[FREELANCE] Kim Tae Family (Chapter 2)

Tutle : KimTae Family

Author : DinDin

Rating : PG 15

Lenght : Chapter

Genre: Family, comedy.

Main Cast : Taeyeon, V (Taehyung), Taeyong

Other Cast : Tiffany, Jiyong, Sana, Taeyang, and etc.

Preview : Chapter 1

A/N : Hallo semua!!

Masih adakah yang menunggu cerita ini? Aku ucapkan terimakasih bagi orang-orang yang menunggu cerita ini. Dan aku suka banget baca komennya. Maag gak bisa bales soalnya belum punya akun wp. Besok deh bikin.

~ Chapter 2 ~

Isakan kecil masih terdengar di Roof Garden. Dua orang laki-laki yang masih setia memeluk sang kakak demi menenangkannya. Sungguh miris mengingat bagaimana Taeyeon mengetahui jika Baekhyun, kekasih tercinta yang selalu dibelanya selingkuh. Apakah Taeyeon seorang tak cukup untuknya? Sungguh rumit seperti sebuah drama korea, kisah cinta diantara mereka berdua.

Taeyeon mengingat kembali membuat hatinya tersakiti lagi. Seperti sebuah luka baru yang ditaburi air garam, perih yang dirasa. Air matanya yang mengalir tak dapat terbendung lagi. Semua tumpah ruah saat itu juga mengiringi rasa hati, amarah, dan kesalnya. Taeyeon tak terima diperlakukan seperti ini. Saat ini yang dibutuhkannya hanya sandaran untuk menangis meluapkan segala emosi yang dirasakan.

Taehyung dan Taeyong kembali menenangkan sang kakak yang menangis. Kenapa semua ini harus terjadi pada kakaknya? Apa kakaknya pernah melakukan kesalahan dimasa lalu sampai-sampai kisah cintanya serumit ini? Mereka berdua tak sanggup melihat sang kakak menjadi terpuruk karena ulah si Baekhyun itu. Apa yang harus dilakukan mereka berdua agar sang kakak kembali tersenyum, tertawa bahagia?

Angin berhembus dan malam semakin larut ditambah udara dingin yang menembus kulit membuat tubuh tiga orang bersaudara ini kedinginan. Jaket yang mereka kenakan dirasa tidak mampu menutupi hawa dingin yang melanda. Suasana menjadi hening beberapa saat, yang terdengar hanya suara nafas dan semilir angin. Suara isak tangis Taeyeon pun sudah mulai mengecil. Hampir tidak ada. Taehyung bangkit berdiri membuat dua orang yang melihatnya heran. Apa ia mau turun? Masuk ke dalam.

Ternyata dugaan sepasang kakak beradik itu salah. Taehyung berdiri itu, untuk menguap lebar-lebar bahkan kepalan tangan Taeyeon yang kecil mungkin dapat memasuki mulut Taehyung yang sedang menguap karena saking lebarnya. Tidak lupa kedua tangannya pun ikut diregangkan keatas. Bukankah ini pemandangan yang lucu? Atau ini hanya kelakuannya untuk membuat lelucon?

“Ahhh… badanku… dan tanganku A… Ah… rasanya mau patah. Ternyata dalam posisi duduk dan berpelukan terus tidak enak,” ujar Taehyung dengan suara yang di buat-buat sambil merentangkan tangannya lagi sekedar untuk mengurangi rasa pegal dan juga menggerakan tubuhnya ke kanan kiri dengan kedua tangan berada di pinggangnya untuk menghilangkan rasa pegal. “Yang pernah berkata saling berpelukan itu enak, salah besar. Orang itu harus merasakan seperti yang kurasakan.”

Taeyong mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Taehyung yang sudah mulai kumat. Jika sudah seperti itu. Akan percuma jika diingatkan. Kemudian tatapannya beralih kepada Taeyeon, “Sudahlah noona jangan menangis karena si byun, si baik atau si baek atau apalah. Dia itu laki-laki terburuk yang pernah aku tahu noona. Mengingatnya kembali membuatku sangat kesal. Apa lagi mengingat kejadian waktu itu dan tadi. Bagaimana mungkin dia bisa berbuat seperti itu kepada Noona.” tatapan Taeyong beralih pada pipi Taeyeon yang masih merah walau sudah di kompres oleh Tiffany.

Taehyung menatap Taeyong penuh kehawatiran, menunggu apa yang akan dikatakan adiknya ini, “dan waktu aku meli………”

Pluk~

“Aish….” Taeyong mendesis karena kesal. Bagaimana tidak, belum juga ia menyelesaikan kalimatnya. Sudah mendapatkan pukulan di kepala dari Taehyung. Kakak laki-lakinya itu berniat membuatnya bodoh atau mempringatinya?

Taehyung menatap Taeyong penuh peringatan. Bibirnya yang bergerak, entah mengucapkan kata atau kalimat apa. Tapi ini lebih mirip seperti dukun yang sedang mengucapkan mantra. Taehyung hanya berfikir apa adiknya ini bodoh atau pikun? Masa semudah itu melupakan perjanjian mereka waktu lalu. Membuatnya kesal saja.

“Kalian kenapa?” Taeyeon mengernyitkan dahinya, bingung. Diwajahnya masih terdapat sisa-sisa air mata. Matanya yang merah tampak sembab dan membengkak. Sungguh memprihatinkan. Dan Taeyeon juga penasaran sebenarnya apa yang akan Taeyong ucapkan.

“Ani.” mereka tersenyum tak jelas. Namun, Taeyeon bukan kakak yang bodoh. Ia tahu kalau kedua adiknya berbohong, keduanya itu tak pandai berbohong. Taeyeon tahu betul itu.

Taeyong tahu kalau Taeyeon merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikannya. Tapi harus bagaimana lagi. Kalau memberitahunya nanti. Sudah dapat dipastikan kalau kakaknya ini pasti akan bersedih dan menangis lagi. Hal tersebut tidak boleh terjadi, TIDAK BOLEH!!

“Noona berhenti menangis karenanya. Apa hebatnya si Baekhyun itu? Dia hanya seorang penyanyi. Apa yang dapat dibanggakan? Suaranya? Ok aku akui, dia memang memiliki suara yang bagus, tapi kalo soal tanggung jawab dan kesetiaannya.” Taeyong tersenyum mengejek sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku kasih dia NOL BESAR. Dia juga tidak gentle. Masih banyak laki-laki diluaran sana yang lebih sempurna dan lebih baik darinya. Noona juga harus ingat bagaimana pengorbanan kami membela Noona di depan para penggemar Baekhyun yang sangat menolak hubungan kalian.”

“Seperti aku.” sambung Taehyung spontan dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi setelah mendengar celaan Taeyong untuk Baekhyun. “Jadi, noona jangan menangis lagi, ‘oh? Aku hanya menyayangi air mata noona yang terbuang sia-sia deminya. ” tambahnya sambil Mengusap air mata yang mengalir di pipi lembut sang kakak.

Taeyeon merasa tersentuh dengan ucapan adiknya. Mereka jauh lebih dewasa darinya. Pemikirannya jauh lebih matang, terbukti dengan nasehat-nasehat yang diucapkannya. Utamanya si bungsu, Taeyong.

Taehyung mengambilkan tisu yang berada di atas meja diberikannya kepada Taeyeon.

“Gomawo~” ujar Taeyeon manja, Ia mengambil beberapa lembar tisu lagi untuk mengelap air matanya dan make up yang luntur akibat menangis. Ia juga sekalian membuang ingusnya. Karena sepertinya, ia menangis terlalu lama dan juga merasa hidungnya sudah terlalu penuh. Membuatnya kesulitan untuk mengatur napas.

Taeyong geli mendengar suara Taeyeon susah payah membuang harta karun dari hidungnya. Terlihat dari kerutan-kerutan didahi dan ekspresi wajahnya yang menahan jijik. Tingkah kakaknya ini terlihat menggelikan dan menjijikan disaat bersamaan. Bagaimana tisu itu yang basah dan berserakan di atas meja. Entah ini sudah tisu ke berapa lembar yang digunakan Taeyeon. Jorok kata yang tepat untuk diucapkan.

“Ih…~ cantik-cantik jorok” komentar Taeyong jijik, “Noona jorok. Masa perempuan cantik buang ingus begitu. Tidak malu? Terlebih disini ada aku dan Hyung.”

“Wae??? Ada masalah? Toh hanya kalian berdua.” wajah Taeyeon seketika langsung berubah evil dengan evil smile-nya yang khas.

Taehyung pun sepertinya tidak mempermasalahkannya buktinya dirinya malahan ikut-ikutan tersenyum evil.

‘oohhh, ada apa dengan mereka. Sepertinya hal buruk akan segera terjadi padaku sebentar lagi.’ batin Taeyong gelisah setelah melihat senyum jahat yang diberikan Taeyeon dan Taehyung padanya.

“Yak?! Noona! Hyung! Apa-apaan ini!” Taeyong terburu-buru bangkit berdiri, berlari menghidar dari ulah jail kakaknya, yang melempar bekas tisu digunakan Taeyeon untuk membuang sampah hingus kepadanya.

“Jangan lemparkan itu padaku. Menjijikan!” teriak Taeyong frustasi. Ia juga masih berlari menghindar.

“Wae?” ujar Taehyung sambil tersenyum evil dan berjalan mendekat kearah Taeyong.

“Kenapa, kemarilah sayang. Ini hanya tisu.” ujar Taeyeon nenjahili Taeyong.

“Wahhh??!!!… Kalian benar-benar gila.” seru Taeyong dari kejauhan. Mereka sudah berhenti kejar-kejaran dan saling berdiri berjauh-jauhan.

Taeyong berada di belakang alat pemanggang. Sedangkan Taehyung dan Taeyeon berada beberapa meter darinya. Mereka masih belum menyerah untuk mengerjai Taeyong. Sungguh mengasikan mengerjai adiknya ini yang memiliki pobia.

Taeyong merasa lelah, sekaligus kesal disaat yang bersamaan. Ok, mungkin kakaknya hanya bercanda. Tapi ini benar-benar keterlaluan. Ini bukan candaan tapi penindasan dan penganiyayaan terhadap orang yang tidak berdaya. Apa mereka tidak tahu itu? Sepertinya keduanya itu pintar.

“Noona, kumohon.” Taeyong berusaha memelas. Ia bahkan menangkupkan kedua tangan didepan kepala sambil menunjukan wajah memelas yang terkesan cute disaat bersamaan. Sungguh bukan Taeyong yang biasanya, cool, dingin dan pendiam. Ini berberda jauh, sangat jauh berbeda dengan diluarnya.

Namun, ada keanehan pada wajah Taeyong saat ini. Wajahnya tampak lelah dan pucat, matanya sayu serta nafasnya tidak teratur. Bulir-bulir keringat tampak pada dahinya.

“Mengapa kami harus berhenti.” ujar Taehyung semakin melemah pada akhir kalimatnya. Taehyung dan Taeyeon menyadari ada perubahan pada diri Taeyong.

Wajah Taeyong sekarang benar-benar tampak pucat. Keringat dingin terus keluar. Membuatnya tambah menghawatirkan. Dengan nafas yang tidak teratur.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon sambil mendekat. Ia begitu menghawatirkan keadaan Taeyong yang berubah pucat.

“Noona masih bisa bertanya.” ujar Taeyong, paru. Suara begitu lemah.

“Oh, mianne. Maafkan noona. Apa benar-benar sudah menjadi separah ini? Setahu…”

“Sudah lah noona.” Taehyung menyela ucapan Taeyeon. Ia juga berhenti mengerjai Taeyong. “Minumlah dulu. Aku minta maaf.”

Taeyong meminum air yang di sodorkan Taehyung sampai habis, tak bersisa setetespun didalam gelas. “Aku benar-benar kesal dengan Noona dan Hyung. Kalian tahu bahwa aku mengidap misopobia. Tapi noona dan hyung masih saja menjailiku.”

“Maafkan noonamu ini sekali lagi.” Taeyeon mendekati Taeyong dan Taehyung. “Tapi yang tadi cukup menghibur dan menyenangkan.”

Taehyung langsung tertawa mengingat tingkah konyol mereka berdua tadi. Benar-benar menghibur, ia juga melihat sekarang Taeyeon sudah tidak murung dan sesedih tadi. Ini jauh lebih baik.

Kakak dan adiknya memandangnya heran. Mengapa Taehyung tiba-tiba tertawa? Aneh.

“Cukup menyenangkan!” ujar Taeyong mengulangi perkataan Taeyeon dengan ketus, ia masih sangat kesal mengingat keusilan kedua kakaknya tadi. “tapi seharusnya kalian tidak berbuat seperti itu terhadapku. Aku membencinya.”

Taeyeon menarik leher kedua adiknya. Karena tingginya yang terlapau jauh dari kedua adiknya. Membuatnya harus berjinjit.

Melihat Taeyeon yang susah payah menyeimbangkan tingginya dengannya. Membuat Taehyung dan Taeyong sedikit membungkukan badanya agar tubuh mereka sejajar. Dan sekarang kepala Taeyeon berada diantara kepala kedua adiknya, “Seharusnya kalian dari tadi seperti ini.”

“Ok, sekali lagi aku minta maaf. Tapi, adakah diantara kalian yang ingin menemaniku menonton?” ajak Taeyeon.

Taehyung menolaknya dengan mengelengkan kepalanya. Taeyeon melirik Taeyong. Jawaban yang di terimanya juga lagi-lagi penolakan, “Tidak adakah satupun dari kalian yang ingin menemaniku. Oh…. Ayolah. Eh… Ya. Ya? Ayolah….. ‘ne~?”

Taehyung dan Taeyong saling menatap. Kemudian mereka kompak menggeleng. Mereka tahu apa yang akan terjadi jika Taeyeon sedang sedih dan meminta menonton film. Mereka berdua harus sabar menghadapi Taeyeon yang merengek seperti anak kecil yang permintaannya harus selalu dituruti. ‘Oh Tuahan. Kembalikan Noona kami seperti sedia kala.’

“Noona,” panggil Taehyung sedikit manja.

“Sekarang sudah malam. Dan lihat.” imbuhnya sambil. memperlihatkan jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. “Sudah jam 12 kurang. Kita berdua harus tidur karena besok kita harus sekolah.” jelas Taehyung lagi.

“Baiklah,” akhirnya Taeyeon menyerah. Semua yang dilakukannya untuk membujuk adiknya gagal. “Aku akan menonton Filmnya sendiri kalau begitu. Dan sebaiknya kita turun sekarang.”

Taeyeon keluar lebih dahulu. Sepertinya Taehyung dan Taeyong ada masalah yang mereka bicarakan. Dan Taeyeon tidak memperdulilan itu. Ia lebih baik turun kemudian menyetel film bagus, menontonnya sendiri dengan ditemani snak dan cola. Sepertinya akan menyenangkan hanya dengan membayangkannya saja.

“Aish kau ini.” ujar Taehyung sambil memukul pantat Taeyong, “bukannya kita sudah sepakat tidak akan memberitahukan pada Noona. Soal kejadian waktu itu.”

“Mian, aku benar-benar lupa. Habisnya aku kelewat kesel denganya. Tega-teganya menampar noonaku. Waktu itu kita tanpa sengaja bertemu si Baekhyun dengan selingkuhannya. Siapa itu?….. Em… Ah… Ya. Si Yoona itu lah. Di mall mana ya? Aduh lupa lagi kan. Intinya di mall itu dia dan Yoona sedang kencan. Dan yang di parkiran dan di dalam mobil itu mereka berciuman. Selanjutnya kemarin kita mengikutinya-,” ujar Taeyong terpotong.

“Yak! Kenapa kau malah menceritakanya? Jika ada yang mendengarnya nanti bagaimana? Terlebih lagi jika itu noona.” ujar Taehyung, ia hanya kepikiran kemungkinan kalau Taeyeon belum terlalu jauh sehingga memungkinkan dirinya mendengarkan apa yang sedang dibicarakan mereka. “Dan apa-apaan sekarang ini mengapa kau hanya diam?”

“Noona?” panggil Taeyong pelan terdengar seperti sebuah bisikan

‘Noona?! Apa maksudnya semua ini? Apa mungkin-‘ pikir Taehyung. Seketika tubuhnya menegang. Memikirkan apa mungkin Taeyeon mendengar apa yang diucapkannya. Jika memang benar, matilah.

###

Taeyeon menuruni tangga, berniat kembali ke dalam rumah lebih dulu. Baru beberapa langkah ia teringat sesuatu. Ponselnya tertinggal diatas meja. Ia berbalik, menaiki tangga lagi. Saat akan keluar, samar-samar ia mendengar Percakapan antara Taehyung dan Taeyong.

“Bukanyaa kita sudah sepakat tidak akan memberitahukan pada noona. Soal kejadian waktu itu.” ujar Taehyung.

“Apa maksudnya? Memberitahuku? Memang apa yang belum aku ketahui? Dan apa yang mereka sembunyikan dariku?” komentar Taeyeon. Ia bingung sekaligus penasaran. Memangnya apa yang belum diketahui? Dan apa yang Taehyung dan Taeyong sembunyikan darinya.

“Mian, aku benar-benar lupa. Habisnya aku kelewat kesel denganya. Tega-teganya menampar noonaku. Waktu itu kita tanpa sengaja bertemu si Baekhyun dengan selingkuhannya. Siapa itu?….. Em… Ah… Ya. Si Yoona itu lah. Di mall mana ya? Aduh lupa lagi kan. Intinya di mall itu dia dan Yoona sedang kencan. Dan yang di parkiran dan di dalam mobil itu mereka berciuman. Selanjutnya kemarin kita mengikutinya-,” ujar Taeyong

“Apa-apaan ini? Jadi, mereka sudah lebih tahu dahulu jika Baekhyun itu selingkuh. Tapi, mengapa tak ada satupun diantara mereka yang memberitahukannya padaku? Ok…. Pasti ini ulah Taehyung, karena siapa lagi kalo bukan Taehyung yang melarangnya memberitahukannya padaku. Omma? Tidak mungkin Appa? Apalagi itu atau Tiffany? Kalo Tiffany mungkin. Wanita itu terlalu baik untuku,” pikir Taeyeon kemana-mana. Ia juga langsung masuk dan membuat Taeyong yang melihatnya langsung berhenti berbicara.

Tampak dari wajahnya ia begitu terkejut mendapati Taeyeon yang sedang berdiri didepannya. Seketika semua yang tadi di ucapkannya langsung berhenti begitu saya. Rasanya sulit. Pikirannya pun entah kemana. Khawatir sekaligus penasaran akan sesuatu. Apa kakaknya mendengar semuanya atau tidak? Jika iya, maka celakalah.

“Noona.” panggil Taeyong.

‘Noona, jangan-jangan……. Oh God. Kumohon jangan sampai Noona mendengarnya.’ pinta Taehyung dalam hati.

“Noona sejak kenala kembali?” tanya Taehyung pelan.

“Kenapa kalian tidak pernah menceritakan hal itu padaku? Aku kecewa. Akan lebih baik jika kalian memberitahukannya padaku.” bukan jawaban ini yang Taehyung inginkan yang keluar dari bibir kakaknya.

“Noona maafkan kami. Kami memang sudah tahu sejak lama. Tapi…..” Taeyong menjeda ucapannya, ia menatap Taehyung untuk meminta persetujuan dan Taehyung mengijinkan dengan menganggulan kepala. Sedikit terpaksa sebenarnya. “Tapi, karena Noona waktu itu masih kuliah. Kami mengurungkan niat untuk memberitahukannya pada Noona. Ini juga kami bertanya pada Tiffany noona. Apa aku boleh memberitahukannya pada Noona. Dan kata Tiffany noona ‘JANGAN’. Soalnya sebentar lagi noona akan lulus dan sedang menyelesaikan study terakhir. dan kata Tiffany noona juga jika kami masih kekeh ingin memberitahu Noona. Takutnya nanti membuat pikiran Noona jadi terbenabi dan kuliah Noona tidak akan selesai. Itu alasan kami tidak memberitahu noona. Satu kata Tiffany noona, biarkan Noona mengetahuinya sendiri. Jika noona tahu dari kami, pasti noona tidak akan mempercayainya.”

“Jadi itu alasan kalian.” Ujar Taeyeon singkat setelah mendengar pejelasan Taeyong panjang lebar.

“Noona, please don’t cry! Aku tidak ingin melihat noona menangis lagi. Karena air mata noona itu berharga. Untuku dan untuk kami. Senyum Noonalah yang ingin kami lihat, tangis bahagia yang ingin kami dengar.” ujar Taehyung kemudian memeluk Taeyeon.

Taeyong tersenyum kecil. Ia juga ikut memeluk Taeyeon kemudian mengajak mereka kembali masuk ke dalam rumah.

~~~

“Taeyong-ah, Ayo kita lihat pertandingan futsal kelas hyungmu,” ajak Mingyu

“Ogah,” tolak Taeyong mentah-mentah tanpa memberikan alasan yang jelas. Beginilah jika si bontot sudah di sekoah. Ia akan menjadi anak yang dingin dan cuek.

“Benarkah?! Padahal sekarang lagi seru-serunya. Hyungmu jadi kiper. Ayo lah. Kelas Hanbin sunbaenim melawan kelas Mino sunbaenim. Ne…. Aku junga ingin bertemu noona-noona cantik disana,” ujar Taeyang, pikirannya berfantasi liar kemana-mana.

“Wah….. Apa-apaan kau ini Yoo Taeyang?! Dasar byuntae. Kau ingin menonton atau mencari pacar.” cela Taeyong langsung pada Yoo Taeyang, sepupunya.

Sekilas Taeyong menampakan senyum mengejek dibibirnya, memikirkan dan membayangkan Taehyung yang menjadi kiper.

“AYolah…..” rayu Lisa kali ini.

“Kalo kau tidak mau melihatnya biar kami saja.  Dan jangan salahkan kami kalo kau di kelas sendirian. Karena semua orang sedang asik menonton.” ujar Jaehyun.

“Ayolah Yongie, aku juga bosan disini.” Lisa mulai membujuk Taeyong lagi dengan menarik-narik tangannya manja.

“Disana Hanbin Oppa jadi kapten, Ten Oppa, Jimin Oppa….. D.K Oppa….. Dan kau sendiri tahu lah satu lagi siapa.” tambah Lisa sambil membayangkan wajah-wajah tampan para pemain.

“Aku Tahu kau sedang membayangkan betapa tampanya Kakak kelasmu itu, sekalian aku tambahin lagi. Ada Mino sunbaenim, Kino sunbaenim, JB sunbaenim, Varnon sunbaenim, dan Rowon sunbaenim.” ujar Taeyang menambahkan. Tapi ia jauh lebih senag jika membayangkan nona-nona cantik dari kelas Taehyung. Dan mendengus kesal pada Lisa yang selalu membayankan wajah tampan kakak kelas mereka. Sedangkan yang diberitahu hanya tersenyun sambil membayangkan betapa tampannya para pemain yang disebutkan Taeyang barusan.

Perfect, idola sekolah dan tampan.” komentar Lisa.

“Jangan buka mulutmu terlalu lebar,” Mingyu mendorong rahang Lisa agar mulutnya tidak terus terbuka, “bahkan air liurmu sudah ingin keluar.”

“Aish…..  Ayolah. Taeyong-ah….” ajak Lisa sekali lagi, ia juga berusaha dengan mengeluarkan aegyo andalannya.

“Malas ah.” tolak Taeyong langsung. Tidak termakan rayuan manis dari Lisa.

“OK, Lisa, kau jangan membujuknya lebih baik kita tinggal saja dia.” ajak Taeyang, ia mulai meninggalkan ruang kelas disusul Jaehyun dan Mingyu . Terakhir Lisa sambil mengucapkan selamat tinggal pada Taeyong.

###

“Oppa… oppa… semangat…!!!!”

“Tennnn… Kudaaa….

Tendangggg bolanyaa..  Hajarrr Woy!!! ”

“Yak! depan isi.  Woi!!…… depan isi jangan di belakang semua. Maju.”

“Oppaa… Ayoooo rebuttt bolanya…  tendang… terusss oppa… terus….!!!”

“Banteetttt… tendang…tenn maju Ten maju.. Hanbin tendang… Hanbinn masukinnn masss… ”

“Yaahhhhhh!!!” sorak seluruh penoton karena bola yang ditendang Hanbin melambung terlalu jauh melewati gawang.

Berbagai sorakan meriah saling bersautan di lapangan futsal Seoul Internasional SHS. Sorakan siswi lebih mendominasi dibanding sorakan siswa laki-laki yang saat ini mereka tengah asik menyaksikan pertandingan futsal antarkelas yaitu, antara kelas Hanbin dengan kelas Mino, sesama kelas 12 masing-masing dari kelas 12-1 dan 12-4. Pada babak pertama tidak ada yang menang di antara kedua tim, keduanya sama-sama kuat dengan perbandingan gol 0:0 dan juga terjadi persaingan sengit antara kedua kapten.

Prrriiiittttttt

Suara peluit dari wasit mengakhiri sesi istirahat para peserta. Mengundang para pemain untuk berkumpul ke lapangan. Baru beberapa menit mereka minum dan menyusun strategi baru. Wasit bebar-benar tidak tahu kondisi atau apa? Emang tidak lelah apa lari terus hanya ngejar bola tanpa membuahkan hasil. Bego! Dari tadi ngapain baru nyusun strategi sekarang?

Tanpa mau membuang waktu lama-lama. Tim Hanbin dan tim Mino segera memasuki lapangan kembali dan segera memposisikan diri masing-masing. Pada tim Hanbin, Taehyunglah yang menjadi kiper sedangkan tim Mino yang menjadi kiper adalah Kino.

Ppppriiiitttttt

Bunyi peluit mulai pertandinganpun berbunyi. Dengan gerakan yang gesit dan lincah Hanbin menggiring bolanya menuju gawang lawan.  Namun, dengan segera Rowon menghadang Hanbin dan berusaha merebut bola. Dan dalam hitungan detik, Rowon berhasil merebut bola dari Hanbin, meskipun sempat beradu kaki terlebih dahulu kemudian mengoper bola pada Mino yang berada tak jauh dari gawang.

Minopun menerima bola dari Rowon dan dengan gerakan yang cepat ia segera menggiring bola menuju gawang yang dijaga kiper Taehyung. Tim Hanbin tidak bisa tinggal diam. Jimin segera menghadang Mino. namun, Mino dengan cepat mengoper bola pada JB. JB menerima bola dan segera berlari maju ke depan. Taktik yang dipakai JB begitu brilliant berhasil menipu D.K dan Ten yang berusaha merebut bola.

JB kembali mengoper bolanya pada Mino yang berada tidak jauh dari gawang. Taehyung yang sedari tadi berlagak santai seperti foto model dengan berdiri disisi gawang, dengan sigap memposisikan dirinya menuju ke tengah gawang untuk menghadang bola. Dengan tendangan ala super Ronaldowati, Mino menendang bola ke arah gawang menggunakan kaki kiri kearah atas. Dan….

“Ggggooooollllllllllll….” suara pembawa acara menggema keseluruh lapangan. Di ikuti sorakan oleh pendukungnya.

Mino melakukan seleberasi dengan berlari mengelilingi lapangan sambil kedua telunjuk tangan menuju ke arah atas ala Vicky Prasetyo, tidak lupa dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Vernon, Kino,  JB,  Rowon,  teman satu tim Mino,  menghampirinya kemudian memukul kepala, menaiki punggung Mino, dan melakukan hal konyol lainnya.

Sedangkan ekspresi di wajah tim Hanbin, terlihat kekecewaan.

“Yak,  Hyung!!! Open your eyes!!!!!!! Open-your-eyess!!!!” suara Taeyeong terdengar meleking dari pinggir lapangan. Entah kapan dia datang. Posisinya sekangang berada di belakang gawang, tidak jauh dari tempat Taehyung.

Merasa dipanggil Taehyung menoleh ke sumber suara. “Yak!  Berhenti mengganggu konsentrasiku!”

“Ggggggooooollllll….” teriakan suportter dari kelas Mino membuat Taehyung kembali fokus ke arah depan.

“What?! Gol? Memang di mana bolanya? ” tanya Taehyung bingung pada dirinya sendiri.

Taehyung menoleh kekanan kiri dan saat ia menoleh ke belakang mendapati bola bertengger manis berada di dalam gawang. Tatapan matanya beralih kepada Taeyeong lalu menghampirinya.

“Yak! Ini semua gara-gara kau, eoh!!!” umpat Taehyung kesal,  ia menjitak kepala adiknya kemudian menghimpit kepala adiknya itu di ketiak.

“Hyung!! Hentikan! Lepaskan aku!” Taeyeong memberontak minta dilepaskan namun, Taehyung malah menguatkan himpitannya.

“Hyung! Lepaskan! Ini semua salahmu! Kau kan kiper kenapa berlagak seperti model!”

“jika kau tidak mengajakku berbicara, aku tidak akan kemasukkan seperti ini. ”

“Salah sendiri tidak fokus.” Taeyong tidak mau disalahkan, tetap kekeh. Berusaha membebaskan diri dari himpitan kakaknya.

“Hey! Alien bodoh nan byuntae! Berhenti menyalahkan adikmu!” suara Jimin menghentikan aksi kakak-beradik itu.

“ini semua gara-gara dia.” jawab Taehyung sarkatis dengan tatapan tajam ke arah adiknya, Taeyeong

“Aniya!” Taeyeong membantah tuduhan kakaknya. “Aku tidak melakukan apapun.”

“BOHONG. Aku tidak akan melepaskanmu! ” ujar Taehyung kesal sambil mempertahankan himpitannya.

“Yak!” Jimin memukul kepala Taehyung dan si korban hanya bisa meringis kesakitan. “Berhenti bersikap kekanakan seperti itu!  Pertandingan masih berjalan dan kau hanya bermain-main saja. Cepat!  Kembali ke lapangan!” lanjut Jimin sambil menarik baju bagian belakang untuk membawa Taehyung kembali ke lapangan dan membuat Taehyung kesusahan berjalan mundur.

“Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas setelah aku terkurung dalam sangkar keasamaan selama 3 menit,” gerutu Taeyeong dengan berelus dada.

“Yak! Bantet!  Kau tidak perlu menarikku seperti sapi!!” ujar Taehyung sambil berusaha melepaskan tangan Jimin yang menarik baju bagian belakangnya.

Jimin berhenti dan menatap taehyung tajam. “Dasar bodoh! cepat kembali pada posisimu dan jangan sampai kemasukkan lagi!”

“kau tidak perlu mengajariku, aku pasti melakannya,” kata Taehyung santai dan berjalan terlebih dahulu sambil mengibas-kibaskan tangannya ke udara.

Jimin menatap Taehyung kesal. “Awas saja jika sampai kemasukkan lagi! Akan aku habisi juniornya sampai kandas!” gerutu Jimin.

Pertandingan sudah berjalan selama 10 menit dengan skors sementara 2-0. Tim Hanbin masih berusaha mengejar ketinggalannya. Hanbin berusaha menggiring bola dan mengopernya kepada Ten. Ten menerima bola kemudian menggiringnya menuju ke gawang lain. Dengan segeran Ten menendang bola dan….

Bola berhasil ditangkap oleh Kino kemudian Kino melempar kembali ke depan, mengarahkan ke Vernon.

~~~

“6:0 sekor yang spektakuler yang Mino sunbaenim berikan untuk kelasmu Hyung. Kau mengalah atau kalah sih? Sekor ketinggalan setengah lusin sendiri.” ujar Taeyong mengejek.

“Ini juga kalu bukan karena kau. Untuk apa sedari tadi kau mengajakku mengobrol.” Taehyung tak mau kalah. Mengingat bagaimana Taeyong yang terus berbicara membuatnya pusing dan tidak fokus.

“Ya,  kau tadi mengajakku bicara. Dan lihat apa yang kau lakukan sekarang? Diam.” Taehyung menghela nafas, kesal sekligus marah. “terus saja pandangi hasil karanya jepretan kameramu.”

“Hmmm.” jawab Taeyong, tangannya masih sibuk mencari foto yang diambilnya. Sebuah senyum manis sekilas ia tunjukan setelah menemukan gambar yang ia cari.

“ckck Hyung. Apa ini? Kau bak model Victoria Secret. Bergelantung manja pada tiang gawang.” ujar Taeyong sambil menunjukan jepretan foto Taehyung yang ia ambil sebelum turun kelapangan.

“Hapus itu. Bagaimana aku bisa tidak tahu….. Hapus itu atau…. ” perintah Taehyung.

“Atau apa?” tanya Taeyong menantang kakaknya untuk melanjutkan ucapannya, “Tapi ini bagus saat. Aku penasan bagaimana reaksi Noona saat melihatnya dan seluruh siswa disini yang sempat tidak fokus dengan moment lucu itu.”

“Bagus apanya? Gambar jelek seperti itu kau bilang bagus.” ujar Taehyung kekeh. Ia bahkan berusaha merebut kamera yang dibawa Taeyong.

“Sepertinya aku akan menang jika besok aku mengirimkan ini untuk lomba fotografer. Pasti semua fansmu hyung akan menyukainya. Dan memberiku banyak bintang. Jika aku menang semudah itu tidak akan menarik .” Taeyong tersenyum mengejek pada kakaknya.

“Sini kameramu. Jika kau tidak ingin menghapusnya biarkan aku saja yang menghapusnya.” pinta Taehyung, sambil berusaha mengambil kamera Taeyong yang disembunyikan di belakang tubuhnya.

“Aku tidak akan memberikannya.” tolak Taeyong.  Ia berjalan lebih dahulu, meninggalkan Taehyung dibelakang.

Taehyung berlari kecil. Hendak mengejar Taeyong yang sudah meninggalkannya. Saat di depan lorong karena tidak melihat-lihat jalan yang dilewatinya. Taehyung menabrak seseorang. Dan, sepertinya itu seorang wanita.

“Aw.” seru seseorang mengadu kesakitan. Setelah tanpa sebgaja juga dirinya menubruk seseorang dengan berakhir dirinya terjatuh dan duduk dilantai yang dingin.

“Maafkan aku. Apa kau baik-baik saja?” tanya Taehyung sambil membantu berdiri seorang gadis yang ditabraknya berdiri.

“Terimakasih dan aku baik-baik saja.” ujar gadis itu kemudian tersenyum manis kearah Taehyung.

“Hyung, wae?!” Taeyong berbalik menghampiri Taehyung dan sekilas melirik gadis yang berada di samping kakaknya.

Taeyong mengerutkan dahinya. Heran melihat gadis yang berada disamping Taehyung. Wajahnya tampak asing. Walaupun Taeyong baru masuk ke sekolah ini. Tapi, memorinya cukup baik untuk mengingat wajah orang-orang disekitarnya.

Tahu bahwa dirinya ditatap seperti itu. Gadis itu tersenyum lagi, “Maaf, tapi kumohon jangan menatapku seperti itu. Namaku Minatozaki Sana.”

“Sana, nama yang bagus.” puji Taehyung.

“Oh.” respon Taeyong singkat. Tanpa membalas senyum yang diberikan Sana.

“Harap maklum ya dengan adikku ini. Kenapa kau masih membawa tas? Apa kau mau pergi?” tanya Taehyung, sok akrab.

“Aku baru pindah dari Jepang.” jawab Sana seadanya. Ia juga bingung mau mengucapkan apa lagi.

“Oh, jadi anak baru. Masuk kelas apa?” tanya Taehyung penasaran.

“kelas 10-2.”

“Kelas 10-2. Sekelas denganmu Yongie.” ujar Taehyung menatap Taeyong.

Laki-laki tampan ini hanya mendelikan bahunya. Mengacuhkan apa yang diucapkan kakaknya.

“Tak sopan.” guman Sana memandang Taeyong tidak suka.

“Kau ingin mencari ruangan atau mencari sesuatu?” tanya Taehyung.

“Eh.” Sana balik menatap Taehyung. “A….  Aku ingin ke ruang kepala sekolah. Oppaku ada di sana. Bisa kau tunjukan arahnya?”

“Ruang kepala sekolah itu…. ” Taehyung mengarah lorong belakang Sana. “Kau seharusnya tadi belok kanan di pertigaan lorong itu. Bukan lurus. Ikuti saja sepanjang jalan itu. Nanti kau akan menemukan papan bertulisan ruang kepala sekolah.”

“Ohh,  jadi sebelah sana. Terimakasih.” Sana pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu. Menuju ruang kepala sekolah dengan arah yang diberi tahu Taehyung tadi.

“Hapus foto tadi.” perintah Taehyung setelah menghampiri Taeyong.

“Tak akan.” tolak Taeyong.

Setelah mengirim pesan kepada Taeyang untuk membawa notebook kekantin. Ia menaroh ponselnya ke saku celana. “Kantin ah.”

Taehyung berjalan mengendap-enadap dibelakang Taeyong, tangannya terulur berusaha mengambil kamera milik Taeyong.

Ya,  sedikit lagi. Huh. Sssttt sedddd sedikit lagi, Okey sedi sedikit lagi, Taehyung akan…….

“ketahuan.” Taehyung tersenyum menujukan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Aneh.” guamn Taeyong.

~~~

Drrtt~

“Siapa yang mengirimku pesan?” guman Taeyeon sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.

“What?!” pekik Taeyeon kaget setelah melihat foto yang dikirim Taeyong. Ia berjalan sambil terkekeh.  Tidak melihat jalan didepannya. Dan……

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc ~

Maaf yah buat Taeyeon Baekhyun sipper. Aku nistain Baekhyun disini. Jujur loh dulu aku suka mereka. Tapi gara-gara temen sekelasku yang EXO-L dan sangat gak suka dengan hubungan keduanya dan juga dia itu terkesan ngejelek-jelekin Taeyeon. Membuat aku jadi ikut benci bukan benci juga yah tapi gak suka aja melihat Taeyeon dan Baekhyun di pasangin lagi. Disini aku hanya membuat Baekhyun sebagai masalalunya Taeyeon. Dan untuk masa depannya kita lihat nanti.

Ff ini bertajuk bintang. Aku mau tanya. Disini yang udah tahu kalo umurnya Taehyung sama Taeyong aslinya tuaan Taeyong. Angkat tangan! Dan maaf untuk dua bulan ke depan aku gak pos ini ff. Sebenernya udah jadi tapi gak ada waktu buat edit. Trimakasih.

Advertisements

11 comments on “[FREELANCE] Kim Tae Family (Chapter 2)

  1. Finally it’s updated 😍😍😍 ditunggu banget loh thor ini ff-nya, soalnya bener bener pemainnya bias semua 😍😍 sayangnya disini mereka jadi sodaraan 😂 but no problem, akan setia bacanya kok😊 ditunggu chapter 3-nya yah thor 😊

  2. Meski taehyung ama taeyeon punya sifatx masing2, tapi 1 kesamaan mereka yaiti g mau taeyeon kenapa2.
    Apalagi disakiti ama orang lain.
    Dan mereka bertiga salung melengkapi satu sama lain…

  3. Duhhh 2 adiknya taenggoo bner2 bkin palak barbie pusing kekekekkkk….
    Smoga taetae dpet pcar yg lbh baik dri baekhyun….

  4. Halo thor, perkenalkan aku reader baru ff author 😊 sebenrnya aku kurang suka sama ff yang bergenre family, aku lebih suka ff yg genrenya romance 😀 tapi berhubung disini pemerannya bias utama semua (TAEyeon, TAEhyung dan TAEyong) jadi aku rela rela in baca dan yaaaaa ff-nya bener2 bikin nagih 😍

    Update soon yah thor, ditunggu 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s