A Blessed Sinner (Chapter 2)

a-blessed-sinner

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by : Ina @ Poster Fanfiction Graphics

A/N : Holaa… an old fanfiction here! Read and enjoy it, juseyo^^

[Chapter 1]

~~~

Taeyeon baru saja selesai mencuci piring makan malamnya ketika dia mendengar pintu apartemennya terbuka, menandakan si pemilik baru pulang dari bepergian. Kwon Jiyong masuk dan melempar asal mantelnya ke atas sofa sambil menghela nafas lelah.

“Kau tidak mengucapkan ‘aku pulang’ malam ini, oppa,” sahut Taeyeon dari arah dapur. Ia mendatangi kakaknya dan memperhatikan raut lelah Jiyong yang kentara sekali.

“Kukira kau sudah tidur,” jawab Jiyong. Ia sibuk melepas dasinya dan tidak menatap Taeyeon.

“Aku baru saja selesai makan malam keduaku,” ujar Taeyeon. Ia berniat membantu Jiyong melepas dasinya tapi laki-laki itu segera menghentikannya dengan berbalik badan dan menuju ke dapur, mengambil segelas air putih dingin dari dalam kulkas.

“Maksudnya?” tanya Jiyong.

“Kimbapnya tidak habis karena aku masak banyak tadi pagi. Chaeyoung tidak datang hari ini karena ada tugas dadakan dan aku seperti orang paling bodoh di dunia karena tidak tahu mau mengerjakan apa-apa selain tidur dan makan. Kurasa aku akan tampak seperti gorilla lama-kelamaan,” jelas Taeyeon dingin.

“Kau tahu aku sedang tidak mood untuk memperdebatkan hal itu lagi kali ini, Taeyeon-ah,” ujar Jiyong.

“Aku tidak memintamu untuk memperdebatkan hal itu, oppa. Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan,” sanggah Taeyeon, masih dengan nada dinginnya.

Bagaimana tidak kesal? Enam bulan lamanya dia hidup seperti alien, seperti makhluk asing di muka bumi hanya karena hilang ingatan dan kakak bodohnya yang entah itu terlalu sayang atau apa namanya melarang dirinya bepergian ke luar rumah sampai dia mengizinkan, atau paling tidak sampai ia mengingat kembali ingatannya.

Dan Taeyeon ingin tertawa terbahak-bahak mendengar alasan itu kalau Jiyong sendiri, pun tidak tahu jelas mengenai adiknya sendiri. Bagaimana caranya ingatannya kembali kalau Jiyong sama sekali tidak membantu.

“Tadi pagi kita sudah membicarakannya. Aku akan membawamu keluar saat tugasnya tidak terlalu menumpuk seperti sekarang,” kata Jiyong.

“Baiklah, aku juga sudah dengar itu,” jawab Taeyeon. “Kau mau kubuatkan teh herbal? Sepertinya pekerjaanmu hari ini begitu melelahkan, oppa,”

“Tidak perlu,” jawab Jiyong. Ia bangkit dari kursi dan segera bergegas menuju kamarnya sembari mengucapkan, “Selamat malam,” pada Taeyeon.

“Malam,” balas Taeyeon pelan.

Begitu suara pintu kamar Jiyong tertutup, Taeyeon menghela nafas panjang dan duduk di kursi meja makannya. Sejujurnya ia tidak marah pada Jiyong, ia tidak ingin mengungkit masalah itu lagi karena kakaknya sudah berjanji akan membawanya keluar. Ia tidak ingin membuat mood Jiyong makin memburuk sebenarnya.

Tapi entah kenapa hari ini dia ingin marah sekali pada Jiyong. Chaeyoung tidak bisa datang, dia tidak tahu mau mengerjakan apa-apa karena pekerjaan rumah yang sudah terlalu beres. Dia begitu… kesepian. Apalagi kakaknya yang pulang selalu larut.

Taeyeon tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena sudah menjadi rutinitas kakaknya pulang larut. Yang menjadi akar masalahnya adalah dia selalu menunggu kepulangan sang kakak berapa lama pun itu. Taeyeon berharap kakaknya mau menemani dia berbincang-bincang sebentar, mengobrol masalah apapun itu padanya. Taeyeon tidak masalah sama sekali jika Jiyong ingin mengeluh atau menumpahkan kekesalannya mengenai pekerjaan, asalkan dia mau cerita pada Taeyeon.

Taeyeon hanya ingin mengobrol dan mengenal kakaknya lebih dekat. Itu saja.

Tapi percakapan terpanjang mereka adalah saat Jiyong berusaha menjelaskan siapa itu Taeyeon, yang tentu saja tidak terlalu jelas. Setelah itu, mereka seperti punya kehidupan masing-masing.

Seakan-akan Jiyong menciptakan dinding pembatas yang super tebal dan transparan.

Taeyeon sempat meragukan apakah benar laki-laki egois dan sedingin es batu itu adalah kakak kandungnya. Tapi ia tetap berfikiran positif, mungkin saja pekerjaannya begitu banyak dan mungkin saja memang begitulah sikap dan sifat kakaknya dari kecil.

Meskipun Chaeyoung pernah bilang kalau kakaknya itu penuh pengertian dan penyayang.

“Seorang sekretaris di perusahaan besar dan perusahaan itu sudah bangkrut. Perusahaan apa itu? Lalu apa lagi? Siapa yang mengenalku luar dalam?” gumam Taeyeon. “Oh, tentu saja tidak ada yang tahu. Aku bahkan tidak tahu siapa aku,”

~~~

Jiyong menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa melepaskan pakaian kerjanya dan ia berusaha untuk memejamkan kedua matanya yang terasa berat, mencoba tidur. Namun, kepala dan isi fikirannya tidak mau bekerja sama. Mereka terus berputar-putar, membuat kepala laki-laki itu makin pusing.

Dia tahu sikapnya tadi membuat adik perempuannya terluka. Yah, bukannya hanya tadi melainkan sejak pertama kali Taeyeon menginjakkan kakinya di apartemen ini. Ia hanya mengucapkan satu-dua patah kata pada Taeyeon, bicara seperlunya dan sekedarnya saja, tidak seperti kakak-adik pada umumnya.

Jiyong begitu… hati-hati. Begitu menjaga jarak. Tentu saja hal itu harus ia lakukan. Bagaimanapun juga dia adalah seorang laki-laki. Walaupun sebenarnya dia dan Chaeyoung sendiri begitu dekat, begitu saling menunjukkan kasih sayang.

Padahal tadi pagi dia sudah menunjukkan sikap lembut seorang Kwon Jiyong, dan hal itu justru membuat Jiyong merasa buruk, merasa kalau jika dia terus dekat dan banyak bersentuhan dengan gadis itu, dinding pembatas antar mereka akan hancur seketika dan Jiyong sama sekali tidak akan habis fikir jika dia kehilangan kontrol dirinya. Lebih baik dia loncat saja dari jendela apartemennya ini.

Mungkin kepalanya akan ringan dan dingin kembali besok pagi, semoga saja dan setelah itu dia akan tahu harus bersikap apa pada adiknya. Bersikap seperti biasa atau memutuskan untuk sedikit berubah, lebih hangat dan rileks mungkin? Karena adiknya itu untuk pertama kalinya menangis dan mengutarakan kegundahan hatinya tadi pagi.

Mau tidak mau Jiyong harus mengambil keputusan dan perlu merubah sedikit sikap dinginnya.

~~~

“Oppa, mian. Aku terlambat membangunkanmu hari ini,” ucap Taeyeon pada Jiyong saat laki-laki itu baru saja datang dan duduk di kursi meja makan. Semua makanan sudah tersaji di atas meja, dan ia tinggal membuatkan teh herbal untuk Jiyong.

“Gwaenchannayo, kau tidak perlu membangunkanku tepat pukul 6 pagi,” jawab Jiyong. Teh yang disediakan Taeyeon langsung ditenggaknya habis. Beberapa detik kemudian barulah ia tersadar kalau teh itu masih sangat panas. Jiyong menjerit tertahan dan ia buru-buru melahap pancake cokelatnya untuk meredakan panas di lidahnya.

“Pelan-pelan, oppa. Kau bisa mati mendadak kalau seperti itu terus,” ujar Taeyeon. Ia membersihkan teh kakaknya yang sedikit tumpah di atas meja. Tepat saat itulah Jiyong sedikit melirik untuk memerhatikan wajah cantik bak malaikat adiknya.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jiyong tiba-tiba, membuat Taeyeon tersentak sedikit dan menyunggingkan senyum dengan raut wajah bingung.

“Tentu saja. Wae?” Taeyeon balik bertanya.

“Wajahmu sedikit pucat,”

“Nan gwaenchanna,” jawab Taeyeon lagi. Ia bangkit dari kursi dan memutuskan untuk mencuci piring tanpa menyentuh sarapannya terlebih dulu.

Meskipun gadis itu menjawab baik-baik saja, Jiyong sedikit ragu. Ia merasa Taeyeon sedang sakit karena ini bukan kali pertama gadis itu berwajah pucat dan ujung-ujungnya ia akan terbaring lemas di atas tempat tidur. Ini sudah yang keberapa belas kalinya dan Jiyong mulai was-was.

Pasalnya, ia tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Taeyeon setiap gadis itu merasa sakit dan terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Selalu ada Chaeyoung yang merawat Taeyeon sampai sembuh dan adik keduanya itu selalu menjawab, “Taeyeon eonni sudah agak baikan, oppa tidak perlu khawatir,”.

Sekarang tidak ada Chaeyoung dan Jiyong mulai merasa panik kalau-kalau nanti ada apa-apa dengan Taeyeon saat dirinya tidak ada di rumah.

“Kepalamu pusing?” tanya Jiyong lagi. Orang yang kehilangan ingatannya terkadang pasti memiliki rasa sakit di kepalanya yang muncul secara tiba-tiba. “Aku akan menelepon Chaeyoung agar dia menginap selama beberapa hari di sini sampai kau benar-benar merasa sudah baikan,”

“Aniyo, kepalaku tidak terasa sakit,” bantah Taeyeon. “Aku akan menghubungi Chaeyoung nanti siang,”

Jiyong terdiam dan ia memerhatikan kembali wajah adiknya. Pucat dan sesekali gadis itu mengernyit, seperti menahan sakit. Tanpa menunggu selama beberapa detik, laki-laki itu bangkit dari kursi dan mendekati Taeyeon.

“Selama ini kau sering kesakitan sehingga membuat Chaeyoung mau menginap di sini,” tutur Jiyong. “Sebenarnya ada apa denganmu? Kau sakit karena apa? Kepalamu pusing? Aku selalu bertanya pada Chaeyoung dan dia selalu menjawab kalau kau sudah agak baikan. Aku frustrasi memikirkannya setiap melihatmu seperti ini. Jadi, maukah kau memberitahuku ada apa? Kalau ini sering terjadi, aku takut sesuatu terjadi pada kepalamu dan kau harus di bawa ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat,”

Taeyeon tercengang mendengar ungkapan sang kakak. Ia menatap wajah tampan dan rupawan Jiyong lalu tersenyum kecil, terharu sekali. Kakaknya ini selalu bersikap dingin dan datar padanya, tapi mendengar kalau dia begitu khawatir dan mencemaskan keadaan Taeyeon, membuat Taeyeon percaya kalau yang namanya kakak, pasti punya perasaan kasih sayang pada adiknya.

Ini yang kedua kalinya Jiyong begitu perhatian dan lembut padanya setelah kemarin pagi, membuat Taeyeon ingin sekali menjatuhkan air matanya. Tapi mana mungkin? Kakaknya akan semakin cemas dan berfikiran yang tidak-tidak. Memikirkan hal itu sudah membuat Taeyeon bahagia.

“Percayalah, aku benar-benar tidak apa-apa, oppa,” jawab Taeyeon dengan menunjukkan wajah yang tegas, berusaha meyakinkan Jiyong. “Tidak perlu sampai ke rumah sakit atau semacamnya. Hanya sedikit sakit perut dan ini akan hilang dalam beberapa menit ke depan,”

“Jangan bercanda, Taeyeon-ah. Ini bukan kali pertama dan aku curiga itu bukan sakit perut,” sanggah Jiyong.

“Aku akan menghubungi Chaeyoung kalau sakit perutku tidak berhenti, oppa,” ujar Taeyeon. “Sekarang, pergilah bekerja. Kau akan terlambat,”

“Ani,” tolak Jiyong cepat. “Kau tidak hanya menghubungi Chaeyoung. Hubungi aku juga jika kau merasa kesakitan. Akan aku bawa ke dokter dan kita semua akan tahu apa obatnya sehingga kau tidak perlu merasa kesakitan seperti ini terus-menerus. Apa kau tahu betapa fatalnya kalau kau terus menahan sakit itu dan baru mengetahuinya belakangan?”

Taeyeon diam tidak menjawab. Ia menundukkan wajahnya dan menggigit bibir bawahnya, bingung. Tanpa menunggu jawaban atau bantahan dari Taeyeon, Jiyong mengambil tas, kunci mobil, dan beberapa dokumen pekerjaannya dari atas meja makan.

“Tidak perlu melakukan apa-apa hari ini. Istirahat saja dan tidak perlu masak juga. Kau bisa delivery untuk makan siang dan makan malamnya aku akan beli sesuatu,” ujar Jiyong dengan nada seperti memerintah. “Aku pergi,”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya. Begitu pintu apartemen tertutup, gadis itu duduk di kursi meja makan, memakan pancake-nya dengan perlahan sambil tersenyum manis. Kakaknya begitu perhatian. Ia jadi ingin mengetahui lebih banyak lagi sifat lembut kakaknya.

“Akh!” ringis Taeyeon seketika sambil memegangi perutnya. Ia menjatuhkan pancake-nya di atas piring dan berusaha bangkit untuk mengambil ponselnya di dalam kamar, hendak menghubungi Chaeyoung.

Sepertinya rasa sakitnya tidak akan berhenti selama satu hari ini kecuali jika ada Chaeyoung.

~~~

“Apa kau baik-baik saja, oppa? Kurang tidur?” tanya Joohyun pelan pada Jiyong sambil menyentuh dahi Jiyong yang suhu tubuhnya biasa-biasa saja.

Bae Joohyun sedang berada di dalam kantor Jiyong, berdiri menyandarkan pinggang rampingnya di meja kerja Jiyong, di samping laki-laki itu.

“Aku sangat baik,” jawab Jiyong. Ia menggenggam telapak tangan Joohyun yang menempel di dahinya dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan mesra, agar ia tidak terlalu khawatir pada Jiyong. “Tidak perlu cemas,”

“Bagaimana aku tidak cemas? Kau bahkan tidak mengerjakan apa-apa sejak datang ke kantor. Hanya duduk diam dan sekarang kau tampak melamun memikirkan sesuatu. Waeyo? Oppa berjanji akan menceritakan semuanya padaku, ‘kan? Apapun itu yang mengganggu fikiranmu katakan saja padaku. Aku tidak suka melihat kerutan di dahimu ini,” jelas Joohyun sambil mengerucutkan bibirnya.

Jiyong tersenyum seraya memandangi wajah sang gadis lekat-lekat. Gadis yang berprofesi sebagai seorang jaksa muda paling cantik di Kejaksaan Korea Selatan. Gadis yang hatinya dingin seperti batu es dan meleleh begitu saja di tangan seorang Kwon Jiyong. Gadis yang selalu menegakkan kepalanya dan mendadak bertekuk lutut pada si Pangeran Kwon.

Pasangan sempurna dan banyak dikagumi orang di Kejaksaan. Tidak ada satu orang pun yang berani menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. Mereka sudah terlalu click satu sama lain. Banyak orang yang beranggapan mereka itu adalah contoh dari ‘relationship goals’ dan semacamnya.

Tentu saja Jiyong bangga bisa menaklukkan sang Princess―yah walaupun Joohyun ini adalah gadis yang entah keberapa puluh yang berhasil ditaklukkan Jiyong―tapi entah kenapa hatinya belum merasa berdebar-debar ataupun berbunga-bunga seperti kebanyakan orang kasmaran pada umumnya.

“Kau sangat cerewet, dan itu malah membuatmu semakin cantik,” puji Jiyong dengan suara lembutnya, yang membuat siapa saja yang mendengar akan mengalami serangan jantung mendadak.

Joohyun mengembangkan senyum manisnya dan mendekatkan wajah ke wajah si tampan Jiyong, hendak menciumnya. Jiyong senang-senang saja menunggu ciuman manis dari sang kekasih, ia suka dengan perempuan yang agresif dan bertindak duluan.

Namun, belum ada jarak lima senti menghapus jarak wajah mereka, pintu kantor Jiyong terbuka dan menampilkan sosok Song Minho atau biasa disapa Mino, tangan kanan sekaligus sahabat dekat yang sudah Jiyong anggap adik sendiri. Mendengar dan melihat kedatangan Mino yang tidak tepat waktu, Joohyun menarik tubuhnya cepat-cepat menjauh dari Jiyong.

“Kau mengganggu sekali, Mino-ah!” hardik Jiyong kesal. Joohyun bersedekap dan memilih duduk di sofa kantor laki-laki itu. Kelihatan sekali dia sangat kesal karena seseorang mengganggu hubungan intimnya dengan Jiyong yang jarang sekali terjadi, mengingat pacarnya itu workaholic.

Mino tertawa, tak takut jika jaksa keren tersebut meledak marah. “Mian, hyung. Tapi bukankah kau yang menyuruhku tadi datang ke sini?”

“Ah, ne,” jawab Jiyong. Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, “Jadi? Bagaimana Chaeyoung? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk?”

“Tentu saja tidak. Adikmu yang cute dan menggemaskan itu gadis yang baik hati,” jawab Mino tegas. “Hanya saja akhir-akhir ini dia jadi lebih sering berbelanja dan mencoba belajar memasak. Masak apa saja meskipun kelihatannya sering gagal,”

“Aku bisa tanyakan apa alasannya nanti,” sela Jiyong. “Aku ingin tanya sesuatu padamu,”

“Apa itu, hyung?” tanya Mino penasaran.

Sebelum Jiyong menjawab, kedua mata hazelnya menatap Joohyun dan laki-laki itu tersenyum penuh makna. Joohyun langsung tahu dan dia langsung bangkit dari sofa.

“Arayo,” ujar Joohyun. “Masalah perusahaan, ‘kan? Baiklah, aku akan pergi. Sampai nanti, oppa,”

“Perusahaan? Ada apa dengan perusahaanmu, hyung? Bukankah sekarang lagi naik-naiknya?” tanya Mino heran.

“Tentu saja bukan,” jawab Jiyong cepat. “Aku hanya ingin bilang kalau Taeyeon sakit lagi hari ini,”

“Lagi?” tanya Mino. “Ini yang sudah keberapa kalinya, hyung? Aku rasa Taeyeon noona harus di bawa ke rumah sakit. Aku tidak akan habis fikir kalau sesuatu terjadi dengan Taeyeon noona dan kita mengetahuinya belakangan. Mungkin saja itu ada hubungannya dengan amnesianya, hyung,”

“Mungkin saja dan aku sudah memaksanya tadi pagi untuk membawanya ke rumah sakit kalau sakitnya belum sembuh juga,” ujar Jiyong. “Sekarang, aku mau menelepon Chaeyoung, memintanya untuk menginap dan menjaga Taeyeon lagi. Kali ini aku akan memaksa gadis itu menjawab apa sakitnya,”

“Kau belum menelepon Chaeyoung? Kenapa tidak daritadi saja?” tuntut Mino.

“Joohyun tidak mau keluar dari ruanganku, mana mungkin aku mengusirnya tanpa alasan,” jawab Jiyong. Ia mencari nama ‘Chaeyoung’ di dalam kontak teleponnya dan segera menghubungi adik bungsunya itu.

“Itu karena kau terlalu memikirkan kondisi Taeyeon noona, hyung. Itu sebabnya Joohyun mengira kau stress karena kerjaan,” ujar Mino.

“Chaeyoung-ah,” panggil Jiyong pada adiknya di seberang telepon.

“Oppa!” jawab Chaeyoung. “Aku baru saja mau meneleponmu!”

“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Jiyong. Mino mendekatkan dirinya agar bisa mendengar lebih jelas percakapan dua saudara itu.

“Aku tidak tahu bagaimana mulainya, tapi Taeyeon eonni sakit lagi!” seru Chaeyoung dan bisa dipastikan gadis itu panik setengah mati.

“Aku tahu, aku melihat wajahnya pucat tadi pagi. Aku meneleponmu karena kau sudah tahu pasti apa yang akan kau lakukan saat dia sakit seperti biasanya. Dan kali ini kau harus menjawab pertanyaanku. Sakit apa sebenarnya kakakmu itu?”

“Oppa mianhae, mianhae,” isak Chaeyoung. “Nado mollayo, tapi dua minggu belakangan ini tugasku benar-benar menumpuk dan rasanya kepalaku mau botak memikirkan bagaimana menyelesaikan semuanya dalam satu bulan! Aku jarang main ke apartemenmu karena itu, dan aku tidak bisa ada di samping Taeyeon eonni untuk saat ini. Omo! Eotteokae, oppa? Taeyeon eonni pasti membutuhkanku!”

“Chaeyoung-ah tenanglah,” bujuk Jiyong. “Sekarang, tarik nafas panjang-panjang dan hembuskan pelan-pelan lalu katakan padaku semuanya, eoh? Aku akan mengurus Taeyeon dan membawanya ke rumah sakit! Aku perlu tahu dia sakit apa, bisakah kau memberitahuku? Aku bisa juga sekalian membelikannya obat nanti,”

“Oppa, Taeyeon eonni baru saja meneleponku dan mengatakan kalau dia merasa sakit sekali. Aku tidak tahu… Aku…,”

“Chaeyoung-ah,” panggil Jiyong lembut. Adik kecilnya itu memang seseorang yang sangat sensitive. “Katakan padaku dan semuanya beres, okay? Aku juga sangat frustrasi karena kalian menyembunyikannya dariku berbulan-bulan!”

“Jangan dibawa ke rumah sakit, oppa!” larang Chaeyoung. “Bukan sakit yang harus dibawa dan diperiksa ke rumah sakit. Oppa, mianhae. Aku menyembunyikannya karena Taeyeon eonni yang meminta. Dia malu kalau kau tahu,”

“Apa yang membuatnya malu? Kalau dia sampai mati mendadak apa rasa malunya masih ada?” tanya Jiyong kesal.

“Dengar dulu!” pekik Chaeyoung. “Oppa, yang kau perlukan hanyalah cepat pulang ke rumah, buatkan teh hangat, dan usap pinggang Taeyeon eonni dengan lembut sampai Taeyeon eonni tertidur pulas. Mudah, ‘kan?”

~~~

Untuk pertama kalinya Jiyong merasa menyesal sekali menanyakan sakit apa Taeyeon. Chaeyoung sudah menceritakan semuanya dan reaksi Jiyong adalah terkejut setengah mati. Ia menyesal. Apalagi setelah Chaeyoung bilang bagaimana cara mengobatinya. Kenapa adiknya itu tidak menyuruhnya bunuh diri saja? Kenapa adiknya tidak bisa memahami posisi Jiyong sama sekali?

Tentu saja, Chaeyoung pasti lebih mencemaskan dan lebih memikirkan keadaan kakak perempuannya yang sedang sekarat saat ini. Mau bagaimana lagi? Jiyong harus melakukan sesuatu, ‘kan sebelum adik perempuannya itu mati hanya karena menahan sakit perut akibat kedatangan bulan.

Ya, kedatangan bulan.

Mendengar sakit apa itu, Mino langsung tertawa terbahak-bahak karena melihat ekspresi Jiyong yang mendadak membeku di tempat dengan wajah merah padam. Pantas saja Taeyeon enggan memberitahukan sakitnya itu pada Jiyong.

Oh, shit.

Belum lagi si Mino bedebah itu langsung angkat tangan dari masalah ini, tidak mau membantu sama sekali.

“Naneun… oppa-ah. Oppa,” gumam Jiyong dan ia langsung membuka pintu apartemennya dengan mantap.

Setelah pintu tertutup dan Jiyong meletakkan asal tas serta dokumen-dokumennya di atas sofa, ia mencari-cari Taeyeon di dapur, di ruang tengah, dan di belakang. Tidak ada. Itu artinya dia ada di kamar. Oh, kasihan. Pasti gadis itu tengah meringkuk di dalam selimut menahan sakit.

“Taeyeon-ah,” panggil Jiyong lembut sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Taeyeon.

Tidak ada jawaban. Berkali-kali diketuk Jiyong dan Taeyeon sama sekali tidak menjawab.

Akhirnya, laki-laki itu menarik engsel pintu kamar Taeyeon dan membukanya perlahan, mengintip ke dalam kamar. Benar saja, gadis itu sedang bergelung di atas tempat tidur di dalam selimutnya. Dengan langkah berani, Jiyong melangkah mendekati gadis itu dan sedikit menyibakkan selimutnya, memperlihatkan wajah pucat penuh peluh yang membasahi dahi Taeyeon.

“Apa masih sakit sekali?” tanya Jiyong lembut sambil mengelus ubun-ubun kepala Taeyeon dengan sayang.

Taeyeon membuka kedua kelopak matanya, terkejut dengan kedatangan sang kakak, tapi keterkejutannya sama sekali tidak terlihat karena rasa sakit yang menyerang perutnya membuatnya tidak bisa berfikir jernih.

“Oppa, kau sudah pulang?” tanya Taeyeon dengan suara parau. Ia hendak bangkit tapi Jiyong langsung menahan pundak kanan Taeyeon.

“Berbaring saja, jangan banyak bergerak. Aku akan membuatkanmu teh. Tunggu,” ujar Jiyong. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan bergegas menuju dapur, membuat teh hangat yang biasa dibuat Taeyeon untuknya. Tapi Jiyong yakin sekali rasanya tidak akan seenak buatan gadis itu.

Tidak sampai sepuluh menit, Jiyong sudah berada di kamar Taeyeon lagi. Kali ini Taeyeon sudah duduk bersandar di kepala tempat tidurnya sambil memejamkan kedua matanya. Saat didengarnya pintu kamar terbuka dan tertutup, ia membuka matanya dan menatap Jiyong.

“Minumlah sampai habis sekalian bersama obatnya. Kudengar ini obat yang paling ampuh untuk meredakan rasa sakitnya,” ujar Jiyong sambil memberikan gelas berisi teh dan satu butir obat di telapak tangan Jiyong.

Taeyeon menerimanya dan ia menuruti perkataan Jiyong tanpa berkata apa-apa lagi. Bibirnya sulit digerakkan karena tubuhnya yang lemas.

“Mian, aku merepotkanmu, oppa,” ujar Taeyeon setelah selesai minum obat. Jiyong meletakkan gelas itu ke atas meja rias milik Taeyeon. Suaranya masih parau. “Ini masih pukul lima sore dan kau sudah pulang. Bagaimana pekerjaanmu?”

“Sshh,” potong Jiyong. “Jangan memikirkan hal itu. Kau tahu siapa kau dan tidak perlu cemas. Cemaskanlah dirimu ini,”

Taeyeon tersenyum manis sekali, membuat Jiyong langsung mengalihkan pandangannya ke mana saja secara refleks. Melihat senyum damai Taeyeon membuat perutnya melonjak aneh.

“Ah,” erang Taeyeon pelan sekali tapi Jiyong masih bisa mendengarnya.

“Ada apa? Masih sakit? Sakit sekali?” tanya Jiyong panik.

“Aku mau tidur kembali saja, oppa. Pergilah,” jawab Taeyeon pelan. Ia membaringkan tubuhnya dan menutup kedua matanya rapat-rapat.

Jiyong bingung setengah mati. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan hanya diam sambil memerhatikan wajah pucat Taeyeon.

“Taeyeon-ah, kau butuh sesuatu?” tanya Jiyong pelan.

“Ani,” jawab Taeyeon pelan. Setitik air matanya jatuh seketika dan itu membuat Jiyong shock sekali.

“Pasti rasanya sakit sekali, eoh?” tanya Jiyong. Ia membelai lembut rambut Taeyeon, berharap sakitnya akan segera hilang dan adiknya itu bisa langsung tidur nyenyak. Namun, nyatanya tidak. Taeyeon masih mengerang sakit dan tubuhnya ia gelung lagi di dalam selimut.

“Oppa, yang kau perlukan hanyalah cepat pulang ke rumah, buatkan teh hangat, dan usap pinggang Taeyeon eonni dengan lembut sampai Taeyeon eonni tertidur pulas. Mudah, ‘kan?”

Haruskah?

Setelah berfikir selama beberapa puluh detik, akhirnya Jiyong memutuskan untuk mengikuti perkataan adiknya. Laki-laki Kwon itu duduk di atas ranjang Taeyeon, di samping tubuh mungil gadis itu dan dengan perlahan-lahan mengelus-elus pinggangnya.

Jiyong sama sekali tidak tahu kenapa jantungnya bisa berdebar begitu menyakitkan saat tangannya bersentuhan dan bergesekan secara tidak langsung dengan tubuh Taeyeon. Darahnya mendadak naik dan suhu tubuhnya memanas, padahal AC di dalam kamar Taeyeon tengah menyala. Ia begitu gugup dan canggung tapi tetap memberikan kenyamanan dengan mengelusi pinggang Taeyeon. Ia merasa seperti laki-laki polos yang baru pertama menyentuh perempuan dan hal itu sungguh menggelikan.

Ayolah, Jiyong. Gadis yang ada di hadapanmu sekarang ini adalah adikmu. Bersikap biasa saja.

Sadar apa yang dilakukan Jiyong sekarang ini membuat Taeyeon sedikit tersentak dan malu sendiri. Ia canggung dan salah tingkah tapi hal itu tidak begitu kelihatan karena rasa sakit di perutnya. Ia sering diperlakukan seperti ini oleh Chaeyoung karena menurut Chaeyoung dengan mengusap-usap pinggang akan membuat sakitnya berkurang.

Memang benar. Taeyeon akan sembuh jika bagian pinggangnya dielus seperti itu. Rasa nyaman dan kehangatan dari tangan Jiyong terasa di tubuh Taeyeon, dan gadis itu mulai memejamkan matanya dengan nyaman. Bahkan, ia membalikkan tubuhnya menghadap dan sedikit merapat pada Jiyong, berharap mendapat kehangatan lebih.

Awalnya Jiyong kaget, tapi ekspresinya berubah melembut saat kedua matanya menangkap kenyamanan yang kentara sekali di wajah Taeyeon yang sekarang sedang tidur dengan lelap. Jiyong menyunggingkan senyum kecilnya yang manis dan tetap mengelusi bagian pinggang Taeyeon entah sampai berapa lama.

Mungkin sampai beberapa jam sampai Taeyeon membuka kedua kelopak matanya setelah tertidur dengan sangat nyenyak. Semalaman ia memang tidak bisa tidur karena menahan sakit sehingga ia terlambat membangunkan kakaknya dan membuat sarapan.

Ah, kakaknya. Taeyeon baru ingat Jiyong tadi merawatnya. Memberikannya obat dan mengelusi pinggangnya dengan penuh kasih sayang. Ya, kasih sayang. Wajah Taeyeon bersemu merah dan senyum manis langsung berkembang di wajahnya yang cantik. Entah kenapa melihat wajah khawatir kakaknya dan perhatian yang ia berikan membuat Taeyeon berbunga-bunga, rasanya ada begitu banyak kupu-kupu beterbangan di perutnya.

Seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya. Taeyeon tidak tahu itu tapi ia merasa bahagia.

Beberapa detik kemudian, seakan tersadar dari lamunannya yang mengada-ada, Taeyeon merasakan ada gerakan di sampingnya. Ia langsung berbalik dan betapa terkejutnya gadis mungil itu mendapati Jiyong sedang tidur nyenyak di dekatnya.

Pasti laki-laki itu menjaga Taeyeon sampai berjam-jam hingga mengantuk. Taeyeon jadi merasa bersalah dan tidak tega untuk membangunkannya. Itu sebabnya, gadis itu hanya diam sembari memandangi wajah tampan rupawan Jiyong lama sekali. Wajah yang selalu menunjukkan aura dingin, tegas, dan seperti tidak berperasaan. Nyatanya, ia adalah laki-laki yang sebaliknya. Dan saat ini wajah itu seperti bayi lucu yang menggemaskan.

Ingin sekali rasanya Taeyeon mengelus wajah tegas kakaknya itu. Tapi ia takut hal itu akan membangunkan sang kakak.

“Gomawoyo, oppa. Kau ternyata sangat pengertian dan penyayang. Andai kau memperlihatkannya setiap hari,” gumam Taeyeon. Tangan kanannya bergerak sendiri dan ia menelusuri wajah Jiyong dengan jari telunjuknya.

Taeyeon tersenyum dan ia perlahan-lahan bangkit dari tempat tidur. Rasa sakitnya sudah tidak begitu menusuk lagi dan saatnya untuk memasak makan malam, mengingat saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Begitu Taeyeon keluar dari kamarnya, Jiyong langsung membuka kedua matanya dan menatap pintu kamar itu lekat-lekat. Ia sudah bangun sejak Taeyeon berbalik dan memandanginya dan ia sadar dipandangi oleh gadis itu, itu sebabnya ia tidak berani membuka kedua matanya saat itu juga. Ia takut, jujur saja.

Dan perkataan gadis itu membuat ulu hati Jiyong perih. Ia tidak bisa melakukannya, tentu saja. Tidak akan pernah bisa dan ia tidak mau coba-coba. Ini saja sudah melampaui batasnya dan ia berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Dari awal ia sudah memutuskan untuk menciptakan dinding pemisah itu dan tidak ada yang bisa memaksanya untuk merobohkan dinding itu.

Karena ia percaya, gadis yang bernama Taeyeon itu akan membenci Jiyong seumur hidupnya. Jiyong tidak akan merasa begitu tersakiti jika ia tidak begitu akrab dan dekat dengan gadis itu. Ia harus tetap pada tujuan awalnya.

~~~

“Mianhae, Joohyun-ah. Aku terpaksa pulang lebih cepat dan tidak memberitahumu karena ada hal darurat. Aku akan mengatakannya padamu besok, jangan khawatir aku tidak apa-apa. Mian, besok kita pasti ada waktu lebih banyak lagi, eoh? Aku janji,” ujar Jiyong pada Joohyun di telepon. “Neodo. Selamat malam, aku mencintaimu,”

“Pasti rasanya menyenangkan sekali ada yang memperhatikan sekaligus mencemaskan kita. Kau beruntung, oppa. Kudengar dari Mino, Joohyun itu sangat cantik. Aku ingin sekali bertemu dengannya,” ucap Taeyeon yang duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Jiyong.

“Aku tidak ada waktu untuk membawanya ke sini, Taeyeon-ah,” jawab Jiyong. Ia lebih memusatkan kedua hazelnya pada makanan lezat yang tengah dilahapnya.

“Aku berharap bisa segera keluar dari apartemen ini, bekerja, dan bertemu dengan laki-laki kaya raya, tampan, sexy, baik hati dan yang memintaku untuk menjadi pacarnya yang setia. Hidupku pasti lebih berwarna,” ungkap Taeyeon. Ucapan Taeyeon itu sukses mengalihkan pandangan Jiyong.

“Percayalah, itu hanya ada dalam imajinasimu,” ujar Jiyong. “Tidak banyak yang seperti itu, kebanyakan laki-laki yang kau bilang itu pasti akan mempermainkanmu,”

“Salah satunya kau, oppa. Dan aku percaya aku akan menemukannya yang jauh berbeda darimu,” sambar Taeyeon, kesal. “Aku akan menemukannya dan aku yakin aku bisa menaklukkannya dalam sekejap. Chaeyoung bilang kalau aku ini adalah tipe perempuan yang mampu menarik hati laki-laki mana saja. Oppa, cepatlah selesaikan pekerjaanmu agar aku bisa keluar dari sini,”

Jiyong diam tidak menjawab. Ia buru-buru menyelesaikan makan malamnya. Mendadak saja mood-nya turun, kelihatan sekali dari wajahnya yang berubah suram.

“Aku selesai. Gomawo, dan selamat malam,” ujar Jiyong cepat. Ia menenggak minumannya dan segera bangkit dari kursi menuju kamar.

“Malam,” balas Taeyeon, tidak peduli. Ia tahu kakaknya itu kembali tidak mood jika Taeyeon berbicara mengenai ‘keluar rumah’. Sekarang ini ego Taeyeon begitu tinggi dan ia tidak mau susah-susah untuk minta maaf pada sang kakak.

~~~

Entah kenapa pagi ini seperti pagi yang sial untuk seorang Kwon Jiyong. Ia tidak menyangka, bahkan dalam mimpinya sekalipun, kalau ia akan bertemu lagi dengan sosok itu.

Choi Seunghyun.

“Sepertinya kau tidak senang dengan kedatanganku, Jiyong-ah,” sapa Seunghyun saat dirinya sudah berada di hadapan Jiyong, yang termangu di atas kursinya menatap sosok tegap dan tegas seorang Seunghyun, seorang kapten detektif yang sangat tersohor di Jepang.

Sebelum Jiyong menjabat sebagai seorang jaksa, ia adalah detektif dan bekerja sama dengan Seunghyun selama dua tahun. Mereka memang tidak begitu dekat tapi setiap ada kasus, mereka selalu dipasangkan.

Kasus terakhir sebelum Jiyong memutuskan untuk menjadi jaksa dan melepas titel detektifnya adalah kasus korupsi di Jeonju. Hal itu memang membuat banyak pihak terkejut bukan main, tapi lega karena Jiyong masih mau bekerja di Kejaksaan Korea Selatan. Sejak itu juga, Seunghyun pindah tugas ke Jepang.

“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Jiyong malas. Tapi jantungnya berdetak cukup kuat. Ia tahu apa yang membawa laki-laki penuh wibawa itu datang ke sini, pulang ke Korea dan bertemu ‘teman lama’.

“Sudah enam bulan lamanya dan aku ingin bertemu dengan mantan partner-ku,” jawab Seunghyun dengan senyuman mautnya. Jika para perempuan melihat itu, mereka akan merasa telah digoda oleh seorang malaikat maut.

“Jangan basa-basi, aku banyak kerjaan,” ujar Jiyong dingin.

“Tentu saja, seorang jaksa berpengaruh sepertimu memang pasti banyak pekerjaan,” jawab Seunghyun. “Aku kembali ke Korea memang berniat bertemu denganmu. Kau seharusnya sudah tahu, Kwon Jiyong apa tujuanku bertemu denganku,”

“Apa?” tantang Jiyong. “Masalah gadis itu lagi? Kau tahu aku tidak tahu apa-apa tentang dia dan ini kesekian kalinya kau bertanya,”

“Instingku mengatakan kalau gadis itu ada bersamamu, Jiyong-ah. Ayolah, jangan banyak bercanda. Di mana kau menyembunyikannya?” tanya Seunghyun. Raut wajahnya mengeras.

“Instingmu? Seharusnya kaulah yang jangan banyak bercanda, Seunghyun-ah! Aku tidak tahu apa-apa dan bagaimana lagi aku harus mengatakannya? Kenapa kau begitu mencurigaiku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya,” jawab Jiyong mulai naik darah.

“Tapi yang ada di lokasi kejadian adalah dirimu, Jiyong-ah. Dirimu. Kau bahkan ada di situ saat kecelakaan itu terjadi. Dan aku yakin, pengemudi itu menabrak seseorang. Keyakinanku semakin bertambah terjadi saat dia bilang kalau yang dia tabrak adalah seorang gadis. Bagaimana bisa aku tidak mencurigaimu?” jelas Seunghyun. Bibirnya yang tipis bergetar sedikit saat mengatakan hal pahit itu kembali.

Kejadian di mana Seunghyun harus kehilangan sosok perempuan yang sangat dicintainya. Dan ia yakin perempuan itu masih hidup, entah di mana keberadaannya sekarang. Dan ia yakin akan menemukannya jika laki-laki keras kepala ini mau mengakuinya.

“Kau sudah tahu kalau gadismu itu meninggal dan hangus di perusahaan, Seunghyun-ah,” geram Jiyong.

“Dan kau tahu kalau itu hanya bullshit. Aku bisa pastikan tidak ada korban saat kebakaran itu terjadi,” sambar Seunghyun.

Tepat saat itu, pintu kantor Jiyong terbuka dan memunculkan Mino. Mino tidak bisa menyembunyikan kekagetannya saat ia melihat sosok Seunghyun di ruangan Jiyong.

“Ah, Mino-ssi,” sapa Seunghyun ramah, tentu saja bukan dalam artian yang sebenarnya. “Aku ke sini untuk kembali mengingatkan Jiyong pada peristiwa enam bulan yang lalu. Aku tahu kau masih sangat ingat waktu itu. Ah, bukankah kau ikut berdua dengan Jiyong? Kenapa saat aku sampai di sana, aku tidak bertemu denganmu? Tepatnya saat kecelakaan terjadi,”

“Dan kurasa aku sudah menjawabnya, Seunghyun-ssi,” jawab Mino pelan dan penuh kehati-hatian. Atmosfir dalam ruangan Jiyong benar-benar tidak mengenakkan sama sekali. Mino merutuki dirinya kenapa ia harus datang ke kantor Jiyong pada saat ini.

“Aku sama sekali tidak percaya sampai mati,” desis Seunghyun. Ia mengeluarkan smirk-nya dan menatap sinis Jiyong juga Mino secara bergantian.

“Dan sampai mati pun kau tidak akan mendapatkan jawabannya,” sambung Jiyong tidak kalah dinginnya.

Okay, okay bro,” jawab Seunghyun. Ponselnya berbunyi dan ia menatap nama di layarnya sembari tersenyum lebar. “Aku harus kembali ke Jepang. Heechul membutuhkanku dan kami berdua akan kembali ke sini bersama-sama. Bersama-sama mencari gadis itu, gadisku. Kim Taeyeon,”

Selesai berkata seperti itu, Seunghyun balik badan dan bergegas keluar dari kantor Jiyong. Jiyong menghela nafas panjang, lelah. Ia melempar dokumen yang daritadi dibacanya ke sembarang arah dan menatap murka ke luar jendela. Sedangkan Mino hanya diam, tidak berani bersuara. Jiyong bisa meledak kapan saja sesukanya.

“Aku sudah berjanji akan membawanya keluar apartemen,” ujar Jiyong tiba-tiba. Mino tersentak tapi ia tetap mendengarkan. “Kita tidak tahu kapan dia kembali lagi. Kemungkinan mereka bertemu hampir seratus persen, Mino-ah. Itu sebabnya, sebelum terlambat dan sebelum semuanya terjadi di luar perkiraanku, tolong pantau kedua orang itu. Choi Seunghyun dan Kim Heechul,”

 

 

 

 

-To Be Continued-

Chappie depan Lee Soo Hyuk akan muncul (Bagi yang menunggu kedatangannya) haha

Advertisements

66 comments on “A Blessed Sinner (Chapter 2)

  1. Pingback: A Blessed Sinner (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Daebak thor, ceritanya seru banget, penasaran deh sama hubungan tae eon sama seunghyun oppa, heeculie oppa dan jiyoungie oppa
    Next chapter sama TLS nya ditunggu thornim
    Fighting

  3. Siapa yang menabrak Taeyeon?
    Jiyong, perasaanmu… berhati-hatilah! 😀 Ada gadis cantik didekatmu! Di apartemenmu!
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #ROYALISTDREAMER
    Fighting Author! 🙂
    Fighying All! 🙂
    *bow*

  4. Prediksi tujuan awal jiyong ngumpetin teayeon karena jiyong yg nabrak taeyeon tpi kok jadi berubah gini apa jiyong ngumpetin taeyeon kara dia orang yg dicintai TOP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s