[FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 2)


[Freelance] HOLD ME TIGHT Chapter 2

Author: FIVE

Rating: PG-17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Drama

Main Cast:

Kim Taeyeon

OH SEHUN

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a PLAGIATOR.

Author Note:

WARNING! FF INI SANGAT PANJANG, MEMBOSANKAN, BANYAK KALIMAT KASAR, PASARAN DLL

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview : Chapter 1

*

*

*

“penasaran dengan ciuman bukan?” bisik sehun pelan, persetan dengan semunya, sepertinya sehun benar benar mabuk atau bara api yang membakar hatinya saat ia mendengar bahwa taeyeon akan mencium seseorang dengan nama bebek besok? Oh tidak tidak. Jika memang itu ciuman pertama taeyeon, sehun akan sangat dengan senang hati untuk menerimanya. Dan hei, bibir kecil pucat dengan sedikit warna merah itu selalu menggodanya belakangan ini. Bibir dengan kalimat kasar yang selalu terlontar disana, namun sialan sangat menggoda itu. Kenapa ia harus mencari pria jauh jauh sementara dirumahnya ada seorang pria lajang? Hei apa karna sehun, pria yang sering ia panggil dengan embel embel ahjussi? Dan hei, jangan ingatkan bahwa sehun itu ahjussi.

Suara sehun yang serak, entahlah suara sehun terdengar sangat serak ditelinga taeyeon, dan hei… lihat kemeja putih pria itu terlihat sangat berantakan dengan keringan di baju, apa pria ini baru saja berlari?

Taeyeon terdiam, mulut kurang ajarnya bisa dibungkam hanya dengan kecupan ringan? Seberpengaruh apa oh sehun terhadap dirinya?

Tubuh taeyeon meremang saat tangan kanan sehun meraih tengkuknya dan tangan kirinya berada di pinggang kecilnya, merapatkan tubuhnya dan juga wajahnya. Oh sial, taeyeon bahkan bisa mencium perpaduan aroma mint dan wine dari mulut pria itu, sangat menyegarkan? Dan aroma tubuh pria itu benar benar membuat taeyeon lupa jika ia harus segera melarikan diri dari pria ini jika tak mau rasa yang selama ini taeyeon hindari semakin besar.

“first kiss” usai berucap, bibir lembut sehun langsung mendarat di atas bibir taeyeon, taeyeon terkejut saat menyadari jika ini bukan kecupan singkat seperti halnya tadi, pria itu menekan bibirnya di depan bibir taeyeon, hanya menekan sebelum akhirnya taeyeon yang membuka matanya terkejut melihat sehun dengan bibir yang masih menempel dengan bibirnya dan perlahan membuka matanya, menatap taeyeon lembut? Benarkah?

“sialan, kurasa aku tak bisa menahannya lebih lama lagi! Ini sangat manis” sehun berucap dengan sangat santainya di depan bibir taeyeon, bahkan bibir pria itu sesekali mengenai bibir taeyeon, sebelum akhirnya Sehun menutup matanya, dan kali ini, ia meraup dengan rakus bibir taeyeon.

Dan percayalah, taeyeon berusaha sekuat tenaga berdoa dalam hati agar dirinya cepat sadar jika hal yang baru saja ia alami hanya mimpi, sungguh ia tak ingin membuat perasaannya semakin dalam untuk pria yang ia panggil ‘ahjussi’ itu. namun sialnya, hatinya berkata lain, ia menginginkan ciuman ini, ah tidak atau mungkin karna ini ciuman pertamanya? Taeyeon bahkan tak tau apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia diam dan menikmati atau ikut membalas seperti apa yang sehun lakukan sekarang? Oh hanya sekedar memikirkan apa yang harus ia lakukan sudah membuat kaki taeyeon mati rasa, bahkan untuk sekedar berdiri pun kakinya tak mampu jika bukan karna tangan Sehun yang berada di pinggangnya, Taeyeon yakin ia akan segera merosot ke lantai detik itu juga.

“ah brengsek, kau benar… hhh aku brengsek”

Merasa sedikit puas dengan apa yang baru saja ia dapatkan, sehun melepas semua tangannya yang semula melekat tepat dipinggang dan juga leher taeyeon kemudian menjauhkan badannya dengan langkah enggan, hei sebenarnya ini tak bisa sepenuhnya di sebut menjauh, karna pada faktanya Sehun hanya mundur 1 langkah dari arah taeyeon berdiri.

“woah, ahjussi seperti apa yang mencium keponkannya?”

DEG

DEG

DEG

Jantung taeyeon berdegum kencang hanya karna mendengar penuturan terakhir yang keluar dari mulut tipis pria itu. entah apa yang salah dari kalimat yang baru saja diucapkan Sehun, semuanya fakta dan sialnya, jantung taeyeon meremas pelan dadanya hingga membuat ujung hatinya nyeri mendengarnya. Dan well, taeyeon rasa hatinya mulai memberontak dengan kalimat Sehun, dengan fakta yang ada, bahwa mereka berada di hubungan yang tak seharusnya, ini salah… taeyeon salah… Taeyeon rasa ia harus memberikan sebuah penghargaan untuk Sehun, pria itu berhasil membuatnya terbang dan menjatuhkan dalam hitungan beberapa detik kemudian, haruskah taeyeon bertepuk tangan sekarang?

Jika taeyeon boleh jujur, ia sangat suka jika Sehun mengupat kasar padanya atau pria itu mencacinya, ah menurunkannya di tengah jalanpun taeyeon rasa hatinya tak masalah, namun hanya karna perkataan Sehun yang lagi lagi sialannya benar itu membuat hatinya seolah hancur berkeping keping, seakan taeyeon yang baru saja dilambungkan ke langit tiba tiba di lemparkan bahkan sampai ke dasar tanah, menyedihkan. Hei, taeyeon tau sehun sedang mabuk, nafasnya sangat kentara sekali bahwa pria itu baru saja meminum bergelas-gelas wine dan mungkin saja ia tidak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, jika ia sadar ia mencium taeyeon, mungkin saja… ah tidak tidak…

Tanpa sadar, cairan bening menetes perlahan di pipi pucat taeyeon, ah tidak, lagi lagi ia menangis, dan sungguh sialannya lagi lagi karna pria bernama Oh Sehun yang berstatus sebagai Ahjussinya itu. apa yang ia harapkan selama ini? Sehun menyukainya? Atau sehun membencinya? Karna pada faktanya taeyeon sadar bahwa keinginan hatinya berbeda dengan apa yang diinginkan oleh logikanya. Yang benar saja, mana ada seorang ahjussi, teman ayahnya menjadi kekasihnya? Ani suaminya? Ah tidak itu terlalu jauh, setidaknya berfikir tentang saling mencintai terlebih dahulu. Sehun tak mungkin menyukai gadis bar-bar sepertinya, dan well sekalipun sehun, anggap saja jika suatu saat nanti sehun benar benar menyukainya, dan perasaannya terbalas… percayalah bahwa dunia tak akan pernah meninggalkan mereka berdua, semua salah. Tak ada orang didunia ini yang akan menyetujuinya. Tidak tidak, pikiran taeyeon terlalu jauh melangkah malam ini…

“kembalilah ke kamarmu ahj…” Sial. Jantungnya kembali berdenyut saat otakknya memerintahkan mulutnya untuk berucap kata ahjussi, apa jantungnya hancur separah itu? “sialan, kau mabuk”

“tidak, masuklah duluan” Sehun sepertinya mulai terlihat setidaknya sedikit sadar, terlihat dari raut wajahnya yang mulai terlihat bingung, mungkin saja otaknya sedang berusaha kuat untuk menghilangkan efek alkohol yang menghantuinya. Sialnya, Sehun meringis pelan saat sadar apa yang baru saja ia lakukan dan yang lebih parah apa yang baru saja terlontar dari mulutnya. Well, sehun rasa ia masih dalam pengaruh alkohol karna sampai detik ini tidak menyesal karna sudah merasakan bibir manis kepunyaan taeyeon, yang ia sesali saat ini adalah mulutnya yang keterlaluan tajamnya itu menengaskan hal hal yang membuat eksperesi taeyeon berubah menjadi jauh lebih kaku dari biasanya, dan satuhal, sehun tidak buta, ia melihat air mata gadis itu jatuh di pipi kanannya sebelum dengan kasar ia menepisnya.

Ia membuat taeyeon menangis, lagi?

“kau saja, kembali ke kamarmu, brengsek!”

Seketika Sehun merasa bahwa hatinya memanas hanya karna melihat bibir taeyeon yang kembali terbuka dan membantahnya, hei tak bisakah ia mendengarkan Sehun kali ini? Sehun rasa ia harus segera bermusuhan dengan alkohol yang berhasil menjungkirbalikkan pikiran Sehun, dari kehilangan logika, logikanya kembali, kehilangan logika lagi, kembali lagi, dan well sekarang logikanya kembali menghilang ditambah dengan kehadiran hawa nafsunya, hei jangan lupa jika Sehun pria dewasa.

“sialan cepat masuk ke kamarmu! kau harus masuk ke kamarmu, pria brengsek”

“KIM TAEYEON, MASUK KE KAMARMU!”

Demi Tuhan, Sehun bahkan tak tau apa yang akan terjadi jika taeyeon masih berada di dalam jangkauan matanya. Dan well, ia bahkan masih merasakan sensasi manis yang ia dapatkan barusan. Sepertinya menjadi pria dewasa akan menyulitkan Sehun disaat saat seperti ini, dan taeyeon sama sekali tak mengerti, ia bahkan bertahan sekuat tenaganya agar tidak berjalan mendekat ke arahnya, mendekap erat tubuh wanita itu dan membiarnya berada di bawah kuasanya hingga malam berakhir. Lihat, hanya dengan memikirkannya saja membuat Sehun berfikir ia akan segera mandi air dingin jika mabuknya, atau paling tidak pusingnya berkurang.

“sialan, kau membentakku lagi! Apa masalahmu!”

Astaga, apa perlu malam ini Sehun meladeni hormone remaja labil seorang Kim Taeyeon? Ia sudah tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, ia tak sekuat itu untuk bisa menahan gejolaknya. Yang ia inginkan saat ini, taeyeon mengerti dan segera bersembunyi di balik kamarnya dengan pintu terkunci rapat.

“masuk dan kunci pintumu kim. Taeyeon.”

“wae? Kau mau mengusirku malam kali ini? kalau begitu aku akan pergi…”

“kumohon, jangan biarkan aku melewati batas malam ini, kumohon”

Taeyeon membelalakannya matanya kaget. Melewati batasnya? Apa benar Sehun akan mengusirnya malam ini? Apa tak cukup olahraga jantungnya dengan sikap Sehun beberapa menit yang lalu, menciumnya dan menengaskan bahwa mereka hanya ahjussi dan keponakan? Woah Oh Sehun kau benar-benar… “kau menciumku dan sekarang mengusirku, brengsek kau Oh Sehun!” dengan kasar taeyeon berjalan cepat menuju kamarnya, mengambil ransel besar hitam legamnya dan menyampirkan tas tersebut ke punggungnya. Apalagi yang ia lakukan? Tentu saja mengikuti perintah sehun, pergi dari sini.

Belum sempat taeyeon mengambil mantel hitamnya, tangan besar dan dingin merengut ranselnya, menghempaskan ranselnya ke lantai dan mendorong tubuh taeyeon hingga ia berhasil jatuh di atas ranjangnya, dan lagi lagi punggung taeyeon harus sakit karna membentur laptop yang tadi siang ia letakkan di atas ranjangnya. Belum sempat niat protes keluar dari mulut taeyeon, badan besar Sehun sudah berada tepat di atas badannya, tak sepenuhnya menidih karna taeyeon sama sekali tak merasakan beban berat dari tubuh Sehun, ia rasa Sehun menahannya dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisi kepala Taeyeon. Dan lagi lagi, jarak wajah mereka bahkan bisa diukur dengan penggaris ukuran 10 cm.

“bodoh”

“ne?” Sehun mabuk ternyata jauh lebih menyebalkan dari pada Sehun kaku dingin dan pendiam yang selama 4 tahun ini ia temui, dan taeyeon rasa otaknya mulai ikut bekerja sama dengan jantungnya saat otaknya berfikir betapa menggodanya sehun saat ini, hei matanya terlihat sangat lelah dan setengah mengantuk, dengan rambut acak-acakan ditambah dengan keringan kecil di kemeja yang ia gunakan, dan sialnya… hal tersebut sama sekali tak mengurangi kerupawanannya, justru menambah rupa Sehun, layaknya sebuah patung dengan pahatan sempurna melebihi patung yunani kuno yang pernah taeyeon lihat. Anggap saja kali ini taeyeon terlihat sangat berlebihan, tapi satuhal, sehun benar benar tampan untuk ukuran seorang pria yang berstatus lajang.

“aku pria dewasa… aku mabuk… dirumah ini, hanya ada kau dan aku” taeyeon rasa bulu kuduknya mulai meremang saat telinga menangkap dengan sangat jelas suara berat yang keluar dari mulut Sehun, bahkan suara itu terdengar sangat berbisik dan hell… kenapa telinga berfungsi dengan baik di saat seperti ini… dan sialnya, otak taeyeon yang masih tersita oleh Sehun, semuanya, bahkan hatinya hanya bisa diam… hei apa maksud kalimat Sehun? Apa itu barusan kalimat ancaman bahwa ia akan mengsuir taeyeon?

“kalau kau mau mengusirku, bilang saja langsung, aku akan per…”

“sialan, SIAPA YANG MENGUSIR SIAPA? KENAPA YANG ADA DIOTAKMU HANYA KATA USIR?” astaga, bagaimana bisa Sehun menahan dirinya sendiri saat ini jika posisinya sudah seperti ini? memikirkan apa yang bisa ia lakukan dengan taeyeon saat ini sudah membuat otaknya berdenyut nyeri dan membuat keinginannya untuk mandi air dingin semakin meningkat.

Sehun berteriak lagi, padanya. dan well taeyeon rasa ia jauh lebih menyukai sehun yang normal dari pada sehun versi mabuk yang ada di depannya ini, ini menyebalkan dan sialan. “lalu apa?”

“bodoh. Aku pria dewasa… punya kebutuhan… kau gadis yang beberapa bulan lagi akan dewasa, tapi kenapa kau sebodoh ini?” Sehun menghela nafas pasrah, percuma, sepertinya otak taeyeon yang terlalu polos untuk sekedar mengerti maksudnya atau otak Sehun yang terlalu mesum? Apa sejelas itu perbedaan umur mereka? Hei Sehun hanya tua 8 tahun, ah tidak jika dihitung dengan baik hanya 7 tahun, karna sehun belum berulang tahun di tahun ini. “kau lihat… aku baru saja menciummu, bahkan detik ini aku masih bisa melakukannya… tapi aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya… otakku tidak bisa mengendalikan diriku…”

“melakukan lebih? Menamparku?” potong taeyeon dengan terbata bata. Well, ia memang sering melawan Sehun, tapi apa benar Sehun akan menamparnya? Tapi apa salahnya? Dan well, taeyeon bahkan lupa awal pertengkaran mereka hari ini entah karena apa.

“astaga KIM TAEYEON, kau menonton adegan diatas umur disetiap movie mu itu tapi kau sama sekali tak tau?”

“mana aku tau, kau mempercepat movienya jika adegan penting itu, aku bahkan tak tau apa yang terjadi selain itu, apalagi selain berciuman?”

“apa yang kau fikirkan saat aku menunggumu pulang dan kau melihat minji memegang segelas wine?” Tanya Sehun dengan nada menggoda, hei tak ada masalahnya jika kali ini Sehun ingin menggoda taeyeon sedikit, ia terlalu polos untuk ukuran gadis yang hampir dewasa, dan well bukankah waktu itu Taeyeon sangat keras kepala beraggapan bahwa ia dan minji waktu itu akan melakukan sesuatu yang taeyeon ucapkan dengan kalimat…

“i-i-t-u… itu” jawab taeyeon gugup. Oh tidak, itu? sejujurnya taeyeon tak tau apa yang dimaksud itu, tiffany hanya bilang padanya jika ‘itu’ disini maksudnya seorang pria dan wanita tidur dikamar tanpa busana dibalik selimut, berciuman dan wanitanya akan mengelurkan suara yang ekm aneh? Sepertinya jika ia masih selamat dari Sehun taeyeon akan langsung menghampiri tiffany dan menanyakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘itu’. Ah movie? Taeyeon hanya membual pada Sehun saat itu, ia bilang ia bahkan pernah menonton yang lebih bukan? Lebih apanya jika saat pertengahan movie ia selalu tertidur dan berakhir dengan tiffany yang lagi lagi menceritakan akhir dari movie tersebut. Dan jika dimovie itu ada ‘itu’, yang taeyeon lihat selama ini hanya berciuman, dan tidur tanpa busana dibawah selimut yang berwarna putih, taeyeon bahkan sampai detik ini tidak tau apa mereka lakukan dibalik selimut itu.

Sehun tersenyum tipis. Benar. Percuma menjelaskannya pada taeyeon, dan Sehun rasa ia sudah benar benar berada di ambang batasnya, dan ia harus segera kabur dari hadapan taeyeon sebelum otak taeyeon akan ternodai oleh nya. Ah tidak, semua salah Chanyeol, Chanyeol yang mengajari Sehun hal hal yang memang harus diketahui pria dewasa, tapi Sehun rasa ini bukan saat yang tepat baginya untuk menyumpahi Chanyeol.

Sehun mendudukkan dirinya di samping ranjang taeyeon, mengusap kasar wajahnya dan merengut rambutnya kesal, berusaha menahan dirinya untuk sedikit lebih lama lagi. “pertahankan pikiran polosmu iitu sebelum aku merusaknya suatu hari ini, selamat malam” baik, Sehun menyerah, dengan cepat ia berdiri dari duduknya, dan melangkah menjauh. Sebelum tangan taeyeon menahan langkahnya… apa lagi kali ini?

“apa maksudmu, sialan aku tidak bodoh”

Berdoalah Semoga Taeyeon masih bisa selamat dari Sehun, apa ada cara lain untuk meberi tau taeyeon tentang hal itu? sepertinya Sehun melupakan sesuatu tentang dirinya yang sering dipanggil oleh guru bilogi taeyeon karna yeoja itu selalu membolos di jadwalnya.

“kapan ujian universitas? Seminggu lagi? Jadi mulai dari besok hingga minggu nanti adalah minggu tenang mu sebelum ujian? Datang dan belajar di kantorku! Tak ada bantahan atau uang jajanmu tak akan pernah masuk ke dalam kartu rekeningmu itu, selamat malam, dan aku mohon biarkan aku pergi! Sialan aku tak bisa menahannya lagi!”

“apa hubungan ‘itu’ dengan ujianku Sialan kau Oh Sehun!”

***

Shit. Taeyeon rasa apa yang diucapkan Sehun 4 hari yang lalu padanya hanya bualan belaka, tapi faktanya tidak. Hari ini, hari ke empat taeyeon berada di ruangan dengan tulisan president di depan pintu depan sana. Sialan. Sehun benar benar membuatnya melakukan apa saja yang ia perintahkan. Lihat, bahkan sejauh mata taeyeon memandang yang ditangkap retina matanya hanya ruanngan dengan rak buku, sebuah sofa dan meja tempat dimana Taeyeon duduk, kaca besar yang membentang di depan sana, dan beberapa pernak pernik khas kantor, dan tentu saja, khas pria lajang diusia mapan, apalagi jika bukan warna ruangan ini yang berpatokan pada warna hitam dan putih. Ah taeyeon melupakan sesuatu, ia melupakan meja besar di tengah runagan dengan kursi kerja yang ia sangat tau bahwa semua itu tempat dimana Sehun sering menghabiskan harinya berjam jam diruang ini.

Rasa bosan kembali menghadangnya saat taeyeon melirik sekilas jam dinding yang terletak di dinding dekat dengannya. 12.30, well sepertinya ini sudah masuk jam makan siang, dan pria bossy yang menyuruhnya menunggunya 1 jam selama rapat, hanya bualan semata. Sehun pergi tepat pukul 10 pagi ini, dan sampai detik ini pria itu bahkan belum menampakkan ujung sepatunya ke hadapan taeyeon. Lihat, ini sudah lewat satu setengah jam.

Taeyeon mendengus kesal saat mengingat bagaimana ia melewati harinya selama beberapa hari ini di dalam ruangan ini. hei tak ada yang salah dengan ruangan ini, yang salah hanya pria yang selalu menyuruhnya duduk diam di sofa dengan berbagai buku pelajaran terkhususnya biologi, pelajaran yang sama sekali tak pernah bersahabat dengan taeyeon, dan akan memberinya pertanyaan dimana taeyeon harus menjawabnya dengan benar, well… Sehun akan mengujinya saat jam makan siang dan selebihnya pria itu duduk di kursi kebesarannya dengan berkas berkas kantor yang dalam kurun waktu 1 jam silih berganti. Dan taeyeon menyadari satu hal, ahjussinya itu ternyata benar benar seorang pria yang sibuk. Bahkan tak jarang taeyeon melirik Sehun yang sesekali mendengus kesal, meregangkan ototnya dan menutup matanya beberapa menit sebelum akhirnya bergelut lagi dengan semua kertas kertasnya itu. bahkan untuk makan siang saja, Sehun selalu menyuruh sekretaris Baek untuk membawa makanan siap saji dari berbagai restoran dan memakannya di dalam ruangan ini.

Apa sehun selalu sesibuk ini? dan untuk beberapa menit Taeyeon sempat tertegun saat mengingat Sehun yang selalu datang ke sekolahnya saat taeyeon membuat masalah, dalam kata lain, taeyeon selalu merepotkan pria sibuk itu, dan pria itu masih dengan sempatnya mendatangi sekolahnya karna hal konyol yang ia perbuat. Bukankah Sehun seorang ahjussi yang bertanggu jawab? dan sialnya, entah memang taeyeon yang kurang ajar atau apan, ia sama sekali tak suka dengan kalimat yang baru saja ia pikirkan.

“holla Tuan Oh yang terhormat! What’s u…” Chanyeol, pria dengan ukuran tubuh yang sangat ingin menyamai tiang listrik itu menghentikan kalimatnya saat melihat kursi yang selalu di duduki Sehun kosong, dan mata lebarnya menatap seorang wanita yang ia ketahui gadis bar-bar kesayangan Sehun tengah duduk di sofa yang biasanya ia duduki, menatapnya dengan tatapan jengkel dan kesal. Bukankah yang kesal disini harusnya Chanyeol? Itu sofa nya, dan secepat itukah Sehun mengganti dirinya yang memang selalu menemani jadwal makan siang Sehun dengan gadis bar-barnya itu?

“ahjussi sedang rapat”

“apa yang kau lakukan disini?” seolah tak peduli dengan apa yang baru saja taeyeon ucapkan, Chanyeol kembali bertanya dengan langkah pelan dan mata penuh selidik menatap taeyeon.

“aku? B.e.l.a.j.a.r” jawab taeyeon dengan penuh penekanan di setiap hurufnya. Yang benar saja, sudah jelas meja ini penuh dengan buku pelajarannya, mana mungkin taeyeon duduk disini untuk bermain main, dan jika ia memang ingin bermain, taeyeon sangat yakin 100% ia tidak akan memasukkan tempat ini kedalam nama tempat bermain favoritenya.

“bukan itu maksudku, kenapa kau disini?”

“tanyakan saja pada temanmu itu, kenapa aku disini!”

Ini tidak benar, berdebat dengan taeyeon hanya akan membuat tensi Chanyeol naik dan bisa bisa ia terkena Stroke dalam usia mudanya, dan itu sama sekali tidak baik untuk Chanyeol yang masih sangat ingin menikmati masa masa lajangnya “pria itu tidak disini, makanya aku Tanya padamu”

“kau tidak punya ponsel ahjussi? Telpon saja dia dan bilang untuk segera mendepak ku keluar dari ruangannya ini!”

“kenapa kau memanggil ku ahjussi, kita hanya beda 9 tahun! Aku masih cocok di panggil oppa, arraseo!”

Dalam hati, Chanyeol menuangkan berbagai macam kalimat pujian yang ia haturkan untuk temannya –Oh Sehun- karna pria itu bisa sabar menghadapi gadis bar-bar ini, Chanyeol yang hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit saja sudah membuat darahnya mendidih hanya karna mendengar jawaban yang keluar dari mulut taeyeon,dan mulai detik ini, Chanyeol rasa ia tak akan menanyakan hal apapun itu pada seseorang yang bernama taeyeon, baik kim taeyeon didepannya yang masih menatapnya sengit ataupun kim taeyeon di berbagai Negara lainnya. Tak akan pernah.

Dengan langkah pelan, Chanyeol perlahan berjalan mendekat dan duduk di sisi kiri sofa, well tentu saja agar ia tidak duduk dalam radius dekat dengan taeyeon, dan alasan utamanya tentu saja pria dengan marga Oh itu akan langsung uring-uringan tanpa sebab padanya.

Taeyeon menghela nafas pelan saat sofa yang ia duduki berdecit pelan. Apa yang dilakukan pria itu disini? Well taeyeon sudah pernah bertemu Chanyeol beberapa kali dirumah Sehun, tentu saja, pria ini selalu mencuri coklat yang taeyeon simpan di dalam sana dan memakannya tanpa rasa bersalah dengan alasan ‘aku-kira-ini-punya-sehun’ membuat taeyeon hanya melongo menatap Chanyeol. Ialu sekarang apa? Apa mereka mempunyai hubungan seakrab ini untuk duduk bersama di sofa yang sama?

Taeyeon perlahan mengambil buku dengan tulisan besar biologi yang sejak awal ia keluarkan dari dalam tas hanya ia letakkan begitu saja tanpa menyentuhnya sedikitpun. Well, taeyeon tak suka dengan pelajaran biologi, selain karna gurunya juga guru baru yang selalu mencari gara gara dengannya untuk bisa bertemu Sehun, selanjutnya karna tentu saja menurut taeyeon tak ada gunanya menghafal hal-hal dengan nama nama alangkah ajaib dan membuat lidah taeyeon kelu, untuk mengingat nama berbagai jenis bakteri, virus dan lain sebagainya itu saja sudah membuatnya lidahnya lelah, bagaimana dengan otaknya? Dan sialnya taeyeon selalu berhasil lulus ujian biologi setiap diadakannya ulangan maupun ujian, keberuntungan? Tentu saja, apa lagi.

Dengan kasar, taeyeon membalik halaman buku itu, dan ini sudah hari ke empat taeyeon belajar tentang biologi di kantor sehun, karna sehun hanya mengajarinya tentang biologi, dan sudah beberapa bab yang pria itu paksa untuk taeyeon hafal, dan ini adalah bab terakhir yang harus taeyeon hafal. Jujur saja, jika ia tidak melihat Sehun duduk di kursinya sana, taeyeon sama sekali tak punya niatan untuk sekedar menyentuhnya, taeyeon sangat anti dengan biologi. Dan sungguh sialnya, ahjussinya itu memaksaanya untuk belajar di kantornya, dengan alasan, well ia pria sibuk yang tidak bisa mengajar taeyeon jika tengah dirumah. Bodoh bukan, kenapa taeyeon dengan polosnya mau mengikuti perintah sehun yang notabenya selalu ia langgar dan ia bantah itu? uang jajan. Hei, taeyeon akhir akhir tengah menabung untuk bisa pergi berlibur dengan donghae ke pulau jeju, bukankah itu hal yang lumrah untuk seorang siswi kelas menengah atas sehabis ujian? Jika Sehun memotong uang jajannya, tentu saja ia tak akan bisa menginjakkan kakinya di pulau jeju.

“apa yang kau baca?”

Taeyeon yang asik membolak balik bukunya dengan pikiran berkelana entah kemana pun perlahan tertarik dan melirik tajam kea rah Chanyeol yang balas menatapnya dengan tatapan penasaran yang ia punya, khas seorang Park Chanyeol. “apalagi? Tentu saja buku pelajaranku”

Chanyeol awalnya sama sekali tak berminat untuk mengajak taeyeon berbincang walau hanya sedetik, dan sialnya mulutnya ini bukan tipikal mulut pendiam, paling lama Chanyeol hanya bisa diam selama 20 menit, selebihnya tentu saja berbicara. “aku tau itu buku pelajaranmu, buku apa itu?”

“B.i.o.l.o.g.i” jawab taeyeon singkat, dan penuh penekanan disetiap huruf yang ia lontarkan, ia hanya berharap Chanyeol bisa diam dan tak bertanya lagi karna taeyeon sedang tidak berminat untuk meladeninya.

“bab tentang apa, kau tau aku sangat suka biologi” tutur Chanyeol dengan binar binar penuh kebanggaan yang menghiasi matanya, tanpa memperhatikan muka masam yang taeyeon berikan padanya, Chanyeol perlahan mendekat dan mengambil buku yang dipegang taeyeon.

“system reproduksi? Hei hoooo ini bab kesukaan ku, mari kuajari”

“tidak mau!”

“wae? Karna aku bukan Oh Sehun? Hei asal kau tau saja, Sehun sangat payah pada bab ini karna ia sangat kaku, dingin dan gila kerja, tidak sepertiku yang sangat berpengalaman”

Berpengalaman? Apa memperlajari bab itu harus mempunyai pengalaman? “pengalaman? Kalau begitu aku tak usah susah susah membacanya karna aku tak punya pengalaman, aku bisa pulang dan tid…”

“pulang? Tetap diam disitu dan baca bukumu”

Suara bass, hei tentu saja. Dua orang yang berada di dalam sana sangat tau siapa pemilik suara itu, Oh Sehun. Dengan langkah pelannya ia mulai mendekat dan duduk di depan Taeyeon dan Chanyeol yang memilih untuk menghentikan pembicaraan mereka.

“apa yang hyung lakukan disini?”

Seketika, chanyeol merasa bulu kuduknya merinding seketika mendengar Sehun berbicara dengan nada yang sangat jauh dari kesan seorang Oh Sehun, bukankah sehun selalu berteriak ataupun menyumpaihinya? Ah atau paling tidak ia akan berbicara dengan nada dinginnya, Apa yang duduk di depannya ini Sehun? Dan well, pertanyaan macam apa itu, bukankah mengunjungi kantor Sehun sudah masuk ke dalam kegiatan rutin Chanyeol setiap harinya di hari kerja? Selain karna ia malas untuk sekedar makan siang sendiri, Chanyeol juga harus mengakui jika Kantin gratis yang disediakan Café di kantor Sehun memiliki makanan dengan kualitas hotel bintang lima. Entahlah, mungkin karna makanan yang ia konsumsi gratis, makanya makanan itu terasa sangat ‘wow’ dimulut Chanyeol. “hei bung, aku selalu kesini setiap hari, ah tidak 3 hari yang lalu aku tidak kesini karna aku tidak bekerja”

“benarkah? pergilah makan di bawah sana, aku akan makan nanti”

“kau menyuruhku makan sendiri? Yang benar saja, apa kau tak tau bahwa aku tak suka makan se…”

“Chanyeol Ahjussi, makan denganku saja, kau tau, aku dari tadi pagi hanya diberika makan roti, telur mata sapi gosong dan segelas susu, ah menunggu seseorangg…”

“diam disitu dan baca bukumu kim taeyeon!”

Sehun menatap Taeyeon yang mendengus dan mengupat pelan namun tetap melakukan apa yang Sehun perintahkan, ini saatnya mengusir Chanyeol agar taeyeon bisa serius.

“hyung, pergilah”

“kau mengusirku? Shireo aku akan mengajari Kim Taeyeon kali ini, hei bung itu bab reproduksi, dank au tau akan sangat pintar jika menyangkut hal re…”

“PARK CHANYEOL!” geram Sehun, bahaya. Jika Chanyeol berlama lama disini, ia bisa saja mengajari Taeyeon hal yang tak Seharusnya, atau belum seharusnya taeyeon ketahui dalam usianya yang masih belum dewasa, dan well. Tingkat kemesuman otak Chanyeol lebih parah 100 kali lipat dari pada otak Sehun. “mau kupinjamkan mobilku? Kudengar mobilmu rusak dan kau kesini diantar oleh Suho hyung?”

“mobil? Mobilmu yang baru itu? Oke call!!!” jawab Chanyeol dengan semangat. Jujur saja ia sama sekali tak punya minat untuk mengajari Taeyeon walaupun biologi dibagian bab itu adalah hal yang paling ia sukai, tapi hei… Chanyeol rasa ia masih sangat sangat menyayangi tensinya dan ia sama sekali tak ingin terserang penyakit yang bernama hipertensi itu. Chanyeol hanya berminat menguji Sehun, dan lihat. Ia langsung menawarkan mobil barunya yang bahkan dulu Chanyeol memohon mohon untuk meminjamnya saja Sehun tak memberikannya izin, selain karna kemampuan mengemudi nya yang membuatnya harus pergi ke bengkel setidaknya satu kali sebulan, Seorang Oh Sehun sangat menyukai mobilnya itu, dan karna ingin mengusirnya dari Kim taeyeon, pria itu meminjakannya? Setidaknya Chanyeol mendapatkan hipotesis baru, dimana Sehun menyayangi Taeyeon melebihi mobil Sportnya.

Dengan pasrah, Sehun melempar kunci mobilnya kearah Chanyeol dan dalam hitungan menit pria itu menghilang dibalik pintu ruangannya tanpa berbicara sepatah katapun.

“sudah?” Sehun berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati meja besarnya. Melirik sekilas kertas yang terlihat sedikit diatas mejanya, apa pekerjaannya hari ini hanya mendandatangi ini? bukankah ini akan selesai dalam waktu 10 menit? Dan well sepertinya hari ini Sehun akan mendapatkan waktu istirahatnya hingga malam tiba.

“sialan, aku baru saja membacanya saat kau datang”

Sehun membalikkan badannya, melihat kerutan yang sangat kenatara di dahi taeyeon yang masih berusaha untuk focus dengan bukunya, dan sepertinya kali ini Sehun tak akan hanya menguji hasil kemampuan daya ingat taeyeon, tak ada salahnya jika ia menerangkannya sedikit.

“baiklah, biar kuterangkan, tunggu sebentar” dengan cepat, Sehun menuju kursi besarnya, melepaskan jas hitam yang melekat pas dengan badannya itu, menyampirkannya di atas kursinya, melepaskan dasi hitam yang melekat erat di di lehernya dan menaikkan lengan bajunya. Sehun baru saja pulang dari rapat pentingnya dengan petinggi perusahaan lainnya tadi, pakaiannya yang terkesan sangat formal membuatnya semakin lelah.

Taeyeon yang dari tadi melihat buku pelajarannya sekilas melirik kearah Sehun. Well, matanya seketika merasakan hawa dingin saat ia melihat Sehun, bukan bukan, hei ia baru saja melihat rangkaian tulisan yang berbaris dengan rapi di dalam buku pelajarannya, sekarang ia melihat Sehun dengan tampilan yang selalu ia lakukan saat tengah berada di dalam kantornya sendiri. Dan sialnya, Taeyeon rasa hatinya sedikit berteriak iri saat ia sadar bahwa beberapa pegawai Sehun dengan lancangnya memilih langsung menghampiri Sehun untuk meminta tanda tangannya untuk berkas kerjanya tanpa melalui sekretaris Sehun yang duduk diam diluar sana.


“sialan” dengus taeyeon kesal, ia tau ia sama sekali tak punya hak untuk sekedar iri dengan pegawai Sehun diluar sana, hanya saja ia sama sekali tak bisa mengontrol hatinya untuk sekedar berucap jangan iri. Dan satu satunya yang paling taeyeon irikan dengan pegawai Sehun diluar sana adalah umur mereka yang pastinya tak jauh berbeda dengan Sehun, tidak seperti dirinya yang masih sangat muda.

“kenapa mengupat? Apa kau sebegitu membenci bilogi hmm?”

Oh, mendengar nada suara Sehun yang entah kenapa kali ini terkesan lembut itu membuat Taeyeon menghela nafas pasrah saat debaran jantung kembali menguasai dirinya. Tanpa taeyeon sadari bahkan Sehun sudah duduk disampingnya dengan buku biologi yang tadi berada ditangannya sudah beralih ke tangan Sehun.

“aku masih penasaran dengan apa maksudmu mengajariku?”

“apalagi? Karna kau bodoh” jawab Sehun seadanya “mari kita mulai”

“apa hanya itu? bukan karna kau ingin aku segera tamat dan pergi dari mu bukan?”

Sial, mulut taeyeon memang selalu berhasil membuat seseorang merubah ekspresi wajahnya dalam hitungan detik, lihat. Wajah Sehun bahkan mengeras dengan tatapan tajam yang menatap Taeyeon seolah bisa menembus kepala taeyeon “apa hanya itu yang ada diotakmu? Pergi dari diriku, mengusir mu, dan apa lagi? Katakanlah”

“Kau ingin membuatku segera lulus agar kau tak menjadi waliku lagi dan kau tak punya kewajiban lagi” terkutuklah mulut kurang ajarmu Kim Taeyeon. Taeyeon bahkan sangat heran dengan kemampuan mulutnya berbicara jika itu sudah menyangkut dengan Oh Sehun.

“kenapa suaramu terdengar bahwa kau tak ingin aku melepasmu hmm?” Sehun tersenyum tipis. Well anggap saja ia sudah mulai lelah menghadapi hormone labil taeyeon, ia sudah lelah jika ia harus beradu mulut dengan taeyeon, dan satu satunya hal yang baru saja Sehun temukan adalah menghadapi Taeyeon dengan tenang dan suara yang pelan agar ia tak tersulut emosi lagi.

“t..ti..dak” Gotcha, apa yang baru saja Sehun ucapkan memang benar, lalu apa yang bisa ia perbuat? Tidak ada bukan? Ia hanya tinggal menunggu waktu saat Sehun benar benar muak dengannya.

“kenapa jadi gugup? Jadi aku benar?”

“jangan gila, aku sangat ingin bebas dari mu ahjussi!”

“oh benarkah? aku rasa tak akan mudah bagimu untuk bebas dariku, tak akan pernah” Sehun mengangkat bahunya acuh tak acuh, sudah saatnya berhenti berdebat dengan taeyeon yang melanjutkan untuk segera membahas apa yang ada di dalam buku biologi taeyeon.

***

“ahjussi, kenapa kau meminjakan mobilmu pada pria itu!”

Ini sudah lebih dari ke 5 kalinya Taeyeon terus saja mengeluarkan kalimat yang sama untuknya. Dan Sehun sudah menyesal karna sudah meminjamkan mobilnya pada Chanyeol, karna pada faktanya sampai pukul 5 sore hari ini pria itu bahkan belum mengembalikan mobilnya, dan Sehun sudah menelponnya berkali kali, dan liciknya Chanyeol sama sekali tak menjawab panggilannya.

Berkat park Chanyeol, sehun dan taeyeon sudah duduk diatas bus dengan bangku paling belakang dengan taeyeon yang duduk di samping kaca bus dan Sehun duduk disebelahnya. Mereka bahkan sudah duduk diam diatas sebuah bus dengan tujuan tak jelas, karna Sehun sama sekali tak pernah naik bus selama ia bekerja dan taeyeon tak tau arah tujuan bus untuk menuju kerumah dari kantor Sehun.

Taeyeon menyandarkan tubuhnya kearah kaca dan menatap jalanan dengan kesal, harusnya Ia bisa pulang lebih cepat dan bisa memaikan gamenya dirumah, ini semua karna ulah oh Sehun. Bisa saja mereka naik taksi bukan? Dan Sehun sama sekali tak ingin menelpon taksi dan lebih memilih untuk menaiki bus dengan alasan ia jarang naik bus pulang kerumah.

Deringan ponsel Taeyeon membuat Sehun melirik sekilas gadis itu yang menatap ponselnya dengan tatapan kesal. “mwoya?” jawabnya pelan, dan dapat ditangkap oleh mata Sehun, seorang pria dilayar sana tengah tersenyum manis kearah taeyeon, hei taeyeon melakukan video call dengan pria yang Sehun ingat adalah pria yang waktu itu menjemputnya kerumah dan mengajak Taeyeon kencan, pria pendek dengan nama…

“yah lee donghae, ada apa?”

“anii… apa yang kau lakukan? Bus?” Tanya Donghae pelan.

Well, ingin rasanya Sehun merebut ponsel taeyeon, melemparkan ponsel itu hingga layarnya retak, dan pria dengan nama Donghae itu menghilang dari layar ponsel itu.

“pulang apalagi”

“mau pergi bermain dengan ku?”

“kemana? Aku tidak punya uang karna seseorang tengah menyita uang jajanku”

“aku yang akan bayar”

“call, kapan?”

Dengan kasar, Sehun meraih ponsel taeyeon dan menatap tajam layar ponsel itu “maaf donghae-ssi tapi kim taeyeon, hari ini akan pergi denganku, selamat sore”

PIP

Usai mematikan ponsel taeyeon, Sehun langsung memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya sebalah kanan.

“pembohong, kembalikan ponselku!”

Sehun mengangkat bahunya cuek, dan memangku tangannya, perlahan menyandarkan kepalanya kesandaran kursi sebelum akhirnya menutup matanya. “tidak”

“tidak apanya, kau berbohong padanya, kenapa tidak bilang kita akan pulang!! Kembalikan ponselku ahjussi”

“ambil saja jika kau memang memerlukan ponsel itu”

Ambil? Ambil ponselnya? Didalam saku Sehun? Yang benar saja! Bagaimana bisa ia menyentuh Sehun, hei ponsel itu masuk ke dalam saku celannya, dan itu artinya Taeyeon hanya meraba saku Sehun sebelum mengeluarkan ponselnya? Taeyeon menyentuh Sehun? Taeyeon?

Sehun perlahan membuka matanya saat ia tak mendengar suara taeyeon dan tak mendapati gadis itu mengambil ponselnya di dalam sakunya, matanya menatap Taeyeon yang lebih memilih melepaskan kekesalannya pada Sehun dengan manatap kesal jalanan tak bersalah diluar sana. Hei wajah Taeyeon benar benar sangat lucu dengan wajah memerahnya menahan marah dan malu? Kenapa ia malu?

Entah mendapatkan ide dari mana, Sehun menjatuhkan kepalanya tepat dibahu taeyeon dan menutup matanya dengan santai, seolah olah apa yang baru saja ia lakukan bukanlah hal yang luar biasa. “aku tidak berbohong” ujar Sehun pelan.

DEG
DEG
DEG

Ingin sekali rasanya taeyeon segera menyingkirkan kepala Sehun dari atas bahunya, ia sangat takut jika Sehun mendengar debaran jantungnya, dan ia tak tau apa yang akan terjadi nantinya, mungkin saja Sehun akan semakin bersemangat mengusirnya saat tau taeyeon yang berstatus sebagai anak temannya menyukainya.

“pembohong, kepalamu berat sialan!”

Sehun menggerakkan kepalanya pelan, berusaha mencari posisi se nyaman mungkin sebelum akhirnya kembali angkat suara “tidak, bus ini akan ke lotte world”

“lotte?” beo taeyeon pelan, bagaimana bisa? Bukankah pria itu bilang ia tak tau kemana tujuan bus ini? lotte?

“angkat kepalamu dan lihat tulisan di kaca depan sebelah supir, ada tulisan lotte world”

Beberapa menit yang lalu Taeyeon masih beranggapan jika Sehun berbohong padanya, namun ternyata, semua yang dikatakan Sehun tidak berbohong. Ia bahkan sudah menepatkan kakinya di depan gerbang masuk dengan tulisan besar diatas sana, dan sialnya disudut sana tertulis ‘sedang dalam masa perbaikan’

“ah kita kurang beruntung”

Taeyeon melirik sekilas Sehun yang menatap pasrah lotte world yang terletak tepat disebelah mallnya, di Seoul-si Songpa-gu Jamsil-dong 40-1 sebelah Selatan Sungai Han. Niat Sehun untuk mengajak Taeyeon sekedar memperbaiki otaknya yang sudah penuh dengan pelajarannya sebelum ujiannya senin nanti sepertinya gagal total.

“well, apa yang akan kau lakukan setelah ini ahjussi?”

Jujur saja, awalnya Taeyeon sedikit tersentuh dengan sehun yang hei ini pertama kalinya sehun membawanya pergi bermain, apalagi ke lotte world, tempat yang belum pernah taeyeon kunjungi. Tempat ini adalah tempat dimana orang orang diusianya menghabiskan waktunya bersama, baik dengan teman ataupun kekasih. Sialnya taeyeon bahkan tak punya teman untuk diajak kesini, apalagi kekasih, tentu saja, ia punya teman, hanya saja jadwal sekolahnya dengan tiffany sangat berbeda, dan di saat weekend, tiffany akan pergi dengan teman satu sekolahnya atau dengan pacarnya. Sebenarnya Tiffany pernah mengajaknya pergi dengan teman ataupun pacarnya, dan dengan kasarnya taeyeon menolak, hei ia bukan orang yang mudah bergaul.

“makan malam? Disini dekat dengan sungai han, mau makan tteokbokki dan odeng?”

“ani, ramyeon didekat sini sangat enak, aku akan kesana” Taeyeon berbalik dan meninggalkan Sehun yang hanya bisa pasrah melihat tingkah kekanakan taeyeon. Baiklah, sebagai pria yang mungkin sudah tidak pantas dikatakan remaja itu, Sehun harus bisa bersabar dengan semua tingkah laku taeyeon bukan? Ia haru mengalah pada taeyeon.

Tak lebih dari 1 km mereka sudah sampai di depan sebuah kedai kecil ramyeon dipinggir jalan, berjalan memasuki kedai yang well terlihat sangat sepi itu. mengambil tempat duduk di pojok ruangan tanpa ada seorang pun yang bersuara, entahlah. Mereka lebih memilih untuk menahan suara mereka dan sibuk bergulat dengan pikiran masing masing.

Pikiran taeyeon berkelana jauh membayangkan hidupnya tanpa Sehun, hei ia bukanlah seorang wanita yang melakonis, hanya saja… ia sudah terbiasa dengan adanya Sehun, walaupun pria itu tidak berada disisinya selama 24 jam, tapi keberadaan pria itu berhasil membolak balikkan dunia taeyeon. Ia rasa jika suatu hari nanti ia pergi jauh dari Sehun, oh ayolah… jangan berfikir bahwa taeyeon selamanya akan tinggal dengan sehun, ahjussi itu pasti akan menikah suatu hari nanti dan ia sudah menjadi dewasa beberapa hari lagi, itu tandanya taeyeon bisa melakukan apapun tanpa walinya, dan itu membuatnya sedih entah kenapa. Harusnya ia senang bukan? Hei sejak awal bertemu Sehun ia sudah harus membentengi dirinya sendiri agar tak jatuh pada Sehun dan sialnya, pria yang sangat rupawan itu mempunyai sikap dan tingkat kesabaran selayaknya malaikat tanpa Sayap sehingga membuat benteng yang didirikan taeyeon roboh entah kemana.

Taeyeon tersenyum miris saat sadar ini mungkin pertama dan terakhir kalinya ia pergi jalan-jalan dengan sehun, meskipun ini tak sepenuhnya disebut jalan jalan, karna yah… rencana Sehun tak ada yang berjalan dengan baik. Mereka tidak jadi ke lotte world dan hanya duduk diam di sebuah kedai ramen dengan menunggu pesanan yang bahkan hampir membuat mereka mati karna kebisuan menunggu makanannya yang tak kunjung datang, percayalah bahwa taeyeon tak akan pernah melupakan hari ini walau di depan Sehun taeyeon terlihat sangat sangat tidak menikamti hari ini, tapi jauh di dalam hatinya ia tersenyum bahagia, hei apa taeyeon harus terus menyembunyikan perasaanya pada Sehun lebih lama lagi? Dan kenapa ia harus menyembunyikannya? Tentu saja karna perasaannya bukanlah perasaan yang wajar, hei dunia akan menentangnya, semua orang tak akan pernah berhenti mengunjingkannya jika tau bahwa ia menyukai seseorang yang sudah dengan baik hati mau menjadi walinya tanpa adanya hubungan darah, dan yah karna wanita tua itu…

*FLASHBACK*

“kau tak akan menyukai ahjussimu sendiri bukan taeyeon-ssi?”

Taeyeon yang baru saja bangun dari tidurnya dan keluar dari kamarnya untuk mengambil air mineral yang terletak di dalam lemari pendingin itu hanya diam kaku mendengar suara seseorang yang sangat kentara sekali tidak menyukainya, siapa wanita itu?

“ah Cham, perkenalkan, aku Lee In Jung, bibinya Sehun dan dia…” In Jung menunjuk seorang yeoja dengan tinggi semampai dan anggun yang berdiri tepat disebelahnya “anakku, Oh Sera, dan dia sepupu sekaligus calon istrinya Sehun”

DEG

Hei, bukankah ini keterlaluan? Taeyeon baru saja sampai disini 2 hari yang lalu, dan ia baru saja mengenal seseorang yang bernama Oh Sehun itu dan sekarang apakah ia harus mengetahui calon istrinya juga?

“well, Sehun memang belum memperkenalkanku padamu, tapi asal kau tau… aku dan Sehun itu dijodohkan karna ayahku atau pamanya sehun sangat sayang pada Sehun dan ingin keluarga kami semakin erat tentu saja” Sera tersenyum manis dan sialnya senyum itu membuat taeyeon ingin muntah saat ini itu juga

“dan jika dia bersikap sangat baik padamu, itu tentu saja karna dia ingin kau segera dewasa, dan cepat tamat sekolah sebelum akhirnya dia kembali menelantarkanmu, dan sampai saat itu tiba, jangan sampai ada perasaan yang tumbuh diantara kalian, kau tau keluarga besar Sehun bahkan tak ada yang akan merestui, hei dunia bahkan tak akan setuju dengan hubungan konyolmu dengan Sehun, jangan berharap banyak pada Oh Sehun”

*FLASHBACK OFF*

Sial, Taeyeon sebenarnya sama sekali tak ambil pusing dengan ulah kedua ibu dan anak itu, bahkan itu hari pertama dan terakhir kalinya ia melihat mereka, dan sampai detik ini taeyeon tak pernah melihatnya, hanya saja apa yang diucapkan kedua wanita itu seolah membawa taeyeon selalu pada realita yang ada, hei ia tak boleh menyukai ahjussinya itu, apapun alasannya dan bagaimanapun caranya. Sekuat tenaga bahkan ia selalu mencari masalah dengan sehun dan secara tidak langsung taeyeon mencari cara agar tak lulus sekolah dan sehun selalu menjadi walinya, dan sialnya hati nuraninya memberontak dan menyuruhnya untuk segera pergi sebelum kedua orang itu kembali. Dan setelah taeyeon fikirkan dengan baik, semuanya salah. Hei ia terlalu serakah untuk ini, dan apa yang di sampaikan kedua wanita itu memang benar adanya sekalipun hatinya selalu membantah kenyataan yang ada.

“hei, kau melamun hmm?”

Oh Tidak, kenapa lagi dengan suara pelan dan penuh perhatian itu? kemana Oh Sehun dengan suara dingin yang ia dengar dulu? “mwo?”

“ramen nya sudah datang dan kau terus terusan menatapnya”

Datang? Kapan sampainya ramen ini? apa taeyeon selarut itu dalam fikirannya? Dan tanpa pikir panjang taeyeon langsung meraih sumpitnya dan memakan ramennya dengan pelan, ramen itu masih sangat panas untuk dimakan dengan cepat dan taeyeon tak ingin merusak indra pengecapnya kali ini.


Mendengar suara taeyeon yang tengah menyeruput ramennya membuat Sehun mengalihkan tatapannya dari piringnya dan menatap Taeyeon yang tengah serius dengan mienya. Lihatlah bibir mungil itu bahkan memerah hanya karna kuah mie bukan karna lipstick, dan sialnya… sehun teringat bagaimana manisnya bibir yang pernah ia kecup, ah tidak ia cium dengan rakusnya itu, jika Sehun boleh meminta, ia sangat menginginkan bibir itu saat ini dari pada semangkuk mie hangat yang ada di depannya ini.

Dan ingin rasanya Sehun tertawa pelan saat mengingat kejadian tadi siang, saat ia mengajari taeyeon. Hei ia sudah menjelaskan dengan sangat rinci tentang apa itu system reproduksi, segalanya, mulai dari awal bahkan sampai ke nama nama biologi yang membuat sehun mendengarkan ocehan tiada henti kim taeyeon. Hanya saja, saat terakhir pelajaran ia bertanya pada taeyeon apa ada hal yang belum dimengerti dan dengan polosnya taeyeon bertanya ‘ahjussi, bagaimana bisa sperma yang ada pada pria masuk dan mencari ovum?’ dan pertanyaan lainnya yang membuat Sehun harus berfikir keras ‘lalu apa yang dilakukan seorang pria agar spermanya bisa masuk ke dalam wanita? Ejakulasi dan melakukan operasi untuk memasukkannya?’ dan pertanyaan selanjutnya yang membuat Sehun ingin sekali mencubi pipi taeyeon ‘bagaimana caranya ahjussi? Ah apa yang dilakukan seseorang di dalam movie itu, maksudku dibawah selimut’ dan pertanyaan terakhir yang membuat Sehun ingin sekali mematahkan kepala Chanyeol saat Taeyeon kembali bertanya ‘kenapa harus ada pengalaman?’

Bagaimana bisa yeoja yang selama ini selalu membantahnya, mengeluarkan kalimat kasar, dan pernah sekali membuat sehun menguncinya di dalam rumah karna pulang dalam keadaan mabuk karna tak bisa membedakan mana yang alkohol dan mana yang minuman bersoda itu tidak tau tentang hal hal yang mungkin saja kebanyakan anak diluar sana sudah mengetahuinya bahkan diusia yang lebih belia lagi dari taeyeon, dan entah kenapa hal itu membuat Sehun tersenyum tipis menyadari bahwa taeyeon-nya masih sangat polos


Sehun memakan mie dengan senyum tertahannya dan berusaha menyingkirakan pikiran kotornya. Sebelum akhirnya Taeyeon menatapnya tajam dan heran dengan sikap Sehun.

“mwo? Kenapa kau tertawa?”

Sehun menelan dengan pelan mie yang baru saja ia makan dan balas menatap Taeyeon yang mendadak kikuk mendapat tatapan Sehun jatuh tepat dimatannya “makan”

***

“ANDWE KIM TAEYEON!”

Dengan keringat dingin yang memenuhi wajahnya Sehun membuka matanya dengan perasaan lega, wajah pucatnya perlahan lahan mulai sedikit kembali berwarna. Hanya saja nafas Sehun bahkan sesekali masih tersedat sedat. Mata lelahnya melirik sekilas jam dinding kamarnya, pukul 2 malam, dan ia terbangun dari mimpi buruknya. Hei bukankah ini sangat kekanak kanakan sekali? Sehun ketakutan setengah mati hanya karna sebuah mimpi, tidak biasanya Sehun merasakan kekhawatiran yang sangat nyata bahkan setelah ia bangun dari mimpinya. Tangannya bergetar meraih gelas yang tergelatak di atas nakasnya, meraih gelas putih itu dan meminum cairan bening di dalamnya. Dan sialannya lagi, air yang ia minum sama sekali tak membuat rasa hausnya hilang.

Perlahan, Sehun menurukan kakinya dari ranjang dan mulai melangkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan langsung membuka kulkas saat dirinya sudah berada di dapur. Suasana gelap tanpa pencahayaan yang terang tak menghalangi niat Sehun untuk berlama lama di dapurnya. Usai dengan air mineral dinginnya dan mengisi kembali gelas putihnya, Sehun kembali menaiki tangga.

Seketika kakinya berhenti tepat di depan kamar taeyeon, kamar gadis yang baru saja membuatnya ketakutan setengah mati di dalam mimpinya. Ia tak begitu ingat bagaimana kejadian mimpinya, hanya saja di dalam sana, ia sama sekali tak menemukan taeyeon, di hari hari seperti biasa tanpa taeyeon, dan suatu ketika ia mendapati taeyeon pergi tanpa menoleh padanya, saat bangun dari mimpi pun Sehun masih merasakan kehilangan yang amat sangat. Tidak, bahkan untuk sekedar mimpi pun Sehun tak bisa hidup tanpa taeyeon, tanpa gadis itu, tanpa gadisnya. Hei ini baru beberapa jam saat mereka sampai dirumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya, dan Sehun rasa ia tak bisa jauh jauh lebih lama dengan taeyeon selain ini.

Jantung Sehun berdegup nyeri saat lagi lagi pikirannya memutar ulang mimpinya, saat yang ia lihat hanya punggung taeyeon dan hari tanpa taeyeon, tidak ini tidak boleh. Dengan cepat Sehun meneguk gelas yang berada di tangan kanannya masih dengan mata yang menatap kearah pintu kamar dengan cat hitam legam itu.

Mata Sehun membelalak besar saat pintu tersebut terbuka menjauhkan bibirnya dari gelas dan langsung menelan air yang ada di dalam mulutnya. Hei rasa kaget menghampiri Sehun saat mendapati taeyeon dengan piyama kebesaran yang membungkus seluruh tubuhnya, mata yang menyipit layaknya orang dengan keadaan setengah tidur dan setengah bangun, bibirnya berucap dengan sangat pelan membuat Sehun menyipitkan matanya berusaha mempertajam penglihatannya diantara remang remangnya cahaya menatap mulut taeyeon agar tau apa yang dibicarakan taeyeon.

“ai..r air… ahjussi… beri aku… air, aku haus”

Perlahan Sehun mulai mendengar suara taeyeon yang terdengar sedikit serak, entah karena tenggorokannya sakit atau karna yeoja ini masih dalam keadaan setengah sadar. Sehun rasa ia ingat sekarang, ia pernah mendapati sekali taeyeon tidur di ruang tamu suatu hari, dan saat Sehun Tanya dengan han ahjumma sore harinya han ahjumma bilang jika Taeyeon berkata padanya jika dalam keadaan banyak pikiran, stress atau terlalu lelah ia biasanya akan tanpa sadar berjalan dari tidurnya, dan well sehun tak tau jika yang dimaksud han ahjumma seperti sekarang ini.

Dengan kasar Taeyeon meraih gelas yang dipegang oleh tangan Sehun, meminum air yang berada di dalam gelasnya sebelum akhirnya ia menggerutu pelan saat mendapati tidak ada air di dalam gelas itu, ia bahkan melempar dengan kasar gelas Sehun yang untungnya jatuh di atas karpet yang lumayan tebal sehingga bunyi pecahnya sangat tidak kenatara. Ini bahaya, bagaimana bisa gadis ini akan turun kebawah kalau ia sama sekali tidak sadar? Taeyeon berjalan perlahan menjauhi Sehun menuju ke dapur sebelum akhirnya ia terhenti saat Sehun sudah berdiri di depannya. Sehun bahkan tersentak saat Taeyeon menambrakkan dirinya ke dada bidang Sehun.

“Kim taeyeon, ireona!”

“air… aku hau..s air… ahjussi palli”

“masuk ke dalam kamarmu, aku akan mengambilkan segelas air unt…”

CUP

Tubuh Sehun membeku saat merasakan bibir hangat taeyeon menyapa bibirnya yang dingin, hei ia baru saja meminum air dingin, tentu saja bibirnya akan dingin. Tidak bukan itu yang terpenting, taeyeon mencium… nya? Taeyeon mencium Sehun? Seketika pikiran Sehun mendadak kosong. Ah tidak ini tidak oleh, ia akan melakukan lebih jika taeyeon tidak melepaskan bibirnya sekarang juga.

Dengan pelan, Sehun memundurkan langkahnya, ada rasa sedikit tak rela saat bibir hangat itu menjauhinya, tapi sehun tak akan sejahat itu untuk mengambil kesempatan, hei taeyeon tidak dalam keadaan sadar, dan Sehun harap Taeyeon akan segera masuk dan meninggalkannya sebelum semuanya terlambat, dan sialnya, harapan Sehun hanya bualan semata saat taeyeon melangkah dengan lunglai mendekatinya, bahkan nyaris terjatuh membuat Sehun tidak tega dan memilih mendekat, belum sempat Sehun berjongkok untuk mengendong yeoja itu agar kembali tidur di dalam kamarnya, tangan taeyeon maraih bahu Sehun, menatap dengan mata kantuknya wajah Sehun.

“oh air… aku haus…”

“akan ku ambilakan, kembali. Ke. Kamar.mu. sekarang. Juga!”

“emmm wae…? Kau selalu membentakku, bahkan di dalam mimpiku? Heol! Aku… berikan aku ai…”

“kembali dan aku ambilkan…”

“shireo” Taeyeon menggeleng gelengkan kepalanya pelan, sebelum akhirnya ia mendekatkan wajahnya kearah Sehun, memiringkan kepalanya dan menatap bibir tipis sehun sekilas sebelum akhirnya menyapa bibir itu dengan bibirnya lagi.

Taeyeon mencengkram erat bahu Sehun dan menjijitkan kakinya agar bisa sedikit menyamai tinggi tubuh Sehun atau setidaknya bibirnya bisa meraih bibir dingin itu dan mengulum pelan bibir Sehun. Sehun rasa dirinya akan mati dalam hitungan menit, dan sialnya ia rasa bukan seperti ini dirinya yang akan mati, ia akan mati jika ia melewatkan hal ini begitu saja. Dengan tergesah gesah, sehun membalas dengan melumat bibir bawah Taeyeon, tangannya yang semula diam disisi badannya kini mulai terangkat, membelai pelan pinggang taeyeon dan merapatkan tubuhnya dengan taeyeon, persetan dengan apa yang akan terjadi, Sehun tak akan melewatkan hal langka ini di dalam hidupnya.

Sesekali taeyeon menelusupkan lidahnya ke dalam celah bibir Sehun dan menggerutu pelan saat tidak mendapati apa yang ia cari di dalam sana. Dan Sehun tersenyum dalam ciumannya saat tau yang dicari taeyeon dalam mulutnya adalah air, mungkin saat taeyeon mengecupnya tadi, ia merasakan bibir dingin sehun, dan dugaannya benar. Sehun baru saja minum air, tapi sialnya air itu tidak ada di dalam sana.

Dengan cepat Taeyeon melepaskan ciumannya dan menatap sengit Sehun dengan mata nya yang setengah tertutup “opseo” ujarnya pasrah

“air?” balas Sehun pelan, ah anggap saja hari ini sehun juga tengah bermimpi dan ia tengah berjalan dalam mimpinya, terserah. Yang jelas Sehun tak akan melewatkan malam ini begitu saja, terserah jika orang menyebutnya egois. “mencari air di dalam mulutku hmm?” Tanya Sehun, suaranya terdengar pelan dan sangat lembut hingga membuat Taeyeon yang tadi mengerutkan dahinya perlahan kembali seperti semula. Dengan polosnya taeyeon mengangguk membuat Sehun sangat ingin mencubit pipi pucat taeyeon.

“mau aku ambilkan?”

Lagi taeyeon mengangguk pasrah dan mengalungkan tangannya ke bahu lebar Sehun sebelum akhirnya Sehun kembali mendekatkan wajahnya kearah bibir taeyeon, mempertemukan kembali kepunyaan kim taeyeon yang sangat manis dan membuatnya gila itu dengan bibirnya. Awalnya hanya sekedar mengemut bibir atas dan bawah taeyeon secara bergantian, dan sungguh malangnya nasib sehun, niatnya untuk berhenti malah gagal saat taeyeon membalas ciumannya. Dengan pelan, taeyeon menjinjitkan kakinya dan meletakkan kakinya satu satu di kedua kaki sehun, mengalungkan tanggannya dengan erat di leher pria itu, dan Sehun? Apalagi, tentu saja merapatkan pelukannya, bahkan tangan kanannya sudah berpindah keleher taeyeon agar bisa memperdalam ciumannya.

Ini gila, ini bahkan jauh lebih manis dari saat pertama kali Sehun mencobanya? Apa rasanya akan semakin manis jika Sehun sering mencobanya? Dan bagaimana bisa nantinya Sehun menahan diri jika otaknya sudah merekam dengan sangat jelas bagaimana manisnya bibir yang bergerak pelan di atas bibirnya ini.

Tidak, ia harus segera menghentikan ini! Sehun sudah menyuruh otakknya untuk menggerakkan dirinya agar perlahan menjauh dari taeyeon, dan sialnya, yang ada adalah Sehun berjalan dengan taeyeon yang meletakkan kakinya diatas kaki Sehun masuk menuju kamar Taeyeon, menjatuhkan gadis itu di atas ranjangnya dan melepaskan ciumannya. Sehun yang menindih tubuh taeyeon menatap wajah taeyeon sendu, tidak, mereka tidak boleh melakukannya sebelum semuanya diperjelas, Sehun tak ingin Taeyeon menyesalinya nanti dan hubungan mereka masih belum jelas, untuk saat ini hubungan mereka hanya lah ahjussi dan anak temannya, bukan apapun, dan Sehun rasa ia harus segera mengganti hubungannya saat ini juga…

“hei, remaja seperti apa yang pintar berciuman sepertimu hmm?” Tanya Sehun, sesekali Sehun merapikan anak rambut taeyeon yang berserakan di pipinya dan mengelus pelan pipi itu “masih haus? Akan kuambilkan air yang asli”

Dengan polosnya Taeyeon menggeleng, membuat Sehun tertawa pelan dan mengecup gemas hidung kecil taeyeon “kau remaja yang berbahaya” perlahan tangan Sehun yang ia gunakan untuk mengelus pipi taeyeon turun menatap bibir taeyeon yang terlihat merah dan sedikit bengkak itu, apa bibir itu bengkak karena nya? Apa ia mencium taeyeon separah itu? ia rasa tidak…

Elusan ringan Sehun berikan untuk bibir Taeyeon, membuat Sehun lagi lagi terpana dengan bibir itu, rasa manisnya mengahantui pikiran Sehun, membuatnya ingin menyapa bibir itu lagi.

“tidak…” Sehun hendak berdiri dari posisinya sebelum akhirnya Taeyeon kembali bergumam

“air…” dan tak butuh waktu lama, Sehun langsung melumat kasar bibir taeyeon yang entah karna apa berubah warna sedikit merah, memiringkan kepalanya mencoba mencari posisi paling dalam untuk mengekspos bibir taeyeon. Sehun tidak memasukkan lidahnya, ia hanya mengemut kasar bibir taeyeon dan sekelai menyapu bibir taeyeon dengan lidahnya, beberapa detik berlalu dan Sehun mengerang kasar saat ia merasakan sesuatu dibalik piayama tidurnya mengetat. Tidak, ini sudah bahaya.

“andwe…” Sehun menghela nafas frustasi saat sadar ia hampir saja melewati batasnya, hampir saja ia membuat gadis itu kehilangan kata gadisnya, hampirnya saja sehun bersikap egois untuk dirinya, ini tidak boleh.

“lain kali, kunci kamarmu, jangan keluar saat tengah malam… dan jangan menciumku duluan, kau tau aku sangat mabuk jika sudah menyangkut masalah bibirmu, araseo?”

Taeyeon menggeleng pelan, tidak menyetujui ucapan Sehun dan menutup matanya rapat, taeyeon kembali tertidur. Sehun tertawa dalam diamnya, mencium pipi taeyeon sekilas dan bangkit dari posisinya, merapatkan selimut taeyeon dan berjalan keluar mengambil segelas air untuk gadis itu. tak butuh waktu lama, Sehun bahkan sudah kembali dengan gelas putih penuh dengan air dan meletakkannya di nakas taeyeon, menutup gelasnnya dan menatap taeyeon sekilas, sebelum akhirnya beranjak meninggalakan taeyeon yang sudah kembali kealam mimpinya.

***

“han ahjumma, kenapa disini? Mana ahjussi?”

Taeyeon yang baru saja rapi dengan semua peralatannya untuk menghadapi ujiannya di hari ini menolehkan kepalanya kesana kemari mencari Sehun, hei ini sudah 3 hari ia tidak melihat pria itu, dan ini hari terakhirnya ujian, tak bisakah pria itu mengantarnya sampai kegerbang? Taeyeon sedikit iri dengan beberapa orang disekolahnya yang diantar oleh kedua orang tuanya, dan taeyeon ingin sehun mengantarnya, tapi sepertinya pria itu sangat sibuk, karna sudah 3 hari ini ia tidak sempat membuatkan sarapan untuk taeyeon.

“nona tidak tau? Tuan tengah dalam perjalanan bisninya ke jeju, mungkin akan pulang lusa”

Benarkah? brengsek, ia bahkan pergi tidak memberitahu dirinya? Meskipun hubungan mereka akhir akhir ini sudah terlihat membaik? Apa Sehun sudah mulai menjaga jarak?

“brengsek, dia tidak bila…”

“bukannnya aku tidak bilang, kau sedang ujian dan terlihat sedikit stress akhir akhir ini, cepat makan sarapanmu” Taeyeon membelalakkan matanya dan menatap Sehun dengan kemeja hitam tanpa jas hitam ditubuhnya, menatap Taeyeon dengan tatapan lelah yang ia punya, hei apa pria itu baru saja mendarat di bandara pagi ini?

“ya, aku baru saja sampai, dan cepat habiskan sarapanmu, biar kuantar ke sekolah”

“tidak usah, aku naik bu…”

“bisakah kali ini kau tidak membantahku? Cepat selesaikan sarapanmu, se-ka-ra-ng!”

Entah dapat mantra dari mana, mendadak semua tubuh taeyeon bergerak dengan patuh mengikuti perintah Sehun, duduk di meja makan dan melahap sarapan paginya yang sedikit berbeda dari biasanya, biasanya ia hanya akan makan roti dan telur, sekarang ia bahkan makan nasi goreng buatan han ahjumma.

15 menit berlalu dan Taeyeon sudah duduk dengan manis di bangku kemudi dengan Sehun yang sibuk menghidupkan mesin mobil putih kesayangannya itu. mesin hidup dan dengan pelan Sehun mulai menjalankan mobilnya membelah jalan raya di pagi hari. Lagi lagi hanya kesunyian yang menghampiri mereka, Sehun yang enggan untuk menghidupkan music di mobil dan taeyeon yang sangat malas untuk sekedar komat kamit hari ini.

“bagaimana ujianmu?” tak tahan dengan kesunyian yang mendera, dengan lapang hati Sehun mencoba untuk membuat percakapan dengan taeyeon

“baik, ingin aku segera lepas dari mu?”

Sehun menghela nafas pasrah, ini masih pagi dan taeyeon sudah menguji kesabarannya di pagi hari. Ia sudah mencoba sekuat tenaganya untuk segera mendarat di Seoul walaupun rapatnya selesai tepat 1 jam sebelum pesawatnya lepas landas, berlarian di bandara dan lebih memilih menaiki taksi dari pada menelpon supir di rumah untuk menjemputnya yang mana akan memakan waktu lebih lama lagi dan apa yang ia dapat? Hei kenapa taeyeon selalu berfikir ia akan melepas taeyeon?

“kenapa diam? Jadi aku benar?” Taeyeon tersenyum miris menatap Sehun yang sama sekali tak menolehkan wajahnya sekedar menatap taeyeon, mungkin saja jalan raya di depan sana lebih menarik dari taeyeon? Taeyeon benar bukan?

Lebih baik diam dari pada mencari masalah dan membuat taeyeon semakin stress adalah pilihan Sehun kali ini, hei gadis itu akan menghadapi ujiannya, mana bisa ia marah marah atau sekedar menyangkal kalimat taeyeon yang nantinya akan membuat darahnya mendidih, percayalah Sehun berusaha sekuat tenaga untuk sabar menghadapi taeyeon, namun akhir akhir taeyeon yang selalu berbicara bahwa ia akan melepasnya, mengusirnya, menamparnya membuat Sehun naik darah, well siapa yang akan melakukan itu padanya? kenapa taeyeon suka sekali dengan presepsi yang berkembang di otak dangkalnya itu, dan itu sangat menyebalkan dibanding taeyeon yang selalu menyumpahinya.

Taeyeon tertawa getir saat belum mendapatkan penyangkalan apapun yang keluar dari mulut Sehun, pria itu hanya diam dan tak mengeluarkan satu kalimatpun dari mulutnya, tapi dengan jelas taeyeon melihat bahwa wajah Sehun sedikit mengeras dengan mata yang menatap jalanan seolah jalanan itu adalah hal yang membuatnya marah. Ada apa dengannya?

“turunkan aku disini” taeyeon segera melepas setbelt nya, namun naasnya saat setbelt itu terlepas, mobil yang dikendarai Sehun sama sekali belum berhenti, membuat taeyeon mengupat kasar dan memukul pelan lengan Sehun “hentikan mobilnya, sialan!”

“sebentar lagi sampai” tutur Sehun pelan, dan lagi lagi tanpa menoleh. Apa yang diinginkan taeyeon? Ini sudah hampir sampai di gerbang sekolahnya dan ia ingin Sehun menurunkannya di halte bus dekat sekolahnya? Yang benar saja, lalu untuk apa ia susah susah berlarian di bandara jika pada akhirnya taeyeon hanya menganggapnya sebagai supir bus yang harus menurunkannya di halte? Jangan gila.

“woah kau mau berlagak menjadi seorang wali yang baik eoh? Tidak usah, aku tidak butuh”

Baru dalam hitungan detik mobil Sehun berhenti, Taeyeon sudah turun dan menyandang tas nya berlalu meninggalkan Sehun. Dengan sabar Sehun mematikan mobilnya dan berjalan melangkah keluar dari mobil, melihat taeyeon yang terdiam melihat banyaknya siswa dan siswi di sekolahnya yang tengah berpelukan dengan orang tua mereka, dalam hati Sehun tentu tau, bahwa sekasar kasarnya taeyeon, ia masih saja seorang gadis, ia perempuan, dan well Hati perempuan sangatlah rapuh walau ia terlihat baik baik saja.

Dengan pelannya Sehun menghampiri taeyeon dan menyentuh pundak kaku itu sebelum akhirnya Taeyeon berbalik dan menatap sengit Sehun yang menganggungnya. “ada apa lagi? Ujian ku akan dimul…”

Sehun mengangkat tangan kirinya memeluk bahu taeyeon dan tangan kanannya bersembunyi di balik punggung taeyeon, menyandarkan gadis itu tepat di dadanya. Dan semakin mempererat pelukannya saat taeyeon mencoba melepas pelukannya. Dengan santainya Sehun menundukkan kepalanya dan mensejajarkan mulutnya dengan telinga taeyeon sebelum akhirnya ia berbisik pelan.

“kau tak akan bisa lepas dariku, kim taeyeon, jangan fikirkan apapun yang tidak tidak, jawab ujianmu dengan baik dan cepat keluar dari sekolah ini, lepaskan seragam sialan mu itu dan dunia akan segera berubah, aku janji”

Mendadak bibir taeyeon kelu bahkan untuk sekedar berbicara, ia hanya diam bahkan saat Sehun sudah melepaskan pelukannya, Sehun bahkan sudah menyusun anak rambutnya yang berantakan, mengelus pipinya singkat dan tersenyum manis, well apa senyuman itu khusus untuknya? Dan dengan tangan yang masuk ke dalam saku celananya Sehun berbalik meninggalkan Taeyeon yang masih diam membantu di tempatnya, bagaimana bisa ia menjawab soalnya dengan baik jika jantungnya langsung berdegum kencang hanya karna pelukan Sehun, hei jika ia boleh menjadi munafik hari ini, ia sangat menyukai pelukan itu, pelukan hangat Sehun, pelukan yang meskipun berusaha sekuat hatinya menolak, taeyeon sangat menikmatinya dan pelukan yang selalu ia dambakan sejak 3 hari yang lalu saat melihat semua orang mendapat pelukan di gerbang sekolahnya ini.

Melihat mobil Sehun berlalu dengan sebuah klakson yang mungkin saja ditujukan untuknya pun membuat taeyeon tersadar dan tersenyum tipis sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya memasuki gerbang sekolahnya.

***

Taeyeon mendengus kesal menatap tiffany yang terduduk manis di depannya dengan ponsel di telinga, itu pasti pacarnya, dan kalian tau apa yang dibicarakannya? Tentu saja liburan karna mereka sudah selesai dengan semua kegiatan sekolah di akhir tahun mereka sebagai siswi. Hei apa saat ini ia harus menelpon donghae dan menanyakan liburannya bagaimana? Atau haruskah ia mengunjungi heechul yang tengah berbulan madu ke 4 dengan istrinya dan mengahancurkan acara mereka berdua jika tiba tiba donghae membatalkan acara liburan mereka? Atau haruskan taeyeon menculik baekhyun dari jadwal sekolahnya dan mengajaknya pergi berlibur? Atau haruskah ia mengobral dirinya mencari teman agar ada yang mau menemaninya?

Burger besar yang berada di piring taeyeon sudah tandas, dan tiffany baru saja mematikan ponselnya setalah 15 menit berbincang bincang dengan nada imutnya yang memuat taeyeon ingin sekali membuang burger yang baru saja lolos masuk ke dalam perutnya. Hei apa seperti itu pacaran? Apa harus se menjijikan itu? kalau ia mungkin taeyeon akan menghadapi harinya sendirian seumur hidupnya.

“kau akan berlibur kemana nanti? Mau ikut dengan ku taeyeon-ah?”

“tidak, aku akan pergi dengan donghae, kalau tidak merusak bulan madu heechul dan menculik baekhyun, aku lebih menyukai ketiga opsi itu dari pada ikut dengan mu, menjijikan”

“yah, apanya yang menjijikan? Memang begitu pacaran, kau harus bersikap manis dengan pacarmu”

“kau sangat menjijikan”

“ah terserah! Hei di antara ketiga opsimu aku tak mendengar nama ahjussimu itu, apa ia tak akan membawamu jalan jalan? Bukankah uangnya banyak?”

Taeyeon tertawa pelan, mengajaknya jalan jalan? Hei pria itu bahkan hampir membuatnya gagal pergi jalan jalan karna uang jajannya yang terancam andai andai taeyeon tak mengikuti keinginannya untuk belajar, walaupun taeyeon merasa kemajuan yang lumayan untuk menghadapi soal biologinya tadi, tapi tetap saja, pria itu tidak akan memberinya uang jajan kalau taeyeon tak mengikuti perintahnya, sungguh keterlaluan.

“ia bahkan hampir membuatku berdiam diri dirumah”

“bagus bukan? Lagian dirumah itu sudah lengkap, ada game center, dan kolam berenang, ada televise lebar, apalagi yang kurang? Semuanya bisa kau lakukan disana”

Benar, apa yang dikatakan tiffany memang benar, rumah itu sudah lengkap, tapi sialnya taeyeon merasa ada yang kurang dari rumah itu jika tidak ada Sehun, rumah itu bagaikan tempat asing jika Sehun tak ada disana, dan ia tak mau berlama lama seorang diri disana tanpa sang pemilik rumah.

“well apa kau masih sering berjalan saat tidur? Kau tidak ingin kuantar berobat ke tempat imo ku?”

Ah benar, penyakit anehnya yang satu itu sangat menganggunya, jika ia tengah stress ia akan berjalan saat itu, atau jika ia sedang kelelahan ia akan berjalan dalam tidurnya, dan pernah suatu hari bahkan ia menelpon tiffany dan ia sama sekali tak ingat apa yang ia ucapkan, tiffany bilang ia memohon agar tak diusir, hei untung saja waktu itu yang tertelpon olehnya tiffany, jika bukan tiffany pasti saja orang itu akan mengolok ngoloknya, seperti heechul atau donghae, pria brengsek itu akan sangat berbahagia di atas penderitaanya. Tapi akhir akhir ini dibandingkan dengan berjalan saat tidur, ia rasa ia lebih sering bermimpi, hei sekali beberapa hari yang lalu ia pernah bermimpi bahwa ia mencium Sehun, mencium ahjussinya itu, dan saat ia terbangun paginya bibirnya sudah bengkak. Taeyeon bahkan sempat berfikir jika mungkin saja ia berjalan saat tidur dan benar benar mencium sehun, tapi saat paginya ia sama sekali tidak menemukan Sehun dirumah, bukankah itu berarti ia bermimpi? Bahkan hanya mengingat mimpinya saja sudah membuat jantung taeyeon berdegup tak karuan.

“apa hobimu melamun oh?”

Taeyeon tersadar dari lamunannya dan menatap tiffany sekilas sebelum akhirnya ia menghela nafas dan menyeruput colanya “tidak perlu, kurasa sudah mulai sembuh”

“benarkah? apa kau tidak takut jika nanti kau berjalan ke kamar ahjussimu dan tidur dengannya saat kau tidak sadar?”

Cola yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan Taeyeon perlahan mencuat dan membahasi wajah makeup tiffany, membuat Taeyeon membesarkan matanya dan segera mencari tisu, membersihkan wajah tiffany yang terlihat sangat kesal itu sebelum akhirnya ia memilih bangkit, menyampirkan tasnya…

Taeyeon tertawa kaku dan mulai berucap “han ahjumma menyuruhku pulang cepat, aku pergi dulu, kalke” dengan cepat taeyeon melangkahkan kakinya menjauhi tiffany yang menyumpahinya, dan sayup sayup taeyeon bahkan mendengar suara tiffany yang sangat melengking itu berteriak ‘sejak kapan kau peduli dengan han ahjumma’

Taeyeon terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak menuju halte bus. Sesekali ia bersiul ringan tanpa mempedulikan orang orang yang menatapnya. Apa pedulinya? Toh taeyeon tak kenal dengan mereka bukan? Tanpa menunggu lama, bus yang taeyeon tunggu sudah sampai dan taeyeon segera menaikinya, menuju rumah-nya, ah maskud taeyeon rumah Sehun. Taeyeon melirik sekilas jam tangannya yang menunjukkan angka 5 sore. Ini sudah jam pulangnya.

25 menit berlalu dan taeyeon sudah berada tepat di depan rumah Sehun dengan mata yang melirik heran kea rah mobil putih yang terpakir dengan rapi di bagasi mobil, bukannya itu mobil Sehun? Apa pria itu tidak pergi bekerja?

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Taeyeon langsung memasuki rumahnya, melirik sekilas kearah ruang tamu yang kosong dan langsung naik ke atas menuju kamarnya, sebelum sebuah suara ia tangkap dari arah ruang tempat dimana ia sering menonton. Dari belakang sudah jelas jika itu Sehun dan ia terlihat tengah menelpon, sebelum akhirnya Taeyeon berjalan mendekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi taeyeon menghentikan langkahnya, mata nya membulat sempurna saat telinganya menangkap suara Sehun yang tengah berbicara dan apa yang menjadi topic pembicaraannya dengan si penelpon. Kaki taeyeon bergetar hebat, dan perlahan matanya mulai berair, wajahnya memucat dan tangannya terasa dingim.

“aku tidak akan menjadi wali taeyeon lagi… oemma”

*

*

*

*To Be Continue*


Hello *lambai tangan* end nya pas banget kan? Mwahahaha (ketawa setan) ini ff emang panjang pake banget, maafya kalo panjang banget, syukur ga dijadiin oneshoot kan yah-_- ini ff 2 chaper lagi kayaknya end. Dan heihooo aku terharu banget liat komen kalian, kirain gabakal ada yang suka sama ffnya, makasih yah aku baca kok komennya. Kalo di chap ini masih ada yg bilang kepanjangan, mungkin chapter besok aku bagi dua aja, maafkeun. Kenapa bikinnya panjang? Soalnya aku ga punya waktu luang buat ff, jd sekalinya aku update harus panjang, kan kasian reader udh nunggu lama aku updatenya seupil doang-_-

Buat ff yang lama, hiks laptop ku kmrn rusak, jd ada sebagi file yang ilang TT aku usahain bikin lagi lanjutannya, ditunggu aja yah–(Ga ada yang tau ama ff lu thor! #oke fix gajadi lanjut TT)

Komennya ditunggu, karna komen kalian yang nentuin ff ini dilanjut ato enggak (btw jgn komen “lanjut thor” doang dong-_- kasihani aku dengan komenmu) next chap dtgg ya, kemungkinan agak lama. Udah ah, capek cuap cuap panjang lebar, ga ada yg bakalan baca cuapnya jg-_- Gomawo L *HUG* *KISSKISS* *BOW*

Advertisements

64 comments on “[FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 2)

  1. Yak elaahhh seru bgt thoorr..
    Next chap donk jebal jebal..
    Penasaran bgt kelanjutanya..
    Jangan behenti disini dong thor..
    Next.. Fighting💪💪

  2. Kok ga lanjut Thor.. udah lama banget.. katanya tinggal 2 chapter lagi.. ayolah Thor.. kami udah penasaran sama endingnya..

  3. Kpan lnjutnya thor..? Aqu tiap hari check ff ini 😥😥 please y thor lanjut jgn lama2 🙏🙏🙏

  4. lanjut thorr
    bodohnya aku ga sadar kalo ff ini udah update :((
    ini kereeen banget
    please jangan pisahin mereka :((
    next update soon ya thor :’)

  5. iyaa, sehun ga bakal jadi wali taeyeon lg, tapi jd pacarnya / istrinya sehun *ngarep
    wkkwkwkwkw
    next chap thorr, ditunggu. penasaran parahh hehehe

  6. Seneng banget liat ff ini udah di baca berkali” tp gk bosen.. cepetan di post next chap nya min udah nungguin ff ini lama

  7. Pingback: [FREELANCE] Hold Me Tight (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Mampir ke chapter ini lagi hehe gara gara lupa sama ceritanya+ini termasuk ff favorit aku lhoo .. semoga bisa sering sering update ya thor .. semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s