MONEY (Chapter 3)

Fiction Collaboration

deeHAYEON with Gyu

Main Cast : Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Jiyeon.

Other Cast : Taehyung, Hyungsik, Yonghwa, Uee, etc.

Genre : Romance, School-life, Hurt

Rate : NC

WARNING : NC Content! Readers harap bijak!! Sorry for typo.

Preview : Prologue + Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2

Three

Entah sudah berapa banyak helaan nafas yang terbuang sia-sia. Taeyeon menatap kedepan—kearah guru Shin yang tengah menerangkan materi Mikrobiologi, seharusnya ia mendapatkan sesuatu dengan melihat apa yang diterangkan gurunya, tapi nyatanya ia tak berpikir apapun yang menyangkut pelajaran. Pikirannya berkelana jauh entah kemana dan otaknya entah tertinggal dimana. Sepertinya ia tak bisa hanya menggunakan mata, tapi ia juga memerlukan otaknya untuk memahami materi membosankan itu. Semua ini karena pertengkarannya dengan Sehun kemarin.

Sehun…

Ah—mengingat nama itu membuat ia makin kehilangan otaknya. Ia menghela nafas lagi dan mengalihkan pandangan keluar jendela. Ia tak bisa belajar. Putusnya dalam hati.

“Hey~ Melamun saja terus!” Tegur Jiyeon yang duduk di bangku depan Taeyeon. Taeyeon melirik sepupunya sekilas lalu membuang muka ke jendela lagi.

“Shin seonsaengnim menyuruh kita menyelesaikan 10 soal di papan tulis itu” tunjuk Jiyeon kearah white board.

“Aku tak bisa belajar, Jiyeon-a. Otakku tidak sedang berada ditempatnya” jawab Taeyeon asal.

“Dasar aneh! Kau menjadi sangat pendiam dan aneh seperti ini semenjak pulang dengan mata merah serta penampilan mengenaskan kemarin. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

“Aku tak mau membicarakannya”

“Apa semua itu ada hubungannya dengan kekasih tuamu?” Tanya Jiyeon semakin membuat Taeyeon lesu.

“Ku bilang aku tak mau membicarakannya, Jiyeon-a. Bisakah kau membiarkan aku saja?”

Jiyeon mendengus, “Aku memang tak peduli padamu. Tapi auramu yang berantakan itu sangat menggangguku, kau perusak suasana kau tahu”

Taeyeon mengipasi lehernya dengan sebelah tangan. Entah kenapa ia merasa gerah, perusak suasana Jiyeon bilang? Bukankah dia yang pengganggu suasana? Jiyeon selalu saja mencari bahan perdebatan dengannya.

“Seonsaengnim!” Taeyeon mengacungkan tangan.

“Ya? Ada yang tidak kau mengerti Kim Taeyeon?”

“Tidak. Aku hanya meminta izin melepas blazer-ku, entah kenapa tubuhku terasa sangat gerah”

“Oh, silahkan”

Setelah mendengar itu, Taeyeon segera membuka blazernya dan menyampirkannya ke kepala kursi. Jiyeon melongo tak percaya.

“Astaga, kau mengecilkan seragammu—lagi?” Tanya Jiyeon. Taeyeon hanya mengangkat bahu.

“Ku kira kau membeli seragam baru untuk mengganti seragammu yang kehilangan kancing itu, tapi ternyata—Oh Tuhan….Taeng”

“Aku pandai menjahit, Jiyeon-a. Jadi kau tak perlu khawatir. Lubang kancing seragamku hanya sobek, jadi aku mengguntingnya dan membuat lubang kancing yang baru. Dan kancing-kancing yang terlepas sudah aku ganti dengan yang baru. Jadi tak perlu membuang uang untuk membeli seragam yang baru” jelas Taeyeon dengan muka biasa-biasa saja padahal penampilannya ini luar biasa akan mengundang lelaki manapun untuk menyentuhnya. Katakanlah Taeyeon yang mungil dan sedikit pendek. Tapi semua itu tak memungkiri bahwa ia memiliki tubuh yang seksi dan dengan pakaian seragam ketatnya membuat ia terlihat sangat nakal.

“Padahal kau mampu membeli selusin seragam musim semi sepertiku tanpa bersusah payah” gerutu Jiyeon, dan ia menghela nafas menyerah ketika mendapat sinyal dari si gadis mungil bahwa ia tak mau memperpanjang perdebatan, “Ohh, terserahlah. Pastikan kancing di dadamu itu tak akan lepas lagi” tambah Jiyeon.

Taeyeon melihat kancing seragam dibagian dadanya, dan dari situlah ia bisa melihat betapa ketatnya seragam yang membalut tubuhnya sekarang. Tapi siapa peduli? Mungkin orang-orang akan peduli, terutama kaum laki-laki yang seperti mendapat pemandangan gratisan, tapi ia sangat tidak peduli.

Jiyeon adalah gadis yang selalu ingin tampil sempurna, meskipun harus berjam-jam sibuk menyisir serta memperbaiki make up disana-sini, asalkan penampilannya terpantul sempurna dikaca rias, dia rela kehilangan banyak waktu. Meskipun terlihat begitu sibuk, ekor matanya sekilas melirik Taeyeon yang berbaring malas ditempat tidur.

“Kau tidak pergi berkencan dengan kekasihmu, Taeng?” Tanyanya.

“Diam!” gerutu Taeyeon membenamkan wajahnya kebantal. Ini adalah malam minggu kedua Jiyeon menanyakan hal serupa padanya, karena malam minggu sebelumnya pun ia habiskan dengan bermalas-malasan di tempat tidur.

“Ini kan malam minggu, biasanya kalian suka bertemu pada jam malam begini”

Benar kan? Selalu itu yang dikatakan Jiyeon.

Jiyeon melirik Taeyeon lagi. Sepertinya gadis mungil itu belum mau bercerita apapun tentang masalahnya. Dia tahu, hubungan Taeyeon dengan kekasihnya sedang bermasalah. Kalau Taeyeon tidak menutup diri dan mau bercerita, Jiyeon rela membatalkan kencan demi mendengar keluh kesah sepupunya itu. Tapi, begitulah Taeyeon. Keras kepala. Dengan berat hati, Jiyeon meraih tasnya dan meninggalkan Taeyeon sendirian lagi malam minggu ini.

“Hhh… ya sudah. Aku pergi kencan dengan Taecyeon oppa dulu ya”

“Taecyeon?” Tanya Taeyeon seraya menoleh, “Mana Kim Jongin?”

“Sudah kubuang ke tong sampah” balas Jiyeon dengan muka jengkel. Taeyeon sedikit terhibur.

“Dasar play-girl!”

Jiyeon cekikikan lalu mengangkat bahu tak peduli.

“Aku pergi” pamit Jiyeon untuk yang terakhir kalinya sebelum pintu kamar tertutup dan menyisakan Taeyeon seorang diri.

Taeyeon mendesah berat memandang ponsel yang tergeletak manis disebelahnya. Sejak pertengkarannya dengan Sehun, hari terasa berjalan lebih cepat dari perkiraan Taeyeon. Dua minggu. Selama itu juga Sehun tidak pernah sekalipun menghubunginya. Sehun bukan tipe seperti itu, pemuda itu selalu tidak tahan bila disuruh menunggu lama. Dalam seminggu saja mereka bisa bertemu lebih dari empat sampai lima kali. Tapi sekarang?

Ini salahnya karena menolak Sehun tempo hari. Tidak, tidak… Sehun juga patut disalahkan karena sudah menyinggung perasaannya. Meskipun begitu, Sehun kan laki-laki, seharusnya makhluk berkromosom XY itu bersikap lebih gentle dengan meminta maaf lebih dulu. Mentang-mentang hanya perempuan yang lebih mementingkan perasaan, laki-laki juga sekali-kali harus berpikir seperti perempuan. Kaum perempuan hanya meminta pengertian, bukannya menyuruh semua laki-laki menjadi perempuan. Menyebalkan! Sampai kapan mereka berdua harus mempertahankan sikap egois seperti ini.

“Dia masih marah ya?”

“Berhentilah memandangi ponselmu, Oh”

Sehun tersentak dari lamunannya, matanya datar melirik asisten sekaligus orang kepercayaan yang hampir tujuh tahun ini begitu setia mendampinginya memimpin OH Group. Asisten yang begitu kaku, anehnya pemikirannya begitu tajam seakan bisa membaca isi kepala orang lain. Mengerikan. Dan Sehun sudah menganggap orang mengerikan itu sebagai sahabatnya.

“Jangan asal bicara, Yonghwa-ssi” gertak Sehun.

“Hhh, jelas-jelas tatapanmu hampir melubangi ponsel itu”

Sehun menempelkan pipinya pada telapak tangan yang sikunya telah bertumpu pada pegangan kursi. Setelah mengerjapkan mata sekali, Sehun mendesah lelah, memikirkan semua yang sudah terjadi belakangan ini.

Yonghwa berjalan menghampiri meja kerja Sehun, diperiksanya satu per satu tumpukkan laporan yang seharusnya sudah memiliki tanda tangan Sehun didalamnya. Walaupun Sehun orang yang teliti, tidak ada salahnya memeriksa kembali. Apalagi atasannya itu sedang dalam suasana hati yang rumit, jangan-jangan karena begitu sibuk melamun tangan atasannya jadi menandatangani kontrak yang bisa membuat OH Enterprise Holdings Inc. bangkrut seketika.

“Jangan menjadi pihak yang menunggu, sajangnim. Kalau kau rindu, ajak bertemu. Kalau kau bosan, ya tinggal cari yang lain. Dengan uang dan jabatanmu, setiap wanita akan menyembah padamu” ucap Yonghwa.

“Hubungan kami sepertinya agak kacau belakangan ini”

Sesuai dugaan, pasti si gadis mungil milik Sehun yang membuat atasannya ini begitu uring-uringan. Jangan salahkan dirinya, karena Sehun tidak pernah mendengarkan ketika ia menasehati bahwa dia sudah seperti pedofil meniduri gadis yang masih sekolah.

“Aku tidak heran. Hampir satu tahun, yang dilayaninya ditempat tidur cuma kau. Aku yakin dia mulai merasa bosan. Namanya juga anak-anak”

“Tidak seharunya Taeyeon merasa bosan, aku selalu memberi banyak perhatian”

“Perhatian atau uang?” Timpal Yonghwa, “Menurut semua buku yang kubaca, perempuan bukan hanya butuh uang dan seks, ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Sama seperti perempuan yang lebih menyukai banyak foreplay dalam seks. Disana saja sudah terlihat bedanya perempuan dan laki-laki”

“Sudah kubilang, aku perhatian padanya!” Sehun bersikeras, “Aku bukan hanya memberinya uang, aku juga selalu menelepon”

“Heh, menelepon? ‘Hello, girl! Wanna fuck with me?‘ Apakah itu yang kau sebut menelepon?”

Rahang Sehun mengeras, “Ck, diam!”

“Kau tidak benar-benar menyuruhku diam” balas Yonghwa santai, “Kau membutuhkan semua nasehatku karena otakmu bahkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya”

“Tapi sejak tadi yang kau katakan bukanlah nasehat, tapi sindiran!”

“Terserah apa katamu. Aku berharap kau tidak menjadi kacau memimpin OH Group—hanya karena seorang gadis kecil”

“Aku tidak akan kacau. Cepat atau lambat, Taeyeon pasti menghubungiku kalau butuh uang” ujar Sehun yakin.

“Kita lihat saja nanti, pedofil” seringai Yonghwa.

“Sudah dua minggu, Taeyeon-a” ujar Taehyung memasukkan tangan ke saku celana, “Seorang laki-laki selalu memiliki gengsi yang tinggi, sebaiknya kau yang menelepon lebih dulu”

“Tidak akan! Aku bukan pelacur pribadinya”

“Kau memang bukan, tapi kau salah satu diantaranya. Dia pasti menganggapmu begitu” Taehyung menyeruput moccachino-nya dan Taeyeon meneguk jus apelnya banyak-banyak.

“Itu yang tidak kumau darinya, Taehyung-a. Aku ingin Sehun menganggapku sebagai kekasih yang nyata, bukan cuma di tempat tidur”

“Kalau kau ingin citra seperti itu, seharusnya kau tidak memperkenalkan diri sebagai gadis ditempat tidur pada awalnya”

Taeyeon menggembungkan pipi, “Huh! Kau berbicara seperti aku akan mendapatkan uang dengan hanya memperkenalkan diri padanya. Kau tahu, uang sangat berarti untukku sekarang ini”

“Aku tahu. Makanya kubilang kau tidak berhak marah ketika kekasihmu itu mulai mengingatkan kalau kau bisa bersamanya karena dihargai dengan uang. Baginya harga dirimu tak lebih dari sekedar tumpukan uang. Atau kalau kau ingin lebih dihargai olehnya, ceritakan kemana perginya semua uang yang sudah diberikannya selama ini. Kurasa dengan begitu dia akan tahu nilaimu lebih berharga bahkan dari semua aset yang dia punya” ujar Taehyung.

“Aku tidak bisa. Aku tidak ingin diakasihani olehnya” balas Taeyeon lemas.

“Kau tidak bisa menuntut apapun kalau begitu” Taehyung menyeruput minumannya lagi dan mengangkat bahu, “Dia akan memakai tubuhmu, dan berakhir dengan uang. Dan jangan mengharapkan lebih”

Taeyeon menatap Taehyung dengan sayu, “Lalu—bagaimana dengan kemauan anehnya yang melarangku tidur dengan laki-laki lain? Aku tidak akan menjadi kacau seperti ini kalau sejak awal Sehun membiarkanku tidur dengan laki-laki lain. Dengan begitu, aku akan selalu ingat kalau aku ini sama artinya dengan pelacur”

Taehyung mengusap wajahnya. Semua pemikiran dan pendapat telah ia curahkan untuk mempermudah Taeyeon mencari pandangan, sayangnya tetap saja tidak mudah karena Taeyeon hanya mendengarkan dari satu pihak saja.

“Masuklah” dari banyaknya isi pemikiran, akhirnya hanya itu yang bisa Taehyung ucapkan. Pembicaraan mereka ternyata telah memakan banyak waktu, hingga tanpa sadar mereka telah sampai didepan rumah Taeyeon. Taehyung membuang gelas kertas moccachino-nya ke tong sampah.

Taeyeon mengangguk lemah dengan tangan menggenggam erat gelas kertas jus apelnya, melambai tangan sebentar, baru masuk kerumah.

“Aku pulang!” seru Taeyeon sedikit bingung dengan kondisi rumah yang sepi.

“Ayah… Ibu…?”

Hening.

Satu per satu ruangan Taeyeon periksa. Hah? Benar-benar kosong. Kemana perginya semua orang?

“Taeng-a!” seru Jiyeon berhambur memasuki rumah.

“A-ada apa?” Tanya Taeyeon begitu Jiyeon menemukannya diruang tengah.

“Ayo kita kerumah sakit!”

Dahi Taeyeon mengernyit, “Untuk apa?”

“Barusan Dongwon-jussi menelepon, katanya kondisi ahjumma sudah sangat parah”

“Apa?!”

Taeyeon menggertakkan gigi menunggu diruang tunggu rumah sakit, Jiyeon yang ikut menunggu sejak tadi sibuk mondar-mandir, sama sekali tidak membantu mengurangi kepanikan.

“Mana sih ahjussi?” gerutu Jiyeon, “Sudah lima belas menit dia masuk keruang dokter, kenapa sampai sekarang belum keluar juga? Yang mau dioperasi itu kan Hyerim-jumma, bukan dia!”

“Berhenti mondar-mandir, Jiyeon-a!” kesal Taeyeon mulai terbawa suasana panik. Tapi Jiyeon tak mempedulikan Taeyeon, kakinya masih saja terus sibuk bergerak kesana-kemari. Wajah Taeyeon merengut kesal, untunglah Dongwon langsung muncul, kalau tidak Taeyeon sudah mengikat Jiyeon dikursi tunggu.

“Apa kata dokter, ahjussi?” serbu Jiyeon menghampiri Dongwon diikuti Taeyeon dibelakangnya.

Dongwon menggeleng pelan, terlihat putus asa, “Kalian berdua, temani Hyerim dirumah sakit. Aku harus keluar mencari uang”

“Untuk operasi ibu?” tebak Taeyeon. Dongwon mengangguk.

“Memangnya uang ahjussi tidak cukup?” Tambah Jiyeon.

“Tidak, Jiyeon. Operasi transplantasi ginjal membutuhkan biaya besar. Aku akan mencoba meminjam dari kerabat terdekat, kalian baik-baik disini” pesan Dongwon sebelum meninggalkan kedua gadis itu.

“Ini tidak bisa dibiarkan” ucap Jiyeon, “Taeng, kau tunggu disini ya. Aku akan menelepon Hyungsik oppa dulu. Siapa tahu oppa bisa memberiku uang”

Jiyeon pergi meninggalkan Taeyeon tanpa persetujuan dari sepupunya itu. Tinggal lah gadis mungil itu sendirian berada di koridor ruang tunggu rumah sakit.

Apa yang harus ia lakukan?

Disaat ayah dan sepupunya sibuk mencari uang, tidak seharusnya dia hanya duduk diam menunggu. Sebagai anggota keluarga, seharusnya dia juga ikut mencari uang. Tapi—darimana dia bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat? Kepala Taeyeon tersentak kedepan. Dia tahu jawabannya. Kemana dia harus pergi untuk mendapatkan uang. Hanya satu orang itu.

‘Sehun,’ batin Taeyeon cepat mengambil ponsel disaku roknya.

Tapi…

Tangan Taeyeon berhenti ketika hampir menekan tombol panggil. Bagaimana dia bisa meminta uang? Bukankah Sehun sedang marah padanya? Terlebih lagi, dia telah menolak permintaan Sehun terakhir kali. Harus bagaimana ini?

Kelihatannya tidak ada jalan lain.

Segenap keberanian, Taeyeon akhirnya menekan tombol panggil. Menunggu suara Sehun menyahut diseberang. Alis Taeyeon mengernyit, menjauhkan ponsel dari telinganya, “Apa-apaan ini? Mail box? Sejak kapan Sehun mempunyai kebiasaan mematikan ponsel?”

Taeyeon mondar-mandir untuk mengulur waktu, setelah merasa cukup, ditekannya lagi tombol panggil. Masih Mail box.

“Ini yang terakhir, Oh!” geram Taeyeon menekan tombol panggil untuk ketiga kalinya.

Kembali terhubung ke Mail box.

Taeyeon menyerah. Memang salahnya kalau Sehun tidak mau menerima telepon darinya lagi. Akhirnya gadis itu hanya meninggalkan pesan, lalu pergi dari rumah sakit untuk mencari uang ditempat lain.

“Lima puluh juta?” ulang seorang pria berperawakan tinggi besar dengan sedikit uban dirambutnya. Mata kelam pria tua itu memandang kesal pada kedua gadis yang berdiri manis didepannya.

“Kau gila, Uee-ssi?!” bentaknya menggebrak meja. Meskipun bunyi musik disko memenuhi penjuru ruangan, gebrakan meja barusan berhasil membuat Taeyeon terlonjak kaget. Bersyukur ia tidak memiliki riwayat penyakit darah tinggi, kalau tidak sudah dipukulnya kepala beruban si pria tua itu.

“Jangan marah dulu, boss” bujuk Uee, “Lihatlah temanku ini, dia masih Senior High School…”

Mata hitam si pria tua terus mengamati Taeyeon dari ujung kaki hingga kepala. Ada kalanya dibagian tertentu matanya akan memandang cabul, mengirimkan sensasi mual diperut Taeyeon. Sungguh mata itu terasa menelanjangi dirinya walaupun tidak melakukan apa-apa. Entah fantasi erotis apa yang dibayangkan si tua bangka itu pada tubuh Taeyeon.

“Lima belas juta. Hanya segitu yang bisa kutawarkan padanya” si pria tua menghisap cerutu sekali lalu menghembuskannya, “Itupun kalau dia masih perawan. Kalau tidak perawan lagi, harganya lima juta”

“Orang kaya, tapi pelitnya minta ampun” celetuk Taeyeon.

Si pria tua mendelik tajam, “Apa kau bilang?!”

“E-eh, dia tidak bicara apapun!” seru Uee dengan tangan membekap mulut Taeyeon, “Sudah ya, boss. Kami cari yang lain saja”

“Cih! Dasar gadis pelacur!” makinya hampir membuat Taeyeon naik darah, beruntung Uee cepat-cepat menyeretnya ke sudut ruangan—menjauhi meja pria tua itu.

“Sesak, eonni!” Protes Taeyeon menyingkirkan tangan Uee yang membekap mulutnya. Apa Uee tidak sadar kalau tangannya itu bau minuman beralkohol? Bisa-bisa dia pingsan terbius.

“Sudah kubilang…sekalipun kau jangan bicara yang jelek-jelek kalau mau dibeli oleh mereka. Laki-laki tadi adalah yang ke-12, dan satupun tidak ada yang mau membelimu karena kau lebih terlihat seperti orang yang mau mengajak berkelahi, bukannya menawarkan diri” omel Uee.

“Mereka semua payah! Kuakui mereka memang kaya, tapi lihatlah tampang mereka! Sudah kakek-kakek, masih saja pelit. Sehun—yang tidak setua mereka—saja mau memberi lima belas juta dalam sekali tidur”

“Lalu kenapa kau tidak tidur dengannya saja, hn?” kesal Uee.

“Sudah kubilang berkali-kali, nomornya tidak aktif!” jerit Taeyeon kian terganggu dengan suara bising musik disko.

Uee memandang sekeliling ruang Bar. Sekarang siapa lagi laki-laki yang harus didatangi mereka. Kedua belas laki-laki sebelumnya adalah orang paling kaya dari semua pengunjung Bar.

“Sekarang bagaimana caranya kau mendapatkan uang? Laki-laki terakhir adalah yang paling tertarik denganmu” keluh Uee, “Coba kau mau bersabar melakukan penawaran, mungkin ia akan mau sedikit mengambil uang istrinya yang jelek itu”

“Lebih cantik mana, aku atau istrinya?” Tanya Taeyeon tiba-tiba.

Uee tergelak, “Kau bercanda, Taeyeon-a? Istrinya itu sudah sangat keriput, pemarah pula. Kau seribu kali lebih cantik darinya”

Taeyeon melirik sekilas meja pria yang baru ia singgahi bersama Uee. Benar-benar mata keranjang, pria tua beruban itu masih memandangi tubuh Taeyeon meskipun dari jarak jauh, “Apakah benar si tua itu tertarik padaku?”

Uee mengangguk.

“Apakah dia bisa memberiku lebih dari lima belas juta?” Taeyeon masih menatap pria itu.

“Bisa. Kalau kau mau sedikit bersabar”

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepala, “Oke!”

“Apanya yang oke?”

Taeyeon tidak menjawab apapun, dia hanya mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menyerahkannya ke tangan Uee. Dia baru sadar semenjak dari rumah sakit, ia sama sekali belum mengganti seragamnya dengan pakaian biasa. Untung Bar ini adalah milik Uee, jadi dia bisa leluasa keluar masuk meskipun mengenakan seragam sekolah.

“Tolak semua orang yang sudah kita tawari tadi, kalau mereka menelepon kembali. Jual saja ponselku ini, lalu berikan uangnya pada Jiyeon. Dia akan segera tahu uangnya harus diapakan” ujar Taeyeon.

“Hey, kau mau kemana?” Tanya Uee bingung.

“Aku akan kembali ke pria tua tadi”

“Perlu kutemani?”

Taeyeon menggeleng pelan.

“Semoga berhasil!” Uee mengepalkan tangan keudara.

Taeyeon menyeringai, “Tentu, aku akan berhasil”

“Hari ini kau semakin kacau”

Sehun mendengus jengkel, langkah kakinya semakin cepat meninggalakan Yonghwa.

“Bukan karena gadis itu kan, sajangnim?”

“Diam!” bentak Sehun membanting pintu apartemennya hingga tertutup, meninggalkan Younghwa sendirian berdiri diluar sana.

Langkah kakinya yang panjang langsung menghampiri meja bar kecil di sudut ruangan. Diambilnya sebotol minuman beralkohol secara acak dari lemari penyimpanan, menuangkan kedalam sloki, lalu meneguk habis semua isinya. Bunyi dentingan gelas yang bersentuhan dengan meja bar kaca terdengar ketika gelas kedua dituang. Yonghwa benar. Ia memang kacau beberapa hari belakangan ini. Jangan salahkan dirinya karena begitu terganggu dengan seorang gadis. Apa hebatnya gadis mungil itu? Sudah pendek, dadanya rata, seksi saja tidak—tidak! Gadis itu memang seksi untuk ukuran remaja sepertinya. Tapi tetap saja tak sebanding dengan gadis-gadis diluar sana yang mau bersujud di kaki seorang Oh Sehun. Mana ada gadis yang mengabaikannya, dia Oh Sehun. Presiden Direktur sekaligus pemilik perusahaan bertaraf internasional—OH Enterprise Holdings Inc. Kalau ia mau, gunung Fuji pun bisa ia miliki.

Sementara dia—Kim Taeyeon, hanya gadis biasa dan tidak istimewa. Hanya karena si pendek itu selalu memberikan pelayanan fantastis ditempat tidur, gadis itu bisa seenaknya saja bersikap acuh tidak menghubunginya selama hampir setengah bulan. Kemana sih sebenarnya Taeyeon itu? Kenapa tidak menghubunginya? Apakah mungkin Taeyeon bosan padanya? Seharusnya kata bosan hanya boleh terucap darinya. Bukan dari si iblis kecil perayu itu.

Benar. Taeyeon seperti iblis kecil. Tinggal ditambah tanduk dan ekor ala seorang iblis penggoda, lengkaplah sudah. Bahkan tanpa bisikan rayuan atau cambukan se-ekstrim apapun, Sehun pasti akan langsung berlutut ketika mata si iblis mungil itu mengerling nakal padanya.

Sial. Sehun merasa dirinya benar-benar tunduk pada seorang iblis kecil.

Sehun cepat-cepat meraih ponsel disaku celana, “Ini kesempatan terakhirmu, iblis kecil!” Gumam Sehun seraya menekan tombol power ponselnya.

Ada!

Dilayar ponsel tertera bahwa ada satu Mail box dari Taeyeon. Entah kenapa hati Sehun langsung berlonjak senang. Cepat-cepat pemuda itu mendengarkan pesan yang ditinggalkan Taeyeon seperti anak kecil yang mendapat kado natal.

Sehun-a, tidak ada waktu untuk marah dan mengabaikan panggilanku. Aku butuh uang. Kalau kau tidak segera menghubungiku, aku akan mencari ditempat lain

Sehun memandang horror pada ponselnya, “Sialan! Lagi-lagi karena uang kau menghubungiku, bukannya karena rindu!”

“Aarghh!” geram Sehun membanting ponselnya jauh-jauh ke sudut ruangan, “Persetan denganmu! Cari saja ketempat lain!”

Mau tahu, apa yang dikatakan seorang pelacur bila ditanya bagaimana cara merayu pria? Mereka pasti akan tertawa, dan berkata bahwa merayu itu mudah. Asal incaran sudah tertarik dengan fisik kita, langkah berikutnya pasti akan mulus. Memang begitu kenyataannya. Buktinya pria-tua-besar ini berubah dari yang sebelumnya membentak dan memaki Taeyeon gadis pelacur, sekarang sudah bersedia memberikan uang sebesar tiga puluh juta hanya dalam sekali menawar.

Si mungil—Taeyeon mengangguk-anggukkan kepala mengamati isi kamar hotel. Kamarnya memang tidak se-elit hotel-hotel bintang lima sewaan Sehun, tapi lumayan lah. Setidaknya dia tidak perlu melakukan seks di mobil atau motel murahan. Wow! Jadi ceritanya sekarang Taeyeon adalah wanita penghibur kelas atas?

Cukup hebat! Tapi menjijikan. Meskipun tergolong kelas atas, tetap saja pelacur. Yaitu, wanita murahan. Dari suku kata penyebutan sopannya saja sudah dicantumkan label ‘murahan’. Taeyeon mendengus ketika tangan si pria tua menyisip masuk kedalam kemeja seragam sekolah ketika memeluknya dari belakang.

“Nah… kuncing manis” lidahnya sedikit menyentuh belakang telinga Taeyeon, “Mari kita bersenang-senang”

Taeyeon melepaskan pelukannya, cukup merasa jijik melihat si tua bangka itu memandangi tubuhnya seperti hewan kelaparan.

“Tidak sabaran ya?” Taeyeon menyeringai menghadapi sang klient, “Tunjukkan dulu uangku”

“Cih, kau pikir aku ini penipu apa?” dengusnya mengeluarkan selembar cek yang sudah ditanda tangan dan tercantum angka tiga puluh juta didalamnya.

“Lihat! Kau puas?” tanyanya meletakkan cek di atas meja kecil dekat tempat tidur.

“Sekarang—” jari-jari pria itu mengusap pelan pundak Taeyeon, “Tunjukkan pelayananmu”

Taeyeon memutar bola matanya bosan. Jari-jarinya yang mungil langsung membuka serta menurunkan kemeja dan blazer sekolah bersamaan kelantai, menyisakan tanktop hitam menutupi tubuh atasnya dan selembar rok mini dibagian bawahnya. Spontan si pria tua langsung terengah-engah. Taeyeon mencibir, benar-benar reaksi pria itu terlihat seperti seekor anjing kelaparan. Tanpa melepas kaos kaki hitamnya, Taeyeon naik ke atas tempat tidur dan berbaring telentang. Klientnya masih berpakaian lengkap, tetapi dia langsung menindih tubuh mungil Taeyeon, membuat perut gadis itu sedikit tertekan perut buncit si pria tua itu. Jelas posisinya begitu tak mengenakkan bagi Taeyeon, tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan kecemasan yang tengah melandanya. Bayangkan, untuk pertama kalinya dia akan berhubungan seks dengan pria—selain Sehun. Boleh dibilang semuanya semakin terasa menjijikan sejak awal.

Pria itu mengangkat tubuh dengan bertumpu pada satu tangan, tangan lainnya mulai dipergunakan untuk meraba-meraba bagian dalam rok Taeyeon, kukunya sangat tajam hingga menggores kulit Taeyeon. Tentunya secara refleks Taeyeon menghentikan tangan itu untuk bergerak lebih jauh, namun bayangan akan ibu angkatnya yang terbaring lemah dirumah sakit membuat gadis mungil itu merelakan tangan pria tua itu bergerak kembali. Disaat bersamaan terdengar dentingan ikat pinggang serta tarikan resleting celana.

A… Rupanya pria tua itu begitu tak sabaran.

Taeyeon medesah berat menunggu klientnya menurunkan celana miliknya sendiri. Sayangnya desahan itu disalah artikan oleh si pria tua sebagai ekspresi gairah, mendadak saja dia langsung tak mementingkan lagi celana yang belum turun sepenuhnya, ia lebih mementingkan celana dalam Taeyeon agar benar-benar terlepas.

Waktu seakan berputar kembali untuk Taeyeon. Rasanya seperti kembali pada malam pertama kali dirinya berhubungan dengan Sehun. Benar-benar waktu yang sama dan juga hari yang sama pula, serta ketakutan yang sama. Tidak ada yang tahu bahwa malam itu dia begitu ketakutan, bahkan Sehun sendiri juga tidak tahu. Yah—memang itulah ciri khas Taeyeon, dalam keadaan ketakutan wajahnya malah berubah datar dan berekspresi kosong. Entah darimana datangnya keahlian itu?

Bunyi kunci pintu yang diputar tiga kali dari luar membuat semua pergerakan pria yang menindih Taeyeon berhenti. Sebelum semua terjadi lebih jauh, mereka secara serentak menoleh ke pintu. Sesuatu terjadi diluar dugaan. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki berambut hitam mengenakan jas. Berkulit putih. Sontak Taeyeon menjerit kecil dan menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya.

To be continue