Beautiful Lies (Chapter 5)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

~~~

    PLEASE READ IT CAREFULLY        

 

 

 

“Eomma,” panggil Lauren lembut pada Taeyeon, yang tengah sibuk menyiapkan alat-alat tulis dan buku bergambar milik Lauren dan menyusunnya dengan rapi di dalam tas merah muda milik si kecil. Lauren baru saja menyelesaikan sarapannya dan duduk di atas sofa di samping ibunya.

“Sudah selesai? Eomma akan ambil mantel sebentar dan kita bisa berangkat,” ujar Taeyeon.

“Aku ingin bertanya sesuatu, eomma,” ungkap Lauren.

“Eoh? Mwondae?” tanya Taeyeon. Ia menghadapkan tubuh serta wajahnya pada Lauren dengan ekspresi penasaran.

“Hanya pertanyaan yang hampir tiap hari kuajukan pada eomma,” jawab Lauren dengan cengiran lebar di wajah cantiknya. “Appa… Kapan kembali? Kapan appa kembali dari pekerjaannya, eomma? Apa Appa masih sangat sibuk? Apa dia masih belum berkeinginan untuk pulang dan bertemu dengan kita? Bermain bersamaku?”

Senyum ceria dan ekspresi penasaran yang tadi ditunjukkan oleh Taeyeon pada anak semata wayangnya sirna dalam sekejap begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungil putrinya. Kedua mata bening Taeyeon perlahan meredup, air mukanya berubah sendu dan ia menatap wajah Lauren dengan perasaan yang sangat bersalah, bimbang dan gelisah.

Lauren benar. Ini adalah pertanyaan yang sering kali ia lontarkan pada Taeyeon. Pertanyaan yang hampir tiap hari ia tanyakan di saat ia merindukan ayahnya. Di saat fikiran polosnya bertanya-tanya seperti apa sosok ayahnya, seperti apa rupanya. Di saat ia membutuhkan figur itu untuk memeluknya dan bermain bersama dengannya.

Tetap, jawaban dari Taeyeon tetaplah sama. Gadis itu duduk lebih dekat pada Lauren dan ia memangku gadis kecilnya seraya menyisiri rambut panjang itu dengan sangat lembut.

“Appa masih belum bisa kembali dalam waktu dekat ini, Laurennie,” jawab Taeyeon. “Pekerjaannya sangat berat, jauh, dan dia juga sangat dibutuhkan di sana. Dia tidak mudah untuk melakukan perjalanan pulang seperti orang kebanyakan. Karena itulah kita juga tidak mudah bertemu dengannya. Tapi percayalah, seperti yang selalu eomma katakan padamu, dia akan kembali, boo. Dia akan pulang dan bertemu denganmu. Dia akan kembali, memelukmu, menciummu, dan memanjakanmu. Appa akan pulang, meskipun itu membutuhkan waktu yang agak lama. Dan eomma berharap kau mau menunggunya,”

“Aku akan menunggunya,” jawab Lauren pelan. Ia menengadahkan wajahnya menatap Taeyeon. “Aku pasti akan menunggunya. Dan jika hari itu tiba, maukah eomma menunjukkan padaku yang mana orangnya? Kau tahu aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali,”

“Tidak perlu repot-repot karena dia tahu bagaimana wajah putri kecilnya yang sangat cantik,” jawab Taeyeon. Ia memeluk Lauren dengan sangat erat lalu memcium ubun-ubun kepala gadis itu.

“Eomma, bagaimana wajahnya?” tanya Lauren lagi.

“Dia sangat tampan,” jawab Taeyeon pelan. “Nah, bagaimana kalau sekarang kau memakai sepatumu lalu tunggu eomma di depan? Eomma akan ke kamar sebentar,”

“Ne!” seru Lauren dengan rasa semangat dan keceriaannya yang selalu muncul setiap kali Taeyeon memberitahukan kalau ayahnya adalah sosok yang sangat tampan. Gadis kecil itu langsung mengambil tasnya, memakainya, lalu berlari kecil untuk mengambil sepatunya yang ia letak di dalam rak sepatu di depan pintu apartemen.

Taeyeon tersenyum kecil melihat tingkah lucu malaikat kecilnya. Ia menghela nafas panjang dan membuangnya dengan berat hati. Walau bagaimanapun juga ia tetap merasa sangat bersalah pada Lauren. Gadis kecil itu tersenyum ceria tanpa tahu apa-apa. Selalu mendengarkan dan mengiyakan apa yang Taeyeon katakan tentang ayahnya tanpa tahu yang sebenarnya.

Bagaimana mungkin Taeyeon sanggup mengatakan pada Lauren untuk tidak perlu berharap terlalu besar pada ayah kandungnya? Untuk tidak lagi mengingat ataupun menanyakan keberadaannya? Bagaimana mungkin Taeyeon bisa dengan teganya mengatakan pada Lauren bahwa ia ingin hidup berdua saja dengan Lauren, tanpa perlu didampingi oleh ayahnya ataupun dengan laki-laki lain, saat Lauren sangat merindukan pelukan dan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah dia dapatkan sejak ia dilahirkan ke dunia ini.

Taeyeon tidak bisa berbohong kepada Lauren dengan mengatakan kalau ayahnya sudah tidak ada karena kecelakaan dan sebagainya. Karena ayahnya memang masih hidup sampai sekarang. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia benar-benar akan kembali dan menyatakan dirinya adalah ayah Lauren? Lauren akan membencinya dan dia tidak sanggup untuk kehilangan malaikat kecilnya.

Taeyeon memang sulit percaya kalau laki-laki itu akan kembali. Dia pernah berjanji untuk kembali tapi Taeyeon memutuskan untuk tidak memercayainya. Sosok laki-laki seperti itu, yang hidupnya hanya diwarnai oleh uang, kekuasaan, dan wanita, sulit untuk Taeyeon percayai. Namun, di dalam hati kecilnya, ia masih sangat berharap agar laki-laki itu memenuhi janjinya dan bertemu dengan Lauren.

Karena yang Taeyeon utamakan hanya satu, yaitu kebahagiaan putri kecilnya.

~~~

From : Kwon Jiyong

Aku sudah menjemput Lauren dan kami berada di café di samping gedung kondo Youngbae. Kami sedang menikmati ice cream, eomma. See you, then.

 

Taeyeon menghela nafas kasar dan ia membanting ponselnya di atas meja makan dengan geram. Ini sudah entah keberapa kalinya Lauren diajak pergi makan dan jalan-jalan dengan Jiyong di saat dirinya sedang bekerja di kondo Youngbae. Hal itu membuat Taeyeon sedikit risih dan kesal sekaligus pada laki-laki itu. Jiyong seakan-akan berbuat seenaknya pada Lauren, mengajak gadis kecilnya jalan-jalan kemanapun dia suka dan makan makanan apapun yang ingin Lauren makan.

“Waeyo?” tanya Youngbae. Ia baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati Taeyeon sedang menggerutu kesal di dalam dapur.

“Ah, itu…,” gumam Taeyeon. “

“Lauren pergi bersama Jiyong lagi?” tanya Youngbae langsung.

“Ne, oppa,” jawab Taeyeon dengan nada suara pasrah.

“Kau cemburu?” tanya Youngbae. Dia hanya bercanda, tapi raut wajahnya sangat serius sekali, membuat Taeyeon gelagapan. “Pada anakmu sendiri?”

“Aniya!” seru Taeyeon cepat. “Tentu saja tidak. Kenapa aku harus cemburu? Aku hanya kesal dia mulai rutin menjemput dan mengajak Lauren pergi jalan-jalan. Orang-orang di sekolah mengira dia adalah ayah Lauren, dan guru-gurunya beranggapan dia pacarku. Tiap kami bertiga jalan bersama juga banyak yang mengira aneh-aneh. Oppa, kau tahu aku tidak suka dianggap seperti itu oleh orang-orang,”

“Tapi Lauren bahagia dengan apa yang dilakukan Jiyong, ‘kan? Princess-ku jadi banyak tersenyum karena Yong ahjussi,” ujar Youngbae.

“Arra. Aku juga bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di kedua mata Lauren setiap kali ada Jiyong. Dan tingkahnya yang manja dan penuh semangat, yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Lauren berubah seperti anak-anak pada umumnya. Ceria, hiperaktif, banyak omong, dan masih banyak lagi setiap dia berada dalam gendongan Jiyong,” sambung Taeyeon.

“Lalu? Kau tahu alasan dia seperti itu karena apa, ‘kan? She need her daddy, Taeyeon-ah. Selama lima tahun. Lima tahun dia melihat dunia ini tapi dia belum pernah sekalipun melihat ayahnya. Lima tahun dia disayangi oleh ibunya tapi dia tidak mendapatkan kehangatan ayahnya. Dia pernah trauma, dia pernah mengalami rasa sakit yang tidak pernah dialami oleh anak seumurannya. Dia bersikap dewasa dan tidak sesuai dengan usianya karena kau mengajarkan dia bagaimana kejamnya dunia ini. Dia beranjak dewasa lebih cepat karena tidak ada figur ayah dalam hidupnya selama ini. Karena sosok seorang ayahlah yang seharusnya ada di sampingnya, melindunginya dan menjaganya dengan penuh cinta,”

Taeyeon menatap Youngbae dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. “Oppa…,”

“Kau tidak akan memberitahuku siapa dan di mana ayah Lauren, ‘kan?” sela Youngbae. “Apa belum cukup kebohongan yang selama ini kau ucapkan pada Lauren? Apa kau fikir Lauren akan selalu menerima kenyataan bahwa ayahnya akan kembali seperti yang selama ini kau janjikan? Seorang anak yang cerdas seperti Lauren akan selalu mengingat perkataanmu, Taeyeon-ah, dan dia akan menyadari cepat atau lambat jika semua ucapanmu selama ini hanyalah bualan semata,”

“Aku percaya ayahnya akan kembali, oppa. Aku percaya,” ujar Taeyeon dengan tegas. “Aku percaya dia sebagai sosok ayah Lauren, bukan sebagai yang lain. Tapi untuk saat ini, mianhae oppa. Aku belum bisa menceritakan apa-apa padamu tentang ayah Lauren. Aku belum siap,”

“Kalau kau memilih untuk percaya, baiklah. Aku akan ikut percaya. Jadi, tidak ada salahnya membiarkan dia bersama dengan Jiyong sampai ayah kandungnya kembali, ‘kan?” tanya Youngbae.

“Tentu saja salah, oppa. Jiyong tidak akan selamanya ada di samping anakku. Dia punya kehidupannya sendiri. Dia tidak akan selamanya ada untuk mewarnai hari-hari Lauren. Sebelum semuanya terlambat, sebelum Lauren terlalu nyaman ada di dekat Jiyong, tidak seharusnya aku membiarkan mereka terlalu sering bersama,” jelas Taeyeon.

“Lauren itu mirip dengan Jiyong, kurasa kau sudah tahu ini. Dia membutuhkan Jiyong, Taeyeon-ah. Dia membutuhkan Jiyong untuk memperbaiki dirinya. Ketika ayahnya memang benar-benar akan kembali suatu hari nanti, dia bisa pergi dari Jiyong dan menikmati kenyamanan yang sebenarnya dengan ayahnya sendiri,” tentang Youngbae.

“Dia tidak akan bisa lepas jika Lauren akhirnya akan bergantung pada Jiyong, oppa,” lirih Taeyeon.

“Akhirnya kau mengerti maksud Jiyong, ‘kan Taeng?” tanya Youngbae. Dahi Taeyeon mengernyit bingung. “Seperti itulah dia kepadamu. Awalnya dia membutuhkanmu dan lama-lama dia menggantungkan semuanya padamu, termasuk hatinya. Dia memang tulus and he meant it saat dia mengatakan dia menyukaimu. Karena kau adalah kebutuhan sekaligus keinginannya. Dia ingin menunjukkan maksudnya lewat Lauren. Apa kau paham?”

Taeyeon diam. Ia tahu maksud dari perkataan Youngbae. Ia mengerti. Namun, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan maksud kata-kata itu.

“Lauren membutuhkan Jiyong, Jiyong membutuhkanmu. Itu artinya kau harus memiliki keduanya. Jiyong dan Lauren,” lanjut Youngbae. “Itulah maksud Jiyong. Kenapa kau tidak mencoba membuka kesempatan sekali lagi untuk seorang Kwon Jiyong? Aku tahu aku tidak seharusnya menawarkan hal ini. Aku tahu kau tidak akan suka. Tapi, tidakkah kau sadar Taeng, kalau kalian bertiga mempunyai benang kebahagiaan jika kau merajutnya dengan kepercayaan? Aku sahabat kecilnya Jiyong, aku tahu di mana saat dia serius dan saat dia bercanda. Aku tidak pernah melihatnya menatap seseorang dengan pancaran cinta yang tulus selain kepadamu. Jika suatu saat nanti dia melukaimu, kau boleh membunuhku, Taeng. Kau boleh melakukan apa saja padaku, bahkan menuntutku sekalipun,”

“Oppa,” panggil Taeyeon dengan suara pelan. Ia menatap dalam-dalam kedua mata Youngbae, dan laki-laki itu dapat melihat luka yang sangat dalam di dalam kedua mata Taeyeon. “Mungkin kau memang tahu siapa itu Kwon Jiyong. Mungkin kau tahu dia serius dan tulus padaku. Tapi ada beberapa hal yang kau tidak tahu tentangku, oppa. Itu sebabnya, jebal, jangan katakan apapun padaku mengenai kepercayaan dan harapan. Karena itu mustahil untuk kudapatkan,”

“Taeyeon-ah,” lirih Youngbae. Ia tertegun dan merasa bersalah. Bersalah karena ia sadar ia seharusnya tidak mngucapkan hal itu pada Taeyeon, seharusnya ia tidak memaksa gadis itu. Dan seharusnya ia menyadari jika dia memang tidak mengenal 100 persen siapa itu Kim Taeyeon. “Mianhae, aku tidak bermaksud… Kau tahu, aku seperti ini karena terlalu menyayangimu dan Lauren,”

“Tapi kau juga harus ingat, oppa bahwa apa yang terbaik menurutmu, belum tentu akan menghasilkan hal yang baik ke depannya,” sela Taeyeon. “Aku tahu kau sangat menyayangiku dan Lauren, tapi aku tidak ingin menyakiti banyak hati ke depannya,”

“Banyak hati?” tanya Youngbae. “Taeyeon-ah, mungkin memang benar, aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi, jebal. Jangan terlalu menyembunyikan banyak rahasia dalam dirimu. Karena yakinlah, apa yang menjdadi rahasia yang selama ini kau tumpuk, suatu hari nanti akan meledak dengan sendirinya, di waktu yang kita tidak tahu baik atau buruk, di saat yang tepat atau bahkan tidak tepat, sehingga lebih banyak hati yang akan tersakiti nantinya,”

“Karena itulah aku ingin rahasia-rahasiaku ini bisaku jaga sampai aku mati nanti, oppa. Akan lebih baik kalau aku saja yang merasa sakit di sini,” jawab Taeyeon dengan senyuman sendu yang ia tunjukkan di wajah cantiknya.

Youngbae menatap Taeyeon dengan pandangan sedih. Walaupun tidak tahu apa lagi yang disembunyikan gadis itu, tapi Youngbae merasakan luka yang begitu dalam, lebar, dan perih terpancar dalam kedua mata bening Taeyeon. Dari sanalah Youngbae tahu betapa rapuhnya Taeyeon sebenarnya, betapa gadis itu ingin direngkuh dan didekap dengan penuh kasih sayang, tapi tak bisa. Karena ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.

Youngbae mengangkat tangan kanannya dan mengelus puncak kepala Taeyeon dengan sangat lembut, seperti yang selama ini dilakukannya pada Lauren saat gadis kecil itu sedang sedih.

“Kau tahu kau berhak mendapatkan kebahagiaan juga, Taengoo-ah. Akulah orang pertama yang akan mengejar dan mendapatkannya untukmu, percayalah,” ungkap Youngbae. Ia tersenyum sangat manis pada Taeyeon.

Sedangkan Taeyeon, yang mendapatkan begitu banyak perhatian dari Youngbae serta dukungan penuh, hanya bisa menangis dan terisak pelan. Ia tidak tahu kenapa dia bisa secengeng ini hanya karena mendengar kata-kata dari laki-laki itu, padahal ia juga sudah sering mendengarnya dari sahabat-sahabatnya yang lain.

Kenapa? Apakah karena ia ingin sekali berharap bisa mendapatkan kebahagiaannya kali ini? Atau karena sudah banyak sekali rahasia dan luka yang ia pendam sendiri selama ini?

Youngbae tidak akan menarik kata-katanya. Ia akan mendapatkan kebahagiaan gadis itu. Kebahagiaan Taeyeon bermula dari sebuah harapan. Dan dia tahu dari mana dia akan mendapatkan harapan tersebut.

Dan Youngbae percaya ia tidak pernah menyesal ketika dia berharap pada Kwon Jiyong.

~~~

“Apa yang sedang kau gambar, babygirl?” tanya Jiyong pada Lauren yang sejak setengah jam lalu sibuk menggambar di sebuah kertas kosong yang Jiyong minta pada salah satu waitress di café tersebut atas permintaan Lauren sendiri. Dan selama itu pulalah Lauren mengacuhkan pertanyaan yang setiap kali Jiyong lontarkan.

Lauren masih diam tidak menjawab. Bukannya merasa kesal atau tersinggung, Jiyong tertawa sambil mengacak-acak rambut lembut Lauren dengan gemas. Ia teringat dengan ibu dari gadis belia itu.

“Kau mirip sekali dengan eomma. Selalu fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan dan… tidak pernah menggubrisku,” ungkap Jiyong.

“Ne, ahjussi,” jawab Lauren tiba-tiba sembari tersenyum sangat lebar. Kedua pipi gembilnya yang merona mengembang dengan imutnya. “Aku berusaha menggambar diriku, eomma, dan appa,”

“Appa?” ulang Jiyong. Kedua alisnya hampir menyatu saking terhenyaknya dirinya. “Lauren appa?”

“Ne! Nae appa!” seru Lauren gembira. Ia menunjukkan hasil gambarnya pada Jiyong. Jiyong mengambilnya dan ia mengamati gambar anak kecil itu. Sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang menggandeng kedua tangan anak mereka yang berdiri di tengah-tengah. Sebuah gambar yang menunjukkan keluarga yang bahagia.

“Tergambar dengan sangat baik sekali, babygirl. Kau berbakat jadi pelukis, kurasa,” puji Jiyong. “Ini appa? Boleh aku tahu appa berada di mana sekarang?”

“Eomma bilang appa tengah bekerja sekarang. Di tempat yang sangat jauh sekali, itu sebabnya ahjussi tidak melihatnya di dalam rumahku. Appa belum pernah pulang ke rumah, sekalipun belum pernah. Tapi eomma berjanji kalau appa pasti akan kembali dari tempat kerjanya,” jelas Lauren. Kedua mata cokelat gelapnya berbinar-binar.

“Belum pernah pulang ke rumah sekalipun? Tapi dia sering mengabarimu, ‘kan? Mengabari eomma?” tanya Jiyong. Ia tidak bisa mengontrol rasa penasarannya yang terlalu tinggi jika itu menyangkut Taeyeon.

Lauren menggelengkan kepalanya pelan. Binar di wajahnya memudar dan Jiyong jelas sekali menemukan jawabannya. “Aku bahkan tidak pernah mengetahui bagaimana wajahnya, ahjussi,”

“Waeyo?” tanya Jiyong cepat.

“Eomma bilang ia tidak mempunyai foto appa dan tidak bisa menghubunginya. Eomma bilang ia tidak memiliki hubungan lagi dengan appa karena mereka sudah berpisah. Tapi eomma juga mengatakan kalau appa pasti akan datang menemui kami. Appa berjanji seperti itu dan untungnya, eomma percaya,” lanjut Lauren. “Kalau eomma percaya, aku pasti juga akan percaya,”

“Ah, mereka sudah berpisah,” gumam Jiyong. Ia mengusap-usap ubun-ubun kepala Lauren sambil tersenyum sendu. “Tapi apa eomma sering bercerita tentang appa? Misalnya bagaimana wajahnya? Sifatnya?”

“Eomma mengatakan appa sangat tampan. Tampan sekali. Istilahnya aku versi laki-laki, ahjussi. Aku sangat cantik, jadi kalau versi laki-laki sangat tampan,” jawab Lauren senang.

Jiyong tertawa kecil. “Ne, dia pasti sangat tampan. Lauren appa. Tapi kalau dibandingkan denganku, mana yang lebih tampan?”

Lauren terdiam sejenak sambil berfikir keras. Bibir mungilnya mengerucut dan dahinya berkerut. “Tentu saja ahjussi. Karena aku juga belum tahu bagaimana wajah appa,”

“Kalau kau bertemu dengan appa suatu saat nanti, yakinlah aku lebih tampan dari appa,” ujar Jiyong dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.

“Laurennie,” sapa seorang gadis yang suara indahnya sudah tidak asing lagi di kedua telinga Jiyong, Taeyeon. Gadis itu duduk di samping Lauren dan mengecup ubun-ubun gadis kecilnya dengan sayang. “Sudah kenyang?”

“Ne! Ahjussi membiarkanku makan sesukanya!” jawab Lauren senang.

“Lain kali jangan minta yang aneh-aneh ataupun hal-hal yang menyulitkan Yong ahjussi, ne?” tegur Taeyeon. “Jiyong-ssi kau juga jangan mengabulkan apapun yang diminta atau yang diinginkan Lauren jika dia tidak membutuhkannya. Kau bisa mengajarkannya cara memboros,”

“Wae? Aku hanya mentraktirnya makan saja. Dia gadis kecil yang butuh banyak asupan gizi karena itu akan membantu pertumbuhan otaknya,” jawab Jiyong.

“Bukan hanya hari ini saja. Contohnya kemarin dan beberapa hari yang lalu, kau membelikannya barang-barang yang tidak dia butuhkan sama sekali tanpa persetujuanku,” sambar Taeyeon.

Okay, lain kali aku akan minta persetujuanmu,” potong Jiyong cepat. Ia agak heran dengan sikap dingin gadis itu yang tiba-tiba saja bangkit. Buruknya, ia yang kena imbas dari sikap gadis itu. “Apa kau sedang dalam masa periodemu?”

“Mwo” tanya Taeyeon bingung.

“Kau tiba-tiba saja marah padaku. Jadi, aku menyimpulkan mungkin ini yang sering ditakuti Youngbae setiap kali Hyorin noona sedang PMS,” jelas Jiyong sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aniya, aku sedang tidak dalam masa periodeku dan bukan karena itu aku kesal padamu jika aku memang sedang PMS. Aku hanya tidak ingin Lauren menjadi boros dengan mudah meminta ini-itu padahal dia tidak membutuhkannya. Dan aku juga tidak ingin dia ketergantungan padamu,” sanggah Taeyeon.

“Sepertinya aku mengerti arah pembicaraanmu,” gumam Jiyong tajam. Wajah cerianya memudar dan ia menatap Taeyeon dengan pandangan yang sulit diartikan. “Aku tidak merasa keberatan jika ia tergantung padaku. Dan aku tidak merasa itu menjadi suatu masalah yang besar,”

“Aku sangat keberatan dan itu juga menjadi masalah yang besar untukku,” jawab Taeyeon sengit.

“Eomma,” panggil Lauren lembut, yang membuat perdebatan kecil di antara Jiyong dan Taeyeon terhenti seketika. “Aku menggambar ini,”

Lauren menunjukkan gambar yang ia buat beberapa menit yang lalu pada Taeyeon. Taeyeon tersenyum lebar dan ia mengambil gambar tersebut. Senyumnya perlahan menghilang dan ia menatap Lauren dengan pandangan bimbang.

“Ige…,”

“Keluarga,” jawab Lauren pelan. Matanya yang bulat kembali berbinar. “Itu aku, eonma, dan appa,”

“Kau menggambar dengan sangat baik, boo,” puji Taeyeon. “Tapi appa…,”

“Aku menggambarnya dengan membayangkan wajah Yong ahjussi. Appa sangat tampan, dan Yong ahjussi adalah orang yang sangat tampan. Wajah mereka pasti tidak beda jauh,” jawab Lauren lagi.

“Ne, kau benar, babyboo…,”

“Itu tidak benar,” sela Jiyong cepat. “Little girl, bukannya tadi kau bilang aku adalah laki-laki yang lebih tampan dari siapapun?”

“Sebelum aku bertemu dengan appa, ahjussi orang yang paling tampan. Se-be-lum,” jawab Lauren sambil menjulurkan lidahnya dan detik berikutnya ia langsung tertawa.

“Dasar anak nakal. Sini kau,” ujar Jiyong. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya dan mencubit kedua pipi gembil Lauren dengan gemas. Lauren hanya menunjukkan cengiran lebarnya, kelihatan sama sekali tidak merasa kesakitan dengan tindakan Jiyong.

Taeyeon menatap interaksi yang terjadi antara Lauren dengan Jiyong dengan tatapan sendu. Fikirannya kembali berkecamuk dan hatinya terasa remuk. Putri semata wayangnya benar-benar menikmati hari-harinya dengan Jiyong. Putrinya berubah menjadi lebih ceria dan cerewet di saat bersamaan jika Jiyong ada di sampingnya.

Taeyeon ingin sekali melihat ribuan ekspresi yang ditunjukkan Lauren seperti sekarang ini untuk selamanya. Ia ingin melihat keaktifan gadis kecil itu. Namun, apakah ia harus mengandalkan Jiyong selamanya juga? Tidak mungkin. Tidak mungkin Jiyong berada di sisi Lauren untuk selamanya, bahkan jika dalam jangka panjang. Tidak akan mungkin. Inilah hal yang Taeyeon takuti dari awal ia memerhatikan kedekatan keduanya.

Takut kebutuhan Lauren akan sosok ayah menjadi ketergantungan pada Jiyong.

“Kenapa kau tidak mencoba membuka kesempatan sekali lagi untuk seorang Kwon Jiyong?”

“…Ma? Eomma?” panggil Lauren dengan menaikkan volume suaranya beberapa oktaf saat fikiran Taeyeon melayang ke mana-mana.

“Ne?” tanya Taeyeon, bingung seperti orang linglung.

“Kau sakit?” tanya Jiyong.

“Aniya, ah mungkin iya. Jadi, bisakah kita pulang sekarang? Bolehkan, Laurennie?”

“Ne, kajja kita pulang ahjussi,” ajak Lauren. Ia menggenggam tangan kanan Taeyeon dan tersenyum manis pada ibunya. “My superhero tidak boleh sakit,”

Taeyeon tersenyum dan ia hendak mengambil tas sekolah Lauren, tapi Jiyong sudah mengambilnya lebih dulu dan memakaikannya di punggungnya.

“Kajja,” ajak Jiyong sambil menggenggam pergelangan tangan kanan Lauren yang mungil. Lauren mengangguk senang dan ia juga menggandeng tangan Taeyeon.

Melihat senyuman sumringah putri kecilnya yang cantik, mau tidak mau Taeyeon juga ikut tersenyum senang. Apapun yang membuat Lauren tersenyum, Taeyeon pasti merasakan hal yang sama. Ia hanya tidak ingin senyuman serta kebahagiaan yang terpancar di dalam kedua mata Lauren meredup.

~~~

“Nah Laurennie, beritahu ahjussi jika sakit eomma bertambah serius, eoh? Kau sudah punya nomor ponselku, ‘kan? Aku akan selalu menanti panggilanmu, little girl,” ujar Jiyong. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mencium dahi Lauren singkat dan mengusap pelan ubun-ubun kepala Lauren.

Roger, ahjussi!” seru Lauren.

“Laurennie, masuklah ke dalam dulu. Eomma mau memberi salam perpisahan pada ahjussi,” pinta Taeyeon pada Lauren.

Lauren mengangguk paham. “Seperti ciuman perpisahan? Seperti yang eomma lakukan setiap kali mengantarku sekolah?”

“Ani…,”

“Ne, seperti itu, Laurennie. Bukankah kita berdua anak eomma yang paling manja dan suka dicium?” sela Jiyong sembari melemparkan senyuman mesumnya pada Taeyeon dan beberapa detik kemudian, ia tersenyum lebar pada Lauren.

“Ya,” desis Taeyeon sambil memukul punggung Jiyong agar Lauren tidak mengetahui tindakannya. Jiyong mengaduh pelan dan kedua hazelnya menatap kesal pada Taeyeon. “Ahga, bisakah setelah itu kau mencuci tangan dan kakimu?”

Lauren kembali menganggukkan kepalanya. Ia berbalik dan membuka pintu apartemennya lalu masuk ke dalam. Setelah Lauren masuk, Taeyeon menghadapkan wajahnya kembali pada Jiyong.

“Kau benar-benar mau memberiku ciuman perpisahan?” tanya Jiyong.

“Aku sedang tidak dalam mood bercanda saat ini, Jiyong-ssi,” gumam Taeyeon pelan.

“Dan aku juga sedang tidak bercanda sama sekali Kim Taeyeon-ssi,” balas Jiyong dengan wajah innocent-nya.

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” tukas Taeyeon.

“Nado,” balas Jiyong lagi.

“Ini mengenai Lauren,”

“Nado,”

“Apa yang ingin kau bicarakan tentang Lauren denganku?” tanya Taeyeon penasaran.

“Kita mungkin bisa membicarakannya besok pagi, kau tidak perlu bekerja. Aku membebaskanmu satu hari,” jawab Jiyong.

“Aku tetap akan melakukan tugasku seperti biasanya, tenang saja,” tolak Taeyeon.

“Arraseo. Kalau begitu aku pulang?” tanya Jiyong.

“Kau bertanya?”

“Aku hanya berharap kau mencegahku dan mengajakku masuk ke rumahmu, hanya untuk duduk sambil basa-basi?”

“Kau tahu aku sedang tidak enak badan,” sanggah Taeyeon.

Jiyong menghela nafas pendek dan ia mengedikkan kedua bahunya. “Sampai bertemu besok,”

Taeyeon hendak membalas sapaan dari Jiyong ketika ia merasakan bibir laki-laki itu menempel singkat di bibirnya. Hanya sedetik. Berikutnya Jiyong menarik kembali dirinya dan ia tersenyum pada gadis itu. Sedangkan Taeyeon, ia hanya mampu membelalakkan kedua matanya, terkejut setengah mati.

“Aku pergi,” pamit Jiyong. Ia melambaikan tangannya lalu berbalik pergi meninggalkan Taeyeon. Laki-laki itu tersenyum puas sebelum ia masuk ke dalam lift menuju parkiran mobil.

Taeyeon menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan-lahan, berharap jantungnya kembali berdetak normal. Tubuhnya mendadak panas-dingin dan ia hanya bisa menyandarkan punggungnya di dinding apartemen. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, menyembunyikan rona merah di wajahnya yang kentara sekali.

Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi.

~~~

“Apa kau tidak bisa duduk di sini saja? Di sampingku?” tanya Jiyong dengan ekspresi heran pada Taeyeon. “Apa kau ingin kita mengobrol dengan cara berteriak-teriak, begitu? Atau menggunakan telepon benang seperti anak kecil?”

“Aku takut kau akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi,” tukas Taeyeon cepat. Ia melirik Jiyong tajam, yang sudah duduk dengan nyaman di sofa mewahnya, sedangkan gadis itu hanya berdiri di dekat pintu kondo.

“Apa maksudmu?” tanya Jiyong bingung.

“Kejadian kemarin,” desis Taeyeon gusar. Wajahnya mendadak merona merah dan ia tampak sangat menggemaskan untuk Jiyong, membuat laki-laki itu terkikik pelan.

“Yang mana?” tanya Jiyong, pura-pura tidak tahu dan Taeyeon bersumpah ingin sekali meninju wajah sok innocent-nya itu.

“Ah, molla!” seru Taeyeon. Ia sedikit memghentakkan kakinya menuju sofa dan duduk di samping Jiyong, dengan jarak yang lumayan jauh. “Jangan mendekat atau aku akan mengundurkan diriku dari pekerjaan ini,”

“Woah, tidak kooperatif sekali,” ujar Jiyong dengan nada pura-pura tersinggung. “Aku sudah membayar gajimu untuk bulan depan ingat? Jangan memaksaku untuk melaporkanmu ke polisi dengan alasan pelanggaran dan pemalsuan dokumen…”

“Kurasa tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ini,” sela Taeyeon cepat.

“Aku tidak peduli. Aku bisa melakukan apapun. Naneun Kwon Jiyong imnida, ingat?”

“Aku merasa menyesal melakukan pekerjaan sialan ini,” umpat Taeyeon.

“Kata-katamu sangat kasar,” tegur Jiyong dengan wajah bak seorang manusia tanpa dosa yang baru pertama kali mendengar sebuah umpatan kasar. “Kuharap uri Laurennie tidak pernah mendengarnya,”

“Ah,” potong Taeyeon. “Tentang Lauren, apa yang ingin kau bicarakan padaku?”

“Bagaimana denganmu?”

“Kau duluan,”

“Arra. Aku hanya ingin bertanya tentang Lauren appa,” ujar Jiyong pelan dan hati-hati. Ia berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Aku sudah mendengarnya dari Lauren kalau kau berjanji bahwasanya Lauren appa akan datang menemuinya suatu hari nanti, sedangkan dia sama sekali belum mengetahui bagaimana wujud rupa sang ayah sejak ia dilahirkan di muka bumi ini. Aku jamin, bahkan saat kau melahirkan dia tidak ada di tempat, ‘kan?

“Keurigo,” lanjut Jiyong. “Kau salah besar jika menjanjikan hal gila seperti itu pada Lauren. Dia memang masih kecil, tapi dia sudah mampu berfikir dengan logika sekaligus hatinya, mengingat dia lebih dewasa dari umurnya, dia akan terus mengingat janjimu, menagihnya setiap dia ingat, dan akan terus seperti itu sampai dia menyadari jika janjimu hanyalah omong kosong belaka,”

“Apa maksudmu kalau ayahnya tidak akan datang? Dia berjanji padaku, bukan denganmu,” sanggah Taeyeon tajam. “Aku mengerti arah pembicaraanmu dan kutegaskan sekali lagi, Lauren appa akan datang menemuinya suatu hari nanti, memanjakannya, dan menyayanginya lebih dari siapapun di dunia ini. Aku percaya itu, aku percaya pada janjinya walaupun dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya di hadapanku,”

“Dia pasti laki-laki yang brengsek,” desis Jiyong. Emosinya mendadak naik mendengar penuturan Taeyeon yang memercayai seseorang yang bahkan tidak pernah memperlihatkan dirinya. “Dia tidak ada saat kau berjuang keras melahirkan anaknya, dia tidak mengabarimu apa-apa, tidak menghubungi Lauren, minimal bertanya bagaimana keadaannya. Dia hanya bersembunyi di suatu tempat dan kita tidak tahu kapan dia akan muncul. Dia hanya berjanji, dan kau sanggup memegang janjinya? Memercayainya?”

“Mungkin perkataanmu benar,” lirih Taeyeon. “Tapi apa yang kupercayai, tidak akan ada yang mampu mengganggu gugatnya. Aku tetap akan memercayainya, wae? Karena dia adalah Lauren appa,”

“Kau sangat mencintainya? Pasti,” tukas Jiyong. “Dia itu siapa? Suamimu? Aku yakin tidak. Kalian pasti hanya…,”

Jiyong mendadak terdiam, merasa sudah terlalu jauh dengan rencana pembahasannya. One night stand. Hal itu memang seringkali mengganggu fikirannya, seringkali menggagalkan fokusnya dan ia ingin secepat mungkin bertanya pada Taeyeon. Namun, tidak secepat ini juga. Karena jika memang itu benar, dia tidak tahu siapa yang lebih sakit mendengar jawabannya.

“Mwo? One night stand, begitukan?” tanya Taeyeon pelan. Kedua matanya mendadak berair. “Kalau memang iya, kau mau mengatakan kalau aku ini adalah perempuan jalang yang bermuka polos? Gwaenchanna, kau bisa mengatakannya lebih kejam dari itu. Karena apa? Aku bahkan sudah mendengar lebih banyak dari itu. Dan kau bukan siapa-siapa untukku, aku tidak akan merasa terluka atau sakit hati,”

“Aku tidak akan mengatakan apa-apa, Kim Taeyeon,” sanggah Jiyong tajam. Kedua tangannya terkepal erat dan ia berusaha keras menahan amukannya. “Jika memang seperti itu, kau sudah tahu kalau dia laki-laki brengsek yang tidak akan mudah menepati janjinya…,”

“Aku tetap tidak akan mengubah keputusan yang kubuat sendiri,” sela Taeyeon. “Apa urusanmu? Aku ingin percaya padanya dan kau tidak berhak melarangku,”

“Hal itu hanya akan menyakiti Lauren, Taeyeon-ah! Kau seharusnya tahu apa akibatnya jika apa yang kau percayai itu hanyalah bullshit! Lauren yang akan tersakiti. Dia akan terus menagih janjimu dan ketika dia tumbuh sebagai remaja, dia akan tahu kalau ibunya adalah seorang pembohong kejam. Dia begitu menginginkan ayahnya di dekatnya. Dia sangat membutuhkan figur itu dan kau berbohong dengan mudahnya hanya untuk menyenangkannya? Batinnya sudah terluka dan aku sangat paham bagaimana rasa sakitnya,”

“Kenapa kau berkata seperti itu? Seolah-olah kau tahu betul siapa aku. Kau tidak tahu, Jiyong-ssi, sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah berbohong apapun pada Lauren! Aku tahu kalau appanya akan datang, aku tahu dan aku yakini hal itu! Kalau kau tidak tahu apa-apa, tolong jangan buka mulutmu hanya untuk menuduhku macam-macam,”

“Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Lauren…,”

“Neo mwondae?” tanya Taeyeon langsung. “Kau siapa seenaknya bicara seperti itu untuk putriku? Dia anakku dan hanya aku yang akan melindunginya. Hanya aku. Dan kau tidak berhak untuk mencampuri hidup kami berdua,”

“Kau mulai lagi,” lirih Jiyong. “Aku sudah pernah mengatakannya padamu, ‘kan?”

“Ne,” jawab Taeyeon. Ia bangkit dari sofa dan sembari ia menghapus air matanya, ia kembali berujar. “Dan semua hal yang kau lakukan itu percuma, semua sia-sia saja. Berhenti mendekati anakku hanya untuk mendapatkan simpatiku. Berhenti bersikap seolah-olah kau ini adalah ayahnya hanya untuk mendapatkan hati dan perhatiannya. Berhenti memberikannya harapan palsu jika kau tidak mampu untuk melakukannya selamanya. Jangan pernah berharap aku akan percaya padamu,”

Jiyong menggeram marah dan ia ikut berdiri, menghadap Taeyeon. “Aku tulus menyayanginya. Dia butuh aku, dan aku membutuhkanmu. Aku menyayanginya karena sebagian diriku ada padanya. Dia membutuhkanku karena sebagian dirimu berhasil masuk ke dalam diriku. Aku tidak ingin melepaskan kalian. Kenapa kau tidak paham juga?!”

“Lakukanlah itu dengan kekasihmu! Lauren sudah punya ayahnya sendiri. Jebal, jangan hancurkan hubungan kami seperti halnya niatmu yang ingin menghancurkan hubunganmu sendiri. Lauren memang membutuhkan sosok ayah, tapi tidak berarti itu harus dirimu! Begitu juga denganku. Kau bisa mendapatkannya dengan kekasihmu, atau kalau tidak kau masih bisa mencari yang lain ‘kan? Bukankah hal itu mudah untukmu? Lauren tidak butuh sosok ayah seperti dirimu, Kwon Jiyong,”

Taeyeon tahu kalau Jiyong mungkin akan menamparnya atau bahkan memukul wajahnya. Tapi dia tidak peduli. Rasa sakitnya hanya sebentar, tidak akan lama. Sedangkan jika ia terus berharap pada laki-laki itu dan akhirnya tersakiti juga, ia yakin sakitnya akan terus membekas sampai ia meninggal dunia nanti. Karena semakin ia berharap, semakin besar perasaan cintanya untuk Jiyong.

Alih-alih menampar atau memukul wajah Taeyeon, Jiyong mencengkeram kasar lengan kanan gadis itu dan menariknya mendekat pada dirinya. Ditangkupnya rahang gadis itu lalu dilumatnya kuat bibir mungil milik Taeyeon.

Kedua mata Taeyeon terbelalak lebar, ia shock mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu dari Jiyong. Ia tidak siap dengan apa yang terjadi saat ini. Sama sekali tidak siap sehingga tubuhnya mendadak linglung dan hampir terjatuh. Dengan sigap Jiyong menahan tubuh gadis itu, memeluknya semakin erat dan tetap menciumi bibir Taeyeon tanpa sedikitpun mengurangi ritme kasarnya.

Ia begitu frustrasi. Frustrasi karena Taeyeon sama sekali tidak memercayai dirinya, at least, mencoba percaya. Tapi ia justru percaya dengan laki-laki yang sudah meninggalkan dirinya dengan Lauren.

Memikirkan hal itu membuat ubun-ubun kepala Jiyong kembali panas. Ia mendorong kuat tubuh lemas Taeyeon hingga punggungnya menabrak pintu kondo tanpa melepas pagutannya. Ia ingin Taeyeon juga merasakan betapa frustrasinya dia, betapa kecewanya dia dengan pemikiran gadis itu.

Taeyeon menutup matanya rapat-rapat dan berusaha mendorong kedua bahu Jiyong dengan kuat. Kedua pergelangan tangannya terasa lemah. Ia lalu memukul-mukul dada laki-laki itu, yang justru malah semakin menempel di tubuhnya. Semua hal dilakukan Taeyeon, menarik kerah kemeja Jiyong, mendorong tubuhnya, bahkan memberontak minta dilepaskan.

Saat nafas Taeyeon sudah hampir habis, Jiyong menggit bibir bawah gadis itu dengan geram sampai menimbulkan luka dan berdarah. Taeyeon menjerit kesakitan tapi jeritannya tertahan karena saat ia membuka mulutnya tanpa disengaja, Jiyong langsung melilitkan lidahnya dengan lidah gadis itu, mengaduk-aduk isinya dengan tak sabaran sampai-sampai Taeyeon harus tersedak dengan air liurnya sendiri.

Cengkeraman Taeyeon di kemeja Jiyong semakin kuat karena ia tidak tahan lagi untuk menahan nafasnya. Ia sudah membuka mulut untuk mencari udara tapi Jiyong kembali menahannya dengan bermain di dalam mulut gadis itu. Apa laki-laki itu berniat ingin membunuhnya dengan cara gila seperti ini?

Menyadari tingkah Taeyeon yang kewalahan, Jiyong melepas kulumannya di bibir Taeyeon dan mereka berdua terengah-engah layaknya habis lari berkilo-kilo meter jauhnya. Meskipun ia sudah melepas ciumannya, tapi Jiyong tetap merapatkan tubuhnya pada tubuh Taeyeon. Nafasnya tersengal-sengal dan Taeyeon dapat merasakan nafas hangat Jiyong menggelitiki leher jenjang gadis itu.

Selain mengambil nafas dalam-dalam, Taeyeon juga terisak. Ia tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, seharusnya ia bisa mengantisipasinya. Ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu lemah, bodoh, dan semacamnya. Hal ini justru semakin menyakiti perasaannya.

“Kau tidak bisa seperti ini,” isak Taeyeon. Ia kembali mendorong tubuh Jiyong untuk menjauh darinya. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Kekuatannya menghilang entah ke mana. Seharusnya ia bisa menampar laki-laki itu.

“Wae?” bisik Jiyong di telinga kanan Taeyeon. “Kenapa kau tidak bisa sekali saja membuka kesempatan untukku? Kenapa laki-laki itu justru bisa mendapatkan kepercayaanmu?”

“Karena yang kau lakukan itu semua sia-sia dan aku sudah mengatakannya tadi!” seru Taeyeon. “Sekarang lepaskan aku…,”

Fu*k!” maki Jiyong dan ia kembali meraup bibir merah yang ada di hadapannya itu. Sama kuatnya dengan yang pertama. Sama dalamnya dengan yang pertama. Namun, jauh lebih liar, lebih agresif lagi dari yang pertama. Jiyong terus mengulum bibir itu dan tak hentinya memaksan Taeyeon untuk mengikuti tempo ciuman paksanya tanpa peduli dengan tindakannya yang selanjutnya.

Ia tidak peduli, bahkan jika ia sampai kelepasan sekalipun.

Tapi apa dia sanggup menyakiti hati gadis itu lebih dalam lagi? Sebuah ingatan menghantam orak Jiyong, membentur akal sehatnya. Jika ia melakukan hal yang lebih, memaksa gadis itu untuk melangkah lebih jauh, bukankah ia lebih brengsek dari laki-laki itu? Bukankah itu artinya ia telah mengorek kembali luka lama dalam hidup Taeyeon dan kembali menakuti gadis itu?

Sadar dengan tindakan bodohnya, Jiyong melepas ciuman panasnya dan sedikit memberi jarak pada tubuh mereka berdua. Dilihatnya Taeyeon kembali menangis dengan bibir merah ranumnya yang berkilat akibat saliva mereka berdua yang sudah tercampur baur.

Jiyong merutuki dirinya, mengumpat keras di dalam hatinya. Ia ingin mengeluarkan suaranya, ingin minta maaf atas perbuatan lancangnya. Namun, ia hanya diam. Tubuh serta bibirnya tidak bekerja sesuai keinginannya. Yang ia lakukan hanyalah terdiam menatap gadis cantik itu.

“Apa kau sudah merasa senang?” lirih Taeyeon setelah tangisnya mereda. Ditatapnya Jiyong dengan pandangan benci, membuat perut Jiyong bergejolak tak nyaman. “Sudah puas memperlakukanku sama seperti para wanitamu itu? Kau sudah merasa menang, ‘kan?”

Jiyong diam tidak menjawab. Ia hanya terus menatap nanar pada Taeyeon, merasa semakin terluka dengan tuduhan gadis itu. Nyatanya, dalam pandangan Taeyeon, laki-laki itu sama sekali tidak memiliki rasa bersalah. Dan itu membuat Taeyeon semakin membencinya.

PLAK!

Satu tamparan keras mengenai pipi kiri Jiyong, menyebabkan rasa panas menjalari wajah laki-laki itu.

“Kau pantas mendapatkannya dan aku pantas untuk mengundurkan diri. Terima kasih atas semua kebaikan yang kau berikan untukku selama aku bekerja padamu, Kwon Jiyong-ssi. Selamat tinggal dan aku berharap ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu,”

Taeyeon melepas apronnya, mencampakkannya ke lantai dan ia mengambil tasnya di atas salah satu sofa. Lalu dengan cepat ia membuka pintu kondo Jiyong dan keluar menuju entah ke mana. Pergi, dan Jiyong yakin gadis itu takkan mau lagi kembali ke kondonya, bahkan hanya untuk melihat sekilas saja tidak akan mau.

Kenyataan yang ia hadapi jauh lebih membuatnya sakit daripada tamparan keras Taeyeon  tadi. Gadis itu tidak akan kembali lagi. Meskipun Jiyong memohon padanya, memelas untuknya, gadis itu tidak akan menoleh lagi ke arahnya. Walaupun Jiyong mengabarkan kematiannya, Taeyeon tidak akan menghentikan langkahnya untuk menjauhi laki-laki itu.

Karena Jiyong tahu, ia sudah merusak dan menghancurkan hati seseorang yang begitu rapuh. Ia sudah merusak segalanya, semuanya. Untuk pertama kalinya, ia menyesal sudah membuat seorang perempuan menangis.

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

Joseonghaeyo, chingudeul!!! Aku telat update lagii hahahaa. Mian, mian, mian. Rencana emang hari minggu mau update, tapi entah kenapa aku rombak lagi sebagian ceritanya dan ngga tau deh apa ini yang terbaik atau engga.

And the real conflicts masih belum muncul ke permukaan, chingudeul. You know the real conflicts were in Joohyun and Mino’s hands! Bisa dibilang ini masih pupuknya konflik jadi masih butuh pertumbuhan yang baik untuk menuju konflik besar.

Sorry if it takes too long~ seeya^^

Advertisements

65 comments on “Beautiful Lies (Chapter 5)

  1. 😢😢😢😢😢😢😢😢
    Jgn2 ayahnya lauren itu si mino😂😂😂
    Mukanya2 brengsek🤔😂😂😂

  2. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Lauren cara bicaranya dewasa karena diajarkan ibunya, betapa kerasnya hidup .
    Belum konflik banget aja dah kaya gini. 🙂
    Gak bisa komentar apa-apa lagi.
    Fighting Author-nim! 🙂
    Fighting All! 🙂 😉
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #SOSHIBANG
    #ROYALISTDREAMER
    😀 🙂 😉 😀 😀

  4. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s