Fine (Chapter 3)

 

040317_1251_FREELANCEFi1.jpg

FINE 《all for my wife was spoiled

Author: Anfitaehun & deeHAYEON

Main Cast : Oh Sehun, Kim TaeYeon

Other Cast : Park Jiyeon, Im Yoona, Kwon Yuri, Victoria Song, etc.

Length : Part

Rating : T+

Genre : Marriage-life, Sweet Romance

Summary : ‘Kim Taeyeon seorang gadis berumur 21 tahun yang memiliki sifat super manja. Oh Sehun pria berumur 22 tahun yang memiliki sifat super dingin. Keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana cara Sehun mengatasi pekerjaan dan istrinya??’

Warning : Kiss scene & Typo(s)

Preview : Chapter 1, Chapter 2

💓💓💓

Part 3

Bunyi gemelotak heels yang terketuk dengan lantai menggema di dalam sebuah kamar membuat Oh Sehun kembali menutupi telinganya dengan guling. Ia sudah menilik siapa yang melakukan itu dan yang ia dapati adalah sang istri tengah bergaya di depan kaca dengan memakai pakaian Office Girl-nya, dan yah sejujurnya ia tertarik untuk menonton tingkah polah menggemaskan istrinya itu. Namun ia tidak bisa membiarkan matanya bekerja terus menerus. Ia butuh istirahat yang cukup setelah menghabiskan tenaga untuk menyelesaikan tugasnya di China dan menemani istrinya berbelanja ke IGM.

Belum lagi semalam istrinya itu kembali berulah dengan memintanya mengadakan kursus dadakan dengan para pelayan. Semalam semua pelayan dikerahkan Taeyeon untuk memberinya bimbingan, seperti cara membuat teh dan kopi, mengelap meja, mencuci piring, dan hal lainnya yang dapat membuat Sehun melongo. Ia tak pernah melihat Oh Taeyeon—istrinya begitu tertarik dengan sesuatu sampai benar-benar melakukan semuanya seserius ini. Dan meskipun dengan berat hati, tetap saja tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti keinginannya, ia bahkan tetap menemani istrinya berlatih sampai setengah satu malam, sampai semua pelayan mengantuk.

Dan kini waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, EMPAT PAGI. Dan suara heels yang dipakai Taeyeon benar-benar menginterupsi pikirannya, ia tidak bisa tidur dengan tenang jika begini.

“Sayang, berhentilah berkaca. Kemarilah, kau perlu istirahat” Sehun menyerah dengan usahanya untuk kembali terlelap, kini ia setengah terbangun dan menepuk-nepuk tempat disampingnya, mengisyaratkan pada sang istri untuk menemaninya tidur.

“Aku perlu persiapan, Sehunie. Tidurlah sendiri” balas Taeyeon yang masih asik dengan kesibukannya, membuat Sehun menumpu pipinya di lipatan tangannya, dengan wajah datar namun terlihat jelas ia sangat kelelahan, kantung matanya yang paling mendukung betapa lelahnya ia sekarang.

“Kemarilah, Tae. Dengarkan perintah suamimu!” Sehun kembali berucap, namun kini Taeyeon mengabaikannya. Wanita itu malah menempatkan kacamata hitamnya yang semula ada dimatanya ke atas kepala, lalu kembali berpose, “Oh Taeyeon… dengan siapa kau bicara?”

“Apa yang kau bicarakan, Sehunie?!”

Sehun bangkit dari ranjang king size-nya, lalu berjalan mendekati Taeyeon yang masih berkutat dengan cermin besar sehingga pantulan bayangan Sehun yang berjalan mendekat terlihat jelas oleh Taeyeon, namun ia tak takut. Memangnya apa yang akan dilakukan suaminya?

“Oh Taeyeon, kau sedang bicara dengan CEO perusahaan Oh Enterprises Corp tempat dimana kau akan bekerja. Dan kalau kau tidak ingin aku memecatmu di hari pertamamu, sebaiknya sebagai Office Girl yang baik kau harus menuruti perintah atasanmu, benar kan?” Sehun berdiri bersandar pada meja rias sehingga cermin besar yang sedari tadi Taeyeon pandangi tertutup oleh tubuhnya, Sehun menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby istrinya sambil menciutkannya, membuatnya tersenyum tipis melihat betapa lucunya ekspresi Taeyeon saat ini, Taeyeon akhirnya mengangguk pasrah.

“Kau menggunakan kekuasaanmu untuk memerintahku. Curang! Di rumah kan aku istrimu” seru Taeyeon sambil merengutkan wajahnya kesal.

“Siapa bilang?”

Taeyeon membelalak, ia tak percaya suaminya akan berkata seperti itu. Apa maksudnya? Jadi, Sehun tidak akan mengakui dirinya sebagai istri hanya karena ia bersikeras ingin menjadi Office Girl? Ini tidak lucu.

“Kau istriku dimanapun kau berada” Sehun menarik tubuh Taeyeon kedalam rengkuhannya, ia memeluk istrinya posesif. Sedang yang dipeluk mengeratkan  pelukan mereka dengan senyum yang tercetak jelas disana, “Jadi, menurutlah. Oke?”

Taeyeon mengangguk. Sehun mengecup bibir istrinya dan menuntunnya untuk kembali ke ranjang, menarik selimut sebatas dada dan bergelung di dalamnya. Tangan kekarnya masih melingkar dengan erat di pinggang mungil Taeyeon sampai wanita itu menguap. Bahkan dengan sedikit belaian di rambutnya, dengkuran halus terdengar di gendang telinga Sehun.

“Kau jelas kelelahan, tapi kau selalu membantah” gumam Sehun sambil kembali mencium bibir Taeyeon, Sehun memejamkan mata dan seolah mendengar nyanyian tidur dari istrinya ia pun turut terlelap.

💟💟💟

Kini pasangan suami istri itu tengah menikmati waktu bersama pergi ke perusahaan untuk pertama kalinya, tentu saja. Sehun memang memiliki alasan untuk tidak pernah membawa Taeyeon ke tempat kerjanya, serta tidak mengumumkan mengenai statusnya yang sudah beristri. Semuanya untuk melindungi Taeyeon dari kejaran masa dan sorotan media. Tapi Sehun tak habis pikir jika kesempatan pertama kalinya membawa sang istri ke perusahaan—ia malah berada dalam posisi bertolak belakang begini. CEO dengan Office Girl, belum lagi keinginan Taeyeon yang menyuruhnya berpura-pura tidak mengenalnya. Mencoba protes? Sudah ia lakukan. Tapi Taeyeon dengan tegasnya mengatakan kalau hal ini adalah keinginan sang calon bayi, dan Sehun hanya dapat mengangguk pasrah. Ya meskipun bisa saja itu hanya alasan Taeyeon, tapi ia tak sampai hati membiarkan keinginan Taeyeon terabaikan.

“Stop, Yoochun-ssi!” Taeyeon yang sedari tadi nyaman bersandar di bahu Sehun tiba-tiba berteriak, tentu hal itu mengagetkan Sehun yang tengah asik menggenggam tangan istrinya dan memainkan rambut istrinya yang baru dikeramas itu.

“Ada apa, Tae?” Sehun menatap Taeyeon bingung.

“Sehunie, aku tidak mungkin datang satu mobil denganmu. Aku Office Girl. Kau Presiden Direktur. Aku tidak mungkin satu mobil apalagi satu bangku denganmu. Nanti semua orang bisa curiga” ucap Taeyeon mulai lagi dengan ide gilanya.

“Jadi, sekarang apa maumu?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk mantap, “Aku harus turun dan jalan kaki”

“TIDAK!” Sahut Sehun tanpa perlu berpikir. Ia menghela napas keras. Setelah dengan berat hati mengijinkan istrinya menjadi Office Girl, kini Taeyeon meminta jalan kaki untuk datang ke perusahaan hanya karena tak mau ketahuan? Tidakkah Taeyeon memikirkan betapa khawatirnya ia padanya dan pada calon buah hati mereka?

“Sehunie, aku tak mau ketahuan di hari pertamaku bekerja. Aku bahkan membeli ponsel jelek ini agar tidak dicurigai, dan sekarang kau mau mereka melihat kita bersama? Tidak mungkin” Taeyeon menggenggam tangan Sehun untuk membujuknya.

“Sayang, dengarkan aku. Aku memang tak bisa menolak permintaanmu. Tapi tidak kali ini, kau sedang hamil. Aku tak mau mengambil resiko terjadi sesuatu padamu dan janinmu”

“Tapi aku tak mau ketahuan” lirih Taeyeon. Ia kembali menaruh kepalanya bersandar pada dada bidang Sehun, mencari kenyamanan disana. Sedang Yoochun hanya terdiam, menunggu keputusan yang akan dibuat oleh Tuan dan Nyonya-nya.

“Sehunie…”

“Hn”

“Please…”

“Tidak dengan ide bodoh itu, sayang” Sehun mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali, “Oh Tuhan, cukup kau yang akan kelelahan saat bekerja nanti, jangan sampai kau kelelahan karena harus berjalan kaki. Ingatlah kandunganmu”

Taeyeon berpikir sebentar, “A-ah, benar juga. Yasudah, aku akan duduk di kursi depan saja bersama Yoochun-ssi, dengan begitu aku bisa beralasan kalau aku tetangga Yoochun yang juga ingin mendapat pekerjaan, jadi tidak masalah aku berangkat naik mobil bersamamu asalkan tidak sebangku denganmu, Sehunie”

“Tae, apa maksudmu adalah kau ingin duduk dengan laki-laki lain di depan suamimu sendiri?” Sehun menatap Taeyeon tajam. Yang benar saja, ia akan melihat istrinya duduk bersebelahan dengan bawahannya di depan matanya sendiri?

“B-bukan begitu, A-aku… Kalau begitu jalan kaki saja!”

“Lupakan, kau boleh pindah saat radius seratus meter dari perusahaan” putus Sehun sambil memalingkan wajahnya keluar jendela. Membayangkan Taeyeon dan Yoochun duduk berdampingan benar-benar membuatnya muak.

“Terimakasih, Sehunie. Aku mencintaimu, suamiku~” balas Taeyeon memeluk Sehun erat, sedang Sehun masih enggan menatapnya, Taeyeon hanya terkikik.

“Maaf, Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai di 100 meter sebelum gerbang masuk Oh E-Corp” ucap Yoochun seraya menepikan mobilnya, memberi waktu untuk kedua majikannya menentukan keputusan selanjutnya.

“Baiklah. Aku akan pindah ke depan” Taeyeon beranjak dari tempatnya untuk pindah ke kursi disebelah Yoochun, namun sebelumnya ia sempatkan mengecup pipi sang suami yang masih saja memalingkan wajah ke arah lain.

Setelah Taeyeon benar-benar duduk di kursi depan, Yoochun kembali mengemudikan mobilnya ke perusahaan yang bangunannya sudah terlihat menjulang tinggi seolah akan mencabik langit, karena mencakar saja sepertinya tidak cukup. Dan setelah mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama—dimana hanya kendaraan Sehun saja yang boleh berhenti disana—baik Sehun maupun Taeyeon tak membuka suara. Sepertinya sudah saatnya, namun belum ada dari mereka yang turun. Padahal beberapa staff yang berjajar rapi di depan gedung sudah menundukkan kepala menunggu sang CEO keluar dari mobil.

“Mana tanganmu?” Ujar Sehun dingin, Taeyeon sedikit membelalak, ia merasakan aura Sehun yang menyeramkan, sepertinya Sehun benar-benar marah padanya.

Taeyeon mengepalkan tangannya yang mulai berkeringat padahal AC dalam mobil cukup dingin. Ia tak boleh seperti ini, yang di depanmu bukan hanya CEO perusahaan tempatmu bekerja, melainkan suamimu, Taeyeon. Untuk apa kau takut? Akhirnya Taeyeon menjulurkan tangannya, matanya menyipit dan uluran tangannya sedikit bergetar, selain itu mulutnya juga meringis takut. Pikirannya berjalan terlalu jauh, apa Sehun akan memukul tangannya?

Sehun menerima uluran tangan Taeyeon, matanya masih menyorot tajam dan wajahnya datar. Sungguh, Taeyeon bersumpah bahwa ia meragukan lelaki di depannya ini adalah suaminya. Ia tak berani mengangkat wajah karena takut dengan tatapan Sehun yang seolah akan menelannya hidup-hidup.

Beberapa saat hening, tiba-tiba saja pandangan Sehun melunak, ujung bibirnya melengkung tipis membentuk senyuman, dan ia mendekatkan bibirnya pada tangan Taeyeon, mengecupnya lembut, namun matanya masih menatap lekat sosok istrinya yang kini ikut tersenyum, bodoh sekali Taeyeon yang sedari tadi ketakutan tidak jelas pada suaminya.

“Jaga dirimu baik-baik, sayang” ucap Sehun setelah ia melepaskan kecupannya dari tangan Taeyeon, ia menarik tubuh istrinya dan kini bibir mereka menyatu. Yoochun yang melihat hal itu hanya menunduk. Sungguh ia ingin keluar dari tempat sempit yang membuat dirinya merasa kecanggungan ini, namun belum ada perintah khusus dari Tuan-nya sehingga Yoochun hanya diam.

Tak berselang lama, Sehun memberi isyarat pada Yoochun untuk membuka pintu mobil, dan segera Yoochun melaksanakan perintahnya. Sehun keluar dan melangkah melewati para pegawai—yang memberi hormat padanya—dengan angkuh, dan bergegas menuju ruangannya. Tak ada respon khusus yang keluar dari mulut Sehun meskipun semua staff membungkuk dan memberinya sapaan hangat. Namun setelah CEO mereka pergi, kehadiran sosok gadis berambut cokelat dengan pakaian Office Girl yang keluar dari mobil sang CEO menginterupsi perhatian mereka sehingga mereka tak langsung memasuki perusahaan, namun terlebih dulu mengamati gadis yang nampaknya masih sangat belia itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, sudah lama perusahaan mereka tidak mempekerjakan Office Girl.

“E-ehm, Aku O- Aku…Aku Kim Taeyeon, tetangga Yoochun-ssi. Aku akan bekerja sebagai Office Girl disini, senang bertemu kalian semua” Taeyeon membungkuk dan tersenyum kaku. Hampir saja ia akan menyebutkan marga suaminya, tapi beruntung ia masih mengingat marga keluarganya sehingga tak menimbulkan kecurigaan yang berarti.

Setelah mendengar perkenalan tidak lancar dari Taeyeon para staff mulai masuk ke pintu utama, mengabaikan Taeyeon. Di mata mereka, Taeyeon hanya gadis biasa yang tak begitu mempesona, hanya wajahnya saja yang cantik dan imut, namun perawakannya tidaklah dapat dijadikan sasaran empuk pelampiasan fantasi mereka. Yoochun tersenyum tak enak Nyonya-nya diperlakukan demikian, namun ternyata Taeyeon juga tengah tersenyum. Nampaknya ia memaklumi.

“Nyonya, silahkan masuk kedalam” ucap Yoochun begitu semua staff masuk, sedangkan Taeyeon memelototkan matanya garang.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan Nyonya, Yoochun-ssi. Panggil saja Taeyeon” balas Taeyeon berbisik-bisik, Yoochun mengangguk mengerti dan mempersilahkannya masuk ke dalam.

“Silahkan berkenalan dengan staff disana, dan ruangan Office Boy ada di belakang” ucap Yoochun memberi intruksi, yang dijawab anggukan antusias dari Taeyeon, “Saya akan pergi ke ruangan Tuan Oh” Taeyeon mengangguk lagi dan menggumamkan ‘terima kasih’, lalu mulai melangkahkan kakinya mendekati ruangan staff yang nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya ada beberapa staff perempuan di ujung sana yang sepertinya sedang berbincang.

“Selamat pagi semua. Aku Kim Taeyeon. Office Girl baru disini, senang bertemu dengan kalian” Taeyeon memberi perkenalan dengan riang, sontak saja pekerjaan para staff itu terhenti dan kini memandang Taeyeon dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan kembali Taeyeon dihujani tatapan mengintimidasi, ditatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, sama seperti saat staff di depan yang juga memperlakukannya begitu.

“Ah…Kau Office Girl baru itu ya? Kenalkan saya HRD perusahaan ini”

Perhatian Taeyeon teralihkan pada seorang wanita tinggi yang menyapanya ramah. Ia tersenyum, “Senang bertemu dengan anda, HRD-ssi”

“Oh, ya. Saya baru mendapat perintah langsung dari CEO bahwa kau akan bekerja di lantai teratas gedung ini—lantai 50. Kau bertugas membantu staff divisi utama” jelas HRD itu.

Taeyeon tersenyum canggung, karena tak mengerti, “D-divisi utama?”

“Jangan khawatir. Salah satu OB akan mengantarmu” lalu HRD itu memanggil salah satu staff berpakaian persis seperti dirinya. Taeyeon mengucapkan terimakasih sebelum menaiki lift pegawai.

Sesampainya di lantai dimana ia akan bekerja, Taeyeon menutup mulutnya kagum. Desain ruangan lantai teratas benar-benar mewah. Di dominasi abu-abu, hitam dan emas. Sangat Sehun sekali. Taeyeon mulai penasaran, dimana ruangan suaminya? Pasti dilantai ini kan?

“A-ah, kau yang tadi satu mobil dengan sajangnim, kan? Perkenalkan aku Kwon Yuri” ucap seorang gadis berambut hitam sebahu yang tiba-tiba mendekati Taeyeon saat melihat Taeyeon masuk keruangan staff yang berisi tak kurang dari 35 kubikal.

Taeyeon senang dengan keramahan Yuri karena merasa dihargai meskipun dirinya HANYA seorang Office Girl dan HANYA seorang istri dari pemilik perusahaan yang identitasnya sedang disembunyikan. Tak ada yang salah dengan penggunaan kata ‘HANYA’ disini, kan?

“Iya, aku tetangga Yoochun-ssi sehingga aku bisa berangkat satu mobil dengannya” jawab Taeyeon.

“Waaahh… Kau beruntung sekali bisa satu mobil dengan Oh sajangnim” timpal wanita lain yang memiliki perawakan sangat seksi. Taeyeon mengamati penampilan wanita itu, tubuhnya dibalut kemeja ketat berwarna peach dan bawahan rok span hitam yang begitu kontras dengan kaki jenjangnya. Ia juga memiliki paras yang cantik.

“Aku tahu kau mungkin mengira aku sudah menikah tapi aku masih menunggu Oh sajangnim melamarku” lanjut wanita seksi itu saat tahu Taeyeon memperhatikannya.

Taeyeon jadi merasa double tidak enak. Tidak enak karena ketahuan memperhatikan orang terlalu lekat dan tidak enak dengan perasaannya. Hanya melihat dua dari pegawai suaminya saja sudah membuatnya rendah diri dan kehilangan kepercayaan diri, Yuri dan wanita ber-name tag Victoria itu benar-benar memiliki paras yang cantik dan memiliki tubuh yang tidak bisa diabaikan, apalagi bila seorang pria normal yang melihatnya. Dan bukan tidak mungkin Sehun diam-diam menaruh minat pada mereka, mengingat suaminya adalah pria normal. Tapi tidak! Sehun bukanlah pria hidung belang.

“Hey?! Jangan terlalu percaya diri Oh sajangnim akan melamarmu. Aku juga berkhayal seperti itu, tapi rasanya tidak mungkin” balas Yuri sambil berpangku tangan.

Melamar? Jangan-jangan semua wanita di perusahaan ini menyukai suaminya! Taeyeon menghela napas untuk menenangkan hatinya. Ia tidak siap menghadapi kenyataan secara langsung, terlebih dengan posisinya saat ini yang membuat dirinya dengan Sehun terasa memiliki jarak yang sulit diretas dan sulit di eliminasi dari segi manapun.

“Abaikan dia, Taeyeon-ssi. Victoria memang begitu. Orang setampan CEO tentu saja akan mencari pasangan yang cantik dan muda, dia tak akan sembarangan memilih gadis untuk dijadikan istri. Apalagi di usianya yang baru dua puluh dua tahun, dia sudah begitu sukses menjadi CEO di perusahaan besar ini. Gadis manapun tak mungkin tidak jatuh hati padanya” jelas seseorang yang lain, ber-name tag Im Yoona.

Taeyeon menelan ludah. Oke! Kesimpulannya, sudah tiga orang wanita cantik yang berkenalan dengannya, dan semuanya menyukai Sehun!

“Apa maksudmu? Aku yakin Oh sajangnim punya mata yang bagus untuk memilih seseorang menjadi istrinya. Ia akan memilih wanita yang memiliki body yang bagus sepertiku, tidak kurus seperti dirimu, Yuri, atau mungkin sepertimu, Taeyeon-ssi” sangkal Victoria, lalu ia menutup mulutnya seperti baru menyadari sesuatu, “Ah, kenapa aku begitu jujur? Maaf, tapi jujur saja tubuhmu benar-benar kecil, Taeyeon-ssi”

Pernyataan itu benar-benar menohok hati Taeyeon, kurus dan kecil? Belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padanya, bahkan suaminya sekalipun.

“Jangan diambil hati, Taeyeon-ssi. Dia memang suka begitu. Oh ya, apa Oh sajangnim membiarkanmu begitu saja naik mobil mewahnya? Kudengar mobil apalah itu namanya harganya senilai 40 miliar, kau tahu? Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana cara membayarnya” ucap Yoona mengalihkan pembicaraan. Tapi Taeyeon malah melamunkan pakaian Yoona, Yuri dan Victoria yang tampak berkelas, meskipun pakaian mereka tak memiliki harga semengerikan pakaian miliknya, tetap saja pakaian itu tampak sangat berkelas di tubuh mereka, “Taeyeon-ssi?!”

“Ah, maaf. Namanya Lamborghini Veneno, dan harga tepatnya 41,06 miliar, Yoona-ssi” jawab Taeyeon spontan.

“Eh? Bagaimana kau tahu?” Tanya Victoria dan Yuri bersamaan, mereka—termasuk beberapa staff wanita yang lain menatap penuh tanya pada Taeyeon.

“A-ah, aku…Aku mencarinya di internet”

“Ohhh…Wow, dia benar-benar pria yang mengerikan. Padahal usianya masih belia namun kekayaannya seakan sulit di dibayangkan” Yuri mengatakannya dengan mata berbinar, sedangkan Taeyeon hanya menunduk meratapi kebodohannya yang bisa semudah itu meloloskan hal tak masuk akal dari mulutnya, untung saja ia bisa beralasan, “Kalau saja sikapnya tidak seangkuh itu, pastinya akan lebih mudah mendekatinya. Selain itu, aku juga tidak terlalu buruk”

Ini dia poin penting yang perlu Taeyeon catat, ternyata memang benar kalau suaminya adalah seorang yang angkuh, persis seperti yang terlihat di foto yang ia dapatkan dari salah satu pelayannya yang ia suruh menjadi mata-mata, dan ternyata memang begitu kenyataannya, bahkan para staff-pun secara gamblang mengatakannya. Tunggu, mereka tak hanya menyukai Sehun tapi juga ingin mendekatinya? Aaah~ betapa gatalnya ia ingin membuka mulut dan mengklaim bahwa orang yang sedari tadi mereka ributkan adalah suaminya.

Tetapi memang tak ada yang salah bila seseorang mendekati pria yang disukainya. Yang salah disini adalah lelaki yang mereka dekati sudah memiliki istri, dan mereka membicarakannya didepan istrinya sendiri. Mungkin mereka memang cantik, rupawan, memiliki perawakan yang bagus, tubuh yang molek dan seksi, bahkan mengundang nafsu para lelaki, terlebih mereka cerdas dan dapat diandalkan, tapi mereka bukan siapa-siapa dimata CEO Oh Enterprises Corp.

Sedangkan Taeyeon yang terlihat menyedihkan dengan baju atasan dan bawahan berwarna abu-abu norak lengkap dengan logo Oh Corp yang seharusnya bisa dibanggakan dan berkelas bila berupa pin yang tertempel di atas name tag, namun sayangnya logo tersebut benar-benar merusak pemandangan dengan mendominasi pakaian atasnya. Sangat jauh berbeda dengan pakaian para staff yang kasual dan elegan dipadukan dengan heels yang memanjakan mata siapapun yang memandangnya, sedangkan dirinya? Kakinya bahkan tak terlihat sama sekali karena bawahan longgar sialan sehingga kakinya yang muluspun harus tersembunyi di dalamnya. Ah, betapa bodohnya ia telah memilih pekerjaan seperti ini, niat mau berbangga diri karena merupakan istri CEO malah luntur melihat betapa konyolnya penampilannya saat ini dibandingkan para pegawai lain yang bukan siapa-siapa namun terlihat begitu berkelas.

“Kim Taeyeon? Kenapa kau disini? Apa yang kau lakukan disini?!” tanya sebuah suara di belakang Taeyeon, sontak saja Taeyeon terbangun dari lamunannya dan menoleh untuk mengetahui siapa yang menanyakan pertanyaan yang terdengar menyudutkan dirinya tersebut.

“Aku bekerja sebagai Office Girl disini, maaf mengganggu sebelumnya” ucap Taeyeon seraya membungkuk pada gadis berhelaian hitam dan hendak berlalu memulai kewajibannya sebagai Office Girl.

“Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu…” ucap wanita itu lagi, kali ini ia menahan tangan Taeyeon. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini? Kenapa ia bersikap seperti ini? Sedari tadi Taeyeon tidak merasa telah melakukan sesuatu yang salah padanya, “Aku merindukanmu, Taeng!” Wanita itu tiba-tiba memeluk Taeyeon.

Taeyeon mematung, ia familiar dengan suara dan pelukan ini. Mungkinkah…”Fany-a?”

“Akhirnya kau mengingatku juga” respon Tiffany melepas pelukan eratnya yang seakan dapat menguras pasokan udara Taeyeon, bahkan berciuman dengan Sehun saja rasanya tidak sesesak ini.

“Kau benar-benar Tiffany?!” tanya Taeyeon masih tak percaya, Tiffany mengangguk lalu menyeret tangan Taeyeon menuju dapur tempat Office Girl bekerja.

“Kau benar-benar mengejutkanku” ucap Tiffany setelah mereka sampai disebuah ruangan dibelakang ruangan staff, “Aku ditugaskan langsung oleh CEO untuk membimbingmu sebagai Office Girl disini. Entah apa maksud CEO mempedulikan OG, tapi yah aku tak bisa membantahnya. Jadi, sekarang aku akan memberitahumu apa saja tugasmu”

Tiffany melipat tangan didepan dada lalu melangkah mendekati pantry bar, lalu ia berbalik lagi menghadap Taeyeon, “Ini adalah dapurnya, tugasmu adalah membuat minuman, mengantarkan barang, memfotocopy, dan menerima paket. Ruangan fotocopy ada disebelah sini dan  loker berkas tepat di sampingnya. Tapi ingat! Kau harus menghafal semua jenis minuman yang disukai semua staff disini, termasuk direktur dan CEO. Kau juga mengantarkan barang-barang dan berkas-berkas yang diperlukan para staff, kalau memfotocopy bukanlah hal sulit karena tidak melelahkan, benar kan? Dan kalau menerima paket, kau hanya perlu mengecek apakah ada paket yang disampaikan oleh kantor pos? Kalau ada, kau harus menerimanya dan menyerahkannya. Bisa jadi paket itu dari perusahaan lain, atau milik pribadi seorang staff disini. Sangat jarang perusahaan menerima Office Girl, karena tugasnya memang lumayan berat. Hanya ada Office Boy yang selama ini menggantikan semua peran Office Girl, namun karena sudah ada kau, tugasnya jadi dilimpahkan padamu, para Office Boy lebih diarahkan untuk bagian kebersihan”

“Oh, begitu” balas Taeyeon berpura-pura mengerti, padahal kepalanya seakan berputar. Oh ayolah, siapa yang tidak bingung dijelaskan oleh seseorang dengan begitu cepat dan panjang seperti itu?

“Ada yang mengganjal, tapi apa ya aku lupa. Oh ya, kenapa pula sekarang kau bekerja menjadi Office Girl? Aku masih ingat betul kau cukup pandai di sekolah dulu. Aku bahkan tak lebih pintar darimu, kenapa tidak coba melamar menjadi staff saja? Aku yakin kau punya kesempatan” ujar Tiffany.

Taeyeon berjalan mendekatinya dan ikut bersadar di pantry dapur, “Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin pekerjaan yang memusingkan”

“Tapi menjadi Office Girl juga bukan solusi terbaik, meskipun gaji Office Girl di perusahaan ini memang cukup tinggi, tapi kan melelahkan”

“Aku baik-baik saja” Taeyeon tersenyum.

Tiffany mengedikkan bahu, “Tapi, mungkinkah kau hanya sedang main-main? Jangan-jangan kau punya maksud lain seperti hanya ingin modus pada CEO”

Taeyeon membelalak, ia modus pada suaminya sendiri? Lucu sekali.

“Ayo ngaku Kim Taeyeon! Apa yang dikatakanku benar? Kau hanya ingin numpang di mobil Oh sajangnim untuk memandanginya dari jarak dekat… Oh oh oh sekarang aku dapat memahaminya, kau sengaja memilih pekerjaan Office Girl agar bisa dekat-dekat dengan Oh sajangnim saat mengantarkan minuman padanya?” Mata Tiffany memicing curiga.

“Ah… B-bukan begitu…”

“Ayo ngaku saja, Taeng! Kau harus tahu, tentu saja kau boleh bermimpi, aku juga sejujurnya sering bermimpi menjadi kekasih CEO pastinya sangat menyenangkan. Tapi aku sadar, staff biasa sepertiku tak punya kesempatan untuk mendapatkan hati CEO yang sedingin es dan seangkuh itu, tapi tetap saja pesonanya mengobrak-abrik pikiranku dan memaksaku untuk lebih percaya diri mendekatinya, lagipula tak hanya aku disini yang menyukainya, tetapi hampir semua staff wanita juga tergila-gila padanya”

“Benarkah? Semua?” tanya Taeyeon dibuat melongo dengan pernyataan sahabatnya.

“Ya, namun sayangnya Oh sajangnim tak pernah terlihat menaruh minat pada wanita-wanita di perusahaan ini, ia sangat dingin. Hanya Park Jiyeon yang sepertinya dapat membuat hatinya lunak—ah tentu saja karena ia adalah mantan kekasihnya. Memang sih, Park Jiyeon sangat cantik dan seksi selain itu dia juga berasal dari keluarga yang terpandang, dia bukan gadis sembarangan. Belum lagi dia adalah sekretaris pribadi CEO, tentu saja ia punya kesempatan lebih banyak mendekati CEO. Kau tahu, bukan tidak mungkin mereka kembali menjalin kasih, mengingat hanya Jiyeon yang berani memanggil Oh sajangnim dengan sebutan nama. Kedekatan mereka benar-benar membuatku iri! Tapi, sebenarnya meskipun Oh sajangnim dekat dengan Jiyeon, tak jarang Oh sajangnim juga membentaknya bila kinerjanya salah. Pokoknya, selama aku hidup sampai sebesar ini, aku baru melihat ada lelaki yang begitu sulit di dekati seperti CEO, aku bahkan pernah berpikir kalau CEO adalah gay”

“SEHUNIE BUKAN GAY!”

Hening….

Ada apa ini? Kenapa lagi-lagi Taeyeon bertingkah bodoh? Kenapa ia bisa begitu tololnya emosi karena Sehun dikatakan ‘gay’? Seharusnya dia bisa mengendalikan diri, Tiffany pasti akan curiga padanya. Bagaimana kalau Tiffany tahu kalau dirinya adalah istri Sehun? Ini bahkan merupakan hari pertamanya bekerja, ia tidak ingin secepat ini ketahuan.

“Sehunie?” Ulang Tiffany sambil mendekatkan wajahnya menatap Taeyeon, ekspresinya begitu kaget seakan baru saja melihat tanduk dikepala Taeyeon, “Aku bisa memaklumi kau tak terima CEO dikatakan gay, tapi kau tak boleh bersikap tidak sopan, Taeyeon-a. Bahkan Park Jiyeon yang merupakan mantan kekasih CEO memanggilnya dengan akhiran ‘-ssi’. Aku bukannya tidak suka mendengarmu menyebutkan namanya seakrab itu, hanya saja kau bisa dilabrak oleh Jiyeon bila wanita itu mendengarnya. Tapi, tak masalah bila kau ingin menyebut ‘Sehunie’, tapi kau hanya boleh menyebutnya bila dihadapanku, hanya di depanku. Bisa berbahaya bila Park Jiyeon tahu”

“Ah, baiklah. Rasanya lebih menyenangkan memanggilnya ‘Sehunie’, tapi kalau tidak sopan, aku akan membiasakan memanggilnya dengan akhiran -ssi” Taeyeon tersenyum dipaksakan.

Ah, sepertinya penderitaannya tak hanya sampai disini. Park Jiyeon, mantan kekasih Sehun? Kenapa suaminya tak pernah memberitahunya tentang hal itu?

“Sepertinya aku merasakan ada wanita yang tak punya sopan santun disini” tiba-tiba pintu ruangan OG terbuka, menampilkan sosok cantik wanita bernama Park Jiyeon yang dibicarakan Tiffany tadi. Tangannya terlipat didepan dada dan wajahnya begitu angkuh seolah ialah penguasa perusahaan. Taeyeon mendengus.

“Taeyeon-ssi, aku tak mau berlama-lama denganmu, hanya saja kau terlalu lancang menyebut Oh Sehun dengan sebutan semaumu. Kau harus tahu, hanya mantan kekasihnya saja—yaitu aku yang boleh memanggilnya dengan akrab, kuharap kau cepat mengerti posisimu” Jiyeon tersenyum miring dan keluar setelah menepu-nepuk kepala Taeyeon. Taeyeon berdecak kesal. Apa-apaan gadis tidak tahu diri itu? Berani sekali memakinya. Tidak tahukah dengan siapa ia sedang berhadapan? Dia sedang berhadapan dengan ISTRI dari orang yang sedari tadi ia ributkan.

“Itu yang kumaksud, Tae. Kau harus lebih berhati-hati. Sepertinya aku tak bisa menunda lagi pekerjaanku. Kita bertemu saat jam makan siang, ya! Sampai jumpa!” Tiffany mengatakan itu dan berlari keluar ruangan OG, dan benar-benar menghilang saat pintu itu tertutup, meninggalkan Taeyeon yang sendirian dengan kedongkolan hatinya yang bahkan sulit ia gambarkan.

💞💞💞

Dan disinilah Taeyeon berdiri, tepat di depan pintu masuk ruangan khusus CEO. Setelah semua yang terjadi, akhirnya badai berlalu. Memang, telah terjadi badai besar dimana dunia seakan jungkir balik seperti wahana tornado. Oh Taeyeon yang biasanya menyuruh-nyuruh dengan seenak hati pada pelayan kini ia menjadi sasaran empuk para staff untuk membantu pekerjaan-pekerjaan mereka.

Kata ‘sangat sulit’ pun rasanya masih kurang untuk di katakan mengingat betapa tidak mudahnya membantu pekerjaan mereka, mulai dari membuatkan minum. Sepertinya terdengar sederhana, hanya membuatkan minum. Tapi ia tidak membuat minum untuk dirinya sendiri melainkan untuk 35 staff yang terdiri dari 18 wanita dan 17 pria, apalagi mereka memiliki lidah yang berbeda dan secara otomatis selera mereka juga berbeda. Mungkin bila dikumpulkan dan di data, ia hanya perlu membuat 5 macam minuman, teh, kopi, jus jeruk hangat, Cappuchino, dan Lattè. Untuk orang yang baru mempelajari cara membuat minuman semalam—tentu bukan tidak mungkin menjumpai kesalahan. Ia benar-benar bingung awalnya, dan setelah bersusah payah mencari informasi dari internet, dirinya harus dihadapkan pada masalah lain dimana takaran gula yang mereka inginkan benar-benar berbeda.

Ada yang menyukai manis, atau sedang, atau bahkan tanpa gula. Belum lagi, beberapa bahkan tak mau wadah tertentu, misalnya Park Jiyeon lebih menyukai cangkir tanpa alas, Victoria lebih menyukai gelas jumbo, Yoona sangat suka gelas bertangkai, atau Tiffany tidak suka tutup untuk tehnya agar anginnya cepat masuk dan mendinginkan teh tersebut, dan ada juga yang lebih suka wadah plastik agar dapat dipindahkan kemana-mana. Sungguh, bukan pekerjaan yang mudah, untung saja semua staff kecuali Jiyeon memaafkan kesalahannya, dan bahkan memakluminya karena ini merupakan pengalaman pertama baginya, tapi Jiyeon benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk memarahinya. Bagaimana eskpresinya saat marah barusan? Ah, benar-benar muak untuk kembali dibayangkan.

Belum lagi urusan mengantar paket, ternyata paket tersebut memiliki ukuran yang sangat beragam, ada yang sekecil tempat pensil, bahkan ada yang sebesar kardus televisi 21 inchi. Dan yang lebih menyebalkan lagi, sebagian besar barang-barang tersebut bukanlah kepentingan perusahaan, melainkan barang-barang pribadi milik staff. Dan yang paling-paling menjengkelkan dari semuanya, banyak dari mereka yang menggunakan nama samaran, membuatnya harus menanyakan satu persatu siapa si-pemilik nama tersebut.

Dan kini masalah baru menghantuinya, sedari tadi ia gagal mem-fotocopy. Semua file yang hendak ia fotocopy berhamburan dan justru menghasilkan hasil copy-an yang jumlahnya berkali-kali lipat dari jumlah yang di inginkan, dan menyebalkannya bukan arahan yang ia dapat justru amarah karena dikatakan menghambat—bukannya membantu justru mengacaukan pekerjaan mereka. Dan untung saja kini semua deritanya akan sirna mengetahui dirinya akan segera menemui suami sekaligus CEO perusahaan tempat dimana ia bekerja, ia benar-benar tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Tunggu, Taeyeon!” interupsi seseorang yang membuat langkah Taeyeon terhenti dan berbalik, dan ternyata itu adalah Yuri. Yuri berjalan mendekatinya, “Biar aku saja yang mengantarkan minumannya”

Seketika lutut Taeyeon melemas dan hampir saja menjatuhkan kopi hitam khusus untuk suaminya tersebut, tidak cukupkah deritanya sedari tadi? Ia ingin menangis sekarang.

“Tak perlu repot-repot, Yuri-ssi. Ini sudah pekerjaanku” jawab Taeyeon masih memegang erat nampan minuman, sedikit menjauhkannya dari jangkauan Yuri.

“Dia benar, Yuri-ssi. Kau harus menyelesaikan laporanmu, CEO menunggu hasilnya hari ini. Lebih baik aku saja yang mengantarnya!” sela seseorang yang tak lain adalah Victoria.

“Tidak…tidak, kalian melupakan jadwal? Permisi, hari ini jadwalku mengantarkan minum untuk Oh sajangnim!” seru Tiffany—yang baru keluar dari kubikalnya—tak mau kalah.

“Lupakan soal jadwal, ayo kita suit seperti biasa” ucap Yoona memberi keputusan, diam-diam mereka semua menyetujuinya. Taeyeon yang masih memegang erat nampan nampak memberi tatapan puppy eyes yang membuat semua dari mereka merelakan Taeyeon juga ikut suit, dan ternyata memang keberuntungan sedang memihaknya. Tiga kali dari hasil suit itu menunjukkan kalau Taeyeon lah pemenangnya dan mendapat hak mengantar minum.

“Kau harus ingat tata kramanya, sebelum masuk, ketuk pintunya dengan ketukan yang pas dan irama yang khas, jarak antara ketukan pertama dan ketukan kedua jangan terlalu lama atau terlalu cepat, kemudian beri jeda selama 15 detik untuk menunggu adanya respon. Tepat sebelum menginjak detik ke-16 kau bisa mengetuknya ulang, dan saat itu kau bisa menyebutkan nama dan bagian serta keperluan. Jika selama 5 detik tidak ada tanda-tanda Yoochun-ssi membuka kenop pintu, itu artinya tak ada ijin masuk dari CEO. Namun jika pintu terbuka, itu artinya kau lolos. Setelah itu kau harus berjalan kearahnya, pandangan menunduk namun jangan terlihat gerogi apalagi sampai berkeringat dingin, CEO sangat tidak menyukai itu. Lalu kau bisa menunduk dengan sudut elevasi tepat 45°, dan jangan beranjak sebelum anggukan kepalanya tertangkap matamu. Setelah memastikan ia mengangguk, kau bisa beranjak dan menyebutkan nama minuman yang kau bawa, gunakan kata yang sopan dan nada yang ramah tamah dengannya, meskipun aku yakin seratus persen ia tak mempedulikan hal itu. Tapi kau bisa digantung olehnya bila kau tidak menuruti tata krama. Oh ya, setelah itu taruh minumannya tepat di meja samping di sebelah selatan lampu hias, jarak lampu dengan minuman sekitar 15 cm, lalu kau bisa kembali setelah mengambil nampan dan pamit undur diri padanya” jelas Tiffany panjang lebar. Pernah melihat lari marathon? Cepat bukan? Lalu, bagaimana menurutmu jika yang kau lihat adalah bicara marathon?!

Apa-apaan mereka itu, apa mereka sedang mengajarinya cara bersikap di hadapan suaminya? Apa tidak salah? Padahal kan hanya tata cara mengantar minuman, namun terdengar seperti undang-undang negara.

“Apa tata krama seperti itu benar-benar ada?” tanya Taeyeon dengan polosnya.

“Tentu saja, itu pengetahuan umum walau tak tertulis. Sudah cepat antar, aku mendoakan keberhasilanmu, Taeng! Fighting!” ucap Tiffany seraya mengepalkan sebelah tangan ke udara—memberi semangat, diikuti para staff lain yang juga turut memberinya semangat. Kalian harus mengerti, bahwa berhadapan dengan suaminya adalah keahliannya, kalian tak perlu mencemaskannya. Benar-benar seperti melihat lelucon garing.

Setelah mengangguk, akhirnya Taeyeon pun mengetuk pintu sesuai dengan intruksi panjang lebar Tiffany, lalu menyebutkan namanya. Dan tak lama kemudian nampak Yoochun membukakan pintu untuknya, membuat lengkungan kecil tampak di bibir mungilnya, dan membuat staff lain memuji keberuntungan Taeyeon bisa memasuki ruangan CEO pada ketukan pertama.

“Sehunie!” pekik Taeyeon saat pintu kembali tertutup dan jurang pemisah antara Office Girl dengan CEO seolah diretas dengan terbukanya pintu tadi, dan pemandangan yang dilihatnya adalah sang suami yang tengah berkutat dengan setumpuk dokumen. Sehun mengenakan kacamata minus dan keningnya berkerut serius. Benar-benar pemandangan langka.

“Sehunie!” ulang Taeyeon sambil mendekat, dan sepertinya Sehun baru menyadari kehadiran sang istri sehingga ia baru mendongakkan kepala, dan benar saja. Sang istri yang sedari tadi ia curi-curi pandang lewat CCTV sekarang tengah berdiri di depannya, ternyata istrinya itu tetap saja menggemaskan meskipun hanya mengenakan pakaian Office Girl yang kebesaran tubuhnya.

“Taeyeon-a” respon Sehun menyunggingkan senyum, andai saja Taeyeon bisa memamerkan hal ini pada semua staff diluar yang dengan sombongnya menyebutkan tata krama bodoh itu padanya. See? Dirinya jauh lebih mengerti Sehun dibandingkan mereka, “Kemarilah”

Taeyeon langsung berlari menghampiri Sehun dan segera menghempaskan tubuhnya dipangkuan sang suami yang duduk di atas kursi kebesarannya. Taeyeon  mengalungkan tangannya pada leher sang suami.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, suamiku? Kau bisa berkonsetrasi penuh, kan?” tanya Taeyeon sambil membuka-buka beberapa laporan yang tergeletak di meja Sehun. Nama ‘Victoria’ tertera disana—ah ternyata laporan milik Victoria.

Dengan tangan kiri yang melingkari pinggang Taeyeon dan tangan kanan yang terbebas, Sehun bisa melanjutkan pekerjaannya dan mengetikkan sesuatu di laptopnya, sedangkan Taeyeon masih mengalungkan lehernya dan mendekap suaminya beberapa kali.

“Tentu saja, tapi sudah tidak lagi saat wanitaku datang dan duduk dipangkuanku dengan jarak sedekat ini—ah ia bahkan menaruh kedua tangannya di leherku. Kau pikir aku masih bisa berkonsentrasi?” Ujar Sehun balik bertanya, tangannya masih bergerak mengetikkan sesuatu di laptopnya. Taeyeon yang gemas dengan jawaban suaminya mulai mencium pipi suaminya, hangat dan dalam, membentuk seringaian kecil di bibir Sehun.

“Kau benar-benar menggodaku. Bagaimana dengan pekerjaanmu, istriku? Menyenangkan?” entah kenapa Taeyeon merasa ada nada mengejek yang terlontar dari pertanyaan suaminya, benar-benar menyebalkan. Taeyeon melepaskan ciumannya lalu kembali memandang Sehun.

“Sangat menyenangkan apalagi dengan aturan-aturan konyol yang mereka punya, apa-apaan itu. Kau harus tahu bagaimana rasanya menyajikan minuman untuk 35 orang dengan selera yang berbeda-beda, mengantarkan paket dengan nama samaran, memfotocopy setumpuk file tanpa tahu caranya memfotocopy. Dan baru saja aku diceramahi tentang tata krama menyajikan minuman untuk CEO Oh Sehun yang terhormat, mereka benar-benar gila. Belum tahu siapa aku sebenarnya, benar-benar membuatku kesal!” gerutu Taeyeon yang kini dengan nakalnya berucap sambil memainkan jarinya di wajah tampan Sehun dan menyusuri setiap lekukan sempurna disana.

“Kau yang menginginkan hal itu, sayang. Jadi, ayo kita keluar dan katakan pada mereka yang sebenarnya. Oh ayolah, Aku tak bisa membiarkan istriku diperbudak bawahanku” ucap Sehun seraya menandatangani beberapa berkas.

“Jangan, Sehunie! Aku masih penasaran dengan mereka. Apalagi kini aku mengetahui ternyata hampir semua staff wanita di perusahaan ini menyukaimu. Ah, bahkan tergila-gila padamu. Mereka semua benar-benar wanita yang cantik dan seksi membuatku pusing karena entah di lihat dari segi manapun mereka tetap saja lebih menarik daripada aku, dan aku benci hal itu. Kau juga tak pernah mengatakan tentang Park Jiyeon, kalian benar-benar akrab! Mantan kekasih, ya?! Cih! Dia bahkan terang-terangan mengancamku dan memaki diriku, dan menyebalkannya lagi aku dipaksa untuk memanggilmu dengan akhiran ‘-ssi’, huh lelucon macam apa itu. Apakah ada seseorang yang memanggil suaminya dengan sebutan seperti itu?” Taeyeon mengadu, dan terlihat sangat menggemaskan karena ekspresi wajahnya yang berubah-ubah.

“Aku tak pernah menginginkan hal itu, Tae. Kau harus percaya aku tak pernah peduli dengan perasaan mereka, dan jangan bandingkan dirimu dengan mereka. Kau berbeda, kau spesial untukku. Dan untuk lelaki sepertiku, aku tak pernah memikirkan bagaimana penampilan wanita lain, aku hanya memperhatikan satu titik dan itu kau, Oh Taeyeon. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, kau memilikiku. Lagipula aku dan Jiyeon tidak seakrab yang kau kira, aku pernah mengatakan padamu aku punya satu mantan kekasih saat Sekolah Menengah, kan? Tak ada yang kututupi darimu” jelas Sehun, menghentikan kegiatannya membubuhi tanda tangan dan hendak menempelkan bibirnya pada bibir sang istri, sebelum sebuah tangan membungkam mulutnya. Itu tangan Taeyeon dan ia tak bisa mengabaikannya. Taeyeon mengedarkan pandangan ke segala arah, ia mencari keberadaan Yoochun—karena tidak mau terlihat bermesraan dengan suaminya disaat jam kerja.

“Yoochun tidak ada disini. Aku sudah mengatakan padanya untuk masuk ke ruangan lain dan tidak mengganggu kebersamaan kita. Sehingga tak ada yang perlu kau khawatirkan” ujar Sehun menjawab apa yang Taeyeon pikirkan.

“Oh—” Taeyeon mengangguk-angguk dan Sehun benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Taeyeon.

Kali ini Taeyeon tak menolak, ia mengalungkan tangannya dileher Sehun, sementara Sehun melingkari pinggangnya. Ciuman mereka menggairahkan seperti biasa, terlebih ketika lidah Sehun melesak masuk kedalam rongga mulut Taeyeon, membuat sedikit lelehan saliva meluncur diantara keduanya.

“Umphh” Sehun pun melepas ciumannya, digantikan dengan kecupan-kecupan lembut yang mampu membuat Taeyeon melayang.

“Ayo kita bermain, Sehunie. Sepertinya ini keinginan calon bayi kita, kau mau kan?” Tanya Taeyeon setelah mereka benar-benar melepas tautan bibir masing-masing. Sehun terlihat memutar bola matanya namun kemudian mengangguk. Hampir tidak ada keinginan Taeyeon yang tidak ia turuti, dan meskipun terdengar aneh untuk bermain-main ditengah bekerja namun diam-diam ia juga penasaran dengan apa yang tengah Taeyeon rencanakan.

“Baiklah. Aturannya, apapun yang kulakukan, kau harus diam. Tak boleh merespon. Dan kalau kau gagal, aku akan menanyakan pertanyaan yang harus kau jawab jujur, hanya tinggal menjawab ya atau tidak. Bagaimana?”

“Setuju” jawab Sehun.

Taeyeon memulai permainannya dengan mengubah posisi kakinya menjadi melingkari pinggang Sehun dan tangannya ia usapkan di tengkuk suaminya itu. Refleks tangan Sehun menarik tubuh Taeyeon untuk lebih merapat dengannya.

“Sudah kukatakan jangan merespon apapun yang kulakukan. Kau kuberi satu pertanyaan”

“Pasti pertanyaan menjebak. Ya sudah, tanyakan saja” balas Sehun.

“Sehunie, apa kau suka diam-diam memperhatikan tubuh seksi Victoria?” tanya Taeyeon.

“Aku tidak sepengangguran itu, Tae” Taeyeon memiringkan kepala ke satu sisi membuat Sehun dengan cepat melahap leher jenjangnya yang terekspos.

“Sehunie, hentikan. Kau keras kepala sekali” Taeyeon berhasil menghentikan aksi suaminya.

“Pertanyaan kedua. Apa kau suka memperhatikan para staff wanita?” tanya Taeyeon, penuh selidik.

“Tentu saja, aku harus memantau kinerja mereka”

“Sehunie… kau hanya perlu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak'” protes Taeyeon.

“Baiklah… baiklah…”

Secara tiba-tiba Taeyeon menempelkan bibirnya pada bibir Sehun, sontak saja Sehun kaget dengan perlakukan istrinya. Dan entah karena naluri atau karena tak tahan digoda seperti itu, ia pun membalas kecupan sang istri dan lagi-lagi melupakan permainan sialan itu.

“Issshh kau ini, jangan merespon!” Taeyeon memukul dada Sehun, dan ternyata Sehun sudah menyadarinya saat kecupan ketiga yang diberikan Taeyeon namun dirinya masih nekat juga karena tak tahan digoda dengan cara seperti itu, apalagi wanita yang menggodanya adalah istrinya sendiri.

“Pertanyakan selanjutnya, kau tahu kebiasaan para staff perusahaan?”

“Aku mengetahuinya, mereka melakukan wawancara saat melamar dan aku salah satu yang hadir dalam wawancara itu, tentu saja aku tahu” jawab Sehun.

“Hanya ‘Ya’ dan ‘tidak’, Sehunie”

“Ah, sudahlah! Ayo hentikan permainan konyol ini. Bukankah lebih baik kau belajar memfotocopy?” sela Sehun, membuat istrinya seolah tersadar telah membuang-buang waktu. Padahal tujuan utamanya adalah meminta tolong diajarkan memfotocopy.

“Ah benar juga, bisa tolong fotocopy-kan file milik Victoria dan Yoona, Sehunie?” tanya Taeyeon, memandang wajah suaminya lekat-lekat.

“Kau menyuruhku melakukan pekerjaan bawahanku? Hah, apa mereka tak punya cukup tenaga untuk memfotocopy sendiri pekerjaan mereka? Kenapa harus menyuruhmu?” ucap Sehun dengan nada sedikit meninggi, pekerjaannya saja sudah cukup membuat lipatan halus terbentuk di dahinya, dan kini ia harus membantu pekerjaan bawahannya?

“Tapi aku kan bawahan mereka”

“Dan aku atasan mereka” ucap Sehun meraih kopi yang tadi Taeyeon letakkan asal di atas mejanya, dan itu mengingatkan Taeyeon pada hal besar.

“Sehunie, berapa lama aku disini?”

“Sekitar dua puluh lima menit, kenapa?”

“APA? 25 menit? Aku bisa dibunuh para staff disini!” Taeyeon berteriak dan beranjak dari pangkuan Sehun.

“Aku pergi dulu, Sehunie. Sampai jumpa” setelah mengambil nampan dan mengecup bibir Sehun sekilas, Taeyeon langsung berlari keluar ruangan.

Sehun yang mendapat pemandangan seperti itu hanya menahan kekehannya. Ia sangat terhibur dengan kelakuan istrinya, “Lain kali aku akan menerkammu di ruangan ini agar semua orang tahu kau ada apa-apanya denganku”

Ahhh~ Sehun dan fantasi liarnya.

To be continue

Advertisements

37 comments on “Fine (Chapter 3)

  1. Seeerrriiuussss, baca ff ini bikin senyum2 gaje. Apalgi klo udah ngliat tingkah laku suami istri yg konyol itu,kekeke.
    Couple SeYeon moodbooster parraahhh.
    Pliiss, jgn ada konflik2 besar ya cukup yg kecil2 aja,hihi
    Nxt chp ditunggu^^

  2. Thor, aku suka sama gaya bahasanya. Gak berbelit 🙂
    Nextnya ditunggu yaa thor, jujur suka banget sama ff ini

  3. OMG baru buka lg atsit banyak ff seyeon 😍😍 baru beres baca tiga chapter sekaligus. Suka sukaaaaa sukaaaa sama karakter mereka disini. Ya lord, bisa2nya cowo sekeren sehun nikahin bocah kek taenggu yaampun. Tp itu sih jd titik menarik dr ff ini. Aduh adegan kisseu nya bikin nahan napas. Seru serruuuu apalagi itu skrg si taeng jd office girl, ada2 ajaaa. Good job authornim, semangat buat kelanjutan ceritanyaaaa

  4. Akhirnya diupdate unch~ pokoknya 😗 ♡♡
    Lol itu tiffany cerewet bingits, jadi mereka temenan pas SMA yaa? Ya ampun lucu bgt mereka pas rebutan ngasih teh 😂
    Ceritanya tambah sweet aja, semoga betah ya taeng jadi office girl ehehee 😆
    Next chapternya ditunggu yaa author-nim, fighting!! ♡♡♡♡♡♡♡

  5. Jadi senyum2 sendiri liat kelakuan mereka wkwk
    Taeyeonnya imut banget sihh
    Sehun juga ahhh
    Ditunggu next chapt nya ya thor

  6. Wahh akhirnya update lagi nih ff.. Makin so sweet.. Itu si taeng emang otaknya sengklek yah.. 😂, untung si sehun sayang banget.. Permainan macam apa itu, permainannya membuat aku tahan nafas.. Wah pokoknya suka banget deh thor, gak bohong suerr beneran,, pokoknya setiap ff yg bercast sehun-taeyeon aku suka banget.. Next chap ku tunggu yah thor, jangan lama lama I just waiting for youu..😗😗

  7. Ya ampunn.. sweet bngett seyeon ny.. 😘😘
    Tp, pas bgian ngasih kopi k sehun, si fany ngoceh tata krama ngasih kopi kopi ny sungguh luar biasa.. gw sampai ngakak parah.. sumvahh.. 😂😂
    Lucu ny staff mu OhSeh.. 😂

    d tunggu next chapter ny thor..
    Keep writing and fighting!! 😉😊😘

  8. Keren bgt thor…ceritanya bikin senyum2 sendiri…
    Semangatd terus buat update chapter selanjutnya…

    Ditunggi ya…
    Komawo

  9. Iiih gemes bgt ah😘unyu2 gituuu.. ah setiap baca nih ff nyengir muluu😆pokoknya seru bgt. D tinggu kelanjutannya thor.. aku tunggu😉👍

  10. Omooo kok aku jadi senyum2 sendiri baca nih ff yaa ampun .Please yaah Taeng imut bgt , romantis haaa please ditunggu next chap . jadi pengen tau awal mereka ketemu ato pas masih pacaran kek gimana yaaa . Oke deh Keep writing and Fighting !!!

  11. ANJU!!!!!! FLY SENDIRI DIRIKU THOR
    Salting sumpah :’v ngayal kalo yg di poposisi TY itu aku xD
    Sumpah!! Bagus banget thor!
    Gk ada yg kurang, eh ada ehhmmm knp gk coba utk nambah gambar thor? Supaya kita yg baca jadi makin mudah ngayal nya’-‘#abaikankalopermintaankukerlaluan T-T
    Fighting aja deh utk author nya 🙂
    Ayo liat seberapa kuatnya Oh taeyeon

  12. Jangan ada konflik yang berarti please. Makin so sweet harus itu. Wahhh asik tuh kalo si sehun yang gantian ngunjungin istrinya di ruang OG. Kayaknya langsung pada ahhh…….. Ramai sekali nanti pada ribut. Makannya di ruang OG bareng istri tercinta uhhhh…. Aku dan fantasiku…

  13. Chap ini bikin syok gilakkk. Peraturan sehun itu loh astaga buka pintu aja sampai ada jeda gitu. Kopi nya lagi yaampun semuanya itu loh wkwkwkwkkw ku greget pengen makan sehun😅😅 suka banget part ini next lanjut yakk mangat !!!

  14. Pingback: Fine (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s