Beautiful Lies (Chapter 6)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY        

 

 

 

“Eomma!” seru Lauren girang ketika kedua matanya yang teduh menangkap sosok Taeyeon, yang sudah berdiri di depan pintu gedung sekolah sambil melambaikan tangan kanannya dengan ceria ke arah Lauren.

Lauren melepas genggaman tangannya dari salah seorang gurunya dan berlari kencang menuju Taeyeon. Tahu kalau anaknya akan melemparkan dirinya ke dalam pelukan sang ibu, Taeyeon merentangkan kedua lengannya dan menyambut hangat gadis kecil itu. Lauren menubruk tubuh mungil Taeyeon dan mengalungkan lengan kecilnya pada leher Taeyeon. Tak lupa juga ia mengecup pipi kanan dan kiri Taeyeon.

“Bagaimana harimu di sekolah, boo?” tanya Taeyeon pelan. Ia melepas pelukan putri kecilnya lalu mereka berdua beriringan menuju ke gerbang sekolah.

“Luar biasa, seperti biasanya!” jawab Lauren. Ia mengacungkan ibu jari kanannya pada Taeyeon, membuat Taeyeon tertawa kecil dan ia hanya mengacak-acak rambut lembut Lauren dengan sayang.

“Tak perlu diragukan lagi kalau begitu,” balas Taeyeon.

“Apa eomma tidak datang bersama dengan Yong ahjussi hari ini?” tanya Lauren saat mereka berdua sudah duduk di sebuah halte bus. Halte itu kosong, hanya ada mereka berdua. Tapi Taeyeon menggendong tubuh Lauren dan mendudukkan gadis belia itu dalam pangkuannya.

“Aniya,” jawab Taeyeon dengan suaranya yang lirih dan bergetar di saat yang bersamaan. Ia menyisiri rambut Lauren dengan menggunakan jari-jari tangannya. “Kita tidak bisa selamanya bergantung pada ahjussi, bukan hanya ahjussi, semua orang. Kita tidak bisa selamanya menggantungkan harapan kita pada orang lain. Terkadang, diri kita sendirilah yang harus kita andalkan dalam siatuasi apapun. Apakah kau paham?”

“Eomma selalu mengajarkan hal itu padaku, mana mungkin aku tidak paham,” jawab Lauren. Ia menyandarkan punggungnya ke dada Taeyeon. “Tapi apa hubungannya dengan Yong ahjussi, eomma?”

“Ada hubungannya,” jawab Taeyeon. “Kau tidak bisa terus-menerus berharap ahjussi yang menjemputmu, mengajakmu jalan-jalan dan bermain. Dia hanyalah teman dari teman eomma. Kami tidak terlalu dekat dan tidak sopan jika kita terus menyusahkan ahjussi. Ahjussi punya dunianya sendiri, punya kehidupannya yang harus ia jalani sendiri. Itu sebabnya, jangan menaruh harapan besar pada Yong ahjussi untuk bisa bertemu dengannya setiap hari,”

“Aku juga tidak bisa berharap bertemu dengannya? Walaupun hanya sesekali?” tanya Lauren pada Taeyeon. Ia menegakkan tubuhnya dan beranjak dari pangkuan Taeyeon. Gadis menggemaskan itu memghadapkan wajahnya pada Taeyeon.

“Kurasa begitu, karena eomma juga sudah tidak bekerja di kondonya lagi,”

“Waeyo? Eomma dan ahjussi bertengkar?” tanya Lauren bingung dengan kedua bola matanya yang terbelalak tak mengerti.

Taeyeon terdiam untuk beberapa detik. Hatinya kembali nyeri, sakit jika ia mengingat kejadian yang baru saja ia alami di kondo Jiyong. Tentang pertengkaran mereka.

“Ahjussi punya seorang yeochin. Yeochin-nyalah yang akan menggantikan eomma. Kalau eomma ada di sana, apa yang akan eomma lakukan kalau semua pekerjaan eomma dikerjakan oleh pacar Yong ahjussi? Jadi, eomma hanya akan bekerja dengan Bae ahjussi saja,” jelas Taeyeon.

“Bae ahjussi juga sudah punya yeochin,” tanggap Lauren.

“Ne, tapi Hyorin imo tidak mengerjakan pekerjaan eomma, jadi eomma merasa aman,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum lebar hanya untuk meyakinkan Lauren kalau semua yang ia katakan itu adalah benar.

“Yong dan Bae ahjussi adalah teman dekat. Kalau eomma sedang bekerja di kondo Bae ahjussi, tidak bisakah dia menghubungi Yong ahjussi? Aku akan berada di kondo Bae ahjussi juga! Bersih-bersih kamar mandi seperti dulu saat weekend?” tawar Lauren.

Taeyeon diam tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas panjang dan membelai-belai rambut dan kedua pipi gembil Lauren dengan sayang. Senyuman kecil dan tatapan sendu terpancar di wajah cantik Taeyeon.

“Tidak bisakah, eomma?” tanya Lauren lagi.

“Kau sangat ingin bertemu dengan Yong ahjussi, eoh?” Taeyeon balik bertanya.

“Ahjussi sudah menjadi sahabatku,” jawab Lauren tulus. “Sahabatku, kakakku, pamanku, dan… ayahku,”

“Laurennie, kau sudah memiliki appa,” ujar Taeyeon.

“Arra. Eomma mianhae, tapi aku merasa memiliki sosok ayah yang sangat menyenangkan, yang begitu baik dan perhatian padaku, yang selalu membuatku tertawa saat pertama kali aku mengenal Yong ahjussi. Bae ahjussi juga memperlakukanku dengan sangat baik, tapi Yong ahjussi membuatku merasa lebih istimewa. Aku sempat berfikir, ‘ah, mungkin seperti inilah rasanya jika memiliki sosok ayah’. Aku jadi merasakan apa yang teman-temanku rasakan ketika mereka dipeluk oleh ayah mereka saat aku dipeluk oleh Yong ahjussi. Aku tidak pernah memberitahukanmu soal ini, eomma. Aku takut kau akan kecewa denganku yang lebih nyaman menganggap orang lain seperti appaku sendiri,” ungkap Lauren. Wajahnya yang memerah karena menahan tangis tertunduk dalam saat Taeyeon hanya menatap putrinya dalam-dalam.

“Gwaenchannayo, baby. Gwaenchanna,” gumam Taeyeon. Ia mengangkat dagu Lauren dan tersenyum penuh ketulusan. “Setidaknya kau sudah bisa merasakan kehangatan seorang appa, ‘kan? Percayalah pada eomma, jika kau bertemu dengan appa-mu yang sesungguhnya, kau jauh akan lebih mencintainya daripada Yong ahjussi. Lauren appa akan memberikan rasa kasih sayang yang jauh lebih baik dari siapapun di dunia ini, bahkan dia akan rela memberikan hidupnya untukmu seorang.

“Itu sebabnya, jebal. Maukah kau untuk sekarang ini hanya menatapku? Hanya percaya dan berharap padaku sebelum ayahmu benar-benar muncul. Bisakah untuk saat ini kau menganggapku sebagai eomma dan appa sekaligus? Hanya eomma, tidak ada yang lain. Bisa? Appa pasti merasa sedih jika orang lain yang bukan siapa-siapa kita, kau anggap appa. Appa tengah berjuang di suatu tempat untukmu dan maukah kau juga berjuang untuk tetap bersabar sampai hari di mana kalian bisa selamanya bersama tiba?”

“Apakah aku tidak boleh, benar-benar tidak boleh bertemu sekali saja dengan Yong ahjussi?” tanya Lauren dengan wajah sendu. Taeyeon merasa jahat sekali, merasa sangat bersalah dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh anaknya tersebut. Ia merasa seperti seseorang yang menjauhkan seorang anak dari ayahnya.

“Yong ahjussi adalah orang yang sangat sibuk, tapi kau bisa bertemu dengannya. Eomma akan meminta Bae ahjussi untuk menghubunginya dan memintanya untuk bertemu denganmu saat dia ada waktu luang,” jawab Taeyeon akhirnya setelah sekian menit ia terdiam hanya untuk mencari jawaban yang tepat.

“Jinjjayo, eomma?! Jeongmalyo?!” seru Lauren girang. Taeyeon hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Namun, Lauren dapat melihat kedua mata bening ibunya tampak berkaca-kaca. “Eomma, karena appa belum juga datang untuk menjemput kita, aku akan tetap menganggapmu sebagai eomma dan appa sekaligus. Walaupun aku sempat menganggap Yong ahjussi layaknya seorang ayah, tapi untuk sekarang tidak lagi, yaksok. Aku tidak akan membuat siapapun kecewa, termasuk appa. Karena aku pasti sedih jika appa menganggap orang lain adalah anaknya,”

Taeyeon tersenyum lagi dan kali ini ia tidak dapat menahan air matanya lebih lama lagi. Gadis itu pun akhirnya membawa tubuh mungil Lauren ke dalam dekapan hangatnya dan membelai lembut surai cokelatnya.

“Appa akan kembali, percayalah. Dia akan datang menjemput kita, dan kita akan ikut bersamanya. Ke tempat yang lebih baik,”

~~~

“Dari awal aku memang tidak pernah bisa percaya padamu, Yongie-ah. Jinjjaro,” tukas Hyorin dengan wajah kesalnya. Ia mengetuk-ngetukkan meja persegi yang ada di hadapannya sambil menatap Jiyong dengan pandangan dan aura siap membunuh. Sedangkan Jiyong hanya menghela nafas kasar dan menyesap red wine-nya. Ia mengalihkan pandangannya dari Hyorin dan memilih menatap langit senja di balik jendela kondo Youngbae yang mewah.

Setelah Taeyeon menampar dan pergi dari kondonya seminggu yang lalu, Jiyong memutuskan untuk tidak keluar dari kondo dan memilih tidur selama seminggu penuh di dalam kamarnya. Kadang, ia minum-minum sendiri lalu pergi tidur lagi tanpa menghiraukan ribuan panggilan masuk sampai-sampai ponselnya low battery. Ia bahkan tidak memikirkan keadaan kekasihnya di Paris sana.

Jiyong benar-benar melakukan aksi protes pada dirinya sendiri yang begitu bodohnya melukai seseorang yang dia sukai. Ah, aniya. Yang dia cintai. Karena kini dia sadar, semuanya terlihat samar, suram dan gelap di matanya saat dia tidak lagi menemukan kehadiran sosok Kim Taeyeon, tidak lagi mendengar ocehannya, tidak lagi memandangi senyuman dan tatapannya yang meneduhkan, tidak lagi menghirup aroma tubuhnya yang begitu khas di indera penciumannya.

Sebut saja dia gila. Tapi memang begitu adanya, memang begitu kenyataannya.

Ia bahkan tidak merasa lapar sama sekali selama seminggu penuh hanya air mineral dan wine saja yang mengisi perutnya. Mungkin jika ia check up ke dokter, hidupnya pasti divonis meninggal dalam kurun waktu tiga hari.

Dan Youngbae, Seungri, Seunghyun, Daesung juga Soohyuk tidak dapat membiarkan laki-laki itu. Mereka berlima mengancam akan menghubungi Kwon appa jika laki-laki itu tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam kondoya. Walaupun sangar, tapi Jiyong tetap merasa takut dengan ayahnya sendiri.

Awalnya Youngbae berniat memukul dan meninju laki-laki pendiri PMO itu, tapi melihat keadaan Jiyong jauh lebih mengenaskan daripada mayat hidup, membuatnya harus bersabar untuk memberikan hukuman berat pada sahabat kecilnya itu. Ketika Jiyong sudah mau menelan makanan sehat dan meminum air herbal, Youngbae memintanya untuk datang ke kondonya dan disinilah mereka bertiga, membicarakan kejadian seminggu yang lalu, saat Taeyeon memutuskan berhenti bekerja.

“Hari itu, hari di mana dia pergi dari kondomu, aku memberikannya saran,” ujar Youngbae, yang daritadi hanya diam mendengarkan cerita dan makian dari mulut kekasihnya, Hyorin. “Aku bilang padanya untuk membuka hati padamu, untuk percaya padamu. Aku mengatakan padanya kalau bersamamu, hidupnya akan bahagia dengan didasari rasa percaya. Aku percaya padamu, bro dan kau tahu itu. Aku juga menceritakan masa lalunya padamu karena aku begitu memercayaimu.

“Tapi mendengar dan melihatnya menangis keesokan harinya karena ulahmu, aku rasa aku lebih menyakiti gadis itu. Aku merasa menyesal sekali dan berharap dia langsung membunuhku sesuai dengan sumpahku. Ah, ne. Aku bersumpah padanya demi dirimu,”

“Kalau aku tidak ada di sana waktu itu, entah siapa yang akan membuatnya tenang,” timpal Hyorin. “Harusnya aku membawa Tiffany biar dia yang menjaga Taeyeon dan aku akan datang mencarimu lalu melemparmu kembali ke Paris. Kau benar-benar menjengkelkan dan inilah hal yang paling mengecewakan dari dirimu, Jiyong-ah,”

“Aku sudah mendengar itu sejak detik pertama aku mampir ke sini, noona,” ujar Jiyong pelan. Ia tetap menatap jauh ke langit-langit.

“Jadi? Kau mau protes? Kau memang seperti itu…,”

“Arra,” potong Jiyong. “Dan aku tidak akan pernah bosan mendengarnya. Aku memang bukan seseorang yang bisa dipercaya. Dia memang terlalu baik untukku, tapi orang yang mengaku sebagai Lauren appa juga tidak lebih baik dariku. Sampai saat ini pun aku tidak bisa melepasnya. Aku masih egois, masih tetap ingin memperjuangkannya. Tapi aku bingung harus memulainya dari mana, sedangkan dia memang benar-benar tidak mau memperlihatkan dirinya lagi padaku,”

“Tapi kau masih melihatnya setiap hari setidaknya dari jauh,” tukas Youngbae.

Jiyong tersenyum pahit. Ya, setiap hari ia memang selalu datang ke sekolah Lauren, hanya untuk melihat keduanya, Taeyeon dan Lauren, dari jarak jauh. Ia hanya ingin memastikan keadaan keduanya baik-baik saja. Dalam penglihatannya mereka memang baik-baik saja. Lauren tersenyum senang seperti biasanya saat Taeyeon datang dan mengoceh banyak hal saat mereka melangkah menuju halte.

Namun, Youngbae mengatakan jika Taeyeon lebih banyak melamun dan lebih pendiam belakangan ini. Tidak ceria seperti biasanya. Jiyong mengira gadis itu masih sedikit terluka dan trauma dengan kejadian di kondo Jiyong, apalagi Youngbae adalah sahabat dekat Jiyong.

“Bagaimana Joohyun? Kau tidak memberinya kabar selama seminggu penuh, ‘kan?” tanya Hyorin.

“Dia baik-baik saja di Paris. Setelah aku berniat ingin mengenal Taeyeon lebih jauh lagi, aku meminta Joohyun untuk tidak hanya berpatokan padaku. Aku memintanya untuk berkencan dengan siapapun yang dia suka selama dia di sana. Dia tahu maksudku dan menerima saranku. Jadi, meskipun aku tidak memberinya kabar selama seminggu ini, dia merasa tidak keberatan,”

“Kau menggantungkannya,” ujar Hyorin. “Dengar, hal itu jauh lebih menyakitkan dari apapun, Kwon Jiyong! Kau masih sama seperti dulu,”

“Ne, aku masih sama seperti dulu. Aku membiarkannya dan menunggunya bilang putus, noona. Aku tidak ingin memutuskannya terlebih dulu. Setidaknya, aku tidak ingin dia merasa lebih tertekan lagi,” jawab Jiyong.

“Tapi kau harus menghubunginya, Yongie-ah. Tanyakan saja, ‘Bagaimana? Apa kau sudah menemukan laki-laki yang tepat di sana? Aku yakin pasti sudah’. Dari kata-katamu itu aku yakin Joohyun akan semakin mengerti maksudmu dan segera memutuskan hubungan kalian. Gadis itu masih ingin menunggu kabarmu, Yongie-ah. Dan kabarmu hanya ada dua, yaitu kembali saling berhubungan dan mencintai atau menyuruhny untuk mencampakkanmu,” cecar Hyorin.

“Aku akan melakukannya, noona,” jawab Jiyong pelan.

Ketiganya kembali terdiam. Kali ini dalam waktu yang lumayan lama. Ketiganya jatuh ke dalam pemikiran mereka masing-masing. Youngbae dan Hyorin tentu saja tahu apa yang ada di dalam isi kepala Jiyong.

“Aku dan Tiffany memang sangat marah padamu saat melihat Taeyeon kembali menangisi seorang laki-laki, Jiyong-ah, apalagi itu dirimu,” kata Hyorin lambat-lambat. “Tapi melihatmu begitu menyesal, melihatmu begitu terpukul, melihatmu begitu sengsara dalam waktu seminggu membuat kami berdua mengerti perasaanmu. Kami memang masih belum percaya dengan janjimu untuk memberikan Taeyeon kebahagiaan, tapi kau harus tahu satu hal, kami memberikanmu support untuk kembali lagi meraih hati Taeyeon. Kami memberimu support bukan berarti kami akan ikut turun tangan. Kami hanya memberimu satu kesempatan lagi untuk membuktikan semuanya, semua perasaanmu yang kami yakini tulus. Tapi kau harus berjuang sendirian,”

“Tapi… kenapa?” tanya Jiyong, tak percaya.

“Sebenarnya kau tidak seratus persen salah saat itu,” jawab Hyorin. “Kesalahanmu hanya sedikit temperamental. Kau tidak salah memberitahu Taeyeon untuk tidak kembali lagi memercayai Lauren appa. Kau tidak salah karena kau sayang Lauren, Taeyeon, dan terlebih lagi karena kau ingin ada di posisi Lauren appa. Kau tidak salah, hanya posisimu saja yang salah. Kau memiliki kekasih dan rasa takut Taeyeon yang terlampau besar untuk kembali buka hati.

“Memang sulit meminta Taeyeon untuk membuka hatinya, dan dia gadis yang sangat keras kepala. Kau harus berjuang pelan-pelan untuk mendapatkan hatinya. Seperti yang kukatakan tadi, selesaikan dulu masalah percintaanmu dan fikirkan langkah apa yang akan kau lakukan untuk memulai semuanya dengan Taeyeon. Untuk itu kau harus sabar sekali. Dan tidak ada campur tangan dariku, Tiffany, maupun Youngbae,”

Hyorin melirik tajam kekasihnya, yang hanya mengangguk patuh ke arah Jiyong. Jiyong tertawa, lebih tepatnya tersenyum lega. Setidaknya ia masih diberikan secercah harapan. Meskipun harapan itu tidak lebih dari sepuluh persen karena sahabat-sahabatnya lepas tangan.

“Gomawo,” ujar Jiyong. “Aku pasti akan melakukannya,”

“Dan kau harus melakukannya sekarang sebelum Lauren appa kembali ke Korea,” sela Hyorin.

“Mwo? Jadi, kau juga percaya dengan laki-laki tak diketahui itu, chagi-ah?” tanya Youngbae.

“Aku memang tidak pernah bisa percaya, tapi kita harus percaya. Satu-satunya orang yang tahu siapa Lauren appa dan semua rahasia yang ada pada diri Taeyeon hanya Tiffany seorang. Dia tidak pernah mau memberitahuku karena dia sendiri juga sudah bersumpah tidak akan memberitahu siapa-siapa.

“Dan… kemarin Tiffany bilang padaku kalau laki-laki itu sudah mempersiapkan semuanya di Kanada untuk Taeyeon dan Lauren. Tempat tinggal, sekolah, semuanya. Hanya tinggal beberapa urusan yang harus dia kerjakan sebelum kembali ke Korea dan membawa Taeyeon beserta anaknya pindah ke Kanada,” jelas Hyorin.

“Jadi… alasan sebenarnya Taeyeon berniat ke Kanada karena itu? Karena Lauren appa?” bisik Youngbae.

“Ne,” jawab Hyorin. “Tapi Taeyeon belum memutuskan apakah dia akan ikut pindah atau tidak. Itu artinya, dia masih belum memutuskan untuk kembali memercayai laki-laki itu. Dia hanya percaya Lauren appa akan pulang,”

“Taeyeon tidak akan bisa pisah lama dari Lauren,” ujar Jiyong pelan sekali. Kedua tangannya terkepal erat. Rahangnya mengeras dan ia berusaha keras untuk tidak beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui gadis itu, untuk melarangnya pergi.

“Benar sekali,” timpal Hyorin. “Kalau laki-laki itu kembali, benar-benar kembali dan berubah menjadi seseorang yang sangat mencintai Taeyeon, aku yakin Taeyeon akan memilih pergi. Kembalinya laki-laki itu untuk memenuhi janjinya pada Taeyeon sudah menunjukkan rasa cintanya pada Taeyeon, ‘kan?”

“Aku tidak mengerti arah fikiran laki-laki itu,” gumam Youngbae.

“Nado,” ujar Hyorin. “Tapi pasti ada alasannya kenapa dia pergi jauh dan meninggalkan Taeyeon selama lebih dari lima tahun. Kalau dia memang brengsek dan tidak punya otak, dia tidak akan berjanji untuk kembali dan menyiapkan semuanya di Kanada. Tapi itu juga masih perkataan Tiffany,”

“Kenapa aku sangat berharap kalau laki-laki itu hanya omong kosong? Aku berharap sekali dia laki-laki brengsek yang tidak akan datang ke sini untuk membuktikan janjinya,” gumam Jiyong dengan wajah dinginnya.

Youngbae dan Hyorin hanya terdiam sambil menatap Jiyong dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

~~~

“Eomma!” seru Lauren pada Taeyeon, yang sedang tampak sibuk mengobrol di ruang keluarga dengan seseorang lewat telepon genggamnya.

Taeyeon menjauhi ponselnya dari telinga kanannya lalu menatap Lauren sambil tersenyum. “Waeyo, Laurennie?”

“Karena besok libur sekolah, bolehkah aku ikut ke kondo Bae ahjussi?” pinta Lauren.

“Boleh,” jawab Taeyeon lembut.

“Keurigo…,” lanjut Lauren pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Melihat gelagat anak semata wayangnya, Taeyeon sepertinya tahu apa yang akan dibicarakan Lauren. “Bolehkan aku meminta Yong ahjussi untuk datang?”

Taeyeon terdiam sebentar sebelum akhirnya dia menjawab, “Boleh,”

“Yeay!!! Jadi, apakah aku harus menghubungi Bae ahjussi atau Yong ahjussi?” tanya Lauren lagi.

“Bae ahjussi saja, eoh? Mungkin Yong ahjussi sedang sibuk di jam-jam seperti ini,” jawab Taeyeon.

“Arraseo!” seru Lauren dan gadis kecil itu langsung berlari menuju ruang tamu untuk menghubungi Youngbae dengan telepon rumah. Dari ruang keluarga, Taeyeon dapat mendengar suara riang Lauren menyapa Youngbae di balik teleponnya.

“Sepertinya uri Princess senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan Yong ahjussi~,” goda Tiffany dari seberang telepon.

Taeyeon tersenyum sendu. “Aku jahat sekali. Rasanya seperti…,”

“Memisahkan anak dengan appa-nya,” sambung Tiffany dan gadis itu terkikik geli. “Kau tahu, ‘kan kalau Jiyong oppa memang sangat menyayangi Lauren tanpa ada niat apapun?”

“Aku tahu,” jawab Taeyeon pelan.

“Dan apakah kau tahu seberapa memderitanya dia semenjak kau pergi dari kondonya? Baru seminggu tapi dia sudah seperti mayat hidup saat kami datang menjenguknya. Like a fool,”

“Aku tidak tahu hal itu. Tapi dia sudah baik-baik saja sekarang, ‘kan?” Taeyeon balik bertanya. Ada nada khawatir terselip dalam suaranya dan Taeyeon tidak mampu lagi membendungnya.

“He’s okay now. Tapi tidak se-charming dulu. Meskipun begitu masih saja banyak yang mengejarnya,” canda Tiffany. “Apakah kau masih belum yakin padanya? Maksudku, aku tidak menyuruhmu untuk buka hati. Tapi aku ingin kau tahu kalau dia itu sangat serius,”

“Aku tahu itu,” jawab Taeyeon lagi. Kali ini hatinya berdenyut menyakitkan. Sangat sakit. “Tapi kita tahu siapa dia. Aku tidak bisa, Ppany-ah. Aku tidak ingin dia membenciku di akhir. Lebih baik aku membuatnya membenci diriku sekarang daripada aku harus melihatnya membenciku nanti,”

Tiffany menghela nafas panjang. “Mianhae, aku membuatmu sedih lagi, Taeng. Aku… ingin sekali membuatmu bahagia dengan Jiyong oppa. Jujur saja. Tapi bagaimana bisa dia membuatmu bahagia sedangkan nantinya dia juga yang akan mendatangkan kesedihan,”

“Rasa bahagiaku ada pada Lauren sekarang, Ppany-ah. Jadi, aku tidak peduli apapun asal Lauren bahagia,”

“Ah, aku baru ingat. Taeng, apakah kau ikut pindah ke Kanada saat dia pulang dari Korea nanti?” tanya Tiffany.

“Nado molla. Semua itu tergantung dia. Aku tidak bisa memutuskan. Jika dia ingin kembali memperjuangkan perasaannya, maka aku tidak akan ikut. Tapi jika dia ingin semuanya mengalir saja bagaikan air, aku akan ikut,” jawab Taeyeon mantap. “Semuanya tergantung dia,”

“Jika dia lebih memilih diam saja dan mengalir begitu saja sampai akhir, otte?”

“Aku akan ikut pindah,”

“Meskipun itu artinya kau harus tinggal dengan Lauren appa?”

“Meskipun aku harus tinggal dengannya, tidak apa. Aku juga bisa jatuh cinta padanya, ‘kan? Membangun kembali sebuah hubungan dan hidup bahagia selamanya,”

“Semuanya terlihat sempurna jika kau tidak mencintai Jiyong oppa. Tapi kau mencintainya,”

Taeyeon diam, ia tidak mampu berkata apa-apa. Benar, semuanya akan sempurna jika dia tidak bertemu laki-laki itu apalagi mencintainya. Semuanya akan berjalan baik-baik saja jika bukan laki-laki bernama Kwon Jiyong itu yang saat ini ia cintai, yang dapat menjanjikannya kebahagiaan sekaligus dapat membawanya kepada kesedihan mendalam.

“Aku mencintainya, tapi tidak untuk selamanya, ‘kan? Aku akan mempertaruhkan apa saja agar semuanya tampak sempurna, sekalipun itu perasaanku,” ungkap Taeyeon. “Mungkin ini yang dinamakan ‘cinta yang sedih,’”

~~~

“Mworago? Oppa sakit selama seminggu hanya karena gadis yang tengah kau sukai itu?” tanya Joohyun dengan nada sulit percaya.

Mendengarnya membuat Jiyong tertawa pelan. “Wae? Kau tidak percaya kalau aku ini juga laki-laki yang bisa menjadi sangat melodrama jika ditolak?”

“Ne, aku baru saja memgetahui sisimu itu, oppa,” jawab Joohyun jujur. “Kalau waktu itu aku juga menolakmu, apakah kau akan seperti ini juga? Sakit selama berhari-hari, tidak selera melakukan apapun dan semuanya menjadi suram. Seperti itu jugakah?”

“Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti aku akan berusaha keras untuk membuatmu menoleh padaku,” jawab Jiyong ragu-ragu. Ia takut jawabannya akan menyakiti gadis lugu itu.

Joohyun tertawa kecil. “Eyy, aku sudah dapat menebak jawabannya, oppa,”

“Mianhae, Joohyunnie,” ungkap Jiyong dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Baru kali ini ia merasakan menjadi orang yang paling jahat dengan menyakiti hati seorang Bae Joohyun yang selembut sutra.

“Aku jadi sangat ingin bertemu gadis itu, oppa. Seperti apa wajahnya, bagaimana sifatnya, dan kenapa dia bisa membuatmu sangat jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku begitu iri padanya yang langsung bisa menangkap hati bajamu,” ungkap Joohyun.

“Ya, kau membuatku jadi semakin buruk, Joohyunnie!” seru Jiyong.

“Aniya, aku serius, oppa. Aku ingin bertemu dengannya suatu saat nanti kalau aku pulang ke Korea. Kami bisa mengobrol banyak hal dan aku bisa mendapatkan tips yang hebat darinya,”

“Apakah kau sudah menemukan laki-laki yang lebih baik dariku di sana?” tanya Jiyong.

“Aku mengencani banyak pria seperti yang kau sarankan, oppa. Aku senang sekali. Ada yang berpengalaman, ada yang polos, ada yang menggemaskan dan masih banyak lagi. Tapi belum ada yang sebaik dirimu, oppa,” jawab Joohyun. “Apa kau kecewa mendengar jawabanku?”

“Itu…  sama sekali tidak. Aku tahu akulah laki-laki yang paling hebat dalam menaklukkan wanita, benarkan?” canda Jiyong sambil menggaruk-garukkan tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal sama sekali.

“Karena aku belum bisa melepasmu, maukah kau tetap mempertahankanku, oppa? Aku tidak masalah kalau kau mengejar dan mencintai gadis itu. Aku tidak masalah kalau aku hanya jadi tempat untuk mendengarkan curhatanmu. Jika suatu saat nanti kau ditolak lagi dan merasa lelah, aku akan tetap berada di sisimu. Tapi jika kau berhasil mendapatkannya, aku akan pergi. Benar-benar pergi,” pinta Joohyun.

“Jika seperti itu, kaulah yang akan tersakiti, Joohyun-ah. Aku tidak mau,” tolak Jiyong serius.

“Sembari kau sibuk mengejar cintamu, aku juga akan sibuk mencari penggantimu, tenang saja oppa. Aku hanya tidak ingin kau tersesat lagi kalau kau ditolak oleh gadis itu. Aku tidak bisa melihatmu dalam kesedihan lagi, oppa. Kalaupun aku jatuh cinta dengan orang lain tapi kau gagal, aku tetap akan memilihmu,”

“Wae?”

“Karena selain gadis itu, aku percaya hanya akulah yang dapat membahagiakanmu, oppa. Kalau kau bilang aku terlalu baik untukmu, memang itulah tugasku. Agar aku dapat membuatmu menjadi lebih baik juga,”

Jiyong tersenyum lembut mendengar perkataan Joohyun. Ia memang tidak salah pilih, Joohyun-lah yang salah memilih laki-laki itu untuk dia percayai. Jika Jiyong tahu kalau akhirnya akan seperti ini, kalau akhirnya dia akan jatuh tenggelam dalam sosok seorang Kim Taeyeon, dia tidak akan membuat Joohyun masuk ke dalam hidupnya. Semuanya datang terlambat. Sangat terlambat. Bahkan ia merasa terlambat untuk menyerah pada Taeyeon.

“Kalau ada seseorang yang mulai kau sukai, beritahu aku, eoh? Aku akan menyeleksinya. Kau pantas dapat yang jauh lebih baik, Joohyun-ah,”

“Aigoo, kenapa sekarang kau berlagak jadi ‘oppa’, oppa?” tanya Joohyun sambil tertawa. “Arraseo, aku akan memberitahumu,”

“Kau pasti merasa sakit dan menyesal sudah memilihku,” gumam Jiyong.

“Aku tidak bisa bohong jika bilang tidak merasa sakit sama sekali, tapi aku tidak menyesal memilihmu, oppa. Sama sekali tidak. Kau harus tahu aku menangis selama tiga hari berturut-turut karena mengetahui kau menyukai orang lain, lebih dariku. Tapi karena aku sangat tulus menyayangimu, aku membiarkanmu. Karena aku pernah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan melepasmu jika kau menemukan seseorang yang jauh lebih baik di sana, oppa,”

“Kau membuatku jadi ingin menenggelamkan diri di Han river, Joohyun-ah,” tukas Jiyong tanpa ada berniat bercanda.

“Gwaenchannayo, oppa. Aku bahkan pernah merasakan hal yang jauh lebih sakit dari ini. Kalau begitu fighting, oppa! Aku sangat berharap kau bisa mendapatkannya lagi, and I reallh meant it. Tapi kalau kau gagal, ingat kata-kataku tadi, oppa,”

“Gomawoyo. Jinjja-jinjja gomawo, Joohyunnie,” ujar Jiyong pelan. “Jalja,”

“Jaljayo, oppa,” balas Joohyun riang dan detik berikutnya Joohyun sudah memutuskan sambungan telepon mereka.

Jiyong menatap layar ponselnya dalam-dalam, entah apa yang ia lihat dari layar yang perlahan meredup mati tersebut. Dalam hatinya, ia lega luar biasa, seperti yang dikatakan Hyorin. Di sisi lain, ia juga merasa menjadi laki-laki sangat kurang ajar yang tega menyakiti hati sebaik Joohyun.

Apakah dia baik-baik saja? Apakah benar dia tidak apa-apa? Pertanyaan yang jawabannya Jiyong tahu sekali. Walaupun begitu, dia tetap tidak ingin berhenti. Dia tetap ingin menunjukkan pada semua orang kalau kali ini dia sudah menemukan apa yang dia cari dan akan mendapatkannya, mempertahankannya sampai selamanya.

Dia ingin orang tahu, hidupnya benar-benar ‘hidup’ saat Kim Taeyeon ada di dekatnya dan ‘mati’ saat gadis itu melangkah pergi menjauhi dirinya.

Jiyong hampir saja melempar ponselnya keluar jendela saat smartphone itu berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari Youngbae.

“Yobo…”

“Ke mana saja kau? Kenapa kau baru bisa dihubungi?” cecar Youngbae.

“Aku sedang menelepon Joohyun tadi, seperti saran kekasihmu. Wae?”

“Jadi, dia melepasmu begitu saja?”

“Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya besok sore,”

“Pagi,” sela Youngbae cepat. “Kau datang ke rumahku pukul sepuluh pagi atau kau akan menyesal selama seumur hidupmu,”

“Ya, memang ada apa?”

“Baby Lauren akan datang ke kondoku untuk membantu eomma-nya bersih-bersih. Dan dia memintaku untuk mengundang Yong ahjussi besok pagi. Dia merindukanku kurasa,”

Mendengar hal itu, Jiyong tidak tahu lagi bagaimana caranya dia mengekspresikan kebahagiaannya saat ini.

~~~

Taeyeon tidak tahu kenapa laki-laki itu bisa ada di sini, di kondo Youngbae pukul tujuh pagi. Kemarin, Youngbae bilang kalau Jiyong akan datang jam sepuluh pagi. Jika dia datang jam sepuluh, maka Taeyeon punya alasan untuk pergi ke apartemen Tiffany, hanya untuk memghindari laki-laki itu.

Tapi kenapa bisa dia ada di sini, sekarang ini?

“Yong ahjussi!” seru Lauren. Ia melepas genggamannya dari Taeyeon dan berlari memeluk Jiyong dengan sangat erat. Jiyong balas memeluk Lauren dan menggendongnya.

“Bagaimana kabarmu, babygirl?” tanya Jiyong.

“Baik sekali. Bagaimana dengan ahjussi?”

“Menderita sekali,” jawab Jiyong. “Bogoshippeoseoyo~,”

“Nado,” ujar Lauren dan ia kembali memeluk Jiyong.

Jiyong tersenyum senang dan ia mengalihkan pandangannya pada Taeyeon, yang hanya diam lalu berbalik badan untuk menuju dapur.

Jiyong juga sangat merindukan gadis itu. Sangat. Wajahnya masih cantik seperti biasa, masih memukau, masih memesona. Dia masih seorang Kim Taeyeon yang Jiyong sukai, kagumi, cintai sampai detik ini.

“Nah, apa yang harus kita lakukan untuk membantu eomma?” tanya Jiyong pada Lauren. Ia mengecup dahi Lauren dengan singkat.

“Aku punya ide, ahjussi! Bagaimana kalau kita membersihkan kamar mandi Bae ahjussi? Aku dan Hyorin imo sering sekali melakukannya dan aku sangat suka!” seru Lauren.

“Ide bagus, baby L,” jawab Jiyong. Ia menurunkan Lauren dari gendongannya dan mereka melangkah menuju kamar tidur Youngbae.

“Aku tidak tahu kalau jam tujuh pagi itu sama dengan jam sepuluh di kondonya,” sindir Taeyeon pada Youngbae, yang saat itu sedang sarapan di dapur.

Youngbae terbatuk-batuk pelan dan ia langsung meminum air mineralnya sebelum menjawab, “Aku tidak tahu dia akan datang jam enam pagi tadi, Taeng. Aku juga terkejut dan hampir membunuhnya karena mengganggu tidur nyenyakku. Tapi aku tidak bisa. Aku tahu dia sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu,”

“Apa dia tidak bekerja?”

“Dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya semalam suntuk,”

“Aku akan cepat menyelesaikan ini semua,” gumam Taeyeon.

“Ne, kau bisa melakukannya dengan cepat sebelum mereka berdua selesai membersihkan kamar mandiku,”

Dan Taeyeon benar-benar melakukannya dengan cepat. Tidak sampai jam sepuluh ia sudah selesai mengerjakan semuanya dengan bersih dan rapi, seperti biasanya. Sekarang, gadis bertubuh mungil itu tengah duduk di atas sofa ruang keluarga Youngbae untuk menunggu Jiyong dan Lauren selesai membersihkan kamar mandi. Ia sendirian sedangkan yang punya kondo sudah pergi bekerja. Kalau Lauren masih ingin bermain dengan Jiyong dan laki-laki itu tidak keberatan, Taeyeon akan pergi meninggalkan mereka berdua menuju apartemen Tiffany.

Sudah pukul sepuluh lewat sepuluh dan Taeyeon belum menemukan kedua makhluk itu keluar dari kamar Youngbae. Mana mungkin membersihkan kamar mandi sampai dua jam lebih.

Merasa tidak ada yang beres, Taeyeon bangkit dari sofa dengan ragu-ragu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu. Satu-satunya ruangan yang belum Taeyeon bersihkan karena suatu alasan yang Youngbae tahu apa itu.

Kedua mata beningnya terbelalak kaget saat mendapati Jiyong dan Lauren sedang tertidur nyenyak di atas tempat tidur king size milik Youngbae. Mereka kelihatan lelah sekali, lelah bermain air karena Taeyeon dapat melihat baju Lauren dan Jiyong yang sama-sama lumayan basah. Keduanya tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka, lucu sekali. Dan Lauren menggunakan lengan kiri Jiyong sebagai bantal.

Karena tahu tidurnya tidak akan nyaman, Taeyeon segera memindahkan lengan laki-laki itu dengan sangat hati-hati dan menggantinya dengan bantal empuk. Lauren menggumam tak jelas tapi kembali terhanyut dalam mimpi yang Taeyeon yakini mimpi yang indah.

Gadis itu kembali memandangi Jiyong dan Lauren secara bergantian dalam kurun waktu yang sangat lama. Ia bahkan sudah duduk nyaman dengan hanya memandangi mereka berdua. Entahlah, Taeyeon merasa sangat bahagia dengan melakukan itu. Andai pemandangan seperti ini yang ia lihat setiap hari, Taeyeon percaya ia akan melupakan semua kesedihan dalam hidupnya.

Taeyeon segera sadar dari aksinya saat tubuh Jiyong menggeliat dan laki-laki itu menguap. Detik berikutnya kedua hazel Jiyong terbuka perlahan-lahan dan ia memandangi Lauren sambil tersenyum manis, membuat Taeyeon sedikit terhenyak. Sudah berapa lama rasanya ia tidak melihat senyuman manis laki-laki itu?

“Kau di sini?” sapa Jiyong tiba-tiba. Tubuh Taeyeon refleks melonjak sedikit dan kedua bola matanya menatap langsung kedua mata Jiyong. Laki-laki itu sudah mendudukkan tubuhnya.

“Ah… Aku… Harus pergi ke apartemen Tiffany. Tolong sampaikan pada Lauren kalau aku akan menjemputnya sore nanti. Satu lagi. Bajunya basah, aku membawa gantinya di dalam tas ransel milik Lauren. Kalau kau tidak keberatan bisakah kau menggantikannya? Kalau kau merasa ingin pulang cepat, kau bisa memberitahuku, tidak apa,” ujar Taeyeon cepat sekali tapi Jiyong mampu mencerna ucapannya.

“Pergilah, aku tidak merasa keberatan sama sekali,” jawab Jiyong lembut. Ia masih menatap Taeyeon, yang lebih memilih menatap Lauren daripada membalas tatapannya. “Dan aku juga yang akan mengantarnya pulang nanti,”

“Gamsahamnida,” jawab Taeyeon. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum akhirnya ia berbalik dan menghilang dari dalam kamar Youngbae.

“Aku senang kau pergi, Kim Taeyeon,” gumam Jiyong. “Kalau tidak aku tidak tahu bagaimana caranya menahan lebih lama lagi rasa rindu ini,”

~~~

Lagi-lagi dirinya melamun memikirkan seorang Kwon Jiyong di saat ia sedang melangkahkan kakinya menuju halte bus. Entah sudah berapa kali ia tersandung kerikil-kerikil kecil saking tidak fokusnya ia dengan jalanan di depannya. Ia juga beberapa kali tertabrak dan menabrak bahu orang yang lalu-lalang di dekatnya.

Gadis itu menghela nafas panjang sekali sewaktu ia sudah duduk nyaman di halte. Ia sendirian dan itu tidak masalah. Tidak masalah karena tidak akan ada yang mengganggu dirinya yang masih sibuk melamun tersebut.

“Aku tidak tahu dia akan datang jam enam pagi tadi, Taeng. Aku juga terkejut dan hampir membunuhnya karena mengganggu tidur nyenyakku. Tapi aku tidak bisa. Aku tahu dia sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu,”

Gadis itu juga sangat senang, sebenarnya. Dia juga sangat merindukan laki-laki itu. Sangat merindukannya. Merindukan kejahilannya, gombalannya, tawanya, senyumnya, tatapan hazelnya yang meneduhkan. Ia merindukan semuanya. Ia merindukan harum khas tubuh Jiyong yang dulunya tak sengaja Taeyeon cium saat ia berada di kamar laki-laki itu.

Ia merindukan pujian Jiyong dalam melakukan banyak hal, dalam membuat cakes, misalnya. Ia merindukan membuat cakes dan makanan untuknya. Semuanya. Dan semua itu mengumpul di dalam dada gadis itu, membuatnya sesak tak terkira. Hingga ia merasakan pusing dalam kepalanya.

Apa lebih baik dia kembali saja ke apartemennya?

Baru saja Taeyeon bangkit dari bangku halte itu, sebuah mobil Mercedes Benz berwarna putih berhenti tepat di hadapannya. Taeyeon termangu menatap mobil tersebut.

Detik berikutnya, si pengemudi keluar dari dalam mobil. Seorang laki-laki. Laki-laki itu menoleh dan melangkah cepat menghampiri Taeyeon, yang tubuhnya sudah beku mendadak sampai-sampai ia tidak bisa menggerakkan sedikitpun otot-otot kakinya.

Ia shock setengah mati mengetahui siapa laki-laki itu. Jantungnya mencelos menyakitkan dan ia lebih memilih dibunuh daripada harus dihadapkan dengan orang itu untuk sekarang ini.

“Taeyeon-ah,” panggil laki-laki itu, yang sudah berada tepat di hadapan Taeyeon. Suaranya sangat lembut, seperti dulu. Namun, bagi Taeyeon itu merupakan sebuah petaka besar.

“Park Hyungsik,” gumam Taeyeon pelan sekali. Matanya terbelalak kaget. “Waeyo…?”

Laki-laki yang dipanggil Park Hyungsik itu tersenyum kecil. Bukan tersenyum, melainkan menyeringai, dan hal itu membuat bulu kuduk Taeyeon berdiri.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya laki-laki itu. Ia memajukan wajahnya dengan cepat dan berbisik di telinga kiri Taeyeon. “Atau kenapa aku bisa menemukanmu di sini, Taengoo-ah?”

Taeyeon mundur dua langkah dan berniat lari dari tempatnya. Namun, Hyungsik langsung mencengkeram lengan gadis itu dengan erat.

“Mau apa kau?” tanya Taeyeon takut.

“Masuklah ke mobilku sebelum aku memaksamu, baby. Kau tahu kalau aku sama sekali tidak suka ditolak,” bisik Hyungsik tajam.

“Lepaskan aku, kita sudah berakhir, Hyungsik-ssi,” pinta Taeyeon dengan wajah memelas.

“Jangan berwajah seperti itu, Taeng. Kau membuatku seperti orang jahat saja. Sekali lagi, ikut aku atau aku memang akan melakukan hal jahat padamu,”

Dengan sekali sentakan, Hyungsik sudah berhasil menarik Taeyeon masuk ke dalam mobilnya. Ia juga memasangkan seatbelt pada Taeyeon lalu cepat-cepat ikut masuk ke dalam mobil itu. Selanjutnya, laki-laki tampan tersebut segera mengarahkan mobilnya menuju suatu tempat yang Taeyeon tidak ketahui dengan kecepatan gila.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Taeyeon dengan nada suara yang meninggi.

“Kau suka di mana? Jeonju? Jeju? Kurasa aku suka di Jeju, aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu di sana,” jawab Hyungsik dengan seringaian liciknya.

“Ya, turunkan aku, Park Hyungsik! Atau aku akan lompat dari sini!” seru Taeyeon. Ia melepas seatbelt-nya dan hendak membuka pintu mobil. Namun, Hyungsik tak hilang akal. Ia menepikan mobilnya lalu membekap mulut Taeyeon yang langsung memberontak hebat dengan sebuah sapu tangan warna putih. Detik berikutnya, tubuh Taeyeon melemas dan perempuan itu kehilangan kesadarannya.

“Aku sama sekali tidak berniat berbuat kasar seperti ini, Taeng. Tapi kau yang memintanya,” gumam Hyungsik sambil membelai lembut dahi Taeyeon yang berkeringat. “Kau cantik sekali,”

Laki-laki itu tersenyum sangat manis dan kembali memasangkan seatbelt pada Taeyeon yang pingsan. Setelah itu, ia menghadapkan tubuhnya ke depan dan membawa laju mobilnya menuju Jejudo.

 

 

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

Ngalong ngerjain ini dari jam 11 sampe jam 4 pagi hahahahaah tapi hasilnya cuma segini, sorry yesssss lagi-lagi chappie ini pendekk unch unch unch~

Advertisements

68 comments on “Beautiful Lies (Chapter 6)

  1. Daebakkkkkkk daebakkkkk daebaakkkkk author kuuu cuma berharap satu hal pada author ku ini “semoga bisa di perpanjang lagi dan supaya lebih feel cerita nya” so semangat terus author ku nulis nya author ku pokoknya ff ini harus selesai dan di utamakan karna dari smua ff menurur ku cma ini yg bnr” menggambarkan karakter dan pribadi mereka ( nyata) author kuuu ff ini harus selesai sma dimana aku baca ada tulisan PART END dan ending with sequel

    I’m always waiting this ff beautiful lies
    love you author kuuuu 😘

  2. Seketika gw jd lesu buat nunggu chap berikutnya , ini yg gw benci ad nya orng d masa lalu blum lg ntr tmbah lg konfliknya 😥 knapa gw jd baper gini ma jiyong .
    Ga monton drama korea,mandarin,japan film silat atau apaoun pasti ad gini nya.
    Hahahah tp daebak buat author gw g bsa ngomong bnyak cmn berharal bsa d lanjutin cerita nya yg bkin gw baper nih hahahahaha
    Baru nemu lg author yg keren 🙂

  3. Park Hyunsik ayah Laurenkah? Tp jahat bgt ya bertemu kembali langsung maksa gitu. Salut sama kerja kerasmu dlm berkarya dan berimajinasi thor, Feelnya dapet bgt, menguras emosi

  4. Kok tumben belum publish ff nya Thor.. biasanya aku ngeliat hari Senin udah update… Penasaran nih Thor.. mau di bawa kemana taeyeon nya??

  5. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Masalalu itu emg sulit dilupakan ya 😥 sampe detik ini masih penasaran ama sodaranya Jiyong… Jangan2 dia masalalunya TY :v aku kasian sama lauren nya 😥 author-nim kau buat aku bertanya-tanya di chapter ini 😀

  7. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s