Beautiful Lies (Chapter 4)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY        

 

 

 

“Aku harus menjemput anakku, Jiyong-ssi! Dia sudah menungguku dan aku harus ada di sana untuknya!” seru Taeyeon. Wajahnya memerah karena amarahnya sekaligus karena isakannya yang belum berhenti.

Genggaman tangan Jiyong di pergelangan tangan Taeyeon seketika meregang dan lama-kelamaan lepas begitu saja. Jiyong terkejut, sangat terkejut. Bagaikan disambar petir, tubuhnya kaku mendadak. Kedua matanya terbelalak. Jantungnya memompa darahnya lebih cepat sampai ke ubun-ubun, membuat nafasnya tercekat di tenggorokan.

Anak? Ia tidak ingin memercayainya.

“Itu adalah satu hal yang kau tidak ketahui tentangku dan kau tidak akan pernah bisa menyukaiku, Jiyong-ssi. Aku harus menjemput putriku di sekolah dan aku terlambat, itu semua karena omong kosongmu. Sedangkan aku tidak bisa terlambat sedetik saja. Karena dia membutuhkanku lebih dari siapapun di dunia ini!” isak Taeyeon. Ia berbalik dan langsung keluar dari kondo Jiyong.

Sedangkan Jiyong masih berdiri di tempatnya, tidak bisa berkata apa-apa dan bahkan tidak bisa menggerakkan satu bagian tubuhnya.

Kenyataan ini lebih menyakitkan dari apa yang ia duga sebelumnya. Apa perasaannya masih sama ketika dia mengetahui ini? Atau seperti kata Youngbae, dia hanya sekedar terobsesi dengan Kim Taeyeon?

Jiyong mengacak-acak rambutnya, frustrasi. Dan tanpa berfikir panjang, ia melangkahkan kedua kakinya menuju kamar.

Sedangkan Taeyeon, setelah ia keluar dengan terburu-buru dari kondo Jiyong sambil menangis, kini ia berdiri dengan tak tenang menunggu kedatangan bus yang biasa ia naiki menuju sekolah putri kecilnya, Namsan International Kindergarten. Berulang kali ia mengecek arlojinya dan rasanya ia ingin menangis lagi. Sepertinya bus yang biasa sudah lewat sebelum ia sampai di halte ini.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, berfikir cepat. Apakah ia harus memanggil taksi? Sepertinya begitu. Ia benar-benar sudah sangat terlambat dan hati gadis itu sangat terluka memikirkan putri kecilnya yang pasti sudah menunggu lama dirinya.

Saat Taeyeon mengeluarkan ponselnya untuk menelepon taksi, bunyi klakson yang dibunyikan berkali-kali oleh sebuah mobil mengganggu konsentrasinya. Gadis itu menengadah melihat mobil Lamborghini Aventador Black terparkir lurus tepat di hadapannya.

Kaca mobil itu terbuka dan memperlihatkan sosok laki-laki yang menjadi pemicu keterlambatannya menjemput gadis kecilnya, Kwon Jiyong.

“Cepat masuklah,” titah  Jiyong. Wajahnya tanpa ekspresi dan terkesan dingin. “Apa kau ingin semakin terlambat?”

Dengan sedikit ragu akhirnya Taeyeon membuka pintu depan mobil laki-laki itu dan segera masuk ke dalamnya. Begitu pintu mobil tertutup, Jiyong menguncinya dan langsung tancap gas tanpa mengalihkan pandangannya ke depan, membuat suasana di dalam mobil itu semakin dingin. Namun, Taeyeon tidak terlalu memedulikan hal itu sekarang. Yang ada di fikirannya hanyalah Lauren Hanna.

Ya, Lauren Hanna, putri kecilnya yang masih berumur 5 tahun.

“Di mana sekolahnya?” tanya Jiyong saat mereka terdiam cukup lama.

Namsan International Kindergarten,” lirih Taeyeon. Suaranya masih terdengar sendu dan Jiyong yakin gadis itu ingin menangis lagi.

Laki-laki itu melirik ke arah Taeyeon, yang sedang meremas kedua tangannya di atas pangkuannya. Taeyeon benar-benar merasa sangat cemas, ia ketakutan sekali. Jiyong mengernyit memperhatikan gadis yang ada di sampingnya itu. Apa yang membuatnya sangat ketakutan seperti sekarang ini? Apa karena ia terlambat menjemput anaknya? Hanya itukah? Atau apakah ada sesuatu yang tidak Jiyong ketahui?

Ya, ia memang tidak mengetahui apapun tentang gadis tersebut. Tidak tahu sama sekali, seperti kata Youngbae. Dan kenyataan bahwa Taeyeon sudah memiliki anak adalah salah satunya.

Jiyong ingin sekali rasanya menggenggam kedua tangan Taeyeon yang sedang terpaut itu, hanya untuk menenangkannya, hanya untuk mengatakan kalau semuanya pasti baik-baik saja. Ia ingin melakukannya, tapi masalahnya saja ia tidak tahu kenapa Taeyeon begitu ketakutan. Jika ia mengatakan semuanya akan baik-baik saja, mungkin Taeyeon akan langsung membunuhnya di tempat.

Jiyong berdecih kecil. Ia menginjakkan gasnya dalam-dalam saat jalanan di depannya agak lengang dan terus menaikkan kecepatannya sampai Taeyeon sendiri harus berpegangan pada seatbelt-nya. Gadis itu menatap Jiyong, yang raut wajahnya semakin kusut. Taeyeon hanya bisa diam di tempatnya, tidak berani bertanya apa-apa.

Karena ia tahu perasaan kecewa yang tengah melanda seorang Kwon Jiyong. Sejujurnya, Taeyeon juga merasa kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri, kecewa karena sebuah takdir yang menimpa dirinya.

Tak sampai dua puluh menit perjalanan, Jiyong dan Taeyeon akhirnya sampai di halaman depan Namsan International Kindergarten. Sebelum Jiyong mematikan mesin mobilnya, Taeyeon buru-buru melepas seatbelt-nya lalu langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri seorang wanita paruh baya dengan setelan jas hitam dan rok selututnya. Wanita itu mempunyai rahang yang keras.

“Ahjumma! Laurennie…,”

“Dia tidak berhenti menangis sejak setengah jam yang lalu, ahga,” sela wanita tersebut. Wajahnya langsung berubah sendu dan kedua matanya tampak berair. “Kami tidak bisa menghentikannya karena ia hanya menginginkan kehadiranmu! Dia terus-menerus meracau ‘Nae eomma sudah tidak menginginkanku lagi. Dia membuangku lagi di sini, di sekolah ini.’ Kami semua sudah mencoba menghubungimu tapi kau tidak menjawab satupun telepon dari kami. Kau ke mana saja, ahga?!”

“Jeosonghaeyo, ahjumma. Ponselku tertinggal dan aku… Aku…,” isak Taeyeon.

“Sudahlah. Kajja, kita pergi ke ruang UKS, dia berbaring sambil menangis di sana,” ajak wanita itu sambil merangkul pinggang ramping Taeyeon dan mengajaknya masuk ke dalam gedung sekolah.

Jiyong, yang sudah dari tadi keluar dari dalam mobilnya hanya termangu mendengarkan obrolan kedua wanita itu. Ia tidak langsung pulang, padahal Taeyeon sudah menyuruhnya untuk kembali setelah ia berterima kasih pada laki-laki itu. Tapi Jiyong berkeras. Ia sudah memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang seorang Kim Taeyeon.

Itu sebabnya, ketika Taeyeon dan wanita paruh baya itu berjalan masuk menuju gedung sekolah, Jiyong mengikuti mereka dari belakang, berharap Taeyeon tidak menyadarinya dan malah meneriakinya untuk pulang ke kondonya. Wanita yang dipanggil Taeyeon ‘ahjumma’ tersebut membawa mereka ke lantai tiga, ke ruangan UKS yang dipenuhi oleh 3 orang perempuan dan satu anak kecil umur 5 tahun.

Jiyong dapat melihat anak kecil itu. Ia sedang meringkuk sambil menangis tersedu-sedu di atas sofa yang ada di dalam ruang UKS. Tangisannya memang tidak meraung-raung, tapi Jiyong dapat merasakan betapa sedihnya ia saat ini. Tangisannya benar-benar sangat menyayat hati, Jiyong bahkan merasa ingin memeluk tubuh mungilnya agar ia berhenti menangis.

Boo, eomma di sini. Eomma datang menjemputmu,” ujar Taeyeon pelan sembari berusaha membalikkan tubuh anaknya agar ia dapat melihat wajah malaikat kecilnya itu.

“Kka!” usir Lauren dengan suara nyaringnya. Isakannya masih terdengar jelas dan ia tidak mau membalikkan tubuhnya.

“Laurennie, jangan berkata seperti itu pada eomma, ahga,” ujar wanita paruh baya tersebut.

“Gwaenchannayo, ahjumma. Lauren butuh ketenangan,” ujar Taeyeon. “Boo, eomma akan mengambilkan tasmu lalu setelah itu kita bisa pulang bersama-sama. Eomma akan memasak Tteokbokki yang banyak untukmu,”

Selesai berkata seperti itu, Taeyeon bangkit dan ia pergi keluar ruangan UKS sambil menghapus air matanya, diikuti oleh wanita paruh baya itu dan tiga orang lainnya. Jiyong berdiri diam di sisi kanan pintu dan hanya menyaksikan wajah cantik Taeyeon kembali dibanjiri air mata.

“Aku tidak ingin memaksanya, ahjumma. Aku ingin ia tenang dulu. Aku tidak ingin asmanya kambuh lagi dan akan jauh lebih berbahaya untuknya nanti. Aku akan mengambilkan tasnya,” lirih Taeyeon.

“Aku akan menemanimu. Ah, aku juga akan memberikan inhaler untuk si kecil Lauren. Bukankah yang lama sudah habis?” tanya wanita paruh baya itu sambil mengajak Taeyeon pergi.

“Asma?” gumam Jiyong. Dahinya berkerut dan ia kembali mengarahkan perhatiannya pada gadis kecil itu. Ia masih sesenggukan tapi tangisannya perlahan-lahan mereda. Dan secara tiba-tiba si kecil itu membalikkan tubuhnya lalu bangkit untuk duduk di atas sofa. Wajah bening dan putihnya kini memerah sempurna karena habis menangis.

Gadis kecil itu begitu cantik. Rambut kecokelatannya yang tergerai indah menjulur di tubuh mungilnya menambah kesan menawan pada dirinya. Warna matanya yang mengingatkan Jiyong pada Taeyeon, serta kedua pipinya yang gembil tampak sangat menggemaskan. Jiyong sempat merasa kecewa karena anak yang ada di hadapannya ini memang sangat mirip dengan Taeyeon. Awalnya ia berharap Taeyeon hanya berbohong padanya.

“Ahjussi nuguseyo?” tanya Lauren. Dahinya mengernyit lucu.

Sedikit terkejut karena tiba-tiba di sapa oleh Lauren, Jiyong menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan sedetik kemudian ia tersenyum sangat manis pada gadis cilik itu. Perlahan-lahan, Jiyong melangkah mendekati Lauren dan duduk di sebelahnya.

“Naneun? Aku Kwon Jiyong, kau bisa memanggilku ahjussi Yong,” sapa Jiyong. Ia mengulurkan tangan kanannya pada Lauren. Namun, gadis kecil itu hanya terdiam tidak membalas uluran tangan Jiyong, membuat laki-laki itu kembali teringat oleh Taeyeon. “Aku teman Taeyeon eomma,”

“Apakah kau ahjussi menyeramkan itu?” tanya Lauren, nada dan ekspresi wajahnya berubah ketakutan, membuat Jiyong heran. “Apakah kau ahjussi yang ingin merebut eomma dariku? Apakah kau ahjussi yang ingin menyakitiku?”

“Sshh,” gumam Jiyong, berusaha menenangkan Lauren yang hendak menangis lagi. “Aku bukanlah ahjussi seperti yang kau sebutkan tadi, Laurennie,”

“Ahjussi tahu namaku? Benarkah kau teman eomma?” tanya Lauren pelan.

“Eoh, aku teman Taeyeon eomma,” jawab Jiyong.

“Tapi, ahjussi baik hati yang kukenal hanya Youngbae ahjussi,” sahut Lauren dengan lugunya.

“Ah, jadi kau mengenal Youngbae ahjussi? Ahjussi itu adalah temanku juga. Kau kenal Hyorin imo? Tiffany imo?” tanya Jiyong, yang mulai menemukan titik cerah untuk mendapatkan perhatian Lauren.

‘Kalau Youngbae bisa, kenapa aku tidak?’ gumam Jiyong dalam hati, perasaannya terasa gusar dan ia akui ia sangat cemburu kalau Lauren hanya mengenal Youngbae seorang.

“Ahjussi juga kenal dengan imodeul?” Lauren balik bertanya dengan kedua matanya yang langsung berbinar. “Kau benar-benar teman eomma!”

Jiyong tertawa kecil sambil mengelus rambut Lauren dengan penuh kasih sayang. Hal itu membuat Lauren ikut tersenyum pada Jiyong. Ia bahkan mengarahkan tubuh mungilnya pada laki-laki itu.

“Jadi, kenapa kau menangis? Taeyeon eomma sudah datang menjemputmu lalu kenapa kau malah mengusirnya?” tanya Jiyong, suaranya sangat halus. Jiyong juga belum menyudahi belaian lembutnya di rambut Lauren. “Gadis cantik sepertimu tidak pantas untuk menangis. Air matamu terlalu berharga. Jadi, jangan dibuang sembarangan, apalagi jika itu membuat Taeyeon eomma cemas,”

“Eomma datang terlambat untuk menjemputku,” lirih Lauren setelah beberapa detik lamanya ia terdiam. Matanya kembali sayu dan tampak berair. “Aku… aku kira eomma akan pergi meninggalkanku seperti dulu. Waktu itu bagaikan mimpi buruk, ahjussi. Eomma tidak datang menjemputku di sekolah sampai malam hari. Dan saat itu hujan deras. Aku…,”

Lauren menangis lagi. Isakan kecilnya membuat Jiyong tidak tega untuk memintanya melanjutkan apa yang menjadi mimpi buruk gadis kecil ini. Benarkah? Benarkah Taeyeon pernah meninggalkan anaknya sendiri? Benarkah dulunya Taeyeon sejahat itu pada putri kecilnya?

“Itu sebabnya kau sangat takut jika Taeyeon eomma datang terlambat?” tanya Jiyong. Ia menghapus air mata Lauren dari kedua pipi gembilnya.

Lauren mengangguk. “Hanya Taeyeon eomma yang aku punya di dunia ini. Aku tidak ingin kehilangannya. Kepergiannya merupakan satu-satunya alasan bagiku untuk tidak bernafas lagi sampai kapanpun,”

Jiyong tersenyum simpul tapi bermakna sedih saat mendengar penuturan anak umur yang masih berumur 5 tahun. Ia sangat dewasa. Taeyeon pasti mengajarkan betapa kerasnya hidup di dunia. Apalagi satu-satunya penopang hidup gadis cilik ini hanya ibunya seorang. Jiyong ingin tanya mengenai ayah dari Lauren. Namun, hati kecilnya masih belum menerima kalau sudah ada seseorang yang dulunya pernah menjajaki kehidupan bersama seorang Kim Taeyeon.

“Tapi sekarang eomma sudah ada di sini, ‘kan untuk menjemputmu? Uljimayo. Eomma datang terlambat karena sedang bekerja di tempat ahjussi. Semua ini seharusnya salahku. Jadi, jangan marah pada eomma, eoh? Dia menangis sepanjang jalan mengetahui kalau dirinya terlambat untuk menjemputmu. Dia menangis karena melakukan kesalahan padamu. Dia menangis karena takut kau merasa kecewa dan terluka lagi. Dia menangis karena sangat menyayangi satu-satunya putri kecilnya yang dia miliki saat ini,”

“Jinjjayo? Apa kali ini eomma memang tidak berniat meninggalkanku?” tanya Lauren lagi.

“Aniya, dia ada di sini sekarang, ‘kan? Jangan menangis lagi dan jangan membuat eomma ikut menangis. Kau adalah harta karun yang selamanya akan Taeyeon eomma cintai sampai kapanpun,” jelas Jiyong dengan menampilkan senyuman terbaiknya untuk Lauren. Ia mengusap pipi kanan gadis itu dan mencubitnya pelan.

Lauren tertawa kecil. Ia mengusap air matanya dan menganggukkan kepalanya dengan lucu. “Aku percaya pada ahjussi. Ahjussi tidak sama dengan ahjussi yang kemarin,”

“Ahjussi yang kau takutkan?” tanya Jiyong hati-hati. “Siapa?”

“Yang katanya mencintai eomma. Tapi berhati iblis,” jawab Lauren dengan menunjukkan ekpsresi bencinya.

Jiyong tertegun mendengar jawaban sekaligus melihat raut wajah Lauren tentang seseorang yang dikenal Lauren selain Youngbae. Ia bertanya-tanya siapa orang itu dan hendak mengorek lebih jauh lagi. Namun, sebuah suara lembut yang sudah tidak asing di telinga Jiyong memanggil nama Lauren dan membuatnya mengurungkan niatnya.

“Laurennie, kajja kita pulang,” ajak Taeyeon sambil tersenyum manis pada Lauren. Gadis itu menghampiri Lauren dan membelai rambut panjangnya dengan sayang.

“Eomma,” lirih Lauren. Ia bangkit dari sofa dan segera menghamburkan tubuh mungilnya dalam dekapan Taeyeon. “Jangan terlambat lagi, eoh? Yaksok?”

“Yaksok, Boo. Kau pasti sangat cemas sekali. Mianhae,” jawab Taeyeon. Ia melepas dekapan Lauren lalu mengecup dahinya dengan sayang. Setelahnya, ia menatap Jiyong, yang masih duduk di atas sofa sambil memperhatikan interaksi ibu dan anak tersebut. “Kau belum pulang, Jiyong-ssi?”

“Kalau kalian mau pulang, aku juga akan ikut pulang. Aku akan mengantarkan kalian pulang,” jawab Jiyong. Ia bangkit dari sofa dan menatap Taeyeon juga Lauren secara bergantian.

“Aku bisa…,”

“Aku sedang tidak ingin menerima penolakan, Taeyeon-ah,” sela Jiyong cepat. Matanya berkilat menyeramkan dan ada sedikit tatapan mengintimidasi di sana. Namun, ia tersenyum manis pada gadis itu dan Taeyeon tahu itu hanya senyuman yang dipaksakannya karena ada Lauren yang sedang memerhatikan mereka berdua. “Kau mau pulang bersama ahjussi, ‘kan?”

“Jika eomma mau aku juga pasti mau,” jawab Lauren bersemangat. Ia menatap ibunya sambil memamerkan senyuman manisnya yang begitu lebar, membuat Taeyeon sedikit terkejut karena ini untuk pertama kalinya Lauren mau menerima tawaran dari seseorang yang baru saja dikenalnya.

“Kami berdua sudah cukup akrab sejak kau pergi mengambil tasnya,” ujar Jiyong yang seakan-akan tahu isi fikiran Taeyeon.

“Hanya kali ini aku merepotkanmu, Jiyong-ssi,” ujar Taeyeon pelan. “Kajja, Laurennie,”

“Jadi, inhaler untuk Lauren sudah ada?” tanya Jiyong pada Taeyeon saat mereka bertiga sudah masuk ke dalam mobil. Lauren duduk di pangkuan Taeyeon dan menyandarkan kepalanya di dada gadis itu. Wajahnya tampak lelah karena habis menangis.

“Di sini sudah habis, Choi ahjumma tidak mengecek ulang kemarin. Aku akan membelikannya saat kami sudah sampai di apartemen. Ada apotek terdekat di sana,” jawab Taeyeon lembut sambil membelai sayang ubun-ubun kepala Lauren. Gadis kecil itu terlihat sangat nyaman di pelukan Taeyeon sekaligus belaiannya, hingga ia memejamkan kedua matanya dan sepertinya memilih tidur.

“Apa asmanya akut?” tanya Jiyong lagi. Ia memerhatikan tingkah Lauren dan tampak iri sekaligus menginginkan posisi gadis kecil itu. Buru-buru dienyahkan fikiran kotornya saat itu juga. Tentu saja, itu bukan timing yang tepat. Dan Jiyong merutuki fantasi liarnya yang selalu muncul kapan saja tanpa melihat situasi dan kondisi.

“Sepertinya begitu,” jawab Taeyeon pelan. Wajahnya berubah sendu dan ia mengecup dahi Lauren agak lama. “Nattaemune. Aku tidak akan membuatmu menangis lagi, Princess. Aku tidak akan membuatmu menderita lagi,”

Jiyong menghela nafas pendek dan ia langsung menginjak gas mobilnya keluar dari pekarangan sekolah Namsan International Kimdergarten. Selama perjalanan baik Jiyong maupun Taeyeon terdiam, terjebak dalam fikiran masing-masing. Jiyong melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan karena dia tidak ingin membangunkan Lauren yang tengah memejamkan matanya. Sedangkan Taeyeon fokus ke jalanan sembari tetap mengelus surai lembut anaknya.

“Laurennie?” panggil Taeyeon pelan di telinga kanan anaknya saat mereka terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Mendengar suara lembut Taeyeon yang memanggil Lauren, Jiyong mengalihkan pandangannya dan menatap gadis cantik itu.

“Waeyo?” tanya Jiyong.

Beberapa detik kemudian, Lauren terisak pelan. Ia membuka kedua mata bulatnya dan memandang Taeyeon dengan pandangan yang membuat hati siapa saja terasa kelu.

“Wae geurae? Wae uro?” tanya Taeyeon panik. Ia menegakkan tubuh Lauren dan dapat mereka berdua dengar suara nafas Lauren yang terdengar mengi. Dadanya juga naik turun tidak karuan dan ia mulai terbatuk-batuk tanpa henti.

“Eomma… sesak,” isak Lauren. Ia menangis kencang karena saluran pernafasannya yang terasa sangat sempit. Ia seperti dicekik sampai tak bisa bernafas. Dadanya sakit sekali. Ia berusaha menghirup oksigen dalam-dalam tapi hasilnya nihil dan gadis cilik itu memilih menangis karena sangat ketakutan.

“Andwaeyo, asmanya kambuh,” pekik Taeyeon tertahan. “Jiyong-ssi, tolong bawakan aku ke apotek terdekat, jebal,”

Jiyong gelagapan. Namun, ia segera menguasai fikirannya dan mengatakan pada dirinya sendiri jika ia adalah seorang dokter anak. Jadi, buat apa dia harus panik? Dialah yang seharusnya menenangkan mereka berdua saat ini dan mencoba pertolongan pertama pada Lauren. Akhirnya, Jiyong hanya menepikan mobilnya di pinggir jalan di depan sebuah café kecil lalu mematikan mesin mobilnya.

“Jangan panik dulu,” ujar Jiyong pelan. Ia melepas seatbelt-nya dan menatap Lauren yang masih terisak pelan. “Laurennie, baby girl, dengar ahjussi. Sshh, uljima. Dadamu sakit, ‘kan? Tenangkan dirimu, berhenti menangis dan ahjussi janji dadamu tidak akan sakit lagi. Ahjussi janji kau tidak akan pernah merasa sakit lagi. Ahjussi janji tapi kau harus mendengarkanku, okay?”

Lauren mengangguk dan ia berusaha untuk menghentikan tangisannya. Meskipun masih ada air mata yang mengalir, Lauren berusaha kuat untuk tidak terisak. “Appayo,”

“Ne, itu sakit tapi jangan fikirkan rasa sakitnya. Tenang dan cobalah untuk mengambil nafas pelan-pelan seperti yang ahjussi lakukan. Tarik nafas dalam-dalam dan coba untuk mengeluarkannya sepelan mungkin. Begitu terus sampai ahjussi menyuruhmu berhenti. Tenang dan tidak perlu fikirkan rasa sakitnya. Eomma ada di sini dan tidak akan ada yang terjadi denganmu, sayang. Lawan rasa sakitnya karena ahjussi percaya kau gadis yang kuat. Kau gadis yang kuat sama seperti Taeyeon eomma karena kau adalah putri kecilnya, ‘kan?”

Ucapan Jiyong yang lembut membuat hati dan perasaan Taeyeon berkecamuk. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Namun, ia senang mengetahui Jiyong mampu mengatasi masalah ini dengan kepala dingin, berbeda dengannya. Ia luar biasa lega, sampai-sampai air matanya ikut terjatuh.

“Aku akan cari inhaler sebentar,” ujar Jiyong. “Biasanya aku membawanya setiap saat, walaupun aku tidak butuh,”

Laki-laki itu merogoh semua saku celananya yang terlipat rapi di dalam sebuah tas ransel kecil yang berwarna hitam. Tidak ada, ia mencampakkannya kembali dan mencari di saku jasnya yang tersampir di belakang bangku mobilnya. Untunglah, ia memang benar-benar membawanya.

“Nah, baby boo, buka mulutmu. Biar ahjussi yang akan membantu,” ujar Jiyong. Lauren membuka mulutnya dengan pelan-pelan dan ia menghirup inhaler milik laki-laki itu dengan ritme yang dilakukan oleh Jiyong menggunakan tangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang inhaler untuk membantu pernafasan Lauren. “Kau membawa minyak aromatherapy?”

“Ada,” jawab Taeyeon cepat. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah minyak beraroma lavender dan menghirupkannya pada hidung Lauren setelah lima belas menit lamanya ia menghirup inhaler itu. Lalu, tidak lupa ia menggosokkannya di belakang leher putrinya dengan sangat lembut. Tak lupa ia memijat ringan tengkuknya sehingga Lauren juga sudah sangat merasa tenang dan memejamkan kedua matanya.

“Baiklah, sepertinya kita harus sampai ke rumah agar si kecil bisa beristirahat dengan lebih nyaman,” ujar Jiyong dengan nada cerianya. Ia mencubit pipi gembil Lauren dan mulai menghidupkan mesin mobilnya.

Kita’. Satu kata yang membuat Taeyeon termangu. Satu kata yang membuat kedua pipinya menimbulkan rona merah yang sangat jelas. Satu kata yang membuat darahnya berdesir kencang. Satu kata yang membuat dirinya merasa bahagia dan sakit di saat yang bersamaan.

Taeyeon menatap Jiyong, yang sedang mengemudikan mobilnya dengan mimik serius. Gadis itu menatap Jiyong lama sekali, sampai akhirnya Jiyong mengalihkan pandangannya dari depan untuk membalas pandangan Taeyeon. Walaupun hanya sedetik, tapi Taeyeon dapat merasakan laki-laki itu sedang menyeringai.

“Jangan memandangku lama-lama. Kau bisa jatuh cinta nanti,” ujar Jiyong dengan seringaian jahilnya yang masih terlihat.

Taeyeon tersenyum kecil tapi ia tidak memperlihatkannya pada Jiyong. Ia melemparkan pandangannya ke luar jendela. “Gamsahamnida. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak di sini,”

“Ne, ada untungnya juga aku lebih keras kepala dari dirimu, ‘kan?” balas Jiyong.

Beberapa belas menit kemudian, mobil sport milik Jiyong sudah terparkir rapi di parkiran gedung apartemen Sangtji Ritzville. Mereka berdua kini langsung masuk ke dalam apartemen Taeyeon yang berada di lantai 8, dengan Lauren yang berada di dalam gendongan Jiyong. Sesampainya di dalam, Jiyong merebahkan tubuh mungil Lauren di atas tempat tidurnya yang berukuran kecil tapi masih terlalu besar daripada tubuh mungilnya.

Lauren bergumam tidak jelas ketika dirinya jatuh di atas ranjangnya sendiri. Jiyong membuka selimut Lauren dan menyelimuti gadis itu sembari mengelus dahinya. Ia tersenyum hangat. Sudah lama sekali rasanya ia tidak berada di sekitar anak kecil setelah dirinya kembali dari Paris. Padahal dulu, setiap hari tidak ada hari tanpa anak kecil dalam kehidupan Kwon Jiyong.

Selesai menyelimuti Lauren, Jiyong menyempatkan dirinya untuk mengamati kamar gadis kecil itu. Rapi, wangi, dan terawat sekali. Banyak foto-foto Taeyeon dengan Lauren terpampang di atas meja belajar Lauren. Tapi tak ada satupun foto seorang laki-laki yang berstatus sebagai ayah kandung gadis cilik itu.

Jiyong kembali teringat dengan ahjussi menyeramkan yang membuat Lauren menangis tadi. Ia mengerutkan dahinya, penasaran. Tapi tidak mungkin bertanya pada Taeyeon untuk saat ini.

“Dia tidak terbangun, ‘kan?” tanya Taeyeon pada Jiyong, yang sudah keluar dari dalam kamar Lauren.

“Aniya,” jawab Jiyong singkat. Taeyeon menganggukkan kepalanya dan detik berikutnya ia melongo menatap Jiyong. Laki-laki itu bukannya langsung pulang malah duduk di kursi meja makan milik Taeyeon.

“Kau tidak langsung kembali?” tanya Taeyeon pelan.

“Aku lapar,” jawab Jiyong santai.

“Aku hanya sempat memasak ramyun hari ini. Aku belum pergi ke…,”

“Aku ingin makan apa saja,” sela Jiyong.

“Baiklah, tunggu sebentar,” ujar Taeyeon.

Ia bergegas menuju dapurnya dan segera menyiapkan ramyun sederhana untuk Jiyong. Ia terpaksa juga mengabulkan permintaan laki-laki itu hanya untuk membalas budi akibat sudah menolong Lauren.

Tidak berapa lama ramyun dengan kuahnya yang merah mengental terhidang di hadapan Jiyong. Dengan cepat Jiyong mengambil mangkuk dan sumpitnya lalu melahap ramyun itu tanpa berkata apa-apa lagi.

“Aku akan membuatkanmu teh,” ujar Taeyeon sedikit terpana menyadari betapa laparnya laki-laki itu.

“Apa tidak ada soju? Atau beer?” tanya Jiyong.

“Kau membawa mobil,” tolak Taeyeon dengan tegas.

Jiyong memutar kedua bola matanya dan kembali melanjutkan acara makannya. Taeyeon kembali dari dapur dan duduk di hadapan Jiyong sembari menatap laki-laki itu.

“Kau tidak makan? Apa sudah kenyang dengan hanya melihatku seperti itu?” tanya Jiyong lagi setelah beberapa saat Taeyeon hanya terdiam memandangi Jiyong.

“Kau, kan yang membuat Lauren tidak menangis dan marah lagi saat masih di ruang UKS tadi? Dia langsung berubah saat aku kembali dan aku tahu kau yang menasehatinya dengan caramu, cara seorang dokter anak,” ungkap Taeyeon.

“Lalu?” tanya Jiyong. Ia meletakkan sumpitnya dan meminum green tea buatan gadis yang ada di hadapannya sekarang.

“Gamsahamnida,” lanjut Taeyeon. “Awalnya aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan dan jelaskan pada Lauren saat dia sedang emosi seperti tadi, karena dia bukanlah anak yang mudah memercayai seseorang. Apalagi aku sudah membuat kesalahan besar padanya dulu,”

“Jadi kau benar pernah meninggalkannya?” potong Jiyong.

“Lauren cerita?” tanya Taeyeon, kaget. “Aku tidak bermaksud demikian dan aku juga tidak akan menceritakannya padamu, Jiyong-ssi karena aku tidak ingin membuka cerita lama itu. Aku tidak akan pernah mau mengingatnya lagi dengan menceritakannya pada siapapun. Kecuali tentu saja dengan Tiffany, Bora dan Hyorin eonni,”

“Arraseo. Mungkin aku tidak akan mendapatkan penjelasannya sekarang, tapi ke depannya, aku pasti akan menemukannya,” gumam Jiyong.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku sangat berterima kasih padamu untuk dua hal yang kau lakukan pada Lauren,” lanjut Taeyeon.

“Itu pekerjaan yang berat. Membutuhkan bertahun-tahun pengalaman untuk mempelajari psikologis seorang anak yang masih labil, apalagi dia memiliki trauma yang menyakitkan hingga asmanya kambuh. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika aku tidak ada di sana saat itu. Mungkin jauh lebih gawat, eoh?” tutur Jiyong.

“Itu sebabnya aku sangat berterima kasih,” ucap Taeyeon.

“Hanya terima kasih?” tanya Jiyong.

“Lalu apa?” Taeyeon balik bertanya, kali ini dengan nada bicara yang tampak hati-hati. “Aku sudah mengizinkanmu untuk makan ramyun di rumahku,”

“Itu hanya sepersepuluh dari kebaikanku yang sangat berjasa ini,” ujar Jiyong.

“Aku akan memotong gajiku dan kau tidak perlu memberikan tip lagi padaku,”

“Aniya, itu urusan pekerjaanmu. Kita harus professional,” tolak Jiyong.

“Lalu apa?” tanya Taeyeon.

“Aku hanya minta beberapa hal yang sangat sederhana padamu,” jawab Jiyong, ia mulai menegakkan tubuhnya dan kedua hazelnya menatap serius ke dalam kedua bola mata Taeyeon yang bening. “Pertama, jangan pernah menolak apapun yang kutawarkan padamu. Kedua, panggil aku jika kau butuh bantuan, apalagi jika itu berhubungan dengan Lauren. Semuanya. Apapun yang kau butuhkan. Beritahu aku. Ketiga, jangan pernah berfikir untuk pergi dari kondoku walaupun Presiden Korea Selatan memintamu untuk melakukannya,”

“M… Mwo…? Aku mengerti poin pertama dan kedua. Tapi yang ketiga aku tidak bisa. Bagaimanapun aku harus pergi dari kondomu. Tidak selamanya aku bisa menjadi housekeeper-mu karena aku juga punya kehidupan pribadi. Lagipula kekasihmu…,”

“Itu urusanku. Kenapa kau jadi bahas ke sana?” potong Jiyong.

“Aku tetap tidak bisa melakukannya,” tolak Taeyeon. “Akan ada suatu saat aku harus pergi dari tempatmu karena tempatku juga bukan ada di sana,”

“Kalau begitu aku akan pergi ke tempatmu,”

“Kwon Jiyong-ssi,”

“Kim Taeyeon. Bukankah aku sudah katakan padamu kalau aku menyukaimu?” tanya Jiyong tajam. Mata Taeyeon terbelalak lebar dan tubuhnya menegang. “Dan aku sudah katakan padamu kalau aku bisa menjadi seseorang yang pantas untukmu. Mungkin di matamu aku sama saja dengan laki-laki yang pernah hadir dalam hidupmu dan memporakporandakkannya. Tapi yang tidak akan pernah orang lain tahu tentangku adalah aku tidak akan pernah bermain-main dengan seseorang yang sangat kusukai, yang sangat kubutuhkan. Setiap orang berhak untuk berubah dengan alasannya masing-masing, Taeyeon-ah. Dan perubahanku itu adalah karena dirimu,”

“Kau sudah tahu aku…,”

“Punya Lauren? Lalu ada masalah dengan hal itu? Meskipun kau sudah punya beberapa orang anak, apa salah bagiku untuk menyukaimu? Apa karena hal itu aku dilarang mendekatimu? Sekelam apapun masa lalumu, tolong jangan jadikan itu alasan untuk menutupi dirimu, Taeyeon-ah,”

“Bukan itu,” sanggah Taeyeon. “Kau sudah memiliki kekasih. Aku bekerja di tempatmu bukan ingin menghancurkan salah satu perasaan seorang gadis tak bersalah seperti kekasihmu. Aku bekerja hanya untuk Lauren. Jebal, jangan paksakan hal yang tidak bisa kau lakukan, Jiyong-ssi. Kau tahu? Kau hanya membutuhkan kehadiranku. Itulah perasaanmu yang sebenarnya. Aku akan ada di sisimu saat kau membutuhkanku. Tapi jika kau menginginkanku, aku akan pergi.

“Dan satu hal lagi. Jangan sampai kau melepaskan seseorang yang sudah kau anggap terbaik di hidupmu sebelum bertemu aku hanya karena kau menyukai seseorang seperti aku. Kau tidak tahu aku. Dunia kita juga berbeda. Kau hanya melihatku dari luar. Bagaimana nyatanya jika aku lebih buruk dari kekasihmu? Kau akan menyesal telah melepasnya, Jiyong-ssi. Karena itu, berhentilah. Berhenti membuat sebuah harapan indah untukku karena aku tahu, pada akhirnya aku lah orang yang paling merasa sakit,”

~~~

“Kau tahu siapa orang brengsek yang sudah membuat trauma di hidup Taeyeon dan anaknya?” tanya Jiyong pelan pada Youngbae.

Youngbae hendak mengambil secangkir kopi yang sudah ada di hadapannya beberapa detik lalu tapi langsung membatalkan niatnya begitu ia mendengar pertanyaan Jiyong.

“Aku sudah tahu semuanya, bahkan nama anaknya dan penyakit apa yang ia derita,” lanjut Jiyong, seakan-akan mendengar pertanyaan yang akan Youngbae lontarkan padanya.

“Kau benar-benar mencari tahu semua tentang Taeyeon, eh?”

“Tidak semua, hanya itu. Itu juga karena aku yang melihatnya langsung. Aku mengantar mereka pulang kemarin saat Taeyeon terlambat menjemput Lauren sampai ia terkena asma,”

“Padahal Taeyeon begitu hati-hati selama ini menjaga jam kerjanya,” gumam Youngbae. “Neottaemune?”

“Aku hanya ingin dia jujur padaku tentang siapa dirinya dan seberapa kelam masa lalunya hingga tanpa sadar aku menahannya terlalu lama di kondoku. Tapi aku sudah menebus kesalahannya dengan memberikan pertolongan pertama pada Lauren saat dia kambuh,” jelas Jiyong. “Sekarang, yang ingin aku tahu, siapa ahjussi menyeramkan yang ditakuti Lauren sampai gadis cilik itu trauma dengan keterlambatan ibunya?”

“Ceritanya cukup panjang…,”

“Dan aku siap mendengarkan,” sela Jiyong cepat.

“Aku hanya bisa menjelaskan satu pertanyaanmu itu, Yongie-ah. Karena aku hanya tahu itu. Untuk sisanya, kau bisa tanya Tiffany nanti,” ujar Youngbae.

Jiyong hanya memgangguk dan ekspresi wajahnya menyiratkan keseriusan yang tidak bisa diganggu oleh siapapun.

“Oke, kalau kau ingin tahu alasan kenapa Taeyeon sama sekali tidak ingin membuka hatinya pada siapapun, termasuk padamu, aku akan memberitahumu karena kau sudah tahu akar masalahnya. Lauren. Yah, dulu Taeyeon sempat bekerja di ECO Group sebagai staff ahli keuangan. Di sana, ia bertemu dengan Park Hyung Sik. Dia jatuh cinta pada Taeyeon, bahkan sangat jatuh cinta. Dia mengejar Taeyeon dan meluluhkan perasaan gadis itu walaupun semua yang ada di kantor itu mengatakan dia sudah ‘mencicipi’ rata-rata gadis yang bekerja di sana.

“Park Hyung Sik mengatakan ia akan merubah semua kebiasaannya hanya untuk Taeyeon. Karena hanya dengan Taeyeon dia merasakan jatuh cinta yang indah. Taeyeon memercayainya dan hubungan mereka memang sangat indah jika aku tidak salah dengar dari Tiffany. Taeyeon yang awalnya hanya ingin memberikan kesempatan, nyatanya juga ikut jatuh cinta dengan laki-laki itu. Sampai suatu ketika, Hyungsik menemukan fakta tentang Lauren. Ia tidak terima dan menganggap Taeyeon adalah gadis jalang…,”

“Mwo? Jalang? Ya, bisakah kau beritahu aku di mana dia sekarang? Biar aku rontokkan giginya itu!” seru Jiyong.

“Ia tidak terima dan mereka bertengkar hebat hanya karena Hyungsik menuding Taeyeon yang bukan-bukan, hamil di luar nikah dan sebagainya. Taeyeon tidak tahan dan ia memutuskan untuk break sebentar dengan Hyungsik. Sampai suatu ketika, Hyungsik datang ke pre-school Lauren dan mengatakan kepada gadis malang itu kalau dia adalah anak yang sama sekali tidak diinginkan oleh Taeyeon. Bahwa Lauren adalah anak yang seharusnya tidak lahir, yang seharusnya di buang, bukannya dibesarkan seperti saat ini. Hyungsik dengan teganya mengatakan kalau Taeyeon tidak akan menjemputnya sampai kapanpun karena dia tidak menginginkan seorang anak yang lahir tanpa adanya sosok ayah.

“Kita bisa bayangkan bagaimana terguncangnya perasaan, jiwa, dan bahkan mental Lauren saat Hyungsik mengatakan hal itu secara blak-blakan. Tapi Lauren tidak percaya dan tetap menunggu ibunya, yang memang tidak kunjung datang. Hyungsik datang ke rumah Taeyeon dan mencegah gadis itu untuk pergi menjemput Lauren. Dia mengatakan akan menikah dengan Taeyeon dan punya anak yang sah, selain Lauren. Otomatis Taeyeon menolaknya. Sampai matipun ia tidak akan pernah meninggalkan Lauren, satu-satunya harta yang paling dicintainya. Hyungsik tidak menerima penolakan dan ia memaksan Taeyeon untuk… istilahnya Taeyeon hampir diperkosa oleh Hyungsik.

“Aku tidak tahu bagaimana kejadian detailnya karena hal itu merupakan hal yang paling melukai perasaan Taeyeon. Taeyeon bebas dari Hyungsik dan langsung melapor laki-laki itu ke polisi. Ia lalu datang ke pre-school Lauren dan mendapati anaknya sedang menangis histeris karena menyangka Taeyeon memang benar-benar membuangnya. Kita tahu bagaimana kondisi batin seorang anak yang dibesarkan sendiri oleh ibu tanpa adanya ayah. Kau mungkin yang paling paham dengan kondisi seperti ini, Yongie-ah. Apalagi Taeyeon tahu kalau Lauren sering diejek tidak punya orangtua lengkap oleh beberapa temannya. Tapi Lauren tidak pernah memberitahukan hal ini pada Taeyeon. Taeyeon mengetahuinya dari guru-guru di sana, kalau Lauren sering menangis menghadapi ejekan itu.

“Dan dari saat itu jugalah Lauren mengalami asma akut, parah yang hampir membuatnya masuk UGD. Saat itu, kehidupan Taeyeon penuh dengan beragam masalah. Ia memilih keluar dari kantornya dan bekerja sana-sini walaupun itu hanya part time. Hingga akhirnya dia bersedia menjadi housekeeper-ku,” jelas Youngbae. “Nah, sekarang kau faham, ‘kan kenapa Taeyeon bersikeras menjaga jarak denganmu dan begitu pemilih dalam memilih teman laki-laki? Luka yang Taeyeon dapatkan bukanlah luka yang bisa diterima oleh semua orang, bukanlah luka yang ringan, yang langsung hilang begitu saja setelah bertahun-tahun. Jadi, tolong hargailah keputusannya, Yongie-ah. Jangan paksakan dirimu untuk mendekatinya,”

“Kau tidak tahu ayah kandung Lauren?” tanya Jiyong.

“Sama sekali tidak. Aku pernah merasa ingin tahu. Tapi sepertinya hanya Taeyeon yang mengetahuinya. Bora dan Hyorin sama sekali tidak tahu. Kalau Tiffany, aku kurang tahu,” jawab Youngbae.

Jiyong menghela nafasnya dengan kasar lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya, merasa frustrasi. Ia tidak menyangka seburuk itu hal yang dialami oleh Taeyeon. Apalagi gadis itu juga sudah jatuh cinta dengan orang brengsek itu. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk kembali mengulanginya.

“Wae? Kau menyesal mendengar kisahnya? Ada kemauan untuk menghentikan perasaan gilamu?” tanya Youngbae.

“Aku sudah mengatakan padanya kalau aku menyukainya dan tidak akan menyerah meskipun dia memiliki Lauren. Kau tahu, ‘kan aku menyukai anak-anak. Dan dengan Lauren, aku bahkan sudah menyayanginya. Mengetahui hal ini membuatku ingin terus menjaga gadis kecil itu, bersama dengan Taeyeon,” ujar Jiyong.

“Mwo? Jinjjayo?” tanya Youngbae, sulit percaya. “Kau benar-benar menyukainya. Dan apa tanggapan Taeyeon?”

“Dia menolak, always. Aku juga terima penolakannya. Dia memintaku untuk memikirkan Joohyun. Aku setuju. Maksudku… aku tetap seperti ini, tetap menjaga hubunganku sembari memikirkan perasaanku pada Taeyeon. Apakah serius atau hanya sekedar membutuhkannya saja. Aku memang harus memikirkannya matang-matang. Sambil memikirkannya, aku juga akan mencari tahu semua tentangnya, untuk membuktikan apakah dia yang terbaik atau bahkan terburuk untukku,”

“Itu artinya kau menduakan Joohyun secara tidak langsung,” tuduh Youngbae.

“Aku akan sampaikan pada Joohyun untuk bebas mengencani siapapun yang dia suka di sana,” jawab Jiyong. “Yang ingin aku fokuskan sekarang adalah menjaga keduanya, Taeyeon dan gadis kecilnya,”

“Memang sulit untuk membuka pintu hati yang terkunci rapat,” ujar Youngbae. “Tapi, aku mendukungmu. Kalau kau sudah menemukan jawabannya, lepaskanlah salah satunya dan pertahankan yang satu lagi untuk selamanya. Berhentilah bermain-main karena ini sudah bukan masamu lagi, bro. Aku mendukungmu karena aku ingin memercayaimu,”

Jiyong tersenyum manis pada Youngbae dan mereka berduapun saling melakukan high five dengan menggunakan buku jari mereka.

~~~

“Kenapa lama sekali kau pulang, Jiyong-ssi?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat pintu kondo laki-laki itu terbuka dan sosoknya langsung muncul di hadapan Taeyeon. Taeyeon melonjak bangun dari sofa dan menghampiri Jiyong. “Aku mau pulang, dan kau belum sampai kondo. Bagaimana aku bisa pergi dari sini?”

“Ah, bukan karena kau merindukanku, eoh?” tanya Jiyong dengan ekspresi wajah pura-pura sedih.

“Aku pulang,” pamit Taeyeon.

Sebelum gadis itu sempat keluar dari kondo Jiyong, Jiyong menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon untuk menghentikannya. Taeyeon menengadah menatap Jiyong dengan pandangan heran.

“Mwo?” tanya Taeyeon.

“Aku ikut menjemput Lauren,” jawab Jiyong.

“Kau tidak perlu…,”

“Bisa tidak kau hanya mengangguk menerima tawaran baikku yang limited edition ini? Kau juga sudah berjanji untuk tidak menolak semua tawaranku,” sela Jiyong. “Kajja,”

Dan tangan Taeyeon kembali ditarik paksa oleh laki-laki itu lagi menuju mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan gedung Galleria Forêt.

“Kau mengganti mobilmu?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat ia membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.

Mobil yang saat ini ada di hadapannya bukan mobil Lamborghini hitam yang biasa dia pakai, melainkan sebuah mobil BMW putih seri M.

“Aku fikir Lauren akan lebih nyaman jika dia duduk sendiri di belakang. Apa dia suka boneka bantal? Mungkin dia bisa langsung tertidur sebelum sampai rumah,” jelas Jiyong dengan senyuman manisnya yang merekah lebar.

“Kau tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan seperti ini, Jiyong-ssi,” lirih Taeyeon.

“Wae? Aku tidak melakukan ini semata-mata untuk menyenangkanmu atau menarik perhatianmu. Aku melakukan ini memang khusus untuk Lauren. Kau tahu alasanku kenapa mengambil spesialis anak di Paris? Karena aku menyukai anak-anak dan aku sangat menyukai anakmu,” jelas Jiyong lagi.

“Aku tidak bermaksud mengatakan itu,” sanggah Taeyeon cepat-cepat. Wajahnya merona merah dan ia mengalihkan pandangannya ke arah jalanan. Melihat hal itu, Jiyong tersenyum kecil. Ingin rasanya ia mencubit kedua pipi menggemaskan milik Taeyeon dan mengatakan kalau dia sangat lucu.

“Kenapa jadi berlagak malu-malu begitu? Kau bukan gadis remaja lagi, Taeyeon eomma,” ejek Jiyong. Ia memutar tubuhnya dan membuka pintu kemudi lalu masuk sambil mengedipkan sebelah matanya pada Taeyeon.

“Tch, dasar laki-laki tak waras,” umpat Taeyeon kesal. Namun, ia tetap masuk ke dalam mobil Jiyong dan mereka langsung pergi menuju Namsan International Kindergarten.

Sesampainya di sana, kedua mata Taeyeon sudah menangkap seorang gadis kecil cantik dengan rambut cokelatnya yang tergerai indah digenggam oleh seorang wanita paruh baya yang dikenal sebagai Choi ahjumma. Taeyeon turun dari mobil Jiyong dan menghampiri Lauren, yang juga ikut berlari menghambur ke pelukan Taeyeon.

“Apa eomma terlambat?” tanya Taeyeon. Ia masih mengeratkan pelukannya pada Lauren.

“Aniya. Aku memang meminta Choi seonsaengnim untuk menunggumu di depan gedung sekolah,” jawab Lauren semangat. Ia melepas pelukan Taeyeon dan mencium singkat dahi ibunya. “Hari ini apa menu makan siang kita, eomma?”

“Kau mau makan apa?” Taeyeon balik bertanya.

“Bolehkah aku memakan Gomtang dan Suyuk?” pinta Lauren dengan puppy eyes-nya.

“Tentu saja,” jawab Taeyeon senang. “Choi ahjumma, aku permisi dulu, eoh? Gamsahamnida sudah menjaga uri Laurennie,”

“Ne, hati-hati di jalan, okay?” balas Choi ahjumma sambil melambaikan tangannya pada Lauren dan masuk kembali ke dalam gedung sekolah.

Setelah Choi ahjumma masuk, Taeyeon menggenggam erat tangan gadis kecilnya lalu mereka jalan beriringan menuju mobil Jiyong. Detik berikutnya Jiyong ikut keluar dari dalam mobil dan tersenyum menghampiri Lauren.

“Yong ahjussi!” seru Lauren.

“Annyeong, babygirl. Bagaimana harimu? Menyenangkan?” tanya Jiyong. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk mengelus ubun-ubun Lauren dengan sayang.

Everyday was so fun, Yong ahjussi!” jawab Lauren.

Jiyong tertawa kecil mendengarnya. “Woah, kau pasti sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris, eoh? Kajja, kita pulang,”

Lauren menatap Jiyong dan Taeyeon secara bergantian dengan pandangan heran. “Tapi, ahjussi. Aku dan eomma akan makan siang Gomtang dan Suyuk hari ini. Kami tidak langsung pulang,”

Taeyeon melongo kaget. Ia berusaha menyenggol tubuh mungil Lauren agar tidak memberitahu Jiyong rencana mereka. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Jiyong menyipitkan kedua matanya pada Taeyeon. Ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak, tapi Taeyeon yakin laki-laki itu tampak sedang berfikir. Dan perasaannya sama sekali tidak enak.

“Ne, maksudku ayo kita makan Gomtang dan Suyuk sekarang. Aku tahu di mana restaurant yang sangat enak untuk dua menu pilihan itu. Biasanya kau makan di mana dengan eomma, Laurennie?” tanya Jiyong. Senyuman manisnya melengkung indah di wajah tampannya.

Restaurant Hadongkwan,” jawab Lauren cepat.

“Benar sekali. Aku juga sangat suka di tempat itu. Enak, tradisional dan banyak sejarahnya. Eomma pintar sekali memilihkan tempat, ‘kan? Bagaimana kalau kita masuk ke mobil dan langsung ke sana? Kau pasti lapar, little angel,”

“Ne!” seru Lauren. Jiyong tertawa lagi dan ia membuka pintu belakang mobilnya lalu menggendong Lauren untuk masuk ke dalam. Saat pintu mobilnya sudah tertutup, Taeyeon buru-buru hendak membuka pintu mobil juga, tapi Jiyong menghalangi langkahnya.

“Kenapa kau tega sekali tidak mengajakku makan siang?” tanya Jiyong kesal.

“Aku sudah memasak untukmu di rumah,” jawab Taeyeon. “Lagipula, untuk apa aku mengajakmu?”

“Kasar sekali,” sindir Jiyong. “Aku akan makan masakanmu nanti malam sampai habis. Sekarang, aku ingin makan Gomtang dan Suyuk di Hadongkwan, eomma,”

“Ya,” pekik Taeyeon dengan suaranya yang kecil.

“Dan kau yang akan mentraktirku,” sambung Jiyong seenaknya. Ia tersenyum lalu melangkah menuju pintu kemudi dan masuk ke dalamnya.

Sedangkan Taeyeon mengutuki laki-laki itu dalam hati sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.

~~~

Pintu apartemen Taeyeon terbuka dari luar dan muncullah sosok gadis mungil, pemiliknya, dan diikuti oleh Jiyong yang sedang menggendong Lauren di belakang punggungnya. Gadis kecil itu tengah tertidur, dengan kepalanya yang terkulai lemas di punggung tegap Jiyong. Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan malam, wajar jika Lauren sudah terbang dalam mimpi indahnya setelah seharian penuh ia asyik bermain dengan Taeyeon dan Jiyong.

Ya, setelah makan siang di Hadongkwan, Jiyong menawari Lauren untuk membeli beberapa cemilan di Insadong Street. Taeyeon menolak, tentu saja. Tapi Lauren keburu menjawab ‘ya’ dan akhirnya terpaksa mengikuti kemauan Lauren dan Jiyong. Seperti dugaan Taeyeon, di sana mereka tidak hanya membeli ‘beberapa’ cemilan, tapi juga beragam aksesoris, boneka, beberapa setelan pakaian untuk Lauren, dan mereka juga menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan magic di tengah jalan Insadong.

Sampai akhirnya mereka memilih pulang setelah makan malam dan Lauren mengatakan kalau dia sudah mengantuk sekali.

“Gomawo untuk hari ini, Laurennie,” bisik Jiyong. Ia mengecup singkat dahi Lauren dan menyelimuti gadis kecil yang tidak terbangun sama sekali saking lelahnya.

“Kau juga cepatlah pulang,” ujar Taeyeon pada Jiyong, saat laki-laki itu sudah keluar dari dalam kamar Lauren.

“Kau memang jahat sekali, selalu mengusirku,” rutuk Jiyong, pura-pura kesal. Namun, Taeyeon mengira ia memang kesal dari raut wajah laki-laki itu.

“Aku tidak bermaksud begitu,” sanggah Taeyeon cepat dengan sedikit gugup. “Kau pasti lelah satu hari ini. Mengemudi mobil, menggendong Lauren, jalan ke sana kemari. Mianhae, hari ini Lauren sangat manja sekali padamu sampai kau kerepotan menggendongnya,”

Jiyong hanya diam. Ia memilih memandang ke arah lain lalu merogoh saku celananya, mencari kunci mobil dan juga mengambil ponselnya. Diceknya ponsel itu, ternyata ada beberapa notifikasi dari Jieun yang menanyakan ke mana dia selama satu hari ini. Padahal mereka ada meeting penting untuk produk baru PMO.

Wajah Jiyong semakin mengusut karena ia melupakan itu. Ia keasyikan bermain dengan Lauren. Belum pernah ia menikmati hari seindah ini. Sehingga waktu terasa berjalan terlalu cepat.

“Kau… Marah?” tanya Taeyeon.

Jiyong menoleh menatap gadis mungil yang ada di hadapannya itu. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, agak bingung dengan pertanyaan gadis itu. Namun, otak liciknya bergerak lebih cepat. Ia menyeringai kecil dan kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi.

“Sepertinya aku memang hanya seorang pengganggu untukmu, eh?” tanya Jiyong. “Arra, besok pagi kau tidak akan melihatku lagi, kok. Aku akan memilih sibuk di kantor PMO sampai kau pulang,”

“Kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu,” tegas Taeyeon.

“Orang buta sekalipun tahu maksud perkataanmu tadi,” ujar Jiyong. “Kau memang tidak pernah menyukaiku. Bahkan sebelum kau tahu aku ini orang yang seperti apa sebenarnya,”

“Aku mungkin memang sering bersikap dingin padamu, tapi bukan berarti aku tidak menyukaimu,” sela Taeyeon. “Aku memang memang punya masa lalu dengan orang sepertimu, tapi bukan berarti aku menganggapmu jahat,”

“Kalau begitu, kau menyukaiku?” tanya Jiyong langsung. “Tidak perlu membantah, kau sudan bilang padaku tadi secara tidak langsung,”

“Mwo?” tanya Taeyeon dengan gelagapan.

“Kau menyukaiku, dan apakah ada kemungkinan kita memiliki perasaan yang sama? Mungkin jika kita mencobanya, perasaan kita akan semakin dalam dan kau tidak perlu repot-repot bekerja sambil membesarkan Lauren seorang diri,” tukas Jiyong.

“Pulanglah, omonganmu sudah mulai ke mana-mana,” usir Taeyeon, kali ini dia memang mengusir laki-laki itu.

Gadis cantik berwajah baby face itu membalikkan tubuhnya dan memunggungi Jiyong, yang hanya tersenyum geli dengan tingkah lucu yang ditunjukkan Taeyeon. Ia merogoh saku celananya lagi, mengambil sebuah kotak kaca bening yang memperlihatkan isinya.

Sebuah choker hitam kecil dengan batu berlian kecil di tengahnya.

Lalu, ia mengeluarkan choker hitam itu dan dengan langkah hati-hati ia memakaikannya di leher jenjang Taeyeon dari belakang. Taeyeon terlonjak kaget mengetahui ada sesuatu yang kini menempel indah di lehernya.

“Ige mwondae?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat mereka sudah berhadapan. Taeyeon menatap choker hitam di lehernya itu dan Jiyong secara bergantian.

“Hadiah untukmu. Perfect, ‘kan?” jawab Jiyong sambil tersenyum puas. Choker hitam itu terlihat begitu manis mengitari leher indah Taeyeon dan Jiyong sama sekali tidak menyesal memilihkan benda mungil tersebut.

“Ini harganya mahal sekali,” ujar Taeyeon.

“Dan kau ingin menolakku lagi?” tanya Jiyong sedikit mengancam dari nada suaranya. “Ingat perjanjian kita?”

“Arrayo,” jawab Taeyeon pelan. “Hanya saja aku tidak ingin harganya selangit seperti ini,”

“Aku tidak peduli,” ujar Jiyong. “Aku lihat choker ini begitu indah, cantik, elegan dan aku yakin sangat cocok jika kau memakainya, dan aku benar,”

Taeyeon menundukkan wajahnya, bingung. “Gamsahamnida,”

“Kalau begitu, aku permisi,” pamit Jiyong. “Selamat malam dan semoga bermimpi indah, Kim Taeyeon,”

“Hati-hati,” balas Taeyeon. Ia membukakan pintu apartemennya untuk Jiyong dan kembali menutupnya saat laki-laki itu sudah pergi.

Sambil menghela nafas panjang, Taeyeon menyandarkan punggungnya di pintu dan memegang choker hitam itu.

“Kau menyukaiku, dan apakah ada kemungkinan kita memiliki perasaan yang sama? Mungkin jika kita mencobanya, perasaan kita akan semakin dalam dan kau tidak perlu repot-repot bekerja sambil membesarkan Lauren seorang diri,”

Perkataan Jiyong beberapa menit yang lalu masih sangat membekas dalam ingatan gadis itu dan kini merayap merasuki hati dan fikirannya. Taeyeon tentu paham dengan maksud ucapan laki-laki itu. Ia mengerti walaupun ia tidak yakin apakah Jiyong mengatakannya dengan sepenuh hati ataukah hanya sebagai bahan bercandaan. Taeyeon tidak tahu dan ia ingin sekali untuk tidak bereaksi apa-apa pada perkataan Jiyong.

Namun, logika dan perasaannya tidak berjalan seirama. Ia tahu Jiyong suka sekali menggodanya, tapi ia tak tahu betapa besar dampak yang ia terima saat Jiyong melontarkan godaannya. Bahwa ia merasa memiliki harapan baru saat Jiyong mengucapkan hal itu. Bahwa ia kembali merasakan debaran tak karuan seperti saat ia pertama kali merasa sangat jatuh cinta pada seseorang. Bahwa ia merasa hatinya menghangat saat janji tak kasat mata itu keluar dari bibir Jiyong. Bahwa ia merasakan kembali kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya seperti ia pertama kali merasakan cinta dulu. Ia layaknya gadis remaja yang merasakan jatuh cinta.

Ya, ia sadar jika ia jatuh cinta. Pada laki-laki yang tak seharusnya ia berikan hati dan cintanya. Pada Kwon Jiyong.

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

Huaaa maaf yaaa kalo lama banget ni update. Seharusnya dari hari kamis kemarin, tapi karena ada news tentang IU feat G-Dragon a.k.a Kwon Jiyongie, mood-ku langsung ilang bak di telan bumi. Jadi males banget, cuma ‘kan kita kudu pro-_-

So, sorry ya kalo ceritanya di chappie ini rada rese’. Soalnya mood ini juga lagi rese’ kalo nyangkut soal news yang berkaitan tentang GDX? ataupun TaeyeonX?

 

 

 

 

XOXO

Advertisements

59 comments on “Beautiful Lies (Chapter 4)

  1. Lauren Hanna lucu banget wajahnya 🙂

    Jiyong benar-benar menyukai Taeyeon, ya sampai siap melakukan aapun sepertinya. Salah satunya mendengarkan cerita Youngbae tentang masa lalu Tae. 😀
    Ya Tuhan! Park Hyung-sik, salah satu aktor favoritku. Wajahnya emang rada-rada yadong si, tapi tentu saat akting di karakter yang gitu, kaya di The Heirs. Tapi, gokil dia di The Heirs. Aku suka. 😀
    Anak sekecil itu mendengar ucapan sangat menyakitkan. Aduh!
    Jiyong-Youngbae. Mereka memang serasi! 🙂
    GTAE & Lauren udah kaya family banget waktu Lauren di jemput dari sekolah. 😀
    Dan, akibat Lauren, Jiyong jadi manggil Tae dengan eomma terus. 🙂
    Ini termasuk update cepet lho, Author-nim. 😉
    Agak kurang sreg juga nduga Mino ayahnya Lauren.
    Fighting Author-nim! 😉
    Fighting All! 😀
    See you all 🙂
    #GTAE
    #GDRAGONXTAEYEON
    #ROYALISTDREAMER
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE

  2. Biasanya dalam 4 hari kelanjutan dari ff beautiful lies ini udah ada tapi sekarang udah seminggu belum ada kelanjutan nya lagi aku mohon author lanjutin dong ini ceritanya udh pas dan cocok banget sma gtae dan aku penasaran dgn kelanjutan nya …. fighting author aku tunggu !!!

  3. Waah terimakasih author. Cerita nya seru.suka banget sama gtae.
    Gak sabar nunggu adegan romantis dan nakalnya jiyong.
    Semoga segera update ya author. Penasaran. Pasti banyak yang menanti.
    Fighting thor!

  4. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s