The Leader’s Secret (Chapter 13)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ bacacomment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 13 ini hehehee.

Loveyousomuch~

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12

~~~

“Tapi yang kuketahui hanya satu hal. Bahwa aku bahagia akhirnya bisa bertemu denganmu,”

 

Taeyeon menghembuskan nafas pelan untuk yang entah  keberapa kalinya di pagi hari yang cukup cerah ini di Paris, di dalam kamar hotelnya. Dia tengah duduk di depan meja riasnya sejak dua jam yang lalu, dengan pakaian dan riasannya yang sudah sangat rapi untuk segera keluar dari hotel. Namun, gadis cantik itu tetap memilih duduk di dalam kamarnya daripada hanya sekedar untuk sarapan saja. Terpaksa Mr. Ahn menyuruh pihak hotel untuk mengantarkan makanan pada Taeyeon di kamar.

Dan gadis bermarga Kim itu tetap tidak menyentuh makanannya. Ia hanya meminum susu seteguk lalu kembali memandangi dirinya di cermin, lebih tepatnya melamun. Melamun memikirkan kejadian kemarin malam.

Ketika dirinya bertemu dan mendengar pengakuan Kwon Jiyong yang bisa saja membuat jantungnya lepas dari tempatnya kapan saja.

Saat Jiyong menyatakan itu, ia pergi begitu saja dari hadapan Taeyeon dan tidak ada bersama dengan Nana juga Mr. Ahn yang masih bercengkerama dalam satu meja. Taeyeon berusaha untuk ikut bergabung dan terlihat nyaman dengan percakapan Nana dan Mr. Ahn. Ia berusaha mengalihkan pikiran kacaunya dari Jiyong tapi hasilnya nihil.

Rongga matanya terus kesana-kemari mencari-cari keberadaan Jiyong di tengah kerumunan orang berpesta. Tapi ia tidak menemukannya. Laki-laki itu seperti menghilang dan Taeyeon tidak bisa untuk tidak berfikiran buruk. Ia menduga-duga apakah laki-laki itu minum alkohol dengan kadar di luar akal sehat atau melakukan hal yang lebih buruk lagi? Taeyeon terlihat gelisah dan dia sangat merasa bersalah pada Mr. Ahn karena tidak bekerja maksimal sebagai seorang designer.

“Kurasa saat ini Jiyong oppa pasti sedang bersama Pharrel. Mereka lumayan dekat dan berteman cukup baik,” tutur Nana pada Mr. Ahn dan juga Taeyeon kemarin malam saat Mr. Ahn bertanya di mana Jiyong.

Jawaban Nana membuat rasa lega luar biasa dalam diri Taeyeon. Saat itupun ia permisi ke kamar mandi dan menangis sepuasnya di dalam bilik. Ia menangis karena bertemu dengan laki-laki itu lagi. Ia menangis bukan karena merasa menyesal ataupun sedih. Ia menangis karena ia masih merasakan hangat sekaligus rindu luar biasa pada laki-laki itu begitu kedua mata mereka bertemu satu sama lainnya. Ia menangis mendengar pengakuan Jiyong. Ia menangis karena ia pun merasakan hal yang sama.

Ia bahagia bertemu dengan laki-laki itu. Saking bahagianya ia ingin memeluknya, menanyakan kabarnya, menanyakan bagaimana keadaannya selama lima tahun belakangan dan bertanya apa saja yang menyangkut Kwon Jiyong. Ia menangis karena hal itu tidak akan mungkin dia lakukan. Tidak akan pernah.

Ia menangis karena sampai saat ini pun perasaannya masih sama seperti lima tahun yang lalu. Ia masih mencintai leader Bigbang tersebut.

Di sisi lain, di restaurant hotel, Kwon Jiyong juga ikut-ikut melamun. Padahal saat ini ia tengah sarapan bersama Mrs. Kwon, kakaknya, dan juga Nana. Walaupun Jiyong sudah ‘sarapan’ lebih dulu, tetap saja ibunya memintanya untuk sekedar datang ke restaurant. Bukannya makan, ia malah asyik memainkan garpu dan pisau di atas piringnya, memotong-motong roti tak bersalah tanpa berniat memakannya.

Dami melirik Jiyong sekilas. Nana juga. Tapi gadis itu langsung tersenyum manis dan menggenggam tangan kanan Jiyong dengan lembut seraya berkata, “Kau bisa memecahkan piringnya, oppa,”

“Ah, ne,” jawab Jiyong dan ia meletakkan garpu dan pisau itu di atas piring begitu saja. Dami tetap diam. Ia tahu kenapa adiknya berubah menjadi sangat pendiam.

“Kau benar-benar mau pulang sendirian siang ini, Nana-ssi?” tanya Mrs. Kwon pada Nana.

“Aniya. Aku tidak sendirian, imo. Aku akan pulang bersama Ahn ahjussi, istrinya juga Taeyeon eonni,” jawab Nana riang. Mendengar nama Taeyeon, Dami langsung melirik ke arah Jiyong, yang pandangannya fokus ke luar jendela restaurant. “Kalau aku ikut pulang dengan kalian, apa kata wartawan nantinya? Oppa pasti akan kena skandal,”

“Hidupnya selalu dipenuhi dengan skandal,” ujar Mrs. Kwon sambil mendengus. “Skandal terakhirnya bersama Sulli dan Hara membuatku ingin menenggalamkan anak ini di Sungai Han. Kenapa bisa aku memiliki anak laki-laki yang sembarangan saja? Mendengar skandal kemarin itu benar-benar membuatku tidak bisa tidur,”

“Lagipula itu sudah lewat, eomma. Lupakan saja,” sambung Dami. “Kalau kau kena skandal dengan naga ini, dia pasti akan melindungimu. Bukankah kau juga tidak masalah sama sekali jika ketahuan media?”

Nana tersenyum lebar dan ia menatap Jiyong, yang juga membalas tatapannya dengan heran. “Naga keren ini tidak akan melindungiku, eonni. Mungkin dia memang berniat akan melindungiku. Tapi hanya satu orang yang bisa dia lindungi dan itu bukan aku,”

“Apa maksudmu?” tanya Jiyong langsung.

“Aku tidak ingin menyusahkan Jiyong oppa jika kami berdua kena skandal, apalagi kalau sebenarnya kami ini tidak ada hubungan apa-apa,” lanjut Nana.

“Ya, apa maksudmu? Kau memutuskanku? Di sini? Saat ini?” tanya Jiyong tak percaya.

“Putus? Apa kalian sudah putus?” tanya Mrs. Kwon bingung.

“Ne, imo. Baru saja. Tiga puluh detik yang lalu,” jawab Nana tenang. Ia menolehkan wajah beningnya pada Jiyong, yang hanya bisa memandanginya dengan wajah blank. “Seseorang bilang padaku kalau cinta dan nafsu untuk memiliki itu berbeda. Selama ini aku selalu mengidolakan G-Dragon dan, seperti gadis-gadis yang lainnya, aku ingin sekali memilikinya tanpa berfikir panjang. Sedangkan cinta itu, ketika kita sudah nyaman dengan satu orang dan menyerahkan apapun yang kita punya demi orang tersebut.

“Orang yang kita cintai akan terus kita tangisi dan rindukan ketika dia tidak ada di dekat kita. Kita tidak akan bisa hidup tanpanya walaupun kita terus menyangkal perasaan cinta itu. Dia akan terus datang pada kita seperti hujan dan salju di musim dingin, seperti cahaya mentari di musim panas, seperti guguran bunga sakura di musim gugur, dan seperti bunga yang bermekaran di musim semi. Walaupun ada banyak halangan untuk menggapainya, dia akan melakukan semuanya, apapun, dengan pengorbanan yang besar untuk mencapai cintanya,”

Nana tersenyum tulus sambil masih tetap memandangi wajah Jiyong, yang terdiam dengan kata-kata indah yang meluncur dari bibir gadis belia itu. Dami tersenyum kecil menatap Nana dan Jiyong secara bergantian.

“Kau yang bilang begitu, oppa,” lanjut Nana. “Beberapa hari ini aku sadar, aku tidak menjadi Nana Ouyang yang sebenarnya di depanmu, di depan imo dan Dami eonni. Aku itu gadis urakan dan yang mengetahuinya hanyalah orang yang saat ini menungguku di China. Dia akan selalu menungguku walaupun aku bersamamu. Dia melakukan semuanya hanya untukku, mengorbankan apapun demi diriku. Dan aku akui, aku selalu menangis setiap dia tidak ada di dekatku. Karena aku membutuhkannya, lebih dari sekedar sahabat. Aku sudah menyadarinya sebelum ini, tapi aku tidak berani mengambil keputusan ini.

“Tapi, hari ini aku sudah membulatkan tekadku. Aku tidak akan menyia-nyiakan orang yang sebenarnya aku cintai untuk kesekian kalinya. Oppa juga begitu, ‘kan? Aku yakin oppa akan melakukan hal yang sama denganku. Tidak akan lari dari kenyataan dan tidak akan menoleh terus ke belakang, menghindari realita. Menghindari perasaan kita dan membohonginya bukanlah solusi yang tepat,”

“Tapi tetap maju tanpa ada rasa takut dan menunjukkan pada semuanya, pada alam semesta, bahwa kita berhak mendapatkan kebahagiaan kita sendiri. Bahwa kita harus percaya sesulit apapun jalan yang menghalangi, kita harus sampai pada orang yang telah hati kita pilihkan dan bukannya orang lain yang memilihkan,” sela Dami. Ia tersenyum hangat pada Nana.

“Eonni, eonni juga baca bagian itu? Bagian akhir yang Taeyeon eonni tulis di dalam webtoon terakhirnya. Ternyata eonni juga menghafalnya,” ujar Nana senang.

“Aku tidak akan melupakan tulisan itu, Nana-ssi. Karena itu tulisan yang datang dalam hati. Tulus dan lugu. Polos dan suci,” jawab Dami.

“Eung, aku setuju. Indah dan memilukan di saat yang bersamaan,” ujar Nana.

“Tunggu sebentar,” sela Mrs. Kwon. “Jadi, kalian memang sudah benar-benar putus?”

Nana mengangguk tanpa beban dan ia tersenyum lebar pada Mrs. Kwon.

“Nana mencintai sahabatnya, eomma,” jelas Dami, yang kembali menyuapi roti isi ke dalam mulutnya. “Dia hanya mengidolakan anakmu. Lagipula, gadis kecil seperti Nana juga tidak akan cocok dengan laki-laki berumur 30 tahun ini,”

“Ya, kau ini,” tegur Mrs. Kwon. “Setidaknya, fikirkan perasaannya. Uri Yongie pasti patah hati lagi,”

“Setidaknya aku mendapat satu contoh lagu yang akan aku tulis di dalam albumku, eomma,” sahut Jiyong. Ia mengambil mantel bulu ungunya dan memandang ke arah Nana. “Aku akan mengantarmu ke lobby. Sepertinya Mr. Ahn juga sudah di depan,”

Nana mengangguk. Ia juga mengambil mantel beserta tas kecilnya. “Jiyong oppa malah terlihat bahagia, imo,”

Dami tertawa kecil, begitu juga Nana. Lalu, gadis China itu membungkuk untuk pamit dan akhirnya menggapai lengan kanan Jiyong yang terulur untuk jalan beriringan kelaur dari restaurant.

~~~

Lagi-lagi Taeyeon harus menghela nafasnya lagi untuk yang keseratus kalinya di pagi hari yang cerah itu saat dilihatnya Jiyong dan Nana juga sudah tiba di lobby, di hadapannya, dengan bergandengan tangan mesra, seakan-akan laki-laki itu tidak ingin berpisah dengan sang kekasih. Taeyeon akui itu membuatnya kesal sekali. Rasa kesalnya sampai ke ulu hati.  Dan lagi-lagi dia ingin menangis.

Jiyong memang mengeratkan genggamannya pada Nana sesampainya mereka di lobby. Tapi alasan dia mengeratkan pegangannya bukan seperti yang ada dalam benak Taeyeon.

Melainkan karena matahari di kota Paris saat ini sedang bersinar dengan terang benderangnya. Sinarnya sampai masuk ke dalam hotel yang sudah dilapisi dengan kaca tebal. Sinarnya masuk begitu saja, menghantam tepat di wajah Jiyong hingga laki-laki itu merasa kulitnya terbakar.

Sakit sekali. Sinar itu seperti mengulitinya pelan-pelan. Tubuhnya gemetar kecil dan Nana bisa merasakannya. Ia tahu penyebab kenapa Jiyong mendadak diam kaku seperti itu.

“Oppa, gwaenchanna?” bisik Nana cemas. “Kalau kau tidak kuat, lebih baik kembali saja ke dalam, eoh?”

“Gwaenchannayo. Aku hanya akan melihatmu masuk ke dalam mobil dan setelah itu selesai. Aku tidak akan berlama-lama,” jawab Jiyong. Ia memaksakan dirinya tersenyum agar tidak ada satupun orang curiga.

Ah, kenapa Jiyong bisa ceroboh sekali meninggalkan masker dan jaketnya di dalam kamar? Bahkan Mr. Ahn saja memakai itu semua di tengah cuaca yang terik ini.

“Nana, apakah kopermu sudah di dalam mobil?” tanya Mr. Ahn yang sudah ada di hadapan Jiyong dan Nana. Jiyong melirik Taeyeon, yang saat ini sedang menyibukkan dirinya dengan Mrs. Ahn.

“Ne, sudah semuanya, ahjussi,” jawab Nana semangat. “Jadi, kapan kita berangkat, ahjussi? Apa mobil untuk kita belum juga datang?”

“Wah, wah, wah. Jangan terburu-buru begitu, Nana-ah. Kau tidak lihat kalau Jiyong saja tidak mau melepas kepergianmu,” canda Mr. Ahn.

“Saya justru merasa senang karena dia punya teman untuk perjalanan pulangnya, ahjussi. Kalian bisa menjaganya untukku, ‘kan?” tanya Jiyong tenang. Berusaha untuk tenang lebih tepatnya.

“Nana itu sudah seperti keponakanku, jangan khawatir, Ji,” jawab Mr. Ahn. Lalu, ia menoleh ke belakang begitu seorang penjaga hotel datang mendekatinya dan mengatakan kalau mobil untuk mereka naiki ke bandara sudah siap.

“Kita pakai dua mobil. Kau, aku, dan istriku akan pergi satu mobil. Sedangkan Taeyeon naik mobil satu lagi,” ujar Mr. Ahn.

“Apakah itu tidak apa-apa, eonni?” tanya Nana pada Taeyeon. Jiyong melepaskan genggamannya pada Nana sehingga gadis itu bisa pergi menghampiri Taeyeon. Taeyeon tersenyum hangat dan manis pada Nana, mengatakan tidak apa-apa dan justru mengkhawatirkan keadaan sang gadis belia.

“Mana jaketmu, Ji?” tanya Mr. Ahn dengan suara pelan. “Kau tidak tahu kalau panasnya sekarang benar-benar berbahaya untuk kita?”

“Aku tidak sengaja meninggalkannya, ahjussi,” balas Jiyong. “Lagipula, aku tidak akan lama,”

“Jinjjayo?” tanya Mr. Ahn dengan nada mengejek sekaligus bercanda. “Aku tidak yakin karena di sini ada designer cantikku yang juga ikut pulang. Kau tidak akan bertemu lagi dengannya begitu kita sampai di Korea. Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu?”

“Ahjussi tidak pernah berubah, eoh? Darimana kau mendapatkan keahlian jadi tukang gosip seperti ini?” Jiyong balik bertanya dengan nada kesal dan Mr. Ahn hanya tertawa terbahak-bahak.

“Baiklah, kita bertiga masuk saja ke dalam mobil sambil menunggu mobil yang satu lagi,” ajak Mr. Ahn pada Nana dan istrinya.

“Saya akan bantu Anda membawakan tas itu, depyonim,” ujar Taeyeon lembut sambil mengambil tas jinjing milik Mr. Ahn. Mr. Ahn mengangguk dan ia menggandeng istrinya untuk keluar dari hotel menuju mobil yang sudah ada di depan. Mr. Ahn semakin mengeratkan jaketnya dan seorang asistennya langsung membukakan payung untuk mereka berdua.

“Aku pergi, oppa. Setelah ini masuklah ke dalam, eoh?” pamit Nana pada Jiyong, yang hanya menganggukkan kepalanya. Kedua matanya mengamati Taeyeon dari jauh, yang sedang menunggu Nana untuk pergi bersama.

Nana berbalik dan ia langsung menggandeng tangan Taeyeon untuk keluar bersama dari dalam hotel.

“Apa?!” teriak salah satu pegawai hotel yang ada di dekat Jiyong. Ia tengah berbincang dengan seseorang di balik ponselnya. Jiyong dapat melihat kegusaran dan ketakutan terpancar dalam raut wajah si pegawai. Meskipun memakai bahasa Perancis, Jiyong dapat memahaminya. “Kenapa kau gunakan mobil itu? Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau rem mobil itu sedikit bermasalah? Cepat berhenti sebelum kau menabrak apa saja di depanmu!”

Seperti ada tegangan ribuan volt yang merasuki tubuh serta jantung Jiyong begitu ia mendengar ucapan dari pegawai hotel itu. Insting vampire­-nya mendadak keluar dan pandangannya langsung ia alihkan ke sosok gadis yang sedang membukakan pintu untuk Nana. Lama mereka berbincang sampai Taeyeon menutup kembali pintu mobil tersebut.

Tanpa gadis itu sadari, sebuah mobil dengan kecepatan gila menghampirinya. Kedua mata Jiyong membulat ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat dan wajahnya pucat seketika. Kedua taring pendek tapi tajam yang selama ini ia sembunyikan keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan. Dan matanya, merah bergelora.

Ia ketakutan. Sangat ketakutan. Seseorang itu… Gadis itu… Tidak sadar ada di ambang kematian.

 

“Oppa tidak akan mau kehilangannya lagi untuk kesekian kalinya, ‘kan?”

“Kita memang butuh pengorbanan besar untuk mencapai kebahagiaan kita yang sesungguhnya,”

 

Tanpa Taeyeon ketahui, ketika ia menutup pintu mobil begitu dirinya selesai bercerita dengan Nana, mobil satu lagi yang akan mengangkutnya sudah ada di dekatnya. Tanpa bisa berhenti. Dan mobil itu melaju dengan sangat kencang.

Klakson mobil itu berbunyi nyaring memekakkan kedua telinga Taeyeon. Ia menoleh ke samping kirinya dan langsung terbelalak kaget. Jantungnya langsung berhenti dan darah di dalam nadinya tersendat begitu saja. Namun, bukannya berusaha lari, gadis itu malah menggedor-gedor pintu kemudi mobil Mr. Ahn.

“Cepat menyingkir! Mobil di belakang sepertinya mengalami rem blong! Cepat maju atau pergi dari sini!” seru Taeyeon.

Pengemudi mobil itu mengangguk cepat dan sangat ketakutan saat ia melihat dari arah kaca spion. Mobil rem blong itu sudah beberapa meter di belakang mereka dan kapan saja mobil itu akan mencelakai mereka semua. Tapi Taeyeon tidak akan membiarkannya.

“Eonni!” pekik Nana dalam mobil, sebelum mobil itu benar-benar meluncur pergi menjauhi hotel.

“Itu mobilnya?! Shit, kenapa tidak berhenti? C’mon! kita harus menghentikannya!”

“Gadis itu akan tertabrak!”

Taeyeon menoleh ke samping kiri lagi dan mobil itu sudah berada di dalam manik matanya. Ia tidak akan mampu lagi untuk berlari atau sekedar menghindar. Karena ia tahu, detik itu juga tubuh mungilnya akan terhempas jauh dari tempatnya berdiri. Mungkin ia juga akan bisa menyelamatkan orang lain. Begitu mobil itu menabrak dirinya, kemungkinan mobil itu pasti akan berhenti. Walaupun tubuhnya sudah jauh melayang dengan darah yang tidak akan berhenti mengalir.

Padahal, gadis itu berencana untuk berbalik dan mengatakan kepada Jiyong bahwa ia juga sangat merindukan laki-laki itu. Bahwa ia tak kalah bahagianya bertemu dengan Jiyong.

Bahwa ia masih mencintai sosok Kwon Jiyong.

Taeyeon memejamkan matanya, berusaha siap dengan apapun yang terjadi. Namun, sedetik kemudian, tubuhnya tidak merasakan sakit apa-apa, tidak merasakan ditabrak dengan begitu hebatnya oleh sebuah mobil, tidak merasakan luka. Melainkan ia merasa tubuhnya ditarik paksa dan ia dapat mendengar dengan kedua telinganya bunyi pukulan yang sangat kuat, yang dapat membuat gendang telinganya hampir tuli dan suara pecahan kaca yang berhamburan di mana-mana.

Taeyeon memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Ia takut, sangat takut. Tubuhnya gemetar hebat sekali sampai-sampai kedua kakinya tak sanggup lagi menahan berat tubuhnya sendiri. Tapi kedua lengan kokoh memeluknya dengan sangat erat, seakan-akan memberitahukan dirinya kalau dia tidak apa-apa, kalau dia aman. Kedua lengan itu begitu melindunginya dan memberikan kehangatan yang langsung menyebar di dalam jiwa gadis itu.

Taeyeon tahu siapa itu, siapa orang yang memeluk dan melindunginya. Ia tahu karena mencium wangi khas yang menguar dalam tubuh yang mendekapnya. Ia sangat tahu aroma ini. Meskipun sudah lama tidak menciumnya, ia masih hafal wanginya.

Perlahan, Taeyeon membuka kedua kelopak matanya dan pelukan mereka pun merenggang. Dengan takut-takut, ia menolehkan wajahnya untuk melihat situasi di sekitarnya.

Mobil yang hampir menabrak Taeyeon tadi sudah berhenti tepat di hadapan wajahnya. Namun, keadaan mobil itu sudah sangat buruk. Kaca depan dan sampingnya pecah semua. Moncong mobil itu pun penyok luar biasa ke dalam. Beberapa orang langsung menolong si pengemudi untuk keluar dari dalam mobil.

Syukurnya ia tidak apa-apa, hanya mengalami shock berat. Tubuhnya yang lemas dipapah oleh kedua temannya. Para security dan penjaga hotel lainnya berusaha menangani masalah yang terjadi dan mengangkut mobil bobrok itu untuk dibawa pergi.

“Bereskan semua ini dan jangan sampai ada media yang meliputnya!” seru sang manager hotel. “Apa yang terjadi barusan? Kenapa mobilnya berhenti mendadak dengan keadaan yang begitu mengerikan?”

“Neo gwaenchanna?” tanya sosok yang sedaritadi memeluk Taeyeon.

Taeyeon menengadahkan wajahnya untuk melihat laki-laki itu. Benar saja. Kedua mata gadis itu langsung basah dan ia terisak tanpa bisa ia kendalikan.

“Wae uro? Kau tidak terluka, ‘kan?” tanya Jiyong khawatir.

Belum lagi menjawab pertanyaan dari Jiyong, tubuh laki-laki itu merosot dan jatuh lemas terduduk di atas tanah. Ia mengerang kesakitan dan berusaha menutupi wajahnya dengan kedua lengannya.

“Jiyong-ssi,” gumam Taeyeon panik. “Wae geurae, Jiyong-ssi? Ji… Jiyong-ssi!”

Laki-laki itu begitu kesakitan. Taeyeon menatap ke langit dan menyadari sinar matahari begitu terik membakar sel-sel kulit Jiyong yang paling terdalam. Dan Jiyong sama sekali tidak memakai jaket dan maskernya seperti biasa.

“Arrggghhh!!!”

“Andwae! Jebal, Jiyong-ssi bertahanlah. Aku akan membawamu kembali ke hotel. Jebal!” seru Taeyeon. Ia buru-buru melepaskan sweaternya dan menutupi tubuh Jiyong yang terkena sinar matahari. Dapat Taeyeon lihat kulit laki-laki itu menjadi sangat berkilau.

“Jiyong-ah!” seru Dami yang tengah berlari kencang menuju arah mereka sambil membawa payung. Di belakang Dami ada dua orang laki-laki yang Taeyeon ketahui mungkin adalah manager-nya.

“Eonni,” isak Taeyeon.

“Taeyeon-ah neo gwaenchanna?” tanya Dami dengan wajah panik. “Ppali! Angkat adikku dan bawa dia kembali ke kamarnya! Lindungi dia dari apapun, jangan sampai media tahu hal ini,”

Kedua laki-laki itu mengangguk. Salah seorang dari mereka mengangkat tubuh Jiyong dan satunya lagi memayungi laki-laki itu dan secepat kilat berlari untuk masuk ke dalam hotel. Jiyong sudah tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya terkulai lemas. Wajahnya pucat pasi sepucat butiran salju. Taeyeon dapat melihat laki-laki itu sekilas tidak mengeluarkan nafasnya sama sekali.

“Eonni,” panggil Taeyeon lagi dengan isakan kecilnya. “Natthaemune, eonni. Natthaemune. Jiyong-ssi, dia akan baik-baik saja, ‘kan eonni? Benarkan?”

“Taeyeon-ah,” ujar Dami. Ia ikut menangis dan memeluk Taeyeon sangat erat. “Berdoalah agar tidak terjadi apa-apa pada Jiyongie. Berdoalah. Kau pasti masih ingat betapa sengsaranya dia saat dia berada di gereja, ‘kan? Ini jauh lebih parah. Ribuan kali lipat lebih parah. Berdoalah, Taeyeon-ah. Semoga adikku tidak apa-apa,”

“Eonni, ini salahku, ini semua salahku. Dia tidak perlu menolongku. Seandainya dia tidak menolongku, dia tidak akan sekarat, dia tidak akan kesakitan seperti tadi, eonni. Semua ini salahku,” isak Taeyeon.

Pekikan dan jerit kesakitan yang keluar dari bibir Jiyong tadi benar-benar menusuk-nusuk ulu hati Taeyeon. Di dalam kedua telinganya, ia masih bisa mendengar jerit kesakitan itu. Di dalam matanya yang tertutup, ia masih bisa melihat raut wajah Jiyong yang begitu kesakitan.

Hatinya benar-benar remuk melihat dan mendengar itu semua. Ia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia jauh lebih memilih mati daripada melihat Jiyong seperti itu. Semua ini salah dirinya.

Apakah ini hukuman untuk mereka berdua?

 

“Berjanjilah untuk melupakanku, untuk menghapus perasaanmu,”

“Aku tidak bisa menepati janjiku untuk melupakanmu dan menghilangkan perasaan ini,”

 

‘Beginikah cara mereka untuk memisahkan kita? Atau beginikah caramu agar aku dapat melupakan semua tentangmu, Jiyong-ssi?’

Kejam.

 

 

-The End-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I’m just kidding -_-

 

-To Be Continued-

Sengaja, nih buat chap ini agak pendekan hehe lagi buntu. Boong deng. Sengaja aja.

Let’s wait for another chap, yeah!

Semoga masih setia nunggu khekhekhe^^

 

Next Chap

“Beginikah cara mereka agar perasaanku benar-benar terbunuh?”

 

“Kalau begitu, seharusnya akulah yang lebih pantas mati. Bukan kau,”

Advertisements

84 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 13)

  1. Nana dewasa banget ya tapi dia bener cinta sama Luhan ato dia cuma mau Jiyong bahagia sama Taeyeon. Jiyong ngak apa-apakan

  2. Kak Bina~
    greget … dikira emng beneran ending
    ngegantung kalo ending :v
    ditunggu chapter 14 nya. aku mah setia nunggu ..

  3. •Sepanjang chapter ini bacanya deg-degan sambil nunggu kapan ending-nya.
    •Ah, author… Kukira The End beneran… Authooor. Panas lihat The End arrggghhh! *gaya Jiyong tadi.
    Fighting Author to next chapter! 😉 🙂
    Fighting All! 😉
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #SOSHIBANG
    #ROYALISTDREAMER

  4. Wah ternyata Nana & Dami eonni ngutip qyote webtoon Taeyeon 🙂
    •Ah, jadi Tae biar tetap bersama Jiyong? 🙂
    •Super baper pas peristiwa mobil depan hotel, Jiyoong…

  5. aduuuh kenapa bisa gitu..? 😥 😥
    semoga jiyoung gak apa2, dan bisa bersatu sama taeng,
    harus happy ending ya thor, *maksa
    update nya cepetan ya thor
    keep writing and fightaeng author Jjang ❤

  6. Omg pls deh thor tdi kaget sama “the end” nya wkwkwk
    Okeee ini makin bikin penasaran sama ending nya bakal kaya gimana
    Pls nexttt secepat cepat nyaaa uwaa pls T-T
    Fighting

  7. kirain bkal end bneran thor haha, author update cepet bgt ya, entah knp tiap baca selalu kbawa gitu sama ceritanya, feelnya dapet bgtttt, semangatt thor buat chap slanjutnyaaa, FIGHTING!!!

  8. Arghhh kirain end bneran…
    Cpet satukan mereka lagi thorrr, jaehyun kan udh sm hye sun, so gtae hrus sgra disatukan, asap…

  9. Kaget bgt pas lihat ada tulisan “the end” kirain bneran.
    Keren..smga jiyong oppa ga knpa2.
    Next thour..

  10. authorrrr. ih bener2 bikin kaget tau gak sih… masa ita pas baca tau2nya udah end? dengan akhir yg kayak gitu? udah siap didemo thor? untung aja aku msh sabar ya. masih mau baca ke bawahnya lg. kalau itu beneran thor. aku dluan yg ngamuk kkkk ngeri yaa. tapi aku suka thorrr. ceritanya selalu berhasil buat degdegan. pokoknya aku nunggu lanjutan nya terus. lagi dan lagi. semoga akhir bahagia utk mreka berduaaaa

  11. Ah sh*t. Please update soon, thor! Ini keren banget sumpah. Bakal nangis aku kalau ini ga diselesein.. Fighting!

  12. Eonni jahat yah bikin kaget tau nggak tuh tulisan the endnya😂😂😂😂 aku penasaran kek gimana emdingnya nggak bisa bayangin kalo udah bahagia😂😂😂 nggak bakal pisah deh yaa😂😂 semangat eon lanjutinnya 😍😍😍😍

  13. Sumpah kak..
    Baca ‘The End’ itu horor banget
    Kirain beneran ternyataaaa..
    Mau protes duluan..
    Please harus selesai setuntas tuntasnya..
    Dtunggu deh.. FIGHTING!!!

  14. Dari kemarin aku cari ff gtae susah banget dan beruntung banget ketemu ff ini. Begadang baca mulai dari chapter 1-13, this fanfiction was so amazing, ceritanya bagus anti mainstream dan juga feelnya dapet banget antara taeyeon sama jiyong. semangat nulis lanjutannya thor, we’ll waiting you,fighting!!^^

  15. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. aduh eonnie bikin kaget aja waktu baca ‘the end’ ,untung cuma bercanda
    jiyong kenapa? smoga aja bisa sadar lagi

  17. Tangan mya kuat banget yaa tapi ending nya dia tetep pingsan 😅😅 ahhh jiyoung-ie ucul deh pengen di karungin sweet banget gak sihh😍😍😍 akhirnyaaa jodoh emang gak kemana,, sesuatu banget baca part ini deg degan gak ikhlas karna ini bakalan end bentar lagii errrr gakuku ganana moga moga mereka happy ending yakkk. Semangat kak

  18. Tangan mya kuat banget yaa tapi ending nya dia tetep pingsan 😅😅 ahhh jiyoung-ie ucul deh pengen di karungin sweet banget gak sihh😍😍😍 akhirnyaaa jodoh emang gak kemana,, sesuatu banget baca part ini deg degan gak ikhlas karna ini bakalan end bentar lagii errrr gakuku ganana moga moga mereka happy ending yakkk. Semangat kak

  19. ceritanya bgus bngetttt aku sukaaaa😍😍😍
    sempat kaget liat tulisan end, gak rela klo cuma segitu hehehe
    izin baca lanjutannya ya kak
    semangat untuk selanjutnyaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s