Fine (Chapter 4)

040317_1251_FREELANCEFi1.jpg

FINE 《all for my wife was spoiled

Author : deeHAYEON

Main Cast : Oh Sehun, Kim TaeYeon

Other Cast : Park Jiyeon, Im Yoona, Kwon Yuri, Victoria Song, etc.

Length : Part

Rating : T+

Genre : Marriage-life, Sweet Romance

Summary : ‘Kim Taeyeon seorang gadis berumur 21 tahun yang memiliki sifat super manja. Oh Sehun pria berumur 22 tahun yang memiliki sifat super dingin. Keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana cara Sehun mengatasi pekerjaan dan istrinya??’

Warning : Kiss scene & Typo(s)

Preview : Chapter 1, Chapter 2Chapter 3

💘💘💘

Part 4

“Kim Taeyeon”

Taeyeon menunduk dalam dan memeluk nampannya erat-erat. Baru saja ia keluar dari ruangan Sehun, kedelapan belas staff divisi utama yang dipimpin oleh Park Jiyeon sudah ada di depan ruangan itu dan menatapnya mengintimidasi. Taeyeon tahu ini akan terjadi mengingat mengantarkan kopi kepada atasan tidak mungkin menghabiskan waktu selama hampir setengah jam. Pasti ada banyak spekulasi di otak mereka. Dan disinilah ia, dikelilingi para staff dengan Jiyeon yang berjalan mondar-mandir dan menatapnya lekat-lekat. Seorang Office Girl tengah disidang sekarang. Tapi kenapa mereka tidak memberinya tempat duduk? Seorang terdakwa saja disidang dalam keadaan duduk.

“Menghabiskan waktu di dalam ruangan CEO dan mengabaikan pekerjaanmu sebagai Office Girl. Berapa waktu yang dia habiskan Victoria-ssi?” Jiyeon bertanya pada Victoria yang memegang stopwatch. Taeyeon melongo, mereka ini team divisi yang jabatannya lebih tinggi dari staff-staff lain atau guru olahraga yang nyasar ke perusahaan suaminya?

“26 menit tigapuluh empat detik” jawab Victoria.

“Jika disimpulkan, mengantarkan kopi dengan segala tata krama yang dijelaskan Tiffany kau hanya butuh waktu 4 menit 33 detik. Jadi apa yang kau lakukan selama 22 menit 1 detik diruangan itu, Taeyeon-ssi?”

Taeyeon menelan ludah. Ia benar-benar sedang disidang, bahkan mereka lebih teliti daripada team penyidik, rasanya ia baru saja mendengar hakim yang menginterogasinya mengenai kasus pembunuhan yang ia lakukan. Ia harus memberitahu Sehun bahwa pegawai-pegawai berkelasnya ini lebih cocok bekerja di bidang kepolisian dan di bidang olahraga.

“Aku tidak melakukan apapun diruangan CEO. Bukankah wajar bila Office Girl diperintah untuk membersihkan debu di rak-rak buku CEO? Bukunya sangat banyak dan aku bukan seorang Office Boy yang bisa mengerjakannya dengan cepat” ujar Taeyeon memberi pembelaan yang seakan dengan cepat mematahkan spekulasi yang diinterogasikan Jiyeon padanya. Taeyeon lebih cerdik dari mereka.

“Dia benar” gumam Tiffany yang di dengar oleh semua orang, “Office Girl memang ditugaskan khusus di dapur tapi tak ada yang salah bila CEO ingin Taeyeon  yang membersihkan rak bukunya yang besar itu. Mungkin CEO ingin mengetahui kinerja Taeyeon atau dia malas memanggil Office Boy” Ternyata itulah gunanya sahabat. Taeyeon akan berterima kasih pada sahabatnya nanti.

Yoona dan tiga temannya—yang tidak Taeyeon kenal—mengangguk setuju, tapi sepertinya tidak untuk yang lainnya.

“Jika alasanmu benar. Bisa kau jelaskan tentang bibirmu itu?” Victoria menunjuk bibir Taeyeon yang otomatis Taeyeon sentuh dengan tangannya, “Sedikit memerah dan membengkak. Hanya ada tiga kemungkinan. Pertama kau berciuman, yang kedua kau dicium seseorang dan yang ketiga kau tersengat lebah”

Yuri mendelik, “Kemungkinan pertama dan kedua sama saja. Dan kemungkinan ketiga, tidak mungkin. Mana ada ruangan semewah ruangan CEO dimasuki lebah, bahkan nyamuk pun tak ada”

“Aku hanya menduga, Yuri-ssi” Victoria balas mencebik.

Sedang Taeyeon menelan ludah untuk kedua kalinya. Apa jadinya bila para staff itu tahu kalau kemungkinan pertama yang dikatakan Victoria adalah benar? Ia yang dicincang atau mereka yang tercincang? Tapi ingat sekali lagi, Taeyeon lebih cerdik dari mereka!

“A-ah, bibir bengkak ini aku dapatkan setelah aku menggigiti bibirku sendiri karena gugup. Tiffany bilang aku tak boleh gerogi apalagi berkeringat dingin di depan CEO, jadi aku melampiaskannya pada bibirku. Memang terlihat jelas ya?”

“Tikus kecil pandai berkelak” dengus Jiyeon.

“Aku bicara apa adanya. Memang kau mengharapkan aku benar-benar berciuman dengan CEO?”—karena memang itu kenyataannya, Taeyeon melanjutkan dalam hati.

Jiyeon menatapnya tajam, “Dasar pengkhayal ulung. Kau seenaknya saja bicara. Kalau pun kau berciuman, pasti kau melakukannya dengan orang selain CEO, Yoochun misalnya”

Taeyeon membelalak. Apa! Dia berciuman dengan Yoochun? Kurang ajar sekali wanita itu. Dan pengkhayal ulung? Bukankah seharusnya Taeyeon yang berkata seperti itu padanya dan pada semua staff wanita di perusahaan ini?! Tunggu sampai suaminya tahu apa yang dia katakan.

“Terserah apa katamu” Taeyeon tersenyum manis, “Permisi, saya harus kembali bekerja” ia lalu melewati kerumunan staff yang mengelilinginya, dan tak peduli dengan geraman Jiyeon.

“Akan ku balas kau, Tikus Kim!” Seru Jiyeon.

“Tarik kata-katamu!”

Suara tegas dan dingin tiba-tiba menimpali sumpah serapah Jiyeon pada Taeyeon. Semua staff membungkuk, sementara Jiyeon menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia mendapati Sehun sudah berdiri di depannya dengan Yoochun yang mengekorinya. Segera saja Jiyeon membungkuk.

“Sekali lagi kau bertindak arogan pada sesama pegawai, sebentar lagi akan ada orang yang menggantikan jabatanmu, dan kau akan menerima pesangonmu” ucap Sehun dingin. Jiyeon menunduk dalam, sementara semua staff telah kembali ke kubikal masing-masing—tak ingin kebagian di tegur oleh CEO mereka.

“B-baiklah, Sehun-ssi. Maafkan atas ketidak sopanan saya”

“Bukan padaku. Minta maaf pada objek yang kau intimidasi”

“B-baik”

Sehun melanjutkan jalan melewati Jiyeon dan pergi ke lift khusus untuknya—masih dengan Yoochun yang mengekorinya.

❣❣❣

Salah satu restoran yang terdapat di dalam gedung perusahaan sudah ramai dengan para staff yang menginginkan jatah makan siang mereka. Oh E-Corp memiliki sepuluh restoran yang tersebar di beberapa lantai, restoran itu bisa dikatakan cukup besar namun tetap tak sebanding dengan staff-staff yang berjumlah puluhan ribu.

Semua orang tampak bercengkerama dan bersenda gurau membicarakan apapun yang membuat mereka tampak sangat akrab, seolah tidak ada perbedaan jabatan diantara mereka. Ya, tentu dalam suasana seperti inilah mereka bisa menjadi sahabat karena ketika dalam pekerjaan mereka harus profesional dan bersikap formal, kerja sama formal dengan persaingan tak kasat mata antara team satu dengan team lain dan individu satu dengan individu lain. Semua orang membaur, kecuali seorang gadis mungil yang nampak terasingkan disana. Dia mengedarkan pandangan sambil sesekali tersenyum pada staff yang berpapasan dengannya—senyumnya terpaksa harus terus tersungging karena kehadirannya tampaknya menjadi perhatian semua orang. Pakaiannya, sangat mencolok. Seragam Office Girl.

Taeyeon duduk di meja yang beruntungnya masih kosong, ia risih diperhatikan seperti ia adalah iblis yang bisa menampakkan diri, tidakkah seharusnya mereka peduli pada makanan mereka saja? Taeyeon tak ingin jadi perhatian jika semua orang memandangnya rendah.

“Taeng!” Tiba-tiba sebuah suara tedengar dari arah depan, rupanya Tiffany diikuti Yoona dan Yuri di belakangnya. Mereka tak sulit melewati staff-staff yang berdesakan dengan tubuh ramping mereka. Taeyeon hanya tersenyum miris—sekali lagi menyadari penampilannya lebih rendah dari ketiga wanita itu.

“Aku terkejut kau ada disini”

Taeyeon menatap Tiffany aneh, “Kenapa harus terkejut? Aku kan hanya makan siang”

“Bukan itu maksud Tiffany, Taeyeon-ssi. Maksudnya, Office Boy tidak akan makan di restoran tetapi diruang OB, dan kami kira itu juga berlaku untukmu sebagai Office Girl tapi ternyata tidak” ucap Yoona.

Taeyeon mengangguk-angguk mengerti, “Aku juga tidak tahu. HRD yang melarangku makan diruang OB, katanya aku punya jatah makan siang direstoran”

“Ini aneh. Apa perkataan Jiyeon benar tentang kau punya hubungan dengan Yoochun-ssi?” Yuri beranggapan. Taeyeon membelalak dengan mulut terbuka.

“Hey! Jangan asal bicara. Mana mungkin itu terjadi, dan mana mungkin kau setuju dengan Jiyeon. Dia itu Ratu Antagonis” sangkal Tiffany. Sekali lagi Taeyeon berterimakasih pada sahabat lamanya itu.

“Aku hanya bertanya. Lagipula bukankah aneh Taeyeon bisa makan direstoran staff dengan pekerjaannya sebagai OG, kecuali kalau dia memang memiliki koneksi, dan rasanya tuduhan Jiyeon cukup masuk akal”

“Park Jiyeon Ratu Antagonis, Yuri-ssi” Yoona memperingati lagi. Taeyeon sangat terhibur dengan nada malas Yoona. Dan perhatian mereka teralihkan saat pelayan mengantarkan menu.

“Terimakasih” ucap Tiffany pada pelayan itu.

Taeyeon memberikan tatapan tak dapat diartikan pada sepiring makanan di depannya. Ia tak menyentuh apalagi memakan makanannya. Menu restoran hari ini adalah nasi, ayam bakar, telur gulung dan sayur lada hitam. Bukankah itu makanan yang tidak aneh?

“Kenapa tidak di makan, Taeng?” Tanya Tiffany.

Taeyeon mengangkat pandangannya, dia bahkan bingung melihat Tiffany, Yoona dan Yuri sudah makan jatah mereka dengan lahap, “Kita langsung makan menu utama ini? Mana hidangan pembukanya?”

Seketika Tiffany, Yoona dan Yuri melongo. Sementara Taeyeon dengan polosnya menggeser makanan yang ia sebut menu utama itu, lalu mengedarkan pandangan kesekeliling.

“Kenapa menu pembukanya tak datang-datang?” Gumam Taeyeon.

Tiffany menghela napas, “Ehm… Tae, apa kau berpikir ini adalah hotel atau restoran mewah? Kita tidak sedang table manner”

“Tapi aku biasanya makan salad buah atau cream soup sebelum memakan menu utama. Apa restoran ini tak menyediakan makanan pembuka? Atau di restoran ini juga tak ada makanan penutup, dessert?” Taeyeon benar-benar tak habis pikir, kenapa suaminya terkesan pelit sekali tidak menyediakan makanan pembuka dan penutup untuk para pegawainya, dan anehnya para staff itu tak protes malah menikmatinya. Tak harus di hotel atau restoran mewah table manner dilakukan, tapi dimanapun dan di manapun. Semua orang seharusnya terbiasa.

“Taeyeon-ssi, waktu makan siang hanya tiga puluh menit. Staff seperti kita tak memiliki banyak waktu untuk melakukan table manner, jadi nikmatilah. Sayur lada hitam di restoran ini sangat enak. Dan jangan lupa, setelah waktu 30 menit—walaupun kau belum menyelesaikan makanmu kau harus berhenti makan dan meninggalkan restoran ini. Sekarang waktu tersisa 18 menit lagi, ayo makanlah daripada kelaparan” ujar Yuri panjang kali alas kali tinggi. Taeyeon beruntung bisa mengingat rumus luas segitiga karena ucapan Yuri. Cukup bermanfaat.

Tapi sayangnya itu tak berpengaruh apapun. Taeyeon tetap tak mau makan. Ia menggigiti bibirnya sendiri, ia lapar—tentu saja. Tapi yang ia inginkan adalah salad buah sebagai makanan pembuka baru ia bisa mengkonsumsi makanan di depannya. Ia menyentuh perutnya yang berisi janin berusia belum genap tiga bulan itu, sepertinya salad buah bukan hanya keinginannya tapi keinginan calon buah hatinya juga.

“Taeng, cepat makan. Kau memilih bekerja sebagai Office Girl tapi ingin makan siang dengan makanan pembuka dan penutup, seharusnya kau terima apa adanya nasibmu di perusahaan ini, kau sudah beruntung bisa makan di restoran dan tidak diruangan OB. Jika hal ini mengganggumu, cari pekerjaan di hotel atau restoran bertaraf internasional agar kau bisa table manner sepanjang waktu” Ucapan Tiffany cukup menohok hati Taeyeon. Taeyeon jadi sadar dirinya manja hingga menyusahkan orang lain, berarti selama ini Sehun pun disusahkan olehnya, tapi suaminya selalu menanggapi dengan senyuman dan berakhir dengan menuruti keinginannya.

“Kau mungkin benar. Tapi sekarang aku benar-benar ingin salad buah, Fany-a”

“Kenapa kelakuanmu ini mengingatkanku pada seorang wanita hamil yang sedang ngidam? Kau tahu, permintaannya harus dituruti” Yoona menyahut diantara kegiatan makannya lalu mendekatkan wajah, “Kau tengah mengandung?”

Glek~

Taeyeon menelan ludah dan berharap seseorang membawa dinding keantara dirinya dan Yoona agar ia bisa menghidar dari pertanyaan tersebut. Terlebih Tiffany dan Yuri sepertinya tertarik dengan pertanyaan Yoona. Ia harus lari.

“Kalian jangan menatapku begitu. Aku hanya benar-benar ingin salad buah, jika tidak disediakan disini aku akan mencari ke tempat lain” Taeyeon langsung beranjak dari duduknya dan segera pergi dari restoran itu, sebelum ia benar-benar berlari ia mendengar Tiffany berseru bahwa waktu istirahat hanya lima menit lagi. Taeyeon menggerutu, memangnya siapa yang mau benar-benar mencari salad buah ke restoran lain, pasti tak akan tersedia. Ia langsung keruangan Office Girl tanpa makanan mengisi perutnya sedikitpun.

Diruangan Office Girl ia langsung meneguk air hangat dan menumpu tangan di pantry dapur—kebiasaannya. Ia mengeluarkan ponsel, niatnya menelepon Sehun tapi niatan itu sirna ketika ia ingat belum menyimpan nomor Sehun di ponsel jeleknya ini. Bahu Taeyeon merosot lemas dan kepalanya jatuh kelipatan tangannya. Air matanya mengalir deras.

“Sehunie….hiks~ hiks~”

💞💞💞

Pintu ganda rumah mewah itu terbuka lebar menampilkan sosok wanita mungil yang menenteng sepatunya. Beberapa pelayan yang sibuk membersihkan rumah terkejut melihat Nyonya mereka sudah pulang bahkan tanpa pemberitahuan dari kepala pelayan Yoon, segera mereka membungkuk. Taeyeon berjalan tertatih-tatih tanpa mempedulikan sambutan sekaligus keterkejutan para pelayan, ia melempar sembarangan sepatunya dan menghempaskan diri disalah satu sofa. Ia sangat lelah dan, lapar.

“Pelayan Yoon!!”

Dengan tergesa kepala pelayan bernama lengkap Yoon Mirae itu menghadap padanya dan memberi penghormatan. Bolehkah ia membandingkan dirinya dan para pelayannya saat ini? Seperti yang ia pikirkan, seragam pelayan yang mereka kenakan lebih berkelas daripada seragam OG yang sangat konyol ditubuhnya. Ia seperti bukan tuan rumah, hanya kelakuannya lah yang menegaskan bahwa ia punya kuasa dirumah mewah tersebut.

“Saya, Nyonya. Adakah yang bisa saya bantu?”

“Aku ingin salad buah dengan porsi besar, apel tidak dikupas dan jangan ada timun. Ingat! Gunakan lemon dan mustard yang banyak” ucap Taeyeon. Pelayan Yoon belum mengiyakan perintah Nyonya-nya, ia sedikit keberatan dengan keinginan Nyonya-nya itu.

“Maaf, Nyonya. Tidakkah menambahkan banyak lemon dan mustard akan membuat salad sangat masam? Anda memiliki masalah dengan lambung, anda tidak bisa mengkonsumsi makanan pembuka yang merangsang asam lambung anda meningkat, terlebih dalam kondisi sedang mengandung”

Taeyeon menatapnya tajam, ia tak main-main. Jangan pernah bermain-main dengan Oh Taeyeon yang sedang lapar. Oh ayolah, siapa yang bisa bertahan jika tidak makan secuil makanan pun saat makan siang, untung itu tak membuatnya lemas karena ia sarapan banyak saat pagi tadi—walau dengan paksaan Sehun, “Kau berani menentangku? Apa karena pakaian Office Girl ini membuatmu bisa dengan seenaknya menceramahiku?”

“Bukan itu maksud saya, Nyonya. Saya mohon mengerti….”

“Bukan aku, tapi kau yang harus mengerti aku yang kelaparan. Aku ingin salad buah dan itu adalah permintaan calon bayiku” erang Taeyeon frustasi.

“Tapi tidak baik anda langsung memakan makanan yang masam dalam keadaan perut kosong. Saya akan menghidangkan roti lapis atau pastry terlebih dahulu” ucap pelayan Yoon dengan wajah tertunduk, membuat Taeyeon meremas bawahan seragam OG-nya menahan kesal.

“Tidak bisakah kau menurutiku saja? Aku lapar. Semua orang tidak mau menurutiku. Hanya Sehunie, tapi dia bahkan tidak ada diruangannya”

Pelayan Yoon yang melihat Taeyeon yang tampak putus asa dan hampir menangis itu merasa tak tega. Ia sudah terbiasa memenuhi permintaan Nyonya-nya walau harus mengingkari perintah Tuan-nya. Akhirnya ia mengangguk, “Baiklah, Nyonya. Saya akan memenuhi permintaan anda, mohon tunggu sebentar”

Kepala pelayan Yoon pergi ke dapur dan mengadakan diskusi kecil dengan beberapa cheff mengenai permintaan Nyonya-nya. Sementara Taeyeon memilih pergi ke kamarnya.

Sekitar sepuluh menit, Taeyeon sudah mendudukkan diri di meja makan, ia telah mengganti pakaian OG-sialannya dengan sweater krim—yang sukses menenggelamkan tubuh mungilnya—dan hotpants putih. Telapak kakinya yang biasanya terlapis sandal rumah ber-hak, kini hanya memakai sandal flat, membuat kekurangan tinggi badannya terpampang jelas, tapi mau bagaimana lagi. Kakinya terasa mau patah karena selalu berdiri selama di kantor, dan sepatunya membuat kakinya lecet.

“Salad buah anda, Nyonya”

Taeyeon tampak berbinar-binar memandang satu porsi besar salad buah yang ia inginkan, perutnya benar-benar memerintahkannya langsung melahap salad itu, dan ia memang langsung melahapnya. Begitu bersemangat menyuapkan sesendok penuh kedalam mulutnya dan dengan bersemangat pula ia memuntahkannya. Pandangannya memandang marah pada pelayan-pelayan yang mengelilinginya.

“Kenapa rasanya seperti ini?!” Teriaknya. Salad buah itu tidak masam seperti yang dia inginkan, malah cenderung manis. Hal itulah hasil diskusi kecil kepala pelayan Yoon dan para cheff—yang ternyata membuat Nyonya mereka geram.

Soeun yang tadi menghidangkan salad itu segera menghampirinya, “Maaf, Nyonya. Apa ada yang salah?”

“Kalian. Kalian semua bersalah! Aku kan sudah bilang tambahkan lemon dan mustard yang banyak, bukan pindekas kacang menjijikan itu!”

Soeun membungkuk berkali-kali, “Maaf. Saya hanya menjalankan perintah kepala pelayan Yoon”

“Hiks…. Kalian mau mempermainkan emosiku. Tunggu sampai aku adukan semua ini pada Sehunie dan aku pastikan kalian semua dipecat, termasuk semua cheff. Aku tak main-main!”

Semua pelayan yang mendengar hal tersebut langsung berbisik-bisik panik, beberapa diantara mereka pergi ke dapur untuk memberitahu para cheff dan kepala pelayan Yoon untuk segera memenuhi permintaan Nyonya mereka, kalau tidak pekerjaan mereka yang terancam. Kepala pelayan Yoon menghela napas, ia sudah menduga hal tersebut. Ia pun membawa satu porsi besar salad buah yang lain untuk Nyonya-nya. Terpaksa, karena nasib puluhan pekerja dirumah ini ada ditangan seporsi salad buah.

“Ini salad yang anda inginkan, Nyonya. Maaf kami sudah lancang menentang anda, kami hanya menghindari kemungkinan terburuk. Sekali lagi maafkan kami”

Taeyeon tak menanggapi perkataan pelayan Yoon, ia mencicipi sedikit salad buahnya—tak ingin dibohongi lagi—dan saat merasakan rasa yang ia inginkan, ia langsung melahap makanan itu dengan semangat. Tak ada yang berani menginterupsi, bahkan untuk mengingatkannya minum agar tak tersedak. Biarkan Taeyeon  menuntaskan mood swing-nya sendiri. Seandainya mereka melakukan ini sedari tadi, pasti mereka tak perlu menghabiskan tenaga sang Nyonya hanya untuk berteriak, memohon dan mengancam. Lebih mudah jika hanya menjadi penurut, tapi bagaimana jika Sehun tahu istri kesayangannya makan makanan yang paling dia larang? Biarkan mereka hadapi itu nanti.

❤❤❤

“Selamat, Sehun-ssi. Anda memenangkan proyek besar ini dengan kejeniusanmu”

“Saya tahu. Saya tak pandai berterima kasih. Tapi untuk anda, terimakasih” Sehun mengumbar senyum simpulnya dan membalas jabatan tangan para kolega dan pejabat yang mengisi ruang pertemuan disebuah hotel mewah itu. Semua usahanya saat mengikuti meeting di China benar-benar tak sia-sia, ia selalu menang dan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan tangan dinginnya. Sekarang waktunya pulang dan mengakhiri semua sandiwara antara dirinya dan orang-orang yang menamakan diri sebagai kerabat dan rekan kerja, padahal mereka tak lebih dari rubah yang ingin mendapat keuntungan karena koneksi darinya. Sesuai poin pertama, ia harus pulang.

“Yeoboseyo” ucap Sehun pada seseorang diseberang telepon. Ia berjalan dengan ponsel ditelinga dan Yoochun—seperti biasa—mengekorinya.

“…..”

“Taeyeon sudah pulang?”

“…..”

“Hn” Sehun menutup teleponnya, “Kita langsung pulang, Yoochun-ssi” ucapnya saat ia dan Yoochun sudah memasuki mobil.

“Maaf, anda tidak akan menghadiri perayaan kemenangan Oh E-Corp dengan yang lainnya, Tuan?”

“Tidak. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan istriku. Jalankan mobilnya” jawab Sehun seraya memijat keningnya yang sedikit berdenyut.

“Baik, Tuan”

Mobil itu meluncur menembus keramaian kota Seoul.

Tak kurang dari setengah jam, mobil yang dikendarai Yoochun sudah memasuki gerbang rumah Oh yang halamannya saja hampir menyamai luasnya lapangan sepak bola. Ada air mancur ditengahnya dan mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama. Tanpa basa-basi Sehun memasuki rumahnya, disambut bungkukkan hormat para pelayan yang berjajar di depan pintu, jasnya ia tanggalkan dan diberikan kepada Soeun.

“Dimana Taeyeon?” Tanyanya entah pada siapa, yang jelas kepada pelayan-pelayannya yang tidak tuli.

“Nyonya Oh ada diruang santai, Tuan. Dia tidak ingin diganggu sejak duapuluh lima menit memasuki ruangan itu”

Sehun mengerutkan kening, Taeyeon ingin menyendiri? Rasanya sangat mustahil istrinya yang begitu aktif ingin sendiri dalam sebuah ruangan, seingatnya ruangan sepi itu dapat membunuhnya. Ia berjalan keruang santai seraya melipat lengan kemejanya sampai siku. Ruang santai tampak lengang, hanya suara televisi yang menandakan ada kehidupan disana. Lalu, kemana istrinya?? Setelah sampai disofa yang menghadap televisi plasma, baru ia melihat istrinya yang tengah tertidur menyamping disofa. Kalau begini bukan Taeyeon yang menonton televisi, tapi televisi yang menonton Taeyeon. Sehun tersenyum kecil dan berlutut di depan wajah istrinya yang tampak sangat tenang sekaligus kelelahan.

“Seharusnya kau tidak perlu bekerja sekeras ini, sayang” bisik Sehun sambil membelai rambut halus Taeyeon, diperhatikannya wajah seputih bayi istrinya yang sangat mempesona itu. Taeyeon memang tak begitu cantik—jika dibandingkan seluruh wanita di dunia ini—masih banyak yang mempunyai kecantikan melebihi dirinya. Tapi entah mengapa, justru wanita berwajah biasa dan kekanakan inilah yang menaklukan hati es-nya, Taeyeon hanya sangat menggemaskan dan memiliki pesona yang kuat untuk membuat semua orang jatuh cinta padanya. Sehun menelusuri kening halus wanita itu yang sedikit mengernyit—seperti tengah merasakan sesuatu yang aneh dalam mimpinya; jarinya melingkari mata yang terkatup menyembunyikan manik mataharinya, hidungnya yang terpahat tak terlalu mancung namun sangat sempurna di wajahnya, pipinya sedikit chubby, dan terakhir jarinya berhenti dibibir peach yang sedikit terbuka. Apapun yang dilakukan Taeyeon, pasti selalu menggugah Sehun untuk mencicipi bibir itu. Dan akhirnya ia mendekatkan wajah kearah istrinya dan mencium bibir manis itu dalam-dalam, tak peduli tak ada respon, ia hanya butuh ketenangan setelah melewati hari ini. Lidahnya melesak kedalam mulut istrinya, mengeksploitasinya dan setelah dirasa cukup, ia melepas pagutannya.

“Kita pindah, sayang” bisik Sehun tepat ditelinga wanitanya, dan tanpa menunggu jawaban—ia langsung mengangkat tubuh mungil istrinya ke kamar mereka. Tepat saat di anak tangga, Taeyeon melingkarkan tangan ke lehernya.

“Jadi, kau berpura-pura tidur, eh?” Tanya Sehun dengan satu alis terangkat. Ia dapat merasakan istrinya menggeleng dan makin menenggelamkan wajahnya di dadanya.

“Aku tidak mau terjatuh. Lagipula aku benar-benar tidur sebelum kau menciumku”

Sehun terkekeh dan melanjutkan jalannya sampai ke kamar mereka. Dibaringkannya Taeyeon di ranjang, sementara dirinya menarik sebuah kursi dan duduk sambil menggenggam tangan sang istri.

“Bisa kau jelaskan tentang kau tidur di sofa ruang santai?” Tanya Sehun pada Taeyeon yang masih menyesuaikan pandangan, lalu tatapan Taeyeon mengarah padanya.

“Ketiduran lebih tepatnya, Sehunie. Lagipula aku tak memiliki tenaga untuk sampai ke kamar. Kakiku terasa mau patah, dan telapak kakiku lecet” jawab Taeyeon dengan bibir mengerucut lucu. Seketika pandangan Sehun terarah pada kaki istrinya yang hanya terbalut hotpants—ia menemukan kaki itu sedikit membengkak.

“Ingin ku pijat? Aku tahu, itu bukan keahlianku tapi setidaknya itu bisa membantu untuk pertolongan pertama. Aku akan menelepon dokter” ucap Sehun, Taeyeon membalasnya dengan gelengan.

“Tidak dengan dokter, dan kurasa tak ada salahnya untuk pijatan seorang CEO” Taeyeon terkikik melihat suaminya menampakkan wajah terganggu. Untuk istri tercintanya ia sanggup menjadi apapun.

“Tapi sepertinya kita tak memiliki minyak gosok” ujar Sehun. Taeyeon memutar bola matanya.

“Gunakan body lotion-ku, suamiku. Aku menaruhnya dilemari kaca di kamar mandi”

“Baiklah, tunggu sebentar”

Taeyeon menaikkan bantalnya sehingga ia bisa memposisikan diri bersandar pada kepala ranjang, tatapannya mengikuti sosok suaminya yang berjalan ke kamar mandi. Sehun kembali dengan sebotol body lotion, ia duduk di kursi semula dan mulai menuangkan lotion aroma strawberry campur mint ke telapak tangannya.

“Tahan sebentar. Kakimu sedikit bengkak karena terlalu lama berdiri, jadi akan sedikit sakit” intruksi Sehun, Taeyeon mengangguk-angguk dan bersiap menerima rasa sakitnya. Ia sudah menduga hal ini karena dengan kondisinya yang tengah hamil akan membuat kakinya lebih mudah kelelahan dari biasanya.

“Sshhh….pelan-pelan, Sehunie” Taeyeon meringis saat Sehun mulai memijat kakinya dengan tekanan yang pelan namun semakin keras. Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan sebelah tangan mencengkeram lengan Sehun untuk menahan rasa sakit. Tapi bukannya berkurang, malah pijatan Sehun semakin keras. Taeyeon tak bisa menerima rasa sakit sebanyak ini, sehingga membuat air matanya mengalir.

“Hiks….S-sakit” isaknya, Sehun tak menghiraukannya—setidaknya untuk sekarang. Dan tiba-tiba Sehun menekan bagian kaki Taeyeon yang bengkak.

“Akkhhh! Sakit….sudah, Sehunie. Sudah….hiks” teriak Taeyeon.

“Iya, iya. Sudah” jawab Sehun seraya memeluk istrinya yang histeris menahan sakit. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak dipijat seperti itu bengkaknya akan bertambah dan rasa sakitnya tak akan cepat hilang. Taeyeon masih terisak dalam pelukannya, ia hanya bisa membisikkan kata-kata menenangkan.

Setelah dirasa keadaan istrinya sudah lebih baik, Sehun merenggangkan pelukannya dan mengecup bibir istrinya berkali-kali, “Kita obati lecetnya, ya?”

“Sakit, Sehunie” lirih Taeyeon.

“Tidak, hanya dioleskan dengan salep. Tunggu” Sehun mengambil salep di kotak P3K dan mulai mengoleskannya sedikit demi sedikit ke telapak kaki Taeyeon, “Sudah. Coba gerakkan”

Taeyeon menurut, ia menurunkan kakinya dari ranjang dan coba menggerakkan, kakinya sudah lebih ringan dan bisa digerakkan dengan bebas. Wajah basahnya kini menampakkan senyuman, “Sudah lebih baik, Sehunie. Terimakasih”

“Hn”

Taeyeon memeluk Sehun erat-erat, “Aku tak menyangka kau pandai memijat. Kau suamiku, seorang CEO yang merangkap sebagai hair stylish sekaligus tukang pijat-ku”

“Aku sudah bilang, aku sanggup melakukan apapun jika itu mengenai dirimu, istriku”

Taeyeon mencium bibir suaminya yang sangat baik hati ini. Sehun membalasnya.

“Bisakah aku mendapatkan waktuku untuk mandi sekarang?” Tanya Sehun. Taeyeon mengangguk-angguk lucu.

“Setelahnya, aku ingin bicara denganmu”

“Baiklah” Sehun mengacak puncak kepala istrinya dan beranjak ke kamar mandi, ia butuh menyegarkan otaknya sebelum menghabiskan sisa hari ini bersama istrinya.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, Taeyeon yang tengah berdiri di balkon—menikmati suasana malam hari—sedikit dikagetkan oleh sepasang tangan yang melingkari pinggangnya, ia menoleh dan tersenyum melihat siapa pelakunya, Oh Sehun, suaminya. Memang siapa lagi?

“Sudah selesai menyegarkan tubuhmu, Tuan?” Goda Taeyeon seraya menyandarkan kepalanya ke dada suaminya.

“Hn. Seperti yang kau lihat” jawab Sehun, “Kau sendiri, kakimu sudah baik-baik saja?”

“Hn. Seperti yang kau lihat” Taeyeon menirukan nada bicara Sehun, membuat Sehun tersenyum berbahaya.

“Itu kalimatku. Kau harus belajar berkreatifitas menggunakan kalimat, Nyonya. Meniru sama dengan hukuman” ujar Sehun, membuat Taeyeon terkekeh.

“Kau tak akan berani”

“Aku bisa”

“Tidak. Kau tidak…”

“Baiklah, kembali ke poin pertama. Ingin bicara apa?” Akhirnya Sehun sendiri yang menengahi. Di kesampingkannya rambut istrinya dan ia dengan leluasa dapat menghirup aroma lemon yang menguar dari tubuh istrinya, sesekali ia mengecup leher putih itu tanpa membuat Taeyeon bereaksi berlebihan.

“Aku ingin kau menambah fasilitas table manner di restoran perusahaanmu, khusus untukku” ucap Taeyeon seraya menikmati sentuhan suaminya yang membuatnya nyaman. Sementara Sehun mengernyit dalam kegiatannya.

“Mengapa harus? Aku sudah katakan, lebih baik kau dirumah dan kau tak perlu khawatir tentang apapun”

“Tidak mau. Ini baru hari pertama aku bekerja, masa sudah berhenti lagi. Payah”

“Bukan itu masalahnya…”

Taeyeon memangkupkan tangan di wajah tampan itu, “Kau cukup menurutiku saja, Sehunie. Karena usia kandunganku yang semakin bertambah membuat selera makanku tak dapat ku kendalikan. Aku akan menginginkan makanan-makanan yang tak tertuga tiap waktunya, jadi kau cukup siapkan appetizer, main course dan dessert untuk makan siangku di perusahaan”

Sehun mencuri satu kecupan di bibirnya ditambah dua kecupan untuk matanya, perlakuan manis Sehun selalu membuat Taeyeon melayang, “Baik, aku akan memenuhi keinginanmu itu, jadi diskusi selesai?”

“Belum. Aku juga mau kau membeli mesin fotocopy untukku belajar. Aku akan meminta bantuan pelayan-pelayan disini untuk mengajariku”

Kali ini Sehun melongo. Ya Tuhan, istrinya benar-benar dapat berbuat apapun yang tidak terduga, “Kau bercanda? Mesin fotocopy?”

“Memang aku terlihat main-main? Aku tak mau dimarahi Ratu Antagonis itu lagi, bahkan dia menuduhku yang tidak-tidak” Taeyeon mengerucutkan bibir sambil memainkan tangan Sehun di perutnya.

“Siapa?”

“Mantan kekasihmu. Dia benar-benar tak tahu diri, terlalu percaya diri, dan seenaknya menuduhku berciuman dengan Yoochun” adunya.

Sehun membelalakan mata, “Apa?!”

“Iya, Sehunie. Dia bilang aku tidak mungkin berciuman denganmu, jadi dia menggunakan Yoochun sebagai alasan lainnya”

“Kurang ajar!” Umpatnya.

“Memang, dia kurang ajar. Tapi kau harus tahan emosimu saat diperusahaan, demi aku. Aku tak mau ketahuan. Biar mereka bicara apa, asal kau percaya padaku” ucap Taeyeon dengan satu kecupan dirahang tegas suaminya.

Sehun balas mengecup dahi Taeyeon berkali-kali, “Akan aku usahakan. Oke, jadi permintaanmu table manner saat makan siang dan mesin fotocopy. Diskusi selesai?” Tanya Sehun.

Taeyeon membalikkan tubuhnya sehingga ia bersandar di pagar balkon dan berhadapan dengan tubuh suaminya, “Kau ketinggalan satu permintaanku, Sehunie. Cium aku”

“Itu adalah permintaan yang paling bagus” Dan Sehun mencium bibir istrinya sebanyak yang ia mau.

To be continue

NOTE : Annyeong!!! Fine kembali….

Ada sedikit pemberitahuan readers, Anfitaehun alias temenku author ff ini kini memutuskan tak akan melanjutkan ff ini lagi, dia sibuk dengan ujian tes-nya masuk perguruan tinggi. Jadi dia memberiku pilihan untuk melanjutkan ff ini atau discontinue, dan karena banyak peminat ff ini jadi aku yang mengambil alih. Mulai dari chapter ini, ide ff ini sepenuhnya milikku. Mungkin ada perbedaan gaya bahasa, mohon dimaklumi yaa.
Please… kritik, komentar dan saran sangat ditunggu. Dan jika banyak yang kurang suka, ff FINE akan di DISCONTINUE.

Advertisements

47 comments on “Fine (Chapter 4)

  1. Huuuaaa, sehun suami idaman parraaahh.
    Dasar ratu antagonis bikin greget parraaahh.
    Kpn sih mereka mau ungkapin hubungan mereka ke publil,hm.
    Nxt chp ditunggu couple seyeon. Fighting.

  2. Oke deh thor yang penting ffnya di lanjutinn yahh… Masa iya berhenti padahal lagi manis manisnya nih ff, duhh gak sabar nunggu kelanjutan cerita nih ff. Si jiyeon disini berhasil buat aku jengkel banget thor, terus disini taeyeon lucu banget apalagi pas minta sesuatu ke sehun, dan sehun juga cinta banget ama taeyeon,, uhhh jadi cinta mati deh ama ini couple, pokoknya best lahh, setiap ff yg main castnya sehun-taeyeon pasti aku tergila gila… Akkkhhh next chap kutunggu ya thorr fighting.. 😍🙆😽

  3. Dilanjut aja thor, kalo masalah gaya bahasa mah gakpapa. Ini udh makin romantis ceritanyaa
    Ditunggu yaa thor pliisss jangan discontinue 😦

  4. Iiiih sumpaaaah kalo baca nih ff bawaannya jadi senyum2 sendiriii😂hatinya tuh kayak da bunga2nya gituuuuu😆selalu nunggu teruuuus buat kelnjutannya. Jangan sampek d setooop😉😚😘👍

  5. Lanjutin aja Thor.. ini benar benar membuat penasaran.. please jangan lama lama updatenya ..Pasangan ini benar2 so sweet..Ah Taeyeon , makin tergila gila ngebaca semua ff tentang taenggo

  6. Ff yg ditunggu, akhirnya update yay!!!
    Mereka gemesin bgt ya ampun ><
    Taeyeonnya tangguh dah meskipun manja tapi tetep mau lanjut kerja, itu temen2 kerjanya kocak bgt ahaha
    Ditunggu next chapternya yaa author-nim, siapapun authornya tetep suka ko sama ff & bahasanya. Fighting auhtor-nim!!^^/ ♡♡♡♡♡♡♡

  7. baru baca ini ff dri chap 1 sampe chap 4 dan sempet baru komen skrg wkwkkw iniii bikinnn baperrr sangatttt gak ququ gitu liat nyaaa. fighting for the next chap!!!👏👏

  8. Wow… TY cute banget disini :* bisakah tetap dilanjut, soalnya sayang aja gitu ff sekeren ini klo distop.. Walau beda author gpp yg penting Jalan cerita harus tetep manis yah.. Hihihi Fighting untuk Author-nim yg sudah bekerja keras dan yg akan bekerja keras lanjutin ff ini… Hihi salam kenal yaww

  9. Aduh author-nim ini ff yang sudah ditunggu, hampir tiap hari ngecek udah di update apa belum, jadi jangan di setop yaa! Semoga sukses tesnya authot anfitaehun

  10. Si Nyonya Oh semangat banget kerjanya. Kasihan juga harus sendiri sebagai OG. Kenapa si Sehun gak mikir ngerjain satu OG lagi biar kerja istrinya dikit ringan kan kasih itu ada dede bayi di perut Nyonya Oh. Kocak abis pas lagi makan siang. Gegara gak ada menu pembuka langsung ngambek gak pengen makan. Nelpon sehun bodohnya lupa gak nyompen nomornya.

  11. Wowowow ah nyonya oh mah bebas aja, sekali minta permintaan si tuan oh nya langsung ngabulin 😂sukaa sukaaaa. Btw meskipun kurang panjang dr biasanya tetep the best kok. Good luck sama hwaiting buat kelanjutannya.

  12. Keren & suka bgt Ceritanya! Bener2 kreatif authornim,,
    Muka Taeyeon yg imut mempesona bener2 cocok sama karakternya.. ditambah wajah dingin Sehun tp hatinya begitu hangat membuat pasangan ini sgt ngena dihati..
    Gomawo udah buat hari2ku menyenangkan dgn Fanfic FINE ini authornim

  13. Aish aku suka bgt sama seyeon thor. Lanjut terus!hehe. Suka manjanya taeyeon yg ego tp ngidam hehe. Fighting thor!!!

  14. daebak…ceritanya semakin seru…gak ada bosen2nya utk nungguin updatenya…
    semangat author…
    komawo….

  15. ceritanya bagus.. sikap tae nya manis banget,,
    cepat lanjut ya thor, keep fighting and writing author..

  16. Jgn di discontinue dong, mnrut q sih ceritanya udh bgus tp kurang konfliknya aja, msalah kluarga seyeon jgn hnya berkisar pd taetae yg manja aja tp ditambahin masalah laen yg lbh greget…

  17. Baru kali ini ada orang minta sesuatu sefantasi taeng😅😅 ya allah itu minta mesin fotocopy berasa minta ice cream yakk ya ampun ngakak guling guling dd😆😆😆 itu note akhirnya bikin seaak nafas jangan dong di berhentiin kan sayang banyak yang minat sama cerita inii. Next part berharap banget dapat berita bagus semisal taeng mai lahiran ya kan😅😅

  18. Yah jangan di stop dong thor ff
    Kan nanggung banget kalo di stop gitu aja
    Padahal ceritanya seru + keren kok
    Apalagi kalo udah bayangin si sehun ma taeyeon
    Pokoknya semangat thor buat lanjutin ff ini

  19. Dilanjut thor, sayang klo gak dilanjut ceritanya menarik..
    Karakter taeyeon beda bgt lagi di sini bikin daya tarik sendiri.. 😀😀

  20. Thor kira2 dilanjitin apa nggak nihh 😦 berikan kami kepastiannnnnn huhuhu kapan combacknya nih fanfic 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s