[FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 3)


[Freelance] HOLD ME TIGHT Chapter 3

Author: FIVE

Rating: PG-17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Drama

Main Cast:

Kim Taeyeon

OH SEHUN

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a PLAGIATOR.

Author Note:

WARNING! FF INI SANGAT PANJANG, MEMBOSANKAN, BANYAK KALIMAT KASAR, PASARAN DLL

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview : Chapter 1, Chapter 2

*

*

*

“aku tidak akan menjadi wali taeyeon lagi… oemma”

Sehun menghela nafasnya kasar, kepalanya yang sudah berdenyut tidak karuan semenjak tadi pagi semakin berdenyut, niatnya untuk menutup matanya dan tidur selama menunggu Taeyeon pulang pun batal saat ponselnya bordering, dan seorang penelpon membuat kepalanya semakin sakit. Yah ibunya. Wanita paruh baya itu ingin Sehun mengangkat Taeyeon menjadi adiknya, atau setidaknya tetap menjadi wali Taeyeon sampai gadis itu menikah nantinya. Jangan gila! Sehun yang akan menikahinya dan persetan dengan semuanya, ia tak akan menjadi wali Taeyeon lagi apapun alasannya. Sejujurnya ini sama sekali bukan kesalahan ibunya, Sehun tau jika ibunya itu sangat penyayang, bahkan dengan Chanyeol yang hanya berstatus sebagai sahabat kecilnya, Ibunya bahkan pernah menangisi Chanyeol saat pria tiang listrik itu mengalami patah kaki saat memanjat pohon persik di rumahnya dulu. Yang membuat kening Sehun berkerut disini adalah ‘ibunya bahkan belum pernah bertemu taeyeon’ bagaimana bisa ia begitu takut Sehun akan melepaskan Taeyeon? Apa karna Joon? Ayah Taeyeon yang juga merupakan temannya? Shit!

“oemma…”

‘aku menyukai gadis itu, aku mencintainya… Kim Taeyeon’ ingin rasanya Sehun menjawab semua jawaban yang diberikan oemma dengan pernyataan yang pasti, namun sialnya tak ada satu kalimat pun yang berhasil lolos dari mulutnya, ia hanya diam mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan wanita yang hampir mencapai usia setengah abad itu. apalagi? Apa ibunya akan menerima jika Sehun bilang ia mencintai Taeyeon? Apa ibunya akan kecewa padanya karna jatuh hati pada Taeyeon?

Tidak, ini semua bukan salahnya. Sehun sama sekali tak pernah berminat menjadi ahjussi Taeyeon, apalagi kakaknya. Sehun hanya ingin merawat gadis itu sampai usia dewasa tanpa hubungan yang jelas, entah lah. Ia merasa jika ia tak menginginkan sebuah hubungan yang jelas dengan taeyeon saat ia menjemput gadis itu kerumahnya, dan sialnya. Mulut kurang ajar Taeyeon mulai memanggilnya dengan nama Ahjussi semenjak Sehun bercerita bahwa ia temannya ayah Taeyeon. Dan sejak saat itu, hubungan mereka mendadak menjadi seorang Paman dan seorang keponakan. Seolah ada dinding yang membatasi hubungan mereka. Semuanya berjalan di jalan masing masing, semuanya berjalan pada tempatnya dengan porsi yang pas. Dan sialnya, Sehun merusak semuanya. Hanya karna sikapnya yang sangat overprotektif terhadap Taeyeon membuatnya terus memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu, bahkan parahnya Sehun memasang CCTV di rumahnya agar ia bisa memantau Taeyeon, memperkerjakan sebuah supir untuknya, dan sang supir beralih pekerjaan menjadi mata-mata Taeyeon saat gadis itu menolak sebuah supir dan lebih memilih untuk menaik bus kemanapun ia mau.

Awalnya waktu pertemuan mereka juga sangat singkat, bahkan nyaris bisa dihitung dalam hitungan menit saja, Sehun hanya akan membuat sarapan untuknya, makan bersama dan untuk penutup, saat malam hari ia akan berhenti di depan pintu kamar taeyeon untuk sekedar berucap ‘aku pulang’ dan ‘selamat malam’. Semuanya berubah saat Taeyeon menjadi gadis pembakang dengan seribu satu tingkah nakalnya yang selalu berhasil membuat Sehun menjadi tamu langganan di Sekolahnya, membuat Sehun selalu bertemu dengannya, baik di sekolah maupun dirumah untuk sekedar menceramahi taeyeon dengan kalimat super singkat dan menusuknya. Percayalah bahwa awalnya Sehun berharap jika Taeyeon tak akan melakukan tingkah konyolnya lagi, dan sialnya ia seakan menutup telinganya akan ceramah Sehun, gadis itu selalu membuat masalah, tidak hanya disekolah, tapi juga di luar sekolahnya, mulai dengan merusak property umum, bertengkar dengan gadis di luar sana dan mengunjungi sebuah Club malam padahal usianya berlum genap 20 tahun. Saat Sehun bertanya untuk apa ia ke Club malam, jawaban Taeyeon membuat Sehun hanya bisa menghela nafas, mencoba bersabar lebih lama menghadapi Taeyeon. “aku hanya ke karaoke ahjussi, di dalam sana karaokenya sangat bagus”

Yah, waktu pertemuan mereka meningkat, membuat Sehun yang sangat sibuk dengan pekerjaannya mempunyai waktu khusus untuk mengurus masalah yang dibuat oleh Kim Taeyeon, membuatnya sering bertemu dengan gadis itu, membuatnya merasa gelisah jika tidak melihat gadis itu, membuatnya khawatir jika tidak mendengar kabarnya dari supir yang ia pekerjakan jadi mata-mata Taeyeon. Semuanya berjalan melewati batasnya mulai saat itu… 2 tahun yang lalu… yah Sehun rasa semuanya dimulai pada hari itu, Sehun merasa jika ia mulai gila saat berfikir ia menyukai Taeyeon, bahkan Sehun sempat memutuksan untuk mengurangi waktunya di rumah dengan pergi bermain entah kemana dengan Chanyeol di hari minggu dan kerumah orang tuanya saat hari sabtu. Semuanya kembali berjalan dengan baik, namun semuanya kembali melewati batasnya saat di hari sabtu, Sehun mendapatkan telpon dari mata-matanya jika ia kehilangan jejak Taeyeon. Hei, Kim Taeyeon itu gadis yang nekat. Bagaimana nanti ia kembali membuat ulah di luar sana? Tak masalah jika ia berbuat onar di sekolahnya, yang membuat kepala Sehun pusing, bagaimana jika gadis itu salah jalan, mengingat Taeyeon pernah mengunjungi Club. Bagaimana nantinya jika ia mengikuti langkah ibunya? Tidak tidak… dengan cepat, Sehun pergi meninggalkan rumahnya dan menyuruh orang kepercayaannya melacak keberadaan Taeyeon, dan beruntungnya Sehun, gadis itu tidak mematikan ponselnya hingga membuatnya mudah menemukan Taeyeon. Sehun sudah menyiapkan kesabaran ekstranya jikalau ia mendapati Taeyeon di dalam Club di sore hari ini, dan sialnya, semua pikiran jeleknya hilang saat ia mendapati gadis itu duduk diam menatap matahari terbenam di bukit kecil di ujung kota Seoul. Bagaimana bisa gadis itu sampai ke tempat seperti ini? tempat dengan pemandangan luar biasa indahnya ini? apa yang dilakukan gadis itu disana? Ia terlihat duduk diam tanpa suara. Well, sehun tak bisa melihat wajahnya karna ia berada di belakang gadis itu. Tubuh Sehun menegang di tempat saat gadis itu berteriak dengan sangat lantangnya…

*FlashBack*

“AHJUSSI!!!”

Ahjussi? Sehun yang berdiri dengan kakunya di belakang tubuh Taeyeon membulatkan matanya sempurna. Kaget? Tentu saja. Bagaimana bisa ia tidak kaget jika Taeyeon saat ini tengah berteriak namanya? Apa gadis itu tau Sehun berada di belakangnya? Apa pohon besar ini tak bisa menyembunyikan dirinya dengan baik?

“OH SEHUN!!! AHJUSSI!!! BRENGSEK!!!”

Sepertinya gadis itu tengah kesal padanya? apa sehun melakukan kesalahan hari ini? seingatnya ia membuat sarapan dengan baik hari ini, telurnya tidak gosong, dan selai strawberry tidak habis, apa rotinya yang salah? Setau Sehun itu roti baru dengan tekstur yang sangat baik? Apa yang salah? Ia bahkan tidak menceramahi Taeyeon hari ini… atau gadis itu berbuat onar lagi hari ini? dengan penasaran yang sudah mencapai ubun ubunnya, Sehun mencoba mempertajam telinganya untuk mendengar suara Taeyeon. Dan sialnya tak ada satupun kalimat yang berhasil di tangkapnya, sepertinya gadis itu tengah menyumpahinya? Baiklah… jika memang benar gadis itu menyumpahinya maka Sehun rasa tidak masalah, ia bahkan saat muda sering menyumpahi ayahnya yang selalu memarahinya tanpa sebab… mungkin hormone labil Taeyeon tengah kumat untuk saat ini, ia pasti akan pulang sebentar lagi…

Sehun membalikkan badannya, berniat meninggalkan tempat itu. sebelum Ia benar benar melangkah, Sehun meraih ponsel yang terletak di saku celananya, menelpon Jeon Ahjussi –mata-mata taeyeon- untuk memberi tahu dimana keberadaan gadis itu. Sehun memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana panjanganya menunggu panggilannya di jawab, sebelum akhirnya Sehun mendengar teriakan Taeyeon, membuatnya membalikkan badannya dan memutuskan sambungan satu pihaknya. Menatap Taeyeon dengan punggung bergetar… apa gadis itu menangis?

“AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!!!!”

Sehun menatap punggung Taeyeon nanar, apa sebenci itu Taeyeon padanya? apa ia terlalu over pada Taeyeon? Seketika rasa bersalah menyelimuti diri Sehun, ia gusar. Entahlah… mendapati Taeyeon, gadis yang sudah tinggal 2 tahun dengannya itu menangis… hei Taeyeon bukanlah gadis dengan tipikal gadis cengeng, ini pertama kalinya Sehun melihat gadis itu menangis, meskipun tidak dengan isakan menyayat hati, tapi tetap saja… Sehun merasa jika Ia sudah keterlaluan pada gadis itu… dan lihat, hanya melihat gadis itu menangis membuat ulu hati Sehun ikut merasakan perih.

“KENAPA KAU HARUS MENJADI AHJUSSIKU? PRIA BRENGSEK! KAU JAHAT! SHIT!!! AKU SANGAT MEMBECIMU AHJUSSI!”

Baiklah, apa Sehun masih terus diam disini mendengarkan sumpah serapah itu? dan beruntungnya Taeyeon, tempat ini sangat sunyi, hanya dirinya disini… dan dengan pancaran sinar orange yang seakan ikut menemani kesendirian taeyeon, Gadis itu sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Untuk pertama kalinya Sehun melihatnya menangis, melihat gadis dengan mulut setajam pedang itu menangis, hanya karna dirinya? Setidak becus itukah Oh Sehun menjadi wali Taeyeon?

“AKU MEMBENCIMU! SANGAT MEMBENCIMU KEPARAT!!! KAU JAHAT!!!”

“AKU MEMBENCIMU!”

“AKU BENCI OH SEHUN!”

“AKU BENCI PADAMU AHJUSSI!”

“AKU MEMBENCIMU!”

“SANGAT MEMBENCIMU!”

“OH SEHUN!!!”

“AKU BENCI DIRIKU!”

“AKU BENCI KITA!”


“AKU BENCI KAU AHJUSSI”

“OH SEHUN!”

“AKU MEMBENCIMU”

“AKU BENCI PADAMU”

“SANGAT MEMBENCIMU! BAJINGAN SIALAN!”

“AKU MEMBENCIMU”

“AKU MENYUKAI…MU”

“OH SEHUN!”

“AKU… MENYUKAIMU!”

“ANI, AKU MENYUKAI AHJUSSIKU SENDIRI!”

“BRENGSEK, AKU BENCI DIRIKU!”

DEG

DEG

DEG

DEG

DEG

Menyukai? Taeyeon menyukainya? Gadis itu menyukai dirinya? Seketika tubuh sehun membeku di tempat, bahkan untuk beberapa menit ia lupa bagaimana caranya bernafas, sebelum akhirnya ia tersadar, saat Taeyeon mulai berdiri dari posisi duduknya, membuat Sehun segera berdiri dengan gugupnya di balik pohon besar itu, berharap agar pohon itu bisa menyembunyikan seluruh tubuhnya tanpa perlu Sehun berjongkok. Terlihat jelas jika Taeyeon merongoh tasnya, mengeluarkan obat mata dan meneteskan obat itu kematanya, dengan jarak yang sangat jauh saja Sehun bisa dengan jelas melihat mata merah yeoja itu, dan dengan cepat ia melepas ikat rambutnya yang ia cat dengan warna blonde itu, berharap menyembunyikan wajahnya, menggunakan topi hitam dan menyandang ranselnya, berjalan menjauh, meninggalakan Sehun yang menatap Taeyeon perlahan menghilang bawah tangga menuju ke jalan raya. Dengan pelan, Sehun keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan dan mengambil tempat duduk, tempat dimana gadis itu duduk dan menangis. Menyandarkan dirinya pada kursi panjang kayu itu… jantungnya berdebar, entahlah… bahkan setelah beberapa menit berlalu… jantungnya masih berdebar tak karuan…

“nado… aku menyukaimu… Kim Taeyeon”

***

“dari mana?”

Sehun berjalan mendakat kea rah Taeyeon yang baru selesai membuka sepatu kets putihnya. Jika Taeyeon baru saja dari bukit itu, bukankah seharusnya ia lebih dulu sampai dari Sehun? Tapi kenapa malah Sehun yang sampai dirumah duluan dan mendapati Taeyeon tidak ada dirumah. Dengan cueknya, Taeyeon meletakkan sepatunya pada rak khusus sepatu dan berlalu begitu saja tanpa memperhatikan Sehun, sebelum akhirnya Sehun meraih lengan gadis itu, menahan langkahnya dan menarik topi hitam taeyeon…


“kenapa dengan matamu?”

‘Bodoh! Kau sangat tau kenapa matanya Oh Sehun! Kau penyebabnya, kau yang membuatnya menangis, ia menangisimu bodoh!’ batin Sehun kesal. Hei ia tau jika ia yang menjadi alasan Taeyeon menangis, itu karna dirinya, karna menyukainya tapi kenapa ia harus menangis karna menyukai Sehun? Apa sebegitu buruknya seorang Oh Sehun?

“kembalikan topiku!” jawab Taeyeon kaku, suaranya terdengar sangat parau.

“tidak, sebelum kau menjawabku!”

“kembalikan topiku, oh sehun!”

“kau mewarnai rambutmu? Bukankah itu dilarang sekolahmu? Apa kau ingin mengundangku kesekolahmu lagi?” sialan kau Oh Sehun, mulutmu benar benar. Sehun bahkan heran dengan mulutnya hari ini, ia hanya ingin menatap wajah itu sedikit lebih lama dengan cara yang salah, ia mengusik Taeyeon semakin dalam hari ini.

“kenapa? Sudah bosan menjadi waliku?”

Ya. Aku sudah muak dengan hubungan tak jelas ini! aku benci kenapa kau memanggilku ahjussi awalnya! Kenapa kau membangun dinding di antara kita? Kau membuatku menjauhimu. Kau membuatku takut dengan debaran jantungku, kau membuatku takut dengan diriku, kau membuatku benci kenapa aku dilahirkan terlalu awal, aku benci kenapa kau jadi anak Kim Joon… kau membuatku berfikir bahwa aku pria paling brengsek karna status kita… kau membuat kita… kata yang sangat sulit kuucapkan… karna kau dan aku… sulit digabung menjadi kita.

“kenapa kau menangis?” Sehun lebih memilih mengucapkan kalimat baru dari pada mengutarakan semua yang ada di dalam pikirannya, semuanya akan kacau jika Sehun mengeluarkan kalimat itu. semuanya akan hancur seketika jika mulutnya tidak mau bekerja sama dengan logikanya.

Sehun meringis saat melihat Taeyeon tersenyum miring menatapnya “apa pedulimu? Pergi saja kerumah orangtuamu di hari sabtu dan pergi dengan tiang listrik itu di hari minggu, jangan pedulikan a…”

“aku peduli padamu Kim. Taeyeon!”

“woah, kau ahjussi yang baik… baiklah ahjussi, kau bisa memiliki topiku, selamat malam!”

*FlashBack Off*

Yah, mulai hari itu, Sehun bertekat untuk menjadi wali Taeyeon sampai saatnya tiba, sampai Taeyeon dewasa, sampai gadis itu tidak memerlukan seorang wali lagi. Namun sialnya sikap Sehun yang sangat kaku dan dingin itu membuat Taeyeon selalu salah paham dengannya, gadis itu bahkan selalu berbiacara soal usir mengusir akhir akhir ini, apa hormone remajanya semakin akhir semakin meningkat? Kenapa Taeyeon sangat suka berfikiran negative padanya? Apa Taeyeon tak pernah sekalipun memikirkan bagaimana perhatiannya selama ini? ia tau, ia mempunyai banyak kekurangannya, dan satu satu satunya kekurangan yang sangat Sehun benci adalah caranya mengekpresikan dirinya, ia terlalu terbiasa dengan sikap kakunya, membuat semua orang berfikir bahwa dirinya adalah orang yang sangat dingin dan tak punya perasaan, bagaimana bisa Taeyeon berhenti berfikiran negative padanya? mengungkapkan perasaanya yang semakin hari semakin sulit untuk dilupakan? Jangan gila! Semua orang akan menentangnya di luar sana, dan yang akan berdiri paling depan adalah Park Chanyeol dan Imo-nya yang sangat menyukai jika Sehun menjadi suami anaknya –Sera-.

Sehun terbangun dari pikirannya saat ibunya ternyata masih belum mematikan sambungan ponselnya, dan bertanya apa yang tengah ia pikirkan? Apa Sehun bisa berbagi hal ini dengan ibunya? Apa ibunya juga akan masuk ke dalam penentang nantinya?

“aniyeo eomma”

Lagi, wanita paruh baya itu layaknya tak percaya dengan apa yang di sampaikan Sehun, membuatnya bertanya lagi dan lagi, hingga akhir kata ia merasa ada yang aneh dengan suara anaknya, apa Sehun Sakit?

“ani… aku baik baik saja”

Bohong. Jujur saja, semenjak tadi malam sebelum dirinya sampai di bandara Incheon pagi ini, badannya memang sudah tidak dalam keadaan baik baik saja. Kepalanya sakit, badannya memanas, dan sekarang hidungnya bahkan sudah memerah dan jika ia meniupkan udara dari hidungnya, maka lendir menjijikan itu akan keluar dari hidungnya. Haruskah ia demam di saat yang tidak tepat? Sehun bahkan memilih untuk tidak mengunjungi kantornya setelah mengantar Taeyeon kesekolah tadi. Baiklah, mungkin dengan tidur dan meminum obatnya sebentar Sehun bisa meredakan sedikit demamnya, dan bisa berbicara dengan taeyeon malamnya tentang ujian gadis itu, sekedar melepas rindu selama 3 hari tidak bertemu dengan gadis itu, lihat! Kim Taeyeon sangat berpengaruh terhadap kehidupan Oh Sehun.

“oemma, aku tutup, annyeong”

***

Izinkah heechul untuk membuka mulutnya lebar lebar untuk detik ini juga. Matanya membulat besar, menandakan betapa terkejutnya seorang Kim Heechul untuk saat ini. apa hari ini ia berhalusinasi? Atau ini merupakan efek samping yang harus ia terima seteleh menghabiskan harinya dengan santai seharian ini di tempat kerja? Kim Taeyeon, berdiri di balik pintu rumah yang baru saja ia buka setelah mendengar bel itu berbunyi nyaring.

“apa yang kau lakukan dirumahku anak nakal?”

Baiklah, hubungannya dengan taeyeon memang sedikit membaik akhir akhir ini, karna ia sempat membawa taeyeon membeli ranjang baru dan menyuruh taeyeon berakting untuk membuat istrinya cemburu itu, tapi bagaimana bisa yeoja yang selalu menolak untuk mengunjunginya dirumah dengan alasan rumah heechul banyak kucing pun mendadak menampakkan batang hidungnya dirumah Heechul?

“bolehkah aku menginap?”

Menginap? Eyy istrinya tidak ada dirumah sekarang karna masih sibuk dengan butik barunya itu, tapi kepana Taeyeon harus menginap dirumahnya? Padahal dulu ia menolak keras ajakan Heechul untuk tinggal dengannya, dasar bocah plin plan. Mungkin kali ini Heechul harus mengalah, wajah Taeyeon terlihat sangat pucat, dan seragamnya terlihat sangat berantakan, dan tak lupa dengan rambutnya yang beberapa hari yang lalu masih berwarna hitam sudah berganti warna lagi. Kapan gadis ini mewarnai rambutnya?

“masuklah, kau sudah izin dengan Sehun?”

Taeyeon yang mulai melangkahkan kakinya perlahan berhenti saat mendengar nama yang menjadi alasannya berdiri di rumah Heechul. Kenapa pria itu harus menyebut nama Sehun di saat seperti ini? Moodnya tidak dalam ke adaan baik baik saja saat ini, bahkan untuk sekedar membalas perkataan heechul saja dirinya tak bisa. Hatinya sakit, tidak… semuanya sudah berakhir sekarang. Ia akan terlonta lonta mencari tempat untuk tidur karna Sehun tak akan menjadi walinya lagi, ia akan kehilangan tempat tinggalnya, yang paling parah… ia kehilangan Oh Sehun…

“kenapa kau mewarnai rambutmu? Setauku kau sudah lama tidak berurusan dengan guru komdis karna rambutmu sudah berwarna hitam, apa ini?”

“aku sudah selesai ujian, tidak masalah dengan rambutku, tak akan ada yang peduli”

“walimu akan dipanggil ke sekolahmu, bodoh!”

Wali? Wali? Apa untuk saat ini Sehun masih menjadi walinya? Persetan! Taeyeon rasa ia tak kuat dengan semua yang akan ia hadapi nantinya. Hidup tanpa Sehun, Sendirian di jalanan, dan yang terpenting… ia tak akan pernah mendengar suara pria itu lagi. Lihat, sekarang bahkan ia sudah mulai merindukan pria jahat itu.

Heechul mengamati Taeyeon dari atas hingga bawah, semuanya sangat aneh. Ia habis ujian, tapi seragamnya belum berganti, seragam kusam itu masih melekat pas di badannya, rambutnya yang terlihat sangat lepek itu, sepertinya rambut itu baru ia warnanya saat berjalan ke rumah Heechul, dan badannya terlihat sedikit bergetar, ada apa ini? apa heechul melewatkan sesuatu?

“gwenchana?”

Hanya satu kata, hanya satu kalimat yang keluar dari mulut heechul, membuat Taeyeon mengangkat wajahnya yang dari tadi ia tekukkan, memilih menatap lantai bekas noda soda Heechul, menatap diam heechul. Ingin rasanya ia berteriak bahwa ia tidak baik baik saja, bahwa semuanya tidak baik baik saja, namun sialnya, sikap keras kepalanya menahan Taeyeon hingga akhirnya ia menggangguk, menjawab dengan ragu pertanyaan heechul. Baik baik saja? Yang benar saja! Siapa yang akan baik baik saja jika menjadi dirinya?

“kau pembohong yang buruk, kemarilah” heechul meregangkan tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan hangat untuk anak kakak sepupunya ini. namum dalam hitungan 1 menit berlalu, Taeyeon masih diam dalam duduknya menatap Heechul dengan pandangan ragu, hei ia pria yang sudah beristri, bagaimana pun istrinya tidak tau jika mereka mempunyai hubungan darah, karna Heechul beranggapan hal itu tidak penting untuk diberitakan.

Dengan cepat, Heechul meraih tangan taeyeon, menuntun gadis itu ke dalam dekapannya yang mungkin tak sehangat pelukan Sehun. Pelukan Sehun. Apa Heechul perlu sekolah psikolog dulu? Ia tau semuanya. Gadis yang ada di depannya ini menyukai ahjussinya itu, menyukai Oh Sehun, gadis polos ini jatuh hati pada Sehun, dan sialnya hubungan keponakan dan paman membuat Taeyeon membenci dirinya sendiri…


Masa bodoh dengan imagenya yang akan rusak saat ini dihadapan heechul. Taeyeon membutuhkan sandaran saat ini dan dia mendapatkan dari pria ini. awalnya Taeyeon sempat bingung akan pergi kemana setelah pergi dari rumah, hei tidak mungkin dia ke rumah tiffany karna wanita itu kenal dengan Sehun, dan tentu saja jika Sehun sadar ia menghilang, ia akan langsung masuk ke rumah tiffany tanpa mempedulikan sopan santun, dan kejadian itu pernah terjadi satu kali padannya, membuat Taeyeon berfikir berkali kali untuk kabur kerumah tiffany. Donghae? Ia orang dengan jenis kelamin pria, tak mungkin taeyeon menginap dirumahnya dan apa yang akan dikatakan oleh orang tua donghae nanti. Baekhyun? Hei pria dengan kacamata tebal nya itu tinggal di asrama kakaknya, dan akan lebih konyol lagi jika ia menginap disana.

Hanya heechul yang tersisa. Dan sepertinya ini tidak buruk. Pria dengan mulut yang luar biasa pedasnya itu mengizinkannya masuk ke dalam rumahnya. Sekarang memberikan pelukan hangat untuknya? Kenapa tidak dari awal saja pria ini yang merawatnya? Dan ia akan bertemu dengan Sehun setelahnya, ia tidak perlu terlibat hubungan yang menyebalkan ini dengan Oh Sehun!

***

Sehun membuka matanya, melirik sekilas jam dinding yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hei ia tertidur di ruang tengah, sehabis meminum obatnya. Dan sepertinya obat itu tidak memberikan dampak yang besar untuk Sehun, karna saat ini ia masih saja merasa demam, bahkan demamnya sepertinya semakin parah, kepalanya bahkan berat untuk sekedar di gerakkan. Dengan perjuangan yang cukup tinggi, Sehun berhasil mendudukan dirinya di atas sofa, melirik kenanan dan kekirinya, hei ruangannya masih sangat terang, untuk jam malam. Ini sudah larut. Apa Sehun tertidur selama 7 jam? Ini sudah pukul 1 dini hari.

Dengan pelan, Sehun berdiri dari duduknya, berjalan perlahan menghampiri kamar Taeyeon, membukanya dan mendapati ruangan itu sangat gelap dengan jendela yang terbuka. Apa taeyeon belum pulang? Kemana dia? Tanpa mempedulikan sakit kepalanya, Sehun berlarian mengitari rumah, mencari keberadaan Taeyeon, dan hasilnya nihil, gadis itu tidak berada dimana-mana. Kecemasan yang melanda dirinya membuat Sehun kembali berlarian ke kamarnya, mencari ponsel yang tadi ia lemparkan ke sana, dan mendapati benda persegi panjang itu sudah berada di tangannya. Dengan cepat ia menekan tombol 1 dan panggilan langsung terhubung.

Sehun mendesah kasar saat suara operator di luar sana yang mengangkat panggilannya, membuatnya mengusap kasar wajahnya. Taeyeon pergi? Apa dia dalam bahaya? Kemana dia? Sehun memukul dinding kamarnya saat mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Jeon Ahjussi –mata-mata Taeyeon-. Tak butuh waktu lama, Sehun menekan tombol hijau dan panggilannya sudah dijawab oleh pria berusia 45 tahun itu.

“aku tidak mau tau! Bawa kim taeyeon ke hadapanku sekarang!”

BRAK

Sehun membanting kasar pintu kamarnya. Pikirannya kalut tanpa alasan. Perasaan khawatir mulai menghampirinya. Taeyeon menghilang lagi, dan sialnya ponsel gadis itu tidak aktif membuat Sehun mulai larut dalam pikiran negatifnya, apa gadis itu diculik? Ini sudah terlalu larut untuk Kim Taeyeon, senakal nakal apapun gadis itu, setidaknya ia akan pulang sebelum jam 11 malam. Dan saat ini sudah jam 1.

Dengan tergesah, gesah, sehun meraih kunci mobilnya, dan berlarian keluar rumah sebelum akhirnya langkahnya terhenti mendapati Chanyeol berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah kaget.

“mau kemana?”

“Taeyeon, dia belum pulang! Masuklah ke dalam”

Sehun hendak berlalu di depan Chanyeol sebelum akhirnya Chanyeol menghentikan langkah Sehun. Matanya membulat besar saat tangannya menyentuh lengan Sehun, lengan itu panas. Tidak salah lagi, wajah Sehun pucat, penuh keringat, hidungnya memerah dan matanya terlihat sangat lelah, pria ini tengah sakit. “kau sakit”

“lalu apa masalahmu? Lepas! Aku akan menca…”

“tidak, kau tidak akan menemukannya jika keadaanmu seperti ini, masuk ke dalam dan aku yang akan mencarinya!”

“TIDAK, LEPASKAN TANGANKU HYUNG!”

“KAU GILA! KAU SAKIT! BADANMU SANGAT PANAS!”

“gadis itu… ia membutuhkanku… tidak tidak, ia selalu berbicara tentang usir mengusir padaku, tidak ia kabur… hyung… kumohon… lepaskan tanganku… aku tidak mau kehilangnnya…”

Tidak ada lagi hipotesis yang berada di otak Chanyeol, semuanya sudah terbukti sekarang, Sehun, pria dingin ini sudah jatuh pada kim Taeyeon. Pada gadis bar-bar itu. Woah, bukankah Kim Taeyeon gadis yang hebat? Ia bisa membuat seorang Oh Sehun seperti orang gila saat ini.

“mau mencarinya? Dengan kondisi seperti ini? kau tak akan menemukannya, yang ada kau yang akan pingsan, masuk dan aku yang akan membawa bocah nakal itu ke hadapan sahabatku yang terlihat sangat gila saat ini! dengarkan aku kali ini!”

Tidak ada salahnya jika Chanyeol mencoba membantu Sehun kali ini, yah pria itu bahkan akan pingsan di jalan jika ia masih bersikeras untuk mencari Taeyeon, lihat… dirinya bahkan sudah tak bisa berdiri dengan baik saat ini.

Dengan pasrah, Sehun menutup matanya, menahan dirinya dan mencoba mengikuti perintah Chanyeol, benar… ia akan pingsan jika ia terus memaksakan dirinya. Jeon Ahjussi tengah mencari gadis itu juga, dan Chanyeol akan mencarinya. Atau jika sampai 1 jam lagi Taeyeon belum ditemukan, Sehun akan menyuruh bawahannya untuk mencari sampai ke penjuru Korea Selatan.

Perlahan, Sehun memasuki rumahnya sesudah melepar kunci mobilnya kepada Chanyeol. Mendudukan dirinya diatas sofa ruang tamu. Sebelum akhirnya ia kembali mencari ponselnya. Tiffany. Teman taeyeon. Mungkin saja yeoja itu tau kemana Taeyeon pergi.

“yeoboseo? Maaf sudah menelponmu malam malam, apa taeyeon ada bersamamu?”

Sehun menggenggam erat ponselnya saat mendengar jawaban tiffany. Gadis itu sudah pulang sebelum sore tadi, itu artinya ia sudah sampai dirumah sekitar pukul 6? Pukul 6? Sehun rasa ia belum tidur, ia masih di ruang televise, ah ia tengah menelpon…

“mungkinkah? Gadis itu mendengarnya?”

SHIT! Aku akan menertipkan pikiran negative mu itu Kim Taeyeon!

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sehun mematikan ponselnya, merenggut rambutnya kasar, mencoba menghilangkan sakit kepalanya dan melepaskan rasa kesalnya. Taeyeon mendengarnya? Dan gadis itu pergi setelahnya? Sehun menghela nafas panjang, mengotak atik ponselnya, dan mengambil aplikasi CCTV di dalam sana, dan mengamati CCTV itu dengan pengaturan jam 6, tepat saat ia tengah menelpon ibunya tadi di ruang televise.

Benar! Gadis itu melihatnya! Gadis itu berdiri di pojok sana, dengan tubuhnya yang terlihat bergetar. Bodoh kau OH SEHUN!

Belum sempat Sehun melempar ponselnya, ponsel itu bergetar, dengan id number yang membuat Sehun membelalakkan matanya lebar, dan tanpa pikir panjang, pria itu langsung mengangkatnya.

“ahjussi… tolong aku!”

Taeyeon menelponnya. Dan sehun rasa telinganya masih berfungsi dengan sangat baik sehingga ia bisa mendengar dengan jelas nada suara gadis itu yang terdengar sangat ketakutan dan menahan perih? Apa gadis itu terluka? Ah tidak, Oh Sehun bodoh, ini bukan saatnya untuk otak genius mu ini berfikir tentang apa yang terjadi.

“kau dimana? Hidupkan GPSnya dan tunggu sampai aku datang! Jangan terluka jika kau masih ingin melihatku bernafas”

PIP

Sehun memutuskan panggilan tersebut secepat yang ia bisa, mengotak atik ponselnya dan membuka GPS di ponselnya, mencari GPS Taeyeon yang sungguh mengejutkan berada di gang sempit perumahan dekat rumahnya, hei gang sempit itu hanya di lewati oleh pejalan kaki agar bisa sampai di kawasan perumahan tempat dimana Sehun tinggal tanpa perlu melewati jalan raya dan memutar arah berlawanan dari arah halte bus. Ini jalan yang biasa dilewati Taeyeon setiap hari bukan?

Dengan sangat cepat, Sehun berdiri dari duduknya, berlarian keluar rumahnya tanpa memperhatikan baju kaus oblong berwarna putih yang menemaninya melewati dinginnya cuaca malam, dan sebuah sandal rumah yang tak layak pakai jika digunakan di jalanan. Tapi siapa yang peduli? Yang ia pedulikan saat ini hanya Kim Taeyeon! Hanya gadis itu, tidak dengan yang lain. Dan well, sepertinya Sehun sangat menyayangi gadis itu, ia bahkan lupa jika ia terkena demam yang membuat suhu tubuhnya naik di atas rata rata.

***

Taeyeon meringis kecil menatap ponselnya, badannya bergetar hebat dan keringat dingin bahkan sudah mengambil alih seluruh muka Taeyeon, menemani wajah pucat itu dan mengalir dari dahi hingga pipi Taeyeon. Hei, ia bahkan terlihat seperti seorang wanita yang baru saja melakukan lomba lari yang sangat jauh saat ini, nafasnya tersenggal senggal, keringat penuh bahkan membasahi mantel bagian dalamnya, dan kakinya yang luka beserta memarnya. Kenapa ia bisa berakhir semenyedihkan ini?

Yah, tepat saat Heechul memeluknya, istri pria itu datang, menatapnya sengit dan masuk ke kamar dengan pintu yang di tutup dengan sangat kasarnya, istri pria itu akhirnya cemburu dengan seorang wanita. Ingat, taeyeon dan heechul dulu bahkan sempat melakukan berbagai macam cara agar mereka bisa membuat wanita itu cemburu, dan sialnya tidak berhasil. Yang ada malah ahjussinya yang marah dan mengira Taeyeon dan Heechul mempunyai hubungan yang sangat mengerikan. Tapi kenapa sekarang dengan mudahnya wanita itu cemburu? Hei ia dan Heechul hanya berpelukan, tidak di atas ranjang dan tidak ada selimut disini, apa salahnya? Ah sepertinya taeyeon melupakan jam dinding yang menunjukkan angka yang sangat tidak tepat untuk bertamu, well… ini salahnya. Merasa bersalah dengan Heechul, Taeyeon membatalkan niatnya untuk menginap disana, bulu kuduknya meremang merasakan perbedaan aura rumah itu yang seketika berubah sangat mecengkam setelah Heechul meninggalkannya dan menyusul istrinya, Baiklah, tanpa pamit Taeyeon langsung melenggang keluar rumah sana, dan memikirkan kemana ia akan melanjutkan langkah.

Rumah Tiffany sempat terpikir dalam benaknya, dan sialnya bayangan Sehun yang akan mencarinya atau menanyakan keberadaannya pada tiffany membuat Taeyeon kesal dan berbalik arah menuju asrama Baekhyun, ia dan pria kacamata itu tidak lah dekat, tapi setidaknya Taeyeon berfikir untuk mengunjungi pria itu, dan sial… pria itu tinggal di asrama pria. Donghae? Hei… pria pendek itu bahkan masih tinggal dengan kedua orang tuanya, tingkahnya memang sangat menipu, tengik, kurang ajar, tapi pria itu adalah pria baik baik.

Tidak ada tempat yang bisa Taeyeon kunjungi di jam 12 malam bukan? Dengan Pasrah Taeyeon memutuskan untuk pulang, kerumah Sehun. Hei setidaknya Taeyeon bisa bersikap seolah tidak ada masalah dengan Sehun daripada Sehun menangkapnya dirumah Tiffany dan mematikan ponselnya, akan terlihat jelas jika ia menghindari Sehun, untuk saat ini Taeyeon memutuskan untuk bersikap seolahnya baik baik saja, setidaknya ia masih bisa menikmati hari-hari terakhirnya dengan Sehun sebelum masa Sehun menjadi walinya berakhir. Bukankah itu ide bagus?

Saat Taeyeon berjalan di gang sempit, jalan yang sering ia lalui saat pulang sekolah atau sehabis dari manapun jika ia menggunakan bus, karna halte bus itu sangat dekat dari sini. Dan memang sepertinya kesialan tengah berpihak dengan Taeyeon saat ini, Taeyeon melupakan bahwa ia tidak pernah melewati jalanan ini di jam tengah malam seperti ini, dan benar saja, ia bertemu preman mabuk, membuatnya harus berlarian dikejar pria gila itu dan berhenti saat kakinya tersandung balok kayu besar, membuat lutunya berdarah dan warna biru memar ikut menghiasi lututnya. Jika saja ia tidak terjatuh mungkin saja ia bisa berlarian menuju rumah dengan cepat, namun nihil kakinya bahkan terlalu sakit untuk diajak berjalan, membuat Taeyeon memilih untuk menundukkan dirinya di pojok tangga turun di samping sana, berharap bahwa pria mabuk sialan dan brengsek itu melupakannya dan melepasnya. Tapi tidak, pria it terus mengejarnya, bahkan di tempat persembunyiannya saat ini saja Taeyeon bisa mendengar derap langkah pria itu…

“dimana kau… aku tau kau disana, anak manis…”

Teyeon yang tengah menunduk di bawah tangga itu bergetar ketakutan, hei se bar-barnya Taeyeon, ia sangat tau bahwa pria mabuk sangat berbahaya di dunia ini, bisa saja ia mati dengan sangat tragisnya di tangan pria ini bukan? Atau lebih parahnya bagaimana jika nanti pria ini menikahinya? Tidak tidak…

Hingga dengan keputusan bulatnya, Taeyeon memutuskan untuk menelpon Sehun. Yah… ia menelpon pria itu, pria yang membuatnya menangis hari ini, pria yang membuatnya berada disini, pria brengsek yang menjadi ahjussinya. Bahkan hanya dengan mendengar nada suara khawatir dari pria itu membuat Taeyeon ingin menjatuhkan cairan bening yang sudah bergenang di bawah matanya, hei bukankah ia sangat cengeng hari ini? kemana Kim Taeyeon dengan mulut pedas, dingin dan kurang ajarnya itu? Taeyeon terlihat sangat menyedihkan hanya karna pria mabuk, tidak… sebenarnya Taeyeon memiliki masalah dengan pria mabuk, tidak… trauma…

Tidak lupa jika Ibu Taeyeon bekerja sebagai wanita malam bukan? Dan hei ibunya bahkan selalu membawa pria dengan wajah berbeda kerumah setiap hari, dan tepat sebelum ibunya masuk ke rumah sakit, pria jahat yang menjadi pelanggan ibunya tidak pernah membayar itu mendatangi rumah nya… pria itu datang dalam keadaan mabuk, dan masuk ke kamar Taeyeon, memukul Taeyeon tanpa ampun… sebelum akhirnya ibunya datang dan membuat pria itu itu keluar, dan setelah selesai mengurus pria itu ibunya kembali, wajah Taeyeon yang penuh luka itu menatap ibunya pilu, hei ia berfikir bahwa ibunya akan memeluknya dan membawanya kerumah sakit atau setidaknya memberikan obat antibiotic untuk lukanya jika memang keluarga mereka tak punya banyak uang, namun apa yang ia dapat? Wanita yang ia panggil ibu itu malah ikut memukulnya, memukul kakinya dan terus menyalahkannya… menyalahkannya hanya karna ia pulang lebih awal dari biasanya, memukulnya hanya karna kesalahan yang bahkan Taeyeon tidak ketahui salahnya diamana, dan penderitaannya berakhir saat tetangganya melaporkan ibunya kerumah sakit jiwa, dan dunianya berhasil di jungkir balikkan saat ini oleh seorang Oh Sehun.

“keluarlah Kim Taeyeon!”

Ini baru 15 menit berlalu, dan Taeyeon sudah mendengar suara Sehun, membuatnya semakin merapatkan pelukannya, memeluk erat kakinya, berharap bisa menghilangkan rasa takutnya dan semakin menyembunyikan wajahnya di antara celah kakinya, tidak… Sehun akan sampai setelah 30 menit, ini masih terlalu awal untuk Sehun sampai disini. Bukankah itu terlalu cepat? Tidak ini hanya halusinasi Taeyeon saja.

“tidak mau pulang?”

Taeyeon yang duduk memeluk rapat kakinya, mengubur wajahnya di kedua kakinya perlahan mengangkat kepalanya, mendengar suara yang baru beberapa jam tidak ia dengar, hei ia sudah merindukan suara pria itu. Matanya kembali memanas saat mendapati tangan memar Sehun mengalun dengan bebas di depannya, menyuruh Taeyeon untuk segera meraih tangannya dan berdiri dari duduknya.

Hatinya berdesir perih, dejavu. Yah Sehun pernah melakukan hal yang sama untuknya, hal ini pernah terjadi pada saat pertemuan pertamanya dengan Sehun, tidak… pria ini kembali menyelamatkannya. Uluran tangan itu masih sama, hanya saja tangan pucat itu dipenuhi luka memar dan sedikit darah, semuanya sama, yang berbeda hanya senyum lega yang terpancar di wajah pria itu, berbeda saat pertama kali mereka bertemu. Pria itu bahkan tidak tersenyum dan nyaris tak berekspresi dulu, dan sekarang…

“kajja” ujar Sehun pelan, berusaha menyadarkan Taeyeon yang terlihat sangat… hei ia melihat Taeyeon yang sama dengan taeyeon yang 4 tahun lalu ia temui, gadis lemah yang jika sekali pukul saja akan rapuh dan hancur menjadi debu, kemana Kim Taeyeon yang kasar dank eras kepala yang selalu menemani hari Sehun selama ini? tak kunjung mendapat balasan, membuat Sehun ikut menunduk, meraih tangan dingin Taeyeon dan menutup gadis itu keluar dari persembunyiannya.

Taeyeon menatap kearah kirinya, melihat pria mabuk tadi yang sudah terkapar tak berdaya dengan dengan memar diwajahnya, apa pria itu mati? Kapan Sehun memukulnya?

“dia tidak mati, aku jamin itu, kajja eoh!” Percayalah, bahwa untuk saat ini Sehun harus segera membawa Taeyeon pulang bersamanya, badannya sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi, kepalanya semakin pusing karna ia berlari dengan kecepetan yang bahkan Sehun tak sadari untuk menghampiri Taeyeon dan memukul pria yang sudah berani membuat Taeyeon-nya ketakutan. Ia harus segera mengakhiri ini, Sehun rasa ia akan pingsan dalam hitungan menit jika mereka tak sampai dirumah dalam beberapa menit kedepan, tidak… berahanlah Sehun!

Sehun berjalan dengan Taeyeon yang mengikuti langkahnya dengan sangat lambat, sangat lambat layaknya kura-kura berjalan, membuat Sehun berhenti dan menatap Taeyeon intent, mencoba mencari dimana akar dari permasalahnya, sebelum akhirnya ia menatap lutut Taeyeon yang terlihat memar dan berdarah itu, itu dia masalahnya… kakinya terluka…

“harusnya aku membunuh pria brengsek itu!” gumam Sehun pelan, sebelum akhirnya ia berbalik dan menghadapkan punggungnya ke hadapan Taeyeon. Berharap di dalam hati ia masih bisa bertahan sampai mereka sampai di rumah jikalau hormone labil Taeyeon kumat dan menolak bantuannya, dan sepertinya tebakan Sehun salah saat ia merasakan tubuh Taeyeon mendekat ke arahnya dan tangannya melingkar dengan sangat erat di bahunya.

Dengan tenaga yang tersisa, Sehun mencoba berdiri dan berjalan dengan pelan dengan Taeyeon yang ia gendong di belakangnya. 3 menit berlalu dan Taeyeon masih tetap bertahan dengan kediamannya, membuat Sehun hanya bisa menghela nafas pasrah, mungkin saja Taeyeon masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi… dan lagi lagi tebakan Sehun sepertinya salah… ia merasa tubuh mungil dengan berat yang tak seberapa itu bergetar di punggungnya. Sehun memutar pelan kepalanya sebelum akhirnya pipi Taeyeon yang sedikit lembab itu menghalanginya, membuat Sehun terdiam dan kembali melanjutkan langkahnya dengan pelan, membiarkan Taeyeon menangis di punggungnya.

“wae?” Tanya Sehun pelan, hei ia sudah selamat, kenapa harus menangis? Taeyeon menggeleng pelan, tidak berniat menjawab pertanyaan Sehun. Apa yang harus ia jawab? apa ia harus jujur dan menjawab dengan sangat baik bahwa ia tengah tersentuh dengan apa yang baru saja Sehun lakukan untuknya?

“arraseo, menangislah” Suara berat Sehun kembali mengalun menyapa telinganya, sebelum Sehun memperbaiki posisi nya menggendong Taeyeon. “maafkan aku”

Taeyeon mengeratkan tangannya yang melingkar di bahu Sehun, menenggelamkan wajahnya di bahu pria itu. dan untuk saat ini, ini satu satunya tempat ternyaman yang pernah ia rasakan. Bahu Sehun sangat lebar dan panas? Apa panas?

“ahjussi, gwenchana?”

“mwoga?”

Taeyeon menganggkat wajahnya, menempelkan pipinya kearah pipi Sehun, hei tangannya harus memegang bahu Sehun agar ia tidak jatuh, tentu saja ia bisa menggunakan pipinya. Dan mata Taeyeon membulat kaget, saat merasakan panas yang menyapa pipinya…

“kau demam…” lirihnya pelan

“sepertinya begitu” jawab Sehun acuh tak acuh, karna hei ia tidak ingin membuat gadis ini khawatir dengan dirinya, walaupun memang benar, Sehun saat ini memang harus dikhawatirkan.

“turunkan aku! Aku bisa ber…”

“tidak, kita sudah sampai dirumah saat ini tunggu saat aku meletakkanmu di atas tempat tidurmu”

Awalnya Taeyeon mengira jika Sehun hanya membual, tapi ternyata ia salah. Ia sudah berada di atas ranjanganya saat ini dengan Sehun yang duduk di sudut ranjangnya, pria itu mengatur nafasnya yang tersedat sedat, menyapu sekilas keringat di dahinya, sebelum akhirnya matanya berkunang… dan semuanya berakhir dengan kegelapan.

***

“kau bukan putri tidur, ahjussi! Ireonaseyeo!”

Entah sudah keberapa kalinya Taeyeon mengulangi kalimat yang sama, dan hei ia bahkan sudah tidak ingat entah sudah berapa kali ia mengulangi kalimatnya dalam rentang waktu 18 jam. Apa ahjussinya ini tipikal pria yang suka dengan cerita dongeng? Dengan kesal Taeyeon memukul pelan lengan Sehun, dan sialnya ia tak mendapatkan balasan apapun dari pria itu, pria itu masih sibuk mengatur nafasnya teratur dengan mata tertutup rapat, bahkan ia tidak meringis saat sudah lebih dari 3 perawat bolak balik kesini untuk menambah atau menyuntikkan sesuatu ke dalam selang infusnya, selain karna perawat itu terpesona dengan rupa Sehun, apalagi? Apa perlu ia datang dalam jangka waktu berkala? Dan sialnya perawat yang masuk selalu berganti ganti, dan yang lebih lucunya lagi, sudah jelas pria nekat ini belum membuka matanya sejak 18 jam, seorang perawat datang dengan makanan lengkap khas rumah sakit membuat Taeyeon memberikan tatapan mematikan pada perawat itu, well, ini bukan sangat yang tepat untuk Taeyeon cemburu bukan? Taeyeon bahkan menertawakan dirinya di dalam hati, Cemburu? Yang benar saja!

Yah, Pria itu dibawa kerumah sakit saat jatuh pingsan tepat setelah meletakkan Taeyeon dengan selamat sampai dirumah ah tidak bahkan sampai di ranjangnya, benar benar pria yang sangat memegang teguh semua ucapannya, dan pingsan setelah ia selesai dengan semua urusannya, membuat Taeyeon bahkan sempat menendang bokong Sehun agar jatuh dari kasurnya, hei siapa tau saja Oh Sehun ingin membalas sikapnya hari itu, dan sialnya pria itu jatuh dan tidak bergerak sama sekali, tubuhnya menggigil dan keringan dingin mengambil alih semua tubuh Sehun. Untungnya Park Chanyeol sampai tepat waktu, Taeyeon tidak menelpon pria tiang listrik itu, ia datang sendiri, memarahi Taeyeon dan membopong Sehun kerumah sakit. Hingga Sehun berada di rumah sakit sejak pukul 4 dini hari, dan sampai pukul 11 malam belum juga membuka matanya.

Taeyeon bahkan sempat menerobos ruang dokter yang merawat Sehun, menuduh dokter itu berbohong karna dokter itu bilang Sehun akan bangun dalam 8 jam kemudian setelah obatnya diserap oleh tubuhnya, hei sudah lewat satu jam dan pria itu belum juga sadar, sekaramg bahkan sudah memasuki 18 jam pria itu belum juga membuka matanya.

Mata Taeyeon menatap nanar tubuh pucat pasi yang terbalut baju rumah sakit dan selimut tebal itu, semua ini karnanya! Pria itu seperti ini karnanya! Karna gadis bodoh sepertinya. Apa yang ia harapkan dengan semua ini? kenapa ia kabur? Bukankah seharusnya ia tetap diam di rumah Sehun dan pergi dengan baik baik saat Sehun memang pada akhirnya nanti akan menyuruhnya pergi, ia datang dengan baik baik, setidaknya ia harus pergi dengan baik baik. Bukan seperti ini yang taeyeon inginkan. Melihat keadaan Sehun yang jauh dari kata normal membuatnya menghela nafas lirih, dan di detik selanjutnya Taeyeon kembali menyalahkan dirinya. Bodoh! Semua karnamu Kim Taeyeon.

Taeyeon bahkan hanya bisa diam saat Chanyeol menyalahkannya tadi. Hei si tiang listrik itu bahkan menuduh Taeyeon secara terang terangan. Dan berkata bahkan Sehun kalang kabut mencarinya semalaman. Bahkan pria yang memang sudah terlihat sedikit pucat di pagi hari tadi pun tidak membuat Taeyeon peka dengan keadaan Sehun, ia memperburuk segala. Gadis macam apa dia ini!

“sial!” dengan kasar Taeyeon menghapus air mata yang entah kenapa akhir akhir ini sering sekali menunjukkan dirinya. Ia bukanlah gadis yang sangat suka menangis, dan well… pria yang tengah terbaring di depannya ini selalu berhasil membuatnya menangis, bukankah Sehun pria yang hebat? Taeyeon kembali menghela nafasnya, kembali memukul pelan lengan Sehun, berharap bahwa pukulannya bisa membuat pria itu membuka matanya dan meringis sakit meminta Taeyeon untuk tidak memukulnya, namun lagi lagi, Sehun sepertinya sama sekali tak berminat untuk sekedar membuka matanya.

“ahjussi! Ini sudah lebih dari 8 jam, ini 18 jam! Apa kau tidak mau bangun? Eoh?”

Taeyeon kembali menghapus air matanya, memutar tubuhnya ke samping berniat mengambil tas kecilnya, mengeluarkan obat mata yang selalu ia gunakan jika habis menangis, hei obat mata ini sangat membantu menyamarkan mata merahnya, dan juga menyelematkannya dari pertanyaan Sehun saat Sehun mendapati matanya merah.

PRANG

Gelas minum yang terletak di atas sana jatuh berkeping keping saat tangan Taeyeon tak sengala menyenggol gelas itu, membuat nya terkejut dan segera berdiri dari duduknya, Taeyeon hendak berjalan mengambil sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membersihkan serpihan kaca ini, sebelum sebuah tangan yang penuh dengan selang impus meraih pergelangan tangannya, membuat Taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap tangan itu lama, dan berakhir dengan Taeyeon yang mengangkat kepalanya, menatap Sehun dengan mata yang berkedip, sepertinya pria itu tengah berusaha menyesuaikan cahaya lampu dengan retina matanya.

Ia bangun! Hei jika tau pecahan gelas bisa membuat Sehun bangun, harusnya dari tadi Taeyeon sudah memecahkan gelas itu, bukan?

“kemana?”

Taeyeon yang terkejut melihat Sehun membuka matanya sepenuhnya menghentikan langkahnya, seketika niatnya untuk membersihkan pecahan gelas itu sirna “kau sudah bangun? Kukira kau tak akan bangun lagi ahjussi” Taeyeon berjalan mendekat, meletakkan tangan nya yang sedikit dingin itu di atas kening Sehun, hei awalnya Taeyeon sangat ragu dengan tidankan yang ia lakukan, namun karna memegang kening Sehun selama pria itu tidak sadarkan diri membuat dirinya terbiasa dan merasa hal itu masih di batas normal untuknya menyentuh Sehun, tapi… bukankah mereka pernah melakukan lebih? Kenapa Taeyeon malah ambil pusing untuk sekedar menyentuh dahi Sehun.

“sudah lebih baik” yah, Suhu tubuh Sehun tidak panas saat pertama kali ini memegang dahi pria ini, ini jauh lebih baik meskipun suhu tubuh Sehun belum bisa dikatakan normal. Dokter yang tadi memeriksa Sehun ia akan segera pulih dalam waktu 2 hari, Taeyeon rasa ahjussinya itu tidak menderita penyakit yang berbahaya.

Sejuk. Jika kalian penasaran dengan apa yang Sehun rasakan saat ini, hei… ini untuk pertama kalinya dalam hidupnya Sehun sangat merasa diberkahi saat dirinya mendapat penyakit demam di saat cuaca diluar sana sama sekali tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk penyebab penyakitnya. Ini pertama kalinya ia merasa jika seseorang bisa membuatnya senyaman ini saat sedang sakit, dan yang orang itu bukan ibunya, dan ini untuk pertama kalinya Sehun merasa jantungnya sangat berlebihan, jantungnya berdebar hanya karna keningnya merasa dingin bersentuhan dengan tangan pucat itu.

Hal pertama yang Sehun cemaskan saat membuka matanya adalah Taeyeon, apa Taeyeon masih seperti Taeyeon yang tadi malam ia lihat? Taeyeon yang ia lihat saat mereka pertama kali bertemu, bukan Kim Taeyeon yang biasa ia lihat akhir akhir ini, dan well Sehun sangat menyukai Taeyeon dengan sikap bar-barnya, dan mulut manis yang sialnya berbisa itu daripada Taeyeon dengan wajah pucat penuh akan rasa takut itu. dalam hati, Sehun berdoa bahwa ia tidak akan pernah melihat Taeyeon seperti itu selama hidupnya, tidak akan pernah.

“ahjussi?”

Ah, sial. Ia ketahuan melamun saat Taeyeon memegang dahinya, dan… kapan kim Taeyeon melepaskan tangannya dari dahi Sehun? Kenapa Sehun baru merasakannya sekarang? Hei dahinya kembali memanas.

“wae?” balas Sehun pelan. Mood Sehun rusak hanya karna mendengar Taeyeon memanggilnya dengan nama Ahjussi, benar benar membuatnya kembali ke dasar bumi dan membuatnya sadar bahwa banyak hal yang harus ia lakukan kedepannya untuk bisa selalu bersama gadis ini, panggilan terkutuk yang pernah Sehun dengar seumur hidupnya.

“ingin sesuatu? Aku… aku ingin keluar… membeli… mmmm makan?” ini hebat Kim Taeyeon, apa yang baru saja Taeyeon katakana? ia hanya ingin Sehun makan sesuatu, atau memintanya mengambilkan sesuatu karna Sehun belum makan apapun sejak ia pingsan, tapi kenapa kalimat yang keluar dari mulutnya selalu berbeda dengan apa yang seharusnya ia katakana? Apa otaknya sudah mulai rusak?

“cepat kembali, jangan pernah pergi dariku apapun yang terjadi

DEG

Jaangan pernah pergi? Apa Sehun tau kalau Taeyeon berniat kabur darinya? Ah Taeyeon memang sangat bodoh untuk urusan yang satu itu, ia sangat bodoh jika sudah berkaitan dengan Oh Sehun.

“n…ne?” Tanya Taeyeon gugup, jangan salahkan Taeyeon jika kali ini ia berharap ia benar benar tuli, atau setidaknya biarkan Taeyeon bersikap bahwa ia tidak mendengar apa yang baru saja Sehun ucapkan.

“kau mengerti maksudku, Kim Taeyeon!”

“t..tidak, apa maksudmu? Sialan! Jangan bermain kata dengan ku!”

Sehun tersenyum miring, hei… gadis ini benar benar masih memegang teguh pendiriannya, Sehun sudah tau niatnya, dan gadis ini masih enggan memberitahunya… “tidak jadi beli makanan?” baiklah… Sehun akan mengalah lagi entah yang keberapa kalinya untuk hari ini, ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk menguras otaknya sekedar mencari kalimat yang pas untuk membalas Kim Taeyeon.

“aku tidak berselara lagi!” Taeyeon berjalan menjauhi ranjang Sehun, mengambil remote televise dan mendudukan dirinya di sofa yang terletak tak jauh dengan ranjang Sehun sebelum menghidupkannya, mencari chanel tengah malam yang memutar sesuatu yang bisa meredam kediaman yang mendadak melanda ruangan ini. Taeyeon sesekali bahkan melirik Sehun yang… Hei Taeyeon merasa bahwa pria itu dari tadi menatapnya, bahkan saat Taeyeon melontarkan kalimat umpatannya, mencoba membuat Sehun mengalihkan tatapannya dan memutar kepalanya lurus, sebelum akhirnya Sehun kembali bersuara

“jangan ulangi lagi, atau aku bisa gila!” Tanpa sadar Sehun bergumam pelan, ia berniat bergumam hanya untuk dirinya, dan sialnya sepertinya Taeyeon mendengarnya, membuat gadis yang dari tadi berpura pura tidak mendengarnya itu memutar kepalanya, menatap Sehun dengan kening mengkerut, mengharapkan lanjutan kalimat, atau mungkin bertanya apa maksud dari kalimat yang Sehun ucapkan. Hei maksud Sehun, jangan pernah melakukan hal gila itu lagi, jangan pernah melakukan sesuatu yang membuat seorang Oh Sehun menjadi gila! Jangan Kim Taeyeon!

“bantu aku…”

Bantu? Mendengar kata bantu, dengan cepat Taeyeon menyeret kakinya yang masih penuh dengan baluran perban putih itu, hanya lututnya saja, dan sialnya membuat kakinya agak kesulitan untuk mengambil langkahnya, sebelum akhirnya Taeyeon sadar bahwa tatapan Sehun sudah beralih sepenuhnya mentap perban di kakinya.

“kakimu…”

“yah, jangan pedulikan aku! Apa yang harus aku bantu?”

“sakit?”

“ahjussi!”

“kurasa tidak sesakit itu, kakimu”

“tidak tidak! Apa! Jangan membuat ku marah! Apa yang harus kubantu?”

Jujur saja, jika Sehun tidak sakit, mungkin Taeyeon sudah mengelurkan sumpah serapahnya untuk saat ini, hanya saja sepertinya mulutnya ini sedikit kasian dengan Sehun, pria itu masih betah dengan wajah pucat pasinya sejak tadi pagi.

“aku mau mandi”

“m..mandi? yah, kau masih demam ahjussi, jangan gila! Kau bukan bayi! Mandi sendiri saat sudah sembuh!!!” Mandi? Apa pria ini tidak lihat bahwa tubuhnya yang putih bersih itu tengah dibaluti selang impus? Ada dua impus di tangan kanannya dan satu buah bekas suntikan di lengan kirinya. Apa pria ini harus mandi saat ini juga.

“kenapa wajahmu memerah? Jangan berfikiran yang tidak tidak, kau hanya perlu mengambil baskom air hangat, dan handuk kecil, setelah itu bawakan aku baju ganti!”

Well, pria ini benar benar tengah menguji Taeyeon saat ini, hei Taeyeon memang berniat membantunya, tapi tidak seperti juga, ia hanya berniat menyuapi Sehun makanan, atau membelikannya makanan baru pengganti makanan rumah sakit yang tak ada rasanya ini, kenapa malah menyuruhnya untuk membilas badannya?

Sehun tersenyum tipis saat mendapati wajah Taeyeon yang terlihat tengah berfikir keras, sangat jelas jika Taeyeon sangat keberatan dengan apa yang baru saja ia minta, tapi percayalah bahwa untuk saat ini Sehun sangat butuh yang namanya mandi, dan juga pakaian baru. Badannya terlalu berkeringan dan well, Sehun sangat tidak suka dengan aroma yang di keluarkan tubuhnya, ah Sehun ingat jika sebelum pingsan ia sempat berlarian menemukan Taeyeon dan Sehun bahkan tak sempat mandi saat pagi hari mengantarkan Taeyeon, jika dihitung hitung sudah 1 hari dilewati Sehun tanpa air. “tidak mau? Panggilkan saja perawat di luar sana! Kau bisa pulang dan mak…”

“apa Perawat?” beo Taeyeon pelan. Perawat? Hei suster disana akan dengan senang hati jika Taeyeon menyuruhnya melakukan hal yang memang menjadi kewajibannya dan sekaligus hiburan untuknya. Memandikan Sehun? Bukankah itu sebuah nilai plus untuk perawat di sana? Untuk sekedar menyuntik Sehun yang dalam keadaan tak sadarkan diri saja mereka semua bergiliran masuk. Big Hell NO!

“ahh aniya ahjussi, aku saja!”

Dengan cepat Taeyeon berlalu, masuk ke dalam kamar mandi di pojok ruangan, menyiapkan semua keperluan Sehun. Sebuah ember berukuran sedang dengan air hangat dan juga handuk putih yang ia dapatkan di dalam sana. Dengan langkah pelan dan ragu, Taeyeon mendekati Sehun, meletakkan ember itu di nakas tempat di samping Sehun, mengatur ranjang Sehun agar bisa sedikit menaikkan posisi kepalanya Sehun sebelum akhirnya Taeyeon merendam handuk putih itu dengan ragu. Hei sangat jelas raut wajah ragu Taeyeon, dan jika Sehun boleh jujur, ia melihat rona merah di pipi gadis itu…

“tidak usah, bia…”

“tidak ahjussi, aku yang akan melakukannya!” Tolak Taeyeon cepat, Sehun akan memintanya memanggil perawat diluar sana bukan? Ah jangan sampai Taeyeon mencari masalah dengan semua perawat yang berada di luar sana hanya karna perawat itu memandikan Sehun.

“aku yang akan lakukan sendiri, keluarlah”

Apa Sehun marah? Nada suaranya terdengar sangat dingin? Hei apa ia pria dengan kepribadian ganda? Kenapa ia bisa berubah dalam waktu singkat? “aku saja!”

“aku tidak mau memaksamu kim Taeyeon, aku sa…”

Handuk basah itu jatuh tepat ditangan Sehun, hei gadis itu melakukannya? Padahal sebenarnya Sehun awalnya hanya berniat mengerjai Taeyeon, mana mungkin gadis itu mau menurut padanya? memandikan? Yang benar saja. Tapi apa ini? Sehun bahkan hanya bisa kembali mengunci mulutnya dengan mata yang menatap Taeyeon yang berusaha focus membersihkan tangan kanannya. Perlahan Taeyeon menaikkan lengan bajunya hingga sampai pada tempat dimana tidak bisa dinaikkan lagi, kemudian kembali mengusapnya pelan, beberapa kali tangan mungil itu menyentuh tangannya, memastikan tangan Sehun berada dalam keadaann bersih.

“pergilah tidur sana, ini sudah m…”

“diamlah! Aku harus focus”

Fokus? Yah, selain focus untuk menenangkan suara jantungnya yang berdebar tak karuan di dalam sana, ia harus focus membersihkan tangan Sehun, ia membersikan tangan Sehun seolah olah tangan Sehun adalah benda yang jika salah usap saja akan langsung cacat. Dan well, pria ini benar benar luar biasa, ia memiliki kulit seputih susu dan selembut kulit bayi.

Sehun hanya diam, menatap Taeyeon tepat di mata gadis itu, dan sepertinya gadis itu sama sekali tidak ambil pusing dengan tatapannya, lihat! Bahkan Taeyeon sudah beralih membersihkan tangan kirinya, dan setelahnya gadis itu turun kebawa, mengusap kedua kaki, dari telapak kaki hingga sampai ke atas lututnya. Sehun tersenyum, hei apa ini bisa disebut mandi? Gadis itu hanya mengusap bagian tubuhnya yang masih terjangkau tanpa perlu membuka bajunya, ia hanya memberishkan bagian yang terlihat saja, bukankah kim Taeyeon terlalu polos untuk hal ini?

Selesai dengan kakinya, Taeyeon mulai beranjak, mengganti handuknya dan berjalan kea rah kepala Sehun, mengarahkan handuk yang baru saja ia peras kea rah wajah Sehun, aaa gadis itu akan membersihkan wajahnya? Apa ini tahap akhir Sehun dalam proses ‘mandinya’ kali ini?

Taeyeon meninggikan ranjang Sehun hingga membentuk sudut 90 derajat. Sebelum akhirnya handuk itu mendarat tepat di wajah Sehun dengan Taeyeon yang mengambil posisi duduk di pinggir ranjang Sehun. Taeyeon tidak bodoh, ia tau jika mata coklat kepunyaan Sehun itu tengah menatap manic matanya, sekalipun Taeyeon mencoba berkali kali untuk tidak ambil pusing dan meneruskan apa yang tengah ia lakukan, mengusap pelan dahi pria itu, perlahan turun ke pipi Sehun, hidungnya hingga Taeyeon berhenti tepat di depan bibir Sehun, bibir tipis Sehun yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya, tidak ia tidak berfikiran negative. Hei bibir itu bergerak, menggumamkan sebuah kata yang membuat Taeyeon tak bisa menyuruh tangannya untuk terus bergerak menyelesaikan apa yang harusnya ia selesaikan secepatnya. Matanya yang dari tadi ia perintahkan untuk tidak menatap mata Sehun, perlahan mulai menghianatinya, matanya menatap tepat ke dalam mata coklat yang masih menatapnya. Sebelum akhirnya kedua mata itu bertemu dalam diam, hei… siapa yang tau jika di dalam dadanya, jantung Taeyeon tengah berdegum kencang diiringi rasa nyeri yang ada, ia hanya takut…

“mulai hari ini… aku bukan lagi ahjussimu”

DEG

Bukan? Apa hari ini Sehun resmi menelantarkannya? Hei ia bahkan belum berulang Tahun yang ke-20. Apa ia tidak bisa lebih lama lagi? Apa semuanya akan berakhir begitu saja?

“kumohon hilangkan pikiran negative mu itu, kim Taeyeon!” ujar Sehun tegas, membuat Taeyeon mengalihkan tatapannya sekilas sebelum akhirnya kembali menatap Sehun, dengan senyum yang bahkan orang bodoh saja tau jika senyum itu terlihat sangat jauh dari kata bahagia “bukankah itu bagus? Aku bebas sekarang! Kau bukan lagi waliku? Aku benar bukan?” ingin rasanya Taeyeon memukul mulutnya sendiri yang dengan seenak hatinya berucap bagus, tidak… ini sama sekali tidak bagus.

“bebas?”

“kenapa? Ingin mengurungku? Menjadikanku babu?” Tantang Taeyeon tajam. Tidak Taeyeon. Ini belum berakhir. Ia harus terus terlihat baik baik saja di depan Sehun, ia harus terlihat bahwa ia akan baik baik saja tanpa Sehun, dan ia harus terlihat bahwa ia saat ini tidak sedang berboong.

“aku akan mengikatmu, lebih erat dari yang kau bayangkan!”

“menjadikanku budakmu? Atau apa?” Taeyeon melemparkan handuk putih yang berada di tangan kanannya dengan kesal ke dalam ember di samping nakas “Sialan! Aku sudah tak peduli lagi dengan apapun itu! aku bebas sekarang! Aku bisa pergi kemanapun aku mau, setidaknya aku tidak perlu…” Taeyeon hendak berdiri dari posisinya sebelum sebuah tangan menahan lengannya. Membuat Taeyeon lagi lagi menatap mata coklat yang terlihat sayu itu.

“bodoh, hilangkan pikiranmu negative mu itu, siapa yang akan bebas? kau akan kemana? Apa aku bilang aku akan melepaskanmu? Budak? Babu? Apa hanya sesuatu yang buruk tentangku yang ada di dalam otak kecil mu ini?” Perlahan, Sehun meremas lengan Taeyeon dengan tangan kanannya. Kesal? Tentu saja, jika dilihat lagi, kekecewaan lebih mendominasi pikiran Sehun kali ini dari pada kesal, ia sangat kecewa dengan pola pikir Taeyeon, kenapa dengan gadis itu? kenapa Taeyeon selalu berfikiran sesuatu yang buruk padanya? apa seburuk itu Oh Sehun di mata Kim Taeyeon?

“lalu apa lagi? Apa yang kau mau? Breng…”

Mulut Taeyeon tertutup rapat, matanya melebar, dan jantungnya berbedar. Sehun menciumnya? Hei bibir pria itu sudah berada tepat di atas bibirnya, dan dalam hitungan menit, bibir tipis itu sudah bergerak dengan gerakan tergesah, membuat Taeyeon hanya bisa diam menerima setiap perlakuan yang Sehun lakukan terhadap bibirnya. Pria itu menaikkan tangannya kea rah tengkuk Taeyeon, memiringkan kepalanya sebelum akhirnya menekan kepala Taeyeon semakin mendekat ke arahnya.

Sial! Sehun merutuki dirinya yang lagi lagi melewati batas. Ia mencium Taeyeon lagi. Percayalah bahwa awalnya Sehun hanya ingin membungkam mulut pedas gadis itu, dan siapa sangka jika yang ada sekarang Sehun dengan perasaan kecewa yang memenuhi dirinya melumat habis bibir gadis. Well, bibir gadis itu benar benar membuat Sehun lupa dimana kakinya berpijak saat ini. sudah lebih dari 1 menit, Sehun tetap bertahan dengan posisinya, bergantian mencumbu bibir gadis itu atas dan bawaah sebelum akhirnya Taeyeon mendorong pelan bahu Sehun, membuat Sehun sadar bahwa gadis itu perlu bernafas.

Dengan santainya, Sehun menjauhkan wajahnya dari wajah Taeyeon, tak sepenuhnya jauh karna Sehun hanya menegakkan kembali kepalanya, membuat hidungnya yang mancung menyentuh ujung hidung kim Taeyeon. Sehun tersenyum kecil saat menyadari bahwa gadis itu tidak menolak ciumannya seperti saat pertama kali mereka berciuman, dan sedikit mengecewakan karna gadis itu tidak membalas ciumannya seperti waktu itu.

“well, sudah ke tiga kalinya, dan bibir ini…” Sehun menaikkan tangan kanannya yang dari tadi ia biarkan berada di atas ranjang, menyentuh bibir merah Taeyeon dengan jempolnya. Mengusap pelan bibir itu. “kenapa rasanya semakin manis?”

“ahjuss…”

Tidak, ini tidak benar. Taeyeon harus segera sadar bahwa ini semua tidak benar. Hubungan mereka salah, dan apa yang baru saja mereka lakukan salah! Taeyeon terus berusaha menggelengkan kepalanya, mencoba melepaskan dirinya dari kedua tangan Sehun yang kompak menyentuh dan menahan wajahnya agar tetap bertatapan dengan wajahnya. Taeyeon sangat ingin lari dan menyembunyikan wajahnya dari hadapan Sehun saat ini! semuanya salah, ia tidak boleh… mereka tidak boleh…

“aku bukan lagi ahjussimu sejak 7 menit yang lalu, perkenalkan…”

Sehun kembali menyapa sekilas bibir Taeyeon, hanya sekedar menyapukan bibirnya ke atas permukaan bibir Taeyeon sekilas sebelum akhirnya ia menjauhkan wajahnya, bibir itu benar benar membuatnya gila! Membuatnya lupa dengan apa yang harus ia selesaikan sebelum semuanya manjadi semakin rumit.

“Oh Sehun, usia 27 tahun. Seorang pria biasa dengan seribu kekurangan, seorang pria brengsek yang membuat gadis berusia 19 tahun menangis diam diam karna menyukainya, pria brengsek yang membuat otak gadis di depannya ini berisi tentang hal buruk, aku Oh Sehun… Pria brengsek… pria kurang ajar yang pernah ada… pria yang sangat kau benci… aku Oh Sehun, pria yang menyukaimu… lebih dari diriku sendiri, bahkan sejak awal, saat tanganmu meraih tanganku… aku, Oh Sehun…”

“pria brengsek yang jatuh hati pada gadis 19 tahun… pria brengsek yang ingin menua bersama mu, pria brengsek yang ingin selalu disampingmu… pria brengsek dengan sikap overprotektifnya… pria brengsek yang dengan serakahnya ingin memilikimu…”

“menikahlah denganku… Kim Taeyeon”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Decitan pintu ruangan kamar inap Sehun, membuat Kedua manusia yang tengah terlibat ke dalam pembicaraan yang sangat serius itu melepaskan tatapannya, Taeyeon memilih untuk memutar badannya, melirik siapa yang masuk ke dalam kamar. Dalam hati Taeyeon sedikit bersyukur dan ingatkan Taeyeon untuk berterimakasih kepada perawat tua yang masuk dengan seperangkat alat untuk suntikan tambahan Sehun.

“maafkan saya, harusnya saya meng…”

“ani, gwenchana… aku… aku akan keluar sebentar…”

Tanpa menoleh kea rah Sehun, Taeyeon langsung bangkit dari duduknya, meraih mantel hangatnya dan langsung berjalan dengan pelan keluar, seolah olah tidak ada yang terjadi. Semuanya berbanding terbalik saat ini, karna jika Taeyeon boleh jujur, jantungnya berdegup sangat kencang bahkan nyari keluuar jika ia terus di sana menatap mata sayu pria itu.

Sehun hanya diam dan tersenyum tipis kea rah perawat sebelum akhirnya ia menghela nafas pelan saat melihat punggung Taeyeon menghilang di balik pintu rawat inapnya yang kembali menutup. Kecewa? Hei… tidak. Hanya saja, ia harus memberikan waktu pada gadis itu? ia masih terlalu kecil untuk berfikir sejauh itu, dan sialnya… Sehun menyesali kalimatnya yang mengajak gadis itu menikah, bagaimana bisa ia mengajak Taeyeon menikah? Bukankah harusnya ia menjadikan gadis kecil itu menjadi kekasihnya dulu? Apa Sehun bergerak terlalu cepat?

“maafkan saya, Oh Sehun-ssi, sepertinya saya…”

“ah animida, gwenchana”

Sehun berusaha tersenyum sehangat mungkin untuk menghilangkan raut wajah bersalah dari wajah perawat Shin itu, hei umurnya sudah hampir setengah abad, dan wanita tua ini masih saja bergulat dengan pekerjaannya.

Dengan telaten, wanita paruh baya itu menyuntikkan beragam jenis suntikan mulai ke dalam selang impus Sehun, hingga langsung ke kulitnya.

“gadis kecil itu, menyuruhku untuk menjadi perawatmu, dia tidak mau perawat muda yang masuk ke dalam sini, bukankah gadis itu sangat lucu?”

Sehun yang tadi berusaha untuk menutup matanya, perlahan membuka matanya, merasa penasaran dengan kelanjutan ucapan yang baru saja dibuka oleh perawat Shin “ne? taeyeon?”

Perawat Shin mengangguk sambil tersenyum manis, membayangkan betapa lucunya Taeyeon saat memohon dengan sedikit kurang ajar padanya, hei sehari ini sudah lebih dari 4 perawat muda yang masuk, dan Taeyeon langsung naik darah saat perawat muda ke 5 masuk ke dalam ruangannya dengan alibi memperbaiki selang inpus Sehun yang nyatanya sama sekali tidak ada masalah. Membuat Taeyeon membentak perawat itu dengan kalimat yang luar biasa membuat perawat muda itu mengadukan tingka Taeyeon padanya. alih alih memarahi Taeyeon, Perawat Shin hanya tersenyum mendengar penuturan kesal Taeyeon, dan berakhir dengan Taeyeon yang memintanya untuk menjadi perawat yang akan menyuntikkan Sehun, atau perawat tua lainnya, yang jelas bukan perawat muda.

“sepertinya ia cemburu pada perawat muda yang ada disini”

Apa? Gadis seperti Taeyeon cemburu padanya? Taeyeon cemburu hanya karna perawat muda? “yah, kurasa ini pertama kalinya”

“apa gadis itu pacarmu? Tapi kenapa ia selalu memanggilmu ahjussi?”

“gadis bodoh, dia yang memasang dinding sendiri, dan dia yang menderita” andai saja, Sehun orang yang terbuka, ia akan membagi kisahnya saat ini, tapi tidak. Ia tipikal pria yang akan memendam apapun sendiri, tidak dengan ibunya, apalagi Sahabatnya. Bukan berarti ia tak percaya siappun, hanya saja, ia rasa tidak akan ada yang mengerti dengan apa yang ia rasakan.

“ah tidak apa-apa, maaf sudah ikut campur, saya permisi dulu”

Merasa semakin tidak enak dengan Sehun, perawat Shin memilih untuk segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan Sehun yang masih diam dengan posisi yang sama. Pikiran yang kosong, dan mata yang menerawang…

***

Gadis dengan mantel coklat tebalnya itu melirik sekilas kea rah jam dinding di dalam Café tempat dimana ia menghabiskan 1 jam terakhirnya. Sejak ia berhasil lolos dengan bantuan perawat itu, dari pernyataan Sehun yang sampai detik ini masih membuat jantungnya berdebar. Bodoh memang. Apa pria itu tadi melamarnya? Sehun menyukainya?

Seketika, senyum merona terpampanng di wajah Taeyeon, entahlah. Hanya memikirkan apa yang baru saja terjadi, membuatnya tersenyum layaknya gadis bodoh dan beberapa detik kemudia kembali dengan wajah dinginnya saat dirinya mengingat bahwa Sehun adalah ahjussinya. Tangan kecilnya meraih sedotan kecil di dalam segelas americano yang dari tadi ia biarkan begitu saja. Bahkan ia sama sekali tidak menyeruputnya sejak satu jam ia memesan minuman itu, hanya menyentuh sedotannya, memutarnya sekilas dan kembali melepaskannya.

Lagi, Taeyeon memutar kepalanya, melirik ke sekelilingnya, dan yah… hanya ada ia sendirian dan 3 orang barista. Ini sudah terlalu larut bahkan untuk sebuah café yang berada di lantai dasar rumah sakit. Ini sudah lebih 1 jam, dan yah… sepertinya Sehun sudah tidur. Dan ini waktu yang tepat untuk Taeyeon kembali ke kamar Sehun tanpa harus menjawab pertanyaan Sehun. Ia hanya ingin berbaring di sofa, memainkkan ponselnya untuk mengusir rasa jenuh atau untuk membuatnya bisa tertidur sebelum akhirnya tertidur dan ia akan bangun jika Sehun sudah disuntik untuk tidur lagi keesokan harinya. Ini cara terjitu untuk menjauhi Sehun bukan? Bukankah Taeyeon masih mempunyai opsi lain? Ia bisa saja pulang kerumah untuk menghindari Sehun atau pergi kemanapun, dan well, sialnya lagi… sepertinya kalimat Sehun yang berucap jangan pergi padanya terus terngiang ngiang layaknya kaset rusak di otaknya, padahal ia hanya sekedar merencanakan, belum mengerjakannya.

Dengan pelan, Taeyeon berdiri dari kursinya, menatap sekilas ke arah barista yang menatap Taeyeon dengan tatapan penuh Tanya, mungkin saja pria itu sangat kesal padanya karna ia tidak bisa beristirahat dengan tenang karna kehadiran Taeyeon? Terserah. Yang jelas taeyeon tak akan mempedulikannya. Dengan cueknya Taeyeon membuka pintu café itu, melangkah keluar. Berjalan sepelan yang ia bisa untuk sampai di lift dan naik ke lantai dimana ruang inap Sehun berada.

Dan, percuma saja… niat Taeyeon untuk memperlambat dirinya agar sampai di kamar Sehun musnah saat tak lebih dari setengah jam ia sudah berdiri membatu di depan pintu bercat coklat itu. Taeyeon menghela nafas pelan, mencoba untuk meredam debar jantungnya yang sialan brengseknya itu tidak mau diam dari tadi.

Tangan kecilnya meraih ganggang pintu itu, menggeser dengan pelan pintu itu sebelum akhirnya matanya melebar kaget, mendapati Sehun masih di posisi yang sama dengan mata menatap Taeyeon penuh Tanya. Oh tuhan, apa yang harus taeyeon lakukan? Bukankah pria ini harusnya tidur setelah menerima suntikan perawat? Apa obatnya tidak berjalan dengan baik?

“bertanya kenapa aku tidak bisa tidur hmm?”

Ah sial, nada lembut itu lagi menyapa telinga Taeyeon, membuat Taeyeon yang membeku di depan pintu perlahan menutup pintu itu, mengalihkan tatapannya dari arah Sehun dan memilih untuk membaringkan dirinya di atas sofa panjang. Dan berbalik memunggungi Sehun yang taeyeon sangat yakin 1000 persen masih menatapnya.

“bagaimana bisa aku tidur?” ujar Sehun pelan, well… anggap saja ini pengaruh obatnya yang membuat Sehun tetap tenang meskipun jantungnya tengah bergerilya di dalam sana. “aku bahkan belum mendengar jawaban yang kuinginkan”

Taeyeon berusaha sekuat tenaga untuk tidak memutar badannya dan tetap teguh dengan posisinya, dan berharap dengan sangat agar ia bisa tertidur, sehingga ia tidak perlu berakting tidak mendengar apapun dari telinga Sehun.

“kau bingung bukan?”

Oh Hell OH SEHUN! Tidak bisakah pria itu tidak menuntut jawaban dari Taeyeon? Taeyeon bahkan bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Apa Taeyeon harus menjawab ia? Karna sejujurnya itujawaban yang sangat ingin terlontar dari mulutnya, hanya saja… logikanya masih berfikir dengan logis bahwa Sehun ahjussinya.

“kenapa kau memanggilku ahjussi? Apa aku menyuruhmu?” Sehun menghela nafas pasrah menerima kediaman Taeyeon, yah gadis ia yakin jika gadis itu belum tidur, dan ia tidak bisa membiarkan semuanya semakin rumit nantinya. “kau tau kenapa aku selalu menggilmu dengan nama lengkapmu hmm? Kim Taeyeon”

Taeyeon membuka matanya pelan. Benar, Sehun tidak pernah memanggil namanya dengan baik. Taeyeon-ah? Taeyeonie? Tidak, pria itu selalu menggil nama lengkapnya. Kim Taeyeon! Apa ada alasannya? Tentu saja karna ia tidak ingin dekat dengan Taeyeon, dan hell kenapa pria itu tidak bisa diam?

“marah? Yang benar saja. Kau bisa membedakan dengan baik bukan? Saat aku marah? Kau pembuat onar yang baik, tentu saja kau bisa” Sehun kembali melanjutkan kalimatnya, menatap nanar punggung Taeyeon yang bergerak sedikit tapi tidak membuat gadis itu memutar badannya. Apa gadis itu benar benar sudah tidur?

“karna aku ingin menegaskan pada dunia, bahwa kau Kim Taeyeon, dan aku Oh Sehun…” Sehun tersenyum tipis dan membasahi bibirnya yang tiba tiba saja merasa kering. Baiklah, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk Sehun melanjutkan ceritanya, karna Taeyeon masih beratahan dengan sikap bekunya. Sehun memutar tubuhnya, menatap langit langit kamarnya dan kembali bergumam dengan pelan “kim dan oh, kita tidak sedarah, saudara, dan aku buka ahjussimu. Aku pria yang hanya ingin menjadi walimu, kau dan aku…”

“bukankah kita bisa bersama?”

Taeyeon memutar tubuhnya dengan pelan, menatap Sehun yang masih bertahan menatap langit langit kamar dengan senyum manisnya. Bersama? Benarkah? kenapa yang ada di dalam otaknya hanya sesuatu yang buruk tentang oh Sehun? Ia bahkan selalu marah hanya karna Sehun memanggilnya dengan nama lengkapnya. Bersama? Apa mereka bisa bersama?

“belum tidur?” Sehun kembali memutar tubuhnya, menatap kea rah Taeyeon saat sadar bahwa gadis itu memutar tubuhnya, menatap Sehun dengan mata yang terlihat sangat sayu dan merah? Kenapa? Apa Sehun membuatnya menangis lagi?

“kemarilah” perintah Sehun pelan, hei gadis itu terlihat akan menangis. Apa ia mengucapkan sesuatu yang salah? Apa pikiran negative gadis itu masih bertumpu padanya?

“shireo, aku mau tidur” Taeyeon kembali memutar badannya, dan yah… Sehun benar. Air mata perlahan mengalir di kedua pipi Taeyeon, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan air matanya dan dengan cepat menepis air mata dengan kedua jarinya. Tidak. Apa taeyeon gadis yang sangat lemah? Kenapa ia selalu menangis hanya karna Oh Sehun. Dan sialnya, tangisannya kali ini lebih ke dalam perasaan lega yang mendadak menyelimutinya. Yah ia salah, karna selalu berfikiran negative pada Sehun selama ini, tidak salah bukan? Taeyeon hanya takut jika Sehun meninggalkannya. Anggap saja pikiran negatifnya selalu berusaha membuat Taeyeon belajar menerima apa yang akan terjadi nantinya jikalau salah satu dari pikiran negatifnya itu terjadi. Dan beruntungnya taeyeon, tak ada satupun dari pikiran negatifnya yang benar benar terjadi bahkan sampai detik ini. ia terlalu jahat pada Oh Sehun.

“hei, proses mandiku belum selesai, kemarilah! Ambilkan baju gantiku!”

Tidak, Sehun saat ini tidak benar benar membutuhkan baju gantinya, ia hanya ingin Taeyeon kesini, ketempatnya dan berhenti menyembunyikan air matanya dari Sehun, apa ia sebrengsek itu hingga Taeyeon tak mau membagi kesedihannya dengan Sehun? Gadis itu berdiri dari posisinya, membuka tas koper kecil yang terletak tak jauh darinya, mengelurkan pajama putih Sehun dan berjalan mendekat ranjang Sehun. Menyerahkan kemeja itu ke tangan Sehun dan berniat kembali ke posisinya, dan naasnya. Lagi lagi tangan Sehun kembali menahannya. Membuat Taeyeon mau tidak mau memutar badannya menatap Sehun yang masih betah dengan posisi duduknya di atas ranjangnya.

“gantikan! Bahuku sakit”

Dengan cueknya, Taeyeon meraih bagian paling atas baju Sehun, membuka kancing bajunya, sebelum ia menyadari satu hal, kemana selang selang sialan yang dari kemaren menempel pada tubuh pria itu? “kemana selang inpus mu?”

Sehun yang dari tadi sibuk menatap mata Taeyeon, mata yang terlihat sedikit memerah itu mengalihkan tatapannya, menatap bibir Taeyeon yang baru saja mengeluarkan kalimat Tanya yang membutuhkan jawaban segera. “perawat itu melepasnya”

Taeyeon yang baru saja selesai membuka semua kancing baju Sehun mendadak beku, hei ia menegang di tempatnya saat sadar apa yang baru saja ia lakukan. Astaga ia membuka baju Oh Sehun? Dan lihat, apa yang dihadapi mata Taeyeon di depan sana. Perut sixpack, kulit putih susu Sehun dan hell… dua buah titik berwarna pink kecoklatan itu. astaga Taeyeon, bagaimana bisa kau membuka baju nya? Oh Hell! Kapan pria ini membentuk kotak kotak yang sialan menggodanya itu? bukankah pria ini sangat gila kerja? Taeyeon tau jika dirumah ada alat untuk membentuk benda menggoda itu, tapi setaunya Sehun sangat jarang dirumah, apalagi pergi keruang gym yang ada di rumah.

“wae?” Sehun yang menyadari Taeyeon yang berdiam kaku di depannya pun beralih menatap tubuhnya, apa ada yang salah dengan badannya? Apa karna ia tidak mandi lantas tubuhnya sebau itu? atau tubuhnya sudah penuh dengan kotoran hingga Taeyeon menatapnya seperti itu? “apa aku sekotor itu hmm?”

“a..ani…” Bodoh Kim Taeyeon. Bagaimana bisa ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan? Bagaimana bisa ia membuka baju Sehun? Bodoh! Kemana pikirannya? Apa menangis membuat sarafnya rusak? Jika ia maka Taeyeon tidak akan pernah menangis lagi apapun alasannya.

Menyadari pipi Taeyeon yang berubah warna menjadi warna pink pudar membuat Sehun sadar akan satu hal, yah gadis kecil itu malu. “kau malu hmm? Hei kemana gadis barbar yang tidak tau malu itu?” Dengan gemas Sehun mengangkat tangannya, mencubit sekilas pipi Taeyeon dan mengarahkan tangannya ke pinggang Taeyeon dan menarik gadis itu hingga terduduk di samping ranjangnya.

Tahanlah Kim Taeyeon! Kau akan segera lepas jika kau segera menyelesaikan hal ini! dengan cepat Taeyeon melepaskan kemeja Sehun dan menggantinya dengan kemeja berwarna putih garis biru langit, yang tentu saja kemeja itu bukan kemeja rumah sakit, itu kemeja yang ada di dalam tas koper kecil yang di pack oleh Chanyeol tadi sore.

Selesai. Aku selamat!

“saranghae”

Mata Taeyeon membulat sempurna saat telinga menangkap sebuah kalimat yang tak biasa, kalimat yang membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Apa telinganya salah dengar?

“saranghae, Kim Taeyeon”

*

*

*

*To Be Continue*

Hello *lambai tangan* lama banget yah? Maafkan-_- liburan membuatku lupa diri *mwahahaha. Gajadi bagi dua, aku updatenya sekali se-abad, kesian juga kalo di bagi. TBC-nya kece lagi yah—v itu harusnya ampe Sehun ngajakin nikah, tapi karna aku udah lama molor, jadi aku tambahin dikit deh, jadinya makin panjangggggggggg-_- mianhae… Komennya ditunggu, karna komen kalian yang nentuin ff ini dilanjut ato ditinggal gitu aja ato tetep update tapi di pass? Ayoloh pilih mana. Btw ff ini masih tekan kontrak sama yang namanya typo, jad maklumi aja eaaaaa, satu lagi keknya buat chap selanjutnya agak lama. Habis UAS, doain yah-_- sekian cuap cuapnya, gabakal ada yang baca juga keknya-____- Gomawo L *HUG* *KISSKISS* *BOW*

Advertisements

88 comments on “[FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 3)

  1. makin ke sini makin greget sama taeng, nethink nya itu loh ya ampun gak bisa apa lihat sehun tuh muanya polos polos menghanyutkan, ayo terima tuh di ajak kawin matikutu kan lu taeng di ajak kawin sehun juga nge gas sekali ajak pacaran dulu kek ini langsung tancap gas kawin, ayo taeng terima ntar nyesel loh

  2. greget thor wkwk, semoga chap selanjutnya mereka jadian plus bikiin moment yg sweet
    author fighting 💪💪

  3. wahh akhirnya update jga,, walaupun harus nunggu lama…ceritanya tambah seru aja,,udah penasaran sma ending aja nihhh …hhihihihi
    semangat ya buat ujiannya,,trus langsung cuss lanjutin ff ya author ^^

  4. akhirnyaaaaa
    udah lama nungguin ff ini,,,
    ternyata sehun udah lama tau tae suka ama dya,,,gregettt banget pasangan ini
    oke next chap ditunggu ya

  5. Akhirnya author update jga. Udh lma nih nunggu lanjutan ff ini, mskipun pnjang tpi nggk ngebosenin kok thor.
    Next chapter nya d tunggu ya, fighting!!

  6. Woah akhirnya update author-nim
    Gemes sama taeyeonnya dah huhu pikirannya negatif mulu 😣
    Sehun udah nyatain cinta tuh, bakal diterima ga yaa? Penasaraaaaaan, semoga aja diterima kasian sehunnya
    Ditunggu next chapnya author-nim, fighting!!^^ ♡♡♡♡♡♡♡♡

  7. ff nya bagus thor, akan lebih bagus jika ada beberapa adegan d beri gmbar. itu cuma ide q thor.
    tapi ff nya udah seru kok.
    lanjut ya thor, jangan lama²^^

  8. Next dong pliss.. suka banget sama huntae disini..😍😍
    Gk papa typo asal ku bahagia😂😂

  9. Akhirnya update jga…😍😍 tbc.ny nanggungin thor… 😂😂 jgn lama² yh thor next.ny… Fighting!!!

  10. Aduuh sweet banget mereka berduaa,, diabetes lama lama readers yang bacanya
    Ditumggu kelanjutannya thorr, fightingg

  11. yeayyyy akhirnya ff yg kutunggu tunggu kembali setelah 1 bln lbh hheheh thor aku dari kmaren dah nungguin ini,ini adalah ff kesukaan aku betul aku mabuk ff ini hhehe berjuang ya thor fighthing eonnn please releasee lbh cepat ya eonn aku gk sabar lg aku fans kk authorr

  12. sukaaaaak thor chap ini bikin gregetan , bikin senyum2 sendri kek org gilaa ternyata ahjussi ehh ani Sehun romantis jg omongany bikin ngefly , tuh kan neng jadi baper , tolongin guaa 😂😂 .Seru thor tapi Taeng masih malu malu kucing yaaa , oh ya cari cowok tuh yg kek Sehun bukan ngajak pacaran malah langsung ngelamar 😝 jangan bapereu permirsaah . Thor keep writing and Fighting !!! mangat ya jangan telantarin ff ini jebal . we will wait u 🙆

  13. hayy kakak pliss ka aku dah nunggu chap ini lbh dr 1 bln aku harap kaka bs update lbh cepat ya kakk ini ff kesukaan aku dan aku ada lah penggemar kaka ,,,,kaka author kesukaan aku ❤ ❤ ❤

  14. Huahhh kirain bkl tbc ketika sehun bilang will you marry me?

    Finally, sehun berani ngungkapin perasaannya setelah berabad2 lamanya…
    Smoga taetae kgak mikir panjang lg dah, pa lg sehun udh bilang saranghae, huhhhhh

  15. HELLOW EVERYBODY yang nungguin ff luar binasa, udh jelek, upnya lama lagi kan yah😂😂 tungguin yah bentar lagi di up kok, makasih buat semua komennya, aku sayang kaliann😍😘 GOMAWO *HUG* *KISSKISS* *BOW*

  16. AAAAAAA *teriak histerisss* suka pke bangettt thor dichapter ini. Tpi bkin greget juga krn taeyeon negatif thingking mulu ama sehun. Akhirnya sehun ungkapin perasaannya juga. Next chapter pkoknya ditunggu bangettt thorrr. Fighting

  17. Pingback: [FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Thorr,sekali lagi lagi aku minta maaf komenx gini” doang,dan alsanx sama seperti chap 1,
    Jadi jangan marah,sebel sama aku ya ,please!🙇🙇

    Ttp Semangat,Fighting!!!✊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s