Love Matters – Part 3

-iQx5caU.jpg large

Previous : Part 1 | Part 2

Peringatan: Bagi yang belum di atas 15 tahun harap berpikir ulang sebelum membaca

o0o0o0o0o

Membohongi diri sendiri jauh lebih menyakitkan daripada membohongi orang lain.

Semua tidak berjalan lancar seperti yang dipikirkan Kwon Jiyong. Harusnya ia bisa mendapat hati Kim Taeyeon dengan rencananya. Tapi karena pemuda bernama Oh Sehun, rencananya menjadi berantakan. Tidak terarah. Dan mungkin tidak berakhir.

Mau tahu seperti apa rencana seorang Kwon Jiyong?

Pertama, ia menjaga jarak dengan Taeyeon. Ia mengundurkan diri dari posisi ketua orkestra. Dan gadis itu dengan senang hati menggantikan dirinya.

Kedua, ia mengumumkan pernikahan palsunya pada Taeyeon, kemudian pada anggota orkestra. Dan tentu saja gadis itu terkejut bukan main.

Ketiga, ia akan menjaga jarak dengan Taeyeon sambil membuat Taeyeon merindukannya. Dan gadis itu hampir saja mengambil umpannya.

Kalau tidak ada Oh Sehun, mungkin sekarang Taeyeon sudah masuk ke dalam rencana Kwon Jiyong yang berikutnya. Kwon Jiyong masih ingat betul pemandangan seminggu lalu di mana Taeyeon dan Oh Sehun berciuman tepat di depannya. Lalu apa kau bisa tebak apa yang keluar dari bibir Oh Sehun setelah itu?

“Perkenalkan, saya masa depan Taeyeon,”

Masa depan dari Hongkong?

Bagaimana Kwon Jiyong akan menghadapi keluarganya? Ayah dan ibunya sudah menunggu Jiyong untuk segera melamar Taeyeon. Dan tentu saja ia sudah meminta izin ayah dan ibu Taeyeon.

Dan lagi, sejak kapan Taeyeon mengenal Oh Sehun? Laki-laki itu bukan orang yang berasal dari dunia yang sama dengan Taeyeon! Laki-laki itu bekerja di balik berita-berita hangat yang menghiasi headline Korea Selatan. Laki-laki itu penyusup dunia politik, olah raga, dan hiburan. Bagaimana seorang wartawan bisa bertemu gadis cantik seperti Taeyeon?

Lupakan soal bagaimana mereka bertemu. Masalah terbesarnya adalah bagaimana jika Taeyeon jatuh cinta pada Oh Sehun? Kwon Jiyong sudah melakukan banyak skinship dengan Taeyeon tapi belum sampai tahap mencium bibirnya. Tapi sekarang untuk pertama kalinya bibir Taeyeon berciuman. Jika Taeyeon gadis biasa, pasti Taeyeon akan menaruh hati pada Oh Sehun.

Taeyeon bukan gadis biasa, karena itu Kwon Jiyong menyukainya. Tapi apa Taeyeon juga menyukai dirinya?

Lamunan Jiyong terhenti oleh suara ketukan pintu. Kim Taeyeon datang menemui Jiyong di ruangannya. Ia terlihat cantik, seperti biasa. Dan bibir Taeyeon entah mengapa seperti memaksa Jiyoung untuk menyentuhnya.

Oppa, latihan hari ini sudah selesai,” lapor Taeyeon.

Ada dua hal yang tidak dimengerti oleh Taeyeon. Pertama, temannya Kwon Jiyong sudah mengundurkan diri dari posisi ketua orkestra. Tapi mengapa Jiyong setiap hari datang ke gedung orkestra? Kedua, Kwon Jiyong harusnya sibuk mempersiapkan pernikahan. Tapi mengapa Jiyong terlihat sangat santai?

“Bagaimana latihannya?” tanya Jiyong.

“Baik-baik saja, kok. Kami sudah mulai serius karena 3 minggu lagi hari pertunjukan,” cerita Taeyeon. “Tadi oppa lihat sendiri latihannya, kan?”

“Iya. Good job,” sahut Jiyong. “Aku antar ke rumah, ya.”

“Loh, jangan oppa. Oppa harus ke Rumah Sakit dan menemani tante operasi,” Taeyeon memperingatkan sahabatnya sejak kecil.

Ya, sudah seminggu berlalu sejak insiden ciuman Taeyeon bersama Oh Sehun. Dan hari ini adalah hari operasi ibu Jiyong yang sedang dirawat di Rumah Sakit.

“Aku antar ke rumah setelah itu aku akan ke Rumah Sakit. Bagaimana?” tawaran Jiyong berhasil membuat Taeyeon setuju.

Akhirnya Taeyeon pulang menuju ke rumah diantar oleh Kwon Jiyong. Jantung Taeyeon berdegub lebih kencang dari biasanya karena ia duduk di sebelah Jiyong yang sedang fokus mengemudi. Sejak sahabatnya itu mengundurkan diri dari posisi ketua, Taeyeon merasa benar-benar kehilangan. Ia selalu berkata pada diri sendiri untuk tidak merepotkan Jiyong dan fokus bekerja. Tapi saat bersama Jiyong, ia kembali seperti sedia kala.

“Jiyong oppa,” ujar Taeyeon membuka suara. “Aku turun di supermarket aja, ya.”

“Oh, mau belanja?” tanya Jiyong lalu Taeyeon mengangguk. “Di tempat biasanya, kan?”

“Iya, yang di dekat apartemenku. Makasih ya oppa,” kata Taeyeon.

Suasana kembali canggung setelah itu. Kwon Jiyong memberhentikan mobilnya tepat di depan supermarket. Di saat itu juga Taeyeon segera turun dari mobil dan berpamitan pada Jiyong.

“Hati-hati ya, oppa. Aku belanja dulu,” ujar Taeyeon lembut.

“Iya. Taeyeon,” ucapan Jiyong tertahan. “Kalau kamu butuh, aku siap ke tempatmu kapan saja.”

“Hah?”

Belum sempat Taeyeon bertanya lagi, mobil Jiyong sudah hilang dari padangannya. Wajah Taeyeon memerah, ia tidak menyangka Kwon Jiyong akan mengatakan hal seperti itu.

Kembali pada dunia nyata, Taeyeon harus berbelanja. Beberapa bahan makanan di kulkas sudah hampir habis dan Taeyeon tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya yang berjarak sangat jauh dari tempat ia bekerja.

Taeyeon masuk ke dalam supermarket, mengambil keranjang belanja, dan memulai kegiatan mencari kebutuhannya. Ia mengambil sekotak susu, satu pack yoghurt, dan masih banyak lagi. Taeyeon bukan orang yang berpikir panjang saat sedang berbelanja. Ia hanya akan membeli barang yang ia butuhkan.

Saat tangan Taeyeon hendak mengambil pembalut, sepasang tangan mulai melingkari pinggangnya dan pemilik tangan tersebut sudah memeluk Taeyeon dari belakang. Dan di saat itu juga bulu kuduk Taeyeon berdiri.

“Oh Sehun!” seru Taeyeon lalu ia melepaskan diri dari pelukan Sehun.

“Wah, kita bertemu lagi. Aku senang,” ujar Sehun santai.

“Aku? Aku? Sejak kapan kamu pakai bahasa unformal ke aku?” tanya Taeyeon.

“Sejak aku mengaku pada Kwon Jiyong bahwa aku masa depanmu,” ungkap Sehun membuat Taeyeon mual.

Taeyeon benci membahas kejadian minggu lalu. Ia mengalami hal paling memalukan sepanjang hidupnya. Karena menolak tawaran kerja sama Oh Sehun, ciuman pertamanya direbut. Apalagi ia tertangkap basah berciuman dengan Oh Sehun oleh sahabatnya, Kwon Jiyong.

Setelah menghentikan ciuman mereka, Kwon Jiyong berbicara sebentar dengan Oh Sehun. Entah apa yang mereka bicaran sampai Oh Sehun berkata bahwa Taeyeon adalah masa depannya. Lalu Kwon Jiyong pergi ke luar, mencari ibunya. Sedangkan Taeyeon terjebak rayuan Sehun untuk membantunya.

“Minggu lalu terima kasih, ya. Sudah baca berita?” tanya Sehun percaya diri.

Ya, minggu lalu Taeyeon memang takluk dengan rayuan Oh Sehun itu menggantikannya. Pada malam hari, Taeyeon tidur di ranjang milik Sehun untuk mengelabui para suster sedangkan Sehun sendiri pergi ke ruang berkas Rumah Sakit. Dan esok harinya, berita ditemukan berlian di dalam perut salah satu pasien menghebohkan masyarakat.

“Sudah,” jawab Taeyeon cepat. “Kamu nekat juga, ya?”

Sehun mengangguk. Tangannya meraih salah satu bungkus pembalut dan meletakkannya dalam keranjang belanja Taeyeon. “Ayo cepat pergi dari sini. Aku mau ajak kamu makan siang bersama.”

“Hah?” Taeyeon tidak percaya ini. Sekarang ia harus terlibat lagi bersama Oh Sehun dan sejuta misteri yang dibawa oleh laki-laki itu.

Atas paksaan Sehun, Taeyeon berjalan menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Lalu Sehun menawarkan diri membawa barang belanja Taeyeon ke apartemennya. Setelah itu baru lah Sehun meminta Taeyeon masuk ke dalam mobilnya dan mengantar Taeyeon ke sebuah restoran untuk makan siang.

Sesampainya di restoran, Sehun berhasil membuat Taeyeon kagum dengan makanan yang ia pilih. Sehun benar-benar tahu selera makanan Taeyeon. Luar biasa.

“Aku sudah tahu semuanya tentang kamu,” kata Sehun sambil tersenyum.

Stalker,” Taeyeon menjawab dengan kesal. Rasanya Sehun seperti melihat semua yang ada pada dirinya. Dan Taeyeon kesal karena Sehun melakukannya dengan lancar.

Makanan yang Sehun pesan akhirnya sampai ke meja mereka. Dengan senang, Taeyeon menyantap bagiannya. Soal makanan, Taeyeon sangat susah menolak. Apalagi jika ia tidak perlu mengeluarkan uang sedikit pun untuk makanan yang ia santap.

“Sudah selesai?” Taeyeon terkejut dengan tempo makan Sehun yang lebih cepat dibandingkan dirinya.

“Iya, sudah. Tunggu sebentar di sini ya,” ujar Sehun lalu bangkit berdiri. Laki-laki itu meninggalkan Taeyeon sendirian di meja.

“Bodoh ah, pokoknya aku makan,” gumam Taeyeon santai.

Taeyeon menyantap makanannya sampai habis. Ia juga meneguk es teh nya dengan senang. Jarang ia menghabiskan makan siang di restoran mewah pusat kota. Terakhir kali ia makan di restoran mewah adalah beberapa bulan lalu di pesta perayaan suksesnya pertunjukan orkestra. Ya, memang sudah jadi kebiasaan bagi sebuah orkestra untuk berpesta setelah pertunjukan selesai.

Mata Taeyeon menangkap sepasang kekasih yang ada di meja sebelahnya. Mereka tampak mesra, sangat harmonis, dan hangat. Tiba-tiba ia merindukan Kwon Jiyong. Mengapa perasaan Taeyeon bergejolak seperti ini? Haruskah ia menceritakannya pada Jiyong? Tapi ia harus fokus pada pertunjukan orkestra yang tinggal 3 minggu lagi.

Laki-laki di meja sebelah Taeyeon meninggalkan kekasihnya. Dan Taeyeon bisa melihat tatapan perempuan yang ditinggalkan itu. Taeyeon bisa merasakannya. Sepi, gundah, cemas, semua menjadi satu. Sampai akhirnya kepala perempuan itu membentur meja, tubuhnya bergetar hebat, dan suaranya terisak. Ia menangis.

Bukan, ia tidak sedang menangis. Ia keracunan.

“Ya Tuhan,” gumam Taeyeon. “Tolong! Sehun tolong—“

Terdengar teriakan dari bibir semua orang yang ada di dalam restoran tetapi bibir Taeyeon tertahan saat melihat Sehun yang mengejar laki-laki yang meninggalkan perempuan yang keracunan itu. Sehun segera menghajar laki-laki itu sampai sekarat, sama sekali tidak memberi kesempatan laki-laki itu untuk menjelaskan.

Ia meminta semua orang untuk tenang dan meminta manajer restoran untuk menghubungi polisi. Sehun juga mengikat tangan dan menutup mulut laki-laki yang sedang tidak sadarkan diri itu.

Mata Sehun bertemu dengan mata Taeyeon. Ia menatap Taeyeon dengan perasaan iba, kasihan, dan dingin. Bukan sosok Sehun yang mengaku sebagai masa depan Sehun. Yang di depan Taeyeon sekarang adalah Oh Sehun, wartawan professional yang licik.

“Ayo keluar,” tangan Sehun menggenggam tangan Taeyeon dan menariknya keluar restoran.

Di luar restoran, ada Kai, teman Sehun yang sudah menunggu. Ia memberi SD Card lagi kepada Sehun. Dan seketika Taeyeon menjadi tahu pekerjaan Kai. Laki-laki itu adalah seorang fotografer pribadi Sehun. Ia mengumpulkan bukti kejahatan dan menyerahkannya pada Sehun.

“Masuk ke mobil,” Sehun berkata dengan nada memberi perintah.

“Tidak mau,” jawab Taeyeon. “Kau licik.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Taeyeon. Kau lah yang licik,” sahut Sehun.

“Kau yang licik karena membiarkan perempuan itu mati! Kau yang licik karena bersembunyi dan menghajar laki-laki itu! Kau yang licik karena kau sudah mengetahui semuanya dari awal tapi kau tidak berusaha menghentikannya!” seru Taeyeon.

Amarah terdengar jelas di setiap perkataan Taeyeon. Seharusnya ia tahu bahwa terlibat dengan laki-laki ini bukanlah hal yang baik. Ia takut. Ia takut dengan apa yang ia lihat.

“Kau juga licik. Berciuman dengan laki-laki lain di depan Kwon Jiyong,” ujar Sehun lalu ia masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Taeyeon berdiri di pinggir jalan.

Skakmat. Kalimat barusan berhasil membuat Taeyeon kembali pada kenyataan. Ia dan Sehun dasarnya sama, melakukan pekerjaan yang diberikan pada mereka. Sehun sebagai wartawan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, begitu juga dengan Taeyeon.

Tapi perasaan apa ini? Apa yang membuatnya begitu menyesal telah bekerja keras? Selama ini apa yang membuat Taeyeon bekerja keras? Menghindari Kwon Jiyong? Berusaha melupakan Kwon Jiyong?

Taeyeon sadar, ia sudah terlibat permainan yang kejam. Sejak hari pertama ia bekerja sebagai ketua orkestra, namanya sudah tertulis di agenda milik Sehun. Tidak mungkin Sehun tidak sengaja membawanya ke restoran tempat terjadinya pembunuhan. Tidak mungkin Sehun tidak sengaja bertemu dengannya di supermarket. Dan tidak mungkin Sehun tidak sengaja mencium bibirnya.

Di kepala Taeyeon saat ini, hanya ada satu nama. Kwon Jiyong.

Ia ingin bertemu dengan Kwon Jiyong, sahabatnya. Melampiaskan kemarahannya, ketakutannya, dan air matanya. Ia tidak peduli dengan calon istri Kwon Jiyong, ia hanya ingin tempat untuk bersandar.

Mengapa cinta begitu sulit saat kita sudah menyadarinya?

o0o0o0o0o

 

Kwon Jiyong baru saja kembali dari Rumah Sakit. Ia senang operasi ibunya berjalan lancar. Besok, ibunya sudah boleh kembali ke rumah dan menjalani aktivitas seperti biasa. Ia masuk ke dalam tempat parkir mobil apartemen dan membiarkan mobilnya beristirahat. Hari ini adalah hari yang cukup panjang bagi Kwon Jiyong.

Besok, ia harus ke gedung orkestra lagi. Ia harus menyusun alasan pada Taeyeon agar gadis itu memperbolehkan Jiyong menemaninya. Gadis itu sudah terlanjur termakan umpan Jiyong tentang pernikahan palsunya.

Ia juga harus mengawasi Taeyeon dari Oh Sehun. Ia tidak akan membiarkan laki-laki yang merebut ciuman pertama Taeyeon itu mendekati Taeyeon lagi. Taeyeon adalah miliknya, tidak salah lagi.

Sesampainya di lantai 14 tempat ia tinggal, Kwon Jiyong terkejut bukan main. Ia mendapati Taeyeon yang menunggu di depan pintu, menunggu kepulangannya.

“Taeyeon?” suara Jiyong berhasil membuat gadis itu menoleh padanya. “Ada apa?”

Kemudian apa yang dilakukan Taeyeon membuat Jiyong berharap saat ini ia tidak sedang bermimpi. Taeyeon berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat, dan menangis sambil meremas kaosnya.

“Taeyeon? Ada apa?” pertanyaan Jiyong tidak terjawab. “Apa kau mau masuk dulu ke dalam?”

Taeyeon mengangguk dalam dekapan Jiyong. Dengan gugup, Jiyong mendorong tubuh Taeyeon sedikit, lalu menuntun gadis itu masuk ke dalam kamar apartemennya. Ia membiarkan Taeyeon duduk di sofa kesayangannya, membuatkan gadis itu minuman hangat, lalu duduk di sebelahnya sambil mengamati matanya yang sembab.

“Cerita, Taeyeon. Aku tidak bisa apa-apa kalau kamu diam terus,” kata Jiyong memohon.

“Tadi aku bertemu Oh Sehun,” ujar Taeyeon pelan.

Apa lagi sekarang?

“Aku benci padanya. Aku tidak suka,” lanjut Taeyeon.

Hah? Apa?

“Dia tidak bisa menjagaku. Dia betul-betul seenaknya sendiri,” tambah Taeyeon.

Aku nggak salah dengar, kan?

“Hanya oppa laki-laki yang bisa aku percaya,” kata Taeyeon dan pada akhirnya ia menangis lagi.

Mungkin Kwon Jiyong sedang tidak sehat sekarang karena ia merasa senang mendengar kata-kata Taeyeon. Meski sebagian tentang Oh Sehun, tapi Jiyong sendiri yakin Taeyeon mulai menyadari perasaannya. Taeyeon mulai melihat Jiyong sebagai satu-satunya laki-laki yang bisa ia andalkan.

“Orang tua kita mempertemukan kita untuk satu alasan,” ujar Jiyong lalu ia meraih tangan Taeyeon. “Kita harusnya selalu bersama.”

“Maksud oppa apa?” tanya Taeyeon. Air matanya belum berhenti mengalir.

“Maksudku seperti ini,”

Kwon Jiyong mendekatkan wajahnya pada wajah Taeyeon. Ia tersenyum puas dan terdengar tawa kecil dari bibirnya. Kemudian ia mencium bibir lembut milik Taeyeon. Satu hal yang daridulu ingin dilakukan olehnya.

Jiyong sadar akan tubuh Taeyeon yang kaku karena itu ia meletakkan tangannya di tengkuk Taeyeon, berusaha memberitahunya lewat ciuman bahwa ia sudah tidak dapat menahan dirinya lagi.

Bibir Taeyeon yang sedaritadi diam mulai membalas ciuman Jiyong. Dan benar saja, Jiyong semakin senang. Ia hanya menginginkan Taeyeon. Ia hanya ingin bersama Taeyeon. Ia hanya ingin menikahi Taeyeon.

“Taeyeon,” ujar Jiyong lembut saat ciuman mereka berakhir. “Malam ini kamu mau menginap?”

“Iya oppa,” jawab Taeyeon tanpa ragu.

“Malam ini kamu mau tidur bersamaku?” tanya Jiyong lagi.

“Iya oppa,” jawab Taeyeon. Dan sebelum menuju ke kamar, Jiyong dan Taeyeon berciuman lagi, seakan menutup diri pada dunia yang bertindak kejam pada mereka.

o0o0o0o0o

 

Saat Taeyeon tersadar dari tidurnya, ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang tadi malam ia lakukan? Ia baru saja tidur bersama Kwon Jiyong, sahabatnya sejak kecil. Ia membiarkan Jiyong memeluknya semalaman dan membiarkan Jiyong menyentuh beberapa bagian sensitif pada tubuhnya.

Salahkah Taeyeon jika ia merasa senang tadi malam? Taeyeon masih ingat betapa hangatnya pelukan Jiyong dan betapa lembutnya ciuman yang mereka lakukan. Ciuman yang sama sekali berbeda dengan ciuman pertamanya.

Taeyeon mendapati dirinya di atas ranjang Jiyong tanpa Jiyong di sebelahnya. Ia mengamati pakaiannya sendiri. Lengkap, tidak ada yang hilang satu pun.

Dengan hati-hati, Taeyeon turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Tidak ada siapa pun, sosok Jiyong tidak terlihat sama sekali. Hidung Taeyeon mencium aroma manis yang berasal dari dapur. Sepiring pancake madu dengan pesan pada sebuah kertas. Tulisan tangan Kwon Jiyong.

Aku pikir kamu akan bangun kesiangan jadi aku berangkat duluan ke gedung orkestra. Ingat, pertunjukan tinggal 3 minggu lagi. Aku akan selalu membantumu. Makanlah sarapanmu dan segera berangkat bekerja.

Taeyeon membaca tulisan itu sambil tersenyum. Ia benar-benar merasa bahagia sekarang. Ia menyantap pancake madu dengan lahap dan mencuci piring yang telah ia pakai. Ia juga mandi di kamar mandi milik Jiyong dan mengganti pakaiannya dengan pakaian miliknya yang tersimpan di lemari Jiyong.

Ia terkenang masa-masa kuliah di mana ia sering menginap di tempat Jiyong untuk mengerjakan laporan. Syukurlah pakaiannya masih cukup di tubuhnya yang sekarang. Semua seperti kembali seperti semula, seperti sebelum Kwon Jiyong memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua orkestra karena pernikahannya.

Ya, pernikahan. Bagaimana Taeyeon bisa lupa? Kwon Jiyong akan segera menikah. Apa yang Kwon Jiyong lakukan semalam padanya murni untuk menghibur dirinya yang sedang patah hati. Tunggu. Patah hati karena siapa? Karena Oh Sehun?

Dengan perasaan yang masih kacau, Taeyeon beranjak ke sofa milik Jiyong dan memutuskan untuk menonton berita sebelum berangkat kerja. Berita pertama yang menangkap matanya adalah berita tentang perempuan yang tewas keracunan akibat ulah kekasihnya sendiri.

“Ya Tuhan,” gumam Taeyeon. Ia masih tidak mengerti mengapa di pagi hari yang damai seperti ini ia harus mengingat kembali peristiwa di restoran kemarin.

Nama Sehun tertera sangat jelas sebagai wartawan yang berhasil mendapatkan berita itu. Sama seperti minggu lalu, Taeyeon juga tahu tentang kasus berlian di perut salah satu pasien Rumah Sakit karena nama Oh Sehun yang tertera di bagian bawah judul berita.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang sangat hebat, membuat mata Taeyeon yang fokus ke televisi akhirnya memilih untuk mencari ponselnya. Ponsel Taeyeon ada di kamar Jiyong dan dengan cepat Taeyeon mengambilnya, membaca nama dari orang yang melakukan panggilan.

“Oh Sehun?” gumam Taeyeon tidak percaya. Haruskah ia menjawab panggilan itu? “Yang benar saja.”

Taeyeon menolak panggilan dari Oh Sehun dan memutuskan untuk segera berangkat kerja. Tapi belum ada 30 detik, ponselnya berdering lagi. Masih dari orang yang sama, Oh Sehun.

“Ya Tuhan, mengapa ia sangat keras kepala!?” Taeyeon akhirnya menjawab panggilan tersebut. “Apa? Apa yang kau mau dari aku?”

Taeyeon, kau di mana?” suara Sehun terdengar pelan.

“Hah? Aku di apartemen Jiyong oppa. Kenapa?” Taeyeon balik bertanya.

Bisakah kau ke tempatku? Tolong ke apotek dulu. Belilah barang-barang yang aku sebutkan,” kali ini suara Sehun melemah, ia seperti sedang kesakitan di suatu tempat.

“Kau minta tolong padaku atau apa?” suara Taeyeon sebaliknya, ia berbicara dengan lantang.

Iya, aku minta tolong padamu. Ayolah Taeyeon, aku butuh kamu. Aku sedang sekarat,” jelas Sehun.

“Baiklah, aku akan ke sana. Kau di mana??” Taeyeon segera mempercepat langkahnya, ia batal berangkat kerja dan memutuskan untuk menolong Oh Sehun.

Aku di Yellow Warehouse, gudang di pinggir Kota Seoul. Tolong datang sendirian ke tempat ini. Hati-hati saat naik taxi,” Sehun berusaha memberi penjelasan pada Taeyeon.

“Memangnya kau kenapa?”

Perutku tertembak,

To be Continued

Fresh from the oven, aku membawa Part 3 hehehe 😀

Menurut kalian cerita ini bagaimana? Hehe nggak jelas ya 😦 semoga kalian tetap bisa menikmati cerita ini…

Akhirnya Jiyong kebagian banyak moment bareng Taeyeon di sini. Aku juga sudah memberi beberapa petunjuk pada kalian sejak part pertama loh, ada yang sadar? Kalo ada yang sadar kalian pasti udah bisa menebak bagaimana endingnya.

Dan mungkin cerita ini berakhir kurang atau pas hanya sampai part 10. Nggak apa-apa, kan? Aku tidak mau memperpanjang masalah (?)

Jangan lupa tinggalkan komentar ya, komentar dari kalian membuatku makin semangat. Aku sayang para pembaca hehehe.

Oh iya silakan mampir ke wattpadku untuk cerita lainnya https://www.wattpad.com/user/scarlettkid

Sampai jumpa di part 4~

Advertisements

39 comments on “Love Matters – Part 3

  1. yeeeiy, aku suka ff ini.. tapi ntah knp aku pngen nya taeyeon sma sehun aja, karna menurutku seyeon feel nya lbh kerasa.. kok sehun bisa tertembk sih? ayoo taeyeon cepat gerak, sehun sekarat tuh!! hehehe.. semangat yah kak, nulis lanjutannya! ditunggu loh..

    • kamu suka? demi apa? ah kamu pasti bohong 😦 sebenarnya author sendiri dilema loh ini tae sama gd atau sehun 😦 tanggung jawab kamu! oke tunggu lanjutannya ya 🙂

  2. kak, aku pengen nya taeyeon sama sehun aja.. kalo sama gd kaya nya gd kurang cocok, ga gentle masa hrus pake rencana dulu buat nembak tae.. kaya sehun deh terang terangan asaal ceplos kan lebih asyik.. tp trsrah kakk aja deh karn kakak yng buat aku cuma sebagai readers yng baik ngasih pendapat hehehe..:):)

    • aaaa aku juga lagi dilema banget sebenarnya 😦 gtae atau seyeon ya… karena manusia ngga ada yang sempurna jadi… tunggu lanjutannya aja deh hehe makasih pendapat kamuu aku suka bacanya!

  3. Sehun ketembak (?) 😱😱😱
    Berita apa lagi yang sedang dia kejar, apa masih ada hubungannya pas dia di tangkap di bandara?
    Lanjut-lanjut. Ku tunggu ceritanya

  4. aduuuh aku pengen gtae momentnya di banyakin dong thor..
    jiyoung ayooo ungkapin perasaanmu ke taeng..
    next chapter jan lama2 ya thor
    keep fighting and writing author

  5. Keren ceritanya, tapi mungkin penggunaan kata “kamu” lebih nyaman diganti sama “kau” terlihat lebih baik sih menurutku #cumasaran
    Sudah bagus ceritanyaa
    Ditunggu next part

  6. Karna ini Gtae aku jadi kesel sendiri sama sehun😒elah ganggu amat lu hun,ku kira pas nginep bakal terjadi sesuatu trus jiyong ungkapin perasaan nya deh #plak😅

  7. Aku suka dua dua nya , kadang suka labil juga sih .. kalau ada moment seyeon aku maunya akhirnya mereka , tpi kalau ada moment jiyong taeyeon aku jga maunya mereka .. hehe tpi siapapun akhirnya aku bakalan suka kok
    Ditunggu kelanjutannya , semangat ..

  8. suka banget sama idenya. sehun yang bisa ngatur sesuatu kyk gitu. cool banget sehun disini :’)
    peran sehun terlalu bagus disini, tapi aku lebih berharap taeyeon sama jiyong sih. emangnya apa petunjuknya? aku gak nemu apa2 😦

  9. Sebenarnya sehun suka sama taeyeon atau cuma manfaatin aja ya??
    Semoga momen gtaenya bisa lebih banyak lagi…
    Berharap problem dlam ff ini tdk complcated…hehehe
    (Banyak bgt ya permintaannya??)()

    Semangatd min,ditunggu next chapternya

  10. Jiyong kebanyakan rencana, ntr taeyeon malah kepi cut ama sehun…
    Knpa sehun tiba2 sekarat?? Lagi buntutin siapa dia???
    Apa ini karangan aja apa beneran…
    Next chap mga bisa cpet jg…
    Fightaeng!!!

  11. Aigoo sehun itu misterius bgt sihh..
    Membingungkan buat aku makin penasaran kelanjutannya thorr..
    Next next next

  12. Ih pwnasaran thor…. Aq suka gtae moment soalanya disisni ceritanya sehunnya manfaatin taeyeon jadi aq sukanya gd yang siap membantu taeyeon dan nenangin taeyeon pas lagi sedih…?? semangat ya thor lanjutannya chapter selanjutnya cepet update ya…

  13. Jiyongie knpa lelet bgt sih, cus tembak ja atuh si taetaenya biar dy kgak slah paham lg sma perasaannya…
    Ih oh sehun kok jd kek psikopat gitu menikmati penderitaan orang lain bknnya ditolong malah dibiarin…

  14. Apa ini murni sehun tertembak apa akal2an doang.
    Mdah2an hubungan taeyeon ama jiyoung mkin berkembang lg ya…

  15. Bingung mau milih gtae pa seyeon ska dua duanya tpi endingnya pasti gtae,trus pnasaran knpa sehun bas ketembak,gk sbar nunggu part slanjutnya
    Fighting

  16. Pembalut? Oh… Sehuun 😀
    Sehunnya main perintah aja ya sama Taeyeon. 😀
    Perut Sehun tertembak? Hati-hati Taeyeon jangan-jangan itu cuma akal-akalan Sehun untuk memuluskan rencananya yang lain.
    Kayaknya bakal ada rencana-rencana licik nan genius milik Oh Sehun, nih. 🙂
    Jiyong kasihan juga tuh. Taeyeon tetap jaga hubungan dengan uri Jiyong, ya? 🙂 😉
    GTAE sampai akhir, ya? 😉
    Fighting Author-nim! 🙂
    Fighting All! 🙂 😉
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #SOSHIBANG
    #ROYALISTDREAMER

  17. Pingback: Love Matters – Part 4 | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s