Beautiful Lies (Chapter 8)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 |Chapter 7 

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY
 

 

 

 

American Hospital of Paris, Nevilly-Sur-Seine, Paris, France.

Seorang laki-laki berperawakan tinggi, bertubuh tegap dengan bahu lebar tengah membaca beberapa berkas-berkas penting yang bertumpuk di atas meja kerjanya. Dilihat dari jas putih bersihnya dan sebuah stetoskop yang mengalung di lehernya, laki-laki tampan berwajah Asia ini adalah seorang dokter.

Dokter anak.

“Kalau ada anak yang tidak selera makan ataupun tidak siap dengan operasi yang akan mereka jalani, tolong hubungi aku dan jangan minta orangtua atau suster yang menenangkan mereka. Biar aku yang melakukannya,” ujar laki-laki itu sambil masih sibuk membaca berkasnya pada seorang perawat perempuan yang berdiri di depan mejanya. “Mereka harus tahu kalau dokter itu tidak selamanya menyeramkan,”

“Saya mengerti, sir. Lagipula mereka juga lebih menyukaimu daripada perawat-perawat di sini. Anda tampan, baik hati, lembut, penyayang, dan begitu menyukai anak-anak,” jawab perawat tersebut sembari tersenyum manis.

Thank you, Alice,” ujar dokter muda itu. “Ah, apa 1kau juga sudah mengurusi berkas-berkas kepindahanku, ‘kan?”

“Tentu saja sudah, sir. Direktur juga sudah menyetujuinya,” jawab Alice dengan antusias. “Tapi, rumah sakit ini jadi sepi kalau Anda pergi nanti, sir. Anak-anak itu pasti akan sangat merindukanmu,”

“Aku juga akan sangat merindukan mereka. Tapi aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini, Alice. Aku harus kembali. Anak-anak itu membutuhkanku, tapi anakku lebih membutuhkanku dari siapapun di dunia ini. Dia sudah menungguku cukup lama,” ujar dokter itu. Senyuman yang terukir di wajahnya mengisyaratkan kerinduan yang mendalam. Kerinduan yang menyakitkan.

“Ternyata benar rumor itu. Anda sudah berkeluarga. Apakah Anda juga punya istri?”

Dokter muda dan tampan itu tersenyum getir. Dia memandang Alice dengan tatapan yang sulit dimengerti. “Dia adalah Lauren‘s mother, jadi apakah itu bisa disebut sebagai istri?”

“Tapi sebagian orang di sini juga berpendapat Anda belum menikah,” timpal Alice dan sedetik kemudian wajahnya yang putih pucat semakin memucat. Ia membelalakkan kedua mata hijau emerald-nya dan langsung membungkukkan sedikit tubuhnya pada dokter itu. “Saya telah lancang. Mohon maafkan saya, sir,”

It’s okay, Alice,” jawab si dokter. “Aku memang belum menikah tapi sudah punya anak, yes. Dan aku sangat menyayangi keduanya. Anakku dan ibunya. So, aku akan menikahi ibunya saat kami sudah pindah ke Kanada. Karena di sana aku sudah menyiapkan semua untuk mereka. Semuanya,”

“Ahh, kalian akan menikmati lembaran baru di sana, ya? Di negeri maple? It’s so romantic. Semoga Anda tidak dipindahtugaskan lagi oleh pihak rumah sakit, sir. Karena sulit rasanya kalau harus long distance relationship,” imbuh Alice.

“Aku akan membawa mereka berdua pergi ke manapun aku melangkah, Alice,” jawab dokter itu tegas.

“Kurasa inilah alasan kenapa Anda banyak dipuja oleh dokter dan perawat wanita single di sini. Anda tipikal lelaki idaman. Sayang, mereka harus patah hati,”

Dokter muda yang tampan dan berkharisma itu hanya tertawa kecil mendengarnya.

~~~

Samsung Medical Center, Seoul, South Korea.
Pintu ruang rawat inap VVIP yang bernomor 89 terbuka lebar dan memperlihatkan sosok laki-laki berdada bidang masuk ke dalam ruangan tersebut sambil menggandeng seorang perempuan cantik berambut hitam panjang. Mereka berdua masing-masing membawa sebuah plastik besar yang diketahui berisi makanan sehat untuk menjenguk seorang pasien rumah sakit.

Sang pasien, dengan nama lengkap Kwon Jiyong, tengah menonton sebuah video di ponselnya sambil tertawa-tawa kecil. Kedua hazelnya melirik sedikit menatap sepasang kekasih tersebut tanpa mau bersusah payah menyapa mereka lalu kembali fokus pada video di ponselnya.

“Bagaimana keadaanmu? Sudah agak lebih baik?” tanya si perempuan yang bertubuh sexy itu, Hyorin. Ia meletakkan plastik besarnya di atas meja yang ada di samping tempat tidur Jiyong.

“Seperti yang kau lihat, chagi. Dia sangat sehat,” jawab sang kekasih, Youngbae, yang penuh dengan sindiran dan bukannya empati. “Kau bahagia, ‘kan setelah membuat Taeyeon menangis semalaman hanya karena luka di kepalamu itu? Kau memang sulit dipercaya, Kwon Jiyong,”

“Ya, bahagia katamu? Mana mungkin aku bahagia melihat seseorang yang kucintai menangis merana seperti kemarin itu?! Neo michyeosseo?” sanggah Jiyong cepat. Namun, sudut bibir kanannya sedikit tertarik karena menahan sebuah seringaian. “Dan luka di kepalaku ini juga bukan luka kecil. Kau dengar, ‘kan kata dokter kemarin? Aku hampir kena gegar otak dan bisa saja mengalami amnesia,”

“Kenapa tidak jadi amnesia saja?” tanya Hyorin cepat. Ia melipat kedua lengannya di atas dadanya, menatap Jiyong tajam.

“Kalau seperti itu jadinya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Taeyeon. Dia pasti jauh lebih terluka, lebih menyalahkan dirinya, menangis tidak hanya semalaman. Dan aku takut si kecil Lauren juga akan mengalami kesedihan seperti ibunya,” jawab Jiyong dengan wajah serius, berusaha menutupi rona kebahagiaan yang kentara sekali di kedua matanya.

“Kau senang,” gumam Hyorin. “Dasar naga licik,”

“Kau senang karena Taeyeon begitu mencemaskanmu sampai-sampai ia tidak mau diajak pulang. Kau bahagia karena kemungkinan untuk mendapatkan kepercayaannya semakin besar,” lanjut Youngbae. “Dasar naga licik,”

Jiyong tersenyum lebar. “Jangan salahkan aku. Bukan aku yang mencelakai diriku sendiri, ingat? Kenapa kalian jadi beranggapan aku dan Hyungsik telah bersekongkol?”

“Setidaknya uri Taeyeon sudah memecahkan dinding pemisah di antara kalian. Youngbae benar, kemungkinan untuk mendapatkan kepercayaannya semakin besar. Tapi aku juga tidak ingin kau kembali bersikap gegabah, Jiyongie. Jika Taeyeon memberimu kesempatan, kau harus lebih menjaga perasaannya, jangan terburu-buru seperti waktu itu. Bersabarlah,” jelas Hyorin.

“Arraseo. Wanita hebat dan memukau seperti dia memang butuh kesabaran untuk meraih hatinya. Dan kalian tahu aku bahkan akan melakukan apa saja hanya untuknya,” ujar Jiyong. “Saat aku tahu akan dipukul oleh bedebah sialan itu, aku sempat berfikir jika memang aku harus mati saat itu, aku tidak akan apa-apa, aku tidak akan menyesal mengejarnya sampai ke Jeju, aku tidak akan menyalahkan dia. Justru aku senang, hal terakhir yang kuberikan padanya sebagai bukti kesungguhanku adalah nyawaku sendiri,”

Youngbae tersenyum mendengar ungkapan Jiyong. Ia semakin percaya sahabat kecilnya ini sudah menemukan seseorang yang benar-benar dicintainya, bukan lagi sosok perempuan yang ia singgahi hanya satu malam, ataupun bukan lagi sosok perempuan yang dia kencani hanya karena ia menyukainya semata. Tapi gadis yang benar-benar membuatnya mengerti arti tulus menyayangi dan disayangi, yang membuatnya dapat merasakan kehangatan dari sosok yang dicintainya.

Hyorin menghela nafas pendek. “Baguslah, kau benar-benar jatuh cinta, Mr. Playboy,

“Tentu saja, harus berapa kali aku mengatakannya pada kalian? Aku butuh dan menginginkan dia dalam hidupku,”

Tepat ketika Jiyong berujar seperti itu, pintu kamarnya terbuka kembali. Kali ini, sosok si kecil Lauren beserta ibunya yang menjadi topik utama pembicaraan mereka telah muncul. Di belakang Taeyeon juga ada Tiffany dan Seunghyun.

“Yong ahjussi!!!” seru Lauren saat kedua matanya menangkap Jiyong yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ia sedikit berlari dan menerjang sisi tempat tidur laki-laki itu agar dapat melihat lebih dekat paman kesayangannya. “Wae geurae? Ahjussi, kau sakit apa?”

“Laurennie, ahjussi jadi tidak tenang kalau kau berteriak seperti itu,” ucap Taeyeon. Ia meletakkan sebuah kotak kue di atas meja, berdampingan dengan plastik besar milik Youngbae dan Hyorin.

“Nan gwaenchanna,” jawab Jiyong pelan sambil tersenyum lebar pada Lauren. “Kau mau duduk di sampingku, baby L?”

Okay!” seru Lauren dan ia duduk di samping Jiyong dengan dibantu oleh Youngbae. Jiyong tersenyum senang sembari membelai lembut rambut halus Lauren.

“Kenapa Lauren pulang cepat?” tanya Hyorin pada Taeyeon dan Tiffany.

“Dia terus gelisah sepanjang hari ini jika tidak bertemu dengan ahjussi-nya. Itu sebabnya sekolah memperbolehkan Lauren pulang lebih cepat setelah mendengarkan penjelasanku pada Choi ahjumma. Kemarin malam, ‘kan dia belum sempat menjenguk, hanya tahu kalau Jiyong oppa sedang dirawat di rumah sakit,” jawab Tiffany. Ia duduk di sofa kamar dengan santai bersama dengan Seunghyun dan Youngbae. Sedangkan Taeyeon dan Hyorin mengeluarkan buah apel dari salah satu plastik besar yang ada di atas meja untuk dikupas dan dimakan.

“Aigoo, kau pasti sangat mencemaskanku, babygirl. Aku baik-baik saja. Hanya butuh istirahat,” ujar Jiyong. Ia mengecup ubun-ubun Lauren dengan sayang, membuat Taeyeon menatap mereka berdua dengan perasaan bahagia yang membuncah. Ia bahkan tidak tahu kenapa. Ia merasa kasih sayang yang Jiyong berikan untuk Lauren selama ini memang murni tulus dari hatinya. Laki-laki itu memang menyayangi Lauren sepenuh jiwa, bukan karena ingin mendapatkan perhatian dari Taeyeon, dan gadis itu merasa sangat bersalah pernah menuduh seperti itu.

“Tabi ahjussi bilang kau sakit karena begitu menyayangi, eomma. Benar begitu, ahjussi?” tanya Lauren dengan lugunya. Ia mendongakkan wajah cantiknya pada Jiyong dan laki-laki itu dapat melihat kedua mata Lauren tampak berbinar-binar.

Pertanyaan gadis cilik itu membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersebut tercengang dan tersentak kaget, terutama Jiyong dan Taeyeon. Taeyeon buru-buru menundukkan wajah merahnya dan pura-pura fokus pada apel fuji yang tengah dikupasnya. Sedangkan Hyorin dan Tiffany menatap Seunghyun tajam. Dan Youngbae berusaha mengulum senyumnya dalam-dalam. Namun, ekspresi Jiyong langsung berubah sedetik kemudian. Ia tersenyum tipis pada Lauren sebagai sebuah jawaban yang tak tersirat. Baginya, perkataan Seunghyun memang ada benarnya. Ia terbaring di rumah sakit ini demi menunjukkan betapa seriusnya dia dengan perasaan cintanya pada Taeyeon.

“Ah, Laurennie kau mau apel, baby?” tawar Hyorin langsung untuk mengalihkan pertanyaan si kecil itu. Ia menyerahkan apel yang baru saja selesai dikupasnya pada Lauren dan Lauren dengan senang hati menerima lalu melahapnya.

“Ahjussi tidak ada waktu aku bangun di dalam kamar Bae ahjussi,” lanjut Lauren. Ia masih asyik makan buah apelnya tapi mulutnya tidak berhenti untuk bercerita. Salah satu kebiasaan baru si kecil Lauren setiap kali ia bersama dengan Jiyong. “Eomma tidak ada, ahjussi juga. Tapi Tabi ahjussi bilang kau pergi karena rasa sayangmu pada eomma. Lalu aku bertanya-tanya, appa pergi jauh karena ia sayang pada eomma, sekarang Yong ahjussi. Apakah semua orang yang menyayangi eomma akan pergi jauh tanpa aku tahu kapan kembalinya? Keundae, aku lega sekali saat tahu ahjussi kembali, meskipun ada di rumah sakit, tapi aku senang. Aku sangat senang,”

Jiyong tertegun. Ia langsung mengalungkan kedua lengannya di tubuh kecil Lauren dan merengkuhnya ke dalam dekapan hangatnya. Diusapnya sayang punggung gadis kecil itu. Ia tahu, ia sangat tahu perasaan Lauren saat ini. Rasa kesepian yang selalu menghantuinya selama lebih dari lima tahun, rasa kehilangan figur seorang ayah membuat gadis cilik itu takut kehilangan seseorang lagi. Dan Jiyong juga merasakan hal yang sama. Sama seperti Lauren, ia takut kehilangan Taeyeon. Ia takut tidak bisa lagi merasakan kehangatan dan kelembutan seorang Kim Taeyeon di hidupnya.

Taeyeon meletakkan pisau dan buah apel yang ada di genggamannya. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya melihat kejujuran putri kecilnya itu. Selama ini ia salah, ia selalu menyembunyikan fakta bahwa Lauren kesepian, bahwa Lauren ingin bertemu dengan ayahnya, bahwa Lauren butuh seorang ayah, bahwa Lauren rindu pada ayahnya. Ia selalu menyingkirkan fakta itu hanya karena egoismenya yang terlalu tinggi, yang belum siap untuk memercayai janji ayah kandung Lauren tersebut.

Dan Taeyeon memilih untuk keluar dari dalam kamar. Ia tidak ingin menangis di hadapan anaknya. Ia tahu hal itu hanya akan menambah kesakitan dalam diri Lauren.

“Aku akan menyusul Taeyeon,” gumam Tiffany pada Seunghyun dan Youngbae. Lalu ia bangkit dari sofa dan ikut menyusul Taeyeon.

Baby girl, kami semua menyayangi eomma dan dirimu. Kami tidak akan pergi jauh. Kami akan selalu ada di dekatmu,” hibur Hyorin sungguh-sungguh dengan wajah merahnya menahan tangis. Ia ikut mendekap Lauren dan menciumi ubun-ubun kepala si kecil.

“Aku tahu imodeul tidak akan seperti itu,” jawab Lauren sambil tersenyum senang. Ia melepaskan dirinya dari dekapan Hyorin dan kembali memakan sisa buah apelnya.

“Laurennie,” panggil Jiyong dengan suara lirih. “Kau harus tahu aku tidak akan pergi jauh darimu maupun dari eomma. Kalaupun aku akan pergi, aku berjanji aku akan kembali. Tidak akan lama. Aku janji,”

“Yong ahjussi tidak pernah ingkar janji, sayang. Kau harus percaya padanya,” timpal Hyorin. Ia membelai lembut surai panjang Lauren dan tersenyum manis padanya. “Kau mau cupcakes yang dibuat eomma di kondo Yong ahjussi tadi pagi? Imo akan menyiapkannya untukmu,”

“Ne!” seru Lauren girang dan ia buru-buru turun dari ranjang dan mendekati Hyorin yang sibuk mengeluarkan cupcakes buatan Taeyeon.

“Taeyeon pergi ke kondoku?” tanya Jiyong entah ditujukan pada siapa sembari mengerutkan dahinya.

“Yeah, dia kembali, bro. Aku menjemputnya tadi,” jawab Seunghyun. “Kau senang?”

Jiyong mengangguk dan ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.

“Noona, gomawoyo,” lirih Jiyong pada Hyorin. Ia tahu gadis itu memang benar-benar sudah memercayainya.

“Ini terakhir kalinya, Kwon Jiyong,” jawab Hyorin. “Kalau kau memecahkan kepercayaanku, jangan harap bisa bertemu lagi dengan siapapun yang ada hubungannya dengan Taeyeon, tentu saja termasuk Youngbae,”

~~~

Tiffany mengeluarkan tissue miliknya yang ada di dalam tas kecilnya pada gadis baby face yang tengah duduk di sampingnya dengan wajah merah habis menangis. Gadis cantik tersebut menerima tissue-nya dan menghapus jejak-jejak air mata di wajahnya.

“Dia benar-benar sudah menyiapkan semuanya. Rumah, furnitures, sekolah untuk Lauren, pakaiannya, biaya hidup Lauren, semuanya. Dia dipindahkan ke Kanada setahun setelah dia dinobatkan menjadi dokter anak tetap dan mulai memikirkan masa depan anaknya… dan Lauren eomma,” ujar Tiffany pelan sembari memandangi wajah Taeyeon, meneliti ekspresinya. “Dia sudah banyak berubah karena aku mendengarnya langsung dari Jiyong oppa. Dia memang brengsek, tapi semenjak kejadian itu dan tahu kalau dia punya anak, dia mengubah seluruh hidupnya dan berjanji akan kembali. Aku sulit percaya dengan janjinya waktu itu, tapi setelah mengetahui semua yang dia persiapkan, aku tahu dia akan datang sesuai dengan janjinya,”

“Kalau dia membawa Lauren, aku…,”

“Dia memintaku untuk bertanya apakah kau siap ikut dengannya?” sela Tiffany lagi. “Dia juga berencana membangun hubungan yang baru denganmu, Taeng,”

Taeyeon membulatkan kedua mata cokelat gelapnya dengan ekspresi terkejutnya. Ia memandangi Tiffany heran dan berusaha mencerna apa yang dikatakan sahabatnya itu. “Jeongmalyo? Eotteohke…,”

“Begitulah yang dia tanyakan dan katakan padaku. Dan dia serius. Ini berkaitan dengan Lauren. Lauren butuh sosok appa dalam hidupnya dan dia sangat mencintai dirimu. Mana mungkin Lauren bisa pergi tanpa dirimu, Taeng. Itu sebabnya dia memintamu untuk ikut dan punya kehidupan baru di Kanada,” jelas Tiffany.

“Ternyata hanya untuk Lauren,” gumam  Taeyeon tanpa ia sadari.

“Apa kau berharap lebih?” tanya Tiffany sambil tersenyum jahil pada sahabatnya itu.

“Ya! Bukan itu maksudku!” sanggah Taeyeon. “Maksudku… Kami tidak punya hubungan apa-apa sebelumnya. Aku dan dia juga tidak memiliki perasaan yang sama. We’re strangers, Ppany-ah. Aku hanya tidak yakin dengan keputusannya. Aku tidak bisa menjamin kehidupanku ke depannya,”

“Cinta datang tanpa kita tahu kapan dan dalam situasi yang bagaimana, Taengoo-ah,” timpal Tiffany. “Aku tahu dia pasti mencintaimu, selain hanya karena kau adalah Lauren eomma. Tapi kau juga merupakan tipenya,”

“Aku tidak bisa memutuskannya dengan asal, Ppany-ah. Akan ada banyak masalah jika aku ikut dengannya, dan jika aku tidak ikut, aku tidak bisa melepaskan Lauren,” lirih Taeyeon.

“Aku tahu apa yang kau fikirkan. Kalau aku jadi kau, mungkin aku bisa gila karena depresi,” cetus Tiffany pelan. “Ditambah lagi, kau mencintai Jiyong oppa. Itu pasti menjadi salah satu alasan utama kau berat memutuskan akan ikut ke Kanada atau tidak. Jiyong oppa juga sampai sebegitunya mengejar dan menyelamatkan nyawamu dari Hyungsik. Kau tahu, dia tidak pernah seperti itu. Repot-repot menyelamatkan orang lain, memikirkan orang lain saja dia malas. Aku sangat mengenal Jiyong oppa. Dia membutuhkanmu awalnya, tapi sekarang dia sangat menginginkan dan mencintaimu,”

“Aku percaya padanya, Ppany-ah. Bahkan tanpa dia harus mengorbankan nyawanya aku percaya pada perasaannya. Tapi aku takut aku akan menyakitinya jika aku memberinya kesempatan. Sejujurnya, yang harus kalian jaga perasaannya adalah Jiyong, bukan aku. Karena kau tahu, aku akan membuat perasaan cintanya berubah menjadi benci,”

“Dengar, dia tidak akan membencimu. Seseorang yang benar-benar menyayangi kita, tidak akan mampu membenci kita sejahat apapun kita padanya. Lagipula kau juga tidak pernah bermaksud menyakitinya, ‘kan? Semuanya terjadi di waktu dan tempat yang salah,” lirih Tiffany sembari menatap Taeyeon lekat-lekat.

~~~

Jiyong tengah tertawa terbahak-bahak pada sebuah video yang ditontonnya di ponsel saat pintu kamar ruang inapnya terbuka. Dari wangi khas lavender dicampur dengan vanilla yang ringan membuat Jiyong menolehkan wajah tampannya. Ia tahu siapa yang datang dan sejurus kemudian ia menegakkan punggungnya lalu melempar asal ponselnya ke atas sofa yang jaraknya lumayan jauh dari ranjangnya. Aneh dan beruntung, ponsel itu jatuh tepat di atasnya.

“Laurennie dan yang lain pergi ke mana?” tanya Taeyeon pada Jiyong begitu ia sudah berada di sisi ranjang laki-laki itu.

“Ah, Lauren dan Hyorin pergi keluar makan malam. Baby L ingin makan sushi katanya. Youngbae pergi ke YG Ent.untuk menyelesaikan proyeknya. Seunghyun mengantarkan Ppany pulang. Gadis itu pasti ada pemotretan besok pagi,” jawab Jiyong pelan. Ia memandangi wajah rupawan sang gadis yang berada di hadapannya dengan intens, membuat wajah Taeyeon mau tak mau menjadi merona merah dan sedikit salah tingkah. Jiyong menyeringai kecil, senang melihat tingkah Taeyeon yang jarang sekali diperlihatkannya.

“Kalau begitu aku akan pergi menyusul Lauren dan Hyorin eonni,” pamit Taeyeon.

Jiyong tertegun dan langsung menegakkan tubuhnya. “Tidak bisakah kau di sini saja? Di sini bersamaku?”

“Eh? Tapi…,”

“Lauren akan aman-aman saja bersama Hyorin noona, kau tidak perlu menyusul mereka. Atau kau tidak mau satu ruangan hanya denganku?”

Wajah Jiyong yang awalnya sumringah mendadak menggelap. Kedua hazelnya yang lembut saat memandangi wajah bening gadis itu berubah tajam. Ia menghela nafas panjang dan kasar lalu mengalihkan wajahnya menghadap keluar jendela rumah sakit. Taeyeon jadi merasa sangat bersalah. Apalagi ia baru saja utang nyawa.

“Aku hanya ingin membelikanmu sushi juga, karena kau belum makan malam, ‘kan?” tanya Taeyeon dengan wajah yang berusaha menutupi kesalahannya dengan sebuah alasan.

“Aku sudah kenyang makan cupcakes-mu,” jawab Jiyong. Ia kembali mengalihkan wajahnya pada Taeyeon, yang sekarang sudah duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur laki-laki itu.

“Mwo? Kau hanya makan itu dari tadi siang? Kau gila? Kalau kau makan itu, bagaimana kau bisa sembuh dengan cepat? Kau harus makan makanan yang sehat,” omel Taeyeon tanpa sadar. Rasa khawatir dan cemasnya yang menjadi satu membuat dirinya melupakan kecanggungan dan jarak yang terjadi di antara mereka.

Jiyong tersenyum lembut. Kim Taeyeon yang ia rindukan telah hadir kembali di hadapannya. Kim Taeyeon yang penuh kasih sayang.

“Apa makananmu selama ini tidak sehat?” tanya Jiyong setengah bercanda.

“Aku sedang tidak bercanda, Kwon Jiyong,” jawab Taeyeon cepat. “Kau harus makan bubur yang sudah disediakan rumah sakit ini. Mereka bilang pencernaanmu kurang baik. Itu artinya kau tidak boleh makan sembarangan mulai sekarang. Kenapa pencernaanmu kurang baik? Kau tidak makan dengan benar, eoh? Kudengar sebelumnya kau juga dirawat di sini,”

“Aku memang pernah dibawa ke rumah sakit karena tidak makan apapun selama beberapa minggu, aku lupa. Aku hanya mengisi perutku dengan alkohol,” jawab Jiyong pelan.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu?!” tanya Taeyeon lagi dengan pekik tertahannya.

Jiyong menghela nafas panjang dan ia menatap Taeyeon dalam-dalam, lagi. Ia ingin jujur sekaligus mengakui kesalahannya. “Aku terlalu frustrasi karena membuatmu sangat marah waktu itu. Aku merasa sangat bersalah ketika kau memutuskan untuk keluar dan mengundurkan diri dari kondoku. Aku ingin memanggilmu untuk kembali, aku ingin mencegah kepergianmu waktu itu. Tapi aku tidak bisa, aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa sangat pantas untuk kau jauhi. Meskipun begitu, tetap saja aku merasa sangat kehilangan. Aku benar-benar merasa kosong ketika sampai di kondo, tidak mencium aroma khasmu, tidak mendengar suaramu, tidak memakan masakanmu.

“Aku merindukan semua itu sampai-sampai nafsu makanku hilang. Aku menggantinya dengan minum-minum, berharap kau datang lalu menamparku dan menanyakan kenapa aku tidak pernah peduli pada kesehatanku. Tapi kau tidak datang, kau tidak ada. Untungnya, aku punya sahabat-sahabatku,”

Taeyeon tertegun mendengar penuturan Jiyong yang jujur dari dalam lubuk hati laki-laki itu. Ia bingung bagaimana harus menyikapinya. Laki-laki yang ada di hadapannya ini sebegitunya padanya, membuat perasaan Taeyeon semakin berkecamuk dan tak karuan. Ia juga ingin menyerukan hal yang sama, tapi tak semudah yang bisa dibayangkan.

“Jangan seperti itu lagi. Jangan menyiksa dirimu lagi hanya untukku,” lirih Taeyeon. Kedua mata beningnya yang membuat Jiyong terpukau berkaca-kaca. “Ini yang terakhir kalinya aku mendengar hal bodoh seperti itu darimu,”

“Siapa yang ingin membahayakan dirinya untuk orang lain? Aku hanya mengikuti kata hatiku. Lebih baik aku yang mati, ‘kan? Setidaknya, kalau aku mati, kau juga tidak merasa kehilangan. Tapi jika kau tidak ada di mana-mana, aku merasa kehilangan semuanya,” jawab Jiyong. “Aku mencintaimu. Kau boleh tidak memercayaiku, tapi jangan usir aku, jangan minta aku untuk menjauhimu. Aku tidak mau dan itu tidak akan pernah terjadi. Kau boleh bilang ini obsesiku atau hanya karena aku membutuhkanmu. Aku setuju itu. Karena aku mencintaimu, terobsesi padamu, sehingga aku membutuhkan dan menginginkanmu hanya untukku. Hanya menjadi milikku. Kau sempurna, begitulah kau di mataku,”

Sebuah pernyataan yang begitu jujur, yang untuk pertama kalinya diucapkan oleh seorang Kwon Jiyong kepada seorang wanita. Sebuah pernyataan indah yang mengusik indera pendengaran Kim Taeyeon untuk pertama kalinya. Sangat indah hingga membuat jantungnya berdentum-dentum tak terkontrol, hingga membuat nafasnya tercekat di tenggorokan, hingga ia menitikkan air matanya, lagi.

Sedih dan bahagia. Kedua perasaan yang tidak bisa disatukan namun tak bisa Taeyeon pisahkan. Kedua perasaan itulah yang kini menyelimuti hatinya. Ia ingin egois, ia ingin menyatakan hal yang sama. Namun, perasaannya terlalu lembut, terlalu rapuh. Ia tidak ingin menyakiti hati siapapun lagi, terutama hati Jiyong. Biarkan saja hatinya yang sakit, karena hal itu juga sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Asalkan jangan hati orang lain.

“Aku percaya,” lirih Taeyeon akhirnya. Jiyong membulatkan kedua netranya, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Tapi aku masih belum bisa…,”

Jiyong mengulas senyum manis di wajah tampannya. “Tidak masalah. Kau percaya saja sudah membuatku gembira. Aku tahu tidak mudah bagimu menerima orang sepertiku, dan hal itulah yang membuatku semakin jatuh cinta padamu. Maeil-maeil, aku merasa jatuh dan semakin jatuh padamu. Apakah kau mau memberikanku kesempatan untuk membuktikannya?”

Taeyeon menggeleng cepat lalu menghapus air matanya. “Tidak perlu. Aku sudah percaya, tidak perlu dibuktikan lagi. Kau sudah membuktikannya dengan berbaring di atas tempat tidur ini. Aku hanya memintamu untuk tidak terburu-buru, aku hanya minta padamu supaya kau kembali lagi memikirkannya. Aku hany memintamu untuk memberiku waktu,”

“Tentu saja,” jawab Jiyong langsung. “Sebanyak apapun kau minta waktu padaku, aku akan memberikannya padamu, aku akan tetap menunggumu. Aku tahu akan berdiri di tempat yang sama, di sini, menunggumu. Tapi aku tidak butuh memikirkan kembali perasaanku padamu. Kenapa? Karena aku yakin. Aku yakin tidak ada yang salah dengan perasaanku padamu. Mencintaimu sungguh suatu keindahan yang tidak bisa kulukiskan, jadi buat apa aku memikirkannya lagi? Memikirkan nyawaku saja aku tidak mau jika itu menyangkut dirimu,”

“Gamsahamnida,” isak Taeyeon. Ia menundukkan wajahnya dan membiarkan dirinya sesenggukan di depan Jiyong. Entah itu tangisan bahagia atau sedih, Taeyeon sendiri tidak tahu.

Yang ia tahu, tangisan itu akan berubah menjadi tangisan pilu ketika ia membuat Jiyong membenci dirinya.

Hey,” panggil Jiyong lembut. Ia duduk lebih tegak dan menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon dengan lembut agar lebih mendekat pada dirinya. “Uljima,”

“Aku sudah berhenti, kok,” jawab Taeyeon di sela-sela tangisnya. Tapi ia memang sudah berhenti menangis dan kini hanya menundukkan wajah merahnya, membuat Jiyong gemas. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi.

“Taeyeon-ah,” panggil Jiyong dengan suara paraunya.

Taeyeon mengangkat wajah cantiknya, balas menatap kedua hazel Jiyong yang kini terlihat tengah mendambakan sesuatu. Mata itu berbinar-binar dengan liar, seakan-akan meminta izin dan Taeyeon tahu apa itu. Jantung gadis itu kembali berdenyut menyakitkan, desiran dalam tubuhnya mengalir hebat dan darah dalam nadinya mendadak berhenti berfungsi.

Ia tahu, dan gadis itu hanya diam mematung. Ia kembali memandang ke bawah, tapi tidak menundukkan wajah beningnya lagi, dan Jiyong tahu ia sudah mendapatkan izinnya.

Diraihnya wajah penuh pesona itu dengan kedua tangannya, ditangkupnya kedua pipi merona Taeyeon untuk membuat mata gadis itu balas menatapnya. Saat keduanya saling menatap satu sama lain dengan intens, Jiyong menurunkan wajah gadis itu dan mendekatkannya ke wajahnya sendiri. Perlahan, Taeyeon menutup kedua matanya, menanti.

Jiyong tersenyum kecil lalu mengecup dahi gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan cinta. Kecupannya turun di kedua kelopak mata Taeyeon, kedua pipinya, hidung, dagu, dan terakhir adalah bibir kissable milik Taeyeon yang ranum, manis, dan lembut. Sebuah kecupan di bibir yang sarat akan kasih sayang.

Kedua bibir gadis itu bergetar kecil karena hangatnya bibir Jiyong yang menyapu halus permukaan bibirnya. Dahi Taeyeon berkerut berusaha untuk mengontrol tubuhnya yang mendadak kaku dan menggigil. Sedangkan Jiyong, yang hanya tersenyum di sela-sela ciumannya, tidak menyangka respon lucu yang menggemaskan yang diperlihatkan Taeyeon. Padahal Jiyong sudah dua kali mencium bibir manis itu. Reaksi Taeyeon seperti seseorang yang baru pertama kali berciuman.

Jiyong melepas kecupan manisnya di bibir Taeyeon dan menatap gadis itu penuh damba. Malu ditatap seperti itu, Taeyeon hendak mengalihkan wajahnya ke arah lain, tapi Jiyong lebih cepat. Ia menarik lembut belakang leher Taeyeon dan mendekatkan wajah mereka lalu kembali mencium penuh bibir gadis itu.

Kedua mata Jiyong kini terpejam erat, sedangkan Taeyeon terbelalak kaget karena tindakan laki-laki itu yang tiba-tiba. Jiyong bahkan memperdalam ciumannya dengan sedikit kuat sambil menarik tubuh gadis itu untuk lebih dekat dengan tubuhnya. Otomatis Taeyeon menahan tubuhnya agar tidak jatuh menimpa tubuh Jiyong dengan meletakkan kedua telapak tangannya di dada laki-laki itu.

Mereka berbagi kehangatan bersama, berdua. Keduanya sama-sama dapat menciumi wangi khas tubuh masing-masing, terutama Jiyong. Ia yang memang selalu terbius dengan aroma lavender dan vanilla milik Taeyeon kini tidak dapat menahannya lagi, ia merasa melayang dengan mencium wangi tersebut. Ia merasa wangi gadis itu sudah menjadi aromaterapi untuknya.

Menyadari bahwa gadis yang berada dalam genggamannya sudah memejamkan kedua matanya dengan takut-takut, Jiyong memiringkan kepalanya ke kanan, mencari posisi nyaman lalu memagut lembut bibir bawah Taeyeon secara intens dan sangat intim. Dibukanya bibirnya sedikit lalu digigitnya pelan dari ujung ke ujung bibir bawah gadis itu. Begitu terus sampai akhirnya Jiyong menjilati bibir pink Taeyeon dari atas ke bawah. Sesekali ia melumat benda merah muda tersebut dengan tak sabaran. Taeyeon terkesiap, tubuhnya menegang dan ia tahu apa itu. Cengkeraman di bagian dada Jiyong semakin menguat, mengisyaratkan bahwa Taeyeon sangat gugup.

Seakan tahu, Jiyong mengelus lembut punggung, pinggang, serta rambut Taeyeon, berusaha menenangkan gadis itu. Ia berusaha keras untuk tidak meremas bagian-bagian tubuh tertentu milik Taeyeon. Ia tidak ingin terburu-buru. Mulai sekarang, ia akan bermain pelan dan perlahan secara sabar. Dan ini untuk pertama kalinya ia lembut dan penuh kasih sayang seperti ini. Hanya untuk Taeyeon.

Belaian lidah serta tangan Jiyong di tubuhnya membuat Taeyeon tak sadar telah melenguh. Ia sedikit mengerang karena Jiyong sudah menggigiti bibir atas dan bawahnya dengan gemas. Saking gemasnya ia tidak sadar telah bertindak sedikit liar dan menuntut. Menuntut agar Taeyeon membuka mulutnya, mengizinkan lidah laki-laki itu berpetualang di dalam mulut manis Taeyeon. Dan ia telah mendapatkan keinginannya. Jiyong dengan sukarela melesakkan benda tak bertulang itu ke dalam mulut si gadis, mengacak-acak dalamnya, dan terakhir menautkan lidahnya sendiri dengan lidah Taeyeon.

Tidak bisa disebut perang lidah juga, karena Taeyeon hanya diam, saking terkejutnya. Jantungnya bisa-bisa berhenti mendadak saking seringnya ia memompa dua kali lipat dari biasanya. Tapi Jiyong tidak mempermasalahkannya. Untuk kali ini biarlah ia yang aktif karena ia tahu Taeyeon juga pasti belum terbiasa. Justru karena kepasifan gadis itulah yang membuat adrenalin Jiyong terpacu kuat. Ia gemas. Sangat gemas pada gadis mungil itu. Rona merah yang menghiasi wajah cantiknya semakin mempermanis dirinya. Membuat Jiyong hilang kendali.

Dia laki-laki. Berdua dengan orang yang dia cintai di tempat yang agak remang-remang karena sudah malam. Orang yang dia cintai memercayainya dan memasrahkan dirinya seperti sekarang, bagaimana bisa gairahnya tidak memuncak detik itu juga kalau situasi dan kondisi sangat mendukung? Dia laki-laki. Dia butuh pelepasan. Dan sekarang ini di genggamannya ada seekor kelinci kecil yang polos dan lugu. Serigala lapar mana yang sanggup menolaknya?

Tapi Jiyong tahu, ia sadar ia tidak bisa bertindak terlalu jauh saat ini. Taeyeon butuh waktu, mereka butuh waktu. Dan Jiyong sudah bersumpah pada dirinya sendiri kalau dia akan menunggu gadis itu menerimanya selama apapun waktu yang diminta gadis itu. Agak aneh memang, laki-laki jarang sekali bisa menunggu lama. Namun, Jiyong tahu gadis di hadapannya ini berbeda. Dia tidak akan menemukannya lagi untuk yang kedua kalinya. Itu sebabnya ia tidak merasa keberatan jika harus banyak berkorban.

Sadar dengan nafas Taeyeon yang sudah memendek, Jiyong menarik keluar lidahnya dan melepas pagutan bibir mereka. Terlihat sangat sensual saat Jiyong sudah membuka kedua matanya, memandangi wajah merah padam Taeyeon. Gadis itu masih terpejam, bibirnya masih sedikit terbuka dengan nafasnya yang tersengal-sengal, bibirnya mengilap karena campuran saliva mereka berdua. Tangannya masih meremas kaos hitam milik Jiyong di dadanya.

Ah, bisa gila Jiyong jika ia terus-menerus dihadapkan dengan pemandangan indah seperti ini.

Untuk meredam hasratnya yang sudah diujung tanduk, laki-laki itu menarik tubuh kecil Taeyeon dan ia menenggelamkan kepalanya di dada gadis itu. Lengan Jiyong melingkari pinggang Taeyeon dan ia dapat mendengar dentuman jantung gadis itu yang berpacu sangat kuat. Mengetahui hal itu, Jiyong semakin memperdalam dekapannya.

“A… Apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon, yang lebih kepada bisikan saking malunya dia mengingat ciuman mereka yang bisa dibilang ‘panas’. Mereka berdua sudah terdiam cukup lama dengan posisi seperti itu. Sebenarnya Taeyeon malu sekali dan ingin menghempaskan kepala Jiyong yang tenggelam di dadanya.Tapi mau bagaimana lagi, dia bahkan belum bisa menggerakkan tubuhnya.

“Mianhae. Kau menggunakan lipmatte rasa strawberry, rasanya sangat manis aku jadi keterusan ,” jawab Jiyong, tanpa mengangkat wajahnya. Ingin rasanya ia menciumi seluruh bagian dada gadis itu, meskipun masih tertutupi pakaian. Namun, ia langsung menendang fikiran kotornya sebelum ia benar-benar mewujudkan keinginannya tersebut. Jika itu terjadi, ia bisa menjadi lebih dari seekor serigala yang kelaparan. Lebih buas dan dominan.

“Aku akan membuatkan bubur untukmu. Kau harus makan,” tutur Taeyeon. Ia berusaha untuk tidak semakin merona mendengar ungkapan laki-laki itu.

Jiyong mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. “Itulah yang ingin aku dengar, Ms. Kim. Aku sangat merindukan masakanmu. Hanya makanan buatanmulah yang selama ini nyaman di lambungku,”

“Apa yang kau bicarakan?” rutuk Taeyeon sembari menjauhkan tubuhnya dari dekapan Jiyong. Dengan sangat terpaksa, Jiyong melepaskannya dan hanya memandangi gerak-gerik gadis mungil itu, yang tengah mengambil mantel denimnya dari sofa dan hendak keluar dari kamar inap. “Aku akan minta izin untuk masak di dapur ini. Tunggulah sebentar,”

“Lama juga tidak masalah, yang penting kau kembali ke hadapanku,” jawab Jiyong sambil tersenyum menyeringai. “Kau kembali ke kondoku hari ini? Untuk membuat cupcakes atau benar-benar kembali bekerja?”

“Hanya membersihkan kondomu saja, sangat berantakan soalnya,” jawab Taeyeon.

“Kalau begitu, kembalilah sebagai housekeeper-ku. Selain menginginkanmu, aku membutuhkanmu. Kau bisa sekaligus merawatku sampai aku sembuh total. Dengan kepala dan tubuh memar begini, aku pasti tidak bisa melakukan apa-apa,” bujuk Jiyong dengan wajah memelas.

“Arraseo, kau juga sudah memberiku gaji selama dua bulan ke depan. Jadi, aku masih punya kontrak kerja denganmu,” jawab Taeyeon dan ia tersenyum manis sekali. Hanya beberapa detik, setelah itu ia berbalik dan keluar dari kamar.

Melihat senyuman langka Taeyeon, Jiyong merasakan hatinya berbunga-bunga layaknya anak remaja tanggung yang sedang jatuh cinta. Jiyong tertawa dalam hati. Ia memang sedang jatuh cinta, bukan?

~~~

“Kau sedang masak apa?” tanya Jiyong saat ia baru saja keluar dari dalam kamarnya dan langsung menuju dapur untuk melihat keberadaan Taeyeon, yang asyik sendiri dengan cakes buatannya.

“Ne, hari ini bukannya Youngbae oppa berulang tahun? Aku ingin mencoba membuat birthday cake pertama kalinya untuk dia,” jawab Taeyeon dengan senyuman sumringah yang tercetak jelas di wajahnya. Berbeda dengan Jiyong, laki-laki itu langsung menatap tajam Taeyeon dengan perasaan tak suka.

“Kau belum pernah membuatnya? Bahkan untuk baby L?” tanya Jiyong.

“Belum pernah. Sudah kukatakan ini untuk pertama kalinya,” jawab Taeyeon acuh tak acuh sekaligus merasa kesal dengan pertanyaan Jiyong yang membuat konsentrasinya terganggu. Ia tidak ingin gagal. “Kenapa kau belum sarapan? Sana, pergi. Aku takut cake-nya gagal. Ini, ‘kan hari special-nya Youngbae oppa,”

Jiyong makin tidak suka mendengarnya. Entahlah, walaupun ia dan Youngbae bersahabat, ia merasa tidak rela jika buatan seorang Kim Taeyeon untuk pertama kalinya ditujukan buat orang lain, dan bukannya untuknya. Lebih parahnya lagi, itu untuk sahabatnya. Alhasil, Jiyong merebut cake yang sedang dilapisi strawberry cream oleh Taeyeon, membuat gadis itu terpekik kaget, sehingga cream-nya terciprat mengenai wajah dan kerah kemeja gadis itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” seru Taeyeon kesal. Cream yang ada di cake-nya jadi tidak beraturan dan ingin sekali rasanya ia menjambak rambut hitam laki-laki itu.

Jiyong meletakkan cake tersebut di atas meja makan dan langsung menghampiri Taeyeon yang masih menekuk wajahnya, kesal. Laki-laki itu berhenti tepat di depan Taeyeon dan ia sedikit menundukkan wajahnya, menyetarakan wajah mungil gadis itu.

“Kau sudah berani membentakku? Sejak kapan?” tanya Jiyong penuh dengan tekanan. Nada suaranya seperti sebuah desisan. Matanya menatap tajam kedua mata Taeyeon dalam-dalam, sampai-sampai gadis itu meneguk ludahnya dan mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap lantai. Tanda bahaya sudah berdering kencang di dalam fikirannya.

“Aku tidak membentakmu, aku hanya memintamu untuk tidak mengusikku,” sanggah Taeyeon pelan, dengan matanya yang masih menolak untuk menatap wajah tampan laki-laki itu, yang secara ajaib sudah berjarak beberapa senti dari wajahnya. Hembusan nafas beraroma mint campuran citrus bahkan sudah dapat dirasakan Taeyeon. Wajahnya berubah merona merah.

“Aku mengusikmu karena kau membuat sesuatu untuk orang lain di kondoku. Seharusnya kau melakukan apa yang kau suka di sini tujuannya hanya untukku. Bagaimana bisa kau membuatkan cake untuk Youngbae di dalam kondoku?” tanya Jiyong.

“Joseonghaeyo. Aku akan membawa pergi cake-nya dan mengerjakannya di apartemen Hyorin eonni. Aku fikir kau akan mengizinkanku. Joseonghaeyo, aku sudah lancang menggunakan dapur serta bahan-bahan darimu,” cicit Taeyeon, ia memilin jari-jemarinya, tidak menyangka jika Jiyong tidak suka dengan kelakuannya. Taeyeon berfikir jika mereka sudah lebih dekat dari dulu-dulu dan ia ingin bersikap lebih santai pada Jiyong. Tapi itu malah membuatnya marah.

Jiyong menghela nafas kasar dan tampak frustrasi. Ia menyangga kedua tangannya di meja dapur yang ada di belakang Taeyeon, membuat tubuh kecil gadis itu makin terhimpit, nyalinya semakin ciut, dan ruang pergerakannya jadi terbatas. Belum lagi debaran jantungnya yang entah kenapa akhir-akhir ini sering terjadi setiap kali ia berdekatan dengan Jiyong.

“Kau tidak mengerti maksudku,” ujar Jiyong. “Sebenarnya kau boleh membuat apa saja di kondoku, untuk orang lain juga tidak masalah, tapi ini untuk pertama kalinya kau membuat birthday cake untuk orang lain. Ditambah di hari istimewa orang tersebut. Putrimu sendiri belum pernah merasakannya. Apakah itu adil? Apakah Youngbae memang sebegitu special-nya? Aku tahu dia sangat baik padamu, tapi kau juga harus memikirkan perasaan Hyorin noona. Dan perasaanku, tentu saja,”

Mendengar penjelasan Jiyong, dengan berani Taeyeon menatap wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Kedua netra cantiknya membulat, mengerti apa maksud ucapannya. Dan hal itu sukses membuat rona merah muda di kedua pipi Taeyeon menjadi semakin merah.

“Maksudmu…,”

“Aku cemburu. Kenapa kau tidak paham juga? Kau boleh memberikan Youngbae apa saja, tapi jangan sesuatu yang untuk pertama kalinya kau lakukan,” sela Jiyong. Kedua alisnya menukik tajam, masih merasa sebal.

“Aku hanya membantu Hyorin eonni. Lagipula dia juga sibuk menyiapkan private party mereka berdua, jadi…,”

“Cukup ajarkan saja dia, jangan membantu membuatkan,” potong Jiyong lagi. “Kau berjuang keras sekali sampai wajahmu jadi berantakan cream begini,”

“Tapi…,”

Taeyeon ingin menyanggah lagi, ingin melakukan pembelaan. Namun, kata-kata yang hendak ia keluarkan segera lenyap begitu ia merasakan ciuman Jiyong di bawah mata kirinya. Ia menyesapkan bibirnya di sekitar area itu, area yang terkena cipratan strawberry cream tadi. Tubuh Taeyeon mati kutu di tempat. Ia tidak bergerak sesentipun saking shock-nya, apalagi di saat Jiyong memberikan ciuman basah di seluruh permukaan wajahnya, yang Taeyeon yakini terbebas dari cream sialan itu.

Taeyeon memilih untuk memejamkan kedua matanya ketika ia yakin bibir laki-laki itu akan segera mendarat di bibirnya. Entah apa yang menyebabkannya berfikiran seperti itu, tapi hal tersebut sukses membuat Jiyong tersenyum geli.

“Kenapa kau memejamkan matamu, Taengoo-ah?” bisik Jiyong dengan nada jahilnya yang kentara sekali.

Taeyeon buru-buru membuka dan membelalakkan kedua matanya saat laki-laki itu memberikan seringaian mengejek padanya. Malu bukan main karena ketahuan berfikiran dan mengharapkan yang tidak-tidak, gadis baby face itu menatap tajam Jiyong dan menghempaskan salah satu lengannya yang bersangga di meja dapur. Taeyeon keluar dari kungkungan Jiyong dan memilih untuk membuka apron biru tuanya dengan membelakangi sang pemilik kondo.

“Aku mau keluar sebentar…”

Ucapan Taeyeon terputus saat lengan kanannya di tarik dari belakang. Kedua pipimya ditangkup paksa oleh lengan kokoh Jiyong dan sejurus kemudian bibir lembut laki-laki itu langsung melumat bibir Taeyeon dengan tak sabaran. Dipagutnya kasar dan disesapnya kuat-kuat hingga Taeyeon harus menarik nafas dari mulutnya. Celah kedua bibir gadis itu terbuka dan rasanya Jiyong ingin kembali merasakan lembutnya lidah Taeyeon dan manisnya saliva gadis itu.

“Ya, byuntae!” seru seseorang yang suaranya sangat tidak asing di kedua telinga Taeyeon maupun Jiyong. Suara Hyorin.

Mendengar seruan dari Hyorin, Taeyeon langsung melepas ciuman Jiyong dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa sangat malu karena ketahuan, ditambah lagi dengan seruan ‘mesum’ Hyorin.

“Ya, apa jadinya kalau aku tidak datang,eoh Kwon Jiyong?! Kau mau melakukan hal aneh-aneh pada Taeyeon? Sudah berapa lama kau tidak berhubungan dengan para friends of benefit-mu itu? Awas saja kalau kau sampai bertindak di luar batas,” omel Hyorin pada Jiyong dan ia langsung berdiri di depan Taeyeon, seolah-olah melindungi gadis itu dari terkaman singa buas.

“Aku hanya membersihkan cream dari wajahnya saja,” tutur Jiyong membela dirinya sendiri.

“Kau banyak alasan, pervert. Jelas-jelas aku melihat perbuatanmu tadi. Kau seakan-akan ingin memakan mulutnya! Dasar liar,” tuduh Hyorin lagi, dan kali ini membuat rona merah di wajah Taeyeon kembali bersemu. Sedangkan Jiyong hanya memamerkan senyum lebar tak bersalahnya.

“Noona sedang apa di sini? Masuk ke kondoku sembarangan. Waeyo? Kau mengganggu saja,” rutuk Jiyong.

“Aku sudah ada di kondomu ini sejak pukul tujuh pagi tadi, pabo. Kau masih tidur, jadi tidak tahu aku datang atau tidak. Aku pergi bersama Taeng dan meminjam dapurmu untuk membuat birthday cake Youngbae. Aku tidak meminta izinmu, tapi izin Taeyeon dan Taeyeon tidak keberatan untuk mengajariku. Lagipula, Taeyeon sudah kau anggap sebagai nyonya besar di rumah ini, ‘kan?” jelas Hyorin yang wajah sangarnya terganti dengan senyuman manis khas dirinya.

“Taeyeon baru pertama kali membuatnya, apa bisa mengajarimu?” tanya Jiyong heran.

“Tentu saja bisa. Artinya, kami sedang sama-sama belajar dan tadi aku keluar membeli beberapa buah-buahan untukmu, sebagai ungkapan terima kasih,” jawab Hyorin lagi dan ia meletakkan sebuah plastik putih besar di atas meja dapur. “Tadi aku mencicipi sedikit dan rasanya sangat enak dan teksturnya lembut. Aku tidak menyesal memintamu untuk mengajariku, Taeng. Gomawo,”

“Cheonma, eonni,” balas Taeyeon sembari tersenyum manis. “Dan cream-nya belum sempat aku selesaikan. Ada banyak gangguan soalnya,”

Taeyeon melirik Jiyong tajam dengan wajahnya yang masih merona. Jiyong hanya memberikan senyuman lebar sebagai permintaan maafnya.

“Mian, aku terlalu emosi tadi,” ujar laki-laki itu saat Hyorin kembali mengambil cake-nya dari atas meja makan dan mengolesi strawberry cream di atasnya. “Seandainya kau menjelaskan..,”

“Aku mau menjelaskannya tapi kau yang selalu menyelaku,” desis Taeyeon.

“Yeah… mau bagaimana lagi? Kau terlalu menggemaskan ketika ketakutan seperti tadi. Jujur saja, aku hampir tidak bisa menahan tawaku tadi. Sebaliknya, aku justru ingin menciummu saking gemasnya,” ungkap Jiyong dengan santainya.

“Michin…,”

“Ya, jangan sering menggerutu. Tidak baik jika Lauren melihatnya,” saran Jiyong dengan wajah sok lugunya.

Ia tersenyum manis sambil mengerling pada Taeyeon lalu melangkahkan kakinya menuju sofa ruang tengah dan duduk di atasnya sambil memainkan ponselnya. Tidak berapa lama, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari Joohyun.

“Yeobo…,”

Oppa, neo gwanchanna?!” seru Joohyun di seberang telepon. “Tiga hari yang lalu aku menelepon ke ponselmu tapi seseorang yang bernama Seungri mengangkatnya dan mengatakan kalau kau masuk rumah sakit. Oppa, wae geuraeyo? Kau sakit apa? Seungri-nim tidak menjelaskan apa-apa padaku dan memintaku untuk menunggu selama tiga hari. Oppa, aku sangat cemas. Kau sakit apa?”

“Bukan sakit yang parah, Baechu-ah, jangan khawatir,” jawab Jiyong dengan nada yang dapat menenangkan Joohyun.

“Lalu? Kenapa? Kenapa sampai harus dirawat di rumah sakit? Kau sudah dua kali dibawa ke rumah sakit, apa itu masih bisa dibilang bukan sakit yang parah?” cecar Joohyun lagi. Dari suaranya ia terlihat sangat khawatir, membuat Jiyong tersenyum geli.

“Depresi, Baechu-ah. Karena gadis itu berulang kali menolakku,” jawab Jiyong diselingi tawa renyahnya. “Dan sekarang aku hanya perlu membuatnya semakin memercayaiku,”

“Kau sangat tangguh, oppa. Apa yang kau lakukan sampai masuk ke rumah sakit?”

“Sebuah pengorbanan,” jawab Jiyong pelan.

“Aku jadi semakin iri dengannya,” ungkap Joohyun sambil tertawa. “Oppa, ada kabar bagus yang akan aku beritahukan padamu,”

“Mwondae?”

“Dua hari lagi aku akan pulang ke Korea!” seru Joohyun.

“Jinjjayo? Jeongmalyo, Baechu-ah?” tanya Jiyong dengan perasaan senang dan rasa tidak percaya.

“Ne! Karena aku tidak punya tempat tinggal di Seoul, bolehkah aku menginap di kondomu, oppa? Hanya satu minggu saja,” pinta Joohyun. “Dan aku berjanji tidak akan mengganggumu kalau ada gadis itu,”

“Boleh saja. Tinggallah di sini sesukamu. Ah, mungkin aku juga bisa mengenalkanmu dengan gadis itu. Dia sangat istimewa dan berbeda dari gadis-gadis yang lainnya, jadi jangan terkejut, eoh? Dan aku juga tidak akan membiarkanmu sendirian terkurung di kondoku. Aku akan mengenalkanmu juga dengan beberapa orang temanku, jalan-jalan sekitaran Seoul, dan shopping mungkin?” tawar Jiyong dengan semangat.

“Aku masih mengenal kota Seoul, oppa,” canda Joohyun. “Tapi kalau kau memaksa, aku ikut saja. Mungkin kau juga bisa menjadi matchmaker-ku?”

“Bisa jadi, tapi teman-temanku tidak sebaik dan setampan aku,” balas Jiyong.

“Ne~ Kau memang yang terbaik, oppa. Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk memilih yang lain?”

“Ya, kau ingin membuatku merasa bersalah lagi, Joohyunnie?” tanya Jiyong dengan perasaan yang memang benar-benar bersalah.

Joohyun terkikik geli. “Kita sudah pernah membicarakan ini, oppa. Cukup ingat saja kata-kataku kemarin. Dan aku akan sangat mendukungmu, apapun itu. Jangan pernah merasa bersalah karena jatuh cinta juga bukanlah sesuatu yang patut disalahkan. Cinta bisa datang kapan dan di mana saja, lalu kita bisa apa selain memperjuangkannya? Tapi, kalau kau sudah lelah dan tidak tahu lagi harus pergi ke mana, aku pasti akan tetap berada di tempatku, oppa,”

“Arraseo, aku pasti akan selalu mengingatnya. Kau gadis yang sangat baik hati, Baechu-ah. Gadis sempurna yang pasti menyesal telah bertemu dan jatuh hati padaku. Aku berjanji akan mencari pangeran yang selama ini kau impikan, Baechu-ah. Lebih baik dariku karena kau pantas mendapatkannya,” tutur Jiyong dengan tekadnya yang sangat kuat.

“Aku akan menagih janjimu, oppa. Baiklah, sampai jumpa dua hari lagi. Karena perjuanganmu sangat panjang dan melelahkan, kau jangan sampai masuk ke rumah sakit lagi, okay?”

“Ne, sampai jumpa dua hari lagi, Baechu-ah. Saranghae,” balas Jiyong dan ia tersenyum lebar, sedikit menggoda Joohyun dengan menggantikan kata ‘Annyeong’ dengan ‘Saranghae’.

Setelah Joohyun memutuskan sambungan teleponnya, Jiyong meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan ia juga mendapati sosok Taeyeon yang tengah melangkah ke arahnya sambil membawa nampan berisi chamomile tea dan bubur sarapannya. Diletakkannya nampan tersebut di hadapan Jiyong dan tanpa berkata apa-apa lagi, Taeyeon membalikkan tubuhnya kembali ke dapur.

“Taeng?” panggil Jiyong dengan nada agak ragu. Ia heran dengan perubahan sikap Taeyeon. Biasanya gadis ini akan menyuruhnya dengan paksaan agar cepat-cepat menghabiskan buburnya. Dan sekarang ia tampak acuh tak acuh.

“Ne?” jawab Taeyeon. Ia berbalik dan menatap Jiyong.

“Eung… hari ini aku akan ikut menjemput Lauren ke sekolah. Sudah lama tidak menemui gadis cilik itu di sana. Otte?” tanya Jiyong.

“Tumben sekali kau bertanya. Biasanya kau tidak butuh persetujuanku,” gumam Taeyeon sebagai jawabannya dan ia kembali melangkah menuju dapur, meninggalkan Jiyong dengan wajah tercengangnya, heran sekaligus bingung.

Gadis itu kembali mengeluarkan aura dinginnya. Dan Jiyong sama sekali tidak tahu apa penyebabnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

 

Advertisements

58 comments on “Beautiful Lies (Chapter 8)

  1. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s