MONEY (Chapter 4)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

Preview : Prologue + Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3

Bunyi kunci pintu yang diputar tiga kali dari luar membuat semua pergerakan pria yang menindih Taeyeon berhenti. Sebelum semua terjadi lebih jauh, mereka secara serentak menoleh ke pintu. Sesuatu terjadi diluar dugaan. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki berambut hitam mengenakan jas. Berkulit putih. Sontak Taeyeon menjerit kecil dan menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya.

Four

“Apa, a-apa yang kau lakukan disini, Jung Yonghwa?” pria diatas Taeyeon tergagap.

Si pria berjas—Yonghwa memutar bola mata, melirik keluar seakan-akan ada orang lain bersamanya diluar.

“Ketemu, dan—nyaris dipakai” ucap Yonghwa santai pada orang diluar sana.

Langkah kaki terdengar, menunjukkan Yonghwa memang tidak sendirian. Semenit kemudian terjawab sudah langkah kaki milik siapa itu.

“O-Oh sajangnim…” pria tua diatas Taeyeon semakin panik membenahi celana seraya turun dari ranjang.

Benar. Orang yang muncul adalah Oh Sehun, memang patut ditakuti kemunculannya. Tapi kenapa si tua bangka itu yang panik? Taeyeon—yang seharusnya jauh lebih panik, malah refleks memunculkan tameng ekspresi datar. Seperti seekor bunglon yang akan berubah warna ketika musuh mendekat, berarti bisa dibilang ini cara Taeyeon membentengi diri agar tak terlihat lemah.

Sehun sedikit mendengus melihat Taeyeon disana. Coba seandainya tiga puluh menit lalu ponselnya terlempar ke lantai—bukannya ke sofa, ia pasti tidak akan menelepon Taeyeon balik dan mengetahui ponsel gadis itu ada ditangan orang lain karena Taeyeon sendiri sudah dibawa pergi orang lain. Sungguh hebat, dengan hanya mendengar Taeyeon akan tidur dengan laki-laki lain saja sudah bisa membuat Presiden Direktur OH Group yang terkenal tenang dan menakutkan jadi kalang kabut mengerahkan seluruh orang-orangnya hanya untuk mencari seorang gadis yang jelas-jelas sudah suka rela ikut dengan pria lain.

“Kau cukup mengesankan, Lee Wan-ssi” sinis Sehun melipat kedua tangan didepan dada, “Disaat semua karyawanku sibuk menghitung laba saham, kau malah bersenang-senang disini”

“A-aku bisa menjelaskannya, sajangnim” panik pria tua itu mendekati Sehun dengan setengah memohon, “Gadis pelacur itu yang merayuku duluan!” tunjuknya pada Taeyeon.

“PELACUR KAU BILANG!” geram Sehun menggertakkan gigi, membuat si pria tua—Lee Wan seperti akan menyusut ke lantai, “Apakah kau tahu sedang bermain dengan gadis siapa, huh?”

“A-Aku tidak mengerti apa maksud anda?” Lee Wan melirik Taeyeon dan Sehun bergantian, “Apa hubungan sajangnim dengan—”

“Dia gadis milik Oh sajangnim-mu, bodoh!” cela Yonghwa masih berdiri diambang pintu.

“Milik Oh sajangnim?” Wajah Lee Wan semakin panik, “A-Aku, aku, aku…”

“Cepat keluar” ujar Sehun bosan.

“Tapi, sajangnim…”

“Keluar!” bentak Sehun.

“Ba-Baik”

Cepat-cepat Lee Wan membenahi pakaiannya, kemudian terbirit-birit mengambil cek-nya dan lari kearah pintu.

“Hey! Tiga puluh juta itu sudah jadi milikku!” protes Taeyeon berniat mengejar pria tua itu namun Sehun mendorongnya kembali ke ranjang.

“O ya, Lee Wan-ssi” panggil Sehun sebelum Lee Wan berhasil melewati pintu. Sebagai bawahan, tentu Lee Wan langsung menoleh, “Aku tunggu surat pengunduran dirimu di atas mejaku besok”

Lee Wan berdiri mematung, perkataan Sehun bagaikan petir yang menyambar di tengah terik matahari. Sementara Yonghwa mencibir memandang ekspresi shock pria itu. Sehun memang tidak pernah tanggung-tanggung menyingkirkan orang kalau orang itu berhasil membuatnya marah.

“Ayo, pak tua. Kita selesaikan urusanmu diluar” ujar Yonghwa membawa Lee Wan keluar, pintu tertutup. Dengan begitu, tinggal lah Taeyeon berdua saja dengan Sehun didalam kamar.

“Bisa kau jelaskan, apa maksudnya semua ini, Kim Taeyeon?” Sehun melipat tangan didepan dada, masih belum berniat duduk untuk meredakan emosi.

“Aku butuh uang” jawab Taeyeon memandang kosong mata Sehun.

“Tidak mau meminta denganku, hn?”

“Nomormu tidak aktif”

“Tidak mau bersabar menunggu?” suara Sehun sedikit meninggi saking geramnya.

“Aku butuh uang cepat”

“Jadi, karena uang kau tidak mau bersabar menunggu?”

“Ya” lirih Taeyeon.

“Karena uang?”

“Ya”

“Uang, uang, dan uang!”

Sehun hanya berkata untuk dirinya sendiri, tapi seakan diwajibkan untuk menjawab, Taeyeon langsung mengatakan, “Ya”

Kepala Sehun langsung mendidih, “Jadi isi kepalamu tidak ada yang lain selain uang?”

“Tidak ada” suara Taeyeon hampir tak terdengar. Tapi dalam hatinya ia berteriak keras. Ada! Ada hal lain dalam kepalanya, yang lebih utama dari uang, yaitu kesembuhan ibunya. Tapi sepertinya Taeyeon akan terus bungkam mengenai Hyerim.

Sehun mengangguk-anggukkan kepala, “Bagus, bagus. Memang seperti itulah dirimu. Hanya ingin uang” Sehun tertawa sinis, “Sialan. Kau bahkan sudah berhasil membuatku seperti orang gila karena mengkhawatirkanmu. Nyatanya—”

Sehun memandang jijik tubuh Taeyeon, “—kau baik-baik saja. Kau bahkan nyaris telanjang didepan tua bangka itu. Bagus, Taeyeon. Kau sungguh…hebat!”

“Well…” Sehun merogoh saku kemejanya, “Karena kau sudah bersusah payah memperlihatkan pertunjukkan menarik padaku, usahamu akan kuhargai. Tenang saja, aku tetap bukan orang pelit—o ya, berapa uang yang akan diberikan si tua bangka itu padamu?” Sehun bicara seakan menanyakan harga barang dipasar.

Taeyeon diam tak berekspresi. Tahukah ia kalau ekspresinya itu sungguh menyakiti Sehun. Sehun ingin Taeyeon panik, marah, ketakutan, atau bahkan menamparnya. Berusaha menjelaskan mati-matian kejadian sebenarnya pada Sehun. Meskipun berbohong sekalipun, Sehun pasti akan memaafkannya. Sehun masih menginginkannya. Tapi nyatanya ekspresi Taeyeon tak lebih dari sebongkah es dikutub selatan.

Memang Taeyeon harus berekspresi seperti apa? Sehun sakit hati? Hatinya juga sakit. Namun apa ada gunanya kalau ia menangis dan menjerit. Terkecuali dia adalah seorang aktris yang bermain peran di depan kamera, tiap ekspresi dan perkataannya selau dihargai dengan uang. Ia tak bisa sembarangan bertingkah di depan Sehun. Sehun bukan siapa-siapanya.

“Oke, tenang. Aku masih ingat jumlahnya. Tiga puluh juta bukan?” cibir Sehun telah memilih mengeluarkan selembar cek karena jauh lebih praktis. Ini sungguhan. Meskipun tangan Sehun telah menulis angka-angka serta menandatangani cek, pemuda itu masih menunggu reaksi Taeyeon.

“Apakah—ada yang ingin kau katakan?” kali ini Sehun benar-benar memberi kesempatan untuk Taeyeon bicara.

Taeyeon tersenyum datar, ada ekspresi lain yang sepertinya disembunyikan gadis itu, “Keluarlah, pertunjukkan sudah selesai”

Sehun mendengus marah, melemparkan cek tepat didepan muka Taeyeon, dan mengecam, “Ini yang terakhir. Jangan coba-coba menghubungiku setelah ini!”

Berakhir sudah. Semua panggung sandiwara yang telah Taeyeon bangun untuk mendapatkan uang telah mencapai akhir cerita. Seperti cerita opera sabun yang klasik, Sehun meninggalkannya dengan dramatis, tanpa sedikitpun penjelasan. Jangan menghubunginya? Taeyeon mempersepsikan kata itu sebagai ‘Kita tidak ada hubungannya lagi’. Oh Tuhan, hatinya sesak.

Oke, ambil sisi baiknya. Setelah ini Taeyeon tidak perlu menipu Sehun lagi tentang masalah sepatu.

‘Benar, inilah yang terbaik’ Taeyeon mengangguk-anggukan kepala.

Namun—meskipun isi pikirannya membenarkan, mengapa air matanya tidak berhenti mengalir? Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Dan hatinya malah semakin sesak.

“Permisi, sajangnim”

Pintu ruangan Sehun terbuka. Menampilkan sosok sekretaris wanita yang masuk membawa sebuah cangkir yang Sehun yakini berisi kopi. Ia menatap sekretarisnya itu dingin.

“Aku tidak memesan kopi”

“T-tapi, Yonghwa-ssi bilang….”

“Aku menyuruhnya membawakanku anggur!”

Sekretaris itu terlonjak kaget dengan teriakan Sehun, “B-baiklah, sajangnim. Saya minta maaf” ucapnya membawa kopinya kembali.

Tak ada yang bisa membantah Oh Sehun. Itu faktanya. Lebih mudah mematuhi apa yang atasannya perintahkan dibanding membuatnya marah, apalagi belakangan ini Sehun terlihat sangat menyeramkan. Dingin dan bermuka tembok. Membentak tanpa kenal waktu dan marah-marah tanpa kenal tempat. Ia jadi lebih sensitif dari biasanya sejak kejadian itu. Sejak Kim Taeyeon—teman tidurnya—hampir ditiduri karyawannya sendiri.

Sehun merasa jijik mengingatnya, namun disisi lain ia merasa gemas karena gadis itu tak bertindak apapun untuk membuatnya mudah mengambil keputusan. Sehingga sekarang Sehun yang sudah uring-uringan menjadi semakin gila. Ia meneguk wine yang tertuang di champagne-nya hingga tak bersisa. Tak peduli ini masih jam kerja, selama nama Kim Taeyeon masih ada di perputaran turbin otaknya, ia tak akan berhenti minum.

“Selamat siang, sajangnim” seorang wanita memasuki ruangan dan menyerahkan berkas, ” Ini laporan keuangan terbaru yang anda minta”

Sehun menatap map itu dan membukanya. Walau sudah minum bergelas-gelas wine, tak akan membuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri. Ia hanya merasa kepalanya sedikit berdenyut namun tak sampai membuat konsentrasinya hilang. Dibacanya laporan itu dengan seksama, dan benar kecurigaannya sebelumnya.

“Ini salinan laporan yang dikerjakan Lee Wan yang terakhir?” Tanya Sehun.

“Benar. Dan kami sebagai team keuangan, merasa ada kejanggalan”

“Memang ada. Si brengsek Lee Wan telah berhasil mengkorupsi uang perusahaan” ucap Sehun datar.

“Jadi, selama ini Direktur Lee yang mengencangkan ikat pinggang gaji para buruh?” Wanita yang menjabat sebagai Wakil Direktur Keuangan itu tampak tak habis pikir.

“Kurasa begitu. Dan puncaknya adalah saat aku memecatnya, dia menyelundupkan uang kontruksi dan memanipulasi laporan” Sehun meneguk wine-nya lagi, lalu menatap wanita itu, “Sekarang tugasmu, pulihkan semua dana pengeluaran dan pemasukan. Tak perlu mengencangkan ikat pinggang untuk dana kontruksi dan gaji pegawai, hanya tuntaskan laporan bahwa keadaan keuangan perusahaan kita stabil. Aku akan mengganti semua uang yang di korupsi si brengsek itu” Sehun menyeringai, “Dia pikir dengan mengkorupsi uang perusahaan, akan membuat perusahaan ini bangkrut? OH Group menghasilkan 500 miliar hanya dalam hitungan jam, jadi tidak masalah jika dia mengkorupsi sebanyak 300 miliar”

“Baiklah, sajangnim. Team akan bergerak sekarang. Permisi”

Setelah kepergian Wakil Direktur Keuangan, Sehun kembali pada kegiatannya—minum. Ia begitu menikmati setiap tegukannya sebelum dering ponsel menginterupsi.

“Halo”

“Tak perlu berbasa-basi Oh”

Sehun menyeringai sinis mengetahui siapa yang meneleponnya, “Aku tak berniat, Kwon. Langsung saja pada tujuanmu”

“Sepertinya aku tak salah lihat nilai sahammu baru saja turun drastis”

Sehun melirik layar digital yang menampilkan persentase perusahaannya dan diagram nilai saham setiap perusahaan di bursa saham. Saham OH Group yang semula menempati posisi puncak, kini turun ke posisi 5. Dan perusahaan K Group yang menggantikan posisinya di nomor 1. Namun lagi-lagi hanya seringai yang ia tampilkan.

“Jangan terlalu senang”

“Tidak… tidak. Hanya merasa heran, mungkin kita harus merayakannya?” Ucap orang diseberang sana sedikit mengejek.

“Itu dilakukan bila perusahaanku terpuruk di posisi 5”

“Bukankah memang begitu kenyataannya? Kurasa Direktur Keuangan yang kau pecat itu cukup cerdik memperkaya diri sendiri”

Sehun mendengus bosan, hingga saluran telepon dari bagian keuangan menghubunginya, memberitahukan kalau kinerja mereka berhasil menstabilkan keuangan perusahaan. Sehun menyeringai puas.

“Tolong perhatikan diagram sahammu, Kwon. Lihat dan cermati” intruksi Sehun, tak ada jawaban, sepertinya orang diseberang sana sedang melakukan apa yang diintruksikannya. Dia mulai….

“Satu….” ucap Sehun.

“Dua…” lanjutnya.

“Tiga…”

Dan…..Sreeeeet!

“Sialan!” Umpat orang diseberang telepon. Sehun merasa terhibur, dalam hitungan detik nilai saham OH Group kembali naik ke puncak. Dan K Group harus puas dengan posisinya yang selalu menjadi nomor dua.

“Kurasa kau ingin merayakan ini” ejek Sehun merasa sangat puas.

Yonghwa melewati koridor-koridor kantor dengan tergesa-gesa, mengabaikan sapaan tiap karyawan yang begitu sopan padanya. Pemuda berkacamata itu melirik sinis. Ini bukan waktunya bersikap ramah ataupun membalas sapaan orang lain. Bagaimanapun ada urusan lain yang harus betul-betul dituntaskan. Kalau terus berlanjut, bisa-bisa perusahaan yang sudah bertahun-tahun berdiri kokoh menguasai perekonomian dunia jadi runtuh karena kecerobohan kecil.

Yonghwa langsung tiba didepan pintu ruang Presiden Direktur begitu keluar dari lift. Tak perlu repot-repot mengetuk, langkah kakinya telah dengan lancang memasuki ruangan.

“Apa-apaan ini, Oh?” Yonghwa melempar sebuah berkas keatas meja Sehun.

Sehun mengusap wajahnya sebal, “Apa lagi, Yonghwa-ssi?”

“Lihat laporan itu”

Sehun membukanya, “Ini laporan yang sudah kutanda tangani tadi pagi” jawabnya santai.

“Apa kau tahu? Lagi-lagi kau nyaris menjual 50% saham OH Group kepada perusahaan pesaing kita”

Dahi Sehun mengernyit, cekatan tangannya mengambil berkas, memeriksanya halaman demi halaman. Tidak perlu repot-repot membaca sampai halaman terakhir, sedetik kemudian pemuda bermata kelam itu melempar laporannya ke tong sampah.

“Sialan!” desis Sehun memijit pelipis.

Yonghwa menggeleng-gelengkan kepala, “Ini sudah ke sepuluh kali dalam tiga minggu terakhir. Kalau semua ini terjadi satu atau dua minggu yang lalu, aku masih bisa memaklumi, kau baru putus dengan gadis SHS itu. Tapi ini sudah tiga minggu, hampir satu bulan. Berhenti bersikap seperti remaja yang baru patah hati dari kekasih pertama” kesal Yonghwa.

“Kau lupa, Yonghwa-ssi? Dia memang gadis pertama yang kutiduri”

Sialan. Kalau ada seseorang yang sekarang mengatakan bahwa Oh Sehun terkena mantra perayu atau semacamnya, mungkin Yonghwa akan sedikit percaya. Atasannya yang satu ini memang sudah kelewat kacau karena seorang gadis kecil. Mana Oh Sehun yang kemunculannya menggemparkan dunia perbisnisan karena diusianya yang masih muda sudah berhasil menjadi pemegang saham tertinggi di internasional? Yang ada sekarang cuma Oh Sehun yang konsentrasinya selalu terpecah kemana-mana. Kalau diperhatikan, makin hari Sehun semakin menjadi orang asing yang kehilangan jati diri.

“Pertama itu percobaan, Oh. Kedua, ketiga, dan seterusnya untuk bersenang-senang. Setelah puas, baru cari yang terakhir” ucap Yonghwa.

Sehun menatapnya bertanya, “Lalu?”

“Kau baru melewati yang pertama, kenapa tidak kau mulai saja yang kedua?”

Sehun terkekeh ringan pada ide Yonghwa, “Baik. Ayo kita bersenang-senang”

Yonghwa meringis. Benar bukan? Atasannya memang sudah gila.

Bunyi dentuman musik dari sang DJ terus diperdengarkan hingga kepenjuru ruang. Musiknya yang menghentak berirama membuat kebanyakan orang terbujuk untuk sekedar bergoyang mengikuti irama. Meskipun hanya duduk berdua dengan asistennya di pojok meja bar, Sehun berusaha sekeras mungkin menikmati dentuman musik. Menggoyang-goyangkan gelas ditangan, menciptakan irama dari es batu yang bertabrakan didalam gelas. Sesekali Yonghwa akan menuangkan anggur kedalam gelasnya bila telah kosong.

“Akhir-akhir ini kau sering terlihat santai, Oh Sehun”

Sehun melirik sinis dari sudut matanya, merasa terganggu dengan kehadiran laki-laki bermata sipit serta berambut cokelat yang seenaknya duduk disebelahnya dimeja bar.

“Oh, ada Jung Yonghwa juga ternyata” ujar pria itu lagi.

“Cih! Selalu menyebalkan seperti biasa, Kim Woobin” sinis Yonghwa.

Woobin tertawa pelan, “Jauh-jauh kesini kalian hanya duduk berdua, mana gadis-gadis? Kalau kalian mau, aku bisa meminta Uee membawakannya untuk kalian”

“Gadis-gadis hanya membuat kepala bertambah sakit” dengus Sehun, “Tidak perlu dipanggil, mereka pasti akan datang sendiri karena uang”

Woobin tertawa lagi. Bagi Sehun itu cukup mengerikan. Tipe karakter yang sulit ditebak. Setiap hari emosi yang terlihat—selain tersenyum dan tertawa, tidak ada yang lain. Begitu membingungkan. Bisa saja ketika pria berambut cokelat itu tersenyum, dalam hatinya sedang menyimpan keinginan untuk membunuh orang. Siapa yang tahu?

“Woobin sayang~” muncul seorang wanita melingkarkan kedua tangan dileher Woobin dari belakang. Dialah pemilik Bar sekaligus kekasih Kim Woobin, Uee.

Kalau Woobin adalah pemilik karakter emosi tak terbaca, kekasihnya memiliki sifat kebalikan. Uee cenderung mudah terbaca, malah terkadang sengaja menunjukkan karakternya yang kelewat to the point.

“Hai, Uee…” sapa Woobin manis.

Sehun memutar bola mata bosan, terlalu muak melihat kebersamaan dan keromantisan dimana-mana. Padahal sudah sengaja memilih tempat di sudut agar lebih leluasa menikmati dentuman musik. Sayangnya, sekarang ia terpaksa sedikit terganggu oleh pasangan yang asyik bermesraan disebelahnya.

“Woobin-a, aku sedang sibuk. Boleh titip—Hei!” Uee yang begitu manja tiba-tiba berekspresi mengerikan ketika dua matanya melirik ke lantai dansa. Sehun saja nyaris tersedak minuman mendengar lengkingan suara wanita itu.

“Singkirkan tangan kalian darinya!” teriak Uee melengking, begitu tergesa-gesa menerobos lantai dansa.

Semenit kemudian Uee muncul dari kerumunan pedansa sambil merangkul seorang gadis mungil. Gadis itu terlihat santai mengenakan seragam sekolahnya, penampilannya kali ini sedikit berbeda karena blazer abu-abu yang begitu akrab dipakainya tak lagi dikenakan. Menyisakan rok pendek dan kemeja putih lengan pendek, serta pita garis-garis yang kini sudah longgar melingkar dikerahnya.

Gadis itu—Taeyeon!

“Awas ya kalau kalian berani menyentuhnya lagi! Akan kuusir kalian dari sini!” ancam Uee pada kerumunan pedansa. Entah pada siapa?

“Sudahlah, eonni. Aku diganggu mereka karena kesalahanmu yang seenaknya saja meninggalkanku disana” ucap Taeyeon dengan muka cemberut, ia menepuk-nepuk sisi kemejanya yang sudah berantakan karena tadi ditarik-tarik pria mabuk.

Uee merengut. Menggiring Taeyeon untuk duduk disebelah Woobin. Benar-benar posisi strategis yang menghalangi gadis mungil itu untuk melihat keberadaan Sehun karena terhalang tubuh jangkung Woobin.

“Woobin-a, tolong jaga Taeyeon ya” ujar Uee pada Woobin, “Aku ada urusan sebentar, dua puluh menit lagi aku kembali”

Uee bernafas lega melihat Woobin menganggukkan kepala, tahu kekasihnya bisa diandalkan. Terlebih lagi tidak ada yang bisa dia percaya di Bar malam ini selain Woobin untuk menjaga Taeyeon.

“Masih belum kapok main kesini, Taeyeon-a?” tanya Woobin setelah Uee pergi.

Taeyeon memutar bola matanya bosan. Entah kenapa akhir-akhir ini memutar mata menjadi kebiasaannya. Gadis mungil itu mengabaikan Woobin, dia malah mengeluarkan isi tasnya diatas meja. Dengan bersenjatakan satu buah kacamata dan senter kecil ditangannya, Taeyeon bertingkah aneh. Gadis bertubuh mungil itu membaca buku?

Jelas aneh.

Ini sebuah Bar, tempat semua orang bersenang-senang. Kalau ingin membaca, kenapa tidak pergi ke perpustakaan saja sekalian? Disana berjejer banyak buku di rak, bukannya minuman keras. Lampu-lampu di perpustakaan juga tidak kerlap-kelip seperti di Bar. Apa jadinya perpustakaan bila memiliki lampu disko didalamnya?

“Sombong seperti biasa” cibir Woobin, namun perlahan matanya mengerling nakal pada rok Taeyeon, “Ngomong-ngomong, kau cukup nakal juga ya”

Taeyeon tetap mengabaikan Woobin.

“Sudah tahu laki-laki disini suka meraba-raba. Bukannya mengganti rokmu dengan yang baru malah menjahit rok sekolahmu yang kemarin ujungnya tersulut api rokok menjadi lebih pendek” Woobin tertawa pelan, “Kau tahu, Taeyeon-a? Membungkuk sedikit saja, pantatmu pasti kelihatan”

“Dan ngomong-ngomong… Rok-ku ini bisa membungkam mulutmu yang cerewet itu tidak ya?” Jawab Taeyeon sarkastis.

Woobin menyeringai geli, “Kenapa kau tidak menghampiri pria-pria kaya di Bar ini? Kudengar dari Uee, banyak yang ingin membelimu. Dengan rok sependek itu, lusinan rok baru bisa kau dapatkan”

Taeyeon mendelik sebal. Kekasih temannya ini dari tadi tidak ada henti-hentinya mengganggu konsentrasinya. Mata sipit itu tidak tahu apa kalau besok dia ada test?

“Kalian berdua tidak pernah akur kalau bertemu” komentar bartender menyuguhi minuman bewarna-warni didalam sebuah gelas antik.

Woobin tersenyum kecil pada si bartender.

“Aku tidak pesan minuman” ketus Taeyeon.

Si bartender mengedipkan mata, “Gratis untukmu, cantik”

“Cih..” Taeyeon meringis jijik. Makin lama dia makin dikelilingi orang-orang aneh. Menyesal juga rasanya tidak menolak Uee saat temannya itu menyuruhnya berkunjung kemari. Marah bercampur kesal Taeyeon menyimpan semua barang-barangnya kembali kedalam tas.

“Kau mau kemana? Kenapa berhenti membaca?” Tanya Woobin.

“Toilet”

“Aku ikut. Uee melarangku meninggalkanmu”

Taeyeon medengus jengkel, “Tolong jangan ikuti aku terus. Kau tidak mungkin mengikutiku ke toilet perempuan hanya untuk menjagaku. Otak mesum”

Taeyeon berdiri, menyisir rambut sekilas dengan jari. Lalu menyodorkan tasnya ke atas meja didepan Woobin. Entah kesialan atau keberuntungan, karena posisinya yang maju ke meja bar, gadis mungil itu jadi bisa melihat sosok berambut hitam—duduk disisi lain tempat duduk Woobin, bertemu tatapan dengannya.

Mata Taeyeon melebar selebar bola pingpong, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan dengan kikuk.

“Hey? Kau sakit, Tae?” sindir Woobin tak biasa melihat gadis yang biasanya terlihat begitu galak jadi sedikit pucat.

“A-aku pergi” ucap Taeyeon singkat, meneguk habis minuman yang disodorkan bartender tadi padanya, lalu secepat kilat menyambar tas dan menerobos kerumunan orang dilantai dansa.

“Hei. Taeyeon-a! Kau bisa diraba-raba lagi kalau pergi sendiri” teriak Woobin pastinya percuma karena Taeyeon sudah tidak terlihat lagi.

“Mau mengejarnya, sajangnim?” bisik Yonghwa menuangkan wine ke gelas Sehun.

“Cih! Apa peduliku”

Taeyeon berlari ke tempat sampah diarea parkiran Bar. Sudah terlambat mencari toilet terdekat, sekarang isi perutnya sudah menyeruak keluar. Lihat! Dia kelihatan bodoh sekarang.

Orang-orang yang melihatnya pasti akan mengira dia muntah-muntah karena minuman keras, bukan karena asam lambung yang naik. Yah, meskipun sebenarnya penyebab asam lambungnya naik juga karena minuman keras.

Taeyeon meringis memegangi perutnya.

Sial. Memang tidak enak memiliki sakit maag. Bukan hanya lambung yang terasa nyeri, tenggorokannya juga terasa ditekan-tekan dari dalam. Bodohnya dia karena terlalu tegang didepan Oh Sehun, jadi menegak habis minuman—pastinya mengandung sedikit alkohol—yang ditawarkan bartender.

“Ini” seseorang menyodorkan tisu padanya dari belakang.

“Terimakasih” sambut Taeyeon mempergunakan tisu untuk menyeka sisa isi perutnya yang dikeluarkan tadi.

“Ambil ini”

Tanpa menoleh, Taeyeon menyambutnya lagi. Sama-sama putih, tapi bukan tisu, melainkan—

Roti lapis?

Taeyeon terkesiap membalik badan kebelakang. Kalau tebakannya benar, yang memberinya roti lapis adalah…

“S-Sehun?”

Sehun berdiri disana. Melipat kedua tangan didepan dada sambil sedikit memiringkan kepala.

“Belum makan siang seperti biasa, hn?”

Entah mengapa, mendadak Taeyeon memerah. Merasa malu karena Sehun masih saja mengingat kebiasaan buruknya yang selalu terlambat makan. Mungkinkah Sehun masih peduli padanya?

Seringai geli muncul dibibir Sehun melihat Taeyeon memerah, “Kenapa? Masih belum mendapatkan laki-laki lain yang mau memberimu uang untuk makan siang?”

Taeyeon mendelik kesal. Beberapa menit yang lalu dia sudah salah sangka mengira Sehun masih peduli, nyatanya pemuda itu hanya ingin memperolok dirinya.

“Urusi saja urusanmu sendiri” desis Taeyeon berniat berbalik pergi, namun pergelangan tangannya sudah ditangkap pria itu.

Dahi Taeyeon berkerut melihat pergelangan tangannya yang ditahan. Benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sifat Sehun. Menit sebelumnya, pemuda itu mengejeknya. Dan sekarang—ia tersenyum padanya.

“Ikut aku” ajak Sehun menarik Taeyeon.

Sebenarnya, ada apa ini?

To be continue

NOTE : Annyeong haseyo, chingu. Selamat datang di chapter 4😊😊. Maaf jika mengecewakan dan maaf jika masih banyak kekurangan. Untuk panjang ff ini, sekali lagi tolong jangan diprotes yaa. Karena setiap chapter-nya sudah memiliki porsi masing-masing.
Umm, mengenai waktu posting, sebenarnya aku mau secepat-cepatnya, namun semuanya kembali kepada readers. Aku menarget 100++ Comments baru aku posting. Jadi, tolong konsisten untuk meninggalkan komentar yaa readers, dengan begitu aku akan konsisten melanjutkan ff ini.

Akhir kata, seperti biasa. DITUNGGU REVIEW & KOMENTARNYA READERS!!
Bye…🤗