MONEY (Chapter 8)

 

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

BAIK DIKONSUMSI SETELAH BERBUKA PUASA! JIKA KALIAN KERAS KEPALA, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING!

Preview : Prologue + Introducing Cast Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7

 

 

 

Gemetar, tangan Taeyeon mendekati dompet Sehun. Untuk kali ini, setidaknya biarkan dia mendapatkan uang secara tidak baik. Meskipun mencuri, dan meskipun itu diluar kebiasaannya—

‘Maafkan aku, Sehun-a’ batin Taeyeon. Ia membuka dompet Sehun, menghitung lembaran uang sesuai yang dibutuhkan.

“Butuh uang berapa?”

Taeyeon terkesiap dan menjatuhkan dompet yang dipegangnya ke lantai.

 

 

Eight​​

 

Bodohnya ia tidak mendengar suara orang masuk kekamar.

Itu Sehun.

Pemuda itu pasti kembali karena sadar dompetnya sudah tertinggal, dan sekarang—Sehun menangkap basah dirinya yang sedang mencuri.

“S—Sehun…”

Serius, Taeyeon benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Seluruh sel otaknya beku untuk mencari alasan. Sehun membungkuk, memungut dompet yang terjatuh dilantai. Meskipun sudah melihat Taeyeon mengobrak-abrik dompetnya, laki-laki berambut hitam itu tidak memeriksa ulang isi dompet atau memastikan jumlah uangnya tidak berkurang, sama sekali tidak bertindak seperti orang yang curiga pada kelakuan Taeyeon yang jelas-jelas akan mencuri.

“Kau butuh uang berapa?” ulang Sehun, datar.

Marah kah?

“A-aku… aku…” wajah Taeyeon kian memucat.

Drrt… drrt~

Ponsel Taeyeon bergetar di meja rias.

“Jawab ponselmu” perintah Sehun tapi hanya reaksi beku dari Taeyeon. Sehun menghela nafas dan meraih ponsel Taeyeon. Walaupun telah menekan tombol jawab, ia tidak berbicara apapun ketika ponsel ditempelkan ditelinga.

“Taeng! Kenapa lama sekali? Uang satu jutanya sudah ada kan?”

Sehun menebak itu suara Park Jiyeon. 
Tanpa mendengar lebih lanjut ocehan Jiyeon, Sehun memutuskan panggilan. Tangannya langsung mengeluarkan semua uang dari dompet. Di sodorkannya uang itu bersamaan dengan ponsel ketangan Taeyeon.

“Aku akan pulang terlambat” ucap Sehun menyimpan dompetnya kesaku.

Hanya itu. Cuma itu saja yang Sehun katakan, lalu pergi. Sedikitpun pemuda berambut hitam itu tidak menyebut-nyebut tentang Taeyeon yang sudah tertangkap basah mencuri. Apakah karena sedang terburu-buru, jadi Sehun tidak mengatakan sepatah katapun? Tidak bertanya alasan mengapa ia melakukan semua ini? Lalu, bagaiamana nanti—setelah pemuda itu pulang?

Tubuh Taeyeon merosot ke lantai. Sekarang harus bagaimana?

“Cari dan urus semuanya”

“…”

“Aku atasanmu. Turuti perintahku!”

“…”

“Sialan” umpat Sehun mematikan teleponnya dan mempercepat langkahnya meninggalkan gedung apartemen yang ditinggalinya bersama Taeyeon.

Kesal. Ia benar-benar merasa sangat kesal, marah dan jengkel.

“Kau tidak berubah, Tae”

Langkah gontai mewakili ekspresi putus asa yang begitu tergambar di wajahnya. Kaki-kaki mungilnya seperti berjalan tanpa arah meskipun jelas dia tengah berjalan di koridor rumah sakit, menuju tempat Jiyeon menunggu.

Taeyeon mendesah lemah.

Lagi-lagi dia menghancurkan kepercayaan Sehun. Mengapa otaknya begitu bodoh sampai-sampai bisa mengendalikan dirinya untuk mengambil uang tanpa seizin si pemilik? Walaupun sewaktu kecil saat tinggal di panti asuhan Taeyeon pernah mencuri—bersama Taehyung, yang dicurinya adalah orang-orang tidak tahu diri yang sombong dan suka memperlakukan anak yatim piatu seperti onggokkan sampah. Jelas Sehun bukan salah satu yang memiliki sifat sama seperti mereka. Sehun berbeda. Pemuda itu selalu perhatian dan tak pernah bersikap pelit. Dan sekarang—hanya karena uang satu juta—dia sudah mengacaukan segalanya.

Bagaimana cara memberbaikinya? Masihkah Sehun mempercayainya? Atau—haruskah ia menceritakan semua tentang ibunya pada Sehun? Dia tidak mau dikasihani, tapi dia juga tidak mau dianggap sebagai wanita gila uang—walau ia sangat membutuhkannya.

Ada yang aneh… kenapa selama ini Sehun tidak pernah bertanya kemana perginya semua uang yang telah dia beri? Yah, sebenarnya wajar. Sehun memang begitu disibukan oleh pekerjaan, tidak ada guna bagi kekasihnya mencari tahu kemana perginya sebagian ‘kecil’ uangnya yang diberikan kepada Taeyeon. Ya, tidak ada gunanya bagi Sehun.

“Taeng~” Jiyeon muncul dari salah satu pintu ruang rawat, membuyarkan lamunannya.

Taeyeon memaksakan senyum di bibirnya, tangannya mulai merogoh isi tas untuk mengeluarkan uang yang dibutuhkan. Kalau tidak segera diberikan, sepupunya bisa saja mulai mengoceh hingga membuat telinganya tuli—

“Kekasihmu benar-benar baik”

Huh?

“K-kekasih?” Taeyeon sedikit tergagap.

Jiyeon mengangguk riang, “Beberapa menit yang lalu ada seorang pria yang mengaku sebagai bawahan kekasihmu mengurus semua biaya pengobatan Hyerim-jumma sampai selesai, kau tahu sampai Hyerim-jumma benar-benar sembuh. Jadi kita tidak perlu bekerja keras lagi”

“Bagaimana bisa?” gumam Taeyeon hampir melongo.

Jiyeon langsung memasang wajah jengkel sambil menyilangkan tangan didepan dada. Terkadang sepupunya yang sangat pintar ini bisa menjadi sedikit lamban, “Tentu saja bisa. Kekasihmu kan orang kaya”

“Bukan—” Taeyeon menggelengkan kepala, bersusah payah menelan ludah, “Bukan itu maksudku”

“Lalu apa?”

Sejenak Taeyeon membuka mulut, namun dia menggeleng cepat. Tidak ada gunanya bercerita pada Jiyeon, lebih baik dia mencari keputusan sendiri.

“Aku harus pulang”

Terlalu banyak beban pikiran yang memukul, membuat Taeyeon benar-benar lumpuh dan tidak tahu lagi harus bertindak apa. Semua berjalan terlampau membingungkan. Beribu-ribu pertanyaan selalu muncul membayangi. Apakah selama ini Sehun sudah tahu masalah ekonomi keluarganya? Lalu, untuk apa laki-laki itu memberinya uang tadi pagi? Apa ini sekedar lelucon?

Taeyeon menggeram jengkel. Dia benar-benar ingin tahu bagaimana cara Sehun menilainya. Kalau ini memang sebuah lelucon, jelas tidak lucu. Maka tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghentikan permainan. Tapi… bagaimana kalau ini bukan lelucon? Dan, jika Sehun tulus, bagaimana? Dia harus bersikap bagaimana?

Lelah memikirkan semua pertanyaan yang tak terjawab diotaknya, sambil menyetop taxi ia mengeluarkan ponselnya. Taeyeon mulai memberanikan diri menghubungi seseorang yang bisa segera menghubungkannya dengan Sehun. Tidak ada waktu menunggu hingga Sehun pulang. Mereka berdua perlu bicara.

“Setelah lift terbuka di lantai teratas, anda akan langsung menemukan pintu ruang kerja Tuan Oh” terang Yonghwa datar seperti biasa.

Mata asisten CEO itu sesekali melirik jam dipergelangan tangan dengan malas. Ia sepertinya harus mengatur ulang jadwal atasannya. Memang harus. Soalnya ia sekarang seperti petugas yang sedang mengantarkan kesukaan sang bos yang sudah siap santap. Yonghwa kenal watak Sehun, daripada menghadiri meeting bernilai milyaran won Sehun jelas lebih memilih melakukan seks dengan kekasih mungilnya sebagai penghilang stress. Dasar atasan pedofil, selalu suka seks, tapi anehnya sekalipun pekerjaannya tidak pernah terganggu. Yah, selagi hobi sang atasan tidak merusak kinerja kerja, ia tak pantas memprotes apapun.

“Kita sudah sampai” lagi-lagi cuma Yonghwa yang berbicara, “Anda bisa pergi sendirian kan, Taeyeon-ssi?”

“Ya” Taeyeon mengangguk, “Terimakasih sudah mengantarku, Yonghwa-ssi”

Yonghwa mengangguk, kemudian menghela nafas malas, “Pastikan saja pakaian anda tetap lengkap waktu pulang nanti”

Taeyeon membungkukkan badan tanda terimakasih, kakinya begitu kikuk meninggalkan lift, bagaimanapun juga ia tidak ingin Yonghwa melihat pipinya yang memerah karena perkataannya barusan. Prediksi Yonghwa cenderung tepat, tak jarang laki-laki itu memasuki apartemen Sehun ketika dirinya dan Sehun hanya terbungkus selimut disofa. Wajar kalau Yonghwa menjadi hafal dengan kebiasaan Sehun yang tidak bisa menjaga tangan sendiri ketika Taeyeon di dekatnya. Tapi perlu diingat lagi, tujuannya kesini memang untuk berbicara dengan Sehun, sayangnya tidak menutup kemungkinan ada seks meja sebagai tambahan.

Melakukan seks di atas meja kerja Sehun? Apa rasanya?

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepala, sesekali tangannya akan menepuk pipi sendiri. Ingat! Dia cuma ingin berbicara, jangan mulai memikirkan hal-hal menyimpang lainnya.

Jarak lift dengan ruangan Sehun memang tidak begitu jauh, baru beberapa langkah kaki Taeyeon—yang terbiasa melangkah pendek karena ukuran tubuh—ia sudah hampir tiba. Dari jarak ini saja meja kosong sekretaris yang terletak disebelah pintu ruang Sehun telah terlihat.

Kosong?

Taeyeon menjilat gugup bibirnya yang kering. Tadi Yonghwa mengatakan Sehun berada diruangannya. Huh? Jadi dia harus mengetuk sendiri pintunya. Tangan Taeyeon begitu berkeringat menyentuh gagang pintu, jatungnya terus berpacu memukul-mukul dari dalam seolah akan melompat keluar.

Oke, tenang… tinggal buka pintunya dan—

Taeyeon cepat membekap mulutnya agar tidak menjerit. Ada. Didalam sana kekasihnya sedang duduk di kursi kerja, punggung pemuda itu begitu santai bersandar pada sandaran kursi, dan satu pemanis disana. Seorang gadis berambut pirang duduk di atas meja menghadapi Sehun. Lewat potongan kemeja yang begitu pas di badan, tubuh gadis itu memiliki lekuk yang indah. Dengan senyum menggoda, gadis itu mencondongkan badan kedepan, seakan menawarkan pemandangan dadanya—yang dipastikan dua kali lebih besar dari milik Taeyeon—pada Sehun.

Sehun melipat tangan didepan dada, memiringkan kepala sambil menyeringai nakal. Ekspresi ini…

Oh, Tuhan… jangan…

“—yang aku takutkan… kalau ternyata kekasihmu memuaskan diri ditempat lain juga

Taeyeon menggelengkan kepalanya kuat. Tidak, Sehun tidak mungkin bermain dengan wanita lain. Mustahil Sehun melakukannya. Pemuda itu pernah berkata kalau ia hanya menginginkan Taeyeon seorang.

Heh, seorang?

Adakah Sehun mengatakan ia hanya ingin Taeyeon—dan tidak ada yang lain?

Dua tetes cairan meluncur melewati lekuk pipi, lalu bermuara di ujung dagu. Tidak pernah. Sehun tidak pernah mengatakan kalau ia tidak menginginkan gadis lain selain dirinya. Dia cuma bilang ‘ingin Taeyeon’, tidak ada embel-embel ‘lain’.

Hadapilah, Taeyeon. Pada kenyataannya Sehun memang tidak puas dengan satu gadis. Laki-laki berambut hitam itu memang hampir sepanjang waktu melakukan seks dengannya di apartemen, tapi itu bukan jaminan bahwa di tempat lain Sehun tidak bisa. Di kantor misalnya. Contohnya…

“Sekarang” isak Taeyeon nyaris seperti bisikan angin.

Apakah kali ini dia ingin menyangkalnya lagi? Ini sudah cukup jelas meskipun berkali-kali lagi ia sangkal. Ini nyata, hatinya betul-betul sakit melihat Sehun bersama gadis lain. Nyaris seperti dihujam beribu tusukan.

Benar.

Perasaan ini… Taeyeon telah jatuh cinta pada Sehun.

Taeyeon berlari menuju lift. Langkahnya begitu gemetar hingga sedikit bertabrakan dengan orang-orang yang baru keluar dari lift. Gadis itu tidak begitu ambil pusing dengan sifat kurang sopannya, meskipun orang yang ditabraknya sedikit mengumpat dan terus memandang aneh padanya, Taeyeon tetap acuh membiarkan pintu lift tetutup sepunuhnya. Tubuh mungilnya langsung merosot begitu bersandar ke dinding lift yang begitu dingin, sedingin hatinya. Matanya terpejam erat, jari-jarinya meremas tali tas melebihi kekuatan yang wajar.

Jangan menangis, Taeyeon. Jangan…

Tidak bisa. Meski otaknya melarang sekalipun, tetesan cairan bening lagi-lagi lolos dari pelupuk matanya. Ia sakit. Inilah akibatnya melanggar peraturan kecil seorang wanita penghibur di atas ranjang, jangan pernah jatuh cinta pada orang yang kita layani.

Bruk~

“Gadis sialan… pakai matamu!”

“Hey! Jalan itu lihat-lihat”

“Dasar gadis aneh!”

Cacian demi cacian Taeyeon terima dari pejalan kaki yang ditabraknya, tak jarang Taeyeon menuburuk mereka hingga jatuh dan barang-barang bawaan mereka terjatuh di trotoar jalan, tapi ia berekspresi datar-datar saja. Tak merasa bersalah sedikitpun. Orang-orang mungkin menyangka dia anak badung yang bolos sekolah dan malah mabuk-mabukkan. Tapi ia tidak, ia tidak mabuk. Pikirannya hanya kosong tak tahu harus berpikir apa.

Langkah gontai dan tak punya semangat hidup itu tanpa sadar membawanya kesebuah kawasan perkantoran disisi lain pusat kota. Kakinya melangkah menyeberangi jalan besar. Namun ia tidak memperhatikan rambu lalu lintas yang masih menyala untuk kendaraan, beberapa orang yang juga akan menyeberang melihat Taeyeon panik dan berteriak untuk memperingati. Sayangnya, otak Taeyeon terlalu kosong untuk menghiraukan orang-orang itu, hingga sebuah mobil hitam metalik melaju kearahnya. Taeyeon menoleh dan….

“Arrgghh!” Taeyeon berteriak menyadari mobil hitam yang melaju kencang kearahnya. Ia menutup mata erat-erat. Berpikir, mungkin dirinya tak akan utuh lagi setelah ini, atau mungkin inilah saat terakhirnya hidup di dunia.

Oh Sehun… dan bagusnya hanya satu nama yang terlintas dipikirannya.

Ckiiit~

Nafas Taeyeon terengah-engah dan saat membuka mata, mobil itu telah berhenti tepat saat menyentuh sedikit lututnya. Taeyeon terisak dan roboh saat itu juga.

“Nona, kau baik-baik saja?”

Hanya teriakan panik itu yang didengarnya terakhir kali sebelum pandangannya benar-benar menggelap dan Taeyeon tak mengingat apapun lagi.

“Bagaimana keadaan nona tadi, dokter?”

Seorang dokter membenarkan sedikit kacamatanya kemudian membaca selembar kertas hasil lab, dihadapannya duduk dua orang pria, yang satu berekspresi khawatir dan yang lain bersikap acuh dan tak mau tahu.

“Keadaannya sangat baik, dia hanya sedikit stress danshock sehingga pertahanan tubuhnya menurun. Selain itu, dia sedikit kekurangan nutrisi karena melewatkan waktu makan. Tidak ada luka serius yang disebabkan kecelakaan, hanya luka gores dilutut dan kedua siku lengannya” jelas dokter tersebut sebelum melipat kertas hasil lab, “Anda tidak perlu khawatir, semuanya sudah ditangani dengan baik, hanya tinggal menunggu Nona Kim sadar kemudian dia boleh langsung pulang”

Salah satu pria dihadapannya mengangguk dan memghela nafas lega, pria itu menoleh kepada pria lain disampingnya, “Maafkan saya, Tuan Kwon. Perjalanan meeting anda harus terhambat karena kejadian ini”

Pria yang sedari tadi bersikap acuh dan berwajah datar hanya mengangkat bahu, “Ini sudah terjadi, kan? Cepat selesaikan administrasinya. Kita harus segera pergi”

Bawahannya mengangguk dan membungkuk sebelum keluar dari ruang dokter. Dokter yang masih terduduk disana tersenyum, “Anda bisa menjenguk pasien diruang rawat sekarang, Tuan”

Jiyong menaikkan sebelah alisnya. Dia ingin tertawa, kesannya dia adalah pria baik hati yang dengan senang hati menjenguk temannya yang terkena musibah kecelakaan. Tapi setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya.

“Baik. Terimakasih, dokter” Jiyong menjabat tangan dokter itu kemudian melangkah menuju ruang rawat VVIP tempat korban-nyaris-tertabrak-mobilnya.

Bau obat-obatan langsung menyerang indra penciumannya begitu pintu ruang rawat dibuka. Seorang gadis terbaring disana. Lukanya telah dibalut dan kini dia sedang beristirahat. Jiyong mendekati ranjang, memperhatikan lekat-lekat wajah gadis yang masih menutup matanya itu. Cantik. Ya, Jiyong mengakui itu, namun ada gurat kelelahan diwajah cantik itu. Setelah apa yang dilakukan gadis yang ia ketahui bermarga Kim tersebut dijalanan, membuatnya berpikir mungkin gadis ini frustasi dengan beban hidupnya hingga ia berniat bunuh diri. Konyol sekali.

Eh, sejak kapan Jiyong begitu peduli pada orang disekitarnya? Jiyong tersenyum sinis kepada dirinya sendiri.

Oke, sekali lagi Jiyong mengakui gadis itu memiliki pesona yang cukup kentara untuk mempengaruhi intensi para laki-laki, termasuk dirinya. Lihat matanya yang tertutup bagai bulan sabit, hidungnya yang tak terlalu mancung namun pas diwajahnya, pipinya sedikit berisi, bibirnya berwarna peach alami dan dagu yang terpahat sempurna. Bagus, gadis itu berhasil menarik perhatian Jiyong.

Jiyong tersenyum simpul menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi gadis itu. Merasakan kelembutan rambut itu membuat tangannya betah berlama-lama.

“Sangat menarik” gumamnya.

“Tuan Kwon” Jiyong langsung menyingkirkan tangannya yang menyentuh gadis itu, kemudian menoleh pada asistennya, “Kita bisa berangkat sekarang?”

Tanpa menjawab, Jiyong menatap gadis Kim itu sekali lagi, ia tersenyum sedikit lebih lebar, “Sampai jumpa, Nona Kim” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang rawat diikuti asistennya.

“Aku ingin kau mencari tahu semua mengenai gadis tadi, Lee Jun-ssi” ujar Jiyong.

“Gadis Kim yang nyaris kita tabrak?” Tanya Jun memastikan.

“Ya. Semua tentangnya dan semua orang yang berhubungan dengannya”

“Baik, Tuan” Lee Jun hanya bisa menurut. Selain suka melihat perusahaan pesaingnya terpuruk digenggaman tangannya, atasannya juga tak segan mematahkan tangan bawahannya yang berani membantah. Ahh, sepertinya pekerjaannya akan sedikit bertambah sekarang.

Sehun keluar dari kamar mandi sambil meregangkan otot-ototnya. Mandi air hangat sama sekali tidak membantu mengurangi rasa lelah. Pekerjaan di kantor membuatnya seperti robot yang tidak berhenti memproduksi lembaran uang. Sekarang pertengahan Desember, dan cuaca diluar sungguh sialan dingin. Lengkaplah sudah, otot kaku, cuaca dingin, dan hasilnya… ia ingin seks.

Ughh… kubur saja keinginan itu. Walaupun kakinya telah menginjak lantai kamar, tetap ia tidak bisa melakukannya karena Taeyeon-nya sudah tidur. Ini pukul sebelas malam, tidak seharusnya orang-orang masih terjaga. Yah, kecuali dirinya sendiri.

Sehun mendesah sedih, setelah memakai piyama lengkap ia langsung masuk kedalam selimut bergabung dengan kekasihnya. Tangannya terjulur memeluk Taeyeon yang tidur memunggunginya, mengubur hidungnya di rambut beraroma campuran lemon dan mint milik kekasihnya, menghirupnya dalam-dalam dan sukses membuat bagian bawahnya menegang. Sial, dasar iblis kecil. Aroma ini memang selalu membuat dirinya terangsang dua kali lebih cepat. Apa sebaiknya Taeyeon dibangunkan saja?

Walau sedikit ragu, tangan Sehun perlahan merambat masuk kedalam kaos tipis yang Taeyeon kenakan. Temperatur udara begitu dingin, tapi gadis mungilnya tetap memakai kaos miliknya saat tidur. Jelas kaos itu kebesaran. Sehun menyeringai geli, disaat tidurpun Taeyeon selalu ingin menggodanya.

“Taeyeon…” bisik Sehun menggigit daun telinga Taeyeon, tangannya juga bergerak mengusap perut gadis itu.

“Nghh…”

“Bangun, sayang…”

Taeyeon mengeliat enggan, mencoba mendorong Sehun pergi, “Besok pagi saja, Sehun-a”

“Tapi aku mau sekarang…” bisik Sehun kian manja.

Sial. Laki-laki keras kepala.

Taeyeon membuka mata, pandangannya masih sedikit kabur karena mengantuk. Nafas hangat Sehun terasa jelas menerpa wajahnya. Taeyeon ingin menyuarakan penolakan lagi, namun cepat dibungkam oleh bibir hangat Sehun. Ciuman yang terasa mengantuk, tapi lapar. Sehun bersemangat membuka paksa bibirnya dan mulai menjelajahi mulutnya dengan lidah. Ini hanya berlangsung beberapa detik untuk membawa pergi rasa kantuk, meninggalkan kerakusan bercampur kebutuhan Sehun yang kian menggebu-gebu. Bahkan beberapa detik kemudian, Sehun dengan cepat berguling di atasnya dan menekan bibirnya ke bibir pemuda itu lebih keras.

“Sehunhh…” desah Taeyeon melepas ciumannya, ia memalingkan wajah kearah lain. Namun Sehun tampaknya tidak keberatan, dengan santainya bibir pemuda itu berpindah menelusuri lehernya.

Tangan Taeyeon masih berupaya mendorong Sehun pergi, “Darimana, hhh… kau tahu… tentang ibuku?”

“Huh?”

Oke. Sehun ingin seks dan Taeyeon ingin bicara. Berarti harus ada cara untuk membuatnya jadi sejalan.

“Aku akan membiarkan ini jadi lebih mudah kalau kau mau berbicara terlebih dahulu” ucap Taeyeon.

Sehun otomatis mengangkat kepala, menatap langsung wajah Taeyeon yang begitu memerah karena permainan kecil mereka. Gadis itu berjanji akan membuat semuanya menjadi lebih mudah kalau mereka berbicara, berarti ia bisa meminta lebih dari satu putaran. Bagus. Berbicara dulu sepertinya bukan ide yang buruk.

“Dari Yonghwa” jawab Sehun santai sesekali mengecup leher Taeyeon dan menghisapnya hingga timbul bercak merah disana.

Taeyeon mengatur nafasnya agar tak terhanyut, “Umhh…Kapan kau tahu? Apa sudah sejak lama?”

“Tidak. Baru tadi pagi. Kalau Yonghwa mungkin sudah sejak lama. Aku yang menyuruhnya mencari tahu semua tentangmu, termasuk alamat rumahmu dan kondisi ibumu”

Taeyeon mengernyit, “Kalau asistemu tahu sejak lama, kenapa kau baru tahu tadi? Apakah Yonghwa tidak memberitahumu?”

“Aku yang melarangnya cerita semua padaku. Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu. Tapi, ketika melihat kau mengambil uangku tadi pagi, aku tahu kau tidak akan pernah cerita apapun padaku. Kau memiliki harga diri cukup tinggi jika mengenai keluargamu”

“Kau… kasihan padaku?”

Sehun sedikit mencibir, “Tidak”

“Mengapa tidak?” jerit Taeyeon tercekik di tenggorokkan. Sehun tidak lagi melakukan apapun pada tubuhnya, tapi nafasnya masih belum teratur juga.

“Karena kau akan lari dariku kalau kukasihani. Aku kenal watakmu, kau tidak pernah ingin dikasihani. Apakah sudah cukup?”

Sungguh manis. Apakah benar Oh Sehun yang berbicara barusan. Pikir Taeyeon sinis. Tidak ingin Taeyeon lari darinya, atau tidak ingin kekurangan boneka seks?

Taeyeon tersenyum miris.

Sehun mengecup bibirnya berkali-kali, “Kau harus mulai terbuka padaku agar aku tak berpikiran macam-macam. Aku tak pernah menyangka kau menggunakan uang yang aku berikan untuk kepentingan ibumu. Jauh dari perkiraanku”

Taeyeon tak menjawab.

“Aku begitu bersalah mengingat aku pernah menuduhmu melakukan semuanya hanya demi uang. Menganggapmu pelacur yang suka menghabiskan banyak uang. Ternyata semuanya salah besar”

Taeyeon menyentuh dada Sehun, “Kau tidak salah. Memang aku melakukannya demi uang”

“Uang untuk ibumu. Bukan untuk dirimu sendiri” Sehun membelai lengan Taeyeon yang masih bertengger di dadanya kemudian terkekeh, “Aku jadi mengerti mengapa kau selalu memakai sepatu jelekmu padahal kau selalu beralasan ingin membeli sepatu baru jika butuh uang dariku”

Taeyeon tersenyum, walau senyum itu tak sepenuhnya tulus ia berharap itu bisa menutupi rasa berkecamuk dalam hatinya.

“Kenapa dengan sikumu?” Tanya Sehun merasakan plester yang menutupi kedua siku Taeyeon.

“Ohh. Itu…hanya luka kecil. Aku terjatuh disekolah”

Sehun mengangguk tanpa curiga. Ia merendahkan tubuhnya dan mengecup luka Taeyeon dengan lembut, “Lain kali hati-hati”

Taeyeon tersenyum tipis, “Terimakasih. Terimakasih sudah mau berbicara denganku”

“Diskusi selesai? Jadi, apakah sekarang sudah boleh terserah aku?” tanya Sehun, ada sedikit seringai dari nada suaranya.

Hanya dengan sekali anggukan lemah, Sehun langsung melepaskan kontrol yang telah dipegangnya sejak tadi. Mulai menikmati seluruh bagian tubuh Taeyeon dengan keinginan yang sedari tadi ditahan.

Taeyeon memalingkan wajah, membiarkan Sehun berpesta pada tubuhnya. Sentuhan Sehun begitu menghanyutkan, namun tetap saja Taeyeon merasa jijik. Karena dia tahu, tangan itu sebelumnya pasti sudah menyentuh perempuan lain di kantor pemuda itu.

“Akhh…” Sehun tanpa berlama-lama memasukkan miliknya kedalam tubuh Taeyeon.

Taeyeon menggeliat dan mulai menikmati semua yang pemuda itu lakukan. Sejenak saja, biarkan ia mengklaim Sehun seutuhnya. Biarkan ia menganggap Sehun hanya miliknya dan hanya akan melakukan ini dengannya, cukup dengannya saja. Karena Taeyeon mencintainya.

Air shower terus mengalir mengikuti lekuk tubuh telanjang Taeyeon. Air hangat telah membuat kulitnya menjadi merah muda seperti bayi, menyapu busa sabun dari tiap bagian sejak sepuluh menit yang lalu.

Bagus.

Hanya tinggal lima menit lagi yang ia perlukan untuk bertahan dibawah shower, setelah itu pakai seragam dan cepat-cepat pergi sekolah. Sehun tidak bisa menahannya dengan alasan apapun karena akan membuatnya terlambat mengikuti ujian akhir semester. Jam pelajaran pertama dimulai pukul 08.45, sekarang pukul 08.10. Tidak akan ada sarapan pagi bersama ataupun quick sex. Sempurna.

“Akh~” Taeyeon meringis saat tengah melepas plester dilutut dan dikedua sikunya, ia harus menggantinya dengan yang baru.

Mengingat luka ini Taeyeon jadi teringat kembali dirinya yang hampir tertabrak mobil. Dan saat sadar dia sudah ada diruang rawat rumah sakit, beruntung lukanya tak lebih dari goresan.

“Taeyeon-a, berapa lama lagi kau mau berada dikamar mandi?” seru Sehun menggedor pintu kamar mandi. Untung sudah dikunci, kalau tidak pasti Sehun sudah menerobos sejak dua puluh menit yang lalu.

“Tae, nanti kau bisa terlambat sekolah”

Taeyeon menyeringai puas, mematikan shower dan meraih bathrobe, “Ya, sebentar”

Secepat mungkin Taeyeon mengancingkan seragamnya, berlari kesana kemari merapikan seragam serta menyiapkan buku pelajaran. Sangat berantakan dan tidak teratur, ingin memperjelas kesan bahwa dia sedang teburu-buru. Sehun masuk ke kamar, tangan kirinya dimasukkan kedalam saku dan sebelah lagi membawa segelas susu. Kepalanya menggeleng-geleng melihat ketidak teraturan Taeyeon, benar-benar seperti orang yang rumahnya terkena gempa. Taeyeon terlalu panik.

“Aneh, kenapa belakangan ini kau sering kesiangan? Padahal malamnya kita tidak melakukan apa-apa” komentar Sehun menyodorkan segelas susu, Taeyeon mengambilnya dan meneguknya sampai habis.

“Terimakasih” Taeyeon mengembalikan gelas dan kembali berkutat dengan pita seragam.

Sehun meletakkan gelas di meja didekatnya, matanya begitu santai mengamati Taeyeon. Cuma memandangi kekasihnya seperti ini saja sudah terasa menyenangkan. Ada perasaan hangat bila Taeyeon ada disekitarnya.

“Hari ini terakhir ujian kan?”

“Umm, ya…”

Sehun tersenyum simpul, perlahan memeluk kekasihnya dari belakang. Rasanya tiap kontak sekecil apapun dengan Taeyeon selalu sangat berarti akhir-akhir ini, “Bagaimana…”

“Sehun-a…” Taeyeon menggeliat—menolak, “Aku sedang buru-buru”

Hembusan nafas berat keluar dari saluran pernafasan Sehun. Inilah sebabnya ia menganggap setiap kontak kecil dengan Taeyeon menjadi begitu berarti, lagi-lagi kekasih mungilnya bersikap tidak ingin disentuh. Apakah karena moodnya sedang jelek atau bagaimana, yang jelas Taeyeon selalu mengkambing hitamkan ujian sebagai alasan untuk menghindar.

Sehun mengambil langkah berdiri dibelakang Taeyeon, kali ini ia tidak mencoba memeluknya lagi, “Aku hanya ingin mengajakmu makan malam di restoran mewah. Dan setelah itu—”

Taeyeon terkesiap saat Sehun mengecup lehernya dengan sensual. Membuat laki-laki itu menyeringai puas. Akhir-akhir ini mereka sudah jarang melakukan seks, pasti Taeyeon juga rindu disentuh.

“—kita bisa mengadakan pesta kecil di atas ranjang”

“T-tidak bisa, Sehun-a…” Taeyeon menyiku Sehun agar menjauh, “Aku sedang memasuki masa menstruasiku”

Sehun menekuk wajahnya, “Seingatku minggu lalu kau juga bilang begitu. Meskipun aku laki-laki, aku tahu perempuan mengalaminya satu kali dalam sebulan”

“Tentu saja bisa” ketus Taeyeon, “Perempuan bisa mengalami dua kali dalam sebulan disebabkan siklus pertama terhambat karena stress. Dan kau tahu akhir-akhir ini aku stress karena ujian”

Benar, kan? Lagi-lagi ujian yang dijadikan alasan.

Sehun melipat kedua tangan didepan dada dengan sebal. Makin lama perkataan Taeyeon terdengar seperti omong kosong yang memuakkan. Yah—tapi dia Taeyeon, kekasihnya. Taeyeon tidak mungkin tiba-tiba sengaja menghindarinya tanpa alasan yang jelas. Selama hubungan mereka berjalan baik-baik saja, ia tidak patut menaruh kecuriagaan pada kekasihnya itu.

“Lalu kapan aku bisa menyentuhmu?” keluhnya, “Sudah hampir dua minggu kau membuatku tidak bisa menyentuhmu”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Ayo pikir, alasan apa lagi yang harus dipergunakan. Dia tahu tidak mungkin selamanya terus menghindari Sehun. Kalau sekarang Sehun menelanjanginya dengan paksa, laki-laki itu pasti akan tahu kalau dia sudah berbohong mengenai masalah menstruasi. Satu hal yang patut diwasapadai, karena Oh Sehun tidak suka dibohongi.

Arrghh…

“Baiklah, begini. Kau boleh menciumku sekarang, tapi ingat! Tidak lebih dari ciuman bibir, mengerti?” Putus Taeyeon melirik jam sekilas, pukul 8.35, “Waktumu hanya dua menit”

Tanpa membuang waktu, Sehun langsung melahap dengan rakus bibir Taeyeon. Memeluk erat gadis mungilnya dan menempelkan tubuh mereka hingga tak terpaut jarak. Astaga, Sehun merindukan bibir ini, tubuh ini. Tak jauh berbeda, Taeyeon pun merasakan hal yang sama hanya saja ia harus menahan diri agar perasaannya tak terjatuh lebih dalam kedalam pelukan pemuda itu. Rasa cintanya tidak boleh semakin besar.

Sehun memiringkan kepala, mencoba memasukkan kedua belah bibir Taeyeon kedalam mulutnya, menghisapnya kemudian memasukkan lidahnya kedalam mulut gadis itu.

“Mmmhh…hhh, sudah…” Taeyeon menjauhkan wajah pemuda itu, dan Sehun baru benar-benar berhenti setelah mengecup bibir itu lama-lama.

“Nghh…” nafas Taeyeon terengah.

“Taeyeon-a—” Sehun menangkup wajah Taeyeon dengan tangannya. Menatap lekat-lekat kedua iris indah gadis itu, mencoba menyelaminya.

Taeyeon menelan ludah dengan susah payah. Ia akan terjebak dalam tatapan kelam Sehun ketika ponselnya bergetar.

Drrt… drrt~

Selamat, dewi fortuna tengah berpihak padanya. Taeyeon segera melepas tangan Sehun diwajahnya. Ia tersenyum kikuk lalu meraih ponsel. Ekor matanya sesekali melirik jam dinding beserta wajah berantakan Sehun.

“Yeoboseyo”

Jeda.

Taeyeon mengernyit karena tak mengenal suara orang yang meneleponnya, ia melihat layar ponselnya sekilas. Nomor tak dikenal.

“Anda siapa?”

“…”

“A… maaf, aku sibuk. Kau bisa menelepon lagi nanti” ucap Taeyeon seraya menutup telepon. Sudah tidak ada waktu lagi membuang waktu bebicara ditelepon, jam masuk sekolah sudah makin dekat.

“Siapa?”

“Tidak tahu. Orang salah sambung sepertinya” jawab Taeyeon asal, lalu merapikan isi tasnya.

Alis Sehun berkerut, “Lagi?”

Taeyeon mengangkat bahu, memang sebelumnya pernah beberapa kali nomor tak dikenal menghubungi Taeyeon. Dan pasti si penelepon selalu meminta waktu untuk bertemu. Entah apa maksud dan tujuannya, namun Taeyeon mempergunakan telepon salah sambung itu sebagai alasan agar Sehun berhenti menyentuhnya.

“Sudah, ya. Aku harus pergi sekolah”

“Biar aku an—”

Terlambat. Taeyeon sudah menghilang dari balik pintu dan pergi meninggalkan apartemen. Sehun mendesah pasrah sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

“Ya, sudahlah…”

Drrt… drrt~

Taeyeon melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja, dan dilihat siapa yang menghubunginya di waktu sekolah begini. Tidak mungkin Sehun kan? Karena Sehun selalu menelepon di jam-jam terakhir sekolah dengan alasan ingin menjemputnya. Taeyeon mengerutkan dahi cukup dalam.

“Siapa Tae? Kenapa tidak diangkat?” Tanya Taehyung yang duduk disebelah Taeyeon ikut melirik ponsel itu dengan aneh.

“Nomor tidak dikenal” Taeyeon mengangkat bahu dan terus membaca bukunya.

“Sebaiknya angkat saja, siapa tahu penting”

“Tapi ini bukan pertama kalinya, Taehyung-a. Nomor ini sudah beberapa kali meneleponku seperti peneror”

“Yasudah. Biarkan saja kalau begitu” Taehyung kembali membaca bukunya, Taeyeon pun akan melakukan hal yang sama ketika ponselnya terus bergetar.

“Isshh… mengganggu saja. Aku angkat dulu” desis Taeyeon. Taehyung mengangguk.

“Yeoboseyo” jawab Taeyeon pelan setelah menjauh dari Taehyung, pasalnya dia sedang berada diperpustakaan sekarang. Belajar untuk ujian mata pelajaran selanjutnya.

“…”

“Saya tidak mengenal anda”

“…”

“Baiklah. Apa yang anda inginkan?”

“…”

“Penawaran?”

“…”

Taeyeon membelalakan mata. Bagaimana orang ini bisa tahu? Siapa dia sebenarnya?

“I-iya… saya akan berusaha datang. Dan terimakasih atas bantuan anda waktu itu”

Taeyeon menutup teleponnya dan menelan ludah susah payah, “Apa yang harus aku lakukan?”

 

 

To be continue 

 

 

 

 

 

HARAP DIBACA, JANGAN DIABAIKAN

NOTE : Annyeonghaseyo!! Yeay! Finally, update! Maaf yah karena baru bisa update sekarang. Pada kangen ga nih sama authornya? Atau kalian cuma kangen sama ffnya?😒 Kalian harus kangen sama author yaa #maksa
Pertama, yang akan aku bahas adalah ff diatas, gimana? Apa bagus? Demi apapun dua minggu belakangan aku sibuk, dari persiapan UAS, pelaksanaan UAS, hingga dipekan ramedial aku harus perbaikan lisan Biologi. Dan kalian tahu apa materi yang nilainya kurang? Materi Reproduksi. Agak miris yah😌 Dan sekarang aku bebas sebebas-bebasnya. Tinggal menunggu hasil satu minggu lagi.
Yang kedua, aku minta maaf buat readers yang tersinggung dengan penggunaan tanda baca yang aku pake di setiap email, line maupun whatsapp. Karena aku sungguh tidak bermaksud menggunakan tanda seru (!) Sebagai bentuk bentakan. Itu aku gunakan agar readers menganggap pesanku sebagai perhatian/perintah yang memang harus ditaati. Jadi sekali lagi maaf #bow aku udah intropeksi diri dan kesalahan yang aku buat jangan membuat kalian jadi menyeleweng dan tidak meninggalkan komentar. Aku bakalan sedih banget.
Yang ketiga, aku berniat melanjutkan ff terdahuluku, pas jaman-jamannya aku masih freelance di wp ini. Yaitu DARK LIGHT TO DIAMOND, yang belum baca segera baca yaa. Udah di chapter 17 dan aku mau next. Makasih buat salah satu readers yang masih mengingat karya lamaku itu #bow.
Satu yang harus diingat, aku selalu membaca setiap komentar yang readers tinggalkan. Jadi kalian bisa menulis apa saja dikolom komentar yang ditujukan untukku, aku akan dengan senang hati membahasnya di NOTE.

Akhir kata, AYO KOMENTAR READERS! Target 100++ Comments😊
Bye…🤗😙

Advertisements

107 comments on “MONEY (Chapter 8)

  1. Well eyke baru baca ini xdddd
    Tingggalin jejak dulu deh ehehe
    Mah loh apa lagi ini :;) ombang ambing perasaan kaua gini hmzzz
    Semangat ya thor! Eheheh

  2. Namanya msih ABG kyaknya Taetae slah pham mulu sm sehun, pdhl sehun kan sayang bgt sm Taetae. Ada lg nih gangguan yg bernama kwon jiyong untung ganteng dah, klo kgak gua jitak jg dah…

  3. aduh tae salah paham sama sehun,
    jiyong suka sama tae ya? semoga dia gak jadi pengganggu hubungannya seyeon

  4. itu yg nelpon trus jiyong ya..?? ky ny jiyong juga tertarik sama tae nih.. makin kesini makin penasaran deh dan Taeyeon tetap milih sehun kan,..
    fighting thor,!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s