Dark Light To Diamond (Chapter 17)

033117_1427_FREELANCEDa1.jpg

Author : deeHAYEON

Main Cast : Kim TaeYeon, Cho KyuHyun, Lee DongHae

Other Cast : Yunho, Seohyun, Hyukjae, Saehyun, Suzy, Luhan, find.

Length : Multi-Chapter

Rating : PG-15

Genre : School-life, Friendship, Romance, Sad

Desclaimer : FF ini terinspirasi dari drama Korea. All cast milik Tuhan dan keluarga mereka masing-masing. Jika ada kesamaan dalam alur maupun cerita, itu adalah unsur ketidak sengajaan. DON’T PLAGIAT!

Sorry for typo(s)…

Preview: Chapter 1,Chapter 2,Chapter 3,Chapter 4,Chapter 5,
Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8,Chapter 9, Chapter 10, Chapter 11, Chapter 12, Chapter 13,Chapter 14, Chapter 15, Chapter 16

———-

Chapter 17

“Aku hanya tidak mau dia memberikan beasiswa itu pada Joohyun dengan maksud tertentu” Kyuhyun memandang Taeyeon penuh arti. Namun Taeyeon tidak mengerti.

“Maksud tertentu apa?” tanggap Seohyun, “Aku bahkan tidak mengenalnya”

“Tapi dia teman Taeyeon”

“Aku tidak mengerti…” ujar Taeyeon pelan sambil memandang Kyuhyun bertanya.

“Ah sudahlah, lupakan” Kyuhyun tersenyum dan mengacak puncak kepala Taeyeon.

Hatinya benar-benar merasakan kejanggalan.

———-

Chapter 17

“Tae, antarkan ini pada keluarga Lee” kata Nyonya Kim seraya menyodorkan sebuah kotak berisi kue yang baru dibuatnya.

Taeyeon yang sedang menonton TV di ruang tengah bersama Luhan langsung menolak, “Tidak mau, aku malas”

“Kita belum memberi apapun sejak Donghae pulang dari London”

“Suruh saja Luhan” balas Taeyeon. Sejujurnya satu-satunya alasan ia menolak perintah ibunya adalah ia malas bertemu Donghae. Sejak pertengkaran mereka di kamarnya beberapa waktu lalu, ia belum bertemu dengan Donghae lagi.

“Kenapa aku???” seru Luhan tidak terima. Ia sedang asik menonton drama kesukaannya dan tidak bisa diganggu gugat.

“Sudahlah, kau saja, Tae” ucap ibunya lagi lalu menarik paksa Taeyeon untuk berdiri.

“Aah, eomma~” rengek Taeyeon. Tapi akhirnya ia bangkit juga.

“Berikan ini ya, dan sampaikan salam eomma pada Donghae” Nyonya Kim menyerahkan kotak kue itu ke tangan Taeyeon dan pergi kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

Taeyeon menyerah. Akhirnya ia menerima kotak itu, mengambil jaket di kamarnya dan pergi keluar. Rumah keluarga Lee hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya. Itulah mengapa ia dan Donghae sudah bermain bersama sejak kecil.

Ia beberapa kali menggigil kedinginan sebelum akhirnya sampai di depan rumah keluarga Lee dan membunyikan belnya. Seorang pria besar berbadan tegap membukakan pintu gerbang, “Ada perlu apa?”

Sudah lama sekali Taeyeon tidak main kerumah ini dan petugas keamanannya pun sudah ganti. Kalau petugas yang lama sudah pasti langsung mengenalinya dan menyuruhnya masuk. Bukannya memandangnya dengan curiga seperti ini.

“Aku Kim Taeyeon. Rumahku ada di sebelah sana dan aku ingin memberikan ini pada keluarga Lee” jawab Taeyeon.

“Apa isinya?” tanya petugas itu. Ia memandang kotak kue yang Taeyeon bawa dengan pandangan seolah kotak itu bisa meledak kapan saja.

“Kue”

“Ya sudah, biar saya saja yang memberikannya” petugas itu tanpa persetujuan merebut kotak kue Taeyeon.

“Aku tidak dipersilahkan masuk?” tanya Taeyeon kaget. Kenapa petugas keamanan di rumah ini bahkan lebih ketat dari hotel bintang lima?

“Kau siapa?” balas pria itu.

“Aku sudah bilang aku Kim Taeyeon dan rumahku ada di sebelah timur, tiga rumah dari sini. Artinya aku tetangga pemilik rumah ini!” sahut Taeyeon merasa tak bisa bersabar lagi. Ia terganggu dengan pandangan si petugas yang menganggapnya seperti salah satu anggota jaringan teroris.

“Lalu apakah itu…”

“Jika kau melarang Taeyeon masuk ke rumah ini, maka ini hari terakhirmu bekerja disini” kata sebuah suara dingin di belakang Taeyeon.

Taeyeon menoleh. Lee Donghae berdiri di belakangnya dengan jaket putih diretsleting hingga menutupi leher jenjangnya. Tangannya yang satu memegang sebuah kaleng rootbeer dan yang satunya dimasukkan ke dalam kantung jaketnya.

“Tuan muda…” gumam pria berbadan besar itu takut-takut.

Donghae berjalan memasuki rumahnya dan langsung menggandeng Taeyeon begitu melewatinya. Taeyeon menyambar kotak kue yang ada di tangan petugas keamanan itu.

“Maaf, dia baru seminggu kerja disini” ujar Donghae.

Taeyeon tersenyum kecil.

“Jadi ada apa tiba-tiba kesini malam-malam?”

Taeyeon menyerahkan kotak kue yang dipegangnya pada Donghae, “Aku hanya ingin memberikan ini”

Donghae menerimanya dengan satu tangan. Ia melihat kedalam kotak yang atasnya transparan itu, “Wah, kue favoritku!”

Taeyeon tersenyum, “Ibu bilang dia belum memberi apa-apa sejak kau pulang, jadi dia memberikan ini”

“Tak perlu repot-repot” gumam Donghae. Ia masih memandang kue itu dengan penuh selera. Kue choco vanilla buatan ibu Taeyeon memang favoritnya sejak kecil. Ia bisa menghabiskan satu loyang besar kue itu sendirian.

Taeyeon tersenyum geli membayangkan Donghae yang sekarang menghabiskan satu loyang kue. Dia tidak berubah. Dia masih tetap Donghae yang dulu…seandainya tidak ada Kyuhyun di hidupnya. Tanpa Taeyeon sadari ia lama sekali memandang Donghae dengan tatapan kosong.

“Ada apa?” tanya namja itu.

Taeyeon tersadar, “Ah~ tidak apa-apa”

Donghae duduk di bangku kayu di pekarangan rumahnya yang luas dan menaruh kotak kue itu di meja kecil samping bangku. Taeyeon mengikuti duduk di sebelahnya.

Donghae menyodorkan sebuah kaleng rootbeer yang tersimpan di sakunya. Taeyeon menerimanya hanya untuk alasan lebih lama berada disitu. Terlepas dari segala argumen yang ia dan namja itu alami beberapa hari lalu, ia akui ia sangat rindu menghabiskan waktu dengan Donghae. Taeyeon membuka kaleng rootbeer-nya dan meminumnya.

“Bagaimana pekerjaanmu, oppa?” tanyanya berusaha mencari topik pembicaraan.

“Begitulah” jawab Donghae.

“Pasti kau senang sudah menggapai impianmu menjadi pengusaha”

Donghae mendengus, “Belum sepenuhnya. Belum ada proyek besar yang aku pegang. Sejak kemarin proyek terbesar yang aku pegang adalah beasiswa untuk anak-anak sekolah”

Mendengar kata beasiswa, Taeyeon langsung teringat pada Seohyun, “Ah… Ya. Temanku juga mendapat beasiswa dari XO Group”

“Benarkah? Siapa?” tanya Donghae sedikit antusias.

“Seohyun” jawab Taeyeon, “Temanku di Kyunghwa, guru les Matematika Luhan”

Donghae memandangnya beberapa detik, seolah menunggu penjelasan tentang Seohyun berikutnya, tapi karena Taeyeon tidak berkata apa-apa maka ia berujar, “Maksudmu Seo Joohyun? Seingatku hanya dia peserta dari Kyunghwa yang mendapat beasiswa”

“Iya” Taeyeon tersenyum tipis, “Kudengar dia juga mendapat beasiswa khusus, beasiswa sampai kuliah?”

Donghae meneguk rootbeer dari kalengnya lalu mengangguk, “Aku lihat dia tipe pekerja keras, jadi dia layak mendapatkan beasiswa itu”

…“Aku hanya tidak mau dia memberikan beasiswa itu pada Joohyun dengan maksud tertentu”…

…”Tapi dia teman Taeyeon”…

Taeyeon menghela napas. Kyuhyun jelas tidak memiliki alasan kuat untuk berkata seperti itu. Dia hanya terlalu sensitif dengan nama Lee Donghae.

“Kau dekat dengan Seo Joohyun itu?” tanya Donghae.

Taeyeon menggeleng, “Tidak terlalu. Tapi dia teman terbaik Kyuhyun sejak kecil”

Donghae terdiam sejenak. Lalu tiba-tiba berkata pelan, “Kalau kau bisa menerima keberadaan Joohyun sebagai teman kecil Kyuhyun, kenapa Kyuhyun tidak bisa menerima keberadaanku sebagai teman kecilmu?”

Taeyeon menoleh memandang Donghae. Kali ini dia tidak terlihat memaksa seperti sebelumnya. Ia hanya terlihat menyesalinya, “Oppa…”

Donghae tiba-tiba bangkit dari duduknya dengan kotak kue ditangannya lalu tersenyum pada Taeyeon, “Aku bilang apa barusan? Sudahlah, lupakan. Pulang sana, sudah malam. Aku juga masih ada kerjaan”

“Oppa” lirih Taeyeon lagi. Ia meraih tangan Donghae ketika namja itu akan pergi.

Donghae berhenti melangkah. Tapi ia tidak menolehkan wajahnya pada Taeyeon, melainkan terus memandang ke depan.

“Bukannya dia tidak bisa menerima keberadaanmu, aku yakin Kyuhyun bisa mengerti hubungan kita” ujar Taeyeon, “Tapi akulah yang ingin menjaga perasaan Kyuhyun. Sekalipun dia bisa menerima keberadaanmu, aku tahu pasti masih ada rasa sakit yang dia rasakan walaupun sedikit. Karena aku pun mengalami itu sekalipun aku percaya pada hubungannya dengan Seohyun”

Donghae masih tak bergerak. Taeyeon melanjutkan kata-katanya, “Itulah alasanku menjaga jarak denganmu. Aku tak ingin menyakiti dia walau sedikit saja. Aku tidak ingin melihat dia terluka, karena aku tahu aku akan lebih terluka. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebeumnya, makanya mungkin aku terlihat menyebalkan untukmu. Aku hanya merasa aku tidak bisa hidup tanpa keberadaannya, dia sangat berart—”

Donghae tiba-tiba menarik Taeyeon berdiri dan memeluknya. Sangat erat.

“O-oppa…”

“Jangan bicara lagi” bisik Donghae di telinganya, “Kau takut melihat dia terluka, tapi kau tidak takut melihat aku terluka? Jangan bicarakan dia di hadapanku lagi. Bagiku kau milikku. Hanya milikku. Dulu, sekarang dan selamanya”

Taeyeon terdiam. Ia tidak bilang ia tidak takut melihat Donghae terluka. Ia hanya lebih mementingkan perasaan Kyuhyun. Tapi melihat Donghae seperti ini…

Ia perlahan mengangkat tangannya ke punggung Donghae, membalas pelukannya. Ia dapat merasakan tubuh Donghae bergetar di pelukannya.

***

Taeyeon memandangi Kyuhyun yang sedang memakan menu makan siangnya—sambil menopang dagu dengan kedua tangan di meja cafètaria. Sebenarnya pikiran Taeyeon tidak sepenuhnya berada disana.

Sudah beberapa malam ini setiap pulang kerja Donghae selalu berkunjung ke rumahnya dan hubungan mereka telah membaik seperti dulu. Tapi yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana memberitahukan Kyuhyun bahwa Donghae sering berkunjung ke rumahnya akhir-akhir ini. Mungkin yang lainnya akan menyuruhnya untuk tidak memberitahu Kyuhyun, tapi ia tidak ingin menutupi apapun, terlebih pada kekasihnya. Ia tidak ingin terjadi salah paham. Lagipula memang tidak ada yang perlu ditutupi.

“Apakah aku semakin tampan, sampai-sampai kau tidak berhenti memandangiku seperti itu?” tanya Kyuhyun setelah merasa agak risih terus dipandangi oleh Taeyeon. Tapi sayangnya Taeyeon masih tenggelam dalam lamunannya.

“Ya. Kim Taeyeon!”

“Eoh? A-apa?” tanya Taeyeon gelagapan.

“Aku semakin tampan atau kau kemasukan setan? Kenapa memandangiku terus?”

Taeyeon mengerucutkan bibir, “Memangnya aku tidak boleh memandangi kekasihku sendiri?”

“Bu-bukan begitu. Tapi…” Kyuhyun terbata, “Aish!”

Taeyeon tertawa. Semakin kesini bukan hanya Kyuhyun yang bisa membuatnya salah tingkah, ia juga bisa. Taeyeon tersenyum melihat wajah Kyuhyun yang memerah.

Kyuhyun melanjutkan makannya walaupun ia menjadi tidak konsen karena masih Taeyeon pandangi. Tapi kembali pikiran Taeyeon tidak sepenuhnya berada disana.

“Sepertinya ada yang ingin kau katakan” tebak Kyuhyun setelah ia menghabiskan suapan terakhirnya.

Taeyeon menatap mata namja itu dengan ragu, “Ehm…”

Kyuhyun menyeruput juice-nya, “Katakan saja”

“Beberapa malam ini Donghae oppa sering ke rumahku” ujar Taeyeon akhirnya.

Uhuk~

Kyuhyun tersedak juice-nya sendiri. Taeyeon langsung membantu mengelus-elus punggungnya.

“Malam?” tanya Kyuhyun setelah kembali menormalkan tenggorokannya, “Dia menginap dimana?”

Taeyeon mengernyit, “Siapa bilang dia bermalam? Aku cuma bilang dia beberapa malam ini sering berkunjung ke rumahku. Sepulang kerja, kadang-kadang dia membawa makanan untuk keluargaku”

“Oh. Wah, baik sekali dia” Kyuhyun menjawab datar. Eh, tidak, justru cenderung tajam.

“Aku hanya ingin memberitahukan itu padamu. Supaya kau tidak salah paham dan jangan sampai kau mendengar hal ini dari orang lain”

“Biasanya orang baik ada maunya, kau tahu” kata Kyuhyun lagi.

“Kyuhyun-a, bersikaplah biasa padanya”

“Ya…ya..ya, baiklah” Kyuhyun membuang muka dari Taeyeon.

Saat itulah Hyukjae dan Suzy mendekati mereka. Hyukjae terlihat sedikit panik dan ditangannya ada sebuah amplop.

“Kyuhyun-a” panggil Hyukjae.

Kyuhyun menoleh dan memandangnya bertanya-tanya.

“Kau tahu Seohyun kemana?” tanyanya.

“Tidak. Memang di kelasnya tidak ada? Daritadi aku tidak bertemu dengannya disini” jawab Kyuhyun.

“Bukan itu” tukas Hyukjae, “Seohyun sudah lima hari tidak masuk sekolah dan dia melewatkan satu kuis harian. Dan ini—” Hyukjae mengacungkan amplop di tangannya, “—adalah surat peringatan pemutusan beasiswa yang diterimanya dari XO Group. Karena syarat penerima beasiswa menyebutkan dia tidak boleh melewatkan satu nilai apapun”

“Beasiswa sialan itu!” Kyuhyun menggeram marah dan berusaha merebut amplop itu dari tangan Hyukjae. Tapi Hyukjae segera menjauhkannya dari jangkauan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun, tidak bisakah kau berpikir jernih sekarang??” sergah Hyukjae, “Seorang Seo Joohyun tidak mungkin melewatkan sekolahnya kalau tidak terjadi apa-apa! Tidakkah kau mengkhawatirkannya??”

“Aku baru ingat… Dia juga sudah dua kali tidak mengajar Luhan” tambah Taeyeon.

Seketika Kyuhyun seperti tertampar dengan kata-kata Hyukjae dan Taeyeon. Taeyeon merasakan hatinya berdesir. Ia tahu Kyuhyun benar-benar mengkhawatirkan Seohyun.

“Kita ke rumahnya sepulang sekolah!” putus Kyuhyun sebelum meninggalkan cafètaria.

***

Hyukjae mengemudikan mobilnya menuju sebuah daerah kumuh di pinggiran kota Seoul. Kyuhyun duduk di sampingnya. Taeyeon dan Suzy duduk di kursi belakang. Taeyeon memaksa ikut karena dia bilang dia juga peduli pada Seohyun. Dan Suzy memaksa ikut karena Taeyeon boleh ikut.

“Ini aneh sekali” Kyuhyun buka suara. Ia baru saja menghubungi nomor Seohyun, namun tidak mendapat jawaban, “Nomor Joohyun tidak aktif”

“Benarkah?” tanya Hyukjae.

Kyuhyun mencengkeram ponselnya dengan kesal, “Apa yang sedang dilakukan anak bodoh itu!”

Tiba-tiba sebuah tangan meremas lembut pundaknya dari arah belakang. Tangan Taeyeon—tentu saja.

“Dia pasti baik-baik saja” bisik Taeyeon, menenangkan.

Tak banyak yang dibicarakan selama perjalanan. Kyuhyun dan Hyukjae larut dalam pikiran masing-masing, menebak apa yang terjadi pada Seohyun, sementara Taeyeon dan Suzy tidak berani mengganggu dua namja itu.

Setelah berkendara selama kurang lebih satu jam, akhirnya mobil Hyukjae berhenti disebuah kawasan. Kyuhyun dan Hyukjae bertukar pandang. Mereka menahan napas. Seharusnya kawasan itu adalah pemukiman kumuh tempat Seohyun dan ibunya tinggal, tapi sekarang…

“Kenapa kita berhenti di tempat proyek ini?” tanya Suzy. Kepalanya menyembul diantara kursi Kyuhyun dan Hyukjae. Ia bergantian memandang kedua namja itu dan kawasan proyek yang sekarang sudah rata dengan tanah.

“Ini…” Kyuhyun membuka suara hendak menjawab Suzy namun ternyata ia tidak sanggup melanjutkannya.

Suzy memandangnya dengan bingung. Dan Taeyeon juga menunggu jawabannya.

“Kawasan proyek ini sebelumnya adalah rumah Seohyun dan ibunya” jawab Hyukjae pelan.

“A-apa? Tapi… Ini… Berarti rumah mereka—?” Suzy kehilangan kata-katanya.

Kyuhyun menghela napas. Rumah mereka digusur, desisnya dalam hati. Tanpa berpikir panjang ia langsung turun dari mobil dan melankah cepat memasuki sebuah mini market diseberang tempat proyek itu. Taeyeon langsung turun mengejarnya. Hyukjae dan Suzy menyusul setelahnya.

“Permisi” ujarnya pada penjaga kasir mini market itu.

“Ya? Ada yang bisa kami bantu?” tanya kasir laki-laki itu.

Taeyeon telah berada dibelakangnya, namun ia tak mempedulikannya, “Itu untuk proyek apa, ya?”

Kasir itu menangkap proyek konstruksi yang dimaksud, “Oh, itu… Aku dengar itu proyek dadakan. Sepertinya akan dibuat gedung perkantoran”

“Sejak kapan? Rumah-rumah kecil yang sebelumnya ada disana sekarang kemana?” tanyanya lagi. Ia berusaha mengendalikan rasa paniknya. Dan beruntung Taeyeon menyentuh punggungnya, membuatnya sedikit tenang.

“Sekitar lima hari yang lalu kalau tidak salah. Aku tidak tahu mereka pergi kemana. Yang jelas kontraktor proyek itu datang begitu tiba-tiba pada pagi hari dan penghuni rumah-rumah itu langsung diusir” jawab kasir itu lagi.

“Tidak ada ganti rugi dari kontraktor itu?”

Kasir itu menggeleng.

Kyuhyun menghela napas dan mengacak rambutnya. Joohyun, ahjumma, kalian dimana?—pikirnya gelisah. Tanpa basa-basi ia langsung keluar dari mini market. Taeyeon menyampaikan ucapan terimakasihnya sebelum kembali menyusulnya.

Donghae dan Suzy sedang berbicara dengan salah satu karyawan proyek dan Kyuhyun langsung mendekati mereka.

“…tidak tahu menahu. Kami hanya ditugaskan disini” jawab pria yang kelihatannya berumur 40 tahunan yang memakai topi proyek.

“Sama sekali tidak ada ganti rugi atau apapun?” tanya Hyukjae.

Pria itu menggeleng, “Ini tanah milik perusahaan. Jadi tidak perlu ada dana ganti rugi”

“TAPI MEREKA TIDAK PUNYA TEMPAT TINGGAL SELAIN DISINI! BAGAIMANA KAU BISA BEGITU SAJA MERAMPASNYA?!” seru Kyuhyun tiba-tiba. Ia nyaris menerjang pria itu kalau saja tidak ada Taeyeon yang refleks menahannya dari belakang dan Hyukjae yang menghalangi jalannya.

Hyukjae mendorong Kyuhyun mundur sambil meminta maaf dan berterimakasih pada pria paruh baya itu. Suzy membungkuk meminta maaf. Mereka berjalan menjauh.

“Kyuhyun, tenanglah” suara Taeyeon yang biasanya paling menenangkan pun kali ini tidak bisa menenangkan Kyuhyun. Namja itu terlalu kalut.

“Joohyun tidak punya rumah. Ibunya kesehatannya tidak baik. Mereka mau tinggal dimana?” Kyuhyun berujar sangat pelan, ia menumpukan dahinya di pundak Taeyeon dan Taeyeon mengelus rambutnya, “Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada mereka?”

“Kyuhyun-a, Seohyun tidak selemah itu. Aku tahu dia bisa bertahan” ujar Hyukjae.

“Seo Joohyun…” gumam Kyuhyun seraya menangkupkan satu tangannya pada wajahnya. Ia tidak mempedulikan sekelilingnya lagi. Yang ia pikirkan hanyalah Seo Joohyun. Dan ia tidak menyadari Taeyeon perlahan berjalan menjauh dari sampingnya.

***

…“Jika ada yang bertanya siapa dua orang terpenting di dalam hidupku, tentu aku akan menjawab Hyukjae dan Joohyun. Jika mereka berdua sedang berada dalam keadaan sekarat di hadapanku, aku akan menjadi orang pertama yang memohon pada Tuhan untuk menukar posisiku dengan posisi mereka. Hyukjae dan Joohyun adalah dua orang paling penting yang bahkan tidak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata”…

Taeyeon berjalan menunduk menjauhi Kyuhyun yang masih terlihat amat panik dengan kenyataan rumah Seohyun digusur dan sekarang sudah rata dengan tanah. Sikapnya sekarang membuktikan bahwa perkataannya waktu itu benar. Seohyun dan Hyukjae adalah dua orang terpenting dalam hidupnya.

Tapi tetap saja, Taeyeon lebih memilih untuk tidak melihat kepanikan Kyuhyun. Ada sebuah rasa sakit dalam hatinya. Tapi ini bukan perasaan cemburu karena ia juga mengkhawatirkan Seohyun. Hanya saja… ia merasa Kyuhyun sedang terluka dan ia tidak mampu melihat kekacauan namja itu berlama-lama.

Tiba-tiba ia teringat kata-kata Kyuhyun lagi…

…Jadi jangan tanya jika kau sekarat di hadapanku aku akan berbuat apa, karena detik itu juga aku pasti akan sekarat bersamamu”…

Taeyeon tersenyum tipis. Mungkin ini rasanya. Ketika Kyuhyun sakit, ia tidak dapat memungkiri bahwa ia ikut merasa sakit.

Ia berjalan pelan mendekati proyek konstruksi itu, berharap menemukan petunjuk tentang Seohyun dan ibunya yang dapat membantu menenangkan Kyuhyun. Dan ia tak sengaja menemukan sebuah papan besar bertuliskan:

Tanah dan bangunan ini milik I X88

Taeyeon tertegun. Ia tahu perusahaan itu…

***

Taeyeon dan Suzy berdiri di depan kelas Kyuhyun dan Hyukjae sepulang sekolah. Kebetulan kelasnya bubar sedikit lebih awal hingga mereka langsung bergegas menuju kelas dua namja itu.

Hyukjae dan Kyuhyun keluar paling akhir diantara teman-teman sekelasnya. Hyukjae yang melihat mereka langsung tersenyum dan mendekati Suzy lalu berjalan sambil merangkulnya. Sementara Kyuhyun berjalan menunduk sambil melamun. Taeyeon tahu apa yang dia pikirkan. Dia seolah tidak sadar pada sekelilingnya sejak kemarin pulang dari kawasan rumah Seohyun yang sudah rata dengan tanah.

“Hey” tegur Taeyeon pelan saat Kyuhyun nyaris melewatinya begitu saja.

Kyuhyun menoleh dan tersenyum, “Hey. Sejak kapan kau disini?”

“Sejak tadi” jawab Taeyeon. Mereka sekarang berjalan sejajar, beberapa meter dibelakang Hyukjae dan Suzy.

“Ah, benarkah?” sahut Kyuhyun sedikit terkejut.

Taeyeon tersenyum pahit. Disatu sisi ia senang mempunyai kekasih yang amat peduli pada orang yang disayanginya, tapi di sisi lain ia sakit melihat Kyuhyun seperti ini.

“Belum ada kabar dari Seohyun?” tanya Taeyeon, padahal ia sudah bisa menebak jawabannya.

Kyuhyun menggeleng, “Tapi aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya”

“Aku harap cepat ada kabar darinya”

“Aku tak habis pikir, kenapa ada orang tega menggusur rumah penduduk yang tak punya rumah lain tanpa ganti rugi. Sekalipun dia pemilik asli tanah itu, seharusnya dia peduli dengan nasib penduduk disana. Kalau aku tahu orangnya, mungkin aku akan memberi pelajaran pada boss perusahaan itu” lanjutnya.

Taeyeon menelan ludah. Haruskah ia katakan yang sebenarnya?

***

Taeyeon melirik jam dinding di ruang tengah kemudian memandang ke pintu utama rumahnya dengan gelisah untuk yang kesekian kalinya. Sudah pukul delapan, dan biasanya orang itu sudah datang ke rumahnya.

“Kau menunggu siapa sih?” tanya Luhan, terganggu melihat kegelisahan noona-nya.

“Donghae oppa” jawabnya.

“Donghae hyung?” ulang Luhan dengan nada heran, “Tumben sekali. Biasanya kau tidak suka hyung berkunjung kesini? Katanya nanti Kyuhyun cemburu, sakit hati…”

“Diam kau” tukas Taeyeon. Memang Luhan benar. Tidak mungkin ia menunggu Donghae seperti ini jika ia tidak punya maksud tertentu. Tapi setelah setengah jam lagi ia menunggu, Donghae tak datang juga. Ia mengambil ponsel di saku jeans-nya dan memutuskan menghubungi nomor Donghae.

“Ya, Taeng?”

“Oppa!” sahut Taeyeon, “Kau dimana?”

“Di rumah”  jawab Donghae, “Kenapa?”

“Tidak ke rumahku?” tanya Taeyeon lagi.

“Aku sedang sangat lelah. Kenapa? Kau rindu padaku?”

Tak menjawab pertanyaannya, Taeyeon langsung berseru, “Aku kesana sekarang!”

Taeyeon benar-benar langsung berlari keluar rumahnya, tidak dipedulikannya Luhan yang memandangnya dengan amat bingung. Ia berlari kerumah Donghae dan langsung masuk melewati gerbang—petugas keamanannya sekarang sudah mengenalnya dan pria itu tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia masuk ke pintu utama dan memperhatikan seisi rumah. Tak ada orang. Maka ia langsung bergegas menuju kamar Donghae dilantai dua seperti yang biasa ia lakukan sejak kecil.

“Oppa!” serunya sambil membuka pintu kamar Donghae sekuat tenaga.

Donghae sedang duduk—menyilangkan kaki—diatas tempat tidur dengan laptop di hadapannya. Ia mendongak memandang Taeyeon dari balik kacamata minusnya yang justru membuat ketampanannya berkali lipat, “Taeyeon?”

Taeyeon duduk di tepi tempat tidur, tak jauh dari tempat Donghae duduk, “Kenapa justru saat aku menunggumu, kau malah tidak datang ke rumah?”

Donghae tertawa, “Aku sedang banyak kerjaan. Sebegitu rindunyakah kau padaku?”

Taeyeon hanya merengut.

Donghae tersenyum, “Kemari” ujarnya menyuruh Taeyeon duduk lebih dekat disampingnya.

Taeyeon menurut dan bergerak mendekati Donghae.

“Ada apa?” tanya Donghae.

“I X88 Co. itu perusahaan keluargamu kan?”

Donghae mengernyit, “Iya… Kenapa memang?”

“Aku punya satu permintaan padamu, oppa” ujar Taeyeon serius. Donghae masih memandangnya, menunggu kata-kata selanjutnya, “Kau tahu ada proyek milik I X88 yang baru akan dibangun di daerah Nowon?”

Donghae mengangguk ragu. Ia sudah menebak kemana arah pembicaraan ini.

“Ada temanku yang kehilangan tempat tinggalnya karena proyek itu. Dia tidak punya tempat tinggal lain. Aku mau kau memberikan dana ganti rugi untuknya”

Donghae mengernyit. Taeyeon bukan meminta, melainkan memerintah.

“Temanmu siapa?”

“Aku bilang pun kau tidak akan tahu”

Donghae mendengus lalu kembali menyibukkan diri dengan laptopnya, “Aku tidak bisa mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Taeyeon-a”

“Tapi orang-orang sedang mempertaruhkan hidupnya karenamu! Kau tahu, mereka tidak punya uang, tidak punya tempat tinggal dan kau menggusur rumah mereka begitu saja??” seru Taeyeon marah.

“Bukan salahku, mereka yang membangun rumah diatas tanah perusahaan” jawab Donghae dingin.

Taeyeon bangkit dari duduknya, “Oppa! Aku tidak mengenalmu sama sekali”

Donghae memandangnya yeoja itu, “Apa?”

“Lee Donghae yang dulu tidak akan membiarkan orang lain menderita. Lee Donghae yang dulu selalu mengerti perasaan orang lain. Lee Donghae yang dulu akan memenuhi permintaanku”

“Kim Taeyeon” tukas Donghae sambil tertawa sinis, “Kalau aku memenuhi permintaanmu, apa kau akan memenuhi permintaanku?”

Taeyeon terdiam.

“Tidak, kan?” simpulnya, “Seumur hidup hanya satu kali aku meminta padamu, tapi kau tidak pernah bisa memenuhi permintaanku”

Taeyeon masih diam. Ia memandangnya tak percaya dan selama beberapa saat ia diam saking kesalnya, “Jadi masih soal itu?”

Donghae mengalihkan pandangannya kembali ke laptop, “Kalaupun bukan soal itu, aku tetap tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Aku tidak bisa mencampurkan pekerjaan dengan urusan pribadi seperti ini”

“Ini bukan urusan pribadi! Ini mengenai kepentingan banyak orang!” sahut Taeyeon tak sabar.

“Tapi kau menuntutku untuk mengganti rugi untuk satu orang, kan?” balas Donghae, “Lagipula siapa suruh mereka membangun rumah diatas tanah perusahaan”

Taeyeon menghela napasnya, seolah sudah kehabisan kesabaran.

“Siapa orang itu hingga kau melakukan hal ini?” tanya Donghae lagi.

Lagi-lagi Taeyeon tidak menjawab.

”Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, lebih baik kau pergi, Taeyeon-a”

Tetapi bukannya pergi, Taeyeon malah duduk kembali di sampingnya.

“Oppa…”  ujar Taeyeon lirih, “Aku mohon…Demi Kyuhyun”

Donghae sudah tahu inilah alasan utamanya, tapi ia berpura-pura terkejut, “Jadi masih soal dia?”

Taeyeon mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Sejujurnya Donghae sedikit khawatir karena ia belum pernah melihat yeoja itu sebingung ini.

“Pergilah, Tae” usirnya. Ia takut pendiriannya akan goyah, “Percuma kau disini, tidak akan ada yang terjadi. Aku tidak akan melakukan apa-apa, terutama jika berhubungan dengan dia”

Taeyeon masih tidak menjawab tapi juga tidak beranjak dari tempatnya. Yeoja itu mengusap matanya dengan punggung tangan. Dia menangis. Donghae tertegun. Ia tidak bisa melihat Taeyeon menangis.

“Kim Taeyeon” ujar Donghae pelan dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.  Ia meraih tangan Taeyeon dan menggengamnya, “Kau ingat janjiku bahwa aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis?”

“Karena itu oppa, kabulkanlah permint—”

“Bukan. Bukan aku yang membuatmu menangis” potong namja itu, “Kau menangis karena memikirkan orang itu. Lalu bagaimana kau berharap aku bisa menerima dia di hidupmu?”

“Sudahlah oppa” Taeyeon mendengus, “Aku menyesal berbicara padamu” Ia menepis tangan Donghae dari tangannya dan meninggalkan kamar namja itu.

Donghae menghela napas panjang beberapa saat setelah Taeyeon pergi, kemudian menghubungi seseorang.

“Ya, Tuan Lee?”

“Jangan berhenti mengawasi Seo Joohyun dan ibunya. Segera beritahu aku apapun yang terjadi pada mereka”

***

“Ayo Seohyun-a, bantu aku beres-beres” ujar seorang wanita paruh baya sambil mengambil beberapa potong pakaian dari display dan membawanya ke dalam toko.

“Eoh, iya” jawab Seohyun sedikit terkejut. Ia sudah hampir tertidur di meja kasir tadi. Ia segera bergerak membantu membereskan display-display baju diluar.

“Tadi malam kau tidak tidur lagi ya?” tanya nyonya Kang, wanita baik hati yang mengizinkannya bekerja di toko pakaiannya tanpa syarat apapun beberapa hari yang lalu.

Seohyun menoleh padanya dan tersenyum, “Ah, tidak. Hanya sedikit telat tidur”

“Aigo, anak ini” gumam nyonya Kang, “Lihat, kantung matamu sudah seperti panda”

Seohyun hanya mengusap-usap matanya sambil tersenyum tak enak, masih sambil membereskan baju-baju di display.

“Kau sudah punya tempat tinggal tetap?” tanya nyonya Kang lagi.

Seohyun terdiam sejenak, lalu menggeleng lemah, “Ibu masih aku titipkan di rumah teman lamanya sampai aku mempunyai uang cukup untuk menyewa rumah yang layak”

“Dan kau sendiri selalu bermalam di bar itu?”

Seohyun tersenyum lemah lagi, “Asal ada tempat untukku tidur, itu sudah lebih dari cukup. Lagipula security di bar itu sangat baik padaku”

“Astaga” gumam nyonya Kang, “Pagi mengantar susu keliling kota, siang sampai sore menjaga toko ini, malam jadi waiters di bar, kapan kau istirahat?”

Seohyun merapikan tumpukan baju terakhir, “Setelah aku mendapat uang sewa yang cukup, aku tidak akan bekerja sekeras ini, ahjumma”

“Lalu sekolahmu bagaimana?” Nyonya Kang tahu Seohyun sudah seminggu tidak masuk sekolah.

Seohyun menghela napas. Memikirkan sekolah otomatis membawanya memikirkan beasiswa yang baru ia dapat tapi pasti sekarang sudah terlepas karena keabsenannya disekolah yang membuatnya kehilangan banyak pelajaran dan nilai. Ia berusaha menahan airmatanya, “Yang terpenting bagiku sekarang adalah ibuku mendapat tempat tinggal yang layak. Aku tidak bisa membiarkan dia tidur di tempat sewa murah yang asal-asalan. Dia masih sakit”

“Seandainya aku belum menjual flat-ku, mungkin aku akan mengizinkanmu tinggal disana secara cuma-cuma. Tapi sekarang flat itu sudah kujual dan rumahku sekarang tidak dapat menampung orang lagi” ujar nyonya Kang merasa menyesal.

Seohyun tersenyum padanya, “Tidak perlu, ahjumma. Memberikan pekerjaan disini tanpa syarat saja aku sudah sangat berterimakasih”

Nyonya Kang terdiam memandanginya yang sedang membereskan barang-barang kedalm tas. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan pekerjaannya menjaga toko sudah selesai.

Seohyun kembali menghadap wanita paruh baya itu, “Ahjumma, aku pergi dulu”

“Hati-hati di jalan” balas nyonya Kang lalu Seohyun meninggalkan toko itu.

Keluar dari gedung pertokoan ternyata membawanya berpapasan dengan beberapa siswa-siswi Kyunghwa yang baru pulang sekolah sore itu. Ia segera menutupi kepalanya dengan hoodie lalu menyusuri trotoar dengan cepat sambil menunduk. Bukannya ia malu dengan keadaannya saat ini, tapi melihat seragam mereka saja membuatnya ingin menangis. Seragam kebanggaan Kyunghwa  Ia ingin kembali memakainya.

Bruk!!!

Karena terus menunduk, tak sengaja ia menabrak seorang gadis yang baru keluar dari coffee shop.

“Akh!” jerit gadis itu.

Seohyun mendongak untuk meminta maaf tapi terhenti saat melihat wajah gadis yang ditabraknya. Dia kekasih Leader Light. Astaga, kenapa aku justru harus menabrak anak Kyunghwa?

“Yunhie-ya, aku tunggu diluar!”

Tanpa menunggu jawaban dari namjanya, Saehyun segera keluar dari coffee shop itu.

“Akh!” ia menjerit karena seorang gadis memakai hoodie menabraknya tiba-tiba.

Yeoja itu mengangkat wajahnya untuk meminta maaf namun terhenti saat melihat wajah Saehyun. Saehyun sendiri yang tadinya mau marah-marah jadi terhenti saat melihat wajahnya. Rasanya wajah itu familiar…

“M-maaf” ujar gadis itu akhirnya dan ia langsung berjalan cepat meninggalkan Saehyun yang kebingungan.

“Ada apa?” tanya Yunho yang baru keluar dari coffee shop dengan dua gelas coffee latte di tangannya.

Saehyun mengangkat bahu, “Yeoja yang memakai hoodie itu menabrakku. Tapi aku merasa aku pernah melihatnya”

Yunho memandang punggung gadis yang ditunjuk Saehyun, gadis itu sudah cukup jauh dan Yunho pun mengenali perawakannya, “Bukankah dia sahabat Kyuhyun? Yang biasanya satu paket dengan Hyukjae?”

“Ah…ya. Betul!” seru Saehyun sambil menjentikkan jari, “Tapi kenapa dia ada disini? Dan tidak memakai seragam? Ini kan baru waktunya pulang sekolah, tidak mungkin dia sudah mengganti pakaiannya begitu cepat, kan? Dan kenapa dia datang dari arah sana? Dan kenapa wajahnya begitu kusut?”

Yunho menyerahkan satu gelas kertasnya pada yeoja itu, “Tumben kau peduli pada orang lain”

Saehyun diam sambil memegang gelasnya. Eh iya…kenapa ia harus mengurusinya?

To be continue…..

Thank’s To :

alma [my first comment. I love u chingu😙😊😗]. lindawulandari [makasih, semoga tetep penasaran yah biar ga bosen🐸]. alifiyanticho05 [itu mungkin chingu. Fighting🐣]. Fitriani [Ya! Fighting! 🐥]. mia [semoga aja. Tp sayangnya author yg aneh2. Sip🐴]. deasyandrianie [kalo kyu ga romance dia bakalan dipecat dari ff ini😂 update cepet selalu diusahain]. Bubble Taengoo TaeNy [eonni!! Demi apapun aku selalu suka komentarmu yg membangun. Btw, sehun?? Hahaha.. aku liat banyak ff sehun disini dan sedikit info, ff FINE itu punya tmn aku dan aku bantu edit dan buat posternya, jd mungkin rasa sehun msh kebawa2 pas aku nulis ff ini. Aku tunggu long-your-comment-nya😊💕]. erwin [makasih. Sipoke😉]. meidaarinadia88 [sayangnya mereka akan renggang. Umm, ngena apakah buat baper? Hati2 chingu, km bakal falling in love sm kyu😸]. sindy [gapapa sayangku😻 makasih buat komentarnya yah]. barcelonista [aku jg jealous. Tp kebutuhan cerita. Makasih eon🎎 btw eonni line berapa yah?]. euis amaliandi [loving so sweet. Bawa pulang aja kyu nya. Makasih🕊]. via agnesia [jelas ada hubungannya sama taeng. Kan taeng satu2nya orang yg dicintai donghae. Terus ikuti ceritanya ya eon🐛]

See You In Chapter Eighteen🤗

Advertisements

16 comments on “Dark Light To Diamond (Chapter 17)

  1. Kshn saya sama taeyeon thor… kyuhyun mengabaikannya krna seohyun hilang… dan donghae apa dia sngajaa brbuat sprti itu thor??? Apa krna dia ingin taeyeon kmbli kpdanya?? Penasaran sayaa thor. Dtnggu nextnyaa thor. Fighting😀😀

  2. updatw cepet senengnya,. ngerti bgt perasan taeyeon,sakiynya itu susah dijelasin,. antar sakit sama berusaha mengerti itu berat bgt,. tapi berharap taeyeon mau terus percaya sama kyuhyun,. sebenernya apa yg di rencaiin dongahe sih????

  3. Si Dongekk jahat. Cinta d tolak ehh malah balas dendam. Suami gw (read. Kyu) jahat ma kmbaran gw (read.tae), d abaikan.. trlalu syang ma peduli ma sahabat ny..
    Kasian tae eon smpee ngemis ma ikan mokpo.. 😭😭😭

    Keep writing and fighting thor!!! 😉😁😊

  4. Kasuan seohyun.
    Karna dah digusur rumahx, dua jd g sekolah dan malah sibuk kerja buat bs nyewa tempat tinggal yg layak buat dia ama ibux.
    Moga kyuhyun bs cepet ketemu ama seohyun n bantuin dia biar bs sekolah lg…
    Taeyeon trus berpikir positif ama kyuhyun yg sedih seo menghilang ya.
    Bgaimanapun kyuhyun, seohyun ama hyuk udah sahabatan lama…
    Malah dah kayak kluarga ndiri…

  5. Seohyun kasian nasibmu nak,,,
    Ya lee donghae tega kali kau berbuat begitu, dasar mantan (majikan) gua yg tak berkemimiperian [gaje]…
    Wlau taetae itu pengertian, tp aq sbg perempuan tetep bsa ngerasain klo taetae itu psti jealous sm perhatiannya kyu ke seohyun

  6. uhhh aku baru baca chapter 16 dan 17 hari iniiii. dan daebaaakkkk. kyuuuu. kamu tuh kok kayak suka sm seohyun sihhh? kasian taeng tauuuu. thoorr. jgn buat amu nyesek grgr kesel sm kyu 😂 ditunggu next chapter nyaaaa. hwaiting thorrr

  7. Di sini ku greget banget sama taeng sumpah!!! Kenapa sii dia egois mikirin kyu dan dirinya sendiri kan donghaenya jadi kasihan di sini😢 “Kalau kau bisa menerima keberadaan Joohyun sebagai teman kecil Kyuhyun, kenapa Kyuhyun tidak bisa menerima keberadaanku sebagai teman kecilmu?” ini bener juga kenapa kyu seegois itu siihh taeng aja terima seohyun sebagai sahabat kyu dalan hubungan mereka tapi kenapa si kyu gak nerima donghae di hubingan mereka, kenapa siihh!!!! Benci deh sama si kyu! Cocok lah ya pasangan ini nyatu sama sama egois -, yakin ini mah beasiswa ini puncak masalahnya kyu lebih milih taeng apa seohyun, jujur di part ini si taeng 100% bikin emosi dia gak mikirin perasaan donghae dia cuma mikirin kyu, setiap adu mulut pasti taeng selalu bilang “Kau bukan lee donghae yang ku kenal” mikir gak sih dia itu, yang buat donghae berubah siapa? Cinta emang gak bisa di paksa ya tapikan setidaknya pikirin juga keadaan donghaenya. Dia minta ganti rugi cuma karna kyu!! Mikir gak sih diaa itu udah berapa banyak dia nyakitin kurang baik apalagi sih domghae buat hidupnya -, bener kata donghae kalo dia menuhi permintaan taeng apa taeng bakal mau menuhin permintaan donghae? Gak kan! Yaudah gak usah maksa!! Sumpah yaaa gerget banget di sini, plis deh kyu-taeng jauhi donghae kasihan donghae. Tapi ku bingung apa maksud perusahaan donghae ngebangun proyek di daerah rumah seo? Apa ini cuma akal akalan dia? Tpi klo emang ini akal akalan dia ya bagus di sini biar nampak si kyu milih taeng or seo ya meskipun 2 pilihan itu berat ya tapikan si kyu gak boleh tamak dong mau tae tapi mau seo juga kalau gitu mah taeng juga boleh dong deket sama donghae ya kan wong kyu aja boleh deket deket sama temen kecilnya -, bener bener egois deh si kyu semuanya mau. Pokoknya klogini mah dukung dah donghae ngerebut taeng dukung banget seriusan!!! Di tunggu banget next nya biar jelas semuanya😂 maaf ya daku marah marah di sini habisan kyutaeng bikin emosi sihh 😂😂 maaf yakk😅 btw chap ini di post nya cepet ya semoga next part juga cepet di post. Semoga😇😇 keep hwaiting yakk💪💪 Pyung💞

  8. Hhuuuaaaa, beneran bakal renggang ni hubungan kyutae.
    Donghae gak jahat kan ya,hhhmm.
    Yang kuat ya seohyun.
    Nxt chp ditunggu^^

  9. Yg pling menderita tu taeyeon,donghae,seohyun,sakittt bgt di gituin tu,pling tdk dgn donghae berbuat sprti ntu kyuhyun bisa lebih peka lgi ama prasaan taeyeon.

  10. Kasian seohyun ih. Duh donge ko jahat, tapi disini taeyeon egois banget cuma mikirin kyuhyun. Ceritanya makin seru, next chap ditunggu😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s