Beautiful Lies (Chapter 3)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1 | Chapter 2

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY        

 

 

Jiyong membuka kedua mata hazelnya dan langsung mencari-cari ponselnya yang ada di atas meja kecil yang tepat berada di samping tempat tidurnya. Setelah menggenggam ponselnya, ia segera bangkit duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. Banyak sekali notification yang masuk ke dalam ponselnya, terutama 10 missed calls dari Joohyun.

Jiyong menghela nafas panjang. Dia lupa mengabari gadisnya hari ini dan laki-laki itu terperanjat melihat jam yang menunjukkan sudah pukul 17.00 KST. Berapa lama ia tertidur? Ia tidak pernah tidur senyenyak ini sepanjang hidupnya. Dan semua ini hanya karena belaian lembut dan penuh kasih sayang dari seorang Kim Taeyeon.

Karena belaiannya ataukah karena keberadaannya di kamar ini? Entahlah, Jiyong tak tahu. Ia tersenyum manis saat mengingat kembali betapa nyamannya tidur di atas pangkuan gadis itu, betapa lembutnya ia membelai rambutnya, dan betapa harumnya tubuh gadis itu ketika ia memeluknya sangat erat.

Ya, Jiyong memang sengaja memeluknya erat. Ia ingin mencium harum khas Taeyeon lebih dalam, ingin mengingat bagaimana wangi tubuh gadis itu. Dan berhasil, tentu saja. Harum vanilla dan lavender masih tersimpan dengan jelas di dalam otaknya, apalagi harum itu masih tercium di dalam kamarnya, tepatnya di atas tempat tidurnya.

Ingin sekali Jiyong menahan gadis itu lebih lama. Namun, apa daya? Gadis itu harus kembali kurang dari pukul sebelas siang dan hal itu membuat Jiyong kesal sekaligus penasaran. Ada hal apa yang harus dikerjakan olehnya sehingga harus berada di suatu tempat pukul 12 siang.

Ia sempat berfikir untuk menanyainya pada Youngbae, tapi ponselnya langsung berdering menandakan ada telepon masuk.

My ‘Bae’ Joohyun, nama yang tertera di layar ponselnya.

Bonjour, mon cher (Hello, dear),” sapa Jiyong pada gadisnya.

“Oppa, apa kau sakit?” tanya Joohyun langsung, dengan nada suaranya yang terdengar cemas sekali.

Bukannya malah kaget atau merasa tersanjung karena Joohyun mengetahuinya, Jiyong malah tertawa pelan. “Apa kau punya indera keenam? Kenapa kau bisa tahu?”

“Kau tidak mengangkat teleponku dan suaramu lebih berat dari biasanya. Bagaimana bisa aku tidak tahu?” Joohyun balik bertanya.

“Tapi aku sudah merasa baik-baik saja, kok. Tidak perlu khawatir, chagi,” ujar Jiyong sambil tersenyum manis. Walaupun Joohyun tidak dapat melihat senyuman manis itu, tapi Jiyong tahu Joohyun bisa merasakannya.

“Jeongmalyo? Apa kau kembali minum obat, oppa?” tanya Joohyun.

“Aniya,” sanggah Jiyong. “Kali ini aku makan bubur dan minum teh jahe, sesuatu yang pernah kau sarankan waktu itu,”

“Woah, daebak. Akhirnya kau tidak minum obat itu lagi. Bisa berbahaya untuk kesehatanmu, oppa. Termasuk lambung dan ginjalmu. Kau ini dokter, tapi kenapa tidak mengetahuinya?” cecar Joohyun.

“Kau harus ingat, chagi kalau aku ini dokter spesialis anak, dan itu juga hanya sebuah title,” jawab Jiyong. Dan sedetik kemudian ia terdiam.

Jawaban yang sama yang ia berikan pada Taeyeon beberapa saat yang lalu.

“Tidak ada yang terlambat jika kau masih bisa memperbaikinya. Kalau kau terlambat, kau sudah dikubur dalam peti, dan bukannya di sini. Kenapa kau bisa banyak mengonsumsinya padahal kudengar kau ini dokter,”

“Setidaknya ini enak. Dan aku dokter spesialis anak. Itu juga hanya sebuah title,”

Berbeda orang, tapi Jiyong dapat merasakan perhatian kedua gadis itu sama-sama tulus untuknya. Namun, Jiyong hanya bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang dari Taeyeon secara langsung. Perhatiannya benar-benar menyentuh perasaan rapuh laki-laki itu. Meskipun ia jauh mengenal Joohyun sebelumnya.

“Oppa, waeyo? Kau masih merasa sakit?” tanya Joohyun, yang merasa heran kenapa kekasihnya di Korea sana tiba-tiba terdiam.

“Gwaenchannayo, tadi ada notif dari Jieun noona,” jawab Jiyong asal.

“Oh, begitu. Jadi, siapa yang memasakkanmu bubur dan teh jahe? Kau tidak menyukai kedua makanan itu sama sekali, oppa,” tanya Joohyun.

Housekeeper-ku,” jawab Jiyong. Nada suaranya berubah dalam dan terdengar sendu. “Dia langsung membuatnya dan menyuruhku memakannya. Dia melarangku meminum obat-obatan lagi, padahal aku sudah menolak dan lebih memilih obatku. Tapi, kau tahu. Dia gadis yang galak ketika dia sudah dibantah. Dia orang yang tidak mau dibantah,”

Jiyong tertawa saat menceritakannya pada Joohyun, dan gadis yang di seberang telepon itu mendadak diam, hanya mendengarkan.

“Tapi dia gadis yang sangat tertutup dan lebih memilih sibuk bekerja daripada berbincang denganku. Berbeda 180° dari housekeeper-ku yang biasanya, kau tahu, ‘kan ahjumma-ahjumma yang ingin memimpikan aku bisa menjadi menantu mereka,” lanjut Jiyong.

“Kau mengganti housekeeper-mu, oppa? Apa dia seorang gadis?” tanya Joohyun.

“Ne, aku memilihnya karena dia berbeda. Rajin dan cekatan. Pendiam dan pemalu. Tertutup dan selalu was-was,” jawab Jiyong. “Kau cemburu, chagi?”

“Kau tahu aku tidak akan cemburu, oppa,” jawab Joohyun sambil tertawa. “Setidaknya dia tidak berusaha menggodamu selama dia bekerja. Aku lega karena dia lebih memilih pekerjaannya daripada mengobrol dengan majikannya yang sangat tampan,”

“Dan bagaimana kalau aku yang menggodanya? Dia sangat cantik. Cantik sekali,” ujar Jiyong. Pujian yang ia lontarkan itu terucap begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ia benar-benar memuji Taeyeon dari dalam lubuk hatinya.

“Kau akan menyesal, Kwon Jiyong-ssi. Aku akan segera terbang pulang ke Korea dan mengikat tanganmu kuat-kuat serta menutup mulutmu yang penuh gombalan itu agar kau tidak lari ke mana-mana,” ancam Joohyun, lagi-lagi diselingi tawanya.

“Bagaimana kalau kau mengikatnya di tempat tidurku? Dan aku akan pasrah dengan apa yang kau lakukan padaku, bae. Aku sangat suka kalau perempuan yang lebih aktif dan liar di atas ranjang dan aku tinggal menikmati permainannya,” goda Jiyong dengan suaranya yang hampir seperti bisikan.

“Mungkin aku akan mengikatmu di kamar mandi, oppa. Aku akan mencuci otakmu sampai benar-benar bersih,” canda Joohyun.

Jiyong tertawa mendengar jawaban tidak terduga dari Joohyun. Biasanya, jika ia menggoda masalah sex dengan wanita-wanita lainnya, wanita itu pasti akan langsung membalasnya dengan godaan yang lebih mematikan lagi, yang membuat mereka akan berakhir di atas tempat tidur, atau bahkan mungkin di atas sofa.

Beda dengan Joohyun. Bae Joohyun adalah satu-satunya kekasih yang dimiliki Jiyong yang sama sekali tidak pernah ia sentuh secara intim. Hanya sebatas ciuman dan pelukan. Karena Jiyong tahu, Joohyun adalah gadis yang baik hati dan murni. Seperti sebuh berlian yang terlalu indah untuk disentuh.

Itu sebabnya, Jiyong memutuskan untuk melabuhkan hatinya terakhir kali pada Joohyun. Meskipun, ia masih juga bermain-main dengan para wanitanya. Entahlah, Jiyong tidak tahu ada hal apa yang mengganjal perasaannya, yang menyebabkan dirinya masih ragu untuk melangkah lebih serius lagi.

Mon cher, I miss you so much. Kapan kau kembali ke Korea?” tanya Jiyong serius.

“Mianhae, oppa. Nado bogoshipposeoyo. Tapi aku belum menyelesaikan studiku. Aku janji, aku akan cepat pulang setelah semua kegiatan di Paris ini selesai. Aku juga merindukan Korea,” jawab Joohyun. Terdengar nada sedih dalam suara merdunya.

“Kalau begitu, cepat selesaikan dan segera kembali ke sini,” ucap Jiyong.

Joohyun tertawa. “Aku akan mengusahakannya. Nah, oppa. Hari ini tidur saja di kondomu, tidak usah berkeliaran ke mana-mana, apalagi bekerja. Kau sering sakit karena terlalu sibuk bekerja. Sebentar lagi aku masuk kelas. Sampai nanti mengobrolnya, oppa,”

Take care, honey. I love you,” tutup Jiyong.

Joohyun membalasnya dan ia langsung memutuskan sambungan teleponnya pada Jiyong. Laki-laki itu menghela nafas panjang lalu sebuah chat dari Joohyun masuk dan Jiyong langsung membukanya. Gadisnya itu memberikan ia sebuah foto dengan hashtag ‘#metoday’.

Gadis yang sangat cantik. Gadis yang sangat ia rindukan saat ini. Gadis yang ia harap ada di setiap saat ia membutuhkannya. Gadis yang ia harap mampu membuat hatinya menghangat dengan segala perhatiannya, yang mampu membuatnya akhirnya memahami bagaimana rasanya disayangi dan diperhatikan sedemikian rupa. Gadis yang ia harap mampu mengobati psikisnya.

Dan hal yang ia inginkan serta dapatkan tersebut bukan dari kekasihnya sendiri. Melainkan dari orang lain, gadis lain. Gadis yang tertutup dan malah menolak semua yang ada pada diri laki-laki itu. Gadis innocent dengan segala keindahan dan kecantikannya luar dalam.

Gadis yang sempurna di balik ketidaksempurnaannya. Kim Taeyeon.

Bagaimana mungkin ia tidak jatuh hati pada gadis seperti itu? Bagaimana mungkin sahabat-sahabatnya melarang keras ia mendekati gadis itu sedangkan seorang Kim Taeyeon mampu menarik Jiyong lebih kuat dengan tubuhnya yang mungil tapi memiliki pesona yang sangat besar.

Kim Taeyeon, gadis rupawan yang sudah memberikan apa yang Jiyong butuhkan dari dulu, yang perlahan-lahan mengobati sakit psikis yang dideritanya sejak kecil.

Ah, ia lupa. Gadis itu belum memberikan hatinya. Dan tidak akan pernah memberikannya. Benar kata Youngbae,Tiffany dan Jieun, laki-laki itu tidak pantas mendampingi perempuan semurni dan serapuh Taeyeon. Karena ia hanya akan membuat gadis itu semakin rapuh hingga hancur berkeping-keping.

~~~

“Jadi, apa menurutmu hadiah yang pantas untuk kuberikan? Kalung? Cincin? Diamonds? Mobil?” tanya Jiyong dengan raut wajah bingung. Ia kelihatan frustrasi dan hampir mendekati stress karena memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan untuk Taeyeon.

Youngbae, yang sebenarnya juga sangat sibuk dikarenakan album musik yang ia produseri harus segera rampung, merasa tak tega dengan kefrustrasian sahabatnya itu. Ia tidak pernah melihat Jiyong kebingungan seperti ini hanya karena soal hadiah yang akan ia berikan untuk seseorang.

Dan Youngbae juga tidak pernah melihat Jiyong mau repot-repot memberikan hadiah pada seorang gadis. Ia akan memberikan mereka uang dengan total yang sangat ‘wah’ tanpa perlu pusing membelikan mereka ini itu. Hadiah yang dia berikan untuk seorang perempuan hanyalah hadiah untuk Dami dan ibunya sendiri. Itu juga sebuah tas bermerk dan beragam perhiasan.

“Kurasa kau tidak perlu memberikan Taeyeon barang-barang seperti itu,” saran Youngbae. Ia menatap Jiyong, yang balas menatapnya dengan pandangan heran. Wajahnya kini makin kusut, membuat Youngbae ingin tertawa. Sahabat yang ada di hadapannya ini benar-benar berubah.

“Jadi apa? Kurasa barang-barang itulah yang akan wanita sukai,” sahut Jiyong.

“Kecuali Taeyeon,” tambah Youngbae. “Dia lebih suka barang-barang yang berguna dan banyak manfaatnya ketika dia memakai barang itu. Seperti barang sehari-hari dan tidak terlalu mewah. Taeyeon lebih senang memakai barang sederhana walaupun sebenarnya apa yang dia pakai selalu tampak mengagumkan,”

“Dan apakah sekarang kau memiliki perasaan khusus untuknya? Jangan sampai aku mengadukan hal ini pada Hyorin dan membuatnya mengasah pedang untuk menggorok lehermu,” ancam Jiyong. Wajahnya berubah kesal. Dan Youngbae tidak tahan untuk tidak tertawa.

“Kenapa kau tidak memberikannya saja satu set peralatan memasak?” tanya Youngbae. “Aku lupa dia sudah punya itu di apartemennya,”

“Kau memberikan dia apartemen mewah si Sangtji Ritzville,” tuduh Jiyong. “Hadiah yang cukup mewah untuk diberikan pada seorang Kim Taeyeon,”

“Aku memberikannya pada Taeyeon atas usul Hyorin juga,” sanggah Youngbae cepat, sebelum Jiyong menuduhnya kembali yang tidak-tidak. “Tempat tinggalnya yang sebelumnya di Jeonju dan aku memberikan apartemen itu sebagai gajinya selama dua tahun. Meskipun tidak kupungkiri juga aku sering memberikannya uang tambahan setiap bulan,”

“Kalau aku memberikannya mobil sport dan mengatakan itu sebagai tip, dia akan menerimanya, ‘kan?” tanya Jiyong.

Youngbae tergelak hingga perutnya terasa keram. “Mungkin hanya kau di dunia ini yang memberikan tip tak masuk akal itu,”

“Lalu apa?” tanya Jiyong kembali frustrasi.

“Kenapa kau tidak memberikannya sweater bulu berwarna milik PMO saja? Bukankah sweater itu limited edition dan yang memilikinya hanya kau, Dami noona, dan eomma Kwon? Taeyeon pasti membutuhkan sweater itu. Apalagi sekarang hujan turun lumayan sering di daerah Seoul, ‘kan?” usul Youngbae.

“Sweater itu sudah banyak yang beli dan habis terjual di London,” jawab Jiyong lesu. Namun, sedetik kemudian, wajahnya langsung menyiratkan kebahagiaan yang tiada tara. “Arraseo! Aku akan memberikannya jaket putih kesayanganku yang kubeli di Paris, yang pernah aku tunjukkan padamu. Satu-satunya jaket keluaran terbaru yang dipajang di Paris Fashion Week,”

“Oh, aku ingat. Ne, kau sangat menyukainya dan bukankah kau berencana untuk memberikannya pada Joohyun saat ia kembali dari Paris nanti?” tanya Youngbae.

“Dia sudah memilikinya,” jawab Jiyong. “Mungkin,”

“Yah, tidak ada salahnya kau memberikan jaket itu untuk Taeyeon, Yongie-ah. Mungkin itu bisa jadi hadiah terindah yang kau berikan pada Taeyeon sebelum ia berhenti bekerja setelah Joohyun kembali ke sini,” ujar Youngbae sambil tersenyum hangat.

“Apa maksudmu dia akan berhenti bekerja setelah Joohyun pulang?” tanya Jiyong tak mengerti.

“Kau tidak bisa selamanya menempatkan Taeyeon di kondomu jika Joohyun ada. Joohyun bisa melakukan semuanya, mendengar dari ceritamu. Dia juga bisa merawatmu dan melakukan apa yang Taeyeon lakukan selama ia bekerja di kondomu. Jadi, buat apa Taeyeon bertahan di sana?” jelas Youngbae.

Jiyong terdiam. Memang benar apa kata Youngbae. Dia tidak akan membutuhkan Taeyeon lagi jika Joohyun kembali ke Korea. Dia tidak akan butuh perhatian dan semua hal-hal yang biasa Taeyeon lakukan padanya karena Joohyun juga bisa melakukannya. Ditambah lagi dengan status Jiyong dan Joohyun. Tentunya Taeyeon benar-benar tidak akan dibutuhkan lagi, ‘kan?

Tapi kenapa hatinya menolak itu semua? Kenapa sebagian dirinya ingin tetap mempertahankan Taeyeon? Kenapa sebagian dirinya begitu egois tidak mau melepaskan Taeyeon?

Dan Youngbae paham itu, dilihat dari rahang Jiyong yang mengeras, yang membuktikan bahwa laki-laki itu tak suka dengan pemikiran tersebut.

“Kalaupun kau tetap mempertahankannya, Taeyeon pasti merasa sangat tidak nyaman. Posisinya pasti sangat sulit jika Joohyun yang berstatus kekasihmu sudah ada di sana. Dan lagi, perasaan Joohyun bagaimana? Sudahkah kau memikirkannya? Meskipun kau bilang dia bukan tipe pencemburu, hati perempuan mana yang tidak sakit saat melihat kau begitu nyaman dengan perempuan lain selain dia?”

Bertubi-tubi pertanyaan yang Youngbae ajukan tapi tidak satupun yang bisa Jiyong jawab. Bukan tidak bisa, ia tidak ingin menjawabnya. Untuk saat ini, ia belum mau menjwab apa-apa.

“Aku akan menghubungimu lagi nanti, Youngbae-ah. Bye,” pamit Jiyong. Ia bangkit dari sofa kantor Youngbae setelah sahabatnya itu hanya mengangguk lalu pergi dari sana dan berniat menuju kondonya.

Dia butuh mendinginkan kepalanya dan begitu ia sampai di dalam kondonya, Jiyong langsung mendudukkan tubuhnya di sofa sambil mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Asap rokok itu mengepul keluar dari mulutnya.

Sembari terus merokok, Jiyong sibuk berfikir. Apa yang dikatakan Youngbae benar. Lagipula, memang awalnya ia memiliki housekeeper karena tidak ada yang membersihkan kondonya dan akan melepas housekeeper-nya begitu Joohyun kembali ke Korea.

Youngbae benar. Taeyeon tidak akan merasa nyaman karena tidak enak dengan adanya Joohyun nantinya. Sedangkan Joohyun, pastinya akan merasa cemburu saat melihat Taeyeon dan mengetahui bahwa Jiyong menyukainya. Suasana akan canggung dan jalan terbaik bagi ketiganya adalah dengan melepaskan Taeyeon.

Hal yang sangat mudah. Lagipula Taeyeon pasti juga akan merasa senang keluar dari kondonya, karena Jiyonglah yang memaksa Taeyeon melalui Youngbae agar ia bekerja dengannya. Apa yang sulit dilakukan?

Kecuali jika laki-laki itu tidak memiliki perasaan apa-apa pada housekeeper-nya. Dan Jiyong sudah terlanjur jatuh ke dalam permainannya sendiri. Ia yang awalnya ingin membuat Taeyeon menyukainya dengan cara menggoda dan mendekatinya, justru sebaliknya.

Ia sudah terbiasa dengan adanya Taeyeon. Ia sudah jatuh hati pada gadis itu. Jika suatu hari nanti ia memang harus melepaskan Taeyeon, ia ragu apakah Joohyun mampu menggantikan kehangatan yang sudah Taeyeon berikan untuknya walau hanya satu bulan lebih. Jiyong ragu apakah Joohyun bisa menjadi seperti Taeyeon, dan bukannya hanya sekedar menggantikan posisinya saja.

Ia meragukannya, meragukan semuanya. Kenapa baru sekarang ia merasa ragu? Kenapa semuanya datang terlambat?

Ctek.

Jiyong membelalakkan kedua hazelnya saat sebuah gunting berada tepat di hadapannya dan menggunting batang rokoknya terbelah menjadi dua. Ujung rokok yang terbelah itu jatuh begitu saja di atas karpet lalu sepasang kaki yang indah dan begitu mulus menginjaknya, menghentikan nyala api yang ada di ujung rokok tersebut.

Semerbak wangi vanilla yang dicampur dengan lavender menyerbu hidung laki-laki itu, membuat hazelnya semakin membulat tak percaya.

“Taeyeon-ah?” panggil Jiyong, yang lebih kepada berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lihat sekarang ini, di hadapannya adalah gadis yang memenuhi fikirkannya sepanjang hari ini. Yang membuat perasaannya campur aduk

“Joseonghamnida kalau aku membuatmu kaget, Jiyong-ssi,” sapa Taeyeon sambil tersenyum manis, lalu sedetik kemudian wajahnya yang ramah berubah menjadi garang. “Dan maaf juga karena rokokmu. Bukankah kesehatanmu sekarang sedang buruk? Kenapa merokok? Seorang dokter seharusnya tahu akibat jelek dari kebiasaan merokok. Bahkan, asapnya yang dihirup oleh orang lain yang tidak merokok pun akan kena imbasnya juga. Dan lebih parah dari si perokok aktif,”

“Kenapa kau datang ke sini? Ini masih pukul delapan malam, ‘kan?” tanya Jiyong, yang tidak mendengarkan nasehat Taeyeon saking tidak percayanya gadis itu ada di hadapannya. Ia bangkit berdiri dan menghampiri housekeeper mungilnya.

“Sepertinya kau kaget sekali,” gumam Taeyeon. “Ada yang ingin aku sampaikan,”

“Duduklah,” ajak Jiyong. Tanpa sengaja ia langsung menarik pergelangan tangan kanan gadis itu dan menariknya duduk di sofa, di sampingnya. Sedangkan Taeyeon tidak bisa melakukan apa-apa karena begitu terkejut dengan tindakan Jiyong yang tiba-tiba. “Jadi, apa yang membawamu kemari?”

“Kau ingin aku buatkan teh dulu?” Taeyeon balik bertanya.

“Waeyo?”

“Kelihatannya banyak yang kau fikirkan,” jawab Taeyeon. “Dan kau merokok. Orang yang banyak fikiran dan stress menuangkan semuanya dengan merokok agar fikiran mereka kembali tenang. Tapi cara itu tentu salah. Teh chamomile dapat membantu,”

Jiyong tersenyum manis. Ia begitu bahagia mendengar penuturan gadis yang ada dihadapannya ini. Perutnya bergejolak karena debaran jantungnya yang di luar kendali. Hatinya juga terasa hangat mendapatkan perhatian gadis itu.

“Nanti saja,” jawab Jiyong lembut. Kedua hazelnya berbinar-binar, membuat Taeyeon terpesona. “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan sampai malam-malam begini kau datang ke kondoku?”

“Aku sudah menghubungimu tapi kau tidak menjawab teleponku,” ujar Taeyeon cepat.

“Mian, aku meninggalkan ponselku di kamar. Aku tadi keluar sebentar,” jawab Jiyong. Matanya yang teduh kembali menatap mata Taeyeon dalam. Hal itu membuat Taeyeon terpaksa menundukkan wajahnya agar ia tidak terpesona terlalu jauh pada hazel laki-laki itu.

“Aku… Mau minta cuti selama sepuluh hari,” tutur Taeyeon dengan hati-hati.

Air muka Jiyong langsung berubah. Senyuman manis yang sedari tadi ia pamerkan menghilang sekejap mata. Kedua hazelnya melebar. “Mwo? Wae?”

“Aku… mau pergi ke suatu tempat,” jawab Taeyeon cepat. “Hanya sepuluh hari saja, Jiyong-ssi. Kau bisa memotong gaji sepuluh hariku dan tidak ada tip selama satu bulan ke depan. Jebal,”

“Kau mau pergi ke mana? Dengn namchin-mu? Haa… Jadi selama ini kau punya namchin?” tuntut Jiyong dengan wajah yang jauh dari kata ramah. Hazelnya berkilat tak suka.

“Aku mau pergi ke pemakaman orangtuaku di Jeonju. Besok adalah hari kematian mereka,” jelas Taeyeon. Suaranya berubah lirih dan wajah cantiknya menjadi sendu. Namun, ia buru-buru memasang senyum cerianya. Entah kenapa hal itu justru membuat Jiyong terluka.

Mereka sama-sama terdiam dalam waktu yang lumayan lama, tenggelam dalam pemikiran masing-masing, dengan keadaan yang sama sekali tidak mengenakkan. Taeyeon merasa menyesal mengatakan alasannya pergi. Sebelumnya, bahkan dengan Youngbae, ia tidak pernah mengatakan alasannya untuk cuti. Itu dikarenakan Youngbae tidak pernah melarangnya untuk cuti selama apapun.

Apalagi saat mendengar Jiyong menuduhnya punya pacar. Tentu saja itu tidak benar dan Taeyeon langsung menyanggahnya. Ia melihat raut wajah Jiyong berubah sedih dan tak suka saat menuduh Taeyeon memiliki kekasih, dan hal itu membuat Taeyeon merasa bersalah.

Tunggu. Kenapa harus dia yang merasa bersalah sampai-sampai mengatakan alasan kepergiannya yang bersifat sangat pribadi? Dan apa masalahnya jika suatu hari nanti pun dia akan punya kekasih? Apa peduli laki-laki itu? Pabo Taeyeon.

“Apa aku boleh tahu kenapa mereka bisa meninggalkanmu… selamanya?” tanya Jiyong pelan.

“Kecelakaan mobil,” jawab Taeyeon cepat. “Dan tolong jangan tanya apa-apa lagi, Jiyong-ssi. Biarkan aku menjaga privasiku sendiri,”

“Baiklah,” jawab Jiyong, memilih mengalah. Padahal masih banyak hal yang ingin sekali ia tanyakan pada gadis itu. “Satu pertanyaan. Kapan mereka meninggal?”

“Sejak umurku lima tahun,” lirih Taeyeon.

Jiyong mengangguk. “Aku akan memberikanmu cuti, tentu saja. Tapi hanya seminggu. Terima atau tidak sama sekali,”

“Tapi, Jiyong-ssi…,”

“Tidak ada bantahan apapun. 5 hari,”

“Itu tidak masuk akal! Maksudku…,”

“3 hari, deal,” potong Jiyong langsung. “Aku atasanmu, Taeyeon-ah. Bagaimana bisa kau membantahku? Kau jadi kehilangan 4 hari karena dirimu sendiri. Dan aku tahu mengurusi pemakaman sebenarnya tidak perlu sampai 5 hari, bahkan sepuluh hari. Apa kau ingin jalan-jalan sekalian? Liburan? Kau sudah kuberikan pekerjaan selama kurang lebih 4 jam seharinya, apa bagimu itu kurang? Seharusnya kau bekerja denganku lebih dari 12 jam sebagai housekeeper!”

“Lalu kenapa kau memaksaku untuk menjadi housekeeper-mu jika kau tidak suka dengan cara kerjaku? Aku awalnya adalah housekeeper milik Youngbae oppa!” balas Taeyeon dengan nada suaranya yang sedikit naik. Ia mulai emosi dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini.

“Kau mau tahu alasannya apa?” tanya Jiyong, ia juga menaikkan volume suaranya. “Karena kau berbeda dengan housekeeper yang ku punya sebelum-sebelumnya! Kau lebih rajin dan cekatan dan kau tidak seperti wanita jalang yang hanya menginginkan aku untuk menyentuh mereka lalu melemparkan uang pada mereka!”

“Aku memang tidak seperti itu!” bantah Taeyeon.

“Aku tahu kau tidak seperti itu, itu sebabnya aku menyukaimu!” balas Jiyong cepat.

Mendengar jawaban dari mulut Jiyong, suasana di dalam kondo dan di antara mereka kembali membeku, canggung. Taeyeon terdiam, tak bisa berkata apa-apa saat mendengar kalimat terakhir Jiyong. Kedua mata cokelat tuanya mendelik tak percaya, terbelalak saking terkejutnya. Jantungnya mencelos menyakitkan.

Hal yang paling tidak ia sukai.

Sama halnya dengan Jiyong, laki-laki itu tidak habis fikir dengan apa yang baru saja ia katakan. Ia buru-buru menutup mulutnya dan mengalihkan wajahnya dari Taeyeon, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menyebar di wajahnya.

Fu*k, seorang Kwon Jiyong bertingkah seperti anak remaja tanggung yang baru saja menyatakan perasaannya? Hell no!

“Itu sebabnya aku pasti akan menyukai kinerjamu, dan ternyata benar!” sambung Jiyong, yang berusaha membuat suasana tidak secanggung di awal. Sial! Ingin rasanya Jiyong mengutuk dirinya sendiri. Ia mengumpat di dalam hatinya dengan segala umpatan yang ia ketahui.

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan sekali. “Aku akan membuatkanmu teh,”

“Yeah, silakan,” ujar Jiyong.

Taeyeon mengangguk dan ia segera bangkit dari sofa menuju dapur kondo Jiyong. Sesampainya di dapur, Taeyeon menekan dada kirinya seraya menggigit bibir bawahnya. Nafasnya tercekat.

“Aniya, Taeyeon-ah, aniya. Jangan pernah percaya apa yang ia katakan. Jangan pernah. Jangan pernah terbuai dengan segala omong kosong laki-laki seperti itu. Kau tidak boleh lengah, sedikit saja,” gumam Taeyeon. Ia menundukkan wajahnya. Setitik air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.

Ia menangis karena jantungnya terus-menerus berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya. Dan itu menyakitkan.

Tidak sampai lima belas menit Taeyeon berdiam diri di dapur membuatkan teh chamomile yang sudah menjadi kesukaan Jiyong belakangan ini. Ia meletakkan gelas teh itu di hadapan Jiyong dan laki-laki itu langsung menyesapnya ringan.

“Aku sudah membuatkan tehnya lebih banyak, cukup untuk kau minum selama 3 hari. Menjadi pemilik PMO tentu bukanlah hal yang mudah. Jadi, saat kau lelah dengan semua kepenatannya, kau bisa meminum teh itu. Kau akan rileks dan fikiranmu akan jauh lebih jernih. Lebih baik daripada merokok,” jelas Taeyeon panjang lebar. Ia menatap Jiyong sambil tersenyum hangat.

Jiyong mengangguk dan ia membalas senyuman manis Taeyeon. “Gomawo. Aku memang benar-benar tidak salah, ‘kan memilih housekeeper?”

“Aniya,” jawab Taeyeon sambil tertawa renyah, tawa yang untuk pertama kalinya Jiyong dengar keluar dari bibir kissable milik Taeyeon.

“Kondo ini pasti akan terasa sepi selama tiga hari. Tidak ada wangi-wangian masakanmu, tidak ada cakes buatanmu, tidak ada ocehanmu,” gumam Jiyong sambil memandang Taeyeon dalam-dalam. Untuk kali ini, Taeyeon membalas tatapan mata Jiyong yang tajam tapi tetap memperlihatkan kesedihannya.

“Kau akan menikmatinya selama 24 jam nanti setelah kekasihmu datang dari Paris,” jawab Taeyeon.

“Kau tahu?” tanya Jiyong. “Kau pasti banyak mendengar tentangku. Kau ini apa? Stalker?”

“Hanya itu,” sanggah Taeyeon cepat. Ia menyesal mengatakan hal yang membuat Jiyong pasti besar kepala.

Jiyong tersenyum kecut. Ia meletakkan gelas tehnya dan menatap Taeyeon kembali. “Kau gadis yang tangguh. Sejak kecil hidup mandiri, ditinggal oleh kedua orang yang sangat menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini,”

“Mungkin,” jawab Taeyeon pelan. “Tapi aku juga tidak benar-benar merasa kehilangan kasih sayang…,”

Ucapan Taeyeon terputus begitu saja setelah dia menyadari apa yang akan ia katakan dan apa maksud dari perkataan Jiyong barusan. Ia melirik ke arah laki-laki itu, yang wajahnya tanpa ekspresi tapi hazelnya yang biasa begitu meneduhkan kini tampak redup. Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan hanya menundukkan wajahnya, diam.

“Aku tidak benar-benar kehilangan kasih sayang mereka karena aku begitu mencintai diriku,” lanjut Taeyeon. “Siapa lagi yang akan mencintai kita selain diri kita sendiri? Berjuang tanpa mereka berdua, tanpa kakak laki-laki dan adik perempuanku adalah caraku untuk mencintai siapa diriku, sehingga orang-orang yang ada di sekelilingku juga ikut mencintaiku,”

Taeyeon menatap Jiyong sambil memasang senyuman yang lembut. Jiyong terpana melihat keindahan wajah porselen yang ada di hadapannya itu, terpesona pada senyuman manisnya yang entah kenapa selalu membuat hatinya berdesir kencang.

“PMO itu milikmu, ‘kan? Kau yang pertama kali membangunnya dari nol, dari ia yang tidak ada apa-apanya, dari dia yang dipandang rendah oleh orang-orang terdekatmu, yang dikatakan orang hanya menjual nama ayahmu sebagai seorang CEO, kau membangunnya dengan gigih dan tidak peduli apa kata orang. Kau berjuang agar bisa membuktikan dirimu pada ayahmu bahwa kau bisa menjadi orang hebat dengan menjalani apa yang kau sukai dan tidak terjebak dalam obsesi ayahmu.

“Bukankah itu artinya kau juga sangat mencintai dirimu sendiri? Sekarang PMO sudah sukses besar, sudah buka di mana-mana dan memiliki keuntungan yang berlipat-lipat ganda. Ayahmu juga akhirnya melepasmu, ‘kan? Aku tidak tahu apakah kau sadar atau tidak tapi karena perjuanganmu itulah banyak sekali orang-orang yang sangat mencintaimu yang ada di sekelilingmu, termasuk ayah dan ibumu. Mereka percaya padamu karena mereka mencintaimu. Orang-orang yang selalu mendukungmu dan tidak peduli kau ini siapa adalah orang yang mencintaimu.

“Mungkin kau tidak menyadarinya karena kau sudah menutup rapat pintu hatimu tanpa kau sadari. Kau menutup rapat pintu hatimu karena ambisimu yang sangat besar. Tapi cobalah untuk membuka lebar-lebar kedua matamu dan kau akan melihat betapa hanyak orang yang mencintai dan memberimu perhatian layaknya seorang saudara,”

Taeyeon tersenyum semakin lebar ketika ia menyelesaikan kata-katanya, yang membuat hati Jiyong tertohok. Perkataan Taeyeon benar-benar membuatnya ingin meneteskan air matanya. Ia merasa ingin memeluk gadis itu dan menangis sambil mengucapkan terima kasih. Karena ia sekarang sadar, apa yang dikatakan gadis itu benar. Semuanya benar.

Sebenarnya kata-kata seperti itu sudah sering ia dengar. Dari Dami, sahabat-sahabat dekatnya. Tapi ia menutup telinga rapat-rapat dan tidak mau mendengar. Hatinya sudah terlanjur keras karena amarahnya yang ia pendam tumbuh perlahan-lahan dalam dirinya. Dan ketika ia mendengarnya Taeyeon, ia meresapi semua perkataannya dan hal itu membuat hati serta jiwanya melemb.

Entah sihir apa yang dipakai gadis itu sehingga Jiyong mendengar setiap kata-kata yang mengalun indah dari bibirnya. Taeyeon mengatakan semua itu dengan penuh kejujuran dan menggunakan hati ke hati. Bagi Jiyong, Taeyeon selalu membawa aura positif untuknya, hingga ia merasa nyaman dengan gadis itu.

Sedangkan Taeyeon sendiri, ia sengaja mengatakan hal seperti itu karena ia ingin mengubah cara pandang Jiyong. Ia ingin−setidaknya−memulihkan keadaan psikis laki-laki tersebut. Ia ingin Jiyong tahu kalau banyak sekali yang sebenarnya memberikan perhatian besar untuknya dan bukan hanya dirinya seorang. Jika suatu hari nanti Taeyeon pergi, setidaknya Jiyong tidak akan tergantung pada dirinya

“Apa kau sekarang menyadarinya?” tanya Taeyeon.

Jiyong mengangguk dengan wajah tertunduk. Beberapa detik kemudian, ia mengangkat wajahnya dan Taeyeon dapat melihat kedua hazel Jiyong sedikit berkaca-kaca.

“Sudah banyak yang berkata seperti itu. Aku sudah lama menyadarinya… seharusnya. Tapi kepala dan hatiku sama-sama keras. Dan baru kali ini, hanya denganmu aku mendengarkan dan memahaminya,” jawab Jiyong.

Taeyeon mengangguk dan ia tersenyum lagi. “Gwaenchanna,”

“Boleh aku memelukmu?”

Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jiyong barusan seperti ledakan bom di siang hari untuk Taeyeon. Kedua bola matanya melebar terkejut dan bibirnya sedikit terbuka, bingung ingin menjawab apa. Logikanya ingin sekali mengatakan ‘tidak’. Namun, melihat pancaran harapan tinggi dari hazel di hadapannya membuat Taeyeon terpaksa mengangguk singkat.

Anggukan singkat tapi Jiyong dapat melihatnya. Tak butuh waktu lama, laki-laki itu segera mendekat lalu merengkuh tubuh mungil Taeyeon dan membawanya ke dalam dekapannya. Jiyong meletakkan dagunya di pundak kiri Taeyeon, menghirup aroma khas gadis itu dan membuat pelukannya semakin mengerat.

Perasaan Jiyong yang tadinya tengah berguncang karena perkataan Taeyeon beberapa menit yang lalu kembali tenang, damai ketika ia mendekap hangat tubuh gadis tersebut. Jiyong menutup kedua matanya sambil membelai lembut surai panjang Taeyeon. Ia merasa sangat nyaman. Seperti saat ia tertidur dalam pangkuannya.

Sedangkan Taeyeon, yang awalnya hanya berdiam diri dan tidak membalas pelukan laki-laki itu, akhirnya memilih untuk menepuk-nepuk pelan punggung Jiyong, seperti yang biasa ia lakukan ketika seseorang merasa sangat sedih dan butuh ditenangkan. Ia menepuk-nepuk punggung laki-laki itu sampai Jiyong merasa harus melepas pelukannya sebelum fikirannya menjalar ke mana-mana.

“Hal yang selama ini selalu kusembunyikan ternyata bisa kau ketahui juga, eoh?” tanya Jiyong diiringi tawa kecilnya. “Tapi tidak apa-apa, mungkin semua itu terjadi agar kau dapat menyadarkanku,”

Taeyeon mengangguk. Ia melirik jam tangannya dan agak terkejut karena sekarang sudah pukul sembilan malam. “Aku harus segera pulang,”

“Aku akan mengantarmu,” tawar Jiyong.

“Tidak perlu,” tolak Taeyeon tegas. “Aku sangat senang sekali menghirup udara malam,”

“Kalau begitu, hati-hatilah,” ujar Jiyong pelan.

Taeyeon mengangguk lagi dan ia membungkukkan tubuhnya, pamit pada tuan rumah. Lalu, ia berbalik dan segera keluar dari dalam kondo mewah Jiyong.

“Aku pasti akan merindukanmu,” gumam Jiyong. Tatapannya masih jatuh pada pintu kondo yang tertutup di belakang Taeyeon. Ia tersenyum hambar.

Lagi-lagi gadis itu menolaknya. Jiyong menduga hubungan mereka kini sudah bisa dibilang ‘dekat’ karena Taeyeon yang menyadari kelemahannya dan berusaha untuk membantunya hingga menyadarkannya seperti sekarang. Mereka juga sudah satu bulan lebih saling mengenal. Lalu, kenapa gadis itu tetap menjaga jaraknya dan membatasi hubungan mereka?

Senyuman Jiyong berubah sendu. Ia bangkit dari sofanya dan melangkahkan kakinya menuju jendela. Disibaknya gorden jendela tersebut lalu pemandangan malam kota Seoul yang begitu indahnya terpampang jelas di hadapan kedua netra matanya. Ia menatap ke bawah, dan tepat saat itu ia melihat siluet gadis berperawakan mungil baru saja keluar dari gedung Galleria Forêt. Langkah kakinya melangkah ringan seperti tak ada beban menuju ke halte.

Kim Taeyeon hanya menganggapnya sebagai partner kerja, tidak lebih. Gadis itu mau dekat dengannya hanya karena ingin membantunya, tidak lebih. Setelah itu, ia akan pergi karena Jiyong sudah merasa baikan dan tidak akan merasa kesepian lagi.

Tapi pemikiran seperti itu tentu saja salah besar. Meskipun Jiyong memang sudah menyadarinya dan berniat membuka hati serta dirinya pada sahabat-sahabat dekatnya, laki-laki itu tidak akan membiarkan Taeyeon pergi. Ia tidak akan melepaskan gadis itu. Ia tetap akan mempertahankannya.

Ia memang tidak ingin egois, tapi untuk kali ini, ia ingin memenangkan keegoisannya. Untuk kali ini, ia ingin berseberangan dengan sahabat kecilnya, Youngbae. Untuk kali ini ia ingin terjebak sendiri dalam permainan yang awalnya ia gunakan untuk menjerat Taeyeon.

Jiyong memang sudah terbiasa dengan yang namanya cinta. Ia sudah beberapa kali jatuh cinta. Namun, yang membuat berbeda adalah ini kali pertama ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seseorang yang membawa pengaruh begitu besar padanya. Pandangan pertama mereka juga takkan pernah Jiyong lupakan.

Ya, Kim Taeyeon belum mengetahuinya. Dari awal ia sudah berdampak besar untuk seorang Kwon Jiyong.

~~~

Sudah tiga hari berturut-turut Jiyong tidak pulang ke kondonya. Ia pulang hanya sekedar ganti pakaian dan setelah itu kembali keluar. Tujuannya pun berbeda-beda. Kadang ke kantor PMO, kondo Youngbae, Seunghyun, Seungri, ataupun Soohyuk. Dan terkadang ia ikut terjaga saat tengah malam bersama Youngbae di studio musiknya. Ia lakukan itu karena tidak ingin menyadari kondonya sedang sepi.

“Taeyeon akan kembali besok pagi, jadi pulanglah,” sungut Youngbae. Ia sedikit frustrasi diganggu oleh sahabatnya saat ia sedang sibuk bekerja. Apalagi alasannya hanya karena masalah sepele.

“3 hari saja aku sudah sangat merindukannya, bagaimana kalau aku membiarkannya pergi nanti? Kau mengerti maksudku?” tanya Jiyong pada Youngbae sambil memainkan pulpen yang sedang ia genggam.

“Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan denganmu, Yongie-ah. Katakan saja apa maksudmu,” jawab Youngbae. Ia bohong, tentu saja. Ia mengerti sekali maksud sahabatnya itu. Hanya saja ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Jiyong.

“3 hari tidak ada Kim Taeyeon dan selama itu pulalah aku sering menelepon Joohyun selama kurang lebih 24 jam. Tapi kenapa aku masih merasa ada yang kurang? Aku sadar aku merasakan rindu pada gadis itu, bukan pada segala bentuk perhatiannya. Kau paham sekarang, Bae? Aku menyukainya. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu, Hyorin noona, Tiffany dan yang lainnya,” jelas Jiyong.

“Dengar, Yongie-ah. Perasaanmu itu tidak akan bertahan lama, yakinlah padaku. Perasaanmu padanya hanya karena ia selalu memberikan apa yang kau butuhkan selama ini. Bisa dikatakan perasaanmu itu hanya sekedar obsesi. Karena sampai sekarang kau belum berhasil memikatnya, justru kaulah yang terpikat. Kau hanya memiliki obsesi itu dari awal.

“Kau orang yang sangat suka dengan mildang. Kau menyukai gadis seperti Taeyeon karena dia membuatmu tertantang. Tapi kali ini, bisakah kau berhenti? Kau sudah memiliki Joohyun dan aku tahu kau tahu Taeyeon tidak akan membalas perasaanmu,” sanggah Youngbae. “Kalau kau menyukai Taeyeon, bisakah kau memikirkan Joohyun?”

“Kalau aku melepas Joohyun, bagaimana menurutmu?” tanya Jiyong lirih.

Youngbae terdiam. Ia menghela nafas kasar. “Itu terserahmu. Aku tahu kalau kau brengsek tapi aku tidak habis fikir kalau kau akan memperlakukan Joohyun seperti wanitamu yang lainnya, sedangkan yang aku tahu, Joohyun itu juga memiliki sifat yang persis dengan Taeyeon,”

“Mirip, tapi sensasinya berbeda. Aku merasa tertarik begitu kuat jika bersama Taeyeon,”

“Mungkin kau belum berubah, Yongie-ah,” tutur Youngbae. “Seperti sebelum-sebelumnya, kau hanya bosan, tidak merasa cocok, dan sebagainya,”

“Kalau memang benar begitu,” sela Jiyong. “Aku hanya akan tinggal mengakhiri hubunganku dengan Joohyun. Setidaknya dimulai dari sekarang. Lalu, aku akan mencobanya dengan Taeyeon…,”

“Sudah kukatakan beribu kali padamu dia tidak seperti yang kau bayangkan, Kwon Jiyong,” potong Youngbae dengan penuh penekanan. “Dengar, aku tidak peduli hubunganmu dengan Joohyun bagaimana ke depannya. Kau bosan dan merasa tidak cocok lagi, kau bisa melepasnya dan mencoba dengan yang lain, tidak dengan Kim Taeyeon,”

“Ada apa dengan dia? Baik kau dan Tiffany tidak ada yang mau memberitahuku. Kalau aku tahu, mungkin saja aku bisa menutupi lukanya, ‘kan? Mengobati rasa traumanya,”

“Aniya, jika kau masih sulit mempertahankan Joohyun saja, aku tidak yakin dengan kata-katamu,” tolak Youngbae. “Jangan buang-buang waktu untuk mengejar Taeyeon, Yongie-ah. Fikirkanlah dulu matang-matang sebelum kau bertindak bodoh melepas seseorang seperti Joohyun. Kau sendiri yang bilang dia adalah perempuan yang berbeda dari yang kau kencani selama ini,”

“Sebelum bertemu dengan Kim Taeyeon, Youngbae-ah,” sambung Jiyong.

“Kau hanya tidak tahu apa-apa tentang Taeyeon, Jiyong-ah,” ucap Youngbae. Ia memberi tanda untuk tidak ingin melanjutkan lagi perdebatan mereka.

“Arraseo, aku akan tidur di sini, dan ketika besok pagi dia sudah ada di kondoku, aku akan mengorek semua hal tentang Kim Taeyeon,” ucap Jiyong. Ia bangkit dari sofa ruang kantor Youngbae dan keluar dari ruangan itu menuju kamar sahabatnya.

Youngbae menghela nafas panjang, lelah. Ia memijit belakang lehernya sambil memejamkan kedua matanya. “Mianhae, Taeyeon-ah,”

~~~

“Kau kembali agak lama hari ini,” sapa Taeyeon saat Jiyong baru saja masuk ke dalam kondonya dengan tampang yang kurang mengenakkan.

“Pekerjaan,” jawab Jiyong asal. Padahal ia sedang dalam mood yang tidak enak karena Youngbae kembali mengingatkannya untuk tidak mengganggu Taeyeon. Karena ia tidak tahu apa-apa mengenai gadis itu.

Taeyeon hanya mengangguk paham. Ia mengerti kenapa wajah Jiyong kusut begitu. Mungkin pekerjaannya di PMO sedang menumpuk atau sedang mengalami masalah internal.

“Kau tidak pulang selama tiga hari ini?” tanya Taeyeon tiba-tiba ketika Jiyong mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas sofanya.

“Dari mana kau mengetahuinya?” Jiyong balik bertanya.

“Kau tidak membuka gorden jendela kamarmu. Sesibuk apapun kau pasti selalu membukanya setiap pagi,” jawab Taeyeon. “Tapi mungkin kali ini kau merubah kebiasaanmu,”

“Aniya, aku memang tidak pulang,” sanggah Jiyong.

“Ah, begitu,” ujar Taeyeon. “Oh, ya aku ingin pulang lebih awal hari ini. Mungkin sekitar pukul 10?”

“Wae?” tanya Jiyong dengan kedua alisnya yang menukik tajam.

“Aku punya urusan yang tidak perlu kau ketahui, ‘kan?” Taeyeon balik bertanya.

“Selama ini kau hanya bekerja kurang lebih dari 4 jam dari yang seharusnya kau lakukan sebagai seorang housekeeper. Dan sekarang kau minta pulang lebih awal?”

“Kalau kau merasa keberatan dengan cara kerjaku, kenapa tidak memecatku saja?” balas Taeyeon. Ia tidak suka jika kehidupan pribadinya dan cara bekerjanya diprotes oleh orang lain. Itu sebabnya ia selalu gagal jika bekerja selain sebagai seorang housekeeper. Karena hanya pekerjaan itulah yang membuat waktunya menjadi fleksibel.

“Aku hanya ingin tahu ke mana selama ini kau pergi, Kim Taeyeon. Apa kau punya pekerjaan lain lagi? Jika iya, kenapa tidak bekerja full day denganku dan aku akan membayarmu berapapun yang kau minta,” ujar Jiyong.

“Kau hanya tidak tahu apa-apa, Jiyong-ssi,” jawab Taeyeon pelan. Ia merasa cukup lelah hari ini jika berdebat. “Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ataupun uang,”

Taeyeon berbalik menuju dapur dan entah apa yang ia lakukan di sana. Jiyong mengacak rambut hitamnya, kesal. Bahkan gadis itu juga mengatakan hal yang sama. Well, ia memang tidak tahu apa-apa tentang gadis itu. Hanya keluarganya yang sudah tidak ada dan masa lalunya yang kelam bersama seorang pria brengsek sepertinya.

Ia menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya di atas sofa. Ia memejamkan kedua matanya, berusaha menormalkan kembali mood-nya yang sudah terbang jauh darinya semenjak pergi dari kondo Youngbae. Ditambah lagi dengan gadis itu yang ingin pulang cepat secara mendadak. Padahal ia masih merindukannya.

Ia merindukannya. Dan mereka baru tiga hari tidak bertemu.

Jiyong membuka kedua netranya saat hidungnya menangkap wangi yang sudah sangat tidak asing di hidupnya. Wangi tubuh Taeyeon.

Ia bangkit untuk duduk saat Taeyeon tengah mengangkat secangkir gelas yang berisikan teh chamomile. Gerakan bangkit Jiyong yang tiba-tiba membuat Taeyeon tersentak kecil. Jiyong memperhatikan gadis itu sudah melepas apronnya.

“Kau sudah bangun ternyata. Aku baru saja mau mengambil kembali tehmu. Kalau kau masih mau meminumnya, tidak apa. Tapi sudah dingin,” ujar Taeyeon pada Jiyong. Gadis itu cepat sekali mengembalikan mood-nya yang Jiyong yakin tadi sempat tidak baik karena berdebat kecil dengan laki-laki itu.

“Aku tertidur?” tanya Jiyong. Sedikit terkejut karena ia bahkan tidak menyadari dirinya sendiri terlelap.

“Kau tidak tahu?” Taeyeon balik bertanya.

Jiyong hanya menggelengkan kepalanya. “Letakkan saja tehnya kembali,”

Taeyeon meletakkan kembali tehnya di atas meja dan ia kembali menatap Jiyong. “Baiklah, aku pulang,”

“Chakkaman,” panggil Jiyong, membuat Taeyeon membatalkan niatnya untuk melangkah keluar pintu kondo. “Aku mau memberikan sesuatu untukmu,”

Jiyong bangkit berdiri dari atas sofa dan bergegas menuju kamarnya. Taeyeon hanya terdiam di tempat sambil menatap arloji di tangan kirinya. Pukul 10 lewat. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung.

Beberapa saat kemudian, Jiyong sudah keluar dari dalam kamarnya, membawa sebuah jaket denim dengan topi berbulu. Cantik sekali. Dan itu jelas jaket untuk wanita.

Jiyong mendekati Taeyeon hingga tepat berada di hadapan gadis mungil itu, yang sekarang merasa tercengang dengan tindakan Jiyong. Ya, ia memakaikan jaket putih tersebut pada tubuh Taeyeon dari depan. Jaket itu terasa pas di tubuh kecilnya, dan membuat gadis itu entah kenapa tampak semakin cantik di kedua mata Jiyong.

“Kau akan membutuhkan ini karena sekarang cuaca di kota Seoul sedang tidak menentu. Kecuali kau kau mau kuantar ke manapun kau mau,” ujar Jiyong.

“N…ne? Gamsahamnida,” lirih Taeyeon dengan sedikit terbata-bata. Ia canggung dan salah tingkah berdiri begitu dekat dengan laki-laki itu. Kakinya melangkah mundur beberapa langkah. “Aku akan mengembalikannya secepat mungkin,”

“Ini untukmu,” sela Jiyong cepat. “Sudah kubilang kau akan memerlukannya. Jadi, terima atau aku bersikeras akan mengantarmu setiap hari setelah kau selesai bekerja,”

“Ini… tidak pantas untukku. Lagipula dalam rangka apa kau memberikannya?” tanya Taeyeon.

“Apa Youngbae memberikan apartemen mewah untukmu dalam rangka sesuatu?”

“Itu gajiku selama dua tahun,”

“Dan dia tetap memberikanmu uang setiap bulan di rekeningmu. Kurasa kau tahu hal itu meskipun dia bilang itu adalah uang tambahan, setidaknya itu adalah uang yang setengahnya adalah gajimu,” kilah Jiyong cepat. Ia tidak ingin ditolak saat ini. Hatinya terasa nyeri saat Taeyeon melepas jaket itu dan menyerahkannya lagi pada Jiyong.

“Itu dari Hyorin eonni,” jawab Taeyeon dengan suara pelan.

“Jangan mencari alasan, Kim Taeyeon,” potong Jiyong. “Kau bahkan makan siang bersama Youngbae beberapa waktu yang lalu, setelah selesai bekerja dengannya. Wae? Kau tidak mau pergi bersamaku, wae? Apa yang membedakanku dengan Dong Youngbae? Kau berteman dekat dengannya kenapa kau tidak bisa berteman dekat denganku juga? Apa karena aku ini laki-laki brengsek yang suka mempermainkan perasaan perempuan, yang tidak pernah serius dengan mereka, yang tahunya hanya bermain, seperti itu? Karena aku ini seperti seseorang yang dulu pernah kau cintai? Yang pernah mengecewakanmu?”

“Hentikanlah,” pinta Taeyeon dengan wajah serta suara yang memelas. Mengingat orang yang pernah menyakitinya dulu, yang pernah dia cintai sepenuh hati membuatnya teringat akan sesuatu. Dia harus pergi. “Aku harus pergi. Aku sudah hampir terlambat,”

“Semua orang melarangku mendekatimu. Memangnya ada apa denganmu sampai-sampai aku dilarang untuk dekat denganmu? Bahkan hanya sekedar berteman denganmu? Aku mungkin memang brengsek, tapi aku tidak akan menyakiti seseorang yang kusukai, Kim Taeyeon. Jika memang kau pernah mengalami kekecewaan besar, aku akan tunjukkan padamu bahwa aku tidak sebrengsek yang kau fikirkan,” lanjut Jiyong.

“Aku tidak ingin membahas ini! Aku hanya ingin pergi, Kwon Jiyong,”

“Kau tidak boleh pergi sebelum kau memberiku alasan kenapa kau selalu menolakku,” tolak Jiyong dengan tegas. Ia menggenggam pergelangan tangan Taeyeon dengan kuat saat gadis itu hendak pergi. “Aku menyukaimu, bahkan saat pertama kali kita bertemu aku sudah begitu tertarik padamu. Semakin kau menunjukkan dirimu, aku semakin menyukaimu. Aku menyukai semua sifatmu, sikapmu. Aku menyukaimu hingga aku frustrasi dengan semua orang yang melarangku untuk menyukaimu!”

“Kau tidak akan pernah bisa menyukaiku, Jiyong-ssi. Tidak akan,” isak Taeyeon. Ia menangis ketika mendengar pernyataan tak terduga laki-laki itu. Ia tidak ingin mendengarkannya, ia berharap Jiyong tertawa setelah itu dan mengatakan semuanya hanyalah lelucon semata.

Ia tidak ingin berharap kembali.

“Kenapa aku tidak akan pernah bisa menyukaimu? Memangnya ada apa dengan dirimu? Katakan padaku, Taeyeon-ah! Apa ada hal lain yang kau sembunyikan selain dirimu yang pernah kecewa? Mwondae? Ketika aku mengatakan aku menyukaimu, aku benar-benar serius mengatakannya. Kau berbeda dan aku menyukaimu pada pertemuan pertama kita, dan aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya,”

“Berhentilah berkata seperti itu karena kau tidak akan pernah menyukaiku. Kau hanya tidak tahu apa yang kau katakan, Jiyong-ssi. Kau hanya butuh seseorang yang bisa menyayangimu dan ada di sini bersamamu. Dan ketika kekasihmu datang, kau akan melupakan perasaan itu karena aku akan segera pergi dari sini. Jadi, jangan pernah mengatakan hal itu lagi,”

“Kau berkata begitu hanya karena takut mengulang semuanya. Tapi hanya aku yang tahu kalau aku benar-benar menyukaimu dan ingin menghentikan semua kebiasaan jelekku. Karena aku ingin memulai semuanya denganmu. Tidak bisakah kita memulainya bersama? Tidak bisakah kau mempercayaiku?” tanya Jiyong.

“Kau tahu jawabanku dan jebal, aku harus pergi sekarang. Aku sudah sangat terlambat. Kumohon mengertilah keadaanku,” pinta Taeyeon lagi.

“Kau mau pergi ke mana? Atau hanya ingin menghindariku? Dengar, Taeyeon-ah…,”

“Aku harus menjemput anakku, Jiyong-ssi! Dia sudah menungguku dan aku harus ada di sana untuknya!” seru Taeyeon. Wajahnya memerah karena amarahnya sekaligus karena isakannya yang belum berhenti.

Genggaman tangan Jiyong di pergelangan tangan Taeyeon seketika meregang dan lama-kelamaan lepas begitu saja. Jiyong terkejut, sangat terkejut. Bagaikan disambar petir, tubuhnya kaku mendadak. Kedua matanya terbelalak. Jantungnya memompa darahnya lebih cepat sampai ke ubun-ubun, membuat nafasnya tercekat di tenggorokan.

Anak? Ia tidak ingin memercayainya.

“Itu adalah satu hal yang kau tidak ketahui tentangku dan kau tidak akan pernah bisa menyukaiku, Jiyong-ssi. Aku harus menjemput putriku di sekolah dan aku terlambat, itu semua karena omong kosongmu. Sedangkan aku tidak bisa terlambat sedetik saja. Karena dia membutuhkanku lebih dari siapapun di dunia ini!” isak Taeyeon. Ia berbalik dan langsung keluar dari kondo Jiyong.

Sedangkan Jiyong masih berdiri di tempatnya, tidak bisa berkata apa-apa dan bahkan tidak bisa menggerakkan satu bagian tubuhnya.

Kenyataan ini lebih menyakitkan dari apa yang ia duga sebelumnya. Apa perasaannya masih sama ketika dia mengetahui ini? Atau seperti kata Youngbae, dia hanya sekedar terobsesi dengan Kim Taeyeon?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

Mian karena update-nya agak lama hehe

See you soon

Advertisements

57 comments on “Beautiful Lies (Chapter 3)

  1. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. 😭😭😭 kok nyesek ya
    Jadi ini alasan kenapa sahabat sahabatnya protektif banget sama TY
    Karakter TY disini rapuh banget ya macem lapisan air yang beku, sedikit aja disentuh bisa ancur eeaakk
    Keren pokoknyalah tulisannya, semangat terus author 💪💪

  3. Alasan sahabat teyeon over protektif karena pasti taeyoen Puny ankak..
    Kalo berhubungan sama jiyong, takut di sakiti
    Penasaran di tunggu nextnya

  4. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. yah yah yah masa gd baru diberitau ty udah beranak dah mau nyerah ae, ayo donggg diperjuangkan lagi xixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s