The Leader’s Secret (Chapter 14)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || Rated 18+

 

 

WARNING INSIDE !!!

IT’S LONG STORY AND BE CAREFUL! YOU’LL BE BORED!

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ bacacomment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 14 ini hehehee.

Loveyousomuch~

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13

~~~

“Eomma sudah menghapus ingatan orang-orang yang melihat Jiyong menghentikan mobil itu dengan kepalan tangannya sendiri. Dia juga sudah meyakinkan mereka dengan ‘paksa’ bahwa itu hanyalah kecelakaan biasa. Semuanya sudah terselesaikan dengan beres, Taeng. Rapi dan tidak akan ada orang yang curiga. Tidak perlu merasa terlalu bersalah begitu. Eomma juga pernah melakukan hal yang lebih berbahaya lagi daripada Jiyong,” hibur Dami pada Taeyeon.

Ia menyerahkan segelas air mineral pada Taeyeon lalu duduk di hadapannya. Mereka berdua tengah duduk bersama di dalam restaurant hotel tiga jam setelah insiden mobil rem blong yang hampir menabrak Taeyeon. Wajah gadis itu masih pucat dan ia bahkan belum bisa meminum air yang disodorkan Dami. Fikirannya kacau balau memikirkan keadaan Jiyong.

“Ibumu melakukan kesalahannya sendiri, eonni,” jawab Taeyeon sambil tersenyum kecut. “Ini murni kesalahanku. Seandainya saja dia tidak ada di sana saat kejadian itu mungkin akan lain ceritanya. Natthaemune. Semuanya jadi berantakan seperti ini,”

“Kau hanya tidak tahu apa yang terjadi ketika eomma melakukan kesalahan seperti ini,” timpal Dami. “Dan lagipula eomma sudah membawa seseorang yang bisa memberikan darahnya pada Jiyong tanpa embel-embel ‘bercinta’ seperti biasanya. Tidak perlu terlalu khawatir,”

Taeyeon buru-buru menghapus air mata yang keluar dari pelupuk matanya tanpa bisa ia cegah. Memikirkan kondisi Jiyong yang tengah kesakitan membuat hatinya perih lagi.

“Jiyong akan baik-baik saja. Besok dia akan pulang dengan kondisi yang jauh lebih sehat,” lanjut Dami. Ia berusaha meyakinkan Taeyeon, walaupun dirinya sendiri tidak bisa memastikan hal tersebut. “Sekarang, pergilah ke bandara. Pulanglah. Mereka bertiga pasti menunggu dan mencemaskan dirimu,”

Taeyeon menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil masih disibukkan dengan air matanya yang tak kunjung berhenti. “Aku minta pada depyonim untuk reschedule tiket pulangku ke Korea. Beliau bilang aku bisa pulang kapanpun aku mau. Dia mengerti dengan kondisiku,”

“Waeyo?” tanya Dami.

“Sebelum pulang ke Korea, bolehkah aku menjenguk Jiyong sebentar, eonni?” pinta Taeyeon. Kedua mata beningnya memancarkan harapan tinggi. Terbersit rasa kasih sayang yang tulus di sana. “Ahjumma mungkin tidak akan memperbolehkan aku, jadi aku minta tolong padamu, eonni. Karena, setelah tiba di Korea, kemungkinan besar untuk bertemu kembali dengannya sebesar 0 persen,

“Aku tidak akan lama menjenguknya, eonni,” sambung Taeyeon. “Aku bersumpah tidak akan lama. Kalau bisa, aku akan menjenguknya saat dia tertidur pulas. Aku hanya akan mengucapkan terima kasih sekaligus memohon permintaan maaf darinya. Aku tidak akan tenang selama di Korea jika tidak mengucapkan apa-apa,”

“Sstt,” bisik Dami, menghentikan ocehan yang keluar dari bibir kissable Taeyeon. “Eomma pasti memperbolehkanmu menjenguk Jiyong, percaya padaku. Eomma tidaklah sekejam yang ada di fikiranmu walaupun dialah orang yang meminta Jiyong menjauhimu, semata-mata untuk kebaikanmu,”

Setelah Dami mengucapkan hal tersebut, seseorang yang dalam perbincangan mereka pun muncul dan langsung duduk di antara mereka berdua. Raut wajah wanita paruh baya tersebut tampak pucat dan tegang. Ia terlihat gelisah dan linglung. Bahkan Taeyeon yakin wanita itu tidak menyadari telah meminum air mineral milik Taeyeon yang diberikan Dami tadi.

“Eomma wae geuraeyo?” tanya Dami cemas. “Apa ini masalah Jiyongie?”

Mendengar nama Jiyong, tubuh Taeyeon langsung tegak dan kedua matanya fokus pada sang ibunda.

“Aku sudah membawa tiga orang gadis kepercayaanku untuk Jiyong, seperti yang tadi kau lihat,” ujar Mrs. Kwon. “Jiyong meminum semuanya. Tapi dia memuntahkannya kembali, Dami-ah. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada anakku, tapi dia tidak pernah seperti ini selama hidupnya! Dia sudah tiga kali terbakar panas matahari saat kecil dan semuanya baik-baik saja ketika dia minum darah siapapun itu. Sekarang dia memuntahkannya, perutnya tidak menerima darah-darah itu. Yang lebih buruk lagi, tubuhnya semakin lemas,”

“Eomma, tenanglah,” bujuk Dami. Ia memeluk ibunya dan mengelusi punggung Mrs. Kwon dengan lembut. “Apa mungkin ini karena dia mengeluarkan kekuatannya untuk pertama kali?”

“Sama sekali tidak ada hubungannya, Dami-ah,” jawab Mrs. Kwon. Air mata membasahi kedua pipinya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak kepala lima. Dami mengeluarkan tissue dari dalam tas kecilnya dan menghapus air mata ibunya.

“Jadi, bagaimana menurut eomma? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dami lirih.

“Kalau begini terus, aku akan membawanya ke castle di Rumania. Sesepuh di sana pasti tahu apa yang terjadi dan bagaimana cara mengobatinya,” jawab Mrs. Kwon di sela-sela isaknya.

Rumania? Castle? Bukankah itu artinya sama saja Jiyong akan dikirimkan ke tempat di mana dia tidak akan bisa melihat dunia manusia lagi?

“Eomma!” pekik Dami kecil. “Kita sudah berjanji tidak akan membawa satupun keluarga kita ke sana. Aku tidak akan membiarkanmu membawa adikku ke sana, eomma. Tidak akan pernah,”

“Apa lebih baik bagimu melihat dia mati secara perlahan, Dami-ah? Dia putraku satu-satunya yang memiliki keturunan sama denganku. Dia putra kecilku, Dami-ah. Lebih baik membawanya ke sana daripada aku harus kehilangan dia. Aku bisa mengunjunginya ke sana kapanpun aku mau. Meskipun itu sama saja dengan aku yang menghancurkan impian serta kerja kerasnya selama ini,” jelas Mrs. Kwon.

Taeyeon mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Jiyong tidak pantas, tidak adil untuknya dikirimkan ke sana, penjaranya para vampire itu. Semua ini salahnya, jadi kenapa Jiyong yang harus membayar mahal untuk sesuatu hal yang sama sekali tidak diinginkannya? Semua ini salahnya. Jiyong tidak harus ke sana dengan menguburkan semua impiannya hanya karena seseorang seperti Kim Taeyeon.

Di mata seorang Kim Taeyeon, Jiyong memang tampak selalu memukau, memesona, dan berkilauan di atas panggung, di atas fans-nya. Tapi tidak semua orang mengetahui betapa kesepiannya laki-laki itu, betapa sendu kedua matanya ketika dia meninggalkan panggung dan fans-nya. Tidak ada yang tahu betapa rapuhnya laki-laki itu.

Dan sekarang, ia harus dikirimkan ke castle Rumania itu? Bukankah itu sama saja dengan menyuruhnya mati secara perlahan-lahan agar orang-orang tidak mengetahuinya? Mati secara perlahan-lahan itu jauh lebih menyakitkan.

Seharusnya gadis itulah yang sekarat saat ini. Seharusnya nyawanyalah yang melayang tiga jam yang lalu. Jika memang itu takdirnya, kenapa Jiyong yang harus menanggungnya?

“Ahjumma,” panggil Taeyeon pelan pada Mrs. Kwon, yang masih menyandarkan kepalanya di pundak kanan Dami.

Mrs. Kwon dan Dami sama-sama menoleh menatap Taeyeon dengan pandangan bertanya-tanya. Taeyeon kembali mengepalkan buku-buku jarinya, mantap dengan keputusan yang sudah ada di kepalanya.

“Bolehkah saya melihat Jiyong?” pinta Taeyeon tanpa ragu. “Saya memang bukan seseorang yang istimewa, tapi saya akan melakukan apapun untuk mengembalikan putra anda. Saya akan bertanggung jawab, apapun itu,”

“Ahga,” panggil Mrs. Kwon setelah lama mereka bertiga sama-sama terdiam atas ucapan yang terlontar begitu saja dari bibir Taeyeon. “Jangan bercanda. Kau tidak akan mampu…,”

“Saya sama sekali tidak bercanda,” tegas Taeyeon. “Bagaimana bisa saya bercanda di saat-saat seperti ini? Saya akan lakukan apapun agar anda tidak membawanya ke Rumania. Ini bukan kemauannya, tapi kenapa dia harus menguburkan semua impiannya?”

Mrs. Kwon menghela nafas panjang. Ia duduk tegak dan menghapus air matanya. Lalu, kedua mata tajam itu menatap Taeyeon lekat-lekat. “Kalau kau memang bersikeras dan mau melakukan apapun, pergilah. Aku akan menunggu di sini dan kuharap aku mendengar kabar baik darimu, ahga,”

Taeyeon mengangguk dengan semangat. Ia bangkit dari kursi, membungkuk pamit pada Mrs. Kwon dan Dami lalu pergi ke kamar Jiyong dengan membawa card kamarnya yang langsung diberikan oleh Mrs. Kwon.

“Eomma,” panggil Dami pelan saat Taeyeon sudah menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Kau pasti ingat dengan cerita yang pernah kuceritakan padamu waktu itu, Dami-ah,” sela Mrs. Kwon. “Tidak ada bedanya sama sekali. Dia bilang dia bukanlah gadis istimewa. Tapi dia tidak sadar sama sekali bahwa dia sudah menunjukkan keistimewaannya baru saja,”

~~~

Click.

Setelah card kamar Jiyong sudah terverifikasi, Taeyeon segera memasukkan card tersebut ke dalam tasnya dan membuka pintu kamar Jiyong secara perlahan-lahan. Langsung saja kedua matanya menangkap pemandangan gelap di dalam kamar tersebut. Jendela di tutup dengan gorden yang berlapis-lapis agar tidak ada sedikitpun cahaya matahari yang masuk. Tidak hanya jendela, tempat apapun yang bisa dilalui oleh sinar matahari, ditutup serapat-rapatnya.

Taeyeon masuk ke dalam kamar itu dan menutup pintunya pelan-pelan. Dengan segera ia menghidupkan saklar lampu dan kedua retina matanya dapat melihat tubuh lunglai Jiyong terkapar di atas tempat tidur king-nya. Kedua mata cokelat madunya terpejam. Wajahnya pucat bukan main. Tapi bibirnya merah semerah darah.

Kedua mata Jiyong langsung terbuka detik itu juga ketika lampu di dalam kamarnya menyala dan tubuh Taeyeon yang perlahan-lahan mendekati tempat tidur, mendekat ke arah laki-laki itu.

Taeyeon sedikit tersentak saat kedua mata Jiyong, yang tentu saja sudah berubah keemasan terbuka mendadak. Ia menghentikan langkahnya dan hanya memandangi laki-laki tampan itu, yang sedang berusaha bangkit untuk duduk. Erangan kecil lolos dari mulut Jiyong.

“Gwaenchanna?” tanya Taeyeon khawatir. Tapi tubuhnya tetap di tempat. Entah kenapa ia tidak berani melangkah lebih dekat lagi.

“Pergilah,” usir Jiyong dengan suaranya yang lirih.

“Semuanya salahku…,”

“Walaupun begitu,” sela Jiyong dengan suara yang cukup tinggi. “Kau tidak ada urusan lagi denganku. Aku menyelamatkanmu dan kau mau berterima kasih, ‘kan? Aku terima dan setelah itu pergilah,”

“Aku kesini bukan untuk berterimakasih saja,” ujar Taeyeon berusaha tenang. “Aku ingin melihat keadaanmu. Dan mungkin saja kau butuh bantuanku,”

Jiyong langsung tertawa remeh mendengar tuturan kata Taeyeon. Ia menatap tajam gadis mungil itu. “Kalau aku bilang aku butuh darahmu, apa yang akan kau lakukan? Kau bahkan sudah ketakutan saat ini,”

“Kau tahu aku sama sekali tidak takut, Kwon Jiyong,” ujar Taeyeon cepat. “Kalau kau memang butuh itu, aku akan memberikannya sekarang,”

“Keluar dari sini atau aku akan membunuhmu,”

Tubuh Taeyeon menegang seketika. Ia tahu Jiyong bukan tipe orang yang akan mengotori tangannya dengan darah orang lain. Tapi ancaman yang baru saja keluar dari mulutnya terdengar serius. Tentu saja Taeyeon lebih keras kepala.

“Silakan,” jawab Taeyeon. “Seharusnya aku memang sudah mati, ‘kan kalau saja kau tidak menerobos sinar matahari dengan bodohnya. Kalau kau membunuhku, itu tidak masalah sama sekali. Kau bisa langsung menghabiskan darahku setelah itu,”

“Jangan bicara hal yang konyol, Kim Taeyeon,” gertak Jiyong.

“Akan lebih aku yang mati, bukan kau,” lanjut Taeyeon. “Jika memang ini cara yang ampuh agar aku segera melupakan perasaanku padamu, lakukanlah. Setidaknya kau tidak pergi dari sini dan meninggalkan semua impianmu. Kalau aku yang mati, tidak akan ada yang mencariku selain keluargaku,”

PRANG!!!

Setelah mengucapkan hal itu, Taeyeon langsung memecahkan dua gelas kaca yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur Jiyong. Pecahan kaca itu bertabur kemana-mana dan Taeyeon langsung mengambil salah satu pecahan tersebut. Belum sempat Jiyong tersadar dari keterkejutannya, Taeyeon melakukan tindakan gila.

Ia menggoreskan pecahan tersebut di pergelangan tangan kanannya. Sedetik kemudian, darah segar langsung mengucur cukup deras jatuh membasahi lantai kamar hotel Jiyong. Dalam sekejap mata, lengan Taeyeon pun ikut basah oleh darahnya sendiri.

“Neo michyeosseo?!!!” seru Jiyong dengan suaranya yang menggelegar, memekakkan kedua telinga Taeyeon.

Jiyong bangkit dati tempat tidurnya, melupakan segala rasa sakit yang ada di tubuhnya. Ia segera mengambil pecahan kaca itu dari tangan Taeyeon dan membuangnya ke sembarang tempat. Sebelum Taeyeon sempat berkata apa-apa, dengan cepat Jiyong mendorong tubuh gadis itu hingga membentur dinding kamar. Benturan yang lumayan kuat, yang membuat Taeyeon langsung mengerang sakit.

“Kau sudah kehilangan akal sehatmu?!” bentak Jiyong. “Kau gila, bodoh!”

Taeyeon hanya menundukkan wajahnya tanpa berniat membalas cacian Jiyong. Lagipula cacian itu benar. Dia memang sudah gila, sudah bodoh. Melakukan semua itu untuk laki-laki yang sekarang ini ada di hadapannya. Laki-laki yang sudah mempertaruhkan nyawanya sendiri demi dirinya.

“Kalau kau berniat bunuh diri, lalu bagaimana denganku?!” seru Jiyong lagi. Ia mengangkat dagu Taeyeon dengan kasar, sehingga kedua mata mereka berdua bertemu. Setetes air mata jatuh kembali membasahi pipi kiri gadis itu.

“Aku tidak akan mati jika kau meminum darahku,” ujar Taeyeon pelan. “Aku pernah terluka dan kau selalu bisa menyembuhkannya dengan cara meminum darah ini. Minumlah. Hanya ini satu-satunya cara agar kau tidak sekarat. Aku melakukan ini bukan karena utang budi. Tapi aku tidak ingin kau pergi jauh dari sini. Aku ingin melihatmu selalu sehat, selalu baik-baik saja. Meskipun dari jauh, setidaknya aku bisa melihatmu. Setidaknya aku tahu kau bahagia,”

Jiyong menundukkan wajahnya dan langsung memeluk tubuh kecil gadis itu dengan erat. Taeyeon dapat merasakan lehernya basah karena air mata Jiyong.

“Aniya,” bisik Jiyong. “Kau harus melihatku dari dekat, Taeyeon-ah. Dari dekat. Jangan pergi kemanapun, jangan pernah berniat pergi lagi dariku. Tetaplah di sini. Tetaplah di tempat aku juga bisa melihatmu, memelukmu, menciummu, dan memilikimu seutuhnya,”

Taeyeon tersenyum kecil. Ia melepas pelukan Jiyong dan menatap lekat mata keemasannya. “Kalau begitu minumlah darahku. Aku berjanji akan selalu disisimu,”

“Kau sudah bersumpah dengan darahmu, Kim Taeyeon,” ujar Jiyong.

“Ne,” jawab Taeyeon sembari menganggukkan wajahnya.

Jiyong tersenyum manis untuk pertama kalinya pada Taeyeon setelah sekian lamanya. Setelah itu, ia meraih pergelangan tangan kanan Taeyeon dan membersihkan darah yang terus mengalir dan membasahi lengan gadis itu dengan mulutnya. Rasanya perih memang. Sakit sekali. Tapi begitu lidah Jiyong menyapu area luka yang disebabkan oleh Taeyeon sendiri, luka itu menutup secara perlahan-lahan.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sensasi yang selalu dirasakannya setiap kali lidah Jiyong menyentuh permukaan kulitnya. Sensasi menggelitik di bagian perut bawahnya. Sensasi yang sulit sekali dijelaskan oleh gadis itu sendiri. Bisa dikatakan, ia menikmatinya.

Darah yang membasahi lengan Taeyeon ternyata sampai memuncrat ke leher dan bagian atas dada gadis itu. Walaupun hanya sedikit tapi Jiyong dengan cepat menyapukan bibirnya di leher jenjang Taeyeon dan membersihkan sisa-sisa darah tersebut. Sedikit terkejut, Taeyeon buru-buru memejamkan kedua matanya. Jantungnya jumpalitan tak menentu.

Bukan hanya sekedar membersihkan darah itu, Jiyong juga mengemut bagian-bagian tertentu dari leher Taeyeon. Bagian-bagian sensitive­-nya, lebih tepatnya. Menjilati seluruh permukaan leher gadis itu dengan rakus, menggigitinya secara liar, dan diakhiri dengan hisapan kuat yang mampu mencetak banyak kissmark di sana.

“Nngghh…,” erang Taeyeon. Erangan yang jauh dari kata sakit, tentu saja. Taeyeon tidak mampu menahan suaranya saat laki-laki itu mulai kehilangan kontrol dirinya menciptakan ruam kemerahan di seluruh leher Taeyeon. Kedua lutut gadis itu juga sudah bergetar saking lemasnya. Rasanya ia ingin jatuh terduduk di lantai itu.

Namun, Jiyong menahan pinggang Taeyeon kuat-kuat di dinding. Ia belum selesai. Ini masih permulaan. Ah, tidak. Ini masih pemanasan. Walaupun Taeyeon sudah merasakan panas di sekitar tubuhnya sejak Jiyong menyentuhnya.

“Cha…chakkamanyeo,” bisik Taeyeon sambil mendorong kedua lengan kokoh Jiyong yang tengah membuka kancing dress biru muda selutut miliknya dengan sekali tarikan kuat. Nafas Taeyeon tercekat dan tubuh polosnya langsung merasakan suhu dingin AC yang ada di dalam kamar hotel laki-laki itu. Hanya sepasang pakaian dalam warna ungu yang masih melekat di tubuh gadis itu.

Jiyong menjauhkan wajahnya untuk menatap Taeyeon dengan pandangan bertanya-tanya bercampur kesal. Kesal karena Taeyeon baru saja seperti menolak dirinya.

“Waeyo? Aku akan mengganti dress­-mu yang lain nanti kalau kau marah aku sudah merusaknya,” ujar Jiyong cepat.

Wajah Taeyeon semakin merona hebat mendengar perkataan Jiyong. Bukan itu, tentu saja. Wajahnya semakin terbakar di saat ia memandang kedua mata Jiyong yang sudah berubah warna kecokelatan, warna matanya yang biasa. Namun, mata itu lebih gelap dari sebelumnya. Seakan-akan menunjukkan arti buas dalam artian lapar.

“A… Aniya,” sergah Taeyeon cepat. Ia berusaha melepaskan tubuhnya dari genggaman kuat sang leader dan menutupinya dengan kedua lengannya di atas dada. “Kau hanya boleh menghisap darahku di leher. Bukan di mana-mana. Dan sepertinya tenagamu juga sudah pulih. Kenapa… Bisa jadi seperti ini?”

Jiyong menghela nafas kasar dan ia menarik kedua lengan Taeyeon lalu mengalungkannya di leher laki-laki itu sedangkan Jiyong kembali memeluk pinggang Taeyeon. Posisi seperti ini membuat mereka berdua semakin dekat tanpa ada jarak sedikitpun. Bahkan Taeyeon juga merasakan debaran jantung Jiyong yang seirama dengan detak jantungnya. Hal itu membuat kedua mata Taeyeon terbelalak lebar.

Jiyong menyeringai senang. Ia senang melihat reaksi gadis yang ada di depannya ini. Lucu dan menggemaskan. Sampai-sampai ia menggigit kecil ujung hidung gadis itu dan mencium seluruh permukaan wajahnya yang menghangat.

“Hanya dengan sedikit darahmu saja aku sudah merasa cukup,” bisik Jiyong tepat di telinga kiri Taeyeon. Taeyeon merasakan desah nafas beraroma mint dari mulut Jiyong dan itu membuat bulu kuduknya berdiri. “Aku jauh lebih baik hanya dengan setetes darahmu daripada ribuan darah perempuan lainnya. Tapi yang tidak membuatku merasa cukup adalah tidak menjadikanmu milikku seutuhnya.

“Kau harus tahu betapa frustasinya aku akan hal itu. Selama berdekatan denganmu aku selalu berusaha mati-matian untuk tidak mengklaim dirimu sebagai milikku, kepunyaanku sendiri. Aku menjaga perasaanmu, menjaga perasaan banyak orang, menjaga agar hal yang tidak diinginkan terjadi. Kukira aku akan menemukan sosok sepertimu saat kita berpisah. Tapi sampai detik ini pun aku belum menemukannya. Sampai detik ini pun hanya dirimu yang membuatku lapar dalam banyak hal. Kalau aku menahannya sekali lagi, kurasa kau harus siap melihatku gila sekarang,”

“Ta… Tapi ibumu…,” cicit Taeyeon. Ia tidak bisa berbicara dengan baik saat laki-laki yang sedang memeluknya ini sekarang tengah menggigiti daun telinganya.

“Aku akan menunjukkan padanya kalau hanya kau yang membuatku bertahan hidup, bahkan jika aku dijemur berjam-jam di bawah sinar matahari atau bertahan duduk manis di gereja. Dengan adanya dirimu semua persoalan itu tidak akan ada artinya untukku. Aku akan tunjukkan pada ibuku dan pada semuanya kalau hanya dirimu yang mampu melengkapi kekuranganku dan hanya aku yang bisa mengisi kekosonganmu,” jelas Jiyong.

Telapak tangan Jiyong yang halus menyusuri punggung Taeyeon dengan lembut sembari memandangi kedua mata gadis itu dalam-dalam dan membuat Taeyeon jatuh terhanyut di dalamnya. Seperti dihipnotis. Tapi Taeyeon mampu melihat aura ketulusan dan kejujuran dalam mata Jiyong.

Menyusuri punggung mulus itu bukan tanpa tujuan untuk Jiyong. Begitu ia mendapatkan apa yang ia cari, Jiyong dengan mudahnya melepaskan pengait bra ungu milik Taeyeon dan ia membuangnya ke sembarang arah.

Taeyeon terkejut dan ia langsung menghambur ke dekapan Jiyong untuk menutupi tubuhnya yang sekarang ini telanjang dada. Melihat respon Taeyeon membuat Jiyong tertawa kecil.

“Kau harus jadi milikku hari ini, chagi,” ujar Jiyong yang membalas dekapan Taeyeon dengan erat. Ah, tubuh gadis ini begitu harum, lembut, dan bening sekali. Jiyong kembali membelai-belai punggung gadisnya itu untuk menenangkannya. “Kyeopta, baru kali ini aku melihatmu begitu malu,”

“Ka… Kalau kau banyak bicara lagi, aku akan membatalkan niatmu itu dan membiarkan gairah buasmu menggantung di langit-langit,” ancam Taeyeon di dada Jiyong.

“Arra,” jawab Jiyong pasrah. Ia sedikit merenggangkan dekapannya pada Taeyeon dan menatap wajah gadis cantik yang sudah memerah itu dengan intens. “Kalau kau malu atau takut, kau bisa memejamkan matamu,”

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan kedua mata beningnya pada Jiyong selama beberapa detik. Setelah itu, ia mengangguk dan mulai memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Entah apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu, tapi Taeyeon sudah memutuskan untuk menyerahkan semuanya padanya, memutuskan untuk pasrah.

Ia tidak akan lari lagi.

Dengan ucapan dan keyakinan itulah yang membuat Taeyeon sedikit tenang. Tidak berselang lama, bibir kissable Taeyeon sudah dipagut lembut oleh bibir hangat milik Jiyong. Tubuh mereka masih saling menempel erat dan tangan Taeyeon secara refleks mencengkeram ujung kaos laki-laki itu ketika ia mulai menggigit gemas bibir Taeyeon. Taeyeon sedikit mengernyitkan dahinya begitu bibir Jiyong mulai menunjukkan keahliannya sebagai seorang good kisser.

Jiyong memang ingin memperlakukan Taeyeon dengan sangat lembut, apalagi ini pengalaman mereka berdua yang pertama kali. Namun, bagi diri laki-laki itu sekedar mencium dan memagut mesra bibir soft Taeyeon tidaklah cukup. Entah kenapa terasa manis dan mengagumkan di bibir laki-laki itu sehingga ia terus-menerus menggigiti, menghisap, dan mengulum bibir Taeyeon dalam mulutnya.

Ia hampir saja memakan bibir gadis itu jika Taeyeon tidak menjambak rambut hitam Jiyong yang halus untuk meminta sedikit oksigen.

Bunyi decakan basah menggema dalam kamar saat bibir keduanya lepas. Nafas Taeyeon terengah, sedangkan Jiyong mulai merebahkan tubuh mungil gadisnya ke atas tempat tidur. Taeyeon agak terkejut menyadari kalau Jiyong sudah berhasil membawanya ke atas ranjang tanpa ia sadari. Apa mungkin karena dirinya yang terlalu melayang tinggi saat berciuman dengan laki-laki itu?

Belum hilang rasa terkejut Taeyeon, ia kembali terbelalak sewaktu Jiyong mulai menciumnya lagi. Kali ini terkesan lebih terburu-buru dan kasar. Lebih dalam dan menuntut. Taeyeon mengerang dalam ciuman mereka saat tubuh Jiyong menindih tubuh polosnya tanpa memikirkan bobot tubuhnya yang mungkin membuat Taeyeon sesak.

“Mmhh…,” desah Taeyeon ketika tangan Jiyong mulai meraba-raba belakang lehernya dan menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Tak lupa lidah panas laki-laki itu ikut serta dalam mulut Taeyeon yang perlahan-lahan terbuka akibat gigitan gemas yang digemparkan Jiyong saking gemasnya dia. Saling perang lidah, yang tentu saja didominasi oleh Jiyong dan tak ketinggalan benda tak bertulang itu mengobrak-abrik isi mulut Taeyeon hingga entah saliva siapa yang tertelan begitu saja di tenggorokan Taeyeon, membuatnya terbatu-batuk.

Taeyeon sangat pasif. Ia memang tidak membalas ciuman Jiyong. Ia hanya mengikuti alur permainan laki-laki itu dan Jiyong akui ia sangat suka. Suka melihat ekspresi pasrah dan malu Taeyeon. Suka melihat responnya yang alami. Itu membuatnya semakin bergairah. Seakan-akan dialah sang penguasa di sini.

“Tatap mataku,” ujar Jiyong. Suaranya berat dan penuh hasrat.

Taeyeon membuka kedua kelopak matanya dan menggigit bibir bawahnya, berusaha keras agar suara desahannya tidak keluar begitu saja saat tangan kiri Jiyong mulai meremas-remas pinggul dan pinggang kanannya, tangan kanan laki-laki itu pun juga ikut bekerja meremas payudara kiri Taeyeon secara kasar.

“Akh, sa… sakit, Ji,” racau Taeyeon.

Jiyong menyeringai lagi dan ia mulai menggigiti semua sisi dada Taeyeon sampai ke nipple-nya yang sudah mengeras dan tampak sangat merah akibat gigi laki-laki itu. Taeyeon mengeluarkan suaranya lebih keras, antara desahan atau jeritan kesakitan karena laki-laki liar itu benar-benar tidak bisa lebih lembut ketika mencetak kissmarks di dadanya. Belum puas juga, Jiyong menjilati bagian-bagian yang digigitinya dan mulai menyesapi nipple Taeyeon dengan rakus, seakan-akan dirinya adalah bayi kecil yang tengah kehausan dan kelaparan.

“Akh… Nggh! Ji…Yongie,” lirih Taeyeon. Jujur saja, ia lelah terus-menerus menjerit sakit dan mengerang juga mendesah nikmat dari tadi. Tapi permainan Jiyong tidak akan selesai dalam waktu sebentar.

Selesai melahap dan memberikan kissmarks di seluruh permukaan tubuh Taeyeon sampai ke perutnya yang rata, bibir Jiyong mulai menjelajahi bagian dalam kedua paha Taeyeon dan juga selangkangannya. Ia menjilati seluruh bagian itu dan tubuh Taeyeon semakin menggelinjang. Ia meremas-remas seprai tempat tidur untuk menyalurkan rasa gelinya.

“Sshh,” bisik Jiyong. Ia membekap mulut Taeyeon dengan telapak tangan kirinya lalu secara mendadak memasukkan jari telunjuknya di dalam milik gadis itu. Taeyeon menjerit kesakitan tapi suaranya teredam di dalam bekapan tangan Jiyong.

“Mmhh!! Mmhhh…. Mmhh,” pekik Taeyeon lagi begitu jari kedua Jiyong masuk lalu mulai menggerakkannya secara perlahan. Jiyong melepas bekapan tangannya pada mulut Taeyeon dan digantikan dengan bibirnya yang melumat bibir Taeyeon dengan kasar. Dipagutnya secara tidak sabaran sambil kedua jari tangannya bergerak semakin cepat dalam milik Taeyeon.

Temponya semakin menggila dan Taeyeon hanya bisa mengalungkan kedua lengannya di leher Jiyong sambil sesekali menarik-narik rambut halus laki-laki itu. Teriakan dan desahannya ditelan bulat-bulat di mulut Jiyong.

Sampai akhirnya kedua jari Jiyong merasakan cairan hangat milik Taeyeon, laki-laki itu melepaskan ciumannya dan mengeluarkan jarinya yang sangat basah. Jiyong tersenyum senang dan dibelainya pipi kanan gadis itu dengan kedua jarinya yang masih basah tersebut dan dikecupnya penuh sayang.

Jiyong bangkit dari atas tubuh Taeyeon dan ia menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Ditariknya kedua lengan Taeyeon dengan pelan agar gadis itu juga ikut bangkit.

“Wae?” tanya Taeyeon dengan suaranya yang lemas.

Jiyong tersenyum manis. Oh, senyuman iblis. “Duduk di atas pangkuanku dan bukakan bajuku, chagi-ah,”

“Aigoo, Jiyong-ah,”

“Ayolah,” paksa Jiyong. “Kau tahu ini belum selesai sama sekali,”

Ditariknya lagi lengan kanan Taeyeon dan kali ini lebih memaksa. Taeyeon menggeser tubuhnya dan duduk di atas kedua paha Jiyong dengan kedua kakinya yang berada di kedua sisi tubuh laki-laki itu. Jiyong menyeringai lagi saat kedua mata liarnya memandangi tubuh Taeyeon yang sudah memerah sempurna. Merah akibat ciuman, hisapan, dan gigitan laki-laki itu.

“Tunggu apalagi? Buka bajuku,” pinta Jiyong manja.

Taeyeon menghela nafas pendek dan ia mulai membuka kaos hitam Jiyong dengan pelan. Wajahnya yang sudah sangat merah hanya menunduk dan itu malah semakin membuat Jiyong gemas.

“Lebih cepat, chagi-ah. Kau membuatku menderita,” ujar Jiyong.

Taeyeon mengangkat wajah cantiknya dan menatap Jiyong dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang dilakukannya sehingga laki-laki ini menderita? Sebagai jawabannya, Jiyong menarik pinggul Taeyeon dan menggesekkan milik Taeyeon dengan milik Jiyong yang sudah terasa keras dan tegang di balik celana jeans-nya.

“A… Ah… Ah,” desah Taeyeon tanpa bisa ditahannya. “Aku tidak bisa membuka bajumu jika kau terus bergerak!”

Jiyong tertawa kecil mendengar protes dari mulut Taeyeon. Gadis itu sebenarnya hanya sangat malu saja tapi ia lebih memilih untuk memarahi Jiyong.

“Cepatlah,” bujuk Jiyong lagi. “Celanaku juga, eoh?”

Taeyeon hanya bisa menganggukkan wajahnya. Selesai membuka kaos Jiyong, Taeyeon dengan sedikit buru-buru melepas belt celana laki-laki itu dan melepas celana jeans juga dalaman Jiyong, yang dipaksa oleh laki-laki buas itu lagi.

Dan mereka berdua pun benar-benar tidak berpakaian sama sekali. Taeyeon kembali menundukkan wajahnya dan memilih untuk menatap dada tegap Jiyong.

Jiyong menarik pelan tangan kanan Taeyeon dan diarahkannya ke dada laki-laki itu sendiri. “Belai saja tubuhku, Taeyeon-ah. Saat ini kita women on top, okay?”

Lalu, Jiyong kembali mengambil tangan kiri Taeyeon dan mengarahkannya untuk menyentuh milik laki-laki itu yang sudah sangat tegang minta diperhatikan. Taeyeon tersentak kaget dan benar-benar merasa malu. Namun, di sisi lain dirinya merasakan kenikmatan yang sangat sulit sekali dirasakan ketika satu tangannya membelai dada dan perut Jiyong sedangkan tangan kirinya meremas milik laki-laki itu.

“Ah… Akh… Khe, kau hebat, Taeyeon-ie,” puji Jiyong dengan suara sexy-nya dan ia pun langsung menyerang kembali bibir gadis itu yang hendak ikut mengeluarkan desahan.

Belaian di dadanya dan remasan lembut pada miliknya yang dilakukan Taeyeon benar-benar membuat Jiyong mabuk kepayang. Ia bisa gila mendadak jika tidak menyalurkan semuanya dengan mencium penuh hasrat bibir gadis itu yang sudah mengeluarkan darahnya berkali-kali.

Sedangkan Taeyeon, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa-apa. Segala tingkah laku Jiyong hari ini membuatnya melayang dan sulit sekali untuk kembali berpijak. Ia benar-benar diperlakukan dengan sangat hebat, meskipun di sisi lain laki-laki itu juga tak jarang sedikit kasar. Tapi Taeyeon sangat menyukainya. Saking sukanya ia lupa dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Yang hanya ada di fikirannya adalah kenikmatan yang diberikan Jiyong dan bagaimana cara dirinya membalas itu.

Jiyong mengerang frustasi dalam ciumannya. Ia meremas kasar pinggul dan dada Taeyeon hingga gadis itu pun tidak sadar juga sudah meremas milik Jiyong dengan kuat sehingga keringat mulai bercucuran membasahi dahi dan juga wajah tampan laki-laki itu.

“Ah… Hah… haahh. Aku tidak sanggup lagi melakukan foreplay, Taeyeon-ah,” ungkap Jiyong di sela-sela desahannya. “Kita mulai saja. Masukkan milikku,”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya,” jawab Taeyeon cepat dengan rona merah kembali muncul di wajahnya.

“Aigoo, dasar pembohong payah,” ujar Jiyong. “Kau lebih suka kutuntun, eh?”

Jiyong menarik lagi pinggul Taeyeon untuk memasukkan miliknya yang sudah tidak sabar ingin dimanjakan oleh milik gadis yang ada di pangkuannya itu. Taeyeon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat milik Jiyong yang keras mencoba menerobos masuk ke dalam liangnya. Hingga air mata jatuh membasahi kedua pipi Taeyeon.

“Appa, appayo. Appa,” isak Taeyeon.

“Bertahanlah sebentar, okay? Aku janji sakitnya tidak akan lama. Aku benar-benar berjanji. Karena aku di sini, Taeyeon-ah,” hibur Jiyong. Ia juga sedikit mengernyit karena milik Taeyeon yang sangat susah untuk dimasukinya. So tight. Akhirnya Jiyong berbaring dan tubuh mungil Taeyeon pun menindihnya. “Tatap mataku dan kau bisa melakukannya. Kita bisa melakukannya,”

Mendengar kata-kata hiburan dari Jiyong membuat Taeyeon kembali berusaha untuk memperdalam milik Jiyong di dalam dirinya, walaupun itu membuat air matanya terus mengalir menahan sakit. Ia ingin mengatakannya pada Jiyong, tapi melihat Jiyong yang begitu bergairah ingin menerobos selaput dara Taeyeon detik itu juga, Taeyeon tidak berminat menurunkan mood laki-laki beringas itu.

Taeyeon akhirnya menjerit kuat ketika Jiyong mendorong pinggulnya kuat dan miliknya berhasil merobek mahkota gadis itu. Cairan hangat langsung keluar dan membasahi kedua selangkangan mereka. Darah perawan Kim Taeyeon, tentu saja.

Jiyong tersenyum tipis melihat itu dan ia berhenti menggerakkan pinggulnya untuk menenangkan wanitanya dari rasa sakit. Ia tahu Taeyeon berusaha menahan isakannya daritadi. Maka dari itu Jiyong menangkup wajah merah Taeyeon dan menatap kedua bola matanya dalam-dalam dari jarak yang amat sangat dekat. Hal itu membuat milik Jiyong bergerak halus di dalam Taeyeon dan rasa nyeri itu datang lagi.

“Kau cantik dan seksi,” puji Jiyong dengan suaranya yang pelan.

Taeyeon mengangguk dan tersenyum kecil. “Neodo,”

“Aku tahu itu,” balas Jiyong.

Ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan-kecupan manis di seluruh permukaan wajah Taeyeon. Dari mulai dahi, kedua kelopak mata Taeyeon, hidung, kedua pipinya, rahangnya, dagunya, dan terakhir bibirnya yang sudah membengkak. Jiyong mencium semuanya dengan sangat lembut dan hati-hati. Tidak ada tindakan liar dan kasar pada saat ini. Dia ingin menunjukkan kasih sayang terdalamnya pada wanitanya.

“Aw,” lirih Jiyong. Ia melepas ciuman mereka dan mengernyit memandang Taeyeon.

“Waeyo? Appayo?” tanya Taeyeon bingung.

“Kau nakal, chagi-ah,” goda Jiyong dengan suara seksinya. “Kau menggerakkan pinggulmu dan milikmu sudah berkedut, membuatku tidak tahan lagi,”

“Jangan menuduhku!” bantah Taeyeon.

“Sudah tidak sakit lagi, ‘kan?” tanya Jiyong.

Taeyeon menggeleng dan detik berikutnya ia menyesal telah memberikan jawaban itu. Begitu ia  menggelengkan kepalanya, pinggul Jiyong mulai bergerak maju mundur secara teratur. Taeyeon membelalakkan kedua matanya, terkejut karena milik Jiyong bergerak begitu saja di dalamnya. Memang sedikit sakit, masih terasa perih, tapi ada rasa lain yang hinggap di perut Taeyeon saat milik Jiyong mulai menari-nari di dalam dirinya.

“Buka mulutmu dan mendesahlah, chagi-ah,” ujar Jiyong yang melihat lagi-lagi Taeyeon memilih menggigit bibir bawahnya agar suara yang ia anggap memalukan itu tidak keluar. “Itu adalah suara terindah dari dirimu yang tidak akan pernah aku lupakan,”

Selesai berkata seperti itu, Jiyong mempercepat gerakan pinggulnya sambil membelai kasar rambut Taeyeon, menyusuri punggungnya dan meremas bokong Taeyeon dengan liar. Sampai gadis itu tidak tahan lagi dan akhirnya mulai meracau, mulai mendesah.

“Sebut namaku,” perintah Jiyong sebelum ia menenggelamkan wajahnya di dada Taeyeon yang sudah dipenuhi oleh peluh keringatnya.

“Ah! Ji… Jiyong… Jiyongie. Ahh…!” desah Taeyeon begitu ia merasakan nipple kirinya kembali dihisap dan digigit kuat oleh laki-laki itu. Taeyeon mulai kehilangan akalnya. Ia terus mendesahkan nama Jiyong yang masih sibuk melahap rakus kedua dada Taeyeon serta tangannya yang juga mulai meremasi seluruh tubuhnya. Dari bokong naik ke pinggul, naik ke pinggang, dan naik ke atas dadanya.

Gerakan Jiyong juga tidak pernah lambat sedetik pun sampai Taeyeon merasakan orgasmenya yang entah keberapa kalinya.

F*ck!” seru Jiyong, tentu saja dalam arti nikmat. Ia menghentikan semua aktifitasnya ketika ia tahu Taeyeon sudah mencapai klimaks. Namun, ia belum. Itu sebabnya ia kembali membaringkan tubuh Taeyeon di atas tempat tidur tanpa melepaskan kontak mereka lalu ia menggerakkan lagi miliknya di dalam diri Taeyeon dengan kecepatan yang jauh lebih liar, jauh lebih cepat, dan jauh lebih gila dari sebelumnya.

Jiyong membungkam bibir Taeyeon dengan cepat saat suara gadis itu sudah tidak bisa ditahannya lagi. Kamar hotelnya memang kedap suara tapi mereka juga tidak tahu, ‘kan setiap saat pasti ada kesalahan tak disengaja yang kapan saja bisa tercipta dengan sendirinya. Alhasil, Taeyeon mendesah dan meracau tidak jelas dalam bungkaman bibir Jiyong yang tengah mengeksplorasi isi mulutnya dengan rakus.

Bunyi decakan basah yang kasar terdengar ketika Jiyong melepas pagutannya di bibir Taeyeon. Ia tetap tidak menurunkan tempo gerakan pinggulnya hingga Taeyeon bersumpah ia akan segera pingsan jika Jiyong tidak klimaks juga. Laki-laki yang sekarang sedang menindihnya ini benar-benar tak waras.

“Tengkuraplah,” ujar Jiyong. Ia melepas kontak mereka dan membalikkan tubuh lemas Taeyeon sebelum gadis itu bersuara. Setelah tengkurap, Jiyong menaikkan sedikit pinggul Taeyeon ke atas dan ia kembali memasukkan miliknya ke dalam milik Taeyeon lalu menggagahinya secara brutal.

Sangat brutal, seakan-akan tidak ada lagi hari esok.

“Gigit selimutnya jika kau ingin menjerit,” bisik Jiyong di sela-sela kegiatan memompanya. Taeyeon mengangguk dan ia menggigit selimut kamar itu dengan kuat, hingga ia merasakan salivanya turun membasahi selimut tersebut. Sedangkan Jiyong disibukkan dengan meremas kedua buah dada Taeyeon dan menjilati leher dan daun telinga gadis itu.

“Ji… Jiyong-ah!” pekik Taeyeon.

Jiyong pun ikut mengerang hebat saat dirinya sudah mencapai puncak. Benihnya langsung menyembur berkali-kali di dalam perut Taeyeon yang terasa panas.

Keduanya ambruk di atas tempat tidur dengan Jiyong yang menindih punggung mulus gadisnya. Ia tahu Taeyeon pasti merasa keberatan tapi dirinya belum mau bergerak dari atas tubuh itu. Dan Taeyeon juga belum mempermasalahkannya. Ia masih sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal seperti orang yang baru selesai marathon lima putaran.

Setelah keduanya mulai tenang, Jiyong melepas kontak mereka lalu bangkit dari atas punggung Taeyeon dan tidur di samping gadis itu. Dibelainya dengan sayang rambut Taeyeon yang sudah lembab akibat keringat.

“Gomawo,” bisik Jiyong. Ia memandangi wajah sayu Taeyeon yang semakin kelihatan seksi di matanya. “Kau tidak keberatan, ‘kan kalau mengandung anakku yang suatu hari nanti bisa saja memiliki keturunan yang sama denganku?”

“Sama sekali tidak,” balas Taeyeon dengan bisikan juga. Suaranya tidak sanggup keluar setelah lebih dari sejam ia terus mendesah dan meracau tak jelas. “Aku lelah,”

“Kim Taeyeon,” panggil Jiyong dengan raut wajah serius. “Jangan bercanda. Kau tidak benar-benar berfikir kita akan bermain hanya dengan tiga posisi saja, ‘kan? Masih banyak posisi yang harus kuperlihatkan padamu,”

“Tubuhku sudah mati rasa,” tolak Taeyeon. “Aku mau tidur saja,”

“Aniya,” tolak Jiyong halus. “Ayolah, sebentar saja. Hanya blowjob dan oral, okay?”

Taeyeon tidak bisa menolak setiap kata-kata Jiyong yang sudah dianggapnya sebagai perintah mutlak. Karena detik berikutnya ia dapat merasakan Jiyong merangkak mendekati selangkangan Taeyeon dan mulai melancarkan aksinya yang Taeyeon sendiri tidak tahu kapan berakhirnya.

~~~

“Kurasa sebentar lagi kau akan mengidap penyakit BDSM, apa kau tahu?!” omel Dami pada Jiyong di dalam kamar hotel laki-laki itu.

Bagaimana tidak dapat omelan, setelah membiarkan Taeyeon berada dalam kamar Jiyong selama hampir empat jam, Mrs. Kwon dan Dami kini melihat gadis malang itu terkapar di atas tempat tidur dengan vaginanya yang amat sangat perih, menyebabkan Taeyeon tidak bisa bangkit berdiri hanya untuk sekedar memakai kaos milik Jiyong.

Mrs. Kwon yang tahu penyebab di balik itu semua hanya melempar pandang mematikan untuk Jiyong, yang sekarang sedang duduk di atas sofa dan sudah berpakaian lengkap. Wanita paruh baya itu membantu Taeyeon memakaikannya pakaian dan menyuapinya semangkuk bubur untuk sekedar memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis.

Benar-benar habis.

“Gamsahamnida, ahjumma,” lirih Taeyeon senang, walaupun ia hanya mampu tersenyum kecil.

“Mulai sekarang panggillah aku eomonim, arra?” ujar Mrs. Kwon sambil tersenyum lembut. Taeyeon menganggukkan kepalanya senang.

“Kalau saja aku tidak menggedor pintu kamarmu ini aku yakin Taeyeon sudah jatuh pingsan,” gerutu Dami lagi. Ia duduk di samping Jiyong dan menatap horror adiknya yang gila itu. “Kau benar-benar akan mencontoh semua gaya seks yang ada di buku kamasutra itu, ‘kan?”

“Rencananya memang iya,” jawab Jiyong acuh tak acuh dan ia langsung mendapatkan jitakan keras dari sang kakak.

“Untung saja yang bukan vampire itu ayahmu. Kalau iya, mungkin dia akan melakukan hal bejat seperti yang sudah kau lakukan sekarang,” sembur Mrs. Kwon. “Apa ini caramu berterima kasih pada ibumu yang sudah memberikan kalian restu?”

“Tapi, eomonim,” sela Taeyeon pelan. “Kenapa eomonim bisa memberikanku restu? Kau tidak takut lagi jika suatu hari nanti mate Jiyong akan datang?”

“Kau sudah menunjukkan dirimu, my dear,” jawab Mrs. Kwon. “Kau sudah menunjukkan jati dirimu bahwa hanya kaulah yang pantas ada di hidup Jiyong selamanya. Kau sudah menunjukkan identitasmu bahwa dirimulah cinta yang selama ini dicari-cari oleh laki-laki vampire seperti Jiyongie. Semua itu berawal dari pengorbanan kita. Sejauh mana kita bisa bertahan dari segala badai yang selalu ingin memporakporandakan cinta kita.

“Walaupun sudah berpisah selama lima tahun, kalian masih belum saling melupakan. Walaupun sudah memiliki pasangan masing-masing, kalian masih menyimpan rasa cinta itu meski sudah menampiknya dengan keras. Hingga kalian lelah untuk terus menyembunyikannya dan akhirnya pengorbanan itu muncul. Pengorbanan dari sosok vampire untuk kekasih hatinya patut diacungi jempol. Selama ini kaum kami tidak akan mau repot-repot mengeluarkan kekuatan kami hanya untuk menyelamatkan seorang manusia. Kecuali jika itu adalah orang yang sangat dicintainya, dikasihinya. Dia bahkan rela membunuh dirinya sendiri agar orang yang ia cintai selamt. Seperti yang dilakukan Jiyong tadi.

“Aku pernah melakukan hal yang jauh lebih parah dari Jiyong, hanya untuk membuktikan pada orangtuaku kalau hanya ayah Jiyonglah yang pantas mendampingi hidupku selamanya. Yang kulakukan hanyalah menjemur diriku sendiri di bawah sinar matahari sampai akhirnya ayah Jiyong datang dan langsung melindungiku. Hubungan kami juga dilarang karena orangtuaku tidak meyakini ayah Jiyong. Sampai aku nekat bunuh diri hanya karena tidak ingin dipisahkan dengannya. Karena merasa tidak tahan dengan sikap keras kepalaku, akhirnya orangtuaku menyetujuinya,”

“Apa yang eomma lakukan itu bodoh, bukan pengorbanan namanya,” sela Jiyong diselingi ejekan.

“Kau juga sebenarnya bodoh, Taengoo-ah,” balas Mrs. Kwon. “Kenapa juga harus memberikan darah manismu pada vampire liar penuh nafsu biadab seperti Kwon Jiyong? Apa kau tidak apa-apa jika suatu hari nanti anak-anakmu memiliki keturunan yang sama dengan kami?”

Taeyeon tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya pelan. “Aku justru sangat bahagia jika mereka memiliki keturunan vampire sama seperti ayahnya. Karena keturunan itu begitu istimewa, begitu special. Dan aku berjanji pada diriku jika mereka memiliki keturunan vampire, aku akan membuat mereka bangga dan tidak merasa kesepian seperti yang pernah dialami ayahnya. Aku tidak akan membiarkan mereka terpuruk saat mengetahui perbedaan mereka dengan orang lain dan tidak akan membuat mereka merasa seperti monster. Aku akan membuat mereka menjadi vampire paling tampan dan cantik suatu hari nanti,”

“Kau sungguh sangat menawan, ahga,” puji Mrs. Kwon dan ia merengkuh tubuh mungil Taeyeon untuk memeluknya erat. “Kau memang sosok mate sejati dan aku bersyukur mereka memberikanmu pada anakku,”

“Akulah yang menentukan sendiri takdirku, eomma bukannya para leluhurmu itu,” sanggah Jiyong cepat. “Kau bahkan lebih percaya dengan rules kita daripada perasaan anakmu sendiri,”

“Kau masih belum memaafkan ibumu ternyata,” ujar Mrs. Kwon pada Jiyong dengan tatapan mengancam.

“Jadi,” sela Dami. “Kapan kau akan meresmikan hubunganmu dengan Taeyeon? Seharusnya kau tahu ada sejuta rumor tentangmu yang berkencan sana-sini dengan para gadis dan aku takut akan semakin menjadi-jadi lagi jika kau tidak mau memberikan statement tegasmu,”

“Jika kau mendengar ada rumor yang memberitakan anakku berkencan dengan orang lain selain dirimu, tutup saja kedua telingamu, eoh? Jangan sampai di bawa ke hati,” ujar Mrs. Kwon. “Calon suamimu ini memang memiliki ketampanan dan keseksian yang diatas rata-rata, wajar jika dia berdekatan dengan salah seorang gadis, maka satu artikel pun akan muncul begitu saja tanpa bisa dipercaya kebenarannya,”

Jiyong berdeham singkat untuk menghentikan ocehan ibunya tersebut dan ia duduk di sisi Taeyeon, di atas tempat tidur. “Kurasa ini waktunya kami bicara, eomma,”

“Arra,” jawab Mrs. Kwon. “Panggil aku lagi jika kalian sudah selesai,”

Mrs. Kwon bangkit dari kursi yang berada di samping tempat tidur Taeyeon dan pergi keluar kamar hotel Jiyong bersama dengan Dami. Begitu mereka berdua keluar, Taeyeon langsung memandang Jiyong, yang masih belum mengeluarkan suaranya.

“Wae geuraeyo?” tanya Taeyeon.

“Selama lima tahun belakangan ini kau pasti mendengar banyak rumor tentangku,” ujar Jiyong dengan mimik serius.

“Kenapa kau begitu percaya diri sekali?” tanya Taeyeon sedikit bercanda dan sedikit serius.

“Aigoo, uri Taengoo-ah. Aku sedang serius,” desah Jiyong kesal.

“Aku memang tidak begitu banyak mendengar tentangmu,” lanjut Taeyeon. “Tapi aku tahu begitu banyak perempuan yang tersandung rumor kencan denganmu. Aku tidak heran juga. Kau begitu mengagumkan. Walaupun kau ini jauh dari kata good boy, tapi perempuan mana yang tidak jatuh pada pesonamu? Aku sudah menganggap hal itu wajar. Lalu?”

“Aku tahu kau tahu kalau semua itu memang benar hanya rumor belaka. Karena aku masih sangat mencintaimu dan aku tidak bisa membuka hatiku pada siapapun waktu itu. Yang ada di fikiranku hanyalah bersenang-senang dengan banyak orang, tidak peduli dia adalah idol, model, aktris atau apapun itu. Hingga rumor itu bermunculan. Aku tidak peduli karena semua itu bullshit.

“Tapi waktu itu aku tidak memiliki siapa-siapa. Tidak akan ada yang tersakiti. Sekarang berbeda. Aku milikmu. Kau milikku. Itu sebabnya yang ingin aku tanyakan padamu adalah jika ada rumor lagi tentangku apa kau cemburu?”

“Tidak akan ada rumor jika tidak ada sebabnya,” ujar Taeyeon dengan wajah sendu. “Aku pasti akan cemburu sekali, jujur saja. Aku memang akan cemburu, tapi rasa percayaku padamu melebihi rasa cemburuku. Jadi, pastikan kalau kau tidak memanfaatkan kepercayaanku, Kwon Jiyong. Katakan semuanya padaku. Apa yang akan kau lakukan, sedang berada di mana, bersama dengan siapa, apapun itu beritahukan padamu. Karena aku juga tidak akan melarangmu melakukan apapun yang kau suka. Jika suatu hari nanti aku memang melarangmu aku pasti akan memberitahukan alasannya dan itu pasti untuk kebaikanmu,”

Jiyong tersenyum lembut. Ia membelai surai cokelat Taeyeon dan mencium dahinya singkat. “Kau harus tahu jadi dragon’s girl itu sangatlah tidak mudah. Sangat sulit menghindari yang namanya media dan sebagainya. Aku hanya takut kau termakan omongan media itu. Agar itu tidak terjadi, apakah kau mau aku mendeklarasikan hubungan kita ke publik? Aku akan mengatakannya secara resmi jika kau menyetujuinya,”

“Aku belum bilang apa-apa pada teman-teman dan keluargaku. Mereka pasti akan terkejut bukan main jika mereka mendengarnya dari media. Aku ingin mengatakannya secara langsung dan perlahan-lahan. Jadi kurasa… Belum waktunya,” jawab Taeyeon. “Kau juga akan mengeluarkan album solo, ‘kan? Jika VIP tahu kau sudah memiliki kekasih, mereka akan kecewa berat. Ingatlah, mereka yang dari awal selalu ada untuk memberimu support di saat kau terpuruk,”

“Aku tidak setuju dengan perkataanmu yang terakhir,” ujar Jiyong. “Aku akan menundanya dengan alasan kau harus beritahu seluruh keluarga dan teman-temanmu. Masalah VIP, VIP yang sejati akan selalu memberiku support apapun yang terjadi. Meskipun memang akan ada yang kecewa tapi aku juga punya hak untuk memiliki orang yang aku cintai. Tapi… Kau benar. Kita tidak perlu buru-buru. Kita akan menunjukkan pada mereka secara perlahan. Mungkin dengan kode atau sesuatu yang ‘kebetulan’? Itu akan menarik,”

“Ne, aku setuju,” timpal Taeyeon. “Aku akan memberitahumu untuk mempublikasikannya jika aku sudah siap lahir dan batin,”

“Arraseo. Tapi, begitu kau sudah hamil dua minggu nanti, aku akan memberitahu seluruh dunia bahwa aku akan menikah. Aku tidak mau perkataan Youngbae tentangku yang akan menikah lebih cepat hanya karena accident benar-benar menjadi kenyataan,” ujar Jiyong.

“Ya! Padahal memang benar, ‘kan?!” seru Taeyeon kesal.

“Itu bukanlah kecelakaan, tapi kesengajaan! Agar kau tidak lari lagi dariku dengan embel-embel kau bukanlah mate-ku atau apapun itu. Agar orang yang nantinya mau menikahimu merasa ngeri saat mengetahui kau akan memiliki salah satu anak keturunan vampire,” jelas Jiyong dengan seringai liciknya.

“Kau memang menyebalkan, vampire tak tahu malu!”

~~~

“G fu*king DRAGON?!!!” seru Hyoyeon, Sooyoung, dan Tiffany secara bersamaan di hadapan wajah Taeyeon langsung. Gadis bermarga Kim itu langsung menjauhkan wajahnya saat Sunkyu tiba-tiba saja memuncratkan orange juice-nya begitu Taeyeon mengumumkan perihal hubungannya dengan leader Bigbang tersebut.

“Kwon Jiyong? G-Dragon? Leader Bigbang itu, ‘kan?” tanya Hyoyeon sekali lagi dengan wajah seperti orang melihat hantu.

“Jadi maumu yang mana lagi?” tanya Yuri kesal. “Apa seburuk itu kakak sepupuku sampai-sampai kalian memasang wajah seakan-akan Taeyeon pacaran dengan seorang pembunuh kelas kakap?”

“Dia memang seorang pembunuh!” pekik Tiffany. “Pembunuh hati gadis manapun yang memandangnya, tentu saja,”

“Bukankah eonni selalu menomorsatukan good boy?” tanya Joohyun, yang sudah kelihatan tenang setelah berita mengejutkan itu.

“Ah, ne. Jiyong itu memang good boy, aku hanya terlalu berprasangka buruk padanya,” jawab Taeyeon cepat. “Wae? Aku terkesan menjilat ludah sendiri, ‘kan?”

“Gwaenchannayo, eonni!” seru YoonA. “Kau selalu kelihatan murung semenjak kembali berhubungan dengan Jaehyun oppa kemarin. Dan kurasa kau sudah benar-benar menemukan cintamu yang sesungguhnya kali ini. Lihatlah, wajahmu sangat berseri-seri sekali. Kau pasti sangat mencintainya,”

“Ne, aku seperti menemukan mate-ku, takdirku,” ujar Taeyeon dengan wajah gembiranya dan hal itu membuat Yuri terbatuk-batuk tanpa ada penyebabnya.

So cheesy,” ejek Sooyoung dan Taeyeon tertawa keras.

“Tapi perkataan eonni ada benarnya juga,” sambung Joohyun. “Single yang dikeluarkan G-Dragon dua hari lalu tentang cinta sejati, ‘kan? Tentang betapa dia sangat mencintai gadisnya dan merasa sangat kekurangan di saat gadisnya itu pergi meninggalkannya. Dan begitu mereka bersama kembali, mereka meyakini bahwa mereka itu ditakdirkan untuk bersama-sama,”

“Benar juga!” seru Tiffany. “Ada juga single-nya yang mengisahkan seorang pria kesepian, penuh kekurangan dan kekosongan akhirnya menemukan sosok wanita yang mampu membuat hidupnya penuh warna, sosok yang melengkapi kekurangannya dan sosok yang menutupi kekosongannya,”

“Kyaaaa! Kyeopta!” pekik Sooyoung dan Hyoyeon sambil saling ber-high five, gemas mendengar hal-hal cheesy tapi romantis dari sang king of K-Pop.

“Dan aku sangat bersyukur sekali akulah yang Yuri pilih untuk menjadi orang yang paling dipercaya dia untuk menjadi asisten Bigbang,” sambung Taeyeon. “Saranghaeyo nae dongsaeng,”

Yuri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lebar pada Taeyeon.

“Keundae Taeyeon-ah,” sela Sunkyu dengan sedikit mencondongkan wajahnya pada Taeyeon karena suaranya yang sengaja ia pelankan. “Selama seminggu di Paris bersama dengannya, apa saja pengalaman indah yang kau ukir di sana bersama dengannya?”

“Eobseo,” jawab Taeyeon cepat. Ia mengambil coffee latte yang ada di hadapannya dan menyeruput sedikit. “Kami hanya menghabiskan waktu di kamar hotelnya sampai lupa untuk sekedar berjalan-jalan, lagipula resikonya juga terlalu besar,”

Kali ini giliran Yuri-lah yang memuncratkan minumannya lalu terbatuk-batuk kecil.

“Mengobrol banyak agar kami saling mengenal lebih dalam satu sama lain,” sambung Taeyeon. Ia melirik ke arah Yuri dan mengerling diam-diam padanya.

“Romantis sekali,” puji YoonA.

“Ada apa denganmu, eonni?” tanya Joohyun pada Yuri, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh gadis berkulit eksotis itu.

“Lalu, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?”

“Ne, Jaehyun oppa saja sudah mau menikah dengan Go Hyesun,”

“Ah, bukankah dia terlibat banyak rumor dengan beberapa orang idol?” tanya Tiffany.

“Dia menjelaskan itu juga kemarin. Aku percaya saja padanya kalau itu semua hanya rumor selama dia tidak mengeluarkan statement apa-apa. Dia membiarkan rumor itu sampai hilang ditelan bumi karena dia sama sekali tidak peduli,” jawab Taeyeon tenang. “Dia juga mengatakan kalau hubungan kami ini ingin dipublikasikannya, dia akan tanya pendapatku dulu,”

“Kau tidak mau?” tanya Sunkyu.

“Secara perlahan-lahan,” jawab Taeyeon. “Aku tidak ingin buru-buru sekali. Aku menyuruhnya untuk ‘menggoda’ fansnya dengan beragam kode lalu jika ada waktu yang tepat dia akan mengumumkannya,”

“Kurasa hal itu juga cukup bijaksana,” ujar Sooyoung. “Setidaknya dia tidak ingin hubungan kalian ini ditentang seperti hubungannya yang sebelum-sebelumnya,”

“Tidak akan ditentang,” tandas Yuri. “Mereka memang ditakdirkan untuk satu sama lainnya, untuk saling melengkapi jadi semua orang pasti dan harus menerima mereka berdua,”

Taeyeon tersenyum manis pada Yuri dan memeluk gadis itu dengan erat.

“Tentu saja,” ujar Hyoyeon. “Kami akan mendukungmu selalu, eonni,”

~~~

“Baiklah, G-Dragon-ssi. Gamsahamnida sudah menyempatkan dirimu untuk menghadiri talkshow ini karena kami berulang kali mengundangmu ke sini tapi kau selalu menolaknya. Dan aku sangat bersyukur kau memenuhi undangan kami bertepatan dengan keluarnya album solomu,” ujar MC Yoo Heeyeol sebagai sapaan pembukanya di talkshow You Hee-yeol’s Sketchbook.

Jiyong tersenyum manis dengan ekspresi malu-malunya dan ia menganggukkan kepalanya. Mic sudah berada di kedua tangannya dan ia siap menjawab beragam macam pertanyaan dari si tuan rumah.

Single andalanmu kali ini berjudul ‘Fate’, benarkan? Karena single ini jugalah kau memenangkan berbagai penghargaan di acara-acara musik bahkan sampai menembus chart all kill Billboard selama dua minggu berturut-turut. Woah, chukkae G-Dragon-ssi. Aku tidak akan meragukanmu dalam hal bermusik, apalagi kau yang menulis liriknya dan memproduseri sendiri,” puji Heeyeol dengan wajah berbinar-binar.

“Gamsahamnida, gamsahamnida,” ujar Jiyong sambil menangkupkan kedua tangannya di dada dan sedikit membungkukkan kedua pundaknya pada penonton yang bertepuk tangan meriah untuknya.

“Jadi, bisakah kau menjelaskan pada kami semua makna di balik lagu ini? Hanya beberapa kata saja. Karena menurut sumber terpercayaku, di dalam lirik lagu ini ada sejuta kisah antara kau dengan seseorang. Aigoo~,” lanjut Heeyeol.

Jiyong tertawa kecil dan berdeham sebentar sebelum ia mengangkat micnya dan mulai berbicara. “Fate, eh? Yah, seperti yang sudah kalian dengar selama ini. Makna dalam lagu tersebut sebenarnya sudah sangat jelas tertulis di liriknya. Menceritakan seorang laki-laki yang berpisah dengan seseorang yang amat dicintainya karena suatu keadaan yang memaksa mereka untuk memilih jalan masing-masing.

“Namun, mereka sadar kalau perasaan mereka tidak akan pernah bisa berubah meskipun mereka berjanji akan menghapusnya. Mereka sadar jika mereka diciptakan untuk melengkapi satu sama lainnya. Mereka sadar bahwa takdir mengikuti langkah mereka berdua hingga mereka dipertemukan kembali. Dan laki-laki itu berjanji pada dirinya, berjanji pada apapun dan siapapun jika mereka berdua bertemu satu sama lainnya, dia tidak akan melepaskan gadis itu apapun alasannya. Karena mereka tidak bisa menolak takdir mereka untuk bersama,”

Seketika itu juga Heeyeol tersenyum lebar lalu ia bertepuk tangan dengan keras, diikuti oleh penonton yang ada di studio tersebut.

It’s so romantic song yet sweet and sad at the same time, right?” tanya Heeyeol pelan. “Aku bisa merasakan perasaanmu yang begitu mendalam dan aku bisa bayangkan kau menulisnya dengan hati nuranimu. Katakan pada kami semua, adakah seseorang di balik lirik lagu ini?”

“Pasti ada,” jawab Jiyong tegas. Sontak penonton dan VIP yang menghadiri acara tersebut bersorak girang dan sebagian ada juga yang menjerit dalam artian ambigu. “Seseorang yang membuat diriku sadar bahwa aku ini adalah orang yang special dalam banyak hal. Seseorang yang mampu mengatasi segala kesedihanku, kesepianku, dan kehampaan yang kurasakan selama aku menjadi G-Dragon. Seseorang yang hanya menatapku sebagai Kwon Jiyong apa adanya,”

“Apakah seseorang itu sudah kembali dan menatapmu di layar kaca?” tanya Heeyeol dengan ekspresi serius. Suasana studio pun mendadak hening, larut dalam kata per kata yang keluar dari bibir leader Bigbang itu dengan penuh kejujuran.

“Lebih tepatnya, takdir yang membuat kami kembali bertemu. Dan seperti yang kukatakan dalam single-ku ini, begitu kami bertemu lagi aku tidak akan membiarkannya pergi. Jika aku melepasnya lagi, aku yakin aku tidak akan pernah bertemu dia lagi selamanya. Jika dia tidak ada, aku akan menjadi seseorang yang dungu sampai aku mati nanti,” jawab Jiyong.

“Itu artinya, kau sudah memiliki kekasih?”

“Aku akan mengatakan pada semua VIP jika aku memiliki kekasih sehingga mereka tidak akan pernah percaya dengan semua rumor tentangku yang tidak memiliki kebenarannya sama sekali. Cepat atau lambat aku akan mengumumkannya. Mungkin aku akan menyakiti kalian semua, mengecewakan kalian. Tapi aku juga manusia biasa yang ingin hidup bebas dengan orang yang aku cintai. Aku juga memiliki perasaan dan kalian juga tahu kalau aku ingin seorang anak perempuan.

“Kuharap kalian mengerti dengan posisiku ini. Jika kalian memang tidak bisa menerimanya dan balik membenciku, aku bisa bilang apa? Aku hanya akan mengucapkan terima kasih banyak karena selama ini sudah mendukungku dan mencintaiku sepenuh hati kalian. Kalau kalian sudah mengetahuinya nanti, percayalah aku tidak akan menemukan orang yang seperti dia lagi bahkan di kehidupan yang akan datang,”

Heeyeol tersenyum lembut mendengar penjelasan dari Jiyong. Seorang G-Dragon jarang sekali mengumbar kisah asmaranya di hadapan publik dan saat ini, sosok itu tengah mendekripsikan orang yang dia cintai. Seseorang yang begitu berharga untuknya, yang akan lemah dalam sedetik jika orang itu meninggalkannya.

“Kalau begitu, apakah bisa kau menyanyikan lagu ‘Fate’ itu sekarang? Aku yakin VIP di seluruh dunia sedang menontonmu. Ungkapkan seluruh perasaanmu lewat lagu yang akan kau nyanyikan itu dan aku yakin sekali jika VIP benar-benar akan merasakan ketulusan cinta seorang G-Dragon, mereka akan tahu betapa precious-nya dia di hidupmu,” pinta Heeyeol.

Jiyong mengangguk dan detik berikutnya iringan musik ‘Fate’ terdengar mengalun sangat indah.

 

 

Promise me that when this moment’s over and we meet again

That we can put everything in the past and stand by each other

This is what we call ‘fate’, it’s something we can’t deny

Will I ever experience another day as glorious as today?

You’re a gift upon this exhausting path of life

I’ll continuously wash and shine our love so it won’t rust away

Our meeting was short like a drunken affair, but it was real

Even though this cannot last, I won’t resent it because nothing is forever

This is what we call ‘fate’, it’s something we can’t deny

Will I ever experience another day as glorious as today?

There’s so much i want to say, but you probably already know

When we meet again some time in the future

Please don’t let go again

The love we couldn’t have in this life

The fate we couldn’t live in this life

When we meet again some time in the future

Please don’t let go of me

~~~

[Breaking News] G-Dragon Bigbang and Artist Kim Taeyeon Are Dating! YG and SM Entertainment Confirmed

A new K-Pop couple has emerged in the form of G-Dragon Bigbang and Kim Taeyeon. Representatives of both stars confirm that G-Dragon and Kim Taeyeon dating after 3 months.

Both GD and Kim Taeyeon’s respective agencies confirmed their relationship shortly after a local media outlet reported about them. “G-Dragon is in a relationship with Kim Taeyeon. We did not check in-depth with G-Dragon since it is a personal matter,” the idol’s agency, YG Entertainment, said in a statement.

SM Entertainment also followed up with a statement saying that the couple grew closer to one another because of their similarities and complete each other.

A source close to the couple revealed that the pair is very “heartwarming” and communicates well with one another due to their similarities. While G-Dragon and Kim Taeyeon are cautious when they go out on dates, many of their friends are jealous of the type of bond and relationship they have.

 

[Allkpop] G-Dragon Bigbang Confirmed in a Relationship With Artist Kim Taeyeon

 

[Soompi] G-Dragon Bigbang and Kim Taeyeon Dating Details : Source Reveals How the Couple Met!

 

[NEWS] G-Dragon Bigbang and Kim Taeyeon to Become Korea’s Top Celebrity and The Power Couple in Combined Real Estate Fortune!

~~~

[Allkpop] Dapat Restu Fans, G-Dragon Bigbang dan Kim Taeyeon Gelar Acara Pernikahan Sederhana Nan Elegan di Jeonju

 

[NEWS] G-Dragon Bigbang Sebar Undangan Resepsi Pernikahannya di Dolce Vita, All Medias Allowed!

 

[TRENDING] Pernikahan G-Dragon-Taeyeon Duduki Posisi Trending World Topic No. 1!

 

[Korea’s Portal] G-Dragon-Taeyeon Akan Bulan Madu Keliling Eropa, NetiZen : Tak Sabar Tunggu Keturunan Daddy Kwon!

 

[AsiaNews] Tampan dan Cantik, NetiZen Yakini Keturunan G-Dragon-Taeyeon Akan Jadi The Next Idol Generation

~~~

“Soyeonnie, bisakah kau bangunkan appa? Dami imo dan Jiwoong samchon akan datang sebentar lagi bersama dengan haraboji dan haelmoni,” seru Taeyeon dari arah dapur pada anak perempuannya yang berusia 6 tahun dan tengah menggambar di buku sketsa besar di ruang keluarga. Ia sibuk menggambar wajah sang adik laki-laki, Kwon Taeyong, 4 tahun.

“Noona, eomma memanggilmu,” ujar Taeyong. Ia bangkit berdiri dari sofa dan segera menghampiri ibunya yang tengah menuangkan seaweed soup di atas mangkuk besar.

“Ne, eomma!” balas Soyeon. Ia melipat buku sketsanya kemudian langsung lari menuju kamar ayahnya. Sebelum masuk ke dalam kamar, Soyeon mengintip sebentar ke dalam kamar yang pintunya sedikit terbuka.

“Appa!” jerit Soyeon. Ia menjeblak pintu kamar Jiyong secara mendadak dan mendapati ayahnya masih nyaman bergelung di bawah selimut.

“Hm,” gumam Jiyong. Kedua matanya masih tertutup rapat, sama sekali tidak terganggu dengan suara nyaring anaknya.

“Appa, ppali ireona! Haraboji, haelmoni, samchon dan imo, semuanya akan datang ke sini! Appa harus bangun dan duduk manis bersama kami,” oceh Soyeon. Ia naik ke atas tempat tidur dan mengacak-acak rambut hitam Jiyong yang lembut.

“Soyeonnie, kau akan membuat appa jadi jelek,” ujar Jiyong pelan. Ia tersenyum kecil dan bangkit dari tidurnya secara perlahan. Soyeon tertawa senang lalu ia berdiri di belakang ayahnya untuk merapikan kembali rambut Jiyong saat laki-laki itu mengucek-ngucek kedua matanya.

“Appa akan selalu menjadi ayah paling tampan untukku. Bahkan teman-temanku menyukaimu,” ujar Soyeon.

“Apa kau cemburu kalau ayahmu ini banyak yang suka?” tanya Jiyong.

“Tidak juga,” jawab Soyeon. Ia mencium pipi kanan Jiyong dan duduk di pangkuannya. “Tapi perhatian appa padaku tidak boleh berkurang sama sekali, tidak untuk siapapun,”

Jiyong terkekeh kecil. “Kau sama saja dengan ibumu,”

“Kenapa appa selalu bangun telat, eomma?” tanya Taeyong. Ia sudah duduk di kursi meja makan dan memandangi ibunya yang masih sibuk menata masakannya di atas meja.

“Orang dewasa selalu punya alasan sendiri untuk bangun lebih lambat dari yang lainnya, my dear,” jawab Taeyeon sambil tersenyum manis pada Taeyong.

“Jinjjayo? Appa pasti tipe orang yang sangat pekerja keras hingga lupa waktu untuk istirahat,” gumam Taeyong yang masih bisa didengar oleh Taeyeon.

Taeyeon tersenyum geli. “Ne, kau saja mengerti dengan hal itu, tapi ayahmu sama sekali tidak mau tahu,”

“Soal apa?” tanya Jiyong tiba-tiba saat keluar dari kamarnya sambil menggendong putri kecilnya. Ia mendudukkan Soyeon di samping Taeyong sedangkan dirinya di depan Soyeon.

“Aku bertanya pada eomma kenapa appa selalu bangun kesiangan,” ujar Taeyong.

“Hm, apa yang eomma jawab?” tanya Jiyong. Ia sedikit melirik Taeyeon, yang memicingkan kedua matanya, mulai curiga dengan pertanyaan Jiyong.

“Karena orang dewasa punya alasannya sendiri. Aku rasa karena appa terlalu bekerja keras,” jawab Taeyong lugu.

“Ne, uri Yongie,” timpal Jiyong. “Appa dan eomma tengah bekerja keras,”

“Eommado?” tanya Soyeon.

“Ne, bekerja keras agar kalian punya adik lagi,” jawab Jiyong tenang. Sedetik kemudian Taeyeon langsung mencubit perut Jiyong tanpa sepengetahuan anak-anaknya. “Aw!”

“Kita tidak pernah membicarakan hal itu, chagi-ah,” ujar Taeyeon sambil tersenyum lebar, senyum berbahaya untuk seorang Kim Taeyeon. “Lagipula kita sepakat untuk membiarkan Soyeon dan Taeyong tumbuh besar dulu,”

“Aku tidak masalah punya adik lagi,” ujar Soyeon. “Adik perempuan pasti sangat menyenangkan. Tidak seperti Taeyongie,”

“Aku ingin adik laki-laki, appa! Eomma! Aku tidak mau perempuan!” sembur Taeyong kesal. “Apalagi yang cerewet seperti noona,”

“Aku cerewet karena ingin menggambar wajahmu, nae dongsaeng!” balas Soyeon. “Appa! Eomma! Pokoknya yeodongsaeng!”

“Aniya! Namdongsaeng!”

“Yeodongsaeng!”

“Namdongsaeng!”

“Sstt…,” lerai Jiyong dan Taeyeon secara bersamaan.

“Appa dan eomma akan memberikan keduanya, jadi jangan bertengkar,” sahut Jiyong sambil menyeringai.

“Oppa!” bantah Taeyeon kesal dengan suara rendah.

“Berapa, berapa? Appa akan memberikan kami berapa orang?” tanya Taeyong semangat.

“Sebanyak yang kalian mau. Apa kalian mau Bigbang generasi baru?” tanya Jiyong diselingi candaannya, yang membuat Taeyeon makin gemas.

“Bigbang seperti appa dan samchondeul?” tanya Soyeon dengan matanya yang berbinar. “Mau!”

“Arra! Berarti kau akan punya namdongsaeng lima orang dan yeodongsaeng sebanyak 12 orang!” seru Jiyong yang langsung mendapat sorakan gembira dari anak-anaknya.

“Oppa! Kenapa 12 orang?!” tanya Taeyeon dengan wajah shock berat.

“Bukankah rookie girls di SM ada 12 orang? Atau lebih? Terserah, lah. Kalau lebih aku mau saja. Membuatnya, ‘kan mudah,” jawab Jiyong asal.

“Woah, daebak! Lebih dari 12 orang!” seru Soyeon dan Taeyong bersamaan.

Taeyeon terduduk lemas di kursi meja makannya sembari memijit-mijit pelan kedua pelipisnya, stress dan shock berat lihat tingkah gila suaminya, laki-laki penuh sejuta pesona yang sangat tampan tapi memiliki nafsu melebihi kodratnya sebagai laki-laki normal. Ah, Taeyeon lupa kalau dia sama sekali tidak normal.

 

 

 

-The End-

 

 

Akhirnya!!!! Finally!!! It’s the end!!

Oh, ya sekedar info. Mungkin aku bakal buat FF GTae lagi tapi kali ini kemungkinan publish­-nya di WP. Kalo di ATSIT akan di publish juga tapi tergantung mood dan readers hahaahaha.

Aku banyak waktu senggang sebelum lanjut S2!!! Yippieeeee!!! Berhubung masih line ’96 jadi pendidikan itu harus dikejer sampai setinggi-tingginya (?) jadi, masih punya cukup waktu untuk ngetik-ngetik FF hihi.

Untuk WP aku : @parknirin28 silahkan bagi yang mau bertandang~

Dan bagi siapa yang mau mencurahkan ide-ide liarnya tentang GTae, bisa info aku juga di Line. Add aja pake nomor : 0895613338919 (Bina Ferina)

oh, ya HAPPY BIRTHTAE!!!

HAPPY URI TAENGDAY!!!

309!!!

Seeyouagain~

I’ll be miss y’all

Advertisements

66 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 14)

  1. klw boleh usul…
    di ff ini GD jd Vampire
    Gmn klw ff Gtae… Taeyeon ny jd Malaikat 😊
    Kaya Film High School love On..

  2. Thank u thank u so much thor happy ending . Yeey! Pling suka mlhat anak 2 mrka cntik dan ganteng aigo perpaduan yg pas… Member bigbang lainnya ga dicrtakan lg dsni. Pdahal aq suka sma perannya top hehehe. Gomawo thor

  3. Uh. Aky ngebut bacanya sweet bageeeet Kak bikin Sequel pingin tau taeyeon hamil nikah dan melahirkan kayak gimana kayak seru :DD

  4. Senenf bgt akhirx taeyeon adalah mate jiyoung…
    Mreka hidup bahagia dengan kedua buah hati dan merencanakan nambah momingan lg yg bkin kedua anak mreka heboh bgt…

  5. gokil bgt endingnya hahaha
    thanks a lot Binaa buat ff ini!!
    inget dulu baca ff ini dari pas jaman skripsi sampe skrg udh gawe..
    salah satu ff fav yg asik dibaca saat suntuk n nunggu bgt chapter2 Selanjutnya 😆
    Keep writing, ditunggu ff yg lainnya!!
    *xoxo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s