MONEY (Chapter 7)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

BAIK DIKONSUMSI SETELAH BERBUKA PUASA! JIKA KALIAN KERAS KEPALA, DOSA DITANGGUNG MASING-MASING!

Preview : Prologue + Introducing Cast , Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6

“Ada apa Taehyung-a?” Taeyeon muncul dari lantai dua sambil menalikan bathrobe yang membungkus tubuhnya, rambut gadis itu masih menempel basah di kulit.

Dengan keadaan mereka sekarang, satu-satunya yang terlintas dipikiran Taehyung adalah…

Matilah sudah.

Seven

“Taehyung-a, aku bertanya padamu” ulang Taeyeon.

Taehyung menelan ludahnya dengan susah payah, “Umm… itu…”

Penjelasan Taehyung terpotong bunyi gedoran pintu di luar.

Taeyeon mengerutkan alis, “Siapa diluar, Taehyung-a? Kau tidak sedang memesan pizza dan tidak mau membayar kan?”

Hampir semenit Taehyung menggerak-gerakkan tangannya seperti memberi isyarat—tentu tidak memiliki arti—namun ia sadar bahwa ia sama sekali tidak memberikan petunjuk apapun begitu melihat Taeyeon semakin mengerutkan alisnya.

“Kau lihat sendiri saja lah” ujar Taehyung putus asa, membuka pintu dibelakangnya sambil menggaruk tengkuknya.

Nampaklah sudah, Oh Sehun berdiri marah di ambang pintu. Tatapannya semakin marah melihat Taeyeon berdiri beberapa meter darinya dengan hanya memakai bathrobe. Taehyung semakin salah tingkah melihat Taeyeon tak bereaksi apapun.

“Umm… selamat datang, Tuan Oh” sapa Taehyung tersenyum kikuk. Sehun langsung melotot marah padanya. Seseorang harus segera menjelaskan padanya sebelum ia mulai melempar Taehyung dari lantai tiga puluh apartemennya ini.

Taeyeon menandang Taehyung dan Sehun bergantian. Lalu dia sadar dirinya dan Taehyung masih memakai handuk. Yah… sepertinya ada yang sedang salah paham disini.

“Diluar dingin, Sehun-a. Masuklah” ujar Taeyeon memecah keheningan, ia menghampiri Sehun serta menggandeng lengan si rambut hitam agar masuk.

Sehun cepat menepis, “Karena dingin, kau menghangatkan diri dengan laki-laki ini, heh!” sergah Sehun menunjuk Taehyung.

Taeyeon diam.

Taehyung mengacak-acak rambut saking frustasi, “Begini—”

Taehyung belum sempat menjelaskan, Taeyeon yang mulai mengerti keadaan malah tertawa cekikian. Gadis itu terus tertawa sampai memegangi perutnya.

“Taeyeon-a… tolong serius!” tegas Sehun dan Taehyung bersamaan, membuat Taeyeon semakin tertawa keras.

“Hahaha~ Kalian lucu…” tawa Taeyeon belum berhenti, sudut matanya bahkan sudah mengeluarkan air saking tidak bisa menahan geli. Sepertinya kedua pria malang dihadapannya harus bersabar menunggu sampai acara ‘tertawanya’ benar-benar selesai.

“Begini…” Taeyeon mengatur nafasnya agar normal kembali, “Kau mengira aku tidur dengan Taehyung kan, Sehun-a?”

“Memangnya apa lagi!” geram Sehun merasa Taeyeon sedikit berbelit.

“Kami tidak melakukannya, Tuan Oh” jelas Taehyung hati-hati, namun yang didapatkannya adalah tatapan mematikan dari Sehun.

“Aku tidak bertanya padamu!”

“Oke, dengarkan aku” Taeyeon melingkarkan kedua tangan keleher Sehun. Dalam keadaan normal, Sehun akan dengan senang hati balas memeluk pinggangnya. Namun kali ini jangan harap, tangannya benar-benar sudah gatal untuk mematahkan leher Taehyung bahkan sejak pertama ia melihat pria itu membuka pintu.

Taeyeon tersenyum simpul menatap iris kelam milik Sehun, berharap tatapan marah kekasihnya akan sedikit melunak, “Taehyung menemaniku membeli buku sewaktu pulang sekolah dan kami kehujanan saat perjalanan pulang. Karena itu, aku mengajak Taehyung berteduh disini”

“Sambil berteduh, sekalian bersenang-senang. Begitu?” sinis Sehun.

“Untuk apa aku bersenang-senang dengan Taeyeon kalau kenyataannya kami berada di apartemenmu” gerutu Taehyung, “Kalau aku ingin, aku pasti lebih pintar dengan memilih melakukannya di motel dekat toko buku atau gedung musik sekolah. Yang jelas tempat yang tidak ada hubungannya denganmu”

“Kau!” geram Sehun hendak memukul Taehyung, untung Taeyeon semakin mengeratkan rangkulannya.

“Taehyung-a, jangan membuat ini semakin buruk” omel Taeyeon lalu kembali mengerling nakal pada kekasihnya, “Hey, tenanglah. Lagipula untuk apa aku tidur dengan Taehyung sedangkan dia tidak punya uang?”

“Cih, kau menggelikan Kim Taeyeon” cela Taehyung, “Sekalipun aku banyak uang, aku pasti jijik kalau harus tidur denganmu”

“Oh, kau bicara seperti aku akan tertarik saja tidur denganmu kalau kau punya uang, kau masih kecil” balas Taeyeon tak mau kalah.

“Kalian ingin bertengkar, atau mulai menjelaskan semuanya padaku?” kesal Sehun melihat kedua orang didepannya malah sibuk berdebat tanpa menganggapnya yang masih dalam mode marah.

Taehyung menghelas nafas sejenak. Situasi tumbuh menjadi sangat menjengkelkan, tahu begini lebih baik ia mengajak Taeyeon berteduh di halte bus saja. Sehingga ia tak perlu menghadapi Sehun dan semua sifat temperamen-nya.

“Taeyeon itu adikku, Tuan Oh. Tidak mungkin aku meniduri adikku sendiri, bayangkan saja apa rasanya kalau kau meniduri adikmu” jelas Taehyung bosan.

“Yaa! Yang adik itu kau. Bukan aku!” protes Taeyeon, “Jelas aku yang lebih tua darimu!”

“Tapi badanmu lebih pendek dariku. Kau lebih pantas menjadi adik kecil” jawab Taehyung.

“Kau mengataiku pendek?” Sahut Taeyeon tak terima, “Kurang ajar kau! Tak ada sopan-sopannya pada noona-mu sendiri”

“Apanya yang noona? Sudahlah, nikmatilah peranmu sebagai adik kecilku” balas Taehyung lagi.

Taeyeon membelalak, “Yaak! Kau—”

“Sudah cukup!” bentak Sehun melepaskan rangkulan Taeyeon dilehernya. Jengkel—itu yang ia rasakan. Apakah ini rasanya menjadi orang dewasa sendiri ditengah anak-anak remaja yang sedang bertengkar? Benar-benar membuat sakit kepala.

Taeyeon mendengus sebal. Kali ini terpaksa dia mengalah membiarkan Taehyung memposisikannya sebagai adik, dilain kesempatan Taehyung tidak akan bisa.

“Sehun-a, apakah kau tahu aku ini anak angkat?”

“Kau tak pernah cerita, ingat?”

“Baiklah. Begini…” Taeyeon menghela nafas sebentar, “Aku adalah anak adopsi keluarga Kim, mereka mengadopsiku saat usiaku sebelas tahun. Dan sebelum itu, aku tinggal disebuah panti asuhan di Gangnam, Taehyung dan aku sudah berada di panti asuhan itu sebagai saudara” jelas Taeyeon. Akhirnya sebagian kecil informasi mengenai kehidupan Taeyeon didapatkan Sehun dari mulut gadisnya sendiri. Lain kali ia harus membuat gadis itu bercerita lebih banyak.

“Kalian punya hubungan darah?” Selidik Sehun.

Taehyung menggeleng, “Bukan saudara kandung. Anak-anak di panti asuhan jarang memiliki saudara yang masih sedarah, namun kami benar-benar sudah seperti adik-kakak bahkan sejak pertama Taeyeon dititipkan disana”

Taeyeon mengangguk, membenarkan.

“Huh!” dengus Sehun, “Bukan saudara sedarah. Lalu, bagaimana bisa aku mempercayai kalian? Dan seingatku, Jiyeon sedang menjodohkan kalian berdua”

“Jiyeon mana tahu kami satu panti asuhan dulu, kami bertemu lagi saja karena dia. Kalau sepupuku tahu hubungan kami sudah sejauh ini, mana mungkin dia terus-menerus berusaha menjodohkan kami?” Ujar Taeyeon.

Sehun berdiri diam. Masih memandang Taehyung dan Taeyeon bergantian dengan tatapan ragu. Sebagai sesama laki-laki, Taehyung jadi seperti bisa membaca pikiran Sehun. Pemuda berambut dark brown itu akhirnya berjalan mendekati Sehun, sedikit membenarkan handuknya yang telah menjadi sedikit longgar.

“Kalau kau tidak percaya, kami bisa menunjukkan panti asuhan tempat kami—”

Sial untuk Taehyung. Handuk pemuda itu tiba-tiba melorot.

“Taehyung!” jerit Taeyeon berbalik memunggungi Taehyung dan cepat menyembunyikan wajahnya didada Sehun. Jelas Sehun langsung melotot marah atas tindakan ceroboh si rambut dark brown itu.

“E,eh…” Taehyung cepat-cepat menahan handuknya. “A-aku sebaiknya mengecek pakaianku sudah kering atau belum di belakang”

Taehyung mengambil pilihan bijak dengan cepat menghilangkan diri dari hadapan Sehun. Kalau tidak, hadiah ‘spesial’ sudah siap ia dapatkan dari si tuan rumah.

Sehun mendengus sebal. Wajahnya masih jelas berkerut marah, jejak kekesalannya juga masih ada. Meskipun begitu… perasaannya sedikit lega. Ia menunduk menatap Taeyeon yang masih erat membenamkan wajah di dadanya. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum, tangannya juga mengusap lembut punggung Taeyeon. Sepertinya Taehyung dan gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya. Kalau tidak, kenapa Taeyeon begitu terlihat malu melihat tubuh Taehyung.

“Apakah Taehyung sudah pergi?” tanya Taeyeon belum berani mengangkat wajah.

“Sudah” ucap Sehun berusaha terdengar kaku.

Perlahan Taeyeon mengangkat wajahnya, irisnya begitu mengiba menatap Sehun, “Masih marah?”

Sehun membuang muka kearah lain.

Taeyeon menggigit bibir—kebiasannya ketika gugup, “Aku bicara jujur. Seperti kata Taehyung, kalau perlu kita tanyakan langsung pada pihak panti—”

“Aku percaya” potong Sehun akhirnya kembali menatap Taeyeon.

Taeyeon mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan yang barusan di dengarnya nyata.

“Aku bilang, aku percaya” ulang Sehun, terasa ada sedikit seringai di wajah kekasihnya itu. Gadis itu tersenyum lebar.

“Jadi, apakah bunga yang kau pegang itu untukku?” Tunjuk Taeyeon.

“Eh?” tatapan Sehun beralih pada tangan yang tidak mengusap punggung Taeyeon. Baru teringat sebelumnya ia ingin menghadiahi Taeyeon bunga.

Sehun mengangguk pelan, memberikan bunga Krisan itu ketangan Taeyeon, “Aku tidak tahu kau suka bunga apa, jadi kubeli saja bunga—”

“Aku suka!” potong Taeyeon girang, “Terimakasih, Sehun-a…” lalu satu kecupan mendarat dibibir pemuda itu.

Sehun mendesah berat. Lihat, betapa manisnya kelakuan gadis mungilnya ini. Ia tak akan mampu marah atau kesal terlalu lama, karena yang ada dirinya sendiri yang akan tersiksa. Dengan satu tarikan, Sehun berhasil menawan bibir Taeyeon agar mengulang ciuman tadi menjadi sedikit panas. Satu kecupan tak akan cukup untuk seorang Oh, harus ada kecupan-kecupan lainnya sampai ia puas.

Beruntung kau bisa menjinakkan si setan Oh itu, Taeyeon-a. Aku pulang. Karena kau terdengar sibuk dengan desahanmu bersama kekasihmu. Nikmatilah hari liburmu dengan baik.

K.T.H

Taeyeon tersenyum membaca note yang tertempel dikulkas itu. Kim Taehyung. Jadi pria itu semalam belum pulang. Haha… terdengar menggelikan mengetahui seseorang yang berniat berpamitan denganmu malah mendengar apa yang tengah kau lakukan bersama sang kekasih. Taeyeon kira setelah melarikan diri dari amukan Sehun, Taehyung segera mengenakan pakaian basahnya dan pulang. Tapi ternyata tidak.

Sekali lagi Taeyeon terkekeh. Dan membuka lemari es untuk mengambil beberapa bahan untuk sarapan. Lemari es Sehun memiliki enam pintu, dan semua bahan mentah hingga fast food tersedia disana. Tapi dilihat dari segelan bahan-bahan mentah sepertinya Sehun benar-benar tak pernah menyentuhnya. Jadi kekasihnya itu selalu makan fast food saat dirumah? Tidak sehat sekali.

Taeyeon mengambil buah-buahan, selada, tomat, keju dan roti kupas. Ia mengupas buah-buahan dan memanggang roti. Sepertinya sarapan dengan sandwich dan salad bukan pilihan buruk. Beberapa menit berkutat dengan saladnya, akhirnya ia selesai. Waktunya menghidangkan…

“Ya Tuhan!” Taeyeon berseru kaget, “Isshh… sekali lagi kau membuatku jantungan, akan ku bunuh kau”

Sehun terkekeh, “Tidak ada yang akan memberikanmu uang”

Sehun mencium bibir gadis itu dan berbalik menuju meja makan. Tahu kalau Taeyeon akan menghidangkan makanan yang dibawanya disana.

“Tak ada hubungannya dengan itu” jawab Taeyeon seraya meletakkan sepiring salad buah dihadapan Sehun sekaligus kopi hitam, ia duduk disamping pemuda itu, “Kau tak harus datang tiba-tiba mengagetkanku begitu. Dasar tak tahu aturan”

“Tak perlu memakai aturan jika berada di apartemen milikmu sendiri”

Taeyeon mengangkat bahu, “Terserah”

“Mau daging atau selai?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Daging”

Taeyeon menambahkan satu slice daging ke roti panggang milik Sehun, kemudian selada, tomat, keju, terakhir menumpuknya lagi dengan roti panggang. Lalu diletakannya dipiring Sehun.

Mereka makan dengan tenang. Hingga makanan mereka tersisa sedikit, Sehun menyeruput kopinya dan menyeka mulutnya dengan lap.

“Aku harus pergi ke Swiss, bagaimana menurutmu?” Sehun membuka pembicaraan. Taeyeon mendongak menatapnya dengan alis berkerut.

“Menurutku?” Ulangnya, “Haruskah aku memberikan pendapat?”

Sehun mengangkat bahu.

“Sebenarnya semua itu terserah padamu. Kau pergi untuk urusan bisnismu kan? Kalau yang kau khawatirkan adalah keadaanku selama kau pergi, itu tidak perlu, aku baik-baik saja” jawab Taeyeon.

Sehun menatap gadisnya menyelidik, “Tapi kau tak berniat bersenang-senang…”

“Aku akan bersenang-senang disekolah” potong Taeyeon cepat, “Kau khawatir aku bersenang-senang dengan laki-laki lain? Huh… semalam kau bilang percaya padaku, tapi kenapa masih meragukanku?”

“Aku hanya tidak bisa melihatmu tidur dengan laki-laki lain” Sehun mengecup berkali-kali bibir kekasihnya, “Kim Taehyung bukan pengecualian, mengerti?”

Taeyeon mengangguk. Entah mengapa ia menjadi penurut, padahal ia bisa saja mendebat. Tapi tidak. Sehun akan pergi yaa, berapa lama…

“Berapa lama kau pergi?” Pertanyaan yang terlintas diotaknya meluncur begitu saja.

“Empat hari?… Lima hari?… Atau mungkin seminggu. Aku tak tahu. Tapi akan ku usahakan empat hari aku sudah kembali” jawab Sehun.

Taeyeon merasakan hal aneh dihatinya. Ugh… kenapa ia merasa sangat resah?

“Oke. Kau berangkat hari ini?” Taeyeon berdiri diikuti Sehun. Sehun menarik gadisnya mendekat.

“Besok. Aku akan berangkat besok bersama beberapa direktur bagian dan Yonghwa”

“Mungkin aku akan merindukanmu” ucap Taeyeon memeluk pria itu erat-erat untuk menghilangkan resah dihatinya. Oh ayolah, Sehun hanya akan melakukan perjalanan bisnis. Tak ada yang aneh.

Sesuatu yang aneh lainnya. Kali ini mereka benar-benar bicara, tanpa berakhir dengan seks. Diskusi yang begitu manis, hingga terasa seperti pasangan pengantin muda.

Jari-jari tangannya mengusap pipi yang begitu halus, dan tangan yang lain melingkar erat di pinggang mungil. Bibir yang begitu hangat sekali lagi turun menyentuh bibir sang kekasih. Oh Sehun tidak membuang-buang waktu dengan ciuman lambat, tapi ia langsung menggigit bibir bawah gadisnya dan memaksa mulutnya terbuka untuk serangan lidah. Kekasihnya mengerang pelan ketika lidahnya mulai mengeksploitasi, menghisap, serta menikmati setiap bagian yang disuguhkan.

Taeyeon mengerang gelisah, merasa Sehun tumbuh semakin agresif. Tubuhnya mulai bereaksi terhadap rangsangan dari posisi yang begitu kompromi mengangkangi Sehun di kursi pengemudi. Lengan Sehun di punggungnya meluncur turun cukup jauh sehingga dapat masuk kedalam rok serta meraba-raba pantatnya. Taeyeon merasakan jari-jari yang kuat itu mulai meremas pantatnya dengan nafsu seorang pria kelaparan. Tangan yang sedari tadi sibuk membelai pipinya juga telah perlahan-lahan turun ke leher, menarik-narik paksa pita seragamnya. Sialan, ciuman ini sepertinya tidak akan ada ujung dan pangkalnya.

Taeyeon dengan cepat melepas ciuman itu, dadanya naik turun dengan upaya mengisi oksigen. Irisnya menatap geli Sehun yang sama terengahnya.

“Sialan, Taeyeon” kata Sehun serak, menghempaskan kepala ke sandaran kursi.

Taeyeon terkikik. Rupanya ia sudah cukup banyak belajar trik memancing nafsu Sehun hingga ketingkat sekarang. Apa yang dilakukannya ternyata begitu berpengaruh bagi Sehun, padahal tadi ia hanya berniat sedikit—ya, hanya sedikit menggoda.

Si rambut hitam mendengus sebal, mengusap punggung Taeyeon tanpa indikasi apapun, “Yakin tidak ingin ikut aku ke Swiss?”

Yaa, inilah waktunya. Setelah pembicaraan kemarin, tiba-tiba malamnya Sehun mengajak Taeyeon untuk ikut saja bersamanya, namun apalah guna permintaannya itu jika akhirnya Taeyeon menggeleng, sekarang pun gadis itu tetap menggeleng.

“Tidak bagus meninggalkan sekolah saat sudah memasuki semester dua. Kau kan hanya pergi seminggu”

“Hhh… oke. Aku memang tidak pernah bisa memaksamu. Ingat! Jangan—”

“Membawa atau menerima tamu laki-laki” potong Taeyeon bosan. Rasanya sudah beratus-ratus kali Sehun menjejalinya dengan perintah seperti itu.

“Satu lagi, Kim Taehyung juga bukan pengecualian”

“Aku mengerti, Sehun-a…” Taeyeon tertawa ringan, memberikan kecupan kilat di bibir Sehun. Entah kenapa, Sehun sudah menjadi begitu protektif sejak kejadian Taehyung yang hanya memakai handuk di apartemennya. Walau terlampau protektif, tapi ia suka.

“Sekarang—” tangan gadis mungil itu bergerak menyisir rambut serta merapikan pita seragam, “—biarkan aku pergi sekolah”

Sehun mengangguk pasrah, membukankan pintu mobil serta secara tak rela membiarkan Taeyeon turun dari pangkuannya untuk turun dari mobil. Gadis mungil itu sekali lagi merapikan seragam setelah betul-betul menginjak tanah.

“Semoga perjalanan bisnismu menyenangkan. Sampai jumpa di akhir pekan”

“Ya…” gerutu Sehun mulai menjalankan mobil.

Meskipun sudah bergerak jauh, Taeyeon masih melambaikan tangan. Apartemen benar-benar akan sepi selama beberapa hari kedepan. Sedihnya…. Padahal Taeyeon telah terbiasa dengan kehadiran Sehun yang setiap saat menyerangnya di tiap sudut apartemen. Ruang tamu, dapur, kamar mandi, pokoknya tidak ada tempat yang berhasil membuatnya lolos. Sehun selalu bisa menidurinya dimanapun laki-laki itu mau. Bicara soal dapur, Taeyeon pastikan tidak akan ada seks dalam waktu dekat yang melibatkan dapur. Dia sedang trauma karena beberapa hari yang lalu Sehun nyaris membuat dirinya terpanggang api kompor karena pemuda itu terlamapau bersemangat mendudukkannya di meja counter.

Sialan, rasanya kepulangan Sehun akan terasa sangat lama.

“Hey… melamun saja terus” tegur Jiyeon, “Ada apa, huh?”

Taeyeon mengambil gelas berisi jus strawberry milik Jiyeon dan meneguknya hingga tersisa seperempat.

“Yaa! Kalau kau ingin jus, pesan sendiri!” seru Jiyeon.

“Sejak awal aku tak berniat ke café ini. Kau yang memaksa” tanggap Taeyeon acuh.

“Isshhh…. menyebalkan. Sekarang cerita padaku. Apa yang membuatmu murung seperti ini?” Jiyeon mulai menginterogasi.

Taeyeon menghela nafas, “Entahlah, seharusnya aku tidak merasa seperti ini. Tapi beberapa hari kedepan aku akan sendiri diapartemen besar milik Sehun. Sehun hanya melakukan perjalanan bisnis ke Swiss, tapi aku menjadi kesepian seperti ini. Aku sangat aneh, apa yang terjadi padaku, Jiyeon-a?”

Jiyeon menyeringai pada sepupunya itu, “Kau merindukannya, bahkan sebelum ia pergi dua puluh empat jam”

Taeyeon menatap Jiyeon lekat-lekat. Mungkinkah ia merasa seperti itu? Merindukan Oh Sehun? Sehun akan tertawa jika mendengar ini. Seperti lelucon paling tidak lazim berada diantara hubungan saling menguntungkan mereka. Tapi tidak, Taeyeon masih tidak mau jujur pada diri sendiri, ia terlalu takut pada kenyataan. Ia tak akan melibatkan hatinya untuk berhubungan dengan Sehun, terasa sangat berbahaya.

“Berdebatlah dengan hatimu sendiri. Aku tahu, sekarang kau begitu bingung karena setelah sekian lama hati dan pikiranmu tidak sejalan. Benar bukan? Sekarang terserah padamu, mau berkeras hati atau berkeras kepala” Jiyeon mengangkat bahu menyeruput jusnya hingga habis, lalu memandang Taeyeon lagi.

“Kau kesepian kan beberapa hari kedepan? Boleh aku menginap di apartemen kekasihmu? Kurasa aku akan berguna” ujar Jiyeon dengan senyum merayu.

“Yaa… terserah” jawab Taeyeon.

“Kalau begitu, bagaimana kalau Taehyung juga—”

Taeyeon memutar mata, “Tidak! Sehun melarangku membawa laki-laki manapun ke apartemennya”

“Tapi kan—”

“Aku tak mau membantah, Jiyeon-a. Taehyung bukan pengecualian” sanggah Taeyeon lagi.

Jiyeon mengerucutkan bibir. Padahal ia berencana ingin menggunakan kesempatan ini agar Taeyeon dan Taehyung semakin dekat. Tapi ternyata perintah kekasih bernilai 98 milik Taeyeon memang tak bisa dibantah. Ia hanya bisa menghela nafas kecewa.

Jiyeon membongkar isi tasnya, melemparkan tiap pakaian yang dibawanya ke lantai.

“Ya ampun, aku lupa membawa piyamaku!” seru Jiyeon.

“Tidak masalah, pakai saja punyaku” jawab Taeyeon baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian dalam lengkap, sebelah tangannya yang memegang haduk masih sibuk mengeringkan rambut.

Dua hari tanpa Sehun sudah menjadi kebosanan total. Taeyeon merasa seperti nenek tua yang tinggal sendirian di desa terpencil. Apartemen begitu luas, tapi dia hanya tinggal sendiri. Heran, apa selama ini Sehun tidak jenuh tinggal sendirian? Pantas pemuda itu bersikeras membawanya tinggal bersama disini. Untung dia memiliki cara untuk mengusir kesendirian, dengan mengiyakan permintaan Jiyeon untuk menginap disini. Dan sepupunya itu benar, dia cukup berguna untuk mengusir rasa bosan.

“Memang pakaianmu cukup untukku?” Tanya Jiyeon. Kenyataan kalau postur tubuhnya dan Taeyeon memiliki perbedaan, membuatnya sedikit ragu. Taeyeon bertubuh mungil, sedangkan dirinya….

“Ada beberapa yang kebesaran untukku” sahut Taeyeon sibuk membongkar isi lemari Sehun setelah memakai hotpants, “Masih baru, pakai saja”

Jiyeon berkacak pinggang, bingung. Memandang pintu lemari satu per satu. Jujur, terlalu banyak pintu hingga dia tidak tahu mana yang milik Taeyeon, “Dimana?”

“Cari di lemari ujung. Disana banyak baju kebesaran. O ya—” Taeyeon sedikit memyembulkan kepala dari balik pintu lemari, “—kalau ada yang kau suka, ambil saja. Aku harus menunggu bertahun-tahun lagi kalau menunggu sampai muat dibadanku”

“Benarkah?”

Taeyeon mengangguk pelan. Jiyeon seketika berbinar-binar. Gadis berambut emas itu tahu pakaian-pakaian yang kebesaran pasti bagian dari merk terkenal dan mahal dari kekasih sepupunya. Kapan lagi bisa mendapat barang bagus. Tubuh jangkung Jiyeon segera mendekati sebuah pintu lemari, memutar kuncinya kemudian membukanya lebar. Jiyeon terkesiap.

“Ada apa, Jiyeon-a?” Taeyeon menghampiri Jiyeon sambil memakai kaos sederhana milik Sehun ke tubuh mungilnya.

“I-itu…” Jiyeon kikuk menunjuk isi lemari.

Iris Taeyeon melirik sekilas pada isi lemari, mendadak ia tertawa. Pantas Jiyeon menjerit, sepupunya ternyata membuka lemari yang berisi koleksi sutera ‘nakalnya’.

“Kau salah membuka lemari. Semua yang di dalamnya adalah favorit Sehun”

“S-sebanyak ini?” jerit Jiyeon tak lebih dari dengungan kumbang, “Berapa banyak yang sudah kau pakai?”

“Yah…” Taeyeon menyelipkan sedikit rambut kebelakang telinga, “Baru beberapa. Sebagian sudah ada yang dibuang karena Sehun begitu tidak sabaran sampai merobek suteranya menjadi dua”

Mulut Jiyeon menganga. Dia benar-benar berusaha mengendalikan wajahnya agar tidak memerah total. Matanya mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran. Sungguh, tiap kali sepupunya bercerita tentang Oh Sehun, selalu ada kejutan.

“Kau yakin kekasihmu itu manusia, Taeng?”

Taeyeon tergelak, “Tentu saja. Kau ini ada-ada saja”

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala, menelan ludah dengan susah payah, “Ini serius, Taeng. Aku sudah banyak mengenal laki-laki ditempat tidur. Kebanyakan dari mereka tidak diragukan lagi akan membawa permainan ke tingkat liar, tapi selalu—akan berakhir dengan lambat, sampai berhenti total”

“Lalu apa hubungannya dengan Sehun?” Taeyeon mengernyit tak mengerti.

“Setiap kali aku mendengar ceritamu, dari awal hingga akhir permainan kalian berjalan terlampau liar. Kalau kekasihmu tipe yang tidak pernah puas, oke aku mengerti. Tapi yang aku takutkan… kalau ternyata kekasihmu memuaskan diri ditempat lain juga”

“Maksudmu—” Taeyeon mendorong beberapa helai rambut lagi kebelakang telinga, padahal rambutnya masih tersemat dibelakang telinga, nampak pikirannya sedang bercampur aduk, “—Sehun punya kekasih lain?”

Jiyeon mengangguk enggan.

“Siapa yang tahu kan?”

“Hhh… aku tak bisa melakukan apa-apa kalau begitu” ucap Taeyeon pasrah. Jiyeon menatapnya gemas.

“Taeng… kau tidak boleh menerima begitu saja, kau harus mencari tahu. Bisa saja dia memiliki istri juga”

“Sejak aku pulang dari Swiss, kau terlihat sering melamun” ucap Sehun mencium bibir Taeyeon yang terdiam ditepi ranjang kemudian mulai sibuk memasang dasi didepan cermin.

Taeyeon tersenyum sekilas. Sehun menepati janjinya untuk pulang lebih cepat dan Taeyeon menyambut kepulangannya dengan biasa namun sepertinya pemuda itu menyadari perubahan sikap Taeyeon yang lebih pendiam dari biasanya dan seringkali tertangkap basah sedang melamun. Ya, semua ini karena perkataan Jiyeon beberapa hari lalu. Taeyeon menghela nafas, menghampiri Sehun lalu membantunya memasangkan dasi.

“Kau ini kenapa?” Tanya Sehun.

Bibir Taeyeon mengerucut membentuk sebuah ekspresi, jari-jarinya sedikit memainkan untaian dasi yang sudah selesai terpasang rapi. Irisnya memandang ragu pada Sehun, “Aku hamil” ungkapnya kemudian.

“Eh?” alis Sehun tertaut, ia terdiam beberapa saat lalu… “Cepat gugurkan, kalau begitu”

Ucapan Sehun membuat tubuh Taeyeon terhuyung kebelakang, susah payah dia berusaha menahan diri agar tidak pingsan. Tubuhnya terasa kehilangan nyawa hingga harus bersandar pada meja rias.

“Kalau… aku tidak mau?” Tanya Taeyeon lirih.

Sehun tersenyum simpul, maju selangkah hendak memberi kecupan pada bibir gadis itu, namun Taeyeon langsung menghindar. Akhirnya hanya helaan nafas yang menerpa pipinya. Sehun mendesah berat sambil memijat ringan pundak gadisnya, bermaksud membuatnya rileks.

“Pergilah, nanti kau terlambat” ucap Taeyeon.

“Kau mengusirku supaya bisa menangis sendiri?”

Wajah Taeyeon masih berpaling ke arah lain. Nafasnya tertahan ditenggorokan, hampir seluruh tubuhnya terasa dingin. Tidak peduli tangan Sehun begitu hangat memijat pundak, dia hanya merasa dingin. Tolong jangan biarkan air mata jatuh sekarang. Apapun yang terjadi, jangan sampai menangis.

Perkataan Sehun benar. Ia memang ingin menangis sendirian dan meratapi keterpurukannya.

“Taeyeon… aku mengerti kalau kau ingin melahirkan anak itu. Tapi… aku sedang berpikir” tangan Sehun terasa sedikit tegang di pundaknya. Membuat Taeyeon kebingungan menerka-nerka isi pemikiran kekasihnya.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, betul-betul mempersiapkan diri untuk mendengar semua kemungkinan terburuk.

“Taeyeon…”

Gadis mungil itu memejamkan mata erat.

“Aku tidak ingin kau berhenti sekolah karena sedang hamil”

Mata Taeyeon tersentak terbuka. Huh?
Perlahan wajahnya memberanikan diri menatap Sehun. Ekspresi pemuda itu masih tersenyum lembut, menjalankan tangan dari pundak lalu menjalar ke pipinya.

“Aku tidak pernah keberatan kalau kau melahirkan anakku, percayalah. Aku menyuruhmu menggugurkannya karena tidak ingin sampai kau menyia-nyiakan kepintaranmu. Kau layak mendapatkan pendidikan tertinggi. Tapi—kalau kau berhenti sekolah, aku baik-baik saja dengan itu. Aku dukung semua keputusanmu”

Kepanikan dan rasa kecewa seketika menguap dari tubuh Taeyeon, meninggalkan kehangatan yang indah antara dia dan kekasihnya.

“Benarkah?” gumam Taeyeon, masih setengah tak percaya dengan pendengarannya.

Sehun mengangguk pelan.

Taeyeon tersenyum ringan, membenamkan wajah didada Sehun, betul-betul meresapi aroma hangat sang kekasih. Jari-jari Sehun perlahan mengusap punggungnya.

“Kalau begitu, besok kau harus menemaniku kerumah sakit” ujar Taeyeon.

“Untuk apa? Memeriksa kandungan, atau—”

“Obat pencegah kehamilanku habis”

Wajah Sehun yang semula santai mulai berkerut, “Untuk apa kau membeli obat itu lagi?”

“Aku tidak hamil, idiot. Aku berbohong”

“Sialan. Dasar iblis kecil” umpat Sehun. Lagi-lagi Taeyeon berhasil mempermainkannya.

Taeyeon terkikik ringan, ada sesuatu yang hangat merayapi hatinya. Sesuatu, sesuatu perasaan yang membuat perutnya seperti diisi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Apakah mungkin perasaan ini…

Tidak. Tidak mungkin.

Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan, dikecupnya lama-lama bibir sang kekasih lalu tersenyum, “Pergilah, kau sudah terlambat”

“Memangnya semua ini karena siapa?” sindir Sehun meraih ponselnya, buru-buru menelepon Yonghwa untuk menjemputnya dengan transportasi tercepat karena kalau berkendara sendiri dalam keadaan terburu-buru akan sedikit berbahaya.

Taeyeon bersenandung riang menyusun beberapa pakaian yang baru disetrikanya kedalam lemari. Lega rasanya mengetahui Sehun sama sekali tidak keberatan kalau—seandainya—dia sedang mengandung. Soal kecurigaan Jiyeon bahwa Sehun memiliki istri juga belum terbukti benar. Sehun tidak mungkin selalu menetap di apartemen—bersamanya, apabila pemuda itu memiliki istri. Dan sejauh ini Taeyeon tidak menemukan tanda-tanda bahwa kekasihnya tidur dengan perempuan lain.

Drrt drrt~

Ponsel Taeyeon bergetar di meja rias membuat perhatian gadis itu teralih. Sambil duduk di kursi meja rias, dia menjawab panggilan itu.

“Ada apa, Jiyeon-a?”

“…”

Taeyeon diam mendengarkan suara Jiyeon begitu panik diseberang sana.

“Aku tidak punya uang, Jiyeon-a. Seingatku, bulan kemarin kita sudah cukup mengumpulkan uang untuk pemeriksaan ibu bulan ini”

“…”

Taeyeon meringis menjauhkan ponsel dari telinga. Jiyeon benar-benar ingin membuatnya tuli dengan teriakannya itu.

“Dengar, Jiyeon. Sehun tidak memberiku uang karena aku tidak meminta. Dan sekarang dia sedang pergi bekerja. Aku tidak mungkin meminta uang secara mendadak, aku harus—”

Taeyeon tiba-tiba terdiam. Bukan karena Jiyeon menyela perkataannya, tapi matanya menangkap dompet Sehun tergeletak begitu saja di atas meja. Sepertinya dompet itu tertinggal.

“E-eh, nanti aku hubungi lagi, Jiyeon-a” ucap Taeyeon cepat menutup telepon.

Matanya kembali terfokus pada dompet milik Sehun. Tidak diragukan lagi, isinya pasti melebihi satu juta, jumlah uang yang dia butuhkan sekarang. Well, apa sebaiknya ia ambil dari sana dulu ya?

Tangan Taeyeon gemetar menyetuh dompet itu.

“Tidak boleh!” protes Taeyeon menggeleng-gelengkan kepala.

Kalau sekarang dia mengambil uang itu tanpa izin, itu sama artinya dengan mencuri. Sehun pasti akan tahu kalau uangnya diambil. Tapi… kalau tidak diambil, bagaimana dengan biaya pengobatan ibu? Ibunya baru selesai dioperasi, tinggal beberapa kali rawat jalan untuk membuatnya sembuh. Ibunya pasti akan sulit sembuh kalau rawat jalannya terputus.

Gemetar, tangan Taeyeon mendekati dompet Sehun. Untuk kali ini, setidaknya biarkan dia mendapatkan uang secara tidak baik. Meskipun mencuri, dan meskipun itu diluar kebiasaannya—

‘Maafkan aku, Sehun-a’ batin Taeyeon. Ia membuka dompet Sehun, menghitung lembaran uang sesuai yang dibutuhkan.

“Butuh uang berapa?”

Taeyeon terkesiap dan menjatuhkan dompet yang dipegangnya ke lantai.

To be continue

PLEASE READS!

NOTE : Annyeong readers! Marhaban Yaa Ramadhan🕌 (bagi yang menjalankan). Semoga ibadah puasa kita tahun ini diberi kelancaran.
Kembali ke ff diatas, akhirnya aku bisa post disela kesibukan persiapan UAS. Maaf kalau lama yaa. Soal bunga Krisan putih, ada yang mengira bunga itu sebagai bunga kematian. Oke aku jelasin sedikit. Bunga Krisan terkenal dibeberapa negara sebagai simbol kebahagiaan, keceriaan, bahkan kehormatan. Bunga ini sudah menjadi bunga resmi dinegara2 tertentu. Terkecuali, negara Belgia dan Austria yang menganggap bunga ini menandakan adanya kematian. Tapi umumnya bunga itu melambangkan berbagai hal baik, khususnya Krisan putih yang berarti kepercayaan, kejujuran dan kesetiaan😊.
Yah segitu aja… seperti biasa, target 100++ Comments!

See you in next chapter!
Bye…🤗

Advertisements

107 comments on “MONEY (Chapter 7)

  1. Sejujurnya ff nya sedikit vulgar utk indonesian readers, tp apa bleh buat namanya pervert mind nya udh kgak bsa dibendung lagi ya psti suka…

    Sumpah sehun kek hantu deh dsni suka tiba2 muncul gitu…

  2. Pingback: All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s