[FREELANCE] Fine (Chapter 2)


FINE all for my wife was spoiled

Author: Anfitaehun

Main Cast : Oh Sehun, Kim TaeYeon

Other Cast : Park Jiyeon, Im Yoona, Kwon Yuri, Victoria Song,

Length : Part

Rating : T+

Genre : Marriage-life, Sweet Romance

Summary : ‘Kim Taeyeon seorang gadis berumur 21 tahun yang memiliki sifat super manja. Oh Sehun pria berumur 22 tahun yang memiliki sifat super dingin. Keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana cara Sehun mengatasi pekerjaan dan istrinya??’

WARNING : Kiss scene & Typo(s)

Preview : Chapter 1

💜💜💜

Part 2

“Aku ingin bekerja di perusahaanmu, Sehunie”

Sehun sedikit terkejut dengan perkataan istrinya barusan, ia tidak pernah berpikir istrinya menginginkan sebuah pekerjaan di perusahaan. Maksudnya, Taeyeon sedang hamil. Bukankah hal yang paling baik dilakukan seorang suami yang memiliki seorang wanita yang tengah hamil muda adalah menyuruh istrinya istirahat dan melarangnya melakukan pekerjaan berat? Lagipula dirinya tak setega itu membiarkan wanitanya kelelahan didepan matanya dengan mengambil sebuah pekerjaan.

“Tae, ayo kita bicarakan nanti” jawab Sehun, ia dapat melihat sedikit kekecewaan di wajah sang istri, namun setelah ia mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepalanya sukses membuat wanita itu luluh, Taeyeon pun mengangguk patuh menuruti permintaan suaminya yang kini masih menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi, “Berbaring di bathub, aku akan menyiapkan shampoo untuk istriku yang malas keramas ini”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum memandang Sehun. Sehun bahkan masih memakai setelan kantornya, kecuali jasnya yang sudah ditanggalkan. Kemeja bagian lengannya dilipat sampai siku, dua kancing teratas dibuka, dan terakhir melongggarkan ikatan dasi dan sabuknya. Sepatu dan kaus kakinya sudah di lepas sebelum mereka memasuki kamar mandi.

Penampilan Sehun saat ini sama sekali tidak mengurangi pesonanya. Ia tetap tampan dan cool seperti biasa, keadaanya yang sekarang justru menambah poin plus tersendiri, ia selalu memiliki aura yang menarik sesepele apapun pekerjaan yang ia lakukan. Mengeramasi istrinya bukankah termasuk hal yang luar biasa sepele? Taeyeon menelan ludah, apakah lelaki itu benar-benar suaminya? Bagaimana bisa Taeyeon begitu beruntung memiliki suami seperti itu?

“Taeyeon, berkediplah. . . Kali ini apa? Masih tidak percaya lelaki dihadapanmu ini adalah suamimu?”

Lagi-lagi Sehun mengetahui apa yang Taeyeon pikirkan, membuat wanita itu membuang muka, sebenarnya ia hanya malu ketahuan selalu memandangi dan mengagumi Sehun meskipun tentu saja itu merupakan hal yang wajar, Sehun kan suaminya. Tetapi kenapa Sehun selalu mengetahui jalan pikirannya? Kenapa perkataan Sehun barusan seolah hanya Taeyeon saja yang terpesona olehnya?

Sehun berjongkok dan mencoba menatap istrinya, serta mensejajari dirinya dengan wanita yang kini tengah membuang muka, enggan menatap dirinya dan mengerucutkan bibir sebal. Ternyata seorang ibu hamil memiliki emosi yang begitu sensitif, Sehun sudah merasakan hal itu belakang ini, setiap perkataannya bahkan hampir selalu dipandang negatif oleh Taeyeon.

“Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu, Sehunie? Selalu merasa bahwa dirimu adalah lelaki sempurna. Apa maksud dari ucapanmu tadi adalah karena kau merasa tidak cocok denganku? Apa hanya aku saja yang terpesona olehmu dan kau tidak?”

“Tae…”

“Kau bahkan selalu mengatakan bahwa aku selalu memandangimu dan mengagumi ketampananmu, sekarang aku baru sadar bahwa kau sedang meremehkan aku. Memang aku bukanlah wanita yang pantas untuk orang sempurna sepertimu—”

“Tae, bukan itu maksud—” Sehun mencoba meraih kedua pipi Taeyeon, namun wanita itu masih saja menggerutu, Sehun berharap wanita itu mau memandangnya dan berhenti meneruskan ucapannya, tetapi Taeyeon justru menepis tangannya.

“Hanya aku yang menyukai dan merasa sangat bersyukur memilikimu, kau bahkan mungkin tidak pernah bersyukur dan kau merasa menyesal memiliki wanita seperti aku yang kekanakan dan manja serta merepotkan ini…Aku kerjanya hanya santai-santai di rumah, sedangkan kau… A-aaahhh!”

Shower tiba-tiba menyala, airnya meluncur deras membasahi tubuh Taeyeon membuat Taeyeon terlonjak kaget dan memeluk erat lelaki di depannya, debaran jantungnya begitu kencang. Melihat itu Sehun segera mematikan shower yang sengaja ia nyalakan untuk menghentikan spekulasi aneh Taeyeon, ia sudah mencoba menghentikan ucapan negatif istrinya yang sama sekali tak ada yang benar itu, tetapi Taeyeon terus saja melanjutkan kata-katanya, membuat dirinya kesulitan dan hanya itulah yang terpikir olehnya. Tetapi melihat ekspresi ketakutan sang istri yang kini ada di pelukannya membuat ia merasa bersalah. Sangat!

Taeyeon baru sadar setelah tangan kekar Sehun mengelus punggungnya lembut. Taeyeon memukul-mukul punggung lelaki yang tengah memeluknya, air matanya sudah tak dapat dibendung lagi, ia tak mengira Sehun akan menggunakan shower untuk membungkamnya, “Kejam! Aku sudah menikahi lelaki tak berperasaan! Hiks…”

“Maafkan aku, sayang. . . Aku sungguh menyesal. Aku hanya bingung. Aku sudah mencoba untuk menghentikanmu. Tapi kau bahkan menepis tanganku, aku sudah tak tahan mendengar spekulasimu yang semuanya salah. Aku tidak merasa menjadi seorang yang sempurna seperti yang kau katakan. Lagipula, aku tak pernah bertemu dengan wanita manapun yang kurasa cocok untuk menjadi pendamping hidupku selain dirimu. Percayalah, yang barusan kukatakan bukan berarti aku tidak terpesona olehmu, aku hanya bermaksud menggodamu. Dan terlepas dari itu semua, hanya istriku yang dapat membuat aku—seorang Oh Sehun—terpesona, jadi jangan merasa menjadi wanita yang tak pantas untukku. Aku sangat membutuhkanmu, Tae… Sangat! Hanya kau yang pantas untukku, tidak ada yang lain. Dan aku juga akan membuktikan hanya aku yang pantas untukmu. Dan jangan pernah berpikiran mengenai dirimu yang manja, kekanakan, merepotkan atau apapun yang barusan kau sebutkan tadi. Dimataku, kau adalah seorang wanita yang selalu mampu membiusku, selalu mampu membuatku tersenyum bahagia bagaimanapun keadaannya, seorang wanita yang membuatku hanya memikirkan dirimu, seorang wanita yang—”

Chup!

“Tidakkah kau berpikir hari ini kau terlalu banyak bicara, Tuan Muda Oh Sehun?” Taeyeon membungkam Sehun dengan mulutnya, membuat Sehun terkejut. Taeyeon memang sangat kesal dan marah dengan kelakuan tak terduga Sehun namun ia merasa Sehun tidak seperti Oh Sehun yang biasanya, Sehun yang selalu bersikap manis padanya memang bukan hal yang luar biasa, suaminya itu memang selalu bersikap manis padanya. Tapi kali ini Sehun bersusah payah menjelaskan semua perasaannya hanya agar Taeyeon tak salah paham, dan itu bukanlah perangai seorang Oh Sehun, membuat Taeyeon yakin bahwa suaminya itu benar-benar mencintainya, dan juga mengharapkannya, tidak seperti perkataannya yang tidak mendasar tadi.

Taeyeon mengecup bibir suaminya sekali lagi—sedikit lebih lama, lalu melepasnya.

“Aku ingin melakukan hal itu padamu tadi, tapi kau bahkan tidak mau menatapku” ucap Sehun.

“Terimakasih, Sehunie” Taeyeon tersenyum dan kembali membaringkan tubuhnya yang sudah tanggung basah, Sehun memposisikan diri di belakang Taeyeon, sehingga berhadapan langsung dengan kepala istrinya yang menengadah. Sehun mengambil selang shower di dekatnya kemudian mulai mengguyur helaian cokelat istrinya, sedangkan istrinya sibuk memandangi wajahnya yang serius mengeramasi.

“Kau berbakat sekali mengeramas rambutku, Sehunie. Bahkan Soeun dan Juyeon tak ada apa-apanya” Taeyeon buka suara.

“Jangan memintaku untuk turun jabatan menjadi hair stylist, Taeyeon-a. Aku tak mungkin menyukainya meskipun mungkin aku akan mempertimbangkannya kalau kau yang meminta”

” Tentu saja aku lebih bangga punya suami seorang CEO ketimbang hair stylist” ucapan Taeyeon hanya dijawab senyuman tipis di wajah Sehun, sebelum ia mengalihkan pembicaraan.

“Jadi Tae, apa yang membuatmu ingin bekerja di perusahaan sampai menyuruh pelayan untuk memata-mataiku? Bukankah lebih baik istirahat saja dirumah, hm?” Sehun mematikan shower-nya, menuangkan shampoo di telapak tangannya, lalu mulai membelai rambut halus istrinya dan sedikit memijat kulit kepalanya, dengan posisi seperti ini Sehun bisa dengan mudah menatap Taeyeon untuk meminta jawaban.

“Aku ingin tahu bagaimana Sehunie kalau sedang bekerja, kau yang sekarang sedang bersamaku tampak begitu berbeda dengan yang ada di foto. Sampai aku merasa yang difoto itu adalah monster” jelas Taeyeon menangkupkan kedua tangannya di pipi Sehun, mendongakkan kepala keatas dan lagi-lagi menikmati wajah rupawan suaminya dengan jarak hanya beberapa senti.

“Kau akan terkejut, Taeyeon”

“Kenapa harus terkejut? Oh ya, aku sudah memikirkan akan mengambil posisi apa di perusahaanmu”

“Posisi apa yang kau inginkan? Haruskah kita berada dalam satu ruangan? Aku bisa mengaturnya. Bagaimana dengan sekretaris? Meskipun sekretaris sudah memiliki jumlah yang cukup saat ini, aku bisa menempatkanmu kalau kau mau. Atau menjadi staff biasa mungkin, tapi tugasnya cukup melelahkan, tapi tidak masalah bila kau menginginkannya, aku tak akan menyuruhmu melakukan banyak tugas, atau kau mau menjadi asistenku seperti Yoochun. Sehingga kita bisa pergi bersama-sama, dan banyak menghabiskan waktu berdua”

“Umm, tapi aku tidak tertarik dengan tawaranmu, Sehunie. Aku ingin jadi……” Taeyeon sedikit berpikir lalu tersenyum sumringah, “Office Boy!! Ya. Aku ingin menjadi Office Boy. Tapi karena aku wanita, berarti namanya Office Girl? Atau Office Woman?”

Sehun menghentikan gerakannya di rambut Taeyeon, ia memandang kaget dan bingung istrinya, istrinya sendiri menatapnya dengan pandangan—apa-ada-yang-salah.

“Kenapa kau menginginkannya?” hanya itu pertanyaan Sehun, ia kembali membelai helaian cokelat istrinya, memang bukan seorang Taeyeon bila hanya meminta hal-hal yang biasa, Taeyeon-nya pasti akan meminta hal yang tidak biasa. Hal yang membuat dirinya memutar otak karenanya.

“Entahlah, karena aku malas terlalu serius. Lagipula, aku akan berpura-pura menjadi gadis biasa yang bahkan tidak mengenalmu. Pasti seru!” Sorak Taeyeon.

“Hn?!”

“Iya, Sehunie. Aku akan berpura-pura menjadi gadis biasa, lalu mencari tahu bagaimana pandangan para pegawaimu terhadap pimpinan sepertimu. Pasti menyenangkan, mereka akan lebih terbuka bila aku berpura-pura dibanding dengan mengetahui aku yang sebenarnya. Aku juga akan diam-diam mendatangimu, tenang saja. Jadi, boleh ya, Sehunie…Boleh yaa…”

Sehun memutar bola matanya, jelas-jelas ia tidak setuju dengan hal itu. Apakah seorang suami yang menjabat sebagai CEO sekaligus pemilik utama perusahaan akan dengan mudahnya menyetujui usul sang istri yang meminta bekerja sebagai Office Girl? Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon, karena posisi Sehun yang ada di belakang bathub membuat hidung mereka bersentuhan tetapi dalam keadaan terbalik, ia membisikkan, “Tidak boleh, Taeyeon”

Chu~

Kembali Taeyeon menempelkan bibirnya pada bibir Sehun walau dalam keadaan terbalik, membuat dirinya mengingat adegan kiss dalam film Spiderman.

“Aku tidak terpengaruh dengan ini. Tetap tidak boleh” jawab Sehun tak bergeming, berusaha mati-matian tidak luluh dengan ciuman Taeyeon yang dirasanya sangat menggoda itu.

“Aku tak mau melakukannya denganmu selama seminggu, aku bahkan akan pergi dari rumah!” Ancam Taeyeon seraya bangkit membenturkan kepalanya pada Sehun, lalu ia melarikan diri keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut basah sedang dishampoo, kini airnya itu menetes-netes membasahi seluruh lantai yang dipijaki Taeyeon, ia bahkan dengan tingkah kekanakannya menaiki kasur king size-nya dan melompat beberapa kali diatasnya sambil menjulurkan lidah pada sang suami yang mulai kewalahan menghadapinya. Siapapun yang melihat tingkah Taeyeon, pasti tak ada yang mengira kalau wanita itu sudah menikah dan bahkan tengah hamil.

“Taeyeon!”

“Ayolaaah… bolehlaaah… Aku tak mau melakukannya seminggu” Ya, pasti kalian mengerti maksud kata ‘melakukan’ disitu.

“Tetap tidak. Aku akan menahan diri selama seminggu” jawab Sehun kukuh.

“Kalau begitu sebulan, aku tak mau melakukannya sebulan. Aku akan pergi dari rumah, aku tidak main-main!” Ujar Taeyeon yang kini berlari menghindari cengkeraman sang suami yang seolah siap menelannya hidup-hidup, tak tahan dengan sikapnya yang kekanakan.

💙💙💙

Taeyeon tengah berada di Bandara Internasional Incheon kali ini, apalagi yang dilakukannya kalau bukan menunggu Sehun kembali dari China. Tiga hari tanpa lelaki itu membuatnya frustasi, bahkan ia lupa menu apa yang masuk ke kerongkongannya tiga hari lalu, nafsu makannya benar-benar hilang. Ia benar-benar merindukan suaminya lebih dari apapun saat ini.

Seperti biasa, penampilannya tak jauh berbeda dengan penampilan Taeyeon biasanya, hanya kaos hitam longgar dibalut jaket kain pink dengan bawahan jeans ketat memperlihatkan betapa jenjang kakinya, walau kenyataannya ia sedikit pendek dan tetap saja baju bergambar beruang berlatar menara Eiffel itu merusak fantasi beberapa lelaki yang tak sengaja melewatinya dan melirik kearahnya, belum lagi kini ia bertelanjang kaki. Ia tak menghiraukan Soeun dan Jin yang sudah putus asa berjongkok—mencoba membujuk dan memakaikan Nyonya-nya sandal, tetapi Taeyeon tetap bersikeras tak mau memakainya, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tentu saja mereka tak bisa menyerah begitu saja apalagi kalau Tuan mereka mengetahui istri kesayangannya itu tak memakai alas kaki disaat suhu sedang dingin seperti ini.

“Sudah kubilang aku tidak mau! Berhentilah berjongkok, Soeun-ssi. Orang-orang jadi memperhatikanku!” tegur Taeyeon sambil menghentak-hentakkan kakinya—menolak.

“Tidak, sampai Nyonya mau memakai sandal. Suhu sedang dingin sekali, kaki Nyonya bisa membeku”

“Soeun benar, Nyonya. Setidaknya sebentar saja, Tuan Oh akan membunuh kami bila melihat Anda tidak memakai sandal” tepat setelah ucapan Jin selesai, sebuah tangan mendorongnya ke depan cukup keras, membuat Jin sempat limbung dan hampir terjatuh kalau Soeun tidak segera menangkapnya dan membuat dirinya kembali seimbang.

“Sehunie!” pekik Taeyeon tak mempedulikan Jin dan Soeun yang ada di hadapannya, ia segera menghambur ke pelukan Sehun dan melompat ke tubuh suaminya. Seakan sudah memperkirakan hal itu, Sehun bahkan tak kaget dan hanya menerima saja tubuh Taeyeon yang kini sudah bergelayut manja ditubuhnya, kedua kaki Taeyeon menyilang di pinggangnya, membuat Sehun terlihat seperti sedang menggendong bayi besar. Namun bedanya, bayi besar itu nampak menggoda dengan kedua lengan mengalung pada leher sang suami.

“Aku sangat merindukanmu!”

“Aku tahu, aku juga merindukanmu, Tae” jawab Sehun sambil memeluk wanitanya, dan men-deathglare kedua pelayannya yang bahkan tak becus memakaikan Taeyeon sandal, meskipun Sehun tahu sifat keras kepala istrinya yang diluar batas bisa membuat siapa saja kewalahan, deathglare itu membuat kedua pelayannya menunduk dalam.

“Kemarikan sandal Taeyeon!” perintah Sehun pada Jin yang masih tak berani menatap Tuannya, setelah menerima sandal yang diulurkan Jin, Sehun segera memakaikan sandal itu pada wanitanya. Karena ia sepenuhnya tahu, alasan Taeyeon bertelanjang kaki menemui dirinya saat suhu sedang dingin seperti ini adalah karena hal terakhir yang mereka bicarakan tiga hari yang lalu. Tentang pekerjaan yang dipilih Taeyeon.

“Sehunie, ayo temani aku berbelanja! Aku ingin ke IGM, mall baru itu sedang menjadi trending topic, dan aku belum pernah kesana” ucap Taeyeon—semangat setelah kedua kakinya sudah tersemat sandal yang baru saja dipasang Sehun.

“Aku lelah, Taeyeon-a. Kita kesana sore saja, bagaimana? Aku hanya tidur saat penerbangan pulang tadi, selama tiga hari di China bahkan aku tak sempat memejamkan mataku” jawab Sehun dengan nada benar-benar kelelahan.

“Kalau begitu Yoochun saja yang mengantarku” sahut Taeyeon sambil melirik Yoochun yang berada dibelakang Sehun.

“Dia juga sama lelahnya denganku”

“Tetapi setidaknya dia tidak akan menolak permintaanku, Oh Sehun! Tidak seperti seseorang yang sudah beristri tapi tak mempedulikan keinginan istrinya sama sekali!” sindir Taeyeon sambil mendelik, bahkan ia tak menggunakan panggilan kesayangannya—’Sehunie’—malah membuat penekanan menggunakan marga mereka dan kini ia mencoba turun dari gendongan Sehun, tentu saja Sehun yang jenius sudah paham betul bagaimana istrinya. Istrinya yang selalu merasa bahwa dirinya tidak pernah mengerti keinginannya, istrinya yang selalu menganggap dirinya tak mempedulikannya, istrinya yang juga selalu membuatnya bersabar setelah melakukan semua hal yang dimintanya namun tetap merasa bahwa Sehun tak pernah memahaminya, seperti barusan. Padahal, keinginan mana yang tidak Sehun turuti? Hampir tidak ada. Sehun langsung mempererat rengkuhannya, sebelum mulutnya membuka perintah.

“Bawa kita ke Incheon Grand Mall, Yoochun” ucap Sehun mulai berjalan mendahului dengan masih menggendong Taeyeon, membiarkan barang-barangnya dibawa oleh pelayan mereka. Taeyeon pun sudah berhenti memberontak bahkan kini sedang susah payah menahan senyumnya.

“Baik, Tuan”

💛💛💛

Disinilah Sehun berada, Incheon Grand Mall, atau biasa disingkat ‘IGM’, tempat yang dirutukinya karena membuat dirinya harus menahan kantuk dan lelah demi menemani sang istri berbelanja. Kalau saja bukan istrinya yang meminta, ia pasti akan menolak mentah-mentah ajakan itu. Seorang Oh Sehun adalah manusia biasa yang masih membutuhkan istirahat setelah otaknya dipaksa berpikir selama tiga hari dua malam tanpa henti, itu sangat melelahkan memang, dan setelah kepulangannya, bukannya ajakan tidur dari sang istri, yang ada hanya ajakan ke tempat sialan ini, meskipun tidak benar-benar ia benci sepenuhnya, tempat ini sudah ia kunjungi sebelumnya.

Sehun memutar bola matanya bosan, memandangi pintu kamar ganti sebuah butik di dalam mall itu, menunggu istrinya yang sedang ada di dalam bilik ganti dan mencoba beberapa pakaian, menolak dirinya mentah-mentah yang berinisiatif masuk dan menemaninya didalam. Padahal bisa saja Taeyeon kesulitan mengenakan sesuatu, misalnya membutuhkan bantuan untuk menarik risleting mungkin, setidaknya sesuatu yang lebih membuatnya tertarik selain menunggu dengan bosan diluar. Banyak pengunjung yang mencuri-curi pandang padanya, itu sangat membosankan, apalagi wajah wanita-wanita yang tak sengaja menatapnya langsung memerah dan mereka senyum-senyum seperti orang gila, padahal Sehun yakin sudah memasang ekspresi paling biasanya.

“Sehunie, apakah aku cantik dengan gaun ini?” suara itu terdengar merdu di telinga Sehun, suara wanitanya. Wanita yang amat ia rindukan, wanita yang selalu menggentayanginya selama tiga hari disetiap pemutaran turbin otaknya yang sudah kelewat batas maksimum seorang normal berpikir, namun si jenius itu tetap memaksa otaknya untuk memecahkan masalah disana.

Namun bukan hanya suaranya yang membuat Sehun mematung, namun tubuh Taeyeon yang dibalut gaun cantik berwarna ungu yang memiliki hiasan bunga tulip di sekelilingnya, serta ada sedikit belahan di bagian dadanya, mempertontonkan pemandangan yang sedikit membuat napas Sehun memburu karena tak disuguhi pemandangan indah seperti itu selama tiga hari di China.

“Cantik” Sehun menjawab, singkat. Saking singkatnya membuat si pengguna gaun itu mengerucutkan bibirnya sebal dan menunduk, manik matanya berubah sayu tak secerah saat keluar dari kamar ganti tadi.

“Seperti biasanya. Kau selalu cantik, Taeyeon-a” Sehun meneruskan kalimatnya, sukses membuat Taeyeon menaikkan pandangannya menatap Sehun, sekarang matanya sudah cerah kembali seperti tadi, atau bahkan mungkin lebih cerah.

Kini Taeyeon memutar tubuhnya, lalu mendarat sambil menundukkan diri sembari memegang samping gaunnya seperti sedang melakukan penghormatan seorang putri pada sang raja, membuat Sehun tersenyum dengan tingkah istrinya.

Setelah itu Taeyeon kembali memasuki ruang ganti, lalu keluar dengan gaun indah yang lain, berwarana putih perak, tak kalah cantiknya dengan yang pertama, begitu seterusnya sampai gaun yang ke enam. Kini ia mencoba gaun berwarna merah, kulit putihnya begitu kontras dengan warna mencolok itu, dan Sehun hanya bisa berdecak kagum, mengatur napas setiap kali Taeyeon keluar dan memujinya seadanya. Dirinya tak begitu pandai memuji, dan ia bersyukur sang istri tetap tersenyum meskipun Sehun hanya mengulang-ulang pujiannya.

“Dari semua gaun yang barusan kucoba, mana yang paling bagus menurutmu, Sehunie?” Taeyeon berdiri di belakang sofa yang di duduki Sehun dan menaruh kedua tangannya di bahu sang suami, membuat Sehun harus memutar kepalanya agar iris kelamnya bertemu dengan mata Taeyeon.

“Semuanya bagus, kita ambil semua”

“Tapi harganya. . .”

“Sudahlah, tidak masalah berapapun itu asalkan kau menyukainya” Taeyeon tersenyum lalu memberikan kecupan hangat di pipi sang suami, Sehun tersenyum membalasnya, “Memangnya semua gaun itu untuk apa, sayang? Kurasa tak ada pesta yang akan kita hadiri dalam waktu dekat ini”

“Aku kan mau bekerja di perusahaanmu, Sehunie”

“Dengan gaun pesta itu?” Mata Sehun terbuka lebar, Taeyeon mengangguk dengan semangatnya.

‘Oh Tuhan, tolong sadarkan istri tercintaku ini!’ Sehun berteriak dalam hati. Dirinya tak kuasa menyadarkan Taeyeon dengan pemikiran terlampau polosnya, bagaimana bisa istrinya itu mau ke perusahaan dengan gaun pesta? Sedangkan dirinya merengek meminta pekerjaan Office Girl, mana ada seorang Office Girl memakai gaun seperti itu ketika staff lain saja hanya menggunakan kemeja resmi dan rok pendek? Lagipula, mana ada perusahaan yang mengizinkan pegawainya mengenakan gaun pesta?

“Ehm…Taeyeon-a, jangan tersinggung. Tapi wanita di perusahaan tak ada yang menggunakan gaun untuk bekerja, mereka menggunakan kemeja dengan setelan rok selutut. Kau tak bisa memakai gaun-gaun itu untuk bekerja” jelas Sehun pelan-pelan, tak ingin membuat istrinya merajuk lagi. Taeyeon menatap bingung suaminya.

“Benarkah? Tapi aku ingin menggunakannya, aku kan Office Girl. Aku tidak seperti staff-staff lainnya, tugasku hanyalah membantu para pegawai seperti; membuat kopi, mem-fotocopy, menerima kiriman paket dan lainnya, tak masalah bagiku untuk melakukan itu semua, aku tak akan terjatuh hanya karena gaun ini dan sepatu high heels-ku”

“Bukan itu masalahnya, sayang. Tapi pegawai lain saja menggunakan setelan resmi, orang-orang akan bertanya-tanya bahkan mencurigaimu jika kau bersikeras ingin memakai gaun pesta di perusahaanku”

“Aku kan Office Girl, kenapa harus memakai setelan resmi?”

“Terlepas dari itu semua, Office Girl tidak memakai pakaian bebas seperti kemeja dan rok seperti staff lainnya, tetapi memakai seragam” ucap Sehun.

“Seragam seperti apa?” Taeyeon menunjukkan raut wajah ingin tahunya, meskipun ia kecewa dilarang memakai gaun ke kantor, setidaknya ia tidak harus memakai kemeja dan rok yang pastinya membosankan bila dilihat, sepertinya memakai seragam bukan ide buruk.

“Yoochun, tolong tunjukkan gambar seragam Office Girl di perusahaan kita” Yoochun mengangguk mengerti dan mulai mendekati Taeyeon untuk menunjukkan gambar di layar i-Padnya setelah penelusuran kilatnya barusan.

Mata Taeyeon terbelalak, bagaimana bisa seragam Office Girl adalah sebuah kemeja longgar berwarna abu-abu dengan logo Oh E-Corp di bagian depan besar-besar, bawahannya tak kalah konyol dengan atasannya, warnanya senada dan sangat buruk sekali menurut pendapat Taeyeon. Bahkan seragam pelayan yang dipakai Soeun dan Juyeon lebih berkelas di banding seragam Office  Girl yang kini masih di tunjukkan Yoochun padanya. Sehun menyeringai melihat ekspresi kekagetan Taeyeon, ia tentu saja berinisiatif menggunakan kesempatan emas ini untuk membuat Taeyeon membatalkan keinginannya.

“Bagaimana? Kau tak berniat untuk tetap tampil bodoh dengan baju rendahan itu kan, Taeyeon?” Sehun segera mendekatkan Taeyeon padanya, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Taeyeon, lalu mulai membisikkan kata-kata tadi.

“Tidak! Aku tidak akan menyerah! Aku akan tetap bekerja di perusahaanmu—” Jawab Taeyeon cepat, ia melepaskan tangan Sehun yang berada di pinggangnya, takut semakin lama terbuai dan akhirnya menuruti keinginan Sehun agar tetap di rumah dan melupakan mengenai pekerjaan Office Girl-nya.

“Meskipun berpenampilan bodoh, kau yakin?” Sehun menggoda dengan kata-katanya. Dan Taeyeon mengangguk mantap.

“Y-ya! Meskipun harus berpenampilan bodoh” Taeyeon sedikit takut pendiriannya akan goyah, namun ia bisa mempertahankan itu, “Sudahlah, Sehunie. Sebagaimana pun kau mencoba mempengaruhiku, aku tetap pada keputusanku!”

Hhhh~

Tak ada lagi yang bisa di perbuat Sehun, ia menarik lengan Taeyeon yang masih mengenakan gaun merah darahnya menuju kasir, “Bungkus semua gaun yang barusan dipakainya, kecuali ini. Biarkan dia memakainya” ucap Sehun pada si pelayan wanita yang segera di jawab anggukan olehnya, sedangkan Taeyeon hanya tersenyum.

“Apa tidak apa-apa mengenakan gaun seperti ini di mall, Sehunie?” tanya Taeyeon. Taeyeon sedikit tak percaya diri karena banyak yang memperhatikannya saat ini, atau memperhatikan suaminya?

“Lebih baik dibandingkan menggunakannya di kantor” sahut Sehun, membuat Taeyeon mengepalkan tangannya dan memukuli suaminya.

“Aku kan tidak mengerti apa-apa tentang hal itu!” Taeyeon membuang muka—masam. Tapi Sehun segera menangkupkan tangannya di pipi istrinya itu dan menariknya agar kembali menatapnya.

“Apa lagi? Aku sedang kesal padamu. Kau menyebalkan, bisa-bisanya aku menikahi laki-laki yang tak pengertian, kau—”

Sehun membungkam mulut istrinya dengan bibirnya, hal seperti itu sudah sering Sehun lakukan bila wanitanya mulai banyak bicara, tentu saja dengan itu Taeyeon akan mudah melupakan rasa kesalnya. Meskipun ini adalah tempat umum, namun butik yang berada di mall ini tak terlalu ramai. Hanya ada, Taeyeon dan Sehun, Yoochun, beserta dua pelayan yang dikatai tidak becus oleh Sehun, beberapa pelayan butik, serta beberapa pengunjung yang tampak berkelas, memang tak heran karena koleksi pakaian di butik ini memiliki harga yang benar-benar mampu membuat mata perih.

“Ini belanjaan anda, Tuan” ucap si pelayan kasir yang nampak tak suka dengan Sehun yang melakukan hal intim semacam itu di butiknya, memangnya dia siapa berani bersikap seperti itu dengan seorang CEO perusahaan paling kaya di negeri ini? Taeyeon melepaskan bibirnya dari pagutan Sehun, tak enak juga melakukannya di tempat umum.

“Kalau begitu katakan pada atasanmu aku akan membawa barang belanjaanku, aku sedang tidak membawa uang. Tenang saja, aku kenal baik dengan pemilik mall ini” nada angkuh terdengar jelas di penuturan Sehun, ia melirikkan matanya pada Yoochun, menyuruhnya membawakan semua belanjaan itu.

“Sehunie, kau kenal baik dengan pemilik mall ini?” Sehun hanya tersenyum sebagai jawaban, memang bukan hal yang baru bagi Taeyeon menemukan suaminya memiliki hubungan dengan orang-orang penting, kenal baik dengan pemilik sebuah mall bukanlah hal yang terlalu mencengangkan, “Apakah pemiliknya laki-laki?”

“Mengapa bertanya begitu, Taeyeon-a?” Sehun memicingkan matanya, untuk apa istrinya menanyakan hal tidak penting itu.

“Pasti tampan, bisa kau kenalkan dia padaku, Sehunie?”

Kini hati Sehun bergemuruh hebat, untuk apa Taeyeon ingin berkenalan dengan pemilik mall ini di depannya? Tuhan, tolong berikan dirinya kesabaran menghadapi wanitanya.

“Seorang laki-laki tentu saja tampan, yang cantik itu kau. Istriku” jawab Sehun menegaskan kata ‘Istriku’, berharap wanita kesayangannya itu tak lagi membicarakan hal itu dan mengerti maksud Sehun.

“Terima kasih, suamiku. Tapi hanya berkenalan saja tak apa-apa kan?” Taeyeon tetap bersikeras, dan mulai melancarkan aksi memelasnya dengan mengalungkan kedua lengan di leher Sehun, menatapnya dengan tatapan menggoda khas miliknya.

“Aku keberatan!” Sehun memalingkan wajah sebelum istrinya itu menyihir dirinya dengan tatapan-nya, entah berapa kali ia mencoba, akhirnya akan luluh juga dan membolehkan istrinya melakukan apapun, termasuk bekerja di perusahaan. Tapi tidak untuk kali ini.

“Apa kau sudah tak punya kepercayadirian, Oh Sehun? Kau kalah tampan dengannya?” Taeyeon memukul dada Sehun dan melepaskan kedua tangannya dari suaminya. Dan ya, sekali lagi tak ada panggilan kesayangan saat ia benar-benar kesal.

“Lagipula dia sudah beristri, jadi lupakan dia dan ayo kita pulang!” Tegas Sehun.

“Aku tetap ingin berkenalan! Kau tahu, kenal dekat dengan pemilik mall bisa menguntungkan kita. Misalnya, kita bisa mendapat discount atau barang gratis saat belanja”

“Aku masih punya cukup uang untuk sekedar membeli semua keperluanmu, Tae, tak perlu mengandalkan discount atau apalah itu”

“Aah… kalau begitu biarkan aku bertemu istrinya. Mungkin saja kami bisa bersahabat baik”

“Jangan istrinya!”

“Kau kenapa sih, Oh Sehun?!” Taeyeon mulai tak bisa mengendalikan emosinya, ia melempar kasar kedua higheels-nya ke sembarang arah, membuat Soeun kewalahan memungutinya, “Kau pernah punya sesuatu dengan istrinya?!”

Sehun hanya diam, ia tak merespon. Tidakkah seharusnya dia membantah ucapan Taeyeon? Kenapa hanya terdiam seolah membenarkan?

“Sehunie, kau pernah punya hubungan khusus dengan istrinya?” Tanya Taeyeon kini sangat pelan, ia berdo’a dalam hati semoga suaminya itu menggeleng, ingin sekali ia menangis kalau Sehun membenarkan.

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh, itu bukanlah hubungan seperti yang kau bayangkan. Ayo pulang!” tak tahan dengan perbincangan ini, Sehun segera membawa semua barang belanjaan Taeyeon yang seharusnya dibawa Yoochun, ia harus segera membawa istrinya pulang.

“Anda tidak bisa melakukan hal seperti ini, Tuan. Kami tidak bisa mempercayai sembarang orang!” Sahut si pelayan laki-laki yang tadi ada dibalik meja kasir kini menghadang Sehun, aura di sekitarnya terlihat menakutkan. Sepertinya ketidaksukaannya pada Sehun tidak main-main.

“Jungkook-a, dia bukan orang sembarangan. Aku sering melihatnya di Televisi” bisik pelayan laki-laki lain yang menahan bahu pelayan ber-name tag Jungkook itu, sementara beberapa pelayan wanita hanya meringis.

“Maafkan saya, anda tidak bisa melakukan semua hal sesuka anda. Kami memiliki peraturan, dan berlaku untuk semua orang, sepenting apapun anda, Tuan” ucap Jungkook tanpa menghiraukan temannya yang memperingatinya.

“Tuan Jungkook, maafkan atas kelancangan saya. Yoochun, berikan dia jam tanganku untuk jaminan” seru Sehun membuat baik Yoochun maupun Taeyeon—yang masih merajuk—membelalakkan mata, bukan karena Sehun yang memanggil pelayan butik itu dengan sebutan ‘Tuan’, tapi ia menggunakan jam sebagai jaminan untuk gaun Taeyeon yang tak seberapa. Anggap saja dua ratus tiga puluh juta untuk enam gaun adalah harga kecil, karena itu memang sangat kecil bila dibandingkan jam tangan Sehun yang bahkan mungkin tak setara dengan mall ini beserta isinya, mungkin terlalu berlebihan tapi begitulah kenyataannya. Lagipula jam itu bukan hanya mahal, butuh waktu dua belas tahun untuk mendapatkan jam yang asli, dan di Korea hanya Sehun lah yang memiliki. Kalau versi KW-nya, jangan ditanya, Yoochun pun kini sedang memakai jam tangan serupa dengan Sehun, hanya berbeda keaslian, kualitas, derajat, harga dan lainnya.

“Sehunie, jangan jam itu. Lebih baik aku tak jadi membeli gaun-gaun itu dibandingkan menukarnya dengan jam tanganmu meskipun hanya sebagai jaminan. Jangan bercanda, itu tidak lucu” cegah Taeyeon memegang lengan Sehun yang berbalut jam mahal itu, ia juga melirik tajam kearah si pelayan yang benar-benar menyebalkan, tidakkah ia mengerti ia berhadapan dengan suaminya? Orang terkaya se-Korea? Ia memang sedang kesal pada suaminya, bahkan sangat. Tapi, bertindak gegabah dengan menggadaikan jam bukanlah solusi terbaik untuk saat ini. Apakah sebegitu tak inginnya Sehun membahas istri si-pemilik mall sampai melakukan hal sejauh ini hanya untuk cepat membawa dirinya pulang?

Sehun tersenyum memandang sang istri yang nampak cemas bercampur kesal.

“Yoochun” Yoochun yang awalnya ragu mendengar namanya disebut yang berarti penegasan perintah, segera melepas jam tangan yang melekat indah di tangan kiri Sehun dan memberikannya pada Jungkook.

Jungkook sedikit menyeringai. Sekaya apapun pelanggannya itu, tetap saja memalukan kalau hanya membeli gaun untuk seorang wanita dengan harus menggadaikan jam, yang benar saja.

“Tenang saja, aku akan mendapatkannya kembali, secepatnya” ucap Sehun tenang, meremas jemari Taeyeon lembut, meyakinkan pada wanitanya bahwa asset–nya itu tak akan jauh-jauh darinya, pasti akan kembali secepatnya.

“Terima kasih, Tuan” ujar Jungkook tak acuh.

Sehun menyeringai, “Jungkook-ssi, sepertinya anda adalah karyawan yang patut di acungi jempol, meskipun anda adalah pelayan baru disini tapi anda memiliki sikap yang tegas dan tak mudah mempercayai perkataan orang, aku akan meminta pemilik mall ini untuk memberimu penghargaan atas sikapmu, kebetulan aku dekat dengannya”

“Tidak perlu, Tuan. Ini sudah seharusnya” ucap Jungkook yang mulai bosan setiap kali Sehun membual mengenai kedekatannya dengan sang pemilik Mall. Apa pedulinya? Jungkook memutar bola matanya, jelas-jelas ia tidak menyukai ucapan Sehun, bagaimanapun Sehun memuji kemampuannya, tak akan berpengaruh padanya.

“Hey, ada apa dengan matamu? Matamu serasa menantangku untuk kutusuk tahu!” Taeyeon memberi pelototan pada Jungkook dengan tangan membentuk angka dua yang siap menusuk dua bola mata pelayan tak tahu diri itu, membuat Sehun terkekeh melihatnya. Ternyata tak hanya dirinya yang tak menyukai pemuda itu, wanitanya bahkan lebih tidak suka padanya.

“Jangan memarahi pegawaiku, Taeyeon-a. Nanti aku kehilangan pemuda bijak seperti dirinya” tanggap Sehun santai, terdengar sangat jelas membuat Taeyeon, Jungkook dan pelayan butik lainnya mendongak dan menampakkan ekspresi seakan melihat semut merobohkan dinding butik, sedangkan Yoochun hanya terdiam, ia terlalu lelah meskipun hanya untuk berekspresi, selain itu Yoochun juga sudah mengetahui semua faktanya.

“Tuan muda Oh Sehun, apa lagi kali ini?” Taeyeon menatap tajam Sehun membuat Sehun sedikit menyeringai, entah apa maksud dari seringaiannya itu, tetapi melihat Taeyeon yang melotot meminta penjelasan benar-benar lucu dimata Sehun, “Sekarang kau mengaku-ngaku sebagai bosnya hanya karena kau kenal baik dengan si pemilik mall ini?!”

“Aku merasa tidak perlu menyombongkan mall yang belum berkembang ini padamu, sayang. Setidaknya tidak sekarang” Sehun mengedikkan bahu.

Kini Jungkook mendongak kaget. Ia kehilangan kata-kata—tentu saja, bingung harus melakukan apa, Jungkook lalu menunduk dan pamit undur diri setelah mengucapkan ‘Maaf’ berkali-kali dan membungkuk berkali-kali juga. Sehun tak begitu mempermasalahkannya, lagipula ia tak berniat mendepak pemuda itu, ia hanya butuh sedikit hiburan dan pemuda itu seakan memberinya jalan lebar agar dapat dengan leluasa menggunakannya sebagai bahan hiburan, dan beginilah akhirnya. Nyatanya Sehun sedikit terhibur, setidaknya eskpresi wanitanya mampu membayar kekurang ajaran Jungkook padanya. Peduli apa pada pemuda tadi, kini dia pasti sedang meratapi nasibnya setelah bersikap kurang ajar terhadap big boss-nya.

“Jadi, kau pemilik Mall ini?” Tanya Taeyeon memutar otak. Dari semua kemungkinan yang dapat Oh Sehun lakukan, ini adalah satu kemungkinan yang bahkan tak terpikirkan oleh Taeyeon. Jadi, sedari tadi Sehun melarangnya untuk bertemu dengan istri pemilik mall ini karena istri yang maksudnya adalah dirinya sendiri? Sehun mengangguk, hanya mengangguk. Ia bahkan tidak mencoba menjelaskan lebih.

“Tuan Oh! Kau hutang penjelasan padaku!”

Taeyeon lalu pergi meninggalkan Sehun beserta Yoochun dan kedua pelayan setianya di butik, Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sedangkan Soeun dan Jin yang mencoba mengejar Nyonya-nya mendapat larangan langsung dari Sehun.

“Boleh kuminta kembali jamku?” Tanya Sehun datar pada pelayan-pelayan yang masih mematung di butik itu. Mereka segera mengangguk dan mempersilahkan Sehun untuk mengambil jam tangannya kembali. Sebagian besar dari mereka masih tak menyangka bisa bertemu dengan bos besar mereka secara langsung. Pantas saja mereka merasa tidak asing dengan wajah Sehun, tentu saja wajah itu adalah wajah yang sering mereka lihat sedang mengamati perkembangan mall setiap minggu, wajah yang juga sering terlihat di program televisi karena kepiawaiannya memimpin perusahaan.

“Lain kali kalian harus mengenali siapa bos tempat kalian bekerja, sehingga hal seperti tadi tidak akan terulang” ujar Sehun menatap satu persatu pegawainya itu.

“Kami benar-benar mohon maaf, Tuan!” Sahut semua pegawai seraya membungkuk dalam, sedangkan Sehun segera keluar dari butik dan berusaha mengejar Taeyeon yang nampak sudah jauh dari pandangannya. Yoochun, Jin dan Soeun segera menyusul dengan beberapa paper bag berisi gaun Taeyeon.

💚💚💚

“Aku tak percaya ini, bagaimana mungkin aku memiliki seorang suami yang bahkan tidak membiarkan istrinya tahu apapun mengenai pekerjaannya! Dia pikir aku ini siapa!”

Taeyeon terus menggerutu tak jelas sepanjang jalan menyusuri mall. Ia mengacak-acak rambutnya karena merasa tak habis pikir dan ia berjalan begitu cepat—tanpa alas kaki, membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ditambah gaun merah darahnya yang begitu mencolok, membuatnya semakin tak lepas dari pandangan para pengunjung. Namun Taeyeon tak peduli. Di kepalanya hanya ada Sehun, Sehun dan Sehun. Kini pasti suaminya itu sedang sibuk mengurusi pegawainya, bahkan tak memikirkan keadaannya lagi. Seharusnya paling tidak Sehun mengerti dan lebih perhatian padanya yang sedang mengandung, bukannya membiarkan dirinya seperti ini. Belum lagi kakinya terasa mau membeku karena terlalu lama menapaki lantai mall yang dingin.

Seorang anak kecil yang baru saja keluar dari toko ice cream di depan Taeyeon mengamati lamat-lamat penampilan Taeyeon. Seolah dirinya adalah orang aneh yang tidak tahu apa-apa. Namun Taeyeon tidak memperdulikan tatapan anak kecil itu, ia menelan ludahnya melihat ice cream yang ada di genggaman anak itu. Ia memang kedinginan, kakinya bahkan terasa mati rasa karenanya. Tapi, tiba-tiba saja dirinya begitu menginginkan ice cream. Toko ice cream di depannya sangat ramai dan melihat banner berbagai macam ice cream yang tersedia ditoko itu membuatnya menjilat bibirnya sendiri.

“Kau mau?” anak kecil itu mengulurkan ice cream-nya pada Taeyeon, seolah mengerti keinginan calon ibu itu. Taeyeon mengangguk, lalu dengan perlahan mulai mendekatkan tangannya bersiap menerima ice cream dari tangan anak itu, sebelum anak itu menarik kembali ice cream-nya dan menjulurkan lidahnya, “Beli saja sendiri! Dasar orang aneh!”

“Apa kau bilang?! Aku bisa membelinya sendiri. Aku bukan orang aneh! Aku adalah istri pemilik mall ini tahu!” sahut Taeyeon tak mau kalah, sedangkan anak kecil itu hanya menggeleng-gelengkan kepala seolah baru saja mendengar bualan tak berarti dan kini anak itu melenggang pergi meninggalkannya.

Bodohnya Taeyeon! Harusnya ia tak perlu mengatakan hal seperti itu. Orang mana yang akan percaya pada omongan wanita yang memakai gaun mencolok ke mall dengan bertelanjang kaki, belum lagi ia sendirian dan tak membawa uang sepeserpun, apalagi hal yang dikatakannya adalah sesuatu yang sulit di percaya meskipun itu merupakan kenyataan.

“Hallo Nona!” sapa seseorang mengulurkan ice cream yang sama persis dengan milik si-anak tadi padanya. Taeyeon menoleh dan mendapati wajah tak asing, wajah suaminya. Sehun tersenyum dengan tangan masih mengulurkan ice cream, “Mau ice cream?”

Taeyeon menampik ice cream yang dipegang Sehun dan malah memasuki toko ice cream dihadapannya, mengacuhkan suaminya yang sedang mencoba membersihkan noda ice cream yang mengenai setelannya.

Beberapa orang yang tak sengaja melihat kejadian itu mulai berbisik-bisik tak suka melihat seorang pria tampan mirip Oh Sehun—yang memang adalah Sehun—diperlakukan tidak seharusnya oleh seorang wanita aneh. Tapi Sehun tak peduli, ia hanya melepas jasnya dan memberikannya pada Yoochun, kemejanya tak terlalu kotor sehingga ia masih bisa menggunakannya. Kini ia mulai memasuki toko ice cream, mencari wanita dengan gaun merah mencolok, dan dengan mudahnya ia menemukan sosok itu. Taeyeon tengah berlutut, menautkan kedua tangannya dan menatap memelas pada seorang pelayan, tingkahnya itu seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu namun tak dipenuhi oleh orang tuanya, menggemaskan sekali. Taeyeon mengamati seporsi ice cream yang menjadi menu special lewat counter kulkas berkaca bening.

“Berikan saya seporsi ice cream itu” ucap Sehun pada seorang pelayan yang sedari tadi menyuruh Taeyeon enyah dari depan counter, suara itu membuat Taeyeon menoleh, namun tak terlalu peduli dan justru kembali berkutat pada pandangannya, “Sayang, berhenti melakukan itu”

“Berhenti berpura-pura peduli padaku”

“Apa aku kurang peduli padamu?” Sehun mendekatkan dirinya, ia ikut berlutut mensejajari Taeyeon dan mulai menarik tubuh Taeyeon ke belakang, menyuruhnya bersandar pada dada bidangnya, Taeyeon masih tak terlalu peduli meskipun kini tubuhnya sudah di dalam rengkuhan suaminya.

“Maafkan aku” lanjut Sehun meletakkan dagunya di bahu sang istri yang masih enggan merespon tindakannya.

Sehun bangkit dan menuntun Taeyeon untuk ikut bangkit, akhirnya wanita itu menurut dan berdiri didepannya.

“Aku tidak berniat menyembunyikan apapun darimu, Tae. Aku hanya merasa belum tepat mengatakan itu padamu. Sekarang kau sudah tahu jadi berhentilah merajuk, aku minta maaf. Dan aku peduli padamu, aku sangat peduli” Sehun kembali berlutut dan memakaikan sandal untuk yang kedua kalinya di kaki Taeyeon.

Beberapa pelanggan yang menyaksikan pemandangan itu hanya berdecih. Mereka iri tentu saja, seorang yang sempurna mirip sang CEO perusahaan besar se-Korea terlihat sangat memanjakan wanitanya yang merajuk, bahkan wanita itu bukan wanita yang luar biasa. Wanita itu hanya manis dan memang cantik dengan kulit bayinya namun percayalah penampilannya norak, ia bahkan memakai gaun yang seharusnya dipakai untuk pesta. Dan wanita itu tidak seksi sama sekali. Bagaimana bisa pria tampan itu seakan sangat membutuhkan wanita itu?

Mereka memang tak ada yang mengira bahwa lelaki itu benar-benar Oh Sehun yang mereka kenal, lagipula tak mungkin kan Oh Sehun yang di beritakan baru pulang dari China langsung ke mall dengan seorang wanita aneh? Pastinya itu adalah orang lain yang kebetulan mirip. Meskipun pemikiran mereka salah sepenuhnya karena lelaki itu benar-benar Oh Sehun.

Kini Sehun berdiri memandang istrinya yang mulai berkaca-kaca, dan sebelum dirinya hendak merengkuh tubuh sang istri, istrinya itu sudah memeluknya terlebih dahulu. Sangat erat seperti tidak mau melepasnya, Yoochun yang sedari tadi nampak mengantuk pun sedikit terharu dengan adegan drama kecil yang akhir-akhir ini sering ditunjukkan oleh Tuan dan Nyonya-nya. Sedangkan Soeun hanya tersenyum dan Jin bernapas lega.

“Semua orang membicarakanku, aku hanya orang aneh dimata mereka. Hiks~ Terimakasih Sehunie. Sepertinya tanpamu aku hanya wanita yang tak berarti”

“Aku mencintaimu, Taeyeon. Dan kau sangat berarti” Pelukan mereka terlepas melihat seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Sehun.

“Sehunie, ayo makan ice cream!” Taeyeon menarik tangan Sehun  ke sebuah meja, “Yoochun-ssi, Soeun-ssi, dan Jin kalian bisa memesan ice cream yang kalian suka. Sepuasnya!” ucap Taeyeon pada para pelayannya, lalu memandang Sehun meminta persetujuan.

“Tentu saja ” jawab Sehun. Mendengar itu membuat ketiganya menyambar menu dan memesan ice cream kesukaan mereka, tak sering Tuannya itu membiarkan mereka makan saat sedang bertugas.

“Aaaa. . . Ayo makan, Sehunie!” Taeyeon mengulurkan satu sendok ice cream hazelnut kedepan mulut Sehun, Sehun yang tak begitu menyukai ice cream karena rasanya yang terlalu manis—membungkam mulutnya sendiri dan menjauhkan wajahnya dari sendok yang Taeyeon sodorkan padanya, Taeyeon menggembungkan pipi, “Ya sudah, kumakan sendiri saja kalau begitu!”

Taeyeon mulai melahap ice cream itu, mengacuhkan suaminya yang hanya menatapnya antusias sebelum sebuah ide gila terlintas di pikirannya. Ia mengambil sesendok penuh ice cream dan memasukkannya kedalam mulutnya, membuat ice cream itu sedikit meleleh keluar dari mulutnya, bibirnya belepotan dan ia tidak peduli. Terus menyendok penuh ice cream tanpa menghiraukan pandangan suaminya yang mulai berkabut. Kini Sehun menggigit bibirnya sendiri, dan setelah mulut Taeyeon semakin penuh dengan ice cream yang meleleh itu—yang membuat bibirnya dua kali lebih seksi, akhirnya pertahanan Sehun pun runtuh.

Ia menangkap tengkuk Taeyeon dan mulai melumatkan bibirnya di mulut Taeyeon, menjilat ice cream yang ada di bibir wanita itu, serta menyeruput lelehan ice cream di sekitar mulut dan dagunya, setelah itu ia mulai menggigiti bibir istrinya yang mengerang sambil memejamkan mata, Taeyeon sudah menduga suaminya tak akan tahan dengan godaannya, meskipun ia tak mengira Sehun akan secepat itu tergoda.

“Kau bilang tak suka ice cream” ucap Taeyeon disela ciuman Sehun dibibirnya, ia membuka matanya. Dihadapkan langsung pada iris kelam Sehun yang masih menikmati bibirnya dengan lahap, “Tapi yang kulihat tidak seperti itu”

“Aku tak suka ice cream selain yang ada di mulutmu. Kau puas?” Taeyeon hanya terkikik mendengarnya dan mulai membalas ciuman suaminya tanpa peduli pada berpasang-pasang mata yang memperhatikan mereka.

To be continue

Annyeong! Aku seneng mendapat respon bagus dari para readers. Taeng emang ooc bgt disini begitu jg sehun. Tp apalah arti sebuah fiction jika kita selalu terpaku pada sifat asli mereka. Percayalah, aku nulis ini cm untuk menghibur diri sendiri dan berharap aku jg bisa menghibur orang lain dengan idola sebagai korban ooc nya😆.
Tetap dukung kelancaran ff ini yah!! Ditunggu komentarnya chingu…👄

Advertisements

35 comments on “[FREELANCE] Fine (Chapter 2)

  1. Seriiuussds, chheesssyy paaarraaaahhhgg. Sukkkaaaaaa banggerett.
    Ada ya suami kayak sehun yg top bgt, kekeke.
    Jgn ada yg ganggu hubungan mreka ya,hihi
    Nxt chp ditunggu^^

  2. Sweet banget yaampun. SEHUN NYA BUNGKUS SATU BAWA PULANG YA. jangan ada PHO ya author-nim. Ntar taeyeon bunuh diri. Wkwkwkwkwkwkwk

  3. Thor serius bener nihh ff aku suka ahkkkkk….. Gak sabar nunggu kelanjutannya. Apalagi castanya bias aku dua duanya… Ahhh beneran nih thor gak sabar nunggu kelanjutannya… Mau lihat taeyeon jadi OG 😂😂….sehun sabar banget taeyeon jadi makin cinta….. Next chap kutunggu ya thor…fighting…😍😍

  4. Thorrrr keren bangettt!! Thorr, aku pingin kasih masukan nih 🙂 aku jd rada sebel karna taeyeonnya kelewat manja :’) thorrr plis dongg taeyeonnya jangan gitu banget manja nyaa:( wkwkwk mian thorr :’) hanya masukann. But overall sihhh love bangettt sama ni ff, sangat2 ditunggu ya thorr next chap nyaaa semangat juga thorr nulis ff nyaa! Fighting!!

  5. Yay akhirnya update jg 😍😙
    Ini sebenernya cheesy parah tapi gatau kenapa suka bgt sama tiap adegannya#ketchup 😗
    Sehunnya jg husband material bgt uuunch~ cuman kadang kesel deh liat taengnya, mungkin karna lg hamil yaa~
    Ya ampun thor, next chapnya ditunggu bgt yaaaa. Penasaran sama taeng pas kerja jadi office girl ehehe fighting author-nim ♡♡♡♡♡♡♡♡♡ 😗😚

  6. Ada aja kelakuan taeyeon yg bkin geleng2 kepala.
    Aneh tp ngegemesin bgt…
    Untungx sehun bs nerima hal itu…

  7. Sweet bngett. Sehun d sini lelaki idaman bngett whh.. wlpun Ty eon manja ny minta ampunn.😂😂😂
    Penasaran bgamana yeth klw Ty eon bneran krja jg office girl?? 😂

    Keep writing and fighting thor!! 😘

  8. Ya ampun betapa manjanya kim taeyeon ngakak sendiri bacanya tapi seriusan ini taeng nya baper alee wkwkwkww request dong sifat manjanya taeng kurangi dong kan kasihan sehunnya cape bukan sehun sii aku yg baca aja ngerasa cape loh, mau kerja tapi pakai gaun pesta kan ngakak loh sumpah kalau gini mah jujur taeng kayak cewek yang gak tau apa apa gitu, juga di sini latar belakang taeng kok gak di jelasin ku jadi bingung taeng itu nemu nya di mana😅😅😅 iya gak sii soalnya manjanya taeng ulala sekalii😂😂😂 next part di tunggu

  9. please jangan lama yah di lanjut ffny soalny ini ff favorit bgt SeYeon the best couple ever but just in a fanfiction 😂 Yo yo yo semangat yaa author Kee writing and Fighting!!!

  10. Wahhh suka banget deh sama couple ini……
    Sehun suami idaman banget yekan thor :v author bikin ngefly para reader nih 😂😂
    Ditunggu next chapter…… ^^

  11. Ya ampun butuh kesabaran ekstra kalau punya istri macem Taeyeon, untung cantik kekekeke
    Taeyeon lucky girl banget ya punya suami kek Sehun, setia lagi orangnya disini
    Hahaha gak bisa bayangin tingkahnya Taeyeon pas di toko ice cream, wajahnya aja udah kek anak paud keke. berasa saling melengkapi nih pasangan 😁😁😁
    Keren thor gak sabar gimana Taeyeon jadi office girl nanti kekek… Daebak thor
    Next thor fighting ☺☺☺☺

  12. Ya ampuuuuuuuunn demiii apaaaaa, YA TUHANN FF NYAAA BIKIN BAPER IRI TERHARU , woiiiii adaaa gak seeh laki2 macam sehun, perfect gitu, romantisnyaaaaaaa yg getoh di dunia ini, pliiiisss kalo ada sisain satuu buat jd jodoh gueee, gatahan baca ff nya baper akut gua

  13. uuuhh makin gemezz aja deh sama ff inii lucu banget taeyeonnya… suka bangett
    ya ampuun itu taeyeon keramas aja sampe dikeramasin si sehun deh,,
    sehun keliatan sayang banget yah sama taeyeon,
    sweet banget sih (pas adegan dimall di counter ice cream). jadi terharuu gua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s