A Blessed Sinner (Chapter 3)

a-blessed-sinner

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by : Ina @ Poster Fanfiction Graphics

A/N : Holaa… an old fanfiction here! Read and enjoy it, juseyo^^

[Chapter 1] [Chapter 2]

~~~

Jiyong sampai di apartemennya lebih lama dari malam-malam sebelumnya. Ia sedikit berharap kalau adiknya sudah berada di dalam kamar, tidur dengan pulasnya sehingga tidak mendengar pintu apartemen yang terbuka. Ia masih belum bisa menatap wajah sang adik setelah kejadian siang ini.

Tepatnya setelah kedatangan Choi Seunghyun dan menanyakan keberadaan Taeyeon untuk yang kesekian kalinya. Jika saat ini ia menatap wajah Taeyeon, ia tidak yakin hatinya akan bertambah tenang. Justru Jiyong akan semakin merasa menjadi orang yang paling jahat.

Harapannya terkabul, gadis itu tidak kelihatan di mana-mana. Pintu kamarnya juga sudah terkunci, menandakan kalau adiknya itu memang sudah terbang ke negeri dongengnya.

Tidak ingin tergoda untuk langsung tidur di kasurnya yang king size, Jiyong memilih untuk membuka salah satu laci kecil lemari tempat ia menyimpan berkas-berkas yang sudah tidak terpakai lagi, lebih tepatnya berkas-berkas saat-saat ia masih menjabat sebagai seorang detektif muda berbakat milik Kepolisian Korea Selatan.

Di dalam laci tersebut ada sebuah foto, foto dirinya dan Seunghyun yang sama-sama tertawa bahagia dan saling menghargai, layaknya seorang dua sahabat yang sudah berteman selama bertahun-tahun, layaknya seorang kakak-adik. Mereka berdua memang tidak dekat, tapi seiring banyaknya kasus yang membuat mereka sering bertemu dan saling bekerjasama, membuat mereka berdua tak jarang untuk hang out bersama.

Jiyong begitu mengagumi dan menghormati sosok Seunghyun. Namun, itu dulu. Sebelum semuanya berubah secara 180 derajat tepat enam bulan yang lalu. Hubungan mereka menjadi dingin saat mereka berdua sama-sama menangani kasus penangkapan koruptor di Jeonju, kasus terakhir untuk Jiyong sebagai detektif.

Seunghyun begitu marah pada Jiyong, begitu marah pada Kepolisian. Jiyong sendiri tidak bisa menjelaskan semuanya karena di satu sisi dia punya masalah yang lebih besar lagi. Ini adalah kesalahpahaman. Murni kesalahpahaman. Dan saat itu Jiyong tahu, Seunghyun memilih jalan dan berada di jalan yang salah.

Tapi Jiyong tidak ingin terburu-buru untuk mengungkapkan semuanya, tidak ingin dadakan dan membuat semuanya tidak berjalan seperti yang dia mau. Dia akan jelaskan pada Seunghyun dengan gamblang, jelas, dan perfect sesuai rencana. Dia akan jelaskan pada Seughyun mengenai alasannya melakukan itu semua dan ia yakin, Seunghyun akan berterima kasih padanya. Bukan hanya Seunghyun, melainkan Kepolisian dan Kejaksaan Korea Selatan akan berutang budi padanya.

Semua itu akan terjadi jika Taeyeon mendapatkan ingatannya kembali. Karena hanya gadis itu, lah satu-satunya kunci atas permasalahan ini. Satu-satunya kunci berharga sekaligus berbahaya di saat yang sama.

Jiyong menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya berdenyut menyakitkan lagi saat memori itu kembali terngiang. Ia menarik sebuah dokumen tipis yang bertuliskan ‘Kim Corporation’ dan membalik-balikkan halamannya.

Sampai ia terhenti pada satu halaman yang lusuh dan penuh bercak darah tapi tulisan di kertas itu masih bisa terbaca dengan amat jelas, membuat Jiyong menyunggingkan smirk mengerikan miliknya.

 

-Flashback On-

“Aku tahu aku pasti bisa memercayaimu, nak. Aku tahu. Itu sebabnya, aku percayakan padamu satu-satunya hartaku yang paling kucinta,”

“Aniyo, Youngjin-ssi. Youngjin-ssi!”

Percuma saja. Dipanggil berkali-kali pun pria itu tidak akan membuka kedua matanya lagi. Selamanya. Dan Jiyong hanya bisa menggoyang-goyangkan tubuh pria tak berdaya itu, berharap ada keajaiban. Berharap Tuhan tidak sekejam itu padanya.

-Flashback Off-

 

“Keparat,” gumam Jiyong. Kedua matanya tampak berkilat mengerikan.

Belum lagi Jiyong bangkit untuk membaca dokumen itu di atas tempat tidurnya, kedua telinganya tiba-tiba saja mendengar suara teriakan nyaring seorang Taeyeon di dalam kamarnya, yang kebetulan berada di dekat kamar Jiyong.

Jiyong membeku di tempat selama beberapa detik sebelum ia meletakkan asal dokumen itu dan langsung lari menuju kamar adiknya.

“Taeyeon! Taeyeon-ah, buka pintunya! Taeyeon-ah!!” jerit Jiyong seperti orang kesetanan sambil menggedor-gedor pintu kamar Taeyeon dan memutar kenop pintu itu dengan kasar.

“Tolong aku… Tolong,” isak Taeyeon, yang bisa didengar Jiyong samar-samar.

Fikiran buruk melintasi kepala Jiyong. Bagaimana kalau seseorang masuk ke dalam kamar adiknya lewat jendela? Meskipun itu tidak mungkin dikarenakan pengaman di Galleria Foret begitu terjaga tapi tetap saja Jiyong ketakutan setengah mati. Apalagi hari ini dia baru saja bertemu dengan Seunghyun.

Apa dia sudah menemukan keberadaan Taeyeon? Secepat itu? Tidak, mereka tidak boleh mengambil Taeyeon di saat seperti ini!

“Aku percaya padamu,”

“Taeyeon-ah! Buka pintunya, kau dengar aku?!!”

Jiyong baru saja berniat untuk mendobrak pintu kamar itu jika sedetik saja gadis itu tidak membukanya. Begitu pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan sosok gadis mungil yang kedua bahunya bergetar ketakutan, Jiyong langsung menarik keluar tubuh Taeyeon dan memerhatikan kondisinya secara menyeluruh.

Gadis itu menangis meskipun sudah tidak ada lagi air mata yang jatuh. Gadis itu tampak ketakutan dan perut Jiyong serasa mencelos.

“Dia sendirian dan semua orang akan menyakitinya. Dia begitu rapuh, setiap saat bisa saja ada orang yang ingin menghancurkannya,”

“Ada apa?” tanya Jiyong lembut.

“Aku tidak tahu,” jawab Taeyeon pelan sekali dengan wajah tertunduknya. “Aku bermimpi tentang kecelakaan itu, oppa. Aku mimpi aku tertabrak. Mimpinya begitu cepat, begitu abstrak. Aku tahu itu adalah saat-saat di mana aku mengalami kecelakaan dan lupa ingatan. Aku biasa bermimpi itu tiap malam. Tapi… Tapi, kali ini berbeda. Ada seseorang… Ada seseorang yang mengejarku. Aku sangat ketakutan bahkan sampai menangis. Aku… Aku… Orang itu hendak membunuhku. Dia mengejarku dan mencoba…,”

“Itu hanya mimpi,” hibur Jiyong sambil menghapus air mata yang jatuh kembali di kedua pipi merona Taeyeon. “Itu hanya mimpi,”

“Aniya,” sanggah Taeyeon. “Aku sangat berharap seperti itu. Tapi… semuanya tampak nyata karena saat itulah aku tertabrak. Itu kelihatan sangat nyata di ingatanku, oppa. Setelah itu aku melihat banyak darah,”

Jiyong langsung membawa tubuh Taeyeon ke dalam pelukannya, membenamkan wajah gadis itu ke dadanya dan menenangkannya jiwanya yang begitu terguncang dengan mengelus lembut punggung gadis itu.

“Aku ada di sini,” bisik Jiyong. “Tidak ada alasan bagimu untuk takut. Aku di sini,” bisik Jiyong dan ia dapat mendengar isakan Taeyeon semakin kuat di dadanya. Taeyeon bahkan meremas kuat kemeja kantor kakaknya.

~~~

“Apakah aku punya musuh, oppa? Apakah ada seseorang yang begitu membenciku hingga ia ingin membunuhku?” tanya Taeyeon pelan saat keadaannya sudah mulai membaik.

Hampir satu jam penuh Taeyeon berada di dekapan Jiyong. Hampir satu jam penuh ia menangis dan membuat basah serta kusut kemeja kantor kakaknya. Sekarang ia kembali berbaring di atas tempat tidurnya dengan sang kakak yang duduk di kursi meja riasnya, menemani gadis itu untuk kembali tidur.

“Atau… Kau tidak tahu?” tanya Taeyeon lagi.

Jiyong menghela nafas panjang dan ia bangkit dari kursi lalu duduk di sisi ranjang adiknya seraya berkata, “Itu hanya bunga tidur. Kalaupun ada, mereka pasti sudah menemukan keberadaanmu,”

“Tidak akan karena aku selalu terkurung di apartemen,” kilah Taeyeon. “Apakah itu sebabnya kau tidak ingin aku ke mana-mana, oppa?”

“Tidak, bukan begitu,” jelas Jiyong. “Seoul bukanlah tempat yang bisa dibilang aman. Ada juga orang-orang yang akan menyakitimu di jalanan jika kau tidak hati-hati. Itu sebabnya aku akan mengizinkanmu keluar setelah urusan kantorku sedikit longgar. Aku tidak membiarkanmu keluar kalau kau tidak dalam pengawasanku. Setidaknya sampai kau benar-benar terbiasa. Aku tidak akan tenang membiarkanmu keluar walaupun itu ditemani Chaeyoung dan Mino. Itu sudah kujelaskan beberapa kali padamu,”

“Baiklah kalau begitu,” jawab Taeyeon. “Aku berharap kerjaanmu cepat selesai, oppa,”

“Tidurlah,” bujuk Jiyong. Sebenarnya laki-laki itu pun juga sudah sangat lelah dan mengantuk, tapi ia tahu ia tidak bisa meninggalkan adiknya sendirian di saat jiwanya tengah terguncang dengan mimpi tersebut.

Jiyong tahu itu bukanlah sekedar mimpi. Karena memang begitu adanya.

“Aku akan di sini sampai kau tertidur lelap,” lanjut Jiyong. “Dan jika kau ketakutan karena mimpi itu muncul lagi, kau bisa datang ke kamarku. Kamarku tidak aku kunci,”

Taeyeon tersenyum lembut dan begitu manis. Ia menganggukkan wajahnya dan perlahan-lahan menutup kedua matanya yang teduh.

“Oppa, gomawo,” gumamnya. “Aku menyayangimu,”

Begitu kata-kata itu terucap, Taeyeon langsung terlelap. Wajahnya yang bagaikan bayi yang penuh kedamaian terpampang jelas di hadapan Jiyong. Sedangkan Jiyong merasa ulu hatinya mendadak perih. Ia tidak tahu harus berekspresi apa mendengar kata ‘sayang’ yang keluar begitu tulus dan polos dari bibir adiknya.

Tentu saja kata ‘sayang’ itu adalah sayang dari seorang adik untuk kakaknya. Tidak lebih. Dan seharusnya Jiyong juga tidak berfikiran apa-apa.

Kenapa jadi begini? Apakah memang ia tidak bisa jaga jarak dengan gadis ini? Apakah ia memang tidak bisa menjadi orang asing di mata gadis itu meskipun ia mengatakan mereka adalah kakak-adik? Ia memang terikat janji, meskipun begitu tidak bisakah ia dan Taeyeon memiliki ruang masing-masing?

Awalnya ia sempat berfikir kalau ia bisa tidak terlalu banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan Taeyeon walaupun ia berjanji akan menjaga gadis itu. Namun, semakin ke sini rasanya semakin tidak mungkin.

Haruskah ia tetap memegang teguh prinsipnya?

Lamunan Jiyong buyar seketika ketika Taeyeon membalikkan badannya ke arah yang berlawanan untuk mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Jiyong tersenyum tipis. Ia bangkit dari sisi tempat tidur Taeyeon dan menaikkan selimut gadis itu sampai menutupi sebagian tubuhnya. Setelah beberapa detik memandangi wajah cantik sang adik, Jiyong langsung keluar dari kamarnya.

~~~

“Aku akan bawakan bekal makan siang, mau?” tawar Taeyeon pada Jiyong sambil sibuk bergelut dengan masakannya.

“Tidak perlu,” jawab Jiyong. Ia baru saja selesai sarapan dan hendak berangkat ke kantor, meskipun rasanya malas sekali. Ia tidur selama satu jam malam ini karena begitu terjaga di dalam kamarnya sendiri, takut-takut Taeyeon akan mengalami mimpi buruk lagi.

“Aku akan bawakan untuk Joohyun juga, jadi kalian bisa makan bersama. Lagipula, makan makanan restaurant juga tidak terlalu baik untuk kesehatanmu, oppa,” ujar Taeyeon dengan nada riang dan tetap menyiapkan bekal makan untuk sang kakak.

“Terserahmu saja,” jawab Jiyong, yang lebih memilih untuk mengalah.

Taeyeon tersenyum kecil mendengar jawaban Jiyong. Ia keukeh melakukan ini karena begitu berterima kasih pada Jiyong. Ia tahu semalaman Jiyong tidak tidur dan terus terjaga sampai pukul 6 pagi. Ia tahu Jiyong begitu peduli dan sangat perhatian padanya. Seharusnya ia tahu sejak awal jadi Taeyeon tidak akan terus berprasangka yang tidak-tidak pada kakaknya.

“Semoga saja Joohyun suka, dengan begitu aku bisa memasakkannya setiap hari untuk kalian,” ungkap Taeyeon. Namun, Jiyong tidak mendengarkan. Ponselnya berbunyi menandakan ada seseorang yang menelepon.

“Yeoboseo?” sapa Jiyong. “Aku akan ke perusahaan setelah mampir ke Kejaksaan sebentar. Mwo? Tidak bisa diundur sampai jam makan siang nanti? Ada apa? Apa ada hal yang sebegitu pentingnya? Arraseo, arraseo. Aku akan ke sana, aish!”

“Oppa, wae geurae?” tanya Taeyeon bingung ketika ia melihat kakak laki-lakinya itu sudah buru-buru bangkit untuk pergi bekerja. Ia bahkan lupa memakai dasinya. “Bagaimana dengan bekalmu?”

“Aku akan suruh Mino ke sini dan membawakannya saat makan siang,” jawab Jiyong cepat. “Aku benar-benar harus cepat. GM pribadiku tiba-tiba saja mengundurkan diri,”

Belum sempat Taeyeon mengucapkan sepatah-dua patah kata, Jiyong sudah menghilang dari balik pintu apartemennya. Taeyeon hanya menghela nafas panjang dan mengangkat kedua bahunya lalu kembali sibuk di dapur.

~~~

“Bapak tua itu memang sudah seharusnya ambil cuti selama seumur hidupnya, hyung. Dia sudah bekerja selama 30 tahun bahkan sebelum kau lahir di dunia ini. Jadi, jangan mencoba untuk menahannya kali ini. Kau bisa mencari orang lain yang berbakat seperti Mr. Park,” ujar Mino pada Jiyong yang sedang menopang dagu dengan kedua tangannya, tampak sedang berfikir keras.

“Tidak ada yang sebagus Mr. Park dalam hal pekerjaan semacam ini, Mino-ah,” ujar Jiyong.

“Mmm… Hyung?” panggil Mino setelah mereka terdiam selama beberapa detik.

“Hn,” jawab Jiyong malas. “Ah, bukankah kau sudah kusuruh untuk ke apartemen? 30 menit lagi jam makan siang dan aku yakin bekalku di rumah akan dingin kalau kau tidak cepat mengambilnya,”

“Bukannya mulai sekarang kau akan selalu makan siang dengan Joohyun?” tanya Mino.

“Ani. Dia ada di Kejaksaan dan aku juga sedang tidak mau makan dengan siapapun saat ini,” jawab Jiyong ketus.

“Wae? Sudah kuduga perasaanmu tidak akan pernah seratus persen untuk seorang perempuan, hyung. Hidupmu terlalu berharga untuk satu perempuan saja, benar kan?” ejek Mino. “Tapi, hyung. Bukankah Joohyun itu sudah mencakup semuanya? Maksudku dia sangat cantik, baik, seorang jaksa muda, cerdas. Aku yakin otakmu sedang tidak berada pada tempatnya kalau kau mencampakkannya seperti gadis-gadis sebelum ini,”

“Aku masih berusaha,” jawab Jiyong. “Aku… Hanya tidak ingin seseorang, siapapun itu, mencicipi masakan adikku. Hari ini dia masak banyak untuk Joohyun,”

Mino mengerutkan dahinya, berusaha mencerna dengan baik perkataan Jiyong. Lalu, smirk jahil muncul di wajah tampannya. “Apa ini? Aku mencium sesuatu yang tidak beres. Kau sudah mulai melupakan niatmu dan melihatnya sebagai seorang gadis, hyung? Aku memang tidak heran kalau kau seperti itu. Dia cantik sekali. Tubuhnya kecil mungil, pas untuk didekap. Jangan lupa dengan suaranya yang merdu dan senyumannya yang menyejukkan. Ah, hyung. Siapa saja bisa tergila-gila padanya,”

“Jangan bercanda!” seru Jiyong kesal. “Dan jangan membayangkan hal-hal aneh tentang adikku,”

Adik?” gumam Mino, masih dengan wajah mengejeknya.

“Pergi sekarang atau aku akan memberimu cuti selama setahun penuh?” ancam Jiyong.

“Tsk, kau tidak akan bisa bergerak bebas memata-matai siapa saja tanpa aku, hyung,” ujar Mino malas tapi ia tetap bangkit dari hadapan Jiyong. “Ah, aku lupa menyampaikan sesuatu padamu,”

“Tentang?”

“Soohyuk hyung,” jawab Mino cepat. “Kudengar dia sampai di Seoul hari ini,”

“Dan?”

“Kau tidak berniat mau menjadikan dia GM-mu, hyung? Kita sama-sama tahu kalau dia adalah sahabat dekatmu dari kecil. Dia juga lulusan Paris. Dia berbakat, cerdas. Tak ada salahnya, ‘kan?” tawar Mino.

“Akan aku pertimbangkan,” jawab Jiyong. “Tapi… Kenapa bocah itu sama sekali tidak menghubungiku? Biasanya dia minta jemput dan mengajakku berkeliling sesuka hatinya,”

Belum juga Mino berkomentar, ponsel Jiyong berbunyi. Ah, hari ini ada berapa puluh orang yang meneleponnya? Kebetulan sekali, yang sedang dibicarakanlah yang menelepon.

“Baru saja aku tanya,” gumam Jiyong saat ia membaca nama si penelepon. “Yeoboseo?”

“Yo, Dragon! What’s up?!” sapa seorang laki-laki di seberang telepon, Lee Soohyuk.

“Kau berisik,” timpal Jiyong. Meskipun begitu ia tidak memungkiri kalau ia begitu merindukan sahabatnya itu.

Soohyun tertawa. “Kau masih tinggal di Galleria Foret, eoh? Masih di tempat yang lama, ‘kan? Masih dengan password yang lama juga, ‘kan? Kau tidak akan percaya, bro tapi saat ini aku sedang menuju apartemenmu!”

Jiyong tersentak. Tubuhnya langsung berdiri tegak tanpa ia sadari. “Kenapa kau ke sana?!” seru Jiyong.

“It’s a surprise, man! Kau masih bekerja? Aku akan istirahat sebentar di apartemenmu dan membeli beberapa botol beer. Ah, aku rindu Seoul! Let’s having fun tonight, G! Jangan lupa ajak Mino juga,” jawab Soohyuk tanpa menyadari ada aura panik yang menyerang tubuh sekaligus indera sahabatnya.

“Ya! Kenapa kau tidak langsung ke kantorku? Cepat kemari! Ada yang ingin aku katakan,” perintah Jiyong.

“Kau bisa mengatakannya nanti, chingu,” tolak Soohyuk. “Baiklah, sudah dulu, okay? Aku sudah sampai di depan gedung apartemenmu,”

“Lee Soohyuk! Ya!” seru Jiyong. Nihil. Soohyuk sudah memutuskan sambungan teleponnya dan kini yang bisa dilakukan Jiyong hanya diam terpaku. Ketakutan kembali memenuhi rongga dadanya.

“Hyung?” tanya Mino takut-takut. Aura membunuh kembali menguar dalam diri Jiyong, seperti kemarin dan Mino tahu ada yang tidak beres.

“Cepat urusi pekerjaanku, batalkan rapatku, dan semua janjiku hari ini. Aku akan pulang,” gerutu Jiyong. “Soohyuk sedang berada di apartemenku dan dia akan menemukan Taeyeon kapan saja!”

~~~

Entah apa yang ada di fikiran Jiyong sekarang saat ia mengemudikan mobilnya gila-gilaan menuju apartemennya. Ia tidak peduli begitu banyak cacian dan makian yang dilontarkan padanya saat ia menyalip dan memotong beberapa mobil yang tidak mungkin bagi orang lain untuk dilakukan. Tapi Jiyong sedang dalam mode berbahayanya. Ia akan lakukan apa saja agar tidak ada kejadian yang berada di luar kendalinya.

Dan pertemuan antar Taeyeon dengan Lee Soohyuk adalah salah satunya.

Apa yang harus dia katakan pada Soohyuk saat laki-laki itu menemukan Taeyeon di dalam apaartemennya? Dia pasti akan menyanggah habis-habisan ketika Taeyeon mengatakan kalau dia adalah adik kandung Jiyong. Tentu saja Soohyuk akan menyanggahnya. Soohyuk teman dekat, teman main Jiyong saat kecil, tentu saja ia tahu seluk-beluk keluarga Jiyong.

Kalau Jiyong tidak pernah punya dua orang adik.

Dan semuanya akan hancur, rencana yang sudah dia susun akan hancur detik itu juga.

Shit!” maki Jiyong saat ia hampir menabrak truk yang ada di hadapannya.  Jiyong menekan-nekan klaksonnya dengan berulang kali dan tidak sabaran, hingga ia harus kembali menyalip dua mobil yang ada di sebelah kanannya.

“Neo michyeosseo?!!” seru seseorang yang ada di dalam mobil yang baru saja tadi di salipnya. Tapi Jiyong tidak peduli. Sedikit lagi dia sampai di apartemennya.

Seharusnya saat ini Soohyuk meneleponnya dan menuntut penjelasan kenapa ada seorang gadis tinggal di apartemennya dan mengaku sebagai adiknya. Tapi, Soohyuk tidak ada memberi kabar apa-apa. Tentu saja. Mungkin saat ini Soohyuk sedang menginterogasi Taeyeon. Atau Taeyeon yang menginterogasi Soohyuk?

Oh, Tuhan apa lagi ini? Sudah dua hari ini Jiyong dapat surprise dari orang-orang yang tidak dia duga. Dan ini mengenai Kim Taeyeon.

Ketika laki-laki itu memasuki area parkiran mobil di Galleria Foret, ponselnya berdering nyaring. Ia menggerutu dan melihat nama di ponselnya. Song Minho.

“Wae geurae?” tanya Jiyong.

“Hyung, Taeyeon noona tidak ada di dalam apartemenmu,” ungkap Mino, yang sebenarnya berupa sebuah bisikan mimpi buruk untuk Jiyong.

“Kau tahu dari mana?” tanya Jiyong yang terkejut setengah mati.

“Aku sedang berada di kantor Kejaksaanmu dan aku menemukan kotak bekal yang aku yakini ini milik Taeyeon noona. Sekretarismu bilang kalau yang mengantarkan bekal ini adalah seorang gadis dan dia sudah pergi saat meletakkan bekal itu di atas mejamu, hyung. Aku mencoba menghubungi nomor Taeyeon noona tapi ia tidak mengangkatnya. Kemungkinan besar dia tidak membawa ponselnya,” jelas Mino.

Masalah baru. Taeyeon pergi keluar apartemen. Bahkan pergi ke kantornya! Ke Kejaksaan! Dan dia belum juga kembali ke apartemen.

“Apa ada yang melihat dia selain sekretarisku?” tanya Jiyong dengan suara tercekat.

“Aniya, hyung. Dia langsung pergi dan tidak berlama-lama di Kejaksaan. Yang paling penting adalah kita tidak tahu dia di mana, hyung. Apakah dia kembali ke apartemen atau bagaimana?”

“Aku yakin dan aku punya feeling kuat kalau dia tidak kembali ke apartemen,” gumam Jiyong. “Mino-ah, kau segera ke apartemenku dan jaga-jaga kalau Taeyeon tiba-tiba saja muncul di depan pintu. Aku akan mencarinya. Aku yang akan mencarinya. Aku harus menemukannya, walaupun kota Seoul ini harus aku geledah sekalipun dalam semalam, aku harus menemukannya,”

Jiyong memutuskan sambungan teleponnya dan membuang ponselnya asal. Ia memutar kemudi mobilnya dengan hentakan kasar dan menekan kuat-kuat pedal gasnya keluar dari parkiran mobil Galleria Foret.

Kim Taeyeon. Gadis itu benar-benar berniat membunuhnya secara perlahan.

 

 

 

To Be Continued-

 

Terima kasih atas support-nya^^ Loveya~

 

 

-Next Chap-

“Aku bersumpah, jika aku diizinkan untuk bertemu kembali dengannya, aku bersumpah tidak akan memintanya untuk kembali ke sisiku lagi”

Advertisements

84 comments on “A Blessed Sinner (Chapter 3)

  1. aaaah seru bgt dari part 1-3 gk ngebosenin, tpi malah nambah penasaran sma next chap nya 😀 d tnggu thor kelanjutannya 😉

  2. spertinya uri author bnar2 sibuk dg ujian..
    smgat ya…reader ini tdk akan meninggalkanmu n setia menanti updatanmu…hhe ngalayy gra2 galau menanti

  3. Taeyeon polos banget, ya? 🙂 Suka 🙂
    Oh! Gadis semungil itu nyempil dimana dia? Omo…
    Fighting Author! 🙂 Ayo next chapter-nya mana? Tidak sabar baca next-nya 😉
    The Leader’s Secret-nya juga ya Author-nim… *merayu penuh* 🙂
    Fighting All! 😀
    *bow*
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #ROYALISTDREAMER

  4. Lee Soo Hyuk-nya suka terang-terangan kayaknya 😀 and… ceria periang gimana gitu 🙂
    1. “Yo, Dragon! What’s up?!”
    2. “It’s a surprise, man!
    3. Let’s having fun tonight, G!
    🙂 😉 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s