[FICLET] Within Living Memory

Within Living Memory

molla

Kim Taeyeon (SNSD)

Ficlet ±600w | Sad, Fantasy, Childhood | General

ChocoYeppeo Presents—

Prompt taken from:

Mad Clown ft. Kim Nayoung – Once Again

OST Descendants of the Sun

“Could I see you again? When facing this destiny has passed from time by time.”

Aku masih tak bosan berada di tempat yang sama setiap hari. Memandangi sebuah bangunan usang beberapa puluh meter di balik jendela ini seolah menantikan kedatangan seseorang yang bahkan tak sekalipun aku pernah bertatap muka dengannya. Dia yang selalu menekuk bibir ketika orang-orang yang melewati rumahnya menggunjing kecil entah tentang apa itu.

Dari sekian banyak manusia, apakah hanya aku yang dapat memahaminya? Aku tahu ia bukan orang jahat walaupun tatapan sinis mata orang beranggapan lain. Ia pernah tersenyum lebar kepadaku kala itu. Senyum yang terlihat benar-benar tulus dan hangat sampai aku terlarut dalam kedamaian. Iris coklat gelap yang nampak rapuh itu, aku sungguh memahaminya.

Gemuruh guntur yang berada jauh di langit tak membuatku berubah pikiran untuk tidak berada di sana. Aku bukanlah orang yang senang menyelingkup dalam balutan selimut tebal ketika menemukan kilatan di atas bangunan itu. Justru aku merasa orang-orang itu keterlaluan. Mereka tak mengerti kebenarannya.

Aku masih setia melihat satu-satunya jendela di rumah yang orang-orang sering menyebutnya gubuk—sungguh aku tak menyukai predikat ini. Kupikir suatu saat nanti—entah kapan seseorang akan muncul dari baliknya kemudian melambaikan tangannya kepadaku seperti dahulu kala. Aku sungguh ingin melihat lambaian tangan mungil yang pastinya sekarang telah berubah.

Selalu kukenang saat pertama kali aku melihatnya. Kisah itu tak akan pernah lenyap dari memoriku. Aku melihat seorang lelaki kecil yang duduk dengan murung di dalam ruangan kecil rumah itu. Ia sendirian. Tak pernah ada orang dewasa ataupun sebayanya yang memasukkan diri ke dalam rumahnya. Aku pun tak mengerti hal buruk apa yang terukir permanen dalam anggapan orang-orang. Julukan ‘Pembawa Sial’ pernah menyusup dalam indra pendengaranku mengenainya namun aku tak percaya.

Sudah beberapa hari, sejak saat itu, aku memperhatikannya dari kamarku sendiri. Aku yakin tak pernah terang-terangan masuk dalam penglihatannya namun nyatanya ia menatapku dalam-dalam waktu itu. Mulai detik itu, setidaknya ia tak terlihat seabu-abu sebelumnya. Hari-hari berikutnya, aku selalu menunggunya memunculkan diri dari jendelanya pada sore hari sepulang sekolah. Selain kala itu, aku tak dapat melihatnya berada di sana.

“Masih menunggunya?”

Seseorang membuka pintu kamarku dan samar-samar—karena hujan deras— kudengar Mama mengucapkan sesuatu. Aku tak mengubah posisi dudukku sama sekali. Hanya sebuah anggukan kecil dan lambat yang kuberikan sebagai balasannya.

“Sudah lama sekali tetapi kau masih menunggunya. Ayo, makan ramyeon panas dahulu untuk menghangatkan perutmmu,”

Ya, sudah lama, sangat lama. Ketika itu, saat terakhir kali aku melihatnya, aku berada di tingkat ke-4 masa sekolah dasar sedangkan kini aku telah beranjak dewasa di tingkat akhir sekolah atas. Senyuman manisnya itu belum pudar dari ingatanku meskipun telah lapuk dimakan waktu.

Aku membangkitkan tubuhku saat kudengar pintu kamar telah kembali tertutup dan kulihat bayangan Mama tak ada lagi di sampingku. Aku tersenyum tipis lalu melemparkan sebuah lambaian kecil ke arah rumah itu. Entah dia melihatku atau tidak, aku hanya merindukannya dan ingin melakukannya.

Aku merasa melihat sekelebat bayangan hitam ketika aku memutar badan. Secepat itu pula aku mengembalikan posisi badanku namun aku tak melihat apapun. Hatiku mendadak ngilu. Ini adalah halusinasiku yang ketiga kalinya dimulai minggu lalu. Aku memilih mengabaikannya lagi.

Lagi. Aku merasakan bayangan hitam itu. Aku menilik ke belakang dengan gerakan lambat sampai akhirnya aku kembali menghadap ke jendela. Aku melihat seseorang memakai jaket hoodie berwarna hitam polos yang dengan langkah jenjangnya ia menuju lurus ke depan. Ke… rumah itu?

Ia mengangkat lengan kanannya kemudian melambaikannya asal. Anehnya, aku merasa lelaki itu menujukannya untukku sehingga aku melambai kecil membalasnya. Hatiku berdebar. Perlahan-lahan wajah mendungku melukiskan senyuman yang semakin lebar walaupun aku tak mengetahui siapa wajah yang ada di balik tudung jaket yang telah basah itu.

Aku merasa ingin berkunjung ke sana esok hari setelah aku hanya datang ke rumah kosong itu untuk sekadar bersih-bersih beberapa kali semenjak ia tak lagi melambaikan tangan kepadaku.

-끝-

Advertisements

4 comments on “[FICLET] Within Living Memory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s