BEAUTIFUL MIND (Chapter 1)

 

BM.jpg

Nia M Storyline

Main Cast : Taeyeon -G Dragon(Kwon Jiyong) || Genre : Romance, Sad, Melodrama || Lenght : multichapter || Author : Yeon Ji Min

Note : Maaf jika chap pertama ini membosankan^^ semoga saja tidak…So, Happy Reading guys ! Don’t forget to tap “suka” and comment !! Gomawoooo

Info ff Who You di bawah yaa, dibaca ^^ wkwkwk..

Sorry for Typo ^^

MET MALMING GUYSS !!!

BEAUTIFUL MIND (Teaser & Introducing Cast)

~~~

Maybe,  forgot how to falling in love

Mungkin saja aku lupa bagamana untuk jatuh cinta

~~~

 

“Kakek ! bagaimana itu mungkin ?” ucap Jiyong kesal pada lelaki yang tertawa kecil di bangku depannya.

“Mungkin saja, kau harus merayakan ulang tahunmu ke-28, anak tengik.” Balas lelaki tadi yang dikenal sebagai Kakek Mon, Kwon Monho Ketua WON GROUP sekaligus kakek dari dua bersaudara yang aneh, Kwon Jiyong dan Kwon Donghae.

“Kakek, memangnya pesta apa yang akan kau buat ?” ujar Jiyong dengan sedikit secercah harapan. Berharap jika kakeknya akan mengadakan pesta layaknya pesta di klub.

“Pesta yang akan dihadiri para pebisnis dan juga keluarga besar.” Kakek Kwon mengeluarkan smirk andalannya. “Dan juga, di pesta ini kalian berdua juga wajib membawa pasangan, seorang wanita.” Lanjutnya.Kalian berdua ? yang dimaksud Kakek Mon adalah Jiyong dan Donghae yang juga berada di sana.

“Kakek ! apa ini pesta mesum ???” ucap Jiyong dengan nada penuh keterkejutan.

“Sex Party ? One Night Stand ???” Donghae yang sejak tadi bungkampun ikut menyahut.

Sontak Kakek Won berdiri dari dudukannya dan memberi satu jitakan dikepala kedua cucunya itu.

“Ada apa dengan otak kalian berdua ? dosa apa aku dimasa lalu hingga memiliki dua cucu terkutuk ini ? bagaimana bisa dua cucu imutku berubah menjadi laki-laki byuntae semuanya.” decak Kakek Won sambil mengibaskan jas nya dari dua sisi. (byuntae : mesum)

“Nae aniya.” Ucap Jiyong dan Donghae bersamaan.

“Sudahlah. Jangan bawa wanita yang biasa kalian temui dari klub, khususnya kau Jiyong.” mendengar ucapan kakeknya Jiyong hanya mendecih kesal.

“Kakek tenang saja soal aku, aku sudah mendapatkan pasangan terbaik .” Ujar Donghae tiba-tiba. Kakek Won dan Jiyong sama-sama menoleh ke arahnya.

“Nugu ?” tanya Kakek Won.

Melihat Jiyong melihat kearahnya, Donghae melemparkan smirk kebanggaannya. Dan setelah sepersekian detik Jiyong tersadar siapa yang dimaksud Donghae, ia membuang muka sambil menghela nafas keras.

“Kim Taeyeon.” Ucap Donghae penuh penekanan.

“Kim Taeyeon yang katanya teman kecil Jiyong itu ?” tanya Kakek Won yang bingung dengan jawaban Donghae. Sepengetahuannya, Taeyeon adalah teman kecil Jiyong. Tapi sekarang Taeyeon menjadi teman dewasa nya Donghae.

Teman Dewasa ? berambigu sekali.

“Benar.” Ujar Donghae seraya memperhatikan Jiyong yang tiba-tiba memberikan reaksi bungkam dan memalingkan wajahnya.

“Apa kalian berdua, maksudku kau dan Taeyeon, kalian sudah berhubungan sejauh mana ?” lagi-lagi Jiyong menghela nafas kasar begitu mendengar pertanyaan yang kakeknya ajukan.

“Kami sering pergi bersama, bergandengan tangan, memeluknya, makan bersama, kita berdua juga sama-sama suka mencium di..”

“Bukan itu yang ku maksud, apa kalian pernah tidur bersama? Berhubungan int..” potong Kakek Won.

“Apa yang kakek coba bicarakan ? kenapa dia harus tidur dengannya ? memangnnya dia siapa sampai tidur bersama ? ada apa dengan otak kakek ? dosa apa aku dimasa depan hingga memiliki kakek seperti kakek dimasa sekarang ini. Bagaimana bisa kakekku berubah menjadi kakek byuntae ?” sela Jiyong.

Kakek Won tercengang mendapati perlakuan Jiyong yang tiba-tiba berdiri sambil mengoceh kearahnya. Terlebih lagi, apa yang dikatakan Jiyong terdengar mirip dengan apa yang tadi ia katakan.

Terdengar kekehan kecil yang berasal dari Donghae yang semakin membuat Kakek Won tercengang bingung. Ada apa dengan kedua cucu terkutuknya ?

Jiyong bergegas pergi keluar dari ruang kerja kakeknya dan meninggalkan kakek Won yang kebingungan dan Donghae yang  menampilkan reaksi puas.

“Ada apa dengannya itu ? setap kali aku menyebut nama Kim Taeyeon, dia selalu bereaksi seperti itu.” Decak kakek Won.

“Kakek, kenapa kakek tadi bertanya seperti itu ?” ujar Donghae dengan nada serius.

“Memangnya kenapa ? Kau juga mau marah padaku ?” balas kakek Won seadanya.

“Kau terbaik.” Donghae menampilkan smirk nya kembali. Dan itu juga semakin membuat kakek Mon bingung lagi dan lagi.

“Tapi kakek, Taeyeon bukanlah gadis seperti itu. Aku tak pernah tidur bersamanya. Dan juga aku ingin melanjutkan perkataanku tadi, aku dan Taeyeon sama-sama suka mencium di pipinya Ginger, anjing milik Taeyen. Jadi jangan salah sangka. Aku pergi,” Lanjut Donghae lalu keluar dari sana.

“Kenapa dari kedua cucuku tak ada yang normal satupun.”

 

♠♠♠

 

“Kegiatan malam ini, memutuskan Yiseon di Mico Resto lalu pergi ke klub sambil berkencan dengan Yeonmi.” Tutur Jiyong yang sedang membaca agenda harian di ponselnya.

Setelahnya ia langsung meletakkan ponselnya begitu melihat wanita yang sedang ditunggunya tengah berjalan ke arahnya, Yiseon. Wanita yang menjadi target mantan selanjutnya.

“Akhirnya kau datang juga.” Ujar Jiyong dengan nada sakartis.

“Aku ingin bicara.” Balas Yiseon serus.

“Katakan saja ?”

“Perhatikan aku dulu.” ujar Yiseon kesal karna Jiyong yang mengabaikan pandangannya yang malah tertuju pada anak kecil yang tengah merengek meminta buah pisang yang tertempel di meja order juice. Lebih tepatnya buah pisang itu hanyalah gambar poster yang tertempel di meja.

Anak kecil yang manis, batin Jiyong.

“Yaa Kwon Jiyong !!!” suara pekikan gadis berambut dark brown itu sudah sangat familiar di telinga Jiyong. Tak lain dan tak bukan ini adalah moment ketika Jiyong memutuskan gadis yang akan berstatus mantan pacarnya.

“Wae ?” ujar Jiyong malas.

“Kau berkencan dengan gadis lain ? Benarkan ?” balas wanita di depannya dengan nada menyala-nyala karena amarah yang sudag memusat di ubun-ubun.

“Ya, benar. Kita putus.” tanpa rasa berdosa, Jiyong mengatakannya santai.

Sang wanita tadi sudah bersiap-siap menumpahkan segelas air di wajah Jiyong, tapi diurungkan. Mengingat Putus1Miliar, wanita itu mengabaikan gengsinya.

“Apa putus1miliyar masih berlaku ?” bisik sang wanita.

“Tentu. Apa yang kau mau ?” Jiyong senyum penuh kemenangan.

 

One minutes later…

 

“Hari ini mobilku hilang lagi.” bukannya marah, Jiyong malah tertawa sinis.

 

♠♠♠

 

“Taeyeon-ah mianhae.” Terdengar suara wanita dari balik ponsel yang sedang Taeyeon genggam. (mian/mianhae : maaf)

“Wae ? apa terjadi sesuatu ?” balas Taeyeon khawatir. (wae : kenapa)

“Aniya. Aku hanya sedikit pusing.” (aniya : tidak)

“Eoh, baiklah. Tak apa aku bisa pergi bersama temanku yang lain.”

“Mian Taeyeon-ah.”

“Neeee.” Balas Taeyeon setelah itu menutup panggilan. (ne : iya)

 

“Sayang sekali, padahal aku ingin sekali kesana malam ini.” desah Taeyeon sambil menghela nafas kesal.

“Mau pergi kemana ?” terdengar sahutan yang hampir membuat Taeyeon terlonjak kaget. Ditengoknya kini Donghae lah yang sudah berdiri di ambang pintu.

“Yaa Kwon Donghae, kau disini ?”

“Eoh. Memangnya kau ingin kemana ?” ujar Donghae yang tengah bejalan mendekati keberadaan Taeyeon.

“Apa kau akan mengantarku ?” ucap Taeyeon kembali bersemangat.

“Tentu saja.”

“Kemanapun itu ? meski itu tempat yang belum pernah kau datangi ?”

“Ya Kim Taeyeon, kau belum mengenal aku ? aku ini sama sekali tak bisa menolak keinginanmu.” Gurau Donghae.

“Baiklah, ayo pergi.” Segera Taeyeon menarik tangan Donghae dan berjalan keluar.

 

♠♠♠

 

SUARA dentuman musik  khas klub malam memenuhi kepala Donghae saat ini. Yang benar saja, Taeyeon sudah membawanya ketempat yang paling Donghae benci, yang ia hindari selama ini. Bukan karna Donghae tak suka minum, hanya saja ia membenci suatu tempat yang bernama klub malam.

Keduanya baru saja memasuki klub dan memilih duduk di depan meja bar. Tujuan Taeyeon ke klub bukanlah untuk berjoget ria atau yang sejenisnya. Taeyeon hanya ingin minum untuk melupakan masalahnya untuk beberapa saat.

“Sungguh aku menyesal kali ini,” ucap Donghae menggeram pelan namun masih bisa didengar Taeyeon yang malah menampilkan cengirannya. Mungkin Taeyeon sedikit merasa bersalah pada Donghae, mengingat kebencian laki-laki tu terhadap klub. Taeyeon sendiri tak tau menahu dengan alasan Donghae,  hanya menduga jka Donghae memiliki kenangan buruk perihal klub malam. Putus pacar, misalnya.

Tapi  bukankah kenangan buruk harus tetap dihadapi bukan ? setidaknya agar tidak terulang lagi.

“Yayaya, tapi kan kau sudah janji.” Protes Taeyeon yang hanya dibalas kerlingan malas dari Donghae.

“Tersenyumlah untukku.” kedua tangan Taeyeon menangkup wajah Donghae hingga tepat memandang ke arahnya. Meski tampak tak ikhlas, Donghae tetap mengeluarkan senyumannya dengan paksa.

Good boy.” Taeyeon tersenyum penuh kemenangan, diusapnya kepala Donghae layaknya seorang ibu pada anaknya. Heol, serius saja. Donghae bahkan lebih tua dari gadis mungil itu.

“Yakk, sudah kukatakan jangan menyentuh pria sembarangan.” Gerutuan Donghae sukses mengundang tawa Taeyeon. Buktinya, gadis cantik tu tengah terkekeh kecil. (ya : hei)

“Kwon Donghae, apa kau seorang pria ?” balas Taeyeon dengan sedikit gurauan, ia masih tertawa entah karena apa.

“Tentu saja.” Sergap Donghae cepat. Pertanyaan yang Taeyeon ajukan itu sangat sensitive bagi kaum lelaki.

“Ani, maksudku apa kau melihatku sebagai seorang wanita ? dan kau pria ? haha, yang benar saja.” Ujar Taeyeon santai.

Dan dengan bodohnya, ia tak menyadari ucapannya membuat lelaki disebelahnya terdiam. Layaknya obat bius, ucapan Taeyeon langsung berefek  pada diamnya Donghae.

“Kenapa aku memandang gadis tengik ini sebagai wanita ?” elak Donghae yang berusaha tetap stay cool, seperti biasanya.

“Benar, bagaimana bisa lelaki yang menyebutku gadis tengik memandangku sebagai wanita.” Balas Taeyeon lalu menyeruput wine di depannya.

“Selain tengik, kau juga gadis bodoh.” Gumam Donghae pelan.

“Tentu saja, memangnya ada gadis pintar yang mau menunggu seseorang selama belasan tahun.” Entah mengapa, nada bicara yang Taeyeon ucapkan terdengar nanar.

“Aissh, kau mulai lagi. Diamlah, aku bosan mendengar ceritamu.” Balas Donghae jengah. Membahas perihal itu membuat Donghae kesal, Taeyeon terus saja bersikap seolah-olah dia wanita yang paling rapuh. Dan itu membuat Donghae merasa bersalah. Padahal ia tak melakukan apapun, tapi ia merasa ikut terluka begitu melihat Taeyeon terluka.

“Tenang saja, malam ini aku tak akan menangis. Aku janji,” Taeyeon kembali meneguk sisa wine-nya hingga habis tanpa sisa. Baru saja Taeyeon akan meminta minuman gelas keempat. Tapi Donghae lebih dahulu mencegahnya.

“Berhenti minum atau kita pulang.” Gertak Donghae.

“Waee ? waeyo ?” protes Taeyeon.

“Sepertinya kau mulai mabuk.” Ujar Donghae yang langsung dibalas Taeyeon dengan gelengan kepala.

“Baiklah, aku akan berhenti minum.” Ucap Taeyeon menyakinkan.

 

“Haha, dia itu sangat penurut bagi orang lain, tapi tidak padaku.” Ujar seseorang yang baru saja datang dengan suara baritonnya yang lantang.

“Benarkah ? lalu bagaimana dengannya saat ini ?” balas sang wanita yang datang bersama seseorang itu.

Merasa terganggu, Taeyeon dan Donghae sama-sama berbalik dan menoleh ke samping dimana sepasang wanita dan pria sedang bercakap.

Dan yang membuat Taeyeon terkejut ialah mendapati wanita itu adalah sahabatnya, Yeonmi. Teman yang sudah menolak ajaknnya untuk pergi ke klub dengan alasan pusing.

“Cho Yeonmi,” panggil Taeyeon.

“Kau mengenalnya ?” ujar Donghae begitu melihat reaksi yang Taeyeon tampilkan.

Belum sempat Taeyeon menjawab, lagi-lagi keduanya dikejutkan. Kali ini lebih mengejutkan daripada yang tadi. Jiyong, benar Kwon Jiyong lah yang bersama Yeonmi. Pria itu Jiyong.

Dan beberapa detik mencerna kejadian, Taeyeon dan Donghae paham apa yang baru saja terjadi.

“Jiyong-ah.” Panggil Taeyeon lembut.

“Siapa dia ? apa kau mengenalnya ?” ujar Jiyong pada Yeonmi seraya menunjuk kearah Taeyeon dengan arah pandangnya.

“A-ani. Aku tak mengenalnya.” Balas Yeonmi terbata, pertanda jika yang mengatakan itu ragu.

Taeyeon menghela nafas dengan sinisnya. Lagi-lagi Jiyong melakukan hal seperti ini di depannya, bahkan  putaran gadis Jiyong  sudah merambah ke lingkup temannya. Lebih tepatnya, Yeonmi yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Memang ini bukan kejadian yang pertama kalinya bagi Taeyeon, tapi kebohongan yang dibuat Yeonmi lah yang membuat Taeyeon kecewa. Akan lebih baik jika Yeonmi berbicara jujur jika ia akan berkencan bersama sosok lelaki bernama Jiyong, dengan begitu Taeyeon akan jauh lebih baik. Setidaknya ada seseorang selain Donghae yang mau terbuka padanya, walau kebenaran yang diungkapkan akan menyakiti Taeyeon sendiri.

“Wah, akhir-akhir ini aku sering melihat kejadian buruk, tapi tak ada yang seburuk dari ini.” sahut Donghae yang tanpa sadar menyeruput segelas wine yang ada dihadapannya. Mungkin efek kemarahannya membuatnya lupa diri,

“Cho Yeonmi, akhir-akhir ini aku sering melihat kejadian baik, tapi tak ada yang sebaik ini.” ucap Jiyong yang memang mengikuti perkataan Donghae.

“Hem ?” balas Yeonmi yang merasa dirinya disebut dalam perkataan Jiyong baru saja.

Kedua telapak tangan Jiyong tiba-tiba menangkup wajah Yeonmi, yang memaksa gadis itu untuk menghapuskan jarak diantara keduanya. Tak lain dan tak bukan, tujuan Jiyong adalah mencium bibir Yeonmi yang sudah berbalut lipstik merah.

Taeyeon membeku.

Adegan seperti ini sudah berkali-kali Taeyeon hadapi, tapi entah mengapa setiap melihatnya Taeyeon tetap merasa terluka. Dan dengan diamnya itulah Taeyeon mengekspresikan kemarahannya.

“Yang kutahu sampai saat ini, kau punya selera yang buruk Kim Taeyeon.” gumam Donghae dengan suara sedang untuk menutupi suara decak ciuman antara dua insan di sampingnya.

“Donghae-ya, kurasa aku sudah mabuk. Bisakah kau antarkan aku pulang?” suara Taeyeon bergetar, pertanda sebentar lagi akan ada kristal bening yang muncul dari kedua mata indahnya.

“Kajja.” Donghae langsung bergegas dan membantu Taeyeon berdiri dengan memapahnya. Ini sudah menjadi kebiasaan, jika Taeyeon mabuk ia tidak akan pernah bisa berdiri dengan tegak. Ia akan berdiri dan berjalan dengan posisi dan arah badan miring.

Selepas kepergian Donghae dan Taeyeon, Jiyong segera menghentikan pagutannya dan membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi tertutup paksa. Jiyong hanya diam tanpa respon ataupun gairah, ia hanya membiarkan Yeonmi bermain dengan bibirnya.

 

♠♠♠

 

“Apa kau baik-baik saja ?” tutur Donghae memulai pembicaraan antara dirinya dan Taeyeon.

“Jika aku menjawab aku baik-baik saja, apa itu boleh ?” suara yang Taeyeon keluarkan terdengar begitu sendu bagi siapapun yang mendengarnya, tak terkecuali Donghae.

Keduanya tengah menikmati pemandangan malam kota Seoul dari balkon apartemen Donghae. Bukan hal yang canggung bagi keduanya untuk berada didalam apartemen bersama, hal itu mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi Taeyeon maupun sebaliknya.

Balkon apartemen Donghae menjadi persinggahan Taeyeon ketika sedang terluka, sedih maupun gelisah.

Begitupun dengan taman di belakang rumah Taeyeon yang menjadi tempat kesukaan Donghae. Menurutnya dengan berada di taman tersebut dapat memberikan energi baru dihidupnya. Jadi jangan heran jika menemukan Donghae yang gusur di belakang rumah Taeyeon sendirian.

“Apa kau masih ingat apa yang dulu kukatakan padamu?” Donghae memutar tubuhnya untuk menghadap kTaeyeon.

“Maukah kau mengulanginya lagi ?” balas Taeyeon bersama dnegan cengiran khasnya.

“Jika kau sudah lelah dan ingin menyerah, datanglah padaku maka aku akan menjadi sandaranmu.” tangan kanan Donghae mengusap lembut kepala Taeyeon. Jika dilihat lebih lanjut, maka adegan tersebut sangatlah sempurna untuk ikon keluarga harmonis. Sayangnya tidak, Taeyeon tidak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan Donghae.

“Waah, aku merasa tersanjung”

pletakk

Suara yang bersumber dari kening Taeyeon. Lebih tepatnya hasil sentilan kelingking Donghae pada kening Taeyeon.

“Yaa, aku sedang berbicara serius.” tegas Donghae

“Aku juga.”

“Yaa, Kim Taeyeon kau pulang saja sana. Percuma saja bicara denganmu.” Donghae pun berbalik dan segera meninggalkan balkon, sedangkan Taeyeon juga segera menyusulnya.

 

♠♠♠

 

“Omo, Taeyeon eonni !” pekik Yuri tertahan.

Pagi hari indah Yuri sudah dirusak dengan sang kakek yang menyuruhnya untuk mengunjungi apartemen sepupunya, Kwon Donghae. Tak lain dan tak bukan, tujuan kakek hanyalah untuk memberikan undangan pesta perayaan Jiyong beberapa hari lagi.

“Eoh, Kwon Yuri.” sapa Taeyeon dengan suara parau, membuktikan bahwa gadis itu baru saja bangun dari alam mimpinya.

Yuri masih berdiri di tempat yang sama dan masih mengamati Taeyeon dengan heran. Untuk pertama kalinya Yuri mendapati wanita berada di apartemen Donghae di pagi hari. Pikiran aneh begitu saja bergulat di kepalanya. Bagaimana itu mungkin ? Ah, tidak mungkin, mereka tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu.

“Wae ?”

Merasa diperhatikan Taeyeon berbalik menghadap Yuri yang memperlihatkan tampang konyolnya.

“Bagaimana eonni bisa ada disini ?”

“Tadi malam aku pergi ke klub bersama Donghae. Setelah itu kita pulang ke apartemen ini.” ungkap Taeyeon apa adanya.

“Woah, tak bisa dipercaya hal ini juga terjadi pada kalian. Eonni, aku sangat iri padamu.” segera Yuri menghampiri Taeyeon yang sedang meneguk segelas air putih.

“Hentikan pikiran kotormu. Tidak terjadi apa-apa.” seketika raut muka Yuri berubah kesal, merasa dipermainkan dengan kata-kata Taeyeon mungkin.

“Aa, hampir saja aku lupa. Kakek akan mengadakan pesta perayaan untuk ulang tahun Jiyong oppa seperti yang kita duga sebelumnya. Datanglah,”

“Jjinja ?”

“Heem.”

“Gomawo Yuri-ah. Kau memang yang terbaik.”

 

♠♠♠

 

“Oppa! Oppa! Jiyong-ie oppa eodiso ?” teriakan Yuri sukses membuat Jiyong yang berada di kamar mandi terlonjak kaget. (eodiso : dimana )

“Wae ? Aku ada di kamar mandi.”

Setelah hitungan detik Yuri sudah berada di ruangan yang sama dengan Jiyong. Entah jin apa yang sudah merasuki adiknya, Jiyong tak tau.

“Ada apa ?” ungkap Jiyong to the point.

“Oppa, kau tau apa yang tadi kutemukan ?” ucap Yuri bersemangat. Nafasnya yang tak teratur terdengar terengah-engah.

“Tidak. Makanya katakan padaku, apa kau menemukan blackcard baru nya kakek ?” bayangan uang yang berlimpah sudah memenuhi kepala Jiyong hingga membuatnya senyum-senyum tanpa sebab. Jangan tanya bagaimana reaksi Yuri begitu melihat kelakuan kakak laki-lakinya itu.

“Dangsin-eun michyeoss-eo ?!” mungkin kebiasaan Yuri adalah berteriak yang memekakkan telinga sang pendengar. Salah satu korbannya ialah Jiyong yangsudah mendengar teriakan itu dua kali dalam satu waktu. Memang kedua saudara ini sangatlah harmonis. (dangsin-eun michyeoss-eo : apa kau gila )

“Yaak, kau tau dengan siapa kau bicara? Kenapa marah-marah padaku dan berkata seperti itu, Haa !  Aku ini kakakmu, gadis jelek!” balas Jiyong dengan suaranya yang tak kalah dengan Yuri.

“Aissh, menjijikan sekali. Selesaikan gosok gigimu dulu baru bicara, oppa. Lihatlah busanya bertebangan kearahku. Jorok sekali,” kali ini Jiyong menuruti perkataan adiknya itu. Bukan karena ia takut dengan bentakan Yuri barusan, lebih tepatnya karena urat malunya yang masih berfungsi.

Sedangkan Yuri, gadis itu terus saja menggerutu kesal sambil berjalan keluar dari kamar mandi deng kesal.

 

“Apa yang ingin kau katakan ?” ujar Jiyong setelah ia dan adiknya itu berada di meja dapur.

“Coba tebak ?”

“Tidak akan.” tolak Jiyong mentah-mentah.

“Coba tebak saja!” desak Yuri tak mau kalah. Dua bersaudara ini memanglah aneh.

“Blackcard ?” tentu saja bukan itu.

“Apartemenmu baru ? Dimana ?” Yuri kembali menggelengkan kepalanya.

“Akhirnya kau punya pacar ?” tebakan yang Jiyong lontarkan hanya membuat dosa Yuri bertambah karena mengumpati kakaknya dalam hati.

“Palli-wa ! Katakan saja sebelum aku berubah tidak penasaran.”

“Taeyeon eonni.”

“Lalu ? Apa itu penting ? Kenapa mengatakan tentangnya padaku ?” balas Jiyong santai lalu menyeruput segelas wine dari genggamannya.

“Kau akan terkejut, tadi pagi aku menemukan Taeyeon eonni ada di apartemen si jelek Donghae. Kau tau apa yang sudah terjadi ? Tadi setelah pergi dari klub mereka tidur di apartemen si jelek itu. Eonni menginap semalaman disana, hanya ada mereka berdua. Bahkan keduanya dalam keadaan mabuk, kau tau apa yang kupikirkan bukan ? Apa mereka itu friend with benefit ?”

Wine yang belum sempat masuk ke kerongkongan Jiyong, sudah keluar lagi dari mulut Jiyong. Bahkan sudah berada di gelas semula. Benar, Jiyong tak jadi meneguk wine itu setelah mendengar perkataan  Yuri.

” Wae ? Apa informasiku terlalu mengejutkanmu ? Tadi pagi akupun terkejut.” ucap Yuri dengan mengeluatkan smirk andalannya.

“Sangat mengejutkan bagiku saat mengetahui adikku menyukai si jelek Donghae.” dengan kilatan mata yang menusuk, Jiyong mencerca Yuri dengan perkataannya.

“Yaa ! Kenapa bicara seperti itu !” protes Yuri.

“Apa kau benar menyukai Donghae ? Waah, adik kandungku sudah mengkhianatiku selama ini dan berpihak pada sepupunya.” gumam Jiyong dengan suara kerasmya.

“Bagaimana kau semudah itu mengatakan hal bodoh itu,” dengan sedikit berteriak, Yuri mengelak opini kakak lelakinya itu.

“Seperti itulah kau saat mengatakan mereka adalah friend with benefit. Pabbo-ya.”

Detik itu juga, mulut Yuri terbuka lebar saking keterkejutannya akan ucapan seorang Kwon Jiyong, kakaknya.

“Heol, apa kakakku sedang mempermainkanku sekarang ini ?” gerutu Yuri kesal.

“Aku kan hanya membuatmu paham dengan informasi yang kau berikan. Tanpa ada sebab yang kuat kau mengatakan mereka FWB.” jelas Jiyong santai.

“Penglihatanku tadi pagi adalah buktinya.” sanggah Yuri cepat.

“Apa kau melihat mereka melakukan ‘itu’ tadi malam ?”

“Tidak juga, tapi..”

“Berarti tak ada bukti yg mendasar.”

“Terserah kau saja.”

“Cih,” gumam Jiyong dengan senyuman mengejeknya.

“Ah, hampir saja aku lupa mengatakan ini. Oppa apa kau mengenal Dongmin ?”

“Memangnya siapa? Apa dia lelaki yang membohongimu itu ?” ejek Jiyong lagi. Dan tak tanggung lagi, Yuri melemparkan majalah tepat di kepala Jiyong. Itupun malah membuat Jiyong semakin tertawa lebar, menjahili adiknya dengan topik lelaki adalah kesenangan tersendiri bagi Jiyong. Yuri memang terkenal dengan kisah cintanya yang beragam, karna lelaki yang ditemuinya mungkin memilki sifat sebelas duabelas dengan sifat kakaknya, yang playboy.

“Aku serius, tadi pagi aku tak sengaja mendengar Donghae memanggil Dongmin. Sepertinya nama itu sungguh asing bukan? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya” Jelas Yuri.

YURI FLASHBACK..

“Taeyeon eonni sudah pulang, sekarang tugasku yang sebenarnya-lah dimulai. Kakek benar-benar tak adil padaku, bagaimana mungkin setiap hari mingguku harus kulalui dengan bersih-bersih di kedua apartemen cucu lelakinya. Yang satu suka memerintah yang satunya selalu protes. Oh Tuhan, nasib ini.. benarkah kau yang mengirimkannya ?” gerutu Yuri tak tentu arah.

Yang jelas, Yuri harus menyelesaikan tugas minggu-an nya di apartemen tukang protes, Donghae. Masa bodo untuk apartemen Jiyong, Yuri tak terlalu memperdulikan karna Jiyong juga tak menyadari itu. Jauh berbeda dengan si jelek Donghae yang pasti akan mengadu pada kakek. Begitulah kata Yuri.

“Yaa, Kwon Donghae. Bangun secepatnya tau aku tidak akan membersihkan kamarmu ini.” ancam Yuri pada makhluk bernyawa yang masih tertidur dengan nyaman di depannya.

“Han… Dongmin.. Han Dongmin eodiso.”

Yuri mengerutkan kening pertanda bingung dengan apa yang Donghae katakan. Apa dia sedang mengigau ?

“Kwon Donghae bangunlah, hei.” Yuri menggoyang-goyangkan bahu Donghae berharap lelaki tu segera bangun dari tidur, atau bisa jadi mimpinya. Tapi yang malah ia dapat adalah genggaman erat di tangannya.

“Han Dongmin, kau di sini rupanya.” igau Donghae tak terlalu jelas untuk didengar.

“Aku ini Kwon Yuri. Bagimana aku bisa menjadi lelaki ?” gumam Yuri tak terima dengan pengakuan Donghae barusan yang menyebutnya Han Dongmin. Karna nama itu adalah milik seserang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Yuri itu gadis sepenuhnya. Wanita tulen.

Lima menit berlalu tanpa ada yang berubah.

“Kwon Yuri ?” kedua kelopak mata Donghae mulai membuka perlahan. Setelah semuanya jelas, segera ia melepas pegangannya dari tangan Yuri. Ah, lebih tepat jika menyebut Donghae menyentak tangan Yuri.

“Eoh, ini Kwon Yuri. Bukannya siapa tadi… emm.. Han Jongin ? entahlah, aku lupa.” Decak Yuri kesal.

“Jadi tadi itu tanganmu, pantas saja tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.” Ejek Donghae.

“Dan hampir saja aku akan memukulmu karna menyentuh tangan suci ini.” balas Yuri tak terima.

“Berhentilah membual.” Celetuk Donghae

“Pasti tadi kau bermimpi hal-hal senonoh.” Tuduh Yuri.

“Mana ada bermimpi seperti itu malah menyebutkan nama seorang pria.”

“Ya mungkin saja kau juga satu kelompok penyimpangan seksual.” Maksud Yuri itu Lgbt.

“Kelaut saja kau,kunyuk.” Decak Dnghae tak terima.

“Kenapa tak bilang sih.” Yuri berbalik badan.

Segera saja ia keluar dari kamar itu begitu melihat gerak-gerik Donghae yang akan berganti pakaian. Sudah menjadi kebiasaan. Bahkan Donghae sedikitpun tidak merasa malu untuk menanggalkan baju di depan Yuri. Meski keduanya punya hubungan sepupu, tapi tetap saja tak seharusnya Donghae seperti itu.

Begitulah kurang lebihnya omelan yang biasa Yuri katakan dalam hati.

YURI FLASHBACK END

 

Yuri bercerita kilas balik tentang kejadian pagi tadi dengan penuh semangat. Itu karna rasa penasarannya. Begitu selesai, Yuri memandang Jiyong meminta jawaban.

“Hei, Donghae fans ! kau bertanya pada orang yang salah, bagaimana aku tahu tentang dia.” Karena celetukannya barusan, Jiyng mendapatkan hadiah sebuah tatapa tajam dari adik semata wayangnya.

“Aish, benar juga. Percuma saja bertanya padamu, itu hanya membuang-buang waktu. Baiklah, aku pergi dulu. Ah ya, jangan lupa untuk datang ke pesta ulangtahunmu. Itu pesan kakek,”

“Kakek bahkan sudah memenuhi kotak pesanku,” gumam Jiyong sendirian karna Yuri baru saja keluar dari ruang makan, lebih tepat lagi keluar dari apartemennya.

Hening.

Hanya Jiyong sendirian diruangan itu. Raut mukanya berubah serius, jauh berbeda dari pa yang tadi ia tampilkan saat masih bersama dengan Yuri.

“Lee Donghae. Dia mengenal Dongmin? Aku yakin yang dia maksud, Han Dongmin. Anehnya, bagiamana dia tau sosok Han Dongmin ?” Jiyong tampak berpikir keras. Berulang kali ia meneguk setengah gelas wine perlahan-lahan.

“Aku mulai penasaran tentangmu, Lee Donghae.”

Seringai sinis khas milik Jiyong kembali muncul.

 

TO BE CONTINUE

 

Maaf updatenya telat, harap maklum author yg satu ini memang tukang php ^^

Awalnya mau nunggu sampe request posternya jadi sambil menyelesain chap ini lebih panjang, tapi tangan udah pengen banget mencet tombl publish ^^ Yaudah update sekrang dgn poster yg lama ^^

Rencananya habis ini mau update Who You, sapa yg masih menunggu ini ff ???

Maaf yaa semuanya, author ini emang labil bgttttt, nulis cuman sesuai mood dan waktu, jadi harap dimengerti T.T

Oke,cukup sudah saya curhatnya ^^ hehe

bye,

salam dari pacarnya Lee Taeyong :-*

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

26 comments on “BEAUTIFUL MIND (Chapter 1)

  1. Akhirnyaaa thor. D post jga. Sdh lama sayaa mnunggunyaa thor… klu blh tnyaaa thor. Apa authornim terinspirasi dri drama korea?? Soalnyaa kyk prnh nntn dramanyaa tpi lupaa namanyaaaa-___-dtggu thor kelanjutannyaaa. Fighting😀😀😀

  2. Akhirnyaaa thor. D post jga. Sdh lama sayaa mnunggunyaa thor dan jan dongmin siapa thor? Apa ada hbngannyaa dgn taeyeon??… klu blh tnyaaa thor. Apa authornim terinspirasi dri drama korea?? Soalnyaa kyk prnh nntn dramanyaa tpi lupaa namanyaaaa-___-dtggu thor kelanjutannyaaa. Fighting😀😀😀

  3. Kesel ihh ama jiyong tp stidaknya msih ada donghae yg mau ngehibur taetae…
    Siapapun si han dongmin itu asal kgak gangguin taetae, aq mah oke wae…

  4. Siapa Han Dongmin? Penasaran.
    Ditunggu chapter selanjutnya & juga FF Who You. 🙂
    Fugting Author- nim! 🙂
    Fighting All! 😀
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #ROYALISTDREAMER
    #SOSHIBANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s