yonghwa mengangkat kedua pundak, “Kau tahu apa dan siapa yang ku maksud. Siapa lagi kalau bukan pelacur kecilmu”

Sehun mendengus, melipat kedua tangan serta memalingkan wajah kearah jendela kantor, “Aku tidak butuh apapun lagi darinya. Dan kau lihat sendiri, pekerjaanku malah semakin membaik semenjak hubungan kami berakhir”

“Tapi yang bekerja bukanlah Oh Sehun yang punya gairah dan ambisi untuk dicapai. Yang kulihat sekarang adalah Oh Sehun si mesin kerja, tidak punya semangat, hanya seperti robot tanpa perasaan”

Sehun semakin menajamkan matanya memandang keluar jendela. Mengamati pergerakan awan mengikuti arah angin berhembus, “Sekarang kutanya, apakah Taeyeon datang ke hotel pada saat itu karena dihubungi lebih dulu oleh seseorang?”

Yonghwa melirik bingung, membetulkan sedikit posisi kaca matanya sebelum menjawab, “Ya”

“Berapa lama mereka didalam hotel?”

“Sekitar dua jam”

Sehun mengangguk, “Waktu yang cukup untuk melakukan seks”

“Kau terlalu cepat menyimpulkan, Oh”

“Bagiku semua bukti itu sudah lebih dari cukup”

Yonghwa berdecak ringan, tersenyum sinis sambil mengembalikan folder-folder laporan pada tumpukannya lalu kembali memeriksa yang berikutnya, “Kau tidak ingin menyelidikinya lebih jauh karena takut bukan?”

“Takut?”

“Ya. Kau takut menerima kenyataan kalau ternyata Kim Taeyeon memang berselingkuh dibelakangmu. Jadi kau mengambil kesimpulan yang terpenting, lalu mengabaikan hal-hal kecil lainnya. Tidak ingin bergerak lebih jauh karena takut dengan komplikasi. Kau pikir dengan bertindak begitu bisa mengurangi rasa sakit?”

“Hentikan omong kosongmu, Jung Yonghwa” gertak Sehun.

“Cih! Lagi-lagi kau menganggap perkataanku sebagai sampah. O ya, tadi kata Kim Taehyung, adiknya sudah meninggal. Kau percaya?”

“…”

Mata Yonghwa melirik sekilas pada Sehun. Laki-laki berambut hitam itu masih memandang keluar jendela dengan ekspresi begitu kaku. Yonghwa tahu sedikitpun Sehun tidak akan memberi tanggapan lagi pada topik pembicaraan mereka. Menyebut nama seorang Taeyeon saja sudah membuat wajahnya tegang, apalagi kalau harus membahas lebih jauh lagi.

“Kurasa Kim Taehyung berkata jujur” lanjut Yonghwa, mengabaikan atasannya yang semakin berwajah tegang dan meraih telepon di meja kerja, “Semenjak kalian putus, aku masih mengawasinya. Dan kulihat—”

“Kubilang, cukup!” tegas Sehun, “Dia mau mati, atau mau menikah dengan orangtua beristri tiga manapun aku tak peduli. Dan jaga bicaramu Jung Yonghwa, aku atasanmu”

“Shit, kemana Jia? Sekretaris sialan itu mau aku pecat sepertinya” gerutu Sehun menekan tombol re-dial telepon.

Yonghwa terkekeh ringan, “Jelas-jelas kau sudah gila karena gadis itu, Oh”

Sehun membanting telepon kembali pada tempatnya. Tampaknya Sehun semakin kesal karena sekretarisnya tidak bisa dihubungi, dan Yonghwa tak berhenti memancing emosinya, “Tutup mulutmu!”

“Kau masih saja tidak sadar dengan sikap kurang warasmu itu, heh? Baru sekian menit kita berbicara tentang Kim Taeyeon, fokus serta memori otakmu sudah buyar entah kemana. Sampai-sampai sekretaris yang kau pecat saja sudah lupa”

“Aku memecat Jia?”

Yonghwa memutar bola mata bosan. Heran, bisa-bisanya punya atasan bermemori singkat, “Sejak Jia duduk diatas meja kerjamu dan mencoba merayumu. Kau bahkan membuatnya menangis karena kau hina habis-habisan. Ingat?”

“Oh, Tuhan” Sehun memijit pelipisnya pelan. Tentu ia mengingatnya, kejadian itu seminggu yang lalu, masa ia lupa kalau sekarang sudah memiliki sekretaris baru. Meskipun sudah putus, Taeyeon nyaris memegang kendali pikirannya hingga membuat otaknya kacau. Iblis kecil sialan!

 

To be continue

NOTE : Annyeong! deeHAYEON here! Aku sedikit review komentar di chapter sebelumnya yaa.
Umm, ada yang berpendapat dichapter 8 banyak typo dan ada yang bilang hanya sedikit typo. Aku menghitung, ada 3 typo disana dan itu penempatan huruf a yang berlebihan.
Ada yang ga ngerti sama cerita chap 8, dan ada yang menyarankan agar membacanya tidak terlalu buru-buru. Itu sangat benar, disarankan membaca saat santai dan pelan-pelan, jangan terburu-buru apalagi hanya membaca dialognya saja.
Nah, untuk chapter kali ini maaf kalau kurang sempurna. Ga ada moment HunTae tuh, tanda-tanda mau ending. Dan itu benar! Seperti yang sudah aku janjikan, setelah MONEY selesai maka MMLY dan DESTINY yang akan berjaya, hoho.
Peringatan! Aku masih akan main protek di dua ff itu. Jadi pastikan komentar kalian sudah tercantum. Untuk mendapat password, masih gunakan format yang sama ya dengan Money.

Padahal aku target 100+ Comments, tapi di chapter 8 belum sampai 100 aku udah update. Anggaplah aku sedang bersemangat, karena minggu depan idul fitri. Minal Aidzin sebelumnya😊
Akhir kata, Komentar readers! 100+ Comments(ga akan ada diskon lagi)

Bye🤗

Advertisements

160 comments on “MONEY (Chapter 9)

  1. kasian sehun jadi berantakan kya gto karna kehilangan taeyeon,tapi bisa di mengerti kalo sehun salah paham sma taeyeon,salut sama taeyeon setia kawan bgt….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s