A Blessed Sinner (Chapter 1)

a-blessed-sinner

Bina Ferina Storyline

Feat.

YG – SM Entertainment

Poster by : Ina @ Poster Fanfiction Graphics

A/N : Holaa… an old fanfiction here! Read and enjoy it, juseyo^^

~~~

[ SUMMARY ]

Sebelum aku memejamkan kedua mataku dan tertidur untuk waktu yang bahkan aku tidak tahu berapa lama, aku berusaha untuk menyimpan kenangan itu dalam ingatanku. Aku tidak akan melupakannya, tidak akan pernah. Akan aku jadikan kenangan ini sebagai arah hidupku selanjutnya setelah aku terbangun nanti.

Kedua mata yang indah. Mata berwarna cokelat madu, yang mampu menghisap siapapun yang memandangnya untuk jatuh terlalu dalam pada tatapan tajamnya.

Aku tidak akan mungkin melupakannya ketika pertama kali kami berpandangan. Kedua mata indah, membuatku terpana sekaligus terintimidasi di saat yang bersamaan.

Aku sangat berharap, saat aku terbangun nanti, aku akan langsung mencari dirinya, mencari kenanganku. Akan kukejar dan aku relakan apa saja demi mendapatkannya, sekalipun aku harus menyerahkan nyawaku sendiri.

~~~

[ CASTS ]

Kim Tae Yeon ( 27 years old )

Kwon Ji Yong ( 28 years old )

Lee Soo Hyuk ( 28 years old )

Kim Hee Chul ( 33 years old )

Bae Joo Hyun ( 25 years old )

Choi Seung Hyun ( 29 years old )

Song Min Ho ( 23 years old )

Park Chae Young ( 19 years old)

Do Kyung Soo ( 23 years old)

~~~

Dia harus lari sekencang mungkin. Walaupun kedua lututnya terasa lemas bahkan untuk digerakkan saja, dia harus tetap memaksa kakinya berlari. Dia harus lari mencari seseorang, meminta bantuan siapa saja sebelum orang itu menangkapnya.

Dia begitu ketakutan tapi tetap mempertahankan laju larinya. Nafasnya terengah-engah dan jantungnya terasa diremas kuat oleh sebuah tangan besi sampai-sampai ulu hatinya sakit bukan main. Air matanya terus jatuh mengalir di kedua pipinya mengingat kejadian beberapa detik yang lalu.

Meskipun jiwanya begitu terguncang tapi akal sehatnya tetap bekerja. Dia tidak mau tertangkap dan mati sia-sia. Dia akan berjuang mencari seseorang yang bisa membantunya agar orang itu membayar apa yang sudah dia lakukan pada hidupnya.

Karena terlalu fokus berlari mencari siapa saja di jalanan sepi dan gelap itu, gadis bertubuh mungil tersebut tidak menyadari kaki kanannya yang tersandung sebuah batu cukup besar dan mampu membuat tubuhnya jatuh terguling ke tengah jalan.

Tepat saat itu, entah kesialan atau takdir yang mempermainkan hidupnya, sebuah mobil berkecepatan sangat tinggi muncul dari ujung jalan. Mobil itu memiliki kaca hitam yang pekat di jalanan gelap, membuatnya tidak menyadari ada seorang gadis yang tengah kesakitan dan berusaha bangkit kembali.

Baru saja ia bangkit berdiri untuk menyingkir ke tepi jalan, gadis itu menoleh ke kiri setelah kedua telinganya menangkap suara klakson mobil tidak jauh darinya. Belum sempat si pengemudi mobil menginjak rem dan belum hilang rasa shock sang gadis, tubuh mungil dengan kedua lutut berdarah itu harus rela terpental cukup jauh setelah mulut mobil tersebut sukses menabrak tubuhnya.

Gadis itu merasakan sakit luar biasa, bukan hanya di kedua lututnya. Lebih parah, sangat sakit. Rasanya organ tubuhnya seperti menghambur keluar dari rongganya. Saking sakitnya, gadis itu hanya menangis dalam diam sampai kedua matanya menutup sempurna, berharap dia bisa bangun kembali suatu saat nanti.

Bila saat itu tiba, dia bersumpah akan membalas orang itu, orang yang sudah membuat semua ini terjadi di depan matanya. Dia juga akan bersumpah akan membuat orang itu menyesal bahkan ketika nyawanya sudah direnggut. Tentu saja, yang akan merenggutnya adalah gadis itu sendiri.

~~~

“Yongie oppa, ireona!” seru Taeyeon dengan suaranya yang menggelegar di dalam salah satu unit apartemen Galleria Foret, apartemen kelas kakap di Korea Selatan daerah Seongsu-dong. Suaranya yang keras dan sedikit melengking bisa membuat semua penghuni gedung apartemen yang memiliki 458 unit tersebut terbangun dengan gelagapan, mengira ada bencana alam yang tengah terjadi.

Lain halnya dengan Kwon Jiyong, laki-laki tampan dengan seringaian mautnya yang berprofesi sebagai seorang jaksa muda dan berprestasi di Korea Selatan. Laki-laki itu sama sekali tidak membuka kedua mata hazelnya saat mendengar lengkingan Taeyeon, menggerakkan tubuhnya semilipun tidak.

“Oppa!” panggil Taeyeon lagi, yang sudah berada di dalam kamar Jiyong sembari membuka gorden jendelanya, berharap kakak laki-lakinya bangun ketika sinar matahari sudah mulai mengusik ketenangan Jiyong.

“Taeyeon-ah, ini masih pukul delapan pagi,” gerutu Jiyong. Ia kembali menenggelamkan wajahnya dalam selimut.

Taeyeon menghela nafas kasar. “Masih? Jadi, kau akan berencana bangun pukul berapa? Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Jiyong tidak menjawab tapi Taeyeon tahu ia mendengar dengan baik sekali. Sambil mengambil pakaian kotor Jiyong yang ia lemparkan begitu saja ke lantai kamar dan beberapa bekas botol minuman, Taeyeon sadar kalau kakaknya itu pasti bergadang semalam suntuk.

“Jam berapa kau tidur, oppa?” tanya Taeyeon. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi punggung Jiyong.

“Satu jam yang lalu,” jawab Jiyong.

“Bangunlah,” pinta Taeyeon, kali ini lebih lembut. “Atau aku tidak akan membuatkanmu sarapan lagi selama sebulan dan akan memilih tinggal dengan Chaeyoung,”

Sepertinya ancaman yang keluar dari bibir kissable Taeyeon cukup membuat Jiyong angkat tangan. Ia menggeram kesal dan akhirnya bangun dari tidurnya sambil mengusap-usap wajah, sedikit frustrasi.

“Arraseo,” jawab Jiyong dan ia langsung menuju kamar mandi sedangkan Taeyeon tersenyum penuh kemenangan dan keluar dari dalam kamar Jiyong.

Mana mungkin Jiyong akan membiarkan Taeyeon pergi dari apartemennya dan tinggal di tempat lain. Pekerjaan Jiyong sebagai seorang jaksa sekaligus CEO dari Kwon Corp. membuat waktunya tersita banyak dan tidak akan mungkin bisa mengerjakan pekerjaan rumah setiap saat. Ia juga tidak akan bisa terus-menerus makan makanan cepat saji atau bahkan sekedar beli. Jiyong tidak bisa makan kalau itu bukanlah makanan home made, kecuali terpaksa. Berkat adanya Taeyeon, semuanya beres. Pekerjaan rumah beres, makanan selalu tersedia di atas meja, dan setidaknya Jiyong juga tidak merasa kesepian.

Taeyeon, adik perempuannya selain Chaeyoung.

Chaeyoung adalah gadis belia yang masih menuntut ilmu di Seoul National University dan bersikeras tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari kampusnya dan menolak ikut menetap dengan Jiyong juga Taeyeon. Meskipun pisah, diam-diam Jiyong sering mengirim orang untuk mengawasi dan memonitori segala aktifitas adiknya. Beruntung, selama ini Chaeyoung tidak pernah melakukan hal-hal buruk, contohnya pergi ke club atau pulang di atas jam sembilan malam.

Chaeyoung pernah melakukan kesalahan sekali. Ia pernah pulang dini hari karena hang out bersama teman-temannya tanpa memberitahu Jiyong. Alhasil, Jiyong langsung menuju apartemennya, memarahinya dan mengancam akan menarik semua fasilitas serta membawa Chaeyoung ke Galleria Foret jika hal itu terjadi lagi.

Jiyong tahu Chaeyoung gadis yang baik dan murni. Itu sebabnya dia berjuang keras untuk menjaga sang adik agar tidak terjerumus ke jalan yang salah. Walaupun dirinya adalah kakak yang jauh dari kata baik, Jiyong tidak bisa membiarkan Chaeyoung suatu hari nanti akan seperti dirinya.

Taeyeon tahu bagaimana overprotective-nya Jiyong pada Chaeyoung karena rasa sayangnya yang besar, apalagi kedua orang tua mereka tinggal di Paris. Taeyeon juga kena imbasnya. Perempuan itu tidak diperbolehkan Jiyong keluar dari apartemen kecuali berbelanja bahan makanan dan tidak diizinkan untuk bekerja.

Setelah mengetahui bagaimana marahnya Jiyong pada Chaeyoung waktu itu, Taeyeon tidak pernah berani melanggar aturan laki-laki itu untuk keluar diam-diam. Taeyeon tahu alasan Jiyong seperti itu kenapa. Dia hanya ingin adik-adiknya terlihat baik dan sempurna.

Tentu saja Taeyeon kesal bukan main. Dia seperti terpenjara di apartemen mewah ini layaknya seorang asisten rumah tangga. Dia tidak pernah berani protes pada Jiyong, karena akhir-akhir ini pekerjaan di Kejaksaan makin menumpuk, belum lagi dirinya yang harus mengurus perusahaan ayahnya. Wajah Jiyong terlihat kusut dan kurang tidur tapi tentu saja, wajah rupawan nan menawannya masih tetap terlihat.

“Oppa kerja hari ini?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat kakaknya sudah duduk di kursi meja makan dan melahap beberapa kimbap buatan Taeyeon.

“Pekerjaan di kantor menumpuk, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja,” jawab Jiyong. “Kau masak apa lagi?”

“Sup samgyetang. Kurasa oppa butuh stamina lebih setelah seminggu penuh ini bergadang. Sarapan ini saja. Kimbapnya akan aku siapkan untuk bekal makan siang,” jelas Taeyeon. Ia tersenyum lembut pada Jiyong dan segera meletakkan sup samgyetangnya di depan Jiyong.

Jika saja orang lain tidak tahu status hubungan kedua kakak beradik ini, mungkin siapa saja akan mengira Taeyeon adalah istri sempurna yang dimiliki Jiyong.

“Tidak perlu,” tolak Jiyong datar. Ia mengambil sendok dan mulai memakan supnya. “Hari ini aku ada janji makan siang dengan Joohyun,”

Wajah Taeyeon langsung menyiratkan kekecewaan yang kentara sekali. Namun, hal itu langsung ditepisnya sebelum Jiyong bertanya ada apa. “Aku sudah menyiapkan kimbap banyak sekali,”

“Aku akan menyuruh Chaeyoung datang dan dia bisa menghabiskannya,” jawab Jiyong enteng. “Besok-besok juga tidak perlu membuatku bekal lagi, tunggu aku minta saja baru dibuatkan. Aku takut kau terlalu lelah nanti,”

“Kalau begitu, makan malam nanti kau akan pulang, ‘kan oppa? Makan bersamaku?” tanya Taeyeon penuh harap. Selama ia tinggal dengan Jiyong, Jiyong sama sekali tidak pernah menyempatkan dirinya makan malam bersama Taeyeon.

“Kau tahu aku akan makan malam dengan Joohyun,”

“Makan siang dengan Joohyun, makan malam juga dengan Joohyun. Apa kalian sudah pacaran?” tanya Taeyeon kesal.

“Kami memang pacaran,” potong Jiyong cepat dan Taeyeon langsung tertawa mengejek.

“Jinjja? Kali ini berapa lama oppa akan bertahan dengan satu perempuan? Satu bulan atau satu minggu? Lebih baik pikirkan saja dulu pekerjaan dan berubahlah menjadi seorang laki-laki yang setia sebelum oppa berkencan dengan siapa saja,” tutur Taeyeon.

“Aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta pada Joohyun,” ujar Jiyong.

“Memutuskan? Hebat, kau bahkan bisa mengatur perasaanmu sendiri,” sindir Taeyeon.

“Kali ini apa lagi yang mengganggumu, Taeyeon-ah?” tanya Jiyong, menyerah sebelum berdebat lebih jauh dengan adiknya. Mereka memang sering berdebat dengan hal-hal kecil dan pagi ini mood Jiyong kurang bagus untuk meladeni adiknya itu.

“Aku ingin keluar dari apartemen ini,” ungkap Taeyeon tanpa bisa ia rem lagi perkataannya.

“Sudahlah, kita pernah membicarakan ini sebelumnya, ‘kan? Kau tahu apa jawaban dan alasannya. Jangan membuat aku makin tidak enak mood,” tolak Jiyong.

“Tidak bisa, kita harus membicarakannya lagi, oppa. Waktu itu aku tahu alasannya apa dan aku menerimanya. Aku sakit dan kau mengkhawatirkan sesuatu yang buruk menimpaku. Sekarang, aku merasa sangat baik-baik saja dan sudah hapal jalan. Aku bisa belajar lebih banyak lagi mengenal negara ini jika aku keluar dan bekerja seperti dirimu,”

“Taeyeon-ah, kau sudah mendapatkan kembali ingatanmu?” tanya Jiyong tajam.

“Belum,” jawab Taeyeon pelan. “Itu sebabnya aku perlu keluar, oppa. Aku tidak ingat apa-apa kalau aku terus terkurung di sini. Kau sudah cerita kalau aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang sekarang sudah bangkrut sebelum aku kecelakaan dan mengalami lupa ingatan. Tapi aku hanya sekedar tahu, tidak ingat. Aku perlu menjelajah di luar dan bisa saja ada seseorang yang mengenalku lalu bisa membuatku ingat kembali,”

“Aku sudah katakan padamu itu berbahaya, Taeyeon-ah. Jika orang lain tahu kau mengalami lupa ingatan, mereka akan memanfaatkanmu. Kau terlalu naïf. Jangan pernah berfikir di dunia ini penuh dengan orang-orang berhati baik, Taeng. Tunggulah sampai kau benar-benar sembuh, mengingat semuanya setelah itu aku akan bebaskan dirimu,”

“Sampai kapan, oppa? Sampai aku mati?” tanya Taeyeon sedikit emosi.

“Kenapa kau bilang begitu?” Jiyong balik bertanya.

“Karena kau tidak pernah berusaha untuk memulihkan ingatanku kembali! Kau hanya bilang aku ini dulunya sekretaris perusahaan terkenal yang sekarang sudah bangkrut. Lalu aku mengalami kecelakaan beruntun di jalan. Sudah, itu saja. Aku tidak tahu di mana aku menuntut ilmu, aku tidak tahu siapa teman-teman dekatku, aku tidak tahu apa makanan kesukaanku dulu, apa film favoritku, dan siapa idol juga actor yang aku suka seperti Chaeyoung dan remaja yang lainnya.

“Kau tahu, oppa? Terkadang aku seperti orang bodoh saja. Tidak tahu siapa diriku seutuhnya, hanya nama dan tanggal kelahiranku. Aku juga tidak ingat sama sekali tentangmu, tentang Chaeyoung dan tentang orang tua kita. Aku tidak tahu apa-apa dan yang kulakukan hanya duduk di apartemen, menunggumu pulang, membereskan rumah, seterusnya seperti itu dan aku bingung sampai kapan? Bahkan tidak ada satupun temanku yang datang menjenguk! Aku merasa kita tidak punya kenangan, oppa. Aku merasa sendiri dan kehilangan arah dan kau tidak membantu sama sekali!”

Lega rasanya setelah meluapkan apa yang selama ini ada di hati Taeyeon. Taeyeon tidak peduli kalau kakaknya itu akan marah dan membentaknya. Dia hanya ingin mengeluarkan kebimbangan dan kegundahan hatinya.

Namun, respon dan ekspresi yang ditunjukkan Jiyong di luar dugaan Taeyeon. Kakaknya itu bangkit dan sedikit berjongkok di hadapan Taeyeon sambil membelai pipi kanan adiknya yang sudah basah karena air mata. Wajah Jiyong menyiratkan kesedihan mendalam dan Taeyeon dapat melihatnya di kedua hazel mata Jiyong yang teduh.

“Taeyeon-ah,” panggil Jiyong lembut, membuat Taeyeon makin mengeluarkan isakan kecil yang daritadi berusaha ditahannya. “Aku tahu kau akan bilang begini pada akhirnya. Aku tahu kau akan marah sekali padaku seperti sekarang ini. Jujur saja, kita memang tidak punya kenangan cukup berarti selama ini. Kita dibesarkan di tempat yang berbeda. Umurmu masih dua tahun dan aku sudah pergi jauh, tinggal dengan kakek nenek di Paris demi menjadi penerus perusahaan ayah.

“Jujur aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu bahkan ketika aku pulang ke Korea. Aku langsung disibukkan dengan ini-itu dan bertemu denganmu hanya sekali-dua kali. Kita memang cerita banyak tapi tidak secara khusus. Kau bahkan sibuk dengan duniamu waktu itu. Lalu, Chaeyoung, adik kecil kita itu bukankah menghabiskan masa-masa sekolahnya di Jeju? Otomatis kau juga tidak terlalu ingat walaupun kalian berdua dekat sekali, setiap hari selalu berkomunikasi dan mengirim kabar.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya memberi kabar pada teman-temanmu karena aku memang tidak tahu. Ayah dan ibu kemungkinan besar tahu, tapi mereka tidak tahu kau hilang ingatan karena itu akan menyebabkan kondisi mereka memburuk. Mereka fikir aku sudah bisa menjaga kalian berdua dengan baik. Nyatanya? Tidak. Aku gagal. Aku sering marah pada diriku sendiri kenapa bisa membiarkan hal ini terjadi padamu. Aku sangat menyesal. Aku minta maaf, Taeyeon-ah. Sama sekali aku tidak berniat apa-apa mengurungmu di sini karena aku takut sesuatu terjadi padamu lagi.,”

Jiyong menarik lembut belakang leher Taeyeon dan memeluk gadis itu dengan sangat erat sembari mengelus sayang rambut pirang panjang adiknya yang harum. Taeyeon diam saja dan hanya membalas dekapan sang kakak.

Ia mengerti sekarang kenapa kakaknya begitu egois, begitu keras kepala, dan begitu menentangnya tiap kali Taeyeon minta izin keluar rumah hanya untuk sekadar jalan-jalan. Taeyeon mengerti sekali rasa sayang kakaknya itu. Tapi tetap, Taeyeon ingin keluar dari apartemen ini dan hidup layaknya manusia pada umumnya.

“Sudah enam bulan lamanya aku hilang ingatan,” sambung Taeyeon. Ia melepas pelukan Jiyong dan menatap dalam-dalam pada kedua mata laki-laki itu. “Aku ingin keluar dari apartemen ini, oppa. Seperti yang kukatakan tadi. Aku juga ingin ingatanku kembali dan hidup normal seperti oppa dan Chaeyoung. Jebal, dengarkan permintaanku,”

Jiyong menghela nafas pendek dan ia tersenyum lembut pada Taeyeon. “Arraseo. Aku akan mengabulkannya,”

Jawaban Jiyong membuat Taeyeon membelakkan matanya dan segera saja ia memeluk laki-laki itu, membuat Jiyong sedikit limbung dan hampir jatuh terduduk kalau saja ia tidak menahan tubuhnya dengan kedua lengannya.

“Gamsahamnida, oppa!” seru Taeyeon dan ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher Jiyong. Jiyong sedikit terkejut dan hanya bisa tersenyum. “Kalau begitu aku akan meminta Chaeyoung untuk mengajakku mengelilingi daerah Seongsu-dong ini satu harian!”

Senyuman manis Jiyong lenyap dan ia langsung melepas dekapan Taeyeon. “Apa maksudmu? Hari ini kau berencana keluar? Ani, ani. Aku bilang akan mengizinkanmu keluar kalau pekerjaanku tidak sebanyak sekarang. Aku janji. Tapi tunggu aku. Aku yang akan menemanimu,”

“Lama sekali,” protes Taeyeon. “Aku bisa mati bosan di sini, oppa. Sudah enam bulan lamanya,”

“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, jadi bersabarlah, okay?” hibur Jiyong. Ia mengelus sayang rambut Taeyeon. “Sudah, aku harus berangkat sekarang,”

Taeyeon mengangguk dan ia segera bangkit dari kursi meja makan, menemani Jiyong keluar dari apartemen mewah mereka.

“Aku tidak sabar akan melewati pintu apartemen itu bersamamu dan melihat dunia luar,” ungkap Taeyeon lagi tapi dengan senyuman lembut dan manis khas dirinya.

Jiyong berbalik menatap Taeyeon dan balas tersenyum. “Aku juga. Kalau begitu, aku pergi,”

Sebelum Jiyong benar-benar pergi, ia mendekati Taeyeon dan menarik kepala gadis itu dengan lembut lalu mencium keningnya dengan singkat. Singkat tapi terasa hangat dan begitu penuh kasih sayang, membuat perut Taeyeon entah kenapa terasa mencelos dan jantungnya berdetak menyakitkan selama sedetik.

Tapi ia tidak menghiraukan perasaan itu. Ia berfikir mungkin hal itu terjadi karena ini baru kali pertama Jiyong menciumnya dan berlaku selembut itu padanya. Bisa jadi. Karena biasanya, Jiyong selalu menunjukkan ekspresi datar dan bahkan terkesan dingin padanya.

~~~

Jiyong memukul kemudi mobil Lamborghini hitamnya dengan kuat berkali-kali sampai kepalan tangannya berwarna merah seketika. Ia tidak habis fikir. Sama sekali tidak habis fikir kenapa ia bisa kehilangan kontrol dirinya pagi ini. Ini pertama kalinya dan ia pasti sudah gila! Bahkan ekspresi gadis itu tadi begitu terkejut sekaligus heran.

Kenapa ia bisa begitu gegabah mencium dahi gadis itu? Bahkan memeluknya dengan erat! Chaeyoung bahkan tidak pernah ia cium semesra itu walaupun mereka sangat dekat. Laki-laki itu merasa bodoh dan ingin membenturkan kepalanya di dinding detik itu juga.

Ia tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Ia hanya mengikuti nalurinya mencium dahi Taeyeon, untuk sekedar menghiburnya. Tapi cara menghibur yang wajar ada banyak, ‘kan? Dia bahkan memeluk gadis itu dengan sayang saat pertama kalinya air mata jatuh membasahi kedua pipi merah Taeyeon. Ia kasihan dan merasa bersalah sehingga tubuh bodohnya ini bergerak begitu saja tanpa mendengar logikanya sendiri.

Jiyong memang bukan laki-laki suci yang tidak pernah mencium ataupun memeluk gadis lain. Bahkan ia sudah sering ke tahap yang lebih jauh. Dia seorang playboy dan tidak akan pernah memikirkan perasaan perempuan yang ia mainkan.

Tapi dengan Taeyeon tentu ini kasus yang berbeda. Dia adalah adiknya, adik Jiyong. Setidaknya itulah pemikiran yang sudah ia tanam ke gadis itu sejak enam bulan lamanya. Ia tidak boleh sembarangan bertindak, seperti pagi ini. Ia tidak boleh lepas kendali dan merobohkan dinding pembatas jarak yang sudah dibangunnya sejak Taeyeon tinggal di apartemen miliknya.

Ia tidak boleh seperti ini sebelum Taeyeon mendapatkan kembali ingatannya. Ia tidak ingin membuat gadis itu berfikiran ia adalah sosok yang sangat brengsek, dan kenyataannya ia memang lebih dari brengsek.

Ia sangat brengsek, bedebah, bajingan, bastard, dan apapun itu namanya sejak membawa Taeyeon ke dunianya. Ia melakukan hal itu karena tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dan sebelum gadis itu membencinya berkali-kali lipat saat ia sudah kembali mengingat memorinya, Jiyong harus menahan diri, mempertahankan sikap dinginnya, dan bahkan lebih menebalkan dinding pemisah antar mereka.

Ia harus melakukannya sebelum lepas kontrol dan menyebabkan semuanya penuh dengan rasa penyesalan teramat dalam.

-To Be Continued-

 

How? Suka? Hehe, maafkeun aku yang belum update TLS 😦 ada kerjaan sangat penting, yaitu tugas akhir sebagai mahasiswa hahahah. Mian, tapi setelah selesai nanti TLS pasti dilanjut kok cuma belum bisa update dalam waktu dekat ini. Hope that you all will be more patient kkk~

Karena itulah aku ubek-ubek lagi isi laptop ini dan nemu ff yang udah lumayan lama terkurung dalam Microsoft word, tapi dengan pair yang berbeda. Kalo yang ini, masih bisa sering di update seminggu sekali, mungkin tinggal di edit aja terus nambah karakter atau ubah karakternya dsb.

But… ini dilanjut kalo banyak yang suka hehe^^

Thankyou~

Advertisements

65 comments on “A Blessed Sinner (Chapter 1)

  1. finally my favorite author ❤ aku penasaran penasaran penasaran parah sm ff ini. buruan thor. jgn gantungin readernya lg dgn nunggu terlalu lama 😦 next deh next. semangat terus ya thor.

  2. Pingback: A Blessed Sinner (Chapter 2) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: A Blessed Sinner (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Jiyong yang sebabkan Taeyeon kecelakaan & hilang ingatan? Lalu dia ambil Taeyeon & membuat Taeyeon jadi adiknya? Jiyong membuat status kakak-adik untuk menyamarkan kejadian sebelum Taeyeon kecelakaan? Ngerasa bersalah atau gimana gitu.
    °Emang ya hubungan kakak-adik kalo mesra ‘kan agak gimanaaa gitu. Peluk & cium itu beda sedikit ya maksudnya, Jiyong? Karena berlebihan & apaaa gituu… Tapi, Jiyong… 🙂 😉
    °Cerita Jiyong tentang Taeyeon bohong? Mungkin.
    °Sempat kecewa Jiyong kakanya Taeyeon tapi mungkin untuk menutupi kisah dibalik semuanya. Status kakak-adik itu hanya sebatas status tak terstatus. Apa maksudnya coba? Haha… 😀
    °Nunggu konfliknya 🙂
    °Don’t forget for The Leader’s Secret. Aku kiranya tamat di chapter 10 ternyata masih To Be Continued, hayo Author tanggung jawab untuk chapter 11, hehe… Maaf maksa, abis bagus sih si vampir Jiyong.
    °Selalu ngecek blog ini tapi belum ada TLS, ternyata yang gak diduga ada FF baru dan… cast.nya GTAE dari Author favorit pula.
    °Uuu… GTAE favorit pair, couple unyu
    °Bina Ferina? Suka apalagi kalau bawa FF GTAE, deuh…
    #GDRAGONXTAEYEON
    #GTAE
    #LEADERCOUPLE
    #POWERCOUPLE
    #ROYALISTDREAMER
    🙂 😉 😀
    Fighting All!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s