Beautiful Lies (Chapter 2)

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

POSTER BY IVRISLE ON POSTER DESIGN ART

A/N : Enjoy^^

Preview : Introducing Casts & Chapter 1

~~~

PLEASE READ IT CAREFULLY

Jiyong tersenyum geli ketika dirinya mengingat kembali percakapan antara dia dengan Taeyeon tadi pagi di kondo Youngbae. Saat gadis itu tidak sengaja mengatakan kalau dia seharusnya tidak mengira yang aneh-aneh karena tidak mengenal laki-laki itu dengan baik. Kemudian, tanpa berfikir kalau dia adalah orang yang paling dilindungi oleh Tiffany dan Hyorin, Jiyong menggodanya.

Ah, dia bahkan duduk mendekat pada gadis itu sambil mengajaknya untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Entah apa yang ada di fikiran Jiyong saat itu, tapi yang jelas ia suka melihat kegugupan yang kentara sekali tercetak di wajah cantik Taeyeon. Gadis itu membelalakkan kedua mata beningnya dengan menggemaskan, itulah yang membuat Jiyong suka menggodanya.

Seperti anak kecil. Padahal umur mereka hanya terpaut satu tahun. Jiyong tentu saja tahu kalau hal itu merupakan sifat alamiah Taeyeon, bukan sebuah motif untuk menarik perhatian dari laki-laki tersebut.

Dan sebenarnya sifat itu memang menarik perhatian Jiyong.

“Menyeramkan sekali melihatmu senyum-senyum sendiri seperti itu, Yongie-ah,” ujar Jieun, membuyarkan lamunan Jiyong detik itu juga dan ia melihat sosok sang CEO PMO sudah berada di dalan ruangannya.

Jieun duduk di sofa yang ada di hadapan Jiyong sambil memeriksa gadget-nya dan membaca sesuatu di dalamnya. Dahinya mengernyit tanda tak suka.

“Anak-anak remaja itu banyak yang protes barang kita terlalu mahal,” keluh Jieun, yang masih fokus pada gadget-nya. “Sudah seharusnya barang PMO itu mahal, mengingat dirimu yang notabenenya adalah anak dari CEO Kwon. Dan kau tampan sekali, seorang dokter. Kenapa mereka tidak memakluminya?”

“Tidak biasanya kau mengeluh seperti ini, noona,” ujar Jiyong, ia kembali menghadapkan wajahnya ke hadapan laptop miliknya lalu fokus bekerja. “Kalau kau mengeluh sebagai CEO dari PMO, dari siapa lagi aku mendapatkan semangat ntuk melanjutkan bisnis ini dan bukannya menjadi seorang dokter?”

“Aku tidak mengeluh,” sanggah Jieun. “Aku hanya heran kenapa siang ini kau tampak senang setelah penjualan kita dapat banyak protes? Apa pacarmu akan pulang ke Korea dalam waktu dekat ini?”

“Kau tahu dari mana? Pasti Tiffany,” gumam Jiyong. “Tidak ada yang perlu dipusingkan dengan segala macam negative comments dari para remaja tanggung itu, noona. Penjualan kita juga masih dalam tahap awesome, ‘kan? Meskipun mereka protes ini dan itu, mereka tetap akan membelinya. Kau seperti tidak tahu saja pesonaku ini bagaimana,”

Jieun memutar kedua bola matanya, tingkat rasa percaya diri Jiyong kembali bangkit dan ia malas meladeninya untu saat ini. “Jadi, ceritakan padaku. Apa pacar Parismu itu akan pulang ke Korea? Dia pasti sangat cantik, kudengar dia model di sana. Kalau iya, dia bisa menjadi salah satu model PMO untuk edisi berikutnya,”

“Dia belum berniat pulang dan aku bahkan belum mendengar kabarnya hari ini,” jawab Jiyong tanpa mengurangi konsentrasinya bekerja.

“Aigoo, seperti biasanya,” keluh Jieun lagi. “Wae? Kau sudah mulai bosan padanya? Kau sudah mulai menjaga jarak darinya dan menungu dia mengatakan ‘putus’ duluan? Kau sudah mulai berumur, Yongie-ah. Belajarlah untuk menjalin hubungan serius,”

“Aku tidak bilang aku main-main dengannya, noona. Di Paris sedang tengah malam dan aku tidak mau mengganggu istirahatnya,” jawab Jiyong gusar. “Dan aku belum setua yang ada di dalam benakmu, Jieun noona,”

“Lalu, yang membuatmu senyum-senyum seperti orang yang tidak waras itu apa? Masalah apa?” tanya Jieun. Wajahnya menyiratkan rasa keingintahuan yang besar sekali. Ia memang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi, apalagi kalau hal itu menyangkut Kwon Jiyong.

“Tidak ada hal yang penting,” jawab Jiyong santai. “Aku teringat wajah housekeeper-ku yang lucu saat aku mencandainya,”

Housekeeper? Nugunde?”

“Kim Taeyeon namanya, housekeeper si Youngbae juga,”

“Aahh, Taeyeonnie? Eung, aku tahu dia,”

“Dia lucu,” sambung Jiyong. “Sangat lugu. Padahal aku hanya sedikit menggodanya tapi dia merasa kalau aku ini seperti om-om mesum yang suka pada anak kecil,”

“Dia memang seperti itu. Bukan lugu, tapi dia lebih menjaga perasaan dan hatinya untuk saat ini. Dan Yongie-ah, jangan sering menggodanya hanya karena dia cantik dan menggemaskan. Aku khawatir suatu saat nanti kau akan termakan permainanmu dan membuatnya tak nyaman. Jangan seperti itu, untuk kali ini perlakukanlah Taeyeon seperti sosok yang asing sekali untukmu,” ucap Jieun dengan nada dan raut wajah yang tidak main-main.

Jiyong berjengit. “Apa kau juga akan mengatakan hal yang seperti Youngbae dan Tiffany? Bahwa aku tidak pantas untuknya karena dia pernah mengalami kegagalan dengan orang sepertiku? Oh, ayolah. Aku hanya bercanda. Dia memang cantik dan membuatku tertarik…,”

“Kalau begitu berhenti bercanda, Jiyong-ah,” potong Jieun. “Semakin kau tertarik padanya, semakin mudah bagimu untuk menyakitinya, apa kau mengerti? Kau sudah tahu dia pernah tersakiti dan jangan menyakitinya lagi kali ini dengan permainan konyolmu. Bermainlah dengan perempuan lain yang sesuai dengan tipemu,”

“Noona, kenapa jadi serius seperti ini?” tanya Jiyong, sedikit terperanjat karena tidak biasanya Jieun mengomelinya hanya karena dia bercanda sedikit dengan salah seorang perempuan.

Dan itu hanya sedikit bercanda, bukan menggoda bak playboy kelas atas seperti yang biasa dia lakukan.

“Jika menyangkut hati seseorang yang begitu rapuh, aku akan jadi galak seperti ibumu, Kwon Jiyong,” jawab Jieun. “Baiklah, aku juga punya banyak pekerjaan. Sampai nanti,”

~~~

Taeyeon sedikit terlonjak kaget saat dirinya mendengar bunyi kenop pintu kondo milik Jiyong terbuka dan memperlihatkan pemiliknya yang masuk ke dalam sambil melonggarkan ikatan dasi yang melilit rapi di lehernya. Laki-laki itu menghembuskan nafas panjang lalu melemparkan asal dasi dan jasnya di atas sofa mewah miliknya.

Ia lelah sekali. Semalaman bukannya duduk diam di kantor, ia malah diajak nge-clubbing dengan beberapa teman dekatnya sekaligus beberapa wanita yang biasanya memang sering menemaninya minum.

“Annyeonghaseyo, Jiyong-ssi,” sapa Taeyeon dengan suara lembutnya mengalun indah dalam pendengaran kedua telinga laki-laki itu.

Taeyeon baru saja selesai mencuci piring dan ia buru-buru menghampiri majikannya untuk sekedar menyapanya saja. Walaupun Taeyeon agak enggan melakukannya, tapi ia harus bisa bersikap sopan santun pada tuan rumah sekaligus sahabat dari orang-orang terdekatnya ini.

Jiyong sedikit melirik ke arah Taeyeon dan mengangguk singkat. Ia masih sedikit kesal karena menerima banyak sekali nasehat-nasehat dari beberapa sahabatnya yang mengenal Taeyeon untuk tidak bernain-main dengannya, walaupun itu hanya bercandaan sekalipun. Heol, dinasehati seperti itu membuat Jiyong merasa seperti anak kecil yang tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak baik.

Kalau saja ia sedang tidak merasa kesal saat ini, mungkin dirinya akan lebih lembut menjawab sapaan dari housekeeper cantiknya itu. Dan mungkin lebih sedikit berbasa-basi dengannya.

Karena Jiyong tidak terlalu menanggapi sapaan lembut darinya, Taeyeon merasa lega luar biasa. Setidaknya ia tidak mengalami serangan jantung mendadak karena tingkah majikannya yang secara mendadak dan di luar nalar.

“Bisakah kau bawakan teh untukku? Aku merasa pusing,” ujar Jiyong lalu menghempaskan dirinya untuk duduk bersandar di atas salah satu sofa nyamannya.

“Ne,” jawab Taeyeon. Ia langsung mengarahkan tubuh mungilnya menuju dapur dan menyiapkan satu gelas minuman bersoda yang ia campurkan dengan jahe lalu sebuah piring yang berisikan roti panggang buatannya.

Setelah selesai menyiapkan semuanya, gadis itu kembali menghampiri Jiyong sambil membawa nampan dan meletakkannya di depan Jiyong, yang saat ini tengah memejamkan kedua matanya dan menempelkan punggung tangan kanannya di atas dahi. Ketika hidungnya mencium wangi aroma vanilla yang menguar dari tubuh Taeyeon, Jiyong langsung membuka kedua kelopak matanya dan duduk tegak.

“Ini bukan teh,” ujar Jiyong. Ia memandang wajah Taeyeon dengan heran.

“Memang bukan,” jawab Taeyeon. “Ini minuman bersoda yang mengandung jahe agar tubuhmu jadi hangat kembali, Jiyong-ssi. Kufikir, kau pusing karena kebanyakan minum. Apa aku salah?”

Jiyong tersenyum kecil. “Aniya, kali ini kau tidak salah menebakku,”

Taeyeon ikut tersenyum manis dan ia kembali menunjuk piring yang isinya roti panggang. “Ini roti panggang isi cokelat dan kebetulan sekali aku membuat saus madu tadi. Madu juga sangat cocok untuk seseorang yang baru saja minum dan merasa pusing. Silakan nikmati sarapanmu, Jiyong-ssi,”

Taeyeon membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum ia mengambil jas dan dasi Jiyong di atas sofa satu lagi untuk ia cuci. Beberapa detik kemudian, gadis mungil itu sudah menghilang ke arah kamar mandi.

Jiyong tersenyum lagi, kali ini lebih lebar ketika ia menyesap minuman bersoda yang mengandung jahe tersebut. Minumannya sangat enak, dan memang benar perutnya terasa lebih hangat. Ia merasa sedikit bugar setelah menenggak habis minuman tersebut lalu memakan roti panggang cokelatnya dengan lahap. Tidak lupa ia mencampurkan saus madunya.

Sudah lama sekali ia tidak sarapan khas homemade semenjak ia memutuskan untuk pindah rumah dari rumah kedua orangtuanya. Selama di Paris, ia merindukan makanan homemade tersebut. Dan sekarang ia merasakannya lagi. Hari ini dan Jiyong berharap untuk seterusnya.

~~~

Baru 30 menit ditinggal hanya untuk mencuci baju tuan kondonya, Taeyeon sudah menemukan Jiyong tengah tertidur lelap di sofa yang tadi ia duduki. Minuman yang Taeyeon buat habis dan makanannya juga tak bersisa, ia bahkan menghabiskan saus madunya. Taeyeon tersenyum senang dan ia membereskan gelas dan piring di atas meja itu lalu membawanya ke dapur.

Ia senang karena makanannya dihabiskan. Siapa yang tidak senang jika ada seseorang yang menyukai masakan kita? Hal itu membuat Taeyeon tampak dihargai.

“Jam berapa sekarang?” tanya Jiyong sambil bangkit untuk duduk. Kedua matanya masih terpejam. Namun, ia berusaha keras untuk membukanya dan menatap Taeyeon yang kebetulan baru saja membereskan kamar tidur Jiyong.

“Hampir jam sebelas siang, Jiyong-ssi,” jawab Taeyeon pelan. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat Jiyong sembari membuka apronnya. “Semuanya sudah kukerjakan dan aku akan bersiap-siap untuk pulang,”

Jiyong hanya menganggukkan kepalanya dan ia mengadahkan wajah tampannya untuk melihat Taeyeon. Ah, gadis itu mengikat rambut panjangnya. Wajar saja ia melakukan itu. Dengan memiliki rambut panjang yang bergelombang indah akan sulit membuatnya bergerak bebas. Apalagi Jiyong menyadari jika Taeyeon cukup gesit bersih-bersih rumah.

Namun, bukan masalah gadis itu rajin atau tidak, Jiyong tidak memedulikan hal itu untuk saat ini. Ia baru menyadari gadis lugu yang terkesan kuno dengan kisah cintanya itu bisa terlihat sexy juga di matanya.

Dengan mengikat rambutnya yang panjang tersebut dapat membuat leher jenjangnya yang mulus terekspos begitu saja. Lehernya indah dan tampak bening, atau hanya penglihatan dan nafsu Jiyong saja? Leher itu semakin terkesan menantang saat Jiyong melihat ada beberapa bulir keringat yang menghiasi lehernya, membuat Jiyong dengan susah payah menelan ludahnya.

Fikiran Jiyong mulai berfantasi ke mana-mana. Apakah belum ada satu orang pun yang menjamah leher mulus itu? Atau sekadar mengecupnya saja. Apakah kekasih gadis itu dulunya tidak berminat mencicipinya sedikit? Kenapa begitu terihat bersih seakan-akan belum ada yang membelai dan mengeklaimnya dengan beberapa kissmark?

Oh, holy shit. Alkohol brengsek. Meskipun dirinya sudah tidak mengalami hangover lagi, tapi keagresifan diri serta nafsunya yang mendadak membuncah akibat banyak minum masih melekat dalam dirinya. Tubuhnya panas dingin dan Jiyong buru-buru bangkit agar dirinya tidak merasa tersiksa lagi.

Ia tidak mau melampiaskan nafsunya dengan cara yang sangat tidak elit di dalam kamar mandi. Alangkah lebih baik jika ia menghubungi salah satu friend with benefits-nya lalu menyuruh gadis itu untuk melakukan blowjob.

Lagipula nafsu birahinya itu akan menghilang setelah ia mandi dan dirinya sudah sepenuhnya pulih dari alkohol. Tidak mungkin juga ia dengan begitu mudahnya tergiur hanya karena memandang leher jenjang Taeyeon yang sedikit basah karena keringatnya. Walaupun ia brengsek, ia juga bukan laki-laki gampangan.

“Jiyong-ssi?” panggil Taeyeon pelan dengan wajah yang sangat risih. Bagaimana tidak risih jika laki-laki itu hanya memandangi dirinya tanpa berkata apa-apa dengan sorot mata tajam seakan-akan ingin menelan gadis itu hidup-hidup.

Jiyong segera tersadar dari pemikiran gilanya dan menatap Taeyeon. Ia sadar jika gadis itu merasa tidak nyaman karena laki-laki itu sejak tadi hanya diam sambil menatap liar dirinya dengan pandangan lapar. Gadis itu memasang kembali apronnya dengan sedikit terburu-buru tanpa menatap balik ke arah Jiyong.

Taeyeon merasa was-was dan hal itu bukannya membuat Jiyong merasa tidak enak melainkan tertantang. Tertantang untuk mewujudkan apa yang tengah Taeyeon fikirkan.

Dasar alkohol sialan! Batin Jiyong gusar.

Laki-laki itu menghela nafas beratnya dan bangkit dari sofa. “Kenapa kau memakai apronmu lagi?”

“Ah, ye?” Taeyeon balik bertanya dengan mengedipkan kedua matanya berkali-kali, tampak bingung. Bingung dengan tindakannya sendiri dan sedetik kemudian merasa malu luar biasa.

F*ck, Kim Taeyeon itu sama sekali tidak membantu. Memasang wajah bingung yang cute dan sedetik kemudian wajahnya berubah merah merona. Kyeopta.

Lain kali ia tidak boleh pulang dalam keadaan mabuk. Kalau tidak, ia tidak akan melihat sinar matahari lagi akibat dikubur hidup-hidup oleh Tiffany, Youngbae, Hyorin, dan Jieun noona.

Ingat Joohyun, tuan Kwon yang terhormat.

Jiyong mengeluarkan tawanya yang terdengar seperti dipaksakan. Ia menghampiri Taeyeon dengan santai. Taeyeon diam saja dan berusaha untuk tidak berjalan mundur mengingat siapa dirinya saat ini.

Jiyong berhenti tepat di hadapan gadis itu dan hal itu membuat Taeyeon menghembuskan nafas lega secara diam-diam. “Kau boleh pulang sekarang, jadi lepaskan apronnya. Kenapa dipakai lagi? Masih mau bersih-bersih? Atau kau mau menggosok punggungku? Kebetulan aku mau mandi,”

“Aku memang berniat mau pulang dan tidak baik jika kau menyuruhku melakukan itu,” tolak Taeyeon cepat dengan rahang mengeras.

“Aku mengerti, Taeyeon-ah,” jawab Jiyong sambil menyeringai. “Aku hanya bercanda, tidak perlu dimasukkan ke dalam hatimu. Tapi kalau kau mau, tidak apa-apa,”

Taeyeon hanya mengangguk tidak peduli dan masih tidak mau balas menatap ke arah Jiyong. “Kalau kau mau mandi, aku sudah menyiapkan air panas. Kau bisa mandi dengan menggunakan air itu. Air panas bisa memulihkan tubuhmu lagi. Sampai besok, Jiyong-ssi,”

Taeyeon membungkukkan tubuhnya sebentar lalu langsung membereskan barang-barangnya sebelum ia keluar dari dalam kondo Jiyong. Sedangkan Jiyong hanya diam mematung mendengar kata-kata terakhir dari bibir gadis itu.

Beberapa detik kemudian, Jiyong melangkahkan kedua kakinya secara perlahan menuju dapur. Ia menyeringai kecil saat didapatinya meja makannya sudah dipenuhi banyak makanan dan lauk-pauk yang masih mengepulkan asapnya. Jiyong memang sudah menduga kalau perempuan itu pasti menyiapkan makan siang untuknya.

Menyiapkan air panas dan makan siang. Sesuatu yang sudah lama sekali diimpikannya jika ia memiliki seorang kekasih. Dan hal itu sudah didapatkannya meskipun gadis itu bukan kekasihnya.

Hal itu membuat sesuatu dalam dirinya menghangat.

~~~

Taeyeon menjadi orang pertama yang turun dari bus begitu bus itu membuka pintunya dan mempersilakan orang-orang di dalamnya keluar. Gadis itu bergerak sangat cepat, hampir berlari di sepanjang trotoar menuju sebuah bangunan besar dengan tinggi yang menjulang. Saking cepatnya melangkah, ia beberapa kali menabrak orang yang jalan berpapasan dengannya.

Gadis itu hanya membungkuk sambil mengucapkan beribu-ribu maaf. Namun, langkah kalinya tak juga memelan. Ia bahkan semakin mempercepat langkahnya. Tidak, ia sudah berlari sekarang saat diliriknya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.59 KST. Satu menit lagi. Jika ia terlambat, ia tidak tahu harus bagaimana.

Jika ia terlambat, lebih baik ia mati saja.

“Kenapa hari ini Anda lama sekali, ahga?” tanya seorang wanita paruh baya memakai jas hitam dipadu dengan rok selututnya yang berwarna senada. Pertanyaannya memang sedikit kasar, tapi wajahnya menyiratkan kekhawatiran mendalam saat melihat Taeyeon sudah masuk ke dalam pintu gedung itu sambil terengah-engah.

“Tempat kerjaku kali ini cukup jauh, ahjumma,” jawab Taeyeon setelah nafasnya normal kembali. “Aku salah memperhitungkan waktunya,”

“Arraseo, tapi lain kali kau tidak boleh seceroboh ini, paham?” tegur wanita yang dipanggil Taeyeon ahjumma itu.

Taeyeon mengangguk paham dengan raut wajah menyesal. “Aku janji aku tidak akan pernah terlambat lagi, ahjumma,”

~~~

“Sudah satu bulan ini kau tidak sarapan dan makan siang di luar, hyung. Apa makanan yang dibuat Taeyeon noona benar-benar sangat lezat?” tanya Seungri dengan wajah irinya saat ia melihat Jiyong membuka kotak bekal makannya yang baru ia beli sekitar satu bulan yang lalu. Jiyong tidak menjawab pertanyaan Seungri dan malah asyik memakan pancake kimchinya yang dicampur dengan beberapa sushi roll Temaki beserta sausnya.

Kotak bekal yang baru dibeli Jiyong itu memang sengaja ia beli karena ia ingin membawa makan siang yang sudah disiapkan oleh Taeyeon ke kantornya dan tak jarang juga ia memamerkan di hadapan teman-teman dekatnya bahwa kini ada seseorang yang memasakkan makanan untuknya, meskipun hanya pagi dan siang.

Masakan yang dimasak Taeyeon juga tidak terlalu mewah sebenarnya. Hanya makanan sederhana yang bisa dimasak semua orang. Namun, melihat Jiyong yang membawanya tiap hari ke kantor dengan wajah bangga membuat beberapa orang temannya iri, termasuk Seungri, Daesung, dan Seunghyun yang memang sudah tahu kecantikan sang housekeeper.

“Makanan itu sudah biasa kita makan, hanya saja si dragon ini memakannya sambil mengingat wajah housekeeper-nya. Tentu saja rasanya sangat enak,” imbuh Soohyuk, sahabat dekat Jiyong yang lainnya.

Jiyong, Seungri, Seunghyun, Daesung, Youngbae, dan Soohyuk menghabiskan waktu singkat mereka dengan berkumpul dan bercengkerama satu sama lainnya di sebuah restaurant yang tidak terlalu jauh dari kantor pusat PMO. Mereka berenam memang bersahabat baik, tapi kesibukan masing-masing membuat mereka sulit bertemu. Dan bila ada satu kesempatan untuk berkumpul, maka pasti ada salah satu dari mereka yang langsung meninggalkan pekerjaannya, terutama Jiyong dan Seunghyun.

“Eyy, aku memang sangat menyukai makanan homemade, bukan karena dia yang membuatnya, tapi karena aku suka. Kalian seperti tidak tahu saja,” sanggah Jiyong cepat. Ia segera menghabiskan makanannya dan menyimpan kotak bekalnya di dalam tas kecil yang selalu dia bawa-bawa selama sebulan terakhir ini.

“Wajah cantiknya menambah kelezatan,” tambah Seunghyun. “Apa Joohyun bisa memasak juga?”

“Dia bisa memasak, tapi jarang membuatkanku. Kurasa tidak pernah. Kami sama-sama sangat sibuk. Bertemu sekali seminggu saja rasanya aku sangat bersyukur,” jawab Jiyong santai.

“Kau beruntung bisa makan makanan khas rumah lagi setelah ada Taeyeon, Yongie-ah,” ujar Youngbae.

“Dia tidak memasak untukmu?” tanya Jiyong, sedikit terkejut sekaligus senang. Terlihat sekali dalam pancaran kedua mata hazelnya.

“Taeyeon sebisa mungkin menjaga perasaan Hyorin,” jawab Youngbae asal.

“Kuharap Hyorin bisa pengertian dan memasak enak untukmu juga,” ujar Jiyong.

Youngbae tentu saja berbohong. Taeyeon adalah gadis yang sangat menyukai memasak. Walaupun dia sering mengatakan kalau tidak begitu mahir, tapi gadis mungil itu tidak tahan untuk tidak mengacak-acak dapur seseorang. Bekerja bersama Youngbae selama dua tahun lebih mana mungkin tidak dibuat masakan lezat khas rumah oleh Taeyeon?

Youngbae sengaja berbohong karena dia senang melihat perubahan sikap sahabat kecilnya tersebut. Dibalik sifat arrogant, egois, keras kepala, dan sok tampannya itu, Jiyong memiliki kelemahan seperti manusia lainnya. Ia kesepian dan butuh seseorang untuk menjadi sandarannya.

Jiyong punya banyak teman, seperti orang-orang yang tengah mengelilingi sekarang ini. Namun, Youngbae tahu belum ada yang bisa mengobati rasa sepinya itu, belum ada yang mampu memberikannya pengertian dan perhatian seperti yang dia inginkan. Dibalik sikapnya yang playboy, sebenarnya Jiyong hanya ingin menutupi rasa kesepiannya tersebut dengan cara bersenang-senang.

Hidup di dalam keluarga yang sangat berkecukupan dan perfeksionis membuat Jiyong harus banyak ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya. Dari kecil dia memang selalu merasa sendirian. Kakak perempuannya, Dami, memang selalu menemaninya, tapi setelah menikah dan hidup bahagia, Jiyong cukup tahu diri untuk tidak selalu merecoki kakaknya itu.

Hidupnya yang sepi ditambah lagi perjuangannya mempertahankan PMO membuatnya membutuhkan sosok pendukung, contohnya kekasih. Tapi selama ia memilikinya, Jiyong tidak benar-benar puas. Selalu ada ketidakcocokan, kesalahpahaman, dan ketidakpengertin.

Dan ia bukan tipe orang yang bisa mengakhiri hubungannya terlebih dulu. Jiyong pasti akan melakukan seribu cara untuk si wanita mengatakan ‘putus’ duluan, termasuk hangout semalaman dengan beberapa teman perempuannya yang kelewat sexy. Itu sebabnya ia menyandang predikat ‘si playboy yang brengsek‘.

Untuk pertama kalinya, Youngbae melihat sisi kekanak-kanakkan dari Kwon Jiyong, walaupun hal itu tidak disadari oleh Jiyong sendiri. Sahabat-sahabatnya yang lain tentu saja menyadari. Tapi Seunghyun dan Soohyuk meminta mereka untuk tidak memberitahunya.

Sisi kekanakannya terlihat ketika ia menceritakan bahwa Taeyeon memiliki obat mujarab untuk hangover-nya setiap kali ia mabuk, dan obat itu sangat enak, ditambah dengan sarapan simple tapi enak dilidah dan tidak membosankan. Laki-laki itu juga senang saat memberitahu yang lain kalau Taeyeon juga sering membuat cake yang beraneka ragam, dengan uang tambahan yang sering Jiyong berikan. Padahal, kalau gadis itu membutuhkannya, Jiyong bisa memberikan lebih, tapi Taeyeon selalu menolak dengan alasan Jiyong sudah memberikan terlalu banyak.

Salah satu sifat yang disukai Jiyong dari seorang Kim Taeyeon.

Jiyong menyukai itu semua karena ia sangat ingin diperhatikan. Salah satu keinginan kecilnya yang baru ia dapatkan saat ini. Bahkan ia tidak memedulikan Jieun yang setiap hari selalu menggodanya karena rajin membawa bekal makan siang.

Walaupun senang melihat sahabatnya ceria, Youngbae memiliki kekhawatiran tersendiri. Ia benar-benar belum bisa memercayakan Taeyeon untuk Jiyong, jika seandainya laki-laki itu jatuh cinta pada Taeyeon. Tapi apa mungkin? Sedangkan Jiyong juga memiliki kekasih. Dan Jiyong tampak menyayangi kekasihnya tersebut, yang bernama Bae Joohyun.

Jiyong selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Joohyun dan tampak senang setiap kali ia selesai mengobrol dengan kekasihnya itu. Tampaknya ia kali ini serius. Dan menyukai seorang Kim Taeyeon tentu adalah hal yang tidak akan mungkin, ‘kan?

Bisa saja, dan Tiffany selalu mewanti-wanti Jiyong agar Joohyun cepat kembali ke Paris dan menggantikan posisi Taeyeon. Youngbae tahu Tiffany juga khawatir.

Khawatir jika salah satu dari mereka akan jatuh cinta. Mau itu Jiyong atau Taeyeon duluan yang jatuh cinta, posisi mereka pasti sulit. Sangat sulit.

~~~

“Kau sedang membuat apa?” tanya Jiyong yang tiba-tiba saja sudah ada di dapur, mengagetkan Taeyeon yang tengah sibuk meletakkan cream di atas cupcake cokelatnya.

“Membuat cupcake. Kau mau membawanya?” tanya Taeyeon dengan nada ceria. Ia kembali sibuk dengan kegiatannya mengolesi cream.

“Boleh,”

Jiyong tersenyum kecil lalu memyandarkan punggungnya di dinding dapur sembari memperhatikan aktifitas housekeeper-nya yang kecil mungil itu. Jika sudah sibuk memasak seperti ini, Taeyeon akan berubah menjadi sosok gadis ceria, periang, dan banyak tersenyum. Ia akan melupakan segala kehati-hatiannya pada Jiyong dan membiarkan laki-laki itu berada di dekatnya, seperti saat ini.

Dan Jiyong suka melihat senyum cerah gadis itu. Tawanya yang lepas tanpa beban setiap kali ia melakukan kesalahan dalam meletakkan bumbu masakannya. Rona merah yang selalu tercipta di kedua pipinya setiap kali Jiyong mengatakan makanannya enak. Dan harum lavender campur vanilla yang semerbak di tubuh gadis itu. Wangi khas seorang Kim Taeyeon.

Jiyong merasa terbiasa dengan itu semua, dengan apa yang Taeyeon lakukan, dengan keberadaan Taeyeon.

Taeyeon sendiri juga mulai merasa nyaman bekerja dengan laki-laki itu selama satu bulan lebih ini. Youngbae mengatakan kalau Jiyong menyukai setiap masakannya dan selalu membawanya ke kantor untuk bekal makan siang. Ia juga suka teh chamomile dan segala macam minuman menyehatkan lain yang dibuat gadis itu. Hal itu membuat Taeyeon merasa tersanjung. Ia senang karena laki-laki itu ternyata memiliki perasaan yang tulus dan baik hati.

Karena itulah ia selalu menyempatkan diri untuk membuat makanan-makanan yang mudah dibuat tapi rasanya sangat enak.

Meskipun merasa nyaman, tapi Taeyeon juga tidak melupakan siapa itu Kwon Jiyong. Laki-laki itu masih masuk dalam list yang harus Taeyeon hindari. Jangan sampai terjebak dalam pesona mematikannya, pernyataan itu sering keluar setiap kali Jiyong tersenyum sangat lembut padanya.

Laki-laki itu juga tak jarang menggodanya. Walaupun godaannya biasa saja, tapi mampu membuat wajah Taeyeon merona merah dan jantungnya berdetak tak karuan. Itu tidak boleh terjadi, sama sekali tidak boleh.

Jiyong juga memiliki kekasih, dan Taeyeon tahu sekali bagaimana perasaan seorang perempuan jika kekasihnya bermain dengan perempuan lain.

Ya, seharusnya Taeyeon tidak perlu menanggapi perkataan laki-laki itu jika ia sedang ingin menggoda Taeyeon. Taeyeon bukanlah sosok perempuan yang akan mampu menyandingi seorang Kwon Jiyong. Jiyong hanya sekedar bermain-main, ia tidak akan pernah serius dalam suatu hubungan dan Taeyeon akan kembali mengalami kekecewaan besar jika ia memutuskan untuk jatuh hati padanya.

Siapapun dari mereka berdua yang jatuh hati, keadaannya akan terasa berat dan ujung-ujungnya hanya akan menghancurkan perasaan mereka.

Tapi siapapun juga tidak bisa memaksakan perasaan mereka sendiri.

“Kau melamun lagi,” ujar Jiyong.

Taeyeon tersentak dan ia menatap Jiyong dengan senyum kecilnya, berusaha meyakinkan laki-laki itu kalau ia sama sekali tidak melamun.

“Aniya,” jawab Taeyeon pelan.

“Lalu kenapa cupcake-nya tidak dipanggang? Apa dengan hanya melihatnya saja bisa langsung masak? Kau ini siapa? Magician?” tanya Jiyong setengah bercanda.

“Ah, aku bingung mau meletakkan apa lagi di atas cream-nya,” sahut Taeyeon asal.

Jiyong tertawa kecil. “Kau sudah meletakkan marshmallow. Lalu apa lagi?”

“Memanggangnya,” jawab Taeyeon cepat, merasa seperti orang bodoh.

Ia membawa cupcakes-nya tersebut dan memasukkannya ke dalam oven lalu kembali lagi. Ia menyadari Jiyong masih bersandar di dinding dapur, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya sambil menyeringai memandang lekat Taeyeon. Salah satu hal yang Taeyeon benci, karena tatapan intimidasi yang Jiyong berikan seperti itu selalu membuat tubuhnya bergetar dan panas dingin, serta jantungnya yang lagi-lagi berdetak tak normal.

“Kau mengganggu pekerjaanku, pergilah,” usir Taeyeon pelan.

Ah, gadis ini berubah dingin kembali.

Jiyong menghela nafas panjang dan ia bergerak mendekati Taeyeon. Taeyeon mengernyitkan dahinya, bingung. Tapi ia tidak berusaha untuk menjauh. Bisa saja lelaki ini nantinya akan tersinggung dengan tindakannya tersebut.

“Kau benar-benar melamun tadi,” ujar Jiyong dengan suaranya yang rendah.

Taeyeon tetap diam dan menunggu laki-laki itu selesai bicara meskipun alarm di dalam otaknya sudah memperingatinya untuk mengacuhkan laki-laki itu.

“Kau melamun, sampai-sampai wajahmu belepotan cream, dasar jorok,”

Sebelum mencerna ucapan Jiyong dan bahkan sebelum telinganya menangkap satu per satu kata yang keluar dari bibir sexy laki-laki itu, Taeyeon dapat merasakan ibu jari Jiyong membelai lembut sudut bibir kiri gadis itu, menghapus sedikit cream yang menempel di sana.

Kedua mata Taeyeon terbelalak. Tubuhnya mati rasa dan ia tidak bisa menggerakkan sedikit saja otot-otot yang ada dalam dirinya. Ia mendadak lumpuh. Belaian lembut itu menghantarkan aliran listrik yang membuat kedua pipinya memerah hebat dan ia merasakan panas di sekelilingnya, sepertinya aliran darah di tubuh gadis itu mengalir deras ke ubun-ubun.

Jiyong memang berniat untuk menghapus cream tersebut. Ia tidak berniat lebih. Namun, ketika jari-jemarinya menyentuh permukaan wajah gadis itu, Jiyong dapat merasakan betapa halusnya kulit Taeyeon, betapa lembutnya sisi-sisi permukaan wajah gadis itu saat jarinya tidak hanya menyentuh sudut bibir Taeyeon, melainkan sudah menuju pipinya yang merona dan terasa panas, turun kembali menuju sudut bibirnya lagi, dagu, dan terakhir bibir bawah gadis itu.

Jiyong merutuk dalam hati dengan frustrasi. Ia benar-benar gemas dengan seluruh permukaan wajah Taeyeon. Saking gemasnya ia ingin… Ah, ingin menciumi setiap sisi wajah itu. Bagaimana rasa dan sensasinya membuat Jiyong terbakar gairah.

Hingga tanpa sadar ia semakin mendekatkan dirinya pada gadis itu.

Taeyeon dapat merasakan bahaya yang akan datang sebentar lagi jika ia tidak menghentikan aksi Jiyong itu. Ia menggigit bibir bawahnya dengan refleks saat laki-laki itu membelai bibir bawahnya dan tindakan Taeyeon tersebut lagi-lagi tidak membawa dampak baik untuknya.

“Gamsahamnida,” ujar Taeyeon tiba-tiba. Ia langsung menghempaskan tangan Jiyong begitu saja dan melesat pergi menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi itu terbanting cukup kuat.

Jiyong menatap kepergian Taeyeon sekaligus jarinya yang tadi baru saja menyentuh kulit halus Taeyeon. Ia tertawa kecil lalu menghela nafas panjang.

Ia pasti sudah gila sekarang. Sudah berapa kali dirinya hampir kehilangan kontrol saat bersama dengan Taeyeon? Padahal gadis lugu, innocent, dan pasif sama sekali bukan tipe yang biasa ia ajak ‘bermain’.

Shit, ia butuh disentuh.

Dengan helaan nafas kasar ia mengambil ponselnya dan memanggil salah seorang teman perempuannya untuk segera datang ke kondonya siang nanti.

Salah seorang friends of benefit-nya.

~~~

Semenjak kejadian itu, Jiyong merasa jika Taeyeon berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari laki-laki itu atau tidak berada dalam satu ruangan dengannya. Gadis itu juga tidak menyambutnya seperti biasa setiap kali ia pulang ke kondo. Taeyeon pasti menyibukkan dirinya membersihkan ruang kerja Jiyong dan saat Jiyong masuk ke ruang kerjanya, gadis itu langsung selesai dan keluar ruangan sambil membungkuk singkat tanpa berkata apa-apa.

Hal itu membuat Jiyong kesal bukan kepalang. Ia sudah mulai terbiasa dengan sapaan ‘selamat datang’ dan ‘selamat pagi’ dari bibir gadis itu tiap ia pulang. Ia jadi merasa kondonya tidak sepi lagi, ia jadi merasa kondonya memiliki suasana yang sehangat sinar mentari setiap kali gadis itu membersihkan ruangannya sambil bernyanyi dengan suaranya yang merdu dan memikat.

Dan ia awalnya juga jadi terbiasa dengan ocehan serta nasehat dari Taeyeon tiap kali Jiyong melewatkan sarapan dan langsung tertidur di kamar, atau pulang-pulang dalam keadaan bau alkohol, atau bahkan sekedar melempar asal pakaiannya di atas sofa. Taeyeon memang tanpa disengaja mengajarkan laki-laki itu untuk disiplin.

Dan itu adalah sebuah perhatian yang sangat berarti untuk Jiyong.

Sekarang? Ia tidak mendapatkannya lagi. Ia tidak mendengar nyanyian merdu dari suara indah Taeyeon, ia tidak lagi mendapat nasehat saat melewatkan sarapannya dan melempar asal jasnya ke lantai. Taeyeon hanya diam sambil memungutnya lalu pergi ke belakang.

Jiyong tidak mendapatkannya lagi hanya karena ia menyentuh wajah perempuan itu? God dammit! Jiyong benar-benar merasa marah. Entah itu karena Taeyeon yang tidak sehangat biasanya atau Taeyeon yang sekarang mendiamkan dirinya.

Taeyeon memang sengaja melakukannya. Ia sengaja menciptakan jarak sejauh-jauhnya dari laki-laki itu agar kejadian yang seperti kemarin tidak terjadi lagi. Bagaimana jadinya kalau saja Taeyeon tidak langsung sadar dan terlanjur terhanyut dalam gelombang hazel di kedua mata Jiyong yang indah? Ia yakin ia akan menyesal selama sisa hidupnya nanti.

Ia ingin menjaga jarak dan mendinginkan suasana di antara mereka sebelum kembali menjadi Kim Taeyeon yang hangat. Walaupun ia merasa nyaman bekerja dengan laki-laki itu, bukan berarti Jiyong dapat melangkah lebih jauh pada dirinya. Ia tidak akan membiarkan laki-laki itu menganggap dirinya mudah.

“Kau tidak membuatkanku teh seperti biasanya?” tanya Jiyong dengan nada kesal yang kentara sekali pada Taeyeon.

Ia menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon dengan cepat saat gadis itu mengambil kemeja Jiyong yang ia lempar dengan asal.

Taeyeon menatap Jiyong dengan raut wajah bingung, bingung kenapa laki-laki ini tampak begitu kesal hanya karena ia tidak membuatkannya teh.

“Aku akan mengantarkannya ke ruang kerjamu,” ujar Taeyeon pelan. Ia berusaha menarik pergelangan tangannya yang dicengkeram erat oleh laki-laki itu. “Aku harus bekerja, jadi lepaskan,”

Jiyong tidak mendengarkannya dan malah semakin mengeratkan pegangannya. “Kenapa kau tidak melakukannya kemarin-kemarin?”

“Kenapa aku harus melakukannya jika kau tidak meminumnya? Aku hanya akan membuang-buang tehnya dan terlebih lagi membuang waktuku,” jawab Taeyeon dengan sedikit meringis sakit karena ia masih berusaha keras melepaskan cengkeraman Jiyong, sedangkan laki-laki itu tidak mengendurkannya sedikit saja.

“Aku tidak meminumnya karena kau membuatku kesal,” desis Jiyong. Memang benar. Sejak Taeyeon menjaga jarak dan mendiamkannya, Jiyong membiarkan teh yang dibuat Taeyeon menganggur sampai dingin saking kesalnya.

“Aku tidak mengerti kau ini marah karena apa,” ujar Taeyeon. “Apa masalahmu?!”

“Kau tidak perlu membuatkannya,” ujar Jiyong sembari melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan gadis itu. Ia juga merebut kemejanya dari tangan Taeyeon dengan kasar lalu masuk ke dalam kamar.

Taeyeon menatap laki-laki itu dengan pandangan heran. Ia bertanya-tanya ada apa dengannya. Kenapa tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk?

Terang saja Jiyong bertingkah seperti itu. Ia senang seperti seorang bocah saat mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seseorang dan akan merajuk ketika tidak diperhatikan lagi. Kasih sayang. Ya, entah kenapa Jiyong ingin sekali mengartikannya seperti itu walaupun Taeyeon baru ia kenal selama sebulan lebih, terlepas apakah gadis itu tulus atau tidak. Namun, Jiyong yakin sekali gadis itu tulus. Gadis itu memiliki hati yang murni seperti malaikat.

Dan Jiyong butuh kehangatan itu. Ia tidak ingin kehilangan kehangatan itu satu hari saja. Ia seperti orang yang rapuh. Memang rapuh, tapi ia menyembunyikannya dengan begitu lihai selama bertahun-tahun. Ia hanya tidak ingin orang-orang menganggapnya lemah sebagai seorang Kwon. Ia tidak ingin orang lain tahu kekurangannya.

Yang minim kasih sayang.

~~~

“Sudah kuduga dia akan seperti itu,” ujar Youngbae sambil mengunyah beef steak yang sudah tersedia di hadapannya. Ia mengulum senyumnya setelah mendengar cerita Taeyeon yang mengalami depresi ringan akibat ulah Jiyong sebagai majikannya.

Hari ini adalah hari di mana Taeyeon bekerja di kondo Youngbae. Dan kebetulan Youngbae sedang tidak sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia memilih untuk menghabiskan jam makan siangnya bersama dengan Taeyeon. Gadis itu menerimanya dengan senang hati karena ia ingin menceritakan suasana hati Jiyong yang buruk pada salah satu sahabat dekatnya.

“Apa dia punya jadwal untuk marah-marah tidak jelas seperti itu? Aku merasa tidak melakukan salah apapun dan selama satu bulan ini juga dia tidak pernah marah. Tapi kenapa sekarang marah?” tanya Taeyeon bingung.

“Apakah kau tidak melakukan hal yang biasanya kau lakukan?” Youngbae balik bertanya.

“Aku melakukan semuanya seperti biasa. Ne, seperti biasa. Tidak ada yang terlewat,” jawab Taeyeon ragu.

“Apa kau yakin? Kenapa jawabanmu bahkan terlihat ragu?” tanya Youngbae, berusaha untuk tidak tersenyum.

“Eung… Aku menghindarinya. Aku juga mendiaminya. Hanya itu,” jawab Taeyeon pelan.

“Hanya itu?” tanya Youngbae lagi. “Hanya itu tapi membawa dampak besar untuknya,”

“Waeyo? Kami juga tidak pernah terlibat percakapan panjang dan serius. Meskipun aku menjauhinya seharusnya itu bukanlah apa-apa. Aku bukan temannya,” ujar Taeyeon pelan.

“Tapi dia sudah terbiasa mendengar sapaan pagi dan nasehatmu sebelum kau menjauhinya saat ini,” sela Youngbae.

“Oppa,” panggil Taeyeon. Dahinya mengernyit bingung. “Dari mana kau tahu? Dia sudah cerita, ‘kan?”

“Dan aku juga sudah sedikit memarahinya karena… menggodamu terlalu jauh. Seharusnya dia tidak melakukan itu. Aku, Tiffany, bahkan Jieun noona sudah memperingatinya,” sambung Youngbae. “Mianhae, aku menempatkanmu dalam situasi yang sulit,”

“Apakah karena itu Hyorin eonni tengah mengacuhkanmu?” tanya Taeyeon.

Youngbae mengangguk. “Hyorin terlalu khawatir. Tapi, itu juga bukan masalah besar. Nanti juga baik kembali,”

“Lalu, apa karena itu dia marah padaku?” tanya Taeyeon lagi, kembali ke topik awal.

“Baru kali ini dia menemukan seseorang yang mengerti dirinya, yang memperhatikan hidupnya, dan baru kali ini kondonya tidak sesunyi sebelum ia berangkat ke Paris. Jiyong itu ibarat laki-laki yang hidupnya diwarnai kesepian. Dia memang punya kami, sahabat-sahabatnya, tapi hal itu tidak mampu menutupi apa yang selama ini kurang ia dapatkan dari kecil. Kau tahu dia terlahir sebagai seorang anak dari CEO Kwon’s Group. Seseorang yang bahkan masa depannya sudah diatur. Tapi dia tidak mau. Dia lebih memilih PMO daripada mengikuti keinginan keluarga besarnya. Menjadi anak seperti itu harus terbiasa mandiri sejak kecil. Dan selama ini ia memang selalu sendiri. Terlalu bekerja keras, hingga melupakan haknya sebagai seorang anak,” jelas Youngbae.

“Lalu ibunya…,”

“Mendampingi sang CEO. Negara Korea bukanlah negara satu-satunya yang harus mereka pijak. Tapi eomma Kwon tidak pernah mengurangi kadar kasih sayangnya untuk Dami noona dan Jiyong. Mereka berdua sangat mencintai anak-anaknya, tentu saja. Hanya saja, kita juga memerlukan raga dari orang yang kita cintai untuk bisa merasakan kehangatannya,”

Taeyeon diam sambil menyimak dengan sangat seksama cerita yang disampaikan oleh Youngbae tersebut tanpa mau menyela sedikit saja. Dan setelah kekasih dari Hyorin itu selesai, Taeyeon tahu apa masalahnya.

“Kau sangat tahu masalah-masalah seperti ini, Taeng, kau mengalaminya. Dan kau juga tahu alasan kenapa Jiyong seperti seseorang yang merajuk karena tidak diberikan hal yang diinginkannya. Karena dia memang tidak mendapatkan lagi kehangatan itu,” lanjut Youngbae.

“Arrayo,” lirih Taeyeon.

“Dia mungkin memang kurang ajar, tapi kuharap kau bisa bertahan sebentar lagi sebelum kekasihnya pulang ke Korea,” pinta Youngbae.

“Kekasihnya? Apakah saat kekasihnya pulang nanti, aku bisa keluar dari kondo itu?” tanya Taeyeon.

“Tentu, itu pasti,” jawab Youngbae mantap. “Bukankah kau memang harus pergi? Tahun depan kau jadi pindah ke Canada, ‘kan?”

“Tentu saja,” jawab Taeyeon cepat. “Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini,”

“Kalau begitu, tidak bisakah kau kembali hangat pada Jiyong, Taeyeon-ah? Maksudku, kau bisa menganggapnya sebagai seorang anak. Anak yang kesepian. Atau kau bisa seolah-olah menjadi baby sitter-nya,”

“Dan kau tahu kalau dia bukan seorang baby, oppa,” lirih Taeyeon. “Dia… namja. Aku tidak tahu apakah aku bisa… kau tahu maksudku. Ketika aku sudah nyaman dengannya, dia melakukan sesuatu yang merusak kepercayaanku,”

“Kau cukup mengingatkan dirimu siapa dia sebenarnya. Dia tidak pantas untukmu. Fikirkanlah akibat apa yang akan kau alami jika kau tidak tegas dengan perasaanmu. Anggaplah dia sebagai seseorang yang membutuhkan kasih sayang. Seperti yang selama ini kau lakukan. Anggaplah itu sementara. Dan kau bisa pergi. Aku yang akan membawamu pergi. Jika dia masih bersikap seenaknya, kau bisa memberitahuku. Dan aku akan menanganinya,” ungkap Youngbae. “Untuk kali ini, sepertinya dia memang benar-benar mencintai kekasihnya. Jadi, kurasa hal itu bisa menjadi alasanmu untuk tidak terjebak dalam permainan gila Jiyong,”

Taeyeon memandang Youngbae yang masih memasang wajah memelasnya selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengangguk dengan lemah. Youngbae menghela nafas lega dan ia tersenyum manis pada Taeyeon.

“Gomawo, Taeng. Aku memang sedikit memaksamu karena aku begitu senang melihat perubahan sahabat kecilku. Aku bahagia melihatnya seperti bocah yang kekanak-kanakkan ketika membicarakan kau sedang membuat cake ini dan itu. Tapi aku yakin perasaannya tidak akan lebih dari itu. Aku juga akan memastikan dia akan lebih menghormatimu setelah ini. Begitu kekasihnya pulang dan memberikan perhatian yang sama denganmu, kau bisa keluar. Hidup Jiyong tidak akan tergantung padamu, Taeng. Aku janji,”

“Ne,” jawab Taeyeon dengan memasang senyum lebar untuk Youngbae.

Mungkin tidak ada salahnya ia membantu salah satu orang yang selalu ada di saat ia butuh sebelum ia pergi nantinya. Mungkin ucapan Youngbae benar. Ia tidak akan jatuh pada segala pesona yang dimiliki Kwon Jiyong jika dia memikirkan bahwa laki-laki itu sudah memiliki kekasih. Dan bahwa ia butuh untuk diperhatikan.

Lagipula, Taeyeon juga belum siap untuk membuka hati dan memiliki kisah cinta selayaknya orang pada umumnya. Tidak untuk saat ini. Tidak sekarang.

“Oppa, sepertinya Tiffany dan Bora sudah selesai. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” ajak Taeyeon saat ia mendapatkan pesan dari Bora kalau dia dan Tiffany sudah menyelesaikan tugas mereka dengan baik.

“Kajja, jangan sampai princess kita menunggu terlalu lama,” jawab Youngbae.

Princess, salah satu alasan kuat kenapa Taeyeon mau memberikan kehangatan dan perhatiannya pada Jiyong hanya sampai kekasihnya pulang ke Korea. Karena ia sadar, mereka berdua mirip.

~~~

“Annyeonghaseyo, Jiyong-ssi,” sapa Taeyeon dengan senyuman manisnya yang mengembang di wajah cantiknya. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya pada Jiyong, yang sedikit tercengang dengan sapaan pagi yang sudah beberapa hari ini tidak di dengarnya.

Awalnya Jiyong memasang wajah terkejut yang sangat kentara sekali, tapi detik berikutnya ekspresinya berubah menjadi datar, lebih kepada acuh tak acuh. Ia hanya mengangguk dan melepas jas serta dasinya lalu menyampirkannya di lengan sofa.

Melihat hal itu membuat Taeyeon sedikit mengernyit bingung. Bukankah ia sudah bersikap seperti biasanya? Apa ada yang kurang? Apa laki-laki itu masih merasa marah?

Taeyeon hanya mengangkat kedua bahunya dan segera mengambil jas juga dasi laki-laki itu lalu membawanya ke belakang untuk ia cuci. Setelahnya, ia segera menuju dapur dan memulai mengolah makanan untuk diberikannya pada Jiyong. Entah suatu kebetulan atau apa, Taeyeon menemukan bahan-bahan makanan yang dia perlukan di dalam kulkas dan lemari dapur Jiyong.

Tiga puluh menit kemudian, ia pergi menuju kamar Jiyong sambil membawa nampan berisikan semangkuk bubur dan segelas teh. Saat Taeyeon mengetuk pintu kamar laki-laki itu sebanyak lima kali, laki-laki tidak menjawabnya sama sekali. Taeyeon sedikit cemas dan akhirnya ia membuka kenop pintu itu secara perlahan.

Taeyeon memang sudah menduganya dari awal. Laki-laki itu tidak menjawab karena sedang terbaring di atas kasur king size-nya. Ia menutup kedua matanya dengan nafas yang agak memberat. Wajahnya juga memerah dan berkeringat, padahal AC dalam ruangannya hidup.

Taeyeon meletakkan nampannya di atas meja kecil di samping tempat tidur Jiyong dan mendekati tubuh Jiyong. Ia memegang dahi laki-laki itu dan benar saja, ia demam. Wajahnya berkeringat bukan karena ia kepanasan, ia justru mengalami keringat dingin. Dengan cekatan Taeyeon segera membenarkan posisi tidur Jiyong dan menyelimutinya dengan bedcover. Ia juga mematikan AC kamarnya.

Taeyeon duduk di tepi ranjang, di samping tubuh Jiyong yang masih memejamkan matanya, tapi Taeyeon tahu laki-laki itu tidak benar-benar tertidur.

“Kau harus sarapan dulu sebelum tidur, Jiyong-ssi,” ujar Taeyeon dengan suaranya yang pelan.

“Ambilkan saja obat di dalam laci lemari bajuku. Kalau obatnya sudah habis, kau bisa membelinya di apotek bawah. Mereka pasti tahu apa yang kubutuhkan. Tinggal katakan saja obat demamku sudah habis,” jawab Jiyong. Suaranya sangat pelan tapi Taeyeon masih mampu mendengarkannya.

“Kau tidak membutuhkan obat itu sekarang. Bangunlah dan aku akan menyuapimu sarapan. Ayo,” ucap Taeyeon dengan nada yang sangat tegas, seolah-olah ia tidak mau dibantah lagi. Yah, ia memang tidak ingin dibantah.

Jiyong membuka kedua matanya perlahan-lahan dan menatap Taeyeon dengan pandangan terkejut. Namun, kepalanya terlalu berat dan pusing untuk menunjukkan ekspresinya tersebut. Entah kenapa ia hanya bisa bangkit pelan-pelan, menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur dan menunggu suapan pertama dari housekeeper-nya.

Taeyeon tersenyum kecil. Jiyong memang benar-benar seperti seorang bocah. Dengan sekali statement tegas, ia mampu membuat seorang Kwon Jiyong tidak bisa berkutik.

“Minum saenggangcha (teh rebusan jahe) ini. Teh ini akan menurunkan demammu,” ucap Taeyeon sembari menyerahkan teh jahe itu pada Jiyong. Jiyong menerimanya dan meminumnya perlahan-lahan.

“Apa kau hidup di zaman Goguryeo? Atau zaman Joseon? Atau akhir Joseon? Atau pada zaman Dinasti Tang?” tanya Jiyong heran.

Taeyeon hanya memutar kedua bola matanya. “Setidaknya teh herbal ini tidak akan menyebabkan tubuhmu mengandung banyak bahan kimia karena terlalu sering mengonsumsi obat-obatan,”

“Sudah terlambat, aku sudah terlalu sering mengonsumsinya,”

“Tidak ada yang terlambat jika kau masih bisa memperbaikinya. Kalau kau terlambat, kau sudah dikubur di dalam peti, dan bukannya di sini,” jawab Taeyeon. “Kenapa kau bisa banyak mengonsumsinya padahal kudengar kau ini dokter,”

Jiyong mengulum senyum manisnya dan menghabiskan teh itu. “Setidaknya ini enak. Dan aku dokter spesialis anak. Itu juga hanya sebuah title,”

“Katakan ‘aah’,” ujar Taeyeon. Ia sudah mengambil buburnya dari atas nampan dan meletakkannya di atas pangkuannya.

“Aku bukan anak kecil,” balas Jiyong dengan pandangan kesal. Tapi ia tetap membuka mulutnya saat sesendok bubur itu sudah ada di hadapannya. “Bubur apa ini?”

Jeonbokjuk, bubur Abalone. Bagus untuk tubuh kita,” jawab Taeyeon dengan senyuman manisnya terukir begitu indahnya di wajahnya, membuat Jiyong tidak bisa mengalihkan pandangannya selama beberapa detik ke depan.

“Kau cocok jadi perawat,” komentar Jiyong.

Taeyeon tersenyum sambil memandang bubur Abalone yang tengah ia aduk-aduk. “Mungkin menjadi seorang perawat sudah menjadi kebiasaanku selama ini,”

“Kalau menjadi seorang perawat adalah kebiasaanmu, itu artinya aku tidak perlu menyandang sebagai seorang dokter dan mendalami ilmu kedokteran. Aku pasti akan tetap merasa baik-baik saja,” lirih Jiyong.

“Ne?” tanya Taeyeon, yang kurang mendengar dan mencerna ucapan laki-laki itu dikarenakan ia yang sibuk meletakkan mangkuk kosong bekas bubur Abalone ke atas nampan.

“Teh jahenya, aku mau lagi,” jawab Jiyong.

“Ah, aku akan segera kembali,” ujar Taeyeon. Ia mengangkat nampannya dan keluar dari kamar Jiyong.

Jiyong menatap kepergian gadis itu dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Lalu, ia menghembuskan nafas panjang dengan kasar.

“Apa aku ini memang laki-laki brengsek yang tidak berperasaan? Kau sudah memiliki kekasih, Kwon Jiyong. Kenapa kau malah lebih mengagumi orang lain?”

Ya, Kwon Jiyong tak perlu waktu lama untuk menyadari perasaannya sendiri. Ia seorang laki-laki yang memiliki pengalaman dengan seribu orang wanita, tentu ia tahu apa yang tengah dialaminya sekarang ini. Ia hanya merasa menyesal karena mengingkari janjinya pada Youngbae dan Tiffany untuk tidak bergerak terlalu jauh pada gadis itu serta merasa telah mengkhianati kekasihnya sendiri.

Dan merasa menyesal karena ia tidak bertemu dengan Kim Taeyeon terlebih dulu, melainkan Bae Joohyun.

“Mungkin aku memang laki-laki tak berotak, lebih tepatnya,”

~~~

Taeyeon masuk kembali ke dalam kamar Jiyong tidak lama setelah ia mengantarkan nampan tadi ke dapur. Ia juga membawa teh saenggangcha untuk laki-laki itu.

“Jiyong-ssi, ini tehmu. Minum dulu dan setelah itu kau boleh tidur. Aku pulang nanti kurang dari jam 11 dan aku tidak akan membangunkanmu jika kau belum terbangun,” ujar Taeyeon. Ia duduk di tepi ranjang Jiyong, di samping tubuhnya yang sedang memejamkan kedua matanya.

“Letakkan saja teh itu di atas meja, dan duduklah di samping kepalaku,” pinta Jiyong. Taeyeon ingin menolak, pekerjaannya masih banyak karena ia menghabiskan sebagian waktunya di dapur hanya untuk membuatkan Jiyong sarapan dan teh herbalnya.

Namun, melihat wajah Jiyong yang memerah dan kedua matanya yang memelas, tapi tetap tidak menutupi pesona hazelnya, akhirnya Taeyeon luluh juga. Ia memang tidak pernah bisa membiarkan orang-orang seperti Jiyong terabaikan begitu saja, apalagi setelah ia tahu bagaimana keadaan psikis laki-laki ini sejak kecil.

Ya, keadaan psikis yang cukup terguncang.

“Untuk apa aku duduk di sini?” tanya Taeyeon heran saat ia sudah duduk menyandar di kepala ranjang, berada tepat di samping kepala Jiyong.

Bukannya menjawab, Jiyong malah meletakkan kepalanya di atas pangkuan Taeyeon dan melingkarkan kedua lengannya memeluk pinggang gadis itu dengan sangat erat.

Taeyeon terkejut bukan kepalang dengan tindakan mendadak Jiyong tersebut. Ia ingin melepaskan pelukannya, kalau bisa ia juga ingin melemparkan kepalanya agar tidak berada di atas kedua pahanya lagi.

“Hanya sampai aku tertidur,” bisik Jiyong, yang menyadari tubuh gadis yang sedang dipeluknya mulai menegang dan seperti ingin mencampakkan tubuhnya dari atas tempat tidurnya sendiri. “Jebal, sebentar saja. Setelah ini kau bisa langsung pulang tanpa bekerja dulu. Besok kau bisa melakukannya. Jebal,”

Dengan berat hati akhirnya Taeyeon menurut lagi. Dalam hati ia berjanji bahwa ini adalah pertama dan terakhir kalinya Jiyong mendapatkan apa yang dia mau, hanya karena ia sedang sakit dan hanya karena Taeyeon tahu apa yang menjadi kekurangan laki-laki ini. Hanya untuk kali ini.

Nafas gadis itu tercekat dan jantungnya mencelos menyakitkan saat Jiyong mendekap pinggangnya begitu posesif. Kepalanya menggeliat mencari posisi nyaman di atas pangkuan Taeyeon dan ia tidak menemukannya. Hingga gadis itu tanpa sengaja membelai rambut hitam Jiyong yang lembut. Membelainya dengan sayang.

Jiyong berhenti menggeliat dan ia tampak sangat menikmatinya. Bahkan ia sangat menyukainya dan memilih membenamkan wajahnya yang merona di perut Taeyeon. Taeyeon tersenyum manis melihat tingkah Jiyong yang memang kekanak-kanakkan. Gadis mungil itu tersenyum sambil terus membelai rambut Jiyong tanpa menyadari adanya sensasi aneh dan gila mulai membakar dirinya.

Mulai membakar kedua insan itu.

-TO BE CONTINUED-

See you soon~

jangan bosen buat comments yaakk^^

Advertisements

62 comments on “Beautiful Lies (Chapter 2)

  1. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Beautiful Lies (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s