ONE MAN [Gt.02]

PSX_20170323_105532.jpg

Nia M Storyline

Taeyeon, Gdragon | romance, sad | oneshoot | rating G | yeon jimin | inspired by Kim Jongkook song – One Man

Note : sorry for typo! Happy reading^^

 

***

 

Ada seorang pria yang sangat mencintaimu. Ada seorang pria yang tidak bisa mengatakan ‘aku mencintaimu’

 

***

10 April 2008

                Suara ketukan pintu kamar Jiyong semakin keras. Di luar sana terdapat gadis berkacak pinggang dengan bibir mungilnya yang komat-kamit entah mantra apa yang diucapkannya, hanya dia yang tahu.

“Hei Kwon Jiyong kau bukan anak SD lagi yang gemar merajuk! Cepat buka pintumu atau aku akan mendobraknya.” Teriak Taeyeon sambil menendang-nendang pelan pintu di depannya, sesaat setelah itu ia meringis karna rasa sakit di ujung jari kakinya.

Pintu terbuka, keluarlah sosok yang sejak tadi Taeyeon tunggu dengan dongkol. Tanpa menunggu ijin dari si pemilik kamar, Taeyeon langsung menerobos masuk begitu saja. Dan Jiyong hanya bisa mendengus seperti yang biasa dia lakukan.

“Aku akan menjelaskannya sekarang jadi jangan kembali bersikap seperti seorang remaja pada masa pubertas. Hanya karna soal sepela seperti kemarin, kau menghiraukanku begitu saja.”

Jiyong hanya diam dan memperhatikan.

 “Jauh-jauh hari aku sudah berencana mengajakmu makan bersama di sana, tapi akhir-akhir seseorang meminta bantuanku untuk bisa dekat denganmu.”

Jiyong memandang Taeyeon aneh. Ah tidak, bagi Jiyong kepribadian Taeyeonlah yang lebih aneh. Lihat saja saat ini Taeyeon berbicara dan mondar-mandir di depannya. Dari pojok kanan sampai pojok kiri kamarnya.

“Dan orang itu Shin Sekyung.” Sahut Jiyong datar dan disetujui Taeyeon yang mengangguk membenarkan.

“Menurut pendapatku, kalian akan sangat serasi. Dia elegan, pintar, dewasa dan menyenangkan, seperti tipe ideal yang kau katakan dulu.” ucap Taeyeon dengan menggebu-gebu bahkan ia juga melebarkan senyum sumringah.

“Terima kasih nonna kim, karna kau tipe idealku berubah menjadi kebalikan yang kau sebutkan itu. Mulai saat ini aku akan menyukai gadis norak, bodoh, kekanak-kanakan dan menyebalkan.” Jiyong beralih ke kasur bergambar joker dan berbaring santai di atasnya.

“Hei, aku bicara serius! Berkat kejadian kemarin aku menjadi sering-sering berpikir aneh tentangmu, kau sudah berumur 23 tahun dan kau belum pernah sama sekali berpacaran sekalipun. Memperlihatkan rasa tertarikmu pada wanitapun tidak, itu membuatku curiga. Apa kau memiliki kelainan..hmmm.. gender?”

“Jika alasan itu membuatmu berhenti bertingkah seperti ini, anggap saja begitu.” Ujar Jiyong enteng.

Taeyeon pun segera berlari kecil dimana Jiyong berada, “Benar begitu? Jadi, selama ini kau memendam masalah ini sendirian. Oh Tuhan, seharusnya kau menceritakan ini padaku, tentu aku akan merahasiakannya dari siapapun. Kau seharusnya bisa percaya padaku, kita ini sudah berteman sejak 23 tahun yang lalu. Sejak lahir maksudku.” Ocehan Taeyeon mau tidak mau membuat Jiyong menutup matanya paksa. Sahabat sejak lahirnya itu memang sangat baik dalam urusan omel-mengomel, Taeyeon jagonya.

“Tentu saja tidak, gadis bodoh. Aku hanya sedang tidak tertarik pada gadis manapun maupun masalah cinta-cintaan.” Jawaban Jiyong menguap begitu saja karna Taeyeon hanya menyengir dibuatnya.

“Kau memberikan jawaban yang sama seperti itu sudah sejak 8 tahun yang lalu. Kau kira aku lupa, haa?” tanpa berpikir keras, Taeyeon menendang bokong Jiyong yang kebetulan sedang menghadap tepat kearahnya karna Jiyong sedang berbaring membelakangi arah.

“Yaaa coba lihat kelakuan gadis kekanak-kanakan ini.” Jiyong sigap berdiri dan mengetuk kepala Taeyeon dengan dua jari tangannya.

“Berikan alasan yang pasti, kau membuatku khawatir saja.” Gerutu Taeyeon pelan.

“Dengarkan aku gadis menyebalkan, aku akan memberitahumu pada waktu yang tepat siapa gadis yang kusukai. Jadi jangan cemas, aku ini lelaki normal. Dan juga jangan membuat acara kencan buta tak jelas seperti kemarin, aku tak menyukai hal-hal seperti itu.” Penjelasan panjang lebar dari Jiyong berbuah pada raut wajah Taeyeon yang berubah cerah.

“Hei kau juga kekanakan tau. Kau merajuk seperti anak kecil, menghindariku bahkan mengabaikan panggilanku. Oh rasanya jari mau patah karna keseringah memencet tombol panggilanmu.”

Jiyong menoleh, “Kau menelfonku? Haha, percuma saja Taeyeon yang malang. Ponselku yang lama hilang entah jatuh dimana.” Sebuah benda berbentuk persegi panjang diraih tangan panjang Jiyong, yaitu sebuah smartphone bertuliskan Oppo dan berwarna gold menawan.

“Wah, kau sudah membeli ponsel yang baru. Eoh, kenapa dia sakit?” Taeyeon mengambil alih benda itu dan memperhatikannya lekat-lekat.

“Apa maksudmu? Siapa yang sakit?” jiyong tampak bingung dengan pembicaraan Taeyeon. Tak ada angin taka da hujan tiba-tiba Taeyen membicarakan orang sakit.

“Ponselnya kenapa ada tulisan ‘Appo’ ?” ujar Taeyeon apa adanya. (Appo : sakit)

Jiyong mencibir, “wah norak sekali orang ini. Kim taeyeon, apa kau hidup diera Joseon? Ponsel ini bermerek Oppo bukan Appo. Pergilah, kau membuatku gila.”

“Ah, Oppo ya. Haha..aku sebenarnya sudah tau itu, hanya saja aku sedang ingin menghiburmu.” Elak Taeyeon malu.

“Lihatlah gadis ini yang tak tau malu dan malah mencoba membohongiku. Lain kali carilah orang tepat yang bisa tertipu dengan bualanmu itu.

“Baiklah aku pergi.”

Blam.. Pintu kamar jiyong seperti semula setelah Taeyeon menutupnya keras…sedikit membanting.

***

 

Dalam kesendiriannya Jiyong tersenyum bila mengingat kejadian barusan, sangat konyol dan bodoh. Ia juga terkekeh kecil.

“Aku sudah membelikannya tapi aku tak bisa memberikannya ini.” Jiyong menatap ponsel yang masih terbungkus rapat dalam kotak, ponsel yang mirip dengan miliknya hanya saja berwarna silver.

“pengecut.” Jiyong tersenyum sinis pada bayangannya di cermin.

“Kim Taeyeon, gadis itu rupanya memilik IQ yang rendah sekali.” Jiyong tersenyum kecut. Ia kembali mengulang perkataannya tadi saat berincang dengan Taeyeon.

‘Terima kasih nonna kim, karna kau tipe idealku berubah menjadi kebalikan yang kau sebutkan itu. Mulai saat ini aku akan menyukai gadis norak, bodoh, kekanak-kanakan dan menyebalkan’

‘Tentu saja tidak, gadis bodoh. Aku hanya sedang tidak tertarik pada gadis manapun maupun masalah cinta-cintaan’

‘Yaaa coba lihat kelakuan gadis kekanak-kanakan ini’

‘Dengarkan aku gadis menyebalkan, aku akan memberitahumu pada waktu yang tepat siapa gadis yang kusukai.’

‘wah norak sekali orang ini. Kim taeyeon, apa kau hidup diera Joseon?’

“Bahkan setelah aku mengatakan semuanya ia tetap tak menyadarinya.” Jiyong berhambur ke atas ranjang miliknya dan membiarkan tubuhnya terbenam di bawah selimut tebal. Dengan begtu ia tak akan merasakan dinginnya musim salju dan dinginnya luka di hatinya.

***

6 Agustus 2010

                Gaun putih –seputih salju– indah dan mewah sudah melekat pada tubuh Taeyeon yang mungil. Tak seperti biasanya, hari ini Taeyeon tmapak cantik luar biasa. Bagaimana tidak jika hari ini akan menjadi hari bersejarah untuknya, hari dimana ia menikah.

                Berkali-kali ia menengok jam dinding di depannya, sudah hampir dimulai tapi masih ada satu orang penting yang belum datang. Jika seseorang itu datang terlambat, tamat sudah riwayatnya ditangan gadis mungil bernama Taeyeon.

“Eomma, dimana Jiyong saat ini? kenapa belum datang juga? Apa mungkin terjadi sesuatu dengannya di jalan? Bagaimana ini?”

Yap, seseorang yang ditunggu Taeyeon adalah Kwon Jiyong.

“Tenanglah, kita tunggu sebentar lagi. Jika masih belum datang, aku akan menyuruh ayahmu mencari Jiyong dan keluarganya.” Wanita paruh baya berumur 40-an itu mencoba menenangkan anak semata wayangnya, Taeyeon.

“Aish, lelaki itu! Bagaimana bisa dia datang terlambat dihari penting ini.” gerutu Taeyeon tanpa henti. Bibirnya terus menerus komat-kamit merutuki Jiyong tentunya.

“Kami datang.” Taeyeon bisa bernafas lega saat itu juga, keluarga Jiyong sudah datang ke hadapannya.

“Akhirnya  datang, Taeyeon sejak tadi terus-menerus menanti kedatangan kalian. Aku sampai jenuh mendengar ocehannya.” Lapor Nyonya Kim, ibunda Taeyeon, pada Jiyong sekeluarga yang baru saja memasuki ruangan.

Tuan dan Nyonya Kwon tersenyum hangat, berbanding terbalik dengan Jiyong yang tampak resah.

“Kim Taeyeon, ada yg ingin kubicarakan sebentar denganmu. Ikut aku.” Bisik Jiyong di dekat Taeyeon.

“Tapi aku sulit sekali bergerak, kau tahu kan seberapa beratnya gaun ini? kau kan dulu yang memilihkan ini untukku karna kau ingin menyiksaku.” Balas Taeyeon berbisik dan juga mencibir.

Masih ingat sekali dikepala Taeyeon ulah siapa yang membuatnya sulit bergerak saat ini karna besar dan rumitnya gaun yang dikenakannya, semua itu ulah Jiyong. Disaat Taeyeon dan yang lainnya sibuk memilih gaun yang cocok untuk pernikahan, Jiyong lebih dulu membayar gaun pilihannya tanpa berkompromi dengan yang lainnya.

Tak ingin menyia-nyiakan uang yang Jiyong keluarkan, Taeyeon lebih memilih menerima gaun yang Jiyong berikan. Dan alhasil hari ini, gerak Taeyeon terbatasi.

“Kalian ingin bicara berdua? Baiklah, kami saja yang keluar. Kalian bisa leluasa.” Nyonya Kim dan Jiyong sekeluarga keluar dari ruangan itu dan hanya menyisakan dua sosok yang saling pandang, Jiyong dan Taeyeon.

“Aku akan mengatakan ini sekali saja, jadi dengarkanlah.” Ucap Jiyong lembut.

“Tunggu dulu! dimana gadis yang kau sukai? Kau bilang akan mengenalkannya padaku hari ini?” Taeyeon lebih tampak menginterogasi.

“Kubilang dengarkan aku dulu, setelah itu kau boleh bertanya.”

“Baiklah, katakan.” Taeyeon menatap Jiyong lurus, menanti apa yang akan dibicarakan sahabatnya itu.

“Aku mencintaimu.” Ucap Jiyong lirih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca selama memandang kedua manik mata indah Taeyeon di depannya.

Taeyeon berubah menjadi layaknya orang linglung, ia tak cukup paham dengan apa yang Jiyong katakan. “Kau, apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau mencintaiku, aku pun juga mencintaimu. Karna kita adalah sabahat sejati sejak lahir.” Taeyeon terkekeh palsu, ia menutupi keterkejutannya dengan bertngkah bodoh.

“Bukan begitu, aku mencintai Kim Taeyeon sebagai seorang wanita bukan sebagai sahabatku.” Jiyong tersenyum nanar, ekspresi yang Taeyeon berikan saat ini merupakan hal yang ia takuti selama ini.

Tapi bagaimanapun Taeyeon harus tau tentang perasaannya hari ini juga, karna hari ini adalah kesempatan terakhirnya. Besok dan hari-hari selanjutnya Taeyeon sudah bukan lagi miliknya, semuanya akan berubah. Mungkin hubungan sahabat sejati sejaklahir itupun akan berubah, karna hari ini Taeyeon akan resmi menyadang nama Nyonya Lee. Taeyeon akan menikah dengan Lee Jun Ki.

“Maaf jika membuatmu terkejut, tapi bukan itu tujuanku. Aku hanya ingin menghilangkan rasa mengganjal dalam diriku. Maaf juga aku baru mengatakannya sekarang, aku terlalu takut untuk mengatakannya dari dulu.” lanjut Jiyong tanpa menatap Taeyeon di depannya, jika tidak mungkin saja air matanya yang ia tahan kuat-kuat akan tumpah.

“Jiyong-ah..”

“Tak perlu merasa tak enak padaku. Yang kuinginkan darimu hanyalah kau hidup berbahagia bersama Jun Ki. Jangan bertingkah menyebalkan dan membuatnya kesal, kau bukan lagi gadis lajang. Kau paham?” Jiyong memberanikan diri mengusap kepala Taeyeon, yang bisa jadi untuk terakhir kalinya.

“Baiklah.” Taeyeon tersenyum tapi kristal bening menetes melewati pipinya.

“Jangan cengeng mulai saat ini. Lihatlah make-up mu yang luntur.” Jiyong tersenyum tulus.

“Kenapa kau jadi bertingkah sangat dewasa? Sungguh tak cocok dengan kepribadianmu, kau tau?” Taeyeon si cerewet balik lagi, itu yang digumamkan Jiyong balik lagi.

“Ah, aku sampai hampir lupa. Nanti malam setelah pesta pernikahanmu selesai, aku akan langsung pergi ke Amerika. Terbang dengan pesawat milikku tentu saja.” Ucap Jiyong, dibumbui dengan sedikit rasa bangga saat mengatakan tentang pesawat pribadinya. Tidak perlu heran, bahkan bandara dan seisinya pun bisa dibeli keluarga Jiyong.

“Kenapa mendadak sekali? Lalu kapan kau akan balik ke korea lagi?”

“Aku ada proyek besar di sana. Untuk pulang aku tidak tau pastinya, paling cepat 2 tahun lagi.”

“Itu paling cepat ya? Kalau paling lama?” ujar Taeyeon sedikit kesal.

“Bisa jadi seumur hidup.”

Taeyeon tertawa sinis,”Seumur hidup, pantatmu! Awas saja jika 2 tahun kau tak pulang, aku akan menyusul dan menghajarmu di Amerika.”

Jiyong tertawa, sikap Taeyeon balik lagi.

Jiyong tampak berpikir sejenak, “Jika kau kesana, ada syaratnya. Kau harus datang bersama dua anak kembarmu.”

“Kau pikir aku bisa memilih anak? Yang benar saja!” protes Taeyeon.

“Jika tidak, aku tak akan mau bertemu denganmu.” Jiyong pun tak mau mengalah.

“Ya sudah, akan ku usahakan.” Balas Taeyeon enteng.

“Wah, sekarang kau berubah gadis byuntae rupanya. Aku tak habis pikir..”

“Yaa!”

Jiyong tertawa puas.

***

 

                Se-menit yang lalu, Taeyeon dan Jun ki berjalan menuju altar, semuanya tersenyum haru. Tak terkecuali Jiyong, ia juga menampilkan senyum tulusnya. Tapi siapa yang tahu jika dalam dirinya sekarang ini sedang menangis getir.

                Setelah mengucapkan janji pernikahan, sekarang waktunya Jiyong untuk mempersembahkan lagu untuk mengiring pasangan itu bertukar cincin. Sebuah lagu yang mungkin mewakili dirinya, One Man yang dipopulerkan oleh Kim Joongkok. Dengan sentuhan piano ringan, Jiyong berhasil menghipnotis semua pasang mata karna nyanyiannya.

Sungguh pasti telah lama, cukup lama hingga kalimat ini tak berarti lag

Hanya melihat matamu, aku bisa tahu semuanya

Seperti teman, seperti bayanganmu

Pasti selalu bersama ketika masa-masa sulit atau sedihmu

Bahkan ketika aku kesepian dan menderita karena perpisahanmu

Walau aku menderita saat menghapus air matamu

Semua hadirin yang ada riuh bertepuk tangan dan merasa haru dengan lagu yang dibawakan Jiyong. Taeyeon bahkan sudah mengeluarkan airmatanya sejak Jiyong menyanyikan lagu bait pertama tadi.

Semua kenangan, kejadian menyenangkan dan menyedihkan, semua kembali berputar diingatan Jiyong maupun Taeyeon. Keduanya seolah bernostalgia,

Ada seorang pria yang sangat mencintaimu,

Ada seorang pria yang tida bisa mengatakan ‘aku mencintaimu’

Aku disampingmu, mengulurkan tangan hingga kau bisa meraihku disaat tertentu

Ada aku yang menyayangimu daripada diriku sendiri

 

Bukan hanya Taeyeon, Jiyong bahkan sudah membiarkan air mata lolos begitu saja.

 

Aku hanya berpikir untuk membuatmu tertawa

Kapan dan dimanapun aku melihatmu dan aku kehilanganmu

Yang ku khawatirkan hanya kau

 

Untuk ribuan kalinya aku menelannya dan lagi

Untuk berjuta kalinya aku lebih mengendalikan diri, tapi

Aku ingin mengatakan aku mungkin sudah gila

Aku ingin memeluk dan memegangmu

 

Di sana ada seorang wanita yang tidak mengetahuiku

Yang menerima cinta tetap tidak tahu apakah itu sebuah cinta

Aku seperti orang bodoh dan menderita jika aku meninggalkanmu

 

Pada saat aku menangis, tetapi  aku bahagia

Karena kau ada di sampingku

 

Setelah mengusap pipinya yang basah, Jiyong berdiri untuk mengucapkan sepatah kata dalam acara.

“Wah, hari ini aku begitu emosional karna sahabat sejati sejak lahirku sudah meninggalkanku dan memilih menikah.” Ujar Jiyong membuat yang ada di sana tersenyum.

“Aku tak akan mengucapkan banyak kata karna mungkin bisa membuat pengantin menangis lagi. Dia sudah menangis bahkan sebelum memasuki altar. Lee Jun Ki, aku titip gadis norak, bodoh, kekanak-kanakan dan menyebalkan itu padamu. Jangan membiarkannya menangis dan kesepian, karna aku tak kan di sampingnya lagi. Nanti malam aku sudah harus berpisah dengannya, aku akan menetap beberapa tahun di Amerika. Untuk itu, jagalah Taeyeon untukku, dia sangat berharga untukku.”

Lee Jun Ki mengangguk pasti. Setelah itu suasana kembali riuh dengan tepuk tangan tamu yang hadir.

***

 

                Pesawat yang Jiyong tumpangi sudah take-off setengah jam yang lalu. Hanya ada Jiyong seorang diri di ruangan khususnya. Ia menangis tanpa ada yang mengetahuinya. Rasa sakitnya, tak ada yang tahu juga. Tapi Jiyong sadar, semua itu salahnya yang terlalu takut untuk mengungkapkannya di masa lalu.

                Keputusannya ini bukan tak beralasan, ia butuh ketenangan. Jiyong berharap waktu akan merubah semuanya, waktu akan mengobati lukanya. Hanya itu yang Jiyong inginkan.

                Merasa sunyi, Jiyong memilih menghidupkan pemutar lagu di sampingnya. Musik akan sedikt membantu, pikir Jiyong. Tapi seakan takdir sedang menertawakannya, lagu pertama yang terputar adalah milik Taeyang BIGBANG berjudul Wedding Dress. Jiyong tersenyum miris dibuatnya.

“Ah, seharusnya aku tadi menyanyikan lagu ini.” gumam Jiyong nanar.

Jika dipikir-pikir, lagu milik Taeyang itu sangat menggambarkan sosok Jiyong saat ini.

The End

 

Maaf jika mengecewakan teman-teman ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

15 comments on “ONE MAN [Gt.02]

  1. Yah sad ending. kenapa Taeyeon ngak sama Jiyong? Jiyong si ngak berani ngomong langsung jadinya dia bisa sama taeyeon.

  2. Ahhh q pkir taetae nikahnya sm jiyong krna jiyong akhirnya pnya keberanian buat ngungkapin prasaannya sm taetae, tp trnyata……….

  3. Cinta t tersampaikan dan sangat terlambat saat mengungkapkanx.
    Meski begitu jiyoung dengan keberanian tinggat dewa mau mengutarakanx, paling tidak dia tidak lg menjadi pengecut yg hanya memendam rasa dlam hatix…

  4. Bagus .. tapi tadi waktu baca pas bagian taeyeon udh pake gaun nikah trus nunggu jiyong datang di kira bakal nikah sma jjyong ehhh ternyata salah gk kebayang gimana sedih+nyesek+patah hati yg dalem banget yg jiyong rasain karna mereka kan sahabat seumur hidup dan selama itu jga jiyong memendam rasa cinta nya buat taeyeon … gd sih pengecut jadi inget sma lagu bigbang yg loser (pecundang) … well ff dapet banget sad nya karna berakhir *sad ending*
    Di tunggu ff seru lain nya yh author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s