The Leader’s Secret (Chapter 12)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ bacacomment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 10 ini hehehee.

Loveyousomuch~

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

~~~

“Apa Jiyong belum juga keluar dari dalam kamarnya?” tanya Mrs. Kwon pada anak sulungnya, Dami, yang saat itu tengah berkunjung ke kediaman keluarga Kwon.

“Sepertinya belum. Waeyo, eomma?” tanya Dami. Ia menghentikan kegiatannya yang sedang memasak makanan di dapur untuk mengecek pintu kamar adiknya yang ada di lantai dua. Dari arah dapur memang kamar adik bungsunya itu bisa kelihatan. “Dia belum turun dari kamar sejak tadi pagi,”

“Ibu yakin sekali kalau anak itu sengaja,” pungkas Mrs. Kwon.

Dami tersenyum kecil dan kembali melanjutkan kegiatannya. “Wae? Nana masih setia menunggunya di ruang tengah?”

“Ne, dari pukul 9 pagi tadi sampai sekarang. Ibu sudah bilang pada Jiyong tapi anak itu hanya mengatakan kalau sebentar lagi dia akan keluar. Kasihan sekali gadis itu,”

“Apa eomma sudah menyuruhnya untuk pulang saja?” tanya Dami.

“Sudah, tapi dia bilang Jiyong berjanji akan mengajaknya jalan-jalan siang ini dan tidak mau pulang sebelum bertemu dengan Jiyong. Keras kepala sekali. Apa dia tidak mengerti kalau anakku itu orang yang sangat sibuk? Yang sangat mencintai pekerjaannya melebihi ibunya sendiri,” omel Mrs. Kwon.

“Jiyong pasti baru saja tidur tadi pagi. Kasihan kalau harus dibangunkan. Aku akan bicara pada Nana,” ujar Dami. Ia melepas apronnya dan meninggalkan dapur, menuju ruang tengah untuk menemui kekasih baru Jiyong, Hara.

“Apa Jiyong oppa sudah turun, eonni?” tanya Nana dengan kedua mata yang bersinar-sinar. Wajah cantiknya tidak begitu segar lagi seperti tadi pagi karena selama beberapa jam hanya terduduk di sofa menunggui Jiyong. Gadis itu berusaha merapikan kembali pakaian dan rambut hitamnya yang lurus dan panjang, yang begitu menyilaukan.

Gadis yang sangat memikat, pikir Dami.

“Nana-ssi, sebaiknya kencannya ditunda dulu. Selama seminggu ini Jiyong sibuk mengurusi album solonya. Dia bahkan sempat beberapa kali tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di apartemen Bigbang karena pulang larut malam. Dia benar-benar sangat sibuk,” jelas Dami dengan suara lembut agar gadis yang ada di hadapannya ini tidak begitu sakit hati.

“Ah, begitukah?” tanya Nana sambil menundukkan wajahnya.

“Uljimayo. Aku akan menasehati Jiyong setelah dia bangun tidur nanti agar jangan seenaknya berjanji padamu dan membuatmu menunggumu lama,” hibur Dami.

“Aniya, eonni. Aku sama sekali tidak merasa sedih. Aku hanya… Khawatir pada Jiyong oppa. Dia terus sibuk seperti itu apakah kesehatannya menurun, eonni? Apakah Jiyong oppa masih memikirkan sarapan, makan siang dan malamnya? Aku hanya cemas jika kesehatannya kembali menurun seperti kemarin-kemarin,” ungkap Nana. Terlihat dari wajahnya gadis itu panik bukan main.

“Itu sebabnya mulai sekarang dia harus sering ada di rumah agar ibunya bisa mengurus anak keras kepala itu. Tidak perlu cemas, Nana-ssi. Jiyongie akan baik-baik saja, percaya padaku,” ujar Dami sambil tersenyum manis. “Kau naik apa tadi ke sini? Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu pulang,”

“Aku akan minta jemputan, eonni. Gwaenchannayo,” tolak Nana. “Kalau begitu, aku pamit pulang, eonni. Sampaikan salamku pada Nyonya dan Tuan Kwon,”

“Ne, sampai nanti,” balas Dami.

Begitu Nana keluar dari dalam rumah mereka, Dami menghela nafas panjang. Lalu, ia berbalik dan bukannya menuju dapur kembali, ia naik menuju kamar adik laki-lakinya, Jiyong. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu dan mendapati adiknya yang sedang bergelung nyaman di atas tempat tidur dan di bawah selimutnya. Kamarnya begitu berantakan dengan lembaran-lembaran kertas yang berisi not-not serta lirik lagu.

Perlahan agar Jiyong tidak terbangun, Dami melangkah mendekati adiknya. Terdengar dengkuran ringan di bibir adiknya dan itu membuat Dami tersenyum sendu. Dami menyingkirkan anak rambut Jiyong yang menutupi dahinya dengan pelan seraya mengusap pelan ubun-ubun kepalanya. Ditatapnya lekat-lekat wajah sang adik yang kelihatan sekali lelahnya jika dilihat dari jarak dekat.

“Kau tidak pernah berubah, dasar naga jelek,” gumam Dami sambil tersenyum lebar dan masih mengusap lembut kepalanya. “Apa kau bahagia sekarang, Yongie-ah? Apa kau bahagia karena sudah menemukan seseorang yang mencintaimu apa adanya dan selalu mengkhawatirkan keadaanmu tanpa memikirkan dirinya sendiri? Kau bahagia, ‘kan? Kuharap kau bahagia, adikku,”

Dia adalah Nana Ouyang. Gadis yang berasal dari China dan berprofesi sebagai seorang aktris juga model. Gadis belia yang masih berusia 16 tahun. Gadis yang rupawan, memikat, dan sangat memesona. Gadis yang bisa-bisanya jatuh cinta pada pemuda yang jauh lebih tua dari dirinya. Kwon Jiyong.

Pertemuan mereka memang singkat tapi begitu intens. Nana memang mengidolakan Jiyong dan tidak merasa keberatan belajar bahasa Korea dengan sangat keras agar bisa berkomunikasi dengan laki-laki itu, walaupun sebenarnya Jiyong sendiri cakap dalam berbahasa Mandarin. Tapi karena rasa sukanya pada Jiyong yang begitu besar, ia rela belajar apa saja yang tidak diketahuinya agar dapat lebih dekat dengan sang idola.

Hal itulah yang membuat Jiyong tersentuh hatinya dan memutuskan untuk menyukai gadis yang lebih muda darinya. Jauh lebih muda. Meskipun begitu, Nana gadis yang sangat dewasa pemikirannya. Dia juga ceria, polos, dan mampu membuat siapa saja di sekelilingnya tersenyum memandang wajah ayunya.

Setidaknya, Dami sudah melihat senyum manis merekah di wajah adiknya setelah mengenalkan Nana pada mereka semua sebulan yang lalu.

Senyuman manis yang pertama kali dilihat Dami setelah lima tahun lamanya, setelah ia melepaskan dan merelakan gadis yang sangat dicintainya pergi.

~~~

“Jeongmalyo, depyeonim? Apakah anda benar-benar serius mengirimkan saya ke sana? Ke acara besar itu?” tanya Kim Taeyeon dengan kedua matanya yang terbelalak begitu lebar, tak percaya dengan semua perkataan CEO sebuah perusahaan fashion yang namanya cukup melintang di Benua Asia.

“Bisa turunkan volume suaramu, Miss Kim? Aku bisa mendengar dengan baik, kok,” ujar sang CEO, Mr. Ahn. “Selama lima tahun kau bekerja di sini, aku tidak pernah kecewa dengan designs-mu dan semuanya selalu menjadi top choice. Tidak ada salahnya, ‘kan sesekali aku mengajakmu ke sana? Tentu saja sekalian liburan. Kau tidak pernah ambil cuti selama bekerja denganku. Kau terlalu bekerja keras dan aku kurang suka itu. Bisa-bisa kau minta dipromosikan,”

Taeyeon tertawa kecil mendengar candaan CEO-nya itu yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri. “Tapi, acara ini begitu mewah. Saya bahkan takut memimpikan untuk melangkah masuk ke acara itu apalagi menjadi bagian darinya. Ini benar-benar… Hebat,”

“Wae? Kau menyesal aku menulis namamu di acara itu? Apakah kau ingin menukarnya dengan desaigner yang lain?” tanya Mr. Ahn.

“Animnida, saya tidak menyesalinya sama sekali, depyeonim,” sanggah Taeyeon cepat. “Saya hanya sangat terkejut,”

“Baiklah, segera luapkan keterkejutanmu itu dan jangan sampai tersisa setelah kita sampai di sana. Di acara itu akan bertabur para bintang, models, dan desaigners yang berbakat dan memukau. Persiapkan dirimu, pesonamu, dan tunjukkan kalau kau memang pantas untuk berada di acara itu. Aku yakin kau pasti bisa belajar banyak dari mereka semua. Mungkin saja suatu saat nanti aku akan mengirimmu untuk menetap dan bekerja di sana,” ujar Mr. Ahn dengan penuh semangat.

“Tidak perlu seperti itu juga, depyeonim. Melihat mereka semua dan menonton fashion show-nya sudah cukup untuk saya,” tolak Taeyeon halus.

“Ah, apa Jaehyun mau ikut acara ini? Dia bisa menjagamu selama di sana. Kau harus tahu banyak laki-laki hidung belang yang hanya menginginkan one night stand. Hotel yang akan mereka sediakan benar-benar luxurious, elegant, dan semacamnya. Setelah acara itu pasti banyak sekali, ‘kan yang menghabiskan malam mereka di hotel itu,” ujar Mr. Ahn blak-blakkan.

“Jinjjayo, depyeonim? Tapi, saya bersama dengan anda, ‘kan?” tanya Taeyeon.

“Aku akan mengajak istriku, seperti biasa. Tapi, kali ini kau harus juga bawa Jaehyun. Kau cantik dan sepertinya tidak berpengalaman untuk membedakan yang mana serigala dan yang mana serigala berkerudung merah,”

“Saya akan tanya Jaehyun, depyeonim. Saya tidak yakin soalnya akhir-akhir ini dia sibuk sekali dengan jadwal syuting drama barunya,” ungkap Taeyeon.

“Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa. Aku akan mengenalkanmu dengan beberapa orang baik yang akan hadir di sana, yang kukenal tentu saja. Untuk hari ini, cukup itu saja. Kau bisa pulang, Taeyeon-ah,”

“Gamsahamnida, depyeonim. Terima kasih karena sudah mempertimbangkan saya. Saya permisi pulang, depyeonim,” pamit Taeyeon yang dibalas anggukan oleh Mr. Ahn.

Setelah keluar dari kantor Mr. Ahn, Taeyeon kembali membaca undangan yang dia terima dari CEO itu sekali lagi, berusaha meyakinkan dirinya kalau ini nyata, kalau dia sama sekali tidak sedang berkhayal, kalau dirinya memang benar-benar akan terbang pergi ke acara fashion show yang diimpikannya sejak dulu.

Chanel’s Metiers d’Arts Show in Paris. Ini nyata. Taeyeon menahan teriakannya sebisa mungkin dengan menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan. Kemudian, gadis yang hampir menginjak kepala tiga tapi tetap memiliki postur tubuh serta wajah khas anak remaja itu segera meninggalkan perusahaan untuk pergi menuju ke apartemen Jaehyun.

Sesampainya di apartemen kekasih, Taeyeon mendapati Jaehyun yang tengah memandang layar ponselnya tanpa menengadahkan wajahnya pada Taeyeon yang baru saja sampai. Sepertinya laki-laki ini tidak begitu sadar dengan kehadiran Taeyeon.

“Oppa? Kau sudah kembali?” sapa Taeyeon, yang sebenarnya ingin menyadarkan lamunan laki-laki itu.

“Ah, Taeng. Ne, jadwalku hari ini cukup longgar, jadi aku memutuskan untuk pulang cepat daripada kumpul bersama yang lain dan menghafal naskah,” jawab Jaehyun. Ia langsung menyimpan ponselnya dan merengkuh tubuh mungil Taeyeon ke dalam dekapannya.

“Waeyo?” tanya Taeyeon.

“Kau ingin menceritakan sesuatu yang membahagiakan hari ini? Kajja, kita duduk,” ajak Jaehyun setelah ia melepas pelukan hangatnya dan mereka berdua duduk bersisian di atas sofa ruang tengah.

Taeyeon menghadap ke arah Jaehyun, yang juga sedang menatap lekat-lekat Taeyeon dengan kedua manik matanya. Senyum hangat dan lembut khas Jaehyun keluar saat Taeyeon balas memandangnya.

“Jangan katakan padaku bahwa oppa-lah yang menyarankan depyeonim untuk mengajakku ke Paris,” tutur Taeyeon langsung.

“Aku tidak menyarankan apa-apa. Kau memang berbakat sekali dalam design, Taeng dan ayah tahu itu. Aku hanya ‘menambah’ keyakinannya saja sebelum dia menuliskan namamu pada pihak penyelenggara acara,” jelas Jaehyun. “Kau sudah tidak menekuni hobimu yang suka menggambar karena aku. Jadi, anggap saja ini bayaran karena sudah melepaskan sesuatu yang berharga di hidupmu,”

“Sudah kukatakan berapa kali padamu selama lima tahun terakhir ini kalau aku mengundurkan diri bukan karena dirimu, oppa. Tsk,” sanggah Taeyeon sambil memanyunkan bibirnya.

“Kapan acaranya?” tanya Jaehyun.

“Jangan bertanya sesuatu yang kau tahu, oppa,” jawab Taeyeon dengan nada acuh tak acuh.

Jaehyun tertawa. Ia mendekatkan tubuhnya pada Taeyeon sambil membelai surai cokelat gadisnya dengan penuh kasih. “Tapi, mianhae. Aku tidak bisa menemanimu pergi ke sana, Taeng,”

“Arra. Kau sibuk dan aku bisa memaklumi itu,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum manis dengan tulusnya. Rasa kesalnya pada Jaehyun sirna begitu saja.

Jaehyun diam tidak berkomentar. Ia diam dan tampak sedang berfikir keras. Sangat keras. Sampai Taeyeon menyadari ada kejanggalan dalam diri Jaehyun.

“Oppa, waeyo?” tanya Taeyeon lembut. Ia menggenggam tangan kanan Jaehyun dan menatap matanya.

“Taeyeon-ah,” panggil Jaehyun setelah selama beberapa menit lamanya ia tetap tidak merespon pertanyaan kekasihnya. “Ini adalah pertanyaan yang entah keberapa puluh kalinya kau berikan padaku dan aku selalu menjawab ‘gwaenchannayo, tidak ada masalah apa-apa’. Tapi aku tahu kau tahu aku berbohong. Aku tahu kau begitu peka tapi tidak ingin menekanku,”

“Wae geuraeyo? Aku mengenalmu sangat baik selama hampir sebelas tahun lamanya, oppa. Mana mungkin aku tidak tahu kalau kau ada masalah selama beberapa bulan belakangan ini. Aku tahu tapi aku tidak ingin memaksamu, aku takut kau belum siap untuk menceritakan semuanya,” ungkap Taeyeon.

“Aku sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari, Taeng dan kurasa aku sudah siap untuk mengatakannya padamu,” lanjut Jaehyun. “Kau tahu, ‘kan aku sangat mencintaimu selama ini? Bahkan sampai sekarang, pun perasaanku belum berubah…,”

“Gotjimal,” sela Taeyeon. Ia tersenyum kecil. Bukan senyum licik ataupun senyum penuh dendam. “Jujurlah. Kau sudah memutuskan untuk jujur padaku malam ini, ‘kan? Jangan setengah-setengah,”

“Taeng, jeongmal mianhae,” sambung Jaehyun. “Aku memang sangat mencintaimu. Kau tahu itu. Aku menyayangimu dan tidak ingin melepasmu lagi. Tapi, aku menyadari satu hal pahit dalam hatiku enam bulan yang lalu. Saat… Saat Hyesun mengatakan kalau dia akan pindah dari Korea dan menetap di Macau entah untuk berapa lama. Taeng, mian. Aku tidak ingin hubungan kita ini dipenuhi oleh kebohongan dan kemunafikan. Itu sebabnya aku ingin jujur kalau aku… Aku mencintai…,”

Jaehyun tidak melanjutkan kata-katanya dan memilih meletakkan dahinya di bahu Taeyeon. Taeyeon tahu itu. Taeyeon tahu apa yang selama ini berkecamuk dalam hati Jaehyun.

Taeyeon mengangkat kepala Jaehyun dan menatap wajah tampan kekasihnya itu dalam-dalam. “Kau tidak salah jika kau jatuh cinta pada orang lain, oppa. Justru aku merasa tertekan dan menjadi orang yang paling jahat di sini. Karena akulah yang membuat dirimu tidak bisa bebas berekspresi menunjukkan rasa cintamu pada Hyesun eonni.

“Sebenarnya aku sudah lama tahu kalau Hyesun eonni, pun juga sangat mencintaimu. Sekitar tiga tahun yang lalu. Aku sadar darah yang kau minum di rumah sakit lima tahun yang lalu itu adalah darah Hyesun eonni. Aku bertanya hal ini padanya dan dia jujur padaku, bahkan tentang perasaannya. Dia memintaku untuk tidak marah dan dia akan pergi sejauh mungkin untuk menghilangkan perasaannya.

“Tapi aku melarangnya. Aku tidak bilang apa-apa padamu dan tetap menginginkan dia di sini bersama kita, bersamamu, karena aku tahu oppa tidak akan bisa melepasnya pergi. Aku tahu oppa begitu nyaman, seakan-akan menemukan dirimu dalam diri Hyesun eonni. Bahkan, yang pertama kali mengetahui dirimu vampire dan selalu ada di sisimu adalah Hyesun eonni, ‘kan? Selama ini kau hanya terobsesi dengan janjimu padaku sehingga tidak menghiraukan perasaanmu yang sesungguhnya.

“Kau tidak sadar, bahwa orang yang selama ini ada di sisimu adalah Hyesun eonni, orang yang selama kau cintai sepenuh hati adalah dia. Kau memang mencintaiku, oppa. Tapi rasa cintamu padaku hanyalah sebatas kau ingin menjagaku, ingin melindungi, ingin bertanggung jawab karena kau beranggapan sudah menyakitiku. Sudah lama sekali aku ingin menamparmu agar kau sadar, oppa. Dan sepertinya tamparan itu datang saat Hyesun memutuskan untuk pergi jauh darimu karena tidak merasa enak padaku.

“Oppa, aku tahu bagaimana perasaan Hyesun eonni saat ini. Aku pernah mengalaminya dan aku tidak ingin dia pergi begitu saja tanpa tahu perasaanmu yang sebenarnya, tanpa tahu bahwa dialah mate yang selama ini kau nantikan. Aku tidak marah padamu, oppa. Justru aku bahagia akhirnya kau mengerti dan mau mengikuti kata hatimu. Kau tahu? Aku bersumpah akan meninggalkanmu setelah pulang dari Paris jika kau belum jujur padaku dan aku senang aku tidak akan melakukannya,”

Jaehyun terdiam dan hanya menangis. Selama Taeyeon menuturkan penjelasannya, air mata Jaehyun sudah menggenang dan ia tidak dapat lagi menahan sesak di dadanya.

“Beginikah rasanya, Taeng saat aku memintamu meninggalkan Jiyong waktu itu? Beginikah rasanya saat aku tidak mengijinkan kalian bersama dan seenaknya memutuskan kau adalah mate-ku? Aku sangat egois, Taeng. Aku benar-benar manusia paling jahat. Aku sudah melukaimu beberapa kali dan bisa-bisanya kau tersenyum tulus padaku? Aku sangat berharap kau menamparku saat ini,” isak Jaehyun sambil memeluk tubuh Taeyeon dan menangis di pundak kiri gadis itu.

“Aniya, oppa. Aniya,” bantah Taeyeon. Matanya mulai berkaca-kaca. “Bukan salahmu. Aku meninggalkan dia karena mungkin aku bukanlah seseorang yang ditakdirkan bersama dengannya. Aku meninggalkan dia demi kedamaian keluarganya, keluarga kalian. Aku meninggalkan dia agar kami sama-sama tidak tenggelam dalam kesedihan. Kami sudah berpisah baik-baik dan aku yakin dia sudah menemukan kebahagiaannya,”

“Kau belum dan itu semua karena aku,” ujar Jaehyun.

“Kau juga tahu, ‘kan kalau aku ini membohongimu selama lima tahun? Aku tahu kau tahu, oppa. Kau tahu kalau selama ini aku hanya menganggapmu ‘oppa’ dalam artian keluarga. Kau jelas-jelas tahu kalau aku tidak bisa lagi mencintaimu seperti dulu,” jelas Taeyeon.

Jaehyun melepas pelukannya dan menatap Taeyeon dengan kedua matanya yang sembab. “Apakah itu artinya kita sama-sama berbohong?”

“Kita tahu kebenarannya tapi memilih diam. Aku tahu kau melakukan itu juga untuk membahagiakanku, ‘kan? Agar aku melupakan masa laluku? Oppa seharusnya tahu kalau dibelakangmu aku juga tengah mencari takdirku,” jawab Taeyeon diselingi candaan.

“Jeongmal mianhae, Taengie-ah. Mianhae. Jinjja. Tapi percayalah, aku melakukan ini karena terlalu menyayangimu. Kau benar, aku cemburu buta bukan murni karena perasaanku. Tapi karena aku takut kehilanganmu, aku takut karena aku sudah melakukan semuanya hanya untukmu. Aku melakukan itu hanya karena aku tidak ingin membuatmu menunggu lama, tanpa tahu ternyata kau… sudah mencintai orang lain.

“Seharusnya waktu itu, ketika aku memintamu untuk kembali padaku, kau menolakku dan mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu kebenarannya tapi aku ingin kau yang mengatakannya. Seharusnya kau mengatakannya dan menamparku saat itu juga,” lanjut Jaehyun.

“Tidak kulakukan karena aku ingin percaya kalau itu adalah oppa, takdirku. Untungnya, aku bisa tahu lebih cepat dan perasaanku, pun juga tetap tidak berkembang,” jawab Taeyeon. “Jangan salahkan dirimu lebih dari ini, oppa. Sudah, cukuplah. Simpan penyesalanmu untuk Hyesun eonni dan katakan semuanya. Jangan ada yang ditutupi lagi. Jangan pernah biarkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus pergi. Tetap genggam tangannya apapun yang terjadi,”

Jaehyun menganggukkan kepalanya pelan dan ia kembali memandang kedua manik mata Taeyeon yang indah. “Lalu, bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku akan jauh lebih berbahagia kali ini, oppa karena pengakuanmu. Aku jadi tidak ada beban lagi,” jawab Taeyeon sambil tertawa. “Tenang saja, aku akan banyak mencari pria kaya raya, tampan dan masih muda untuk aku jadikan pasangan abadiku. Tentu dia harusnya vampire, ‘kan? Aku pasti menemukannya, oppa,”

Jaehyun tersenyum simpul. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Taeyeon dan mencium dahi gadis itu dengan penuh sayang. “Ini ciuman perpisahan kita. Kita tidak benar-benar berpisah, tapi berpisah sebagai seorang kekasih. Setelah ini, aku akan menjadi kakak laki-laki terhebatmu yang akan selalu ada, melebihi Jiwoong,”

“Aku tahu,” jawab Taeyeon. Ia juga membalas mencium dahi Jaehyun dengan cepat dan tersenyum lebar. “Sebelum Hyesun eonni pergi, berjanjilah untuk mengejarnya, oppa,”

“Pasti,” jawab Jaehyun. “Dan aku ingin mengatakan suatu hal padamu, Taeng. Percayalah padaku kalau kau akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya di Paris nanti. Sampai kau pulang ke Korea, orang yang pertama kali kau beritahu adalah aku, araseo?”

Taeyeon termenung dan terdiam sementara. Hingga ia memutuskan untuk menganggukkan wajahnya saja dan tersenyum riang.

“Baiklah, adikku. Malam ini aku akan mentraktirmu ayam,”

“Aniya! Aku ingin daging!”

~~~

“Apa kau bosan?” tanya Jiyong pada sang kekasih hati, Nana Ouyang, yang saat ini tengah duduk menemani Jiyong di dalam salah satu studio milik YG Entertainment.

Sebenarnya Jiyong cukup sibuk hari ini. Ada banyak deadline yang harus dikerjakannya dan dia tidak bisa membuang-buang waktunya lagi. Terutama untuk menulis beberapa lirik lagu yang akan dia ciptakan untuk album solo terbarunya mendatang. Tapi mengingat dirinya yang terus-menerus membatalkan janji untuk kencan pada Nana membuat hatinya tidak tega.

Akhirnya, ia mengajak gadis itu untuk sekedar duduk dan menemani dirinya menulis lirik lagu sambil sesekali belajar bermain piano.

“Aku tidak bosan sama sekali. Melihat oppa yang bekerja keras seperti ini membuatku semakin kagum dan aku seperti… mengenalmu lebih dekat lagi. Benar apa yang dikatakan orang, oppa adalah sosok pekerja keras yang lumayan payah dalam berkencan,” jawab Nana sambil tersenyum manis.

“Ya! Siapa bilang aku payah berkencan?!” seru Jiyong tak terima.

Nana hanya tertawa renyah dan ia kembali membaca-baca lirik lagu yang sudah ditulis Jiyong selama beberapa jam yang lalu. Jiyong menatap Nana dalam-dalam dan tersenyum pada gadis belia itu. Ia bersyukur menemukannya di saat-saat dirinya rapuh dan tak bersemangat lagi. Ia bersyukur karena masih ada seseorang yang mengerti dirinya, mencintainya apa adanya dan menerima segala kekurangannya.

Ya, Nana tahu siapa Jiyong sebenarnya dan dia bahkan mengaku jauh lebih mencintai Jiyong setelah tahu itu. Mendengar hal itu membuat Jiyong lega luar biasa dan hatinya berkecamuk antara bahagia dan sedih.

Bahagia karena dia sudah menepati janjinya pada Taeyeon agar segera menemukan kebahagiaannya.

Sedih karena dia sama sekali tidak tahu apakah dia memang benar-benar sudah menemukannya atau belum. Sedih karena… di saat-saat tertentu ada saja sesuatu hal dalam diri Nana yang mengingatkannya pada Kim Taeyeon. Padahal laki-laki itu seharusnya tahu diri. Taeyeon sudah bahagia bersama orang lain.

“Tapi oppa juga orang yang sangat romantis,” sambung Nana. Tatapannya teralih ke wajah Jiyong yang belum juga mengalihkan pandangannya pada wajah cantik Nana. “Lirik ini indah sekaligus membuat hatiku terluka. Aku sedih membacanya sekaligus bangga pada pernyataan cinta yang oppa tulis secara tidak kasat mata. Pernyataan cinta yang sedih, mengalir begitu saja secara alami,”

“Apa kau paham juga dengan yang seperti itu?” tanya Jiyong, yang kembali memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya.

“Tidak begitu, tapi aku paham betul dengan lirik ini. Ini seperti… curahan hati,” ujar Nana. “Ini kisah oppa, ‘kan?”

“Kisah yang mana? Jangan banyak baca gosip aneh,” jawab Jiyong sekenanya.

“Tapi aku tahu, kok kalau ini kisah cinta oppa. Aku mendengarnya cukup banyak dari Seungri oppa,” ujar Nana dengan lugunya.

“Anak tak tahu diri itu,” gumam Jiyong kesal. “Kucukur lagi rambutnya setelah dia pulang wajib militer nanti,”

“Aku sampai menangis mendengar ceritanya,” aku Nana. “Cinta oppa padanya benar-benar besar dan tulus, ne? Aku iri. Apakah oppa juga mencintaiku seperti oppa mencintai gadis itu?”

Jiyong terdiam mendengar pertanyaan Nana. Ia bahkan tidak berani memandang gadis itu. “Aku sedang berusaha,”

“Aku hanya bercanda, jangan dipaksakan begitu, oppa,” ujar Nana dan ia tertawa renyah. “Kalau kalian diijinkan untuk bertemu kembali, apa yang akan kau katakan padanya, oppa?”

“Kami tidak akan pernah bertemu lagi,” jawab Jiyong cepat. “Dia sudah bahagia,”

“Siapa yang tahu,” potong Nana. “Seungri oppa bilang kalau gadis itu bahkan tidak akan menghapus perasaannya pada oppa,”

“Anak itu,” geram Jiyong. “Seberapa banyak yang dia ceritakan padamu?”

“Tidak begitu banyak,” jawab Nana jujur. “Oppa juga tidak menghapus perasaan itu, ‘kan? Apa rasanya masih hangat di dalam hatimu?”

“Aniya,” jawab Jiyong tegas. “Aku bahkan sudah melupakan semuanya sebelum kau mengungkit itu,”

“Tsk, you’re a bad liar, oppa,” canda Nana. Jiyong tersenyum kecil dan ia hanya mengacak-acak rambut Nana dengan sayang.

“Tapi aku tidak berbohong padamu saat aku bilang aku sedang berusaha untuk jauh lebih mencintaimu, Nana,” tambah Jiyong. Ia tersenyum manis dan mengecup punggung tangan kanan Nana yang halus, menyebabkan Nana tersenyum bahagia dengan rona merah di wajahnya.

“Berhenti mengatakan hal-hal yang cheesy, dragon,”

Dami masuk ke dalam studio dan melangkah mendekati dua insan yang tengah bermesraan tersebut. Jiyong melepas genggaman tangannya pada Nana dengan terpaksa dan menatap sang kakak dengan malas. Nana menyapa Dami dengan senyuman manisnya.

“Waeyo?” tanya Jiyong.

“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Dami sedikit berbasa-basi. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop pada Jiyong. “Undangan dari Chanel. Chanel’s Metiers d’Arts Show in Paris. Mereka berharap kau datang, adikku. Kebetulan sekali mereka sudah menyiapkan hotel dan segala keperluanmu di sana,”

“Mereka tahu saja kalau aku akan datang,” gumam Jiyong. “Thanks, noona,”

No prob. Kau juga diundang, ‘kan Nana-ssi?” tanya Dami.

“Eung,” jawab Nana dengan antusias. “Tapi kita tidak bisa berangkat bersama, oppa. Aku harus pulang ke China dulu,”

“Wae? Supaya bisa berangkat bersama Lu… apa? Luhan? Aigoo,” goda Dami sambil melirik Jiyong.

“Bukan seperti itu, eonni,” sanggah Nana cepat-cepat dengan raut wajah meronanya.

“Luhan itu sahabat Nana, jadi jelas kalau dia butuh sahabatnya, ‘kan di saat-saat seperti ini,” ujar Jiyong yang kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

“Tsk, kupikir kau akan cemburu,” gerutu Dami.

Nana tersenyum kecil. “Ah, apa eonni sudah selesai bekerja? Kenapa cepat sekali pulang dari kantor?”

“Untuk menyerahkan undangan itu. Aku juga sedikit suntuk dan lapar,” jawab Dami.

“Apa eonni membawa softcopy-nya? Webtoon yang kemarin aku tanyakan pada eonni,”

“Ah, itu… Eung, ada,” jawab Dami sedikit kikuk, membuat Jiyong memutar tubuhnya untuk menatap sang kakak yang bersikap aneh.

Webtoon apa?” tanya Jiyong.

“Aku tidak tahu judulnya apa. Tapi aku sangat tahu siapa author-nya. Kim Taeyeon,” jawab Nana dengan wajah berbinar-binar.

Detik itu juga pensil yang sedang Jiyong genggam jatuh begitu saja dari tangannya. Jari-jarinya mendadak lemas dan perutnya bergejolak aneh. Wajahnya menyiratkan emosi yang sulit sekali ditebak. Mendengar nama Taeyeon disebut, Dami hanya melirik Jiyong sebentar, menanti reaksinya.

“Aku sangat mengagumi dia sejak pertama kali dia meluncurkan webtoon pertamanya. Sekitar… delapan tahun yang lalu? Aku sangat menyukai isi cerita dan gambar yang dia buat benar-benar bagus. Aku sedih sekali dia menghentikan karirnya. Itu sebabnya aku minta pada Dami eonni untuk membawakan semua webtoon miliknya yang pernah ia tulis dan belum di publish,” sambung Nana.

“Noona, kau lapar, ‘kan? Bicaralah dulu pada Nana. Aku akan belikan kalian makanan ringan sebentar,” pamit Jiyong. Ia bangkit dari kursinya, menyampirkan mantelnya di pundak kirinya dan langsung pergi keluar ruangan.

Dami menatap punggung adiknya yang baru saja pergi itu dengan tatapan sendu. Dan Nana hanya bisa menatap Dami, bingung dengan atmosfir yang berubah mendadak.

Di luar studio, Jiyong segera menyandarkan punggungnya di dinding sambil menekan dada kirinya. Ia meringis, seperti kesakitan. “Kenapa reaksiku tetap seperti ini begitu mendengar namamu? Pabo,”

~~~

Paris, Perancis in Ritz Paris Hotel.

“Uwaah, daebak!” seru Taeyeon dengan jeritan tertahannya begitu ia memasuki kamar hotel yang akan ia gunakan selama dua hari satu malam di Paris.

Mr. dan Mrs. Ahn hanya tersenyum lebar melihat kebahagiaan Taeyeon. Mereka tetap berada di depan pintu kamar Taeyeon dan memerhatika gadis itu yang masih sibuk terperangah dengan keadaan hotel mewah tersebut.

“Kamar kami berdua beda satu lantai di bawahmu, Taeng. Sebelum pesta nanti malam dimulai, istirahatlah di dalam kamar atau kau bisa jalan-jalan sesuka hatimu di area sini,” tukas Mr. Ahn.

“Ye, depyeonim,” jawab Taeyeon senang. “Tolong hubungi saya jika anda perlu sesuatu,”

Mr. Ahn mengangguk dan ia menutup pintu kamar Taeyeon, meninggalkan Taeyeon di dalam kamar mewahnya. Gadis itu begitu terpesona dan ia menghabiskan 30 menit di dalam kamarnya dengan memeriksa seluruh isi di dalam ruangan tersebut.

“Aigoo, sudah jauh-jauh ke sini, aku ingin mengitari area sini saja sebelum pestanya nanti malam dimulai,” gumam Taeyeon.

Akhirnya ia bangkit dari sofa empuknya, mengambil mantel cokelatnya dan keluar dari dalam kamar. Sejujurnya, ia juga tidak tahu mau ke mana dan lebih memilih menuju lobby. Di sana ia menemukan peta hotel dan mungkin saja dengan membaca-baca denah hotel itu ada suatu tempat yang ingin ia tuju.

Sesampainya di lobby yang banyak sekali orang lalu-lalang, Taeyeon mengambil salah satu majalah mengenai hotel tersebut yang digunakan sebagai souvenir bagi Ritz Paris Hotel untuk pengunjung turisnya.

Gadis bermarga Kim itu membolak-balikkan halaman majalah itu dan membaca sebagiannya di depan meja reservasi saat kedua telinganya menangkap suara seorang wanita yang amat sangat dikenalnya.

“Atas nama Kwon Jiyong, please,”

Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kwon Dami, beserta Mrs. Kwon.

Jantung Taeyeon serasa berhenti berdetak, kedua telinganya berdengung aneh dan ia sangat berharap sekali ia mendadak tuli dan salah dengar atas apa yang baru saja telinganya tangkap. Tubuhnya kaku mendadak walaupun alarm dari dalam otaknya menyuruhnya untuk pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya dan tak mampu untuk menengadahkan wajahnya. Kepalanya tertunduk, matanya memandang majalah itu meski ia tidak tahu apa yang dia baca saat ini.

“Dua kamar,” jawab Dami saat salah satu resepsionis itu bertanya. “Yongie-ah, yeogiyo,”

PRAK!

Taeyeon tercengang. Majalah yang daritadi ia pegang jatuh dari tangannya begitu saja tanpa ia sadari. Dengan sedikit terburu-buru, Taeyeon membungkuk dan mengambil majalah tersebut. Begitu ia menegakkan kembali tubuhnya, Taeyeon tidak sengaja menoleh ke sisi kirinya dan kedua matanya bertemu dengan kedua mata cokelat itu tanpa disengaja oleh kedua belah pihak.

Entah apa yang Taeyeon rasakan saat itu. Bahagia ataukah ia harus merasakan kesedihan karena melanggar janjinya sendiri lima tahun lalu. Janji untuk tidak bertemu lagi dengan Kwon Jiyong apapun alasannya.

Kenapa? Kenapa di saat-saat seperti ini harus Kwon Jiyong yang ia temui? Apakah tidak ada orang lain lagi? Kenapa setelah lima tahun lamanya mereka harus dipertemukan kembali?

Sedangkan Kwon Jiyong, ia memang tampak sangat terkejut dengan kehadiran Kim Taeyeon di hadapannya, tepat di depan kedua matanya, tapi ia langsung bisa mengendalikan ekspresinya dengan ekspresi datar. Entah perasaan apa yang langsung menyelimuti hatinya begitu ia memandang wajah cantik gadis itu. Dan dia sendiri juga bingung harus bereaksi bagaimana.

Dan laki-laki itu, pun hanya melirik sekilas lalu melangkah mendekat ke arah Dami.

“Aku ke kamar duluan,” ujar Jiyong pelan dan ia langsung mengambil card kamarnya begitu si resepsionis menyerahkannya. Tanpa menunggu jawaban sang kakak dan Mrs. Kwon, Jiyong berbalik dan melangkah menuju lift.

Dada kirinya mendadak sakit detik itu juga. Dan Jiyong tidak tahu apa jadinya jika ia tetap berlama-lama berdiri di depan meja resepsionis dengan adanya gadis itu di dekatnya.

Jantung Jiyong berpacu begitu cepat saat ia melangkah masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup, laki-laki itu dapat melihat Taeyeon yang sedang meletakkan majalah di tempatnya dan kemudian pergi entah ke mana.

Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam, berusaha menetralkan semua organ tubuhnya yang mendadak bekerja lebih cepat 10 kali lipat dari biasanya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan bersandar pada dinding lift. Ia memejamkan kedua matanya sambil mengingat kembali wajah gadis yang pernah dicintainya lima tahun lalu.

Ah, bukan pernah. Gadis yang masih dia cintai sampai detik ini, hingga membuat paru-parunya terjepit begitu kuat dan sulit bernafas karena merasakan betapa rindunya ia pada gadis itu.

Wajahnya yang entah kenapa masih terlihat begitu cantik, begitu menawan, begitu fresh, begitu memesona. Ah, tak ada habisnya Jiyong memuji gadis itu di dalam hatinya. Dan harum tubuhnya sempat tercium di hidungnya sekilas namun itu mampu membuatnya mabuk kepayang. Tubuhnya masih mengeluarkan aroma lavender dan strawberry di saat bersamaan. Di campur wangi vanilla dan Jiyong bisa gila kalau dia tidak cepat-cepat kabur dari hadapan gadis itu.

Bisa-bisa dia mendekap gadis itu dan semua orang akan meliputnya. Dirinya akan disangka sedang mabuk berat dan berniat memperkosa seorang gadis di depan umum.

Jiyong menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran mengenai Kim Taeyeon dari dalam kepalanya.

Ia benar-benar merasa sudah gila saat ini.

~~~

“Dia ada di sini, dia ada di sini, dia ada di sini,” gumam Taeyeon berulang kali seperti orang gila.

Saat ini ia tengah terbaring di atas tempat tidurnya setelah berlari menuju kamarnya dengan sangat cepat dari lobby, sebelum dirinya tertangkap basah oleh Dami dan Mrs. Kwon. Ia benar-benar tidak percaya dengan penglihatannya. Ia sangat berharap kalau yang tadi itu bukan Kwon Jiyong. Tapi mana mungkin. Dami jelas-jelas memanggil namanya tadi.

“Mati saja aku,” lirih Taeyeon lagi lalu ia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di atas bantal.

Kenapa dia harus datang di saat Taeyeon butuh kesenangan? Kenapa dia harus datang dalam acara yang begitu diimpikan Taeyeon, yang begitu diinginkan Taeyeon selama ini? Laki-laki itu benar-benar merusak mood Taeyeon dalam sekejap. Rencananya untuk jalan-jalan hilang entah ke mana begitu wajah laki-laki itu masuk dalam pikirannya, mengganggu cara kerja otaknya yang bisa-bisa saja tidak berfungsi lagi jika itu menyangkut Jiyong.

Tanpa terasa, bantal yang kini sedang menjadi korban penenggelaman wajah Taeyeon mendadak basah karena air mata gadis itu yang memaksa untuk keluar. Walaupun dirinya menolak mati-matian untuk bertemu lagi dengan Jiyong ia tidak dapat menampik dan memunafikkan perasaannya.

Bahwa dia sangat merindukan laki-laki itu. Sangat rindu. Sampai dada kiri gadis itu sesak rasanya. Itu sebabnya dia memilih menangis agar rasa sesak itu bisa hilang dalam sekejap.

~~~

Ponsel Taeyeon berdering menandakan panggilan masuk dari Mr. Ahn untuk yang kesekian kalinya di atas meja rias kamar hotelnya dan gadis itu hanya termangu menatap layarnya, tidak berniat untuk menjawab. Meskipun terkesan kurang ajar, tapi Taeyeon terpaksa melakukannya karena suatu hal.

Dan begitu ponsel itu kembali berdering, Taeyeon mengangkatnya dan sedikit mengubah suaranya menjadi suara orang yang baru saja bangun tidur.

“Yoboseo, depyeonim,” sapa Taeyeon. “Ah, jeongmal mianhae, depyeonim. Saya ketiduran dan baru saja selesai mandi. Saya akan segera turun dan langsung pergi ke pesta,”

Semuanya bohong, tentu saja. Taeyeon sudah selesai berpakaian daritadi, sekitar dua jam yang lalu. Namun, karena ia yakin Jiyong juga akan menghadiri acara fashion show itu, Taeyeon merasa butuh waktu untuk berdiam diri dan menjernihkan pikirannya, menenangkan hati, jiwa dan semuanya. Serta menyusun strategi agar ia sebisa mungkin tidak bertegur sapa dengan Jiyong, atau bahkan sekedar melihat wajahnya.

“Aku ada di depan kamarmu. Kalau kau sudah selesai cepatlah keluar karena kau tidak tahu, ‘kan di mana acaranya digelar. Sudah setengah jalan acaranya dimulai. Apakah kau lupa tujuanku mengajakmu ke sini karena apa?” tanya Mr. Ahn dengan nada datar namun menyiratkan ancaman mematikan untuk Taeyeon.

“Ah, ye depyeonim. Saya akan keluar sekarang juga,” ujar Taeyeon panik. Ia mematikan sambungan teleponnya dan langsung membuka pintu kamar.

Benar saja. CEO-nya itu kini sudah ada di depannya, berdiri dengan memakai tuksedo putihnya dengan wajah bosan.

“Kajja, istriku sudah menunggu dan pestanya sangat meriah. Kau bisa mencari pengganti Jaehyun di sana, tentu saja harus orang yang baik-baik,” ajak Mr. Ahn sambil menawarkan lengan kanannya agar Taeyeon dapat menggandengnya.

Taeyeon tersenyum manis dan menerima uluran lengan sang CEO. “Apakah anda yakin?”

“Yakin sekali. Kau sangat cantik malam ini dan berusahalah untuk mendapatkan pangeranmu. Kau tahu? Seperti Cinderella,” canda Mr. Ahn dan dibarengi dengan tawa renyah dari gadis mungil itu.

Tidak sampai lima belas menit perjalanan menuju Chanel’s show dari hotel dengan menggunakan mobil khusus yang sudah disiapkan oleh pihak acara. Mr. Ahn kembali mengulurkan lengannya begitu mereka berdua turun dari mobil. Mereka berdua jalan beriringan dengan anggunnya, menaiki tangga sampai akhirnya muncul dalam keramaian pesta.

“Lihat? Pestanya sudah dimulai. Kau ketinggalan fashion show penting tadi. Dasar anak muda,” bisik Mr. Ahn sedikit gemas dengan keterlambatan designer-nya.

“Jeosonghamnida,” balas Taeyeon dengan berbisik. “Saya akan berusaha untuk mencari referensinya. Habisnya, tempat tidurnya nyaman sekali,”

“Jangan banyak alasan. Banyak-banyaklah tersenyum, aku akan mengenalkanmu ke beberapa designer yang kukenal. Cari referensi sebanyaknya dari mereka sebelum aku memikirkan potongan gaji saat kita sampai di Korea nanti,” ancam Mr. Ahn.

Taeyeon hanya mengangguk cepat dan menelan ludah, berusaha tampil tenang dengan memperlihatkan senyum terbaiknya. Dalam hati ia sangat berharap tidak bertemu dengan laki-laki itu.

Mr. Ahn pun menarik Taeyeon kepada dua orang laki-laki yang tampak sedang mengobrol dengan akrabnya lalu menyela mereka dengan sapaan khas orang Perancis. Setelah itu Mr. Ahn memperkenalkan Taeyeon dan gadis itu mulai terjebak dengan pembicaraan-pembicaraan fashion untuk pemula sampai rasanya bibir Taeyeon mulai pegal karena kebanyakan senyum.

Tentu saja tidak hanya dua orang laki-laki itu saja. Ada beberapa orang lagi dan rasanya gadis itu ingin kabur saja. Minum dan makan sambil memerhatikan orang-orang yang sibuk dengan perkumpulannya jauh lebih menyenangkan daripada berbasa-basi sambil terus memasang senyum termanisnya. Kalau saja Taeyeon dibolehkan untuk membuka high heels­-nya, ia akan melakukannya sekarang juga.

“Dan ini dia. Miss Nana Ouyang,” sapa Mr. Ahn dengan bahasa Korea, setelah daritadi dia menggunakan bahasa Inggris dan Perancis.

Gadis manis berambut hitam diikat ekor kuda menolehkan wajah anggunnya pada Mr. Ahn. Ia sangat cantik dan kelihatan masih begitu muda. Senyumnya terlihat begitu menawan dan memikat. Dan di samping gadis itu ada sosok laki-laki yang mendampinginya. Tangannya melingkar di pinggang gadis itu, seakan-akan menunjukkan kepada semua orang bahwa gadis itu adalah miliknya.

Kwon Jiyong.

Langkah Taeyeon langsung berhenti sebelum Mr. Ahn mencapai gadis yang dia panggil Nana tersebut. Tapi CEO-nya itu kembali menarik lengan Taeyeon dengan halus dan memaksa gadis itu untuk melangkah lebih dekat. Kedua kaki Taeyeon begitu kaku dan dia hanya bisa memandang ke arah mana saja, asalkan tidak ke arah laki-laki itu, yang kini ada di hadapannya.

Jiyong pun juga tak kalah terkejutnya. Ia bahkan tidak mengedipkan pandangannya pada Taeyeon yang malam itu begitu cantik di matanya, yah di mata semua orang. Taeyeon memang tidak pernah berpenampilan memukau kecuali pada acara-acara tertentu, seperti saat ini. Dan hal itu sukses membuat Jiyong sulit menelan ludahnya.

Hingga tanpa sadar dia melepaskan rangkulannya dari Nana.

Hi, G,” sapa Mr. Ahn ramah pada Jiyong.

“Ahjussi tidak bilang akan hadiri fashion show ini,” ujarnya membalas sapaan Mr. Ahn.

“Buat apa? Aku pasti akan selalu hadir, anakku,” jawab Mr. Ahn. “Ah, Taeyeon-ah. Ini adalah Nana Ouyang, gadis muda dari China yang berprofesi sebagai aktris dan fashion icon. Dan Nana, ini adalah Kim Taeyeon, desaigner­ muda-ku. Datang ke sini ingin mengetahui lebih dalam tentang fashion,”

“Kim Taeyeon?” ulang Nana dengan nada tidak percaya. Ia menoleh menatap Jiyong yang pandangannya masih intens memandangi Taeyeon. Sedangkan Taeyeon, yang mendengar namanya dipanggil oleh Nana, menoleh menatap gadis itu dan tanpa sadar membalas tatapan Jiyong.

“Wae? Kau mengenalnya?” tanya Mr. Ahn pada Nana.

Nana mengalihkan matanya dari Jiyong dan Taeyeon lalu ia tersenyum lebar. “Taeyeon-ssi adalah author­ favoritku sebelum dia mengundurkan diri dari Naver. Aku tidak salah orang, ‘kan?”

“Ye?” tanya Taeyeon, sadar dari lamunannya karena jatuh terperangkap oleh tatapan intens laki-laki yang ada di depannya itu. “Ah, anda membacanya kalau begitu,”

“Tidak usah terlalu formal. Panggil saja aku Nana. Aku masih 16 tahun,” ujar Nana senang. “Dan bolehkan aku memanggilmu eonni? Aku selalu menulis kata ‘eonni’ di setiap email yang selalu kukirimkan padamu. Isinya hanya untuk mengajakmu berkenalan dan ingin lebih mengenalmu lebih dekat. Tapi sepertinya kau sangat sibuk jadi kupikir tidak sempat membaca dan membalas email-ku,”

“Ah, ne. Joseonghamnida. Aku sering dikejar deadline dan tidak bisa disibukkan apapun,” jawab Taeyeon dengan nada menyesal.

“Wah, wah. Karyamu pasti bagus sekali, Taeng. Tapi bukankah sebelum bekerja denganku kau itu seorang pengganti asisten?” tanya Mr. Ahn.

“Jinjjayo?” tanya Nana sebelum Taeyeon sempat menjawab.

“Pengganti asisten dan manager Bigbang lebih tepatnya,” sela Jiyong. Nada suaranya yang dingin dan datar sangat mengejutkan Taeyeon.

Suara itu. Suara yang sudah lama sekali tidak Taeyeon dengar. Dan ia kembali menoleh menatap Jiyong. Pandangan mereka bertemu dan kali ini Taeyeon berusaha untuk mematahkannya agar tidak jatuh di dalamnya lagi. Mata cokelat yang juga sangat dirindukannya.

“Ah, aku baru ingat! Jaehyun juga pernah bilang,” ujar Mr. Ahn. “Kebetulan sekali kalian bisa bertemu di sini, eoh? Bisa dibilang seperti reuni?”

“Sama sekali tidak, depyeonim,” bantah Taeyeon halus dengan penekanan dalam suaranya. “Saya hanya bekerja sebulan dan itu tidak berarti apa-apa bagi kami semua. Jadi, tidak bisa dibilang reuni juga,”

“Begitukah?” tanya Mr. Ahn.

Tepat saat itu terdengar helaan nafas kasar dari Jiyong. Taeyeon menatap laki-laki itu dan Jiyong hanya memberikan senyum meremehkan padanya.

“Ah, kapan ahjussi kembali ke Korea?” tanya Nana riang.

“Siang besok,” jawab Mr. Ahn. “Bagaimana denganmu, Nana?”

“Besok aku juga akan kembali ke China, ahjussi,” jawab Nana.

“Bukannya kau ikut pulang ke Korea bersamaku?” tanya Jiyong heran.

Nana tersenyum manis pada Jiyong. “Luhan berjanji akan menjemputku. Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi karena dia tidak bisa ditolak,”

“Tsk, kenapa tidak ajak dia saja sekalian sebagai partner-mu?” tanya Jiyong. Nada suaranya begitu kesal.

“Wah, seorang G-Dragon cemburu? Hubungan kalian ini pasti lebih dari sekedar berteman, ‘kan?” goda Mr. Ahn.

“Depyeonim,” sela Taeyeon. Mr. Ahn dan Nana menoleh menatap Taeyeon. Sedangkan Jiyong lebih memandang ke arah lain. “Saya akan mengambilkan anda minum. Permisi,”

“Eonni,” panggil Nana sebelum Taeyeon membalikkan tubuhnya. “Setelah itu bergabung bersamaku lagi, eoh? Aku benar-benar sangat menyukaimu,”

Taeyeon tersenyum mengangguk pelan pada Nana dan mulai melangkah menjauh. Ia tidak tahu di mana letak minuman berada dan hanya berjalan tak tentu arah. Sampai akhirnya ia menemukan seorang waiter yang membawa beberapa gelas anggur dan menawari orang-orang di sekitarnya.

Wait, I’ll pick this one,” ujar Taeyeon dengan cepat seraya mengambil satu gelas wine itu.

Belum lagi ia membalas ucapan terima kasih dari si waiter, seseorang kembali mengambil alih minuman tersebut dan mengembalikannya ke atas nampan, membuat waiter itu sedikit terkejut.

She can’t drink,” ujar Jiyong pelan dan ia mengisyaratkan waiter itu untuk pergi ke tempat lain. Sedangkan Taeyeon hanya menghela nafas panjang dan memberanikan diri menatap kehadiran orang yang paling tidak diinginkannya ada di depan matanya.

“Itu bukan untukku,” ujar Taeyeon pelan.

“Untuk Ahn ahjussi? Apa kau ingin kelemahannya muncul dan identitasnya terkuak dengan meminum minuman yang tidak bisa dicerna perutnya?” tanya Jiyong tanpa memandang tatapan mata Taeyeon yang jelas menyiratkan keheranan. “Kurasa sampai saat ini, pun kau belum tahu juga dari mana Jaehyun mendapatkan keturunan vampire-nya,”

Kedua mata Taeyeon terbelalak lebar. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi kata-kata itu justru tertelan di tenggorokan. Selama beberapa detik mereka berdua hanya diam dan saat itu juga Jiyong memutuskan untuk pergi.

“Apa depyeonim sudah meminum darahnya?” tanya Taeyeon cepat.

“Dia memiliki istri. Tentu itu sudah dilakukannya sejak tadi, sebelum kau datang ke pesta ini tanpa ada niatan sedikitpun,” jawab Jiyong. Ia tidak membalikkan tubuhnya dan Taeyeon seolah-olah berbicara hanya dengan punggungnya saja.

“Bagaimana… denganmu?” tanya Taeyeon lagi dengan hati-hati. “Kau sudah memiliki kebahagiaanmu, maksudku kau sudah punya pacar. Aku yakin gadis manis itu adalah mate-mu. Lalu, apakah kau sudah ‘makan’?”

“Kenapa kau peduli?” tanya Jiyong sarkastik. “Bukankah tadi kau bilang kalau pertemuan sebulan kita sama sekali tidak berarti apa-apa? Jadi, tidak perlu bertanya hal-hal yang tidak perlu, ‘kan?”

“Aku hanya tidak ingin gadis itu cemburu,” jawab Taeyeon dan menurutnya itu adalah jawaban tak masuk akal. Benarkah?

“Kau sudah bahagia sekarang, jadi sah-sah saja kalau kau melupakan kami semua. Sedangkan aku, aku tidak tahu apakah aku bahagia atau tidak selama lima tahun terakhir ini. Aku tidak tahu siapa mate yang kau maksud. Tapi yang kuketahui hanya satu hal,”

Jiyong berbalik dan matanya menatap Taeyeon, dengan pandangan sendu yang memilukan hati.

“Bahwa aku bahagia akhirnya bisa bertemu denganmu,”

Perkataan Jiyong seperti tamparan untuk Taeyeon, tamparan yang menyakitkan. Ia bergeming, tidak tahu harus berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan tak menyadari air matanya sudah menggenang di kedua pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak dan itu menyakitkan.

 

I miss you again

Even if you close your wet eyes

I remember you

Do you feel like me, too?

I don’t want to love you

As much as I wish

Hopeless desire, I’ll keep it up

GD

 

I saved my words in order to forget you

I tell myself that I really forgot

But in the end, I’m talking about you

But I nedd to forget that I’m trying to forget you

In order to really forget you

-Taeyeon-

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

 

Update~

aku ngga akan PHP kok haha. update kurang cepet juga karena aku buat ceritanya agak lebih panjang supaya bisa end di chap depan.

Thankyou yang udah support, yaaa^^

LOVEYOU

Advertisements

77 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 12)

  1. sumpaahhhhhh~
    berkali-kali cek blog ini dan pas tgl 24-25 aku ga ngcek sama sekali? TT berasa telat bgt !!!! sebel baru bisa baca jam segini dan aku gabisa tidur nyenyak.

    unniyang~
    jebal..
    satu chap lagi kah? tuhkan bener mate jaehyun itu hyesun unni. udah ketebak iti darah hyesun dan mate jiyong ttp taeyeon kan? pokoknya ending chap nya harus lebih panjang:”)
    aku gamau tau ah sebel dan update soon ya ya ya unni sayang~
    aku ga kuat mereka tersiksa akan perasaan mereka sendiri . banyakin gtae momentnya ya unni kalo bisa yg pervert(?) udah lama jiyong ga ‘makan’ taeyeon wkwkkww

    updatesoon~updatesoon~updatesoon~

  2. Lanjuuuut secepat cepatnya thoooor huaaaa baper bgt itu pas ending.. Sukaaaaa bgt.. Btw ini udh mau tamat? Cerita yg lain tamatin jg dong thor hihihii masih ngarep.. Sukses selalu buat author.. Fighting!! ^^

  3. Walah ini sudah bebberapa tahun ke depan,,, apa ada kisah romantis saat mereka bertemu untuk selanjutnya, penasaran dg kisah jiyong dan taeyoen, enggak sabar nunggu cerita lanjutannya…

  4. akhirnya yg ditunggu2 update juga :3
    ya meskipun baca nya agak telat tapi gak papa lah yg penting seneng aku bisa baca chapter2 selanjutnya ..
    Hwaiting Kak Bina *-* terus dilanjut sampe ending ya :v

  5. Uwaaah apdett 😍😍
    Seneng banget sama fanfic ini
    Feel nya dpt,makin seru
    Nextt thor jgn lama lamaa ya,ini paling ditunggu
    Fighting

  6. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Aku kira pacar barunya Jiyong, Nana Komatsu eh ternyata bukan. Seungri rumpi ya pake nyeritain masa lalunya Jiyong sama Taeyeon lagi ke Nana. Tuhkan mereka ketemu diacara yang sama. Taeyeon ternyata masih peduli sama Jiyong rupanya

  8. Wah, 5 tahun kemudian 🙂
    •Kata Taeyeon, “Dia ada di sini. Dia ada di sini. Dia ada di sini.” Ikut deg-degan !
    •Jiyong pilu banget sii… Taeyeon juga… Huhuu
    •Berkali-kali cek this blog, giliran sehari gak cek ternyata besoknya update FF favorit. Hmm… 🙂
    •Iya bener ‘kan, Jaehyun mate-nya Hyesun. Bagaimana seorang vampir tahu kalau mereka adalah mate-nya? Seperti Jaehyun & Hyesun.
    •Perasaan mereka yang menyakitkan, aku juga merasa seperti itu 😦 🙂
    •Scene terakhir bikin baper!
    •Semoga ujung-ujungnya nanti Jiyong ‘makan’ darah Taeyeon 😀 *smirk juga.
    Fighting Author-nim! 🙂
    Fighting All! 😉
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #SOSHIBANG
    #ROYALISTDREAMER
    See you all 😀

  9. Kukira Nana Komatsu, terus tadi lihat nama Hara jadi kukira jadi Hara kekasihnya Jiyong. ‘Kan mereka sempat digosipkan 🙂
    Pasti GTAE bertemu di acara yang sama & benar 🙂

  10. huaaaaa agak late ya aku baca nyaaa. tapi hati aku bergetar thor bacanya kkk baper banget. semangat selalu ya thor

  11. ternyata bener tae emang bukan mate nya jaehyun
    jiyong ketemu lagi sama taeyeon, tapi jiyong udah sama nana huaaa….

  12. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Ngenes bgt jd taeyeon…
    Dah kehilangan jiyoung krang jae hyun jg…
    Mreka dah pda ada gandenganx masing2….
    Lha taeyeon ama capa….

  14. Ngenes bgt jd taeyeon…
    Dah kehilangan jiyoung krang jae hyun jg…
    Mreka dah pda ada gandenganx masing2….
    Lha taeyeon ama capa….
    Moga taeyeon cpet ketemy matex ya…

  15. Sumpahhh, senenf bangetttt mereka ketemuu. Itu gimana jadinya kalo jiyong tau taeyeon udah putus ama jaehyunnnnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s