The Leader’s Secret (Chapter 11)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ bacacomment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 10 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10

~~~

 

“Ingat baik-baik perkataanku ini karena aku hanya akan mengatakannya sekali saja. Jaga dirimu. Selalu waspada dan tetap berhati-hati pada apapun, jangan sampai terkurung dalam situasi yang berbahaya. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan selamanya berada di sisimu. Ini terakhir kalinya aku menasehatimu dan camkan dalam dirimu. Kuharap kau selalu sehat, bahagia, dan hiduplah dengan benar. Jangan pernah menyesali apapun. Termasuk bertemu denganku.

“Kesan pertama saat kita bertemu untuk pertama kalinya memang sangat buruk. Tapi aku tahu kau gadis penyayang yang sangat baik hati. Gomawo untuk semuanya, untuk semua yang kau berikan pada kami berlima khususnya padaku meskipun hanya beberapa minggu. Kasih sayang, perhatian, dan cintamu. Aku tidak akan pernah lupa.

“Gomapta. Kau memberiku perubahan yang sangat hebat, apa kau tahu? Mencintaimu bagaikan hukuman sekaligus hadiah yang diberikan Tuhan untukku. Aku tidak menyesalinya. Takdir ini begitu kejam. Seandainya ada kehidupan kedua setelah aku mati nanti, aku berharap bisa bertemu lagi denganmu. Bahkan aku siap mati sekarang agar bisa menunggumu dengan tenang di sana.

“Keurigo… Terima kasih sudah mencintaiku. Aku berjanji akan melupakan dan menghilangkannya. Kau juga, ‘kan? Kalau begitu, selamat tinggal, Taeyeon-ah,”

~~~

“Hajima!” seru Taeyeon dengan suara keras dan nafas yang tersengal-sengal begitu hebatnya. Air matanya mengalir tiba-tiba membasahi kedua pipinya dan ia baru tersadar kalau saat ini ia tengah terduduk di atas tempat tidurnya, di apartemennya sendiri. Ia baru saja terbangun dari tidurnya. Berarti yang tadi itu mimpi?

Maldo andwae…

“Eonni,” sapa Yuri yang baru masuk ke dalam kamar Taeyeon sambil membawa nampan besar berisi semangkuk bubur dan segelas green tea. “Wae geurae?”

Yuri meletakkan nampan besar itu di atas meja rias Taeyeon dan duduk di sisi tempat tidur gadis itu, memandangi wajah Taeyeon yang tampak sangat lelah sekaligus sedih. Yuri dapat melihat dengan jelas sahabatnya itu menitikkan air mata. Di belainya rambut Taeyeon dengan lembut.

“Eonni…,”

“Katakan sejujurnya padaku Yuri-ah,” potong Taeyeon, suaranya terdengar lemah. “Jiyong yang mengantarku ke sini dan memintamu segera pulang untuk menjagaku, ‘kan? Dia tadi ada di sini, ‘kan sebelum aku terbangun? Aku masih sangat ingat kalau beberapa jam yang lalu kami ada di Jepang, bahkan jauh dari kota,”

Yuri menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menjawab, “Ne, eonni. Semua yang kau katakan benar. Jiyong oppa mengatakan kalau kalian akan melakukan perjalanan panjang di Jepang dan menyuruhku untuk langsung pulang ke Korea dan tinggal di apartemenmu. Besoknya, tepatnya dini hari tadi, aku terkejut sekali melihat Jiyong oppa menggendongmu yang sedang tertidur lelap. Sebelum Jiyong oppa pergi, dia menceritakan semuanya. Dan dia juga sempat menjagamu beberapa jam di sini,”

Taeyeon mengangguk mendengar penjelasan Yuri dan kembali menundukkan wajahnya, berusaha mengeringkan air matanya sendiri. Setidaknya ia lega luar biasa mengetahui kalau apa yang tadi di dengarnya dari bibir laki-laki itu saat ia tidur bukanlah mimpi.

“Eonni,” panggil Yuri pelan setelah mereka berdua terdiam cukup lama dan Yuri merasa yakin kalau Taeyeon sudah tidak menangis lagi. “Kau… Mencintai Jiyong oppa?”

Taeyeon mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Pandangannya jauh ke luar jendela. “Keinginan kalian terkabul, ‘kan? Akhirnya aku bisa jatuh hati pada laki-laki yang jauh dari tipe idealku, dan akhirnya aku bisa mencintai orang lain setelah Jaehyun oppa. Kalau aku katakan aku jatuh cinta padanya, kalian akan bersorak girang dan mendukungku seratus persen. Tapi sepertinya kau sama sekali tidak setuju, Yul,”

“Seharusnya akulah orang pertama yang akan memeluk dan mendukungmu dengan penuh, eonni. Sebelum aku mengetahui kenyataan yang diberitahu oleh ibu Jiyong oppa. Aku… Aku tidak tahu kalau ada rules aneh pada bangsa vampires. Aku tidak tahu kalau dalam memilih pasangan, pun Jiyong oppa tidak bisa sembarangan. Aku tidak tahu kalau dirimu adalah sosok special yang sudah ditetapkan akan menjadi mate bagi seorang vampire. Aku tidak tahu kalau Jiyong oppa dan keluarganya akan mendapat masalah besar jika Jiyong oppa begitu gegabah mengambil sesuatu yang bukan miliknya,”

“Bukan keinginanku untuk memutuskan kepada siapa aku ingin jatuh cinta, Yul. Dari lahir juga aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta pada Jiyong. Jika aku tahu keadaannya akan sangat rumit jika aku jatuh cinta padanya, aku tidak akan mau membuka hatiku sedikit saja untuknya. Kalau aku tahu cinta seperti ini sakitnya, aku akan memohon untuk tidak pernah jatuh cinta,” lirih Taeyeon pelan.

“Mianhaeyo, eonni. Mianhae,” mohon Yuri sambil mendekap Taeyeon dan membelai punggung gadis mungil itu. Jujur saja, Yuri tidak bisa berkata apa-apa karena ia sendiri tidak bisa menyalahkan perasaan seseorang.

“Yuri-ah,” panggil Taeyeon. Air matanya mengalir jatuh membasahi pundak kiri Yuri. “Sepupumu itu menyuruhku untuk segera melupakan perasaan ini, yang bahkan baru saja aku sadari dan berniat untuk memulai semuanya dari awal. Bagaimana menurutmu? Kejam sekali, ‘kan?”

“Jiyong oppa tidak punya pilihan, eonni,” sanggah Yuri, ia melepas pelukannya dan menatap Taeyeon dalam-dalam. “Kalau saja Jiyong oppa bisa mematahkan aturan kuno itu, dia tidak akan mengorbankan semuanya seperti yang kau rasakan ini, eonni. Jika ia tidak memikirkan keluarganya, termasuk aku dan BoA eonni, mungkin dia sudah ada di hadapanmu dan mengajakmu pergi jauh dari Korea.

“Jiyong oppa sudah dapat alarm keras dari ibunya sejak di Thailand. Kurasa saat ini dia tengah di pojokkan di rumahnya karena berani membawa kabur dirimu. Kwon imo sudah tidak tenang semalaman suntuk. Dia begitu khawatir. Selain ingin mencegah terjadinya perang saudara, dia tidak ingin kalian berdua jatuh terlalu dalam,”

“Apa sekarang Jiyong sedang berada di rumah?” tanya Taeyeon.

Yuri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Aku benar-benar sudah lelah dengan semua omong kosong ini, Yul,” ungkap Taeyeon sambil tertawa kecil, nadanya terdengar sedikit merendahkan. “Jika dari kalian ada yang tahu siapa mate-ku, bawa sekarang ke hadapanku. Aku akan tanya padanya kenapa dia tidak datang lebih dulu dari Jiyong. Dan jika dia memang ada di hadapanku sekarang, aku bahkan ragu apakah bisa merasakan cinta lagi. Kalau itu terjadi, apa dia tetap bisa dibilang mate-ku? Kalau aku dan Jiyong memang tidak bisa bersama, kenapa kami bisa saling jatuh cinta? Kenapa aku bahkan rela memberikan darahku untuknya?”

Belum sempat Yuri membuka mulutnya, ponsel Taeyeon berdering menandakan ada telepon masuk. Taeyeon menyeka air matanya sembari mengambil ponselnya yang berada di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia menatap nama si pemanggil. Yang Hyun-suk.

“Yeoboseo, ahjussi?” sapa Taeyeon dengan suara seraknya. “Ke kantor? Ye, aku akan ke sana 30 menit lagi. Aku mengerti, ahjussi. Sampai nanti,”

“Eonni, kakimu masih sakit, ‘kan? Aku bisa katakan kepada Hyun-suk ahjussi untuk meliburkanmu hari ini,” ujar Yuri cemas.

Perasaannya begitu tercampur aduk sejak Jiyong memperlihatkannya kembang api di Jepang sehingga ia baru menyadari kakinya yang terasa perih saat digerakkan. Dia baru ingat tersandung begitu banyak saat melakukan perjalanan di Oki Island. Semua terasa sangat bersinar, sehingga rasa sakit apapun tidak lagi ia rasakan.

“Aniya, Yul,” tolak Taeyeon. “Aku harus menemui Hyun-suk ahjussi. Pasti ada hal yang sangat penting yang ingin ia sampaikan dan aku yakin ini menyangkut pekerjaanku,”

~~~

“Ibu sudah bicarakan masalah ini pada Hyun-suk dan dia setuju akan memecat gadis itu dari pekerjaannya sebagai asisten Bigbang. Mulai hari ini, semua manager kalian kembali bekerja dan gadis itu akan pergi. Semuanya kembali seperti sedia kala dan ibu tidak mau mendengar apapun, apapun tingkah laku bodohmu tentang gadis itu, Jiyong-ah!”

Jiyong hanya diam tidak berkomentar apa-apa sembari memandang langit kota Seoul yang hari ini terang benderang. Ia tidak ingin membuat ibunya kembali murka jika ia membantah ataupun mengelak. Lebih baik diam. Diam dan menuruti semua perkataan ibunya.

“Jiyongie,” panggil Mrs. Kwon dengan penuh tekanan.

“Aku mendengarnya, eomma,” jawab Jiyong pelan.

“Kau hampir membuat jantung ibu berhenti berdetak, apa kau tahu?! Membawa gadis itu pergi jauh tanpa ada yang tahu itu sangat beresiko besar jika tetua kita mengetahuinya!” hardik Mrs. Kwon. “Ibu tidak pernah melarangmu untuk jatuh cinta, untuk berhubungan dengan siapapun. Tapi dari awal kau lahir di dunia ini dengan gen vampire, ibu sudah sering memperingatkanmu untuk jangan gegabah pada gadis yang memiliki darah manis seperti dia! Kita tidak tahu dia milik siapa tapi kenapa kau bisa begitu ceroboh?”

“Eomma,” tegur Dami sambil mengelus kedua bahu ibunya, untuk lebih tenang dan menggunakan kepala dingin. Ia juga merasa sangat iba pada adik semata wayangnya tersebut. Dami tahu persis, tahu sekali bagaimana awalnya adiknya itu jatuh hati pada Taeyeon.

“Kalau kau sekali lagi berbuat ceroboh, kau akan segera dibuang ke Rumania, anakku. Ke kastil kita. Kau tidak akan pernah keluar dari sana, tidak akan melihat dunia luar, dan tidak akan bisa kembali membangun mimpimu. Jebal, ibu hanya tidak ingin berpisah darimu,” isak Mrs. Kwon.

Mendengar isakan sang ibu, Jiyong menolehkan wajahnya menatap Mrs. Kwon, merasa sangat tertampar. Seumur-umur tidak pernah ia membuat air mata ibunya keluar setetespun. Ia juga sudah berjanji kepada dirinya, pada ayahnya jika ia akan melindungi wanita paruh baya itu dengan seluruh hidupnya. Namun, sekarang?

Jiyong bangkit dari duduknya, menghampiri Mrs. Kwon lalu memeluk wanita itu erat. “Mianhae, eomoni. Mianhae. Mianhae. Aku tidak akan meninggalkanmu, yaksokhae. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan tetap di sini,”

“Berjanjilah untuk melupakannya, anakku. Berjanjilah kali ini kau menurut pada aturan kita. Berjanjilah. Suatu hari nanti kau akan memiliki seorang mate yang jauh lebih baik dari gadis itu. Tunggu dan bersabarlah, Yongie-ah. Jangan seperti ini,” isak Mrs. Kwon yang menangis di dalam dekapan hangat anak laki-lakinya.

“Aku berjanji, eomma. Aku janji,” balas Jiyong. Ia tidak bisa menahan air matanya. Namun, ia juga berusaha sekuat tenaga untuk tidak terisak.

Melihat hal itu, Dami terhenyak. Ia memalingkan wajahnya dan buru-buru keluar dari dalam rumah. Untuk menyembunyikan tangisnya yang detik itu juga tak bisa lagi ditahannya. Melihat adiknya yang lagi-lagi harus mengalah pada kenyataan pahit, membuat hati Dami hancur berkeping-keping.

~~~

“Aku sangat berterimakasih sekali padamu selama sebulan ini, Taeng. Kau sangat membantuku, membantu Bigbang, terutama Jiyong. Gomawo karena setiap harinya sudah membuatmu susah dan terpaksa menghentikan aktifitasmu sebagai seorang author. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika Yuri tidak mengajakmu kemari waktu itu,” ungkap Hyun-suk dengan senyuman kecil yang menghiasa wajah tegasnya.

“Tidak perlu seperti itu, ahjussi. Aku juga sangat senang membantumu. Lagipula, aku menerima ini karena Yuri,” jawab Taeyeon pelan. Ia meremas ujung mantel birunya dan memaksakan diri untuk tersenyum. “Semua manager Bigbang pasti sudah menyelesaikan urusan mereka, ‘kan ahjussi,”

Hyun-suk terdiam. Ia menghela nafas pendek dan tampak berfikir keras. “Tidak semua. Hanya manager Jiyong saja. Tapi itu sudah cukup membantu, jadi aku tidak perlu merepotkanmu lagi, Taeyeon-ah,”

“Ah, begitu,”

“Yuri bilang kakimu sakit? Apa kakimu sudah agak baikan?” tanya Hyun-suk.

“Ahjussi tidak perlu mencemaskanku. Hanya tersandung dan terjatuh saja, bukan luka yang cukup serius,” tanggap Taeyeon sambil tertawa renyah.

Hyun-suk mengangguk dan tersenyum kembali. “Kami semua pasti merindukanmu, Taeng. Terutama anak-anak Bigbang itu. Terutama Seungri. Dia selalu memuji masakanmu,”

Taeyeon mengangguk pelan. “Aku juga… pasti merindukan mereka, ahjussi. Kau pasti tertekan saat ini, eoh?”

Hyun-suk tersenyum kecut mendengar ungkapan Taeyeon. “Aku menyesal sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini, untukmu. Kita sama-sama tahu kondisi sekarang tidak begitu mengenakkan di dalam keluarga Jiyong,”

“Joseonghamnida,” lirih Taeyeon.

“Pulang dan istirahatlah,” ujar Hyun-suk. “Seunghyun sudah ada di depan pintu, dia yang akan mengantarkanmu kembali ke apartemen. Dan… Dia juga sudah membawa beberapa barangmu yang ada di apartemen Bigbang,”

“Ne, arraseo,” jawab Taeyeon. Ia bangkit dari sofa ruang kerja Hyun-suk lalu membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan. “Selamat tinggal, ahjussi,”

Hyun-suk menganggukkan kepalanya dan setelah itu Taeyeon berbalik lalu keluar dari dalam kantor. Benar saja, Seunghyun sudah ada di hadapannya, tengah bersandar di dinding samping pintu kantor Hyun-suk sembari merokok. Melihat Taeyeon sudah keluar, ia buru-buru membuang rokoknya dan menyapa Taeyeon dengan senyuman sendunya.

“Gwaenchanna?” sapa Seunghyun.

“Waeyo? Oppa sedih aku akan pergi?” tanya Taeyeon sedikit bercanda.

“Kajja, kita keluar. Aku tahu banyak hal yang ingin kau ceritakan,” ajak Seunghyun. Ia menarik telapak tangan kanan Taeyeon dan menggandengnya keluar dari gedung YG Ent.

“Aku merasa sangat bersalah sekali, oppa,” ungkap Taeyeon pada Seunghyun begitu mereka berdua sudah berada di luar gedung YG dan saat ini tengah berjalan-jalan di taman gedung itu. “Ibu Jiyong pasti memarahinya dan benci padaku,”

“Siapa yang bilang beliau benci padamu? Dia justru mengkhawatirkanmu. Kau… adalah gadis yang special, Taeyeon-ah, tidak bisa disentuh oleh sembarang vampire karena kau sudah memiliki vampire-mu sendiri, mate-mu. Kau dilindungi. Dan Jiyong, jujur saja, melakukan hal yang sangat nekat dengan berulang kali meminum darahmu juga… mencintaimu,” jelas Seunghyun pelan. “Dia bisa mencintai siapa saja. Tapi mencintai seseorang yang sudah memiliki takdir, itu fatal.

“Apa kau tahu akibatnya? Jiyong juga sudah membawamu pergi jauh kemarin. Ibunya mengira dia membawamu kabur itu sebabnya beliau murka. Jika hal ini sampai terdengar oleh kaum mereka, Jiyong akan didepak dari sini dan dikurung bersama vampire lain di sebuah kastil di Rumania. Di sana, dia tidak akan memiliki apa-apa lagi. Hanya hidup sebagai seorang vampire, terpisah dari keluarganya. Ibunya tidak ingin kehilangan Jiyong. Siapapun tidak ingin kehilangan King of everything itu, ‘kan?”

“Lalu,” sambung Taeyeon. Suaranya tercekat. “Siapa mate-ku? Bagaimana kita bisa mengetahuinya? Kita tidak tahu kalau kita tidak mencobanya,”

“Mencobanya? Kita tidak tahu aturan mereka itu seperti apa, Taeng. Kalau kau bilang begitu dan mementingkan ego kalian, perang saudara tidak bisa dielakkan lagi,” tutur Seunghyun. “Aku juga tidak tahu bagaimana kita mengetahui mate kita dan kalau kau memang takdir Jiyong, serumit apapun jalan kalian, aku yakin Jiyong akan tetap menemukanmu,”

“Seandainya aku tahu hal ini akan terjadi, aku tidak perlu membuka hatiku, oppa. Aku… Akan tetap memilih menunggu Jaehyun oppa. Tapi laki-laki itu merusak semuanya. Aku bahkan tidak begitu gembira ketika Jaehyun oppa mengajakku berhubungan kembali,” ungkap Taeyeon. “Untuk pertama kalinya aku merasa monster itu tidak semuanya benar-benar monster begitu mengenal Jiyong. Aku merasa seseorang yang ber­-atittude buruk tidak selamanya benar-benar buruk di dalamnya ketika aku kenal Jiyong.

“Saat aku semakin mengenalnya, aku merasa dia jauh dari kata bad boy. Aku merasakan kesepiannya, kerapuhannya. Dan dia menunjukkan sisi kharismatiknya, sisi liarnya untuk menyembunyikan semua itu. Dan aku jatuh cinta dengan semua sisi yang dia tunjukkan padaku satu per satu. Secara jujur,”

Setitik air mata jatuh membasahi pipi kanan Taeyeon. Seunghyun diam menyaksikannya dan tidak berniat untuk melakukan apa-apa selain mendengar apa yang keluar dari bibir mungil gadis itu.

“Aku ingin sekali, benar-benar ingin, ada di sisinya. Dia menyesali semuanya, gennya, keturunannya. Aku ingin mengatakan padanya, kalau darah yang ada di dalam dirinya merupakan hal yang sangat istimewa. Aku ingin mengatakan kalau darah yang dimilikinya itu bukanlah sesuatu yang menakutkan. Aku ingin mengatakan… kalau dia tidak sendiri. Aku ingin menggenggam tangannya erat dan menunjukkan kalau aku ada, dan aku bahkan mencintai siapa sebenarnya dia.

“Tapi tentu saja. Jika aku melakukannya, aku akan mengantarkannya ke penjara. Lebih baik aku menghilang dari hidupnya dan membiarkannya bahagia bersama seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuknya. Oppa, kalau kau sudah tahu siapa orang itu, katakan padanya untuk mencintai Jiyong setulus dan sepenuh hati, mencintainya apa adanya. Teruslah ada di sisinya dan berikanlah dia kehangatan sebanyak-banyaknya. Aku sangat berharap siapapun gadis itu, harus memiliki perasaan yang jauh lebih hebat dari aku. Dia harus bahagia kali ini, oppa,”

Taeyeon menoleh menatap Seunghyun dan memaksakan dirinya untuk tersenyum lebar. Ia berusaha untuk menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja dengan membunuh perasaannya sendiri. Namun, hal itu tidak bisa dilakukannya. Air matanya tumpah dan Taeyeon bahkan tidak bisa menghentikannya.

Seunghyun mendekat dan ia menarik tubuh mungil Taeyeon dengan lembut lalu membawanya ke dalam pelukan laki-laki itu. Seunghyun membelai dan menepuk-nepuk ubun-ubun kepala Taeyeon dengan sayang, berusaha menghibur gadis itu. Ia tahu betapa lukanya Taeyeon saat ini. Dan ia tahu betapa buruknya nasib serta jalan hidup Jiyong.

Berada di dalam dekapan Seunghyun membuat Taeyeon semakin terisak. Semuanya tumpah. Kekecewaannya, kemarahannya, lukanya, semua. Ia tidak sanggup lagi untuk menahannya meskipun itu beberapa detik saja.

“Dia menyuruhku untuk melupakan perasaan ini,” sambung Taeyeon setelah dirinya menangis cukup lama. “Tapi aku tidak bisa melakukannya. Perasaan ini begitu berharga. Dia memintaku untuk melupakannya tapi mana mungkin kulakukan. Mencintainya merupakan satu kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa kulupakan,”

Seunghyun melepas pelukannya pada Taeyeon dan menatap kedua mata indah dan berkaca-kaca itu. “Jiyong juga tidak akan pernah melupakan perasaannya padamu. Dia akan terus mengingat dan menyimpannya, karena untuk pertama kalinya aku melihat dirinya mencintai seseorang sekaligus mencintai dirinya sendiri,”

Taeyeon tersenyum kecil mendengar ucapan Seunghyun dan ia menganggukkan kepalanya kecil. Seunghyun balas tersenyum dan ia mengambil sapu tangan dari dalam saku jasnya kemudian menyerahkannya pada Taeyeon.

“Kalau kau berwajah seperti itu sesampainya kita di apartemenmu, aku pasti dipukuli Yuri,” ujar Seunghyun, membuat Taeyeon mau tidak mau tertawa dan ia menerima sapu tangan dari laki-laki yang dijuluki ‘TOP’ tersebut.

“Aku akan sangat merindukanmu, oppa,” lirih Taeyeon.

“Nado,” balas Seunghyun. “Dan kita akan saling berkunjung jika sudah saling merindukan,”

“Ani,” sergah Taeyeon. Seunghyun mengerutkan dahinya, bingung. “Lebih baik aku benar-benar ‘menghilang’ dari kehidupan kalian, oppa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku tetap berkomunikasi dengan orang-orang terdekat Jiyong. Aku fikir mungkin akan sulit bagi kami untuk berpindah hati jika aku tetap ada di sekitaran sini,”

“Jadi maksudmu…,”

“Ehm. Aku akan pergi jauh setelah ini. Aku sudah memutuskannya. Aku ingin Jiyong bahagia, aku pun juga akan mencari kebahagiaanku. Kami akan sama-sama bahagia sampai kami lupa betapa indahnya perasaan ini,” jelas Taeyeon mantap. “Itu sebabnya, kau tidak perlu mengantarku pulang, oppa. Biar aku pulang sendiri saja. Titip salam rinduku yang sebesar-besarnya pada Seungri dan Daesung, eoh? Selamat tinggal, oppa. Berbahagialah,”

Seunghyun terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia berkata, “Selamat tinggal? Kau benar-benar serius ternyata,”

Taeyeon mengangguk. Ia melambaikan tangannya pada Seunghyun dan berbalik menjauhi laki-laki itu tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.

Ya, selamat tinggal. Salam perpisahannya adalah selamat tinggal, bukan sampai jumpa ataupun sampai bertemu lagi. Karena gadis itu bertekad tidak ingin kembali lagi.

Semilir angin menerpa rambut serta wajah bening Taeyeon selama gadis itu melangkahkan kakinya menuju halte bus. Ia lega karena Seunghyun tidak bersikeras dan menolak atas perkataannya tadi. Mungkin Seunghyun, pun mengerti atas keputusan yang diambil Taeyeon. Mungkin Seunghyun, pun paham ini yang terbaik untuk mereka semua.

Fikiran Taeyeon kembali berkecamuk pada Jiyong tepat saat ponselnya berdering, menandakan ada panggilan masuk. Taeyeon mengambilnya dan melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya.

“Yeoboseo?” sapa Taeyeon.

“Taeyeon-ssi? Ini aku, Go Hyesun,”

“Ah, annyeonghaseyo, Hyesun-ssi,” sapa Taeyeon canggung. Ada apa seorang Go Hyesun meneleponnya?

“Jaehyun, Taeyeon-ssi,” ungkap Hyesun. “Saat ini dia ada di rumah sakit dan keadaannya sangat buruk. Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia sangat membutuhkan kehadiranmu, Taeyeon-ssi. Bisakah kau menjenguknya sekarang? Aku akan mengirimi alamatnya lewat e-mail,”

“Jinjjayo? Ani, tapi bagaimana bisa? Sakit apa? Aku… aku akan segera ke sana,” jawab Taeyeon dengan kepanikan yang kentara sekali dalam suara serta wajahnya.

Ada apa? Apa yang terjadi pada Jaehyun? Selama ini Taeyeon tidak pernah melihat Jaehyun jatuh sakit sampai terbaring di rumah sakit. Dan dalam keadaan yang buruk? Kritis? Taeyeon benar-benar tidak bisa membayangkan apa-apa dan saat alamat rumah sakit sudah diterimanya dari Hyesun, Taeyeon memaksakan kakinya berlari untuk mencari taksi, sembari berdoa dalam hati sebanyak-banyaknya agar Jaehyun tidak terserang penyakit apapun itu.

~~~

“Sudah beberapa hari ini dia selalu menenggak alkohol dan tidak makan apa-apa, Taeyeon-ssi. Dia tampak frustasi sekali dan kesehatannya benar-benar memburuk. Dia tidak peduli meskipun aku sudah memarahinya. Tapi tetap saja, tingkahnya seperti anak-anak, tidak mau dengar. Sampai akhirnya dia jatuh pingsan saking lemasnya. Sudah dua hari ini dia masih belum siuman,” jelas Hyesun pada Taeyeon.

Taeyeon menggenggam erat tangan kanan Jaehyun yang tampak kurus dan memucat di atas tempat tidur rumah sakit. Ia menggigit bibirnya, menahan perih di dadanya. Apa yang terjadi? Kondisi Jaehyun tampak sangat mengenaskan. Kurus, pucat sekali seperti tidak makan apa-apa. Taeyeon merasa sangat bersalah, entah kenapa.

“Apa yang terjadi padanya, Hyesun-ssi?” tanya Taeyeon dengan suara lirih.

“Dia merindukanmu, Taeyeon-ssi. Sangat merindukanmu,” jawab Hyesun pelan. Taeyeon menolehkan wajahnya menatap Hyesun. “Dia hancur karena sudah kehilangan dirimu. Dia benar-benar menghukum dirinya sendiri waktu itu karena sudah meninggalkanmu selama enam tahun tanpa memberikan jawaban pasti kenapa dia menghilang. Dia menyesal. Sangat. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia menyesal karena akhirnya kau menjatuhkan hatimu untuk orang lain. Dia sangat terpukul dan cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena menurutnya ini mutlak kesalahannya,”

“Mwo?” tanya Taeyeon, bingung sekali. “Aku tidak pernah bilang padanya kalau aku menyukai orang lain,”

Hyesun menggigit bibirnya dan menghela nafas panjang lalu dengan penuh tekad memandang lekat-lekat ke dalam bola mata Taeyeon. “Mungkin aku tidak pantas memberitahukan hal ini padamu, Taeyeon-ssi. Seharusnya yang menjelaskan semuanya adalah Jaehyun sendiri, bukan aku. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa melihat kesedihan dan penyesalan terus-menerus menghantui Jaehyun.

“Taeyeon-ssi. Pertama-tama, kau harus tahu kenapa dan apa alasan Jaehyun memutuskan hubungan kalian enam tahun lalu dan pergi begitu saja tanpa ada kabar. Dia… Dia melakukan rehabilitasi, Taeyeon-ssi. Dan rehab membutuhkan waktu 5 tahun lebih agar dirinya benar-benar bisa seperti ‘manusia’ pada umumnya,”

Tubuh Taeyeon mendadak lemas. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Otaknya seperti mau pecah dan urat nadinya berdenyut menyakitkan. “Jangan katakan padaku, kalau Jaehyun oppa adalah…,”

Vampire. Kau benar, Taeyeon-ssi,” gumam Hyesun. Perut Taeyeon mencelos dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke Jaehyun, menatap laki-laki itu tidak percaya. “Dia begitu mencintaimu. Sangat. Perasaannya tidak pernah berubah dan malah terus berkembang seiring berjalannya waktu. Rasa cintanya yang besar membuatnya rela rehab selama bertahun-tahun agar dirinya yang sebenarnya tidak membuatmu takut dan merasa tersakiti.

“Kau memiliki darah yang sangat manis dan dia percaya kau adalah takdirnya. Tapi dengan dia selalu berada di sisimu membuat jiwa vampire-nya tak dapat dikontrol. Dia takut menyakitimu, membuatmu ketakutan dan pergi meninggalkannya suatu hari nanti bila dia kelepasan. Dia melakukan segalanya agar dapat bertahan di sampingmu walaupun itu harus melakukan rehab sekalipun. Nyatanya, hal yang selama ini dibayangkannya tidak terjadi. Dan dia harus menanggung semua kesakitan itu, Taeyeon-ssi. Sampai-sampai… seperti ini. Kita tahu mereka tidak bisa minum alkohol terlalu banyak dan walaupun dia sudah rehab, dia tetap memerlukan darah,”

“Paboya,” isak Taeyeon kecil. Kedua tangannya menggenggam erat-erat tangan kanan Jaehyun. Air mata Taeyeon pun jatuh membasahi buku-buku jari laki-laki itu. “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, oppa? Dasar idiot. Kau pantas seperti ini, kau begitu bodoh,”

“Taeyeon-ssi,” panggil Hyesun. “Kumohon panggil namanya agar dia sadar dan mau meminum darah yang sudah kusediakan ini. Dia benar-benar merindukanmu,”

Hyesun menyerahkan sekantong besar darah pada Taeyeon. Taeyeon menerimanya dan menatap Hyesun dengan kedua mata berairnya.

“Gamsahamnida, Hyesun-ssi. Gamsahamnida,” ujar Taeyeon.

Hyesun tersenyum dan ia mengangguk. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sekarang, giliranmu menjaganya,”

Taeyeon mengangguk dan ia menatap Hyesun sampai gadis itu keluar dari kamar Jaehyun. Setelah itu, Taeyeon kembali memandang Jaehyun dan menggenggam telapak tangannya.

“Pabo,” bisik Taeyeon. “Jika kau mengatakan dari awal semuanya, aku yakin aku tidak akan pernah takut pada monster apapun, oppa. Kau begitu sempurna di mataku dan aku sangat mencintaimu waktu itu. Jadi bagaimana mungkin aku meninggalkanmu? Jadi, sekarang bangunlah. Bangun dan minum darah ini. Aku tidak pantas menjadi seseorang yang menyebabkan kau seperti ini, oppa. Kau tidak bisa menghukum dirimu seperti ini. Ppali, ireona,”

Taeyeon kembali terisak dan ia mengguncangkan tubuh lemah Jaehyun. Ia pernah mengalami ini bersama Jiyong. Jiyong begitu kesakitan sampai rasanya mau mati karena tidak minum darah. Apalagi Jaehyun yang belum menyentuhnya selama berhari-hari? Memikirkannya saja membuat ulu hati Taeyeon tersedak.

“Apa kau berencana menggulingkan tubuhku dari tempat tidur, Taengie-ah?” tanya Jaehyun dengan suaranya yang pelan sekali. Namun, Taeyeon dapat mendengarnya karena gadis itu melonjak dari kursi untuk memastikan bahwa Jaehyun benar-benar sudah sadar.

“Oppa? Kau sudah sadar, ‘kan?” tanya Taeyeon.

“Aku mendengar suaramu. Awalnya aku fikir aku bermimpi dan takut membuka mataku. Tapi ternyata, aku tidak bermimpi. Kau ada di sisiku saat ini, Taeng,” jawab Jaehyun. Ia tersenyum kecil dengan kedua mata sayunya yang menatap Taeyeon penuh cinta.

“Kau bisa bangun sebentar, oppa? Bersandar pada kepala tempat tidur. Kau harus meminum darah ini agar staminamu kembali penuh,” pinta Taeyeon dengan suara sengaunya. Berapa liter air mata yang sudah ia keluarkan dalam satu hari ini?

Jaehyun tersenyum tipis. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan untuk bersandar pada kepala ranjang rumah sakit sembari memerhatikan gadis yang dicintainya tengah mempersiapkan darah yang ada di sebuah kantong untuk dia minum.

“Jeongmal mianhae, Taeng,” lirih Jaehyun penuh dengan ketulusan. “Aku menyembunyikan semuanya padamu. Aku meninggalkanmu tanpa sebab, membohongimu. Aku membuatmu sangat terluka. Aku tahu bagaimana sosok idealmu dan aku semakin takut untuk menguaknya. Aku melakukan semua ini karena aku ingin mencintaimu tanpa beban apapun, Taeyeon-ah. Aku mencintaimu, sangat. Kau tahu kenapa? Mungkin karena aku adalah takdirmu, mate-mu,”

Taeyeon terdiam mendengar penuturan Jaehyun. Mate?

“Kau juga mungkin sudah menemukan pasangan sejatimu tapi belum menyadarinya sama sekali. Ah, mungkin kau juga sudah mencintainya,”

Ucapan Jiyong waktu itu mengenai mate untuk Taeyeon kembali terngiang. Apakah Jaehyun yang dimaksud laki-laki itu? Apakah memang benar-benar seorang Ahn Jaehyun yang merupakan mate untuk Taeyeon? Itu sebabnyakah dia masih sanggup menunggu tanpa kepastian selama bertahun-tahun hanya demi Jaehyun? Itu sebabnyakah sampai saat ini, pun Jaehyun masih sangat mencintainya dan melakukan apapun hanya untuk dirinya seorang? Tapi kenapa perasaan Taeyeon teralihkan begitu ia bertemu dengan Jiyong?

Jaehyun menarik pergelangan tangan kanan gadis itu dan menggenggam telapak tangan Taeyeon dengan erat. “Maukah kau tetap ada di sisiku, Taeng walaupun aku ini bukanlah sosok yang mempesona seperti bayanganmu dulu? Maukah kau menjadi satu-satunya orang yang mengisi kekuranganku? Bisakah kita mengulang semuanya dari awal?”

Apakah ini kebahagiaan yang akhirnya akan ia tempuh? Apakah memang benar Jaehyun? Jika memang benar begitu…

Taeyeon membalas genggaman erat tangan Jaehyun. Sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum, Taeyeon menganggukkan kepalanya, meskipun tak dapat dipungkiri lagi-lagi air matanya menggenang di kedua pelupuk matanya.

“Ne, ayo sama-sama kita mulai dari awal, oppa,” jawab Taeyeon pasti.

Wajah Jaehyun berbinar-binar detik itu juga. Ia menarik tubuh Taeyeon secara lembut dan memeluk gadisnya penuh dengan rasa sayang dan cinta. Taeyeon balas memeluk Jaehyun dan menyandarkan dagunya dengan nyaman di atas pundak kiri laki-laki itu. Ia dapat merasakan Jaehyun membelai rambut Taeyeon berulang kali.

Mungkin ini memang yang terbaik bagi Taeyeon dan juga Jiyong. Dalam hati Taeyeon yang paling dalam, dia berharap Jiyong juga segera mendapatkan kebahagiannya yang abadi.

~~~

Selesai meminum darahnya, Jaehyun kembali berbaring di atas tempat tidur dengan Taeyeon yang masih setia menungguinya. Taeyeon membelai lembut ubun-ubun kepala Jaehyun sambil saling bertukar cerita selama hampir setengah jam lamanya. Hingga Jaehyun mulai mengantuk, ia mengecup punggung tangan Taeyeon yang daritadi membelai rambutnya lalu memejamkan kedua matanya, tidur.

Taeyeon tersenyum kecil menatap Jaehyun. Sudah enam tahun lamanya, dan Jaehyun masih tetap seperti bayi ketika tidur. Begitu menggemaskan di dalam mata Taeyeon.

“Oppa,” panggil Taeyeon setelah ia yakin kalau Jaehyun belum benar-benar terlelap.

“Heung?” jawab Jaehyun. Ia membuka kedua kelopak matanya dan memandang wajah bening gadisnya.

“Biasanya kau minum darah apa?” tanya Taeyeon hati-hati. “Selama ini, sehabis rehab,”

“Darah hewan juga sudah cukup untukku, salah satu kelebihan rehab,” jawab Jaehyun.

“Kalau begitu, apa yang baru saja kau minum ini juga darah hewan?” tanya Taeyeon, menunjukkan kantong kosong yang tadi berisi darah.

“Aniya. Aku rasa tidak. Darah ini lebih enak dan… terasa sangat nikmat. Aku memang tidak pernah meminum darah manusia lagi, tapi aku yakin ini darah manusia. Apa kau tidak tahu darah ini berasal dari mana?” Jaehyun balik bertanya. Dahinya mengerut.

Taeyeon menggeleng pelan. “Aku mendapatkannya dari Hyesun. Tapi aku tidak tanya dia dapat dari mana,”

“Ah, apa mungkin dapat dari rumah sakit ini?” tebak Jaehyun, walaupun begitu laki-laki itu sendiripun meragukan sendiri tebakannya.

“Mungkin saja,” ujar Taeyeon. “Sepertinya kalian sangat dekat sampai-sampai dia tahu kalau kau vampire,”

“Dia gadis yang cukup cerdas. Sewaktu kami syuting bersama untuk pertama kalinya, aku tertangkap basah tengah meminum jus tomat yang aku kira adalah darah. Dia tidak terlalu terkejut, dia malah menertawaiku dan sejak itu aku merasa nyaman untuk bercerita apa saja, termasuk tentang dirimu,” jelas Jaehyun.

“Haah~ itu artinya aku tidak cukup cerdas untuk mengetahui siapa dirimu. Padahal tiga tahun kita bersama-sama waktu itu,” canda Taeyeon.

“Mungkin saja,” timpal Jaehyun dan ia tersenyum lebar seraya mencubit pipi kanan Taeyeon pelan.

~~~

“Kau pasti bercanda, Taeng. Leluconmu sangat payah,” ledek Dami pada Taeyeon, yang saat itu tengah menghadap kakak satu-satunya Jiyong di kantor Webtoon Naver. Sudah lama sekali sejak Taeyeon menjadi asisten Bigbang dia tidak mengunjungi kantor itu. Rasanya sangat rindu. Meskipun begitu, Taeyeon datang kembali ke kantor bukan karena dia ingin kembali bekerja.

Melainkan mengundurkan diri.

“Aku tidak pernah bercanda padamu mengenai pekerjaan, eonni,” sanggah Taeyeon pelan.

“Itu namanya kau bercanda,” ujar Dami. Senyum di wajahnya menghilang dan Taeyeon dapat melihat gurat kekecewaan bercampur kebingungan di wajah Dami, wajah yang selalu mengingatkannya pada Kwon Jiyong. “Bagaimana bisa kau meninggalkan pekerjaanmu di tengah jalan? Menggantungkan semuanya tanpa ada penjelasan apa-apa. Okay, kau punya penjelasan itu tapi apa yang akan dikatakan para pembaca?”

“Aku sudah menyerahkan semua pertinggal ceritaku pada Soojin eonni. Dia tahu semuanya dan bersedia menggantikanku. Dan dia juga akan mencantumkan penjelasannya di bagian belakang komik,” jelas Taeyeon cepat.

“Kim Taeyeon,” ujar Dami, masih sulit percaya. “Jangan katakan padaku kau melakukan ini secara tiba-tiba karena…,”

“Tidak ada hubungannya dengan adikmu, eonni. Sama sekali tidak,” kilah Taeyeon. “Aku hanya ingin berkorban untuk seseorang yang selama ini sudah banyak sekali berkorban untukku. Kalau aku tetap menekuni ini, aku dan dia akan terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Setidaknya, aku ingin membalas semua pengorbanannya. Dengan mengalah,”

“Maksudmu… kau kembali bersama dengan Ahn Jaehyun?” bisik Dami.

“Ne, eonni,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum lebar. “Aku sudah menemukan jalan kebahagiaanku. Kau tidak mungkin tidak tahu siapa dia. Mungkin dia adalah seseorang yang dimaksud oleh Mrs. Kwon. Mungkin aku adalah mate-nya,”

“Jinjjayo?” tanya Dami lagi, kali ini ekspresinya benar-benar dipenuhi dengan kebimbangan. “Kalau begitu, kau akan bekerja di mana?”

“Aku sudah memasukkan lamaran menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan. Aku berharap sekali bisa diterima di sana. Karena perusahaan itu juga agensi Jaehyun oppa,” jawab Taeyeon.

“Jika seperti itu keputusanmu aku bisa apa?” gumam Dami, cukup kuat untuk bisa didengar Taeyeon. “Kuharap kau baik-baik saja, Taeng. Dan benar-benar hidup bahagia bersama Jaehyun kali ini. Sampai selamanya,”

“Gamsahamnida, eonni. Aku juga berharap yang sama untukmu dan untuk keluargamu,” balas Taeyeon. “Aku pamit, eonni. Selamat tinggal,”

“Ani,” sergah Dami, membuat langkah Taeyeon untuk keluar dari kantor terhenti. “Sampai nanti, eonni. Seharusnya itu yang kau ucapkan. Apa kau berencana tidak mengundangku jika suatu hari nanti kau menikah dengan Jaehyun?”

“Ah, ne. Sampai bertemu lagi, eonni,”

“Annyeong,” balas Dami. Ia melambaikan tangannya pada Taeyeon yang segera menghilang dari balik pintu kantor Dami. Tepat saat pintu itu tertutup, senyum Dami menghilang dan ia tampak sedang berfikir keras.

Sejujurnya, dia tidak benar-benar serius ketika mengucapkan ‘semoga berbahagia dengan Jaehyun’. Dami tahu hal itu dianggap sangat kejam. Mungkin dikarenakan ia juga sudah terlanjur ‘menyukai’ sosok Taeyeon untuk adiknya.

~~~

Di tengah perjalanannya menuju parkiran mobil, Taeyeon sibuk membaca-baca artikel yang masuk dalam notifikasi e-mail-nya. Kebanyakan berita yang tampak popular dan masih fresh adalah tentang adanya tur dunia yang akan kembali dilakukan oleh G-Dragon cs serta pembelian tiket online yang dalam waktu kurang dari semenit sudah habis terjual.

“Mereka sangat terkenal juga sibuk,” gumam Taeyeon. Ia menyunggingkan senyuman manisnya tatkala kedua matanya menangkap wajah Jiyong di dalam berita tersebut. “Manager mereka pasti kerepotan,”

Betapa Taeyeon merindukan momen-momen itu, jujur saja. Dan setelah ia membaca habis artikel-artikel dalam ponselnya itu, Taeyeon memasukkan kembali ponselnya lalu menghadapkan wajahnya ke depan.

Entah hanya perasaannya saja atau karena dia baru saja melihat nama serta wajah Jiyong di dalam artikel-artikel tadi, Taeyeon kini dapat melihat sosok orang itu di depannya. Sosok itu memakai jaket hitam dengan tudungnya ia pakai dan tak lupa masker putihnya. Walaupun wajahnya tidak begitu kelihatan, Taeyeon sangat mengenal style orang itu. Jadi, tidak mungkin dia salah mengenal orang saat ini.

Orang itu juga sedang melangkah menuju dirinya. Tidak, tidak menuju dirinya. Laki-laki itu melewatinya. Taeyeon ingin sekali menahan arah matanya untuk tidak memandang laki-laki itu. Namun, hatinya menolak. Ia menghentikan langkah kakinya dan segera berbalik, memastikan apakah dia sedang berkhayal atau tidak.

Laki-laki itu juga berhenti dan menoleh. Mereka menoleh di saat yang bersamaan. Taeyeon dapat melihat kedua mata cokelat Jiyong di sela-sela tudung jaketnya. Kedua mata itu memancarkan keterkejutan yang tidak dapat disembunyikan, sama halnya dengan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh Taeyeon saat ini.

Tubuh Taeyeon bergetar. Bergetar menahan gejolak untuk tidak lari ke arah Jiyong dan menanyakan bagaimana keadaannya sekarang, apakah baik-baik saja? Apakah tidak ada masalah yang menimpanya? Apakah dirinya semakin baik dari hari ke hari? Taeyeon ingin sekali mendekat dan bertanya apakah dia ‘makan’ dengan teratur dan menjaga kesehatannya dengan baik atau masih saja sembarangan. Taeyeon ingin tahu.

Tapi itu tidak boleh terjadi.

Di sisi lain, Jiyong juga tengah mengepalkan kedua tangannya. Dia mati-matian mengontrol tubuhnya untuk tidak bergerak dan memeluk gadis itu dengan sangat erat. Dia berusaha keras untuk tidak menyuarakan kerinduannya yang mendalam, yang selama ini ditahannya. Ia ingin sekali menghampiri gadis itu dan menanyakan, ‘bagaimana keadaanmu?’

Lagi-lagi dia harus menahannya, hingga dadanya kembali terasa sakit. Jauh lebih sakit dari kemarin-kemarin.

“Kau baru saja menemui Dami noona?” tanya Jiyong, setelah beberapa detik lamanya mereka saling terdiam, menyelami rasa rindu di hati masing-masing.

Taeyeon tersentak dengan mata berkaca-kaca. “N…Ne,”

Keduanya terdiam lagi. Kali ini Taeyeon membiarkan air matanya jatuh kembali. Dadanya begitu sesak, dia tidak sanggup untuk menahan rasa rindu itu sehingga ia lebih memilih menangis.

“Aku juga mau bertemu dengannya,” sambung Jiyong. “Apa kabar? Kakimu sudah baikan?”

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Taeyeon dengan suara sedikit bergetar. “Kabar kalian berlima juga pasti baik-baik saja, ‘kan?”

“Sangat baik,” jawab Jiyong. “Seungri begitu merindukan masakanmu,”

“Begitukah? Aku juga merindukannya,” balas Taeyeon. “Aku merindukan…,”

Nafas Taeyeon tercekat. Ia langsung menelan kata-katanya, memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ia tahu hal itu tidak boleh dilakukannya.

Dia sudah berjanji akan bahagia bersama Jaehyun.

“Bogoshippeoseoyo,” ungkap Jiyong dengan nada yang tegas. “Dan aku senang sekali melihatmu baik-baik saja,”

Hancur sudah tembok di hati Taeyeon. Mendengar ungkapan Jiyong membuatnya terisak kecil. Ia memegangi dada kirinya yang begitu pedih dengan wajah tertunduk.

“Nado,” balas Taeyeon di sela-sela isakannya. Taeyeon tidak tahu, isakannya justru membuat luka di hati Jiyong semakin lebar. “Tapi aku sudah menemukan kebahagiaanku. Seperti yang kau bilang waktu itu. Aku menemukannya, aku sudah menemukannya dan aku bahkan sudah mencintainya,”

“Ara,” jawab Jiyong tenang.

“Kau juga,” lanjut Taeyeon. Isakannya berhenti dan dengan sekuat tenaga ia memandang Jiyong lekat-lekat. “Kau juga harus berbahagia. Aku yakin ada seseorang yang akan sangat mencintaimu apa adanya. Jangan pernah menganggap dirimu itu aneh atau apapun lagi. Sadarlah kalau kau itu snagat berharga,”

“Kalau hal itu aku juga sudah tahu,” jawab Jiyong dan Taeyeon dapat merasakan laki-laki itu tersenyum lembut di balik masker putihnya.

“Satu hal lagi,” ujar Taeyeon cepat. Dia bertekad ingin menyampaikan semuanya sebelum dirinya benar-benar pergi dari kehidupan orang yang ada di hadapannya ini. “Gomawoyo, jinjja-jinjja gomawoyo karena sudah menunjukkan padaku hal-hal hebat di Oki Island, karena sudah menunjukkan padaku pulau seindah itu dan kembang api yang sangat istimewa itu. Aku akan terus menyimpan kenangan itu sampai kapanpun.

“Dan aku sangat bersyukur kau tidak menghapus ingatanku waktu itu. Semuanya sangat indah, bahkan perasaanku padamu, jadi aku sangat berterimakasih karena kau tidak berusaha untuk menghilangkannya. Juga… gomawo karena sudah memperlihatkanku sisimu yang indah, Jiyong-ssi. Aku mencintaimu dan hal itu akan aku simpan. Aku tidak berjanji untuk menghilangkannya ataupun melupakannya seperti yang kau ucapkan. Mianhae. Tapi kalau kau mau, kau boleh saja-saja melakukannya. Kalau begitu, sampai di sini, Jiyong-ssi. Aku pergi,”

Taeyeon membungkukkan tubuhnya sedikit dan berbalik untuk pergi dari hadapan Jiyong. Mendengar penuturan dari bibir mungil gadis itu, sukses menjatuhkan beberapa tetes air mata Jiyong. Ingin sekali rasanya ia berlari dan mendekap gadis itu dari belakang, melarangnya pergi menjauh. Dia tidak ingin gadis itu pergi. Dia tahu gadis itu benar-benar akan menghilang dari hidupnya. Dia tidak ingin. Sama sekali tidak menginginkannya.

Meskipun begitu, tubuh Jiyong tetap berdiri di tempatnya. Kedua matanya yang berair mengawasi kepergian Taeyeon yang sudah tidak tampak.

“Annyeong, Taeyeon-ah,” bisik Jiyong. Tanpa terasa, masker putihnya sudah basah karena air matanya sendiri. Tidak akan ada yang tahu bagaimana rasanya sakit yang sekarang ini Jiyong alami. Takkan ada.

Setidaknya, perpisahan mereka bisa dibilang perpisahan yang manis. Saling mendoakan kebahagiaan masing-masing, walaupun hal itu sangat sulit dilakukan.

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

Mian lama hahahaha! Siapa yang masih setia di sini??? Walaupun lama, tapi FF ini tetep akan berlanjut sampai selesai.

Btw, ending-nya mungkin satu atau dua chap lagi, yaa^^

See you soon, RDs muah~

Advertisements

93 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 11)

  1. Yess akhirnya update jugaa.
    Tebakan aku kyaknya darah manusia yang diminun jaehyun itu darahnya hyesun deh😕.smoga aja dan jaehyun mnemukan matenya .dan akhirnyaaa bang jidi sama taeyeon dehhh😍😁

  2. Akhirnya diupdate jugaa.. aku benar benar berharap endingnya happy ending ya kak. Ditunggu chapter selanjutnya, keep writing!

  3. Beneran emguras hati perpisahan mereka dua orang yv saling mencintai tp tidak bisa bersama, aku berharap endingnya akan bahagia, apa taeyorn beneran akan kembali ke jae hyun , dan aku rasa hyesun suka sama jaehyun, dan kalo benar berarti darah yg diminum jaehyun adalah darahnya hyesun, tp enggak tahu hehhe di tunggu cerita selanjutnya….

  4. Q berharap akhr yg bahagia ka.. . . Mrka sama 2 menemukan mate mrka dan tanpa ada penyesalan. #pengennya mate GD Adalah taeyeon, dan matenya taeyeon adlh GD Hahahag

  5. Aku bersyukur bgt deh author updet lg soalny blog ini tuh sekarang2 ini makin sepi udh kek kuburan. Authorny ngilang readers pun ikut ngilang. Sorry jdi malah curhat.
    Ahh aku sampe baca chap sebelumny soalny lupa . tapi thor sumpah chap ini tuh bikin baper bgt . greget jg soalny taeng sm jiyong udh saling mencintai tpi gk bisa bersatu tuh rasany sakit bgt. Penasaran Taeng itu sebenerny mate siapaa?? semoga aja jiyong yahh . oke thor i waiting for next chap please keep writing and Fighting!!! 사랑해요 ^^

  6. Mewekkkk aq bacanya…
    Bacanya pelan2 krna takut ketemu kata2 ‘to be continued’,
    Yahhh pada akhirnya te2p ktemu jg dng kata2 keramat itu, hiksss

  7. Akan kah berakhir sad ending? Pliss jangan 😭😭
    I need Gtae, chap sebelumnya n chap ini bener” nguras emosi n air mata, feel nya bener” dapet, 😭😭😭😭
    Pliss jangan sad ending author bina 😭😭😭😭🙏🙏🙏
    Kutunggu next chapnya, fighting🙌🙌🙌

  8. Sedih yalord *-* aku sama temenku bacanya hampir nangis 😀
    nungguin banget lanjutannya ..
    Awalnya dikasih tau temen kalo Chapter 11 udah ada, dan saat itu juga aku langsung ribut nyari hp buat liat dan langsung baca *-*
    Ditunggu lagi pokonya Chapter selanjutnya *-*

  9. Sedihhhh..
    Makasii bgt buat author yg udh update ceritanya.. Ini salah satu ff gtae fav aku hehe
    Ditunggu next chapternya yaa..

  10. Duh kok nyesek:”
    Meskipun jaehyun baik, tapi lebih berharap taeyeon sama jiyong aja deh eonni😫 dan juga semoga happy ending yahh~
    See you next chapter. Semangat^^

  11. Akhirnya setelah penantian yg panjang authornim update juga chapter ini huhu. Makin geregetan sendiri baca nya thor. Aku tunggu bgt ending nya yaa thor. Kalo bsa sih jgn lama2 jga update nya ㅋㅋㅋㅋ. Fighting authornimm !!!💪💪💪

  12. authorrr ini sedih bangettt yakin:” tapi mksh bangettt krn author udh mau nglanjutin ff ini, kty mate.nya jiyong kan author? pkoknya untuk endingnya sangat ditunggu. fighting author!!!

  13. Akhirnya setelah 6 bulan TLS muncul lagi. Jujur, jika ini ending akan sangat melegakan bagiku karena jika TBC aku khawatir Authir Bina eonni lama ngepost next chapter 🙂 ( hanya kekhawatiran 🙂 ).
    •Semuanya mimpi? Ahh, bukan mimpi, ‘kan? Fiuh… Benar bukan mimpi.
    •Ahh, Taeyeon bukan mate Jaehyun tapi Jiyonh, ayolah…
    •Hyesum mate.nya Jaehyun kali ( In real life emang iya sih 🙂 ). Hyesun menyukai Jaehyun tapi dipendam demi kebahagiaan Jaehyun. Mungkin.
    •BIGBANG sibuk sendiri & Tae hanya bisa senyum. Uuh… Ulu hatiku merasakan sekali perasaan mereka 😦 ( Berkaca-kaca ) 😉
    •Jiyong bertemu Taeyeon & saling diam. Huh, satu kata, baper.
    •Kata Jiyong pada Taeyeon “Bogoshippeseoyo,” ahh Jiii… Bikin baper.
    •Iya semua sudah ditunjukkan di Oki Island termasuk kiss, uuu… *ups 🙂
    •Jiyong menangis baru pertama kali, ya? Sedih. Baper. Entah berapa kali aju tulis ‘baper’ di sini. Emang baper, sih.
    •Dari tadi nebak-nebak apa akan TBC / End kalau end kayaknya masih sedikit jauh. Dan ternyata ahh masih TBC.
    •Benar kata salah satu readers, barcelonista, bacanya pelan takut TBC 🙂
    •Hampir nangis. Kalau chapter 10 aku nangis di scene terakhir sebelum TBC. -curhat- 🙂
    Bina eonni ku harap next.nya tidak lama 🙂
    Fighting Author-nim for the next chapter! 🙂
    Fighting All! 😀
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #ROYALISTDREAMER

  14. huwaahhh, berarti taeyeon ga jadi manager bigbang lagi yaaa?? hmmm, ceritanya bikin baper, wkwk. taeng nangis, jiyong nangis, yg baca juga ikutan nangis nih jangan-jangan:”v next chapter update kilat yak thor, wkwkwk. ini sad ending keknya seru nih:”v dibikin sad ending aja kak:”v

  15. Akhirnya update juga kak…gila nunggu nya lama bgt, tp terbayar kok sma ceritanya, bikin nangis baca nya. Sedih bgt sma nasib taeyeon dan jiyong, kek mrka trpaksa pisah pdhl hati mrka pngn saling memeluk, ngg kebayang gmna sakit nya mereka…ㅠㅠ
    Ditunggu lanjutannya kak, jgn lama2 hehe^^

  16. Aku pikir spertinya bkal di PHPin lgi. 5 bulan lgi kah?? Ditambah butterfly kiss n bless sinner…hm hm..aq tak tau lagi harus bagaimana menunggumu update secepatnya author-nim. Dg sangat jelas diri ini begitu kehausan ff gtae. Why I love u so much. Cz author nim punya alur crita yg sulit ditebak. Gg membosankan. Panjang…n bisa menggambarkan karater gdragon n taeyeon dg sempurna. Sayangnyaa…kapan update lagi…aq yakin dg otak encermu bikin ff pasti banyak ide bermunculan. Aq akan membacanyaa authornim…palliwaa…sering2lah update..you’re the best author that I’ve ever known…😢

  17. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  19. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

  20. Huhuhuhu,, demi apaaa akhirnyaaa seneng langsung tau diup. Ini kenapa mata pedih bangt baca ini. Please tolong jadikan mereka takdir huhuhy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s