Two Side [Part 1]

two-side

ALKINDI @Indo Fanfictions Arts

Friendship-Hurt-Romance || Kim Taeyeon-Kwon Jiyong-Park Chanyeol || PG-17

Junsihye storyline

[Teaser]

Setiap perbuatan ada penyebabnya. Misalnya saja, makan karena lapar, tidur karena mengantuk, rindu karena lama tak bertemu, dan lainnya. Taeyeon adalah gadis yang melakukan sesuatu jika memang itu dibutuhkan. Perihal cinta, Taeyeon tidak terlalu memikirkannya. Tapi dia sepertinya hobi merindukan seseorang. Bahkan pada orang yang tidak ia temui dalam sehari.

Terlepas dari hal kecil yang cukup mengganggu itu, Taeyeon menjalani hidupnya dengan baik. Dia mengurus dirinya sendiri selama sepuluh tahun belakangan ini. Bisa dibilang cukup tangguh bagi gadis berusia tujuh belas tahun.

Jaket hitam berbahan kulit itu melekat sempurna di tubuhnya. Cantik. Meskipun dia terlihat lebih cantik jika menggunakan dress putih dan high heels yang tak terlalu tinggi ataupun pakaian yang menunjukkan sisi feminine lainnya. Dia bergegas ditengah rintik hujan yang menghujamnya. Taeyeon begitu percaya diri melawan hujan. Namun apa yang terjadi setelah ini, siapa yang tahu?

Setelah berada di pangkal gang sempit nan gelap, kepalanya menoleh kesana kemari memastikan kondisi sekitar. Dalam kegelapan netranya dapat menangkap seseorang berdiri di dalam sana. Taeyeon menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali dalam satu hembusan. Kaki yang terbalut cenala jeans ketat itu melangkah mendekat pada sosok di dalam sana.

“Kau terlihat sangat cantik dalam keadaan basah seperti ini.” Satu sudut bibir lelaki itu tertarik.

“Berikan saja uangnya,” ucap Taeyeon yang mulai merasa tidak nyaman.

“Tidak ada potongan harga untuk pelanggan setiamu ini?” Lelaki itu meronggoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang.

“Aku bukan orang sebaik itu.” Taeyeon membuang muka sambil menampankan telapak tangannya agar lelaki itu cepat memberinya uang.

Setelah uang itu berada dalam genggamannya, Taeyeon memberikan beberapa butir obat padanya.

“Daripada menjual obat-obatan seperti ini, lebih baik kau menjadi kekasihku. Aku akan memberikanmu apapun yang kau mau.” Tatapan lelaki itu terlihat menggoda sekaligus menjatuhkan. Taeyeon sudah terbiasa dengan perlakuan para konsumennya. Dan dia tak mau ambil pusing tentang itu.

“Kau tidak akan bisa merasakan kenikmatan obat-obat itu jika aku adalah kekasihmu.”

Taeyeon berjalan pergi. Yah, sejatinya dia tak mau masuk dalam dunia yang seperti ini. Hanya saja keadaan yang memaksanya. Setiap perbuatan ada penyebabnya. Taeyeon sendiri tidak mau mencoba barang yang dijualnya, sama sekali tidak ada manfaatnya. Dan tentu saja dia tak mau orang tercintanya menikmati barang-barang seperti itu.

###

Kali ini bukan jaket hitam, melainkan seragam sekolah yang terpasang dengan rapi. Taeyeon seperti memiliki dua dunia. Dan jika ditanya, jelas Taeyeon lebih menyukai dunia yang saat ini sedang dijalaninya. Dunia ditengah para siswa yang mengajar nilai akademis untuk dapat melanjutkan studi ke universitas pilihannya. Dunia persahabatan masa sekolah menengah yang penuh tawa.

Omong-omong tentang persahabatan, Taeyeon memiliki satu orang teman di kelasnya yang tahu dunia gelapnya. Bahkan dia pernah menyelamatkan Taeyeon. Dan gadis itu sangat ketakutan bahkan menganggap orang itu sebuah ancaman. Kalau-kalau dia mengatakan pada semua orang tentang dunia gelap Taeyeon.

Tapi untungnya orang itu adalah Park Chanyeol. Siswa murung yang memiliki kesan misterius. Dia mempunyai dua ataupun tiga sahabat, namun dia yang terlihat paling pendiam diantara mereka. Chanyeol juga seperti tidak memiliki semangat hidup. Belakangan ini Taeyeon selalu mengawasinya, berjaga-jaga.

Saat memasuki jam olahraga, Taeyeon segera mengganti pakaiannya. Teman-teman yang lain sudah memasuki lapangan, sementara Taeyeon terlebih dulu menyiampan barangnya di kelas. Park Chanyeol ada di sana, masih dengan baju seragamnya. Ia berjalan mendekati Taeyeon.

“Kau se-takut itu ya?” Ucapnya dengan wajah yang lempeng.

“Bukan urusanmu, dan aku minta kau jangan mencampuri hidupku. Terimakasih untuk yang kemarin,” jawab Taeyeon yang sudah faham kemana arah pertanyaan Chanyeol.

“Okay! Tapi bisakah kau tidak memperhatikanku lagi? Itu membuatku… yah, terganggu.”

Chanyeol berjalan keluar kelas saat Taeyeon masih terpaku ditempatnya. Dan kali ini sepertinya Taeyeon harus berterimakasih lagi pada Chanyeol yang sudah bersedia tutup mulut.

“Taeyeon-ah kenapa kau lama sekali?” ucap Im Yoona–salah satu teman sekelas dan juga teman dekatnya–yang tiba-tiba datang.

“Aku segera datang!”

###

Di suatu sore, Taeyeon mengunjungi sebuah pub tersembunyi di tengah gemerlap kota Seoul. Hanya orang-orang tertentu yang dapat masuk kesana. Cukup sering Taeyeon mengunjungi tempat itu, setidaknya dua kali dalam seminggu. Tentu saja dia datang untuk melakukan transaksi dengan pelanggan.

Taeyeon bersama dengan Taeyang dan Daesung disana. Dua orang itu memang menjadi kawan Taeyeon, ditambah seorang pria yang tak hadir hari ini.

“Kemana Jiyong?” tanya Taeyeon.

“Dia ada urusan dengan kekasihnya.” Daesung menjawab. Disusul oleh anggukkan kepala Taeyeon.

“Rindu, eoh?” Suara yang tak asing itu muncul dari belakang Taeyeon. Gadis itu, beserta dua lelaki di dekatnya pun menoleh pada sumber suara yang mereka kenal.

Kwon Jiyong duduk di samping Taeyeon. Ini dia lelaki yang Taeyeon rindukan. Sudah beberapa hari belakangan ini Taeyeon tak berinteraksi dengan Jiyong.

Omong-omong ketiga lelaki itu tahu betul Taeyeon memiliki rasa rindu yang akut.

“Tumben sekali cepat datang,” ucap Taeyang karena biasanya Jiyong bisa menghabiskan waktu seharian dengan kekasihnya.

“Kita sudah selesai,” timpal Jiyong.

“Ah, ku kira kau sangat mencintai gadis itu. Ini rekormu, menjalani hubungan selama hampir setengah tahun,” ujar Taeyang.

“Memang,” jawab Jiyong singkat dan lemas.

“Lalu kenapa kalian putus?” Dahi Taeyang berkerut.

“Ah sudahlah!”

Jiyong terlihat tidak bersemangat dan frustasi. Biasanya ia akan santai-santai saja jika putus dengan kekasihnya. Maka untuk kali ini, sudah dapat dipastikan Jiyong memang mencintai mantan kekasihnya itu. Tangannya menuangkan wine pada sebuah gelas. Ia meneguknya lalu mengulangi perbuatannya berkali-kali. Sementara ketiga orang yang duduk bersamanya hanya saling memandang.

“Taeyeon-ssi?”

Taeyeon menoleh. Seorang lelaki dengan tubuh tinggi berdiri disana. Taeyeon merasa lelaki itu masih berumur 12 atau 13 tahun. Tapi mengapa anak itu bisa datang ke tempat seperti ini? Ah, mungkin hanya perasaannya saja, atau lelaki itu memang memiliki wajah baby face.

“Aku datang untuk mengambil pesananku,” ucapnya. Taeyeon sedikit ragu. Tapi lelaki itu kemudian meyakinkannya, “kau berpikir aku masih bocah?” Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, kartu identitas. Barulah Taeyeon percaya bahwa lelaki itu bukan anak kecil.

Setelah transaksi selesai, Taeyeon berpamitan pada Taeyang, Daesung, dan Jiyong karena dia harus menyiapkan tugas untuk besok.

###

Hujan mengguyur Seoul di sore hari. Waktu yang bagus untuk bersantai di rumah, tapi tidak untuk Taeyeon. Dengan pakaian khasnya–jaket hitam dengan jeans–gadis itu bersemangat menghadiri pesta. Choi Siwon, si mafia tampan itu mengundang Taeyeon ke pestanya.

Taxi yang dinaiki Taeyeon kini sudah memasuki sebuah komplek perumahan mewah. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri menikmati pemandangan rumah-rumah yang berdiri megah. Ketika sampai di persimpangan jalan, terdapat pemandangan tidak menyenangkan arah jam sembilan Taeyeon. Itu Chanyeol atau perasaan Taeyeon saja? Mobil taxi itu terus berjalan lurus melewati persimpangan. Dan pada detik itu Taeyeon menghentikan taxi lalu turun dari mobil itu.

Taeyeon berjalan santai ke arah mereka. Chanyeol sedang dipukuli oleh empat orang gangster, Taeyeon tahu mereka.

“Aku kira laki-laki sejati tidak main keroyokan,” ucapnya sambil melipat tangan di dada. Sontak keempat orang itu berhenti memukuli Chanyeol.

“Apa kau mau menemaninya?”

“Tentu saja, dan sepertinya aku harus mengajak Jiyong, Daesung atau Taeyang agar perkelahian ini seimbang.” Taeyeon menyeringai.

Mendengar nama ketiga lelaki itu, mereka langsung kesal namun tak bisa berbuat apapun. Maka keempat orang tersebut pergi, tak lupa dengan kenang-kenangan berupa tatapan sinis dan tajam pada Chanyeol. Taeyeon mendekati Chanyeol. Air hujan mengalirkan darah Chanyeol yang berceceran, seakan menghapus tragedi pukul-pukulan itu.

“Ayo kita ke rumah sakit!” Ajak Taeyeon. Bak pria sejati yang tak pernah merasa sakit, Chanyeol menolak ajakan Taeyeon. Dan dengan tidak sopannya meninggalkan Taeyeon disana tanpa berkata sepatah kata pun.

“Aku sekarang sudah membalas budi padamu, ya?” teriak Taeyeon pada Chanyeol yang semakin menjauh.

###

Semua orang terlihat menikmati pestanya. Ya semuanya, kecuali Jiyong. Dia masih meratapi nasibnya. Tak ada yang dia lakukan selain minum, minum, dan minum. Taeyang dan Daesung sudah mencoba mengajak Jiyong bicara, namun responnya hanya raut wajah Jiyong yang memelas. Ketika Taeyeon datang, Taeyang dan Daesung pergi untuk menemui seseorang. Menyisakan Taeyeon dan Jiyong di sudut ruangan itu.

“Kau masih kesal dengan kekasihmu itu?” Tanya Taeyeon memulai pembicaraan. Jiyong meneguk minumannya sebelum akhirnya menoleh dan mempertemukan manik matanya dengan kepunyaan Taeyeon.

“Ini semua karenamu,” ucap Jiyong hampir tak terdengar.

Tubuh Taeyeon membeku seketika. Seharusnya dia sadar dari awal kalau dirinya adalah duri dalam hubungan asmara Jiyong. Dia terlalu sering mengucap rindu pada Jiyong, mungkin itu yang membuat kekasih Jiyong tak tahan sampai akhirnya memutuskan untuk berpisah.

“Ma-af, aku salah.” Taeyeon menunduk, lantas mengikuti Jiyong menuangkan minuman beralkohol pada gelas kosong. Kemudian mereka meneguknya bersamaan. “Aku akan menemui kekasihmu, dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini,” ucap Taeyeon.

“Sudahlah, jangan lakukan itu, arraseo?”

“Aku tak tahan melihatmu seperti ini terus menerus. Hanya dia yang bisa membuatmu kembali seperti Jiyong yang aku kenal.”

“Dia memintaku untuk tidak berteman denganmu lagi. Jika kau menemuinya, dia juga akan meminta hal itu padamu,” jelas Jiyong.

“Aku hanya perlu menjauhimu ‘kan?” Taeyeon tersenyum kecut.

“Jangan lakukan itu! Dibandingkan dengannya, kau, Taeyang, dan Daesung lebih berharga untukku. Aku sudah memutuskan untuk selalu memilih kalian dalam keadaan apapun, jadi tolong jaga persahabatan kita,” ujar Jiyong membuat air menggenang di pelupuk mata Taeyeon.

“Tapi keadaanmu…,” perkataan Taeyeon terpotong. “Beri aku waktu, untuk memulihkan keadaanku,” sela Jiyong. Taeyeon mengangguk.

###

Sepulangnya dari pesta, Taeyeon bertemu dengan pelanggannya tak jauh dari komplek perumahan mewah itu. Pelanggannya kali ini adalah lelaki berwajah baby face yang pernah ia temui sebelumnya di pub beberapa hari yang lalu. Kali ini Taeyeon tidak sendiri, dia ditemani Daesung karena hari sudah sangat larut. Daesung tentu saja khawatir membiarkan Taeyeon berjalan seorang diri pada jam jam ini. Sementara Taeyang mengantar Jiyong pulang karena lelaki itu mabuk berat.

“Mana dia, kita sudah menunggu lima belas menit disini,” ucap Daesung sambil mengelilingkan pandangannya. Taeyeon hanya menghembuskan napas beratnya. Kantung mata milik gadis itu mulai terlihat dan rasa kantuk teramat sangat menyerangnya saat ini.

“Kau terlihat lelah sekali, kita pulang saja ya?” tawar Daesung.

“Tidak, tunggu beberapa menit lagi.”

Daesung menurut saja. Lagi pula gadis itu tidak akan mau pulang sebelum keperluannya selesai.

Di tengah keheningan malam, suara langkah kaki seseorang menyeruak menusuk indera pendengaran kedua insan yang sudah lumayan lama berdiri disana. Itu dia!

“Menunggu lama?” ucapnya. “Oh, kau bersama kekasihmu? Sayang sekali,” lanjutnya setelah melihat Daesung.

Taeyeon tak menanggapi ucapannya. Mereka melakukan transaksi terlarang itu.

“Terimakasih, aku akan menjadi pelanggan setiamu. Aku suka penampilanmu,” ucapnya lantas pergi dari tempat itu.

Daesung dan Taeyeon berjalan pulang. Taeyeon dengan langkah lunglainya memaksa berjalan dan Daesung selalu siap menjaga Taeyeon agar tak terjatuh.

“Taeyeon-ah…,” panggil Daesung. “Apakah mereka selalu mengganggumu? Maksudku, dia menggodamu walaupun ada aku, kau tidak diperlakukan buruk oleh mereka ‘kan?” tanya Daesung khawatir. Taeyeon tersenyum kecut.

“Sebagian besar begitu, tapi tenang saja aku bisa mengatasinya.”

“Aku akan menemanimu saat kau menemui mereka.”

“Itu hanya akan merepotkanmu saja.”

“Tidak kok, lagipula jika aku tidak bisa menemanimu aku bisa menyuruh Taeyang atau Jiyong.”

“Sudahlah, aku bisa mengatasinya sendiri. Aku terbiasa dengan hal-hal seperti itu.”

###

Dan karena malam sial itu, Taeyeon terlambat bangun 30 menit. Taeyeon tetap bersiap-siap memakai seragam sekolahnya meskipun ia tahu itu akan sia-sia. Hari ini kegiatan belajar di sekolah mungkin tidak akan efektif, karena akan diadakan tour sekaligus pertemuan orang tua. Tapi Taeyeon tetap bersikeras untuk sekolah. Dia bahkan sudah mengunci pintu rumahnya beberapa detik yang lalu.

Tentu saja saat ia datang gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Terdapat penjaga sekolah, guru, dan beberapa murid yang bernasib sial di halaman sekolah. Dia ingin belajar, tapi tubuhnya sedang tak ingin menerima hukuman. Taeyeon jadi berpikir untuk beristirahat saja di rumah. Ketika dia membalikkan badan, seorang lelaki bermarga Park berdiri mematung di hadapannya.

Rupanya Park Chanyeol dengan luka lebam di wajahnya juga terlambat. Taeyeon cukup kaget melihat sosok itu. Setelah berdiri tanpa melakukan apapun, kecuali bernapas tentu saja, ia melangkah. Lalu saat dirinya berpapasan dengan Chanyeol, suara berat lelaki itu menghentikan langkahnya.

“Terimakasih untuk yang kemarin.”

“Tak masalah kau juga membantuku saat itu.”

Entah dorongan dari mana, namun tangan mungil Taeyeon meronggoh tas, lalu mengeluarkan sebuah plester. “Ini…,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Chanyeol hanya memandangi benda kecil itu, kemudian beralih memandangi Taeyeon.

“Tanganmu.” Taeyeon menunjuk telapak tangan Chanyeol yang terluka, sepertinya tergores pada aspal. Sontak lelaki itu mengepalkan tangannya, menyembunyikan luka yang menurutnya memalukan.

“Aku tidak mengerti mengapa kebanyakan laki-laki tidak mau menunjukkan lukanya, itu pasti membuatmu tersiksa ya.” Baiklah kali ini Taeyeon berbicara lebih banyak dari biasanya.

“Itu seperti menunjukkan bahwa aku mudah sekali terluka. Memalukan dan membuat harga diriku seakan berkurang. Terlebih kemarin kau melihatku tak berdaya dipukuli orang-orang keparat itu.”

“Memangnya harga diri itu sangat penting ya?” Pikiran Taeyeon menerawang, dia tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Maksudnya, hey jika kau terluka parah tapi kau menyembunyikannya karena takut harga dirimu jatuh lalu kau mati karenanya. Taeyeon pikir itu konyol, tentu saja nyawa lebih berharga dari apapun.

“Entahlah,” ucap Chanyeol tak yakin. “Omong-omong, apa kau mau pulang lagi?” tanya lelaki jangkung itu.

“Hem, ya menghindari hukuman, lagi pula hari ini kita hanya sekolah setengah hari,” jelas Taeyeon.

“Keberatan menemaniku jalan-jalan?”

Gadis bermarga Kim itu sontak menatap Chanyeol. Hey mereka tidak sedekat itu untuk menghabiskan waktu bersama. Sedikit aneh bagi orang-orang seperti Chanyeol yang tertutup. Lebih aneh dari itu, Taeyeon menggeleng, ia merelakan waktu istirahatnya untuk Chanyeol.

“Tidak,” ucap gadis itu.

Bibir Chanyeol membentuk senyuman. Taeyeon baru pertama kali melihatnya, yah setidaknya dalam satu tahun ini.

Suasana diantara mereka menjadi kikuk. Keduanya kebingungan memilih topik pembicaraan. Chanyeol ingin sekali bertanya mengapa Taeyeon menjual obat terlarang? Namun sepertinya pertanyaan itu terlalu berat dan Chanyeol pun sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Maksudnya hanya sebatas teman sekelas yang ‘cuma’ tahu nama. Sementara Taeyeon sendiri bingung mengapa dirinya bersedia jalan-jalan dengan Chanyeol.

“Hey aku pikir kita bisa menjadi teman,” ucap Chanyeol akhirnya.

“Bukankah kita memang teman. Teman satu kelas,” ujar Taeyeon.

“Maksudku lebih dari teman satu kelas, kau tahu? Seperti dalam cerita novel, film, ataupun drama.” Chanyeol berusaha menjelaskan walaupun dia sendiri kebingungan.

“Kau yakin? Biasanya mereka memiliki konflik.”

“Jadi kau tidak mau?” air wajah Chanyeol terlihat sedikit kecewa.

“Yah, sepertinya menarik juga memiliki teman seperti itu, di kelas,” ucap Taeyeon.

Dan inilah awal dari pertemanan mereka.
Taeyeon berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.

###

Di sudut kamarnya yang rapi bersih Taeyeon termenung. Dia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. Menjual obat-obatan terlarang sejatinya tak perlu dilakukan Taeyeon sejak awal. Walaupun penghasilannya lebih besar daripada bekerja paruh waktu di sebuah resto maupun minimarket. Namun para penagih utang itu tidak memberikan Taeyeon pilihan lain. Gadis sebatang kara itu harus melunasi utang keluarganya yang menumpuk secepat mungkin agar utangnya tidak semakin besar karena bunga yang ditetapkan lintah darat itu sangat merugikan. Karena itulah, Taeyeon dengan tubuh lemahnya berusaha memasuki dunia kelam yang pengap.

Siang tadi para lintah darat itu datang. Mereka menawarkan penawaran bagus. Sebenarnya tidak begitu bagus untuk Taeyeon. Mereka menginginkan rumah Taeyeon, dan jika ia memberikannya maka semua utang keluarganya dianggap lunas.

Taeyeon belum menceritakan hal ini pada Jiyong, Taeyang, dan Daesung. Atau mungkin dia tak akan menceritakannya sama sekali. Taeyeon merasa dirinya sudah sangat merepotkan, terlebih lagi dia sudah merusak hubungan asmara Jiyong. Dan seseorang tiba-tiba saja terlintas di benak Taeyeon, Park Chanyeol. Mungkin lelaki itu mempunyai solusi. Meskipun Taeyeon tak yakin karena hubungan mereka belum terlalu dekat.

Keesokan harinya, Taeyeon menghabiskan jam makan siang di sekolah bersama Chanyeol. Otaknya berusaha merangkai kata, sementara mulutnya kaku untuk berkata. Membuat wajahnya terlihat tegang.

“Ada yang salah?” tanya Chanyeol yang peka terhadap kegelisahan Taeyeon.

“Aku tak bisa mengatakannya.”

“Kau lupa kita sudah berteman?”

“Hem, ya aku ingat.” Taeyeon kemudian mulai menceritakan masalahnya.

“Kau boleh tinggal di rumahku, kalau kau mau. Aku memiliki rumah yang jarang ditempati, yah sesekali aku kesana jika sedang stress,” tawar Chanyeol.

Taeyeon tidak memiliki pilihan lain, meskipun dirinya merasa tak pantas mendapat bantuan sebesar ini dari Chanyeol.

“Omong-omong peringkatmu cukup bagus di semester kemarin,”ucap Chanyeol tiba-tiba.

“Aku sedang berusaha, tapi kenapa peringkatmu sangat anjlok kemarin?”

“Kurasa aku kehilangan semangat belajarku dan aku tidak peduli lagi pada nilai akademik.”

“Kenapa? Kau sudah menentukan masa depanmu?” tanya Taeyeon bingung. Chanyeol termasuk jajaran siswa cerdas di sekolahnya, yah meskipun orang-orang menganggap sikapnya aneh karena selalu terlihat murung dan pendiam. Tapi nyatanya tidak, Taeyeon membuktikan itu. Kau harus menjadi temannya dulu agar tahu sifat asli Chanyeol. Menurut Taeyeon, Chanyeol adalah lelaki yang baik.

Mengenai pertanyaan Taeyeon, Chanyeol sama sekali tak tahu mau dibawa kemana kehidupannya di masa depan. Dia tak mau ambil pusing soal itu. Hidupnya sekarang saja sudah membuat pusing. Orang tua bercerai, ibunya menikah lagi dan meninggalkan Chanyeol serta adiknya, lalu ayahnya yang selalu sibuk bekerja sampai tak pulang-pulang berbulan-bulan. Ditambah lagi Chanyeol pernah memergoki ayahnya sedang mengkonsumsi obat terlarang. Keluarganya sangat kacau.

“Aku tidak peduli,” jawab Chanyeol kemudian. Chanyeol pun menceritakan keadaan keluarganya pada Taeyeon. Tak ada salahnya membicarakan hal itu dengan Taeyeon, lagi pula dia membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Chanyeol rasa Taeyeon adalah orang yang tepat untuk itu.

“Apa kau tidak membenciku? Maksudku, kau tahu aku adalah penjual obat terlarang,” ucap Taeyeon ragu. Seharusnya Chanyeol membenci orang seperti Taeyeon.

“Ya, pada awalnya. Aku tak bermaksud menolongmu waktu itu, tapi aku melakukannya. Dan entah mengapa sejak kau menolongku, aku bertanya-tanya kenapa aku membencimu?” Chanyeol memotong ucapannya, meminum seteguk air mineral dari botol. “Sejak saat itu aku merasa ingin berteman denganmu. Aku pikir aku juga butuh teman bercerita,” lanjutnya.

“Bagaimana dengan Baekhyun, Sehun, dan Jongin? Bukankah kau bersahabat dengan mereka?”

“Ya, tapi aku tak pernah bercerita apapun pada mereka seperti aku menceritakan keadaan keluargaku padamu.”

“Kau percaya padaku?” tanya Taeyeon. Matanya menatap lurus pada Chanyeol yang pandangannya tertuju pada botol mineral. Lelaki itu belum menjawab setelah beberapa detik berlalu.

“Ya.” Sorot matanya yang teduh membalas tatapan Taeyeon. Detik itu juga Taeyeon tahu, Chanyeol kesepian. Chanyeol butuh teman. Bukan sekedar teman, tapi teman sejati yang tak akan pernah meninggalkannya. Dan lelaki itu memilih Taeyeon. Seorang gadis yang notabene-nya penjual barang yang sangat Chanyeol benci. Gadis yang sebelumnya sama sekali tak pernah terlintas di kepalanya.

Taeyeon menyandarkan punggungnya sambil menghembuskan napas cukup keras.

“Kau membuatku terkesan, memberikan kepercayaan seperti itu bukan hal mudah.”

###

Sudah sebulan sejak Taeyeon tinggal di rumah milik Chanyeol. Ternyata lokasi rumahnya tak jauh dari tempat saat Chanyeol dipukuli para gangster. Rumahnya terlalu besar dan mewah, Taeyeon tak pernah membayangkan dirinya akan tinggal dalam bangunan seperti itu untuk waktu yang lama. Hubungannya dengan Chanyeol juga terjalin dengan baik. Bahkan Yoona sampai bingung bagaimana Taeyeon bisa bergaul dengan orang pemurung, aneh, dan pendiam seperti Chanyeol. Ya, mengingat Taeyeon juga cukup pendiam.

Tapi nyatanya tidak. Ketika bersama, mereka jadi lebih banyak bicara. Seperti saat Taeyeon bersama Jiyong.

Belakangan ini Chanyeol sering datang pada Taeyeon. Lelaki itu sedang tertekan. Ayahnya tiba-tiba pergi ke Amerika dan tak akan pernah kembali, setidaknya Chanyeol tahu kemana ayahnya pergi. Adiknya juga sudah seminggu ini tidak pulang, Chanyeol sudah berusaha mencari tapi hasilnya nihil. Jadi siapa lagi yang bisa ia temui selain Taeyeon?

Taeyeon sering kali mengingatkan Chanyeol untuk bersabar dan bersyukur karena meskipun keluarganya hancur, mereka masih hidup di dunia. Berbeda dengan Taeyeon yang sudah tak memiliki keluarga sama sekali.

Chanyeol sangat menyayangi adiknya. Sejak kecil hubungan dia dan adiknya begitu dekat, bahkan tak bisa dipisahkan. Sampai akhirnya terjadi konflik diantara kedua orangtua mereka, dan itu membuat semuanya menjadi berubah drastis. Termasuk sifat adik Chanyeol. Mereka tak sama seperti dulu lagi. Wajar saja jika Chanyeol mati-matian mencari adiknya.

Sore ini lelaki itu juga mendatangi rumah yang ditempati Taeyeon. Merebahkan diri di sofa sambil menikmati segelas kopi yang dibuatkan Taeyeon.

“Kau tidak kemana-mana hari ini?” tanya Chanyeol.

“Heum aku akan pergi ke pub nanti malam,” jawab Taeyeon.

“Jadi aku akan menghabiskan malam sendiri?”

“Tidak akan lama, mungkin hanya dua jam.”

“Baiklah aku akan menunggu disini,” ucap Chanyeol sebelum menyeruput kopinya.

###

“Malam ini aku yang teraktir!” ucap Jiyong. Seketika tiga orang disekitarnya berteriak kegirangan.

“Jiyong kita sudah kembali!” teriak Daesung sambil mengangkat gelasnya. Disusul dengan Taeyang, Taeyeon, kemudian Jiyong.

“Dan untuk merayakan lunasnya utang Taeyeon,” ucap Jiyong.

“Ya! kecilkan suaramu, bodoh!” Taeyeon menjitak kepala Jiyong.

“Mulai sekarang kau tidak boleh menjual obat-obatan itu lagi, aku tidak tega melihat gadis kecil nan cantik sepertimu digoda lelaki brengsek,” ucap Daesung.

“Peri kecil kita yang keras kepala ini sudah berhasil menyelesaikan kutukannya,” ucap Taeyang tak mau kalah. Yah, mereka semua sudah tahu tentang lunasnya utang Taeyeon dan kepindahannya ke rumah Chanyeol. Mulanya Taeyeon tak berniat cerita. Tapi Jiyong kemudian pergi ke rumah Taeyeon yang lama dan mendapati rumah itu sedang dibongkar ataupun direnovasi, jadi Jiyong langsung bertanya pada Taeyeon.

“Aku tidak bisa melewati semuanya tanpa kalian.”

Mereka seperti malaikat penolong bagi Taeyeon. Chanyeol juga. Taeyeon sangat beruntung dikelilingi oleh para lelaki yang bersedia melindunginya disaat ia sedang terpuruk. Mereka acap kali melindungi Taeyeon dari lintah darat yang kasar dan tak punya hati. Taeyeon tak tahu lagi bagaimana dia harus berterimakasih pada mereka dan juga Chanyeol, tentu saja.

“Jadi apa tidak sebaiknya kau mengenalkan teman sekolahmu itu pada kamu?” ucap Jiyong.

“Ya, nanti akan aku kenalkan jika ada waktu.”

Di tengah pesta kecil-kecilan mereka, tiba-tiba seorang pelanggan Taeyeon menghampiri meja.

“Bisa kita berbicara empat mata?” tanyanya. Wajahnya terlihat berbeda sejak terakhir kali ia bertemu dengan Taeyeon. Julukan baby face yang pernah Taeyeon berikan kini seakan pupus. Dia terlihat tua dan tubuhnya kering kerontang.

Dengan sigap Jiyong berdiri menghadang lelaki itu. Jiyong sudah mendengar cerita Daesung tentang Taeyeon yang sering digoda pelanggannya. Dia tak mau Taeyeon diperlakukan seperti itu lagi.

“Bicara saja padaku!” ucap Jiyong galak.

Melihat wajah menyedihkan lelaki itu, Taeyeon jadi tak tega. Dia menepuk pundak Jiyong dan mengisyaratkan untuk mundur membiarkan Taeyeon bertemu lelaki itu.

Lelaki itu membawa Taeyeon keluar pub.

“Beri aku barang!” ucap lelaki itu tangannya bergetar.

“Aku sudah tak menjualnya lagi.”

“Kumohon, aku tidak kuat lagi. Aku sangat membutuhkannya.”

“Tapi aku benar-benar tak bisa memberikannya lagi.”

“Shit!”

Lelaki itu pergi begitu saja. Taeyeon memasuki pub. Sementara diujung jalan sana seorang bertubuh jangkung menghentikan langkah sang lelaki.

“Kemana saja kau?” tanya lelaki yang ternyata adalah Park Chanyeol.

“Bersenang-senang tentu saja,” jawabnya dingin.

“Ada hubungan apa kau dengan perempuan tadi?”

“Aku hanya ingin meminta beberapa butir kebahagiaan darinya.”

Amarah Chanyeol langsung naik seketika. Jadi Taeyeon yang membuat adiknya yang polos menjadi seperti ini. Bahkan Chanyeol hampir tak mengenali adiknya.

“Kau benar-benar berubah,” ucap Chanyeol kecewa.

“Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam keluarga yang hancur. Aku tak bisa menghilangkan eomma dari ingatanku, aku merindukannya setiap saat. Namun aku juga benci eomma yang tiba-tiba berubah lalu meninggalkanku. Aku sama sekali tak menemukan kebahagiaan disana. Yang aku tahu hanya pertengkaran dan kesepian. Sekarang aku sudah tahu cara mengatasi semua itu, menghilangkan ingatan-ingatan buruk itu walaupun hanya sementara.”

Chanyeol tak bisa berkata apa-apa.

“Jangan ganggu aku lagi!” tegas adiknya sebelum pergi.

###

Taeyeon pulang secepat mungkin untuk menemani Chanyeol. Padahal ketiga temannya akan pergi ke rumah Jiyong untuk membuat barbeque. Taeyeon membuka pintu rumah. Matanya langsung mencari keberadaan Chanyeol.

“Chanyeol-ah,” panggilnya. Namun tak mendapat jawaban.

Mungkin dia ada urusan lain, pikir Taeyeon. Gadis itu segera memasuki kamarnya, kepalanya juga agak pusing setelah minum-minum tadi. Jadi Taeyeon memutuskan untuk beristirahat karena esok dia harus sekolah.

###

Taeyeon sudah siap untuk pergi ke sekolah. Dia hanya perlu menunggu Jiyong, karena lelaki itu bilang akan mengantarnya ke sekolah hari ini. Namun, ketika Taeyeon keluar rumah ternyata Jiyong sudah ada di depan rumahnya. Segera Taeyeon melangkahkan kakinya menghampiri Jiyong dengan motor besarnya.

“Cepat ya, aku takut terlambat,” ucap Taeyeon setelah berada di atas motor.

“Serahkan padaku.”

Sepeda motornya mulai melaju kencang.

“Kau sudah berhasil melupakan mantan kekasihmu?” tanya Taeyeon. Pasalnya Taeyeon belum sempat menemui wanita itu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Meskipun Jiyong melarangnya.

“Yah, aku sudah mulai melupakannya sekarang,” jawab Jiyong.

Tapi Taeyeon merasakan sesuatu yang lain. Dia merasa Jiyong berbohong. Lelaki itu hanya menutupi semuanya dengan keceriaan.

“Jangan melakukan hal aneh, mengerti?” ucap Jiyong lagi.

“Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia Jiyeongi,” ucap Taeyeon.

“Kau manis sekali.”

“Baru sadar, eoh.”

“Kau selalu membuatku ingin menjagamu, dasar anak kecil.”

“Ya! kita hanya berbeda 3 tahun, dasar pria tua!”

“Apa? Kau menyebutku pria tua?”

Ne, ahjussi,” ucap Taeyeon sambil menjulurkan lidahnya ke arah spion agar Jiyong melihatnya.

“Sepertinya ada yang ingin terlambat ke sekolah,” ucap Jiyong.

“Kau mengancamku? Kau bilang ingin menjagaku, jika aku terlambat aku akan mendapat hukuman.”

“Tidak aku berubah pikiran,” ucap Jiyong sedingin es.

Dan benar saja Jiyong membuat Taeyeon terlambat. Mau tidak mau gadis itu harus mendapat hukuman.

“Akan ku balas kelakuanmu ini, dasar ahjussi!” geram Taeyeon.

Setelah menyelesaikan hukumannya, Taeyeon diizinkan masuk kelas. Ia tak melihat Chanyeol di kelas. Segera saja gadis itu mengirim pesan pada Chanyeol untuk menanyakan keberadaan sekaligus keadaan lelaki itu.

Beberapa menit kemudian Chanyeol masih belum memberikan jawaban. Ia berkali kali melihat ponselnya sampai membuat pandangan gurunya terganggu.

“Ada masalah nona Kim?” tanya sang guru.

“Tidak, maaf saem,” ucap Taeyeon.

###

Chanyeol hanya duduk di ruang tamu. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Hidupnya semakin kacau. Di tengah lamunannya, suara ketukan pintu membuatnya tersadar. Dengan langkah gontai Chanyeol berjalan menuju pintu rumah kemudian membukanya.

Dua orang berseragam polisi berdiri disana. Chanyeol sendiri bingung. Jangan-jangan mereka akan menangkap ayahnya, karena itu ayahnya pergi.

“Apa ini kediaman Park Yoo Joon?” tanya salah satu dari mereka.

Oh ternyata bukan ayahnya yang bermasalah. Jangan-jangan adiknya berkelahi, pikir Chanyeol.

“Ya, benar.”

“Kami menemukan jasad Park Yoo Joon, dugaan kami dia mengalami overdosis.”

Tubuh Chanyeol lemah seketika. Hidupnya benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Tangannya mengepal, air mata membasahi pelupuknya. Ia tahu siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini.

Kim Taeyeon tunggu saja, aku akan membalas perbuatanmu!-Park Chanyeol.

TBC

Hallo! jangan lupa like & komentar ya:)
Maaf kalo part 1 ini mengecewakan dan moment gtae cuma dikit huhu

Advertisements

18 comments on “Two Side [Part 1]

  1. Ahhh chanyeol-ah itu bkn slah taetae sepenuhnya…
    Ya walaupun dongsaengmu dpt obat2an dr taetae…
    Tp tetep ja jgn bles dendam ama taetae….

  2. Chanyeol-ah mianhae T.T
    * adiknya mb taeyeon
    Wkwkkwkwkwkwk… I want gtae moment 😂😂😂 keep good writing author-nim 😂😂😂

  3. sebenarnya taeyeon gak pantas jadi penjual obat2 terlarang!!
    tp cerita seru kok .. kelanjutannya taeyeon udah gak nerusin dunia gelapnya,,trs knpa chanyeol jd mengancam taeyeon … penasaran sama kelanjutannya Next^^

    ditunggu:-)

  4. gk mengecewakan sih tpi gtae moments nya dkit. 😥 ahah, seru juga sih. jgn lama” updatenya ya ^^ harap” part selanjutnya bnyk gtae moments. ^^

  5. Keren ceritaya chingu
    Kok chanyeol oppa kyaya mau blas dendam je tae unnie,,tambahin moment GTae ya dong chingu.
    Next jgn lama2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s