Beautiful Lies (Chapter 7)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY

Pukul 20.00 KST, Seoul, South Korea.

“Dia benar-benar tidak ada bersamamu, Ppany-ah? Jinjjaro?” tanya Jiyong dengan penekanan nadanya yang sangat tajam juga tinggi, membuat Tiffany, yang berada di seberang telepon harus berjengit dan sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.

“Sama sekali tidak! Dia tidak ada datang ke apartemenku hari ini, bahkan tidak ada menghubungiku. Wae geuraeyo? Apa ada sesuatu yang terjadi oppa?” Tiffany balik bertanya. Nada suaranya berubah menjadi sangat cemas.

“Dia belum kembali ke kondo Youngbae untuk menjemput Lauren. Gadis kecil ini masih di sini bersamaku, saat ini sedang makan malam bersama Hyorin noona,” jawab Jiyong. Ia begitu frustasi. Kepalanya hampir pecah memikirkan di mana keberadaan gadis itu sekarang. “Dia bilang padaku kalau dia ingin mampir ke apartemenmu,”

“Dan biasanya dia akan selalu menghubungiku dulu sebelum datang ke sini,” ujar Tiffany. “Apa gadis itu pergi belanja? Tapi tidak mungkin juga sampai semalam ini. Apa kau sudah mencoba menghubungi nomornya?”

“Sudah ratusan kali, tapi dia tidak mengangkatnya dan sebelum aku meneleponmu, ponselnya tiba-tiba mati. Dengan cara apalagi aku harus menghubunginya?!”

“Jangan seperti itu, oppa! Kau membuatku tak bisa berfikir jernih!” pekik Tiffany. “Okay, okay tenang Ppany-ah. Ah! Aku akan mencoba bertanya pada Ahjumma Choi dan orang-orang yang kami berdua kenal. Aku akan cepat mengabarimu,”

“Oke, aku tunggu. Cepatlah, aku penasaran sekali di mana dia sekarang,” rutuk Jiyong. “Dan aku ingin kau bekerjasama denganku, Ppany-ah. Aku berbohong pada Lauren kalau Taeyeon sekarang sedang bersamamu. Jika nanti Lauren meneleponmu dan menanyakan keberadaan Taeyeon, berbohonglah sepintar dan sebisa mungkin, arraseo?”

“Aku paham. Beruntung Lauren bersamamu…,”

“Yah… Aku tidak tahu lagi bagaimana jika aku tidak ada di sini, karena Youngbae juga tidak mahir berbohong,” sambung Jiyong.

“Baiklah, tunggu kabar dariku, oppa. Kau juga. Kerahkan kekuatanmu yang sesungguhnya, eoh? Pay~,” pamit Tiffany. Ia segera memutuskan sambungan teleponnya.

Jiyong menganggukkan kepalanya sembari menatap kosong pada ponselnya. Jujur saja, ia punya perasaan tidak enak mengenai keterlambatan Taeyeon untuk menjemput Lauren, meskipun Hyorin dan Youngbae mencoba berfikir positive kalau saja Taeyeon sedang berada di rumah salah satu temannya dan lupa kembali.

Sekali lagi, mana mungkin. Taeyeon tidak akan pernah mau terlambat menjemput Lauren sesibuk apapun dia. Mustahil sekali. Lauren adalah segalanya bagi gadis bertubuh kecil mungil itu.

“Terlambat. Dia pernah terlambat karena laki-laki brengsek itu,” gumam Jiyong. Entah kenapa dadanya berdenyut menyakitkan. “Damn!”

“Kau sudah dapat kabar dari Tiffany, Yongie-ah?” tanya Hyorin yang sudah ada di belakang Jiyong sambil membawa segelas mineral dingin. “Minumlah dulu. Kau tidak terlihat tenang dari tadi,”

“Aniya, noona dan Tiffany sedang berusaha mencari tahu,” tolak Jiyong. Nafasnya sedikit tercekat dan ia merasa tidak ingin bertanya hal ini pada Hyorin. Namun, ia harus. “Apa kau kenal dengan Park fu*king Hyungsik itu?”

Yeah… a little. Waeyo?” tanya Hyorin.

“Setelah ia diminta keluar dari apartemen Taeyeon secara paksa oleh security, ke mana dia? Ke mana dia pergi? Di bawa ke kantor polisi?”

“Dia bebas, tentu saja,” jawab Hyorin. “Orang tuanya kenal luar dalam dengan orang Kepolisian dan orang lemah yang tidak punya kekuatan apa-apa seperti Taeyeon tidak akan mungkin dapat melaporkan laki-laki itu meskipun atas tuduhan pelecehan seksual,”

Jiyong mengangguk. Rahangnya mengeras dan ekspresinya tampak menyeramkan, bahkan Hyorin memilih untuk tidak bertanya, ‘Ada apa’.

“Dan dia sangat mencintai Taeyeon, ‘kan?”

“Sangat. Lebih tulus dari yang kau kira walaupun dia seorang bajingan,” jawab Hyorin.

Jiyong kembali mengangguk dan ia menekan nomor seseorang dalam ponselnya lalu menghubungi nomor tersebut.

“Sekretaris Han. Periksa seluruh CCTV di area Seoul terutama di area dekat kondo Youngbae, tepatnya di sekitaran halte bus sekitar pukul 11 ke atas. Lihat apakah kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan seperti seorang perempuan yang dipaksa pergi oleh seorang laki-laki atau lebih,” titah Jiyong. “Laporkan padaku kurang dari lima menit atau kalau bisa secepatnya,”

“Kau mencurigai Hyungsik?” tanya Hyorin. “Tapi kenapa?”

“Taeyeon tidak akan mungkin meninggalkan Lauren dalam waktu lama seperti ini, noona. Tidak setelah apa yang pernah terjadi pada putrinya. Dia tidak akan pernah mau terlambat sedetik saja untuk bertemu dengan Lauren,” jelas Jiyong.

“Dan hanya Hyungsik lah yang pernah melakukan itu pada Taeyeon,” sambung Hyorin, wajahnya memucat seketika. “Jiyongie, jangan sampai Lauren tahu hal ini meskipun kita belum mengetahuinya secara pasti,”

“Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan itu, tapi aku juga tidak bisa menepisnya. Entah kenapa aku merasa yakin semua ini ada hubungannya dengan bajingan itu. Hanya dia yang bisa membuat Taeyeon berpisah dengan Lauren,” ungkap Jiyong. “Noona, sedang apa Lauren sekarang?”

“Dia sedang sibuk bermain menyusun puzzle,” jawab Hyorin pelan. “Aku akan menyuruh Youngbae untuk cepat pulang dan Tiffany juga bisa datang ke sini untuk mengalihkan perhatian Lauren. Tapi, kalau memang benar apa yang kau katakan itu, Yongie-ah, cepat bawa Taeyeon pulang, jebal. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis itu, apalagi dampaknya pada Lauren,”

“Apa ada hal yang tidak kuketahui, noona?” tanya Jiyong. Kedua matanya menyipit tajam dan jawaban yang keluar dari bibir Hyorin sama sekali tidak membawa ketenangan di jiwanya.

“Park Hyungsik bisa saja melakukan hal gila di luar akal sehat pada Taeyeon tanpa ia sadari. Karena dia memiliki Bipolar Disorder yang cukup akut,”

~~~

The Shilla Hotel Jeju, Jeju Island, South Korea.

Seorang laki-laki berperawakan tinggi, berbadan tegap, dan memiliki bidang yang lebar tengah menatap ke luar jendela hotel Shilla Jeju, mengarahkan pandangannya ke langit malam yang indah, tenang, tanpa bintang. Ia menatap dalam-dalam langit itu sambil berfikir panjang lalu tersenyum manis sekali.

Park Hyungsik tersenyum begitu manis, tulus dari dalam hatinya saat ia memikirkan kembali bahwa ia telah berhasil membawa gadis yang ia cintai ke dalam pelukannya lagi. Membawanya pergi bersamanya, dan laki-laki itu berjanji ia tidak akan melepaskan gadisnya lagi apapun yang terjadi.

Karena Kim Taeyeon selamanya akan selalu jadi miliknya, bukan yang lain. Bukan pula Lauren dan ayahnya, meskipun ia tidak tahu siapa orang itu.

Lagi-lagi Park Hyungsik tersenyum lebar. Tersenyum penuh kemenangan. Ia mengikat tali bathrobe-nya dan segera berbalik badan.

Langkah ringannya perlahan menuju ke arah tempat tidur king size yang ada di dalam kamar hotel mewah tersebut. Tempat tidur itu sudah diisi oleh seorang gadis yang dari tadi memenuhi fikirannya, gadis yang selalu menjadi cita-citanya sejak pertama mereka bertemu dulu, gadis yang berhasil mengubahnya menjadi seseorang yang mengerti arti cinta sesungguhnya. Gadis yang membuatnya rela melakukan apa saja agar tidak ada satu orang pun yang berani mengambilnya, meskipun harus membuatnya menjadi seorang pembunuh sekalipun.

Kim Taeyeon.

Hyungsik duduk di samping tubuh Taeyeon yang terbaring nyaman di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat damai dengan kedua matanya yang terpejam rapat. Nafasnya begitu teratur dan Hyungsik seperti melihat sleeping beauty di kedua matanya. Sungguh cantik gadis itu. Gadisnya.

Hyungsik sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyejajarkan wajah tampannya ke wajah cantik Taeyeon. Diperhatikannya dengan seksama raut wajah Taeyeon yang hampir sempurna di matanya. Kulitnya yang putih seputih porselen, halus, dan sangat lembut ketika disentuh. Bibirnya yang kissable, hidungnya yang terbentuk indah. Ah, tidak ada cacat sedikitpun.

Diciumnya dalam bibir softpink milik Taeyeon selama beberapa detik. Lalu ciumannya ia arahkan pada dahi, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi, dan dagu gadis itu dengan penuh kasih sayang. Setelahnya ia kembali mencium bibir Taeyeon, menciumnya seakan-akan bibir gadis itu adalah candu untuknya.

Hyungsik melepas bibir gadis itu dan ia mengelus rambut indah Taeyeon dengan hati-hati.

“Butuh waktu lama untuk mempersiapkan semuanya agar aku bisa bertemu dan mengambil dirimu kembali untuk bersamaku selamanya, Taeyeon-ah. Butuh persiapan yang cukup matang agar kau bisa kembali percaya padaku, agar kita bisa memulainya kembali. Bersama, berdua saja. Tidak ada siapapun. Anak kecil itu maupun ayahnya, tidak siapapun. Karena aku bisa memberikan lebih dari siapapun di dunia ini. Apa yang kau inginkan? Harta? Tahta? Keluarga? Apapun itu aku bisa memberikannya,” bisik Hyungsik tepat di telinga kiri Taeyeon, yang masih terlelap dalam mimpinya karena obat bius yang diberikan Hyungsik untuk membekap mulut gadis itu.

Seakan-akan apa yang diucapkan laki-laki itu adalah mantra, Taeyeon mengeluh pelan dan kedua kelopak matanya bergerak-gerak kecil. Dahinya mengernyit dan perlahan-lahan ia dapat membuka matanya.

Begitu gadis itu berhasil mengumpulkan semua kesadarannya, kedua mata beningnya terbelalak kaget menatap wajah tegas milik Hyungsik yang berada tepat di hadapannya. Jantungnya berdebar tak karuan, perutnya mencelos, dan aliran darahnya mendadak berhenti di tengah jalan saat ia sudah mengingat semuanya. Mengingat apa yang terjadi pada dirinya sebelum ia berada di tempat yang sama sekali asing untuknya.

“Akhirnya kau bangun juga, pretty,” bisik Hyungsik tanpa berniat menjauhkan wajahnya. Laki-laki itu tersenyum manis.

“Biarkan aku pulang, Hyungsik-ssi,” rintih Taeyeon pelan. Ia mengalihkan wajahnya ke samping kanan, menghindari tatapan intimidasi yang laki-laki itu berikan.

“Lihat aku ketika kau bicara, chagi. Mana sopan santunmu?” tanya Hyungsik dengan nada lembut yang justru membuat Taeyeon merinding ketakutan.

Hyungsik menyentak dagu Taeyeon agar wajah mereka kembali berhadapan. Kedua mata mereka bertemu satu sama lain dan gadis itu tidak berani untuk mengalihkan pandangannya karena Hyungsik masih tetap memegangi dagunya.

“Aku ingin pulang,” bisik Taeyeon. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah karena menahan tangis.

“Tempatmu kembali adalah diriku, Taeng. Akulah rumahmu, akulah tempat terakhir untukmu berpetualang selama ini. Jangan pernah berfikir untuk mencari tempat lain karena bisa dipastikan aku akan menemukanmu di mana pun kau berada.” jawab Hyungsik.

“Lauren membutuhkanku dan aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Jebal,” pinta Taeyeon lagi.

“Aku lebih membutuhkanmu! Kenapa kau tidak pernah paham juga? Anak kecil itu banyak yang akan menjaganya. Aku? Aku hanya membutuhkan dirimu, tidak yang lain. Jika kau mau memiliki anak, aku bisa memberikannya sekarang. Malam ini,”

“Aku hanya mau Lauren dan aku tidak akan pernah menggantikannya dengan yang lain! Aku ingin bertemu dengannya sekarang dan bawa aku kembali, bajingan!” seru Taeyeon dan dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh tegap Hyungsik.

Hyungsik tak kalah sigap. Ia tahu Taeyeon akan memberontak dan dengan cepat kedua tangannya menahan kedua lengan Taeyeon di atas sisi kepala gadis itu. Hyungsik juga sudah naik ke atas tempat tidur dan menindih tubuh mungil Taeyeon. Ia tidak peduli kalau gadis itu akan merasa sesak karena bobot tubuhnya yang lebih berat.

“Jangan memaksaku untuk melakukan hal yang selama ini kuinginkan setiap aku ada di dekatmu, Taengoo-ah. Aku tidak akan melakukannya sekarang. Kita akan bersenang-senang dulu sebelum ke menu utama,” bisik Hyungsik seductive. Ia menciumi daun telinga kanan Taeyeon dengan rakus.

Taeyeon menggeliat tak nyaman, berusaha menghindari ciuman Hyungsik di telinganya. Tapi percuma saja, Hyungsik tidak peduli. Ia adalah seseorang yang justru suka dengan hal-hal yang berbau ‘pemaksaan’ seperti itu. Semakin Taeyeon memberontak, maka ia akan semakin menikmatinya.

“Wae?” erang Taeyeon. Air matanya sudah membasahi bantal yang ada di bawah kepalanya.

Hyungsik menyudahi ciumannya dan ia sedikit menjauhi wajah Taeyeon untuk melihat lagi kesempurnaan yang ada di hadapannya itu.
“Kenapa aku seperti ini?” tanya Hyungsik. “Karena aku sangat mencintaimu. Karena aku menginginkanmu. Aku tidak bisa berpisah jauh lagi darimu. Itu sebabnya, jangan berfikir untuk lari dariku, jangan memikirkan siapapun, termasuk anakmu itu. Jangan. Atau aku akan melenyapkannya,”

“Kenapa kau selalu saja mengancamku? Dia tidak bersalah sama sekali!” isak Taeyeon.

“Sst… Uljima. Aku benci melihat air matamu, baby. Dan aku tidak mengancammu. Aku sungguh-sungguh. Karena apa? Agar ingatanmu tentang Lauren atau siapapun namanya lenyap juga. Untung saja aku tidak tahu siapa ayahnya. Mungkin aku juga akan segera melenyapkannya,” jawab Hyungsik sambil tertawa pelan.

“Neo michyeosseo,” maki Taeyeon.

“Neottaemune,” balas Hyungsik.

Hyungsik mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Taeyeon dan mencium bibir gadis itu kuat-kuat. Taeyeon tersentak. Ia menutup kedua matanya dan kembali memberontak. Namun, hasilnya nihil. Hyungsik menahan tubuhnya lebih kuat, membuat Taeyeon sulit bergerak.

“Aku akan mandi sebentar, setelah itu kita makan malam di restaurant bawah, eoh? Kalau kau mau mandi juga, silakan. Aku sudah beli beberapa pakaian untuk ratuku,” ujar Hyungsik dengan nafas terengah-engahnya saat ia menyudahi ciumannya.

~~~

Fu*k!!!” maki Jiyong kuat. Ia segera mengambil mantel serta kunci mobilnya lalu dengan emosi yang meluap-luap hendak keluar dari kondo Youngbae.

“Jangan emosional seperti itu, Kwon Jiyong!” seru Hyorin. Ia menghentikan langkah Jiyong dan menatapnya. “Kau tidak bisa mengemudi ke Jeju dalam keadaan seperti ini, apa kau mengerti?! Bukannya menyelamatkan Taeyeon, kau malah akan membuat kami semakin kesulitan! Setidaknya tenang! Kau sudah menghubungi jaksa, detektif, dan orang-orang kepercayaanmu untuk segera pergi ke sana…”

“Lalu aku harus duduk tenang, menonton televisi, atau membaca koran seraya menunggu Taeyeon kembali? Aniya! Si bangsat itu akan melakukan apapun pada Taeyeon, noona. Apapun jika dia melawan. Aku tidak bisa memikirkannya dan itu membuatku kacau, sangat kacau! Dia pasti ketakutan, dia pasti begitu ketakutan sehingga memikirkan lebih baik mati saja dan aku tidak bisa duduk diam di sini!”

“Kau akan menyusul ke sana, Jiyong-ah. Kau akan ke sana! Tapi pergilah bersama Youngbae, Seunghyun dan Soohyuk! Mereka sedang dalam perjalanan ke mari. Jadi, tunggulah sebentar saja,” pinta Hyorin.

“Sihreo,” tolak Jiyong tegas. Dan jika sudah seperti itu, Jiyong tidak akan pernah mau mendengarkan lagi.

“Bisakah kalian tidak berteriak-teriak? Lauren sedang tidur dan tolong, jangan bangunkan dia. Dia akan kembali bertanya di mana ibunya,” pekik Tiffany ketika ia keluar dari dalam kamar tamu milik Youngbae, yang kini tengah ditempati Lauren.

“Baiklah, aku pergi sekarang. Aku tidak akan apa-apa, noona. Aku berjanji padamu. Aku janji akan bawa Taeyeon pulang bersamaku dengan aman,” ujar Jiyong, yang kini lebih tenang dari sebelumnya.

“Berjanjilah, berjanjilah kalian berdua akan baik-baik saja. Berjanjilah kau akan bawa Taeyeon kembali,” lirih Hyorin, yang akhirnya memilih untuk mengalah.

Tiffany menghampiri Hyorin lalu memeluk gadis itu dengan erat. Keduanya terisak pelan bersama-sama dan hal itu membuat Jiyong semakin pusing.

“Yaksok,” ujar Jiyong pelan. “Aku pergi,”
Jiyong berbalik dan ia langsung membuka pintu kondo Youngbae. Dengan langkahnya yang terbilang sangat cepat bagaikan angin menuju parkiran, Jiyong merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang.

“Sepuluh menit lagi kau harus sampai di Jeju dan beritahu aku di mana dia menyembunyikan Kim Taeyeon. No mistake, arraseo? Kerahkan semua orang-orangmu untuk membekuknya atau kalian kupecat dari Kejaksaan,”

Selesai berkata seperti itu, Jiyong memutuskan sambungan teleponnya dan membuka pintu mobil yang sudah berada di hadapannya. Tak perlu waktu lama, ketika mesin mobil menyala, Jiyong langsung membanting setirnya dan tancap gas menuju Jeju.

“Taeyeon-ah, tunggulah sebentar. Sebentar saja,” batin Jiyong. Tanpa ada yang mengetahuinya, setitik air mata jatuh membasahi pipi laki-laki itu.

Di sisi lain, tepatnya di hotel tempat Taeyeon dan Hyungsik singgahi, gadis kecil mungil itu sedang berendam di dalam bathub di kamar mandi. Ia menenggelamkan dirinya, tak berniat untuk bangkit. Rasanya ia ingin mati saja. Mati membeku di dalam bathub itu daripada harus bersama dengan Hyungsik selamanya tanpa adanya Lauren.

Namun, saat fikirannya melayang ke Lauren, wajah Taeyeon langsung menengadah ke depan. Tidak. Hal itu akan lebih menyakitkan putri kecilnya jika ia mati begitu saja, meninggalkan Lauren seorang diri. Karena yang ia punya hanyalah Taeyeon seorang. Tidak ada yang lain.

Ingat malaikat kecilnya, mau tak mau ia juga mengingat Jiyong, Kwon Jiyong. Laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya. Sedang apa dia sekarang? Ah, dia pasti sedang menunggu kepulangan Taeyeon untuk menjemput Lauren kembali.

Dada gadis itu berdenyut menyakitkan lagi. Ia tidak tahu kenapa. Mengingat kenangan akan Jiyong membuatnya sakit. Mengingat semuanya membuat Taeyeon ingin sekali mengatakan hal yang ingin dia katakan pada laki-laki itu.
Bahwa ia juga mencintainya. Lebih tulus dari siapapun yang mencintai Jiyong saat ini.

~~~

“Kenapa kau lama sekali mandinya?” tanya Hyungsik pelan pada Taeyeon yang baru keluar dari dalam kamar mandi, dengan pakaian yang tadi dipakainya.

“Aku menikmatinya,” jawab Taeyeon pelan, penuh kebohongan.

Hyungsik tertawa renyah. “Memang itulah kemauanku, chagi. Membuatmu nyaman. Nah, bagaimana kalau kau mengganti pakaianmu dengan dress ini? Kau akan terlihat sempurna sekali,”

Hyungsik mengambil sebuah dress berwarna ungu gelap yang tampak menawan sekali dan memberikannya pada Taeyeon. Malas bicara ataupun melawan lagi, Taeyeon mengambil dress itu dan hendak menggantinya di dalam kamar mandi. Tapi Hyungsik mencegahnya dengan memeluknya dari belakang.

“Kau manis sekali jika menjadi penurut seperti itu,” bisiknya di telinga kanan Taeyeon. Pelukannya mengerat dan Taeyeon berusaha keras untuk tidak menghajarnya sampai mati. Karena itu tidak mungkin juga. “Tapi saat kita ‘bermain’ nanti, tolak aku dan memberontaklah. Buat aku merasa tertantang,”

Hyungsik mencium seluruh permukaan leher Taeyeon dengan cepat sebelum Taeyeon melepas pelukannya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, membuat Hyungsik terkekeh pelan.

Tidak butuh waktu lama untuk mengganti pakaiannya. Sekitar lima belas menit Taeyeon sudah membuka pintu kamar mandi dan keluar. Ia melangkah menuju Hyungsik, yang hanya terpaku memandangi Taeyeon dari atas ke bawah.

“Neomu yeppeo,” puji Hyungsik. Ia mengelus pipi kiri Taeyeon sambil menatap wajah gadisnya. “Aku jadi tidak sabar untuk merobek dress itu nanti malam. Tidak apa, ‘kan? Aku masih punya banyak yang lebih dari ini,”

Mendengar ucapan Hyungsik barusan membuat kedua tangan Taeyeon mengepal penuh amarah. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

Bagaimana caranya agar ia bisa bebas dari serigala berbulu domba ini?

~~~

Pukul 23.30 KST, The Shilla Hotel Jeju, Jeju Island, South Korea.

“Aku sudah sampai di depan hotel ini,” ujar Jiyong pada seseorang yang tengah ia hubungi lewat smartphone-nya, Soohyuk. “Para jaksa, polisi dan detektif itu juga sudah berjaga-jaga di sekeliling area hotel. Mereka bilang Taeyeon sedang di restaurant bersama laki-laki itu. Aku akan langsung ke sana. Sedangkan yang lain tetap akan berjaga-jaga. Arra, ada tiga orang yang akan mengikutiku ke dalam. Okay, aku tidak akan pulang sebelum kalian sampai,”

Jiyong menjauhkan ponsel dari telinganya setelah Soohyuk mematikan sambungan telepon mereka. Ia kembali mencari nama di kontak telepon dan kembali menghubungi seseorang.

“Aku akan masuk ke dalam restaurant. Ikut dan bawalah tiga orang. Sekarang,”

~~~

“Apa kau suka makanannya?” tanya Hyungsik pada Taeyeon, setelah mereka selesai makan.

Taeyeon mengangguk pelan dan ia sedikit menyeruput air mineralnya. “Gamsahamnida,”

“Jangan terlalu formal begitu, baby. Kita akan hidup selamanya, mau sampai kapan kau seperti itu?” tanya Hyungsik dengan sedikit memanyunkan bibir merah mudanya.

“Aku ingin pergi ke toilet,” ungkap Taeyeon.

“Aku akan menunggumu di sini, chagi. Setelah itu kita ke kamar,” ujar Hyungsik sambil tersenyum manis pada Taeyeon.

Taeyeon tidak membalas perkataan Hyungsik. Ia bangkit dari kursi lalu bergegas pergi ke toilet yang ada di ujung restaurant.

Saat gadis itu sudah masuk ke dalam lorongnya dan hendak menuju ke dalam toilet perempuan, seseorang membekap mulutnya dan menyudutkannya di dinding lorong.

Terkejut, Taeyeon memberontak dan ia mau menjerit sebelum kedua matanya menangkap wajah sosok laki-laki yang amat sangat dikenalnya, laki-laki yang selalu memenuhi alam bawah sadarnya sejak pertama kali mereka bertemu.

Kwon Jiyong. Ada di hadapannya. Sedang berada di depan kedua matanya. Mimpikah?

Jiyong melepas bekapannya dari mulut Taeyeon dan menatap gadis itu lekat-lekat. “Ssstt… Jangan berisik , okay? Ini aku, Kwon Jiyong. Dengarkan aku, aku akan membawamu keluar dari sini dan menangkap si bajingan…”

Belum selesai Jiyong menjelaskan, Taeyeon langsung menubruk tubuh Jiyong dan memeluknya begitu erat, sehingga nafas Jiyong tercekat tiba-tiba. Kedua hazel laki-laki itu membulat sempurna dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Membalas pelukan gadis itu atau hanya tercengang tidak percaya.

Lucu, Jiyong seperti baru pertama kali dipeluk oleh seorang perempuan.

“Gomawo, go… gomawoyo,” isak Taeyeon sesenggukan dalam dada Jiyong yang jantungnya sudah berdebar tak karuan.

Jiyong tersenyum lembut dan ia segera membalas pelukan gadis itu. Ia membelai rambut halusnya dengan sayang. “Ssh, gwaenchannayo. Gwaenchanna. Aku akan selalu ada di sisimu, apapun itu. Aku akan membawamu pulang, membawamu kembali pada Lauren. Jadi, dengarkan aku,”

Taeyeon melepas pelukannya dan menghapus air matanya cepat-cepat. Wajahnya ia tengadahkan untuk menatap wajah tampan nan rupawan Jiyong.

“Selesai keluar dari toilet ini, jalan lurus saja keluar restaurant, ke depan, ke lobby hotel. Di sana sudah ada tiga orang polisi yang akan langsung membawamu keluar dan jika laki-laki itu mengejarmu, tidak perlu takut. Ada banyak polisi dan orang-orang Kejaksaan yang akan menunggunya di luar. Tetap jalan lurus dan jangan lihat ke belakang, jangan hiraukan dia. Aku akan menyusulmu di belakang,” jelas Jiyong.

Taeyeon mengangguk mengerti. “Aku akan keluar sekarang. Tapi hati-hatilah. Kalau Hyungsik tahu, dia tidak akan mengampunimu,”

Jiyong menangkup wajah cantik Taeyeon dan keduanya saling berpandangan. Mata teduh Taeyeon menubruk mata hazel Jiyong yang tajam.

“Percaya padaku. Aku tidak akan apa-apa. Fikirkan saja dirimu. Kau harus percaya padaku, karena aku mencintaimu,” tutur Jiyong dengan nada suaranya yang tegas.

Jantung Taeyeon hampir melonjak keluar antara senang atau takut. Ia tidak tahu. Sensasinya bercampur jadi satu.

“Aku percaya padamu,” jawab Taeyeon pelan sekali tapi telinga Jiyong mampu menangkapnya.

Awalnya Jiyong ternganga karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Oh, ayolah. Kenapa ia berubah menjadi sosok yang mellow begini hanya karena satu kalimat yang Taeyeon ucapkan?

Jiyong tersenyum hangat, yang langsung dibalas Taeyeon dengan senyuman yang tidak kalah manisnya. Detik berikutnya, Jiyong mendaratkan bibirnya di atas bibir tipis Taeyeon dan menciumnya lembut selama beberapa detik.

Taeyeon sedikit terkejut, tapi ia membiarkannya meskipun tidak membalas ciuman lembut itu. Ia hanya meremas ujung dress-nya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

Jiyong melepas ciumannya dan menatap Taeyeon dalam-dalam. Ia menyapukan bibir manis gadis itu dengan ibu jarinya lalu berujar, “Sekarang, keluarlah,”

Taeyeon mengangguk. Ia berbalik dan dengan langkah cepat keluar dari lorong yang menuju toilet tersebut. Ia hendak melangkahkan kakinya keluar dari restaurant, tapi langkahnya langsung terhenti saat lengan kanannya ditarik kuat oleh seseorang.

Hyungsik.

“Hyungsik-ssi…,” lirih Taeyeon dengan wajah ketakutan dan rasa terkejutnya yang kentara sekali.

“Lama sekali. Aku menunggumu dari tadi, baby,” ujar Hyungsik pelan sambil tersenyum lebar. Bukannya tenang, Taeyeon malah semakin menciut ketakutan.

“Untuk apa kau menungguku?” tanya Taeyeon.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu yang special padamu, baby Taeng. Kau pasti suka,” jawab Hyungsik dan tanpa menunggu jawaban dari Taeyeon, laki-laki itu sudah menarik lengan Taeyeon untuk ikut bersamanya.

“Sial,” umpat Jiyong dari balik lorong toilet saat ia melihat Hyungsik membawa Taeyeon pergi menuju pintu belakang restaurant.

Jiyong mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Plan B,”

~~~

Hyungsik membawa Taeyeon ke kolam renang yang elit milik The Shilla Hotel Jeju yang kebetulan berada di samping pintu restaurant tadi. Kolam renang itu tidak seperti kolam renang biasa, pemandangan malam yang disuguhkan sungguh indah dan menakjubkan, bahkan Taeyeon sedikit melupakan tujuan dia sebenarnya.

“Yeppeo?” bisik Hyungsik. Ia berdiri di belakang Taeyeon dan memeluk tubuh ramping gadis itu erat-erat seraya meletakkan dagunya di atas pundak kiri Taeyeon.

“Yeppeo,” jawab Taeyeon dengan lirih. Ia berusaha melepaskan pelukan Hyungsik dan membalikkan tubuhnya untuk memandang laki-laki itu. “Tapi, aku tidak sedang ingin berenang atau apapun di sini,”

“Kita tidak akan melakukan apapun, baby. Aku belum selesai menunjukkan kejutan kecil yang kupersiapkan khusus untukmu,” ujar Hyungsik. “Chakkaman, pastikan kau tidak melewatkan surprise kecil ini, chagi,”

Hyungsik berbalik dan ia pergi entah ke mana. Seharusnya Taeyeon bisa melarikan diri di saat-saat seperti ini, di kesempatan yang langka ini. Namun, entah kenapa hati kecilnya menyuruhnya untuk tetap berdiri di tempatnya.

“Chagi-ah,” panggil Hyungsik setelah Taeyeon menunggunya selama kurang dari dua puluh menit.

Taeyeon mendongakkan wajahnya dan tubuhnya langsung mati rasa. Kedua matanya membulat tak percaya dan ia dapat merasakan denyutan nadinya yang menyakitkan.

Kejutan kecil yang Hyungsik perlihatkan adalah Jiyong. Kedua pergelangan tangan, kaki, dan leher laki-laki itu diikat oleh rantai besi yang tampak begitu kuat. Mulut Jiyong juga disumpal kain putih yang diikat, sedangkan matanya ditutup juga oleh kain hitam.

Dua orang laki-laki bertubuh jangkung dan atletis berdiri di belakangnya, menahan tubuhnya yang meronta-ronta minta dilepaskan.

“Ji…” lirih Taeyeon. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Meleleh begitu saja.

Surprise, ‘kan?” seru Hyungsik sambil tertawa terbahak-bahak. “Dia memang cukup pintar membawa tiga orang polisi ke sini, tapi dia juga tidak cukup pintar kalau aku juga punya orang-orang kepercayaanku. Hidup tenang bersama pujaan hati memang tidak akan tenteram, itu sebabnya aku selalu bawa kaki tanganku,”

“Aniyo, dia tidak ada hubungannya dengan ini, Hyungsik-ssi. Lepaskan dia, jebal,” pinta Taeyeon dengan wajah mmemelas.

Hyungsik perlahan mengarahkan langkah kakinya mendekati Taeyeon dan mengelus lembut kedua pipi gadis itu seraya berbisik, “Dia ingin memisahkan kita. Dia mau membawamu pergi jauh dariku. Aku tidak akan melepaskan orang yang ingin mengambilmu sebelum melenyapkannya,”

“Jangan bawa-bawa dia, Hyungsik-ssi. Itu tidak benar. Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan selalu ada di sisimu, aku tidak akan pergi dengannya. Jadi, tolong lepaskn dia,” isak Taeyeon. Wajahnya memerah karena menahan pilu yang ada di hatinya. Ia tidak bisa melihat Jiyong dalam keadaan seperti itu hanya karena dirinya.

“Kau, ‘kan tadi mau ikut dengannya. Mana bisa aku memercayaimu begitu saja, my little girl,” bisik Hyungsik tajam.

“Aku menyesal melakukan itu. Kumohon tolong lepaskan dia. Biarkan dia pergi, dan kita juga akan pergi dari sini,” pinta Taeyeon dengan suaranya yang sudah sangat bergetar hebat.
Hyungsik menyeringai lebar. Ia menatap tajam Taeyeon dan Jiyong secara bergantian lalu kembali berbisik di telinga kanan Taeyeon. “Ide bagus. Kita akan pergi yang jauh sekali dari Korea,”

Jiyong mengerang marah dan tidak bisa berkata atau melakukan apapun untuk menunjukkan emosinya. Ia benar-benar dalam keadaan yang sangat terjepit dan di sisi merasa sangat kecewa dengan keputusan yang diambil gadis itu, meskipun Jiyong tahu kalau Taeyeon ingin menyelamatkannya.

Hyungsik menoleh menatap Jiyong yang terbakar emosi dan hanya diam terpaku di tempatnya. Mata mereka berdua bertemu, sama-sama saling melemparkan tatapan tajam dan detik berikutnya Hyungsik tersenyum lebar.

Laki-laki itu berbalik dan segera mendekati Jiyong. Ia berhenti di hadapan laki-laki itu, dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana.

“Kau akan kulepaskan…,”

“Angkat tangan!!! Kami dari Kejaksaan!”

Pintu samping kolam renang yang menghubungkan dengan restaurant terbuka dengan bunyi yang sangat memekkan telinga. Sekitar enam orang yang memakai setelan jas hitam masuk dengan mengacungkan pistol mereka ke segala arah yang ada di area kolam renang.

Tak lama, orang-orang yang diperkirakan adalah bawahan Hyungsik, ikut masuk juga dan hendak membekuk para polisi itu. Tak bisa dipungkiri adanya baku hantam di sana.

Sebelum menyadari apa yang sedang terjadi, terdengar suara pukulan keras dan Taeyeon dapat melihat tubuh lemas Jiyong tenggelam dalam kolam renang tersebut.

“Jiyong-ssi!!!” seru Taeyeon. Ia hendak menyusul laki-laki itu tapi Hyungsik telah menariknya, berusaha membawanya kabur dari area kolam renang.

Taeyeon memberontak minta lepas dari cengkeraman tangan Hyungsik yang kuat sekali, sehingga gadis itu sesekali meringis kesakitan.

“Lepas!” jerit Taeyeon.

Begitu Hyungsik membuka pintu samping yang menghubungkan restaurant hotel, dua sosok yang dikenal Taeyeon ada di depan pintu tersebut, hendak masuk ke dalam area kolam renang. Lee Soohyuk dan Youngbae.

Tanpa menunggu lama, Soohyuk menarik pergelangan tangan Taeyeon agar terlepas dari pegangan Hyungsik seraya memukul wajah laki-laki itu dengan sangat kuat dan penuh emosional.

Hyungsik terjengkang ke belakang dan ia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibir kanan bawahnya. Ia mendesis dan hendak bangkit, tapi orang-orang yang Taeyeon yakini adalah orang Kepolisian dan Kejaksaan, yang ada di belakang Soohyuk dan Youngbae langsung membekuknya dan memborgol kedua tangannya.

“Taeyeon-ah, Taeyeon-ah,” panggil Hyungsik dengan suara parau. “Kau tidak akan meninggalkanku, ‘kan? Kau sudah berjanji, Taenggoo-ah. Ikutlah bersamaku ke manapun aku pergi. Aku akan bebas dan setelah itu kita akan pergi sejauh mungkin dari sini,”

“Jangan sentuh dia,” gertak Youngbae pada Hyungsik saat laki-laki itu mau merangkul pinggang Taeyeon.

“Bawa dia pergi,” titah Soohyuk dingin pada salah seorang pihak kepolisian yang tengah memegangi lengan Hyungsik kuat-kuat.

Polisi itu mengangguk dan ia beserta teman-temannya langsung menggiring Hyungsik keluar dari hotel menuju parkiran mobil mereka.

“Neo gwaenchanna, Taeng?” tanya Youngbae pelan. Ia begitu prihatin sekaligus menyesal dengan apa yang terjadi pada Taeyeon.

“Jiyong-ssi,” gumam Taeyeon tiba-tiba. Gadis itu langsung masuk kembali dan ia mendapati para polisi yang berhasil membekuk kaki tangan Hyungsik sedang berusaha melepas ikatan yang ada di tubuh Jiyong.

Taeyeon mendekati kerumunan kecil itu untuk melihat kondisi Jiyong. Laki-laki itu pingsan, dengan pelipis kiri dan kanannya terluka, mengeluarkan darah yang lumayan mengalir deras.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Taeyeon dengan isakan kecilnya yang tak mampu lagi dibendungnya. Taeyeon menghapus kucuran darah itu dengan menggunakan telapak tangannya yang bergetar.

“Kami… Kami melihat kepala Mr. Kwon dipukul pakai kayu besar oleh Hyungsik dan teman-temannya ahgassi,” jawab salah seorang polisi itu.

“Mwo?!” seru Youngbae dan Soohyuk secara bersamaan begitu mereka sudah sampai di samping tubuh Jiyong yang tak berdaya.

“Nattaemune,” lirih Taeyeon. Ia kembali sesenggukan saat dilihatnya darah Jiyong terus mengalir.

“Bawa dia ke mobil. Kita akan melepas ikatannya di sana. Yang kita butuhkan adalah dokter saat ini!” ujar Youngbae sembari mengangkat tubuh sahabatnya itu dan ia bopong bersama dengan Soohyuk.

“Kajja, Taeyeonnie,” ajak Soohyuk. Ia dan Youngbae segera keluar dari hotel menuju mobil mereka yang ada di halaman depan.

Jiyong dibaringkan di bangku belakang mobil Youngbae, sedangkan Soohyuk yang akan membawa pulang mobil Jiyong.

“Kau akan ikut siapa, Taeng?” tanya Youngbae.

“Oppa. Denganmu, oppa,” jawab Taeyeon cepat. Ia ingin sekali memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada Jiyong saat mereka dalam perjalanan pulang dan menuju rumah sakit.

Youngbae menganggukkan kepalanya dan segera membuka pintu mobil untuk Taeyeon.

“Jiyongie tidak akan apa-apa. Kita berdoa yang terbaik untuk dia. Dia tidak akan apa-apa, percayalah,” gumam Youngbae pada Taeyeon ketika mereka berdua sudah ada di dalam mobil dan laki-laki itu langsung menghidupkan mesin mobilnya, meluncur keluar dari area hotel.

Taeyeon mengangguk. Ia akan percaya hal itu. Apapun yang menyangkut Jiyong, ia akan percaya.

“Percaya padaku. Aku tidak akan apa-apa. Fikirkan saja dirimu. Kau harus percaya padaku, karena aku mencintaimu,”

Taeyeon memejamkan kedua matanya, menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia tahu Jiyong tidak akan peenah berbohong padanya. Dia akan baik-baik saja.

-To Be Continued-

thankyou yang udah sabar mau nungguin chappie ini^^ sorry lama hihi

dan untuk scene di kolam renang itu agak aneh soalnya aku ngga gitu expert di bidang per-action-an hahaha. dan untuk scene-scene yang lainnya.

seeya~

– Chapter 8 

“Kenapa setiap orang yang menyayangi eomma harus pergi? Appa, dan sekarang Yong ahjussi,”

“Kau membuat Taeyeon menangis lagi. Kenapa kau tidak pernah bisa dipercaya?”

“Aku tidak bisa lama-lama tinggal di sini, aku harus kembali ke Korea. Anakku sudah menunggu,”

“Kau sudah punya istri?”

Dia tersenyum getir. “Dia adalah Lauren eomma. Apakah itu bisa disebut sebagai ‘istriku’?”

Advertisements

71 comments on “Beautiful Lies (Chapter 7)

  1. Akhirnya thor update juga, kangen banget 😀 🙂
    Nangis deh pas Jiyong ketahuan trus di iket 😦 😥 😥
    Hyungsik udah kena, ehh dichapter 8 Lauren appa mau pulang. Sabar ya Jiyong kuhh 😦 :*

  2. thor jiyoung nggak bakal lupa ingatan kan trus gantian malah taeyeon yang konflik batin. dan tadi lauren appa mau balik ke korea wah kyanya perjuangan jiyoung bakal makin berat. ini ff yang paling aku tunggu updatenya

  3. Bener2 dbuat baper sama author. Gak kbayang bgt deh jiyong bsa ketangkep gtu thor astagahhh..keren deh, perjuangan jiyong juga smpek kena pukul gitu. Adudu bang hyungsik knpa dgn dirimu haha. Dliat dri previewnya ayah lauren bakal muncul ya thor? Wkwk *sotoy* next chapter pkoknya sangat dtunggu thor. Fighting

  4. Pliiis happy endiing, aku sesek sendiri tau jiyong kepukul, aduh abaang,, feelnya dapet bgt siii, fighting!!!

  5. Si Hyungsik itu sepertinya cari mati… Bener2 greget sama dia, Cinta emg gila ya :v serius gue benci bgt ama dia… Sepertinya Lauren appa akan kembali, terus gimana Jiyong 😥 author-nim aku akan sabar menantimu kembali dengan ff ini! Hehe FIGHTING!

  6. Akhh semoga jiyongnya gak kenapa kenapa, hyungsik jadi mirip psikopat
    Lanjut thorr, keep writingg, fighting

  7. Setelah menunggu lama.. akhirnya muncul juga… Hyunsik benar2 gila… Jangan sampai lepas lagi tu orang gila.. biar ga gangguin Taeyeon lagi.. kasian Ji-yong, tapi kayaknya Taeyeon udah mulai melunak nih hatinya.. semoga aja dia bisa Nerima Ji-yong.. dan chapter 8 , kayaknya appa Lauren bakalan kembali.. yaaah bakalan penasaran tingkat dewa banget.. semangat Thor.. jangan kelamaan lagi ya update nya

  8. hii annyeong author-ssi.. ini pertama kali gw komen di beautiful lies.. hehe XD maap ya.. soalnya bingung mo komen apa,an.. giliranmau komen aja udah ada yg sama ma yg mau ku komen :p haha kok jdi curhat :v ah udahlah abaikan tulisan gw diatas.
    apa appanya lauren itu jiyong?? taeyeon bilang kalo lauren appa lagi diluar negeri,, mungkin yg tae maksud itu jiyong dan jiyong ada insiden di sana dan hilang ingatan.. dan setelah insiden tadi jiyong balik lagi ingatannya tentang tae & lauren.. i am true? no? XD XD

  9. Akhir ya upadate jga,,kasuan sma jiyong & taeyeon,,smga jiyong oppa ga knpa2,,itu d chap 8 appa lauren bkal dteng??trus gmna dgn jiyong oppa?
    Next thour d tunggu bgttt

  10. Akhh makin seru ceritanya
    Taeyeon mulai tumbuh bibit” cinta
    Gd kenapa ? Jagan pisahkan mereka
    Next ditunggu eonnie

  11. Nyelametin Taeyeon aja segitunya. Cinta & sayang ya bang Ji? 😀
    Ditengah ketegangan masih saja Jiyong menyempatkan nge-kiss Taeyeon. Ck ck ck… Untuk penenang Taeyeon, ya? 😀
    Kasihan banget Jiyong di rantai seperti itu. Hyungsik jahat ih. Jangan gitu dong. 😦
    Tak terduga-duga Jiyong di seperti itu.
    Tegang ya chapter ini. 🙂
    Penasaran the next chapter. Apakah ayah Lauren akan muncul di chapter selanjutnya? 🙂
    Fighting Author-nim! 🙂
    Fighting All! 🙂 😉

  12. Thor jiyong ngak bakal mati kan?? Ngak akan lupa ingatan atau apa
    Papanya lauren kris bukan??
    Terus kapan dia pulang?? Buka identitasnya papanya lauren dong thor aku penasaran
    #DopeTaeyangDayCongratz

  13. Ditunggu thor, next chapternya. kalo bida updatenya tiap minggu dong authornim 😂😁 (maaf penggermar yg nuntut tuh gitu). @kookie08 bias aku di seluruh ff gtae, ceritanya keren, variatif dan bahasanya mudah dipahami, layak cetak kalo diterbitkan. with love your fans

  14. Ditunggu thor, next chapternya. kalo bisa updatenya tiap minggu dong authornim 😂😁 (maaf penggemar yg suka nuntut tuh gitu). @kookie08 bias aku di seluruh ff gtae, ceritanya keren, variatif dan bahasanya mudah dipahami, layak cetak kalo diterbitkan. with love your fans 💞

  15. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s