MONEY (Chapter 5)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

Preview : Prologue + Introducing Cast , Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4

Five

Kalau diingat-ingat, adakah seorang wanita yang suka rela diseret kesana kemari seharian oleh seorang laki-laki—tanpa penjelasan? Mungkin ada. Dan Taeyeon adalah salah satu diantaranya.

Malangnya gadis mungil itu, meskipun hampir berjam-jam Sehun membawanya keluar-masuk berbagai restoran serta pusat perbelanjaan mewah yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh kalangan orang-orang sepertinya. Tidak ada satu penjelasan pun yang keluar dari mulut mantan kekasih berambut hitamnya itu. Kalaupun berbicara, paling-paling hanya menyuruhnya pilih ini, pakai ini, makan ini, makan itu. Semuanya kalimat perintah, tidak ada yang berisi penjelasan. Jangankan penjelasan, petunjuk saja tidak ada. Apa mungkin otaknya sudah jadi tumpul untuk menganalisa?

Ah, tentu tidak. Sejak kapan Taeyeon yang selalu menduduki peringkat satu dari ribuan murid Seoul SHS jadi lamban berpikir begini? Tapi kalau otaknya tidak lamban, kenapa dia masih mau saja mengikuti laki-laki yang jelas-jelas sudah tidak ada hubungan dengannya sejak tiga minggu yang lalu hingga sampai ke apartemen? Jadi otaknya memang lamban ya? Taeyeon berpikir sedih.

Sambil berpikir, tanpa sadar jari-jari mungilnya mengusap bahan rok yang terasa nyaman ditubuhnya. Ini adalah salah satu dari pemberian kecil Sehun hasil perjalanan keluar-masuk toko. Yaitu, seragam baru. Bukan hanya seragam musim semi yang dikenakannya sekarang, tetapi seragam musim panas serta musim dingin juga telah lengkap terbungkus dalam satu paket paper bag yang kini bertumpuk dilantai ruang tengah apartemen. Selain itu juga ada paket-paket lainnya, seperti beberapa sepatu dan pakaian-pakaian baru. Pantas semua ini membuat Taeyeon kebingungan setengah mati. Kalau tidak salah ingat, terakhir kali bertemu, Sehun begitu marah padanya. Tapi kenapa hari ini—

“Tidak usah bingung, ini apartemenku sendiri. Bukan hotel bintang lima” gurau Sehun ingin membuat Taeyeon sedikit rileks.

Taeyeon masih memandang bingung sekeliling ruangan. Cukup minimalis, dan sangat elegan. Dibandingkan rumah Taeyeon, apartemen ini terasa lebih luas. Beberapa dinding di cat abu-abu, tapi karena pencahayaan yang bagus, menjadikannya terlihat mewah. Bila berjalan lebih jauh dari ruang tengah akan langsung terhubung ke dapur, disebelah dapur juga ada bar kecil lengkap dengan deretan botol anggur dan gelas-gelas champagne. Benar-benar mencerminkan hunian orang-orang berkantong tebal.

Sehun tersenyum tipis, memasukkan tangan ke saku celana. Pikirnya Taeyeon akan terus mengamati isi apartemennya kalau tidak segera diinterupsi.

“Ikut aku” ajak Sehun meraih tangan Taeyeon.

“Hm?” Taeyeon melirik bingung. Sejak tadi Sehun selalu berkata ‘ikut aku’ tapi tidak pernah sekalipun menunggu jawabannya.

“Aku ada oleh-oleh untukmu saat pergi ke Beijing minggu lalu” bisik Sehun mengedipkan salah satu matanya usil.

Taeyeon kembali memerah, membuat Sehun tidak berhenti menahan senyum. Pemuda itu membawa gadisnya ke sebuah kamar—yang sepertinya kamar pribadinya.

Wha? Hebat! Selain tumpukan tas belanjaan yang ada di ruang tengah, rupanya didalam kamar juga ada sekitar empat atau lima kantung belanjaan. Sehun menumpahkan isi salah satu paper bag di atas tempat tidur.

“Kemarilah” ujar Sehun, “Sentuhlah. Orang-orang bilang sutera China sangat bagus”

Taeyeon menuruti perintah Sehun. Menyapukan jarinya di atas lembaran pakaian di ranjang. Ah, Sehun benar. Kainnya terasa halus dan sejuk. Taeyeon tersenyum kecil, sensasinya begitu menggelitiki kulit. Pasti akan sangat nyaman dipakai.

Tiba-tiba Taeyeon menjerit kecil dan cepat menarik tangannya dari pakaian-pakaian itu.

Alis Sehun mengernyit, “Ada apa? Bahannya jelek?”

Taeyeon menggeleng dengan wajah memerah. Memang tidak ada yang salah dengan bahannya. Itu sutera asli dari China, tidak diragukan lagi kualitasnya pasti bagus dan mahal. Yang salah adalah model pakaiannya. Baru disadari gadis mungil itu—setelah mengamati dengan mendetail, suteranya bukan pakaian biasa, melainkan pakaian tidur bermodel lingerie. Oh astaga! Zaman sekarang kalau seorang laki-laki memberikan lingerie pada perempuan, kalau bukan untuk lelucon, pasti untuk—

Akhirnya Sehun tertawa geli, mulai mengerti mengapa Taeyeon menjerit dan pipinya memerah. Disapukannya beberapa helai rambut yang menutupi tengkuk gadis itu, lalu ia kecup sekilas. Terlihat kulit Taeyeon langsung sedikit merinding.

“Mandilah dulu. Aku akan mandi di kamar mandi lain agar kau lebih leluasa menggunakan kamar mandi disini” bisik Sehun ditelinga Taeyeon, lagi-lagi mengirimkan sensasi menggigil disepanjang garis tulang punggung si gadis mungil.

“Setelah mandi, jangan lupa pilih salah satu dari oleh-olehku untuk kau pakai”

Iris cerah Taeyeon membias malu melirik Sehun, “Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

Sehun terkekeh ringan. Tidak menjawab, malah langsung keluar begitu saja. Meninggalkan Taeyeon dalam mode memerah total.

Sehun tersenyum puas melihat gadis mungilnya begitu indah keluar dari kamar mandi—memakai salah satu dari pakaian ‘nakal’ pilihannya. Sejak melihat semua koleksi sutera itu terpajang di etalase pusat perbelanjaan kota Beijing, Sehun telah menebak semua akan cocok saat dikenakan oleh Taeyeon. Tanpa berpikir lagi, pemuda berambut gelap itu langsung meminta pramuniaga toko membungkus semuanya kedalam kantung belanjaan. Semua tidak sia-sia, karena tebakannya benar.

Berbeda dari kebanyakan perempuan yang akan memakai warna merah atau hitam agar kulit putih mereka terlihat mencolok, Taeyeon malah memilih warna putih. Tapi gadis itu salah jika mengira dengan warna putih akan membuatnya terlihat biasa-biasa saja. Justru warna putih membuatnya terlihat seperti malaikat kecil lugu yang siap disantap seorang iblis kelaparan.

Heh? Jadi sekarang ceritanya siapa yang mengambil alih peran sebagai iblis?

Jadi, beginilah hubungannya dengan Taeyeon. Padahal sejak dulu keluarga besar Oh sudah berulang kali menanamkan dalam otak tiap generasi keturunananya agar jangan terlalu tertarik dengan perempuan. Karena bagi mereka perempuan hanya akan mendatangkan masalah. Seperti yang pernah dialami oleh pamannya, Oh Jungshin. Paman yang memiliki hati baik itu mati bunuh diri karena dipermainkan tunangannya yang mata duitan. Makanya Sehun begitu marah ketika tahu yang Taeyeon sukai dari dirinya tak lebih dari sekedar uang. Tapi kenyataannya, meskipun berminggu-minggu membenci gadis itu, ia tetap menginginkan Taeyeon lagi. Ia tahu Taeyeon akan menjadi sumber masalah, benar-benar masalah besar. Kebenciannya benar-benar dilumpuhkan oleh keinginannya untuk memiliki Taeyeon lagi. Benar-benar memilikinya. Masalah keluarga besar Oh, kenapa ia harus ambil pusing? Yang dipakai kan uangnya, apa salahnya kalau ia ingin bersenang-senang dengan uangnya sendiri?

Sehun membetulkan posisi duduk diatas ranjang. Tubuhnya yang sudah setengah kering—sisa mandi, masih terlilit handuk dipinggang. Tidak perlu repot-repot memakai baju, beberapa menit lagi juga handuknya pasti akan ditanggalkan. Tangan Sehun terjulur kedepan, menyambut serta membimbing tubuh mungil Taeyeon untuk duduk mengangkangi pinggulnya.

“Kau cantik” bisik Sehun mengecup pundak Taeyeon dalam-dalam. Oh Tuhan, ia begitu merindukan aroma gadis ini. Sejak tadi ia ingin sekali memakannya hidup-hidup.

“Dari tadi kau yang terus berbicara. Bisakah kali ini menjadi giliranku?” Tanya Taeyeon buka suara.

Sehun mengangguk pelan, “Tentu. Bicaralah”

“Umm…” Taeyeon membuat pola kecil di dada Sehun dengan jari telunjuknya, “Bisakah kau memberiku alasan kenapa kau begitu memanjakanku hari ini? Seingatku terakhir kali bertemu, kau bilang hubungan kita putus”

“Aku tidak bilang putus. Aku hanya bilang jangan menghubungiku lagi”

Yah, setidaknya itu benar.

“Tetap saja aku masih tidak mengerti kenapa kau masih membawaku kemari, padahal kau tahu aku cuma ingin—” Taeyeon menelan ludah sejenak, “—uang”

Sehun mengerjapkan mata beberapa kali, membuat Taeyeon semakin bingung. Benar, Taeyeon memang hanya ingin uang. Sehun tentu sudah tahu dengan jelas. Pemuda itu kemudian tersenyum simpul, “Mungkin karena aku banyak uang, dan kau suka uang. Aku rasa kita serasi. Lagi pula kalau cuma uang, itu tidak akan sulit bagiku. Uang sepertinya tidak bisa menghalangiku untuk lebih menginginkanmu”

Taeyeon menjilat bibir bawahnya gugup. Gerakan itu membuat Sehun semakin gemas untuk menyentuh bibir mungilnya. Perlahan secara refleks pemuda itu mendekatkan wajahnya, sayangnya tiba-tiba dihentikan oleh jari telunjuk mungil yang menempel didepan bibirnya.

“Bolehkah, aku… yang memulai duluan?” Pinta Taeyeon.

“Kau tahu aku tidak pernah suka didominasi” protes Sehun malas. Seperti biasa, egonya selalu tidak mengizinkan gadis mungilnya memegang kendali dalam permainan kecil mereka.

Taeyeon menggeleng pelan. Dia mengerti maksud Sehun, namun kali ini memang ada sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya sejak bertemu kekasihnya di Bar. Karena itu, tanpa meminta izin lagi, Taeyeon melakukan apa yang diinginkannya.

Memeluk erat Sehun. Sangat erat, sampai sesak dihati yang dideritanya tiga minggu terakhir menguap tak bersisa.

Tarikan nafas terdengar jelas dari tenggorokan Sehun. Nafasnya memang telah tumbuh menjadi sulit, dan terasa tercekik. Bukan karena pelukan Taeyeon yang kian mengerat, melainkan ia dapat membaca emosi yang ditunjukkan Taeyeon lewat pelukan ini. Taeyeon merindukannya. Benar, maksud pelukan ini adalah ungkapan rindu. Ternyata kadar kerinduan mereka telah tumbuh menjadi poin yang sama besar.

“Kemarin adalah yang terakhir aku menemukanmu akan tidur dengan laki-laki lain” kecam Sehun membalas pelukannya, “Awas kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan memborgol tanganmu ditanganku supaya kau tidak bisa kemana-mana. Mengerti?”

Tubuh Taeyeon sedikit menegang, namun akhirnya sedikit rileks, malah dia terkikik geli, “Kau terdengar seperti kekasih yang possesif

“Hmm, begitu ya?” tawa Sehun mengusap-ngusap pundak Taeyeon, menurunkan tali lingerie-nya supaya tergelincir kebawah.

Taeyeon menepuk serta menyingkirkan tangan Sehun dari pundaknya, berniat sedikit menggoda kesabaran si rambut hitam. Sekali dorongan ekstra, punggung kekasihnya itu langsung rata dengan ranjang. Sehun tentu merengut karena kesenanganya diganggu.

“Kan sudah kubilang, aku yang akan memulai lebih dulu” Taeyeon mengedip nakal, sedikit mencondongkan kedepan tubuhnya yang masih setia menduduki pinggul Sehun.

Iblis kecil sialan.

Sehun menyeringai kecil, “Kau tidak akan bisa. Karena kau yang akan menjerit liar nantinya”

“Sialan” desis Taeyeon, memeluk erat bantal didepan wajah sebagai pertahanan karena merasa jeritannya sudah diluar kendali akal sehat.

Kata-kata Sehun bukan sekedar trik menggoda, pemuda itu memang benar-benar serius untuk membuatnya menjerit liar karena irama hentakkan yang belum apa-apa sudah dimulai dengan gerakan cepat. Semua terlalu cepat hingga membuat otaknya seperti akan gila. Tapi ketika dia sendiri merasa akan mendekati klimaks, Sehun malah memperlambat gerakannya, malah terkadang berhenti total. Setelah cukup menunda, baru pemuda itu bergerak dengan kecepatan gila lagi.

“Sehunhh, hhh, hhh…” rintih Taeyeon bergerak gelisah, semakin kuat menekan bantal meredam jeritan.

Sehun menyeringai puas melihat Taeyeon menjerit tak terkendali karena kesenangan yang ia berikan. Sejak awal tampilan Taeyeon yang begini lah yang ia nanti. Begitu putus asa mencari pegangang, mendesah kenikmatan, tapi sayang wajah memerah gadis itu tersembunyi dibalik bantal.

“Sehun!” Taeyeon menjerit kecil saat Sehun merebut bantalnya.

Pemuda itu tertawa diantara deru nafasnya, menjatuhkan badan agar jaraknya lebih dekat dengan Taeyeon. Bagaimanapun juga ada bagian-bagian lainnya yang ingin ia sentuh, sejak tadi ia sudah merasa iri kerena hanya bantal yang gadisnya pilih.

“Ingin aku cepat menyelesaikannya, hn?” goda Sehun.

Taeyeon mengangguk dengan mata terpejam, tangannya telah melingkar ke punggung berkeringat kekasihnya. Bibirnya juga digigit untuk menahan rintihan.

Sehun sedikit mengurangi kecepatan, melingkarakan kedua kaki Taeyeon dipinggul, setelah itu jari-jarinya menyusup kebawah punggung untuk membawa gadisnya lebih dekat menciptakan kontak dari kulit ke kulit.

“Tahan kakimu terus disana” bisik Sehun sambil mengecup berkali-kali daerah leher penuh ruam Taeyeon.

Taeyeon mengangguk patuh.

“Bagus” desis Sehun menambahkan kecepatan.

“Sehh—nghhhh, akkhh…” jeritan Taeyeon langsung diredam bibir Sehun, mengajak lidah mereka untuk beradu, saling membolak-balik untuk menunjukkan siapa yang akan keluar jadi pemenang. Keduanya sama-sama mendominasi, tak ada yang mau mengalah dalam upaya menyenangkan diri masing-masing.

Sayangnya pertarungan lidah mereka tidak mungkin berlangsung selamanya, mereka membutuhkan oksigen untuk tetap menjaga kewarasan. Menyenangkan kalau ada kontak dari bibir ke bibir, tapi terlalu menakjubkan sampai membuat lepas kendali.

“S-Sehun…ahhh” desah Taeyeon merasakan sensasi begitu akrab menghampirinya, dia sudah dekat dengan puncaknya. Sebaiknya kekasihnya itu tidak menggodanya dengan mengurangi kecepatan lagi, kalau tidak akan Taeyeon buat menyesal nanti.

Tahu keduanya merasa semakin dekat, Sehun membenamkan kepalanya pada persimpangan leher Taeyeon, semakin menghentak-hentakkan dengan ceroboh dan cepat. Keringat terus mengalir membasahi tubuh mereka. Tampaknya permainan menggoda sudah cukup, sudah saatnya mereka—

“Sehunnnn!” jerit Taeyeon akhirnya telah klimaks lebih dulu, semenit kemudian barulah Sehun menggeram dipersimpangan leher kekasihnya itu.

Akhirnnya, selesai.

Tanpa mempedulikan keringat yang belum juga kering—meskipun ruangan ber-AC, mereka berdua tetap dalam posisi yang sama. Belum ada yang ingin bergerak karena masih meresapi segala sensasi menggelitik yang perlahan mereda. Tidak ada yang tahu sampai kapan posisi itu akan terus bertahan. Yang jelas, selagi perasaan rindu belum terpuaskan, dan mereka masih memiliki cukup tenaga. Rasanya… tidak mustahil apabila beberapa menit nanti akan ada putaran yang lain.

Pagi sekitar pukul delapan, Sehun terbangun, melirik bingung pada lembaran selimut kosong disebelahnya. Merasa ada yang hilang, mata sekelam malamnya langsung mengedarkan pandang kesekeliling ruangan. Benar juga, kekasih mungilnya sudah bangun lebih dulu. Terlihat jelas dengan menghilangnya seragam serta sepatu sekolah milik gadis itu yang kemarin malam disusun rapi di atas sofa.

Well, jadi sedikit aneh.

Dalam film-film klasik, biasanya sang pria yang bangun lebih dulu, meninggalkan uang di atas tempat tidur, baru setelah itu pergi di pagi buta. Tapi sekarang, malah si perempuan yang menghilang duluan. Perlu digaris bawahi, tidak ada sepeser pun uang yang ditinggalkan Taeyeon untuknya. Karena faktanya seharusnya ia lah yang memberi uang untuk gadis itu—untuk malam menakjubkan mereka. Lagipula Sehun tidak mungkin mengikuti adegan dalam film klasik itu. Pria bodoh mana yang mau meninggalkan apartemen sendiri di cuaca pagi yang dingin ini. Lebih baik ia menghangatkan diri dengan melakukan seks di pagi hari, tentunya dengan Taeyeon.

Ow, lihat betapa mengerikan isi otaknya sejak bertemu Taeyeon. Selalu dipenuhi dengan seks, seks, dan seks. Kalau dulu pikiran ini muncul di otaknya, mungkin ia hanya akan memandang jijik dan menganggap dirinya sudah sakit jiwa. Pikiran menyimpang itu jelas diluar karakternya yang tidak pernah menaruh minat pada apapun yang berbau wanita diatas ranjang. Tapi, sekarang—hei, lihatlah! Ia seorang laki-laki normal. Justru aneh kalau seorang laki-laki tidak memikirkan seks sepanjang hidupnya. Terlebih lagi ia sudah mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sejak berusia 18 tahun benar-benar tertutup dari kesenangan duniawi.

Dulu, ketika SMU ia selalu terlibat perkelahian dengan bocah-bocah berandal yang selalu mendatanginya tanpa sebab yang jelas. Bahkan seingatnya, ia memiliki kelompok laki-laki pembenci Oh Sehun. Mungkin, mereka menganggap kehadiran Sehun membuat perhatian gadis-gadis di sekolah teralihkan kepadanya semua. Yah—jangan salahkan dirinya soal itu, siapa suruh penampilan mereka tidak semenarik dirinya. Wow, sedikit—banyak sombong rasanya. Tapi, benar! Minatnya pada perempuan langsung hilang saat itu juga. Baginya perempuan hanya mendatangkan masalah. Bukan berarti ia sudah berubah menjadi selibat, posisinya saat itu sama artinya dengan orang yang sedang menikmati ikan—tetapi baru mencicipi sedikit sudah tersedak tulang, selera makannya pasti akan langsung hilang kan? Paling tidak, kenikmatannya sudah berkurang.

Tanpa terasa pola pikir seperti itu jadi terus tertanam meskipun ia sudah memasuki tingkat universitas. Disaat teman-teman satu asramanya sibuk berkencan, ia lebih memilih membahas materi bersama dosen. Ketika teman-temannya berkumpul membuka majalah dewasa, ia akan setia disana membuka buku tentang manajemen bisnis. Dan saat teman-temannya sedang memilih alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan kekasih-kekasih mereka saat berhubungan, ia malah lebih suka memilih vitamin untuk dirinya sendiri. Lebih baik memikirkan diri sendiri daripada orang lain.

Pernah sih, sekali atau dua kali menjalani masa remaja terbersit keinginan untuk mengencani atau memilih gadis secara acak untuk ditiduri. Perlu ditekankan, ia adalah jenis laki-laki yang tidak sulit mencari perempuan untuk menyenangkannya. Dari segi fisik maupun uang, ia adalah laki-laki yang menarik. Tapi entah kenapa, perasaan mual selalu muncul ketika melihat gadis-gadis itu menawarkan diri seperti hidangan siap santap. Dan anehnya lagi, kenapa dengan Taeyeon berbeda?

Taeyeon berasal dari kalangan yang sama dengan gadis-gadis yang menjual diri di Bar malam. Pertama kali bertemu saja di Bar. Gadis-gadis itu menawarkan diri karena uang, Taeyeon juga begitu. Jadi, apa yang membuat iblis kecil itu begitu berbeda?

Yah—mungkin dalam permainan ini akal sehatnya sama sekali tidak bekerja, sejak awal bertemu si iblis kecil, instingnya yang selalu mengambil alih. Sama persis dengan caranya menjawab soal-soal ujian ketika sekolah dulu, kalau instingnya menyuruhnya menjawab A, maka ia akan menjawab A. Instingnya tidak pernah salah. Makanya ia tidak segan-segan mengusir teman-temannya dari mejanya ketika Taeyeon menawarkan diri. Dan hasilnya tidak sia-sia. Meskipun ia orang yang awam ketika memasuki masalah hubungan seksual, ia sudah bisa menebak Taeyeon adalah yang terbaik diantara segelintir gadis-gadis yang menawarkan diri. Padahal hanya sekali, tapi ia ingin Taeyeon lagi. Dan sekali lagi, semuanya berkat insting.

Woah… tunggu dulu!

Kemana perginya semua pemikiran ini?

Ini hanya bangun di pagi hari biasa. Kenapa otaknya yang semula—cuma mencari Taeyeon jadi melalang buana ke masa remaja, membahas perempuan acak diluar, dan sekarang—ia membahas insting. Memangnya dia hewan? Meskipun manusia punya, tetapi hewan lebih banyak menggunakan insting—Stop! Oke, cukup. Jangan diteruskan.

Sekilas ada aroma kopi dan dentingan gelas dari arah dapur. Apakah mungkin…

Cepat-cepat Sehun menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh telanjangnya, mencari celana bersih untuk dipakai. Diam-diam ia sedikit gugup ketika keluar dari pintu kamar untuk melihat ke dapur. Kalau pemikirannya tidak salah, ia berharap akan menemukan sosok berambut hitam dan berkulit putih sedang membuat kopi di dapur.

“Pagi” sapa sosok di dapur.

Kerutan tidak senang terpatri jelas diwajah Sehun. Tentu, sosok berambut hitam dan berkulit putih yang akan ia temui sekarang. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Keinginannya terkabul. Salahnya yang tidak memberi detail yang jelas pada harapannya. Ia lupa menambahkan di akhir kata bahwa yang ingin dilihatnya adalah Kim Taeyeon, bukan Jung Yonghwa.

Dasar rambut hitam dan kulit putih menyebalkan!

“Sepertinya kau cukup bersenang-senang tadi malam, sampai-sampai kau lupa kalau asistenmu tertinggal di Bar” komentar Yonghwa menuang dua cangkir kopi untuknya dan Sehun.

Sehun mendengus jengkel, mengambil cangkir kopi yang sudah disediakan, “Mana Taeyeon?”

“Yang melakukan seks bersamanya semalam adalah kau, bukan aku, jadi jangan tanya padaku” cibir Yonghwa.

“Aku serius, Yonghwa. Apakah kau melihatnya keluar dari apartemenku?”

Yonghwa menyeruput sedikit kopinya, aroma kopi di pagi hari memang terasa nikmat, “Dia yang membukakan pintu untukku tadi pagi”

“Kenapa kau tidak menahannya?” Sehun menatapnya tajam.

“Kau lupa, semenjak hubungan kalian renggang, dia sudah naik satu tingkat menjadi kelas tiga. Dan ini hari Rabu, belum waktunya libur untuk siswi kelas tiga” jelas Yonghwa.

Sehun mengangguk mengerti, meletakan cangkir yang isinya tinggal setengah, “Kau sudah mendapatkan apa yang kuminta?”

Tiba-tiba topik pembicaraan cepat beralih, kali ini lebih serius. Dan Yonghwa ikut-ikutan meletakkan cangkir, tangannya merogoh saku jasnya dan menyerahkan sesuatu pada atasannya. Selembar kertas yang tertulis beberapa deret huruf. Sehun membacanya dengan teliti.

“Hanya itu yang kau mau? Kau tahu bagaimana cara kerjaku, kan? Kalau kau mau, aku bisa menyerahkan informasi yang lain” ujar Yonghwa meyakinkan.

Sehun menggeleng, “Tidak perlu. Sejak awal aku sudah curiga ada sesuatu yang disembunyikannya dariku”

“Lalu, kenapa kau cuma minta alamatnya saja?”

“Ayolah, Yonghwa-ssi… Permainan akan sangat tidak menarik kalau kita sudah mengetahui secara mendetail sesuatu yang amat membuat kita tertarik. Daripada tahu darimu, aku lebih suka kalau dia sendiri yang cerita” jawab Sehun.

“Aku berani bertaruh, tipe sepertinya tidak akan mudah berbagi dengan sembarangan orang”

“Aku bukan sembarangan orang” Sehun menatap kertas ditangannya lekat-lekat, “Who know? Kita lihat saja nanti” seringai Sehun.

“Kau ingat bagaimana ekspresi wajah teman-teman saat kau berjalan dikoridor sekolah?” Jiyeon lagi-lagi mengulang cerita yang sama, meskipun begitu wajahnya masih saja berbinar-binar. Apa menariknya dari mengulang topik yang sama? Kali ini mereka dalam perjalanan pulang. Tapi Taeyeon merasa jenuh mendengar celotehan gadis disampingnya.

“Mata mereka tidak berhenti memandang iri pada sepatumu, Taeng-a”

Taeyeon memutar bola mata bosan, “Biarkan saja mereka. Masa cuma karena sepatu mereka sudah iri?”

“Taeng, sudah kubilang sepatumu itu sedang menjaditrend di majalah fashion

“Ini hanya sepatu biasa. Titik. Sehun bukan dengan sengaja memilih sepatu yang sedang trend, dia hanya memilih secara asal”

“Kalau asal, kenapa harus di toko mahal? Semua orang tahu sepatu jenis-jenis punyamu itu hanya ada terbatas di toko-toko tertentu”

“Mana kutahu” sahut Taeyeon mengangkat bahu acuh.

“Dasar payah!” celetuk Jiyeon, “Walaupun kekasih tuamu sudah membelikan sepatu mahal, aku masih sedikit heran, masa dia cuma membelikanmu itu saja? Sebagai perayaan, seharusnya ada yang lain juga kan?”

“Memang ada”

Jiyeon sedikit merengut, membuat wajah cantiknya benar-benar terlihat lucu. Pantas banyak laki-laki yang menyukainya. Apapun ekspresi yang dikeluarkannya, selalu membuat perempuan berambut panjang itu terlihat menarik. Ngomong-ngomong, Sehun akan tertarik pada Jiyeon tidak ya kalau yang dikenalnya lebih dulu adalah si rambut emas itu?

“Lalu mana? Selain sepatu dan seragam yang melekat ditubuhmu, tidak ada yang lain yang kau bawa pulang tadi pagi”

Taeyeon menghembuskan nafas, “Sisanya kutinggalkan di apartemen Sehun”

“Mengapa kau tinggalkan?!” teriak Jiyeon histeris membuat Taeyeon menutup telinga rapat-rapat.

“Lama-lama aku bisa tuli, Jiyeon-a”

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala, melipat kedua tangan didepan dada, “Kau ini bodoh!”

“Biar saja, pergi sana!” usir Taeyeon berpura-pura marah walaupun Jiyeon pasti tahu itu cuma pura-pura, “Katanya kau mau belanja? Hari ini aku lelah, kau sendiri saja yang pergi. Aku akan langsung pulang”

“Iya, iya…” Jiyeon mengerucutkan bibir, “Tapi nanti kau yang masak ya”

“Terserah”

Jiyeon terkikik ringan. Dibandingkan Taeyeon yang bisa memasak, dia lebih cenderung pandai memilih bahan masakan. Bukan berarti Jiyeon tidak bisa masak, dia bisa walau tidak sepandai Taeyeon, hanya sekarang sedikit malas. Dengan begitu Jiyeon langsung berbelok arah untuk ke supermarket, Taeyeon menghela nafas lega setelah kepergian sepupunya. Sekarang ia bisa lebih tenang menempuh perjalanan pulang ke rumah.

To be continue

NOTE : Annyeong haseyo! Semoga readers ga bosen yah lihat ff money terus di ATSIT. Sesuai janji kan? Aku update cepet karena readers yang konsisten, tapi aku ga janji minggu depan bakal cepet update kaya sekarang. Karena kalian tau lah anak sekolah diakhir tahun ajaran pasti banyak tugas, terutama praktek, drama. Hufh…. pulang selalu sore. Sekolah pagi pulang sore😣
Makanya aku mau kalian tetep dukung melalui komentar yang semenarik menariknya, jadi pas aku baca komentar kalian, aku bisa punya power lebih diantara kesibukan.
Dan yang waktu itu mau hubungi aku lewat WA sekarang bisa, ini dia!
WHATSAPP : 085864065090

DIHARAPKAN KOMENTAR KREATIFMU READERS!
Goodbye….😙

Advertisements

158 comments on “MONEY (Chapter 5)

  1. Flashback, mian baru comment😂
    Anjirr, baru ketemu sehun langsung minta gitu aja sm taeyeon, tp mo gmn lg sehun emang ga bisa nahan rindu kali😝
    Haha

  2. Maaf kan diriku yang khilaf thor
    Semoga end nya nanti keren,menegangkan juga,
    Semoga sehun sama taeyeon
    Semoga author mau terus-terusan nulis ff cast nya huntae
    Aminnn.

  3. Gatau mau komen apalagi, pokoknya ffnya keren banget, favorit aku 👍👍.. Semangat author buat nulis ff lain

  4. Permainan tarik ulur, 😍 kapan mereka mengeluarkan isi hatinya masing masing. Dan semoga sehun cepat ngerti kalo tae bukan org yang gila uang untuk dirinya sendiri. Makin kesini makin terpesona 😍. Fighting author^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s