Butterfly Kiss (Chapter 1)

16230992_2213749545516946_1724012736041451520_n

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by :

IG | @k.editingcafe req by : @jiyongtaeyeon

A/N : New FF here! Don’t be upset to me kkk I really am sorry TT.TT sayang kalau inspirasinya ngga ketuang haha. One more time, sorry and enjoy!

~~~

Seorang gadis berambut panjang berwarna hitam kecokelatan dengan sedikit ikal membuka pintu sebuah taksi yang ia naiki dari Yongdap Station menuju ke Seongsu-dong, Seongdong-gu atau lebih dikenal dengan istilah Distrik Seongdong. Ia mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada si supir taksi sebelum dirinya keluar sambil menarik sebuah koper besar berwarna violet dan tak lupa tas ranselnya.

“Woah,” takjub si gadis dengan menengadahkan wajah cantiknya ke atas untuk melihat dua bangunan sangat tinggi dan menakjubkan yang ada di hadapannya. Gadis itu mengira-ngira jumlai lantai yang ada di kedua bangunan tersebut melebihi 40 lantai dan ratusan lebih unit di dalamnya.

Gadis yang diketahui namanya adalah Kim Taeyeon itu kembali mengecek ponselnya guna memeriksa alamat condo yang seharusnya ia tuju. Dan ia tidak mungkin salah. Benar ini. Kedua gedung yang ada di hadapannya ini adalah tempat yang orangtuanya beritahukan kepadanya sejak ia masih duduk di bangku kuliah.

“Galleria Forêt, Seongsu-dong, Seongdong-gu, Seoul,” gumam Taeyeon sambil terus membaca di dalam ponselnya. “Aku benar. Ini dia. Tidak mungkin salah,”

Taeyeon lalu menyimpan ponselnya dalam saku celana dan menyeret koper violet-nya menuju ke arah bangunan mewah tersebut. Sesampainya di depan pintu gedung, gadis mungil berparas cantik itu kembali mengambil ponselnya dan mencari-cari nama seseorang yang ada dalam kontak teleponnya. Setelah menemukannya, ia langsung menghubungi orang tersebut.

Yeoboseo?” sapa seseorang di ujung telepon.

“Ah, yeoboseo. Kim Taeyeon imnida,” balas Taeyeon sambil membungkukkan badannya, padahal dia sendiri tahu kalau orang yang ada di telepon itu tidak akan dapat melihatnya.

Ah, Kim Taeyeon ahgassi? Aku tahu, aku tahu,” jawab orang itu. “Apa anda sudah sampai di depan gedung Galleria Forêt dengan selamat?

“Ye, ahjussi. Aku baru saja sampai. Aku ada di depan gedungnya saat ini,” jawab Taeyeon gugup.

Anda tunggu di situ sebentar, eoh? Saya akan segera menjemput anda,” ujar orang tersebut.

Taeyeon menuruti ucapan orang yang dipanggilnya ahjussi itu untuk menunggunya di depan gedung Galleria Forêt. Tidak lebih dari tiga menit, orang yang ia telpon beberapa menit lalu muncul dari dalam gedung. Orang yang Taeyeon ketahui dipanggil Sekretaris Jung.

Seorang laki-laki tinggi, tidak gemuk dan tidak kurus juga, bisa dibilang ideal, dan mempunyai kulit yang amat sangat pucat dengan rambut yang disisir klimis. Ia begitu rapi dengan tuxedo mahalnya yang berwarna biru gelap.

“Annyeonghaseyo, ahgassi,” sapa Sekretaris Jung sambil membungkukkan tubuhnya pada Taeyeon. Taeyeon balas menyapa dan membungkuk. Ia tersenyum kikuk. Belum pernah ada seseorang yang menyambutnya dengan sehormat ini. “Bagaimana kabar Kim sekeluarga?”

“Mereka sangat baik sekali, ahjussi,” jawab Taeyeon ceria. “Apalagi setelah tahu aku akan menjadi salah satu karyawan di Han Group tanpa ada tes ataupun wawancara sekalipun! Mereka bahagia dan percaya kalau aku akan hidup sukses di Seoul ini ke depannya. Semua ini berkat Tuan Han, ahjussi. Aku sangat berterima kasih sekali padanya dan untukmu juga yang sudah membantuku hari ini dan seterusnya,”

Sekretaris Jung tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. “Aku ikut berbahagia mendengarnya, ahgassi. Ah, dan lagi. Jika suatu hari nanti anda bertemu dengan Tuan muda Han, anda tidak perlu memanggilnya dengan panggilan seformal itu. Anda adalah calon tunangan Tuan Han dan kami semua berharap anda bisa bersikap santai dan rileks di hadapannya nanti. Tidak perlu sekikuk ini,”

“Ahaha,” Taeyeon tertawa canggung. Ia mengusap belakang lehernya. “Tetap saja. Kami belum bertemu dan resmi bertunangan tapi dia sudah memberikan bantuan untuk hidupku begitu banyak. Bagaimana bisa aku tidak sehormat itu padanya? Apalagi dia, ‘kan CEO Han Group,”

“Kalian akan segera bertemu,” ujar Sekretaris Jung. “Ayo, kita masuk ke dalam, ahgassi dan biarkan saya yang membawa koper anda,”

“Apa condo yang akan kutempati mulai saat ini adalah condo Tuan Han juga, ahjussi?” tanya Taeyeon saat mereka berdua mulai memasuki Galleria Forêt yang mewah tersebut dan menuju ke condo yang akan segera menjadi tempat tinggal Taeyeon selama ia di Seoul.

“Tuan Han punya rumah sendiri dan condo yang akan anda tinggali mulai sekarang memang benar condo milik Tuan Han juga,” jawab Sekretaris Jung.

“Jadi, apakah dia tidak tinggal di sini saat ini?” tanya Taeyeon lagi, tidak bisa menutupi rasa penasarannya.

Tepat saat itu, ponsel Sekretaris Jung berdering menandakan ada telepon masuk. Sekretaris Jung meminta waktu sebentar untuk menjawab panggilannya. Taeyeon hanya mengangguk.

Jujur saja, kalau orang yang disebut-sebut Tuan Han itu juga tinggal di atap yang sama dengan Taeyeon, Taeyeon pasti akan merasa canggung luar biasa. Dia tidak akan bisa bersikap seperti biasanya jika ada orang lain juga di condo itu. Apalagi kalau orang itu laki-laki, meskipun dia adalah orang yang dijodohkan dengan Taeyeon dan cepat atau lambat akan jadi suaminya kelak, tapi tetap saja mana mungkin.

Taeyeon bahkan belum pernah bertemu dengan Tuan Han calon tunangannya tersebut. Ia tahu telah memiliki seorang calon suami lima tahun lalu dari mulut kedua orangtuanya, sejak dia masih duduk di bangku kuliah. Tapi tidak pernah sekalipun orangtuanya mengajak dia bertemu dengan laki-laki itu. Mereka hanya mengatakan, ‘Kau akan bertemu dengannya di waktu yang tepat, Taeyeon-ah,’.

Sehingga lambat laun Taeyeon mengira jika semua itu hanyalah lelucon dari kedua orangtuanya agar Taeyeon rajin belajar dan giat mencari pekerjaan demi menambah perekonomian di keluarga mereka yang bisa dibilang menengah ke bawah.

Nyatanya, begitu dia lulus kuliah dan bahkan mendapat gelar magisternya, orangtuanya menyuruh gadis innocent itu untuk pergi ke Seoul, bertemu dengan sang calon, hidup bahagia dan penuh kesejahteraan.

 

-Flashback-

“Pergilah ke Seoul dan temui calon tunanganmu di sana, Taeng. Dia akan membuat hidupmu jauh dari kata keterpurukan. Dia akan menghiasi hari-harimu dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kau tidak perlu lagi memikirkan biaya ini dan itu. Hidup dengannya membuatmu tidak akan pernah merasa kekurangan. Apapun itu,” ujar Ibu Kim pada Taeyeon sembari memberikan sebuah alamat dan nomor telepon yang ditulis di selembar kertas.

Taeyeon menatap kedua orangtuanya dengan pandangan tak percaya. Ia menatap kertas itu dan kembali menatap ibunya. “Jadi, dia benar-benar ada? Nyata?”

“Kau fikir kami membohongimu?” Ayah Kim balik bertanya. “Lalu, darimana semua biaya kuliahmu selama ini kami dapat? Darimana semua biaya usaha yang dibangun Jiwoong di Jeonju selama ini? Dan darimana uang sekolah Hayeon jika bukan karena Tuan Han?”

“Aku… Aku tidak percaya awalnya karena kalian tidak pernah mempertemukan aku dengannya. Kufikir, aku lebih baik tidak percaya daripada harus berkhayal tinggi-tinggi,” ungkap Taeyeon.

“Kau harus memiliki titel tinggi jika ingin bertemu dan bersanding dengannya, putriku,” jawab Ibu Kim. “Dia adalah salah satu CEO Han Group, CEO termuda, cerdas, berkompeten, rajin, ulet, dan sangat tampan. Dia juga anak yang manis, lembut, dan penuh cinta. Tidak salah kalau kami menjodohkannya denganmu. Kau akan menjadi tuan putri yang paling berbahagia setelah menikah dengannya,”

“Setelah kau mendapat gelar master, kami menghubungi Tuan Han dan memberitahukannya. Tuan Han, pun langsung meminta dirimu untuk pergi ke Seoul, menginap di Galleria Forêt bersamanya, dan kau tahu apa kabar bahagia lainnya? Kau sudah diterima bekerja di perusahaan mereka, putriku! Perusahaan Han Group! Jadi apa saja, sesuai permintaanmu nanti. Tanpa tes,” sambung Ayah Kim semangat.

“Tuan Han tidak ingin ilmu yang selama ini kau dapat hilang sia-sia hanya karena sudah menikah dengannya. Itu sebabnya, sebelum kalian resmi menikah, dia ingin mempekerjakanmu terlebih dulu dan bertunangan. Setelah kau puas dengan kerja kerasmu, kalian akan menikah dan hidup bahagia selamanya,” jelas Ibu Kim. Kedua mata indahnya berair. Ia terlihat bahagia.

Taeyeon tersenyum menatap kedua orangtuanya yang jauh lebih berbahagia saat ini. Rasanya Taeyeon juga ingin ikut menangis. Benarkah? Benarkah hidupnya akan berubah detik ini juga ketika dia melangkah menuju Seoul? Benarkah dia tidak perlu lagi melihat kedua orangtuanya bersusah payah dalam menghidupi mereka semua?

Rasanya ada letupan di dada Taeyeon yang ingin membuncah begitu saja saat itu. Akhirnya, akhirnya ada seseorang yang mau menopang hidupnya dan hidup keluarganya. Bahkan sebelum mereka berkenalan, orang itu sudah banyak membantu kehidupan keluarga mereka.

Seperti inikah rasanya hidup bagaikan seorang Cinderella?

“Tapi, eomma, appa,” panggil Taeyeon. “Bagaimana kalian tahu kalau aku akan hidup bahagia dengannya? Apa dia mencintaiku? Aku bahkan tidak kenal siapa dia. Aku mungkin bahagia. Dia tampan, kaya, semua perempuan pasti jatuh cinta padanya. Tapi, apa dia juga merasakan hal yang sama?”

“Tidak perlu khawatir, anakku,” jawab Ibu Kim. Ia mengelus rambut indah putrinya dengan sayang. “Dia yang pertama kali menyukaimu. Dia yang pertama kali meminta kepada kedua orangtuanya untuk menjodohkan kalian. Dia yang pertama kali jatuh cinta padamu,”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk cepat. Ia mengambil kertas itu dan memotretnya dengan menggunakan ponselnya. “Nomor siapa ini, eomma?”

“Sekretaris Jung,” jawab Ibu Kim. “Dia yang akan membantumu menemui Tuan Han dan menunjukkan condo miliknya di Galleria Forêt. Tadi pagi dia sudah menghubungi kita untuk mengonfirmasi keberangkatanmu besok pagi, dear,”

“Ah, begitu,” gumam Taeyeon. “Eomma, appa. Daritadi kalian terus mengatakan ‘Tuan Han, Tuan Han’ saja. Apa aku boleh tahu siapa nama asli calon tunanganku itu?”

“Dia adalah salah satu CEO Han Group, Taeng, dan dia adalah sosok laki-laki yang terhormat. Orang-orang sederhana seperti kita memang sepatutnya memanggilnya seperti itu. Jika bertemu dengannya suatu saat nanti, hormatilah dia. Arraseo?” ucap Ayah Kim.

“Arra,” jawab Taeyeon dan ia merengut sesaat. “Aku hanya ingin tahu namanya,”

“Namanya Luhan, sayang,”

-Flashback End-

 

Luhan.

Nama yang selalu terngiang-ngiang dalam benak gadis itu dari kemarin sampai saat di mana ia berada sekarang ini. Ia selalu tersenyum setiap kali mengingat nama itu dan jantungnya berdebar tak karuan setiap kali fikirannya melayang membayangkan bagaimana jadinya bila ia bertemu dengan pangerannya suatu waktu nanti.

Dia yang pertama kali jatuh cinta padamu’.

Khe, bagaimana mungkin seorang pangeran bisa jatuh hati pada gadis biasa seperti Kim Taeyeon? Selama ini Taeyeon hanya mengira hal-hal seperti itu hanya ada dalam dunia fiksi. Ternyata dialah yang mengalami hal ini.

Membuat kupu-kupu di dalam perutnya beterbangan ke segala penjuru arah.

“Ahgassi,” panggil Sekretaris Jung, membuat khayalan Taeyeon buyar dalam sekejap dan wajah blank-nya menghadap Sekretaris Jung. “Ini adalah condo milik Tuan Han. Nomor 388,”

Taeyeon berbalik dan ia segera berhadapan dengan sebuah pintu bernomor 388. Jantungnya semakin tidak karuan dan keringat dingin mulai bermunculan di permukaan tubuhnya. Oh, ayolah. Ke mana perginya Taeyeon the brave girl satu-satunya milik keluarga Kim?

“Yeogi?” tanya Taeyeon lirih.

Sekretaris Jung hanya mengangguk. “Bisa tunggu sebentar di sini, ahgassi? Saya mendapat panggilan dari atasan. Ayah dari Tuan Han,”

“Y… Ye,” jawab Taeyeon terbata-bata. Setelahnya, Sekretaris Jung membungkuk dan langsung menghilang dari pandangan Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas panjang lalu memilih menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu bernomor 388 tersebut, menunggu Sekretaris Jung. Ia mengayun-ayunkan kaki kanannya untuk mengusir rasa gugupnya.

TING!

Kedua telinga Taeyeon dapat mendengar suara pintu lift yang terbuka dan suara derap langkah kaki seseorang. Wajah bening gadis itu mengarah ke kiri, ke asal suara yang semakin lama semakin mendekat kearahnya.

Dan beberapa detik kemudian, sosok laki-laki berambut hitam, mengenakan mantel bulu berwarna putih dengan corak hitam muncul sambil bersenandung kecil. Ia sedikit mengangkat kepalanya, tampak terlihat arrogant di kedua mata Taeyeon. Namun, tak dapat Taeyeon pungkiri bahwa laki-laki itu sungguh mempesona. Ia dapat mencium aroma fashionable dari laki-laki itu.

Betapa terkejutnya Taeyeon, ketika laki-laki keren dan penuh pesona itu berhenti tepat di depan pintu nomor 388. Taeyeon sempat mengira bahwa laki-laki itu adalah salah satu teman Tuan Han yang datang berkunjung. Tapi ternyata tidak sama sekali.

Laki-laki itu memencet tombol password yang ada di pintu dan terdengar suara ‘klik’ dari dalamnya, menandakan kalau pintu itu berhasil terbuka. Dan Taeyeon hanya bisa membelalakkan kedua matanya.

Maldo andwae…

“Chakkamanyeo, Tuan!” panggil Taeyeon tiba-tiba, sontak membuat laki-laki itu menoleh menatap Taeyeon sembari menjilat bawah bibirnya.

Dahi laki-laki tersebut mengerut, bingung dengan sosok Taeyeon yang ada di samping pintu condo-nya.

“Mwo? Wae?” tanya laki-laki itu ketus.

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, bingung sekaligus terkejut. Bukankah orangtuanya mengatakan kalau Tuan Han itu orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang?

“Apakah kau tinggal di condo ini? Di nomor 388?” tanya Taeyeon. Ia sedikit melupakan rasa hormatnya pada sosok ‘pangeran’ impiannya setelah mendengar nada bicara orang yang ada di hadapannya ini.

“Kau lihat aku baru saja membuka pintu ini dengan kata sandi yang tepat, ‘kan? Apa menurutmu aku bukan orang yang tinggal di sini? Lalu apa? Penyusup?” laki-laki itu balik bertanya dengan nada bosan.

“Ani, maksudku…,” gagap Taeyeon.

“Neo nuguya? Ada perlu denganku sampai-sampai menunggu di samping pintu condo-ku?” tanya laki-laki itu.

“Apa kau tidak mengenalku?” tanya Taeyeon langsung. “Kau memintaku datang ke Seoul, ke Galleria Forêt ini dan tinggal di sini, di condo nomor 388,”

Laki-laki arrogant‒tapi‒sexy itu tertawa pelan dan ia menatap Taeyeon dengan tatapan menyelidik. “Apa aku mengenalmu? Memangnya kau siapa sampai aku harus mengenalmu? Ah, apakah kau wanita kemarin malam di NB Club? Ya, bukankah aku hanya membayarmu untuk menemaniku minum saja? Aku tidak melakukan apapun dan aku ingat itu! Jangan mencoba-coba untuk menipuku, eoh?!”

“Ya, neo michyeosseo?!” sembur Taeyeon kesal. Bagaimana tidak? Ia adalah seorang lulusan terbaik di universitasnya dan laki-laki bedebah ini menyamakannya dengan seorang wanita bayaran? “Dasar bedebah tak tahu diri menyebalkan,”

“Mwo?” tanya laki-laki itu. Sepertinya ia merasa tersinggung dengan bentakan dan makian Taeyeon. “Apa yang kau bilang barusan? Kau tidak tahu siapa aku?”

“Kau mendengarku, jadi aku tidak perlu mengulanginya dan kufikir aku tidak perlu tahu siapapun itu dirimu walaupun kau pejabat tinggi sekalipun di Korea Selatan ini,” balas Taeyeon sengit. “Yang aku tahu, kau bukanlah Tuan Han-ku dan kau tidak tinggal di sini!”

“Tuan Han?” tanya laki-laki itu. “Ya, maksudmu…,”

“Ahgassi, Depyeonim!” panggil Sekretaris Jung di belakang tubuh Taeyeon. Taeyeon berbalik dan ia langsung berdiri mendekat ke arah Sekretaris Jung.

“Ahjussi, laki-laki bertemperamental buruk ini tahu password-nya. Apa dia teman Tuan Han? Buruk sekali kalau Tuan Han punya teman emosian, sombong, dan tak tahu diri seperti dia,” adu Taeyeon cepat. Kedua matanya menatap tajam pada laki-laki itu.

“Ahgassi,” tegur Sekretaris Jung pelan.

“Sekretaris Jung,” panggil laki-laki itu dengan nada rendah dan sontak membuat kedua mata Taeyeon terbelalak. “Dia siapa?”

“Jeoseonghamnida, Depyeonim. Gadis ini adalah Kim Taeyeon, gadis yang diminta Tuan Han untuk datang dan tinggal di Galleria Forêt, gadis yang akan menjadi calon tunangan Tuan muda,” jelas Sekretaris Jung sembari membungkukkan tubuhnya dalam-dalam pada laki-laki yang dipanggil ‘Depyeonim’ itu.

“Ahjussi, kau tidak perlu membungkuk seperti itu,” cegah Taeyeon.

Mendengar penjelasan Sekretaris Jung tersebut, laki-laki bermantel bulu itu terdiam dan memandangi Taeyeon lekat-lekat. Matanya sedikit terpicing dan ia menghela nafas singkat sebelum memutuskan untuk berkomentar.

“Jadi kau,” gumam laki-laki itu. Taeyeon menoleh menatapnya, bertanya-tanya. “Cinderella dalam dunia nyata? Aku tidak tahu apa Luhan yang telah salah pilih atau seleranya memang… sepertimu?”

“Jinjja, apa maksudmu dengan ‘sepertiku?’ Memangnya kau siapa? Kau ini siapa berani-beraninya menilaiku dengan pandangan sempitmu itu?” cecar Taeyeon.

“Ahgassi,” lerai Sekretaris Jung.

“Pandangan sempit, eh? Memang, aku memang punya pandangan sempit. Yah, bisa dibilang sempit juga karena aku bahkan tidak memercayai kedua mataku kalau kaulah orang yang kejatuhan cinta Luhan. Sempit karena kau bertolak belakang dengan gadis-gadis superior yang kukenal,” tandas laki-laki itu. “Kalau saja Luhan di sini, mungkin anak itu akan kubuat agar matanya terbuka lebar-lebar,”

“Ahjussi!” seru Taeyeon dengan suara nyaring, membuat Sekretaris Jung yang sedari tadi hanya diam mendengar adu mulut kedua orang di hadapannya ini tersentak kaget. “Aku tidak mau tinggal satu condo dengan laki-laki yang memakai mantel berbulu sapi seperti dia!”

“Ahgassi,” panggil Sekretaris Jung dengan satu tarikan nafas panjang.

“Aku sama sekali tidak peduli apa kau tahu?” potong laki-laki bermantel sapi itu. “Aku tidak peduli kau mau tinggal di mana dan aku bahkan lebih tidak peduli lagi kalau kau mengungkit-ungkit dirimu yang notabenenya adalah calon tunangan Luhan. Ini adalah condo-ku dan kita tidak akan tinggal bersama di sini,”

“Tuan Han memintaku untuk tinggal di sini dan tidak ada yang bisa melarangku, termasuk kau. Condo-mu? Hah! Bahkan ahjussi Jung membawaku ke sini dan ia mengatakan ini adalah milik Tuan Han. Lebih baik kau yang cari condo lain, mengerti Tuan Terhormat?” ejek Taeyeon. Ia mengambil kopernya dan menendang terbuka pintu condo itu lalu masuk ke dalamnya.

“Depyeonim,” lirih Sekretaris Jung.

Laki-laki itu menghela nafas kasar dan tertawa pahit. “Apa kau tahu? Kufikir Luhan akan membawa perempuan pemalu yang elegan dan lembut untuk dijadikannya istri,”

“Saya akan menjelaskannya pada Nona Taeyeon, Depyeonim,” ucap Sekretaris Jung.

“Apa dia akan bekerja di Han Group?” tanya laki-laki itu pelan.

“Ye, Depyeonim,”

“Kalau begitu jangan katakan siapa aku,”

Sekretaris Jung mengangguk dan ia langsung masuk ke dalam condo megah yang dimasuki Taeyeon tadi dan menghampiri gadis itu, yang tengah terkagum-kagum dengan semua furniture yang ada di dalamnya.

“Ahgassi, saya belum menjelaskan semuanya pada anda,” tutur Sekretaris Jung.

“Oh, ahjussi. Jelaskanlah. Ayo kita duduk di sofa ini,” ajak Taeyeon riang. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa empuk berwarna khaki dan menepuk-nepuk tempat di sampingnya, menyuruh Sekretaris Jung untuk duduk di sebelahnya.

“Ahgassi, anda harus tinggal di sini bersama dengan Dep… Tuan Kwon Jiyong, ahgassi,”

“Kwon… apa?” tanya Taeyeon lagi.

“Kwon Jiyong,” ulang Sekretaris Jung. “Laki-laki bermantel bulu tadi. Dia memang tinggal di condo ini dan ini adalah miliknya. Pure,”

“Tapi, ahjussi bilang…,”

“Tuan Kwon dan Tuan Han bersaudara, ahgassi,” potong Sekretaris Jung. “Jadi condo ini bisa dibilang milik Tuan Han dan Tuan Kwon juga. Tapi Tuan Han sedang berada di luar negeri dan sibuk mengurusi perusahaannya, jadi Tuan Kwon-lah yang menetap di sini, walau sebenarnya dia juga punya tempat tinggal sendiri di Jeju. Tuan Han meminta Tuan Kwon untuk mengawasi dirimu,”

“Bersaudara?” tanya Taeyeon lagi, kali ini berharap telinganya setengah tuli. “Apa Tuan Han memiliki jiwa bertemperamental tinggi juga? Apa dia juga merupakan orang yang sangat menyebalkan seperti orang tadi?”

“Saya yakin jawabannya sudah anda ketahui sendiri, ahgassi,” jawab Sekretaris Jung dengan raut wajah serba salah.

“Ne, aku tahu Tuan Han bukan orang seperti dia,” gumam Taeyeon. “Ibaratnya, mereka itu bagaikan dua kutub positif dan negatif, ‘kan ahjussi? Tentu saja dia yang negatif,”

“Jadi, ahgassi. Mulai hari ini, akurlah dengan Tuan Kwon selayaknya kalian bersaudara, minimal bertetangga. Karena Tuan Kwon juga ikut andil dalam mengawasi dan membantu pekerjaan anda besok di Han Group,” ungkap Sekretaris Jung.

“Bukankah ahjussi yang ambil peran itu?” tanya Taeyeon, tidak terima.

“Saya hanya bertugas mengantar anda ke sini, selanjutnya saya akan bekerja kembali seperti sedia kala. Mengenai pekerjaan anda, Tuan Kwon-lah yang akan membantu anda,” jelas Sekretaris Jung.

“Memangnya dia siapa mempunyai hak untuk membantuku?” tanya Taeyeon dengan sedikit mengeraskan volume suaranya begitu Jiyong masuk ke dalam condo dan melepas mantel putih bercoraknya. “Apa dia CEO? Kalau dia CEO, aku tidak ingin bekerja di dekat-dekat orang itu. Lebih baik aku bekerja membawa kopi dan pesanan karyawan lainnya. Ahjussi tahu? Istilahnya, pelayan,”

“Ahgassi…,”

“Oi, midget,” panggil Jiyong.

“Apa baru saja kau memanggilku?” tanya Taeyeon dengan kedua mata terbelalak. Midget? Tidak pernah ada yang mengatainya sekasar itu!

“Lalu siapa lagi di condo ini yang memiliki tubuh kurus dan tidak menarik selain dirimu?” Jiyong balik bertanya. “Dengar, Luhan sudah menghubungiku tadi dan memohon padaku agar membiarkanmu tinggal di sini. Okay, kau tinggal di sini. Tapi, ingat. Ini tetap condo-ku. Peraturanku terhadap condo ini berlaku dan tidak berhak kau mengubahnya apalagi melanggarnya…,”

“Peraturan? Tuan Han memohon padamu? Ahjussi, bicara apa dia?” tanya Taeyeon emosi.

“Siapa aku kau tidak perlu mengetahuinya sekarang, midget. Peraturan pertama, kau tidur di kamar ujung kiri itu dan dari kamarmu sampai ruang tengah ini adalah wilayahmu. Artinya, kau bebas berkeliaran di sini tapi tidak di wilayahku. Wilayahku adalah selebihnya,” jelas Jiyong.

“Jadi maksudmu aku tidak bisa pergi ke dapur?” tanya Taeyeon, terkejut bukan main.

“Gadis pintar,” angguk Jiyong. “Kalau kau bertanya bagaimana caramu makan, kau hidup di jaman modern, benar? Kau bisa delivery dan semuanya beres tanpa menyentuh dapurku,”

“Kau gila,” gumam Taeyeon dengan ribuan caci maki yang ia sematkan untuk laki-laki di hadapannya itu.

“Wae? Kau tidak setuju? Kau bisa mengadu pada Luhan dan merengek untuk meminta tempat tinggal yang lain. Dengan begitu, kau sama saja dengan perempuan kebanyakan. Manja dan tidak mandiri,” tantang Jiyong.

“Jangan pernah menganggapku sama dengan perempuan-perempuan yang kau kenal di sembarang tempat, apa kau dengar?” ancam Taeyeon.

“Atau…,” potong Jiyong. “Kau boleh menyentuh dapurku dan bebas berkeliaran di condo-ku ini dengan satu syarat. Kau melakukan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci piring, baju, membersihkan lantai, dan semuanya yang bisa kau bersihkan. Otte?”

“Bicaralah pada tembok, naga jelek,” jawab Taeyeon. Dengan kasar ia merampas kopernya dan langsung memasuki kamarnya dengan suara pintu yang terbanting keras.

“Peraturan kedua, jangan berisik di dalam condo ini!” seru Jiyong sambil tertawa penuh kemenangan.

“Depyeonim. Apakah anda tidak terlalu kasar pada Taeyeon ahgassi?” tanya Sekretaris Jung.

“Aku sudah bilang pada Luhan kalau aku tidak pernah terbiasa hidup bersama dengan orang lain tapi dia tetap bersikeras dan memohon-mohon agar aku mau menjaga gadis itu. Aku benci tinggal bersama orang lain. Merepotkan. Itu sebabnya aku mengadakan peraturan-peraturan yang sebenarnya baru aku buat tadi. Dan Luhan, pun menyetujuinya. Setidaknya kami saling menghormati satu sama lain,” jelas Jiyong. Ia membuka kulkasnya, mengambil sebotol bir dan langsung menenggak habis bir itu. “Kau tahu aku tidak bisa bilang ‘tidak’ kalau Luhan meminta padaku,”

“Saya mengerti, Depyeonim. Saya harap anda juga bisa membantunya besok hari, hari pertama dia bekerja di Han Group,” ujar Sekretaris Jung.

“Oh, aku pasti akan membantunya, Sekretaris Jung,” jawab Jiyong. Ia menyeringai kecil sambil memandang ke luar jendela. “Kita berdua sudah mendengar permintaannya tadi. Aku akan mengabulkannya detik ini juga,”

~~~

“Aku lapar,” keluh Taeyeon seraya memegangi perut ratanya yang berbunyi-bunyi minta diisi sejak ia selesai mandi dan berbenah-benah di kamar barunya. “Tapi si brengsek itu mana mungkin memberikanku makanan. Aku tidak tahu harus makan apa,”

Gadis berusia 25 tahun dengan wajah baby-nya itu, pun turun dari atas tempat tidur dan mengambil ponselnya. Sebelumnya, ia sudah mengabari kedua orangtuanya kalau dirinya telah sampai di Galleria Forêt dengan selamat dan diantar oleh Sekretaris Jung. Taeyeon sedikit berbohong mengenai dirinya tinggal sendiri di condo milik Tuan Han. Akan merepotkan jika ia menceritakan pertemuan tidak menyenangkannya bersama salah seorang anggota keluarga Tuan Han.

“Aku makan ayam saja,” gumam Taeyeon. Ia mulai menelepon restaurant ayam yang ia mau dan menunggu selama sekitar 20 menit.

Dua puluh menit kemudian, Taeyeon mendengar suara bel berbunyi dan ia keluar dari dalam kamarnya. Begitu ia keluar dari dalam kamar, ia melihat sosok laki-laki yang membuat mood-nya langsung turun itu tengah makan steak, dengan daging yang mahal dan berkualitas tinggi, tentu saja. Taeyeon langsung tahu saat mencium baunya. Perutnya langsung menjerit tak karuan.

“Apa kau pesan sesuatu?” tanya Jiyong pada Taeyeon sembari mengunyah kuat-kuat daging yang ia makan itu dengan sengaja.

“Apa kau memesan sesuatu? Tidak, ‘kan? Jadi jangan bertanya apa aku memesan sesuatu atau tidak,” jawab Taeyeon ketus.

“Kalau kau jawab ‘ne’, mungkin kau akan mempersingkat waktumu bicara denganku,” ujar Jiyong.

Taeyeon memutar kedua bola matanya dan membuka pintu condo. Ia menerima pesanan ayamnya, menyerahkan uangnya, dan membungkuk berterima kasih pada sang deliver. Kemudian, ia membawa dirinya dan ayam itu untuk duduk di kursi meja makan, bergabung bersama Jiyong dan steak-nya.

“Ya, midget,” panggil Jiyong.

“Apa lagi?” tanya Taeyeon kesal. Tunggu, kenapa dia mau saja dipanggil midget?

“Kau melewati area wilayahmu. Artinya, jangan makan di meja makan, apalagi denganku,” jawab Jiyong datar. “Makan di dalam kamarmu, karena aku tidak suka bau-bau aneh menyebar di sekitar ruang tengah,”

“Gamsahamnida,” balas Taeyeon cepat. “Kau membuat perutku sudah jauh lebih kenyang,”

Setelah itu, Taeyeon berbalik dan langsung menuju kamarnya.

~~~

“Andwaeyo, andwe,” bisik Taeyeon dengan nada paniknya yang begitu kentara.

Bagaimana tidak panik, gadis itu sudah berjanji dengan pihak Han Group untuk datang ke perusahaan pukul delapan pagi, dan ia baru terbangun dari mimpi indahnya pukul delapan! Dengan menggunakan waktu satu jam untuk berdandan dan berpakaian seadanya, Taeyeon pergi keluar dari Galleria Forêt, memanggil taksi dan sampai di depan perusahaan ternama itu pukul sepuluh lewat.

Sembari menggigiti kuku jari kanannya, Taeyeon masuk ke perusahaan itu dan menuju lantai 10, lantai di mana ia ditunggu oleh CEO Han Group.

Di dalam lift, Taeyeon hanya bisa menghela nafas panjang dan berdoa dalam hati semoga tidak ada kejadian buruk menimpanya untuk hari ini, hari pertama dia bekerja. Gadis itu merutuki dirinya sendiri, memaki betapa bodohnya dia. Tidak tahu malu, dan banyak lagi. Padahal sudah banyak yang diberikan Tuan Han untuknya tapi kenapa menepati janji pukul delapan begitu sulit? Lagipula ini, ‘kan juga untuk dirinya sendiri!

“Joseonghamnida, joneun Kim Taeyeon imnida,” sapa Taeyeon pada salah seorang sekretaris yang sedang mengerjakan sesuatu di mejanya. “Apa benar ini kantor CEO Han Group? Saya ada janji temu dengan beliau,”

“Ah, Kim Taeyeon-ssi,” ujar sekretaris tersebut sambil tersenyum ramah. “Benar, ini kantor Depyeonim. Anda sudah ditunggu oleh beliau sejak dua jam yang lalu. Silakan masuk ke dalam kantornya saja. Kebetulan beliau sedang senggang,”

“Gamsahamnida,” ujar Taeyeon. Ia tersenyum lebar dan segera melangkah menuju kantor CEO Han Group. Diketuknya pintu kantor itu tiga kali. Begitu terdengar suara seseorang yang mempersilakan dia masuk, Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, meyakinkan serta menenangkan dirinya, lalu mendorong kenop pintu kantor tersebut.

Apakah ia akan bertemu dengan calon tunangannya? Taeyeon benar-benar tidak bisa memfokuskan fikirannya untuk saat ini. Apakah ini saatnya ia bertatap muka dengan orang yang sudah membantu keluarganya? Tapi, tentu saja dalam keadaan yang tidak dikehendakinya, dia terlambat dua jam.

Ketika pintu kantor itu menutup di belakangnya dan begitu ia dapat melihat isi kantor yang luas sekali itu, Taeyeon mendapatinya. CEO Han Group. Sedang duduk nyaman di salah satu sofa mahalnya.

“Depyeonim?” sapa Taeyeon ragu-ragu pada orang itu.

Taeyeon tidak yakin. Tapi kenapa perasaannya tidak enak?

“Kau terlambat dua setengah jam, Ms. Kim Taeyeon,” ujar CEO Han Group tersebut. Ia menoleh menatap Taeyeon. Evil smirk-nya menghiasi wajah tampannya, membuat sekujur tubuh Taeyeon mati membeku.

Maldo andwaeyo. Siapa aja. Siapapun. Tolong jatuhkan Taeyeon saat ini juga dari lantai 10!

CEO Han Group yang ada di hadapannya sekarang ini, sosok yang tengah duduk nyaman di sofa mahal itu, dengan seringaian liciknya, tak lain dan tak bukan adalah Kwon Jiyong, laki-laki yang baru kemarin ia sumpah serapahi!

 

 

 

-To Be Continued-

lu

Semakin banyak kritik dan saran yang disampaikan, semakin cepat berlanjut

*evillaugh*

 

Advertisements

52 comments on “Butterfly Kiss (Chapter 1)

  1. Plz jangan sampe gini. Luhan yg suka sm ty duluan & minta ty buat dijadiin tunangannya seudah itu ty ketemu sm gd terus lama lama mereka fall in love terus luhan kit ati tapi dengan baik hati dia relain ty sm gd. AH PLS JANGAN AMPE GITU GAK RELA LIAT BBY LU KIT ATI ;;;;———–;;;;;;

    HAHHAHHA PIS ITU PIKIRAN LIAR AKU LHO ✌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s